UNTUK MENCARI PUISI-PUISIMU CUKUP KETIK NAMAMU DI KOLOM "SEARCH" LALU "ENTER" MAKA SELURUH PUISIMU AKAN TAMPIL DI SINI

Rabu, 28 April 2021

Kumpulan Puisi Iis Yuhartini - MONSTER LAUT INDONESIA



PEREMPUAN BERHATI SAMUDRA

Aku ingin tenggelam dalam pelukanmu
ketika rindu semakin menyeruak tak menentu
seperti hari kemarin gelisah menyerang kalbu
kemana mencari dermaga untuk berlabuh

Pecah dada ini meredam rasa bertalu
menanti belai kasihmu setiap waktu
tatapan mata surga itu terlihat syahdu
ketika terakhir membelai lembut wajahku

Bulan meredup berselimut awan kelabu
di sepertiga malam tunduk bersimpuh
tak lagi terbendung air mata yang jatuh
senyum mawarmu begitu lekat di benakku

Tidurlah nyenyak dalam peraduan indahmu, Ibu
tunggulah kita berjumpa di perputaran waktu
untaian doa membingkai teriring untukmu
ya Allah, ampunilah dosa perempuan berhati samudra kesayanganku

Bekasi, 27 April 2021



MONSTER LAUT INDONESIA


Dalam tarian gelombang engkau berjaya
putra bangsa gagah perkasa menjaga negara
berbakti dengan sepenuh jiwa
bersama ikan besi raksasa di kedalaman samudra

Tentara angkatan laut Indonesia
menjaga perbatasan tiada kenal lelah
meski nyawa sebagai taruhannya
senyum terpatri di antara doa

Ibu Pertiwi berduka
musibah kembali menjerat rasa
KRI Nanggala 402 hilang tanpa berita
tenggelam di perairan Bali utara

Doa melangit dari penjuru Nusantara
memohon keberadaan
para syuhada bangsa
kembalilah monster laut Indonesia
hantarkan nahkoda dan awaknya dalam pelukan terakhir keluarga

Bekasi, 24 April 2021



SANG PENCINTA

Akulah sang pencinta
mengembara di belantara sastra
aksara tiada henti menyapa palung rasa
goresan jiwa para penyair nusantara

Sepasang netra senja tak henti mengeja makna
mengagumi mereka para perangkai kata
duhai, betapa lincah imaji mengukir karya
andai dapat mengikuti jejaknya

Aku sang pengembara
melabuhkan cinta di rimba sastra
bersandar di rindangnya pohon aksara
para penyair, ajari aku menarikan pena


Karya : Iis Yuhartini
Bekasi, 08 Maret 2021




SULAMAN DOA

Hangat senyum mentari
temani indahnya pagi
bersama secangkir kopi
helaan nafas bersyukur pada Ilahi

Gelombang menghentak rasa
hayati semua alunannya
menggenggam makna jangan lagi alpa
sejumput buih tiada berdaya

Memeluk kasih-Nya
menggenggam asa di titian senja
warna indah berpendar cahaya
terpancar dalam sulaman doa

Karya : Iis Yuhartini
Bekasi, 24 Oktober 2020



BANGGA

Bangga memakai batik
hasil karya anak bangsa
berbagai corak warna
sesuai daerah dan budaya

Batik pelangikan rasa
berdecak melihatnya
kreasi sangat sempurna
dipakai berbagai acara

Dunia mengakuinya
batik harumkan nama bangsa
demi anak cucu kita
lestarikan keberadaannya

Karya : Iis Yuhartini,
Bekasi, 02 Oktober 2020

IIS YUHARTINI



Kamis, 22 April 2021

Kumpulan Puisi Sita Aulliya - MIMPI SANG PUTRI



~MIMPI SANG PUTRI~

Raden Ayu,
Dari kiriman layang,
Yang dirangkum dalam "Door Duisternis Tot Licht"
Hingga terlahir "Habis Gelap Terbitlah Terang"
Betapa mimpi besar telah berkobar
Dari peliknya tradisi yang harus kau jalani

Raden Ayu,
Luka dan kekecewaan yang kau pendam
Tentang rendahnya status sosial kaum perempuan
Ingin kau teriakkan
Ingin kau dobrak dan jungkirkan
Dalam kesetaraan dan persamaan
Namun, lagi lagi kungkungan adat kembali menjerat.

Raden Ayu,
Kau yang terlahir dari kaum priyayi kehormatan
Toh tak kuasa menolak budaya pingitan
Kemudian harus kawin dalam paksaan
Bahkan harus siap lahir batin untuk diduakan
Tanpa berhak menolak, apalagi menyentuh bangku pendidikan.

Raden Ayu,
Ketika sang Bupati Rembang meminangmu
Kemudian kau tunduk sebagai bakti kasih untuk ramamu
Bahkan prinsip patriaki yang kau tentang. Sengaja kau gantung di selendang
Dengan harapan, ilalang ilalang kekolotan itu bisa kau terjang.

Raden Ayu,
Kau menang
Balai pengajaran yang kau impikan
Terwujud untuk kaum perempuan yang kau perjuangkan
Meski di usia muda kau menutup mata
Namamu harum mewangi di persada nusantara.

Raden Ayu,
Andai saja bisa kau saksikan
Betapa juangmu tak sia sia
Telah lahir Kartini Kartini muda
Yang tangguh berdiri sama tinggi dengan wibawa dan pesonanya
Sebagai srikandi yang bermartabat atas kodratnya.

Lisse
21/04/2021



SEMBURAT JINGGA NUSANTARA

Aku mendengar,
Suara suara genderang westernisasi
Menyeruak masuk di gerbang gerbang pertiwi
Lalu mengikat kaki tangan anak anak negeri
Untuk meliukkan tubuhnya mengikuti hentakan tetabuhan
Yang jauh dari akar dan kultur ketimuran
Inikah yang kau sebut kemoderenan?
Inikah yang kau junjung dan banggakan?
Sementara ke elokan tari piring, kecak dan serimpi
Begitu memikat sarat dengan pesan etnik tradisi.

Aku melihat,
Balutan balutan raga yang jauh dari adibusana
Berjejal memenuhi penjuru nusantara
Lalu menelanjangi tubuh tubuh anak bangsa
Untuk menyampirkan sandang mereka sebagai panutan
Yang bertolak dengan budaya keanggunan
Inikah yang kau anggap kiblat?
Inikah yang kau anggap bisa meninggikan derajat?
Sementara kain batik, kebaya sarung dan tenun ikat
Begitu kharismatik sebagai warisan leluhur dan adat.

Aku merasakan,
Tingkah polah yang seolah jauh dari negeri ketimuran
Mereka yang menjadi pemuja kebebasan
Lalu tenggelam dalam liarnya rimba pergaulan
Atas nama modernisasi, emansipasi pun kesetaraan
Mereka memenggal nilai unggah ungguh dan kesopanan
Inikah wajah keramahanmu kini?
Inikah caramu menyambut uluran jemari?
Sementara gotong royong, soyo rogo dan wedangan
Begitu kental guyub dalam persaudaraan.

Kemudian,
Angin membawa kabar tentang negeri pelangi
Yang penuh warna warni dan loh jinawi
Burung burung mendendangkan kicauan sembari terbang
Mewartakan kemolekan bumi waris budaya nenek moyang
Tentang tanah tanah yang bak surga
Tentang desir semilir yang segar mempesona
Tentang air mengalir yang jernih bagai tanpa muara
Dan tentang semua yang kita punya, yang silaukan mata dunia
Sebelum semua menjadi sejarah yang tinggal cerita
Singsingkan lengan dan berbenahlah
Cintai dan kembali gauli dengan gairah
Karena di ufuk mentari terbit, ada semburat jingga Nusantara.

Lisse Nederland
07/02/2021



SEMUA KARENA CORONA

Dulu,
Saat namanya baru menyebar
Seketika dunia dibuat gempar
Kemudian bermacam teori dan strategi dibangun tumpang tindih
Di atas pengetahuan dan penelitian yang masih ringkih
Dunia kalang kabut
Kemudian semua menjadi semrawut

Dulu,
Saat namanya baru menyebar
Seluruh kuping seolah dipaksa untuk mendengar
Tentang nyawa nyawa yang meregang
Yang grafiknya terus menjulang
Padahal tidak semua yang mati karena terserang
Tetapi media membombardir berita dengan luar biasa
Dilanjutkan oleh jari jari asal coppy tanpa tahu kebenarannya.

Kemudian,
Para pemimpin mulai membuat kebijakan
Yang terkadang berubah ubah semaunya
Dan belum tentu dipatuhi oleh rakyatnya
Pakai masker biar virus tidak menular
Cuci tangan biar virus tidak menyebar
Jaga jarak biar virus tidak memapar
Jumlah kerumunan dibatasi
Bahkan hampir saja semua dikunci
Untuk tinggal di rumah berdiam diri
Apakah kemudian semuanya berhenti?
Apakah kemudian semuanya selesai?

Tentu saja tidak,
Semua sendi kehidupan terkena dampak
Rakyat menjerit, dililit biaya hidup yang kian sulit
Ekonomi terjerat putaran jual beli yang sekarat
Sementara rumah sakit sudah muntah kelebihan pesakit
Belum lagi para tenaga kesehatan yang tumbang
sebagai suhada yang gugur di medan perang Mengabdikan jiwa raganya
Di bawah sumpah profesinya.
Dunia bergelut dengan ancaman
Wabah virus yang mematikan
Corona menjadi berita kematian
Yang mengerikan.

Tetapi,
Dikalut dan compang campingnya kesiapan melawan pandemie ini
Ada saja mereka yang doyan meminum air mata, keringat dan darah saudaranya.
Ada saja mereka yang berpesta memakan daging dan menggerogoti tulang saudaranya.
Apakah nyenyak tidurnya?
mereka yang berbantal beras sumbangan yang bukan untuk perutnya.
Apakah tenang hatinya?
Mereka yang hidup dengan uang bantuan yang bukan untuk dirinya.

