. JENDELA PUISI: Desember 2014
RUANG PEKERJA SENI ADALAH GROUP DI JEJARING SOSIAL FACEBOOK, BERTUJUAN…MENGEPAKKAN SAYAP – SAYAP PERSAHABATAN…MELAHIRKAN KEPEDULIAN ANTAR SESAMA…MEMBANGUN SILATURAHMI/TALI ASIH…SAHABAT LEBIH INDAH DARIPADA MIMPI.

Senin, 22 Desember 2014

DOA MASA LALU


hay apa kbar,,
baik smoga saja ya ..
knpa ? kaget, heran ya,,
truz knpa diam,,
takut ya,, takut knpa ?
takut aku bkal minta hatimu lagi, takut
aku bkal mengusik hdupmu lagi, iya ..
tenang saja, gak prlu heran gak perlu
takut akan hal itu ..
knpa masih diam,, dr pda kmu bingunx
aku jujur aja deh ya, aku cuma mau
bilang slamat slamat bhagia,, akhir.a
bhagia tlah kmu tmukan brsama oranx
laen ..
knpa diam lg,, bingunx ya dr mana aku
tau ..
knpa msti di sembunyiin, takut aku
kcwa, takut aku nanti nangiz,, enggak
kog tenanx aja .
udah aku gak usah di pkirin lg, kan
udah ada yg baru,, aku ikhlaz kmu
bhagia dgn.a kog ..
eh iya sampai lupa,, skali lg maaf ya, ini
yg terakhir aku dtg kog sumpah,, hbiz
ini janji deh gak akan ada lg kbar
tentang aku dlam hdup kmu ..
knpa jd sdih, gak suka aku dtang ya,
takut dia tau truz dia marahin kmu ya,,
okew deh aku pergi ya,, jaga hubungan
kalian baex" ya, moga sampai di tjuan
hdup brsama untk slama.a, aamiinn ..

Oleh : Formasi Biru

Kamis, 18 Desember 2014

AIR DEWA


hening malam terasa sepi
menelusuri ruang hati kecil ini
saat ini tiada teman berbagi
hanya air dewa sebagai teman pelipur hati

daku teguk secangkir air dewa
terbuai daku di alam kenikmatan
dunia terasa hampa seketika itu gejolak membara
daku teguk air dewa berperangai setan

wah, mati rasa akan duka
wah, dunia ini aku yang punya
daku terbang kealam antah berantah
air dewa perangai setan mengalir di pembuluh darah

Oleh : Ns tanjung

Rabu, 17 Desember 2014

GUBUK MUNGIL TEPI PANTAI & RUANGAN FACEBOOK


Tahun 80-an, “Kembang Langit” hanya nama sebuah gubug mungil di sudut ladang tepi pantai dimana sekelompok anak muda sering bertemu, berdiskusi bagaimana menulis di media massa [koran dan majalah]. Ada Yosef Budiarto, Imam Aspuri, Imam Santoso, Imam Prabowo, Lanang Setiawan, Momon Tarmono, Fauzi Robbani, Sulistyo, Wantoro S. Karya, Qomaruddin Assa’adah dan puluhan anak muda lainnya yang sebagian besar lulusan SPG [Sekolah Pendidikan Guru].
Waktu melesat begitu cepat dan zaman pun mengantar mereka menemukan jatidirinya masing-masing. Patut disyukuri bahwa para sahabat “Kembang Langit” mayoritas menjadi orang, setidaknya menjadi guru, kepala sekolah, pengelola pondok pesantren, dan tidak sedikit pula yang menjadi penulis “tulen” seperti Lanang Setiawan yang sudah menerbitkan puluhan novel.
Sekali waktu para sahabat “berpangkat” dan sejumlah seniman tulen singgah di gubug mungil yang berada di sudut ladang, mungkin sekadar bernostalgia atau menengok “penghuni” Kembang Langit bernama Qomaruddin Assa’adah yang telah menemukan dirinya sebagai petani di kampung.
Tahun 2012 "Kembang Langit" mencoba merambah ruangan Facebook, membuka GRUP SANGGAR KEMBANG LANGIT. Maksud dan tujuannya tidak lain “menjaring” sahabat baru, sahabat para penulis atau siapa saja yang menyukai dunia literasi. Dari sekadar coba-coba ternyata mendapat sambutan yang luar biasa. Dan pertengahan 2013 mulailah menggelar event menulis bersama dan antologi tunggal hingga menghasilkan 12 buku antologi puisi, cerpen dan novel, diantaranya: “Menuju Jalan Cahaya”, “Ziarah Batin”, Wakil Rakyat”.
“Kembang Langit “ masih berada di tepi pantai. Meski tidak semeriah dulu ketika kami masih remaja, tetapi gubug mungil itu masih tetap eksis, asyik dan nyaman untuk berteduh mengeringkan keringat sambil menulis……
Saat ini, “Kembang Langit” akan menerbitkan Novel “Mencoba Tidak Menyerah”, “ Bukan Impian”, “Lembaran Gerai Formosa”, “Genderang Cinta Nia”, “Noktah Merah”, “Romansa Pahlawan Devisa”, dan antologi puisi “Zikir Mawar” karya KH. Fauzi Robbani, antologi puisi “Suara Anak Negeri” karya para sahabat Grup Sanggar Kembang Langit.
MOHON DOA RESTU

