. JENDELA PUISI
RUANG PEKERJA SENI ADALAH GROUP DI JEJARING SOSIAL FACEBOOK, BERTUJUAN…MENGEPAKKAN SAYAP – SAYAP PERSAHABATAN…MELAHIRKAN KEPEDULIAN ANTAR SESAMA…MEMBANGUN SILATURAHMI/TALI ASIH…SAHABAT LEBIH INDAH DARIPADA MIMPI.

Sabtu, 19 Mei 2018

LAPAR dan RINDU


Kembali ku menjerit.....
Bukan karna rasa dan perasaan.......
Hanya karna dorongan hati.....
Melihat tiga saudara menahan lapar......
Jika kubersalah ku akui salahku....
Jika ku menangis ku akui aku menangis.......
Tapi kunci hati mu masih belum mampu ku buka....
Meski anakmu dan air mata ku yang selalu membuka hati mu.....
Satu persatu kau tunjukan kekasih hati mu......
Tak mampu luluhkan hati ku untuk membenci mu......
Karna anak mu dan rasa lapar yang dirasakan......
Anak mu selalu memanggil mu......
Pulanglah mama....
Anak mu anak kita.........menahàn lapar dan rasa rindu.......
Sudahilah kau berlayar......
Dari satu pulau ke pulau labuhan hati mu.......
Dermaga mu disini " aku dan anak kita".

Oleh : Thaufik Rizky

Selasa, 15 Mei 2018

ABI


Abi ..
Dalam rengkuh pelukmu ada surga kurasa menyapa jiwa
Bersama langkah kakimu kurasa berjuta warna mimpi menjadi nyata
Dalam genggam jemarimu luruh semua risau yang mendera

Kelak Bi ..
Ketika parasku mulai menua
Rambutku menjadi putih semua
Dan ragaku telah renta, apakah masih akan sama cinta yang kuterima?
Apakah masih akan tetap setia engkau menjagaku?

Bi ..
Kelak, saat umurku telah uzur dan mulai menjadi pelupa
Tetaplah sabar menegurku yaa?
Jangan dengan amarah, tapi tegurlah dengan cinta
Agar surga tak pergi dari kita
Kelak, ketika jemariku sering gemetar dan menumpahkan kopi yang ku suguhkan, jangan membentak yaa?
Bantu aku dengan genggaman tanganmu, agar damai tak pergi dari jiwa

Abi ..
Tetaplah jadi penjagaku meski nanti wajahku tak lagi menawan
Sebab kuingin menemanimu hingga jiwa beranjak meninggalkan raga

By : Nimas Sayu
Lampung, 1 April 2018
#SyairSenja
#NimasTengiil

Minggu, 13 Mei 2018

YANG PULANG


tak akan ada lagi senja
selepas jingga kali ini berlalu
hanya derai embun
setia di pagi buta
membulir di kelopak netra

berbicara;
tentang rasa berkabung
di kedalaman samudra biru

Oleh : Cheloenk Dadap
CheDap_100528.

AKU CINTA AYAH



Telah rapuh Tulang-tulangmu
Yang dahulu kau gunakan
Untuk memberikan kami sesuap nasi
Untuk menunaikan kewajibanmu sebagai kepala keluarga

Kini… Kau berdaya lagi melakukan semuanya
Kini… Kau hanya mampu memberikan kami nasehat
Kini… Kau hanya mampu mengucapkan do’a yang lurus untuk kami
Untuk… anak yang telah kau besarkan dengan kerja kerasmu

Ayah….
Air mata ini tak mampu membalas semuanya
Semua yang kau lakukan untuk hidup kami
Semua yang kau berikan kepada kami

Ayah…
Kasih sayangmu takkan mampu tergantikan orang lain
Perhatian yang kau berikan kepada kami takkan pernah kami lupakan
Walaupun terkadang kami tidak mengindahkan semua yang kau berikan
Terkadang kami tak pernah menghargai semua yang kau berikan

Ayah….
Kini kamilah yang harus melakukan semuanya
Kamilah yang harus membalas semuanya
Kamilah yang harus memperhatikan mu

Ayah….
Izinkanlah kami menjadi anak yang berbakti kepadamu
Anak yang tak melupakan kasih sayang mu
Izinkanlah kami tuk membahagiakanmu

Ayah…
Meskipun kami sadar
Itu semua tidak bisa membayar semua yang telah kau berikan
Dan kami sadar, Nyawapun tak mampu membalas semuanya

Terimakasih Ayah
Kini kami menjadi orang yang mampu berdiri
Kini kami mampu menjadi orang yang mandiri
Kini kami mampu menapaki hidup dengan do’a dan kasih sayangmu
Aku mencintaimu Ayah.

Ayah
Di setiap tetes keringatmu
Di derai lelah nafasmu
Di penuhi kasih sayang yang luar biasa.

