UNTUK MENCARI PUISI-PUISIMU CUKUP KETIK NAMAMU DI KOLOM "SEARCH" LALU "ENTER" MAKA SELURUH PUISIMU AKAN TAMPIL DI SINI

Senin, 20 September 2021

BILA NANTI


Kekasih ....
Jika suatu masa perjalanan ini usai, berilah doa tulus dalam untaian puisimu di malam gulita. Maaf jika ada salah khilaf dalam rangkaian hari yang terlewati. Kau adalah satu di antara segala, yang menjadi rahasia diri bersama Tuhan.

Kekasih ....
Meski pun raga dan hatimu tak pernah termiliki, rasa itu telah menjadi nuansa bening yang menemani dalam kurun waktu tak terhingga. Berbahagialah untuk dirimu sebab itulah pinta yang selalu terlangitkan di setiap sepi yang memuisi.

Kekasih ....
Beribu kata ingin terangkaikan padamu, tetapi tak satu pun menjadi untaian kalimat sakti yang mampu memaparkan segenap perasaan. Semua hanya bersemayam di palung nan paling. Begitulah caranya diri mencintai, biar hati ini saja yang merasakan.

Kekasih ....
Tersebut nama pada lembaran hidup yang Tuhan goreskan. Ia membuka tabir agar diri membaca segala makna yang menjadi rahasia-Nya pada malam-malam hening di mana tak ada dirimu, hanya ada rindu berpadu. Jauh di sana jasadmu dalam pembaringan bersama jiwa yang masih bersemayam.

Karya : Airi Cha
Pengojek Hati
1946.130921




KUPELUK RINDU INDAHMU


 

Tuan
Mentari masih enggan pergi ke peraduan
Tapi senja sudah mulai bosan menanti datangnya malam
Namun tidak bagiku tuan
Hangat rindumu masih kunantikan

Mungkin esok semua akan kembali, tuan
Debaran rindu yang selalu kau beri padaku
Langkah pasti akan sebuah kasih yang tak berujung
Hingga malam benar-benar datang menghampiri

Tuan
Masihkah mentari muncul di ufuk timur
Akan tetap seperti itukah peluk hangat kerinduan ini
Kuingin tak pernah tergantikan , tuan
Selamanya hanya kau seorang

Tuan
Kupeluk rindu indahmu
Kudekap hangat belaimu
Kasih yang tak pernah berujung
Sayang tiada putus walau tak terhubung
Sebab kau tuan yang bertahta di sanubari

Jangan pernah berkata entah akan semua ini
Biar langkah yang akan mengitari hari
Walau semilir angin selalu menemani
Hingga senja mengakhiri dan malam berganti

Karya : Aulia Camar Biru
Tanjungbalai, 12092021




KUPERSUNTING CINTA DI RANJANG MALAM BERDAWAI



Apakah harus kupersunting cinta
Ketika dalam keremangan malam
membinasakanku disaat pertarungan
sunyi senyap kian mencekam

Apakah cinta harus diperdebatkan
ketika ranting- ranting tua mulai keropos
ketika tulang belulang kering kerontang
di sampiri masa memutih zaman

Apakah harus kudamaikan jiwa ternoda
pada kiambang cinta berkasih sutera
ketika resah menghantar tidur di malam
petahana impian rajuk asmara

Sering aku bias di kincah kota kediaman
pada pagi gemercik riak menata mentari
di hias sejuk taman bersimpuh pelangi
bagaikan rumput daun menghijau dan
gemercik air embun bening kebasahan

Sering aku lupa ketika senja sudah menghabiskan separuh usiaku,
senantiasa menghantar kembali pulang dipersimpangan alur kota berkepanjangan

Kini waktu mengkikis malam berkelang
ketiadaan cinta merubuhkan saraf asmara
yang sekian lama tak dipersunting oleh penghias kelambu sutera gemuruh malam
gejolak raga lentikan jemari istana ranjang berdawai

By : Julinar sinaga
Album puisi #BidaraJingga
JSBJ /021020/130921,JakTim



Minggu, 19 September 2021

KUMPULAN KOLABORASI PUISI PROSA ROMY SASTRA



PUISI adalah bentuk karya sastra yang mengungkapkan sebuah perasaan atau suatu pikiran dari penyair secara imajinatif. Penyair merupakan seseorang yang membuat atau menciptakan sebuah puisi. Dalam proses pembuatan puisi, seorang penyair menggunakan bahasa yang penuh makna dan sistematis.

PROSA adalah sebuah jenis tulisan yang berbeda dengan puisi dan pantun. Prosa merupakan karya sastra yang berbentuk cerita yang bebas dan enggak terikat oleh rima. ... Kata prosa berasal dari bahasa Latin "prosa" yang artinya "terus terang"



JEJAK-JEJAK FATALIS
Kolaborasi Romy Sastra feat Shariffah Khadijah


*
sampanku takkan berlayar lagi
pendayung hilang di tengah samudra
layaran tak bersauh
sampan karam aku tenggelam
sedangkan yang dituju masih jauh
mencintai bayang-bayang
kau ilusi

seribu langkah aku mengejarmu
berlari dan terus berlari
tetap saja tak terkejar
kakiku patah tersandung pualam
aku menyerah pada senja
dianku padam jejak kehilangan arah
mata tergoda kunang-kunang
kau misteri


***



Puisi kolaborasi
MEMORI DAERAH SUNYI
Pelangi Senja bersama Romy Sastra


pada sekeping hati
tanah pulau yang dibiar sepi
setelah engkau pergi
aku tewas kalah dan mati

tidakkah kau melihat aku, bekas kekasihmu
madu yang dulu kau saring, kini telah kering
membilang semu di bibir hari
noktah kita akhirnya tercabik duri

setelah engkau bertemu debunga wangi
selendang usang tak berharga lagi
perca-perca rindu jadi memori
memori yang tak berarti

jalan sepi pernah kita lewati
kau memahat namaku di daerah sunyi
hanya kau dan aku berjanji sehidup semati
ternyata lenaku mengecapi mimpi-mimpi
setelah terjaga engkau tiada lagi
kisah kasih itu ternyata ilusi

4.8.2017
Selangor dan Jakarta



Puisi Kolaborasi
MENANTI YANG TAK TERNANTI
By Pelangi Senja and Romy Sastra


Sepanjang jalan
Bulan mengekoriku tiada henti
Terkadang rindu berlindung di balik kabut
Bersembunyi di balik awan

Namun, seketika terlihat lagi, merupa
Resah tatapan di minda tanya
Kulemparkan saja senyuman pada langit
Melambai bulan di perbatasan angan
Ternyata dunia ini bulat

Sayangnya, ia tenggelam silih berganti siang dan malam
Pasang dan surut kehidupan
Adalah lumrah pada tiap bergelar insan

"Ooh... bulan, ke mana bintang yang memagari galaxi
Nanti kucuri rindu dikau simpan di hati
Adakah kau sudi candra bernyanyi

"Ooh... candra, aku pergi saja
Nanti malam atau esok lusa kita ketemu lagi
Walau hanya kulihat dikau di langit tinggi
Tak mengapa, aku rela menantimu di sini
Di perbatasan hati yang cemas ini

Selangor Jakarta, 10,06,17



Puisi Kolaborasi

MENANTI YANG TAK TERNANTI
By Pelangi Senja and Romy Sastra


Sepanjang jalan
Bulan mengekoriku tiada henti
Terkadang rindu berlindung di balik kabut
Bersembunyi di balik awan

Namun, seketika terlihat lagi, merupa
Resah tatapan di minda tanya
Kulemparkan saja senyuman pada langit
Melambai bulan di perbatasan angan
Ternyata dunia ini bulat

Sayangnya, ia tenggelam silih berganti siang dan malam
Pasang dan surut kehidupan
Adalah lumrah pada tiap bergelar insan

"Ooh... bulan, ke mana bintang yang memagari galaxi
Nanti kucuri rindu dikau simpan di hati
Adakah kau sudi candra bernyanyi

"Ooh... candra, aku pergi saja
Nanti malam atau esok lusa kita ketemu lagi
Walau hanya kulihat dikau di langit tinggi
Tak mengapa, aku rela menantimu di sini
Di perbatasan hati yang cemas ini

Selangor Jakarta, 10,06,17prosais



Kolaborasi Puisi
ALEGORI SINDROM KLINEFELTER
Romy Sastra & Regina Ibrahim


#RoS
Dian menyilau taman sari bersanggul kartika jatuh di parasmu anggun. Sketsa malam membujuk bidadari, berlenggok ilalang kesepian meminta kesuburan pada hujan. Mimosa pudica tak kuat menadah embun, kiambang bertaut kembang di telaga rupa, seganding teratai saling membelai. Suratan mengingkat keturunan Adam sepanjang kehidupan adalah skenario embrio menghias dunia semolek Hawa berahi dipuja-puja.

Tuhan sineas teragung ciptakan kejadian bergulat panggung, berlayar dada mendayung kepala. Panah dunia bermata sinis menggugat syahwat mencumbui tubuh indahnya. Paradise di bibir manis berwarna merah saga, adakala menyembur api memaki gender yang kerap menuntut keadilan Tuhan di majelis perjalanan zaman.

Aku membaca sindroma klinefetser bak getah bercampur ludah menjadi darah, gumamku tak sudah.

#_Rei
Segala maksudku, semua awalnya samar-samar kelabu. Taman peribadiku bergulir resah, takut dosa, gemes malah terbiasa jadi salah tingkah di daerah ini. Peri peri kondang sesekali mengatur kata lewat jenaka lucu, Peri peri flamboyan silih berganti bak hirarki kuasa, membawa kenyataan keliru berbeza. Kuputuskan duduk di pinggir duluan, membelai kaji segala termampu: Udara? Bunga? Dedaunan? Kumbang? Media tanam? Pupuk baja? Menghela dag dig dug nafas lepas.

Berkali kali pernah kumarahi penguasa, tega membiarkan daerahku tidak nyaman. Miskin kaya, sakit sihat, gendut kurus - aku mengerti. Tetapi ini perihal rasa maruahku terkotak katik parah. Dia juga hadir dalam impi dan ilusiku, membelai ikal rambut, lekuk tubuh, kulit mulus, tonggek pinggul juga atribut tak seberapa terperangkap di jasad nan salah. Tuhan mungkin sudah bosan pada tiap keluhanku melapisi doa doa jengkel, lantas dihembus-Nya roh baru agar ampuh menahan derita dunia, aku menari di kelambu diri.

XXY kromosom klinefelter: matematika rumit, rewel sukar buat insan polos sepertiku bertahan bertahun mengintai bahagia, sejahtera, lantas ditakdirkan aku terbaring di kasur operasi besi, berbius anestetik di negeri jiran, biar nanti aku pulang aman jadi orang baru, kelana itu masih berpanggung di tubuhku.

Jakarta-Georgetown Pulau Pinang, 29-9-2020



Kolaborasi Puisi
ORIGAMI DAN EDELWEIS
Romy Sastra feat Wan Zai Wan Ismail


#_RoS
Aku berterima kasih pada kebaikan awan, menaungiku gersangnya perjalanan. Setelah kutahu, perjodohan musim tak selalu membuahkan bibit, yang ada bunga-bunga berguguran.

Aku berterima kasih pada kebaikan kawan, mengingatkanku kesadaran. Pada suatu kisah, aku yang jatuh berkali-kali di taman origami, melukis sketsa rindu pada hati yang beku. Renunganku panjang meminang angan di seberang lautan, dan kau datang kawan. Bawakan lilin menerangi arahku buntu, tentang kasta pada suatu rasa tak mengajarkanku bahagia.

Ya, aku telah menyadari kini.
Betapa cinta berbungkus rupa jadi sketsa kekasih hampa. Hukumlah aku kawan sekali lagi! Biarkan mataku yang nanar ini benar-benar terbuka, menatap di antara origami dan edelweis.

#_Wan
Aku pun terhutang budi pada kesetiaan awan, menaungiku menyusuri jalan kenangan. Namun aku sedari, perjodohan musim menerbitkan benih yang akhirnya berbuah manis, basahkan gersangnya langkah ini di bawah bayangan indah jadi pelangi oasis diri.

Aku terhutang budi pada kesetiaanmu kawan, mengingatkanku pada keinsafan. Pada suatu momen, aku yang bangun berkali-kali, setelah jatuh riuk tulang temulangku dipatahkan, di taman origami ciptaan insan, menulis ceritera cinta pada rasa yang kaku. Biarlah jauh di sudut fikirku mengundang impi di seberang lautan, dan kau hadir kawan. Bawakan untukku cahaya menerangi denai buntuku, tentang warna darah kita yang sama, saling menyuluh ke lorong bahagia.

Semoga kau sedari kini, betapa bara kasih yang membara di dada kita bukan sketsa kekasih hampa. Taklah aku menghukummu sekali-kali kawan, melainkan berganding tangan. Bukalah matamu seluas-luasnya! Tatap mahabbah mengikat origami, bersemilah edelweis di dada candra.

Jakarta-Kelantan, 27-9-2020



Kolaborasi Puisi

MENUNGGU BESTARI
Romy Sastra feat Iris Suzanis


#_RoS
Setiap kali mengingatmu, aku hanyut dilarung rindu, dan selalu tabah menunggumu tiba, sepertinya kau enggan menyapa.

Aku dilanda sepi mengetuk pintu hatimu berkali-kali, harap sapa penghibur lara kau tak jua ada. Apa kau bermain madah dengannya?

Aku ingat pertemuan kita di malam itu,
kau bermain bayang pada kunang-kunang.
Itu pertanda, mungkinkah malammu mengintai gulita?

Melalui cinta aku belajar dewasa
Melalui rindu aku belajar tabah
Meskiku kecewa aku belajar tahu diri
Meskiku resah aku tak ingin patah hati.

Oh, bulan yang padam tertutup awan,
dapatkah bersinar kembali?
Setelah kusibak kabus-kabus rindu,
menguak jendela hatimu.

Aku menanti bestari tak kenal lelah mencari

#_RiS
Dalam diam aku persiapkan jawapan pada setiap pertanyaan, bukan pertemuan yang aku resahkan, tetapi rindu menderu ketika ingatanmu masih tentang dia yang kekal menetap di hatimu.

Benar, aku takut dikalahkan rindu, dan kau selalu setia di persimpangan dua rasa, cintaku yang mula menyala jadi kenangan padamu tetap hangat. Kenapa kau masih bermain bayang di peraduan angan?

Lalu, untuk apa lagi kita persoalkan sapaan, ketika kita sama-sama berdiri di jendela kebimbangan, dan membiarkan hanya mata berbicara. Dua hati begitu sarat dengan rindu saat mesra dahulu. Kini, pahit sudah dirasa.

Duhai bulan yang tetap bercahaya indah, temani aku mendakap sunyi malam ini. Kerana aku, masih setia dibasahi embun rindu menunggu mentari pagi.

Kau juga di mana kini?

Jakarta-Johor, 26-9-2020



Kolaborasi Puisi
KENDURI SASTERA DAN TANGIS PERPISAHAN
Romy Sastra feat Adyra Az-zahra

#_RoS
Aku si kelana bersua di mata pena, membidik sasaran jantung. Kutemui karib di Semenanjung tak berhujung, pada perjalanan nan syahdu, berulam rindu. Kau dan aku menyatukan jarak bulan dan bintang menembus malam. Pagi pertama kita tiba di persimpangan Kelantan, tubuh gigil aku menggigau. Nasi lemak teh tarik membuka minda tentang pemandangan Gua Musang, mengingatkanku pada destinasi objek wisata Harau.

Aku si kelana menjumpai senja di pentas Konpen Kelantan, mengharu biru di tepi lautan. Kenduri Sastra itu mengikat ukhuwah antar bangsa. Pagi kedua perkenalan maya jadi nyata. Wajah-wajah memesona menatap moleknya laut China Selatan, aku seperti lupa daratan.

Aku si kelana kembali dari pentas sastra, menjelang 'ku pulang di Bandar Puchong. Pagi ketiga tiba di kedai makan, arunika dan semilir kepergian. Hidangan teh tarik belum habis dituang, grabe datang. Isakmu kak Dyra, menjatuhkan pelukan ke sebidang bahu menadah enggan berpisah, sebentuk hujan jatuh di mata. Padahal, pada pertemuan pertama sebongkah senyum merekah, aku melukai tawamu tak menjadi resah. Ah, kenangan ukhuwah itu kusimpan sepanjang umurku ada.

#_Dyra
Si kelana itu tiba di KLIA, menampakkan rupa. Debar kurasa menatap kau kelana hati dalam diam merusuh kata nak berucap salam. Aku berbalah entah, maya mendekatkan kita sepanjang nukil aksara terjalin ukhwah. Jauh jarak Indonesia-Malaysia bukan halangan, seluruh keluargaku memaklumi kehadiranmu dik Romy, malam pertama kujumpa di KLIA tercipta segala suka.

Dik, meskipun bicaraku loghat Kelantan kau tekun mendengar ucapan, kadang senyum kau hadiahkan, aku terusan berucap macam burung berkicau malam. Kau tetap mengiyakan. Aku sendirian ralit
bercakap tak berhujung, bla bla bla....

Kereta kita naiki meluncur laju tinggalkan Kuala Lumpur, menuju destinasi kenduri puisi. Singgah sekejap menikmati nasi goreng di Cheras ala kadar. Aku bagaikan bermimpi, betulkah ini kau yang aku panggil adik berada di depan mata? Aku melayan angan dalam kepekatan malam, menjelang pagi kita tiba di Gua Musang, destinasi yang indah menatap nirwana di puncak gunung dengan segelas teh tarik sepinggan nasi bekal perjalanan ke Kelantan.

Oh, indahnya ukhuwah di riang tawa biarkan saja ditelan kabus dan embun pagi. Pagi di Bachok daftarkan kenangan di lipatan hati negeriku sendiri. Ya, di Kelantan kelihatan di wajahmu kau kepenatan tapi bahagia. Namun, itulah hakikatnya persahabatan saling menghormati memahami satu sama lainnya.

Ceritera kita akhirnya ditamatkan di Puchong setelah usai kenduri sastera, pada pagi yang redup saat kau pulang ke Jakarta, aku lepaskan kau pergi sejuta resah. Ya, air mataku tumpah terpana, bibirku kelu, dan kubuang jauh-jauh tinggalkan kecamuk tak ingin berpisah. Dik, segugus ingatan kenangan takkan hilang dtelan masa. Biarkan puisi menautkan kisah kau dan aku bersaudara selamanya.

Jakarta, Selangor 24-9-2020



Kolaborasi Puisi

SUDIKAH LUKAMU KUBALUT
Romy Sastra feat Kims Diwa


#_RoS
Pohon meranting
daun-daun gugur diterpa angin
kubersihkan kenangan mati
memulai kisah tanam bibit kembali
berharap bunga berputik
dipupuk organik

Aku rela membungkus lukamu
pernah tercabik sembilu goda
dimainkan kisah nan lalu
atau, aku biarkan saja mahkota itu
tergerai tak bermaruah?
aku tak tega

Kau mesti menyambut mentari kala pagi
walau luka-luka tak kunjung ada obatnya
setidaknya, bukalah pintu rumahmu!
biar kutatap gaunmu yang ungu
menyibak sketsa sisa-sisa cinta

masih bisakah lembaran barumu kubuka?

#_Kims
Saat mentari meranting
aku bisa tahu itu
pasti ada embun menyapa kuntum
mewangi, lalu berseri lagi
lagu rinduku membisu

Namun,
luka ini bisa sembuh
parut tetap kekal
sebagai kenangan silamku

kutahu hasratmu suci
seputih salju, seghairah mawar merah
ah, pintu cintaku telah terkunci
harapan telah carik di ranting derita

kutahu niatmu ikhlas
setulus kasih Layla
dan si Majnun yang payah
yang tergila-gila akan cinta
namun, robek hatiku ini tak kunjung reda
tak bisa disulam lagi
walau obatnya dari langit ketujuh
maafkan aku bukan Layla yang kau sangka

Segala sesuatu telah berakhir
tidak bisa bermula lagi
bukanku melawan takdir
kerana sakit masa laluku menikam jantung

Ya, kutahu
di setiap pertemuan pasti ada akhirnya
adalah kematian
bernoktah perpisahan itu suratan
dan aku jua tak tega hadapi penantian
kerana penyeksaan jua menjadi gebar tidurku
biarkan kubalut luka-lukaku sendiri
tiada apa lagi di sini .…

Jakarta-Marudu Sabah, 25-9-2020



Kolaborasi Puisi

SEKUNTUM KEMBANG SEMALU
Romy Sastra & Utaliahm Utaliahm


#_RoS
Setiap kali aku berlayar arungi samudra
mata tertuju pada bungsil tumbang di pantai
dan camar menari di awan
menarilah sayapmu iringi laguku
semilir giris kesunyian

Aku berlayar lintasi jiwa
mencari labuhan permata
hentakkan ombak memacu rasa
buih berarak iringi rindu
kau jauh di mata dekat di angan
mungkinkah kau dapat kugapai?
aku tak pesimis pada tualang.

Setiap kali aku memandangmu
kembang semalu yang cantik
aku membidik sasaran jantung
kau bantu jalanku menujumu
bukan paksaan.

Bungsil yang jatuh sudahkah tumbuh?
jika putik sudah berbuah
izinkan aku menyemai rindu
yang tak berpaling darimu
sekuntum kembang semalu kulirik
aku meminta senyummu sedikit
jikapun kau sudi.

Madahku tak jahat, kan?

#_Uta
Samudra biru tak tersingkap gelora
sebab tertutup angan
sang arjuna ...
engkaukah yang datang dengan panah cinta?

Membidik asmaraku
menggetarkan sukma
aku bagaikan tersihir seketika
warasku hilang di tatapan goda
debur ombak memecah sunyi
Kejutkan aku terhanyut rangkulan ilusi.

Bermusim kau tinggalkan pelabuhan ini
aku menanti angan
senafas sarat jemput harap dakapanmu
terlalu lama aku menyepi
hingga senyumku mati seri
camar pun kehilangan rentak tari
kau hanya kemistri yang tak pasti.

Lewat angin yang bertiup
kutitipkan desau rinduku untukmu
pada deru ombak bukakan pintu
meskiku bisu bibir terkunci kelu
ketika harapan merantai seluruh nafasku

Ah, tatapan matamu meluluhkan jiwa
aku tidak ingin kecundang di pelabuhan rasa
kau tahu kan? Kunantikan hadirmu
dalam rindu meruntun sukma
nyatanya kau tiada.

Maafkan aku arjuna
telah kutabur pasrah ke samudra
ombak, campakkan dia ke pulau paling sepi
aku bukan kembang yang kau puja
jika anganku hanya sebatas mimpi.

Ya, aku seperti bungsil yang patah hati
melambai di pesisiran pantai
kerana kau tak sekalipun berlabuh di sisiku
akukah bunga semalu yang cantik itu, katamu?
padahal aku hanya lukisan anganmu.

Kau memang jahat kemas impian palsu untukku.

Jakarta-Sandakan Sabah, 13-10-2020



Kolaborasi Puisi
PENANTIAN YANG KEJAM
Romy Sastra & Sita Aulliya


#_RoS
Aku tak berpaling rasa, meski tualangmu sejauh mata memandang, bayangmu dalam ingatan. Pintaku, menterengkan jiwamu, berdoalah selalu di perjalanan! Pada selendang putih kau bawa-bawa, melingkari pundakmu adalah ikatan suci kau dan aku, bernoktah di depan penghulu terpisah dua benua: kita belajar tabah.

Kau yang di sana, berkabarlah lewat angin, jangan diam saja! Semoga tualangmu tak resah, bukankah kau selalu berharap: kau akan seperti dayu enggang pulang ke sarang mengiringi nada angin di kala dingin, sayapnya mengibas kisah. Kau tahu kan? Aku tak khianat dalam penantian, setiaku hanya pada satu cinta adalah dirimu seorang, percayalah.

Aku pahami kembaramu adalah sosok srikandi mendulang devisa rupiah. Biarlah putih mataku menanti, kelak bunga harapan kupetik setelah kau kembali. Aku pun mendulang suasa di sini, jadikan permata demi kau dan si buah hati.

Ah, kincir angin itu selalu berputar, meski kau diselimuti dingin, merpati tak ingkar janji.

#_Sita
Waktu terus memeluk langkah kakiku, membawa ke mega-mega benua biru membuka mataku merajai angan meliuk menari bersulang di atas kemenangan hasrat dan nafsu.

Sungguh... aku takut, aku takut bila euforia ini mempecundangi hidupku, kemudian memojokkan aku dalam kubangan dosa bersama dia merangkai zina atas nama cinta. Lalu, sang waktu mengalungkan status baru sebagai simbul kekalahanku. Sungguh dalam sujudku bersimpuh simbah tangisku. Tuhan...Tuhan... bimbing jalanku. Aku kalah dan pasrah, takdir mengiringku pada langkah goda.

Puing setia coba kutata dalam hela eja napasku, berharap tangan malaikat menopang rapuh. Tetapi, jiwa ini terlalu kerdil mengembara maha gelora. Luruh sudah kesucian sang pahlawan devisa. Dan, merpati menunggu sunyi kabar kincir angin.

