UNTUK MENCARI PUISI-PUISIMU CUKUP KETIK NAMAMU DI KOLOM "SEARCH" LALU "ENTER" MAKA SELURUH PUISIMU AKAN TAMPIL DI SINI

Jumat, 19 Agustus 2022

Kumpulan Puisi Genoveva Manuhara - MERAH PUTIH


MERAH PUTIH

Anakku
Kuwariskan merah putih padamu
Agar kau memiliki semangat juang seperti leluhurmu
Bangga jadi bagian dari ramahnya sifat bangsamu

Anakku
Kuwariskan merah putih utuh padamu
Bukan hanya keberanian yang dibutuhkan untuk masa depanmu
Tapi kesucian sebagai dasar langkahmu

Anakku
Tak pernah kuajarkan teriak merdeka padamu
Cukuplah kau merdekakan otakmu dari kebodohan
Kau merdekakan hatimu dalam menentukan pilihan

Anakku
Hidup ini seperti pertandingan
Teruslah berjuang untuk menyelesaikan
Sportiflah untuk menang

Gk, 20220817
(Arum Dalu)



FAKTA

Aku terlalu sibuk menakar setia
Sampai abai
Pada secangkir kopi rindu
Tersaji di bangku

Masihkah layak aku bertanya
Bila semua telah begitu nyata
Cukup diterima dan
Siapkan hati untuk terluka

Aku sedang tidak baik-baik saja

GK, 20220815
(Arum Dalu)



AKHIRNYA MATI

Di bibir malam yang ranum
Rinduku melata
Menyusuri jarak dan waktu
Tanpa jeda
Nyeri mendesis
Terbata-bata mengeja luka

Adalah aku
Yang membusuk dalam kungkung janji suci
Bertahan demi harga diri
Akhirnya mati

Gk, 20190710
(Genoveva Manuhara)



BERHENTI DI SIMPANG HATI


Berjalan sampai di ujung malam
Sepi sebagai teman hati
Sambil tertunduk malu
Kupunguti rindu yang telah membatu
Di sepanjang jalan kenang itu

Ketika cinta kehilangan makna
Ketika rindu berbuah lara
Ijinkan kututup buku
Kisah antara kau dan aku

Aku berhenti di sini
Di simpang hati
Meski sendiri tetap kujalani
Sambil merapal mantra suci
Kurajut serpihan luka
Dengan rasa bahagia

Gk, 20190705
(Genoveva Manuhara)



ANTARA AKU DAN KAU

Tak ada siapa
Hanya ada aku dan Kau

Lihatlah hatiku yang piatu
Dengan luka lebam biru
Lihatlah aku si pecundang kecil
Yang mencoba mengulur waktu
Membujuk rindu

Tidakkah Kau iba dengan rasaku
Ayolah, segera ulurkan tanganMu
Rengkuh aku dalam kasihMu
Bawaku pulang ke rumahMu
Aku mulai bosan menunggu ketetapanMu

Gk, 20190702
(Genoveva Manuhara)



HANYA ENGKAU YANG MENGERTI


Mak ....
Hanya engkau yang mengerti bahasa tetesan air mata
Hanya engkau yang mengerti duka yang terlindung balik tawa

Mak ....
Hanya engkau yang mengenal anakmu
Bahkan seluruh isi hatiku kau tahu

Mak ....
Maafkan anakmu yang tak lagi setia
Yang berpaling dari jalan suci kebenaran

Mak ....
Aku berhenti di sini
Tak mampu menyelesaikan pertandingan ini

Gk, 20190701
(Genoveva Manuhara)



SA

Sa ....
Tahukah kau
Duka apa yang tengah kukandung saat ini
Ketika malam makin kelam
Ada rindu yang mengetuk pintu hati
Mengusik tegarku
Yang mencoba menghardik pesonamu
Dari ruang khayalku

Sa ....
Engkaulah cinta yang bertahta di ujung senja
Dengan kaki malam yang membayang
Hitam siap menelan
Juga sepi yang selalu memaki

Engkau tahu Sa
Aku harus rela melepasmu ketika subuh datang
Seikhlas embun yang rela hilang
Ketika mentari menjelang

Sa ....
Biarkan kuulur sedetik waktu
Agar aku bisa mendekap erat tubuhmu
Memuaskan dahagaku yang rindu hadirmu
Dan ijinkan aku tetap memujamu seumur hidupku
Meski esuk kau bukan milikku

Gk, 20190627
(Genoveva Manuhara)



IBU


Kupandang wajahmu Ibu
Dengan degup rasa tak tentu
Antara haru dan rindu

Kucium tangan keriputmu
Yang penuh cinta membelai resahku
Penuh kasih membebat lebam luka kalbu

Ibu ....
Wariskan padaku
Kesabaran tanpa batas itu
Ketabahan dalam setiap laku
Kasih tanpa pamrih
Ikhlas mengabdi dan memberi

Ibu ....
Semua bulir-bulir doamu
Kukemas dalam figura kaca
Jadi ajimatku dalam berkelana
di padang Kurusetra
Bersama cinta yang bertahta di dada

Gk, 20190626
(Genoveva Manuhara)



UNTUKMU YANG KUSEBUT KEKASIH

Untukmu yang kusebut kekasih
Kau tahu, sejuta rindu telah menggulung seluruh hasratku
Egoku patah terinjak resah
Di antara daun-daun yang layu
Hujanpun luruh dari mataku

Untukmu yang kusebut kekasih
Kepadamu kukabarkan lara
Tentang rasa yang sirna dari pohon asa
Tentang luka yang merejam dalam
Juga pedihnya kehilangan

Tahukah kau kekasih
Hatiku remuk redam

Gk, 20190624
(Genoveva Manuhara)



RINDUKU MEMBUNCAH

Aku rela mataku selalu terpejam
Karena wajahmu hanya mampu kulihat di balik hening kelam

Aku puas melukis perangaimu dalam diam
Karena dalam tenang kudapat memelukmu dengan penuh kerinduan

Kekasih . . . .
Tak tahukah kau
Di ujung penantian tanpa harapan
Rinduku membuncah tak tertahankan

Gk, 20190618
(Genoveva Manuhara)



LAUT BELUM PASANG

Laut belum pasang
Ketika camar menangis
Menggurat bait lirih tentang luka

Laut belum pasang
Ketika ombak menghapus jejakmu
Di atas istana pasir di hatiku

Laut belum pasang
Ketika senja berselimut jingga
Aku tersesat di pantai ambigu
Hatimu yang bisu

Gk, 20190615
(Genoveva Manuhara)



DALAM PELUKAN RINDU

Dalam pelukan rindu aku menangis
Lekat di hati bayangmu, kekasih

Aku meringkuk di sudut malam
Sepi kawanku abadi
Diriku yang sebatang kara
Mencoba mengais mimpi
Dari sisa-sisa puing harga diri

Aku masih di sini
Menimang ego berselendang sepi
Mendekap asa yang tak utuh lagi

Gk, 20190612
(Genoveva Manuhara)



I LOVE YOU


Selalu kutahan isak dalam diam
Kusimpan tangis dalam senyuman
Dan kubisikkan perlahan
Aku masih kuat bertahan

Aku hanya mampu merindu dalam bisu
Selalu berharap kau menyapaku
Seperti waktu dulu

Aku tetap mencintaimu
Meski ada yang lain di sisimu
Dan kuharap engkau tahu itu

Gk, 20190609
(Genoveva Manuhara)



PERGILAH

Pergilah
Pergilah sejauh yang kau mau

Terbanglah
Biar rembulan bisa tersenyum padamu
Dan bintang bintang riuh bersorak atas kemenanganmu

Biarlah
Jangan lagi berpaling demi diri

Lelah
Lelah sudah batin ini diterpa beliung badai misteri

Aku sudah tak sanggup lagi

Gk, 20190724
(Genoveva Manuhara)



SELAMAT PAGI

Kini cahaya langit mencumbu waktu
Pagi menemukan jati diri
Segenap raga kuberangkatkan menuju realita

Pada malam kuucapkan salam perpisahan
Seperti pernah kubisikkan pada kemesraan
Yang telah jauh kucampakkan

Selamat pagi langit hatiku yang mulai membiru
Kini ada bentangan baru dengan segenap tantangan tengah menunggu

Gk, 20190723
(Genoveva Manuhara)



BEKU

Terpenjara rindu
Pada titik beku cintamu
Hatimu telah membatu
Dengan luka lebam biru

Aku hanya mampu merindu
Tak bisa memperjuangkanmu
Karena kau tercipta bukan untukku

Aku masih setia menunggu sepenuh waktu
Dan menjaga rasaku utuh untukmu
Bila suatu saat nanti
Tuhan mengijinkan kita untuk bertemu

Gk, 20190716
(Genoveva Manuhara)



PEMBUNUH KEJI

Ketika fitnah-fitnah keji datang menghampiri
Bagai panah api membakar hati
Aku tak peduli
Semua tiada arti

Untukmu si Dasamuka
Di depanku kau bermanis muka
Tapi mulutmu penuh racun berbisa
Di belakangku kau pembunuh keji
Membunuh karakter tanpa nurani

Untukmu si Dasamuka
Berhentilah
Sebelum panah Sri Rama mengakhiri semua

Gk, 20190714
(Genoveva Manuhara)



TUAN MASTO JURMAN

Hidup dan mati adalah kehendak Illahi
Aku tahu itu
Aku mengerti
Apa kau tahu sakitnya kehilangan
Pedihnya ditinggalkan

Tuanku berpulang
Dengan membawa sejuta kisah yang belum sempat ditulis
Selaksa warna yang tak pernah dilukis

Tapi aku sempat membaca pada sinar matanya
Di dadanya aku melihat hati yang putih dengan bias pelangi indah

RIP Tuan Masto Jurman
Tuan telah mengakhiri pertandingan dengan baik
Telah mencapai garis akhir
Dan Tuan memperoleh mahkota hakiki
Di sorga tempat tinggalmu abadi

Gk, 20190728
(Genoveva Manuhara)



EDELWEISS

Masih ingatkah
Putik-putik cinta yang kau tabur
Di sepanjang tanjakan Argo Dumilah
Tanpa kenal lelah

Kau dan aku
Mengikis luka di malam purnama
Embun beku menggigilkan rindu
Geresah pinus mencipta elegi cinta

Edelweiss jadi saksi tentang janji dua hati
Suatu saat nanti akan kembali
Mengekalkan kembali asa yang sempat tertunda
Menyatukan dua hati dalam cinta abadi

Kini aku kembali
Menyusuri tanjakan itu seorang diri
Kupunguti air mata di setiap hela
Prasasti cinta kita tetap terjaga sempurna
Edelweiss lambang cinta kita

Tw, 20190530
(Genoveva Manuhara)



CINTA RAKYAT JELATA

Kucium engkau Ibu
Dengan wangi kamboja
Cintaku sederhana
Cinta rakyat jelata

Kupeluk engkau Ibu
Di keheningan riuh doa
Kutuntun langkahmu sampai pintu sorga

Air mata ini Ibu
Air mata cinta
Yang terisak saat kau tiada

Gk, 20190601
(Genoveva Manuhara)

