. JENDELA PUISI: 2017
RUANG PEKERJA SENI ADALAH GROUP DI JEJARING SOSIAL FACEBOOK, BERTUJUAN…MENGEPAKKAN SAYAP – SAYAP PERSAHABATAN…MELAHIRKAN KEPEDULIAN ANTAR SESAMA…MEMBANGUN SILATURAHMI/TALI ASIH…SAHABAT LEBIH INDAH DARIPADA MIMPI.

Sabtu, 30 Desember 2017

CINTA TAK DIANGGAP


Kau yang selalu dihati ku
Meski jauh dari pandangan ku
Aku selalu ada untuk mu
Meski kau selalu menyapa nya bukan aku

Kamu mencinta nya
Kamu mengharapkan nya
Kamu tak melihat ku
Seolah kau tak tau akan hadir ku

Aku bisa menyimpan rasa cinta ku
Tapi ku tak bisa menyimpan cemburu ku
Aku disini kasih
Meski kau tak lihat aku kasih

Gerimis mata ku ingat kamu
Menetes lah air kerinduan ku akan mu
Walau kau tak disisiku
Percayalah hati ini putih penuh kasih untukmu

Medan 30122017
Fatircool
Yv, (YuliaVebian)

CATATAN SANG MUSAFIR


Tak peduli bagiku
Mengorbankan seluruh hidup
Bahkan hanya untuk satu nama saja.

Yang melekat
Tepat di dasar kalbu
Menyeretku pada sebuah perjumpaan
Yang kuminta dengan segera.

Meski harus kutelan semua rasa pahit..
Aku ingin kembali suatu saat nanti.
Menelusuri jalan~jalan berduri menujumu
Yang terpenjara oleh angkara.
Untuk memberimu harap.

Agar engkau dapat bebas,
Agar engkau menemani sepanjang perjalanan ini;
Di kemudian hari.

By : :Ansy
Layla Dct
Seluma,30 Des 2017

UNTUK SESEORANG.



Untukmu yang kusebut seseorang
Kebodohanmu menghancurkan diri
Keegoan yang tak beralasan membuat nyawamu tersia sia
Semua akan jadi petaka

Cobalah bercermin pada diri
Seperti apa posisi diri
Seorang peri atau iblis penjilat api
Terlalu kalau dihayati

Untukmu yang kusebut seseorang
Basuh dadamu dengan air kesabaran
Buang semua murka yang kau terima dari mereka
Sebab ini bukan kisah manusia yang mulia

Sujud dan mohon ampunlah pada-Nya
Sebelum petaka menerpa jiwa
Karena semua telah teraniaya
Oleh fitnah yang kau tebar di dada

By. AACB
Aulia Putry Manurung
Penghujung hari, 29 Desember 2017
#AuliaAksaraCamarBiru

Jumat, 29 Desember 2017

CINTA DI PAGI YANG MENDUNG



Engkau melangkah dengan begitu pelan,
Gaun merah, diantara keramaian,
Bisingnya kota, dan aroma kendaraan,
Lalu lalang para pejalan kaki,
Engkau begitu anggun dengan kerudung yang menutupi seluruh tubuhmu,

Aku meneguk secangkir kopi hitam,
Pagi hari, selang beberapa menit,
Tampak sepasang kekasih berusia renta,
Tawa dan pandangan mereka saling memberi sinyal,
Akan cinta serta kasih sayang,

Aku masih saja diam, memandangmu dari kejauhan,
Memperhatikan sepasang kekasih yang begitu bahagia,

"Sebentar aku pesankan secangkir teh hangat untukmu"
Berucap si kakek bersama senyum di wajahnya,
Berjalan melewati beberapa pengunjung,
Hingga ia dapati penjual bunga di balik jalan,
Ia mendekati, si penjual bunga yang masih remaja,
Mengambil setangkai mawar merah dengan bungkus nun rapi,
Semakin tersenyum dan ia mulai kembali,

Jaraknya tidak terlalu jauh,
Dengan usia renta, itulah cinta,

Ia mendekati istrinya, secangkir kopi di tangan kanan dan setangkai mawar di tangan kiri,
"Ini secangkir teh untukmu"
Yah, tampak senyum nun tulus dari wajah istrinya,
Mengisyaratkan kasih sayang,
Rindu serta cinta.

Ah, gadis bergaun merah, dengan kerudung yang meutupi seluruh tubuhnya,
Aku memalingkan wajah, sejenak untuk melihatmu,
Buku kecil dan pena, dalam tulisan ini aku mengagumimu,
Nun indah lagi bercahaya,
Nun santun lagi beramah tamah,
Sungguh aku ingin menghalalkanmu,
Di depan keluargamu untuk aku meminangmu,

Terdengar suara beserta tepuk tangan,
Para pengunjung nun begitu antusias,

Duhai gadis bergaun merah,
Engkau tahu apa yang lihat?

Pemandangan luar biasa di pagi yang mendung,
Si kakek berlutut dengan mengeluarkan mawar merah di tangan kirinya,
Ia mengucap cinta, cinta dan kasih sayang,
Diantara pengunjung, ungkapan cinta di pagi nun mendung,

"Sayang, mawar ini tidaklah seberapa dengan kebersamaan yang telah kita lalui, terima kasih untuk dirimu yang telah bersedia menemani aku selama ini, hidup yang sementara, denganmu aku ingin meraih Surga yang telah dijanjikan"

Aku tersenyum, dibalik diam yang mengusik hati,
Dapatkah aku melakukan hal seperti itu?
Dengan ia yang aku kagumi, dengan ia yang aku cintai,

Harapku untukmu agar dapat bersama,
Meraih Surga, tempat terindah seluas langit dan bumi,
Pephonan, buah-buahan, serta sungai-sungai nun mengalir,

Duhai gadis bergaun merah,
Tunggulah jika engkau bersedia,
Karena aku tiada memiliki upaya untuk berucap janji,
Hanya Do'a sebagai perantara, atas inginku untuk meminangmu,
Biarlah jarak memisahkan,

Dalam hijab kita saling mengharapkan,
Biarlah sujud sebagai jalan,
Untukmu dan aku di pertemukan,
Pada waktu terbaik,
Naungan cinta Allah Tabaraka wa Ta'ala.