Jauh aku di sini pun memeluk sunyi merenda mimpi cukup lama bertahan, kuceritakan pada angin beratnya kerinduan, dan kutitipkan pada embun linangku yang buram. Kau tahu kenapa? Karena setia bukanlah luka, karena kerinduan bukanlah beban. Maafkan jika tualangku telah bertuan, bukan alasan untuk mendua, aku butuh kemesraan yang nyata. Kau tahu kan?

Maafkan aku atas penantian waktu yang kejam.

Jakarta-Lisse Nederland, 12-10-2020



Kolaborasi Puisi
JANGAN LUPA JALAN PULANG
Romy Sastra & Chie Setiawati


#_RoS
Tualangmu menuju bulan
Serangkai cita meraih masa depan
Pada suatu rencana
Dulang suasa disepuh berlian
Apakah noktah sudah tak lagi berharga?

Aku dimensi waktu menatap senja
Putih mataku menunggu angan
Sedangkan bulan berjodoh matahari
Selalu sinari buana
Aku yang di ranah dialiri air mata
Kapan kau kembali?

Tengadahku kerap bertarung malam
Membuka pintu langit meminta
Kau baik-baik saja di ujung purnama
Sebab peluhku bergulat pagi
Menunggu kau di sebatang pohon singkong
Yang kutanam sebelum kau pergi
Penyambung hidup besarkan anak-anak
Pada masa pertumbuhan ini

Andai tualangmu telah usai
Duhai pahlawan devisa
Jangan lupa jalan pulang
Aku menantimu di rumah
Ya, biarlah putih mataku
Seganding setia di daun pintu
Kau kubawa-bawa dalam doa

#_Chie
Kau tahu kan? Kakiku berat melangkah
Tinggalkan beban rindu di pundakmu menanggalkan segala pilu dan rasa malu
Menahan sesak di dada

Pahami jalanku!
Bahwa hari-hari akan lama kulalui
Sebab perjalanan hidup adalah pilihan yang berat
Di antara kegagalan dan harapan

Sebatang singkong menjadi saksi
Bahwa rindu begitu abadi
Tak patah layu rindu di ranah
Di helai daunnya tertulis janji: aku akan kembali
Sejuta harap terukir hidup lebih baik
Biarlah dingin memupuk cinta lewat angin

Oh, kelak kita berdayung sampan
Dan berkebun di luasnya dunia
Menikmati hari tua bersama
Semoga duka tak lagi ada
Sebab kejamnya hidup telah kita lupakan
Jangan lupa berkabar!

Jakarta-Singapore, 19-10-2020



Kolaborasi Puisi
AKRABNYA PERSAHABATAN
Romy Sastra & Rohainah Hj Mat Noor


#_RoS
Mendayung biduk ke pulau merujuk jangkau pada tuju mengenalmu, aku yang larat bersauh dada meninjau rupa. Taklah kutinjau sekadar maya, melainkan tatap di batas kisah pada pertemuan antar bangsa.

Udara menyatukan kehidupan, di mana cinta sudah bertasbih di debar-debar nadi. Oh, kak? Aku mengenalimu tak sebatas kawan, melainkan terjadinya rasa ukhuwah menjadi bingkai saudara seiman.

Kita yang serumpun seumpama bunga-bunga mekar mewangi, aku madahkan puisi di taman hati. Milikilah aku sebagai adik yang sunyi, sebab jangkau itu sangat jauh di mata dekat di rasa. Aku mengenalmu ladang ibadah seiring doa, jabat tanganku tak bernoda.

#_RoH
Mengenalmu bukan sekadar persahabatan di muka buku semata tetapi lebih dari itu, telah menjadi realiti persaudaraan aku kau dia dan mereka.

Terkhusus untukmu adikku,
aku menyatakan kau adalah adik angkatku dari seberang. Sungguh sangat baik hatimu, mesti berjarak dua negara. Namun, sebumbung benua kita lewati bersama menghidu udara yang sama.

Sebelumnya ini kita tidak saling mengenal
dengan torehan karya puisi di media sosial
kita bertegur sapa dan sastra menjembatani ihsani, kita bersua menjadi keluarga adik kakak yang serasi sejiwa.

Tahun demi tahun dilewati. di sisa umur yang sarat senja ini, mari dik! Tengadahkan doa berharap dianugerahkan panjang umur, sehat dan berbahagia selalu.

Adikku, hanya karya yang akan jadi sejarah dan akan hidup seribu tahun lamanya, serta amal ibadah membimbingmu ke Jannah.

Jakarta-Melaka, 4-10-2020



Kolaborasi Puisi

PESONAMU TAK ANOMALI RUPA
Romy Sastra & Khiara


#_RoS
aku adalah adam
yang mengerti kodratmu perempuan
kau lembut bak salju
ditakdirkan menjinakkan kelakianku

dipinjamkan tulang rusukku untukmu berjalan
dan kau lalui kehidupan ini dengan cinta
parasmu sempurna atas ciptaan yang indah

kau pesona zambrut mata jelita
aku palingkan wajah tak fitnah
memandangmu
sungguh aku tak ingin tergoda

dijaga kau segenap rasa
berhijablah duhai sekuntum bunga!
jangan biarkan kembang itu patah
pesonamu tak anomali rupa:
tergerainya mahkota

#_Khiara
dan akulah hawa
mencoba memahamimu dengan cinta
sepenuh rasa yang ada
meski jauh dari sempurna

sungguh tak kupungkiri
hadirmu bak bianglala
memberi warna di setiap langkahku
menjadikan titian hariku berjalan
seindah mimpi dan khayal
terima kasih pinjamanmu tuan

duhai pelalah jiwa
Izinkan aku berbenah
memantaskan diri seutuh cita
melangkah di sampingmu
sejurus fitrah

tuan, kaugenggam jemariku dengan ikhlas
menjadikan aku makmum yang pantas
sebelum jannah teraih sempurna:
aku berbenah

aku taklah serupa bunglon
yang beranomali warna di taman hati
mahkota itu sekuntum bunga kujaga

Jakarta-Bromo, 17 Desember 2020



Kolaborasi Puisi 
KECEWA
Romy Sastra dan Iffa Aini Hamd

#1
aku yang pergi sementara waktu tinggalkanmu 'tuk mengejar cita-cita demi masa depan kau dan aku

kini 'ku kembali mencarimu nona, titipkan satu selendang tak berpayet indah di sanggulmu, rambutmu yang dulu telanjang, biasa diayun sansai, dari angin yang membelai tergerai
riak-riak menari seperti tarian indang, kau yang gamang di genggaman jemari janji sayang

aku yang tak punya pegangan hidup membahagiakanmu,
berikhtiar berkelana ke hujung dunia
cuaca nan kuhadang,
menantang haru riak gelombang
takut layaran itu terhempas batu karang
risau berakhir malang,
tetap kucabari sagara itu nona
dengan segenap jiwa raga demi cinta

kepergianku menghilang cukup lama memungut asa yang suasa disepuh jadikan emas permata, ternyata tak jua terhidang di depan mata,
kini aku kembali ke dermaga cinta peraduan rindu yang dulu kudamba, yang kau berjanji setia sehidup semati, menunggu kedatangan kekasih, meski aku pulang tak membawa apa-apa, bahkan kepulanganku hanya nama, kau berbisik lirih berjanji di sela jemariku kau cium, untuk selalu setia

ternyata kini kau telah berdua
tak lagi terkisah pada nyanyian rindu
kenangan bersamamu,
hanya berbuah khayalan cinta sia-sia belaka

satu kata untukmu nona,
berbahagialah kau bersamanya

_________________---------________________
#2
aku menunggu tak kenal jemu, ditinggalkan bersama segugus rindu yang tak pernah layu

berteman desah resah menantikan kepulangan arjunaku, sentiasa bermanja pada bayu mohon hembuskan rindu yang terlanting mencarimu,
tertambat kaki pada hati yang memahat ingat, terbayang titisan keringat saat dikau membanting kudrat,
demi suci niat yang sentiasa ada runcing cuba menyayat

hanya padamu seluruh jiwa dan raga ini arjuna, aku rebahkan sekujur cinta merayu
restu dalam sujudku sebagai hamba,
ada kasih seluas telapak
namun dalamnya ke dasar bumi berkerak,
di situ ada setia menghuni tak pernah berganjak,
sabarku menyusuri penantian yang bukan hanya sebabak,
pusaran ngilu menghantar sendu cuba mengocak riak

kurayu prahara tolaklah bahtera itu pulang ke dermaga, ada nakhoda yang kugantungkan rindu menderu untuk setiap nafasnya,
duhai kalzum laut jangan biar cinta ini karam,
ada gemala jiwa lebih gemerlap dari kejora erat tergenggam, cahayanya tak pernah padam diseduh buram, kusyairkan seru melipur galau saban malam
agar mata yang terlayut bayangmu mampu terpejam

kunanti pulangmu di pintu dengan hati piatu,
usia ini tidak memungkinkan rela di mata orang tuaku,
telah kukecup tanganmu mengiringi derap
bersama renungan sayu, berharap
hendak kubawa ke gerbang syurga namun pintu neraka pula terbuka kerana mengengkari kata ayahbonda,
siapakah dapat menyeka air mata kasih
yang tak henti berlinang,
saat aku dipaksa menjadi tunangan orang

telah rekah daun pintu lalu runtuh dimamah waktu, tersedu membiar terhiris nipis hati yang telah kaku,
merunduk pada takdir yang datang menjawab doadoaku,
siapalah aku di sebalik lusuh selendang melandung pilu,
berikhlas mengakuri mahunya Tuhan mengolah hidupku,
biarpun aku bersimpuh dengan sehiris hati masih berpaut pada cintamu

dari jauh berlabuh sudah bahtera, tanpa ada aku menyambutmu di dermaga,
sauh terhempas atas goncangan duka, bersapa rindu akhirnya terisap dengan derai air mata,
hati dibisukan dengan cengkam sengsara,
terdengar menghiba kau menggumam kecewa sementara aku mengemam lara

Jakarta, Johor Malaysia 05-11-2017



Kolaborasi Puisi
MEMETIK MELATI KEMBANG SENJA
Romy Sastra bersama Retno Rengganis


#i
pagi yang indah di suatu desa
bunga-bunga segar menari di halaman rumah
sisa-sisa tetesan semalam menjadi embun
tertumpang di atas daun
kicauan kedasih pagi ini lirih
sedih kehilangan kekasih
dibawa angin dari siulan malam
berapa lama kepergian?
sedangkan penantian tak lelah merindukan

si pungguk bermimpi siang, bercumbu rayu di rumpun bambu
melirik jauh ke ujung daun yang berayun
duduk seperti bisu
menatap tunas-tunas tumbuh kian subur
tak ditemui,
di mana benalu yang dulu merampas dahan
hinggap tak bertuan
satu kehidupan tercabar sunyi di rumah tua

dan kucoba menanam melati di senja hari
berharap tumbuh mekar di ruang hati
tumbuh di negeri yang jauh
ingin kupetik, setangkup mewangi
satu kuncup mekarlah kembali
izinkan aku tiupkan wanginya di makhota yang tergerai indah
meski makhota itu telah berbunga daun jambu
sebab rindu-rindu ini membunuhku

pernah berlayar tak sebiduk
pada satu kisah, terkisah dimamah senja
menatap resah desau di suatu pulau
tak ditemui asa yang tersisa
karena riak yang biasa menari indah bersama lembayung
tenggelam digulung ombak menuju samudra

kisah si pungguk dan melati
terkungkung oleh bingung tak berkesudahan
akankah cerita senja berakhir misteri ...?

___________________---------____________________

#ii
senja di balik awan kelabu berangsur biru
riuh camar akhirnya membisu terbungkam waktu berlalu
adakah warna tertinggal dari angan tercipta
sedangkan kenang membayang anggun di hati

sepucat melati di pangkuan kekasih
layu topangkan kelopak di punggung batu
inikah rindu selalu menikam resah jerih menunggu
gelisah dingin tanpa kekasih yang entah
kucoba tembang sejalan menyuruh waktu
menggenggam janji atas nama cinta yang ternisbatkan, mampukah?

satu pertanyaan yang tertinggal di sudut pelabuhan, saat sunset kau kecup hatiku
di mana cinta menyatu pada senja
sedangkan terik telah sembunyi, gelap sudah

dan kucoba merenungi kembali, saat tangan putihmu menggandeng menuntunku
menulis bait-bait sajak
tentang rembulan di gelapnya malam
aku ingin mengucap sesuatu atas hormatku
padanya tandus melati tetap tersirami
sampai hilang wangi kau hisap malam itu, duhai kekasih

lagi-lagi aku terjatuh di jurang problema, sayapku patah
aku terjerembab di kubangan mimpi nan dalam
seperti perih yang terlempar kembali pada kenangan di bibir pantai
dan tangisku lirih menjadi-jadi
di antara kecipak gelombang menghantam karang
sejumlah tanya menghakimiku menyelusup ke sumsum masa
seperti katamu,
akankah cerita berakhir misteri ...?"

luruh bening ini ...
menjawab tuduh pada rindu yang akan rapuh
kembali kususun huruf-huruf beri'tikaf menjelma bait-bait puisi, melintasi hari-hari yang surga
bagaikan memetik melati kembang senja mewanginya cinta
tak ingin resah, saling percaya....

Jakarta, Cepu 13-11-2017



Puisi Kolaborasi
SENANDUNG JEMARI KASIH
Karya: Norhaizan Mahussin dan Romy Sastra


#i
di sini,
skrin bisu memuntah warna kehidupan
menyusun puisi menyimpan rahsia
melontar rasa ke laut rindu
mencuit hati memecah tawa
menghitung mutiara zikir kasih
menghulur jemari menguak duka
memesan ayat memandu nyawa
memandang sepi sebutir noktah
yang sepi semakin sepi
bermonolog setiap hati
hingga akhir nanti....

#ii
di sini dan di sana
berlabuh pada rasa seni
meski terlalu jauh jarak segara
terpisah antara pantai dan samudera

pada seuntai puisi malam
tafakurkan diri mendekap pada Illahi,
rentakkan jemari bercumbu rindu memuji,
jikalau mutiara bersemayam di labirin hati
noktah kekasih ikatkan
jangan bermuram durja pada sepi
rona hati ceriakan
monologkan rasa dengan cinta
biar putik berbuah jadi tirani
tumbuh bersemi sampai mati....

Jakarta, Malaysia 31/01/2017



Puisi Kolaborasi

PESAN RASA UNTUKMU KAWAN
Penulis: Romy Sastra bersama Nor Azah Bahrim


Kepada angin kabarkan serat pelangi
bahwa malam ini,
pesan rasa untukmu kawan
kepada riak nan mendebur riuh
buih-buih terhempas jadi bias
nyiur melambai damaikan camar berlalu.

Layu kembang tak jadi,
jika batang kau patahkan
pada sajak dan puisi kita gersang
ranting-ranting berjatuhan ke bumi
madah gelisah,
malam ini berkabut
bulan malu di balik awan.

Pada bunga seroja nan ranum
di semenanjung Malaya
bait-bait sastranya dirangkai ke muka buku
ceritakan kisah rindu tak pernah sudah
pada siapa anganmu melaju?
padahal jalinan asmara di beranda senja
tak redup pelita kasih lilin di meja
bersenandunglah di dada noktah nan realiti
kan didapatkan surgawi menjelma
dari lengan Arjuna memeluk erat srikandi cinta.

Kirimkan syairku lewat maya
pada tarian diksi nan bersahaja
bersemilah dikau gita sahabatku di sana
sebait doa berbungkus sastra memandu
meski kita terpisah jarak gunung dan samudera.

******

#ii
Rinduku yang berkepuk dirangkai jendela muka bukuku, bagai di genangi air tidak basah
di jemur panas mentari tidak mengering
karib sekali lilitan bait-baitnya
terkebat gegar gita tari di jemariku rupanya menjadi tanyamu yang tidak terjawab lagi

Lalu
senja nan merah kau datangi aku kawan dengan khabar seberkas tinta lewat sepoi angin pada
riak ombak riuhnya yang terus mengocak damai pantai telah menggelisahkan rasa merusuh menelangkai diamnya hatimu

Engkaukah
kawan yang semalam
menanyakan patah-patah rinduku terkhusus pada siapa ?
yang mengakali tidak jemu merenung bait-bait resah rindu mengairi langka jemariku di lawang temu
penuh tenunan rindu yang ranum entah kepada siapa untuk siapa
hingga banyak tanda tanya
merentas nusantara merambak tebaran berkisah rupanya

Pesanku satu kawan..!
cukup kau mengerti rindu itu apa
pasti kau tahu kenapa aku tidak belajar berhenti mengelari rasanya
biarpun ceritera kasihku telah lengkap titiannya

Rindu bagiku sebentuk rasa yang tidak pernah habis merambat waktu di tuang tidak mengurang di simpan semakin meladung
menyeru-nyeru untuk di muntahkan isinya menjadi sebongkah cerita yang tidak bertitik

Ya, sebenarnya
rindu bisa saja melamar hati bukan cuma untuk kawan kekasih keluarga sahabat-sahabat di dekat juga kepada DIA.

Jakarta, Malaysia 29012017



Puisi Kolaborasi
TANGISAN DOA
Karya: Romy Sastra bersama Norhaizan Mahussin


#i
Sujudkan tubuh luruhkan rusuh
betapa terlena umur dunia direnda
tak kenal mutiara cinta di dalam jiwa
resah senja kian mendekat
bakti masih menggenggam duniawi
terlupa jalan pulang nan abadi

Napas berpacu tak lagi menentu
kaki gemetar merintih kaku
jemari menyentuh tak lagi merasai
mahkota perlahan memutih
aura rupa pudar, lusuh rona tak berseri
berkaca diri cermin seperti retak
menjerit lara pelangi tak lagi indah

sajadah kian usang terbentang
tangisan darah tirani mengetuk pilu
bertanya diri, jalan rumah qulhu sepi
bekal selimut abadi tak jua merupa di hati
dalam doa tangis ini mengadu
ya Ilahi, ampuni hambaMu....

#ii
Di atas sejadah ini
aku menghitung hari
sisa usia kian menipis pergi
menanti pelangi di kaki langit
rinai di dada basahi jubah doa
menanti cahaya di ufuk barat
umur kian senja sunset merah jingga
pertanda el-maut sekejap lagi menyapa

Di sini di hati ini, merimbun doa mewangi
kepada-Mu kuserahkan pohon taqdirku
ya Ilahi,
Husnul Khotimah tiket itu hantarkan
Syurga Firdausi bentangkan
leburkan rinduku pada-Mu
gugurkan semua dosa-dosa yang ada

Dalam sinopsis hati merintih
doa memanggil maha kekasih

Amin ya Allah, ya Rabbal 'alamin....

Jakarta, Malaysia, 27/01/2017



Kolaborasi Puisi
RINTIHAN ANYELIR
By Romy Sastra feat Yasmin Winola Zahra


#Yasmin
kautanam sekuntum anyelir di sudut rumahku
tumbuh subur melingkar pagar
yang pernah dipupuk dengan rindu
semerbak setangkai harum menyeruak
kausimpan di dalam kisah
berbalut ikatan permata
selang tak beberapa lama
bungaku layu
semenjak tak ada kabar darimu
menjaga kelopak di meja ikrar
anyelir itu terdampar
mati dalam kedinginan

#Romy
rintihan anyelir di padang pasir
mengejar asa di negeri tandus
akankah ia semakin layu
tanpa bayang-bayang seorang kekasih
membawa seteguk tirta
menyiram cinta pada bunga yang lara
kutitipkan rindu pada angin
angan, bawalah ingin ini ke tujuan
jangan sampai bungaku malang
ditelan awan senja, meradang
hilang di peraduan malam
tak lagi bunga itu jadi idaman

Jakarta dan Oman 17-02-18



Kolaborasi Puisi
SENJA SILIH BERGANTI BERTAMU, KAU DI MANA?
Romy Sastra & Emillia Munira


#i
sudah berulangkali kemarau tiba
hujan turunlah!
sedasawarsa berlalu
tak lelah harapku berdoa
untukmu gapai bahagia
sekuntum mekar berbunga

senja silih berganti bertamu
nyanyikan selamat datang malam
dan di balik gemerisik daun berdansa
kau di mana?
aku dahaga di senyum yang pernah singgah
: oh, jingga

#ii
dan akan berapa lama kiranya
kemarau rentungkan hatimu
aku pun mengharap
setelah hujan reda
embun kilaukan makna
lembut menari di wajahku
saat matamu redup menatap
aku selalu ada menjadi harap
dan ingin berungkali hujan turun
basahimu yang haus

senjaku menitip madah pada prosa
tasbihkan kenangan dalam doa
dan kita hirup secangkir ingatan
di kanvas hatiku berdansa
mengukir sekuntum senyum
agar kau bisa menduga aku bahagia
meski pernah disia-sia
kau tahu aku di mana?
bungaku tak berwarna ungu
: aku ada di ingatanmu

Jakarta - Terengganu,
8 Juni 2021



Kolaborasi Puisi 
LAWAN PERUSAK ALAM
Romy Sastra bersama Joko Gali


Kepada zaman nan bertopeng kemajuan
Pada tuan-tuan berdasi otak eksplorasi
Jangan ganggu kearifan alam
Pecundangi bumi eskploitasi kepentingan

Alam ini kehidupan regenerasi
Jangan dirikan geothermal delik kebutuhan
Otakmu licik merampas kesuburan
Dampak-dampak tak kau hiraukan lagi

Bumi Lawu kami lestarikan bersama
Akan dirusak oleh tangan-tangan penjajah
Gunung diam bukan dungu
Ia tertidur tak bisu jangan bangunkan

Jika terjaga digali, pondasi itu runtuh
Memuntahkan bencana di negeri Jawadwipa
Tidak untuk geothermal
Kami pagar hidup generasi leluhur itu

HR RoS
Jakarta, 04/04/2017


Prosais
DI SURAU TUA LENTERA BERMULA
Karya Romy Sastra


Jantung negeri dalam lentera zaman
gubuk tua di seberang sungai di kaki bukit nan permai
indang-indang tari indang
berdendang sianak malang

Terlahir ke dunia, tak berbaju dungu, dititah bunda berjalan segera berlari mengejar pesona dunia. Sayangnya tak bertongkat, tak berpedoman. Kala remaja mencari pencerahan iman di surau tua, peninggalan leluhur adat dari tuanku imam dan katik ranah bunda, semoga menjadi pencetak pemikir bangsa kepada regenerasi bangsa selanjutnya

Di sini, di surau ini bibit-bibit bermunculan
bekal penerang jalan ke negeri seribu taman
ya, dunia kehidupan.
Menuju alam sejuta taman
ya, Surgawi alam keabadian.

"Wahai ... sahabatku yang pertama, Iman"
dikau berpeganglah ke pundak tubuhku, jagalah goda dan rayu yang akan menghempaskan rasa malu
mari bersama memandu bahtera hidup menuju belantara diri
berjalan lebih hati-hati di dunia ini

Aku tak sanggup siksa derita suatu ketika nanti, roh dan jasad berpisah pergi menuju asal muasalnya kembali. Ahhh, Iman diri" semoga kau tak meninggalkanku sekedip mata,
sehela tarikan napas keluar masuk
memandu rahasia rasa dan jangan lengah sejengkal tanah, serasa tiba-tiba menyesatkanku ke lembah nista

"Wahai ... sahabatku yang kedua, Tauhid"
bawalah daku pada kasta-kasta Iman di tingkat makam.
Ajari langkah hati ini, meniti jembatan keyakinan dalam pedoman hakiki.

"Tauhid ...., sahabat religiku?"
di mana letak pusara ambiya berada?
di mana letak makam waliyullah bersinggasana?
di mana laju keluar masuk rasul
menitip firman Tuhan pada kesadaran hidup yang jujur tak berkamuflase kepura-puraan sang utusan antara hak dan bathil berkompetisi di setiap helaan napas

Iman dan Tauhid sahabat religi
memandu hak mengawasi bathil
mengintai di dalam diri sehari-hari

****

Ya, di surau tua lentera bermula
dunia ini sudah tua kawan,
jangan berleha-leha dengan dunia ini
sabda dalil, akhir zaman ini" manusia akan terkotak-kotak dalam kelompok kultusan kebenaran masing-masing, itu terbukti titah sabda Nabi, umat yang merasa punya panji kenabian merasa benar sendiri.
Ironis, bak air yang mengalir dari hulu menuju hilir sampai ke muara, merasa suci.
Padahal terkontaminasi sudah dengan kepentingan duniawi

Seribu satu lebih kelompok panji-panji berdiri para pencari kebenaran di akhir zaman, berhati-hatilah wahai kau sahabat religiku Iman dan Tauhid mengiringi roh dan jasad ini bernapas terhenti di muara kehidupan

Bawalah daku kembali ke hulu
ya, sahabatku?!"
Di mana awalnya keimanan mengalir.
Ia dari lentera surau tua bermula
dalam asuhan kearifan budi, lestari dari negeri-negeri yang beradab, surau-surau peninggalan yang hampir lapuk dimakan zaman.
Di sana kedamaian terlengahkan, ia sunyi terpusarakan pada kitab lusuh bersama dongeng-dongeng seribu satu malam oleh tuan kaji
di negeri yang telah terlupakan
oleh candu-candu seremonial dunia

Surau tua itu sudah rapuh
bangun kembali fisik dan ajaran tuan kaji, biar peradaban dan akidah tak lekang dengan panas tak lapuk bersama hujan

Semoga umur dunia ini kian panjang
dengan alunan firman dan adzan
berkumandang di setiap waktu
di jantung negeri para regenerasi itu ....