Inikah tradisi yang tak bisa dikebiri
Sunat menyunat hak rakyat oleh oknum keparat
Dari atas mengucur deras
Sampai di bawah hanya tinggal ampas
Mungkin masih ada beberapa yang punya hati
Dengan menyampaikan amanah tanpa korupsi
Tetapi, bisakah semua bantuan transparansi
Sampai kepada yang berhak mendapatkan subsidi

Ahhh....semua karena korona
Semua menjadi berbeda
Cara berjabat
Cara berdebat
Cara bertemu
Cara bertamu
Semua karena korona

Lisse, Nederland
Maret 2021



DO'A UNTUK NANGGALA 402


Mereka tak pernah pergi
Mereka tak pernah mati
Tetapi mereka telah syahid
Sebagai bakti sumpah prajurit

Syahid....syahid...syahidlah ksatria bangsa
Berjuta kepala menunduk dalam do'a
Berjuta mulut melantun lafaz lafazNYA
Bertegar jiwa mengiringi jalanmu para suhada

Lautan Bali,
Memeluk jasadmu dalam keabadian
Gelombangmu menjadi tanah kubur tak bernisan
Dan suara suara camar menjadi salvo pengiring kepergian

Tentang tenggelamnya Nanggala 402
Selamat jalan pahlawan
Purna tugasmu di bulan suci
Disanalah surgamu menanti

Lisse Nederland
25/04/2021




BAPAK

Bapak,
Dilenganmu yang kekar
Dulu, tempatku bersandar
Sesekali kau lepaskan tanganmu
Agar kuberani melangkahkan kakiku
Kemudian tapak itu kian laju
Hingga bisa berlari tanpa jemu
Kau tersenyum sambil berkata
"Sejengkal langkah adalah awal panjangnya perjalanan"

Bapak,
Kala itu hujan turun membasahi bumi
Gigil dan dingin menyelimuti
Lalu tanganmu mendekap kami
Meski ibarat dari ranting basah, tetap kau nyalakan api
Dengan pijar yang tak pernah mati
Kau tersenyum sambil berkata
"Kehangatan tak selalu dari yang menyala"

Bapak,
Lalu, muncul lengkung pelangi
Diujung kaki langit setelah hujan usai
Kau sentuh dagu kami agar tegak berdiri
Untuk melihat betapa besar kuasa Illahi
Untuk menyaksikan perbedaan rupa yang serasi
Sebelum keindahan warna itu pergi
Kau tersenyum, sambil berkata
"Kelak kau akan mengerti"

Bapak,
Lalu rembulan bertandang
Dari terang yang beranjak petang
Kau gelar tilam bantal dan selendang
Lalu kau biarkan mata kami terpejam
Seperti malam yang merangkak hitam
Dengan setia matamu terjaga
Menunggui kami yang terbuai dalam lena
Kau tersenyum, sambil berkata
"Bermimpilah dalam tidurmu Nak, tetapi raihlah dalam nyatamu"

Bapak, ... kaulah pemilik rinduku

Karya : Sita Aulliya
Kamis 24 Juni 2021



MEREKA DATANG

Lelaki itu datang,
Dengan sepiring hidangan yang dikerat dari daging tubuhnya.
Dengan segelas minuman yang diperas dari peluh keringatnya.
Namun, tak ada perih ataupun luka
Sebaris senyum mengembang hiasi bibirnya

Perempuan itu datang,
Membawa selimut yang dikelupas dari kulit tubuhnya
Dengan kayu bakar yang dipikul dari tulang tulangnya
Namun, tak ada darah ataupun air mata
Sebaris senyum mengembang hiasi bibirnya

Kemudian,
Jemari mereka bergenggaman
Sujud tawaduk kepada pemilik kehidupan
Berharap lengan dan tangan tangannya
Pun punggung dan kaki kakinya
Mampu untuk terus memintal kapas menjadi sutra
Kemudian merajutnya menjadi penutup raga yang bermahkota
Untuk anak anaknya.

"Yaaa,...Lelaki dan perempuan itu
Adalah Bapak dan Emakku
Pemilik segala rinduku"


Karya : Sita Aulliya
19/05/2021
#Edisi
#NumpakBis
#DiluarBasahGerimis



RINDU FITRI-MU

Kini gema takbir telah berkumandang bersahutan,
Seluruh muslim riang menyambut hari kemenangan,
Suka cita bersama handai taulan,
Saling peluk melepas kerinduan,
Saling jabat membuka pintu kemaafan,
Saling cerita melengkapi indah kebersamaan

Emak, bapak....
Tahun ini, kembali aku masih disini.
Belum mampu kucium keriput tanganmu,
Belum mampu kusimpuh di kakimu,
Untuk memohon ampunan atas salah ucap dan lakuku.

Emak, bapak.....
Tahun ini, masih seperti tahun tahun kemarin.
Ada perih dan nelangsa melingkar batin.
Ada kerinduan yang menyeruak di kalbu,
Rindu tentang raut bahagia orang tuaku,
Rindu tentang aneka cerita saudaraku,
Rindu tentang kunjung kunjung merabatku,
Juga rindu tentang lezatnya masakanmu.

Emak, bapak......
Walau mampu kudengar suaramu,
Beri pengampunan atas khilafku,
Namun, demi Allah... tak mampu kubendung air mataku,
Tak mampu kusimpan duka kesepianku,
Tak mampu kueja kata, betapa ingin kuhamburkan ragaku dalam dekap pelukmu.
Dan merasakan khusuk tulus ikhlas di hari fitriMu....

"Allahu Akbar...Allahu Akbar ....Allahu Akbar
Laa ilaaha illallaahu wallaahu akbar,Allahu Akbar walillaahil hamd"

(Tentang sebuah kisah, pada jiwa jiwa yang jauh di perantauan )
Karya : Sita Aulliya
Kamis, 13 Mei 2021



~NAFAS KEMERDEKAAN~

Jauh di seberang lautan
Derap langkah bocah bocah ingusan,
Yang mungkin belum bertumbuh bulu dilekuk badan,
Bak jenderal kecil yang memanggul senapan
Menatap nanar tiada gentar
Tanpa peduli debu dan lidah api yang masih berkobar.
Dendam dan kebencian
Seolah menjadi kudapan pagi yang harus ditelan
Dari kematian kematian prahara perang
Darah menjadi lautan dari nyawa nyawa yang meregang
Karena baginya kemerdekaan adalah harga diri tertinggi
Meski harus menghadang peluru ranjau hingga terbujur mati

Sebegitu tinggikah egomu?
Hingga tak sudi kau tundukkan kepalamu
Sudah matikah rasamu?
Hingga kau tuli dengan jerit tangis sesamamu
Akan sampai kapan gemuruh pertikaian kau dengungkan?
Tak inginkah telingamu mendengar merdu tiup seruling para sufi?
Lalu bersama menari dalam gerakan batin nurani.
Tak terbayangkah olehmu indahnya pagi tanpa desing senjata?
Lalu bersama menikmati hangatnya pasir lembah yang berkilau cahaya.
Wahai engkau yang biasa bersuara
Kenapa kini tak mampu berbicara

Wahai engkau yang biasa berucap
Kenapa kini mulutmu enggan bercakap
Matikah batin jiwamu?
Sehingga nyawa tiada berharga lagi
Sehingga nestapa kau anggap gurun sunyi
Bila kemenangan tertinggi adalah menerima perbedaan
Sanggupkah dadamu menampung aneka suara dan rupa?
Bila kekuatan tertinggi adalah mampu memaafkan
Sanggupkah dadamu meremuk redamkan segala dendam angkara?

Dan biarkan dunia mengidungkan perdamaian
Duduklah,... buat aturan dan berundinglah
Agar kau tahu bahwa damai itu indah
Lalu biarkan dunia bernyanyi tanpa sengketa
Cobalah,...redam amarah dan berjabatlah
Agar kau tahu bahwa saling kecam itu gerah
Jangan lagi baku bantai dan terpecah
Mencari alibi tanpa mau mengalah
Apalagi mengaku salah
Mari,...
Hidupkan empati dan bangun kepedulian
Atas dasar cinta kasih kemanusiaan
Bersama kita hirup nafas kemerdekaan

Karya : Sita Aulliya
Sabtu, 03 Juli 2021

SITA AULLIYA





Senin, 19 April 2021

Kumpulan Puisi Suyatri Yatri - TADDABUR ALAM


RINDU BERKELINDAN DI CIPANG

Cipang
Rindu menyeruak
Di kuncup ramahmu
Mendamaikan jiwa suara merdu moratik

Cipang ...
Asa menggantang di langit budaya
Memantik harapan di genggaman makna

Cipang, sejarah di tubuhmu adalah emas berharga
Batas bukanlah titik akhir cerita
Namun bermulanya segala makna

Cipang, dari Koto Melintang berubah Kubang Buaya
berjalan melintas Kersik Putih
Berdiri ratusan tahun istana
Hingga Batas mengalirkan air terjun Sarosah Tinggi nan eksotis

"Aku dengar detak jantungmu
Aku dengar suara hatimu
Aku menyaksikan kecantikanmu sempurna di ceruk lembah"

Cipang, rinduku berkelindan

Karya : Suyatri Yatri
Cipang Kanan, 10 April 2021



MATA AIR BERKAH SAROSAH TINGGI
Karya: Suyatri Yatri


Menjejak makna merimbun. Bintang kerlip sungguh mengagumkan
Di sudut negeri batas
Ingin kuseduh secangkir kopi menikmati ruang sunyi bertabur bintang di langit minda

Yah ... ada damai di ceruk desa dengan keramahannya
Senyum anak-anak memberi pembelajaran pada jiwa bahwa rindu itu tersirat, ada kilatan harapan menggantang di matanya

Ada asa yang ingin diucapkan bahwa langitnya begitu biru
Dan hijau bergradasi di dinding bukit
Cucuran bening Sarosah Tinggi adalah keberkahan
Mata air anugerah yang dikeluarkan di antara cadas bebatuan
Air mata haru mengalir dari syukur bahagia lepaskan dahaga
Aku tafakur di bilik bukit mengagungkan Asma-Nya

Cipang Kanan, 11 April 2021



TADDABUR ALAM
Karya: Suyatri Yatri


Lelah kaki berjalan, tak selelah beban dalam pikiran. Nikmat mana lagi yang diingkari?

