Haruskah kuucapkan selamat jalan
ketika musyafir berlalu tanpa pamitan
berjuta alasan
dirangkai kemudian
pembenaran tindakan
Haruskah selamanya dua kali dua empat
jika kukatakan delapan bagi dua, bukankah sederajat
Diam dan tersenyum diperihnya lara nestapa itu nyata
bukan pura-pura serupa sandiwara
dikira tak tau apa-apa
ketika tersudut dipojok perbuatan nyata
membentenginya : melakonkan adegan murka
duh, musyafir berwajah seroja
tersurat maupun tersirat bacalah seutuhnya
Karya: Drs Mustahari Sembiring sang muham.
## Pondok bambu istanaku, Sabtu 07 Sept 2013 / 10:38wib
.png)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar