UNTUK MENCARI PUISI-PUISIMU CUKUP KETIK NAMAMU DI KOLOM "SEARCH" LALU "ENTER" MAKA SELURUH PUISIMU AKAN TAMPIL DI SINI

Sabtu, 19 Desember 2020

Kumpulan Puisi Eko Windarto - MEMBACA FENOMENA




GAMBARAN

banyak bicara
lupa lidah dijaga

kenyataan dilukis warna-warni
hanya akal-akalan saja

agama dijadikan topeng
viral
ambyar

Batu, 11122020



PUSAI HARI INI


laut bergerak berombak
memberi kabar gembira
dan awan berucap
' esok hari akan lahir resi '
tegas, berani, serta bergizi

Batu, 28112020



Saya posting lagi puisi ini, karena melihat kejadian-kejadian yang saat ini terjadi. Mungkin kejadian-kejadian inilah jawaban yang saya tulis dalam puisi di bawah ini. Dan puisi ini pernah di ulas oleh: Roja Murthado dalam bukunya ANALEKTA. Ini puisi bebas bukan Pusai yang NEOFUTURISME.
DI SINI

di sini, pertarungan agama-agama mengundang pedang
merupakan bayang-bayang yang kau tebang

di sini, tujuan hidup kau tutup dengan dalil-dalil panjang mengambang
sebelum mengenal tembang surga yang kau jelang

di sini, pengembara bahasa sibuta meraba-raba
mencari kemenangan rasa yang tak kunjung tiba

di sini, kekalahan dan luka
menjadi puisi pusat upacara muara sukma

hitam putih menjadi kebutaan sehari-hari
sebagai tradisi melupakan hati sendiri

wahai...terang mentari mayang
sirnakan kebutaan, sirnakan kegelapan dari langit hati yang paling gamang

Batu, 29122017



GELOMBANG SHOLAWAT


Memasuki gelombang sholawatmu
Seakan hanyut di sungai itu
Menuju muara kata-kata paling syahdu

Nikmat suaramu dibentuk dari qolbu
Dan aku mabuk dalam kesadaranmu
Hingga menjadi peminta-minta di pintu-Mu

Batu, 5122020



CARUT MARUT NEGERI IMPIAN

Hari ini para raja tetap menatap tradisi lama
Para pembesar hanya diam menatap sangkala
Ketika harap suaka mendobrak cerita luka
Nyala api mengambil waktu di bahuku

Hari ini seperti malam di pangkuan rembulan bersuara
Pesona cahaya para raja jadi jongos di atas panggung sandiwara

Dalam keganasan para pembesar buaya
Aku melesat memahat alamat surga
Mengukir bintang mempertaruhkan nyawa

Wajah muda-mudi bercahaya remang di ujungnya
Sumpah Pemuda dan Pancasila lupa dijaga
Anak-anak super otaknya dibiarkan meninggalkan hatinya
Ahklaq tak lagi bisa bicara
Sebab moralitas tak kuasa melawan angka-angka

Wajah negeri impian bopeng semua
Aku sampai heran kenapa kehidupan kita ternoda
Sungguh aku tak percaya
Zaman Gajah Mada lebih cerlang dari zaman melenia

Bali, 3172020



SEBUAH KISAH

Ingin kukisahkan rindu di gurun sunyi puisi
Sambil mengeja alif ba ta dalam hati

Sedang nyanyian cinta berteduh di bawah buah kuldi
Menemani Hawa meronce kesetiaan purbani

Sambil mengunyah sepi kuqatamkan dan kukuburkan dendam di hati
Lalu kumakamkan Darwin yang melahirkan evolusi

Sedang Comte menelusuri seluruh kekuatan progesifku sampai pada kecenderungan asasi
Aku terus-menerus memperbaiki nasib dalam segala situasi

Bali, 272020



PERINGATAN ZAMAN

di malam gerimismu
selimut pusai membeku

di bawah sorot lampu
kabut usiamu
menata buku-buku
lapuk meraba zaman
hilang kesempatan

Batu,28112020



KASUNYATANKU

aku berkelana dalam hatiku
sebelum kutemukan kandungan ilmu

kubakar lilin di hatiku
sebab kematian adalah kelahiranku

Batu, 17222020



HIDUP

peradaban mudah membuka rahasia
jika lidahmu berbisa
hidup dan nestapa
lahir dari tanya
dusta dan tatapan mata
beralur di dasar dada
cinta yang tak bernama
adalah citarasa

Batu, 13122020



DARI RAHIM IBU


Dari rahim ibu melahirkan para pemimpin bangsa, seniman, budayawan, agamawan, ekonom, astronom, ilmuwan, oposan, dan koruptor yang lupa jalan pulang.

Dari rahim ibu juga melahirkan berbagai permata dan kolam susu.



APA YANG BISA KUAMBIL DARI KEADAAN INI

apa yang bisa kuambil dari keadaan ini
semua ruang dan waktu telah penuh arti

tak bisa kubayangkan sepi mengajak pergi
mencari arti siang tadi

keadaan ini terlihat mengaduk-ngaduk hati
sampai rotasi bumi tak terasa lagi

muda mudi selalu saja wira wiri di depan hapenya sendiri
tanpa merasakan disadarkan hujan hari ini

alamat surat telah kehilangan tempatnya sendiri
merupakan kabar duka yang tak lain adalah diriku sendiri

Batu, 19122018



PESAN APA YANG BISA KUTULIS

Pesan apa yang bisa kutulis pada kehidupan ini
Jika caci-maki dan penebar iri dengki dikatakan paling suci?
Ah... hidup bukan hanya makan dan minum saja
Perlu duka, luka cuka, juga buka mata
Selain buka dada dan cinta ditanam atas maunya

Sekarputih, 18122019

EKO WINDARTO




Tidak ada komentar:

Posting Komentar