Kesempurnaan hanya milik Allah, tidak ada keraguan sedikit pun. Tadabbur alam memberi renungan bahwa diri adalah debu yang beterbangan. Alam pun berzikir dengan hikmat pada-Nya.

Setiap helai dedaunan menghembuskan napas doa pada Allah
Mengapa diri manusia masih saja sombong pada makhluk ciptaan-Nya?
Entahlah, serakah apalagi yang ditunjukkan untuk menguras peluh bumi hingga ke magma?

Semua tapak kagum keindahan, biarkan hidup menghijau di ceruk hutan
Agar jiwanya tenang
Dan detak jantungnya teratur memberi kehidupan
Oksigen memompa di pori daun

Rohul, 17042021



ISTANA CINTA SOLEHA
Karya: Suyatri Yatri


Di atas kedamaian berdiri istana
Ceruknya masih mengembuskan napas Soleha
Detak jantungnya masih bergetar
Di pagu terselip kisah cinta Tuanku Ibrahim

Berat memang mendua
Namun langit menghendaki mega kelabu
Memisahkan rindu hingga kutuk melingkar dari setianya jiwa

Bertabur air mata perpisahan
Masih saja cinta mendebarkan hati
Menatap atap rumah dengan harapan
Cinta menjadi sejarah di langit Cipang

Cipang Kanan, 11 April 2021




PUISI ALAM
Karya : Suyatri Yatri


Tarian sulaman benang langit bergemuruh
Deru angin membanting hingga juntai bergelombang
Riuh mengaduk kusut dalam irama rendah dan tinggi diselingi musik syahdu guruh dan petir berdentum
pijaran kilat memberi kuatnya kidung alam

Dum dum dum
Tar tar tar
semakin berguncang musik hujan
Menderas tepukan makna
Cumbuan dedaun terusik derit reranting

Dum dum tar
Semakin gencar tikaman senar gitar
memetik rindu di sela pohon
menanggung bahagia
Dari perpaduan cinta antara langit dan bumi

Tanah pun menyambut gembira
Meresapi makna air yang menggenang
Romansa alam nan sempurna
Terbentuk dari seni yang bernada indah
Tercipta dari rasa yang menuai metafora Dari diksi yang disandarkan di lingkaran bumi
Mensyukuri nikmat berpuisi dari karya sastra,Mahasempurna

Rokan Hulu, 2 Januari 2019



MATA AIR KEBERKAHAN HUTAN GUNUNG BUNGSU
Karya : Suyatri Yatri


Teduhnya hutan di antara dinding cadas
mengalir sejuk rahmat Tuhan
nikmati keindahan alam
tadabbur rindu syukuri nikmat-Nya

Bercanda dengan gemercik air terjun
nyanyian burung bersahut irama syahdu
riuh kegembiraan salto dari bebatuan menenggelamkan raga
berenang menyehatkan jiwa

Persahabatan antara kejernihan jiwa menyatu pada kemurnian hati
kesiur bayu berbisik penuh kasih
dari keberkahan di balik Gunung Bungsu
hadirkan mata air anugerah Allah Mahasempurna

Senandung pucuk pinus bersambut rindu kelakar akasia
membelit akar menjuntai menjadi jalan naik di bebatuan curam
takkan lepas syukur dan doa agar alam tetap terjaga
menjadi sahabat yang memberi napas di jantung kehidupan

"Petualangan memberi pembelajaran menghargai alam dalam keseimbangan hayati."

Kubang Landai, 29122018



TERIMA KENYATAAN HIDUP
Karya : Suyatri Yatri


Inginku matahari tak menyengat raga agar tak terbakar teriknya
Inginku petir kilat tak menyambar rasa agar tak menghanguskan segala makna
Inginku ketenangan alam membawa kebahagiaan
bukan api dan belati melukai jiwa

Biarkan biru langit bercampur putihnya awan memberi ketenangan
walau kadang diselingi mendung tetapi bukan karena vulkanik yang lelehkan larva menghampiri bencana

Lepaskan diri dari bandang jiwa yang gigih menenggelamkan kebebasan
jangan terus suntikan racun di setiap desah napas
biar badai berlalu
sebab hidup bukan dalam masa lalu

Terima kenyataan bahwa ikhlas lebih mendamaikan
menuruti hawa nafsu sama dengan membakar mati jiwa sendiri
raga menjadi bahan bakar ampuh dari dendam berkepanjangan

Sabar dari ibadah khusyuk membawa diri pada hakikat syukur
tiada kesempurnaan di bumi pengembaraan kecuali kesempurnaan milik-Nya

Pagaruyung, 28 Desember 2018



KELUARGA CAMAR
Karya :.Suyatri Yatri (Pekik Camar Aksara Jingga)


Saat kau berada di langit biru mengepak sayap melintas laut biru
Pekikanku selalu memanggil camar memintal aksara senja yang menjingga
Kuntuman melati menjadi kesucian persaudaraan
Kidung yang bersenandung rindu mengemas asa di deburan ombak
Keberandalan gelombang masih memberi tantangan semangat goresan karya di sela karang

Widuri masih berayun di pusaran riak memberi ketangguhan makna
Laut menyimpan mutiara yang tak hadirkan kesombongan di palung hati
Terbang menerobos harapan bersama kilatan cahaya dari satu tujuan
Selalu bersama pada titik jeda yang terekat di dinding imaji

Jiwa kita satu untuk menguatkan tiang rindu
Kukuhkan diksi yang dirangkai di ceruk waktu
Mrngupas makma dari keindahan hijau yang tercipta
Tumbuh tunas dari kesuburan pengertian saling memahami
Kita menjadi jemari yang mencengkeram larik silaturahmi
Dari geliat menjemput asa di arsiran puisi

Rokan Hulu, 18 Januari 2019
cc Stinkovic Laziale Effendi
Aulia Putry Manurung
#Denting_Daun
Dhanny Ofin
Dewi Anggraeni
Ratih Martadisastra
Dll



KOMPAS PELAYARAN
Karya : Suyatri Yatri


di tepian karang nan asin digarami laut tiada rapuh dihempas gelombang
samudra masih menyimpan rahasia
dari pernik makna yang tak bisa diterka nikmatnya
semenanjung pun senandungkan kisah perpisahan dari selat yang rupawan
biarkan debur ombak memberi peringatan kepada deru angin yang sering membadai dengan emosi yang tiada bertuan

kapal beringsut ke tengah berpacu dengan pusaran waktu
di palung rindu menyauk buih dari riak yang berceloteh iramakan pilu
rintihannya menyayat kalbu saat permohonan hadirkan syarat yang membeban luka hingga karam tenggelam sebab kompas tak tunjukkan arah dermaga yang dituju

melebur terombang-ambing kehilangan nahkoda
kemudi pun patah dimamah senja
layar terkoyak saat perang hadirkan musibah
jiwa belumlah tersadar sebab gelimang mutiara masih menimbun di kolam brankas dunia
gerbang maut masih tertutup walau bencana bertubi-tubi meledakkan badai yang bergemuruh

"Matahari belum merapatkan tubuhnya ke barat untuk mengintip bumi menyambut pagi."

Rokan Hulu, 9 Januari 2019



MEDITASI JIWA DI TELAGA PENDERITAAN
Suyatri Yatri


Aku bukan berada pada jeruji bias yang membakar hangus menjadi luka, Sayang.
Aku sedang berendam di telaga penderitaan agar aku lebih memahami makna ikhlas dan sabar
Esok, aku akan lebih kuat berjalan di antara tebing dan jurang menuju puncak kebahagiaan

Kau tak perlu menertawakan kebodohanku menjadi kecoak dalam tumpukan sampah
Aku sedang menerjemahkan makna nestapa untuk menjadi perempuan dewasa
Nanti, aku akan mengerti arti ujian dalam kehidupan

Kau tak perlu emosi merentang dendam saat aku berlayar hadapi tantangan gelombang
Dengan tangan Allah keyakinan jiwa ini membawaku menuju titik dermaga yang kusebut cinta sejati

Langit tak selamanya membawa kedukaan, Sayang
Seberapa hebatnya peluru yang kau tembakkan pada ragaku
Cahaya-Nya memberi tameng perlindungan
Selama aku masih berpijak pada kebenaran-Nya

Rokan Hulu, 11 Januari 2019



BUNATIN KITA BEDAH

Aku ada di antara bintang bersinar terang
Mengimla cahaya rembulan
Mengendapkan diksi di meja puisi
Memetik ranumnya aksara di taman kata
Sejarah abadikan estetika
Merekatkan titik makna
Silaturahmi jiwa mendebar di rindunya waktu

Aku titipkan sebait kenang untuk kutulis di batu ingatan
Agar rohku menjadi senyuman di lembaran kertas kusebut komunitas
Izinkan hatiku menyimpan pernik kebahagiaan di rimbunnya pepohonan ilmu
Antara budaya dan sastra
Aku duduk menikmati wajah seni

"Nyanyian Talang menciptakan Bunatin saat makna terurai di Langit pembedahan."

Panggung Toktan Pekanbaru, 27 Januari 2019
Hak Cipta ©2019 Suyatri Yatri
Semua Hak Terpelihara



IMAJI DI KEPULAN ASAP ROKOK
Karya : Suyatri Yatri


Mengepul lukisan menara Fisa
Imaji pun tercipta
Kumpulan nikotin menumpuk pasrah
Raga terkulai lemah
Tenggorokan mengering pecah seribu luka

Adakah makna membakar jiwa?
Berlahan menyiksa raga dari kelalaian hati
Nikmat sesaat
Melupakan dilema sekejap
Kemudian terkapar di pintu maut
mereguk penyesalan

Terbatuk tak berdaya tubuh ringkih
Semakin menua dibaluri keriput meninggalkan umur sebenarnya
Imajinasi berfantasi
Mewarnai setiap celoteh waktu
Menetapkan kanker melekat pada paru-paru rapuh

"Aku membunuhmu pelan-pelan dari cerobong gabus manis disebut candu."

