. JENDELA PUISI: AKU DAN SONETAMU
RUANG PEKERJA SENI ADALAH GROUP DI JEJARING SOSIAL FACEBOOK, BERTUJUAN…MENGEPAKKAN SAYAP – SAYAP PERSAHABATAN…MELAHIRKAN KEPEDULIAN ANTAR SESAMA…MEMBANGUN SILATURAHMI/TALI ASIH…SAHABAT LEBIH INDAH DARIPADA MIMPI.

Kamis, 02 Juni 2016

AKU DAN SONETAMU


Daun-daun kering dan pohon-pohon pucat, berbunga layu tak lagi ada serangga yang bertamu. Seperti aku yang tak mampu menuai keindahan yang membumbui hatimu, kelembutan nun senantiasa merambah langkah kecilmu
aku terpesona, terperdaya akan kesederhanaanmu, bening matamu seakan gemintang enggan untuk meninggalkannya, lembut suaramu menjadi pemimpin soneta dari kicauan burung gereja.

Aku sedikit tertunduk dan memejamkan mataku rapat-rapat
dalam kegelapan aku menangkap bayanganmu yang berdiri di seberang sungai, menembus udara dengan beberapa suara-suara yang terdengar sejauh mata memandang
aku menikmatinya, dalam kegelapan mimpiku, kau hadir dengan wajah menawan, mengangkat tangan dan aku siap menangkapmu dalam pelukan.

Aku kehilangan kendali, meneguhkan hasratku untuk tatapan jernihmu, suara riuh dari berbagai arah, disertai para bocah yang berkeliaran kesana kemari, mereka bermain petak umpet, melempar batu, dan memukul bola, beraneka ragam boneka lengkap dengan aksesoris yang terjual terpisah juga ada bocah perempuan dengan senyuman manja, bocah laki-laki dengan kemampuan ganda
aku sedikit iri melihat keceriaan mereka, kau tahu sayang, senja dan senja sebelum berkumandangnya Adzan.

Kasihku, Jelajahi hatiku, menyentuh sukma hingga kuasamu tak mampu kulepas lagi, di kedalaman jiwa, hingga gulungan ombak dan prahara, dalam tarian purnama berjuta bintang yang menghadang
sebab, harummu telah menyebarkan kecemburuan pada cakrawala, berlomba menyusun sajak, rona yang kau pancarkan selalu mengundang kepak peri malam yang senantiasa bermain di keningmu, aku tetap mendawai melalui jemari lentikku, mengucap rindu pada cahayamu, purnama.

aku semakin rindu pada cahayamu
menampung jeda, letih siang dan petang, kau masuk ke celah-celah sanubariku, sebelum melati dan kamboja terkulai di hadapanku,
sebelum botol kenanga sungsang mengairi, pada sajadah berdebu, pada harap, pada penat, izinkan aku memimpinmu, bersama kita sujud dan rukuk di hadapaNYA
Pencipta segalanya, kau dan aku.

~Alex Wahyu~
26 Mei 2016

Tidak ada komentar:

Posting Komentar