UNTUK MENCARI PUISI-PUISIMU CUKUP KETIK NAMAMU DI KOLOM "SEARCH" LALU "ENTER" MAKA SELURUH PUISIMU AKAN TAMPIL DI SINI

Sabtu, 24 Desember 2011

DATANGLAH EMAK, MESKI HANYA DALAM MIMPI


Sudah berkali kali kutitipkan pesan jiwa,
lewat bisikan bayu yang mengejar buruannya,
pada embun pagi yang menyisi saat mentari mengontrol bumi,
pada hamparan pasir putih yang terbentang dipantai losari,
melalui nyanyian gelombang dilaut biru kotaku,
pada rinai hujan pagi ini,
bahkan pernah juga kutitipkan lewat pelangi ditiang langit,
dan tadi malam...melalui Ghoib yang mendengarkan doa diiringi air mataku...
tidak sampaikah satupun diantaranya emak ?,
berdustakah semua atas jujur yang keluar dari lubuk jiwa,,
atau, Emak merasa bahasaku dusta , berita itu karangan belaka ?
sebab ketika Emak pamit, kusembunyikan segala duka,luka atau apapun namanya
agar Emak merasa tenang, percaya dan yakin meninggalkan kami semuanya...
ya..ya..Emak pasti yakin, putra matahari tetap jadi juru kunci,
Emak tetap yakin bahwa Putra matahari masih tetap jadi "penggurun"
pembuka jalan, pemegang kunci sebab putramu berpangkat tinggi...
begitu kan emak ?! itukah alasanmu ?
sehingga sapaku kau acuhkan ,
tanyaku tak kau jawab,
panggilanku tak kau hiraukan. ...
padahal air mata darah telah menetes, mengalir kedalam dada
yang kukatakan adalah kebenaran, yang kuberitakan adalah kenyataan
tak pandai aku bersandiwara, mematut matut kata demi kepantasan saja
kini aku berperan apa adanya, berkata sejujur jujurnya
seperti yang pernah kau ajarkan padaku, katakanlah sepahit apapun itu
apalagi kepada saudara sedarah, jangan berhitung laba rugi,
berikanlah yang kau miliki, jangan tunggu mereka menghiba
sebab mata hati jelas nyata membaca, perlukah basa basi untuk tinggikan ego diri ?
duh Emak, semustahil dugaanmu kini semuanya,
bersusun tindih cobaan mendera, masing masing memproteksi diri dan keluarganya
semuanya bersembunyi dibalik istana megahnya, sendiri sendiri
Sementara aku dan anak istriku tak tau mau berteduh dimana,
sebab kami tak sempat membangun gubuk,
apalagi memagarinya dengan pangkat yang kumiliki,
mengunci pintunya dengan tirani atas kuasa yang melekat dibahuku
membangun jarak karena protokoler militerisme atau feodalisme masa kini,
sungguh emak, semua itu sejak dulu tak pernah kuberi tempat dihati ini,
emak pasti tak lupa, beras hasil sawah ladang kita
kuberikan dengan tulus kepada adekku sebab dia lebih memerlukannya,
bukan karena kami congkak, pongah atau semacamnya
tapi ketika itu, Emak murka sejadi jadinya,
merasa terhina karena menolak pemberian Emak , mentang mentang sudah kaya....
padahal karena cintaku pada darah dagingku, kupatrikan pada anak istriku...
padahal itu perintahku, bertindak bijaksana tanpa tendensi , apa adanya...
kami lakukan tanpa banyak bertanya, sebab jawabnya lengkap dipelupuk mata
tak perlu menunggu rintihan menghiba atas derita yang melanda mereka....
begitulah kebenaran kejadian itu, Emak..
Mudah mudahan fakta itu tidak Emak bawa kenegri kekal abadi...
jadi, kali inipun , aku ingin meyakinkan emak
bahwa laraku sesak didada pecah diwajah cucu cuumu yang beranjak dewasa,
lukaku beku, hancur berkeping keping disepanjang jalan pengabdianku
perih tak terperi atas sikap, tutur kata, perlakuan yang kuterima..
diamku bukan karena kehilangan muka, atau tak punya nyali seorang Petinggi Polisi
kalau aku berhati seperti lucyfer, sudah kuratakan semua dalam sehari,
seperti sikapku menghadapi teroris negeri ini,aku tak perduli...
penjahat sekaliber apapun yang pernah kutemui, tak surut sejengkal pun kaki ini
betul emak, bapak...kupilih bersikap diam , membenahi diri
berharap pencerahan lahir dihati sanubari adik - kakakku yang kukasihi.
tapi bara dihatinya semakin menyala , diturutkannya bisikan murka kala...
bagaimana lagi aku bersikap, pilihan yang tak mampu kulakukan...
oleh karena itu , datanglah Emak,
supaya kalian baca faktanya, kalian lihat senyatanya....
dan kalau emak, tak lagi melihat kami berdiri sejajar seperti dulu
itu karena aku dan anak istriku sudah tersingkir dan berdiri dipojok gelap kehidupan ini
tapi Emak tak usah resah, kami tetap " mejuah juah " ...
sekali lagi, kumohon dengan sepenuh hati, datanglah Emak....
meski cuma dalam mimpi........

----oleh Drs Mustahari Sembiring.-------
----Makassar, 21 Desember 2011. catatan , doa putra matahari.---------

Tidak ada komentar:

Posting Komentar