Rokan Hulu, 25 Januari 2019



DI LORONG GELAP PERADILAN
Karya : Suyatri Yatri

Laut tenang membiru
terkoyak luka di jalan aspal nan naas
Berpuluh waktu samarkan rasa
Hilang sekejap
Hadir tak menentu
Bersarang indah di antara ruang makna

Hati terkuak tabir
Menyeringai sansai
Riak masih mempusara cinta
Rindu membenam sukma
Nahkoda beringsut menuju dermaga
Senja telah menitipkan doa

Saat malam merapal sepi
Kesendirian adalah sunyi

Di lorong gelap
Malaikat hadirkan tanya
Tentang arah jiwa berlabuh

Hening dalam hentakan detak
Mengantarkan tanda
Sebentuk warna
Lembaran kosong
Atau kertas bernoda kental
Sisipkan simbol-simbol peradilan

Kapas ruh berterbangan
mengulas makna
dari serpihan kefanaan

Rokan Hulu, 24 Januari 2019



PULANG
Karya : Suyatri Yatri


Sesayat makna bertabur jeda
Menitipkan riak aksara di dinding waktu
Penghabisan kata menutup titik
mengakhiri segala rasa
Pulang menuju dermaga

Rokan Hulu, 24 Januari 2019



TRAGEDI EJAAN


Ada apa di balik koma?
Saat jeda termangu
ingin mengakhiri dengan titik
namun konjungsi menggantung kata
Kalimat ambigu pun merentang jarak
antara aksara dan diksi
Elipsis pun memenggal klausa menjadi rahasia
penafsiran pun menjadi luka
Preposisi bingung di mana berdiri
Di tengah kata, terbengkalai imaji

Rokan Hulu, 22 Januari 2019



TIGA KUNCI PENGEMBARAAN
Karya : Suyatri Yatri


Gigil raga bukanlah karena takut
tapi bergetar jiwa mendengar lantunan indah ayat-Nya
Kulabuhkan pasrah dari segala gundah pada-Nya
Dekapan cinta cahaya-Nya bertabur nikmat yang mengucur deras tak terhitung rahmat
Sabar menjadi anak panah dari segala ujian
Ikhlas adalah peluru ampuh dari segala keadaan
Syukur menjadi buah tangan keberkahan dari segala penjuru mata angin
Senyum menjadi kekuatan dasyat dari prahara dan debat
Di rentak waktu binar makna bertaut kasih di pucuk rindu ikhtiar
Palung luka mengajarkan arti tegar bertawakal
Takkan melepas uluran tangan-Nya saat roh sandarkan keteguhan hati bertasbih
Zikir bergandeng doa dari ketulusan hakikat jiwa
Pelayaran di samudra ujian mengendapkan perenungan menuju dermaga sesungguhnya.

Rokan Hulu, 19 Januari 2019



TIRANI DAN KEMISKINAN JIWA
Karya : Suyatri Yatri


Miskin di antara harta
membawa kebutaan jiwa
Miskin dalam kekayaan diri
membawa hati berisi dengki
Miskin dalam kepura-puraan
membawa diri dalam kefakiran

Jendela mana yang ingin kau kehendaki?
Saat cahaya memburamkam nurani
Tirani merajalela dalam kata sombong
Dusta pun menjadi polesan bibir berhias omong kosong
Pintu sebagai jalan rezeki tertutup
Terlalu iri hingga mata hati pun mengatup

Nikmat mana lagi yang kan didustai?
Kala hati dipenuhi setumpuk tikai
Seutas tali pun menjadi tembang debat
Jiwa tak bersyukur dibalut sesat
Meranggas kering kerontang
Bertabuh jiwa gersang

Setitik makna di antara belati
Menghujam lukai hati
Allah segala pemberi rezeki
Takkan tenang badai bila seru angin menzalimi
Pasrah pada keadilan atas rida Ilahi

Rokan Hulu, 19 Januari 2019
SUYATRI YATRI


Sajak Sajak Uwa Kijoen - RIWAYAT PERJALANAN


 
Sajak Uwa Kijoen
KESAKSIAN
- kepada diri sendiri

telah kuziarahi puluhan kuburan
dengan doa-doa cinta, bahasa batin dan isyarat kesetiaan.
tetapi kesepian seperti
mata pisau yang senantiasa
siap menghadang dan menikam

ke mana lagi mesti kuusung
kekalahan dan kegelisahan
karena di setiap mata angin
tak kujumpai pilihan

Cirebon, 1981- 2021



Sajak Kijoen
RIWAYAT PERJALANAN

gerimis menyisakan kesepian
sepanjang aspal jalanan
pohon-pohon berbaris memagari
riwayat yang mengalirkan kenangan

telah puluhan purnama kulewati, menggaungkan
namamu ke segenap penjuru
tapi gedung-gedung membisu, pagar taman pun
membeku, orang-orang
seperti mengusung jenazah
diam dalam aroma kematian

tak ada alamat bisa dibaca
selain angka-angka berhamburan
dari mulut orang yang lalu lalang, dengan tangan
menggenggam belati

gerimis seperti mengantar kematian
engkau menjelma menjadi
riwayat perjalanan
: tak kutemukan.

majalengka, 2010 - 2021


Sajak Kijoen
SAJAK LELAKI DAN MIMPI

perlahan lelaki itu membereskan mimpinya,
pada separuh putaran,
diejanya harapan
seperti detak jam yang menyuarakan angka-angka
wajahnya mendadak ranum

napas lelaki itu mengalun tenang
melagukan pengantar lelap
gelisah telah ia tumpahkan
pada kegerahan cahaya matahari sepanjang hari.

lelaki itu membereskan mimpinya
perlahan seperti nyanyian mengantarkan harapan
pada kehangatan matahari
esok pagi.

Majalengka, 2013 - 2021




Sajak Kijoen
MENGEJA MIMPI
- kepada diri sendiri

sepi yang kita tasbihkan,
telah menjelma sihir
menghanyutkan semua kenangan
serta impian sepanjang usia

aku merasa terpojok, dengan
selaksa lamunan perempuan
dan ujaran perkawinan

di sini, mungkin mimpi
malam pun menjadi sangat renta
aku membungkuk, memunguti sisa masa lalu.

Kadipaten, 26042021
#sunyisepidalamhening



Sajak Kijoen
SAJAK LELAKI DAN MIMPI

perlahan lelaki itu membereskan mimpinya,
pada separuh putaran,
diejanya harapan
seperti detak jam yang menyuarakan angka-angka
wajahnya mendadak ranum

napas lelaki itu mengalun tenang
melagukan pengantar lelap
gelisah telah ia tumpahkan
pada kegerahan cahaya matahari sepanjang hari.

lelaki itu membereskan mimpinya
perlahan seperti nyanyian mengantarkan harapan
pada kehangatan matahari
esok pagi.

Majalengka, 2013 - 2021



MENGEJA NAMAMU
- kepada diri sendiri

sudah kubaca semua tulisanmu, ada nama dan riwayat yang kau tasbih kan pada masa lalu

lalu, aku akan mengeja namamu sebagai pejalan yang rindu tempat berteduh.

bersimpuhlah, kemudian mengheningkan luka, jadi canda.

Kadipaten, 26 Juni 2021
#sunyisepidalamhening
#diamkusepi
UWA KIJOEN




Jumat, 16 April 2021

Kumpulan Puisi Tati Kartini - MAAF


 
MAAF
By Tati Kartini

Ada doa di dadaku untukmu selalu
Walau kini aku berada di ujung asa
Telah habis inginku untuk hal yang nyata
Karena dunia hanyalah fana.

Ini sepotong sajak, cerita tentang kita
Semoga memberi arti , walaupun bias terasa
Kucoba rangkum menjadi selarik kata maaf
Untukku yang tak pernah mampu
Bahagiakan dirimu utuh

Jakarta, 4 Maret 2021



RAMADAN MAGFIRAH
Karya : Tati Waedi (Tati Kartini)


Dipertemukan kembali dengan bulan Mulia Ramadan
Bulan penuh pahala dan ampunan
Perkuatlah iman, tahan ujian
Jangan sia-siakan kesempatan
Langit kan doa, Allah Maha Mengabulkan

Utamakan mohon ampunan jangan terlupakan
Juga hidayah di dalam mengarungi kehidupan
Agar menetapi kebenaran, tak tergoyahkan
Di lapang kan kehidupan sekarang dan kemudian, di keabadian

Mintalah, "Pasti Aku kabulkan."
Demikian yang difirmankan-Nya
Masihkah meragukan?
"Nikmat mana lagi yang kau dusta kan."
31 kali di ulang di dalam Al Qur'an surat Ar Rahman

Jangan goyahkan iman agar tak menyesal di hari kebangkitan
Disaat tak ada lagi pertolongan
Hanya iman dan amal kebaikan sebagai teman
Yang akan meringankan atau memberatkan
Saat hisab diberlakukan

Jakarta, 17 April 2021




PACARAN
By Tati Kartini (Tati Waedi)


Kalau zaman dahulu orang punya pacar malu-malu
Tapi kini orang pacaran tak tahu malu

Kata agama pacaran haram
Kata anak muda kekinian pacaran adalah kebanggaan

Mengapa harus kau umbar?
Aurat kau biarkan terhampar
Sadarlah sebelum akhirnya bubar
Jangan beri contoh yang gak benar

Jakarta, 26 April 2021



DI BAWAH MATAHARI
Kolaborasi Lima Sekawan
Andri Tri Susanto, Ayya, Ade Prasetyo, Arum Purwita,Tati Kartini

Bertemu di bawah matahari, belajar merangkai aksara menjadi elegi. Lalu bersatu di kitab jiwa.

Padamu matahari, hangatmu senantiasa memberi arti. Meski tak selalu seiya sekata. Acap laku tak seiring seirama. Sekian depa jarak terbentang. Namun, engkau t'lah tinggalkan tilas. Menjejak dama dalam rangkaian aksara.