HR RoS
Jakarta, 23102016



Kolaborasi Puisi

BUNGA-BUNGA YANG LAYU
Romy Sastra feat R'zie Ibrahim


#1_RoS
Aku bukanlah floristri bunga-bunga kering di taman sari, aku hanya menyauk tirta di dehidrasi senja, siang malam kudendangkan bestari. Berhembuslah duhai angin! Kelopak-kelopak nan layu kupujuk tumbuhkan tunas-tunas baru di antara ranting-ranting patah, mengikat setampuk resah, dan bunga-bunga kepayang dimabuk manja: apakah kau bahagia?

Pada sekuntum mekar memikat mataku, si pengelana setia di satu hati menyemai satu cinta silih berganti luka. Bagaimana aku bisa memiliki cinta yang utuh, ketika tumbuh bunga-bungamu memilih mundur hidup dengan yang lain, setelah kau tahu ketidaksempurnaan hidupku untuk kuhadiahkan ke arena hidupmu; oh, bunga nan layu?

Aku sudah terbiasa luka akan kisah adalah teman puisiku melukis diksi-diksi patah. Aku pasrah pada hujan mendamaikan gersang menuju tualang pada cabaran akan datang, dan kukisahkan ke taman anyelir, berharap anyelir mengajarkanku arti kesetiaan tak menjurus ragu.

Ah, apakah aku akan gagal juga ke sekian kalinya, setelah anyelir mengetahui identitiku yang payah tentang taraf hidupku tak sempurna menyemai bahagia, oh puan?

#2_Zie
Tuan pengelana, gobok kecilku jua tiada upaya memuat serelung hidupmu yang agung, dan kau sentiasa bersalut bunga-bunga emas untaian pujangga dalam waktu berlarian menyinggahi pelupuk hatiku?

Ah... tentu sahaja aku penasaran, andai sebelum tuntas waktuku memutar diksi untuk kupersembahkan, kau sudah memaut janji pada kenangan silam.

Andai seruling buluh ini mampu menyihir hatimu membawa senafas nadiku kepadamu, tersiat kulitku merempuh duri tetap kuluang dan kuulang meniup pelipur laramu

Ingin aku bertanya lagi,
kiranya hujan ini adalah muzik yang membasahkan hatimu untuk tetap kejap dalam rongga nafasku,
dan aku tak ingin jadi bunga yang layu.
Apakah kegaringan mentari hadir selepas hujan mengontangkan jua kasihmu yang sudah separuh tertinggal dalam perjalanan pulang?

Tuan pengelana?
Teruslah tabah untuk setia pada satu cinta!
Berharap kau dan aku
adalah takdir menggapai bahagia.

Jakarta, Terengganu 5-9-'20 



Kolaborasi Puisi
MENUJU TANAH MERDEKA
Romy Sastra feat Iffa Aini Hamd


#1_RoS
Seuncang disandang, tualangku menuju bulan tampakkan rupa di permukaan telaga. Aku kira senja telah tiba, padahal arunika mengemas hari sambut jemari pagi. Semadah hati menawarkan ukhuwah menyemai sejarah di pelataran puisi. Ajnabi meniti titian persatuan di persada cinta tanpa kenal lelah. Sudikah kau Fa, menghidangkan jamuan aku tiba?

Kerabat sebidang bahu seikat kokoh menyatu, gagah bak perwira di tapal batas, menanam kesuma berbibit rasa sebening kaca, dijaga tak retak. Aku mencarimu Fa, kutitipkan uncangku bawa-bawa, berisi resep selendang mayang untuk kau hidangkan pengganti kopi pagiku di tengah hari dahaga. Jamuanmu meracik payet menyiratkan panji di cawan berbatik nan cantik, kau belum kujumpa. Semantik puisi kita mengikat persatuan antar bangsa.

Fa, kita delegasi puisi menemui karib bertahun-tahun dijumpai di layar kaca, taklah bertatap muka. Sambutlah sukmaku berlayar menuju tanah merdeka.

#2_Fa
Bokca tersandang adalah eja rasa yang belum kita maknakan. Bergadang kau tekuni menjerumat retas rumbai legasi.
Bulan lama menyisih kini tenggelamkan bayang, terlampau cerlang hingga kau sangkakan pagi telah jelang.
Menyeruak gelap menatahkan gemerlap maksud tergilap.
Aku sigap menyambutmu, RoS.
Menatang titipanmu ke teratak puisi.
Aku baca harapan terbangun dari tipis kaca, syahdu sekajang warkah. Hatimu sehampar puadai meruntun ombak yang berpalu resah. Buih-buih embun persis anak-anak sungai membuncah belajar menjadi tabah merenangi genang sejarah. Andai swastamita pernah datang dengan dada menetes darah, kini kau pilah horizon menjemput fajar indah yang ramah. Uncang itu RoS, leraian puspa menyalut buku gaharu yang aku perbara, mengharum setiakawan kita antar bangsa.

RoS, luap rasa masih menghembus bahagia. Makin jelas tersingkap bias ke kanta, menemukan mata hati pada filsafatnya.
Hingga semai bakti tertuai di tanah merdeka.

Jakarta Johor Bahru, 13-9-'20



Kolaborasi Puisi

LEMBARAN BUKUKU BELUM HITAM
Romy Sastra Feat Jamilah Safar


#_RoS
Mengejar impian memasuki taman bunga, dan kudapati warnanya. Pada suatu kesempatan, aku bertanya perihal cinta yang subur di kata-kata. Lalu, rindu menjelma seperti dipaksakan. Rindumu hanya pelengkap bumbu masakan, kenapa hambar kurasa? Cinta yang kau tawarkan setengah hati telah kau bagi. Ah, sakitnya ditipu cinta yang tak senada. Aku memilih mengalah bukan kalah, memilih pulang dari petualang yang sia-sia, memilih diam setelah operamu terbaca, lembaran bukuku belum hitam.

#_JaS
Tamanku tak pernah terkunci, aku sirami berjuta kata membasahi kelopak cinta, biar mekar mengharum rindu menusuk deria. Cintaku hanya untuk Robbku adalah Kekasih yang kucurah sepenuh jiwa. Lantas, bagaimana aku bisa memberi cinta sepenuh hati pada indrawi. Ternyata kamu salah mencicip juadahku, lalu mengira aku tersalah bumbu. Opera yang engkau baca adalah halusinasi dari cintamu yang tergesa-gesa. Bacalah di lembaran baru bukumu yang belum hitam itu!

Dan, aku memaknai madah yang kau curah sepanjang kata.

Jakarta Kedah, 22-9-2020



Kolab Puisi
KIDUNG SEPI
Hajratul Amanda Bersama Romy Sastra


termenung di tarian rumput
bercerita bersama angin
seakan mendengarnya membaca takut
pada hadirnya
el maut

awan pun berbisik mendung
jelajahi lorong-lorong gelap
nan pengap
semut-semut tak mau tahu
ia hidup tak merengut
selalu berpagut
jika cahaya menjemput
ia tak takut
tak peduli dengan maut

kematian pada nadi
aliran terhenti
detak jantung tak lagi memuji
alamat alam 'kan sunyi
seolah akan jatuh; gugur
gunung thursina lebur
lepas sudah dalam genggaman
ruh pasrah

berharap,
seseorang menanti kekasih
menggapai dalam sunyi
sendiri tertatih
meski lirih
yang ditunggu menemani

pada koloni hitam menitipkan awan
ketakutan menjadi-jadi
ketika hujan turun,
sayup hadirkan syair yang melantun
guruh berpacu
seperti runtuh tanah nisan di pembaringan
kidung semakin jelas dalam bayang
sebelum kain putih membungkus badan
mayat-mayat hidup sudah terbujur dalam kehidupan
sedangkan iman masih terkurung
di terali duniawi

oh, tuhan
perjalanan ini hampir usai
sedangkan doa belum jua tergapai
berkaca pada nisan yang bertapa sunyi
dengan nama tertulis;
si fulan
seribu tahun menjadi bangkai
berdebu jadi tanah kembali

Padang, Jakarta 210917
#repost



Kolaborasi Puisi
JANGAN AMBIL NYAWAKU TUHAN
Karya: Romy Sastra dan Puji Astuti


#i
kembang ilalang mekar di tanah tandus
daunnya rimbun batang tegar berdiri
meski rinai tak datang suburkan gersang
pada noktah hidup terukir di telapak tangan
berkaca, ada garis pemisah
tak bertemu goresan tinta dengan buku
azali menitipkan titah
pada sepasang merpati berjanji

seribu satu lakon hidup dijalani
episode berlayar bermandi peluh
darah tertumpah pada garbah
bunga berputik jadi buah

"ahh ...
janji pengabdian belum semua ditepati
kisah noktah 'kan tenggelam
senja menyapa purnama tak merupa
kabut hitam melayari malam
detak jantung bisu nadi diam
jangan ambil nyawaku tuhan

duhai kusuma hati jangan bersedih
jika aku pulang tinggalkan kenangan
sepasang merpati jangan ingkar janji
setialah noktah sampai mati
kutunggu dikau wahai kusuma
di pintu surga nantikan
jadilah permaisuri berbakti
hingga selesai syair noktah kehidupan
pada kidung menyayat hati

titipkan kerlip pada malam religi
usah sunyi mengundang misteri
suluhkan lilin pada keturunan
lembayungkan aurora surya di embun pagi
oh, buah hati
jangan lupa sebait doa ananda kirimkan
bila nisan sedih tak tersirami doa,
berbaktilah...!

*********

#ii
beratus ribu detik telah melibas hari-hari
tiada rasa terbelenggu 'tuk dampingi janji
merajut rumbai kehidupan hakiki
seakan derita menyatu di antara nadi kita
berbinarlah wahai tulang rusukku
hari tiada indah tanpa gurat senyumanmu
tegarlah selalu
kutanamkan janji suci abadi
dalam altar kesucian imani
permadani tempat bertaut rindu
tak ingin kehilangan bayangmu
seperti jua diriku
yang selalu ingin mendampingi di senjamu

pengabdian ini belumlah sempurna
luka kecilmu jua masih perih
rajut benang sutera masih kusut
tunggulah barang sedikit waktu untukku
merapikan semua amanah noktah

duhai pemahat jiwaku
rengkuh sukma di batas nurani
jangan jatuhkan isakku atas kepergianmu
kurasa kesanggupanku tak sekuat ketegaran
masih adakah sedikit waktu untuk kami

ya, ilahi...
berilah kami waktu beberapa saat lagi
untuk membingkai kebahagiaan masa senja
titipkan memo pada anak cucu nanti
semoga mereka berbakti....

Jakarta, Jogjakarta 20/01/2017

UNTUKMU KINANTI
Kolab RoS & RiS

#1_RoS
sedari malam kau masih saja berdiri di halaman, purnama yang dikirimkan takdir hendak bertamu, bukalah pintu rumahmu!

sedari pagi kau masih saja menyemai embun,
dan kumbangku hendak mencium aroma tubuhmu, jangan malu, bukalah hatimu!
pejamkan matamu!

sedini mungkin aku menyapa bestari
sambutlah kicauan kinari untukmu kinanti
aku terpatri pada suatu mimpi
adakah dikau bersaksi malam ini?

ah, senja nan eksotis
angin nakal membawa khayalku ke gaunmu yang tipis

#2_RiS
malamku berteman bintang
mata tak pejam rindu bertandang
hati berbisik pada naluri
seperti aku diintai si pungguk yang menyendiri
tirai malam kuselak dengan sorotan mimpi
setegap tubuh tersenyum menanti
menanti di pintu hati

dingin malam menjemput embun dinihari
cukup mesra memeluk aku hingga ke pagi
ada haruman rasa menyentuh hati ini
hela nafasmu singgah lembut ke pipi
membangkit seluruh inginku
dalam santun menjemput hadirmu

yang bersaksi biarlah hanya sunyi
walau sepi tetap menyeri
kerna berteman si pujangga hati
mengulit mimpi bagai tiada henti
seperti tak mahu kulepaskan pergi
tetaplah di sini jangan melangkah lagi
asyiknya kita menyulam rindu tak sadar diri

biarkan khayal itu bernakal di kelambu kasih

nukilan bersama
Romy Sastra & Iris Suzanis
Jakarta & Segamat Malaysia
31102019

 

PERTEMUAN DAYITA
Romy Sastra feat Aslina Idris

#1_RoS
Aku menitip senyum ke balik awan
dan malam menghadirkan candra
pesan kukirimkan lewat angin
berbaringlah putri malam!
kita jalin kenangan

aku menitip sapa di balik jendela
dan rasaku tiba di batas angan
kukecup setangkai perdu
senyummu menjadi ranum
mekarlah sekuntum semalu

aku menitip kata bukan rayuan
sambutlah salamku dari angin seberang
lalu, genggami jemariku
menarilah di atas deburan!
biarkan buih-buih sebagai saksi
kisah kita jadi dayita cinta

#2_As
seri candramu menguntum senyum
angin malam pun menyeru rindu
kita lakarkan kenangan itu
menyulam mimpi-mimpi indah
tanda pertemuan jiwa seluas angkasaraya

kusambut salammu seindah awan biru
biar jauh namun tetap kutunggu
ya, bagaikan buih-buih di lautan
kan kupintal menjadi satu
kita bertemu

ah kisah, benarkah jadi dayita cinta?
sapamu merayu daku
untukmu yang jauh ungkapkan kata bahagia
bayu berlagu rasa
dan kuterima pinanganmu sepenuh hati
jadikan cinderamata di dalam jiwa
ikhlas bagaikan cahaya
satu puisi, saksi tak bernoktah

Jakarta, N.Sembilan, Malaysia 18619




Puisi Kolaborasi
ANA DAN KAKA

Ana dan Kaka
sentuhan jemari belaian rindu
kiambang bertaut sisakan senyumanmu

Ana dan Kaka
biarkan teratai layu di tasik madu
akar berenang menelan pahit
benang-benang kehidupan
cabaran merajut kilauan

Kelopakmu tersusun rapi
meliuklentok mengejar bayangan
jangan layu tersentuh bak mimosa pudica

Ana dan Kaka
sayapmu patah di kiri dan kanan
menganyam rindu di bibir malam
tadahkan tangan dalam sujud
raih mahabbah maha kekasih

Jangan mengharap kasih
yang tak kunjung datang
bicara tentang mama dan papa
iringi dengan doa
yang terkubur di pusara
sirami dengan kembang setaman
berbahagialah hendaknya nama yang tertulis di batu nisan
di samping pohon kemboja

Ana dan Kaka
tersenyumlah menatap mentari pagi
di sana kehidupan masih berlanjut
senja belumlah tiba
persiapkan amal ibadah
untuk bekal bersemayam nanti
bersama mama dan papa, ya, di sana

Jakarta, Malaysia 18/2/17 ANA DAN KAKA
(kisah dua anak Yatim)
puisi kolaborasi, Nur Mutiara PELITA TRENGGANU (Norhaizan Mahussin)
bersama Romy Sastra II



Puisi Kolaborasi
JEJAK-JEJAK FATALIS
Kolaborasi Romy Sastra feat Shariffah Khadijah


*
sampanku takkan berlayar lagi
pendayung hilang di tengah samudra
layaran tak bersauh
sampan karam aku tenggelam
sedangkan yang dituju masih jauh
mencintai bayang-bayang
kau ilusi

seribu langkah aku mengejarmu
berlari dan terus berlari
tetap saja tak terkejar
kakiku patah tersandung pualam
aku menyerah pada senja
dianku padam jejak kehilangan arah
mata tergoda kunang-kunang
kau misteri

**



Puisi Kolaborasi
SENANDUNG JEMARI KASIH
Karya: Norhaizan Mahussin dan Romy Sastra


#i
di sini,
skrin bisu memuntah warna kehidupan
menyusun puisi menyimpan rahsia
melontar rasa ke laut rindu
mencuit hati memecah tawa
menghitung mutiara zikir kasih
menghulur jemari menguak duka
memesan ayat memandu nyawa
memandang sepi sebutir noktah
yang sepi semakin sepi
bermonolog setiap hati
hingga akhir nanti....

#ii
di sini dan di sana
berlabuh pada rasa seni
meski terlalu jauh jarak segara
terpisah antara pantai dan samudera

pada seuntai puisi malam
tafakurkan diri mendekap pada Illahi,
rentakkan jemari bercumbu rindu memuji,
jikalau mutiara bersemayam di labirin hati
noktah kekasih ikatkan
jangan bermuram durja pada sepi
rona hati ceriakan
monologkan rasa dengan cinta
biar putik berbuah jadi tirani
tumbuh bersemi sampai mati....

Jakarta, Malaysia 31/01/2017



Puisi Kolaborasi
PESAN RASA UNTUKMU KAWAN
Penulis: Romy Sastra bersama dan Nor Azah Bahrim


Kepada angin kabarkan serat pelangi
bahwa malam ini,
pesan rasa untukmu kawan
kepada riak nan mendebur riuh
buih-buih terhempas jadi bias
nyiur melambai damaikan camar berlalu

Layu kembang tak jadi,
jika batang kau patahkan
pada sajak dan puisi kita gersang
ranting-ranting berjatuhan ke bumi
madah gelisah,
malam ini berkabut
bulan malu di balik awan

Pada bunga seroja nan ranum
di semenanjung Malaya
bait-bait sastranya dirangkai ke muka buku
ceritakan kisah rindu tak pernah sudah
pada siapa anganmu melaju?
padahal jalinan asmara di beranda senja
tak redup pelita kasih lilin di meja
bersenandunglah di dada noktah nan realiti
kan didapatkan surgawi menjelma
dari lengan Arjuna memeluk erat srikandi cinta

Kirimkan syairku lewat maya
pada tarian diksi nan bersahaja
bersemilah dikau gita sahabatku di sana
sebait doa berbungkus sastra memandu
meski kita terpisah jarak gunung dan samudera.

******

#ii
Rinduku yang berkepuk dirangkai jendela muka bukuku, bagai di genangi air tidak basah
di jemur panas mentari tidak mengering
karib sekali lilitan bait-baitnya
terkebat gegar gita tari di jemariku rupanya menjadi tanyamu yang tidak terjawab lag

Lalu
senja nan merah kau datangi aku kawan dengan khabar seberkas tinta lewat sepoi angin pada
riak ombak riuhnya yang terus mengocak damai pantai telah menggelisahkan rasa merusuh menelangkai diamnya hatimu

Engkaukah
kawan yang semalam
menanyakan patah-patah rinduku terkhusus pada siapa ?
yang mengakali tidak jemu merenung bait-bait resah rindu mengairi langka jemariku di lawang temu
penuh tenunan rindu yang ranum entah kepada siapa untuk siapa
hingga banyak tanda tanya
merentas nusantara merambak tebaran berkisah rupanya

Pesanku satu kawan..!
cukup kau mengerti rindu itu apa
pasti kau tahu kenapa aku tidak belajar berhenti mengelari rasanya
biarpun ceritera kasihku telah lengkap titiannya

Rindu bagiku sebentuk rasa yang tidak pernah habis merambat waktu di tuang tidak mengurang di simpan semakin meladung
menyeru-nyeru untuk di muntahkan isinya menjadi sebongkah cerita yang tidak bertitik

Ya, sebenarnya
rindu bisa saja melamar hati bukan cuma untuk kawan kekasih keluarga sahabat-sahabat di dekat juga kepada DIA....

Jakarta, Malaysia 29/01/2017



Puisi Kolaborasi
TANGISAN DOA
Karya: Romy Sastra bersama Norhaizan Mahussin


#i
Sujudkan tubuh luruhkan rusuh
betapa terlena umur dunia direnda
tak kenal mutiara cinta di dalam jiwa
resah senja kian mendekat
bakti masih menggenggam duniawi
terlupa jalan pulang nan abadi

Napas berpacu tak lagi menentu
kaki gemetar merintih kaku
jemari menyentuh tak lagi merasai
mahkota perlahan memutih
aura rupa pudar, lusuh rona tak berseri
berkaca diri cermin seperti retak
menjerit lara pelangi tak lagi indah

sajadah kian usang terbentang
tangisan darah tirani mengetuk pilu
bertanya diri, jalan rumah qulhu sepi
bekal selimut abadi tak jua merupa di hati
dalam doa tangis ini mengadu
ya Ilahi, ampuni hambaMu....

#ii
Di atas sejadah ini
aku menghitung hari
sisa usia kian menipis pergi
menanti pelangi di kaki langit
rinai di dada basahi jubah doa
menanti cahaya di ufuk barat
umur kian senja sunset merah jingga
pertanda el-maut sekejap lagi menyapa

Di sini di hati ini, merimbun doa mewangi
kepada-Mu kuserahkan pohon taqdirku
ya Ilahi,
Husnul Khotimah tiket itu hantarkan
Syurga Firdausi bentangkan
leburkan rinduku pada-Mu
gugurkan semua dosa-dosa yang ada

Dalam sinopsis hati merintih
doa memanggil maha kekasih

Amin ya Allah, ya Rabbal 'alamin....

Jakarta, Malaysia, 27/01/2017



Puisi Kolaborasi
PESAN RASA UNTUKMU KAWAN
Penulis: Romy Sastra bersama Nor Azah Bahrim


Kepada angin kabarkan serat pelangi
bahwa malam ini,
pesan rasa untukmu kawan
kepada riak nan mendebur riuh
buih-buih terhempas jadi bias
nyiur melambai damaikan camar berlalu.

Layu kembang tak jadi,
jika batang kau patahkan
pada sajak dan puisi kita gersang
ranting-ranting berjatuhan ke bumi
madah gelisah,
malam ini berkabut
bulan malu di balik awan.

Pada bunga seroja nan ranum
di semenanjung Malaya
bait-bait sastranya dirangkai ke muka buku
ceritakan kisah rindu tak pernah sudah
pada siapa anganmu melaju?
padahal jalinan asmara di beranda senja
tak redup pelita kasih lilin di meja
bersenandunglah di dada noktah nan realiti
kan didapatkan surgawi menjelma
dari lengan Arjuna memeluk erat srikandi cinta.

Kirimkan syairku lewat maya
pada tarian diksi nan bersahaja
bersemilah dikau gita sahabatku di sana
sebait doa berbungkus sastra memandu
meski kita terpisah jarak gunung dan samudera.

******

#ii
Rinduku yang berkepuk dirangkai jendela muka bukuku, bagai di genangi air tidak basah
di jemur panas mentari tidak mengering
karib sekali lilitan bait-baitnya
terkebat gegar gita tari di jemariku rupanya menjadi tanyamu yang tidak terjawab lagi

Lalu
senja nan merah kau datangi aku kawan dengan khabar seberkas tinta lewat sepoi angin pada
riak ombak riuhnya yang terus mengocak damai pantai telah menggelisahkan rasa merusuh menelangkai diamnya hatimu

Engkaukah
kawan yang semalam
menanyakan patah-patah rinduku terkhusus pada siapa ?
yang mengakali tidak jemu merenung bait-bait resah rindu mengairi langka jemariku di lawang temu
penuh tenunan rindu yang ranum entah kepada siapa untuk siapa
hingga banyak tanda tanya
merentas nusantara merambak tebaran berkisah rupanya

Pesanku satu kawan..!
cukup kau mengerti rindu itu apa
pasti kau tahu kenapa aku tidak belajar berhenti mengelari rasanya
biarpun ceritera kasihku telah lengkap titiannya

Rindu bagiku sebentuk rasa yang tidak pernah habis merambat waktu di tuang tidak mengurang di simpan semakin meladung
menyeru-nyeru untuk di muntahkan isinya menjadi sebongkah cerita yang tidak bertitik

Ya, sebenarnya
rindu bisa saja melamar hati bukan cuma untuk kawan kekasih keluarga sahabat-sahabat di dekat juga kepada DIA.

Jakarta, Malaysia 29012017



Puisi Kolaborasi
TANGISAN DOA
Karya: Romy Sastra bersama Norhaizan Mahussin


#i
Sujudkan tubuh luruhkan rusuh
betapa terlena umur dunia direnda
tak kenal mutiara cinta di dalam jiwa
resah senja kian mendekat
bakti masih menggenggam duniawi
terlupa jalan pulang nan abadi

Napas berpacu tak lagi menentu
kaki gemetar merintih kaku
jemari menyentuh tak lagi merasai
mahkota perlahan memutih
aura rupa pudar, lusuh rona tak berseri
berkaca diri cermin seperti retak
menjerit lara pelangi tak lagi indah

sajadah kian usang terbentang
tangisan darah tirani mengetuk pilu
bertanya diri, jalan rumah qulhu sepi
bekal selimut abadi tak jua merupa di hati
dalam doa tangis ini mengadu
ya Ilahi, ampuni hambaMu....

#ii
Di atas sejadah ini
aku menghitung hari
sisa usia kian menipis pergi
menanti pelangi di kaki langit
rinai di dada basahi jubah doa
menanti cahaya di ufuk barat
umur kian senja sunset merah jingga
pertanda el-maut sekejap lagi menyapa

Di sini di hati ini, merimbun doa mewangi
kepada-Mu kuserahkan pohon taqdirku
ya Ilahi,
Husnul Khotimah tiket itu hantarkan
Syurga Firdausi bentangkan
leburkan rinduku pada-Mu
gugurkan semua dosa-dosa yang ada

Dalam sinopsis hati merintih
doa memanggil maha kekasih

Amin ya Allah, ya Rabbal 'alamin....

