. JENDELA PUISI: Februari 2017
RUANG PEKERJA SENI ADALAH GROUP DI JEJARING SOSIAL FACEBOOK, BERTUJUAN…MENGEPAKKAN SAYAP – SAYAP PERSAHABATAN…MELAHIRKAN KEPEDULIAN ANTAR SESAMA…MEMBANGUN SILATURAHMI/TALI ASIH…SAHABAT LEBIH INDAH DARIPADA MIMPI.

Senin, 20 Februari 2017

UNTUKMU YANG SENANTIASA BERSABAR


Bacalah surat ini ketika engkau dalam keadaan tenang
Jauh dari kegundahan, kegalauan serta cobaan yang tengah menyelimuti hatimu
Jauh dari godaan yang tengah menumpuk di dalam fikiranmu
Jauh dari hawa nafsu yang berkecamuk akan keinginanmu

Untukmu yang senantiasa bersabar

Tiadalah kata romantis yang ingin aku suguhkan
Tiadalah cinta nun sempurna yang ingin aku tawarkan
Tiadalah rindu yang ingin aku rintihkan
Tiadalah satupun
Karena inginku bukanlah apa yang engkau harapkan dan inginmu bukanlah yang apa aku harapkan
Sederhana saja dan bahagia.

Untukmu yang senantiasa bersabar

Tiadalah daya untuk saling mendamba
Tiadalah daya untuk saling menghendaki
Apa dan bagaimana
Dalam Do'a saling berbicara
Apa dan bagaimana
Dalam sujud saling mengharapkan
Apa dan bagaimana
Kepada Sang Pencipta berserah serta merendah hati.

~Alek Wahyu~

SEPERTI BIASA KU TERPAKU


Tiada pernah ku mampu
Merenungi setiap langkah mu
Apa yg kau cari dan apa yg kau rasakan
Terlupakan kah tangis tawa 3 anak mu mama......
Seakan kau terlupakan dalam detak jantung anak mu.....
Dalam diam ku hanya mampu menangis.....
Seberapa keras hati mu mama......
Menutup telinga,mata dan hati mu
Membiarkan 3 anak mu tanpa kasih sayang mu mama......
Aku tak mampu untuk yang kesekian kalinya.......
Hanya duduk terpaku di korsi meja makan......
Akan kah.......selamanya meja korsi ini menemani ku......
Tanpa nasi lauk pauk yg kau suguhkan......
Biarlah hari hari ku menanti mu mama.......
Dengan segelas kopi sebatang rokok.........disela bibir ku......
Ku kan menunggu mu.......meski cinta tak lagi menyatukan kita.......
Dan 3 anak kita.......tak terdengar lagi tawa dan candanya.......yg ada wajah murung penuh harap.....pulanglah mama........nila

Oleh : Ayah Rizky

Sabtu, 18 Februari 2017

HILANG TANPA TANDA



Sang Terompet Pagi tak luput dari kewajibannya
Membangunkan satu persatu masyarakat dari alas yang empuk
Dari sebelah Kiri diUjung Ufuk timur tak lupa
Sang surya mulai mengintip dari awan yang sedikit pekat.
Entah perintah Raja mana yang dipatuhinya.
Ku hirup Betapa segarnya udara yang Membentang sejagat Raya
Udara yang tak terlihat oleh indra
Hawa yang dapat diNikmati
Membuat Bulu kutudukku merinding
Kutemukan satu pemuda dari ujung hilir sambil melambaikan tangan kanan
Saat pandangan tajam mengarah ke kelopak mataku
Sambil kami mengerti Bisikkan sukma
Memberikan se sajak Nasihat kepada jati diriku yang sudah menjadi garis tangannya,saat dia terlahir digendongan sanak dagelan.
Suatu pagi saat pagi menyongsong dengan diiringi suara terompet dan dilatarkan dengan pancaran Kuning di Ujung Ufuk timur itu
Tak ku temukan pemuda yang selalu mengenakan celana panjang itu.
Nasihat yang selalu mengiringiku saat aku pergi ke sekolah
Nasihat yang selalu mendampingiku saat aku berdiri diatas tanah altar kepastian
Nasihat yang menjadi ujung tombak masa depan.
Tak pernah Kujumpai dikau dikala fajar hadir,Kemanakah aku harus mencari satu kerangka badanmu
Yang selalu mengingatkan aku saat berjalan diatas kerikil kerikil kecil.

Oleh : JA Mansiz

CINTA


Sebab ...cinta adalah perbedaan yg nyata
Sebab cinta adalah jiwa2 yang bebas..

Jiwa yang berTuhan bisa memahami Cinta Kasih
Hanya sebagian orang memahaminya...

Oleh : Rizka Elvira Parinduri


NYANYIAN SEPI


Kutepis rindu yang mengiris
Di hela untaian napas
Namun, kian larut dibingkai malam
Kian ranum kasih dipendam

Meronta dengan sukma arca
Tertatih, merintih rasa pedih
Dimangsa gulita tanpa rupa
Dalam diam kuberserah

Kau, syair tanpa aksara cinta
Merenggut separuh asa
Dalam bait-bait sunyi
Tersirat guratan hati

Seperti senandung malam
Iramanya bisa kueja
Masih tentang berjuta asa
Yang tertinggal di lorong kelam

Oleh : Ade Saputra Sunankaligandu
#DewaBumiRaflesia_30_01_17

NIAN



Tahukah engkau bintang, tentang gigilku semalaman
Seumpama mereguk samudera, memandangmu tiada bosan
Bodoh nian gumam sang bulan, tentang mustahil penantian
Lalu rebah seiring langit tumpah, dinginkan perapian

Oleh : Urs Meliala
FnNf.30-01-2017