Kumpulan Puisi Iis Yuhartini - GURU PAUD


 

DI KAKI GUNUNG SAMPAH

Tangan kasarnya tak henti memilah
perempuan itu bersyukur pada Tuhannya
plastik bekas aneka rupa
ladang rejeki penyambung nyawa

Bau menyengat teman setia
menemani kala bekerja
barang terbuang menjadi berguna
periuk nasi tetap menyala

Gunung sampah makin bertambah
menjulang tinggi ke angkasa
perempuan itu takpernah putus asa
bibir tipisnya menganyam do'a

Bahagia bukan hanya tahta dan harta
tercipta dari ketulusan jiwa
tawa ceria anak-anaknya
menjadi penerang setiap langkah

Bekasi, 17 Agustus 2022



PAGI DI RUANG KELAS (Awal Oktober)

senyum surya hangati jiwa
asa bertumbuhan di ranting doa
bersyukur atas nikmat-Nya

Cukup lama terjerat wabah
ruang kelas kembali bernyawa
terdengar lagi riuh suara
awal berjumpa di sekolah

Mulai kembali goreskan warna
ceria menguntai rasa
tumbuhlah subur tunas bangsa
mekar harapan di negeri tercinta

Karya : Iis Yuhartini
Bekasi, 04 Oktober 2021



GURU PAUD

Serupa senyum surya
binar netramu hangat menyapa
bernyanyi, bermain riang gembira
ilmu untuk tunas muda

Mengenalkan aneka warna
nama hewan, angka dan lainnya
doa pendek juga tak lupa
balita Indonesia cerdas ceria

Guru Paud lembut bersahaja
sejuta cinta dalam dadanya
bertumbuh tunas bangsa
awal mengenal rupa dunia

Semangat mengajar sepenuh jiwa
tiada berhitung rugi laba
bangga menjadi bagian mereka
mendidik generasi harapan mulia

Karya : Iis Yuhartini
Bekasi, 24 November 2021



LANGIT HITAM DESEMBER

Siang mencekam
semeru terbatuk percikan kepanikan
runtuh keakuan
terdengar jerit pilu ketakutan

Kaki-kaki berlarian mencari lindungan
selamatkan buah hati tersayang
harta benda tak dihiraukan
hancur lebur sekejap pandang

Langit hitam Desember
bencana menerpa bergantian
manusia kehilangan pegangan
bersimpuh mengharap ampunan

empati bangsa menghapus bulir kepedihan
ranting-ranting doa menjulang
mohon ketabahan hadapi ujian
bersandar pada-Nya dengan kekuatan iman

Bekasi, 06 Desember 2021



Iis Yuhartini
29 Juni pukul 21.52

MERANGKAI DOA

Dalam sunyi malam
netra tak dapat terpejam
kubasuh raga bersimpuh di kaki Nya.

Aku hampir beku dalam dingin panjang
dalam badai menghancurkan
hempaskan aku ke dasar terdalam.

Aku teramat lelah
berjalan dalam ketidak pastian
melangkah dalam kemunafikan.

Dalam sunyi malam
aku mulai merangkai doa
ya Ilahi... kuatkan aku untuk bertahan.

290618



PAGI DALAM RINAI HUJAN

Pagi dalam rinai hujan
kulihat senyummu menyapa
menatapku penuh hangat.

Aku ingin seperti kemarin
Bercengkrama denganmu
menikmati secangkir kopi.

Pagi dalam rinai hujan
kubiarkan kau bermain di netraku
tersenyum penuh rindu.

Kuteguk secangkir kopi panas
bersama bayang wajahmu
yang lama telah menjauh.

250618

IIS YUHARTINI


Kumpulan Puisi Nebula - MEMBELAI INGIN


 
MENGENANG

anakku..
Ribuan nyawa bersemayam dalam warna merah putih, dari ujung tanah rencong sampai ujung kepala burung, langit dan tanah hening mengenang pengorbanannya
Hanya untuk menunjuk langit bahwasanya kau pantas berkibar atas izin dan Rahmat Yang Maha Kuasa
Disini.... di tanah harapan
Kau terbaring bersimbah darah berputih tulang hanya untuk satu pengakuan Merdeka !!
Tujuh puluh tujuh tahun sudah pengakuan itu kau genggam
Disini...kini kami mengenang, dan melanjutkan keinginanmu wahai para kusuma bangsa
Doa kami melangit pinta, semoga keinginanmu terwujud untuk Bumi Pertiwi
Anakku pualam jantung tetaplah merdeka dalam bentuk apapun jua
Tenanglah jiwajiwa patriot sebagai kami anak-anak bangsa berdoa semoga Jannah tempat berpulangmu, aamiin

_nebula
Agustus, 19-2022



MEMBELAI INGIN
by : Nebula


Malam semakin meninggi mengejar gulita dan hening
Tidurlah rindurindu yang tercecer
Masih ada esok untuk ditaburi ingin Berharap siur angin merajut kembali mimpimimpi basi dijahit letih
Teruslah membelai ingin dalam isapan asin peluh
Selalulah bermimpi untuk satu pinta
Menjelang petang rembang tidaklah berlebihan
Sebab rasa selalu bara dalam bibirbibir dzikru'
Tika ingin mampu menitik, pasti akan berakhir tawa,
Sebab basuh menghadap tak butuh ragu

#bumi_minang
Mei, 26-2022



AKHIR PERJALANAN
by : Nebula


Kau hanyalah penunggang di atas panggung masa
Dimamah hari, bulan dan silih tahun
Tanpa dirasa waktu berjalan tiada menoleh

Seiring tarikan napas yang sesekali tersengal menuju pintu keabadian
Dunia semakin menjahui dan kematian setia membayang
Beriring langkah semakin dekat waktu berdetak

Siapkah sudah bekal dalam menyongsong perjalan panjang
Batu penarung mengingatkan sebab kelak luka tak lagi berdarah
Tika daun mengering melayang jatuh

Akhir perjalanan sampai dan tak akan pernah kembali

#bumi_minang
Juli, 13 - 2022

Rabu, 10 Agustus 2022

Kumpulan Puisi Siamir Marulafau - SUNGAI YANG MEMBANJIR


 
SUNGAI YANG MEMBANJIR
Karya :Siamir Marulafau


Di sungai itu ada sampah-sampah
Ada juga ikan -ikan gabus, ikan emas
Berenang sepuas hati mereka
Kadang berbisik- bisik di kala air sungai membanjir

Mereka gaduh karena bahasa tak teratur
Yang satu bahasa induk
Yang satu lagi bahasa Melayu
Mau apa kau?

Ini daratan Melayu
Budaya itu bukan budaya timur
Adab dan Adat dijunjung tinggi sampai ke ujung langit
Agamaku, agamamu terpadu sepanjang Tuhan berkenan di bumiku

Medan.04.08.2022



DI UJUNG LANGIT
Karya :Siamir Marulafau


Jiwa dan hatiku sampai ke ujung langit memikirkan kau tapi kau tak melambaikan senyum sedikit pun
Jika senyum itu disuguhkan hati pun akan tak melayang setinggi langit

Kegalauan masih terbalut kabut
Walau mentari mencuat pada pagi hari
Embun memberi kabar kau pergi ke tanah seberang
Membuat lara terkesima

Akankah derita ini sampai ke ujung langit?
Bila waktu dan ruang semakin sempit
Hanyalah rembulan maha bijak membuka jalan
Dengan derai air mata yang membasuh kesedihan

Medan, 03.8.22



DEBURAN YANG MENGALIR
Karya : Siamir Marulafau


Di deburan itu ada nafasku
Membidik percikan dalam lara
Mengapa kau menunjuk lagi
Akankah deburan itu membasahi

Jiwaku akan hanyut
Mengalir di pelataran senjamu
Sepertinya kau mengukir deburan itu pada pikiranku
Yang tak akan sirna sepanjang waktu

Biarlah deburan itu mengalir ke muara
Seiring hati terbuka dan menampung
Akan disimpan dalam relung
Membara di lembah Anai yang indah

Padang , 31.07.2022



LIDAH
Karya : Siamir Marulafau


Lidah itu menggeliat
Memutar ke segala arah
Kadang terasa bila memutar
Kadang celaka bila bicara

Akan ke mana diputar bila ingin rasa
Sungguh lidah itu berbisa
Bersekongkol dengan mulut
Menjadi harimau mematikan

Lidah itu alat perasa
Akankah rasa itu dipendam?
Bila terasa mau diapakan
Jika tak terasa dibuat jadi terasa

Rasakan lah apa yang kurasa
Sepanjang nafasmu merasakan pada apa yang kurasa
Bila mati rasa, rinduku tak berkepanjangan
Karena hidupku harus merasakan apa yang dirasa dan bukan firasat

Medan, 04.08.22




PULARAKU YANG BERKIBAR
Karya : Penyair Dalam Lingkaran Cinta


Bertahun sudah kau tak berkibar
Rindu itu sudah membeku
Tak mengalir di sungai yang keruh
Walaupun biduk kudayungkan dengan kayuh

Tapi kau tetap selalu melambaikan tangan dengan senyum
Sepanjang dunia utuh walaupun virus korona menghantuiku
Tapi aku pun semakin tak perduli
Pularaku berkibar terus menerus dari ujung ke ujung

Betapa jauh rindu itu ditempuh
Sampai Pangkor tersenyum dan berkata padaku:
Pulara itu ada dalam setiap helai nafas perindu
Seiring puisimu tak terputus di tempat yang dituju

Di sungai itu ada arus mengalir yang tak putus- putus
Deburan air tak terbendung dari hulu ke muara yang tak mbeku
Karena Pulara itu warisan yang bersemayam dari tahun ketahun

Medan, 18.08.2022



BAHAYA DADAH
Karya : Siamir Marulafau

Kau tak usah terjaring dalam dadah
Bertahun sudah diingatkan Malaysia
Mengapa kau tetap menyulam dadah ini dalam kehidupan
Terali besi pun sudah bosan melihat tingkah laku tuan

Jika pengadilan memutuskan
Jangan sesal , jangan kesal tiada berguna
Tiang gantungan menanti tuan
Siapa pun dia akan terbenam dalam lumpur tak benderang

Tahankan, tahankan
Siapa salah,,,,,siapa salah

Medan, 17.08.2022.




