UNTUK MENCARI PUISI-PUISIMU CUKUP KETIK NAMAMU DI KOLOM "SEARCH" LALU "ENTER" MAKA SELURUH PUISIMU AKAN TAMPIL DI SINI

Kamis, 31 Desember 2020

Kumpulan Tembang Kata Aldi Lozer - CINTA


 

Mimpi ku slalu membuat aku takut kehilanganmu Dan rasaku selalu ingin selalu mengiginkan dirimu walaupun aku tak ingin kau pergi tinggal kan ku


---------------------------------------


Dari mata yang melihat keindahan tatapanmu membuatku terjatuh dalam
Terbawa perasaan yang begitu aku tau
Isi cinta didalam hatiku Ada rasa sayang menyelimuti Dari diriku kau adalah kekasih yg membuat aku slalu bahagia dari merasa aku kan menjagamu mesti tiada waktu dan jarak

Kumpulan Puisi Sabrina Galu Chandra Kirana - MALAM



MALAM

Malam....
Kuselipkan cerita hari ini
Diantara gelapmu
Kusimpan rindu ini
Diantara kelammu

Malam...
Andai saja kamu mengerti aku
Ingin ku ceritakan semuanya padamu
Tentang dirinya
Tentang rasa benciku padanya
Malam...
Asal kamu tahu
Bahwa aku bukanlah tempe
Kujadikan semua ini pengalaman hidup
Yang keskian kali

Malam...
Tetaplah bersamaku
Hingga fajar tiba membawa cahaya baru

By sabrina galu chandra kirana
Medan,28 Desember 2020



SESAK

Bergulung ombak laut biru
Medengar kamu memutus cinta
Bergetar kilat diangkasa
Sedangkan tiada hujan
Lihatlah terlanjur sesal
Langkah diri karena janji
Ibarat bunga aku tlah aku layu ibarat ranting aku kering

Medan 2 januari 2021
Sabrina galu chandra kirana



BENCI BERBALUT SEDIH

Hening malam begitu damai
Hanya riuh binatang malam yang ramai
Mengoyak hitam teberai
Mengenang kasih yang tak sampai

Jejak langkah terhenti
Mampir disetiap mimpi
Pada jiwa yang sunyi
Mengunggah rasa benci
Dikehidupan tadi

Brengsek...memalukan...
Selalu terngiang diingatan
Kenangan tak terlupakan
Hanya karena kesalahpahaman

Tutur itu terngiang selalu
Menyelip difikir kelabu
Menambah bumbu sendu
Yang menyelimuti kalbu

Hanya rasa berbesar hati
Menerima semua hina diri
Begitu rendah rasanya tetap berdiri
Mengabaikan setiap caci maki

Aku masih disini

By sabrina galu chandra korana
Medan,8 november 2019



ASA TAK NYATA

Ternyata
khayalan tak seindah kenyataan
Begitu indah terasa
Begitu sangat meyakinkan

Lumayan
Ada teman berkata
Didunia maya
Tak harap jadi nyata
Hanya pelipur lara

Setidaknya
Ada seseorang tempat berkesah
Pelepas rasa gundah
Saat hati resah

Terima kasih
Sudi menemani
Sudi berbagi kisah

Aku hanya pelipur lara

By Sabrina Galu Chandra Kirana
Medan 31 Oktober 2019



AKU

Aku
Hanya binatang jalang
Yang terbuang
Diantara ilalang
Aku
Pengemis jalanan
Yang meminta belas kasihan
Aku
Juga ingin seperti kamu
Tertawa bahagia dan ceria
Aku
Berhak untuk bahagia
Bisakah aku mendapatkannya?
Aku
Kini lelah

by:Sabrina Galu Chandra Kirana
MEDAN.31 OKTOBER 2019



AKU,KAMU DAN DIA

Kutak tak tahu harus bagaimana
Yang ku tahu hari ini aku ada
Dia ada dan kamu ada
Aku tak tahu nasibku esok
Katamu nasibku akan berbanding terbalik dengan hari ini
Aku tak tahu dengan siapa masa depanku
Katamu mungkin denganku
Amin ya rabb
Begitu jawabmu
Aku tak tahu maksudmu
Memberi itu kepadaku
Membuat aku berhutang sesuatu padamu
Mungkin itu rindu,mungkin itu cinta atau bahkan sisa hidupku
Bagaimana dengan dia?
Aku begitu kagum padanya
Kini aku dilema

By:Sabrina Galu Chandra Kirana
Medan.30 Oktober 2019



MALAM

Malam
Aku disini menjagamu
Karena aku masih terjaga
Malam
Aku disini masih menunggu
Menunggumu dalam mimpiku
Malam
Dalam heningmu aku merindu
Betapa rindunya aku
Padamu yang dulu hadir dimalamku
Malam
Aku disini sendiri
Menanti mentari
Mengganti hari

Medan,26 Oktober 2019
By :Sgchk



MIMPI YANG TERINDAH

Rindu ini begitu menyiksaku
Antara benci dan rindu
Antara duka dan bahagia
Engkau mengindar dari kehidupangku
Engkau menghilang dari mayaku
Engkau sirna dari mimpiku
Terima kasih pernah singgah walau sebentar
Terima kasih pernah buat berbagai rasa dihati
Terima kasih telah mengilang dari hidupku
Aku tak akan dilema lagi
Selamat malam
Semoga engkau bahagia



BIMBANG TAK BERTEPI

Engkau hadir dalam handphoneku
Engkau curi perhatianku
Engkau beri janji tanpa bukti
Hanya kata penyenang hati
Engkau beri sebuah mimpi
Tapi belum pasti
Hanya menghargai sebuah hati
Aku masih bertahan disini



PERJALANAN

Śajakku bertemu rimanya
Merajut kata butiran asa yang terpendam
Menguak rasa yang berkecamuk sesak
Menghambat imajinasi menuju bahagia

Waktuku bertemu detiknya
Begitu berharga setiap nafasnya
Mencari makna dari setiap nyawa
Apa yang menjadi tujuan dunia?

Siangku bertemu malamnya
Menemani sang bintang cahaya
Mencumbu rembulan temaràm
Diantara riuhnya binatang malam

Aku masih terus berjalan
Menuju harapan
Dimasa depan

BY:Sabrina Galu Chandra Kirana
MEDAN,3 November 2019



PERTEMUAN

Ketika hati tak mampu merasa
Saat itu dunia terasa hampa
Ketika bibir tak mampu berucap
Saat itu terasa semua bisu

Betapa berartinya sesuatu itu
Menemani disaat sendu
Mengobati rasa yang rindu
Memberi warna pada langit kelabu

Kamu ...
Ya kamu
Dirimu
Apa yang harus aku lakukan
Jika engkau ada dihadapan
Apa yang harus aku katakan
Sementara janji telah terucapkan
Biarlah semua berjalan
Dengan ketentuan Tuhan

Aku dalam dilema

By sabrina galu chandra kirana
Medan,8 November 2019



RINAI RINDU

Gerimis malam ini
Menambah dingin suasana hati
Hati yang beku semakin menjadi
Kumencari jati diri
Namun aku tak mengerti

Diantara rintiknya
Mengingatkan sebuah cerita
Tentang aku dan dia
Saat itu kita masih bersama

Malam ini aku menunggumu
Hadir dalam mimpiku
Membuat kisah baru

Aku merindumu

By Sabrina Galu Chandra Kirana
Medan.4 November 2019



RINDU TERLARANG

Aku rindu padamu
Wahai sang pemuja malam
Aku merindukanmu
Wahai sang pemuja alam
Aku betapa sangat merindumu
Wahai penyanjung cinta
Biarkan malam ini kita bertemu
Lewat butiran rinai yang membasahi bumi
Agar lepas bebas semua rasa cemas menggemas
Aku menunggumu

Cumbu aku dalam mimpimu

By sabrina galu chandra kirana
Medan.7 november 2019



PENGHARAPAN

Siang itu...
Surya memebelai bumi
Aku kehilangan sesuatu
Yang begitu berharga bagiku
Entah apa yang terjadi
Semua begitu nyata tapi seperti mimpi
Aku mendapatkannya kembali
Namun tidak dengan isinya
Mungkin ini ujian
Yang harus kurasakan
Berserah diri pada tuhan
Semoga esok ditunjukkan jalan
Semua yang hilang dikembalikan
Mungkin ini cobaan
Karena tidak bersyukur pada tuhan

Aku belajar ikhlas

By sabrina galu chandra kirana
Medan 10 novber 2019



ARYA BIMANTARA

Terlalu bodoh untuk diriku
Mengagumi separuh jiwaku
Terlalu percaya kata katamu
Tentang masa lalu yang dulu
Engkau menampik tapi kamu menyukainya
Bukan cemburu tapi sedikit kecewa
Mempercayai semua yang ada

Mulai hari ini aku harus membuka
Membuka semua rasio nyata
Bahwa semua hanya dalam dunia maya
Dan tak akan pernah jadi nyata

Biarlah itu semua
Cukup berteman saja
Iya teman saja tak perlu suka atau cinta
Tak peduli apa yang mau dilakukannya
Tak peduli pada siapa dia menyapa
Bukankah dia memang tak nyata
Hanya suara dan kirimannya yang kuterima

Aku membencinya

By sabrina galu chandra kirana
Medan,12 November 2019



AKU MEMBENCIMU

Antara benci dan rindu
Entah mana yang harus dipilih
Begitu sakit mengenang kata pedasmu
Begitu sakit mengenang rasa sayangmu
Semua tercabar oleh puing puing cemburu
Belajar cuek
Belajar apatis
Belajar menahan diri
Namun tetap saja lemah
Mengintip dari balik tirai
Hanya mampu melihat senyum tipismu
Terlihat engkau sedang bahagia
Disini juga merasa tenteram melihatnya
Biarlah
Sudahlah
Hanya menjadi penggemar gelap
Tanpa berani berterus terang
Agar tiada kesalahpahaman

Kita cukup berteman

By Sabrina Galu Chandra Kirana
Medan.20 November 2019

SABRINA GALU
CHANDRA KIRANA

Kumpulan Puisi Riani Pemulung - SENYUM IBU



KUPU -KUPU MALAM
Riani pemulung


Tatapan mata itu
Jalang,menerawang
Menembus kabut malam
Bibir merah bergincu
Terselip sebatang rokok

Angan nya mengembara
Bersama segengam harapan
Akan datang sihidung belang
Dengan dompet yang tebal

Malampun kian kelam
Sekelam hati dan jiwanya
Namun sesunging senyum itu
Masih menghiasi wajah sayunya

Dingin nya malam kian menusuk
Seperti hatinya
Yang kian tertusuk,tercabik -cabik
Oleh hujatan ,dan hinaan

Hanya satu pintanya
Tuhan yang maha pengampun
Dan maha pengasih
Berilah hamba rejeki
Untuk anak -anak hamba



SENYUM IBU
Riani Pemulung


Nak, jangan kau ambil
Senyum ibu mu
Semua yang ibu miliki
Telah engkau dapatkan
Selagi engkau masih dalam kandungan ibu

Kehidupan
Air mata
Jiwa raga
Telah ibu berikan pada kehidupan mu

Kini hanya senyum.ibu
Yang masih tersisa
Untuk.menghiasi
Wajah ibu yang telah menua



RINDU YANG TERLUKA
Riani pemulung


Engkau mampu membuatku
Mabuk kepayang
Melayang -layang bagai terbang diangkasa
Getaran rindu ini bagai angin topan
Yang mengombang -ngambingkan perasaan ini

Oh,rindu mampukah bersatu
Dalam ikatan cinta suci
Semakin dalam rindu ini
Semakin tercabik - cabik hati ini
Rindu ini telah menyakiti

Terlalu kokoh dinding pemisah diantara kita
Perbedaan prinsip dan keyakinan
Tak mampu kita satukan

Rindu menjadi kristal bening
Air mata berurai membasahi pipi
Engkau telah bersanding dipelaminan

Kini saat nya ku lepas bebas rindu ini
Bersama burung -burung diangkasa
Yang akan kembali pulang
Pada saat nya tiba



RINDU DALAM KEABADIAN
Riani pemulung


Sudah saat nya ku lepas rundu ini
Dari gengaman hati
Agar tak lagi membelenggu jiwa
Dan ku kubur rindu ini dengan ke ikhlasan
Agar tak lagi menjadi benalu

Kekasih
Ijinkan aku melepas dan mengubur
Rindu ini,bersama masa lalu
Karena runduku dan rindumu
Tak akan pernah menyatu

Seiring do,a kupanjatkan untukmu
Bersama taburan bunga nan harum
Di gundukan tanahmu
Menjadi saksi bisu cinta kadih kita

Ku peluk erat batu nisan
Bertuluskan namamu
Bertahun -tahun sudah ku pendam
Ku simpan rindu ini
Dalam penantian semu
Karena dirimu tak akan pernah kembali
Tuk membalas rinduku

Kekasih
Bersama air mata,bersama do,a suci untukmu
Kini aku mengikhlaskan kepergiaanmu
Ku lepas rindu ku dalam keabadian mu



SAHABAT DUNIA MAYA


Kita di pertemukan dalam dunia maya
Dengan berbagai suku dan agama
Kita antara ada dan tiada
Kita tak saling berjabat tangan
Kita tak saling memeluk
Kita tak saling mengenal