Kusampaikan padamu tentang terik, yang sanggup mengelupas mimpi. Kau tahu? Pendarmu elok tatkala redup. Namun, menyakiti bila terlampau hebat. Meranggaskan pepohon asa. Ciptakan kemarau di sabana cipta. Melayulah kuncup-kuncup.

Hingga senja tiba, tunas tunas kering berlalu pergi, terbawa laju angin ke padang ilalang. Bersualah serumpun perdu, menyubur bertumbuh elok berwarna warni.

Lima tunas kerontang menjelma sahabat sejati. Bertemu sepaham sehati. Tentang cinta pun terobati.

Meski dalam relung sukma tercipta rindu kilau arunika, pun renjana bertatap saga. Dalam kenang tak melekang selalu menjulang.

Padamu matahari, kami haturkan terima kasih. Bukan ... bukan kami lupa budi. Hanya butuh waktu untuk sendiri

Tentang terik telah kami resap sekadarnya panas. Dari siksa berbuah makna, menoreh kesan, luka pun cipta.
Walau masih menyisa dilema, tentang tanya nan tak terjawabkan, tentang asa nan terpatahkan
Akankah terbiarkan?

Jakarta, 8April 2020



SAHABAT
Oleh : Tati Kartini feat Bintang Jiwa


Aku tak selamanya bisa tampil sempurna
seolah tanpa cela
Aku pun tak selamanya berbuat salah
Aku juga mengerti tentang noda dan dosa..

Memohon ampun, bertaubat kepada Allah Swt senantiasa
InsyaAllah ada malaikat disekelilingku Menjagaku agar aku tak jatuh tergeletak dalam kegagalan

Terimakasih mau menjadi sahabatku
Menerima aku apa adanya
Sahabat adalah karunia terindah
Tak pernah bisa ternilai

Kalian sangat berarti ....

Jakarta, 8 April 2020



UMMI
Oleh : Tati Kartini


Ada rasa yang sulit terungkapkan
Pandangi wajah-wajah menyedihkan
Korban ketidak adilan

Tuhan lindungilah kesayangan
Tempatku melabuhkan cinta dan sayang
Ingin kubawa terbang melayang

Menembus awan-awan nan kelam
Biarkan rintik hujan basahi hati
Membasuh bara dendam hati

Mengapa teramat keji?
Takkan menyesalkah menyiksa buah hati sendiri
Pernah kah terlintas pada nurani?

Jakarta, 4 April 2020



HARAPKU PADAMU
Oleh : Tati Kartini


Aku tak ingin banyak bicara tentang perasaan kita
Hanya dihati kupenuhi doa-doa agar bersama dalam nyata
Bukan hanya pada janji semata

Aku belajar untuk percaya
Jauh di lubuk hatiku pun diam-diam terucap harap
Betapa inginku habiskan sisa umurku bersamamu
Sayang, mengertilah … akan aku.

Jakarta, 4 April 2020



RETORIKA COVID-19
Kolab : Arum Purwita,Tsurayya T, Ade Prasetyo, Tati Kartini

Bagaimana bisa tenang jika jumlah penyebut lebih cepat dari pembilang. Momok baru menakutkan, tak lagi jam. Namun detik yang datang menghunjam.

Ia tak kasat mata tetapi amat berkuasa, membabat hayat anak manusia. Meneror, tebarkan ketakutan. Menelan manusia pada pusaran pandir.

Mungkinkah Tuhan tak lagi menebar dama pada manusia. Karna manusia tak lagi pandai menyirat makna. Hidup bagaikan sebuah retorika semata. Mengalir dari hulu ke hilir. Abaikan kalam nan iringi takdir.

Makhluk kecil pemberi pelajaran. Tentang hidup, bertahan dan berjuang. Menakar diri atas nikmat Tuhan. Menggerakkan jiwa untuk kembali pada jiwa terang.

Merasuk sukma mengeja diri, perihal suci jua nurani. Nan kadung dikabutkan ego diri. Semoga ada waktu berbenah, menyelah kelesah.Tersesaplah gundah. Terlarunglah pongah di atas Lillah

Kini saatnya berserah pasrah. Meski bukan berarti diri menyerah kalah. Sungguh diri hanyalah makhluk angkuh nan rapuh. Bersimpuhlah pada sang maha pemilik semesta. Kepada-Nyalah semua munajat terpanjat.

"Diatas segala musibah dan gundah, percayalah ....
Tak semata- mata Allah turunkan tentaraNya, melainkan ada hikmah setelahnya."

Jakarta, 3 April 2020



KEKASIH JIWA
By : Tati Kartini feat Jiwa


Sayangku ....
Disini aku masih menetapi segala ratap yang curam

Dengan sunyi yang menghimpitku
Untukmu, rinduku

Tiada pernah kubergegas meninggalkanmu
Meski hanya selangkah

Tidak, rinduku
Rasa jenuhku itu adalah ketertarikanku
padamu

Dan tidak akan ingkar kepada bibir cintaku
Aku di sini masih memperjuangkan dirimu

Sayangku ....
Kaulah kekasih jiwaku

Jakarta 02 April 2020



KEPADA KAWAN
Oleh : Tati Kartini


Aku lelah izinkanku rehat
Tenangkan jiwa penatku sesaat
Tanyamu kadang terasa memberatkan
Beri tenggang menjawabmu kapan kapan

Permasalahan memancing perdebatan
Aku lebih senang mendengarkan
Untuk lebih menambah wawasan

Sampaikan saja terus terang dalam kejujuran
Kalian lebih memiliki kepandaian
Jangan pancing aku dengan pertanyaan

Jakarta, 1 April 2020



SURAT UNTUK KEKASIH
Karya : Tati Kartini


Assalamu'alaikum ...

Sayang ....
Kutulis suratku ini untukmu dengan menahan dadaku yang kembali terasa sakit lagi.

Pagi ini aku berjalan ke halaman mencoba beraktifitas selayaknya di pagi hari, tapi rasanya tak sanggup menahankan rasa sakit ini.

Air mataku mulai menetes, ingat padamu kekasih… .

Betapa aku tak sanggup mengatakan ini.

Begitu dalamnya kita saling mencinta, mungkinkah harus ku katakan juga?

Bahwa tak mungkin kita akan hidup bersama.


Aku tiada daya, diatas kerapuhanku manalah mungkin aku bisa bahagiakanmu.
Kekasih, wallohi….

Bukan aku tak inginkan hidup bersamamu yang telah beriku rasa bahagia nyaris sempurna.

Tapi rasanya aku takkan tega, merampas kesempatan bahagiamu untuk memiliki pasangan yang lebih sempurna yang segalanya melebihi rasa seperti yang kuberikan padamu.

Aku hanya mampu mencintaimu dengan segenap hatiku, tapi tidak dengan ragaku yang tiada berdaya lagi, yang setiap detik menahan rasa dari sakit yang tengah kuderita.

"Aku harus jujur padamu, mungkin hidupku takkan lama sayangku.

Sebagaimana kata-kata dalam puisimu.

Saat aku berkata sayang kamu, percayalah ....
Saat aku bilang kita akan bersama selamanya, ketahuilah
aku tidak akan pernah meninggalkanmu

Saat aku bilang selamat tinggal, berjanjilah kamu tidak akan menangis
Karena aku akan mengatakannya saat aku mati!

Jakarta 28012020
By: Bintang Jiwa. "



KEKASIHKU
Oleh : Tati Kartini

Terimakasih untuk tetap bersamaku, kau memang setia tak pernah tinggalkan aku.
Dan ternyata akulah yang akan meninggalkanmu.

Pena takdir telah tertuliskan, kita menjalani hari-hari yang indah di penuhi segenap rasa bahagia, maka ku mohon jangan kau tangisi perpisahan ini.

Biarkanlah cerita dan canda tawa bahagia kita tak ternoda oleh air mata.
Aku takkan sanggup bila harus merasakan dinginnya tetes air mata pada jasadku yang mulai membeku.
Kenanglah aku dalam bahagiamu

Selamat tinggal kekasih ...
Sayang dan cintaku untukmu selalu dan selamanya.

Maafkan aku sayangku…
Berjanjilah kau pun tak akan menangisi kepergianku.
Berbahagialah, walau kau harus hidup tanpa aku.

Doamu akan selalu membersamaiku sayangku walau kita berpisah raga.
Kelak bila waktunya tiba kita akan kembali bersama dengan kebahagiaan yang sempurna.
Aamiin Ya Robbal 'Aalaamin

Wassalam

Jakarta, 29 Maret 2020
Dari Kekasihmu
Tania




KELAM
Oleh : Tati Kartini


Mengenangmu bagai hembusan angin menerpa debu
Hilang tak bersisa
Cintaku kau bawa pergi
Dan tak akan pernah kembali

Biarlah aku tetap disini
Setia bagaikan senja menanti malam
Melebur pada gelap, hitam
Melukis bayang dalam ingatan

Kubiarkan rinduku membeku
Bersama dinginya temaram
Lembayung mengantarkan aku
Pada malam tanpa bintang dan rembulan, kelam

Indahnya senja tak lagi kurasa
Tanpamu hidupku hampa
Bagaikan raga tak bernyawa
Bersama senja kan kuhabiskan sisa usia

Jakarta, 14 April 2020



AKU KAKU
Oleh : Tati Kartini

Kadang aku terlihat seperti batu
Bergeming tampak kaku
Seakan beku tanpa rasa rindu
Jangan tertipu dengan gayaku

Hatiku dipenuhi aksara tentangmu, namamu
Agar kau tahu tiada arti semua hal tanpamu
Jauh di lubuk hatiku hanya kamu
Yang mengisi segenap ruang di hidupku