POHON PELINDUNG
Karya : Siamir Marulafau


Di pohon itu ada pelindung
Daun - daunnya belum berguguran
Setiap hari disiram
Tak pernah melapuk
Rantingnya sangat kuat bagai besi tuang
Pohon itu bebas tumbuh
Setiap hari dilewati orang lalu lalang
Tapi tak berani menebangnya
Karena selalu berbuah

Ada juga pohon di seberang jalan dilalui
Banyak orang tak suka melihatnya
Karena pohon itu besar
Akan merajut kematian bila angin kencang
Walaupun bebas dan merdeka
Buahnya pahit dan asam
Banyak anak - anak melemparinya
Karena buahnya sukar dilahap
Akan ke mana pohon ini ditalkinkan?
Sementara insan hampir mati semua
Apa tidak?
Penguasa hanya melirik saja
Tanpa menyuguhkan parang tajam ditebang

Medan, 25.08.2022


NAMAMU TERCATAT DALAM JIWAKU

namamu terlukiskan di parasasti namamu kukenang jua terbayang di wajah selalu terlupakan tidak sepanjang hayat

perjuanganmu mencuapkan segala harapan visi misi tercapai akan sesudahnya dengan pengorbanan jiwa raga kau semayamkan di makam pahlawan seiring aku terkesima mencetuskna rasa kasih nan kukirim pinta kepada Tuhan bahwa kaulah pemberani membela bangsa dari belenggu penjajahan

sungguh mengagungkan betapa beraninya kau korbankan jiwa dan raga demi bangsa kubelai dengan kasih pinta pada maha kuasa atas jasa terlupakan tidak sampai akhir zaman

sungguh aku berutang kepada sang pemberani dalam pemberontakan dengan penuh semangat juang berdaulat sungguh mengagungkan perjuangan kau cetuskan dalam tindakan pusaramu selalu terkenang di mata dunia generasi penerus tersenyum belaka atas perjuangan kau emban pada masa lalu

kau adalah pahlawan terkenang pahlawan pemberani bagai singa dalam perjuangan menerkam mangsa di hutan belantara tak berpenghuni pusaramu diziarahi sepanjang masa atas kenangan manis kau eluskan dalam dada setiap insan selamat atas perjuangan

Oleh :siamir marulafau
sm/25102013



PERJUANGAN DI UJUNG TOMBAK

bertahun sudah perjuangan kusemai bambu-bambu bertaburan di tepi sungai semangat berkobar tetap membahana dalam dada pengorbanan di ujung tombak

semangat berkobar meluapkan hasrat bersatu bersatu teguh dalam pendirian kepahlawanan ikrar bangsa kepahlawanan penyelamat umat

perjuangan berkobar bagaikan lahar pegunungan memanas dari segala penjuru dunia tersenyum berucap sungguh demi bangsaku dunia berjuang demi rakyatku

semangat berkobar selalu semangat berjuang diujung tombak dari sabang sampai merauke kusemai bersama para pahlawan mengangkat senjata senjata bernapaskan bambu

biar peluru menembus dadaku kuberjuang demi negaraku aku pahlawan negeri bengis pada musuh senjataku senjata bambu kurelakan nyawa bertarung di medan perang

bulan november tanggal 10 hari perjuanganku pahlawan bertumbangan berkorban demi tanah airku tanah air kubela dengan tumpahan darah mengalir sampai ke tanah diam

aku tetap bengis pada musuhku negaraku negara tercinta negara kuperjuangkan dengan rekanku dari segala pejuru bergabung jadi satu, pahlawan jadi menyatu

Oleh : siamir marulafau
sm/25102013



BUAH KERINDUAN

siapa bilang kerinduan kau petik tidak dalam dunia maya yang kelam jika kau tidak menghitungnya seberapa kau semayamkan dalam dada seiring ranting berucap selamat datang para penyair bergelora sepanjang angin menerpa tidak pohon kehidupan kita semai bersama pada masa lalu di saat aku berada dalam taman surga kau janjikan dengan buah kuldi walaupun hanya sebatas impian tak bertepi

siapa bilang buah itu manis tidak jika kau tidak menyemainya dalam relung sepanjang petualanganku yang panjang di tanah gersang dengan terik mentari panas sepanas lahar gunung fujiama,mustahil tidak akan kurindukan sepanjang hayat sampai aku terkapar di tanah yang diam di saat napasku tak berdetak menyisir senja

buah kau petik dalam jiwaku teruai sudah dalam kalbu
buah kau semai terlukis sudah dalam jiwa sepanjang desah napasku mendesir di sekujur tubuhku sebgai petanda bahwa akulah kepompomg pemakan buah kau suguhkan dalam impian yang kelam

Oleh :siamir marulafau
sm/21102013


Kamis, 04 Agustus 2022

Kumpulan Puisi Hidayat Dayat - MELATI DI PINGGIR LAPANGAN



MELATI DI PINGGIR LAPANGAN

Melati di pinggir lapangan
Bidadari yang turun dari kayangan
Menebar rindu dalam setiap senyuman
Hadirkan semangat dalam jiwa yang kelelahan

Melati di pinggir lapangan
Begitu sangat anggun menawan
Dengan tarian seiring hembusan
Jadi oase di kegersangan

Mengapa baru kini kau tampakkan keanggunan
Disaat langkah akan tertahan
Menunggu waktu yang ditentukan

Semoga masih ada kesempatan
Walau kini mungkin hanya sebuah khayalan
Namun selama napas masih di kandung badan
Jalan itu masih akan terbentang di kenyataan

Karya : Hidayat Dayat
Surabaya, 29 Juli 2022



PERJALANAN

Hadir dari balik tirai dunia
Mengembara di alam penuh tanda tanya
Delapan penjuru tiada bertanya
Napas di raga, jadi teman setia

Duduk bersila di atas masa
Kala mimpi terjaga saat gulita
Tinggalkan basah di bungkus raga
Tanpa sempat terserap fana

Tetap mengayun langkah asa
Walau sadar mentari tiada lagi muda
Selama angin masih merayu cakrawala
Kesejukan itu akan selalu tersenyum mesra

Diam sejenak di sisi dunia
Punguti duri yang sembunyi manja
Melepaskan angan untuk tertawa
Menatap pelangi saat menjelang senja

Surabaya, 23 Agustus 2022
HIDAYAT DAYAT


APA KABAR SAUDARA


 

Apa kabar Saudara
Usai teriakan merdeka
Ketika makam pahlawan dimakan usia
Sudahkah sejahtera

Apa kabar Saudara
Usai penjajah enyah
Ketika Soekarno Hatta t'lah diganti
Masihkah kau meratapi

Tentang dada telanjang demi sesuap nasi
Atau embusan napas di antara debu dan deru
Lalu apa kabar jas dan dasi
Tetap wangi disetrika rapi

Ah, Saudara
Jangan mengeluh
Biarlah badan berpeluh
Kita tetap saudara satu nusa satu bangsa

Usah menghitung jasa
Merangkai kata untuk mencela
Mari menggenggam tenteram
Bahagia dengan keanekaragaman

Oleh: Visty Oktaviaa
Palembang, 03 Agustus 2022

VISTY
OKTAVIAA


Kumpulan Puisi Riani Pemulung - RINDU TERLUMAT HENING


 
DAHSYATNYA CINTA


Rasa ini tumbuh dari aku masih duduk di bangku sekolah dasar
Menyatu hingga senjaku

Cinta membuatku hadir di sini
Bercumbu dengan bait-baitmu
Dalam satu Abadmu

Keterbatasan, serta jarak
Tak menjadi penyekat
Untuk aku menyuarakan puisimu



RINDU TERLUMAT HENING

Mata tak mampu terpejam
Rasa di dinding hati meronta
Seraut wajah mengoda
Mengisi kekosongan hati
Wajah yang sekadar lewat
Terpatri di hati
izinkan aku mencumbu bayanganmu
Sekadar penghantar tidurku



CINTAKU

Jarak tak menghalang
Bercumbu dengan bait-bait puisimu
Ku lepas mimpi
Bebas...

RIANI
PEMULUNG

Kumpulan Puisi Maks Onesimus Talan - KITA BERAGUSTUSAN


PROKLAMATOR


Suara menyalak
Meneriakkan
Menuju kemerdekaan

Nyawa melayang
Belulang berserakan
Harga yang harus dibayar

Bulan sabit timbul berbagi senyap
Merah putih berkibar menjaga Nusantara
Takluk berulang tercabik diaduk
Titisan insan cendekia Sukarno Hatta

***
Tublopo, 03 Agustus 2022
Salam Seniman



KIDUNG SENJA JENDELA DUNIA

Menatap temaram kata-kata berbaris dalam aksara
Menggumpal dan menyapa membelai pucuk
Bayu memekik membawa puing kenangan
Sayup-sayup memori hidup letih berdebu
Kidung-kidung camar dan angsa melekat di senja
Bertajuk menjelas renung di jendela duniaku

Merdeka
Kidung nan lirih bernada ranum
Meneguk puisi dari nyanyian alam
Mengurangi kelelahan mengalun runduk

***
Tublopo, 03 Agustus 2022
Salam Seniman



MENUJU PENGGENAPAN


Kidung ceria di bulan merdeka
Dalam cinta mesra balutan asa
Menyapamu dengan suka cita peradaban
Menjamu kesetiaan menuju penggenapan

Kapan rindu dendamku dirgahayu
Seperti puja Merah Putih negeriku
Berkibar atas segala niat kebaikan diri
Pada kurun waktu tertentu berpacu diilhami

Jerih lelahmu wahai pendiri bangsa
Kini teringat di lahan generasi semata

***
Tublopo, 03 Agustus 2022
Salam Seniman



PESAN KEPADA KAWAN

Sekali merdeka tetap merdeka
Beginilah nanti jadinya

Merdeka atau mati suatu kulminasi
Di Nusantara tercinta memberi arti
Rindu terayun bisa terpahami
Bayu berlarian setubuhi pagi

Sekali merdeka - pesan kepada kawan
Tetap merdeka - tak perlu sedu sedan
Doa rindu tertulis tanpa spasi - nyanyian kemesraan
Dalam larik-larik Proklamasi - kabar keabadian

***
Tublopo, 02 Agustus 2022
Salam Seniman



TITIK PUNCAK

Sekali merdeka tetap merdeka
Kulminasi layak bermarwah
Merdeka atau mati berkalang tanah

Tegaklah hukum di negeri tercinta
Ke titik puncak; beradablah olehnya
Agar hukum nasional resmi mengikat
Dan hukum kolonial tak lagi menyebat

Sekali merdeka tetap merdeka
Terlepas masa penjajahan, tanpa mengulur waktu lebih lama

***
Tublopo, 01 Agustus 2022
Salam Seniman



KITA BERAGUSTUSAN

Mendung pagi membuka hari
Hingga malam melarungi jiwa
Satu Agustus melangsir mewarnai
Kita beragustusan tanda merdeka

Ada rasa haru juga bahagia
Dari separuh jiwamu Sukarno Hatta
Di depan barisan pelopor dan pemuda
Berangsur-angsur teks Proklamasi tuntas terbaca

Kiat suci atas nama bangsa Indonesia
Dalam tempo yang sesingkat-singkatnya

***
Tublopo, 01 Agustus 2022
Salam Seniman



NASIB
Karya bersama Awesajalah Welvianoza dan Maks O. Talan


Tak paham kita dengan apa yang terjadi
Meskipun korbannya telah menyatu dengan bumi
Alur kisah kemalangan sarat rekayasa
Menyeret kejujuran sangatlah langka

Angan pun lalu, paham pun bertumbuk
Ihwal nasib baik sekali bebal berunjuk
Tegar bunga di taman sekali-kali lusuh
Sepandai-pandainya tupai melompat, pasti jatuh