Jakarta, Malaysia, 27/01/2017



prosais
DI TELAPAK KAKI BUNDA KUBERSUJUD
Oleh Romy Sastra


Bunda,
tergurat di wajahmu rona renta
membulir sedih berhias rela
ananda menatap dari kejauhan
di balik dinding jiwa
kau mewujud resah
karena tanggung jawab cinta
cinta untuk buah hatimu
darah dagingmu

Bunda,
kita sudah terpisah jauh
dari tanah tumpah darah itu
daku berkelana
ke ranah yang belum terjumpa
semasa balitaku dulu
dikau mengajarkan tentang arti hidup
mencari jati diri
meski sampai ke ujung dunia

Kini takdir itu,
aku telah ternoktah pada jodoh pilihanku
darah-darah tiranimu telah lahir ke dunia
pelanjut helaan napasmu mengisi kasih
dia kini telah belia
sudah tumbuh dewasa

Bunda,
engkaulah segalanya bagiku
di telapak kakimu kubersujud
kembang kantil itu telah mekar
minyak kesturi mewangi
sumur tua di belakang rumah masih ada
serasa misteri menyapaku dalam lamunan
mengajakku kembali
ke tengah rumah kecil kita

Bunda,
bila masanya kita bersua
akan aku timba sumur tua itu
membasuh noda menghapus dosa
dalam pengabdian sebagai anak berbakti,
bersujud mendekap basuh telapak kakimu bunda
ucapkan terima kasih,
akan jerihmu selama ini

Dari relamu aku terfitrah
karena ma'unahmu syurga itu ada
aku perjalankan hajat ini
dengan kembang setaman
ketika dikau tiada terjumpa lagi
di samping nisan di atas tanah merah
kutaburkan doa-doa kyusuk
menyauk embun kusirami dalam goa sempit
yang mengekang jasad itu

Bunda,
dalam mihrab doa aku bertanya
melipat lidah ke langit rasa
menutup rapat-rapat di keheningan cipta
berdoa,
ampunilah dosa-dosa orang tuaku ya allah?"
sayangilah ia,
sebagaimana ia menyayangiku dari kecil

Bunda,
tinta emas ini memadah melukis hiba
berharap malam berpurnama ketika tiada lenteranya
cahaya ibadahku menerangi sujud itu

Umurmu bunda, sudah mendekati senja
anakmu kini di terik pijar sang surya
mengirim bait-bait doa di malam buta
belajar dari nasehat yang pernah kau tuah
pendidikan yang dituntun dulu
jadilah anak yang berbakti
penerang jejak kelam di kemudian hari
itulah pesanmu dulu
kuingat selalu

Bunda,
dalam aksara puisi doa ini
pengabdianku
ananda realisasikan dari kejauhan
di setiap helaan napas doa kasih
semoga dikau berbahagia sehat selalu

Oh bundaku ....

HR RoS
Jakarta, 30102016



prosais
SENANDUNG DI LERENG LAWU
By Romy Sastra


Berdiri di sini
di bumi kelahiran
tumpah darahku
lereng Lawu selatan kuto Ngawi
Lawu menyimpan banyak cerita misteri.

Di padang ilalang gersang
menatap jauh ke samudera biru
langit cerah berkoloni awan putih
menengadah dalam kearibaan doa.

Oohh, ayah bunda
ananda di sini berdiri
menitip rindu.

Tujuh belas tahun di tinggal di desa
di lereng gunung Lawu ini
jarang sekali bermanja bersamamu
oohh,
ayah bundaku.
Ananda ingin dibelai
layaknya remaja yang lain tumbuh dewasa.

Dalam doa menitip cinta
berbahagialah engkau di sana
bersama bunda.

Ayah,
pulanglah raya nanti
kita bercerita lagi di sini
kala senja berdua
bercerita tentang negeri di atas awan
menatap sunset di balik pinus-pinus muda
bianglala tenggelam menyapa malam
di lereng Lawu bersenandung rindu
tentang indahnya dunia ini
dalam nasehat-nasehatmu ayah.

Tutur pitatah patitih menggugah jiwa
tak terasa ceritamu menitiskan air mata
ingin kudekap selimut malam bersama
yang terasa hanya bayangan
gelisahku membuncah
pada langit-langit rumah.

Ayah,
kembalilah ke desa ketika masa tiba
kita berlari di lereng ini kembali
ceritakan tentang kearifan jiwa
mengisi dunia kedewasaan diri
tirani yang berbenah dan berbudi
aku tegar berdiri, meski tanpa hari-harimu
hanya dari didikan itu
aku mengerti makna hidup
bersamamu ayah, tiada duanya.

Ananda menitip cinta dalam puisi
dengan secarik larik menyapa dalam seni.

Prosais bersama ananda,
Iqbal Al Javpad.

HR RoS
Dari Jakarta, 1122106



prosais
MAMIRI SENJA
BY Romy Sastra


"Dinda, lama sudah pesanku terkirim, tak ada jawaban darimu. Dinginnya embun pagi, telah kembali pada sepoinya mamiri senja, secercah bintang di langit titipkan temaram kian menyapa malam, sedangkan rerumputan bergoyang riang melipat bayangan kelam.

Di sana, kuncup-kuncup putri malu telah mekar menari, serabut kembangnya mewangi jatuh perlahan, ditingkah kupu-kupu eksotis lambaikan sayap berwarna-warni.

Di ufuk senja, tarian sriti menyilaukan pelangi, yang akan tenggelam pada rintik hujan kan reda.
Siluet di kaki langit berhias memori,
dendangkan lagu kenangan tentang kereta senja tak pernah kembali.

"Oohh, kidung asmara kasih nan terkisah semusim purnama, sebentar lagi menyapa.
Rindu pada rona netra di langit kerlip, berharap malam ini bercahaya indah.

Juita, sang bidadari malam, izinkan kukecup bibirmu lewat pesona sajak anganku.
Aku rindu serindu-rindunya,
Juita mimpi pesona rasa, resah kisah yang tak pernah sudah.

Kembali menyemai benih menuai semi, akankah diksi ini hanya terhantar lewat madah bualan saja.
Tak mengapa aku berkisah pada dendang rasa yang menyuburkan tinta, berharap lukisan menjadi kenyataan meski aku terkisah dalam bayangan saja.
"Aaahh, tak mengapa....

HR-RoS
Jkt,21-12-16



prosais
SENANDUNG DI LERENG LAWU
By Romy Sastra


Berdiri di sini
di bumi kelahiran
tumpah darahku
lereng Lawu selatan kuto Ngawi
Lawu menyimpan banyak cerita misteri

Di padang ilalang gersang
menatap jauh ke samudera biru
langit cerah berkoloni awan putih
menengadah dalam kearibaan doa

"Oohh, ayah bunda,
ananda di sini berdiri
menitip rindu

Tujuh belas tahun di tinggal di desa
di lereng gunung Lawu ini
jarang sekali bermanja bersamamu
"oohh,
ayah bundaku!"
Ananda ingin dibelai
layaknya remaja yang lain tumbuh dewasa

Dalam doa menitip cinta
berbahagialah engkau di sana
bersama bunda

Ayah,
pulanglah raya nanti
kita bercerita lagi di sini
kala senja berdua
bercerita tentang negeri di atas awan
menatap sunset di balik pinus-pinus muda
bianglala tenggelam menyapa malam
di lereng Lawu bersenandung rindu
tentang indahnya dunia ini
dalam nasehat-nasehatmu ayah

Pitutur luhur menggugah jiwa
tak terasa ceritamu menitiskan air mata
ingin kudekap selimut malam bersama
yang terasa hanya bayangan
gelisahku membuncah
pada langit-langit rumah

Ayah,
kembalilah ke desa ketika masa tiba
kita berlari di lereng ini kembali
ceritakan tentang kearifan jiwa
mengisi dunia kedewasaan diri
tirani yang berbenah dan berbudi
aku tegar berdiri, meski tanpa hari-harimu
hanya dari didikan itu
aku mengerti makna hidup
bersamamu ayah, tiada duanya

Ananda menitip cinta dalam puisi
dengan secarik larik menyapa dalam seni

Prosais bersama ananda,
Iqbal Al Javpad.

HR RoS
Jakarta, 1122106



prosais
TERLARUNG SEBAK KE DALAM RIAK
By Romy Sastra


Ketika perjalanan teriris bulir
mencoba merayu bunda dalam letih
duh,
sudah terlukis di dinding history
di kancah diri memeluk sebak di hati.

Darah permatamu pergi
pergi dan pergi menjauh
tinggalkan beranda rumah ini
di tengah hari,
terlarung sebak ke dalam riak
crystal membuncah
tak tertahankan di sudut mata.

Ya, Illahi

Hamba larung doa yang rela
keharibaan jiwa
langkah musafir yang semakin terkikis di tanah tandus
hamba ingin setetes embun membasahi
ampunan kasih-Mu ya Rabbi.

Perjalanan ini semakin menepi
ke ruang senja
memohon pada-Mu ya Allah
Izinkan hamba kelak berjumpa
ke tanah bunda kembali,
mengetuk jendela usang terpampang dari kecil semenjak ananda dibesarkan hingga kini,
berharap dalam opera permata yang selalu menghalau sedih jadi ceria.

Meski jiwa dan hidupnya bertabur derita
yang disimpan dalam peti rahasia hati
tak boleh sesuatu pun yang kan mengetahui
selain aku dengan-Nya

Sehatlah bunda...

Bunda,
jalan ini masih kujejaki
samudera itu masih kurenangi
sekiranya dermaga beranda rumah
di hari raya nanti ananda tak kembali,
pintaku, maafkan aku ya bunda"
ketika burung bangau terbang tinggi
tak kembali,
bukan ia tenggelem ke lumpur yang dalam
melainkan masih mencari bulir-bulir berlian
walau terkilau hanya bayangan saja.

permata dalam doa
membangunkan azali bercahaya indah
bila masanya ia akan kembali menatap beranda tua
menitipkan kanvas warna ceria
bercumbu mesra
dalam gita ananda dan ibunda
serta keluarga semua di tanah tumpah darah
meski usiamu bunda,
berangsur ke ujung senja,
tak alpa doa menengadah di atas sajadah lusuh
menyapa ruh
bukti bakti ananda pada history
nan tergurat di pundak renta yang telah pasrah pada misteri.
Tersenyumlah sekali lagi bunda, biar doa-doa ananda lerai di batin yang sampai....

HR RoS
Goresan dalam kenangan
perjalanan jalan raya Painan - Padang, 29-1-2016. 14,28




prosais
HIDUP SEBATANG ROKOK
Romy Sastra


Lamunan bibit memandang langit, tumbuh di rerumputan berlumut tak menjerit. Tuhan ciptakan persetubuhan roh dan jasad sempurna jadi insan.

Malam berkejora rembulan purnama menutup gulita. Lalu, angin kabarkan pesan pada malam, kapan Sepoi mengayun gerai terurai di akar yang berjuntai, sedangkan fajar hampir menyingsing sisa malam jadi angan

Pagi menyapa, terik perlahan tiba membakari
Hujan kemarin menyirami sesaat saja
Bibit berputik buah ranum tak enak dimakan
Sebab, batang dan dahan kekeringan, daun-daun berguguran

Senja di ujung dunia tak jauh di ubun beruban
Jejak berserak pada tujuan yang dicari tak ditemukan destinasi hakiki. "Ya, diri. Kapan pengabdian di janjian azali dijalankan?"
Letih mulai mengejar tubuh pada otot kawat bertulang besi, kini rapuh.

Kehidupan terus berlanjut, padahal kematian pasti terjadi, menunggu antrian jalan pulang ke tempat gelap.
Tiada gelap yang lebih gelap dalam kuburan
Sebab, istana maha sunyi tak berpintu Persiapkan lentera selagi masih di dunia ini. Mari berbenah, jangan terlena
Akhir tahun 'kan pergi seiring roda zaman, berganti tahun baru kembali, penuh janji dan uji

HR RoS
Jakarta, 291217



prosais
JIWA DAN ILALANG
Romy Sastra


Dan hujan itu adalah rahmat dari sisi-Nya, ketika tabir-tabir hikmah tersingkap, daun-daun yang layu kembali merayu, tanah-tanah kerontang jadi subur, tubuh-tubuh yang dahaga bersuka cita, semua kembali hidup dan ceria. Maka, bersyukurlah, jiwa hidupkan!
Untuk mengenal Maha Jiwa, kenali jiwa ini ketika sunyi, akan didapatkan seribu satu jawaban pasti.

Ia Maha Rahman Maha Rahim tak terbatas pada hamba yang suci. Bahkan ke semua ciptaan Ia memberi. Tuhan itu tak butuh imbalan serupa, melainkan Ia ingin disembah, berpikirlah!

Jangan kufur nikmat pada dunia yang telah disediakan kepuasan yang tak pernah puas.
Iktibari sejarah dari rasul dan nabi-nabi terdahulu! Betapa kemewahan telah tercipta pada zamannya. Lalu mereka ingkar akan kebenaran, dan Tuhan timpakan azab yang amat pedih pada umat yang zalim. Sehingga mereka seperti kayu-kayu yang terpanggang menjadi arang.

Fa-biayyai alaa'i Rabbi kuma tukadzdzi ban
Maka, nikmat Tuhanmu yang mana yang kamu dustakan?

Sekejap merenung, jiwa mencari jawaban kehidupan pada ilalang, yang tak lekang dengan panas tak mati dengan hujan, hidup menantang matahari berpayung langit berselimut embun malam.
Bibit-bibitnya tumbuh seperti huruf Alif bertauhid. Ketika tua daunnya layu lalu mati tak meninggalkan sedih pada generasi. Regenerasinya estafet siklus berganti melebarkan kehidupan yang tak merasa tertindas oleh zaman. Ia terus tumbuh dan tumbuh meski ditindih oleh kaki-kaki kolonialis, durinya menanti sebagai perisai diri.

HR RoS
20-03-18



Prosais
RAJA YANG TAK BERISTANA
by Romy Sastra


Pusaka tua limpapeh rumah nan gadang
berselendang kasih sayang
menghapit
nan sembilan ruang,
ditingkah ayun tarian indang
semarak ranah minang tempo dulu
dalam tatanan bunda yang tersayang.

Rumah tua itu,
telah lapuk dimakan rayap
telah runtuh di telan zaman.

Seribu raja di negeri kami
hanya memiliki satu istana yaitu janji
tak bersinggasana mewah melainkan amanah
Penghulu bertongkat sakti satu tunjuk,
pada isyarat panji dalam adat
elok budi kaum dalam titah dituruti
adat bersandi alur, alur bersandi patut.

Tuanku nan ulama,
menitipkan suluh pada generasi
selaras alam ranah minang dengan pelita
terangi umat dengan akidah tauhid
adat bersandi sara'
sara' bersandi kitabullah.

Cerdik pandai penata nagari, maju bersama
duduk se-iya sekata
melalui musyawarah mencapai mufakat
bak tiga tungku bergandeng tangan
sejarangan,
memasak tanak dari jerih payah petani
bunda yang bersiul meminta angin
dari pesawahan hingga ke halaman rumah.
Bahwa dewi sri telah menari bersama peri cantik belajar memegang nampan ayunan padi.

Peri yang terpingit di sembilan ruang
bertilam manja diasuh pituah di malam hari
cikal bakal penyimpan selendang lusuh pada limpapeh rumah nan gadang.

Anak kanduang sibiran tulang
pelepas dahaga ayah bunda
jikalau besar nanti
peganglah tuah tiga tungku sejarangan
biar tak binasa generasi dalam globalisasi
pegang erat-erat panji-panji adat
yang dikibarkan, semenjak Datuk Ketemenggungan dan Datuk perpatih nan sebatang berkelana turun dari gunung merapai.

Datang menitipkan pusaka adat
dari babat alas sampai akhirat nanti.

Berdamailah bersama risalah
dalam filosofi ranah di tungku perapian
alamat hidup dalam adat tak bersilang sengketa
jaya bersama kemajuan teknologi
walau cabaran maruah selalu menghampiri datang silih berganti
di negeri seribu raja tak beristana.

HR RoS
Jakarta-18092016



Prosa
SENJA DILERENG JAMUS
Karya Romy Sastra

Kutitipkan cinta pada kabut,
di kaki langit jamus
kabus-kabus rindu senja
menyemai indah di sela dedaunan.
Di sini, di desa yang permai ini.
Imajiku berlari dan terus berlari terbang ke langit tinggi
menghayalkan,
sebuah cerita masa tua nanti
untuk menata hati bersama alam.

Oh, nebula cinta?"
seribu kasih kau titipkan lewat mimpi.
Sayup-sayup nyanyian indah,
dalam seruling kidung
mendamaikan jiwaku
bersahabat bersama alam kala senja
memeluk lembut, dingin, dilingkari seantero pucuk yang siap dipetik
oleh para petani.

Ya aku di sini,
di kaki langit selatan kota Ngawi
merenda cinta bersama kekasih
di tingkah manja sibuah hati.

Bersamamu wahai senja, aku lepaskan pandangan jauh menatap awan.
Bahwa senja, akan pergi berganti malam
terik rembulan memancar indah
di bayangi rona siluet memerah.

Aku kagum pada ciptaan
sesaat menikmati sisa hidupku
bergelut bersama asmara ya di sini
di balik rerimbunan dedaunan.

Objek wisata kebun teh Jamus
Kabupaten Ngawi tempat tinggalku.

HR RoS
292016



prosais
OBSESI IMPIAN SITI DI KALA SENJA HARI
Karya: Romy Sastra


Siti, itu namamu
kukenal dirimu di sebuah jalan di sore itu
kau seperti orang kebingungan mencari sesuatu,
sesuatu itu seperti susah sangat kau jumpai
berkeliling dengan mobil kesayangan mengelilingi perkampungan di sana, bersama keponakanmu sebut saja namanya Apen.

Ketika itu aku menyapamu, tak kau hiraukan, pantaslah sekiranya karena waktu itu kita belum saling mengenal.
Sore itu siluet akan berlalu menyapa senja, yang kau temukan akhirnya kau jumpai juga, hahaha.
Padahal aku terus mengikutimu di muka buku tapi tak kau sadari, kau bermusik ria di dalam kereta sambil berselfie. Sesekali kau berselancar ke dinding maya menyapa rakan-rakanmu yang jauh di semenanjung sana.

Senja itu kian menepi, yang kau cari itu hanya seekor domba, hahahahaaaa...
Aku tertawa, terbawah arus ceriamu kala itu.
Ya, seekor domba sebagai persembahan kenduri arwah almarhum ayah yang hendak kau potong esok hari.
bukti kau merindukan ayah, walau ia sudah tiada, pertanda kau balas budi ayah dengan doa sebagai anak yang berbakti.

Siti,
lama sudah aku mengenalmu di muka buku, cabaran demi cabaran telah kulalui, hingga pada suatu masa ketika itu, aku menawarkan sebuah pelita hati terangi kisi-kisi hidupmu
serta setangkai bunga indah kutawarkan lewat maya di jalan itu.

Mmmm ..."

Ketika itu tak lantas kau menerimanya pemberianku
kau teliti siapa aku, kau pelajari latar belakangku, hingga akhirnya kau menemukan aku.
Kau sambut pelita itu dan kau genggam dengan mesra.
Bersama setangkai bunga cinta yang kupersembahkan itu.
Kini bungaku telah subur ditamanmu
pelita yang kunyalakan, pun ikut menerangi seantero rasamu ...
setangkai bunga itu kini mekar dihatimu dan telah berputik.

Sayangnya pelita itu goyang kini, di terpa bayu
mengusik beranda hatimu
pelita cinta yang tak mewah kian temaram dalam gelapnya malam
dan sayangnya lagi, setangkai bunga yang berputik itu akan layu dengan bayu jerebu bisu, jerebu dari bara emosi maruah rasa di cabaran maya.

Siti,
kini kutadah embun di pagi hari tuk sirami jerebu emosi ego diri
nyatanya tak mampu juga kupadamkan.
Di jalan kenangan aku menemuimu dan di jalan itu inginku kau nyatakan jugalah kesungguhan cinta serta kesetian yang abadi memamah kisah yang sempurna mungkinkah akan terealiti ....?" ah, akankah terjadi?
mmm,
entahlah.

Dan apakah akan berakhir sudah sebuah kisah cinta tinggalkan memori-memori di jalan ini, entahlah juga.
Jikalau engkau bertanya tentang hatiku,
di mana posisi hatiku berada saat ini?
aku menjawab dengan senyuman...
kau ada di hatiku dan aku ada di hatimu dan itu bersemi dalam benakku.
Apakah akan aku akhiri memori di jalan ini jawabanku tidak ....!!"

Siti,
kau akhir dari sebuah petualangan itu.

Meski hidup kita jauh berbeda
kau di hujung samudera biru di wilayah gunung kinabalu,
sedangkan aku tercecer di antara lorong-lorong waktu di tengah kota Jakarta ini.
Kota yang menjanjikan setumpuk harapan
dan kota ini juga sebuah kegagalan hidupku yang akan menyapa obsesiku di kala nanti.

Duh,
sanggupkah cerita mimpi ini terealiti dalam noktah walau itu tak beralamat ...

Meski kakiku terikat rantai besi
dan rantai itu hanya sekali-kali bisa kubuka.

Siti, kuingin cindera noktah
kan berbuah berputik menjadi pelanjut tirani history mimpi yang terealiti.
Ah, malam yang panjang, kau bunga mimpi tidurku, aku yang selalu larut dalam bayangan kasih sayang,
akankah kisah ini sebuah misteri saja dalam kisah cinta yang akan terhempas lara ...?"
entahlah.

Aku menyapamu dalam madah obsesi mimpi di kala senja umur yang sudah menghampiri.

Kutunggu kau di jalan ini tuk kembali
torehkan sahaja cinta berjubah bijaksana
untuk menghiasi hidupmu sampai tua.

Semoga kearifan rasamu kian terarah
menuju cinta yang tak pernah sudah
setiaku, memandu ke hujung waktu
sampai akhir hayatku. Wasallam.

HR RoS
Jakarta, 7-9-2015, 02,00



Prosa

SEMALAM DI MALAYSIA
by Romy Sastra


Kata orang mimpi itu bunga tidur, setelah kuhayati gak juga
ternyata mimpi adalah sebuah petunjuk dari yang maha kuasa.
Mimpi bunga tidur terjadi dari pergolakkan keseharian kita ini, ketika tidur jiwa tak berpegang ke kalimah Illahi, maka godaan-godaan datang menghampiri.

Sebut saja nama itu Jejaka,
Jejaka putra Sumatera berkelana ke tanah Jawa semenjak remaja, sang Jejaka mengembara dari lorong kota ke kota lainnya,
hanya berbekal jajakan dagangan kecil dari pintu ke pintu, tawarkan sesuatu yang ia jual.

Kadang dari pasar pagi ke pasar malam mmm, hanya mencari sesuap nasi.
bermimpi, punya obsesi jadi orang berarti, sekurang-kurangnya untuk kelangsungan hidup rumah tangganya nanti.

Berlalunya waktu,
Jejaka menemukan tambatan hati, di salah satu kota Jakarta.

Ya, kota Jakarta bagian barat,
akhirnya menikah Jejaka di tanah kelahiran istrinya di pulau Jawa.
Singkat cerita,
rumah tangga yang telah berbuah cinta melahirkan dua orang putra,
putra Jejaka sekarang sudah remaja.

Dulu jejaka punya cita-cita, ingin sekolah ke university, aral kesehatan menjegal impian
hingga studynya broken oleh keadaan.
Kesehatan yang tak mengizinkannya kala itu,
kini Jejaka punya misi, dan cita-citanya dulu masa pendidikan yang terputus diserahkan ke putera sulung, yang kini masih di bangku SMA.
Impian si Jejaka ingin direalitikan oleh putra sulungnya, menempuh study ke jenjang university yang dulu pernah didambakan oleh ayanya putera.
Semoga kedua puteranya tidak gagal seperti ayahnya. Putera sulung telah jadi siswa teladan di sekolahnya dan bisa meraih prestasi yang dibanggakan.

Kini Jejaka payah, hidupnya susah,
niaga pun berantakan, sekarang jadi pengangguran.
Hidup bak siklus hari, ada hujan ada panas, ibarat roda berputar kadang di atas kadang di bawah.

Sementara,
makan & minum ditanggung oleh istri yang rela.
Sang istri selalu setia dan tabah bermanja melayani kehidupan rumah tangganya.

Hehem ....

Kadangkala dihiasi juga dengan pertengkaran-pertengkaran kecil dalam irama rumah tangga,
dan itu kuanggap saja sebagai seni kehidupan indahnya sebuah noktah, dalam kearifan diri sebagai pemimpin, ya berbesar hati minta maaf dan sama-sama memaafkan, pereda tangis ketika konflik-konflik kecil melanda.

Jejaka cinta ....

kini Jejaka menatap cinta ketiga yang berada jauh di samudera biru, negeri Kinabalu
negeri yang belum pernah kutemui
cinta itu pun juga belum pernah bertemu.

Cinta pertama itu, telah bisu tersusun dalam lemari kenangan
berada di pulauKalimantan.