Jakarta, 13 April 2020



Assalamu'alaikum ....
PADA-MU PENGGENGGAM HARAP
~ kolab lima sekawan ~


pada bentang tertapak tilas
menyisa jejak akan segala tingkah
detikdetik mencipta jelaga
kian pekat seiring masa

riuh nikmat dunia tersesap
melupa hakikat tertutup hasrat
jatuh berkali rapuh
meruam pun menyangkal sungguh

jatuh pun tak cukup sekali
jatuh bangun seakan jadi tradisi, bagi insan lemah hati
walau berkali hindari, manisnya dosa menghias dunia
menawarkan kesenangan di setiap masa

semua ada masanya
tubuh tegap menjadi bungkuk
kulit halus berubah keriput
pandangan tajam menukik termakan usia

semua ada masanya
saat lisan bebas berkata
jemari menari bersama pena
tak peduli berapa hati yang terluka

semua ada masanya
mereka yang menyakiti akan tersakiti
jemawa menjadi bencana
nestapa menjelma bahagia, saat hari akhir tiba

adakah insan inyafi diri
membilang era nan berlalu pergi
mengeja segenap torehan perilaku
sementara waktu melaju, tak hendak menunggu

tuhan
ijinkan hamba pulang
kasihmu saja nan tak lekang
tiada tertakar pun terbilang
hamba bersimpuh
jatuh meluruh
patuh ... lungguh ...

tuhan
pulangkan aku dalam berjuta kebaikan
atas ridhomu di sepanjang lelaku
atas rahmatmu kembali ke rengkuhmu

Ruang cinta, 13 April 2020
~ LimaSekawan ~
Tsurayya Tanjung
Arum Purwita
Ade Prasetyo
Tati Kartini
Andri Tri Susanto



KEPADA KAWAN
Oleh : Tati Kartini


Aku lelah izinkan aku rehat
Tenangkan jiwa yang penat
Pertanyaanmu kadang memberatkan
Beri aku tenggang untuk menjawabmu kapan kapan

Permasalahan kadang memancing perdebatan
Aku lebih senang mendengarkan
Untuk lebih menambah wawasan

Sampaikan saja terus terang dalam kejujuran
Kalian lebih memiliki kepandaian
Jangan pancing aku dengan pertanyaan

Jakarta, 13 April 2020



SENDU
Oleh : Tati Kartini


Duhai hati tentramlah bersama mimpi
Walau semua rona seakan pucat pasi
Sakit di hati membiaskan lara menganga
Pada lukaluka lama

Ingin kutanya pada senja
Mengapa setiap pujangga merindukanya
Walau indahmu singgah sesaat saja
Menampakan wewarna menyambut kelam

Bersimpuh pada gelap malam
Berselimutkan hitam kelam
Menutup netra menjanjikan
Harapan akan datang di ujung malam

Bersama hadirnya nuansa kehidupan
Pada pergantian malam dan siang
Kau setia pada janji
Menutup hari mewarnai
Tersirat ada sendu pada rona indahmu

Jakarta, 22 April 2020



RAMADAN DALAM KENANGAN
Oleh: Tati Kartini


Hatiku bagai teriris sembilu
Mengingat semua kebersamaan di Ramadan tahun lalu
Anakku, kini kau tiada lagi disisiku
Aku hanya bisa mengenangmu, dengan hati yang teramat rindu

Kau sulungku, kebanggaanku, anak salehku
Yang selalu menemani dan menjagaku
Kini telah kembali kepangkua-Nya
Di dalam surga-Nya

Anakku, tahukah bundamupun kini tengah sakit?
Entah kapan, cepat atau lambat bunda akan kembali bersamamu
Semua memang rahasia, tapi dengan kondisi bunda sekarang rasanya takkan lama.
Kita akan kembali bersama

Andai saja aku bisa memohon
Ya Rabb, akankah Kau pertemukan kembali?
Di Ramadan suci tahun ini?
Semua ketentuan terbaik hanya milik Illahi

Jakarta, 19 April 2020



SAMPAI AKHIR WAKTU
By : Tati Kartini feat Jiwa


Suara tentang cinta terdengar lagi
Tegas nan lembut dari bibirmu cinta
Tercengang aku, getar dihulu jiwa

Aku tercandu oleh tulusmu
Obat muram yang mujarab
Sederhana penuh makna adalah bersamamu..

Berdua diberanda cinta, merindu
Memudahkan ikhtiarku padamu
Aku akan tetap menunggumu selalu, cintaku
Sampai akhir waktu

Jakarta, 16 April 2020
TATI KARTINI


Kumpulan Puisi Maks Onesimus Talan - PAGI


 

PAGI

rekah mentari
sekumpulan embun
rimbun semangat insani

bunga kenanga menebar wangi
melagukan rindu di ruang hati

sebait puisi lamat-lamat bergaung
menari menyambut pagi riang benderang

merayakan kesunyian sehelai kenangan
dari altar mimpi aksara bermunculan

membacakan bait- bait puisi
melesapkan irama semesta nyanyian pagi

***
Tublopo,05/04/2021
Salam Seniman



SEPEKAN


Gita cita menggema sejahtera
Dalam sepekan kata demi kata
Telah kucoba goreskan pada secarik kanvas tanpa warna
Curahan rasa yang terbuang oleh huruf wacana luka

Luka kemarin pun belum tersembuhkan oleh waktu
Jika saja hati ini bisa mencair seperti lilin
Mungkin sebisanya menapaki jejak tapak senyum bahagia
Membawa jariku yang seakan kaku tak berdaya
Menyapamu untuk terus menyala

Jika mungkin masih ada waktu yang tersisa
Untuk melupakan setiap jengkal rasa sakit
Dan masih ada hari yang tersisa untuk menghapus duka
Aku akan mencoba menorehkan tulisan-tulisan wacana bahagia

Agar yang terkurung tetap tersekap asmara bahagia
Dan yang terpasung dalam terali luka cinta
Tiada lagi termenung dalam tembok nestapa
Untuk meneteskan air mata derita

Entahlah ...
Sepekan kebisuan melarung
Dan kesunyian menerpa
Kehampaan ...
Kesepian ...
Dan kesendirian ...
Disemogakan ...
Menjadi mantra aku masih kuat.

***
Tublopo,03/04/2021
Salam Seniman



Hari Kartini dan wadah Emansipasi
EMANSIPASI


Hak
Dapat diwariskan
Keadilan dan kebenaran
Kebebasan asa jalan milenial

Siapa mengekang, siapa memberi
Hajatan hidup mandiri
Seperti Kartini
Bijak

Emansipasi
Pesan penyemangat
Menghadapi situasi sulit
Untuk berkembang dan maju

Tanpa hujan, tanpa pelangi
Telah mereka mengerjakan
Nyanyian pembebasan
Menginspirasi

***
#patidusa_bias
Tublopo,21/04/2021
Salam Seniman



WABAH
#Repost


Wajah tak berwadah
mana aku kenal ...
berselimut hawa di hamparan bumi
menebar dan menjelajah

Aku kian terpuruk
terjepit di selanya
menebar melintasi bumi
menjelajah seperti malaikat pencabut nyawa

Merenggut jiwa
jejak terpatri tak dihitung
hanya ringkih rapuh memikul beban
sampai terpenjam segala ceria keabadian

Sungguh sangatlah sungguh
aku terjepit di sela tak berwajah
aku terjepit di sela tak berwadah
segala pusaran hampir tak bernama

***
Tublopo,20/04/2020
Salam Seniman




SEPERTI AKU

Pada semesta
Aku menulis
Satu kata

Agar bumi …
Juga laut menyoraki
Dan langit menaungi

Kiranya ia menciummu
Dengan kecupan
Tercurah rasa karena cinta

Dan nyata kata itu
Seperti aku
Jatuh cinta denganmu

***
Tublopo,24/04/2021
Salam Seniman




PATROLI ABADI

Nanggala empat kosong dua
Selamat sampai tujuan
Dengan berselam
Bersumpah

Pergi
Demi tugas
Untuk patroli keabadian
Dan tidak akan kembali

Nanggala di laut lepas
Tak pernah sia-sia
Dharma baktimu
Tercatat

Membenam
Kesatria mulia
Di samudera raya
Mereka berpatroli untuk selamanya

***
#patidusa_asli
Tublopo,26/04/2021
Salam Seniman

MAKS ONESIMUS TALAN




Kumpulan Puisi Genoveva Manuhara - INGIN


 


DOA TANPA JEDA

Tuhan ....
(Sang pemilik hati)
Kalau boleh aku meminta
Satu hal kecil saja
Aku hanya meminta sekeping hatinya
Izinkan aku mengerami sudut kecilnya
Tanpa tersiksa prasangka
Tanpa terjeda nama dan rupa yang lainnya

Tuhan ....
(Sang pemilik rasa)

Izinkan rasa ini bertaut mesra
Saling memiliki
Saling menjaga
Tanpa terkamiri rasa dusta
Utuh penuh dalam dekapan doa
Semoga SAMAWA sampai ujung usia

Gk, 20210415
(Genoveva Manuhara)



INGIN

Matahari membakar sunyi langkahku
Terseok berteduh di kotamu
Masih pantaskah mengetuk pintumu
Sedangkan kemben lusuh terkoyak nafsu
Bermandi tubuh dengan keringat birahi
Kugadaikan sorga atas nama cinta

Bu, kakiku terhenti di sini
Hanya bisa mandangmu dari balik pagar batas suci
Menginjak pelataranmu pun tak layak lagi
Meski berkali wudu dengan air mata sesalku

Bu, kali ini aku hanya lewat di kotamu
Perih hati mengingat nohta merah di dahi
Menghalangiku bersimpuh di kakimu
Takut kasihmu membakar tubuh kotorku
Senyum lembutmu menghanguskan jiwaku

Bu, aku berlari menjauh dari kotamu
Berat mengemban dosa memikul karma
Meninggalkan jejak anyir anak durhaka

Ska, 20210410
(Genoveva Manuhara)



SIAPA MELUKA SIAPA

Ketika hujan membadai di mata
Aku hanya bisa meraba
Siapa yang telah menikam lara
Mencabik asa yang kubangun di sela reruntuhan jiwa

Tak mudah bagiku menyeka air mata
Menancapkan percaya panji panji cinta
Dalam gelap aku bertanya
Siapa meluka siapa

Gk, 20210410
(Genoveva Manuhara)