Namun
Kita saling menyapa
Kita saling perduli
Kita saling berbagi kasih
Kita saling menghormati
Kita saling menyemangati

Trimakasih sahabat
Telah mengisi hari -hariku
Walau hanya sebatas untaian kata
Namun mampu ku rindu
Semoga jalinan tali persahabatan ini
Menjadi tali kasih yang abadi



UNTAIAN KATA UNTUK IBU
Karya Riani pemulung
25 desember 2020


Ibu adalah nafas kehidupan
Ibu bagai matahari yang menyinari
Ibu bagai bintang,walaupun dalam kegelapan
Namun tetap nampak indah dengan cahayanya

Ibu adalah hembusan angin
Yang kasih sayangnya mampu menyejukan hati
Dan amarahnya mampu meruntuhkan jiwa

Ibu adalah embun
yang setiap tetes kasih nya mampu
menyentuh kalbu

Ibu adalah lilin kecil
Yang memberi cahaya walau harus terbakar
Ibu adalah malaikat ku



Judul KERANDA
Karya Riani pemulung
5 januari 2021


Jiwa - jiwa bernafas mengembara
Mengejar ambisi
Mengabdi pada hasrat dan nafsu
Mengagungkan duniawi
Menutup hati nurani
Hingga lupa pada keranda
Sahabat sejati yang setia menanti
Sampai tiba waktu nya
Dalam kebisuan abadi
Menjadi penghantar akhir tujuan hidup



RENUNGAN JIWA
Goresan Riani pemulung


Pada mata ini ku simpan semua cerita
Pada hati ini tempat mengambil keputusan
Pada ruh ini aku mengharapkan semoga tak lelah mengapai mimpi
walau kerikil - kerikil menjadi pilar - pilar sandaran

Pada kaki dan tangan ini ku gantungkan harapan
semoga selalu semangat
dalam melangkah meraih rejeki
walau air mata menjadi candu

Pada Tuhan ku pasrahkan hidupku



Judul Malam 31 desember

Jarum jam berdetak
Berpacu dengan nafas
Cerita yang terlewati
Menjadi memory di hati

Perjalanan kisah membawa pada penghujung tahun
Air mata jatuh berurai
Membasuh lorong jiwa
Menyibak semua kenangan dan dosa

Tuhan di pangkuanmu aku bersimpuh



Judul HUJAN

Hari ini hujan turun tiada henti
membasahi tanah, pepohonan
menguyur alam semesta
hatipun berbisik pelan

Semoga hujan hari ini
mampu memusnahkan
kuman - kuman, virus
yang menempel di mana -mana

Semoga hujan hari ini
mampu meneduhkan
jiwa - jiwa yang tandus



NUSANTARA

Kita adalah satu
dalam gengaman burung garuda
kita adalah satu
dalam balutan Bhineka tunggal ika

Kita adalah satu
dalam kibaran sang merah putih
kita adalah satu
dalam ketuhanan yang maha esa

Kita adalah satu
satu nusa satu bangsa
kita adalah satu
Nusantara jaya

RIANI PEMULUNG


Kumpulan Puisi Mohammad As'adi - BERGERAK JIWA YANG SENYAP



BERGERAK JIWA YANG SENYAP

Bergerak bersayap
Jiwa gemetaran
Tanganku yang letih
mulai tulisi batu nisannya sendiri
dengan huruf-huruf tak beraturan

-sebuah tanda kematiankah
Atau barangkali sebuah perhelatan ?
:Ia sempat datang dan singgah
Tapi mendadak kembali menjelmakan sepi
Yang lainpun datang dan mengukir nama
Tapi tak terbaca huruf-hurufnya

-inikah kematian semu ?
Bukan ! Bukan ! tapi sebuah pergerakan
harapan tak boleh pergi
Aku lah taman kebakaan
Dalam tajam pedang
Setiap saat menghancurkan
Dan akulah nestapa sekaligus bahagia

-Inikah pergerakan senyap menuju kesenyapan lain ?
Bukan ! Bukan !
Karena memang belum sampai waktunya
Jiwamu dalam kesendirian jiwaku
Itulah tempat tinggalku

Daun-daun tetap bergerak
Karena kesetiaan pada angin
Angin tetap bergerak
Karena kesetiaan pada musim
Dan kehidupan terus bergerak
Karena kesetiaannya pada kematian
Harapan dan waktu adalah keniscayaan
Bergerak dalam lajurnya

Aku mulai memaknai kesederhanaan
Dalam kehidupan adalah kemegahan
Yang menjadi derita sebagai penawar
Dan matahari sebagai tanda
Dan gunung sebagai tanda
Dan musim sebagai tanda
Dan satwa sebagai tanda
:sujud menghamba
Di kening waktu
Sampai suatu hari
Yang dijanjikan

Temanggung 27122020



SAJAK PAMFLET

Hari ini Matahari masihkah menawarkan harapan?
Di sela langkah terbata orang-orang jalanan
Di setiap nafas yang demikian sesak
Nyaris tak tarelakkan dari injakan kaki
Yang penuh dendam merampas hak-hak rakyat

Kami anak-anak kandung yang terlupakan
Oleh ketertindasan kesukacintaan merampas harta negeri
Kami adalah selembar kain pembersih kasud tuan-tuan koruptor
Kami adalah tempat buang sampah sisa hasil rampokan
: Tinja kamu
Air kencing kamu
Ludah kamu
Dan
Pidato-pidato sakit jiwa kamu

Kami adalah anak kandung yang lahir dari rahim pertiwi
Terseok dalam genangan darah dan ketuban
Belum usai tangis kami, belum usai masa anak-anak kami
Belum usai masa remaja kami…bulodoser atas nama undang-undang
menggilas kami sampai mati. Lalu berjuta kelahiran menangis
Di bawah mata liar elang yang demikian congkak mengawasi
gerak-gerik anak negeri . Setiap saat menukik, mencakar dan mematuk, mecabik-cabik , lalu meneteskan percikan darah sambil menyeringai dan berkata : Jangan usik kami !

Tak terdengarkah jeritan kami
Tak terlihatkah jejak berdarah kami
Tak silaukah oleh tetesan air mata kami ?
Wahai tuan-tuan, di tengah kami mempertahankan sebutir beras
Di masa pendemi yang tengah membunuh kami …tuan-tuan tikam pula kami
Dengan patriotisme seorang koruptor sejati
-Tak ada lagikah jiwa kesatria yang mampu bicara
Tentang manusia dan kemanusiaan ?

TEmanggung 04012021



TUNGGU AKU DI DEPAN MASJID AGUNG


Setiap siang, di bawah hujan dan terik matahari
Seorang gadis sebaya anak perempuanku
Berhijab dan setengah cacat, parasnya cantik
Duduk di atas trotoar seputar masjid agung,
kepalanya selalu tertunduk sambil mengucapkan doa-doa
di hadapan dua tas harapan bernama –keripik singkong-

Ia tak pernah menawarkan barang dagangannya
Ia hanya berharap seseorang menghampiri
Hanya sekedar menyapa , lalu bergetar hatinya
Tapi hampir tak ada , hampir tak ada
Aku menyapanya, ia tersenyum manis
Cahaya matanya berbinar- ia berkata padaku-
‘’Berapa bapak mau beli?’’
Aku bilang satu saja

Dengan gembira ia membungkus seplastik keripik untukku
Sambil bercerita, ihwal tak keberuntungannya
-tapi kamu hebat-
Gadis itu tersipu
-hanya ini yang bisa kulakukan-
-kamu adalah kehidupan-
Gadis itu tertunduk

Setiap kali aku lewat, kakiku selalu tak tertahankan
menghampirinya. Aku seperti tengah dimabuk cinta.
Sepekan tak bertemu rindu bergelayutan
Rasa kemanusiaanku mengatakan :
Hampiri selalu,lihat kedua matanya ketika engkau mendekatinya
Cahaya penuh harap itu bukankah ia adalah ladang tak terbatas
Untuk menanam benih-benih bebungaan indah yang memancarkan cahaya ? Di rumahmu kelak Ia adalah perhiasan-

Setiapkali aku mengulurkan uang untuk seplastik keripik singkong
Hatiku berkata: aku telah jatuh cinta padamu
Tunggu aku di atas trotoar depan masjid agung
Setiap pekan aku selalu akan datang
Melepas rinduku
Cintaku padamu
Adalah cintaku pada Nya

Temanggung 501212 



KUCARI-CARI KAMU

Menghampiri cahaya bulan tertutup awan
Dari semua jurusan…aku tak tahu
Wajahmukah atau wajahku
Dari semua penjuru
Karut marut ! Zaman
Aku mengenang apa yang telah terjadi
: rindu adalah suara kesepian
Sunyi adalah rasa rindu
Seperti lautan
Bergelora
Apa yang bisa kulakukan
Ketika kapalku terhempas ?

Aku hanyalah penyair
Lalu – menyusun huruf-huruf ?
Aku ingin kamu ada dalam sajak-sajakku
Tapi kamu tak ada lagi
Kapalku hilang kemudi

Kucari-cari kamu
ditumpukan reruntuhan negeri yang kacau
diantara serakan pidato-pidato sakit jiwa
diantara para politisi tanpa hati
-kucari kamu
Ya kucari kamu
Hatiku
Jiwaku
Nestapaku
Di sela sesak nafas gelandangan
Ada dimana gerangan harapan dan impian ?
Lalu apa harapan ? apa impian ?
Tak ada
Kucari-cari kamu
tak ada
Uf ! Bedebah !
Aku tersesat di negeri para maling
Aku tersesat di pusaran oligarki
Kata tak lagi bermakna , negara tak lagi punya harta
-Kucari-cari kamu
Tapi aku dan kamu
Tak ada. Matilah aku ! -

Temanggung 05012021



KITA HARUS MEMILIH

Kita harus memilih
Menghamili kefanaan
Ataukah terbang di atas sajadah
Mengarungi gelombang
Menari bersama para sufi
Diantara daun-daun kehidupan
Yang berjatuhan ?

Temanggung 22012121




AROMA MAWAR

Embun yang tercipta, bersama bertiupnya angin menandai kehidupan
Bunga-bunga beserta kupu-kupu, rerumputan dan tanah setengah basah.
Setangkai mawar memesona terselip diantara
Rimbunnya belukar
: kupalingkan mukaku dari kecantikannya
Kuhirup aromanya hingga menyentuh relung hati
Kubiarkan menjelmakan rasa gelisah
Kemudian sunyi, kemudian kehampaan

Temanggung 29052020



PELABUHAN SUNYI

Dan kalau tak ada lagi yang mencari cinta
kubiarkan rindu yang panas membakar habis
sampai menjadi abu: tapi tak kubiarkan tersia dalam tungku
kan kutiup hingga menari- nari di atas keranda
dan di bawah cahaya –Mu, menjelma butiran abu merindu
Cinta Mu , aku terus belajar menyintai
Bersama Mu berselancar
Ya latif…ya rahmaan…Ya rahiiim
Rindukan aku…rindukan aku selalu
Peluklah seperti ketika Engkau merengkuhku di padang Arafah
Dalam ketakberdayaan di puncak pertaubatan
-adakah aku ada diantara orang-orang suci
Yang telah Kau sucikan dengan cinta dan rindu Mu?

Kalau tak ada lagi yang mencari cinta
Kususuri jejak Rumi
Mengembara di gurun pasir tanpa batas
Hilang jiwaku dalam rindu
Mematahkan hati dalam ruang hampa
Yang gelap tanpa cahaya
: bakarlah hati
bakarlah hatiku ya Raab
bukankah *)surga terbuat dari asap hati yang terbakar ?

*)Petikan puisi Jalaluddin Rumi
Temanggung 22052020



JAM DINDING

Jam dinding, berdetak mengejar hati retak, hampir tanpa tiang penyangga tempatku berteduh- rumah kita yang pernah menjalin asmara itu seperti tak lagi berpenghuni-
Seorang perempuan baya mendadak hadir dan bercerita tentang takdir yang membuatnya berlayar sendirian dengan sebuah perahu:ombak bergulung dan badai !
: jalan di darat pun tak landai, itulah serpihan hidupku
Dan bagiku itu adalah ruang berdinding banyak cermin
Kehidupan adalah hakekat kenapa kita harus mengaca diri lalu sampai kita kembali membuka sebuah jalan untuk kembali bergerak dari ujung sampai ujung lainnya, katamu.