Cinta keduanya, ada pada noktah yang dijalani hingga kini dan selamanya.

Cinta ketiga itu,
Sebut saja namanya Jelita
si Jelita juga mempunyai kisah dalam perjalanan hidupnya.

Kehidupannya yang penuh misteri, berwatak Srikandi tapi berhati lembut.
Kehidupannya diliputi kemelut dari cabaran hidup, teruk sakit gastrik membuat langkahnya sulit melangkah
masa depan keluarga ada ditangannya,
aku bangga mendengarkan dari cerita-cerita perjalanan hidupnya.

Jelita ....

Aku kini sudah tua,
ingin berlayar melancong ke negeri Sabah
mencoba semalam di Malaysia,
bercerita bertamu ke sebuah negeri impian
negeri perantauan yang menjanjikan bagi kehidupan orang-orang rantau yang tak beruntung di negeri kampung halamannya.

Mmm,
apakah Jejaka juga bermimpi ingin seperti itu
entahlahh ...?"

****
Ketika takdir menentukan langkah hidup apa boleh buat,
berharap sampai di sana bertemu dengan Jelita, bercerita sejenak di sebuah home stay mungil, kutatap wajah Jelita, ada pancaran rona-rona bahagia dan bahagia. Bercerita asa yang selama ini terlukis di maya, telah terwujud sudah.

Malaysia negeri sehati sejiwa
negeri yang ramah orangnya taat beribadah,
aku terpesona kelembutan sikap Jelita perempuan sabah
mimpi dengan Jelita akhirnya bersua.

Kugenggam jemarinya, kuucapkan kata cinta.
I love you, I miss you ... Jelita tersenyum mesra ....

Aku menatap wajah Jelita, ketika ia menatap makna jauh ke ruang angkasa, bersyukur, seakan takdir alam telah mempertemukannya pada cinta dunia maya.
Di kelopak matanya ada tetesan bening mengalir,
Kutanya ...?" dan tangannya yang masih kugenggam, kenapa dikau menangis? dia berucap lirih.

Abaangg? lalu dia diam,
dan setelah itu Jelita menatapku,, dia berucap kembali dengan penuh keyakinan...
Kuusap airmatanya di sela tangis Jelita. Ia mengatakan I love you, I miss you juga abg,
aku terharu ...
Mmmm.
Ketika itu, aku tertawa sejadi-jadinya, hahaahaaaa
hingga aku dicubit manja oleh Jelita, aauuuuwwww
sakit, biarin aja jawabannya.

Kucoba menenangkan diri Jelita dalam pelukanku
dan kuucapkan sebuah kata asmara kisah,
Jelita??
life in opera ini memang indah Jelita
ya abgku jawabnya, dan memang cinta satu malam ini terasa indah abg.
Spontan kupeluk tubuh Jelita lebih erat lagi, dalam dekapan itu, Jelita cinta, kukecup bibirnya dia pasrah ....
Hingga, hehem.

Aahhh, kisah pada hasrat,
terlukis dalam hati yang tersirat.
Kuluahkan story dalam prosa sederhana ini,
hatiku geli,
kenapa story ini terjadi.

Jejaka menemukan cinta ketiga semalam di Malaysia, wasallam ....

HR RoS
Jakarta, 18-9-2015, 16,29



Prosa
PERIHNYA NOKTAH
Karya Romy Sastra


Suamiku,
telah kau tinggalkan aku
pada noktah yang kau buat rapuh
yang dulu pernah membaja
masa di awal pernikahan kita
ketika tubuhku masih muda.

Kini kau pergi tak pernah kembali lagi
benih cinta yang kau titipkan di rahimku
telah tumbuh dewasa, belia sudah.

Ia menamparku dalam celoteh pilu.
"Ibu?" ke mana ayah tiada lagi bersama kita?
Aku rindu ayah, Ibu. Pertanyaan lirih dari gadis kecil memilukan segala nadi.

"Ahh, anakku..." sapaanmu, buah hatiku.
Desah rasa ini, luruh tuntutan rindu seorang anak nan lugu, sebak menikam jantung.
kenapa kau bangunkan lara Ibu yang telah terkurung sunyi, oh, anakku?"

Kugumam isak berlari ke kamar kecil meninggalkan si mungil lepas dari pangkuan. Diam menyendiri sedih dengan tatapan kosong, seperti dendam tak berkesudahan kepada noktah yang ternoda.

Tatapan gadis kecilku, jauh lebih pilu lagibmerindui ayah yang tak pernah pulang, pernah titipkan pesan belikan boneka lucu buat teman tidurnya, di kala kepergian alasan sesaat saja, nyatanya, ahh....

Oh, anakku
aku tak ingin engkau tahu, ada hal yang telah berlaku antara Ibu dan Ayahmu, anakku.

"Tangis pecah tak tertahankan"

"Ibu ..., katakan!!"
di mana ayah kini berada?!
aku rindu ayah Ibu!"

Dengan muka yang tertutup malu terhadap buah hati sendiri, kupejam mata ini dalam-dalam, berharap pemberontakan dari si buah hatiku redam.

Pada kenyataan aku dan ayahnya,
pernah berulangkali terjadi pertengkaran tanpa sebab yang tak habis pikir,
entah apa kekuranganku oh, suamiku.
Lara teramat lara dalam bunga-bunga noktah tak berbuah bahagia bersamamu.

Kuremas-remas dada ini, sakit ..."
sakit begitu sakitnya noktah dinodai.

Aku peluk si gadis kecilku kembali, memohon kepada Ilahi Rabbi, jangan hukum anakku Tuhan dengan tirani karma dosa-dosa orang tuannya sendiri.
Kristal-kristal bening berkoloni di pipi, kuusap dan terus kuusap ia terus mengalir sendiri.

"Wahai, Suamiku?!
Aku ingin kita intropeksi diri
di mana letak runyamnya noktah kita. Pengabdianku teramat indah kepadamu selama ini.
Evaluasilah janji dulu lebih baik lagi, jangan ada dusta di antara kita
jika dikau ingin kembali lagi padaku,
sedangkan aku masih mencintaimu.

Daku berharap, pada madah prosa luka ini kau baca!
Anakmu menunggumu di rumah.
Seringkali kala senja, ia mengkhayalkan sesuatu yang tak kumengerti, entah apa yang ia lamunkan. Seakan ia merasa sesuatu yang berbeda gejolak rumah tangga saban hari, antara kau dan aku suamiku, tatapannya kosong pada cakrawala yang hampir tenggelam, seperti bermain pada bayangan Ayahnya, paranoid sudah.
Ia sambil memegang sebuah buku di beranda rumah, menulis tentang rindu,
pulanglah Ayah! Aku rindu Ayah.

"Kembalilah pulang suamiku!" Bangunlah kembali istana yang telah runtuh oleh badai ego di antara kita.
Maafku padamu, sekiranya kesilapan pernah terjadi dalam proses keutuhan noktah cinta kita, dan aku juga telah memaafkanmu, pada tragedi hati yang pernah terkoyak oleh waktu yang berlalu.

Lupakanlah godaan kilauan suasa yang menggoda rasa, ia bukan emas permata kepergianmu, mencari kesenangan sesaat dalam persembunyian sepimu,
yang belum tentu emas kau dulang pada bayangan kasih hinamu di sana.

Aku masih mencintaimu dalam doa, kusujudkan tubuh ini memanggil namamu, tuk kembali.
meski tubuh ini sudah tua dan layu,
aku masih menyimpan kilauan permata pada cinta yang setia
tak akan mencari penggantimu lagi, kembalilah pulang, oh, suamiku
aku dan anakmu menunggumu di rumah.

HR RoS
Jakarta, 04092016



Prosa
KEMBALILAH ANAKKU
Karya: Romy Sastra


"Umi...??" anakku.
Kalau kau pergi merantau ke tanah seberang, sukses tidak suksesnya jangan lupa pesan Ibu ya?!
Pesan itu, adalah pesan Ibu kandung Umi, semasa ia hendak merantau ke tanah Jawa.
jagalah sholat dan kesehatanmu,
pandai-pandailah bergaul dan baik-baik saja di negeri orang ya, nak?!
Kelak ibumu sudah tua, hiduplah di kampung halaman. Bawa anak-anak dan suamimu nanti pulang ke rumah kembali.
Ibu akan selalu berdoa untukmu.
Walau kau tak membawa emas berlian dari rantau, kampung halaman tetaplah intan permata, oh, anakku.
Dan surga itu, berada di bawah telapak kaki Ibumu ini, Umi.

******

Sedangkan Abi, adalah suami dari Umi.
Mereka telah dikaruniai tiga orang anak, dua orang anak perempuan yang cantik, dan satunya lagi lelaki yang tampan.

"Abi bertanya kepada umi"

"Umi? Hidup ini tidak sekedar makan dan mencari kekayaan semata.
Akan tetapi di sisi lain, akidah memanggil umat untuk menegakkan panji-panji khilaffah yang telah berdiri di Irak dan Syiria sana, Umi.

Umi terdiam,
perlahan suaranya bangkit menengadah ke wajah sang suami dengan pasti.

Ya, Abi..."
ketika panggilan jihad datang terhadapmu, wahai Abi.
Abi akan pergi membela panji ISIS, Umi merelakan Abi mati syahid di tengah pertempuran.
Walaupun aroma darah kematian telah Umi rasakan, dari keringat Abi, bagi Umi itu adalah wangi kesturi surgawi.
Keyakinan sang jihadah yang teguh dari pengaruh ISIS selama ini, ia telah terdoktrin aliran Islam ekstrim dalam kelompok pengajiannya.
"Mmmm..." ironis.

Paham ekstrim itu merasuki jiwa sang syahidah di negeri sendiri.
Seakan tekad baja, keyakinan yang telah terdoktrin pemahaman propaganda itu adalah khilaffah yang benar-benar berada di jalan Allah.

"Na'uzubillah minzalik"

Bagi mereka itu adalah jalan yang mulia.

Sang jihadis akhirnya pergi ke medan tempur, tak berapa lama, Abi dikabarkan tewas ke tanah air.

Selang beberapa bulan, akhirnya Umi dan ketiga anak-anaknya menyusul ke Syiria, secara diam-diam. Ia diajak oleh kelompok ISIS yang lainnya menuju Syiria. Dan telah berada di salah satu sudut kota negeri rampasan ISIS.
Padahal, Umi berniaga di pusat grosir Tanah Abang, yang cukup menjanjikan masa depan buat ia dan anak-anaknya kelak dewasa.

******

Ya, Umi. Sapa Aminah dalam tanya? yang belum sepenuhnya mengerti akan sepak terjang Abinya selama ini.
Aminah adalah anak kedua dari Umi, Ibu kandungnya sendiri.
Sedangkan yang lelaki si sulung hanya asyik membaca buku-buku peninggalan Abinya, dan yang bungsu belum tau apa-apa akan persoalan demi persoalan hidup orang tuanya, karena sibuk mengaji dan mengaji.
Aminah bertanya lagi,
"Umi? Kita berada di Jakarta berniaga cukuplah sukses, sebagai agen/grosir pakaian di pertokoan Tanah Abang, telah dicukupi segala kebutuhan kita, Umi. Serta keperluan lainnya.
Kenapa kita harus ada di sini di negeri yang penuh gejolak ini, Aminah takut Umi?"

Anakku?" dengarkan Umi ya!"
Kita ada di negeri yang diberkahi ini nak.
Abi kita gugur di sini, dan kita akan menyusul Abi sewaktu-waktu anakku.
Soal keperluan kita sehari-hari
bahkan kematian kita nanti di sini adalah surga, dan surga itu pun dijanjikan oleh pakem khilafah jihadah ini. Berdasarkan hukum-hukum khilafah jihad, dan harapan masa-depan hidup kita ada di tangan penguasa ISIS, janjinya nak.

Tapi, Aminah rindu akan tanah air kita Umi, serasa batin Aminah ingin pulang saja menemui nenek yang jauh di Indonesia.

Abi dan Umi berniaga yang lumayan sukses.
Kenapa Abi pergi menumpahkan darah yang sia-sia saja, kini Abi telah tiada, entah di surga mana Abi berada kini, oh, Umi?"
Uminya terdiam, sesekali ia melirik jauh ke halaman barak-barak jihad yang berpasir, seperti menutup rahasia yang penuh misteri dari doktrin jejak dakwah Abinya selama ini. "Ahh... kau terlalu polos nak, terlalu suci untuk korban di sini, berlabel mati syahid. Air mata Uminya deras mengalir.

Air mata seorang Ibu yang penuh kebimbangan hidup dan akidah yang mulia, gundah oleh pertanyaan Aminah anak kedua mereka yang sangat cerdas itu.

Jauh di sudut rasa, gejolak bak anak singa maju ke hutan belantara, berburu rusa demi harga diri sebagai penguasa rimba alam raya. Tepatnya di gurun padang pasir, yang dia tak tahu sesungguhnya medan yang ia tempuh, untuk berjihad di kelompok ISIS sendiri.

Abinya telah dulu pergi meninggalkan keluarga anak dan istri tercinta semenjak anak dan istrinya di tanah air.

******

"Flashback"
( sebelum kepergian Umi ke Syiria)

Dengan ucapan takbir, Allahu akbar!!!
Abinya pergi dari Indonesia menuju Syiria.

Selang berapa lama, warta mengudara dari Timur Tengah.
Abi tewas di medan tempur sebagai jihad mati syahid.
"Mmmm... berita itu menggemparkan keluarga Abi.

Semua sanak saudara menangisi kematian Abi,
Umi datang dengan suara perlahan, jangan tangisi suamiku wahai familyku semua.
Abi telah berada di surga Allah, telah bertemu dengan ruh-ruh jihadis lainnya, dan telah bersama bidadari-bidadari surga, ikhlaskanlah kematiannya, Abiku itu!
Sedangkan Umi, istri dari Abi yang gugur itu tak sama sekali meneteskan air matanya, menampakkan ketegeran keyakinan akan kematian Abinya yang telah mulia sebagai syahid.

Semua keluarga dalam berkabung terdiam dengan keteguhan isteri tercinta Abi. Si istri jihadis, Umi.
Sedangkan anak-anaknya hanya sesesungukkan di sudut rumah karena kematian Abinya.

Selang berapa bulan kemudian
Umi menghilang dari kabar,
sanak saudara pada bertanya-tanya.
Kalau Umi telah meninggalkan semua kehidupannya di kota Jakarta, termasuk perniagaan yang ia rintis dari jerih payahnya selama ini.
Bak ditelan bumi, Umi pergi di kegelapaan malam bergabung ke markas kelompok ISIS.
Testimoni Umi, dalam akun yang kami simak. Mereka berbahagia di sebuah negeri yang diberkahi katanya.

Ironis,

Ibu yang di kampung halamannya sendiri tak lagi dia rindukan, bahkan air mata sang ibu tak berhenti menetes akan keberadaan nasib sang anak dan ketiga cucunya yang ia risaukan selama ini.
Badan sudah kurus kering wajah keriput menua merindukan si anak tak pernah kembali semenjak kabar kematian si Abi suaminya.

Ibumu, berbalut selendang usang yang dia sandang di bahunya, telah lusuh membasuh luka yang tak berdarah, dalam keringat berurai air mata, menatap potret anak tersayang di dinding rumah.
Anakku, pelitamu hampir padam
senja telah di tepi ngarai nak.
Pulanglah sayang!!!

Ahh..."
Aku di sini, sebagai penulis bersama keluargamu Umi, menukilkan hiba pada sanak saudara di sana,
pelajarilah dengan seksama konsep organisasi yang jelas-jelas terhakimi oleh dunia sebagai teroris!! Negara kita dan dunia Islamnya bukan thagut dan bodoh.
Dan kelompok Islam menilai bahwa ISIS adalah bentukkan propaganda untuk mengambil kesempatan kekisruhan antara Suni dan Syiah di Timur-Tengah, dan merampas ladang-ladang minyak, yang ia gunakan untuk proyek kehidupannya serta biaya ongkos perang berkoloni dengan para sekutu-sekutunya, analisisku.

Aku suluh asap, bukan maksud membakar jerami di ladang singa berdiri.
Tapi hanya sekedar menyampaikan rintihan ibunda Umi di sini, di kampungmu. Kalau ibundamu sudah tua, tak berhenti-berhenti menangis,
pilu akan nasib permata yang diharapkan dari kecil itu.
Kembalilah Umi, ke Indonesia!!

Ibu cemas menantimu bersama ayahmu.
Kami ingin memelukmu kembali meski Abimu telah tiada.
pulanglah nak" bersama cucu-cucuku.
Bahwasanya rumahmu dan di telapak kaki ibumu kau mengabdi, adalah surga yang sesungguhnya di dunia ini.
Ingatlah pesan ibundamu dulu, ketika kau akan pergi merantau.
Bukalah nurani yang terbingkai di dadamu itu.

Kenapa tanah berpasir kau rindukan, padahal belum tentu jihadmu itu adalah surga yang kau rindui, meski tubuhmu berbalut sunah. Pahamilah nak, dengan akal pikiran serta jiwamu akan langkahmu itu. Benarkah perjalananmu jihad fisabilillah mati langsung masuk surga.

"Aaahhh...." anakku Umi?"
Lebih baik mati terhormat bernisan bernama di tanah merah
di samping ibumu nanti.
Daripada mati sia-sia di sana, tak bernisan, yang akan berselimut debu ditiup angin-angin lalu.

Rintihan ibunda sang jihadah

HR RoS
Jakarta, 26- Agustus 2016
"Prosa seorang Ibu merindukan anaknya tuk segera pulang di medan Jihad"



Prosais
NYANYIAN NIRMALA
Romy Sastra


Tentang malam yang dibaringkan ke dalam sunyi, bulan dan bintang setia di kejauhan meski hujan datang menimpali kemesraannya. Awan tak bersahabat dengan cahaya, musim menginginkan curah. Sedangkan embun tak cukup membujuk gersang di tanah
daun-daun mati berguguran

Lalu, malam mengetuk pintu fajar, berpijar dada langit perlahan. Sunyi bermain biola bersama bunian raib entah ke mana. Kedasih masih saja kedinginan di ranting pagi. Sedangkan kekasihnya rama-rama memanggil terbang tinggi. Mari bertengger di sayapku! Kita melihat tarian ilalang tak lelah ditimpa musim. Nyanyian nirmala bersimponi antara malam dan pagi menyambut mentari, Tuhanku menyelimuti segala kisah.

HR RoS
Jkt, 240518



prosa
DI SURAU TUA LENTERA BERMULA
Karya Romy Sastra


Jantung negeri dalam lentera zaman
gubuk tua di seberang sungai di kaki bukit nan permai
indang-indang tari indang
berdendang sianak malang.

Terlahir ke dunia, tak berbaju dungu, dititah bunda berjalan segera berlari mengejar pesona dunia. Sayangnya tak bertongkat, tak berpedoman. Kala remaja mencari pencerahan iman di surau tua, peninggalan leluhur adat dari tuanku imam dan katik ranah bunda, semoga menjadi pencetak pemikir bangsa kepada regenerasi bangsa selanjutnya.
Di sini, di surau ini bibit-bibit bermunculan
bekal penerang jalan ke negeri seribu taman
ya, dunia kehidupan.
Menuju alam sejuta taman
ya, surgawi alam keabadian.

"Wahai ... sahabatku yang pertama, Iman"
dikau berpeganglah ke pundak tubuhku, jagalah goda dan rayu yang akan menghempaskan rasa malu
mari bersama memandu bahtera hidup menuju belantara diri
berjalan lebih hati-hati di dunia ini.
Aku tak sanggup siksa derita suatu ketika nanti, roh dan jasad berpisah pergi menuju asal muasalnya kembali. Ahhh, Iman diri" semoga kau tak meninggalkanku sekedip mata,
sehela tarikan napas keluar masuk
memandu rahasia rasa dan jangan lengah sejengkal tanah, serasa tiba-tiba menyesatkanku ke lembah nista.

"Wahai ... sahabatku yang kedua, Tauhid"
bawalah daku pada kasta-kasta Iman di tingkat makam.
Ajari langkah hati ini, meniti jembatan keyakinan dalam pedoman hakiki.

"Tauhid ...., sahabat religiku?"
di mana letak pusara anbiya berada?
di mana letak makam waliyullah bersinggasana?
di mana laju keluar masuk rasul
menitip firman Tuhan pada kesadaran hidup yang jujur tak berkamuflase kepura-puraan sang utusan antara hak dan bathil berkompetisi di setiap helaan napas.

Iman dan Tauhid sahabat religi
memandu hak mengawasi bathil
mengintai di dalam diri sehari-hari.

****
Ya, di surau tua lentera bermula.
Dunia ini sudah tua kawan,
jangan berleha-leha dengan dunia ini.
Sabda dalil, akhir zaman ini" manusia akan terkotak-kotak dalam kelompok kultusan kebenaran masing-masing, itu terbukti titah sabda Nabi, umat yang merasa punya panji kenabian merasa benar sendiri.
Ironis, bak air yang mengalir dari hulu menuju hilir sampai ke muara, merasa suci.
Padahal terkontaminasi sudah dengan kepentingan dunia.
Seribu satu lebih kelompok panji-panji berdiri para pencari kebenaran di akhir zaman, berhati-hatilah wahai kau sahabat religiku Iman dan Tauhid mengiringi roh dan jasad ini bernapas terhenti di muara kehidupan.

Bawalah daku kembali ke hulu
ya, sahabatku?!"
Di mana awalnya ke-imanan mengalir.
Ia dari lentera surau tua bermula
dalam asuhan kearifan budi, lestari dari negeri-negeri yang beradab, surau-surau peninggalan yang hampir lapuk di makan zaman.
Di sana kedamaian terlengahkan, ia sunyi terpusarakan pada kitab lusuh bersama dongeng-dongeng seribu satu malam oleh tuan kaji
di negeri yang telah terlupakan
oleh candu-candu seremonial dunia.

Surau tua itu sudah rapuh
bangun kembali fisik dan ajaran tuan kaji, biar peradaban dan akidah tak lekang dengan panas tak lapuk bersama hujan.

Semoga umur dunia ini kian panjang
dengan alunan firman dan adzan
berkumandang di setiap waktu
di jantung negeri para regenerasi itu ....

HR RoS
Jakarta, 23102016



prosais
DI TELAPAK KAKI BUNDA KUBERSUJUD
Oleh Romy Sastra


Bunda,
tergurat di wajahmu rona renta
membulir sedih berhias rela
ananda menatap dari kejauhan
di balik dinding jiwa
kau mewujud resah
karena tanggung jawab cinta
cinta untuk buah hatimu
darah dagingmu.

Bunda,
kita sudah terpisah jauh
dari tanah tumpah darah itu
daku berkelana
ke ranah yang belum terjumpa
semasa balitaku dulu
dikau mengajarkan tentang arti hidup
mencari jati diri
meski sampai ke ujung dunia.

Kini takdir itu,
aku telah ternoktah pada jodoh pilihanku
darah-darah tiranimu telah lahir ke dunia
pelanjut helaan napasmu mengisi kasih
dia kini telah belia
sudah tumbuh dewasa.

Bunda,
engkaulah segalanya bagiku
di telapak kakimu aku bersujud
kembang kantil itu telah mekar
minyak kesturi mewangi
sumur tua di belakang rumah masih ada
serasa misteri menyapaku dalam lamunan
mengajakku kembali
ke tengah rumah kecil kita.

Bunda,
bila masanya kita bersua
akan aku timba sumur tua itu
membasuh noda menghapus dosa
dalam pengabdian sebagai anak berbakti
bersujud mendekapmu
ucapkan terima kasih,
akan baktimu selama ini.

Dari relamu aku terfitrah
karena ma'unahmu syurga itu ada
aku perjalankan hajat ini
dengan kembang setaman
ketika dikau tiada terjumpa lagi
disamping nisan di atas tanah merah
kutaburkan doa-doa kyusuk
menyauk embun kusirami dalam goa sempit
yang mengekang jasad itu.

Bunda,
dalam mihrab doa aku bertanya
melipat lidah ke langit rasa
menutup rapat-rapat di keheningan cipta
berdoa,
ampunilah dosa-dosa orang tuaku ya allah?"
sayangilah ia,
sebagaimana ia menyayangiku dari kecil.

Bunda,
tinta emas ini memadah melukis hiba
berharap malam berpurnama ketika tiada lenteranya
cahaya ibadahku menerangi sujud itu.

Umurmu bunda, sudah mendekati senja
anakmu kini di terik pijar sang surya
mengirim bait-bait doa di malam buta
belajar dari nasehat yang pernah kau tuah
pendidikan yang dituntun dulu
jadilah anak yang berbakti
penerang jejak kelam di kemudian hari
itulah pesanmu dulu
kuingat selalu.

Bunda,
dalam aksara puisi doa ini
pengabdianku
ananda realisasikan dari kejauhan
di setiap helaan napas doa kasih
semoga dikau berbahagia sehat selalu

Oh bundaku ....

HR RoS
Jakarta, 30102016,



Prosais
RINDU NAN BISU
Oleh Romy Sastra


Merindu, bak tunggul lapuk
mengharapkan hujan
tunaskan dahan kembali
di sini, masih menyulam sepi
berkawan bayangan
dendangkan nada seruling siul
terpana menatap kejauhan
adakah nyanyian rindu tak bisu
menghibur pilu.

