. JENDELA PUISI
RUANG PEKERJA SENI ADALAH GROUP DI JEJARING SOSIAL FACEBOOK, BERTUJUAN…MENGEPAKKAN SAYAP – SAYAP PERSAHABATAN…MELAHIRKAN KEPEDULIAN ANTAR SESAMA…MEMBANGUN SILATURAHMI/TALI ASIH…SAHABAT LEBIH INDAH DARIPADA MIMPI.

Selasa, 28 Juni 2016

RENGKUH PILU AYAH


senjang waktu kian menipis
bayang-bayang pun serasa tiada

ada gumpalan kelabu terasa membatu
dan semakin tak kuasa rasa terbawa

langkah ini tambah lunglai
padahal GERBANG TAKBIR hampir terpandang

Duhai Pemilik REZEKI
adakah tanda itu untuk kami disini

Ooh......
yang berganti tahun pun
kain kasa itu koyak belum terjahit

Oleh : Youthma All Qausha Aruan

Selasa, 21 Juni 2016

RAMADHAN


Yah, inilah Ramadhan bulan indah, Nuzul Qur'an dan Lailatul Qadar, nun Barokah dan Hidayah tak lagi menjadi tabu, semua berlimpah dengan kegembiraan berjuta-juta umat, anak kecil, orang dewasa, bahkan lanjut usia, mereka berbondong-bondong menuju Mesjid, menjawab suara Adzan. Tarawih dan Tadarus, Shalat malam, bersujud dan memanjatkan Do'a.

~Alex Wahyu~

RINDU KITA


Kasih...
Jangan biarkan benalu cemburu
Mengakar menjalar di ruang kalbu
Sebab ia akan menyesak di rongga dada
Hingga kan membunuh pohon cinta
Kasih
Rindu ini telah menyatu dalam darah
Hingga tak mungkin mampu aku bunuh
Kasih
Lenakan cinta kita
Dalam debar asmara
Pada tiap detik detak nadi
Sebab cinta kita tak akan mati
‪#‎ASSHJ_21_06_16‬

SUDAH TERBIASA


Ku coba hentikan waktu barang sejenak
Tuk tetap berada di pelukan bayu
Kekinian ku telah menembus batas waktu
Tuk tetap diam membeku dalam ragu
Menjadi serpihan serpihan salju
Niat tuk tetap bertahan dan menahan menjadi tergendala
Oleh simpang siurnya dilema
Susah tuk menjangkau Apa dan Kenapa?
Karena tak punya pegangan kata
Ku terobos hati lebih dalam lagi
Tuk menyingkap sukma yang tersembunyi
Sunyi... Sepi... Bagai mati suri
Ku bertapa dan bersemedi di atas tikar suci
Mencari sisi lain dari diri
Tak ada sepatah kata
Karena diam sudah menjadi terbiasa.
Tanjungbalai
Minggu, 19062016
By : Maia Syifa (Hafnidar)