Padang, 24 Desember 2017
~Alek Wahyu~

PEREMPUAN TUA YANG SENDIRI



Perjalanan panjang yang menyesatkan.
Membawanya pada tepian curam
Lepaskan semua kekuatan
Dan lumpuh ditepian jurang.

Jiwanya memutih..
menua dalam kesepian
Setelah kesempatan yang dimilikinya
Dilarikan kekacauan yang tiba~tiba.

Yang ia tahu,
Nafas adalah sebuah senyum.
Meski menjadi utuh tak selamanya dapat terjadi dengan mudah.

Oleh : Layla Dct
Seluma, des 2017


TANJUNGBALAIKU



Bunga rampai dijual orang
Harum semerbak kembang melati
Tanjungbalai si kota kerang
Kapankah tuan datang kemari

Lagu indah buat kotaku tercinta
Tanjungbalai dinamai dia
Indah tanjungnya
Luas balainya

Masyarakatnya ramah menyapa
Senyum simpul selalu di bibirnya
Tiada sombong di dada
Persaudaraan erat terjaga

Balai yang terletak di ujung tanjung
Sudah tertulis di sejarahnya
Jikalau tuan hendak datang berkunjung
Pasti enggan buat melupakannya

Mari semua kita menjaga
Tanjungbalai kota tercinta
Pusaka sejarah budaya bangsa
Adat resam melayu aslinya

By. Aulia Putry Manurung
Tanjungbalai, 26 Desember 2017.
22;49


Colek
Pak Ahmed El Hasby
Pak Syamsul Rizal
Ayah Hmyunus Tampubolon
Juga Dewan Kesenian Tanjungbalai

AGAKNYA...MENGAPA KIAN MERIAH



>>> setidaknya kita tau lebih jelas
fitnah, hasut dikebatilan masih turut berperan
tanda baharu masih berlaku

kuatkan sangka bahwa Dunia belum terhenti

Oleh : Youthma All Qausha Aruan
#kuas_kias_harfiah

Rabu, 20 Desember 2017

TENTANG PAGI DAN RASAKU


Pagiku menyapa mesra
Semburat jingga yang indah merona
Walau tidak serupa pada jiwa
Yang ada kegundahan di sana
Biarlah cerita pagiku ceria
Tak mengapa senyumku tak tersungging di sana
Andai mentari akhirnya enggan menyapa
Tapi hidup tetap punya cerita

Tuhan Yang Maha Kuasa
Inginku merasa seperti mereka
Tertawa, becanda dan berseloka
Tiada duka dan gundah gulana

Pojok pagiku, 20 Desember 2017
AACB

DAN...



Dan kepada sepinya ia bertutur
Tatkala dinding malam kerap menemani
Bersama gerimis tengah desember, adakah rindu ini tersampaikan?
Meski satu jejak belaka yang terhamparkan?
Dan sepertinya antara kau dan aku, tak lagi mampu singkirkan keangkuhan
Apatah seperti itu mauku? Ah, ku rasa engkau salah membaca isyarat yang ku tajukan?

<3 Kiki Soraya <3 Ck, 11 Desember 2017 22:17 WIB

Minggu, 10 Desember 2017

HADIRMU TAK ABADI


Maka 'kan kukenang kau sebagai pagi, datang untuk menyinari, merekahkan senyum di pipi. Walau kutahu hadirmu tak abadi.
Jika kamu belum memiliki pendirian, lebih baik jangan pernah datang, sebab perasaan tak selayaknya dipermainkan.
Mungkin kehilangan adalah salah satu pembelajaran agar kita tidak berbangga diri dengan apa yang kita miliki.
Kepada-Nya yang Maha Berkehendak, kugantungkan jiwa dan ragaku. Sebab tiada daya dan upaya kecuali milik-Nya.

Oleh : Nur Aini Natakusuma

JERITAN YANG TAK DIDENGAR


Wahai jiwa Wahai hati
Tetap lah menari
Teruslah jangan henti
Esok hari tubuh ringkih ini akan berlari
Berlari diantara kumpulan air
Air mata dari ribuan mata.

Esok.. Mulut ini akan kembali teriak
Sampai serak..
Jari akan tetap menari
Penuh nafsu diatara huruf huruf dan angka
Berbicara dalam diam membisu
Walau tiada mata mereka melihat
Tiada telinga mereka mendengar
Tiada hati mereka merasa.

Aku tutup mata ku
Sekedar mencari sebuah lelap
Lelap tanpa dekap...
Mengumpulkan sisa tenaga
Untuk teriak....

KAPAN PARIT BATU ADA..
AGAR SEDIKIT ADANYA AIR MATA

BY : ANDREANT HANIF

HAMPARAN RINDU


Risau hati, tak lagi terbangkan untaian kekata
Pada samar rasa yang tak terurai, hanya mampu tinggalkan resah belaka
Sejak impian musnah, kalimat ambigupun dijadikan kawan pelipur
Ada rajah-rajah yang tak biasa, dan aku hanya menyukai serba-serbinya, selebihnya kusimpan saja
Kadang segila itu rasa rindu yang kusimpan.