Rambatan waktu , seperti datangnya kematian tak mampu kita mencegahnya, denyutnya merajut semua impian, menciptakan ruang-ruang untuk menempatkan semua bilahan pada tempatnya.
Bersama denyutnya kita meninggalkan satu bilahan untuk kemudian kembali meletakkan satu persatu : ia bernama kehidupan, ada cinta dan rindu, harapan, luka serta keinginan untuk kembali bersama waktu mengukir sebuah prasasti.
: kalau kali ini ada cinta, kukatakan padamu sebagai tautan
kepada hakekat cinta pada yang memberikan cinta pada kita
kalau kali ini ada cinta , kukatakan padamu sebagai jalinan kerinduan mendalam bagi kekasih sejati di Ars, yang sentiasa menunggu kita untuk kembali- kita berjalan bersama …berjalan bersama dalam kemilau cahaya di langit

Aku selalu mencoba merebahkan diri untuk tidak mengenang masa-masa purba yang terbalut kegelapan, biar tersimpan saja pada tempatnya. Ingin rasanya Ini hari, impian kembali seperti gelombang, menyeret ke laut lepas menjelajah benua-benua jauh.
: ada sebuah ketakutan untuk kembali membentangkan layar di lautan
,kalaupun ada tangis biarlah nestapanya terbawa angin,lalu menjelma kabut mengembara menyusur sunyinya sendiri – katamu

Detak jam dinding, bergerak meninggalkan kematian demi kematian
Gelombang besar kehidupan menumbangkan keteguhan
Matilah aku dalam kegamangan dan kerontangnya jiwa.
Sebatang lilin telah padam, sebatang lilin telah padam
Dan kau seperti angin di penghujung musim
Semilirnya, bersama risik dedaunan, mengirim cahaya-cahaya embun
Dan kau menjelma sekelopak mawar
Terasa aromanya menghimpit sunyiku

Temanggug 27052020



SAJAK PAGI
(edisi kenes)

Pagi ini habis subuh
Butiran embun serasa aroma mawar
Setelah semalam kita berbincang
: ah sudahlah…
Biarlah hati yang terusik
Menunggu musim burung-burung bercengkrama
Di udara pacaroba bersarang dalam kehangatan
Kita tunggu saja kemana angin bertiup
Membawa kita pergi

Seperti berjalan berkilo meter
Kadang menembus kabut
Seperti anak muda
:ingin berjumpa tapi malu datang
Serasa ada cinta tersembunyi

Doa seperti menyatukan
gelisah yang menyekat
dan merekatkan jarak
: ah …sudahlah
Biarkan kerentaan
Pagi ini
Yang berbincang padaku

Temanggung 03062020


CUMULONIMBUS

Kehampaan terus memuncak, berlayar ia berlayar
Kepuncak tinggi di cakrawala
Mengejar matahari untuk bakar diri, ia tak dapat
Karena api telah habis bakar sayap Icarus
Ketika ia balikkan badan
Ia dapatkan ekor Cumulonimbus
--sambil tertawa-tawa
Ia mendaki sampai puncak berserabut
Ia bentangkan sayap-sayapnya
Berdiri
Ia tahu sebentar lagi puncaknya
berubah jadi badai petir-

: Bukan untuk mati ! teriaknya.

Lalu ? aku bertanya

Matanya saga, mulutnya seringai
:menerkammu berkali-kali

Temanggung 01062020



MANTRA RINDU

Aku tunduk dalam gaung hatimu
apakah gaung hatimu ?
Aku tetep tresno sliramu
Kangenku apakah tunduk dalam gaung hatimu ?
-Kamu sunyi di malam hari
Gunung , awan membiru
Angin, embun , risik dedaunan
Kau dan aku
Angin, embun dan malam di gunung
Akankan tunduk
Dalam gaung hatimu
Kangenku
Marang sliramu?

Temanggung06062020



KOMPOSISI SEBUAH LAGU
-Sajak buat seorang sahabat-

Jemari-jemari lentikmu
Tiba-tiba meluncurkan nada-nada
Berdesak-desakan diantara lima jari enam dawai
Ribuan waktu berloncatan
Mengurai lagi yang karam
Bait-bait puisi, kata-kata suci
Gelembung cinta dan rindu
Air mata dan sunyi

:Engkaukah atau jiwa sepiku
yang datang
dalam tembang kasmaran
meronce bunga-bunga melati
karena ombak kehampaaan
berayun-ayun selalu
hingga menjelmakan bayangan
-kau seperti aku
Mencoba melepas keheningan
dalam sunyi dan nestapa hati
Tapi ini kali
Kita tak boleh meninggalkan
Laut kita
Kita harus berani berdiri diatas ombak
berselancar
Diatas perahu retak

Lewati cahaya matamu
Hati biru mendadak kelabu
Roman muka seperti kaca
Bayangmu meluncur ke cakrawala
Gemetaran, sunyiku terus melebur
Bolak-balik kau mengendap
Antara harapan dan cemas
- Ah sudahlah ….sudahlah
hirup saja udara sepimu
Gantang saja hati hampamu
Sambil sisipkan lagu-lagu cintamu
Diantara lorong-lorong
Dan ruang-ruang tak bertuan-
Kata hatiku

Lewat jemari lentikmu
Dawai tak henti luncurkan nada-nada
Dalam komposisi tumpang tindih
Di segala ruang
Engkau singgah dengan letihmu
Hatiku seperti pelabuhan terbuka
Tapi tak tahu aku
Akankah kau menyandarkan perahu
Lalu bernyanyi-nyanyi kecil
Memecah sunyi ? Atau kekosongan hati
Yang begitu dalam menembus keterasingan
Dalam hidup yang sangsi karena kau pergi ?

Tak pindah-pindah
Nada mengisi nada
Seperti dawai kehidupan
Tak mudah kita mengurainya
Tak mudah !
-kita makin tak pernah mengerti sepenuhnya-

Temanggung05062020



PERNYATAAN CINTA

Dengan segala luka, dan rindu
Di atas sajadah butiran-butiran nafas menetes
Seperti air mata berkilau
Memancarkan pesona sekaligus kelu
Cinta membawaku pada perih
Aku , Kau rindukankah ?

Tak tahu kemana cintaku Kau bawa,
akan kah Kau beri aku kasih MU
Dalam ombak diam dan air mataku ?

aku mencium kasud Mu
Ya Raabku…ya Raabku
Bawalah aku bawalah aku
Hilangkan tak terbilang

Ini rindu melaut dalam langit MU
Ini kelu menunggu musim
Sampai Kau menyempurnakan cinta Mu
Menyempurnakan rindu Mu
Dengan membawaku pulang
Lalu menidurkan di bawah kelopak-kelopak mawar
Menghirup wanginya,
bersama embun dan hembusan angin
sampai semua air mata
tumpah dalam kesedihan

Temanggung 21061020



SUNYI

Sunyi malam berselimut rambatan ratapan
Yang tak menyembunyikan nestapa
Sendiri, hanya bersama Mu
Keindahan semesta
hanya bagi yang berani menatapnya
Dan membacanya melalui kalam-kalam
Dari Alif aku mengeja kembali
Dengan penuh kesedihan
Hidup tenyata tak berharga
Karena terpenggal kepalaku
Oleh harapan dan cemas
Sepanjang iring-iringan waktu

Temanggung 2020



PUISI DAN PENYAIR

Puisi hanyalah kata
Huruf-huruf yang tak bermakna
Karena puisi tak berkata-kata
Puisi hanyalah anak-anak panah
Yang terlepas dari busurnya

Penyair tak lebih dari seorang pengembara
Di lorong sunyi dan nestapa antara menang dan kalah
Ia tak kan henti memanah cakrawala
setelah menggoreskan ujung-ujung anak panahnya
pada hati dan jiwanya
lalu membiarkan anak-anak panah itu melesat-lesat

Penyair adalah pecinta tak pernah lelah
Ketika cinta melanda
ia tak tahu kapan dan dimana
Ketika cinta bersemayam di hatinya
Begitu lugas tanpa kerumitan
Karena perempuan adalah kehidupan
Meskipun cinta tak mempedulikannya
Ia akan begitu setia menungguinya

Penyair adalah pendendam
Ketika luka jiwanya menanganga
Ia tak akan pernah merasa mati
karena tikaman-tikaman
Dengan lukanya ia akan menghunus pisau
Menikam kekalahan-kekalahan
Sampai kembali berdiri tegar meski jatuh

Temanggung 130602020



KITA MAKIN TERPERANGKAP

Menyusur jalan setapak
Rumah-rumah meredup
Mereka pilih pasang lilin atau senthir
-kami tak lagi bisa bayar listrik yang mencekik
kami tak lagi punya kaki dan mulut selalu terbungkam -
Kata mereka

Nafas tidur mereka, sisa pergulatan yang kalah
Bau keringat mereka terbawa angin malam
Ditebarkan di atas kota
:terasa kah engkau membauinya ?
atau memang hidung telah mampat
bersama mulut terkatub, telinga bersumpal ?

Aha – banyak kata bertutur
Banyak kata melantur
Pidato sakit jiwa
Dan kami yang makin runtuh
Melepuh terbakar Corona
Terkapar diatas jalan raya
Igauan anak-akan makin tak bisa diterka
Esok barangkali angkat pisau
Tusuk dirinya sendiri

Tak bisa , tak bisa abaikan mereka
Anak-anak negri terluka
Perempuan-perempuan kekeringan air susu
Air mata masihkah punya harga ?
:kita terperangkap dan terpenjara
Dalam kegagapan

Teamanggung10062020



TERTETIH AKU


Tertatih dalam ruang Mu
Setelah terhempas
Takdir pada semesta
Aku tunduk pada Mu ya raab
Menghamba atas belaian
Kasih Mu
Musibahku
Adalah pahalaku
Musibahku adalah
Kasih Mu
Aku selalu
Duduk di ruang tunggu

Temanggung 19 februari 2020



SUDAHI KEPEDIHAN ITU

‘’sudah ..sudahi …! ‘’
Kata perempuan yang tak kukenal sebelumnya

‘’Biarlah semesta menyimpan cintamu bisu ‘’
katamu

Aku termangu di bangku penantian fajar
Bahtera langit membuat aku harus mengeja
Dari alif sampai pada huruf terakhir
:Kehidupan dan untaian doa

Harap cemas menunggu waktu
Seperti engkau dalam penantian
Tak ingin lama
Menanti angin bertiup
Membawa kita
Pada sebuah masa yang kita tahu
Tak kan datang
Biarlah rindu menyandu
Dalam semesta pilu
:Berjuta bisu

Temanggung 02032020


UNTUK KEDUA KALINYA, AKU PINANG KAMU 

Resah gelisah mencabik setiap pertiga malam
Rindu Adam membelah segumpalan awan
Langit menengarai dengan sebuah tanda baca
Disana terselip wajahmu, seperti namamu
Cahaya yang mulia (nurul karimah )
Seperti sebuah busur
Melepas anak panah
:pesonamu membelah jiwaku

Ini kali, kita berbincang dalam bisu
Antara ruh dan ruh
Jasadku memandangi dari segenap penjuru angin
Memaknai sebuah pertemuan
Ruh kita di sana, di segumpalan awan bercahaya
Jasadku disini dalam puisi antara kau dan aku
Dua percintaan terpisah menyempurnakan gumpalan rindu
:pesonamu
Pesonamu
Di altar tak bertepi
Merengkuh ruhku
Dari jasad tercabik
Mengembalikan ruhku
Dalam jasad terbelah

Ini kali kita bercinta dalam kata
Tak henti memindahkan segenap rasa
Agar malam tak terkubur dalam ilusi-ilusi
Kumaknai sebagai sebuah jalan
Membentangkan sebuah karpet merah
Bagai sebuah sajadah panjang
Ku menunggu kau menjemputku
-Bukankah langit tak pernah terpisahkan
dari birunya cakrawala ? Ini kali, aku pinang kamu
untuk kedua kalinya-

Temanggung 13032020



DHUA

Arrahman
Air mata
Pada dhua
Rinduku
Padamu mengenang

Al Mulk
Doaku
Cintaku padamu
seperti
gunung

Temanggung 2020



JAMAN PANDEMI

Sebagian orang hanya bicara protokoler
Setiap orang mati divonis covid-19
Media menebar ketakutan
Corona itu memang ada
Tapi juga tiada
Corona itu pandemi
Tapi juga bisnis dan korupsi

Orang lebih suka bicara protokoler
Tapi tak pernah merasa sesaknya dada
Orang-orang miskin di jalanan
Anjlognya harga cabe
Kuli-kuli bangunan yang tak lagi makan
Bergentayangan bagai mayat-mayat hidup

Di jaman baru yang disebut New Normal
Orang- orang merangsek jalanan
Mondar-mandir berburu sesuap nasi
Bagi yang begaji tentu bisa ongkang-ongkang kaki
Makan makanan bernutrisi, sambil ngopi
Dan terus mengepulkan asap-asap beracunnya
Tapi bagaimana dengan Poniman
Paidi dan beribu Poniman
Yang tak bergaji lainnya ?
Nasi basi pun tak ada
Pergerakan dibatasi
Di rumah saja !
Di rumah saja !
Bantuan hanya sekedar basa-basi

Di jaman baru, jaman pandemi
Ini lah jaman penuh teka-teki
Milik siapa Covid 19 ?

Orang hanya bicara soal protokoler
Hanya satu dua bicara hidup
Dan orang lupa
Kehidupan ada di jalanan
Di ladang-ladang kerontang
Dan orang lupa isyarat ihwal adzab
Dan orang lupa mengaca
Hingga tak tahu siapa kita
-Ibliskah, Dajjalkah, atau Manusia ?-

Dan kita
Menjelma sebagai mahluk
Tak beda binatang melata
Mengikuti naluri dan insting
Untuk hidup
Apa boleh buat
Harus berhadapan dengan maut
Sambil berteriak : jangan salahkan kami !

Temanggung 08062020



PERNYATAAN CINTA

Dengan segala luka, dan rindu
Di atas sajadah butiran-butiran nafas menetes
Seperti air mata berkilau
Memancarkan pesona sekaligus kelu
Cinta membawaku pada perih
Aku , Kau rindukankah ?

