. JENDELA PUISI
RUANG PEKERJA SENI ADALAH GROUP DI JEJARING SOSIAL FACEBOOK, BERTUJUAN…MENGEPAKKAN SAYAP – SAYAP PERSAHABATAN…MELAHIRKAN KEPEDULIAN ANTAR SESAMA…MEMBANGUN SILATURAHMI/TALI ASIH…SAHABAT LEBIH INDAH DARIPADA MIMPI.

Senin, 17 November 2014

BISU KU BUKAN TIDUR KU


aku membaca
semua gerak
ayunan langkah pun tanganmu

aku pun menyimak segala imaji
gerak liar bahkan santun pun dendangan aksara nyata

aku menganalisa bentuk-bentuk
lompatan kata
pun ukiran senyum yang kau pajang

lihatlah... dan sadarilah bisuku bukan tidur.

Borneo, 16.11.14
oleh: mardianaukhti@gmail.com

Sabtu, 15 November 2014

KETIKA BUDAYA TERCABUT DARI AKARNYA



Ketika budaya sudah tercabut dari akarnya, anak bangsa ini menjadi gamang, terombang ambing dan melayang antara bumi dan langit. keramah tamahan yang dulu kini menjelma menjadi marah-marah, kepedulian yang dulu kini berobah tidak mau tau dan harga diri tidak lebih mahal dari sebungkus rokok. saatnya kita harus gelisah,kalau boleh meminjam kata-kata bijak almarhum ws. rendra siburung merak," orang-orang harus dibangunkan, kenyataan harus dikabarkan" dan yang terjaga dan masih bersikap siaga beramai-ramai memukul kentongan bertalu-talu, agar semua makhluk tersadar bahwa kebersamaan jauh lebih penting dari sikap keakuan dan arogansi yang kini justru sedang mengakar. ketika budaya sudah tercabut dari akarnya, mari kita hujamkan niat sedalam-dalamnya, bahwa hidup punya titik pemberhentian, sebelum lembar buku ditutup dan nyala pelita dipadamkan, sebaiknya kita wariskan sebuah catatan, bahwa doeloe bangsa ini begitu akrab, sehingga gunungpun bisa dipindahkan. wasssalam !

Oleh : Asrial Mirza
Kisaran,Sumatera Utara

SEMANGAT



SEMANGAT, sepenggal kata ini memiliki khasiat yang begitu manjur melebihi obat produksi pabrik manapun atau dari segelas air sejuk yang sudah dimunajadkan tabib sholih di kampung seberang. Rasanya Istilah ini tidak berlebihan jika aku berikan kepada sekelompok orang-orang yang kini tengah bergelora syahwat berkeseniannya bak benzin tersulut api, sehingga tidak perduli meskipun sebentar lagi harga bbm akan melambung tinggi.

Adalah komunitas yayasan sahabat tiga puluh, ruang pekerja seni tanjungbalai, sanggar tari tiara intan, ketua pwi, knpi asahan. dokter yazid sabri, kepala man kisaran makmur sukri dan ratusan pencinta budaya yang sama-sama mengikatkan tali bathin dengan eddie karsito. Akhir-akhir ini kerap bertemu dan bersilaturrahim dalam bingkai merangkai kembali tali-tali seni dan budaya yang kusut dan yang berserakan. Hal itu dikarena sebuah prinsip yang sama, bahwa hidup dengan agama menjadi terarah, hidup dengan ilmu menjadi terarah dan hidup dengan seni menjadi indah.

Sedangkan bagi aku pribadi, kebersamaan ini adalah sebuah reuni sejak kami melangkah meninggalkan "sanggar laras" puluhan tahun yang silam sehingg membuhulkan rindu yang sangat dalam, meskipun sekarang suasananya jauh lebih ramai. Semuanya terharu mendapati kenyataan ini, karena hanya karena campur tangan Allah maka pertemuan terjadi, karena rasa sukacita kawan-kawan yang berkumpul dan bersinergi meneriakkan," Seni Pemersatu Jiwa" dan dengan semangat ini lalu eddie karsito mengajak kawan-kawan merajut mimpi untuk merilis sebua film kolosal tentang sejarah KOELI KONTRAK TEMPO DOELOE, dengan title " Annimie In Buiten Gewesten" yang Insya Allah penggarapannya berlokasi hampir seluruhnya di Asahan.