Oleh: Kiki Soraya (KSJ)
Timur Jakarta, 30 November 2017 18:54 WIB

CINTA



Mengeja namamu saja aku belum bisa
Teramat jauh dari kata sempurna
Artikulasi tetaplah hampa

Bagaimana bisa aku memaknainya
Sedang yang meraja nafsu belaka
Mencoreng putihnya tanpa jeda

Harap balasan atas memberi menjadi asa
Salah kaprah ajak selingkuhi rasa
Tulus, ikhlas dan sabar celoteh bibir semata

Lampung
Oleh : Perempuan Sunyi, 04122017

Sabtu, 25 November 2017

BILIK TERAKHIR


Tidaklah yang aku inginkan darimu,
Melainkan satu bilik yang terdapat di dalam hatimu,
Tingkatan cinta yang paling sederhana,
Dalam pelukan, bertaman bunga yang dikala senja,
Pada Do'a, bersama sujud yang engkau dan aku hantarkan,
Menembus langit, menjadikan takdir yang didalamnya terdapat ikhtiar,
Bersama rindu yang terbentang hijab antara engkau pun diriku,
Dengan kasih sayang, mengharap Ridho Allah 'Azza wa Jalla.

Tidaklah yang aku inginkan darimu,
Melainkan satu bilik yang terdapat di dalam hatimu,
Tingkatan cinta yang paling sederhana,
Keinginan pada satu titik yang sama,
Engkau pun diriku,

Tidaklah yang aku inginkan darimu,
Melainkan satu bilik yang terdapat di dalam hatimu,
Tingkatan cinta yang paling sederhana,
Bercocok tanam dengan riangnya para pejalan kaki,
Senyuman para tetangga yang begitu mengenal Sunnah,
Menegakkan Tauhid, landasan utama dalam beragama,

Tidaklah yang aku inginkan darimu,
Melainkan satu bilik yang terdapat di dalam hatimu,
Tingkatan cinta yang paling sederhana,
Hingga engkau kudapati bersama niat di dalam penantian,
Tangisan bahagia,
tatkala Ar-Rahman kulantunkan,
Keheningan nun begitu damai,
Hingga akhir,
Kata sah dari wali dan para saksi,

Tidaklah yang aku inginkan darimu,
Melainkan satu bilik yang terdapat di dalam hatimu,
Tingkatan cinta yang paling sederhana,
Kesempurnaan agama dalam mencapai Jannah,
Engkau yang berdiri dibelakangku,
tatkala Ruku' dan Sujud,
Engkau yang duduk disampingku,
tatkala membaca, menghafal, serta mengamalkan Kalammullah

Dan,
Tidaklah yang aku inginkan darimu,
Melainkan satu bilik yang terdapat di dalam hatimu,
Tingkatan cinta yang paling sederhana,
Engkau pun diriku,
Dalam naungan cinta,
Allah Tabaraka wa Ta'ala.

~Alek Wahyu Nurbista Lukmana~

Minggu, 22 Oktober 2017

KEARIFAN NUSANTARA



Kearifan nusantara
Telah di haru biru
Oleh cikar peradaban
Melalui budaya siap saji

Anak-anak dari seribu pulau berlari
Mencoba mengejar masa depan
Dengan menyongsong matahari

Keariafan nusantara
Telah di gerus waktu
Melalui aneka lagu dan tari
Anak-anak dari seribu pulau berlomba
Mencoba melukis harapan
Dengan semburat pelangi

kearifan nusantara
Adalah tarian anak-anak dari Sabang
Dalam gemulai didong, saman dan seudati
Kearifan nusantara
Adalah nyanyian anak-anak dari Merauke
Dalam dendang sajojo, e mambo simbo, dan apuse

Yang di tengah-tengahnya
Berkelindan kearifan budaya
Batak, Minang, Sunda, Jawa, Madura
Bali, Lombok, Sumbawa, Flores, Timor
Dayak, Banjar, Minahasa, Toraja, Bugis
Makassar, Ternate, dan Ambon

Karya : Jose Rizal Manua
Kiriman : Tok Laut


--------------------------------------------------

malam hening ... sepi ...
keterjagaanku ini juga bait puisi yang terpenggal
dari cerita kita yang kemarin ...
masih terjaga jugakah kau ...
jangan coba tidur dalam keterjagaan
sebab jika kau tidur dalam keterjagaan
itu cukup menakutkan banyak bilangan
hm .....
seribumu adalah nolku
bilangan tak pernah terhitung diangka milikmu
hoh ....

Oleh : Tok Laut

Minggu, 15 Oktober 2017

YA HU


°°°°°
ada bias merah dan uap lembab
dibola mataku

ketika teresapi langkah ini hingga kini

......sesekali ingin aku
kurangi bobot ini TUHAN
kenapa kerap semangat ini dikesendirian

berharap sekira diPerkenanMU
tambah tambah jua bantuan untukku

langkah ini belum seberapa
abdi ini masih segaris awal
jangan biarkan ini terhenti
agar tak terputus yang sudah jadi janji

Oleh : Youthma All Qausha Aruan


KENANGAN ITU


Malam serasa rindu yang terpahat
bertebaran antara mendung awal musim hujan
dan purnama yang letih. Aku ingin fajar seperti disana
yang lama menyimpan rinduku di mihrab yang agung : Nabawi
Fajar yang merentang kamilau jingga dan biru
di antara cahaya berhias menara-menara tinggi
menentramkan, kupahatkan padanya cintaku

Tapi letih dan malam, kadang sepi
diantara rerisik daun dan suara belalang
sayup hilang dan pergi
antara dingin dan pandang mengabut
abadi, kenangan itu, mengubur beribu masa lampauku

Oleh : Mohammad As'adi
Temanggung 2017

CINTA DILANGIT 6


cinta dilangit 6
saat bumi serasa jauh
menuju logika sempurna
memisal ibarat
0+12
1+11
2+10
3+9
4+8
5+7
6 hanya butuh dirinya
sendiri untuk menemukan arti semuanya
seindah nama dihati
abadilah engkau pada siang dan malam malam puisi relaxasi

Oleh : Zibril Azanafa

Sabtu, 07 Oktober 2017

MERINDU



Menghabiskan malam
Diteras rumah ditemani cahaya temaram
Memandang rembulan
Disamping gubuk tua

Kembali angan ku akan dimasa silam
Tiada kah engkau merindu kan
Perjalanan akan sebuah cerita
Cerita dr sebuah masa?