Tak tahu kemana cintaku Kau bawa,
akan kah Kau beri aku kasih MU
Dalam ombak diam dan air mataku ?

aku mencium kasud Mu
Ya Raabku…ya Raabku
Bawalah aku bawalah aku
Hilangkan tak terbilang

Ini rindu melaut dalam langit MU
Ini kelu menunggu musim
Sampai Kau menyempurnakan cinta Mu
Menyempurnakan rindu Mu
Dengan membawaku pulang
Lalu menidurkan di bawah kelopak-kelopak mawar
Menghirup wanginya,
bersama embun dan hembusan angin
sampai semua air mata
tumpah dalam kesedihan

Temanggung 21061020



SUNYI

Sunyi malam berselimut rambatan ratapan
Yang tak menyembunyikan nestapa
Sendiri, hanya bersama Mu
Keindahan semesta
hanya bagi yang berani menatapnya
Dan membacanya melalui kalam-kalam
Dari Alif aku mengeja kembali
Dengan penuh kesedihan
Hidup tenyata tak berharga
Karena terpenggal kepalaku
Oleh harapan dan cemas
Sepanjang iring-iringan waktu

Temanggung 2020



DOA

Seperti biasa aku berbincang dengan Mu, menyibak tirai pertiga malam
Kupasrahkan pada Mu mengikis segala rupa dalam satu pelukan
:Aku tunduk ketentuan terbaik, aku reguk segala resah dan nestapa
Untuk Mu, kekasih sejati semesta
Ya Raab ..pancarkan cahaya cinta Mu
Padaku, dan padanya karena Engkau yang menggenggam
Engkau yang menata, Engkau yang memetikkan buahnya
Ya Raab
Aku hanya punya rasa, aku manusia rindu dalam gelap
Ya Raab…..cahaya cintaMu….adalah pelita hati
Di pintu Mu aku besimpuh
Sampai sayup
Sunyi
Merengkuh

Temanggung Juni2020

MOHAMMAD AS'ADI

Kumpulan Puisi Tito Semiawan - CATATAN PERJALANAN



CATATAN PERJALANAN

Jalan masih simpan deru
Sepanjang akasia menguning
Secabik rindang mencoba teduh
Menepis silau kemarau
Bangunan berderet lesu
Menatap hiruk pikuk sore kumuh
Angin timur merontokkan daun
Menghitung sibuk di luasan kalbu

Sungai membawa hijau
Hanyut di tenang riak
Bukit menghindar terik
Batas kontur horison
Tinggalkan semak meranggas
Tanah kerontang pecah
Kanopi langit sepanjang bayang

Pohon kapuk melepas putih biji
Dingin peluk bediding
Janapada riuh hajat senja
Lembayung payungi pengantin
Kilat foto merekam catat sejarah
Wajah sumringah gaun berkibar
Sayup azan mengeja maghrib
Matahari tenggelam

Lampu menebar terang sejarak mata
Menunjuk arah pulang nun di sana
Perjalanan susuri malam
Menyibak ramai padat merayap
Mendekap setangkup kantuk
Dikejauhan jarak telah lelah

Tito Semiawan
271220
----------<0>----------





BALAPAN ANTRI

Pagi masih bertirai dingin
Aku bangun dahului mentari
Mengejar antri nomor kecil
Agar tuntas cepat periksa klinik

Motor melaju kencang
Angin menerpa sisa kantuk
Harap cepat tiba di barisan
Bayar lunas penantian

Di depan klinik antrian mengular
Alamat mendapat nomor besar
Berdiri menanti dengan kecewa
Tetap sabar karena butuh obat

Tito Semiawan
271220
----------<0>----------





SEKALI LAGI MENGENAI AIR MATA

Jangan menangis kenang
Dukamu nestapa hirau asmara
Tetes air mata berwarna haru
Basahi luka hujam rindu

Ingatmu pejam lentik bulu mata
Menanti harap cemas pertemuan hati
Kilau air mata basahi wajahmu kasih
Mengeja bahagia di senyap gulana

Usah pedih merajam sedih, cinta
Nafasmu hangat birahi Kama Ratih
Air mata mengalirkan pilu derita
Seperti dusta mengiris. Perih

Pandangmu degup risau bola mata
Bisikkan nama pada semilir angin
Butir air mata menyibak sangka
Menetes menjadi dukamu abadi

Tito Semiawan
271220
----------<0>----------



AKU DAN BANGKU TAMAN

Sebenarnya angin tidaklah menegurku dengan sengaja
Karena sepoinya menghembus rindang di antara rimbun daun
Setidaknya silirnya menghampir bawa semilir meniup rambutku acak
Dan aku terdiam sendiri bersama bangku taman menatap senja

Ketika matahari perlahan menutup tirainya di ufuk lembayung
Bangku memilih kekasih seperti asmara muda mudi berbagi rindu
Di lintasan anak-anak berlarian mengejar ria hingga lelah keringat
Aku tetap sendiri dengan bangku mengeja sepi yang asing

Taman nampak cantik tersiram sinar lampu
Pepohonan berusaha sembunyi dari terang asmara
Pasangan berpegangan tangan rapat menolak dingin malam
Aku menatap rindu dan bangku memeluk duka

Malam renta kian menghujam dalam kelam merkuri
Desir angin perlahan mengisi lengang sunyi menghimpit
Aku meninggalkan bangku taman yang gigil sendiri
Bangku taman memandangku dengan sedih merintih

Tito Semiawan
030122
----------<0>----------



SALAH DUGA

Sahabat, ucapku tiada kitab suci
Mengeja benar salah dengan hitam putih
Menunjuk bodoh dengan tiga jari menuding hati
Mengiris baik buruk dengan mata pisau adil

Sahabat, ucapku tiada kitab suci
Sebab nalar selalu memihak diri
Sebab ucap menakar langkah lari
Sebab menang kalah jadi kunci

Sahabat, ucapku tiada kitab suci
Sadari batas pertimbangan nurani
Mencari jarum di tumpukan jerami

Sahabat, ucapku tiada kitab suci
Sebab hanya terjemah yang tersurat
Sebab hanya meraba yang tersirat

Tito Semiawan
030121
----------<0>----------



BINCANG SAHABAT

Kita bincang lewat ketikan bahagia
Tanpa suara tiada sua muka
Hanya tatap bisu mendera layar
Kadang senyum sendiri
Membaca pikirmu terpampang
Kerap simpati dan empati
Diwakili gambar lucu di ujung kalimat

Percakapan makin intens
Malam kian tua
Sepi mencengkram
Mata nanar mengeja pesan
Jari menjawab segenap tanya
Secangkir kopi pahit
Sebagai orang ke tiga yang menyela

Musuh kita hanya satu
Listrik yang padam
Memutus aliran berita
Sedang lelah dibiarkan menumpuk
Melecut stres menolak kantuk
Menepis mangkel yang membunuh
Musik sayup mengalun dari pemutar digital

Sekian lama menatap jawab
Ketikan salah huruf melompat
Pinggang dan leher mulai meregang
Didera nyeri yang menggigit
Aku pamit pada sahabat hati
Komputer kumatikan
Lalu berbaring letakkan lelah

Tito Semiawan
030122
----------<0>----------



KONTEMPLASI

Sekian langkah sejarah
Musim tak selalu menguning
Jalan mencari arah
Menjumput dosa pahala

Sedikit luang menyulam luka
Sesal menoreh kenang
Rambutpun putih waktu
Kedip mata sisa usia

Senja bungkukkan bahu mentari
Langkah tertatih hindari onak
Bayang memanjang sentuh pikiran
Hati tenggelam di dasar kenangan

Tito Semiawan
030121
----------<0>----------





BUNGA DI SEKITAR SANG PEMULA: BUNDA


Bunda.
Ucapmu lembut tiada penghakiman
Limpahan kasihmu air susu pengetahuan
Menetes dari dada Jawa sejati
Tiap belai di lembar rambut
tulus curah cinta ibu bumi
Kau bunga feodal seribu kungkung
Pasrah hati sukacita bakti suami
Di rahimmu sabda leluhur serupa jimat
Adat dijunjung ugama dipikul
Bunda,
Dari garba sucimu tumbuh buluh perindu
Pucuknya menuding langit
Menjunjung luhur memendam dalam
Hanya hamba, anak durhaka, batang bengkok
Tercerabut dari serabut babad
Kerdil oleh modernisasi yang menyihir
Namun kasihmu tetap merengkuh dahagaku
Tiada beda dalam cinta serumpun bambu
Bunda,
Di pelukmu ku tersungkur
Mengecil kerdil
Tetap merengek
Merajuk dan terpuruk
mengeja surgamu

Tito Semiawan
100121
----------<0>----------





BUNGA DI SEKITAR SANG PEMULA: NYAI

Dari Tulangan kau adalah komoditi
Harga yang harus dibayar untuk jabatan
Sesuai jumlah hormat penduduk
pada gelar dan kerja
Dari keterpurukan kau balik telapak
Kau putus nadi persaudaraan
Kau urus tuan besar dengan patuh bakti
Kau rebut obor pengetahuan
Dengan lapar dahaga pencerahan, kau genggam dunia
Dengan bangga seorang wanita, kau tunjukkan pada masyarakat dahsyatnya ilmu di tangan ambisi
Wanita pribumi yang sanggup menggenggam buhul jiwa
Berdiri sama tinggi dalam kulit dan gender
Sejajar dalam sulit dan untung
Engkau, Nyai berhati bangsawan
Auramu elegan ningrat berharta
Ucapmu didik sopan tatakrama
Wawasanmu luas laksana buku
Dagang alatmu menaklukkan hidup
Putrimu pengatur gerak usaha
Pengawalmu darah pendekar Madura perkasa
Sihirmu menanggalkan katak dari tempurungnya
Mama, baktiku untuk cerdasmu

Tito Semiawan
100121
----------<0>----------




BUNGA DI SEKITAR SANG PEMULA: MAY

May, ingatkah ketika kita jalan berdampingan
Kaki kecilmu tergesa mengejar langkahku
Ketika itu sore mulai menguning
Jari-jarimu mungil menggenggam erat lengan
Kau mengoceh ceria layaknya prenjak
Riang, lugu dan murni
Kau tuding layangan di langit biru
Kau pandangi kagum kereta angin
Berjalan kencang tanpa penghela
Membelah jalanan kota
Jika lelah kita duduk di tepi lapangan
Bau rumput menggelitik hidung
Kau lanjutkan cerita
Tentang sekolah,
nyanyian yang dihafal tadi pagi
Ayah yang pemurung dengan dunia lukisnya
Tentang kakinya yang tunggal
dirajam gejolak bumi serambi
Engkau, May, adalah buah cinta terlarang
Antara marsose dan pribumi gagah penentang maut
Ibumu mati bawa noda tanpa dosa
Ditembus tajam rencong adik tercinta
May, cita-citamu telah tergapai
Suaramu memenuhi angkasa mengalahkan kicau burung
Namamu harum cemerlang
Buah bibir setiap bangsa
Aku tiada sesal memutus tali kasih kita
Sebab di hati engkau hanya adik kecil
Jagalah papamu dengan cinta
Juga mama dengan hormat
Jadikan suaramu pertanda jaman

Tito Semiawan
100121
----------<0>----------




BUNGA DI SEKITAR SANG PEMULA: MAGDA

Mevrouw,
Kau ajar tiap lapar mata dengan ilmu
Menanam tanya di ukir jiwa suci
Lidahmu tajam sembilu kata
Letakkan jujur pada goresan pena
Menutur peradaban dahaga pribumi
Pandanganmu balas budi tanam paksa
Politik etik ras terhadap hutang kemakmuran
Pengusung bebas kerakyatan berdikari
Wajahmu totok bertotol musim khatulistiwa
Hati condong pada kawula
Dengan keringat menyeka gerah kemarau
Cakrawala kau bentang di bumi manusia
Mata gelisah curiga kolonial
Tetap biru pada tekad
Guru adalah predikatmu
Politik cara hidupmu
Deportasi tulisan nasibmu

Tito Semiawan
100121
----------<0>----------




BUNGA DI SEKITAR SANG PEMULA: SAR & MIR

Tatap mata kalian heran tawarkan selidik
Memandang pribumi, Jawa, mengunyah kikuk
Sebelah kaki menginjak budaya adiluhung
Sebelah yang lain mengecap pengetahuan modern
Kalian wakil peradaban maju
di bumi pribumi bermakna feodal
Alumni tengil memplonco adik kelas lugu ragu
Kalian benamkan semua harap pembaharuan
di kepala bertudung blangkon penuh tanya
Kalian ejek peruntunganku nan gemilang nun di depan
Kalian cemooh hidupku dengan istri dan selir
Juga kuasa yang menindas kawula alit
Kalian kata pribumi bangsawan wajib terima garwa
Berdarah murni eropa atau indo
Agar tidak semena-mena pada wanita dan ibu
Kalian tertawa lepas nampak geligi
Tanpa tabu mengungkung
Kita bersanding di bangku taman
Aku memeluk diam yang menggigil didera patuh
Kalian terus mencecar dan mendobrak perisai akalku
Kalian laksana jembatan peradaban
Menjejalkan pokok pikir
menyandera ketidaktahuan ku yang papa
Mengerut jiwa mencoba bebas beban pencerahan
Sar, kabarmu putus oleh jumlah rotasi mentari
Semoga peruntungan tetap memihak persahabatan kita
Mir, demi anak kau beri durjana dosa birahi di pangkuanku
Kita seperti binatang menoleh dari sibuk suamimu
Ketika kau kandung buah hatimu sayang
Aku hanya termangu menatap perutmu buncit
Aku yakin buah itu tidak kau petik dari diriku
Sebab aku mandul, Mir