Salam Takzim
Qomaruddin Assa'adah

PAHLAWAN ? PISIKOTROPIKAH



bangku sekolah kursi pemimpin
diantara'y ada bungkusan berpita merah
terlihat indah...
siapa sangka membawa petaka

ber_bekal alibi seni
ber_tamengkan kebebasan pers
men_dramatisir, kebiri hak azazi

tanggung jawab siapa???
ai...? yu...? dia...? mereka...?
K I T A

ai tak kesah yu mau paparkan apa...
yu butuh berita...?
yu butuh reting...?
yu butuh kekuasaan...?
yu butuh harta...?
yu butuh hantu belau..?
silahkan....
tp ingat ...!
anak cucu_kita dan GENERASI ini

salam santun berhulur maaf
salam persaudaraan...
'N Salam Lemperrr....

Kekiari Nokachishika
Kapak Maut Syair Gendeng 313
Syair_Tidak_Puisi_Bukan_BAT_Tidak_Yang_BukanBukan
V_Qot : https://www.youtube.com/watch…
Oleh : Qis PatRa

SERUAN RAKYAT


sorak kan wahai kawan
suara suara kebangkitan
kita di sini hidup penuh harapan
tapi, mereka telah patahkan
kita yang selalu ingin bangkit
tapi seketika kita jatuh dalam ketidak adilan
sebuah hukum mereka perjual belikan
sepangkat jabatan mereka agungkan
kita? kita bisa apa?
kita lemah, tak beruang juga tak berpangkat
sedang mereka bermartabat
apa yang harus kita perbuat
kita berada di tengah - tengah negeri buncit
di pimpin para jiwa jiwa buncit
mereka hanya memikirkan sejengkal kebahagian
tapi, kita selalu di korbankan
wahai kawan, mari berjabat tangan
kita eporiakan suara rakyat
sampai mereka sadar ingatan
bahwa mereka butuh rakyat

oleh Ns Tanjung

KASIH


Kasih...
Aku lupa bagaimana caranya bercinta
Bagaimana caranya bercumbu
Dan bagaimana merindu
Oh tidak kasih...
Maaf aku bohong
Lebih tepatnya aku tak tau
Mungkin juga tak mau tau
Tradisi mengajariku
Agama mengikatku
Orang tua mendidikku

Kasih...
Maaf...
Aku terjalin tradisi
Terikat syareat
Tersimpul ajar orang tua
Kasih...
Maaf...
Kita Ta'aruf aja

Oleh : Airi Cha

Kamis, 11 Desember 2014

MELALUI DARAH DAN DIRI DAN TULANG


Mati muda menyelamatkan diri
Hidup hanya diganti dengan neraka
Saya tahu bahwa sakit hanya akan pergi
Aku tidak bisa menyelamatkan diriku sendiri
Perlahan-lahan tanpa nama
Sebagai darah bermuara dari pembuluh darahku
Tidak pernah tetap sama saya tahu
Saya selalu mengambil menyalahkan

Saya sendiri ketika akhir datang
Kendalikan mimpi buruk
Nasib ini telah menjadi saya sendiri

Tersedak jiwaku
Misery telah menguasai
Dan di elatan saya mulai menarik kabel
Itu terjebak dalam sisi tulang-tulangku
Saya sangat ingin membuat Anda merasa
Semua rasa sakit ini yang membuat saya nyata
Saya membawa Anda ke bawah jatuh dengan saya
Sekarang tenggelam dalam penyakit saya