Sabtu, 18 Juni 2016

KITA TIDAK LAGI MEMPERDULIKAN RONA SENJA


Sejauh-jauhnya luka pergi, ia akan selalu kembali; pada airmata yang mencintai.
Perihal doa, kau tenang saja; ia hapal betul namamu.
Aku berbahagia; jatuhnya cintaku kepadamu, tak membuat dunia menjauhi aku.
Di matanya ada sumur yang dalam, aku tak bisa menimba apa-apa selain kerinduan.
Daun-daun hijau ingatanku kuning: musim merindukanmu tiba lagi.
Pada embun di ujung daun kutemukan harapan dari pagi, dan masa depan di senyumku sendiri.
Sebab cinta adalah rasa sakit yang abadi, maka Tuhan tak pernah absen menulis puisi.
Biarkan ku tampung buliran rindu itu, agar kelak kau tahu, jika kau pulang ke pangkuanku.
Aku melupakan satu hal: puisi ini lebih mencintaiku dari pada dirimu.
Semilir duka masih menyesakkan dada, saat ku lihat kau memilih pergi.
Cinta, biarlah rindu berkelana, mencari sesosok yang dicinta, hingga nyawa terbang bersamanya.
Rasa-rasa delima mengering di lidahku, bersamaan dengan air mataku; begitulah awal kau merayu.
Engkau diberi kelebihan meramal masa depan, tetapi engkau tidak diperbolehkan mendahului takdir Tuhan
Seindah apapun cinta, tapi tak bisa merawatnya. Cinta akan membuatmu murka, bila kau mempermainkannya.
Atas apapun kau tersenyum, semoga cinta tetaplah alasan pertama, meski di sana tidak ada kita.
Senyummu puan, mengantarkan anak rinduku pulang, dari ujung penantian.
Aku menggambar kesedihanmu diselembar kertas, lalu mewarnainya dengan segenggam cemas.
Dari balik puisi ini; aku melihat kebahagiaanmu masih dijajah masa lalumu.
Seperti malam biasanya, kau memberiku satu tetes air mata; kali ini air matamu beku. Lebih dingin daripada pikiranku.
Di dinding pikiran namamu yang dituliskan, di ruang jiwa cintamu ku selimuti kasih sayang.
Dalam sejarah kita terkadang senyum adalah sandiwara belaka tuk menutupi bahwa air mata adalah realita sesungguhnya.
Malam begitu lapar hingga dilahap segala terang, kecuali cahaya di matamu yang kejora, di wajahmu yang purnama.
Ingin ku acak-acak kau di tengah guyuran hujan. Lalu kita menikmati kuyup itu dengan desah yang samar.
Sebab yang dekat denganmu melebihi urat nadi sudah Tuhan, biar aku hanya sedekat baju kesayangan yang kau kenakan.
Pelukan ialah adegan yang kita suka, saat hati saling bicara tapi bibir bungkam seribu bahasa.
Ditemani gemercik hujan, kuterbangkan angan; Disela tetes dedaunan ada rindu yang berjatuhan.

Oleh : Nur Aini Notokusumo
SNA.18062016

Kamis, 16 Juni 2016

SAJAK KECIL UNTUK KEKASIH KU


Ada saatnya nanti aku tak mampu berdiri tepat dihadapanmu guna menghadiahkan ciuman dan satu pelukan, tapi tenang kekasih, Akan ada yang mewakiliku malam itu, sebuah surat yang diperuntunkan untukmu, kehangatan tulisan, cerita keindahan akan dirimu.
Aku menuliskannya pada malam bulan Ramadhan, sesudah Tarwih tepat pukul 11 malam, diantara angin syahdu, bebatuan tersusun rapi di halaman rumah, rumput jepang dan sebuah Gajebo berornamen klasik.
Kekasih, begitu aku ingin menemuimu malam ini, bercengkrama melawan rasa gundah, rasa pilu yang mengikat rindu, kusampaikan melalui waktu, hadiah menarik kupersiapkan, sebuah teka-teki singkat yang akan menghantarkanmu menujuku kelak, sebuah tempat di ujung barat, saat daun-daun kering dan pohon-pohon pucat, berbunga layu tak lagi ada serangga yang bertamu. Seperti aku yang tak mampu menuai keindahan yang membumbui hatimu, kelembutan nun senantiasa merambah langkah kecilmu
aku terpesona, terperdaya akan kesederhanaanmu, bening matamu seakan gemintang enggan untuk meninggalkannya, lembut suaramu menjadi pemimpin soneta dari kicauan burung gereja.

~Alex Wahyu~

OH...TANYA



_______ kutarik nafas perlahan
dan kuhempas perlahan
pemandangan itu tak menakjubkan
ada bias bias liar dipelataran
yang tersimbah dari Altar berNoda
ricuh benakku merasa
saat tertegukku aroma amis
dari
lukisan rasa bernuasa
Simalimkundang menyantap Simalakama
entah mana pilihan
aku ataukan itu
yang semestinya enyah
Ooh tanya...........

Oleh : Youthma All Qausha Aruan