Aaaahhh
Sudah lah
Lebih baik malam ini aku memandang
Rembulan yang hampir sembunyi diperaduan

By Andreant hanif

REVOLUSI BELUM SELESAI


Apa yang kau takut kan BUNG di masa mu
Telah terjadi di masa ini
Kolonialisme berakar di bumi pertiwi ini
Apa yang kau takut kan BUNG di masa mu
Telah terjadi di masa ini
Imperialisme dan kapitalisme bercabang di nusantara ini
Apa yang kau takut kan BUNG di masa mu
Telah terjadi di masa ini
Korupsi dan nepotisme berdaun dan bermekaran
Di garis khatulistiwa ini

Perjuanganmu dan pengorbananmu untuk negara ini telah di balas dengan cacian dan hinaan ke pada dirimu BUNG.
Kau di singkirkan
Kau di kucilkan
Seakan mereka lupa dengan apa yang telah kau
Perjuangkan dan korbankan untuk bangsa dan negara ini

Tapi ingat satu hal BUNG
Walau mereka menghinamu
Walau mereka mencacimu
Dirimu tetap bersemayam di dalam hati dan sanubari kami yang paling dalam.

Pekik gempita menyebut namamu masih terngiang di telinga kami BUNG, seakan baru kemarin mereka bersorak (HIDUP BUNG KARNO,
HIDUP BUNG KARNO....HIDUP BUNG KARNO.. )

Daku berdoa kepada YANG MAHA ESA semoga amal,ibadah dan perjuanganmu diterima di sisi ALLAH SWT.
Dan daku juga berdoa semoga namamu tetap di kenang sampai di akhir masa
Biar dunia ini tahu bahwa kami bangga punya putra bangsa seperti BUNG KARNO.

Oleh : Erfan Shah Aibnih
# BANGGA PUNYA BUNG KARNO#

KEBIASAAN YANG TAK LAGI BIASA


Mencari inspirasi
Dari membolak-balikkan hati
Dan menggali imajinasi di dalam sepi
Tak lagi ku temukan kebiasaan diri
Hatiku terus mencari
Namun kebiasaan itu bak hilang ditelan bumi

Tahukah kamu
Arti dari pembiasaan diri
Menjadi biasa atau harus terbiasa
Adalah dua kata yang berbeda makna
Ku pahami keduanya
Tapi ku tak mengerti maksudnya

Terlalu banyak kebiasaan yang harus ku hilangkan KAWAN...
Terlalu banyak
Kau tak mengerti atau memang sudah tak perduli
Baiklah KAWAN...
Terangkan padaku
Apa yang harus ku lakukan setelah ini
Biar ku tahu
Bahwa kebiasaan itu tak lagi biasa....

Tanjungbalai, 07102017
By : Maia Syifa


CINTA



Cinta seperti api
Membakar dan melepuhkan jiwa
Cinta seperti pedang
Mencabik-cabik
Cinta seperti embun
Menghaluskan jiwa
Dan menyejukkan
Cinta seperti sungai
Menghanyutkan
Dan seperti gelombang dan bah
Cinta memang seperti ini :
Rahasia yang tak terungkapkan

Oleh : Mohammad As'adi
Temanggung 2017

TOK LAUT



Gubang*) laut dadanya
Berdedentam di kuala
Halilintar tombaknya
Ratib alun samudra

Kurrr semangat**)
Pulih mi malaka
Pulih mi malaka

Lengkung Langit ujung tanjung
Jangan murung wahai panglima

Pedang di dinding bersarung
jangan gantung tabir terluka

Kuurrr semangat**)
Tuah mi malaka
Tuah mi malaka

Layar tiang galah
Patah mantra tuna

Angin lempusing
mengirim butiran garam
ke kampung para tetua

Pelaut asing hilir mudik
Menghardik, pongah, dan jumawa

Deru laju kapal antarbenua
Mengurung mimpi para pemuja

Kurrr semangat**)
Jinger mi malaka
Jinger mi malaka

Tok Laut
Dimana kau simpan layar para raja
Yang dulu bersulam di gerbang Malaka
Berkilau sampai punca dunia

Tok Laut
Bawa kembali topan purba
Melaju dalam gelombang raya
Malaka!!!
Malaka!!!

Oleh : Fikar W.Eda
Kiriman : Tok Laut

Tanjung Balai, Agustus 2017


*gubang, alat musik Tanjung Balai
**mantra melayu tua


Sajak sajak BUNG Fikar W. Eda ( SANGGAR MATAHARI/KOMPI )JAKARTA buat TOK LAUT ( art institute of empowermen coastal community - tanjungbalai city)