Oleh: Gani Metallic

SKETSA RINDU DI BAWAH MALAM


Akhirnya kupapah rindu ini
Bersama malam
Setia mendendang kesunyian
Iramanya sama
Mengalun merdu direlung kalbu
Lintas bayangmu masih jelas
Memayungi denyut hidupku
Aku menikmati
Bahkan terlalu menikmatinya

Anggaplah aku pendosa
Pendosa yang menikmati hidup
Bercengkrama bersama sepi
Tak sempat kumenghitung
Satu persatu bintang dilangit
Tak jua melihat kejora
Yang kau tunjuk umpama diriku

Terlalu asik kubercumbu dengan sepi
Yang memberi aku gelora hidup
Sendiri ini
Tepat menikam ulu hatiku
Hingga hadirmu
Sebuah ilusi bagiku

Oleh : Airi Cha
Medan, Sumatera Utara

Senin, 08 Desember 2014

PADA AKHIRNYA


Bagaimana mendung segera beringsut
Jika mentari enggan menyapa hangat
Pada akhirnya rinai bertandang
Menyapu hamparan padang sunyi
Ilalang merindu kehangatan
Harus terkulai tertunduk
Kala
Rangkaian hujan mengandung angin menerpa

Dan pada akhirnya
Ilalang berbelukar bermain genangan
Sisa rinai yang tak segera meresap
Diantara akar akar
Berharap pelangi sesudahnya
Sayang pelangi enggan menyapa

Mungkin
Mentari sedang senang dibalik awan
Atau mungkin
Pelangi lagi menghias warni
Dan mungkin
Padang ilalang harus menunnggu
Embun menitik
Hingga mentari akan menerpa
Bersama hangat
Mungkin
Sebelum ilalang ini mongering

Oleh : Airi Cha





PASRAH


Kita pernah menelanjangi malam,
menangkap resah dari beranda rumah Lalu kita saling berpelukan
mencairkan salju fikiran yang bertengger di otakku..

Aku laki-laki seribu bisu.
kau pematah diamku sekali waktu.
di bawah rembulan sisa setengah
kita sepakat berbagi pahit, pun sakit.
bukankah kenangan terlalu perih disesap sendiri?

Katakan apa saja,
sebelum pagi menjarah mimpi,
merenggut yang kupagut dalam kecup.
harapan yang meletup,
larut terseret angin pembawa ingin.

Bintang urung meniup ribuan kilau pada malam yang bertubuh panjang. di bawah lengkung, kita berhitung,
hujan luruh satu,
rindu terburu layu.
langit bermuram,
malam tetiba karam.

Doa berkelebat,
meledak dari dada sesak
"aku telah membumi di tubuhMU"

Oleh : Putra Pengembara Azza

IBARAT SEPERTI KAPUR


Ibarat seperti kapur ,,, itu lah aku
Memang,,, aku akui aku tak layak mendapatkan sebuah kertas yang begitu putih, halus dan bersih
Aku tak kan bisa meninggalkan bekas coretan di atas kertas
Karna angin akan meniup debu debu kapur yang telah ku coret kan di atas kertas dan aku tak seperti pena yg dpat meninggalkan coretan di atasnya dan tak bisa di hapuskan oleh apa pun , walau bisa di hapuskan akan tetap meninggalkan bekas !!
Mengapa si kapur terlalu mudah untuk menyukai kertas kertas yg putih ?? Mengapa ?? Memang benar , cinta itu buta , cinta tak kenal siapa dimana dan kapan , cinta itu membunuh mu .
Kadang aku berpikir , kapur tak layak di sandingkan dengan pena pena yg begitu mewah anggun dan berkelas.
Mungkin menghindar adalah jalan terbaik buat si kapur dan mungkin saja melupakan adalah jalan yg lebih baik untuk tidak bersanding dan kenal dengan yg namanya pena kertas dll yg bisa membuat diri si kapur minder akan nikmat dan kelebihan yg di berikan tuhan kepada mereka !!
Mungkin si kapur tak tau akan nikmat yang telah di berikan tuhan , mungkin si kapur bisa jadi tolol akan kehidupan yang terlalu dia nikmati sehingga dia ikut akan perkembangan zaman yang tak pantas bahkan tidak cocok akan diri dan keadaannya.
Kapur terlalu banyak berkhayal akan cinta dan kehidupannya kedepan !! Apakah dia akan berkembang atau habis di makan waktu ???
Andai,,Andai,,dan Andai !!!
Aku muak .... aku bosan .... aku lelah .....
Jika kapur di hadapkan dengan 2 pilihan antara "Ada dan Tiada"
Lebih baik kapur memilih "tiada" agar si kapur tak pernah kenal dengan yg namanya "cinta, dilema dan kehidupan" .

