. JENDELA PUISI
RUANG PEKERJA SENI ADALAH GROUP DI JEJARING SOSIAL FACEBOOK, BERTUJUAN…MENGEPAKKAN SAYAP – SAYAP PERSAHABATAN…MELAHIRKAN KEPEDULIAN ANTAR SESAMA…MEMBANGUN SILATURAHMI/TALI ASIH…SAHABAT LEBIH INDAH DARIPADA MIMPI.

Kamis, 18 Desember 2014

AIR DEWA


hening malam terasa sepi
menelusuri ruang hati kecil ini
saat ini tiada teman berbagi
hanya air dewa sebagai teman pelipur hati

daku teguk secangkir air dewa
terbuai daku di alam kenikmatan
dunia terasa hampa seketika itu gejolak membara
daku teguk air dewa berperangai setan

wah, mati rasa akan duka
wah, dunia ini aku yang punya
daku terbang kealam antah berantah
air dewa perangai setan mengalir di pembuluh darah

Oleh : Ns tanjung

Rabu, 17 Desember 2014

GUBUK MUNGIL TEPI PANTAI & RUANGAN FACEBOOK


Tahun 80-an, “Kembang Langit” hanya nama sebuah gubug mungil di sudut ladang tepi pantai dimana sekelompok anak muda sering bertemu, berdiskusi bagaimana menulis di media massa [koran dan majalah]. Ada Yosef Budiarto, Imam Aspuri, Imam Santoso, Imam Prabowo, Lanang Setiawan, Momon Tarmono, Fauzi Robbani, Sulistyo, Wantoro S. Karya, Qomaruddin Assa’adah dan puluhan anak muda lainnya yang sebagian besar lulusan SPG [Sekolah Pendidikan Guru].
Waktu melesat begitu cepat dan zaman pun mengantar mereka menemukan jatidirinya masing-masing. Patut disyukuri bahwa para sahabat “Kembang Langit” mayoritas menjadi orang, setidaknya menjadi guru, kepala sekolah, pengelola pondok pesantren, dan tidak sedikit pula yang menjadi penulis “tulen” seperti Lanang Setiawan yang sudah menerbitkan puluhan novel.
Sekali waktu para sahabat “berpangkat” dan sejumlah seniman tulen singgah di gubug mungil yang berada di sudut ladang, mungkin sekadar bernostalgia atau menengok “penghuni” Kembang Langit bernama Qomaruddin Assa’adah yang telah menemukan dirinya sebagai petani di kampung.
Tahun 2012 "Kembang Langit" mencoba merambah ruangan Facebook, membuka GRUP SANGGAR KEMBANG LANGIT. Maksud dan tujuannya tidak lain “menjaring” sahabat baru, sahabat para penulis atau siapa saja yang menyukai dunia literasi. Dari sekadar coba-coba ternyata mendapat sambutan yang luar biasa. Dan pertengahan 2013 mulailah menggelar event menulis bersama dan antologi tunggal hingga menghasilkan 12 buku antologi puisi, cerpen dan novel, diantaranya: “Menuju Jalan Cahaya”, “Ziarah Batin”, Wakil Rakyat”.
“Kembang Langit “ masih berada di tepi pantai. Meski tidak semeriah dulu ketika kami masih remaja, tetapi gubug mungil itu masih tetap eksis, asyik dan nyaman untuk berteduh mengeringkan keringat sambil menulis……
Saat ini, “Kembang Langit” akan menerbitkan Novel “Mencoba Tidak Menyerah”, “ Bukan Impian”, “Lembaran Gerai Formosa”, “Genderang Cinta Nia”, “Noktah Merah”, “Romansa Pahlawan Devisa”, dan antologi puisi “Zikir Mawar” karya KH. Fauzi Robbani, antologi puisi “Suara Anak Negeri” karya para sahabat Grup Sanggar Kembang Langit.
MOHON DOA RESTU

Salam Takzim
Qomaruddin Assa'adah

PAHLAWAN ? PISIKOTROPIKAH



bangku sekolah kursi pemimpin
diantara'y ada bungkusan berpita merah
terlihat indah...
siapa sangka membawa petaka

ber_bekal alibi seni
ber_tamengkan kebebasan pers
men_dramatisir, kebiri hak azazi

tanggung jawab siapa???
ai...? yu...? dia...? mereka...?
K I T A

ai tak kesah yu mau paparkan apa...
yu butuh berita...?
yu butuh reting...?
yu butuh kekuasaan...?
yu butuh harta...?
yu butuh hantu belau..?
silahkan....
tp ingat ...!
anak cucu_kita dan GENERASI ini

salam santun berhulur maaf
salam persaudaraan...
'N Salam Lemperrr....