EPISODE CINTA TABU

Berkemas
Menyeduh dosa dalam secangkir kopi pagi

Bergegas
Sebelum kesadaran membangunkan mimpi

Berlalu
Meninggalkan jejak cinta di balik selimut tabu

Beribu tanya mengendap di dada
Akankah Tuhan berpihak pada kita
Sedang perbedaan begitu nyata

Loji, 20210408
(Genoveva Manuhara)



PULANG

Pohon randu meranggas
Kapuk beterbangan
Negeriku memutih muram
Angin berbisik lirih

"Saatnya pulang"

Barisan kata menari sambil menyeka air mata
Aroma dupa dan kamboja dalam barisan duka
Beriring mengantarmu dalam istirahat panjang

Gk, 20210406
(Genoveva Manuhara)



PADA SAATNYA NANTI

Pada saatnya nanti
Aku akan memanen rindu
Rindu sempurna
Kuerami dengan roh menyala
Hingga akhir nanti
Berjumpa dengan pemilik jiwa
Terwujud cinta agung mulia

Rindu padamu, Duhai

Gk, 20210404
(Genoveva Manuhara)




BERDOSAKAH AKU


Maaf kalau aku selalu ingat padamu
Ingatan ini telah membuatku tersungkur dalam bait bait resah

Sementara jarak sunyi adalah bentangan antara engkau dan aku
Rindu hanya tersengal di napasku

Berdosakah aku bila jatuh cinta pada senyum indahmu

Brosot, 20210329
(Genoveva Manuhara)




SIAPA


Siapa ....
Siapa telah begitu lancang membuka pintu hatiku
Hingga gema rinduku terdengar seantero penjuru
Siapa telah berani membangkitkan cinta terkubur berabad lamanya
Kini mencengkeram jantung sesak napasku dibuatnya

Siapa ....
Siapa telah gegabah nyalakan api cemburu
Membakar ranting ranting kering kisah masa lalu
Menjadi abu
Meninggalkan gurat gurat pilu

Siapa kamu
Mengapa diam membisu

Gk, 20210405
(Genoveva Manuhara)



UNTUK KEKASIH

Untukmu kekasih
Yang tiada lelah berjuang dalam mewujudkan impian

Pulanglah dalam dekap cintaku
Rebahkan letihmu di pangkuanku
Tidurlah dalam damai bersama doa doa menyelimuti jiwamu

Damaimu bahagiaku

Gk, 20210418
(Genoveva Manuhara)




RINDU JADI ABU

Telah tandas jamuan rindu
Dalam pesta paling durjana di malam itu
Dalam bejana pembasuhan
Tuba dan madu bersekutu
Gelegak amarah tertimbun pilu
Cinta berseteru
Rindu jadi abu
Engkau dan aku tak lagi satu

Gk, 20210417
(Genoveva Manuhara)




GURIT PERIH


Ndak tulis gurit perih
Ing pinggiring ati kang ringkih
Ora ngira menawa sliramu nyebar wisa
Nabok dhadha kanti apus krama

Aja ditangisi lampusing ati
Ndhedher tresna ora guna
Abot nyangga rasa ancik ancik pucuking cubriya
Kudune kabeh ditampa kanti legawa
Nanging ya gene isih ana luh kang tumiba

Loji, 20210408
(Genoveva Manuhara)



PAMIT

Telah habis kucabut akar cinta dari saku mimpi
Sempurna kupungkasi rasa dengan akhir nelangsa
Lebih baik sendiri
Bila berdua tak dianggap ada
Cukup sampai di sini kisah perih ini

Pancen abot jeroning ati
Munggel cerita asmara kang durung kober kababar
Rasa ati kang ora kawedar
Cukup tekan semene
Becik andum basuki kariya rahayu

Gk, 20210419
(Genoveva Manuhara)



MENGEMIS CINTA


Merebak tangisku di pangkuanmu
Kupersembahkan resah dalam gundah di sisa malam

Lihatlah hatiku yang piatu
Jiwa papa menunggu belas kasihmu

Inilah aku si miskin mengharap iba
Setetes saja cintamu jadi ajimat di lelakon hidupku

Aku mengemis cinta dari sorga

Gk, 20210424
(Genoveva Manuhara)




DUSTA

Dusta telah mengkremasi sucinya hati
Seonggok cinta jadi abu hitam
Menghias luka silam
Tak layak dikenang

Semua sudah tak sama lagi
Tak usah ditangisi
Matinya sekeping hati

Kau masih diam dengan angkuhmu
Dan aku memilih berlalu
Jangan ditanya mengapa
Karena sabarku ada batasnya

St Balapan, 20210425
(Genoveva Manuhara)




Kumpulan Puisi Romy Sastra - SUARA PEDAGANG TROTOAR



KEPARAT

aku mencium musim sedari fajar sebelum pagi tiba. ibuku dan bapakku menanam bibit di halaman. lalu tumbuh subur tubuh zaman berpayung risau sepanjang matahari 'kan tenggelam. putik-putik berjatuhan dioyak lindu limbubu bibirmu sembilu bak miang menyilam lidah, cacing-cacing masuk ke mata. akankah halaman itu rusak setelah cinta bertakhta? mari menjaganya

kau tahu? aku telah mengecup panji terikat di keningku. lalu kuikatkan di keningmu adalah perjanjian sumpah pemuda pemudi itu, sumpah kemistri bergaung di dada pertiwi sepanjang masa, selalulah berjabat mesra. wahai penyebar hoax dan proxy? kau semacam misteri mengoyak simetri pancasila, kukecam kau di madah puisiku si keparat bangsa!!

Romy Sastra
Jakarta, 15 April 2021



AKU MENDENGAR INDONESIA
Romy Sastra


aku mendengar suara indonesia dari puncak gunung dan lembah, tetesan hulu mengalir ke muara, udara berhembus sejuk. betapa damainya alam ini dinyanyikan burung-burung di pucuk pinus, dan ranting-ranting lapuk. sawah ladang digarap petani setiap hari, demi kelangsungan hidup anak negeri sedari dulu.

aku mendengar suara indonesia dari pelosok desa, radio yang kudengar tempo dulu ketika larut malam, membawaku hanyut pada kisah kolosal: saur sepuh, satria madangkara sampai siti nurbaya. cerita klasik usai, warta mengudara, kehidupan di sana-sini penuh tikai. aku terusik di gelombang frekuensi dari warta corong-corong kota; aku mulai resah.

aku mendengar suara indonesia dari orasi jalanan, betapa dasyatnya suatu perubahan di zaman ini. mataku terbelalak, indonesia berbenah katanya. kota-kota berkompetisi teknologi, para pemodal bermain teka-teki,
adakala untung rugi. akan tetapi yang culas sudah meraup untung lebih dulu di balik transaksi. tiba-tiba kongsi pecah perang strategi, demonstrasi berlaku; delik demokrasi jahanam!

aku mendengar suara indonesia di layar gadget yang kusentuh, haru dadaku iba, mataku mulai basah. mendengar suara indonesia dari teriak ketidakadilan, korupsi merajalela, dan lainnya. mereka lupa budaya gelap jalan pulang ke ranah, sejarah dibutakan peradaban. sebab kepentingan mereka diutamakan, aku pun bertanya; bagaimana nasib anak cucu kita nanti? indonesia ini jangan tergadai.

Jakarta, 2 Juni 2020



SUARA PEDAGANG TROTOAR
Romy Sastra


tiga sepuluh, tiga sepuluh, tiga sepuluh.
pilihlah pak, pilihlah bu!
mari mari kumpul pikir-pikir pelita hati ragu-ragu rampung,
duhai si rintik hujan gerimis, harga ekonomis.

ah, si pedagang lamis berkata manis menarik pembeli mencari untung.
menawarkan barang di trotoar
berkoar dengan sehelai selendang di dada bertopi lusuh. baju kuyup embun jatuh dari jidat, basahi debu jalanan bersorak kesetanan.

tiga sepuluh, tiga sepuluh, tiga sepuluh.
pilihlah pak, pilihlah bu!
mari kumpul - mari kumpul: cianjur, jatinegara, tanah abang, pasar pagi.
terlanjur ibu belanja rusak barang boleh kembali.
tiga sepuluh, tiga sepuluh, tiga sepuluh, pilihlah pak, pilihlah bu!
mantra dilumat kepala ngebul
suara burung kenari di terik mentari
menimang sesuap nasi.

amat-amat pelita amat dari jauh nona berlari
si nona datang lamat-lamat bernyanyi
biar lambat asal selamat dalam telor jodoh menanti. si batang singkong gersang memandang langit, berharap tumbuh di bulan, bumi sudah gersang didiami aku bermimpi; apakah di bulan ada kehidupan?

pedagang trotoar rugi besar lapaknya digusur satuan pamong bawa pentung pedagang termenung: aku gagal melipat untung

Jakarta, 8 Juni 2020



KAKI LIMA
Romy Sastra


terpal tepi jalan alas kehidupan terjal,
kaum-kaum marjinal menikmati secangkir kopi disruput pagi sebatang rokok ngebul.
baru saja berbenah dekorasi demi senada rupiah. lencana di dadamu punggawa ratu,
seakan berjalan di karpet merah. segerombolan hantu menghardikku,
aku terbirit-birit ke balik pintu.

kaki lima bermandi peluh derai air mata
mengutip remah-remah nan tumpah dari para pembeli. meski sudah terbiasa menantang terik, kau tanpa ampun melibas pencari nafkah delik atasan, aturan sudah dikeluarkan ucapmu; sumbu tungkuku tak ngebul,
malah kau padamkan sebelum hidup.

wahai si gulana gulaiku tumpah,
aku resah; pamong membawa pentung,
dapurku disiksa.