Tito Semiawan
100121
----------<0>----------




BUNGA DI SEKITAR SANG PEMULA: ANN

Engkau adalah bunga akhir abad
Rambutmu lebat sentuh ikal
Hitam berkilat khas pribumi
Wajah bagai lilin tuangan
Lekuk sempurna proporsional
Mata kejora coklat hazel
Ditudung alis lengkung serasi
Hidung bangir bercuping indah
Menggantung bibir merah gairah
Pipi halus menyangga cantik
Kulit putih lembut beludru
Postur seimbang keindahan creole
Tubuhmu wangi gadis remaja
Kecantikan dewi kahyangan
Titisan Nawang Wulan berdarah atas angin

Kau pikul tanggungjawab
Kelas empat ELS pun tiada usai
Dicampakkan dari dunia anak yang lugu
Pada kerja yang menguras keringat dan air mata
Perlahan terampil kau rebut hingga ahli
Memerah sapi hingga cepat dan banyak
Mengawasi panen hingga rapi di gudang
Memimpin dengan tegas dan kasih sayang
Hormati semua yang memberi hidup dan kehidupan
Lincah menegur dan menerima salam
Bak kupu-kupu hinggap di tiap bunga
menebar bahagia dan optimis

Ingatkah ketika aku bertemu ayahanda
Kau dandan cantik berkebaya hijau
Perhiasan menempel di tubuhmu gemulai
Rambutmu digelung tinggi
Jenjang lehermu putih berkalung jamrud
Kau dandan untukku, kata mama
Kita makan malam
Menikmati sapi muda utuh
Tersaji di meja bundar ukiran jepara
Pembicaraan kita seketika putus
Sosok tinggi besar limbung berjalan
Masuk dengan wangi yang keras menusuk
Dan berhenti tepat di depanku
Lalu berteriak lantang
Mengatakan aku monyet
Biarpun berpakaian eropa
Tetap saja inlader rendah cacad adab

Ann, istriku
Bundaku berkata
Kau jelita titisan bidadari
Kecantikan sempurna di pandang mata
Leluhur akan berperang
Memperebutkan ukiran dewata
Hamba keindahan surgawi
Negara akan tumbang
Memohon perhatian jelita
Rajapun masygul ranjangnya tak kau toleh

Ann,
Guruku Mevrow Magda
Sangat memaklumi
Mengapa aku pilih kau bunga keindahan
Setelah fitnah menjalar
Di sekolah ku tahun terakhir
Beliau mafhum sebuah harga yang pantas
Untuk menyunting kecantikan creole sempurna
Beliaupun telah kembali ke negeri atas angin
Melepaskan juangnya karena pengusiran

Kau kata kau masih sering bermanja
Jika malam telah penuh dan bulan mengeluh
Kau datangi peraduan mama luas
Kau benamkan tubuh di balik selimut sulam
Dan dengan aleman kau peluk leher mama
Sambil merengek minta diceritakan masa kecil mama
Setelah usai cerita
Kaupun tidur lelap merangkul mimpi

Waktu kau sakit
Pedalamanmu yang merana
Akupun berpura dokter merawat pasien rewel
Hingga seri wajahmu semu merah kembali
Malam itu,
Setelah menyelesaikan latihan soal aljabar
Tiba-tiba kau menggelandot mohon
Minta ditemani baca cerita pengantar mimpi
Dengan patuh kuikuti kehendak dewi kecantikan
Kupapah ke kamarnya indah bernuansa pribumi
Kau rebahkan diri di dipan
Dan minta diselimuti hangat
Dengan rengek penuh perintah
Kau mohon cerita apapun asal kau mendengar suaraku
Ketika bercerita
Bau perawanmu menghujam kelakianku
Langit tetap berpaku bintang
Dan kami menjadi sekelamin binatang purba

Dari kerapuhan cermin retak
Aku sadari kuat jiwamu
Kau cerita tentang rumput gelagah
Tempat kita lewati ketika berkuda
Ya, disanalah
Disanalah kakak biadab tiada berperi manusia
Menggagahi putih jiwa kecantikan creole
Setelah pengakuan mengguncang jiwa
Akupun tersandera tanya
Jika aku percaya pada kemurnian dewi
Dan malam semakin renta
Anginpun meniup birahi
Kamipun telanjang seperti sepasang asmara
Mengarungi birahi

Kini kau tercerabut dari tanah dewi Sri
Menekuri dingin angin laut utara
Sendiri dengan membawa cinta kita
Kita terpisah karena hukum yang memihak
Kau dalam perwalian saudara
Saudara yang tak pernah memandang
Hingga waktu diputus hukum
Cara lain utuk merampok
Hasil kerja keras pribumi
Pribumi yang tidak berhak karena nasab
dan darah yang mengalir
Tapi kami, aku dan mama, sadar
Kau sedang menjemput kematian
Karena itu kami akan terus berjuang
Melawan sistem menindas
Walaupun kami yakin
Kami akan kalah

Tito Semiawan
100121
----------<0>----------



MENGAPA SEMBUNYI

Kata tak akan melukis wajahmu utuh
Sekedar basa basi berdalih malu
Meski jujur tak nanti tampak hadap
Tatap lebih jelas dari seribu ungkap

Gambarmu lebih indah dari sosok
Sebagai cemas salah menilai diri
Berhentilah mencoba membaca hati
Sebab kasat mata telah cerna banyak

Mengapa sembunyi
Bila komunikasi
coba sambung silaturohim

Mengapa sembunyi
Jika membuka diri
campakkan benci

Tito Semiawan
170121
---------<0>----------



MENUNGGU GILIR

Lelaki tua lelap tekuni mimpi
Rebahkan lelah di bangku sunyi
Meringkuk berselimut ringkih
Pejamkan mata dengkurkan sepi

Perempuan tua tekuri bosan
Menatap waktu dan diam
Berdiri di kerumunan antrian
Menanti gilir kesempatan

Lelaki dan perempuan tua memikul letih
Dengan renta di pagi merepih
Usia tiada kecuali merapat baris
Sebab tiba menjadi batas garis

Tito Semiawan
170121
----------<0>----------



MENUJU SENJA

Tahun hilang dihanyutkan kenangan
Pergulatan tanpa tindak hendak
Ketika pijak tinggalkan langkah
Hati termangu menatap kesiaan

Telusur jejak di senyap sejarah
Seperti lagu tak nanti usai
Setiap tanda hadir kesadaran
Hanya sisakan letikan sesal

Senja terbata mengeja usia
Wajah menanti kepastian lalu
Kelabu rambut hanya pertanda waktu
Dan kita disini terdiam kian tua

Tito Semiawan
170121
----------<0>----------



DAUN

Dan daun luruh berguguran dipelukan ibu bumi
Menanti isak langit di dahan ranting
Dibawanya semua warna kemarau yang menguning kering

Angin telah lelah memikul kerontang
Kadang bisikkan harap di puncak kulminasi
Mengusik burung tempua di pelepah

Daun jatuh dan bayang pohon memanjang
Rindangnya serupa pukau silau
Gemerisiknya khusyu lantunkan mantera hujan

----------<0>----------



SIKLUS

Kering letikkan panas lelatu
Angin tiupkan kematian pada kobarnya
Melahap daun dan ranting serupa bara, merah
Asap membumbung hadirkan maut

Pohon menghitam terawang langit
Bau gosong sesakkan nafas
Tiap hidup yang bergantung
Tumpas lenyap dilalap api

Ketika amarah telah arang dan abu
Langit teteskan harap dari celah awan
Air basuh luka bumi perciki benih kehidupan
Tumbuhkan tunas dan daun, hijau

Tito Semiawan
170121
----------<0>---------- 


BUNGA DI SEKITAR SANG PEMULA: ANG

Datangmu negeri jauh
Menjejak di tanah asing tanpa sanak
Kau cari kekasih hilang kabar
Berjuang demi Asia modern

Tubuhmu ringkih
Kurus penyakit
Batuk demam
Pasi wajah

Kita sua di pondokan
Kau datang dengan tanya
Ku undang ramah istirahat
Berbagi makan bertukar cerita

Ku lamar kau dengan segenap cinta
Kau terima sepenuh pengabdian wanita
Rumah tangga kita ramai diskusi
Terjemah modern di alam kolonial

Ketika tubuh mampu terima beban
Kau kembali berjuang bawah tanah
Jika siang lelap kutemui
Malam merambat kau jelajahi perjuangan

Kau adalah buron
Gupermen selidik gerak bebasmu
Aku adalah lindung tubuh ringkihmu
Tanpa dekap tanpa birahi. Hanya bakti

Di akhir perjalanan
Sakitmu merenggut tubuh kurus
Kenanganmu tertuang dalam foto pernikahan
Ku simpan di kopor tua berkarat

Tito Semiawan
100121
----------<0>----------


BUNGA DI SEKITAR SANG PEMULA: PRINSES

Kau putri raja dari kepulauan timur Hindia
Tudingan makar raja terhadap kuasa putih
Diasingkan di Priangan jelita pedalaman
Darahmu panas turunan gagah pahlawan kulit tembaga
Lantang bicara tolak basa basi
Berani berbuat tiada jeri
Lugas tuntas memutus masalah
Cakap bidik dan tikam tajam
Jika kuda berlari tubuh kecilmu menari
Anggun pelosok tak lunturkan gesit

Prinses, kau istri dan pengawal
Disisimu aman jadi sifatmu
Dalam sibuk kelola berita
Ku tuai panas asmara di malam berangin
Kau lindungi sang pemula
Dengan pengabdian istri tanpa kecuali

Ketika tiba ancaman menggoyang soko guru
Dengan gagah kau hadapi dusta khianat
Kau hujamkan timah panas pada kematian
Atas nama kehormatan yang kau junjung
Tak ada peradilan apapun tudingan
Hanya berita terbawa angin
Sebab kau darah bangsawan di atas hukum

Pada akhirnya
Ketika aku memeluk sunyi
Dalam kubur tersembunyi
Kau pun tidak menengok istirahatku
Sama dengan bunga-bunga yang lain
Hilang terbawa angin
Ditelan sejarah

Tito Semiawan
100121
---------<0>----------
TITO SEMIAWAN


Kumpulan Puisi Eko Windarto - TERAWANGAN



TERAWANGAN

negarawan
tanpa beban

kejujuran
menghindari kepahitan

kepentingan
bukan kebaikan

di masa depan
ledakan lahir melebihi kemampuan

Batu, 5122020



MEMBACA FENOMENA


esok hari gempa melanda
pandemi tak berubah nama
manusia lupa menjaga jiwa
sebelum mengenal makna
tujuh ayat cinta

tahun depan geopolitik bicara
hantu korupsi meraja
budaya malu tiada
diantara berjuta petaka
kami harus mencipta

meski lewat daya dan luka
jalan lempang masih ada
menghindari gejolak alam semesta
jika tidak bisa
segera bercermin pada air mata

Batu, 11122020
SITUASI
karena metromini bukan Morowali
geopolitik bicara lagi
Batu, 22122020



KASUNYATANKU

aku berkelana dalam hatiku
sebelum kutemukan kandungan ilmu

kubakar lilin di hatiku
sebab kematian adalah kelahiranku

Batu, 17222020



GAMBARAN


banyak bicara
lupa lidah dijaga

kenyataan dilukis warna-warni
hanya akal-akalan saja

agama dijadikan topeng
viral
ambyar

Batu, 11122020



DI SINI

di sini, pertarungan agama-agama mengundang pedang
merupakan bayang-bayang yang kau tebang
di sini, tujuan hidup kau tutup dengan dalil-dalil panjang mengambang
sebelum mengenal tembang surga yang kau jelang

di sini, pengembara bahasa sibuta meraba-raba
mencari kemenangan rasa yang tak kunjung tiba

di sini, kekalahan dan luka
menjadi puisi pusat upacara muara sukma

hitam putih menjadi kebutaan sehari-hari
sebagai tradisi melupakan hati sendiri

wahai...terang mentari mayang
sirnakan kebutaan, sirnakan kegelapan dari langit hati yang paling gamang

Batu, 29122017
Batu, 26122020



SEDIA PAYUNG SEBELUM HUJAN

terus berdoa
sebelum badai
mencerai-berai

hujan dan samudra
pertanda gempa
mau bicara

fenomena semesta
diguncang dusta
manusia lupa ke muara

bercermin pada berita
esok ternoda
lusa dimakan usia

yang ingat jiwanya
selamat bahagia
dari bencana

Batu, 412021



RAHASIA TAHUN BARU

Rahasia dan cinta adalah mutiara
Pesta tahun baru hanyalah pemborosan properti

Batu, 112019



KONSPIRASI KONGLOMERAT?

