. JENDELA PUISI
RUANG PEKERJA SENI ADALAH GROUP DI JEJARING SOSIAL FACEBOOK, BERTUJUAN…MENGEPAKKAN SAYAP – SAYAP PERSAHABATAN…MELAHIRKAN KEPEDULIAN ANTAR SESAMA…MEMBANGUN SILATURAHMI/TALI ASIH…SAHABAT LEBIH INDAH DARIPADA MIMPI.

Minggu, 10 Desember 2017

HADIRMU TAK ABADI


Maka 'kan kukenang kau sebagai pagi, datang untuk menyinari, merekahkan senyum di pipi. Walau kutahu hadirmu tak abadi.
Jika kamu belum memiliki pendirian, lebih baik jangan pernah datang, sebab perasaan tak selayaknya dipermainkan.
Mungkin kehilangan adalah salah satu pembelajaran agar kita tidak berbangga diri dengan apa yang kita miliki.
Kepada-Nya yang Maha Berkehendak, kugantungkan jiwa dan ragaku. Sebab tiada daya dan upaya kecuali milik-Nya.

Oleh : Nur Aini Natakusuma

JERITAN YANG TAK DIDENGAR


Wahai jiwa Wahai hati
Tetap lah menari
Teruslah jangan henti
Esok hari tubuh ringkih ini akan berlari
Berlari diantara kumpulan air
Air mata dari ribuan mata.

Esok.. Mulut ini akan kembali teriak
Sampai serak..
Jari akan tetap menari
Penuh nafsu diatara huruf huruf dan angka
Berbicara dalam diam membisu
Walau tiada mata mereka melihat
Tiada telinga mereka mendengar
Tiada hati mereka merasa.

Aku tutup mata ku
Sekedar mencari sebuah lelap
Lelap tanpa dekap...
Mengumpulkan sisa tenaga
Untuk teriak....

KAPAN PARIT BATU ADA..
AGAR SEDIKIT ADANYA AIR MATA

BY : ANDREANT HANIF

HAMPARAN RINDU


Risau hati, tak lagi terbangkan untaian kekata
Pada samar rasa yang tak terurai, hanya mampu tinggalkan resah belaka
Sejak impian musnah, kalimat ambigupun dijadikan kawan pelipur
Ada rajah-rajah yang tak biasa, dan aku hanya menyukai serba-serbinya, selebihnya kusimpan saja
Kadang segila itu rasa rindu yang kusimpan.

Oleh: Kiki Soraya (KSJ)
Timur Jakarta, 30 November 2017 18:54 WIB

CINTA



Mengeja namamu saja aku belum bisa
Teramat jauh dari kata sempurna
Artikulasi tetaplah hampa

Bagaimana bisa aku memaknainya
Sedang yang meraja nafsu belaka
Mencoreng putihnya tanpa jeda

Harap balasan atas memberi menjadi asa
Salah kaprah ajak selingkuhi rasa
Tulus, ikhlas dan sabar celoteh bibir semata

Lampung
Oleh : Perempuan Sunyi, 04122017

Sabtu, 25 November 2017

BILIK TERAKHIR


Tidaklah yang aku inginkan darimu,
Melainkan satu bilik yang terdapat di dalam hatimu,
Tingkatan cinta yang paling sederhana,
Dalam pelukan, bertaman bunga yang dikala senja,
Pada Do'a, bersama sujud yang engkau dan aku hantarkan,
Menembus langit, menjadikan takdir yang didalamnya terdapat ikhtiar,
Bersama rindu yang terbentang hijab antara engkau pun diriku,
Dengan kasih sayang, mengharap Ridho Allah 'Azza wa Jalla.

Tidaklah yang aku inginkan darimu,
Melainkan satu bilik yang terdapat di dalam hatimu,
Tingkatan cinta yang paling sederhana,
Keinginan pada satu titik yang sama,
Engkau pun diriku,

Tidaklah yang aku inginkan darimu,
Melainkan satu bilik yang terdapat di dalam hatimu,
Tingkatan cinta yang paling sederhana,
Bercocok tanam dengan riangnya para pejalan kaki,
Senyuman para tetangga yang begitu mengenal Sunnah,
Menegakkan Tauhid, landasan utama dalam beragama,

Tidaklah yang aku inginkan darimu,
Melainkan satu bilik yang terdapat di dalam hatimu,
Tingkatan cinta yang paling sederhana,
Hingga engkau kudapati bersama niat di dalam penantian,
Tangisan bahagia,
tatkala Ar-Rahman kulantunkan,
Keheningan nun begitu damai,
Hingga akhir,
Kata sah dari wali dan para saksi,

Tidaklah yang aku inginkan darimu,
Melainkan satu bilik yang terdapat di dalam hatimu,
Tingkatan cinta yang paling sederhana,
Kesempurnaan agama dalam mencapai Jannah,
Engkau yang berdiri dibelakangku,
tatkala Ruku' dan Sujud,
Engkau yang duduk disampingku,
tatkala membaca, menghafal, serta mengamalkan Kalammullah

Dan,
Tidaklah yang aku inginkan darimu,
Melainkan satu bilik yang terdapat di dalam hatimu,
Tingkatan cinta yang paling sederhana,
Engkau pun diriku,
Dalam naungan cinta,
Allah Tabaraka wa Ta'ala.

~Alek Wahyu Nurbista Lukmana~

Minggu, 22 Oktober 2017

KEARIFAN NUSANTARA



Kearifan nusantara
Telah di haru biru
Oleh cikar peradaban
Melalui budaya siap saji

Anak-anak dari seribu pulau berlari
Mencoba mengejar masa depan
Dengan menyongsong matahari

Keariafan nusantara
Telah di gerus waktu
Melalui aneka lagu dan tari
Anak-anak dari seribu pulau berlomba
Mencoba melukis harapan
Dengan semburat pelangi

kearifan nusantara
Adalah tarian anak-anak dari Sabang
Dalam gemulai didong, saman dan seudati
Kearifan nusantara
Adalah nyanyian anak-anak dari Merauke
Dalam dendang sajojo, e mambo simbo, dan apuse

Yang di tengah-tengahnya
Berkelindan kearifan budaya
Batak, Minang, Sunda, Jawa, Madura
Bali, Lombok, Sumbawa, Flores, Timor
Dayak, Banjar, Minahasa, Toraja, Bugis
Makassar, Ternate, dan Ambon

Karya : Jose Rizal Manua
Kiriman : Tok Laut


--------------------------------------------------

malam hening ... sepi ...
keterjagaanku ini juga bait puisi yang terpenggal
dari cerita kita yang kemarin ...
masih terjaga jugakah kau ...
jangan coba tidur dalam keterjagaan
sebab jika kau tidur dalam keterjagaan
itu cukup menakutkan banyak bilangan
hm .....
seribumu adalah nolku
bilangan tak pernah terhitung diangka milikmu
hoh ....

Oleh : Tok Laut

Minggu, 15 Oktober 2017

YA HU


°°°°°
ada bias merah dan uap lembab
dibola mataku

ketika teresapi langkah ini hingga kini

......sesekali ingin aku
kurangi bobot ini TUHAN
kenapa kerap semangat ini dikesendirian

berharap sekira diPerkenanMU
tambah tambah jua bantuan untukku

langkah ini belum seberapa
abdi ini masih segaris awal
jangan biarkan ini terhenti
agar tak terputus yang sudah jadi janji

Oleh : Youthma All Qausha Aruan