"Kekasih ... dulu, kau didamba,"
tak lagi kini kujumpa
rinduku telah bisu tak bermakna lagi
ternyata kau benar-benar menghilang dari pandangan.

Akankah kisah telah tertutup rapat
menjadi kenangan usang?

"Uuhh... entahlah?"

Setapak demi setapak melangkah
kaki meraih jejak impian
pada jejak-jejak hati
yang tak lagi menampakkan diri.

Aku ceritakan kisah pada madah senja
berpegang tongkat tinta
berkelana tuliskan aksara yang tersisa
meski rasa ini lelah menyapa cinta
memanglah,
aku telah bosan dengan cinta.

"Duuhh ... kenapalah?"
Siulan camar di pantai itu
tak lagi bersuara.
Apakah parungnya terpasung bisu
ataukah lupa irama kisah yang pernah tercinta.

Keadaan kita seperti eja di balik tanya
seakan noktah rindu masih kau rasa.

Kenapa kau biarkan rindu ini bisu
sepi berkawan hari
sepertinya,
kau memanglah telah berlalu pergi.

Ketika kau semakin jauh
jauh, jauuhh dan jaauuuhhh
kau tinggalkan kisah ini
tintaku tetap bermadah rindu
meski luahku
tersekat terpenjara lara.

Bila noktah hatimu
tak lagi bermuara kasih
ajarkan aku untuk biasa tentang rasa
yang tak lagi mengenal cinta.

Biarlah ku rajut rindu-rindu ini
bersama bayangan semu
kan kujadikan itu
sebagai pemanis hidupku
dan setia menyendiri tak lagi bercinta
apalagi mencari memori baru
sebagai pengganti dirimu yang telah pergi.

HR RoS
Jakarta, 07113016



Prosa
TINTA TERAKHIR
Oleh Romy Sastra


Tinta memerah menoda resah
dalam diksi kertas putih
kanvas-kanvas tua hampir pudar
melukis kasih sebagai tinta terakhir.

Di peraduan mimpi,
kucoba menoleh lembaran-lembaran memori
kutatap jurang-jurang pemisah
di antara nostalgia kisah kasih
yang tak mungkin,
kusulam kembali histori usang
tintaku semakin mengering
tak lagi berwarna telah bernoda darah
dari kecewa yang menggunung
jatuh terhempas ke lembah lara.

Tinta terakhir ini
kupersembahkan ke dalam syair
menilai kearifan kasih
masihkah ada rasa dikau untukku
yang kokoh berdiri pada janji
untuk memahami relung-relung takdir
dari cabaran maruah cinta yang rela
antara aku kau dia dan mereka.

Tinta terakhirku ini kian memudar
ketika kertas putih di albumku
telah terkoyak berdebu cemburu
yang tak bisa lagi melukis wajah rindu
ter-iris tuduhan hipokrit cinta
yang sesungguhnya
bukanlah jubah pribadiku.

Diksi rasa cinta ini akan menutup
lembaran demi lembaran hati
tak lagi membimbing masa depan dari cabaran puisi yang kian tersisih.

Aku memang masih di sini
menatap menyirami taman bunga dengan tirta maya cinta dalam bisu
yang mengalir dari tetesan air mata rindu
pertanda cinta ini masih ada
dan setia untukmu.

Bila suatu masa jalinan kasihmu setia
bernoktah cinta sepanjang hari
dari ikrar di depan penghulu
setumpuk cabaran menjadi pelajaran
tinta ini tak akan kuakhiri
sampai aku meraih obsesi dari sebuah mimpi
meski mimpi-mimpi itu
akan bias ditelan waktu.

"Aahh ... taman hayalanku"
selalu melukis warna hati pada kekasih
seperti indahnya pelangi jingga
yang memerah di peraduan senja
kusapa dikau cinta? dikala senja hari,
adakah malam ini berpelita sinar purnama
ketika bulan memadu rindu
hadirlah!
janganlah malam ini menjadi bisu
jadilah sosok Juwita malam menari indah
di dada langit
kan menyinari pekatnya kabut buana
tak lagi punya ruang tempatku berlari
dan tersenyum menatapmu yang jauh bersender di ranting bulan nan merindu
meski kunang-kunang hatiku
tak cukup mampu menerangi cinta
di seantero sukma indahnya mayapada
dalam kisah cinta yang tak nyata.

Ketika tinta yang memudar ini, masih tersisa"
yang akan melukis malam,
senyumlah!"
pelita kecil itu janganlah sampai padam
yang dikau masih dalam genggaman.

Embun rinduku,
yang selalu mencair di awal pagi
menatap teriknya mentari siang ini
memandang lembayung di tengah riak
menitip kabar pada pelangi yang akan menepi
ke telaga kasih bisu
kabarku sama seperti yang berlalu
aku masih mencintaimu.

"Oh ... terik?"
laju sinarmu membakar langit
hangatkan tubuhku
izinkan aku menggapai obsesi hari
pada senja nanti
berharap siluet cinta merona
pada keagungan Illahi Rabbi
mendekap dalam doa-doa senja
menitip sebait asma,
berharap,"
cinta di hati ini janganlah redup.

Aku masih seperti yang dulu yang kau rindu
biarkan sisa tinta terakhir ini
memadah telepati dalam luah telik sandi
meski tergores ayat-ayat pesimis
tinta terakhirku ini
akan terhenti menitip larik-larik puisi
pada maya dan relung hatimu
ketika goresan tintaku tak lagi dihargai
dan tak lagi kau hantarkan warna ceria
ke arena kanvas rupa rasaku
yang mulai menipis di kertas putih
karena rasaku semakin sepi
semenjak di tinggal pergi
pada bayangan mimpi kekasih.

"Aahh ... mimpi, kau paranoid tidurku ....

HR RoS
Jakarta 25-4-2016, 09:35



Prosais
PERSIMPANGAN DUA HATI
Karya Romy Sastra


"Jalan ini ...
persimpangan dua hati."
melangkah,
sama-sama memegang tongkat ego diri
dipendakian mihrab cinta
yang selalu tertatih
menuai kebahagian yang didambakan.

"Aahh ... akankah noktah cinta ini, kandas bersama mimpi?"
entahlah ....

Cabaran cinta melukis minda
jiwa terpasung semakin terluka
titah setia tak lagi dimaknai
sampai kini aku tak mengerti kesalahan diri
kenapa emosi semakin mendominasi.

Bercermin diri di kaca retak
wajah ini nampak buruk berserak
bersolek rupa dengan senyum mesra
tak lagi membingkai indah
selera makan tak lagi terasa nikmat
semua serasa menyakitkan
ego diri sama-sama dipertontonkan
malu tak lagi mampu disembunyikan.

Tangis berurai sebak di dada.
"Akankah ... sejarah kisah ini?"
kan menjadi sampah yang tak bermakna?!"
"Uuhhhh ... luka."

"Bertanya pada mimpi?
jawaban nebula selalu meluruh resah.
Terjaga lelap di malam buta
masihkah warna hatimu berpelangi?

Berharap kala senja tiba,
ingin menuai rasa pada indahnya kedamaian
kenapa setiap mentari menepi,
menelan hari?
tak pernah lagi nada seruling rindu
menyanyikan irama asmara.

Embun yang dinanti
ketika senja kering sudah
bunga nan biasa mekar diambang sore,
selalu layu tiba-tiba
kumbang pun tergerus badai membara.

Akankah asa cinta yang dipandu dulu
lara bak telur di ujung tanduk
jatuh berkeping-keping
sebak di hati, telah mengiris luka yang tak berdarah
aku lelah mengais impian realita
kau biarkan cinta layu bersama janji
rela tercabik, demi keputusan yang terbaik.

Biarlah noktah cinta itu ternoda
memohon pertikaian selesai sudah
sekiranya ego tak mau mengalah
ya, persimpangan dua hati
adalah jalan berpisah sama-sama kita pilih.

"Kasih ...?
Bergurulah kepada semut merah,
yang beriring jalan.
Yang dia bijaksana bergandeng tangan
se-iya sekata dalam suka maupun duka
beban asa dipikulnya bersama.

"Uuhhhh ... asmara?" untuk apa bersatu."
Bila satu atap tak serumah
berlain rasa,
berpayung berdua kehujanan
berlain hati,

Dalam cabaran malam yang kian kelam
malam tak lagi berpurnama indah
rasa yang semakin lirih tak lagi dimaknakan
kasih bak peluh asin kan termuntahkan
bianglala di ufuk senja kian memudar
mengertilah dikau kekasih....

Akankah aku hidup di jalan yang buntu?
bias bersama mimpi-mimpi
tak mampu kumemiliki bara cinta
yang membakar jiwa
ego yang tak pernah padam
kau dan aku terkisah seperti dunia perang bratayuda saja ....

HR RoS
Jakarta, 16-10-2015, 01,18


Prosa
SANTRI MENCARI CINTA
Romy Sastra


Perjalanan malam di ruang batin duduk bersunyi-sunyi, melipat langit ke arasy diri.
Menyendiri tafakur bertasbih asyik dimabuk tuak Ilahi.

"Mursyid, tunjukkan pikirku pada jalan keselamatan!" Biarkan nafsuku terpenjara suci.
Langit terbuka, bulan bintang matahari beserta kosmik semuanya kerlip hadir menyinari.

Lalu, Mursyid menundukkan kepala batu ke telaga cinta, luruhlah segala noda yang bergayut di dada.

"Berjalanlah kau santriku di bumi Allah ini!" Tempuhlah pahit getirnya hidup ini adalah ibadah.
"Sedangkan dadanya kau pijak tak menjerit, malah ia pasrah."

Aku kembali pulang, berenang di sagara jiwa, bermusyafir di sahara mencari cinta, berkelana di rimba raya.
"Sadarku, duduk makrifatullah itu memang indah."

HR RoS
Jkt, 130418



Prosa

SALAT MELIHAT DIRI
Romy Sastra


Burung-burung kala petang terbang ke sarang. Senja datang, sang kekasih pulang keharibaan menghadap magribi menatap Maha Kekasih.

Allahu Akbar, Allahu Akbar ...

Suara azan itu merdu mendayu, panggilan Kekasih telah tiba. Menandakan semua yang hidup beribadah bertasbih pada Rabnya.

"Firman, suara azan telah berkumandang, waktu Magrib sudah datang!" sahut seorang Ibu pada anaknya.

"Iya, Bu." jawab Firman pada Ibunya.

Firman bergegas menuju masjid menunaikan salat fardu Magrib.
Setibanya Firman di tempat wudhu, ia tadahkan kedua telapak tangannya di kran air yang mengucur. Ada sesuatu kesejukan ia rasakan menyentuh wajahnya yang masih lugu. Firman berbisik dalam hati, Tuhan, jadikanlah air wudhu ini sebagai penyiram tempat tidur panjangku yang gersang di dalam kuburan itu nanti.

Selesai firman berwudhu, ia masuk ke dalam masjid berada di barisan saf paling depan.
Firman membaca niat salat dengan khyusuk, batinnya menembus kosmik jiwa terpancar kerlap-kerlip kejora, pertanda pengabdian seorang hamba diterima oleh Khaliknya.

"Ya Ilahi, rohku masih ada bersemayam untuk hidup ke depannya lagi, terima kasih Tuhan." Batin Firman bermusyahaddah.

HR RoS
Jkt, 140418



Prosais Renungan
RENUNGAN DIRI
Karya Romy Sastra

Rimah-rimah yang bertaburan
jatuh dari tangan tak dianggap
di setiap suap menitipkan pesan
kenapa yang tersisih diabaikan begitu saja
padahal kehidupan itu layak dihargai.

Beriman pada azali,
bahwa kehidupan ini sebelumnya
telah hidup bersemayam dengan suratan.
Berguru pada kedewasaan diri
tertitip dari takdir tirani semula
dididik oleh tuntunan yang cantik
kepada generasi ke regenerasi
jadilah pejuang tangguh yang berbudi
mengisi masa depan dengan bermartabat.

Jiwa ksatria di tengah padang nan gersang
berpacu menantang matahari
kulit lebam dengan cita-cita
di setiap arah mana yang dilalui
demi mendapatkan yang diinginkan
sebuah kemewahan
ada secara instan ada dengan otot kekar
ada dengan pendidikan.

"Aaahh ... hingga kini, takdir hidup itu,"
sudah banyak yang berubah.
Sayangnya,
kenapa kebodohan menguasai ego.

Di sana, bertahun-tahun sudah
pesta panen dirayakan dalam kehidupan
selalu merasa kurang terhidangkan
tapi kenapa rasa syukur tak jua dipanjatkan
hanya menikmati tak pernah kenyang
berbagi nihil sama sekali.

Padahal,
langit tak pernah bosan curahkan hujan
dengan siklus musim datang dan pergi
tak mengecewakan
alam selalu menyediakan kesuburan
mentari selalu menyinari bumi
kala malam bintang-bintang bertaburan
bulan nan cantik,
memperindah glamournya malam.

Angin nan berhembus selalu lenakan jiwa
para peraduan hati memadu kasih
dengan tembang kasih sayang
nikmatnya kehidupan yang dimaknakan.

Pada corong religi di tengah negeri
mengalun merdu syahdu menusuk kalbu
menyampaikan pesan firman-Nya
di setiap rasa para sanubari
tak peka jua dengan bimbingan.

Rasa diri, kadang terlena dengan kepalsuan
asyik memintali payet-payet kebohongan
menyulam jubah kemewahan yang disandang
demi sebuah penampilan masa depan
ia hanya seremonial perjalanan saja.

Seyogyanya, kenalilah isyarat Tuhan
pada alam menitipkan pesan
bahwa umur dunia ini kan panjang
dengan rasa syukur yang ditunaikan
kasih-Nya adalah keniscayaan hidup
tak berkurang sedikitpun.

Sadarilah, nasi yang di makan
seperti hidangan surgawi
air yang diminum serasa madu
bak telaga zam-zam tak pernah kering
sungguh ia adalah pemberian rasa terbaik.

Tidur lelap,
seakan tak ingin waktu berlalu
sayang seribu sayang,
rasa syukur selalu lalai ditunaikan
terlena dalam ayunan dunia
pengabdian diri pada-Nya
hanya pepesan kosong saja
bahkan tak sama sekali dihargai.

"Duuhh... lorong kematian menganga
mengintai menakutkan sekujur badan
ketika ia bertamu tiba-tiba
misteri itu hadir di sudut mata
seperti mata elang berjubah hitam
menerkam mangsa.

Ironisnya, seakan kematian itu
tak pernah disadari ia akan bertamu
bahwa jiwa ini terancam oleh azab
dari dosa-dosa yang diperbuat.

Bodohnya prediket insani
seakan tak lagi mengenal jalan pulang
seperti rimah-rimah yang tak dianggap
selalu berjatuhan dibiarkan begitu saja
memang tak tersentuh oleh sanubari sedikitpun juga.

Malangnya nasib si rimah
tak dipahami
bahwa ia adalah ruh dewi sri
yang menyantuni tubuh dan kodrat ini ....

HR RoS
Jakarta, 03112016



Prosais bebas
SAYAP PATAH SYAIR LUKA
by: Romy Sastra


Belum lama kepak merpati ini patah,
terjatuh dari pijakkan ranting mati
jatuh terjerumus dalam kubangan rindu yang tak menentu, sayap luruh ke tanah bercampur debu yang berterbangan, kemilau hati merpati tersisih dari kasta hidup dia yang indah, tersakiti oleh rona siluetnya yang merona. Kemana lagi tujuan kelana kan melingkari warna jingga senja ini.
Alam telah temaram,
angkasa menghujani mayapada, berteduh di tunggul kayu mati tak berpayung, tetap tubuh kedinginan tak berlindung pada rimbunnya ilalang menyeruak daun gersang, hingga sayap-sayapnya basah dingin sudah.

Goresan malam syahdu
memandu hening nan bisu
tak bisa bernyanyi kasih
kebencian telah merasuki selimut mimpi yang tak tertunai pada janji.
"Ahhh..., pengorbanan telah terbungkus dalam memori menjadi hiasan emosi dan telah menjadi dendam yang tak kunjung usai sepanjang hidup merpati.

"Oohh duka rasa ...,
Telah kularung paranoid diri ke dalam kembang setaman, bermandi bersama misteri
tak jua layu menyuburkan taman impian.

Merpati itu tak mampu terbang tinggi lagi, hanya terdiam menunggu angin lalu membisikkan syair rindu walau laju tinta tak beralamat ke sesuatu hati.
Aaahh,... bodohnya parung tak lagi mau bersiul, 'tuk nyanyikan kidung asmara walau hati pernah terluka oleh bibirnya yang selalu bernyanyi mesra, pada syair-syair cinta. Karena lidah tak bertulang menghibur rindu ditikam malu dituduh tak menentu.

"Oohh hujan ..., redalah duka harimu!
izinkan merpati itu terbang mengarungi angkasa tinggi.
Nebula, hiburlah selimut mimpiku
biarkan kuhanyut dalam samudera yang tak bertepi, bebas berlayar kemana kumau di dunia ini, tanpa ada jerat-jerat kekasih yang selalu mencemburui buta menikam luka yang tak berdarah tetapi bernanah sudah.

Merpati lara, bebaskan terbangmu ke langit tinggi, terbang tinggi sekali.
hapuskan jejak hati yang pernah mengisi ruang hidupmu
asmara itu telah beku oleh sakit yang teramat sakit
telah meninggalkan goresan luka dan terkapar dalam nebula mimpi.
Semu pada rindu palsu. Ya, kepalsuan rindu dalam gita cinta yang bercabang, dari ranting mati hinggap ke daun yang subur tak lagi berbenalu.

Berpisah di jalan yang licin terjatuh
tak akan mungkin bangkit
dan kembali lagi
menyemai history yang kian basi
memanglah berpisah jalan yang terbaik ....

HR RoS
Jakarta, 08102016



Prosais Sufi
DIALOG KHAIR
Oleh: Romy sastra


"Haii... anak muda?"
tataplah dirimu!"
masuklah kesegala penjuru ghaibmu!
ia memiliki sembilan pintu.
Dengan menutup jendela rumah, kan terbukanya tirai penghalang.
Di sana, kau dapatkan mentari jiwa
yang menyinari alam saghir.

Dalam hening,
mendengarkan bisik yang tak berwujud
di mana gerangan datangnya warta itu?
membuncah pendakianku.
Lirih tanya dalam diam?!"
Khair menyapa lembut dari kejauhan
ia ada dalam jiwa ini
pesan khair pada tongkat tauhid menuntun iman tuk kembali.

****

Wahai yang tertidur, bangunlah!
cuci muka bersihkan tubuh larungkan fikir zikir ke samudera jiwa
kenalilah bara api tak membakar tungku perapian tetapi mendidih menghanguskan yang ada.
Jikalau kau tak tahu cara menjinakkan api terbakar sekujur jiwa, sengsara menyulam neraka.
Kunci alamat surga adalah rela.

Wahai yang keras kepala,
lembutkan hatimu! kan kau lebur baja yang menjerat ego diri.
Tiada penuh tak terisi melainkan keserakahan yang tak pernah puas.

Wahai mulut tajam nan berbisa,
santunkan suaramu!
belati yang menghunus itu mampu kau tumpulkan tanpa dibenturkan mata tikamnya.

Wahai diri yang bermusyafir,
tempuhlah saum di tanah tandus
seteguk dahaga mengalir tanpa mengeluh haus karena cucur telaga kasih-Nya tak pernah kering.

Wahai jiwa yang berenang ke samudera terdalam, mencari mutiara indah pada moleknya dunia.
Di sana tak kau temui manik mahkota karun, melainkan mutu manikam kepalsuan yang menipu.

Renangilah sagara jiwa dalam tafakur diri
bermodalkan kalam-kalam cinta
bernapas rindu memeluk dalam bayangan bisu zauqh.
Tirai-tirai keghaiban diri terbuka sudah
pesona kasih menyelimuti kasta terindah pada setangkai kembang cangkok wijayakusuma
tajaliullah dalam aksara sastrajendrayuningrat
makrifat itu ....

HR RoS
Jakarta, 04102016



Prosais Surat terakhir

AKHIR SEBUAH CINTA
Karya Romy Sastra


Kugoreskan tinta merah ini
dengan linangan air mata
menumpahkan kekecewaan perihnya kisah
lewat tinta terakhir ini
kuhantarkan ke persada maya
semoga surat ini dibaca dan dicerna

Meski kutahu
tak mungkin kertas membungkus api
pada cemburu tak pernah sudah
kau dulu pernah menjanjikan ikrar setia
setia hingga ke ujung nyawa
aku terlena dibuai belai manjamu
kini kau campakkan rinduku ke sudut duka

Jauh sudah cinta ini direnggut
kau rampas dalam keterlenaanku
setelah puas kini kau berlalu ....

Pernah kau bersandiwara
mencari titik kesalahan
kau temukan setitik noda dari candaku
ketidaktahuanku tentangmu
berakhirnya penghakiman tuduhan
yang tak beralasan
hingga kau tikam kembali berulangkali belati ke wajahku

Muka tipis terkoyak malu
kutahan seperti tak pernah terjadi
problem antara kau dan aku perih.

Bak nila setitik, rusak gulai sebelanga
Pedihnya luka kau torehkan ke dadaku
masih bisa kutahan
bahkan kau coreng arang di keningku
masih mampu malu kupejam.

Kini,
kau berlalu dengan kekasihmu yang baru
rela mendoakanmu semoga kau berbahagialah bersamanya.

Surat terakhir ini,
adalah akhir sebuah cinta
kuhantarkan kepadamu
tutuplah rapat-rapat kenangan indah kita,
biarkan ia berlalu
seteguk rindu yang pernah kau rampas dulu
adalah kebodohanku.

Jangan pernah kau datang lagi ke dalam hidupku
kalau itu hanya persinggahan sementara
tuk menghibur sisa-sisa hidup ini
biarlah kututup rapat-rapat kenangan itu
dan kuabadikan kisah kita ke dalam history

Aku berjanji
tak ingin cari penggantimu lagi
setia ini
kugenggam sampai mati
hidup bersama bayanganmu
karena cinta setengah hati telah kau bagi

Satu pintaku
pahamilah setia ini
meski aku tak sempurna
menghadiahkan cinta
aku tak mampu membuatmu bahagia
hanya hidanganku bertaburan derita
dan rasa kecewa yang tak pernah sudah

"Aaahh ... pilihlah jalan hidupmu!"
doaku menyertaimu.
Mimpiku usai sampai di sini,
lupakanlah rasa yang pernah terkisah
biarkan sedih ini penghias masa senjaku
selamat jalan kekasih
selamat tinggal kenangan ....

HR RoS
Jakarta, 10-11-2015, 08,53



Prosa secangkir kopi untuk negeriku
KETIKA MASA PULANG SEKOLAH AKU DAN IKAN KECIL ITU
Oleh Romy Sastra


Nagari Kubang Bayang
Pesisir Selatan, Sumatera Barat
memanggilku pulang, masa lebaran tahun kemaren, satu tahun telah berlalu. Kini, ia ranah itu seakan memanggil kehadiranku kembali.

Sinopsis kisah di sungai itu,
ia tetesan dari sumber berbagai mata air dari gunung, menyatu menjadi anak-anak sungai kecil. Riaknya aliran menjadi induk sungai "BATANG BAYANG" dari hulu mengalir ke hilir berlabuh ke muara.
Catatan harian, masa kecilku semasa pulang sekolah.
Aku terjun ke sungai bersama kawan-kawan setiap hari selalu kami lakukan.
Riang gembira berenang di sekitar air tenang di tempat pemandian,
air Batang Bayang membelah negeri-negeri kami sampai ke samudera.

Sungai itu, saksi sejarah alam untuk keberlangsungan berbagi kehidupan dan biota dari rahmat yang maha kuasa.
Menitipkan pesan pada kearifan alam untuk peradaban,
demi lestarinya regenerasi kehidupan negeri-negeri kami
yang terus berlanjut hingga kiamat nanti.

Kenapa aku tulis cerita secangkir kopi?"
Kukirimkan ke persada maya. Testimoni cerita masa kecilku, untuk membangunkan anak-anak negeri yang telah tertidur mengenang masa kejayaan dulu.
Negeri kami dilimpahkan anugerah yang banyak dari sang pencipta alam.
Salah satunya adalah ikan-ikan yang berenang bersamaku ketika aku mandi di siang hari.
Segerombolan ikan berbondong-bondong mencubit kulitku, seakan-akan anak ikan itu mengajak bermain petak umpet riang gembira.
Menitip pesan pada cerianya ia ke rasaku, bagaimana melanjutkan masa depannya nanti, biar ia tak punah.
Dialog rasa yang menyentakkan kearifan diri, akan kehidupan biota di telaga sungai yang kuselami.

Masa kecil itu,
adalah masa terindah yang tak terlupakan hingga kini,
dulu aku berenang di suatu lubuk di sungai itu. Ikan-ikan kecil hingga sedang menyambut kedatanganku. Aku berenang di sela bebatuan, menyaksikan ikan-ikan itu dengan kaca mata renang yang aku buat sendiri.
Ikan-ikan itu seakan berbisik pada aksara mulutnya yang lucu, dengan berbahasa batin di lorong bebatuan di dalam sungai ia menyapa?"

"Haaiii ... Sastra? Selamat siang ya!"
Sudahkah kau pulang sekolah hari ini?"
"Aku menjawab sapaannya dengan bahasa batin juga serta dengan tatapan mesra.