Oleh : Nayla Syaharani

#...???..#



Wahai kau Jelita
Otak dan nalarmu kau taruh dimana.....??
Ataukah kau tidak membawanya
Atau bahkan kau tidak Punya hahahahaa
Sungguhkah indahnya Telaga Asmara
Butakanmu Dari intai Buaya..?
Jgn kamu terbuai indah nya Panorama
Krna ssungghnya indahnya hanya fatamorgana
Masih Blum ckupkah peringatan penggmbala
Jangan lah kau coba basuh mukamu dg jernihnya air telaga
APA lagi kau mainkan kecipak air tepinya dengan Kakimu ITU sungguh BAHAYA
Buaya tetaplah Buaya
dia Takan berubah jadi Domba
Jgn hnya dmi indah smata
kau pertaruhkan nyawa
atau minimal goresan Luka
Aku tau kau terlalu polos
atau mngkin terlalu bodoh
Tpi jangan kau tidak pedulikan
Nasihat sang Penggembala

Oleh : Apheep Karebet
#11:13
#CahAngon
#12May2018

Minggu, 06 Mei 2018

AYAH


Ayah
Lirih rinduku ini bergejolak menepiah pada malam yang sunyi
Semilir angin yang membelaiku disaat tangisan menerpaku
Pedih perihlah rindu ini seolah tiada henti

Ayah
Bayangmu itu membuatku lemah untuk berdiri
Aku tak tahan tuk menahan pedihnya hidup
Aku tak mampu tuk bangkit jiwaku pun selalu terpuruk

Ayah
Melodi ku ini mesra tangisan menggema ketika aku menuliskan namamu
Tangisan yang menjadi bumbu dalam syairku
Akupun tak kuasa saat ku catat majaslah tentang kerinduanku ini

Ayah
Rasanya sakit yang perih karna tangisku ini tak pernah ada jawabnya
Luka yang memang kurasakan
Namun penaku ini tak pernahlah berhenti tuk mencatat syair tentangmu

Ayah
Akupun hanya mampu mengungkapkan rindu melalui batang puisiku
Diamku ini adalah tangisku
Senyumku ini adalah sedihku
Puisiku ini adalah rinduku

I miss you father

Karya : Nayla Syaharani

Sabtu, 05 Mei 2018

TEMBANG KATA BUAT EDI KASMABOUTY


Satu temanku EDI KASMABOUTY,
lama tak sua, terpaksa aku cerita ...

-----------------------------------------------------
KITA SATU KEKUATAN DALAM
DOA DUA LINGKARAN masa itu
di BENGKEL TEATER RENDRA ...
tanpa luka rasa, satu enerji cinta
-----------------------------------------------------

Ketika ia tanyakan lewat massanger,
masih kenalkah denganku? Dengan
tandas, masiiih! Kita satu dalam ke-
kuatan ritual pengukuhan di Bengkel
Teater Rendra, al. : Bambang Oeban,
Edi Kasmabouty, Restu (almarhum)
dan Tuti (bini Sitok Srengenge).

Setiap murid punya pengalaman batin
tidak sama dalam hubungan spiritual
terhadap guru sebab ruang dan waktu ...

Kepadamu
EDI KASMABOUTY
di Yogyakarta ...

Tahun 1991,
tentu kamu ingat ...
KAKI KITA, direndam sejuk
di baskom air bunga tujuh rupa ...
Dengan penuh kasih sayang,
Rendra membersihkan kuku
jemari KAKI KITA, satu-satu ...
timbul batinku menangis,
sebab bapakku sendiri
tak melakukan apa yang
dilakukan Rendra, sehingga
aku berjanji dalam hati ...
Kaulah guru sekaligus
Bapak Kesenianku ...
jika satu saat kelak Rendra
dipanggil Tuhan, aku akan
turut memandikan, meng-
kafankan, menyemayamkan
serta memakamkan ...
Janjiku terlaksana, kala
Rendra berpulang,
06 - 08 - 2009,
Aamiin ...

EDI KASMABOUTY
betapa kita ingat kala itu
tubuh kita serupa mayat
dibungkus kain putih
dalam khusyuk patuh
pengabdian batin pada
Tuhan, hakikat hidup,
ramah pada alam dan
lingkungan melalui
Nilai Kebudayaan
tanpa kenal letih
kecuali mati,
Aamiin ...

Ingatkah kamu
EDI KASMABOUTY ...
aku baru mau menerima
pada tawaran ke 4, saat
Rendra marah besar karena
keinginannya agar aku mesti
dikukuhkan sebagai anggota
BENGKEL TEATER RENDRA ...
dan kaulah satu kunci hidup
bagaimana keberadaanku
sebagai seniman, memang
tak terlalu berlama aku
dalam asuhan guru,
tapi ilmu yang kudapat
membuatku masih terus
bergelut, bergulat di ranah
kesenian dan kuambil jalur
SENI PERTUNJUKAN lewat
Gelar Pentas Budaya, yang
sudah kumulai sejak beliau
Berpulang, tepatnya 2010,
di Taman Ismail Marzuki,
dengan tema ...
SAJAK BUAT
P R E S I D E N
...

Langkah berikutnya,
obsesiku Gelar Pentas Budaya
untuk 34 Provinsi Indonesia,
itu pun sudah terlaunchingkan
di Gedung Grha Shaba Pramana
Universitas Gajah Mada, tepatnya
25 Mei 2013. Saat itu Rektor 14
pemberi Ijin pentas, berjudul:
Mengenang Gadjah Mada,
adalah Prof. Dr. Pratikno, kini
menjabat Mensetneg - RI.
...

EDI KASMABOUTY ...
saudara terikat satu ikrar
P A N C A P R A S E T Y A
Mari kita lanjutkan tongkat
estafet SANG GURU dalam
perjuangan bangun nusa
bangsa lewat seni budaya
warisan leluhur bangsa
...

Salam santun buat para saudaraku
dari yang lebih dahulu di Bengkel Teater
Yogyakarta maupun Bengkel Teater Rendra
di Jakarta, tentu tak mampu kusebutkan
satu perlu, sebab terlalu banyak ...

Salam
AKU CINTA PADAMU ...

Catatan Bambang Oeban
Dari Bumi Desa Singasari - Bogor
Jumat, 04 Mei 2018
17.46