pandemi pergi
ekonomi global hidup kembali

Batu, 31122020



#misda
SAJAK IBU


Ibu adalah puisi
Mengasah kasih setiap waktu
Menyinari aksara

Cintanya tak ada ujungnya
Sebagaimana rindu mengetuk pintu-Nya

Batu, 21122020




NUBUAT

pesawat akan jatuh kembali?
luka dan duka jadi menjadi
lewati jalan caos ini

setelah hujan dan gunung meletus berhenti
segumpal pertanda membanjiri hati
melukis pelangi

naga-naganya
esok matahari menyala
ketika Resi diganti Kurawa

saat Pertiwi berduka
tanam biji palawija
di atas tanah surga

Batu, 912021

EKO WINDARTO


Kumpulan Puisi Iman Kurniawan - GADIS DIBALIK TABIR HUJAN



GADIS DIBALIK TABIR HUJAN

Tatapan kosong menerawang
Entah apa dibenaknya dan entah apa yang mengganggu mimpinya
Tubuh kurus berbalut kaos oblong
Berteman umberella warisan sang nenek

Gadis menggigil menahan jahatnya sang bayu
Bibir mungil gemeretak bagai alunan piano
Gadis dibalik tabir hujan
Disudut jalan gang kelinci
Berkelahi melawan congkaknya pencakar langit
Tatapan sinis
Cibiran sinis
Lalapan gadis dalam harian
Kepal tangan lemahnya menanti keikhlasan insan berhati malaikat
Bernyanyi dan bernyanyi walau pahit

Dua puluh ribu dalam genggamannya
Hanya sekedar bertahan hidup
Entah esok
Entah lusa
Akankah ia dapat bernyanyi kembali bersama tarian hujan

Gadis dibalik tabir hujan
Tak mengenal ini ibu budi
Tak mengenal ini ibu wati
Hanya lagu ya nabi salam alaika ya Rosul salam alaika
Mengalun indah dibibir mungilnya
Dalam derasnya hujan dipenghujung tahun
Gadis ayu nan mungil berharap bermimpi idolanya didalam tidur panjangnya

LB
Pondok Gede
30 Desember 2020

.
BIDADARI KECIL


Cantik
Manis
Gemas
Tatap mata liar memandangmu
Bidadari kecilku
Sungguh indah dirumu

Kan kukurung dirimu
Kan kubingkai wajahmu
Kan kugores senyummu
Dalam keranda cinta
Dalam album merah muda
Dalam kanvas warna warni

Tumbuhlah kau secantik Aisyah
Hiasilah perangaimu selembut Khodijah
Balutlah indahnya tubuh dengan tabir Fatimah
Tangkaslah dirimu bak Al Khonsa
Alunkan dari bibir manismu
Ayat- ayat cinta-Nya
Airmatamu
Canda tawamu
Lintang bersinar indahnya

Wahai,bidadari kecilku
Wahai,permata hatiku
Teruslah bernyanyi
Hingga ilalang ikut melambai
Burung- burung menari bersama
Bayu membelai ayu wajahmu

Marwah dirimu dengan iman
Tabir suci dirimu jangan kau koyak
Teruslah melangkah
Rengkulah cinta abadi-Nya
Dalam sujud panjangmu dimalam hening

Love Bird
Pondok Gede
1 Maret 19
08:47




KU RINDU PELUK HANGATMU


Bunda
Kurindu peluk hangatmu
Kurindu belai lembutmu
Kurindu
Kurindu
Tawamu
Candamu

Teringat masa kecilku
Polos tubuh ini tertidur dipelukannu
Merdu suaramu
Melodi pelangi penuh warna
Merasuk hangat
Membungkus
Mengurungku
Mengikatku
Hingga terlelap diri ini

Bunda
Semua kisah indah bersamamu
Kubingkai dalam album biru
Tetes airmatamu
Alunan kata-kata sakralmu
Mengguncang kursi-Nya

Kuhanya ingin melihat wajahmu
Tersenyum
Kuhanya ingin lihat candamu
Mesra
Ijinkan aku bunda
Merawatmu
Menjagamu
Mencintaimu
Hingga tubuhku terikat
Terikat dalam sangkar cinta-Nya
Abadiku bersamamu

Bunda

Love Bird
Pondok Gede
28 Feb 19
17:55




MENTARI DALAM GENGGAMANKU


Mentari dalam genggamanku
Genggamanku penuh bara
Bara bergelora menghujam
Menbakar sombongnya
Hingga terkoyak- koyak tubuhku

Kan kubuka genggaman tanganku
Kulempar mentari ketubuhmu
Tubuhmu penuh kebusukan
Kebusukan,kemunafikan
Topeng indah penuh racun berbisa

Kukatakan padamu mentari
Tetaplah kau dalam genggamanku
Biarkanlah mega menangis
Menangis rindu hangatnya dirimu
Kan kubingkai mentari dalam keranda
Keranda kematian bagimu sang durjana

Mentari tertunduk pasrah dalam pelukanku
Mega merana
Banyu membisu
Bayu mematung
Negeriku gelap
Negeri merana
Tercabik-cabik
Badut- badut penuh pesona
Tebarkan tawa penderitaan

Saatnya nanti
Kan kulepas mentari kembali tersenyum
Kala hutanku kembali perawan
Kepak garuda memayungi nusantara
Merah putih berkibar
Anak negeri kembali bernyanyi,menari
Bebas
Lepas
Tertawa

Love Bird
Pondok Gede
28 Feb 19
07:37



Penantian


Deburan ombak
Desiran bayu
Nyanyian camar
Lembayung memayungi
Kuterpaku mematung
Melepas pandang jauh
Merindu
Ya
Merindu

Hamparan pasir putih
Saksi bisu
Kesetianku
Pengorbananku
Jenuh
Lelah
Sepi
Sunyi
Suara alam membisu

Akankah dirimu hadir
Bawa sejuta senyum
Gelora rindu menari- nari
Membiusku dalam dinding hampa
Sendiri

Wahai banyu bawalah rinduku
Bayu hembuskan nafasku tuk dia
Camar nyanyikan melodi indah
Kurunglah dia
Ikatlah dia
Bilik hatiku merindu
Kuingin rasakan hangat peluknya
Bersama dirinya selamanya



Penantian

Deburan ombak
Desiran bayu
Nyanyian camar
Lembayung memayungi
Kuterpaku mematung
Melepas pandang jauh
Merindu
Ya
Merindu

Hamparan pasir putih
Saksi bisu
Kesetianku
Pengorbananku
Jenuh
Lelah
Sepi
Sunyi
Suara alam membisu

Akankah dirimu hadir
Bawa sejuta senyum
Gelora rindu menari- nari
Membiusku dalam dinding hampa
Sendiri

Wahai banyu bawalah rinduku
Bayu hembuskan nafasku tuk dia
Camar nyanyikan melodi indah
Kurunglah dia
Ikatlah dia
Bilik hatiku merindu
Kuingin rasakan hangat peluknya
Bersama dirinya selamanya



TABIR SUCI BIDADARI


Tabir suci bidadari
Menyelumuti kursi- Nya
Berpadu dalam aksara
Melantun indah dalam Asma
Tertunduk penuh ridho

Bidadari suci bermata indah
Tubuh putih beraroma kasturi
Senyum mesra penuh kasih
Belai lembut sayapmu
Merasuk hati
Tubuhku terkurung salju abadi

Buku suci jadi saksi
Terpatri namamu abadi
Kuikat cintaku pada tiang Tajmahal
Kulantunkan janji meruntuhkan uhud
Bidadari hadir dalam kamar asmara

Tetaplah kau bidadariku
Bidadari lembut nan elok
Buatlah bidadari bersayap cemburu
Mahligai melati harum bersamamu
Bawalah daku keistana zamrud
Abadi

Love Bird
Pondok Gede
26 Feb 19
12:49




KEKASIH SYURGA


Lima belas tahun tlah berlalu
Kubuka album merah muda
Terawang angan menggoda
Menari- nari burung- burung
Melantunkan simphoni klasik
Teringat
Terkenang
Penuh rasa
Saat indah bersamamu

Kekasih syurga
Pacar abadi
Terbingkai buku suci
Terikat keranda kencana
Tersimpul janji abadi

Suka
Duka
Airmata
Amarah
Canda tawa
Terbalut aksara indah
Terpintal dalam sajadah Rohman Rohim
Terkurung kerangkeng lintang

Bidadari penuh cinta
Bidadari tulang rusuk
Nyanyian ayat- ayat cinta
Mengalun bagai simphoni klasik
Lembut belai sayapmu
Sukma terlena dan terkapar
Dekap hangat kekasih syurga

Love Bird
Pondok Gede
25 Feb 19
08:27




CINTA PELUKLAH AKU


Senja tersenyum dibalik Bromo
Nyanyian jangkrik melelehkan rindu
Bayu membelai lembut
Rintik hujan bagai simphoni mozart
Cinta peluklah aku

Perlahan mentari kepembaringan
Rembulan tersenyum manja
Dingin menyelimuti sukma
Kuingin hamparkan cinta padamu
Bromo memerah tersipu malu

Cinta dekaplah aku
Selimuti aku dengan tabir kasihmu
Kurebahkan tubuh dalam sangkar hatimu
Terlenaku dalam rayuan melodi klasikmu
Tebenamku dalam impian aksara

Cinta
Kasih
Sayang
Kurunglah aku dalam bilik hati
Ikatlah aku dalam keranda hangatmu
Pintalah cintaku dalam sajadah sucimu
Biarkan
Biarkan
Kuterlelap dalam hangatnya cinta
Bersamamu

Love Bird
Pondok Gede
22 Feb 19
08:35




Ketika cinta tak berbalas


Ketika cinta tak berbalas
Sedih
Duka
Luka
Sakit
Menyelimuti aksara
Dunia gelap berbalut airmata

Terpuruk
Terkurung
Terikat keranda dingin kematian
Bagai dahan patah
Terserak
Tersapu
Sirna asa dalam bingkai kehancuran

Majas,diksi,fiksi
Tak seindah rembulan
Untaian kata-kata kusut tersimpan
Bibir tak semanis lolipop
Airmata tsunami menggulung sukma

Lembaran kertas bagai sampah berserak
Dinding kamar bagai bilik penjara
Langkah berat terikat rantai malaikat maut
Iblis menari- nari dan tertawa
Tersungkur diri dalam lobang kemaksiatan

Merana
Tersiksa dan akhirnya mati



Bidadari dibalik tabir


Bidadari dibalik tabir
Tatap mata menghujam kalbu
Misterius
Cantik
Jelita
Bidadari tak bersayap penuh pesona

Tubuhmu terbungkus aura Rohim
Suara terbalut ayat-ayat cinta
Tabir indah terbingkai keimanan
Kau goresan indah dalam kanvas
Siapakah dirimu.. Lembut
Sholeha
Penuh cinta
Kumbang-kumbang jahil padamu
Mencoba menyikap tabirmu

Ku cinta dirimu
Ku ingin warnai hatimu
Kau tercipta seindah lintang
Ku sanding dirimu dalam mahligai
Indah
Penuh warna- warni
Mengarungi bahtera bersamamu

Bidadari dibalik tabir
Tercipta untukku
Seindah melati
Merekah dalam bilik hati
Terkurung dalam sangkar cinta abadi

Lovr Bird
Pondok Gede
21 Feb 19
09:35




Bidadari dibalik tabir


Bidadari dibalik tabir
Tatap mata menghujam kalbu
Misterius
Cantik
Jelita
Bidadari tak bersayap penuh pesona

Tubuhmu terbungkus aura Rohim
Suara terbalut ayat-ayat cinta
Tabir indah terbingkai keimanan
Kau goresan indah dalam kanvas
Siapakah dirimu.. Lembut
Sholeha
Penuh cinta
Kumbang-kumbang jahil padamu
Mencoba menyikap tabirmu

Ku cinta dirimu
Ku ingin warnai hatimu
Kau tercipta seindah lintang
Ku sanding dirimu dalam mahligai
Indah
Penuh warna- warni
Mengarungi bahtera bersamamu

Bidadari dibalik tabir
Tercipta untukku
Seindah melati
Merekah dalam bilik hati
Terkurung dalam sangkar cinta abadi

Lovr Bird
Pondok Gede
21 Feb 19
09:35




Hikmah secangkir kopi


Secangkir kopi penuh makna
Kala kau suguhkan penuh cinta
Pahitnya kopi tak terasa
Senyum bidadari pemanis hati
Dinginnya angin membelai
Terasa hangat bila kau disisiku

Secangkir kopi manis
Penuh takaran kasih sayang
Berteman lintang yang menari- nari
Rembulan tersipu malu dipunggung mega
Kilau kilat menyambar
Bagai alunan paduan suara
Menambah sahdu
Kopi hitam manis terasa ditenggorokanku

Kelopak mataku merah
Rasa kantuk menyerang
Membujukku menuju pulau impian
Kaulah teman dikala sunyi
Pahit
Manis
Hangat
Dalam bingkai bening
Menemaniku
Sendiri
Menanti
Mega kembali tersenyum

Secangkir kopi
Merasuk
Mengalir
Menghujam
Mengkoyak- koyak
Jenuhku
Khayalanku
Sirna bersamamu