Inilah kerangka dari semangat itu, sebuah produksi film yang masih dalam wujud tataran ide, yang akan berubah nyata apabila banyak tangan-tangan terulur untuk menyambutnya, terutama dari saudara-saudara kita yang berdarah jawa(ma'af,boekan primordial). Pertanyaannya tentu saja adalah, mengapa stressing kita tertuju pada sudara-saudara kita yang sekarang mengguyubkan diri pada putra jawa kelahiran sumatera(Pujakesuma) dan organisasi suku jawa yang lain, karena film ini bertutur tentang bagaimana sejarah sampainya kakek dan nenek buyut mereka sampai di sumatera. Karena kata orang bijak, bangsa yang besar adalah bangsa yang ingat akan sejarahnya dan Boeng Karno ngomong" Jas merah, jangan melupaka sejarah.
TRAH(garis keturunan) tidak selamanya harus berasal dari darah biru,
karena pada akhirnya keberhasilan seseorang tidak semata-mata ditentukan turunan siapa, tapi bagaimana kita berjuang dengan disertai doa. Seperti ungkapa populer juragan sepuh Inggris, Churchil, " Saya tidak mau dipajang seperti banteng aduan yang martabatnya ditentukan kebesaran masa lalu". Maka sudah saatnya saudara-saudara kita bangga, karena sebagai anak manusia yang terlahir dari TRAH-TRAH biasa, tapi kini muncul menjelma menjadi orang-orang yang luar biasa dan sukses. "Annimie In Buiten Gewesten" adalah film anda, film kami dan film kita, maka kami undang seluruh masyarakat Asahan yang tua dan muda, khususnya yang punya benang merah dengan uyut kakung dan uyut putri," PAIJO dan PAIJAH" yang menorehkan sejaRah kelahiran anak, cucu dan cicitnya di tanah Sumatera, untuk bergandengan tangan bahu membahu mewujudkan mimpi tentang film ini menjadi nyata. Semoga Allah bersama kita, amiiin !

Oleh : Asrial Mirza
Kisaran,Sumatera Utara

USWAH


"USWAH", artinya contoh atawa panutan atawajuga teladan. Begitulah keseharian Rasulullah bersikap. Ini bukan dongeng, karena kabar tentang sikap nabi yang humanis ini, bisa kita temukan pada lembar-lembar kitab suci al qur'an dan al hadits. Sehingga, bukan hanya sebab kenabian dan kerasulan beliau maka ummat mengaguminya, tetapi justru sikap dan prilaku yang sangat-sangat terpuji itu menjadikan beliau diidolakan kaum muslimin maupun kaum-kaum lainnya. Kalau dalam bahasa kinian, beliau itu disegani oleh kawan dan lawan.

LALU, siapakah pemimpin kita yang bisa dijadikan panutan saat ini, mungkin kira-kira demikian pertanyaan yang ada dibenak setiap anak bangsa. Pertanyaan normatif namun sulit untuk dijawab. Ironis memang, kalau diantara 250 juta rakyat Indonesia, kita tidak menemukan seorangpun pemimpin yang bisa dijadikan panutan. Inilah kenyataan itu, kenyataan yang membuat hati kita bagai teriris sembilu. Siapakah yang salah dan siapa yang mau disalahkan terhadap kondisi ini?

KONON, sebelum bangkit dan menjadi besar seperti sekarang ini, Korea Selatan adalah negara yang parah dan payah. Perekonomian berantakan, tingginya angka pengangguran dan kriminalitas sudah sampai pada titik nadir. Kondisi yang terakhir ini sebenarnya merupakan hubungan sebab akibat dari carut marutnya ekonomi. Sama dengan penyakit diabetes(gula) stadium empat, akan serta merta merusak jaringan-jaringan syaraf lain yang ada dalam tubuh. Sehingga pada akhirnya akan lumpuh dan mati.
ADA dua masalah utama yang mereka temukan, dari sekian banyak persoalan negara yang mereka kumpulkan. Yakni moral dan pendidikan.
Dua virus besar ini mereka terapi dengan program-program yang begitu signifikan. beberapa tahun kemudian, hasilnya sungguh luar biasa, Korea Selatan muncul sebagai raksasa dunia yang baru dalam bidang industri.