Untung-untungan kemalangan telah menimpa
Resiko sependeritaan terhempas membawanya

***
Tublopo, 30 Juli 2022
Salam Seniman



JANGGAL

Tidak sedap dipandang mata
Ihwal bunga berguguran kelopak lama
Tak sempat nikmat terhisap sari bunga
Untuk menyerbuk nektar memupuk asa

Tak sedap didengar telinga
Suara-suara bising tawarkan sirna
Tak sempat dipahami layak dicerna
Meleburkan lelah penghilang haru jiwa

Tak sedap dibuang jangan disimpan
Sepenggal syahdu sabar menuju keharmonisan

***
Tublopo, 30 Juli 2022
Salam Seniman



JUMAT BERDARAH


Sedianya ini hari Jumat
Dua tiga kenangan dapat diingat

Pada Jumat yang lampau itu
Tersalib Ia di atas bukit batu
Demi dosa manusia agar selamat
Dan aku Aminkan yang memperamat

Di Jumat yang sama seberapa pekan berlalu
Ada adu tembak di rumah singgah serdadu
Masih menunggu dalam tanya selidik
Yang janggal dan pelan-pelan terkuak

***
Tublopo, 29 Juli 2022
Salam Seniman



KUPU-KUPU MENJADI AKU


Suatu hari nanti
Aku akan menjadi kupu-kupu
Hinggap di bunga mencari dan mengisap madu

Suatu hari nanti
Aku akan menjadi kupu-kupu sutra
Bersayap kecil, berbadan gemuk
Untuk menghasilkan benang cinta

Suatu hari nanti
Dunia hidupku akan menjadi cerita
Melewati banyak kegelapan untuk sesuatu yang indah

***
Tublopo, 29 Juli 2022
Salam Seniman



PENJAGA TAMAN KATA-KATA

Di taman kata-kata
Para penyair berbagi giliran kosa kata
Sungguh tugas mulia menjadi penjaga
Menyalakan daya mengindahkan cinta
Wahai penjaga taman kata-kata

Kemas-kemaslah kata dalam amal kesalehan
Kemas-kemaslah rasa dalam senyum kekalahan
Bungkus-bungkuslah kebusukan tanpa kata dusta
Bungkus-bungkuslah kepedihan tanpa air mata

Dalam kecemasan terselip keserakahan maha lembut sutera
Dalam kepedihan kebusukan rasa dan kata jangan membara

***
Tublopo, 28 Juli 2022
Salam Seniman



DALAM TANYA


Melangkah dalam hening malam semakin larut
Cumbu buatan kabut embun di malam bertuba
Menjauhi kefasikan tak dielak - bebas pada kebenaran

Kambing mengembik segera menyingkir menghias alun-alun
Dengan empati kaum duafa berbaris menyongsong kemerdekaan

Aku bertanya
Dalam tanya di mulut tampak bercakap
Lancar berebut benar sambil berbuat salah
Yang kadang berebut satu teguk kopi - diminum dalam dahaga
Menilik warna kental kehitaman - lekat bertanggung tebal manis

***
Tublopo, 28 Juli 2022
Salam Seniman



FITNAH

Dendam kesumat anak ilalang
Terbelit keadaan tumbuh menjadi semak

Fitnah, fitrah sekali sempat meski terhimpit
Yang wajib dalam keterpaksaan
Berhak dinobatkan buah jatuh tak jauh dari pohon

Fitnah ini, eh... fitnah itu kejam kawan

Yang misterius terbuka dalam data
Meski mengusik yang tak berdosa
Membuka jalan bagi keadilan yang kandas
Menguji-kuatkan hukum tumbuh tak dipangkas

***
Tublopo, 10 Agustus 2022
Salam Seniman



BESOK


Besok, meningkat cerita
Fakta baru berangsur tumbuh
Menelurkan terkaan amal amat sukar
Memahat omongan layak figur belaka

Besok, di ruang keadilan yang maha mulia
Pangkal bahagia menimbang yang sama berat
Meski jatuh tertimpa tangga melukai diri

Melucuti kemiskinan di wajah berlanjut
Besok, adalah puncak segala keberanian
Menyalahkan yang salah dan membenarkan yang benar

***
Tublopo, 10 Agustus 2022
Salam Seniman



PELAJARAN

Pembangunan membutuhkan keadilan
Maka aku berlaku adil dengan sesama insani
Pembangunan membutuhkan kedamaian
Maka aku berlaku damai dengan diri sendiri

Waspadalah
Itu bagian terindah yang pernah aku jalani
Bahkan hingga kini aku selalu terjaga dalam waspada

Tapi lain dunia fitnah
Terbungkus rapi dan kadang sulit di sentuh
Hanya kuasa Tuhan dan karma yang merubah

***
SoE, 09 Agustus 2022
Salam Seniman



NANTIKANLAH BETA NEGERIKU

1//
Beta anak gunung tinggal di puncak bukit
Puncak bukit batu karang tanah Timor
Beta bukan anak pante hidop jadi nelayan
Tapi beta suka liat laut deng baris-baris ombak
Negeri seribu pulau siap menanti manyanyi deng ombak-ombak
Sio sayang hidop harus bakubae
Babakubae memang itu yang lebe bae

Sio sayang ke utara nusa ina Ambon manise
Di tenggara jao nusa cendana harum wangi
Tatinggal nama beta dengar sonde tau batang idong

2//
Biar gunung deng tanjung terpele
Masi ada nyiur melambai sepanjang pante
Biar hidop susah beta tetap pasang diri
Satukan doa sambil manyanyi tinggi-tinggi

Beta bangga punya tanah Timor
Jauh di rantau menjelma puisi
Kembali pulang baakar menjalar
Nyanyikan lagu rindu di timur matahari

Nantikanlah beta negeriku
Nantikanlah beta tanahku

***
SoE, 10 Agustus 2022
Salam Seniman



UNIK

Untung-untungan meminta kerjasama keadilan
Sedang nasib naas ditentukan dalam kebersamaan
Seusai sabut tuah timbul dan batu ditenggelamkan

Skenario buruk cermin dibelah di muka sendiri
Ruang kemerdekaan jiwa hilang bercari
Saking adegan terperinci tak menarik simpati
Pada lakon sandiwara tertulis tak digemari

Keunikan tercangkok patah dijumpai
Yang menutup ruangnya oleh birahi
Mau cari keadilan mati tak berarti

***
SoE, 08 Agustus 2022
Salam Seniman



DENGAN BERANI
Karya bersama Awesajalah Welvianoza dan Maks O Talan


Padang sabana dengan hamparan indahnya
Pertanda ruang kehidupan masih tersedia
Kibarkan Sang Saka Merah Putih dengan berani
Lambang kemerdekaan di Bumi Pertiwi

Mendamba cinta Sang Saka membawa bahagia
Biarkan pelosok Nusantara melakukan tugasnya

Haruskah dengan berani? Ya, harus
Dan itulah kisah mulia tujuh tujuh tahun
Berkiprah jawara negeri berlaku tulus
Mengibarkannya di seantero jagat ribaan

***
SoE, 08 Agustus 2022
Salam Seniman



DI KAKI GUNUNG MUTIS

Celoteh ringan di kaki gunung Mutis
Bak jarum-jarum kaku pohon pinus
Sakral angin membelaiku eksotis
Berpetualang di bulan agustus

Lambaian cemara secekak merdeka
Ke puncak raya kibarkan bendera

Padang sabana dan rindang ampupu
Berbaris megah sandar menjamu
Sejuk semesta utuh seluruhku
Menyimpan rasa seribu rindu

***
SoE, 08 Agustus 2022
Salam Seniman



BERKAT KEMERDEKAAN

Allah telah anugerahkan kemerdekaan
Yang kita tahu di timur terbit kemilauan
Hingga ke barat segala keemasan

Ambillah waktu untuk berdoa
Nyanyikan pujian dengan setia
Panjatkan syukur tarian solidaritas
Dalam kebaikan penuh kreatifitas

Mata TUHAN tak pernah tertutup
Dan tak pernah sedetik terlelap
Penuh Kasih mesra menetap

***
Tublopo, 07 Agustus 2022
Salam Seniman



DARI PUNCAK KE PUNCAK

Pada puncak peringatan hari kemerdekaan
Ribuan imajinasi melahirkan kata kata
Yang tak dapat dihitung dan ingat untuk dirayakan
Hanya kata kata bisa merdeka di lidah lidah

Dari puncak ke puncak agustusan
Bendera Merah Putih dilumatnya panas mentari
Berkibar memuncak mewakili jiwa jiwa penyair
Dalam kerlap biru langit berjemur

Mungkin sudah wasiat yang enggan sebelum diturunkan
Merenung hening tercipta untuknya kata berjuang

***
Tublopo, 05 Agustus 2022
Salam Seniman



SUAKA

Sudah tujuh tujuh tahun
Kami berlidung di bawah Merah putih
Cagar alam Nusantara raya
Tempat pengungsian kala merdeka

Kuingin jadi angin
Berembus dari puncak ke puncak
Menuruni ngarai nan tajali
Kerap bukan napas terakhir

Sampai tubuhku demam dan mulutku penuh igauan
Kata puja juga syukur

***
Tublopo, 05 Agustus 2022
Salam Seniman




TIKUS TIKUS BERTEKUN

Tikus tikus berdasi, berkameja lengkap sepatu
Tikus tikus berkantor, berkebun, bertanah air
Tikus tikus menggerogoti mayat dengan nafsu
Sedikit demi sedikit kesedapan laksana daging bakar

Marwahmu sesaat tertinggal bangkai
Atas nafsu sesaat memuncak badai

Mengapa hatimu panas dan mukamu muram?
Membaca dan mendengar ucapan baik nan kusam
Sungguh dosa mengintip di depan pintu sangat menggoda
Yang harus dan selayaknya kau berkuasa mengatasinya

***
Tublopo, 19 Agustus 2022
Salam Seniman



ESENSI AMPLOP

Sampul tertulis entah polos
Dimasuki surat entah uang

Mengamplopi kelicikan
Mengispirasi karya

Menetesi hening
Mensiasati nafsu

Amplop amplop berkeliaran bersekongkol
Amplop amplop merasa terhormat terbiasa berjasa

Meraup keuntungan alasan kebahagiaan
Sepantasnya dilayani habisi harapan

***
Tublopo, 19 Agustus 2022
Salam Seniman



BUYAR


mengalir atau meresap di mata
drama yang disutradarai aktor lama
seperti aliran air mengembang di musim kemarau

terserak benar benar berantakan
awan di langit yang dipertontonkan
tidak terpusat lagi tersebab tiupan angin kencang

kecenderungan angin berputar ombak bersabung
berkisar potongan episode bak pokok bergoyang
terasa ada tertangkap tidak dipahami
alur kisah dirahasiakan hilang disegani

***
Tublopo, 18 Agustus 2022
Salam Seniman



PALUNG BERSIH SAHAJA

Beribu ribu pulau negeriku berselimut air
Berirama gelombang pasang surut pada keadilan lecur
Ombak membelah angin badai menyapu kotor