KEBUN TEMBAKAU



kemiskinan, katamu
datang dari balik piring-piring nasi pagi kita
ia adalah langkah
dari perjalanan kita menuju kesatuan semesta
bagaimana kemiskinan bisa kau ceritakan kembali
jika piringmu sudah tidak ada lagi
hanya tangan menjuntai
lelah mencari sisa
semua cita-cita

tiga kali maulid
barisan tembakaumu
menanti berkali-kali

ia dibakar dalam gulungan kertas telpon
tanpa ada aroma keringatmu
mengharumkannya

maulid berlalu
sapi-sapi telah tumbang
telah dipotong dan dimasak
menjadi lauk
yang hanya berakhir basi di mangkukmu
tak ada keringat tanganmu
tak ada kecipak mulutmu
tak ada tawamu lagi
tak ada tawa teman-temanmu menghabiskannya

dari tanah yang jauh kau mencoba mencari aromanya
tapi hanya kau temukan rasa yang berbeda
dari rasa rokok ujicoba masa kecilmu
dulu itu

maulid berlalu
kemiskinan dan kebodohan
kehilangan dan kesunyian
menjelma menjadi kamu
menjelma menjadi asap tembakaumu
menjelma menjadi rancak suara gendang
yang tersisa di telingamu

pohon-pohon tembakaumu sudah mengering
rumah-rumah dibangun di sampingnya
jalan-jalan baru menjulur di depannya

dulu, keringatmu ada di sana
terbakar
menguap menuju matahari
membakarnya abadi
sebagaimana neraka yang menyala
memakan segalanya
membagi perih dan sakit
yang tak tertangguhkan rasanya

___
Karya : Iwan Bajang
2016

Kiriman : Ayit Ray

*** MANUSIA TAK LAGI MANUSIA *** ----- OOH DERITA ROHINGYA -----




Terpasung..!
Terikat oleh bayang
Terkesima pada tayang
Peduli yang terbuang
Benarlah Buih dilautan
Banyak dan tak berguna...!!!

Tangan mereka menggapai
Mengeruk harap dalam takut
Banjir darah
Dan bayipun menyusu pada inang yang telah mati...!

Diseret seperti binatang
Dicabik - cabik
Menjerit tak bersuara
Berdoa hanya dihati
Sebab tangan dan kaki sudah dibuang entah kemana...!!!

Lihatlah tubuh yang terpanggang..!
Itu bukan kelinci kawan
Budak belia yang mungkin dulu punya cita - cita
Kini meregang diatas bara..!!!

Bodoh...!!!
Untuk apa suara...???
Beri mereka pasukan dan senjata
Raja iblis telah membantai mereka
Membuat neraka sebelum Neraka...!!!

Rohingya....
Oohh Rohingya....
Tanahmu memerah
Laripun mau kemana...???
Saudaramu yang mana...???
Mungkin ini zamannya....
Manusia bukan lagi manusia...

Rohingya...
Oohhh Rohingya...
Beritamu sudah sampai kemana - mana
Tapi Manusia sudah bukan lagi manusia.

#DukakuUntukRohingya
Tanjungbalai, Jum'at 1 September 2017
Gema Takbir Aidil Adha nan Pilu.

Wahyu Sumut Kembara

SUDAHILAH BERPURA - PURA



Kejam.....
Tidak Punya Pri Kemanusiaan
Penjajahan Masih Meraja Lela...
Baik dikampung... didesa...dikota bahkan dinegara tetangga..
Pemimpinnya seolah-olah buta... atau
Tidak mau tau dengan yang ada..

Apa yang terjadi....
Membiarkan pembantaian, penjajahan serta Penganiayaan dimana-mana.
Siapa kah yang tau....?
Siapakah yang mau...?
Siapa yang peduli.....?
Wahai Petinggi Negeri...
Nasib anak negeri dan ibu pertiwi

Jangan lagi kau katakan....
Ini Salah siapa...?
Ini dosa siapa...?
Mungkinkah kita tanya pada Rumput yang bergoyang...
atau orang yang tuli lagi buta?
Yang memang tidak bisa mendengarkan kata demi kata.

Sudah sudahilah yang berpura-pura
Saat rapat di meja yang terhormat
Bermacam retorika yang dikemas dan dikelola.
Tuk mencari simpati massa.

Oleh : Bang Toyyib Sibarani
#Menjemput_semangat_seniman#
#Pucuk_Khobung#

TERATAI DI TANGAN BUDHA



teratai itu dulu gambaran jiwa budha yang suci tak terkontaminasi di telaga damai
indahnya memanjakan mata tiap penatap
memberi kesejukan bagi yang memandang
kini teratai itu tercemar
oleh mereka yang hatinya mati

by:zibril

DIKOTA ADA KOTA



Kotaku
Berpacu
Dari waktu kewaktu
Kotaku
Bergelut
Diantara senyum
Dan wajah-wajah semu
Kotaku
Tak bergeming
Diantara kota
Dan debu yang berkabut
Kotaku
Riuh ringkuh
Merajut
kota dalam kota
Diantara wibawa
Dan tumpukan sampah

Oleh : Hmyunus Tampubolon

KITA TAK BOLEH MERASA SENDIRI



Kita memang tak boleh merasa sendiri
Meski sepi dan jiwa seperti mengais-mengais cinta yang terputus
Karena ada Engkau dan ia yang selalu menghampiri
Perjalanan purba, sebuah kenangan , waktu yang berterbangan
adalah hidup yang tak lagi terelakkan

Bait-bait cinta, rindu dan bisik-bisik angin kemarau
Adalah bara yang tak henti-henti menyulut sunyi
Menjadi api
: ia tak boleh padam ! seperti cahaya matamu
Yang menyalakan pelita, diatas genangan zaitun yang bening

Gemercik pancuran dan kelepak unggas, mengaliri malam yang senyap
Ou… Gusti….beginilah Engkau menyepikan aku yang makin tenggelam
Bersama bidukku yang telah begitu lama terguncang-guncang ?

: Aku memang tak boleh merasa sendiri ! karena ada Engkau
dan dia yang tak henti-henti meniupkan nafasnya
Menghidupkan dan menyepikan jiwa
Aku memang tak boleh merasa sendiri !