KETIKA kita bicara moral, tentu ada etika dan estetika di sana. Etika itu adalah adab yang bersendikan syara', sedang estetika adalah budi pekerti yang baik dengan berlandaskan budaya. Tampaknya inilah yang menjadi permasalah kita. Permasalah yang terjadi pada kalangan pemimpin dan rakyatnya. Jika penyakit ini tidak segera ditangani secara sungguh-sungguh dan serius, entah bagaiman nasib bangsa da negara ini. Mari kita contoh Korea. Kalau untuk yang baik, rasa-rasanya tidak harus malu mengopek pada orang lain. Apa artinya sok pintar, kalau sebenarnya kita memang belum pintar. Bangkitlah budaya bangsaku, bangkitlah negeriku Indonesia tercinta. SEMOGA !

Oleh : Asrial Mirza
Kisaran,Sumatera Utara

SUNGAI



SUNGAI, adalah cerukan tanah yang dialiri air yang mengalir dari hulu ke hilir dan akhirnya bermuara ke laut. Meskipun liukannya bagaikan ular raksasa yang menakutkan, namun sejuknya air sungai membawa perarasaan menjadi tentram dan damai. Sungai memang penuh misteri, tapi sungai juga sumber kehidupan dan inspirasi. Sesaat anganku menerawang, mengingat seorang lelaki tua yang bermukim di tanah jawa dan kini sudah pergi menemui khaliqnya. Sayup-sayup terasa menerobos masuk gendang telingaku lantunan suara penyanyi kroncong dengan vibrasi yang menggelora " Bengawan Solo, riwayatmu kini, sedari dulu jadi perhatian insani. Musim kemarau, tak seberapa airmu, dimusim hujan air mengalir sampai jauh. Mata airmu dari solo, terkurung gunung seribu, air mengalir sampai jauh, akhirnya ke laut. Itu perahu, riwayatnya dulu, kaum pedagang slalu naik itu perahu." demikian sang maestro kroncong Indonesia almarhum Gesang, bertutur dalam syair lagu BENGAWAN SOLO. Gesang memang sudah tiada, tapi lagu Bengawan Solo dan karya-karyanya yang lain, tetap hidup di hati penggemarnya.

DI TEPI sungai Asahan sore tadi, cuaca redup dan angin sepoi-sepoi menerpa tubuhku. Sementara itu, persis di depan, samping kiri dan kananku, berjajar kawan-kawan dari Yayasan Sahabat Tiga puluh Kisaran dan komunitas ruang pekerja seni tanjungbalai, bersilaturrahim. Pertemuan ini entah untuk yang keberapa, tapi untuk ditepian sungai Asahan merupakan yang pertama. Sejenak semuanya terhanyut dalam suasana, seperti hanyutnya sampah-sampah yang mencemari sungai ini. Nun di seberang sungai, pada pertemuan sungai Asahan denga sungai Silau, ada dangau yang dibangun sebagai saksi sejarah. Menurut penuturan Wan Kumis(bukan Iwan Fals) konon, di tempat itu doeloe Sultan Asahan Pertama dinobatkan. TENTANG KOTA TANJUNGBALAI DAN SUNGAINYA, juga sudah diabadikan oleh seniman lokal dalan sebuah syair lagu. Lagu dengan irama dan rentak melayu ini, sungguh enak didengar, walau popularitasnya tidak sampai menandingi lagu Bengawan Solo.

"TANJUNGBALAI, salah satu kota di Asahan, menurut sejarah balai terletak di ujung tanjung, di pinggir kotanya sungai mengalir titinya yang panjang, lintasan nelayan menambah indahnya kota yang sakti, penduduknya ramai sopan santun budi bahasanya, seolah-olah kita sudah berkenalan lama. Duhaaai... adik jagalah nama kotamu ini, jadikanlah ia, agar menjadi kota yang sakti"(maaf, kalau syair lagunya kurang pas, karena saya tak hafal bukan bermaksud untuk melecehkan).