Di atas bumi jajahan hidup atas dasar hancur menghancurkan
Boleh jadi kemenangannya berandai milik orang lain
Memuas ketidakmampuan memanggil kerusuhan bertekanan

Masih ada yang menyemangati dengan kata sabar
Yang pamrih menutup celah tanpa luntur
Agar yang kokoh semakin meluncur lancar
Dan yang lemah tersihir melarat lebur

***
Tublopo, 18 Agustus 2022
Salam Seniman



DIMENSI KATA KATA

Percikan semangat kemerdekaan terasa
Pelik dalam liku dan tafsirannya

Merdeka Indonesia dan manusianya
Berhak meraup kehormatan dengan persoalannya

Merdeka! Teriakan kata pelana
Bukan pada dimensi kata-kata

Ayo bung, maju!
Maju tak gentar melintasi waktu

Meski di pusaran sejarah kita merdeka
Berjudi dengan nasib yang belum merdeka

***
Tublopo, 17 Agustus 2022
Salam Seniman



MENULIS MERDEKA


Panasnya permusuhan didalam selimut
Api persahabatan terbungkus kemelut
Betapa sederhana hidup setinggi langit
Yang tahu menulis merdeka sedikit

Bakal jadi apa kau menulis merdeka
Berlaku merdeka harus pada tempatnya

Merdeka, rahasia yang sulit
Teriakannya melarut dan bungkuk
Di sesal terlambat pada yang sakit
Setiap budiman membeku terkutuk

***
Tublopo, 17 Agustus 2022
Salam Seniman



UJUNG HASRAT
(Turut mengenang Brigadir Yosua)


Nyanyian jiwa mengalun tenang
Kelak mengairi sawah orang

Punah sudah apa apa melintang
Yang melayang ke langit bintang
Jadi merdeka mendapat bahagia
Taman dunia menyandiwarakan bunga

Khalik merestui direka baka
Mahkota bunga kekal belaka
Hanya desir angin yang kau rasa
Arti mimpi terserak lepas bertuba

***
Kupang, 14 Agustus 2022
Salam Seniman



SANDIWARA


Sandiwara mempertunjukan lakon tunggal
Mengelabui mata meski dirasakan kurang adil

Terlalu banyak sandiwara dengan peluangnya
Tapi belum ada yang mau bersandiwara saat mengibarkan bendera

Tak ada jejak memanggil lautan
Sedang di pantai deru ombak menanti purnama siaga
Angin yang lewat memainkan embun berguguran
Gugurkan bunga dan daun tersemat dengan mesra

Ini bukan sandiwara tapi alam punya buatan
Meriak muka air kolam jiwa sepi malam bernyanyian

***
Kupang, 14 Agustus 2022
Salam Seniman



EVALUASI

Babak baru dunia profesionalisme
Semakin menjalar semakin berurat

Aku tahu awan bersekongkol dengan hujan
Menghadirkan tanya serpihan kenangan

Babak baru evaluasi profesionalisme
Tak sempat dibabat cukup membebat

Katakan padaku wahai harapan
Dimana aku harus menempatkan
Sedang sisa sisanya menghadirkan luka
Meski waktu tak pernah berkata

***
Tublopo, 12 Agustus 2022
Salam Seniman



PENAHIRAN


Halaman halaman sepanjang persada negeri
Bersih bersih ditata mempesona berdedikasi
Umbul umbul berwarna-warni tak lebihnya Merah Putih

Ini pembersihan menyongsong kemerdekaan
Menegakkan kebebasan tak terpojok
Nilai keadilan berempati tak mangkrak
Penuh alasan mengilhami kepuasan

Hiduplah negeri seribu pulau
Menuju jatuh tempo Dirgahayu

***
Tublopo, 12 Agustus 2022
Salam Seniman



PRASASTI

Hanya kata merdeka yang abadi
Sebab, kata kata tak pernah mati

Hanya tugu dan ukiran memberi tanda
Sebab, kalau tak ditandai hilang sejarah dunia

Pada penghujung tiap tiap musim bangkit dikenang
Untung atau rugi asal bapak senang

Sebab merdeka telah dicetuskan
Hanya jadi fatamorgana pelayaran

Sebab kemerdekaan terasa seperti laut
Hanya meriwayatkan rindu pasang surut

***
Tublopo, 11 Agustus 2022
Salam Seniman




UJI PERFORMA


Sesat kebencian memperdaya
Lalu keliru menempuh jalan jalan berlobang
Muncul merias senyuman di wajahnya
Seperti tak ada apa-apa mengekang
Apakah maumu sesat tersurut, terlangkah kembali
Yang sekali lancung uji, seumur hidup orang tak percaya
Ya jika telah menetes air matamu
Beruji ketabahan apalah dayaku
Padamu yang kini terbujur kaku
Kekasihku

***
SoE, 13 Agustus 2022
Salam Seniman



SIMPANG SIUR


Gelombang yang mendadak menerjang
Serentak membuat nyawa melayang
Sketsa sketsa belum terselesaikan
Dari kliping koran sebagai catatan
Bersilang selisih tayang digelorakan
Sekadar dokumentasi membebaskan diri
Berurat berakar mempersilangkan diskusi
Kebijakannya berserakan mencuri perhatian

Simpang siur konten konten berseteru
Inflasi dan stagnasi siap menjadi hantu

***
Tublopo, 26 Agustus 2022
Salam Seniman



MENGAUR BENIH


Tanamlah sebanyak mungkin
Agar kebaikan tumbuh, cinta dituai
Sesekali menari elok pohon kerinduan yang rimbun

Dengan hitam tinta airmata
Keringat mengucur berpeluh doa
Menerima lebih dan kurangnya sebuah luka
Termasuk rindu dan cinta merahasiakan rasa

Perihal mengaur niat yang patah
Bukanlah cinta menyebarkan salah
Tapi angan tergilas tak mau mengalah

***
SoE, 25 Agustus 2022
Salam Seniman



SEKADAR MENGULANG

Kepada diriku
Di masa yang segera datang
Limpahkan segala kasihmu
Damai menjelma seluruh sayang

Rela temani puing-puing murni muntahkan iba
Bergantian menembus bias aneka lara
Sekadar daksa sekarat termakan hama
Pula purnama tak cukup indah dalam aksa

Setiap rinduku hanya memanggilmu
Sekadar mengulang menjamah detak jantungku

***
Tublopo, 24 Agustus 2022
Salam Seniman



SEMPURNA

Semua terdiam telentang
Nyamuk-nyamuk ikut bergoyang
Bertebaran dalam kamar mencari celah
Kutarik kain tak ada selisih

Bangkitkan cita-cita bersama mimpi
Bangunkan impian penuh makna
Tak kujawab yang tak kau mengerti
Salah sendiri bila ku terpaksa

Kakanda manjakan kata
Adinda pahami semua rasa
Jangan kau buat aku kecewa
Acap kali melangkah paksa

Bujuk rayu mencari yang sempurna
Dinding-dinding kamar tak disapa
Bantal dan guling mesra kusapa
Hangatkan diri, esok kita bersua

Lembah-lembah mimpi melantun
Kita semua selaraskan santun
Aku tak pandai berpantun
Hanya kosong kata melamun

---------
SoE, 17 Januari 2013. *.~
Salam Seniman



SEBELUM MELEK

Seperti bedak menutupi pori pori
Di kulit dan wajah kedua sisi
Mempercantik tubuh atau mengobati

Setebal tisu serbuk memperbaiki
Untuk mendapat cerita terbaik
Tentang hidup yang berwarna-warni
Mengalun syahdu sebisa mozaik

Di bias kenangan sebelum melek
Menyeru kebodohan karmamu tegak
Membusuk tulang malu membungkuk

***
Tublopo, 24 Agustus 2022
Salam Seniman



SEDEKAH MALAM

Malam datang merobek isi kepala
Memanggil keluar perjalanan segala luka
Memekarkan perarakan senyuman pura pura

Malam memaksa hati mengingat kenangan
Memberi spasi candu dihujankan waktu
Menuju lelap diskusi ngilu kemilau
Menahan rindu tak terungkapkan

Malam mencekam diam dalam kelam
Kelap kelip bintang tersenyum riang
Membuat hati tenang terlupa semua kebohongan

***
Tublopo, 21 Agustus 2022
Salam Seniman



MELEKAT

pada belantara kepingan surga
lautnya luas, gunungnya megah
romansaku meluap dalam rasa
bernyanyi bahagia selaku nada nada
abadikan kemesraan restui semesta
berharga mengiringi kisah cinta
kepuasan menarik rahasia rahasia
tercetus oleh syair syair cintaNya
yang aku tahu dengan jujur
betapa kita tidak bersyukur

***
Tublopo, 20 Agustus 2022
Salam Seniman



SELASAR CUNDANG

Mencundangi mayat burung selaya
Yang tulus terbunuh selongsong besi
Dilapisi timah panas halusinasi
Menuju sasaran selayang pandang

Luka dan aroma darah berteriak
Dengan merdeka dari tanah airnya
Ke selasar Sang Pencipta mengelah

Selasar cundang karsa insani
Merasa bangga dengan dosa dosa
Kian dahulu timah, sekarang jadi besi

***
Tublopo, 20 Agustus 2022
Salam Seniman



KEPENTINGAN BERMARKAS

Merdeka itu kedigdayaan
Yang mesti dipertimbangkan
Bagi siapapun yang menghendaki
Karena perubahan akan menghampiri

Merdeka itu kepentingan bersama
Bersama bertanah air yang satu
Bersama berbangsa yang satu
Satu satunya kita Indonesia

Tapi sana sini kepentingan bermarkas
Kasak kusuk elit berebut kuasa meluas

***
Tublopo, 20 Agustus 2022
Salam Seniman

MAKS ONESIMUS
TALAN

Kumpulan Puisi Romy Sastra - BANGAU ITU PULANG KE PADANG PANJANG


 
BANGAU ITU PULANG KE PADANG PANJANG


khalwat singgalang dan marapi bersyahadat iklim berkisar, lalu bertakzim pada ilahi mencurah hujan sebagai titik dingin mengembun mata tertegun. aku membaca ranahmu, ada sepasang bangau mengitari padang panjang, hinggap di sebatang pimping berayun menuju tualang. bangau itu berpinak di rantau berpuak-puak, mereka lahir menjadi liyan berdian sebagai pejuang pemikir dan sastra: engkau sutan syahrir, a.a. navis, pun sederet anak-anak ibu yang menapak menoreh jasa sejarah dan nama bagi bangsa ini. bangau itu akhirnya pulang ke padang panjang membawa bait-bait puisi, di mana dulu dendang tak sudah semenjak usai tikai yang sansai oleh penjajah. kini padang panjang menjadi destinasi wisata dan sejarah. ranah yang didamba para santri mencari ilmu agama: aku bermadah

