. JENDELA PUISI
RUANG PEKERJA SENI ADALAH GROUP DI JEJARING SOSIAL FACEBOOK, BERTUJUAN…MENGEPAKKAN SAYAP – SAYAP PERSAHABATAN…MELAHIRKAN KEPEDULIAN ANTAR SESAMA…MEMBANGUN SILATURAHMI/TALI ASIH…SAHABAT LEBIH INDAH DARIPADA MIMPI.

Rabu, 23 November 2016

SHALAT


benar benarlah sebagaimana menghadap TUHAN
yang kita yakini sebutannya adalah ALLAH

jangan sertakan yang lain
antara Dirimu dengan NYA

kecuali sebuah PENGABDIAN

Oleh : Youthma All Qausha Aruan
***kisaran 23nov2016

AKU RUNDU


Tiga tahun berlalu...
Masih tak dapat lepas ku dari sosokmu....
Masih kau memenuhi mimpi yang kuharap nyata sesudahnya....
Masihkah ada ketakrelaan yang memasung jiwaku?
Atau aku hanya terlalu rindu padamu....

Sejauh mana aku berjalan....
Masih tetap ku ingin berlari kembali ke arahmu...

Bu.....
Kemana aku akan menuju?

Ajari aku melawan dingin yang mencoba menusuk dan membekukan tulangku...
Ajari aku menahan perih dari setiap luka yang menggores jiwaku....
Ajari aku meredam tangis yang ingin keluar dari persembunyian....
Ajari aku menjadi tegar dalam kerapuhan yang ingin melumatku dalam-dalam...

Sebagaimana engkau....

Bu,
Esok...
Apakah yang menungguku?
Bu,
Aku rindu.

~PeriKecildiKeheninganMalam~
(SHAQAYEQ)
*21112016*

CINTA


Cinta bukan tentang bagaimana kamu bisa memiliki seseorang, tapi tentang bagaimana hidupmu dan dia jadi lebih baik setelah kamu memilikinya. Kadang alasan kita hadir dalam hidup seseorang bukan tuk mengharapkan cintanya, tapi tuk memperlihatkan betapa berharganya dia tuk dicintai. Hidup tak selalu mudah tapi juga tak selalu sulit. Dalam kondisi apapun, hidup tetaplah anugerah yang harus dijalani.Tak peduli seberapa kuatnya seorang wanita, dia tetaplah mahluk yang mudah rapuh. Terkadang, yang mereka butuhkan hanyalah sebuah dekapan.

Oleh : Nur Aini Natakusuma

Minggu, 20 November 2016

ORANG – ORANG SHOLEH


Aku mencintai orang-orang sholeh meskipun aku bukan termasuk di antara mereka.
Semoga bersama mereka aku bisa mendapatkan syafa’at kelak.
Aku membenci para pelaku maksiat meskipun aku tak berbeda dengan mereka.
Aku membenci orang yang membuang-buang usianya dalam kesia-siaan walaupun aku sendiri adalah orang yang banyak menyia-nyiakan usia.

Yang berkata di atas adalah seorang Imam besar Asy-Syafi'i -rahimahulloh-... Maka bagaimana dengan kita ???

Oleh : Abu Yusuf Ramdani
Kiriman : Nai Sinuraya

INI TENTANG NOVEMBER


Masih,
Hujan lebih sering mengurungku disebuah ruang
Ruang merah dipadu berbagai macam warna..
Ah apakah itu pelangi? Mungkin saja.
Masih,
Hujan lebih sering mengingatkan pada kisah-kisah.....
Tak jarang mereka datang dari masa lalu
Menggelitik ingatan, memasung rindu. Aahh
November...
Hari ini..
Pun melukiskan sketsa yang lebih banyak warna....
Ada riak lautan yang membentuk ombak
Hendak melibas kapal dan dermaga.
Sejenak. Hingga hilang.
Ada arogansi yang merekah, mengabadi...
Selayaknya edelweiss di musim semi...
Ada tawa yang membahana, menyaksikan tangan-tangan menggapai memohon belas kasihan....
Ada amarah yang menyeruak, membakar
Dan ada senyum yang menelisik menunggu Mentari pagi memberi sinar.

November, akankah kau ingat kisah ini?
Atau ia selayaknya angin semilir?

Ah entah...

Tapi November,
Hujanmu.
Bolehkah bersahabat denganku juga??

By: Shaqayeq
~18 November 2016~


Rabu, 16 November 2016

SAAT KAU DATANG


Sepoi angin siang ini terasa lembut menyentuh wajah, saat kutemukan namamu di beranda maya, hai..., lembut sapamu kacaukan suasanaku, aku semakin terpana dengan semua ini

Ingin rasanya kuputar cerita itu lagi, hati terasa terbang di awan, ah masa indah itu, seolah menari lagi di sudut mata.

Denting dawai gitar alunkan lagu memory,
Gemericik air damaikan nuansa jiwa
diruang rindu hati bertaut, dalam cerita yang tak bertepi.

Lelahku berselimut asa, ku ulas senyum dalam canda, rintik hujan waktu itu, hangatkan nuansa jiwa.

Oleh : Riri Eka Putri

Minggu, 13 November 2016

TINTA YANG MEMUDAR


Lembayung senja merona indah
kala camar kembali ke sarang
semilir angin berbisik lirih, menambah kebekuan yang kian mencekam, lelap membawaku berselimut mimpi.

Diam- diam rembulan mengintip di singasana, tetesan tinta ini mulai memudar
kanvasnya kian usang untuk warnai suara jiwa, harap kian terperap, hanya nuansa berkawan damai.

Terpasung oleh kisah lalu, membawa asa itu semakin jauh hilang bersama egonya diri.

KARYA: Riri Eka Putri