"Ooohhh ... lirihku dalam hati, indahnya sayap-sayapmu wahai ikan yang berenang, dan siripmu unik berkilauan di badanmu wahai ikan, kau adalah sahabat biota sungaiku.

"Ooo... ya Sas?
Ajari aku tentang makna cinta dan kasih sayang manusia terhadap kami di sungai ini, biar kami tak punah di kemudian hari nanti.
Padahal aku diciptakan untuk memenuhi konsumsi hidupmu sastra dan hajat hidup orang banyak juga.

"Aahhhh,
aku hanya diam beribu bahasa bahwa sang maha jiwa menitipkan pesan pada kelestarian alam di negeri kami.

********
Seperti biasa ketika hari mulai senja, aku terbiasa memancing di tempat pemandian itu,
menunggu pancingku mulai menyapa, dengan getaran-getaran kecil, seakan pertanda rezeki mulai ada.
Aku sempatkan menatap kunang-kunang malam menerangiku,
dengan sebuah pancing bermata kail dan secuil umpan untuk kularung ke dalam lubuk-lubuk ikan itu.
Berharap ada rezekiku pada senja ini yang akan aku bawa pulang untuk dimasak di rumah nanti.

Di keremangan malam,
aku duduk di bebatuan beberapa menit sambil menyambut sang rembulan menampakkan wajahnya di balik awan.
Tak berapa lama, umpanku di sambar ikan, aku haru harap-harap cemas semoga aku bisa mendapatkan ikan ini. Dan ternyata ikan itu memang aku dapatkan, ia menggeliatkan tubuhnya seakan ingin melepaskan diri, padahal bisiknya tadi siang, ia telah rela tubuhnya digoreng untuk dimakan, memang ia diciptakan untuk sebuah kehidupan juga.

Dekade demi dekade telah berlalu dan pada tahun yang lalu aku ke sana,
di tempat kenangan masa kecilku dulu bermandian.
Kawan-kawan kecil dulu,
aku sambangi mereka satu persatu mengajaknya ke tepian kenangan senja itu.
"Aku bertanya pada mereka?!
kenapa rona sungai ini tak seindah dulu kawan?" dan ke mana ikan-ikan kecil sebagai sahabat kita dulu tak tampak lagi kini?
Lantas mereka menjawab dengan penuh semangat, dan sedikit berbahasa diplomatis. "Ya, Sastra. Bahwa tepian mandi kita dulu ini sudah tergerus banjir bandang berkali-kali dan ikan yang berenang bersamamu dulu telah punah sudah oleh prilaku segelintir orang kampung menyentrum bahkan meracuninya juga.

"Waahhh... ironis sekali, lirihku.

Ketahuilah Sastra, mereka yang menyentrum dan meracuni biota sungai itu adalah saudara-saudaramu juga lo sastra.
Ia adalah Jonal Pendra kakak kandungmu salah satunya.
Lantas aku kaget dan tertawa sejadi-jadinya, hahahaha... karena geli,
yang aku maki ya saudaraku sendiri.
Sayangnya kemaren aku pulang, dia tak sempat aku temui.
Ingin aku melarangnya dengan bahasa indah, bahwa membunuh ikan tanpa melindungi anak-anaknya kembali adalah kenistaan yang sempurna, dan biota sungai itu sejarah kita juga.

Bertanya pada goresan maya di lembaran ini, menitip pesan kepada Pak Wali Nagari pada kesan tirani sifat di kampung yang tak mau dimengerti akan lestarinya sungai itu kembali.

Dulu, masa kejayaan periode kepemimpinan daerah, ada aturan menjaga kelestarian sungai kita secara bersama-sama.
Bahkan rekomendasinya hingga ke badan hukum dengan peraturan ke pihak yang berwajib, dan aturan hukum adat tentang konsekwensi prilaku anak negeri itu sendiri.

Kini, dengan secercah harap
tertitip doa dan salam kepada aparat setempat di Negeri Kubang dan Bayang sekitarnya.
Tolong bangun kembali sistem melestarikan perikanan di sungai itu, biar ikon kehidupan sungai tak habis ditelan masa.

Kita semua berharap, kearifan dulu lestari kembali.

Siapa,
dan mengapa sebegitu punahnya regenerasi ikan itu di negeri sendiri.
"Aahhhh ....

HR RoS
Jakarta, 23-07-2016, 19:27



Prosais Renungan

TIRANI MISTERI BANGSA INI
Karya Romy Sastra

Lelakon tanah pertiwi peradaban zaman, tertulis dalam syair pujangga Jayabaya.
Roda pikir sang pujangga mistik, melebihi era dan masa tertulis indah,
dalam wadah jangka pada kisah Nusantara.

Catatan aksara Nusantara,
kitab sepuh linuwih
terbukti sudah.

Jelas sekali pitutur luhur mengiringi lembaran alam dan tragedi
tak satu pun tak terkisah, bahkan melebihi jangka nan tertuang dalam perenungan panjang, hingga dunia terlipat sampai selesai.

Tirani misteri bangsa ini bagaikan
dalam wajan rebusan panas mendidih pedih,
dan seperti gunung merapi kan memuntahkan lahar ke seantero negeri.
Heningkan pikir sesaat biar terjawab laju misteri dalam rasa terwajah jelas di kehidupan nyata.

Kompetisi pesta zaman seperti bola api, panas bergulir menuju palang
datang silih berganti.
Tahta singgasana diperebutkan,
menitip janji visi misi kemakmuran
rona, lika-liku, tingkah hari berjalan seperti kabut hitam di dada langit mencekam mayapada menakutkan, tetap tunduk pada hukum takdir Tuhan, jangka adalah titisan lembaran Dewa pada aksara mistik pujangga adiluhung tanah Jawa.

Sibak saja tirai alam berlaku
ia skenario dari produser yang Maha
jangan bersedih pertiwi, ingatkan anakmu berjalan hati-hati
Jangan meronta si buah hati, laju hidup dalam hidangan zaman adalah suratan.

Diri,
bersandarlah pada haribaan temui jiwa,
Tuhan itu bersemayam tak bertempat. "Llihatlah...!" IA.
IA tersenyum menatap tatapan insan yang mengenali keabadian Rabbaninya.

Sebentar lagi laju diri ini kan berakhir
Nusantara tetap berlari,
biarkan roda berputar,
jangan ketinggalan kereta,
ikuti saja laju nasib.
Kereta itu selalu berbenah ke stasiun dan stasiun berikutnya.

HR RoS
Jakarta, 08-01-2017



Prosais Religi
MAHABBAH MAHA KEKASIH
Karya Romy Sastra


Berdiri dengan sendirinya, Qadim puji alal Qadim Tuhan maha pencipta, pengasih dan penyayang. Azali sifat dzat mentitah kalam ciptakan kekasih Muhammad.

Ketika kalam mencipta bersabda pada kosong, Nur Qun Hu Dzullah.
berdiri tirani Dzat bermegah pada sumber Lil alamin, wal awallu wal akhiru.
Cahaya Nurbuwat Muhammad, hikmah kejadian untuk para utusan.

Kemilau pada kosong terang benderang hadir bersamaan, terbuncah indah mendaki ke gunung thursina, asholatu daimullah tajalallah, mautu qoblal antal mautu.

Muhammad menitiskan nuktah, tercipta empat sahabat setia Jibril Mikail Israil Israfil. Alamat berdirinya anasir penguasa bumi angin air api, cikal bakal anazir Adam tercipta sebagai insan kamil.

Diri,
hikmah mahabbah maha kekasih,
tertuang dalam ruang goa garbah bunda, terkisah dalam buah cinta asmaradana. Berkoloni jadi embrio karya maha Rabbani Illahi
bersatu Dzat sifat asma af'al.

Sijabang berselimut di dinding rahim nan lembut melebihi sehalus seribu sutera, meminum tetesan telaga hayat dalam pujian Ya Hu, hidup memuji berdenyut di segala nadi.

Tuhan bermegah pada ciptaan menyentuh di segala ruh memuji keagungan sendiri, bersabda: Akulah Tuhanmu, ya hambaKu.
Kuciptakan engkau, Aku ingin dikenal, maka kenalilah Aku.

HR RoS
Jkt, 29112016



Prosais Religi

MAHABBAH MAHA KEKASIH
Karya Romy Sastra


Berdiri dengan sendirinya,
Qadim puji alal Qadim
Tuhan maha pencipta, pengasih dan penyayang
Azali sifat Dzat mentitah kalam ciptakan kekasih Muhammad

Ketika kalam mencipta, bersabda: pada kosong, Nur Qun Hu Dzullah
Berdiri tirani Dzat bermegah pada sumber Lil alamin, wal awallu wal akhiru
Cahaya Nurbuwat Muhammad
Hikmah kejadian untuk para utusan dan sekalian alam

Kemilau pada kosong itu
Terang benderang hadir bersamaan
Terbuncah indah mendaki ke gunung Thursina
Asholatu daimullah tajalallah, mautu qoblal antal mautu

Muhammad menitiskan nuktah Tercipta empat sahabat setia
Jibril, Mikail, Israil, Israfil.
Alamat berdirinya empat anasir
Penguasa bumi, angin, air, api Cikal bakal anazir Adam tercipta sebagai insan kamil

Diri ini
Hikmah mahabbah maha kekasih
Tertuang dalam ruang goa garbah bunda
Terkisah ke dalam buah cinta asmaradana
Berkoloni jadi embrio karya maha Rabbani Illahi
Bersatu Dzat, sifat, asma, af'al

Si jabang berselimut di dinding rahim nan lembut, melebihi sehalus seribu sutera
Meminum tetesan telaga hayat dalam pujian
Ya Hu, hidup memuji berdenyut di segala nadi

Tuhan bermegah pada ciptaan Menyentuh di segala ruh
Memuji keagungan sendiri,
bersabda: "Akulah Tuhanmu, ya hambaKu"
"Kuciptakan engkau, "Aku ingin agar dikenal, maka kenalilah Aku....

HR RoS
Jkt, 29112016



Puisi Prosais
TARIAN ILALANG
Romy Sastra

hujan sesekali turun, lalu,
panas mendominasi membakari padang jadi gersang, tak gamang ditingkah hari yang menghadang dari pagi hingga ke petang
burung-burung pun enggan bernyanyi, memilih menjauh pergi ke pucuk nan rindang
tegarnya si ilalang menari, seperti tak merasa panas haus dan kehujanan
ia terus tumbuh, hidup yang tak pernah mengeluh
dada ibunya tergerus rusuh, rentak nadinya silih berganti memuji, sedangkan yang lain semakin angkuh, lupa pada janji pengabdian
sang bayu terus berhembus, tirta pun tak henti mengalir
jika hujan tak datang jua, ilalang itu terus menari bersama desau riuh, daun-daunnya yang kian gugur, tak menyalahkan takdir kematian, pucuk pun terus melambai, bunganya kian tumbuh subur jatuh berputik, tetap titipkan pesan pada tirani hidup yang tak kenal menyerah, meski api melahap seantero bumi, ilalang tegar terus menari, ia akan tetap terus menari, dan menari, meski plamboyan di taman selalu dijaga dan dipuja
tegarlah wahai pejantan tangguh cabari dunia, meski jejak kaki melangkah kan lelah

HR RoS
Jkt, 050917



Puisi Prosais
NEGERI SERIBU RAJA TAK BERISTANA
by Romy Sastra


Pusaka tua limpapeh rumah nan gadang
berselendang kasih sayang
menghapit
nan sembilan ruang,
ditingkah ayun tarian indang
semarak Ranah Minang tempo dulu
dalam tatanan bunda yang tersayang,
lestarilah dalam kearifan zaman

Rumah tua,
lapuk dimakan rayap
telah runtuh ditelan zaman

Seribu raja di negeri kami
hanya memiliki satu istana, ialah janji
tak bersinggasana mewah melainkan amanah tirani
Penghulu bertongkat sakti satu tunjuk,
pada isyarat panji dalam adat
elok budi kaum dalam titah dituruti
adat bersandi alur, alur bersandi patut

Tuanku nan sakti,
menitipkan suluh pada generasi
selaras alam Ranah Minang dengan pelita
terangi umat dengan akidah tauhid
berdendang kasih sayang
adat bersandi sara'
sara' bersandi kitabullah

Umara nan cerdik pandai penata nagari,
maju bersama
penghulu perisai adat
ulama pembimbing budi
duduk se-iya sekata
melalui musyawarah mencapai mufakat
bak tiga tungku bergandeng tangan
sejarangan,
memasak tanak dari jerih payah petani

Bunda kandung bersiul meminta angin
dari pesawahan hingga ke halaman rumah
bahwa Dewi Sri telah menari melambai
pelepas jerih benih nan disemai
sang Dewi bersama peri cantik
si gadis pingit
belajar memegang nampan ayunan padi

Peri yang terpingit di sembilan ruang
bertilam manja diasuh pituah di malam hari
cikal bakal penyimpan selendang lusuh
pada limpapeh rumah nan gadang

Anak kanduang sibiran tulang
pelepas dahaga ayah bunda
jikalau besar nanti
peganglah hormatilah tuah tiga tungku sejarangan
biar tak binasa generasi dalam globalisasi

Generasi muda,
otot kawat bertulang besi
berpikiran maju, pelita nagari
pegang erat-erat panji-panji adat
yang dikibarkan, semenjak Datuk Ketemenggungan dan Datuk Perpatih Nan Sebatang, berkelana turun dari gunung merapai
datang menitipkan pusaka adat
dari babat alas sampai akhirat nanti

Berdamailah bersama risalah
dalam filosofi ranah di tungku perapian
alamat hidup dalam adat tak bersilang sengketa
jaya bersama kemajuan teknologi
walau cabaran maruah selalu menghampiri datang silih berganti
di negeri seribu raja tak beristana
tetap berjaya tunduk pada pituah tetua....

HR RoS
Jakarta-18092016



Puisi Prosais
AKU TAK SEHINA YANG KAU DUGA
Karya Romy Sastra


Ku-akui
kau sangat berarti
yang kutimang-timang dalam hayalan
berbuah sayang
kusadari,
diriku tak pantas kau cintai.

Meski terperap dalam harap
ingin damai bersama kekasih.

Duh, cinta.
Tak seindah yang kubayangkan
cabaranku terkikis oleh keraguanmu
aku sang kelana tinta
sadar,
hanya bermajas-majas duka.

Tintaku adalah sang musyafir syair jiwa
berkongsi ke alam maya sebagai seniman yang ketinggalan kereta.

Goresanku bukan tebar pesona kepada bunga-bunga nan indah
Ia melukis kongsi
dalam bingkai satu dunia satu jiwa
berkoloni dalam ukhuwah manusiawi
membuat peradaban sejarah tinta
dalam hidupku,
meski tak berkesan dan bias di telan mimpi.

Berharap,
setia hati memahami seni
tak melukis kontradiksi
pahamilah sebuah luah sastraku
dalam kearifan budi yang bersahaja.

Presepsi hati,
jiwaku bermartabat walau selalu tersekat
oleh dungunya penjabaran
tak sempurna memahami makraj
aku tak sehina yang kau duga
hidupku bermaruah
genggamanku erat melekat
meski genggamanku,
bak batu karang yang selalu dihadang amuk gelombang
ia juga bisa lebur oleh deburan.

Kasih,
aku memang tak sempurna
memanah noktah cinta pada kesetian janji
berkaca diri dengan rasa
aku bukanlah pemimpi banyak hati.

Aku kan selalu tegar berdiri,
dalam batas-batas jejak langkah
yang akan menggelincirkan realita
tak ingin tergerus oleh badai
tak hancur digulung ombak
selagi langkah kakiku dipahami
seni rasa tintaku dimengerti
setiaku tetap pada maruah janji
walau takdir itu ditelan mimpi.

Meski kupasrah dijajah
tapi aku tak rela kesetiaanku di hina
biarlah sedih.

Hari-hari kosongku bersenandung sastra
untuk mengisi lembaran putih
jadikan memori
meluah obsesi yang telah jauh pergi meninggalkanku.

Kini,
kucoba merajut sepi larut ke dalam mimpi

berkelana dengan rasa

berkawan dengan tinta

hidup dengan realita

berkasih dengan satu hati

bercinta sampai mati
berdua saja dengannya
biaslah impian tak pasti
yang hanya mainan mimpi....

HR RoS
Jakarta, 26-11-2015,



puisi prosais
OH, BAYANGANKU
Romy Sastra


Di pertengahan terik, titik pusar hari membakari bayanganku, aku tegar. Sepoinya sang bayu menderu dedaunan, tak mampu redamkan panas di ubun, meski tertutup seribu topi di kepala, justru lelehan lahar mengaliri, harungi kulit-kulit di badan serasa bermandi tak berpancuran.
Jangan salahpaham pada Tuhan!" RahmatNya tidak terbatas pada hujan dan embun malam yang diidamkan oleh kesuburan. Tanpa kau terik, buah-buah tak meranum bergizi, malah ia akan membusuk sebelum matangnya tiba. "Tuhan... ajarkan hati ini bersyukur, jangan lalaikan hambaMu akan anugerah matahari yang dikutuk pada insan si pengeluh, di bawah terik rahmatMu yang tak dirindui ini.
Bayangan diri ini telah mulai perlahan berangsur menjauh pergi dari lingga diri. "Sadarkan hati!" Bahwa senja akan tiba, pertanda bekal azali pada janji hidup sebentar lagi berakhir di tangan misteri, terampaskah nyawa ini?" Ataukah dipeluk kekasih, entahlah....

HR RoS
Jkt, 26/07/17



Puisi Prosais
PIJAR HATI YANG KUCARI
Romy Sastra


Siang tadi pijar hari menyapa, sebuah keniscayaan spirit alam menyinari mayapada. Ia menyemangati kulit ariku, bukan membakari. Embun pagi lenyap ditikam aurora langit.
Lebam di tangan tak peduli, kubiarkan saja ia menggenggam nasib badan.
Jalani saja liku-liku perjalanan hidup ini menempuh destinasi cinta di penghujung usia. "Ah... resah, kenapa bergayut hiba di sudut mata yang mulai basah?" Seperti embun senja menyapa dedaunan, dahaga dibakari pijar hari siang tadi.
"Ya... senja telah tiba, pijar hari kembali ke peraduan sunyi. Kulipat langit kala malam, kuhamparkan sajadah, kuhitung-hitung tiket pertunjukkan menatap layar diri. Layar terbentang pijar hakiki bertandang, inikah destinasi yang sesungguhnya kucari. "Ya, bersemayamnya maha cinta di hati ini. Ia yang tak pernah alpa menatap dengan kasih sayang tak berhujung tak bertepi selagi batin memandang.
Makrifat cintaku nyata adanya,
kehadirannya memanglah indah.
Aku terpesona....

HR RoS
Jkt, 24/07/17



puisi prosais

HARAKIRI JANJI
Romy Sastra


angin menitipkan warta pada merpati, bawalah setangkai rinduku ke beranda nona
berharap bunga-bunga kasih mekar, meski tak tersirami
seringkali kujanjikan merpati pulang
ingin berkasih sayang
sayangnya, sayap merpatiku patah ditingkah duri melukai
"nona....
tabir gelap memori kita semakin menutup lembaran kisah di antara dua hati
janji yang dulu terpatri, kuingkari saja
daku yang tak mampu cabari
sepoinya angin bernyanyi misteri
si pungguk mati diterpa mamiri malam
sang putri malam tenggelam di balik awan
bukan merpati tak mau pulang menepati janji
duri-duri di hatimu nona, semakin tajam menusuk jantungku
matamu tak lagi sayu merona pelangi
menunggu kehadiran rinai di senja hari
rindu-rindu yang dulu telah berdebu
bungamu kian gersang layu sudah,
kita yang tak tertakdir bahagia, pasrah
kubunuh saja ikrar itu,
bangkainya kujadikan sinopsis memori
rela cacianmu,
jadi selimut mimpi-mimpi malamku

HR RoS
Jkt, 23/07/17



puisi prosais
BERGURAU PADA SEMUT
Romy Sastra


Bisu bukan tak bersuara, aksara bahasanya mengeja kata.
Tarian jemarinya gemulai, yang melahirkan makna
Bisu membaca perihal cinta di dalam lirik, berkomat-kamit. Ia menyapa?
Adakah dikau tersenyum, ataukah terpana? Mestinya kita memahami, itu juga bahasa Tuhan.
Bergurulah pada semut-semut kecil yang beriring jalan! Saling mengenali.
Ia mencium aroma setia tak tersisih di garis kesetiaan, melainkan menyisihkan dendam.
"Duhai, diri....
Jangan kotori kewibawaan insan, malulah pada budi yang bersemayam di hati ini.
Jiwa kita menyemai plamboyan, kedamaian
Biarkan bunga-bunga cinta bermekaran di taman
Bibit-bibit kesahajaan pakaian keimanan. Janganlah menyimpan dendam, bunga layu, pelita kan padam.
Usah bertengkar diri! Kekang ego jangan bermain api, sedangkan angin masih berhembus, kipaslah dada.
Usah bertengkar diri! Sauk dan teguklah tirta di telaga sunyi, bermandilah dengan kacahaya rasa.
Dunia ini indah, nikmatilah! Hidup ini sesaat, kapan beribadah?
"Ya... malulah pada semut-semut kecil yang berbaris di tanah. Berikan laluannya, jangan injak, ia mati.
Tapi, ia tak dendam.
Ketika disakiti, jangan salahkan doa-doa yang dizalimi dimakbulkan Tuhan....

HR RoS
Jkt, 28/07/17



Puisi prosais
AIR LAUT TAK ASIN LAGI
Romy Sastra


Layaran ini tak kuhentikan meski gelombang datang menghadang, kulihat pantai itu ramai menanti pesta laut, dermaga hilir mudik membawa kristal-kristal asin ke pergudangan. Entah untuk apa kristal asin itu tuan timbun?" Negeri ini negeri bahari, kenapa mereka dahaga di atas air laut sendiri. Aku anak negeri ini heran, tertanya-tanya pada warta mengudara, pada teriak nyonya-nyonya di pasar-pasar, pada industri-industri kecil yang merasa rugi pada produksinya, perusahannya di ambang guling tikar, "Ya, karena harga garam melangit. Ironisnya, langka. Aneh, negeri bahari ini.
"Tuan?! Apakah air laut memang tak asin lagikah? Ataukah tuan sudah pencundang kenyang bermain petak umpet oleh kolonial nakal? Aku manggut-manggut sendiri, ini lucu. Lucu selucu-lucunya. Negeri bahari air lautnya tak asin lagi, kuah-kuah di panci serasa hambar, nyonya terkekeh-kekeh di dapur, garam aja kok bisa langka. Bedebahnya kerja menteri-menteri itu. Layaranku, akhirnya berlabuh pada maruah bangsa yang dijajah oleh pemodal bermata satu.

HR RoS
Jkt, 28/07/17



Puisi Prosais Kolaborasi
KIDUNG TIGA GITA
Penulis: Romy Sastra bersama Fe Chrizta dan Puji Astuti


#i
Bersamamu gita
kidung hening dendangkan rasa
jari-jemari menari titipkan aksara hati
langit jingga pelangi kata bermadah
bersemi bunga di pupuk lewat diksi.

Gita tinta gugurkan resah
kenapa dunia dihiasi lara
sedangkan bayu tiupkan sepoi merayu
pada tetesan malam tak hujan
ciptakan embun,
rengkuh dada rindu
berkaca diri pada imaji
bernyanyilah!
Biar sepi berlalu pergi.

Pengabdian Srikandi dan Sembodro
leraikan jerih panah Arjuna di medan laga
rona kalbu menyentuh relung-relung pilu
bahwa rindu tak beristana megah
bermahkota nawacita cinta
tuk keseburan hati merenda setia.

Kidung tiga gita talenta sastra
antara petikan, dawai dan syair bernyanyi
bersamamu kita bisa menyulam history
cerita luka, tersenyum, canda, tawa, dan hahahahaaa....

Berbahagia seiring menempuh senja
di pantai maya ini,
jejakkan kaki melangkah yang kian menepi
meski terantuk kerikil-kerikil tirani mencibir
Aahh, tak apalah....

****

#ii
Senandung lirih terdengar perlahan
di antara desir angin
meniupkan nyanyian rindu menyayat pilu.

"Di mana engkau sayang?" Gumam bisu.
Bayanganmu semakin lekat di netra berdebu
ingin kutepis rindu
namun semakin kuat mencengkram
jejak-jejak langkah kaki berlari di sekeliling rasa
riuh berbisik di telinga teriakkan kata-kata manis
namun kau tak sekalipun tampakkan raga
buatku semakin deras teteskan butiran bening.

"Hentikan...!" bentakku sembari bersedih,
kau hujamkan belati pada pikiran nan lelah.
"Bebaskan aku..." ucapan nan lirih.
"Ya ...bebaskan aku dari rindu tak sudah.

Bawalah kisah kita dari keterpasungan ini
hingga jiwa beroleh kedamaian
bersatu dan abadi....

****

#iii
Perlahan telapak kaki ini
menyusuri tepian pantai pasir putih
menjemput riak air laut yang datang
aku tertegun memandang senja
ke mana mega yang berarak
berlalu pergi tak rinaikan awan.