Romy Sastra
Jakarta, 22 Mei 2022




SABDA AZALI

hu dzatullah bersabda,
saksi kekasih menatap kekasih
tercipta cinta seperti burung ta'us
memuji tunduk pada rabbani
ya, segala yang ada bertasbih
bersaksi pada titah azali berdiri
sujud menghadap mihrab cipta maha agung:
ilahi

nuktah tumpah jadikan:
madi, wadi, mani, manikam
anasir sahabat itu bersatu

Ya, jibril kepada bumi
ya, mikail kepada air
ya, israfil kepada angin
ya, izrail kepada api

pancar memancar sinar rahmatan
bersembunyi di qolbi
jangan jauh-jauh mencari ilahi
cukup mati di dalam hidup
'kan dikenali megahnya istananing hati
bersemayam segala rahsi

sesungguhnya jalan pulang tak jauh ditempuh
rentan waktu seujung kuku

tiba-tiba kematian jasad datang menyapa
el-maut marah-marah, "takut?" iya
apalah daya tak tahu jalan pulang
sesat alang kepalang
menggigil rontok segala nyali
tak sadar satu per satu
malaikat penunggu tubuh yang lain
sebelumnya telah pergi
tinggalkan raga ini
yang tersisa hanya amal kerabat sejati

sesak tersiksa sendiri
meronta ingin kembali
Selesai perkara dunia
tubuh kaku berdebu
berselimut kain mori tak berdian; kelam
sia-sia saja jeritan pilu
yang ditangisi telah berlalu

Romy Sastra
Jakarta, 10 Agustus 2022



JIWAKU BERGURU PADA ILALANG


dan hujan adalah rahmat dari sisinya, ketika tabir hikmah tersingkap, daun-daun layu merayu, tanah kerontang jadi subur, tubuh dahaga bersuka cita, semua kembali hidup dan ceria. maka, aku bersyukur ketika sunyi didapatkan pinta seribu satu jawaban tiba.

ar-rahman ar-rahim maha memberi tak butuh imbalan serupa, melainkan ingin disembah. aku berpikir, aku tak kufur nikmat pada dunia telah disediakan kepuasan yang takkan pernah puas. lalu, kuiktibari sejarah nabi terdahulu, betapa kemewahan tercipta pada zamannya, dan kaumnya ingkari kebenaran. tuhan timpakan azab amat pedih pada yang zalim. sehingga mereka seperti kayu-kayu terpanggang menjadi arang.

fa-biayyai alaa'i rabbi kuma tukadzdzi ban. maka, nikmat tuhanmu yang mana yang kamu dustakan? sekejap merenung, jiwa mencari jawaban kehidupan pada ilalang yang tak lekang dengan panas tak mati dengan hujan, hidup menantang matahari berpayung langit berselimut embun malam.

lalu, bibit tumbuh seperti huruf alif bertauhid, ketika tua daunnya layu dan mati tak meninggalkan sedih pada generasi. regenerasi estafet siklus melebarkan kehidupan tak merasa tertindas zaman, ilalang tegar tumbuh dan tumbuh. meski ditindih kaki-kaki kolonialis, durinya menanti perisai diri. ilalang? pinjam aku tegarmu cabari iklim di tengah musim yang berputar. berharap jiwaku tak tumbang.

Romy Sastra
Jakarta, 9 Agustus 2022



ALUSIO DI BATAS TUGU PADANG PANJANG, PUISIKU BERTANDANG

di batas kota tugu melingkar kekar, dan tanduk menghunus adalah sebentuk makna bersoko menopang langit berpamflet sejarah menuju perjalanan ranah minangkabau. ya, tentang kotamu serambi mekah mengisyarat taat berjubah akidah seganding kultur adat yang luhung berasi tak delusi kuucap salam padamu padang panjang puisiku bertandang.

para cendekiamu pencetus karya melahirkan sejarah tokoh-tokoh bangsa. lalu, aku terdiam menatap anomali awan menguar, dan hujan mentransformasi salju mengembun di daun selasih. di kotamu aku mendaki ke pelataran rumah puisi taufik ismail yang asri, jemari lentik memetik setangkai bunga matahari berbaris diksi berbait falsafi, aku membaca keindahan rahasia ilahi pada semesta.

di kejauhan aku memandang gunung marapi dan singgalang berpancang di bumi minang, adicitamu ranah berimpian kota puisi berharap. gita sastra tak patah lagi di kemudian hari, aku bersaksi: padang panjang layak jadi kota literasi.

Romy Sastra
Kubang Bayang, 14 Mei 2022




KUTULIS PUISI DI WAJAHMU IBU
Romy Sastra


"Ibu, kau selalu bertanya,
perihal anak-anakmu yang gugur
gugur di medan tempur
di sudut matamu basah
rindu yang parah
kau menunggu di setiap zaman
hadirnya si anak gagah
bermata violet
melingkar di seraut wajah
menyilau taman sari bersanggul kartika
anakmu pahlawan itu yang ibu cinta"

"Anakku, dunia terus berevolusi nak,
seberapa tegar kau cabari terik
senja masih panjang kita jelang
ibu rela berkayuh lelah di riak berdansa
sanggupkah kau tabah arungi nusantara
bahkan dunia untuk Indonesia?

Baiklah anak-anakku!
madah telah selesai ibu gubah
sedari purba
ibu persembahkan padamu
di tiang-tiang sejarah merdeka,
katanya
terima itu dengan segala lelah

Ibu yakin anak-anakku
kau memahami resah ini
adalah pengorbanan menjaga kesetiaan
demi republik berdiri dan berlari

Ibu selalu berusaha pada yang kaupinta
bagaimana ibu mengandung bersenandung
tak berkabung
maka, jagalah Indonesia
terus membubung

Teruslah menulis puisi di wajah ibu nak
sebab cinta tak pernah usai
meski tubuh ibu dikoyak dan tergadai"

Jakarta, 15 Agustus 2022



SENDOK YANG CEMBURU


gelas berbisik:
di sebelah kiri gagang kau pegang
ada lipstik pink lekat
kau pilih mana,
sendok atau perigi?

tiba-tiba sendok cemburu
rindunya tak dihidu
asbak kosong tak ada asap
yang ada jelaga di sana
ujung jari dingin

percakapan hidangan di atas meja
rupa yang pasi
lalu, aku memilih bertatapan
pada selingkar alis
bibirmu tipis beraspartam

aku mabuk dalam diam
menatapmu karam

Romy Sastra
Jakarta, 13 Agustus 2022



METRUM DI PERSIMPANGAN JALAN
Romy Sastra


metrum sajak telah kau baitkan
aku baca terawang makna
di remang gamang
kata-kata berilusi madah
merungkai tragedi

cukup lama aku termenung
menatap matamu sayu
dan menyimak bait-bait kisah
tak kau sadari kedasih murung

sore begitu cepat berlalu
menyunting kelam
akhirnya senja pun tiba
di seraut wajah

di perjamuan sederhana itu
kita sama-sama menerawang silam
berada di persimpangan jalan
maju atau mundur menuju alur?

dan esok aku menunggumu
di episode yang baru
pada sore ke sekian
sebelum senja menutup waktu
kita saling menahan rindu
tunduk pada perjanjian
tak menciderai keutuhan
kau dan aku: bersatu

Jakarta, 12822



MERINDUKAN MUHARRAM
Romy Sastra


Muharram bulan yang mulia
para sahabat dan nabi berdemokrasi
menentukan ketetapan
tahun baru Islam
betapa mulia pengukuhan jati diri

Muharram bulan yang dinanti
doa-doa dilangitkan
ibadah ditingkatkan
aku runduk pada-Mu Tuhan

Muharram bulan Qomariyah
menunggumu merindui amalan
berpuasa sunnah Tasua Asyura
penghapus dosa setahun

Muharram bulan menuju madani
bagaimana Rasulullah hijrah
membawa umat dari Mekah ke Madinah
sampai saat ini hingga kiamat nanti
: aku mengabdi

muharram bulan yang suci
mari menyepi bertakwa diri
riyadhoh pada Ilahi
aku dan semesta bertasbih

Jakarta, 12 Agustus 2022



KEMBARA MENUJU RUMAH QUL HU

telah aku pungut tujuh kerikil
melempari dosaku
tujuh kerikil penutup pintu neraka itu
membolak-balik laju kembara diri
memandu pituduh
menghitung diri membuka hati

duduk bersila menatap layaran hitam
merenungi megatruh di kancah pikir
terkias makna yang bermegah
di ruang batin, mencari-Mu, Ilahi

aku belajar mati merenangi segara biru
pantai-pantai rayu melambai
menghiasi nafsu berjuntai
kutolak bara api membakari jiwa
padamkan dengan doa tauhid paripurna

di ujung pencarian diri
tak kutemukan bayangan wujud sama sekali
yang ada kosong teraba
berisi awas tak tersentuh
jiwaku terpaku menatap maha jiwa
digulung maha ombak mendesir
seperti lonceng berbunyi
aku mati di segara pengabdian cinta hakiki

pengembaraanku akhirnya terhenti
di garis batas keyakinan tak diragukan
pada duduk sila semalam di rumah qul hu
kumerindui-Mu selalu....

Romy Sastra
Jakarta, 11 Agustus 2022



KAPAL KEHILANGAN DERMAGA
Romy Sastra


Sabda bergema di suasana genting Nuh tabah meminta: "Ya Tuhanku, janganlah Engkau biarkan seorang pun di antara orang-orang kafir itu tinggal di atas bumi" satu-satu pasangan pelanjut tirani berbondong-bondong karena tertolong, makhluk-makhluk itu cikal bakal menyemai dunia kembali, di ekor keledai pada hidup yang tak ingin sansai, ada biang penghancur dunia ikut bertengger, dialog terjadi.

Nabi Nuh melihat sosok yang ringkih, berkata: “Hai musuh Allah, siapa yang memperbolehkanmu masuk? Keluarlah dari sini! Kau telah dilaknat." Iblis memohon: "Tolong biarkanlah diriku ikut serta menyelamatkan diri, sesungguhnya aku telah ditangguhkan.” Maka, Nuh menyuruhnya duduk di sebuah ruangan. Iblis berkata:

“Lima perkara yang akan merusak manusia, tiga di antaranya akan aku ceritakan kepadamu, dan dua di antaranya tidak akan aku ceritakan.”

Lalu, Allah memberi wahyu kepada Nuh, bahwa tiga perkara tidaklah dibutuhkan Nuh, yang dibutuhkannya dua perkara dan disimpannya. Nabi Nuh memaksa iblis menceritakan dua perkara tersebut. "Apa dua perkara tadi, hai iblis?” tanya Nabi Nuh.

“Dua perkara yang tidak akan kamu dustakan atau ingkari, manusia akan rusak sebab sifat hirs (ingin) dan hasud. Sebab hasud, aku dilaknat dan dijadikan setan rajim (diusir) dan sebab hirs (ingin) aku bisa menarik hati Adam, sehingga dia memakan buah yang dilarang di surga. padahal dia diperbolehkan makan apa pun kecuali buah kuldi."

Batinku kecamuk pada tafakur mabuk, aku menatap nun, ada badai bawakan pesan purba, Dunia ini seperti memegang satu bara di tangan kiri, tangan kanan menadah amanat Ilahi. Dan aku bertanya pada satu titik di kedalaman jiwa, kapal Nuh yang dulu karam kini terdampar di mana? Bukankah bencana purba telah surut ditelan bumi?