SUNGAI ASAHAN yang mengalir tenang, adalah saksi bisu pertemuan puluhan anak-anak manusia sore tadi. Sejuknya air sungai, sesejuk hati kami yang bertekad mewujudkan mimpi-mimpi menjadi nyata. Ada rasa syukur, rasa sukacita dan haru. Karena, di tengah hiruk pikuknya pertarungan memperjuangkan nasib dan kehidupan, ternyata masih ada orang-orang yang tetap menggeliat dan punya kepedulian. Mudah-mudahan komunitas ini bukan orang-orang terakhir yang punya kepedulian dan kegelisahan. Tapi sebahagian kecil dari ribuan bahkan jutaan orang-orang yang tetap merindukan sebuah perubahan. Genderang budaya kembali ditabuh, tarian Gubang harap dipergelarkan, agar kita tidak sempat lupa dan anak cucu paham sejarah nenek moyangnya. Lestarikan alam dan jagalah budaya!

Oleh : Asrial Mirza
Kisaran,Sumatera Utara

TALENTA



SUATU ketika salah seorang sahabatku bertandang ke rumah dan menyampaikan keluhannya. Konon dia kesal, karena anak-anaknya sama sekali tidak memiliki talenta. Meskipun aku kecewa dengan sikapnya yang kuanggap kurang mensyukuri nikmat, namun aku berupaya untuk menjadi pendengar yang baik. Karena menurut hematku, jika dia kubantah, kekesalannya akan bertambah satu lagi, yakni sama aku.

TALENTA, yang orang-orang dulu menyebutnya sebagai bakat, bukanlah sesuatu yang istimewa dan kuar biasa. Sebab orang yang berbakat tidak serta merta menjadi hebat, tanpa berlatih dengan gigih, tekun serta sabar. Dan inilah sebenarnya rahasia itu. Bakat mungkin cukup 10 perosen saja, tetapi porsi latihan yang 90 perosennya. Kalau kata orang bijak, lancar kaji karena diulang, enak makanan karena dikunyah.

SEPERTI kataku tadi, dia tidak kubantah, tapi kuberikan gambaran dan pemahaman. Dengan alasan, agar dia tidak sesat karena kufur terhadap nikmat. Mendengar wejanganku ini, kuamati rasa kesalnya mulai memudar. Keadaan tersebut memang kuharapkan, sehingga aku bisa lebih leluasa dalam memberi pencerahan. Sahabatku yang marah dan kecewa, adalah gambaran prilaku umum para orang tua yang tidak bisa menerima kenyataan. Bahwa semua harapan belum tentu bisa menjadi kenyataan. Tetapi justru kenyataan sering terjadi dari yang bukan kita harapkan. aku katakan itu padanya, bukan berarti ada pemutar balikan fakta. Ini adalah sebuah kenyataan yang tentu saja bisa dibuktikan.
KETIKA, di tahun 1978, Tatan Daniel, Uli Famza Marpaung(Ramli Marpaung) Asrial Mirza(ketua sanggar) dan kawan-kawan lainnya berkutat di Sanggar Laras dan punya nama di Sumatera Utara. Eddie Karsito masih selengean dan tidak punya karya apa-apa. Jamak saja memang, karena di Sanggar Laras tidak hanya seniman yang berkumpul, tapi instelatir listrik juga ada. Kondisi tersebut mungkin saja akan terjadi hingga hari ini, kalau saja Asrial dan Eddie ditahun1981 tidak hijrah ke Jakarta.

MELIHAT kenyataan hari ini, Eddie sudah membuka lebar-lebar mata kita, bahwa TALENTA atau BAKAT itu penting tapi bukanlah segala-galanya. Karena latihan yang tiada henti serta semangat juang yang tinggi, akhirnya menjadikan dia orang daerah yang berprestasi di ibu kota. Kenyataan yang lain adalah, seorang Asrial Mirza yang ditahun 1980-an karya-karya sastranya menghiasi halaman-halaman media, hari ini tetap biasa-biasa saja.
SAHABATKU tadi akhirnya menarik nafas lega, gambaran dan pemahaman yang kubentang di hadapannya, ternyata telah menyadarkan dirinya yang selama ini dibebani persepsi yang salah. Seperti apa yang diungkapkan Khalil Qibran dalam sajaknya tentang posisi seorang anak, " Kau hanya bisa memiliki dirinya tetapi tidak bisa memiliki jiwanya."


Oleh : Asrial Mirza
Kisaran,Sumatera Utara

Rabu, 12 November 2014

PELAMINAN


Nyata bersanding
Mengarak cinta kau aku mereka
Di taman asmara yang melipat jarak
Pada roman yang dipadukan
Kau aku satu
Mereka lah kesatuan itu

Aidah Lembayungsenja
Hongkong ; 11 11 2014
09:49 am