Oleh : Mohammad As'adi
Temanggung 2017

Jumat, 25 Agustus 2017

BAYANG JIWA


Rasa ini kembali hadir
Mengoyak hati yang lama terpatri
Tegur sapa mu laksana anak panah menembus hati ku
Aku terlena...
Aku terpana..
Mengapa kau hadir kembali Tuan !
Kau tahu,antara kita sudah ada tirai pemisah
Tiada guna kita saling memuja
Walau sekedar mengeja rasa
Kau hadirkan kembali membawa suka
Hingga memberi sebongkah rasa
Cukup sudah Tuan...!
Lupakan saja
Usah kau usik kembali
Biarkan ini menjadi kepingan rasa
Yang selalu membayangi jiwa

By *Fadellis*
Eli Oktarina
Pagar dewa 25,8,2017


SAMPUL


Cuma mengejar sampul
Kapan membaca diri
Walau sekedar mengeja hati

Bait adalah basa basi
Menekan tanpa telaah pasti
Menipu cermin
Membohongi bayang

Akan menjadi sampul
Tak usah membaca diri
Tak pandai pula mengeja hati

By : Wahyu Sumut Kembara
Kamis, 24 Agustus 2017
- Gelitik Titik Memantik -
Waroeng Sedan
Tanjungbalai - Asahan
Sumatera Utara

Selasa, 22 Agustus 2017

JARING


Dikelebat malam
Hitammu mengundang kelam
Tatapmu menghujam
Mencabik mengoyak disepi alam

Kau tawarkan tarian maut
Fatamorgana pengubah takut
Pengantin ikut pengantin ikut
Saripatipun habis kau sedut

Tubuh geletar
Racun menjalar
Pandangan samar
Akhir dari pelamar

Rajut sutra laba - laba
Umpan cahaya lewat senarnya
Hantar gelombang bagai nada
Menikam menggulung memamah mangsa.

By : Wahyu Sumut Kembara
Minggu, 20 Agustus 2017
Rentak Malam - Rambang Lelangit
S. Serindan - Asahan
Sumatera Utara

NEGERI BERGUBANG


Wahai Datuk Penguasa Laut..
Dimanakah kinin kau berada...
Apakah masih dilaut atau sudah didarat.
Atau masihkah terlena dengan Banyaknya sang Dayang dayang istana.

Wahai Datuk Penghulu Negeri.
Dimanakah kinin kau tempatkan Datuk Hulu Balang.
Engkau punya kuasa dan kekuatan untuk menempatkan Para Datuk Datuk.
Tiada satupun yang sanggup menantang perintahmu...
Tapi...
Sekuat apapun kuasa, tenaga dan ilmu yang datuk miliki.
Ingatlah .......
Masih ada kekuatan lain yang menguasai dunia ini.

#pesan_bang_toyyib_negeri_bergubang#

Sabtu, 12 Agustus 2017

SEMANGAT '45


*=* dulu bambu runcing semangat dan doa demi berkibarnya merah putih *_* sekarang tinta dan pena atas nama tanar air tercinta.

Oleh : Zibril Azanafa

RELAKU MELEPASMU CUMA AKSARA


Di malam ini,
ku ciptakan....
Puisi tentang dirimu kasih,
walaupun kau kan pergi..
Tinggalkan ku sendiri.
-

Kau kan pergi dgn dia
tinggalkan ku sorang diri...
Ku doakan, semoga kau bahagia..
-

aku rela kau dgnnya..,
aku rela sungguh rela..,
tapi sayang rela hanya aksara......!
-

Perih pedih rasa hati
melepasmu oh kekasih
Airmata,
jadi teman setia ku.
-

Di malam ini,
ku ciptakan..
Puisi,
tentang dirimu kasih
walaupun kau kan pergi,
tinggalkan ku sendiri.
-

By #Mulyadi_Arjun
www.facebook.com/mulyadiarjunsangpenyairasmaracinta/

BILIK TERAKHIR


Duhai,
yang senantiasa menjaga hati,
tegarlah,
Karena,
jarak ini ialah pelindung
bagi dirimu pun aku,

Duhai,
yang senantiasa menjaga hati,
peliharalah,
Hijab dalam pelukan cinta,
Karena,
waktu akan selalu meluncur tanpa ada jeda,

Duhai,
yang senantiasa menjaga hati,
bersabarlah,
Karena,
akan datang masa,
dimana engkau dan aku saling bertatapan.

Duhai,
yang senantiasa menjaga hati,
Tindukkanlah,
matamu yang berbinar lagi indah bersahaja
Karena,
darinya akan mengalir tangis kebahagiaan,

Duhai,
yang senantiasa menjaga hati,
Tumpuklah,
rindu akan pertemuan,
dengan Rabb pencipta alam,

Duhai,
yang senantiasa menjaga hati,
Pedomanilah,
Rasulullah yang menagis karena begitu ingin bertemu dengan kita
Umatnya.

Duhai,
yang senantiasa menjaga hati,
Tutupilah,
dirimu dengan penjagaan yang ketat,
Karena,
semua yang ada padamu hanyalah teruntuk pasangan hidupmu
sahaja.

Duhai,
yang senantiasa menjaga hati,
Hiasailah,
dirimu dengan ketaatan kepada Allah 'Azza wa Jalla
Patuhi,
apa yang telah ditetapkan oleh Allah dan Rasulu-Nya
Ucapkanlah
"Kami taat dan kami patuh"

Duhai,
yang senantiasa menjaga hati,
Aku,
tiada mengharapkan satu tempat di dalam hatimu,
dimana aku harus menempati pintu yang pertama pada bilikmu,
melainkan pintu terakhir yang aku inginkan
Tempatku,
untuk bercocok tanam,
Taman bunga yang beserta
Aku.