Aku berpikir panjang ke helai rambutku hampir luruh, dan kening menjadi tanah lapang tempat berpetualang. Akankah mahkota asmaraloka benar-benar punah kembali? Kita pulang, lihatlah! Tetesan embun mengalir di sudut mata di ujung doa, berharap mampu surutkan bencana di mana-mana, ternyata dispensasi Tuhan tertutup sudah.

Kapal Nuh yang dulu terdampar kembali berlayar di setiap debur-debur ombak di dada umat, hingga sampai dunia ini benar-benar kiamat. Gonjang-ganjing di mata batinku mengisyaratkan lampu kuning, angin dari berbagai arah menguar ke seantero bumi.

Panji-panji akan dibakar teknologi, di mana kawan, siapa lawan menjadi pertarungan ke titik tak terselesaikan. Risau di depan mata, samudra yang dulu ditelan bumi kembali membara. Air mata bercampur darah mengalir ke segara, dunia benar-benar punah menjadi ajang armagedon. Layaran batinku kehilangan dermaga, aku memohon di khusyu' yang purna, badai redalah! Langit terbelah.

Jkt, 23/08/22



Kumpulan Puisi Pulo Lasman Simanjuntak - NEGERI KHATULISTIWA DALAM PUISI


Puisi
Pulo Lasman Simanjuntak

POHON ITU KESUNYIAN

1//
di atas tanah sengketa ini
zinah ditabur benih-benih doa
pernah tumbuh subur
tanaman masa depan
untuk pandemi berkepanjangan

2//
bagi orang miskin sampai pemulung
membawa perabotan kelaparan
di hamparan pohon jagung
yang sempat jadi rumah
dengan polibag dan pot
semak berduri
masuk dalam larik puisi

3//
kini tinggal daun-daun kering berguguran
di tubuh kolam dengan pohon obat herbal
dan sedikit bumbu dapur
yang nyaris kesepian karena tak pernah disiram air kematian

4//
bagi tubuh sang pujangga
rajin menyiram benih
dalam nyanyian
taman kesunyian

Pamulang, 24 Oktober 2021



Puisi
Pulo Lasman Simanjuntak

NEGERI KHATULISTIWA DALAM PUISI

kami datang, kawan
membawa sebungkus dendam
menyusuri pasir
dan injakan karang tegar

sunyiku kali ini
tak mendaki garis-garis imajinasi

sejak dalam perjalanan tadi
sahabatku bercerita;
rakyat sudah menyedot minyak bumi
utang negara bertumpuk di kolong meja dikorupsi

pergolakan berdarah sampai musibah tak terkira
bencana tetap merajarela
pesawat menabrak
tubuh laut tak lagi biru
kapal selam turun ke dasar
dunia orang mati

dua puluh tahun kemudian
kita akan krisis pangan
di negeri khatulistiwa
tanpa kutub utara dan kutub selatan
tanpa belahan bumi garis lintang
dua sahabat karib tetap menyodorkan
wajahnya untuk dilukis di muka wajah laut

di atas meja bundar
gelas demi gelas
dihidangkan hiruk pikuk
suara ombak laut selat
dingin
mengerikan
maka kami harus hidup
dengan roh rendah hati

Anyer, Serang, April 2021



Puisi
Pulo Lasman Simanjuntak
BANGKIT

i//
aku ingin kembali bangkit
sekian abad terlelap
dalam gumpalan timah hitam
yang digelar di bawah matahari kebodohan
membentuk suatu rekaman dahsyat
percakapan kusut
keculasan menghitung
angka-angka yang harus digemukkan
ataukah hantu-hantu terus bergetayangan
di sudut meja
lautan memerah

ii/
aku ingin kembali bangkit
seratus tahun tertidur di atas ranjang komunitas biru pada gedung kesenian ini
kumpulan orang-orang yang rajin berkarya
menulis dengan teknologi menembus ruang dan waktu
dikepung apartemen mewah keterasingan diri

di jantung matahari, tubuh laut, paru-paru angin malamhari , mimbar rumah ibadah, sampai meditasi di trotoar jalan sunyi
kuliner sorehari

aku ingin kembali bangkit
hidup lebih (dan lebih ! ) dari seribu tahun lagi
berdiskusi pada tumpukan buku-buku para penyair baik hati
yang tak lagi kelaparan menyantap menu
puisi dengan harga bandrol tak pasti

Taman Ismail Marzuki, Jakarta, Selasa 26 Juli 2022



Puisi
Pulo Lasman Simanjuntak

PESAN DARI LELAKI BERLEMAK

lelaki baya berlemak ini
tiap pagi menyodorkan berita ekonomi dan bisnis
dengan kurva gratis

dalam hamparan ladang minyak
serta makin mahalnya dapat bermimpi bersetubuh dengan gandum serta gas beracun

"biarkan mata uang dollar terus berperang dengan mata uang rubbel, tugasmu hanya menulis puisi bermata emas dan terus mempersiapkan perang nuklir supaya penyair bisa angkat senjata," pesan lelaki baya berlemak ini sambil berbisik utang negara harus dibayar dengan jiwa dan raga

aku hanya terdiam karena kehilangan pita suara
nyaris dua hari berenang di padang tandus
sebab menyalin kemiskinan sama dengan membaca mantera bawah tanah

ataukah angan-angan yang terus berterbangan
sampai malam ini
ketakutan virus menusuk-nusuk puisiku
ingin bangkit lagi
dari benua orang mati

Pamulang, Rabu 10 Agustus 2022



Puisi
Pulo Lasman Simanjuntak

KAPAL INDUK OLENG

mendengar berita Indonesia jaya
merah putih berkibar ria
di samudera raya tak ada keluh kesah
seribu kapal berlayar untuk nusantara

hari ini,
mendengar berita Indonesia jaya
ratusan juta kepala keluarga
terjebak krisis pangan apa adanya
juga krisis energi mendunia
sampai lima benua antartika
haruskah menanam gandum di lahan pekarangan rumah

hari esok
kembali mendengar berita Indonesia jaya
membangun jalan tol, kereta api terbang tanpa utang
kuburan untuk orang-orang
tak punya pengharapan
kemiskinan yang juga tak kunjung
sampai ke pelabuhan

Jakarta, Sabtu, 13 Agustus 2022



Puisi
Pulo Lasman Simanjuntak

KELAPARAN AKUT JADI PUISI

kelaparan akut akan kujadikan puisi
pagi hari menembus cuaca mati
bersama jantung matahari

di negeri tanpa kaki-kaki
dimulai dari upacara air tanah ini
diselesaikan dengan sebungkus nasi basi

kelaparan akut akan kujadikan puisi
bersiap untuk menghitung pecahan
mata uang rupiah dikalikan
bertubi-tubi

telah engkau katakan berulangkali
dengan tubuh radikal seperti air kali
yang mengalir lewat mata bank tipuan ini

maka kelaparan akut
telah mengalir deras
dalam payudara puisi
yang diretas terjadi lagi

Pamulang, Minggu 14 Agustus 2022



Puisi
Pulo Lasman Simanjuntak

PERTEMPURAN HARI TERAKHIR

lewat matahari yang berputar dalam imaji-imaji liar
hari raya yang nyaris kelaparan dalam kesunyian abadi
tanpa tangisan bayi
binatang haram pun jadi santapan rohani
di mezbah batu warna biru
penuh amarah
tanpa dendammu berterbangan
di atas meja makan ini

tegur sapa jadi rajin menolak
sebungkus nyanyian mengerikan
dibuangnya di atas meja kasir
persis berhadapan dengan sekolah
layar lebar dan sulit tidur
di ranjang kematian

lalu kutulis puisi yang paling mengeras
sekeras hatimu perempuan berwajah katarak
doyan mengunyah tumbuh-tumbuhan hijau
rahimnya telah terluka masa lalu
berakar kepahitan dan penyakit kambuhan
dari pulau seberang lautan

Pamulang, Minggu 8 Mei 2022
Bersyukur senantiasa kepada Tuhan.
Setelah melalui proses seleksi ketat yang dikurasi 'admin' medsos PEMUISI KARYA.
Pada hari ini (Minggu 14 Agustus 2022) sebuah puisi saya berjudul PERTEMPURAN HARI TERAKHIR telah dimuat (dipublish) di Majalah Bulanan JURNAL PEMUISI (Malaysia-volume 39/Agustus 2022) yang diterbitkan oleh Dewan Bahasa dan Pustaka (DBP) Malaysia.

Salam Puisi.



Puisi
Pulo Lasman Simanjuntak

MENGAMBANG JAUH

rumah bising sewindu mengeja kata batin
barang gadai tercecer
engkau mengalunkan gamelan mati
garis telapak jemari
nomor-nomor kode buntut
disebar kebutuhan perkelahian
kartu dibanting
dibangun persaudaraan kembar memanjang
pernah telegram kanker rahim
anakmu yang perempuan menyilet lengan
sampai membusuk
sudah kehilangan bandar udara
dalam sumur-sumur subur
mengapa nyawamu menghilang
lakon buruk menyantap menu ganja
sejak engkau membenci hiruk pikuk
pasar sekejap
membakar sekolah
tanpa abjad



CAWANG–JATINEGARA SUATU SIANG


matahari ada di telapak kaki ketika gerombolan orang sibuk terpekur
ini pertama bagi kita membuka lembaran kerja
mungkinkah terbayang jika sobat lama
enggan memberi permainan otak

polonia sudah terlewati
singgah di kampung melayu
barangkali ada senyuman menakutkan
hewan membasuh terminal
angan-angan bakal melambungkan
segala rupa menjadi pewarta



KONFLIK DALAM PERISTIWA


1//
para rahib datang berbaju tanpa kancing
menelan rakus birahi
boneka lalu lalang membawa pisau belati
potret bunuh diri
padahal setiap sore
kawan sebangku
gemar berpesta bunga senapan
siapakah gadis mencuri setumpuk perawan
Hingga lengan tanganku
hilang ingatan

2//
lewat monolog alkohol susu
disimak pertemuan tak terduga
patung-patung arca menyambut perkelahian
pegawai pribumi menggelepar
di altar semak belukar

3//
didakinya bukit-bukit logam
tiap persimpangan makam ibu
dalam genangan pasir

___________________________

Biodata :

Pulo Lasman Simanjuntak telah menerbitkan 7 buku antologi puisi tunggal, dan saat ini tengah mempersiapkan penerbitan buku antologi puisi tunggal ke-8 berjudul BILA SUNYIKU IKUT TERLUKA.
Karya puisinya juga telah dimuat dalam 16 buku antologi puisi bersama penyair seluruh Indonesia. Anggota Dapur Sastra Jakarta (DSJ) dan saat ini sebagai Ketua Komunitas Sastra Pamulang (KSP) Bekerja sebagai wartawan, dan bermukim di Perum Pamulang Permai I, Kota Tangerang Selatan.
Pulo Lasman Simanjuntak telah menerbitkan 7 buku antologi puisi tunggal, dan saat ini tengah mempersiapkan penerbitan buku antologi puisi tunggal ke-8 berjudul BILA SUNYIKU IKUT TERLUKA.
Karya puisinya juga telah dimuat dalam 16 buku antologi puisi bersama penyair seluruh Indonesia. Anggota Dapur Sastra Jakarta (DSJ) dan saat ini sebagai Ketua Komunitas Sastra Pamulang (KSP) Bekerja sebagai wartawan, dan bermukim di Perum Pamulang Permai I, Kota Tangerang Selatan.
PULO LASMAN
SIMANJUNTAK