Kemarin masih kita rajut asmara
begitu sempurna aku kau bawa
meniti perjalanan kasih suci
di senja itu kau bernyanyi mengucapkan janji
begitu manisnya.

Masih terlintas senyum bahagiamu
mengecup lembut bibirku
melambung tinggi lenakan rasa kala itu,
kita berjanji tuk arungi perjalanan
dalam lelah tak dirasa
eratkan jemari memintal benang kasih
setia sampai mati.

Kau yang pergi....

Akankah kembali lagi padaku?
Sedangkan di sini menanti rindu
penantian itu jangan sia-sia
meski dunia kita sudah berbeda
namun cinta ini tak akan pernah sirna
hanya dikaulah belahan seluruh jiwa
Mengertilah Arjunaku....

Jakarta, Semarang, Jogja, 29/01/2017



Kolab Puisi Prosais
SETIALAH DINDA
Romy Sastra bersama Puji Astuti


#i_Romy
Badai itu telah berlalu, semenjak dikau pergi dari hidupku, Dinda.

Petang ini, hujan di langitku tak jadi turun. Gemuruhnya awan titipkan pesan kepada angin. Bahwa malam ini, akankah hatiku kian sunyi? Sepeninggal dikau pergi, tak sekalipun kabarkan rindu kepada pelangi. Dendangkan asmara, bersemi di daun-daun yang hampir mati, siklus musim tunaskan rindu kembali.

Dik, sabarlah menghadapi hidup.
Adakala musim gugur dari angin timur jauh cabari nasib menuju angin barat. Meski usia senja, beban ini semakin menindih pundak. Jangan pergi lagi menyulam mimpi semu, bercumbulah pada impian yang nyata-nyata menghidupkan masa depan kita.

Kembalilah pulang dik! Di sini daku masih memuja rindu untukmu. Jangan bermain ego pada maruah langit kau kan terjatuh nanti. Menunduklah ke bawah! Hidup bersahaja bersama realiti cinta yang kumiliki.

#ii_Puji
Terpaan angin rindu, dingin dan kosong yang kurasakan di sini, Kanda.

Pagi tadi, kudapati diary sepi yang menggayuti jiwa rapuh ini.
Aku pergi membawa binar mata sayu mengejar cahaya ungu yang mengajakku tuk meninggalkanmu.
Hatiku ternyata kosong tanpa sapaan hari-harimu. Di saat terlena kubuka mataku, resah ini tetap tertuju padamu walau rasaku kian menjauh darimu.

Berjalan meniti tumpukan berselimut bayangan, silau hidupku tak gemerlap mimpiku, hanya hampa yang kurasa. Tiada kedalaman cinta yang kau punya untukku. Kanda? Di sana titahmu lengah, jiwaku menggantung seperti layangan yang diterbangkan angin senja.
Tiada kukuh seperti kukuhnya lenganmu yang selalu melindungiku dengan segenap jiwamu, pada ikrar di depan penghulu.

Aku sadari khilaf ini.
Kembali pulang padamu, membawa segenap hiba karena kepiluanmu itu.
Yang telah meninggalkanmu demi egoku,
mencoba tuk setia pada satu hati kepadamu.

Ternyata aku merindukan canda kita, di saat-saat terindah. Luangkan waktu itu, tak lagi terlena dihimpitan dunia. Dengarkan juga rinduku Kanda, semakin menyesakkan dada untuk segera bersimpuh di pangkuanmu, dan melepaskan beban jiwa di sandaran realiti cinta yang kita punya.
Berbahagia kita bersama,
dalam suka maupun duka, selamanya....

Jakarta, Jogjakarta, 21/03/2017



Kolab Puisi Prosais
KIDUNG SEPI
By: Hajratul.A Bersama Romy Sastra


termenung di tarian rumput
bercerita bersama angin
seakan mendengarnya membaca takut
pada hadirnya
el maut

awan pun berbisik mendung
jelajahi lorong-lorong gelap
nan pengap
semut-semut tak mau tahu
ia hidup tak merengut
selalu berpagut
jika sebuah cahaya menjemput
ia tak takut
tak peduli dengan maut

kematian pada nadi
aliran terhenti
detak jantung tak lagi memuji
alamat alam kan sunyi
seolah akan jatuh; gugur
gunung thursina
lepas sudah dalam genggaman ruh

berharap,
seseorang menanti kasih
agar menggapainya dalam sunyi
meski lirih

pada koloni hitam menitipkan awan
ketakutan menjadi-jadi
ketika hujan turun,
sayup hadirkan syair yang melantun
guruh berpacu
seperti runtuh tanah nisan di pembaringan
kidung semakin jelas dalam bayang
sebelum kain putih membungkus badan
mayat-mayat hidup sudah terbujur dalam kehidupan
sang iman masih terkurung
diterali duniawi

oh, tuhan
perjalanan ini hampir usai
sedangkan doa belum jua tergapai
berkaca pada nisan yang bertapa sunyi dengan nama tertoreh
si fulan
seribu tahun menjadi bangkai
berdebu jadi tanah kembali

Padang dan Jakarta, 21092017



Puisi Prosais Kolaborasi
KIDUNG TIGA GITA
Penulis: Romy Sastra bersama Fe Chrizta dan Puji Astuti


#i
Bersamamu gita
kidung hening dendangkan rasa
jari-jemari menari titipkan aksara hati
langit jingga pelangi kata bermadah
bersemi bunga di pupuk lewat diksi.

Gita tinta gugurkan resah
kenapa dunia dihiasi lara
sedangkan bayu tiupkan sepoi merayu
pada tetesan malam tak hujan
ciptakan embun,
rengkuh dada rindu
berkaca diri pada imaji
bernyanyilah!
Biar sepi berlalu pergi.

Pengabdian Srikandi dan Sembodro
leraikan jerih panah Arjuna di medan laga
rona kalbu menyentuh relung-relung pilu
bahwa rindu tak beristana megah
bermahkota nawacita cinta
tuk keseburan hati merenda setia.

Kidung tiga gita talenta sastra
antara petikan, dawai dan syair bernyanyi
bersamamu kita bisa menyulam history
cerita luka, tersenyum, canda, tawa, dan hahahahaaa....

Berbahagia seiring menempuh senja
di pantai maya ini,
jejakkan kaki melangkah yang kian menepi
meski terantuk kerikil-kerikil tirani mencibir
Aahh, tak apalah....

****
#ii
Senandung lirih terdengar perlahan
di antara desir angin
meniupkan nyanyian rindu menyayat pilu.

"Di mana engkau sayang?" Gumam bisu.
Bayanganmu semakin lekat di netra berdebu
ingin kutepis rindu
namun semakin kuat mencengkram
jejak-jejak langkah kaki berlari di sekeliling rasa
riuh berbisik di telinga teriakkan kata-kata manis
namun kau tak sekalipun tampakkan raga
buatku semakin deras teteskan butiran bening.

"Hentikan...!" bentakku sembari bersedih,
kau hujamkan belati pada pikiran nan lelah.
"Bebaskan aku..." ucapan nan lirih.
"Ya ...bebaskan aku dari rindu tak sudah.

Bawalah kisah kita dari keterpasungan ini
hingga jiwa beroleh kedamaian
bersatu dan abadi....

****
#iii
Perlahan telapak kaki ini
menyusuri tepian pantai pasir putih
menjemput riak air laut yang datang
aku tertegun memandang senja
ke mana mega yang berarak
berlalu pergi tak rinaikan awan.

Kemarin masih kita rajut asmara
begitu sempurna aku kau bawa
meniti perjalanan kasih suci
di senja itu kau bernyanyi mengucapkan janji
begitu manisnya.

Masih terlintas senyum bahagiamu
mengecup lembut bibirku
melambung tinggi lenakan rasa kala itu,
kita berjanji tuk arungi perjalanan
dalam lelah tak dirasa
eratkan jemari memintal benang kasih
setia sampai mati.

Kau yang pergi....

Akankah kembali lagi padaku?
Sedangkan di sini menanti rindu
penantian itu jangan sia-sia
meski dunia kita sudah berbeda
namun cinta ini tak akan pernah sirna
hanya dikaulah belahan seluruh jiwa
Mengertilah Arjunaku....

Jakarta, Semarang, Jogja, 29/01/2017



Puisi Prosais Kolaborasi
KIDUNG TIGA GITA
Penulis: Romy Sastra bersama Fe Chrizta dan Puji Astuti


#i
Bersamamu gita
kidung hening dendangkan rasa
jari-jemari menari titipkan aksara hati
langit jingga pelangi kata bermadah
bersemi bunga dipupuk lewat diksi

Gita tinta gugurkan resah
kenapa dunia dihiasi lara
sedangkan bayu tiupkan sepoi merayu
pada tetesan malam tak hujan
ciptakan embun,
rengkuh dada rindu
berkaca diri pada imaji
bernyanyilah!
Biar sepi berlalu pergi

Pengabdian Srikandi dan Sembodro
leraikan jerih panah Arjuna di medan laga
rona kalbu menyentuh relung-relung pilu
bahwa rindu tak beristana megah
bermahkota nawacita cinta
tuk keseburan hati merenda setia

Kidung tiga gita talenta sastra
antara petikan, dawai dan syair bernyanyi
bersamamu kita bisa menyulam history
cerita luka, tersenyum, canda, tawa, dan hahahahaaa....

Berbahagia seiring menempuh senja
di pantai maya ini,
jejakkan kaki melangkah yang kian menepi
meski terantuk kerikil-kerikil tirani mencibir
Aahh, tak apalah....

****
#ii
Senandung lirih terdengar perlahan
di antara desir angin
meniupkan nyanyian rindu menyayat pilu

"Di mana engkau sayang?" Gumam bisu.
Bayanganmu semakin lekat di netra berdebu
ingin kutepis rindu
namun semakin kuat mencengkram
jejak-jejak langkah kaki berlari di sekeliling rasa
riuh berbisik di telinga teriakkan kata-kata manis
namun kau tak sekalipun tampakkan raga
buatku semakin deras teteskan butiran bening

"Hentikan...!" bentakku sembari bersedih,
kau hujamkan belati pada pikiran nan lelah
"Bebaskan aku..." ucapan nan lirih
"Ya ...bebaskan aku dari rindu tak sudah

Bawalah kisah kita dari keterpasungan ini
hingga jiwa beroleh kedamaian
bersatu dan abadi....

****
#iii
Perlahan telapak kaki ini
menyusuri tepian pantai pasir putih
menjemput riak air laut yang datang
aku tertegun memandang senja
ke mana mega yang berarak
berlalu pergi tak rinaikan awan

Kemarin masih kita rajut asmara
begitu sempurna aku kau bawa
meniti perjalanan kasih suci
di senja itu kau bernyanyi mengucapkan janji
begitu manisnya

Masih terlintas senyum bahagiamu
mengecup lembut bibirku
melambung tinggi lenakan rasa kala itu,
kita berjanji tuk arungi perjalanan
dalam lelah tak dirasa
eratkan jemari memintal benang kasih
setia sampai mati

Kau yang pergi....

Akankah kembali lagi padaku?
Sedangkan di sini menanti rindu
penantian itu jangan sia-sia
meski dunia kita sudah berbeda
namun cinta ini tak akan pernah sirna
hanya dikaulah belahan seluruh jiwa
Mengertilah Arjunaku....

Jakarta, Semarang, Jogja, 29/01/2017



Kolab Puisi Prosais
SETIALAH DINDA
Romy Sastra bersama Puji Astuti


#i_Romy
Badai itu telah berlalu, semenjak dikau pergi dari hidupku, Dinda.

Petang ini, hujan di langitku tak jadi turun. Gemuruhnya awan titipkan pesan kepada angin. Bahwa malam ini, akankah hatiku kian sunyi? Sepeninggal dikau pergi, tak sekalipun kabarkan rindu kepada pelangi. Dendangkan asmara, bersemi di daun-daun yang hampir mati, siklus musim tunaskan rindu kembali.

Dik, sabarlah menghadapi hidup.
Adakala musim gugur dari angin timur jauh cabari nasib menuju angin barat. Meski usia senja, beban ini semakin menindih pundak. Jangan pergi lagi menyulam mimpi semu, bercumbulah pada impian yang nyata-nyata menghidupkan masa depan kita.

Kembalilah pulang dik! Di sini daku masih memuja rindu untukmu. Jangan bermain ego pada maruah langit kau kan terjatuh nanti. Menunduklah ke bawah! Hidup bersahaja bersama realiti cinta yang kumiliki.

#ii_Puji
Terpaan angin rindu, dingin dan kosong yang kurasakan di sini, Kanda.

Pagi tadi, kudapati diary sepi yang menggayuti jiwa rapuh ini.
Aku pergi membawa binar mata sayu mengejar cahaya ungu yang mengajakku tuk meninggalkanmu.
Hatiku ternyata kosong tanpa sapaan hari-harimu. Di saat terlena kubuka mataku, resah ini tetap tertuju padamu walau rasaku kian menjauh darimu.

Berjalan meniti tumpukan berselimut bayangan, silau hidupku tak gemerlap mimpiku, hanya hampa yang kurasa. Tiada kedalaman cinta yang kau punya untukku. Kanda? Di sana titahmu lengah, jiwaku menggantung seperti layangan yang diterbangkan angin senja.
Tiada kukuh seperti kukuhnya lenganmu yang selalu melindungiku dengan segenap jiwamu, pada ikrar di depan penghulu.

Aku sadari khilaf ini.
Kembali pulang padamu, membawa segenap hiba karena kepiluanmu itu.
Yang telah meninggalkanmu demi egoku,
mencoba tuk setia pada satu hati kepadamu.

Ternyata aku merindukan canda kita, di saat-saat terindah. Luangkan waktu itu, tak lagi terlena dihimpitan dunia. Dengarkan juga rinduku Kanda, semakin menyesakkan dada untuk segera bersimpuh di pangkuanmu, dan melepaskan beban jiwa di sandaran realiti cinta yang kita punya.
Berbahagia kita bersama,
dalam suka maupun duka, selamanya....

Jakarta, Jogjakarta, 21/03/2017



Kolab Prosais
SEPOTONG SENJA
Zah Isa feat Romy Sastra


#1
"aku ingin menjadi sepotong senja, tuan. dipuja tiap sore para pujangga di bibir malam. aku cemburu pada jingga, dian. warnanya membawa kedamaian pada alam, dan cahayanya menyatu di dada candra
lalu, kenapa tuan tak mau mengerti arti kesetiaan? sedangkan merpati masih setia pada sangkar dengan pasangan."

"aku bukan abuabu yang tuan anggap debu, yang tiada erti sebuah rindu, bahkan tiada dipandang mata sekalipun"

"ahh... kutuliskan sekeping nota untukmu senja, pinjamkan aku namamu sebelum malam merampas kelam. sekalian keindahanmu yang ada kutadah dalam doa semoga tuan mengerti erti kesetiaan senja pada lembayung di segara cinta."

#2
"ya... nona, bersabarlah 'tuk sekejap!" aku 'kan kembali merajut noktah yang tercabik oleh sembilu goda. aku bukan si tuan yang dianggap hina, lupa dengan kisah yang pernah kita bina. nota itu masih tersimpan rapi di hati ini, non!"

"akulah si merpati yang tak ingin ingkar janji pada yang terkasih. meski terbangku melepas ego diri, dan kularung ego itu ke ruang senja, menyauk embun di daun keladi, kuusap pada setangkup hati yang tersisih."

: kau dan aku menunggu di jingga yang purna.

Selangor dan Jakarta 07,08,17



Prosais Kolaborasi
HUJAN TAK PERNAH SALAH
Karya : Romy Sastra bersama DianSi


*(Romy)
Karena siklus semusim wajah iklim tersenyum
jangan sesali tetesan menyirami kemarau
di bumi gersang inginkan hujan basahi alam

Hatimu nan rindu pada dekapan syahdu
jangan tangisi kepergian kekasih
yang pergi tak kembali lagi

Ketika layaran tak lagi berlabuh ke dermaga
awan titipkan hujan,
gelombang menghadang perahu karam
aku mati,
larungkan nisanku pada riak
biarkan pantai mewangi kembang setaman.

**(Diansi)
Sekiranya saja kau tahu, sesungguhnya aku tak pernah jauh dari hatimu
Lihatlah, hempasan bait-baitku
Betapa hanya padamu membadai hujan.

*(Romy)
Rindumu padamkan!
jangan bermain di pantai fatamorgana
petikan memori kita
biarkan terkunci mati
jangan tangisi takdir
rela doa sunyi kukirimkan dalam misteri
izinkan dikau kekasih mendayung bahtera
bersama yang lain....

**(Diansi)
Jangan katakan itu hingga melukai rindu yang kubangun sejak lama
Sesungguhnya kerinduanku adalah kau menjadi takdir sajak-sajak pualam dari hatiku.

Jakarta, Ujung Pandang, 03/02/2017



Prosais Kolaborasi
JANGAN AMBIL NYAWAKU TUHAN
Karya: Romy Sastra dan Puji Astuti


i
Kembang ilalang mekar di tanah tandus
daun subur batang tegar berdiri
rinai tak pernah datang suburkan gersang
noktah terukir di telapak tangan
berkaca, ada garis pemisah
tak bertemu goresan tinta dengan buku
azali menitipkan titah
pada sepasang merpati berjanji

Seribu satu lakon hidup dijalani
episode berlayar bermandi peluh
darah tertumpah pada tirani
bunga berputik jadi buah

"Ah...
janji pengabdian belum semua ditepati
kisah noktah kan tenggelam
senja menyapa purnama tak merupa
kabut hitam melayari malam
detak jantung bisu nadi diam
jangan ambil nyawaku Tuhan

Wahai kusuma hati jangan bersedih
jika aku pulang tinggalkan kenangan
sepasang merpati jangan pernah ingkar janji
setialah noktah sampai mati
kutunggu dikau wahai kusuma
di pintu surga
jadilah permaisuri berbakti
hingga selesai syair noktah kehidupan
pada kidung menyayat hati

Titipkan kerlip pada malam religi
jangan sunyi mengundang misteri
suluhkan lilin pada tirani
lembayungkan aurora surya pada embun pagi
buah hati,
jangan lupa sebait doa wahai ananda
bila nisan sedih tak tersirami doa berbaktilah....

****

ii
Beratus ribu detik telah melibas hari-hari
tiada rasa terbelenggu 'tuk dampingi janji
merajut rumbai kehidupan hakiki
seakan derita menyatu di antara nadi kita
berbinarlah wahai tulang rusukku
hari tiada indah tanpa gurat senyumanmu

Kutanamkan janji suci abadi
dalam altar kesucian imani
permadani tempat bertaut rindu
tak ingin kehilangan bayangmu
seperti jua diriku
yang selalu ingin mendampingi di senjamu

Pengabdian ini belumlah sempurna
luka kecilmu jua masih perih
rajut benang sutera masih kusut
tunggulah barang sedikit waktu untukku
merapikan semua amanah noktah

Pemahat jiwaku
rengkuh sukma di batas nurani
jangan jatuhkan isakku atas kepergianmu
kurasa kesanggupanku tak sekuat ketegaran
masih adakah sedikit waktu untuk kami,
TUHAN
berilah beberapa saat lagi
untuk membingkai kebahagiaan senja
titipkan memo pada darah-darah tirani
semoga mereka berbakti....

Jakarta, Jogjakarta 20/01/2017



Prosais Kolaborasi
HUJAN TAK PERNAH SALAH
Karya : Romy Sastra bersama DianSi


*(Romy)
Karena siklus semusim wajah iklim tersenyum
jangan sesali tetesan menyirami kemarau
di bumi gersang inginkan hujan basahi alam.

Hatimu nan rindu pada dekapan syahdu
jangan tangisi kepergian kekasih
yang pergi tak kembali lagi.

Ketika layaran tak lagi berlabuh ke dermaga
awan titipkan hujan,
gelombang menghadang perahu karam
aku mati,
larungkan nisanku pada riak
biarkan pantai mewangi kembang setaman.

**(Diansi)
Sekiranya saja kau tahu, sesungguhnya aku tak pernah jauh dari hatimu
Lihatlah, hempasan bait-baitku
Betapa hanya padamu membadai hujan.

*(Romy)
Rindumu padamkan!
jangan bermain di pantai fatamorgana
petikan memori kita
biarkan terkunci mati
jangan tangisi takdir
rela doa sunyi kukirimkan dalam misteri
izinkan dikau kekasih mendayung bahtera
bersama yang lain....

**(Diansi)
Jangan katakan itu hingga melukai rindu yang kubangun sejak lama
Sesungguhnya kerinduanku adalah kau menjadi takdir sajak-sajak pualam dari hatiku.

Jakarta, Ujung Pandang, 03022017



Kolab Prosais
SEPOTONG SENJA
Karya : Pelangi Rainy Sang Senja bersama Romy Sastra



"Aku ingin menjadi sepotong senja, tuan. Dipuja tiap sore oleh para pujangga di bibir malam.
"Aku cemburu pada jingga, yang warnanya membawa kedamaian pada alam. "Kenapa tuan tak mau mengerti arti kesetiaan itu?" Sedangkan merpati masih setia pada sangkar dengan pasangan.
"Aku bukan abuabu, yang tuan anggap debu, yang tiada erti sebuah rindu, bahkan tiada dipandang mata sekalipun.

"Ahh... kutuliskan sekeping nota untukmu senja. Pinjamkan aku namamu, sebelum malam merampas kelam. Sekalian keindahanmu yang ada kutadah dalam doa.
"Semoga tuan mengerti erti kesetiaan senja pada lembayung di segara cinta.

"Ya... Nona, bersabarlah tuk sekejap!" Aku kan kembali merajut noktah yang tercabik oleh sembilu goda.
"Aku bukan si tuan yang dianggap hina, lupa dengan kisah yang pernah kita bina. Nota itu masih tersimpan rapi di hati ini, Non!"
"Akulah si merpati yang tak ingin ingkar janji pada Nona yang terkasih....
Meski terbangku melepas ego, dan kularung ego itu ke ruang senja. Menyauk embun di daun keladi, kuusap pada setangkup hati yang tersisih.

Selangor dan Jakarta 07,08,17



Prosais Kolaborasi
JANGAN AMBIL NYAWAKU TUHAN
Karya: Romy Sastra dan Puji Astuti


1.
Kembang ilalang mekar di tanah tandus
daun subur batang tegar berdiri
rinai tak pernah datang suburkan gersang
noktah terukir di telapak tangan
berkaca, ada garis pemisah
tak bertemu goresan tinta dengan buku
azali menitipkan titah
pada sepasang merpati berjanji

Seribu satu lakon hidup dijalani
episode berlayar bermandi peluh
darah tertumpah pada tirani
bunga berputik jadi buah

"Ah...
janji pengabdian belum semua ditepati
kisah noktah kan tenggelam
senja menyapa purnama tak merupa
kabut hitam melayari malam
detak jantung bisu nadi diam
jangan ambil nyawaku Tuhan

Wahai kusuma hati jangan bersedih
jika aku pulang tinggalkan kenangan
sepasang merpati jangan pernah ingkar janji
setialah noktah sampai mati
kutunggu dikau wahai kusuma
di pintu surga
jadilah permaisuri berbakti
hingga selesai syair noktah kehidupan
pada kidung menyayat hati

Titipkan kerlip pada malam religi
jangan sunyi mengundang misteri
suluhkan lilin pada tirani
lembayungkan aurora surya pada embun pagi
buah hati,
jangan lupa sebait doa wahai ananda
bila nisan sedih tak tersirami doa berbaktilah....
****

2.
Beratus ribu detik telah melibas hari-hari
tiada rasa terbelenggu 'tuk dampingi janji
merajut rumbai kehidupan hakiki
seakan derita menyatu di antara nadi kita
berbinarlah wahai tulang rusukku
hari tiada indah tanpa gurat senyumanmu

Kutanamkan janji suci abadi
dalam altar kesucian imani
permadani tempat bertaut rindu
tak ingin kehilangan bayangmu
seperti jua diriku
yang selalu ingin mendampingi di senjamu

Pengabdian ini belumlah sempurna
luka kecilmu jua masih perih
rajut benang sutera masih kusut
tunggulah barang sedikit waktu untukku
merapikan semua amanah noktah

Pemahat jiwaku
rengkuh sukma di batas nurani
jangan jatuhkan isakku atas kepergianmu
kurasa kesanggupanku tak sekuat ketegaran
masih adakah sedikit waktu untuk kami,
TUHAN
berilah beberapa saat lagi
untuk membingkai kebahagiaan senja
titipkan memo pada darah-darah tirani
semoga mereka berbakti....

Jakarta, Jogjakarta 20/01/2017



SPIRIT SASTRA

Tidak ada puisi itu yang bagus dan tidak ada puisi itu jelek, alasannya:
Ketika seseorang penyuka puisi genre A, membaca puisi genre B atau C dan seterusnya. Tetap ada saja sisi kelemahannya puisi tersebut menurut si A, kepada puisi bergenre B dan C. Begitu juga penilaian puisi bergenre B dan C, kepada A.

Lalu, di mana letak puisi itu bagus?
Puisi yang bagus itu terletak di mata para pembaca membuat jiwanya bergetar dan wah.

Pandangan saya:
Teruslah berkarya, karena setiap karya itu memiliki tempat di mata pembaca. Setidaknya di mata si empu karya.

(cuplikan diskusi)
Romy Sastra
PDS HB Jassin, 30/11/19. 14:44