Duhai,
yang senantiasa menjaga hati,
Tutuplah,
pintu pertama, kedua dan ketiga,
Karena,
tempatku bukanlah disana,
Dan,
Aku tiada memiliki haq sedikitpun didalamnya,

Cukuplah,
pintu terakhir sebagai tempatku,
dimana aku akan menetap,
mengalirinya dengan cinta rindu serta kasih sayang.

~Alek Wahyu~

KETIKA LAUT SURUT


tiada ombak mengalun
tiada air membiru
camar terbang membawa
diri
mega berarak hitam
nutupi mentari sore beradu

bginilah fitrahMU
hidup bak laut segara
pasang
surut
suka
ceria
bagaikan malam datang
esok ada nur mentari pagi

apalah yang didukakan
jalani di bumi ini
qanaah sebati
ada bayu
ada sayu
ada lagu
berzikir padaMU

beginilah
bila laut
sedang surut.

Oleh : Razyied Rieza
kk,6 ogos 17.
Hj Jalidar Abd rahim

CERITA KITA



Cerita itu bisa saja telah usai
Saat datangku bukan untuk kembali
Namun kepergian ini untuk memenuhi suatu janji,

Cerita itu masih tertulis rapi, walau kita telah lupakan semua, walau hati pernah melukai.

Biarkanlah waktu ajari kita untuk dewasa, biarkanlah waktu mengubah semua cerita
dan biarkan cerita tersulam indah.

Oleh : Riri Eka Putri

Kamis, 27 Juli 2017

SEJATI


Jika kau buka....
Aku akan bersemanyam selamanya....di hatimu
Dan kita akan melangkah
Bersama....
dalam siang dan malam
Hingga redup cahayanya...
Sayang....
Kita akan selalu bersama
Tanpa siang dan malam
Dalam keabadian....

#waib.....sejati



------------------

Layang-layang terbang melayang
Terbayang-bayang selayang pandang
Lihatlah camar terbang melayang
Jangan lupakan kawan di sebrang.....

@waib


-----------------------------------


Terserah padamu memandangku siapa....
Terserah padamu juga menganggap aku siapa...
Terserah padamu menilaiku....apa
Aku hanyalah aku....
Yang selalu mencoba tuk betahan..dari riuhnya angin....badai dan gelombang.....
Inilah aku yg selalu menerima apa yg ku cari...
Meski jalanku penuh kerikil tajam....
Aku hanya bisa tersenyum....tersenyum dan tersenyum....
Sederhanalah dalam apapun...
Ingat kita hadir dan kembali tanpa ada yg bisa kita bawa....telanjang.....
Sepotong kain putih pembungkus jasad
Baik dan buruklah yg kita jadikan bekal menghadap
Sang Pencipta....


-----------------------------


Bicaralah.....
Jika hatimu tak mampu
Tuk menanggungnya.....
Menangislah...
Jika bibirmu tak mampu
Tuk berkata....
Tersenyumlah...
Walau batinmu sesungguh menderita........

KITA DAN BUDAYA


Senja yang temaram
Melahirkan warna jingga yang indah penuh pesona
Melantunkan nyanyian merdu bianglala
Senja yang temaram bagai perawan yang mati suri di pembaringan
Kini semua sirna oleh tingkah kita
Budaya santun penuh penghormatan
Kini berubah sumpah serapah dan caci maki
Di mana mana ada kerusuhan dan teror keji
Manusia berubah bagai srigala yang kelaparan
Siap menerkam dan mencabik cabik tubuh mangsanya
Di mana budaya kita yang santun penuh kearifan
saling mendukung dan menolong sesama insan
Di mana budaya kita yang begitu indah saling bercengkerama
Mengapa berubah bagai srigala yang siap memangsa
Kita rindu budaya kita yang begitu santun
Kita rindu saling menegur sapa tanpa sumpah serapah
Kita rindu senja yang begitu indah dan temaram
Ach.....
Andai waktu bisa berubah
Kita ingin senja tetap indah dengan merah jingga yang merona
Dengan budaya santun kita yang penuh pesona.
Tanpa membedakan warna kulit dan agama
Tanpa sumpah serapah yang penuh fitnah
Saudaraku
Marilah kita saling menggemggam
Dan berjabat tangan mempertahankan budaya kita yang indah
Budaya yang penuh pesona
Singkirkan sumpah serapah yang merusak bangsa
Kita bisa hidup penuh dengan kedamaian
Dan kerukunan
Kita bisa tersenyum indah menyambut mentari pagi
Dan berteriak aku cinta Indonesia

By Endang Misnawaty
22 7 2017 09:29
Siantar city kotaku tercinta
NB ..bg omy bg memed tolong koreksi

Senin, 17 Juli 2017

SANG WONDER WOMEN


Dia. . .
Senja nan sayu lagi merdu
Pancaran hangat merasuk kalbu
Dia. . .
Rintik yang merdu dan merayu
Bagai syair pengobat rindu
Dia. . .
Tetesan embun pembuka waktu
Dia. . .
Mentari yang tak pernah padam
Meski malam merenggutnya dalam kelam

Oleh: Putri Tiara Dewi

HIDUP DAN MATI


Jika kehidupan adalah lahir hidup dan mati...
Lahir itu sederhana..
Seperti terbangun dari tidur yang panjang
Hidup itu sederhana..
Hanya melihat yang lahir dan mati
Mati itupun sederhana..
Cukup ia tertidur dan tak bangun lagi..

Oleh : Bengkel Las Priyo

KOPI


"Rasa pahit itu telah berangkat jauh,
menyusuri malam dengan hening paling sunyi
Lagukan rindu begitu dalam..."