Karya: Ade Syahputra

Kamis, 04 Desember 2014

JANJI DALAM PENANTIAN


"Sahabat"
Sejak Kepergian Mu Dari Kota Ini,
Hari-Hari Ku Menjadi Sepi..
Tiada Gairah Lagi Rasanya, Menjalani Hidup Ku Ini Tanpa Diri Mu.

"Sahabat Ku Puja'an Ku.. ~
Mengapa Begitu Cepat Kau Pergi Tinggalkan Aku ..?
Sungguh Terlalu Singkat Hadir Mu Disini.... ;(

"Sahabat Ku Idaman Ku.,
Mengapa Kau Pergi...? ;(
Mengapa...? ? ;( ;(

Ohhh...... . ~ ~ ~
Aku Cinta Pada Mu Sahabat.. ;(
Aku Sayang Pada Mu.... ;(

Tidakkah Kau Tau,
Aku Cemburu..! ;(
Aku Terluka..!
Karna Kau Pergi Bersamanya.

"Sahabat Cinta Ku ..
Dengarlah Bisikan Suara Hatiku Ini.. .

"Aku Janji Pada Mu"
Jika Kelak Diri Mu Di Hinakan,
Di Dustai Serta Di Hianati Olehnya..!
Maka,
Kembalilah Diri Mu Pada Diri Ku...
Di Cinta Ku Ini Sayang.. ~ ;(

Aku Janji..,
Aku Kan Selalu Disini Menanti Mu..
Menanti Mu,

Hingga Di Ujung Usia Ku.

By : SKM

SUARA RAKYAT


Kebijakan demi kebijakan
terus di digulirkan
Kekerasan demi kekerasan
terus dilakukan
Akhirnya
Kesengsaraan demi kesengsaraan semakin dirasakan
Dan sebahagian orang dirundung rasa penyesalan
Apalah hendak dikata
Suara rakyat sudah tidak lagi didengarkan
Yang ada dan berlaku hanya kekejaman

Oleh : Rasyid Sulaiman

JIWA TANPA CAHAYA


Ketika semu mengusik ranjang haribaan.
Sang waktu terus bergulir mengacak angan.
Mengajak raga terbaring menyemai kerinduan.
Dipersaksian rerinai sendu mencoret lembaran kelam kepasrahan

Adalah halimun bumi sengaja mengunci diri
Menyekap imaji dalam peron-peron mimpi.
Dan... Merkurius hilang di balik renjai tawa mentari.
Membinasakan kehangatan kasih sayang semu
Yang terukir sepanjang neptunus.

Adalah aku yang bergulir mengeja cahaya
ketika malam-malam hitam terkapar tanpa udara
pengap membabtis jiwa tertungkup meteor yang melayang menguak misteri...

Dan aku... Lelah berotasi..
Antara yupiter menuju bumi..
Hingga aku terbenam dalam candu kehampaan dayaku..
Mengejar aries yang tlah berlalu bersama venus..

Haruskah aku putuskan jarak..
Hingga mentari dapat menyuap cahaya pada pluto.
Diri yang hitam kecil dan nyaris mati.
Agar dapat menatih hidup tanpa titian.
Walau dalam kegelapan semesta.

Haruskah...
Tanyaku hanya berbingkai tanda tanya tanpa akhir.
Walau hanya secuil tanya terlintas..
Dan jawabnya hanya tiada aku bisa
membawa jiwa tanpa cahaya melangkah seorang diri.

bY : vievie
Jakarta, 04 desember 2014.

KEMANA KAMU YANG DULU


Mmmm......kemna kamu yang dulu
hingga trulang kata itu
kata yang mungkin membuatku terkapar dlm kesedihan
air mata bak hujan di hutan belantara sana
kenapa kau kembali
kembli dlm perubahan yang tak sanggup aku lukis

Oleh : Morjal Jingga