Kumpulan Puisi Merawati May - SABAR DALAM PENANTIAN



Merawati May
SABAR DALAM PENANTIAN


Selamat pagi penantian
terima kasih aku ucapkan untuk cinta dan ketulusanmu hingga hari ini kamu masih bersamaku dalam sebuah doa dan kesabaran

Bersabarlah
jika waktu telah tiba aku dan kamu akan dipertemukan dalam sebuah ikatan yang sakral
aku akan selalu berada di sampingmu,
menemanimu menyambut hari esok yang telah menanti kita kembali untuk meraih bahagia

Di dunia ini tidak ada pasangan yang benar-benar cocok
dalam membina sebuah hubungan yang sakral
melainkan pasangan yang hatinya begitu luas untuk menerima ketidakcocokan
Karena sebuah hubungan akan dilandasi pendewasaan diri ketika semua diuji atas nama sabar menanti sesuatu yang indah

Di dunia ini jika ada yang menangis untukmu
jangan pernah merasa bangga
Sebab belum tentu dia menangis untukmu
melainkan kamu tahu bahwa dia menangis untukmu
pastikan air mata yang jatuh itu bukan kesedihan yang dikarenakanmu
melainkan karena ia begitu bangga
Sebab memiliki kamu

Kini beristirahatlah sejenak sayang
karena penantian ini tak akan pernah sia-sia
sebab separoh jiwaku ada bersamamu dalam doa....

Bengkulu, 03 Agustus 2021
Merawati May



NYANYIAN HUJAN


Kekasih, setiakah kau merawat gulma rindu yang menjalar dan mengakar dalam hatiku? yang kerap menghampar di segenap ruang paling sunyi? Sedang kita begitu mendamba nyanyian hujan juga riuh ingatan tentang kenangan.

Sementara angin musim enggan beranjak, berkesiur melarung keping sedih, membilur nyeri yang disabdakan dera sebagai elegi sunyi. Ada yang dikabarkan angin sembari mencumbu pepucuk randu: aku masih mengekalkan sudut pagi dengan doa-doa tentang selamatmu.

Kini, meski hujan sering berdiam diri. Membaca sajak-sajak yang ku takik pada ranggas desahan akasia, ingatlah satu hal Kekasihku.

Mungkin pintu-pintu itu telah lelah, menunggumu. Mengetuk segala denyar yang dibisikkan malam. Ia tetaplah menanti dengan sabar, agar rindu tetap berkelindan dibentang jarak.

Selepas nyanyian hujan, burung-burung malam melenggang pelan. Membahasakan sunyinya sendiri. Menunggu rengkuh lenganmu yang lama tak pernah menjamah kata-kataku.

Di ambang jendela ini, tampias gerimis masih saja tercatat dengan rapi. Berkisah sejauh apapun kembaranmu, kembalilah ke berandaku. Ada sekian rencana yang belum tuntas kita bahas. Termasuk membaca sunyi yang luruh bersama kabut juga tentang seseorang yang memesan secangkir kopi di kedai puisi yang berdebu.

Bacalah setiaku. Bertahan dengan segala tabah yang kupunya. Mengeja puisi dan mendaras debur rindumu, di demagaku. Kerlipnya meski jauh. Namun, ia meneliti jejak-jejak silam di antara lirih angin dan letih perjalanan.

Catatlah. Gema seluas semesta. Kuharap mampu menjadi risalah bertabur aksara yang rekah setiap kita memandang puisi di antara reranting Cemara.

Paginya, nyanyian hujan berjingkat dengan gegas, ada sebait puisi yang selalu kuletakkan tepat di lembar hatimu

Bengkulu, 03 Agustus 2022
Merawati May



DI ATAS SEMUA LOGIKA

Takkan selamanya kebahagiaan menaungi, suatu ketika nanti akan datang kesedihan, yang tak pernah terbayangkan, karena rasa cinta begitu lekat, seperti laut dan pantainya.

Cinta bukan hanya keinginan dua hati, untuk membangun kehebatan surga duniawi, tetapi di dalamnya ada langkah takdir yang sering menentukan arah, sekuat apapun rasa yang tercipta, sering patah di rahasiakan, diatas semua logika.

Biarkanlah waktu, masa dan keadaan mengantarkan senyumanmu, walaupun bukan pilihan terindah hatimu, tetapi itulah kenyataan yang ada bisa dijalani.

Cinta akan tetap membuka kebahagian, meskipun di langkah tak seutuhnya.

Biarkanlah kenyataan tak seperti keinginan, melaju seperti biduk di samudra luas, semua yang terjadi adalah langkah yang terbaik.

Jangan patahkan asamu, jangan pupus harapanmu dan jangan salahkan takdir yang berjalan, di setiap pencintaan adalah langkah-langkah hebat.

Walaupun tak seperti yang kita ingin

Bengkulu, 03 Agustus 2021



Merawati May
CINTA TANPA BATAS WAKTU


inilah syair ;
kupersembahkan seuntai cinta. yang kuungkap lewat rasa. sebagai musafir
yang tak pandai merangkai
katakata

terima kasih, kekasih
lewat pagi di udara bersih
kuucapkan dari bibirku
atas ketulusan dan pengorbanan yang
kau berikan, untukku

aku jaga ketulusanmu
lewat penghargaan hatiku
yang senantiasa menyanjung dirimu

tak kuabaikan cintamu
karena kau adalah napas kehidupan yang tak pernah
kuhianati sekejap pun

( *kau tak sekadar kekasih, namun kau matahariku. yang selalu memberi kehangatan hari-hariku*)

tatkala langit hatiku tertutup awan hitam, kau yang menyingkap dengan cinta
maka kau selalu kupuja

meski napasmu tak secantik siti zulaikha, jiwamu menyimpan sejuta pesona
maka, di mataku kau laksana
bidadari nirwana
aku sadar,
banyak kekurangan dibanding kelebihanku saat
aku mencintaimu

meski begitu,
kuharap engkau tahu
kasih sayangku takkan terkikis waktu

meski usiamu tak muda lagi
dan saat rambutmu tak hitam lagi ; percayalah cintaku padamu selalu tertanam di hati,
meski kau tak di sisiku lagi

satu hari nanti,
kisah kita tak sekadar cerita fiksi. yang hanya dikenang saat dimabuk asmara
tapi, kau dan aku satu dalam ridha-Nya

*Bengkulu*
12 Agustus 2020



Merawati May
LAKSANA LANGIT MALAMKU


Seiring bergulirnya waktu malam tandang beranjak pulang pagi pun bersambut fajar

Purnama yang benderang berangsur perlahan meredup cahanya ia pulang keperaduannya

Langit malamku kini kembali temaram gulita tiada setitik cahaya

Engkau yang dulu kupuja kini meninggalkan jejak dalam atma serupa luka yang menganga

Adanya tak mudah terbalutkan walau seribu pintalan kain kasa membalutnya

Engkau yang pernah bertahta di singgasana hatiku kini tinggal kenangan berujung kesedihan

Terimakasih untukmu yang pernah singgah di hatiku walau cuma sebatas merebah lelah.

Bengkulu, 05 Agustus 2022



Merawati May
GARIS BATAS


haruskah kutaklukkan pelangi agar melembayung
di mataku,
untuk membasuh dahaga rindu?

seperti bungabunga kapuk
berhamburan tatkala kemarau di dadaku
menjadi berantakan
setelah mengharapkanmu
agar menyatukan
satusatunya rindu

o umpama bias cahaya
menyentuh beribu pandang
di dalam kornea mataku

begitu pula,
ketika jari-jemari hendak meraih kata hatiku yang selalu bicara dalam puisi
hingga semuanya meretas garis batas, untuk cinta
tak berbatas

lihat,
perahu nelayan pun kembali
sedangkan sekawanan camar menemui kekasih
menceitakan harihari

sedang aku masih di batas rindu. entah sampai kapan
menjumpai ruang pertemuan kita

dari sepersekian perjalanan ini kutempuh,
aku tak cukup ulung menguak tabir mega
yang kian tinggi
dan terus membumbung

ataukah harus berdamai
di antara kegelisahan
untuk cinta yang tak kunjung
menjadi nyata?

entahlah !

Bengkulu, 29 Juni 2022



Merawati May
DI PANTAI MOROSARI


terbanglah cintaku
dengan ribuan sayap
yang mengitari pantai morosari

sebab wajahmu asri
sebelum kau sisir rambutmu
yang terurai di antara ombak
dan destinasi budayamu
di dalam catatan cinta kita

pantai morosari
sebelum kau tidur
di antara cahaya senja
karena tradisi lelapmu
seperti bidadari yang bersemayam di dalam kerinduanku

maka tatkala kau hadirkan
seraut asmara yang terbang ke hulu hati ; getaran di dada pun memeluk sejuk setelah sepotong catatan mengalir ke pantaimu

di pantai morosari
kutiduri gelombang tradisi yang genit dan lincah
sebab dari bibir pantai itulah buih-buih cintaku mencair ke gugusan tubuhmu

pantai morosari, cintaku
setinggi apa pun angan
dan kerinduan itu terbang
ke panggilan pertama,
maka kepasrahkan
untukmu adalah mati

maka keindahan itulah kepastian cintanya yang
memancar di garis batas penghabisan nyawaku. sebab jika senja tenggelam, maka kemurnian pantaimu adalah wajah kekasihku

Bengkulu, 4 Juli 2022



Merawati May
BETAHWALANG


bulat dan besar
ketika Kau saksikan
wajah hari yang lelah

karena kandungan situasi
di antara air laut dan tatapan mata itu, ; memancarkan pertanyaan sebelum tenggelam dalam kesunyian malam

inilah sedekah bumi
dan laut. digelar dengan pikiran, karena rasa syukur
dipersembahkan di atas tumpukan penganan dan doa

sebab merah di mata-Mu
yang mengambang pada samudera kepedihan,
hitam bagai secangkir kopi di lidah ini

hal biasa dari kegelapan
yang diam di permukaan laut-Mu,
Kau tumpahkan
cahaya itu sepenuhnya
di atas pertanyaan tanpa jawaban

inilah sedekah bumi dan laut
dari tradisi desa betahwalang
yang memercik ke titik air ketika dilarungkan ke dalam doa-doa permintaan

maka bulat dan besar
ketika berbinar di permukaan laut ;
maka merah mata-Mu
yang berselayar dalam permintaan
orang-orang desa betahwalang,
menjadi sedekah
yang dikalungkan
ke dalam tradisi tahunan
masyarakat jawa tengah

Bengkulu, 8 Juli 2022