-----------------------
Oleh : ~Hanju~

Senin, 03 Juli 2017

MANA RASA ITU


Bingung
Sedih
Terkejut
Mengapa begini

Rasa
Asa
Cinta
Semua sirna

Mengapa begitu kejam
Tidakkah ada rasa lagi
Terlalu naif dirimu padaku
Aku tahu dirimu

Pergi saja
Sudah lupakan semua
Kubur cerita silam kita
Biar semua tinggal cerita

Tanbe, 2 Juli 2017
Aulia Putry Manurung.
#MolenJimboBabyPotato

NAFASMU ADALAH TAKDIR



Kawan...
Apakah takdir itu seperti bulu yang melayang di udara..
Ataukah ia seperti sebuah persimpangan jalan yang tak berujung..
Ataukah ia seperti penjudi yang melemparkan dadu nya...
Karna ada kawan yang berkata.. Nafasmu adalah takdir...

Oleh : Bengkel Las Priyo

Kamis, 29 Juni 2017

HUBUNGAN YANG MULAI GERSANG


selamat siang bagi pemilik hati dan hubungan yang udah mulai usang dan gersang.. Suatu hubungan yang didalamnya tidak terdapat cinta yang tulus itu seperti tanah yang gersang yang tak pernah terkena air. Biarkan mengalir. hingga aliran itu mengering dan gersang, karena sudah takkan ada pupuk, air untuk menyirami benih yang sudah mulai keropos dan gersang. Kita "memperoleh" kebenaran lebih cepat jika dipelajari dari hubungan & pengalaman daripada lewat ruang kelas yang gersang'

Oleh : Nur Aini Natakusuma

HIJRAH


jangan perdaya diri
dan membangun
sebab beralasan itu ini
hanya fatamorgana

oleh akal menghasrat kias
menepis bias warna indah buatmu

beringsutlah dari alur yang seakan nyaman
dan disangkamu seakan jalan keberuntungan

jelanglah gerbang disana
karena disini pagar tajam mengintai

berupayalah menyimak petuah
berusahalah terima nasehat

saatnya membuka serta lembutkan

..................HATI

Oleh : Youthma All Qausha Aruan

Selasa, 27 Juni 2017

HARI YANG AKU UTARAKAN DALAM SAJAK


Bisakah kita berubah bersama?
Meniti langkah guna mencapai kebaikan,
Sabar akan jarak, yang menumbuhkan rindu pada hati nun penuh harap,
Inginkah?
Dapatkah cinta ini tetap terpendam?
Memeluknya pada malam hingga fajr menjelang,
Menutupinya dengan hijab dalam mencari keridhoan Rabb semesta alam.

Ingatlah,
Hari ini yang aku utarakan di dalam sajak,
Niat guna mencapaimu,
Dalam Ikhlas memelihara kasih sayang,
Menjadikanmu makmum nun senantiasa tersenyum di belakangku,
Ingatlah, sebelum menjelang akan ku titipkan rindu ini di atas langit,
Bersama Do'a yang namamu selalu ku selipkan,
Mencarimu disana, yang dalam genggaman Allah 'Azza wa Jalla.

"Aku tunggu dirimu dalam takdir Rabbku"

Betapa ingin aku mencapaimu,
Pula kusimpan inginku bersama sajakmu,
yah, aku ingin berbubah bersamamu,
Meniti langkah guna mencapai kebaikan,
Menantimu dibalik jendela kamarku
Lantunan Ar-Rahman dengan beribu keindahan
Kunantikan dirimu dalam takdir Rabbku.

Ku jaga jarak ini,
Pada balutan hijab nun berkasih sayang,
Rindu yang setiap harinya mengambang di udara,
Pada malam hingga fajr menjelang,
Sabarku yang senantiasa memintamu,
Pula sabarku yang senantiasa menantimu untuk berkunjung,
Carilah pula aku di langit dengan besarnya harapku padamu,
Namamu yang jua kusebut disetiap akhir Sholatku
Untaian ayat penuh kemesraan,
Merayu Rabbku untuk menyatukan namamu dan namaku di langit dunia,
Hangatnya cinta yang akan bersanding,
Atas persaksianmu nanti di depan wali dan para saksi,
Perjanjianmu dalam menuntunku untuk selalu dekat dengan Rabb semesta alam,
Menjamu hatiku dalam ketaqwaan,
Memelihara cintaku untuk selalu mentauidkan Allah 'Azza wa Jalla,

"Aku yang makmummu, tujuan indah kampung halaman, Surga"

Insya Allah.

~Alek Wahyu~

KITA BERBEDA


Langkah kita begitu berat
Untuk menggapai sebuah cinta
Karena perbedaan menjadi penghambatnya
Ikatan janji yang semestinya tidak diucapkan
Telah diucapkan dengan begitu mudahnya
Akankah kebersamaan kita diizinkan.?..

Alangkah indahnya bila saling memiliki
Namun semuanya terasa tidak mungkin terjadi
Ntah apa yang harus kita lakukan
Intinya kita hanya bisa berdiam
Semuanya terasa seperti tidak adil
Yang sudah terjadi tetaplah terjadi
Andaikan saja kita tidak berbeda..

Memory, 31januari2015

#Olehku_WanitaPenuhSelaksaMimpi

KITA INGAT ITU


berupayalah....

hentikan gundah, dan bertawar nyaman
walau diri berlantai didasar

membangun asa tak harus paksa
kadang melenggang justru teraba
biarlah sekitar memilih amarah
disini jalinlah sapa dan jabat mesra

merubuhkan tiang beton memang butuh godam, namun cuka cair juga mampu rebahkan gapura

ada yang perlu untuk tak dilupakan

menebang congkak tak harus bentak
senyum juga mampu rebahkan mangkak

mengikat liar tak mesti pakai rante kapal
benang nilon kecil juga bisa hentikan gerak

KITA INGAT ITU
Oleh : Youthma All Qausha Aruan