Love Bird
Pondok Gede
19 Feb 19
20:22




Hikmah secangkir kopi


Secangkir kopi penuh makna
Kala kau suguhkan penuh cinta
Pahitnya kopi tak terasa
Senyum bidadari pemanis hati
Dinginnya angin membelai
Terasa hangat bila kau disisiku

Secangkir kopi manis
Penuh takaran kasih sayang
Berteman lintang yang menari- nari
Rembulan tersipu malu dipunggung mega
Kilau kilat menyambar
Bagai alunan paduan suara
Menambah sahdu
Kopi hitam manis terasa ditenggorokanku

Kelopak mataku merah
Rasa kantuk menyerang
Membujukku menuju pulau impian
Kaulah teman dikala sunyi
Pahit
Manis
Hangat
Dalam bingkai bening
Menemaniku
Sendiri
Menanti
Mega kembali tersenyum

Secangkir kopi
Merasuk
Mengalir
Menghujam
Mengkoyak- koyak
Jenuhku
Khayalanku
Sirna bersamamu

Love Bird
Pondok Gede
19 Feb 19
20:22




Dagelan Rahwana

Semua mata menatap tajam
Kala alunan gamelan bergema
Penuh intrik dan dagelan
Tersenyum
Marah
Tertawa
Wayang menari-nari lincah
Dalang tersenyum puas

Tak peduli fakta
Tak peduli fiktif
Hajar
Terjang
Lawan tak kuasa
Rahwana tertawa

Panggung bagai meja pesakitan
Wayang mengamuk
Dalang merah padam
Rahwana terpojok dalam bingkai kepalsuan
Bisik iblis menyslimuti sukma
Tak ada kasih dalam kamus

Dagelan wayang
Dagelan para penjilat
Dagelan makhluk asing
Nafsu birahi memuncak
Coba mencabik- cabik sinta

Wahai Bima nusantara
Bangunlah
Bangkitlah
Jagalah sinta penuh pesona
Hingga dirimu tertidur dalam dekapan mesra sinta

Love Bird
Pondok Gede
18 Feb 19
08:18




Bumiku nenek

Tubuhku tak molek lagi
Suaraku tak sumbang lagi
Aroma tubuhku busuk
Wajahku penuh luka menganga
Namun ..
Setiap insan mencintaiku

Aku bukan balita penuh kelucua
Aku bukan remaja penuh pesona
Keriput
Keriput
Ya
Ya
Ku hanya menunggu perintah-Nya
Hancur
Hancur

Lihat
Tubuhku penuh luka
Cakar- cakar kedunguan dan kerakusan
Tlah mencabik- cabik penuh syahwat
Gedung pencakar berdiri sombongnya
Tol,jalan layang membelah congkaknya
Hutanku tlah kau gagahi rakusnya
Lautku tlah kau nodai
Tambangku hancur kau koyak- koyak
Kini diriku telanjang tak ada arti

Sampai kapan kau renggut kehormatanku
Kawan
Sampai kapan kau gagahi hutanku
Aku sudah tua renta
Airmataku tlah kering
Tubuhku bongkok
Mengapa masih kau rebutkan aku
Kawan

Tak adakah tangan-tangan bidadari
Merawat tubuhku
Memoles wajahku
Hingga sejuk merasuki bilik- bilik reot
Nyanyian burung-burung membelai lembutnya
Hutan kembali perawan
Ikan-ikan kembali menari-nari
Ilalang melambai -lambai
Kambing,kuda berlari-lari bebasnya

Kawan
Rawatlah sisa umurku
Penuh cinta
Penuh kelembutan
Hingga diriku hancur bersamamu

Love Bird
Pondok Gede
16 Feb 19
19:18




BANYu AMIS


Banyu Amis
Mengaliir lembut dari hulu
Hulu ke hilir menghanyutkan
Hingga kelaut

Tenang
Amis
Dirimu berselimut dinginnya bayu
Dalam kurungan keranda Rohim
Mengalir penuh makna

Dalam heningmu ada murka
Murka
Amarah
Tarianmu penuh kematian
Menghantam
Mengkoyak- koyak
Somvongnya cucu Adam

Dirimu kini tak bening kembali
Bau nyinyir menusuk rongga hidung
Hitam
Busuk
Limpahan sampah berserakan
Ikan tak menari- nari salsa
Burung pun enggan bernyanyi mozart

Kau meratap sendiri
Tak ada ikan,burung disisimu
Katak pun enggan paduan suara
Tangan- tangan serakah menodaimu
Tercabik tabir sucimu
Kini tubuh berbalut tabir kehinaan

Tunggulah
Wahai cucu Adam
Hingga Tuhan murka padamu
Bila saatnya nanti
Kesombonganmu
Kedurjanaanmu
Kan kuhempaskan
Hingga tulangmu berserakan
Bersama sampah keangkuhanmu

Love Bird
Pondok Gede
5 Maret 19
07:35




MALAM


Malam ini
Dingin banyu menusuk rongga kulit
Bayu berhembus sejuk menyapu
Ku basuh jasad penuh noda
Memintal do'a suci dalam hamparan sajadah cinta

Malam ini
Biarkan ku bercumbu rayu pada-Mu
Airmata tsunami menerjang tabir-Mu
Ku susun rayuan penuh cinta
Ku rangkai dalam melodi ayat- ayat cinta

Malam ini
Berteman nyanyian jangkrik
Tarian bintang bercahaya
Senyum manis rembulan dipunggung mega
Ku sujudkan wajah ini pada-Mu

Malam ini jadi saksi bisu
Saksi bisu seorang hamba dhoif
Penuh noda dan dosa
Mengadu lemah diri
Kurunglah aku dalam sangkar rumah-Mu
Ikatkah cintaku dalam tiang firdaus
Biarkan kurasakan hangatnya pelukan-Mu
Belai mesra bidadari bermata jeli
Selamanya kuingin dalam kamar Naim
Berselimut Rohman Rohim

Malam ini
Malam suci
Malam penuh cinta tulus
Seorang insan dimabuk asmara
Menghadap-Mu penuh asa
Biarkan kutertidur dihamparan sajadah
Menghadap-Mu selamanya

Love Bird
Pondok Gede
03:52
03:50




BENCANA MENYAPA KEMBALI


Belum hilang lukisan tsunami mengamuk
Tarian angin ribut
Terjangan tanah meratakan
Airmata terpatri lekung pipi
Gambaran luluh lantakan negeri

Kini
Cendrawasih terluka
Sayap hancur terkoyak bandang
Nyawa melayang
Darah mengalir
Airmata deras dipipi
Rumah
Gedung
Jembatan
Hancur
Bersama tarian bandang

Lombok
Merana kembali
Bumi kembali berteriak lantang
Robohkan sombongnya diri
Satu persatu
Nyawa melayang
Seperti kapas tertiup bayu

Bibir - bibir manis penuh kedunguan berkata
Salah alam
Salah hujan
Salah angin puting
Sungguh bodoh

Topeng penuh dempulan
Manis
Cantik
Namun
Jauh dari iman
Tak berkata pada cermin
Dimana hatimu,kawan

Ketika bencana menyapa
Tuhan masih sayang kita
Tuhan masih rindu kita
Basuhlah diri dengan air suci
Sujudkan wajahmu pada- Nya
Tak ada bencana yang diberikan
Bila Tuhan tak sayang kita

Love Bird
Pondok Gede
18 Maret 19
11:48




ANAK CUCUMU MENANGGUNG HUTANG


Hutan kau perkosa
Ikan kau bius mimpi
Tambang kau lahap rakus
Bahkan air pun kau kurung dalam kantongmu

Kini kau lihat kawan
Gedung- gedung kaca berdiri sombongnya
Pabrik- pabrik mengepulkan asap pekat
Selimuti rongga hidungku
Jembatan- jembatan ikon tertancap congkaknya
Tol dari Aceh hingga Papua
Terhampar penuh rekayasa fiktif
Kau biarkan saja
Darimana semua uang dalam sakumu

Kini
Anak cucumu menanggung hutang
Bayi- bayi baru brojol tergadai hutang
Cicitmu pun tergadai hutang
Tangis ibu- ibu melahirkan tergadai hutang
Bagaimana mereka membayarnya

Wahai tuan- tuan yang berdasi
Duduk manis disinggasana maya
Berdasi layaknya raja kayangan
Berlakon bak wayang srimulat
Bukalah topengmu,tuan

Kau bebas tertawa
Kau bebas bernyanyi
Kau bebas menari
Sedang kami disini
Terikat tiang- tiang pencakar langit
Tangis kami terkurung kerangkeng nafsumu
Suara kami sirna tertelan janji manismu

Kau biarkan makhluk asing menyihirmu
Cakar- cakar mereka merobek tabir suci ibu pertiwi
Terkapar lemah diri tak berdaya
Airmata berubah darah
Kini
Anak cucumu menanggung hutang

Duhai sungguh malang nasib
Terkulai lemas hilang harga diri
Tergadai dalam bingkai kamuflase
Drakula tertawa
Hingga darah kami kering tak tersisa

Love Bird
Pondok Gede
11 Maret 19
08:58




Ingin ku gapai lintang


Ingin ku gapai lintang
Kubingkai dalam album merah muda
Ingin ku gapai bulan
Kujadikan lentera langkah ini
Ingin dekap saturnus
Ku selipkan dijari manisku
Selembut awan memayungi bumi

Bunga tidurku indah
Ingin ku menari- nari dipunggung lintang
Ingin ku bernyanyi bersama mega
Ingin ku berdansa samba bersama mentari
Ingin ku tertawa diatas awan

Biarkanlah aku tertidur,bunda
Biarkanlah aku bermimpi, ayah
Hingga burung- burung bernyanyi
Mengalunkan musik klasik
Ilalang melambai memanggilku

Ah..
Seribu sayang
Mimpiku terusik
Nyanyian kaleng rombeng
Bersuara namun tak bernada
Tlah merusak mimpi indahku

Love Bird
Pondok Gede
18 Feb 19
13:33




SUJUD TERAKHIR

Ku ingi dalam sujud terakhir
Ada cinta terbalut tabir Agung
Ada rindu terkurung sangkar cinta- Mu
Ada asa terikat dinding kautsar
Ada airmata terhimpun telaga firdaus

Dalam sujud terakhir
Tak ingin kulihat kau menangis
Tak ingin ada ratapan
Duka tsunami
Meraung binatang hutan
Terkoyak- koyak tabir sucimu

Biarkan dalam sujud terakhir
Kucunbu kekasihku
Kucium
Kupeluk
Penuh gelora cintaku
Hamparan sajadah kusam
Balutan gamis putih
Banyu dingin menusuk rongga kulit
Jadi saksi bisu
Dalam sujud terakhirku

Ijinkan aku
Tinggalkan bidadariku
Dalam dekapan rindu
Dalam desahan cinta
Menuju kekasihku
Abadi
Dalam peluk hangat Rohman Rohim- Nya

Love Bird
Hotel Grand Cikarang
9 Maret 19
08:28




TANGIS REMBULAN


Tangis rembulan memecah mega
Tangis rembulan membelah surya
Tangis rembulan mencacah banyu
Tangis rembulan mematah ranting
Tangis rembulan
Ku pasrah diatas pusara

Airmata darah
Akmata api
Membara
Hanguskan raga
Akar api
Menjalar
Membakar
Tubuh terbujur

Banyu mengadu pada bayu
Bayu mengadu padamu mega
Mega mengadu padamu hujan
Kemana hujan mengadu

Tangis rembulan kering
Suara serak terikat kerangkeng maut
Tak ada lagi senyum merekah
Tak ada lagi tarian ilalang
Tinggalah nyanyian isrofil
Menina bobokan sang rembulan

Love Bird
Pondok Gede
24 Maret 19
14:05





LEMAH


Lemahnya raga ini
Bagai seonggok daging tak berbalut tulang
Bodohnya otak ini
Mengkotak- katik ayat-ayat cinta penuh syahwat
Buruknya wajah ini
Merasa bagai putri kecantikan dunia
Namun
Ketika jasad ini sakit
Ku mengeluh
Ku merintih
Ku menghujat
Pada-Mu

Dunia bagai perawan desa
Tebar pesona aroma birahi
Lenggak lenggoknya penuh tipuan
Ku kejar dunia
Ku peluk
Ku raih
Ku dekap
Penuh nafsu birahi
Kulupakan diri- Mu

Aku tlah menjadi budak dunia
Waktu tlah menyeretku
Menina bobokan dengan mimpi
Harta
Jabatan
Kedudukan
Semua
Semua
Semua
Menyelimuti jasad ini dalam tabir gelap
Terkurung dalam sangkar kemunafikan

Sungguh bodoh
Sungguh lemah
Sungguh fakir
Tlah aku sinsingkan sajadah kusam
Tlah aku campakan ayat- ayat cinta
Tlah aku hempaskan cinta dan kasih-Nya

Masih adakah waktu berputar
Masih adakah mentari tersenyum
Masih adakah bintang menari- nari
Masih adakah Ruh dalam jasad
Ijinkan ku sujudkan wajah hina
Ijinkan kelopak mataku menangis
Ijinkan tanganku memeluk- Mu
Ijinkan bibir manisku merayu- Mu
Penuh takut
Penuh asa
Menggapai cinta suci-Mu
Sebelum Ruh pergi menghadap-Mu
Ijinkan kuketuk pintu Rohman Rohim
Pasrah kuserahkan diri lemah
Kembali kepelukan-Mu selamanya