Kekiari Nokachishika
Kapak Maut Syair Gendeng 313
Syair_Tidak_Puisi_Bukan_BAT_Tidak_Yang_BukanBukan
V_Qot : https://www.youtube.com/watch…
Oleh : Qis PatRa

SERUAN RAKYAT


sorak kan wahai kawan
suara suara kebangkitan
kita di sini hidup penuh harapan
tapi, mereka telah patahkan
kita yang selalu ingin bangkit
tapi seketika kita jatuh dalam ketidak adilan
sebuah hukum mereka perjual belikan
sepangkat jabatan mereka agungkan
kita? kita bisa apa?
kita lemah, tak beruang juga tak berpangkat
sedang mereka bermartabat
apa yang harus kita perbuat
kita berada di tengah - tengah negeri buncit
di pimpin para jiwa jiwa buncit
mereka hanya memikirkan sejengkal kebahagian
tapi, kita selalu di korbankan
wahai kawan, mari berjabat tangan
kita eporiakan suara rakyat
sampai mereka sadar ingatan
bahwa mereka butuh rakyat

oleh Ns Tanjung

KASIH


Kasih...
Aku lupa bagaimana caranya bercinta
Bagaimana caranya bercumbu
Dan bagaimana merindu
Oh tidak kasih...
Maaf aku bohong
Lebih tepatnya aku tak tau
Mungkin juga tak mau tau
Tradisi mengajariku
Agama mengikatku
Orang tua mendidikku

Kasih...
Maaf...
Aku terjalin tradisi
Terikat syareat
Tersimpul ajar orang tua
Kasih...
Maaf...
Kita Ta'aruf aja

Oleh : Airi Cha

Kamis, 11 Desember 2014

MELALUI DARAH DAN DIRI DAN TULANG


Mati muda menyelamatkan diri
Hidup hanya diganti dengan neraka
Saya tahu bahwa sakit hanya akan pergi
Aku tidak bisa menyelamatkan diriku sendiri
Perlahan-lahan tanpa nama
Sebagai darah bermuara dari pembuluh darahku
Tidak pernah tetap sama saya tahu
Saya selalu mengambil menyalahkan

Saya sendiri ketika akhir datang
Kendalikan mimpi buruk
Nasib ini telah menjadi saya sendiri

Tersedak jiwaku
Misery telah menguasai
Dan di elatan saya mulai menarik kabel
Itu terjebak dalam sisi tulang-tulangku
Saya sangat ingin membuat Anda merasa
Semua rasa sakit ini yang membuat saya nyata
Saya membawa Anda ke bawah jatuh dengan saya
Sekarang tenggelam dalam penyakit saya

Oleh: Gani Metallic

SKETSA RINDU DI BAWAH MALAM


Akhirnya kupapah rindu ini
Bersama malam
Setia mendendang kesunyian
Iramanya sama
Mengalun merdu direlung kalbu
Lintas bayangmu masih jelas
Memayungi denyut hidupku
Aku menikmati
Bahkan terlalu menikmatinya

Anggaplah aku pendosa
Pendosa yang menikmati hidup
Bercengkrama bersama sepi
Tak sempat kumenghitung
Satu persatu bintang dilangit
Tak jua melihat kejora
Yang kau tunjuk umpama diriku

Terlalu asik kubercumbu dengan sepi
Yang memberi aku gelora hidup
Sendiri ini
Tepat menikam ulu hatiku
Hingga hadirmu
Sebuah ilusi bagiku

Oleh : Airi Cha
Medan, Sumatera Utara