Love Bird
Pondok Gede
23 Maret 19
03:12




SEBUTIR DEBU


Tubuh kurus berbalut tulang
Bermandikan peluh
Berbalut jubah putih kusam
Penuh noda dan dosa
Hitam
Merah
Abu- abu
Tlah kunikmati penuh birahi

Panas membakar ubun
Kulit bau anyir tergoreng surya
Langkah lunglai
Berat
Menyeret
Penuh luka

Aku hanyalah sebutir debu
Diantara ribuan debu melayang
Aku hanyalah sampah berserakan
Tercampak
Busuk
Penuh nanah
Dalam kobangan maksiat

Jabatanku
Hartaku
Istri dan anakku
Diam
Bagai patung budha
Kala tubuh terbungkus kafan
Kala Munkar Nakir menyapaku
Bibir manisku diam
Seribu diam
Dalam dekapan liang lahat

Adakah sisa umurku
Adakah yang kubanggakan
Gelar yang kudapatkan
Jabatan yang kuraih
Harta yang cari
Hanyalah sebutir debu
Terhempas bayu melayang
Bersama airmata darah
Bersama jilatan lidah neraka
Membakar
Hancur
Selamanya

Ijinkan aku
Menangis pada-Mu
Merayu
Bercumbu
Sisa usiaku
Ku tak ingin ada airmata yang mengalir
Biarkan ku pergi
Bersama cinta- Mu

Love Bird
Pondok Gede
22 Maret 19
09:34




SEBUTIR DEBU

Tubuh kurus berbalut tulang
Bermandikan peluh
Berbalut jubah putih kusam
Penuh noda dan dosa
Hitam
Merah
Abu- abu
Tlah kunikmati penuh birahi
Panas membakar ubun
Kulit bau anyir tergoreng surya
Langkah lunglai
Berat
Menyeret
Penuh luka

Aku hanyalah sebutir debu
Diantara ribuan debu melayang
Aku hanyalah sampah berserakan
Tercampak
Busuk
Penuh nanah
Dalam kobangan maksiat

Jabatanku
Hartaku
Istri dan anakku
Diam
Bagai patung budha
Kala tubuh terbungkus kafan
Kala Munkar Nakir menyapaku
Bibir manisku diam
Seribu diam
Dalam dekapan liang lahat

Adakah sisa umurku
Adakah yang kubanggakan
Gelar yang kudapatkan
Jabatan yang kuraih
Harta yang cari
Hanyalah sebutir debu
Terhempas bayu melayang
Bersama airmata darah
Bersama jilatan lidah neraka
Membakar
Hancur
Selamanya

Ijinkan aku
Menangis pada-Mu
Merayu
Bercumbu
Sisa usiaku
Ku tak ingin ada airmata yang mengalir
Biarkan ku pergi
Bersama cinta- Mu

Love Bird
Pondok Gede
22 Maret 19
09:34



TARIAN ALAM

Tarian alam
Nyanyian alam
Indahnya
Sungguh merdu
Dengarlah kawan
Ooo leleoo leleoo leleo leleoo
Berputar
Berputarlah wahai angin
Menarilah
Menarilah wahai air
Oleleo oooo leleo leleeoo leleoooo

Bruk..bruk..bruk
Brak...brak...brak
Bruk...brak...bruk...brak
Bila Tuhan perintah
Teruslah menari
Teruslah bernyanyi

Nyanyian hujan
Tarian angin
Teruslah
Teruslah
Berputar
Berputar
Dan berputarlah...
Oo leleoo leleo leleooo..oooo..leleooleleooo

Marah
Menagis
Berteriaklah dan berteriaklah

Mamae..
Mamae..
Lihatlah
Lihatlah
Airmata beta
Jerit beta
Bersama ratanya kampung
Sagu kini kaku
Kaku tertimbun beku
Beku hati beta lihat mamae duduk membisu

Tuhan
Beta minta padaMu
Biarkan beta ikut menari dan bernyanyi
Berputar
Berputar
Oooo..leleleoo..leleleoo..leleo..leleo
Bersama hujan
Angin
Hingga tubuh beta rata berselimut tanah

LB
Pondok Gede
21 Januari 2021
13.27
·

KETIKA TUHAN BICARA

Ketika Tuhan bicara
Lewat ayat-ayat cintanya
Lewat simphoni indah lima waktu
Mengapa hati kau tutup
Mengapa telinga kau tuli
Mengapa mata kau celikkan

Ketika Tuhan bicara lewat alam
Banjir menggulung
Gunung meraung
Bumi bergoyang
Tak ada rasa takut padaNya
Hatimu
Telingamu
Lidahmu
Tertutup kecongkakan Iblis

Taka ada rasa peka
Tak ada muhasabah
Kau salahkan alam
Tak ada lagi bersahabat

Bila kau yakin hidup seribu tahun
Berbuatlah sesuka hatimu
Bila kau yakin tak ada syurga neraka
Berbuatlah semaumu

Ketika Tuhan bicara
Tunduk dan patuhlah
Dibalik tabir semua
Ada cinta dan sayangNya
Peluklah
Dekaplah
Rebahkan tubuhmu dalam dinginnya sepertiga malam
Hingga kokok jago memisahkan

LB
Pondok Gede
20 Januari 2021
11:20


BANGKITLAH

Tuhan tidak ciptakan insan lemah
Langit
Gunung
Tak sanggup memikul beban dari Tuhan
Hewan yang melata
Burung yang terbang
Ikan dilautan
Tuhan hamparkan untuk insan

Tuhan titipkan hamparan jamrud khatulistiwa dipundak insan
Tuhan tidak titipkan rasa sombong,angkuh dihati insan
Iblis tertawa dan menari kala insan mencabik- cabik alam
Hutan kau tanduskan
Lautan kau cemari
Tambang kau keruk semau nafsu birahimu

Tuhan perintahkan air menarilah kau gulung sombongnya anak adam
Tuhan perintahkan bumi
Muntahlah kau luluh lantakan isi perut
Hujan pun ikut menangis yang tak henti
Tapi mengapa tak ada rasa takut padaNya

Bangkitlah
Hamparkan sajadah cinta
Menangislah karena Dia Maha Perkasa
Buanglah rasa putus asa
Kita bukan makhluk lemah
Sebutlah AsmaNya dalam sendirimu
Dikala mata yang celik tertutup
Tuhan beri semua hanya titipan
Firdauslah tempat abadi

LB
Pondok Gede
19 Januari 2021
06:49




ADAKAH RINDU

Adakah rindu terselip dibilik hatimu
Adakah rindu terlukis dibuku harianmu
Adakah rindu terkurung sangkar suci
Adakah rindu senyum,canda,tawa berbunga kembali

Kawan
Telah lama rindu sirna dibibirmu
Bibirmu terkunci gembok baja
Bagaimana kumembuka senyum itu
Wajahmu dulu bagai monalisa
Kini wajahmu dingin terbungkus salju

Mentari tak tersenyum lagi
Rembulan pun bersembunyi dipunggung mega
Bintang tak menari samba
Burung love bird tak bernyanyi klasik
Dunia bagaikan daun kelor

Kawan
Bernyanyilah kembali untukku
Menarilah
Tertawalah
Ku rindu semua kembali
Walau ku tau berat rasa hatimu

Kawan
Ijinkan kuketuk pintu hatimu
Kurangkai kata- kata penuh diksi
Kulantunkan tembang kenangan
Kuingin kau kembali tersenyum
Bersama kicau burung menyambut mentari

Love Bird
Pondok Gede
13 April 19
22:04



RAUT LELAKI TUA

Beralaskan koran bekas
Berselimut Bayu menusuk rongga kulit keriput
Coba rebahkan tubuh kurus berbalut tulang
Emperan toko pasar saksi bisu
Lelaki tua pasrah jalani sisa usia

Raut lelaki tua penuh peluh
Hatinya terkoyak penuh luka
Tubuh kekar telah sirna
Tinggal kulit terbalut tulang

Lelaki tua termenung dipojok pasar
Kala masa jaya hidup mewah
Semua mengaku saudara
Istri
Anak
Tidur beralas permadani

Namun kini semua lenyap
Kala usia semakin senja
Uban menghiasi kepala
Gigi satu persatu tinggalkan dirinya
Semua
Semua
Tinggalkan dirinya
Sendiri
Habiskan sisa usia dalam gelap

Tuhan
Aku lelaki tua
Ku mengadu pada-Mu
Ijinkan aku kembali pada- Mu
Bermandi sejuknya telaga kautsar
Berkafan sutra nirwana
Tersenyum lelaki tua diakhir do'a
Tubuh tersungkur dihamparan sajadah tua

Love Bird
Pondok Gede
13 April 19
06:38



PUSARA TAK BERNAMA

Seunduk tanah telah lama tercampak
Hanya rumput liar menyelimuti
Pusara pojok tak bernama
Entah siapa dia

Nyanyian burung hantu diatas pusara
Hembusan bayu menusuk rongga kulit
Rembulan tersenyum genit dipunggung mega
Menambah getir bulu kuduk

Sudah berapa lama pusara itu tak bernama
Entah dimana sanak juriyat
Sungguh malang pusara pojok
Menangis sendiri dalam kesunyian

Wanginya bunga kamboja
Harumnya yasmin liar
Akar - akar merusak pusara tua
Terkoyak tak terurus
Tergerus derasnya pencakar langit

Penuh lubang menganga
Becek
Lumpur
Tak bertuan
Tak bertangan
Pusara tua jadi cerita seram turun temurun
Kala bocah dinina bobokan

Lambat laun pusara tak bernama
Tinggal seonggok tanah
Terinjak hewan liar dan insan
Hilang tenggelam tubuhmu
Bersama banyu tersapu dalam kesunyian yang tak bertuan

Entah siapa dia...

Love Bird
Pondok Gede
11 April 19
09:11



TETAPLAH MELANGKAH


Putaran detik bagai kuda perang
Terus berputar tampakkan sombongnya
Enam tahun kau dalam bimbingan
Penuh kasih sayang tak kenal lelah
Menuntuntun dalam lorong gelap
Penuh canda
Tawa
Tangis
Marah

Tetaplah melangkah anakku
Onak duri menanti
Luka dan airmata temanimu
Cita dan cinta dipundakmu
Jangan kau lihat masa lalu
Teruslah berlari

Kulepas dirimu dengan do'a dan airmata
Walau sesak menyelimuti sukma
Namun ku ikhlaskan kau pergi
Sambutlah mentari pagi tersenyum
Bernyanyilah
Menarilah
Bersama ilalang melambai

Selamat jalan anakku
Biarlah semua kenangan tergores dalam kanvas putih
Kututup album merah muda tentang dirimu
Raihlah lintang yang menari genit dipunggung mega

Kugantungkan doa dalam Rohman
Kuterbangkan aaa bersama bayu
Ku yakin suatu saat wajahmu kembali terlukis dalam bilik hatiku
Tersenyum manis
Kala pertama ku lihat dalam balik dinding kelas

Selamat jalan anakku

Love Bird
Pondok Gede
10 April 19
11:41
( puisi ini ku tuliskan untuk siswa/i yang akan lulus ,selamat ya anak2ku )



MATA BATIN

Mata batin putih suci
Mata lahir liar menari- nari
Tak bisa tertutup kala nikmat menghampiri
Mata batin diam membisu
Dalam rongga bilik sukma

Mata lahir tercipta sangatlah indah
Lentik
Menggoda kumbang - kumbang hinggap
Mata batin ingin berontak,berteriak
Tidak
Hentikan

Mata lahir bagai goresan monalisa
Insan lemah
Terbuai kedipannya
Terkapar pasrah diatas maksiat
Mati batin
Hanya bisa membisu

Namun
Tak selamanya mata lahir indah
Sinarnya bisa sirna
Gelap
Tak tau arah tujuan
Mata batin tersenyum
Tuhan
Sungguh adil
Mata batin tak pernah mati
Bersinar dalam gelap
Menuju jalan sang kekasih
Bersanding indah dalam kamar bidadari
Bidadari bermata jelita selamanya

Love Bird
Pondok Gede
9 April 19
20:24



MEMORI DI ALUN - ALUN KARAWANG


Malam itu sinar rembulan lembut membelai
Rasa hati ingin segera berlari
Berteman lintang menari-nari
Menambah syahdu malam minggu

Tawa bocah- bocah bermain gelembung udara
Berkeliling sepeda putari lapangan
Melempar kincir ke udara tinggi- tinggi
Lukisan indah alun- alun karawang

Abang kacang rebus menggodaku
Tukang bakso memainkan musik perutku ikut menari
Pedagang angkring berbaris bagai jamur merekah
Pengamen jalanan mengadu nasib walau sumbang suaranya
Tak bisa ku lukiskan dengan syair indah suasana alun- alun karawang

Rembulan pun mulai kepelukan mega
Angin malam membelai kelopak mataku
Tak terasa waktu semakin malam
Satu persatu kembali kepembaringan
Tinggal ku sendiri
Coba merangkai kata dan melukiskan
Rasa tak ingin beranjak dan mematung
Ada rindu dan cinta alun-alun karawang abadi dalam sukmaku

Love Bird
Alun-alun Karawang
8 April 19
21:17

IMAN KURNIAWAN