Jakarta, 5 Juni 2020



SANTRI MENCARI CINTA
Romy Sastra


perjalanan malam di ruang batin
duduk bersunyi
melipat langit menuju arasy diri
bertasbih asyik dimabuk tuak ilahi

duhai mursyid,
tunjukkan pikirku pada jalan keselamatan!
biarkan nafsuku terpenjara suci
lalu, langit terbuka
bulan bintang matahari beserta kosmik
semuanya kerlip hadir menyinari

dan mursyid
menundukkan si kepala batu ke telaga cinta
luruh segala noda bergayut di dada

mursyid berseru:
berjalanlah kau santriku di bumi allah!
tempuh pahit getir hidup ini adalah ibadah
sedangkan dadanya kau pijak tak menjerit: pasrah

setelah mencicipi wejangan hakiki
jiwaku kembali pulang berenang di malam panjang

sadarku,
duduk makrifatullah memanglah indah

Jkt, 130421



LONCENG KEMATIAN
Romy Sastra


deru ruh gelisah tubuh membisu
kala takdir hayat terhenti pada janji
lonceng kematian tiba di liang rongga
lonceng tak berdenging diam sudah
satu per satu ruh di badan luruh
mendahului kematian segala tubuh

ruh tunggal akhir kepergian
meninggalkan bangkai
segala cita-cita harus tergadai
terhenti diamuk senja
tenggelam layaran tak lagi berdian

liang sami' sunyi
kelopak mata melotot
netra batin tak lagi berkerlip
gunung thursina ciut kerontang
ari disentuh bak salju tergelincir pilu
dahaga alang kepalang meminta air idaman
selera makan lahap tak lagi tertelan
yang dimakan bayang-bayang

lonceng kematian datang menakutkan
el-maut tak kenal iba
rupanya merontokkan bulu roma
kerjanya seperti menghempas gunung merapi
memuntahkan lahar ke segala nadi

takut, sungguh menakutkan
ke mana lolongan pedih berlari
se-isi bumi masa bodo
berharap tetesan doa ahlul bait membisik
tak jua tertolong
lonceng kematian tetap jua terjadi

sakit, sungguh menyakitkan perpisahan
tiada yang lebih sakit dari sakitnya kematian
gelap, tiada yang lebih gelap dipayungi nisan
nan tersisa hanya sesalan

Jakarta, 08 April 2021



PAGEBLUK
Romy Sastra


aroma dupa di pendopo paguron eyang santa
menguar ke seantero pengajian malam
kidung mengalun di sela-sela angin
dibaca santri diselubung kain sarung
penuh takzim pada titah yakin di batin

aroma dupa menusuk hidung
bersenyawa doa mengetuk pintu langit meminta
santri menyatukan rasa pada kalam ilahi
wahai pagebluk menyuruk di balik tirai kehidupan, enyahlah, enyahlah, enyahlah...

eyang santa juru kunci pintu tuah menangis, setelah kembali berdialog gaib
dari alam antah berantah tentang corona

angin berputar mengelilingi altar
dialog tingkat tinggi terjadi pada eyang santa,
dan virus mewujud cahaya;

santa, ketahuilah!
aku si pagebluk diperintah meminta nyawa kepada sesiapa yang tak waspada
biyen-biyen aku diciptakan dari sabda api membakari jantung hati menungso
"esuk lara, sore mati, sore lara, esuk mati"
aku datang kembali pada zaman ini
lewat teknologi yang terukur
santet global yang teratur

air mata eyang santa bercucuran
tangannya gemetar memutar tasbih
tumbal tak dapat dielakan, penularan menjadi-jadi.

eyang santa bermantra sampai ke titik tertinggi memohon pada rabbi
ampunkan kami ya allah
pinjamkan hamba penangkal pagebluk mewabah
satu isyarat batin diterima di puncak doa;
tawakal suci total
pagebluk tunduk dengan sendirinya

eyang santa dan santri merenung malam hari
kenapa rumah tuhan kok sepi?
purnamakan iman nyala di badan
aku menampar zaman puisi diciptakan

Jakarta, 6 April 2020



MUZIK BERNYAWA
Romy Sastra

tubuhku terhimpun atma
lahir telanjang
mengalun muzik bernyawa
dan jadi gelandang
mengenali arah
ke mana hendak berpulang?

aku hidup di lembah
menghuni gua
berlari di keramaian
pujiku bertitinada ya hu

setumpuk kertas memori diri
sedari awal tertulis online
siapa pemeran digital itu?
selalu membuntuti
bukan bayangan

Jakarta, 6 April 2021



PENDAKIAN

kujelang rantau menuju kematian
shaum menghimpun seluruh pelaku rindu
perjalanan malam merafal doa-doa taubah pintu langit tak pernah terkunci
tasbihku diayun melodi cinta

aku nisbahkan pendakian menatap kesucian mengurai rantai keimanan
sepanjang laju duduk diam
tubuh gemetar nafsu terpenjara
seberapa jauh malam kutempuh?
ya'qilun, yatafakarun, wa yatazakarun
: aku fana

Romy Sastra
Jakarta, 22 April 2021



RA KARTINI

lilin tak nyala di dalam rumah
mata pribumi ditutupi kolonial
kartini dirantai di bilik sunyi
hatinya kelap-kelip menerangi
generasi buta aksara
dibodohi penjajah

kartini bertanya pada kiyai:
di mana pintu langit berada?
kiyai terpana dan resah
mau menjabarkan pintu-pintu langit
sayangnya, tangan kiyai dibelenggu belanda
bibir terkunci mewejang kalam

kartini, kau pijar dari jepara
emansipasi wanita melawan penjajah
wanita di masamu dibutakan belanda
kau datang sebagai pencerah
dengan tinta hingga ke meja dakwah
merdekakan kebodohan menuntut ilmu

semboyan itu:
"habis gelap terbitlah terang"
kartini, kau kukenang

Romy Sastra
Jakarta 20,04,2021
Menyambut 21 April Hari Kartini



TUALANG MEMBACA MAKNA

ingatan membuka lembaran dalil
tentang layaran terkembang pengabdian
sedari awal koloni mengingatkan pulang
aubade alam menyatu di setiap perjalanan
roh menyingkap tabir pintu mati
haus lapar tubuh getar puji syahdu syahdan
perjuangan mesti ditaklukan
hitam putih bergandengan

sajadah menyambut karibnya doa
jiwa merindu tengah malam
desah tasbih menjangkau tiang-tiang langit
memujamu cinta

ramadan melatih diri tawadu'
ikhtiar meraih kemenangan
belajar sadar lelaku dijaga
tualang membaca makna
sebelum ajal benar-benar tiba

Romy Sastra
Jakarta, 25 April 2021




MUZIKA YA HU

asmaning izzati kuseru lirih
hati, jantung, nadi bertasbih
adalah partitur mengalun luhur
di antara debur sepanjang jalur getih
: ya hu

Romy Sastra




KEMARUK

aku datangi saung mursyid di tepian samudra
bertelanjang dada tak berkopiah
tutur guru dituruti
aku dungu manggut-manggut manut

diri bermusyafir renungi pasir-pasir di pesisir
bertaburan hikmah di segala pikir
jiwaku karam tak basah dan terpesona

aku pinta rahasia kunci kematian pada sabda:
lubang dunia itu berada di mana guru?
ia pejamkan netra tak bermantera lidah
melainkan takwa saja.
ah, tak cukup petunjuk memasuki ranah

kudekap guru erat-erat
pituduh luruh pada selembar surat wasiat
satu-satu eja kalam dibuka
guru bisikkan rahasia gaib tentang hening
sukmaku fana tahali belajar mati

kubuka gerbang baitullah kubunuh inderawi
kuintip cinta ke dalam tafakur terpancar nur
benak beriak bersusun sebentuk baitul makmur
duduk bersila bak budha menatap nirwana
tiada bermantera tak berkomat-kamit
yang diajarkan tuan guru dituruti
seketika gumpalan pelita hadirkan kejora
menerangi alam batin seperti lampu pesta
tercipta di keheningan sesaat
pada jalan makrifat

aku dan nafsuku
berpacu mengejar tempat tertinggi
pada kasta-kasta iman menggoda diri
adalah menatap kerlip maha megah
di puncak fana menyimak yang sejati
atau labirin menyesatkan di balik tirai ilusi?
aku yakin musyahadah cinta menyapa

segala nafsu lelah terbakar sirna
di keheningan malam di wajah wujudullah
indahnya cinta bertaburan cahaya
ke mana 'ku menatap dia selalu ada
: hu dzatullah
aku mabuk kemaruk dengannya

aku dan diriku bertakhali rahsi
membunuh hasrat doa tiada yang kupinta
selain menatapnya saja
terus kupeluk cinta dan kupeluk
padahal sedari dulu cinta berpagut
pada janji yang tak pernah diingkari
bahwa jiwa ini tak berjarak dengan laisa kamiselihi

aku haru, dosa-dosa seakan berguguran
tubuhku runtuh bergemetaran
pada terjawabnya asholatu daimullah
semoga itu pertanda ibadahku diterima
innallaha latukhliful mii'aad
dalam khyusuk yang klimaks bertajali
aku dan diriku lebur dan mati
fana menyentuh maha rasa bersatu padu
ya, yang ada hanyalah dia maha cinta
kesaksian dahaga;
esok dan seterusnya aku datang lagi
terima kasih guru sejati

Romy Sastra
Ngawi, 27 Mei 2021



SELAMAT JALAN IBU
Romy Sastra


ibu...
selamat jalan bu
perjalananmu telah usai
suratanmu telah sampai
seorang anak menghantarkan kepergianmu
yang pulang kemarin ke tanah asal
dalam doa memilu pasrah

ibu...
selamat jalan bu
tersenyumlah di sana
pengabdian anakmu belum selesai
meski hidupnya dirundung sansai
ambillah selimut suci
pada amal yang dulu kau semai
saatnya kini kau pakai

ibu...
selamat jalan bu
anakmu titipkan puisi di atas nisan
kembang setaman mewangi
rindu kami dalam diam
sebab jarak telah jauh
tubuh yang tak lagi utuh
melati putih, tumbuh tumbuhlah
sebagai pengganti

ibu...
selamat jalan bu
satu tembang pernah kau dendangkan
dalam ayunan kala 'ku bayi
tangisan awal pengisi dunia
tangisan terakhir mengetuk pintu langit
pada doa kukirimkan bakti

ibu...
selamat jalan bu
selendang yang kau pakai dulu
kini berganti di pundak kami
teringat pada janjimu
melanjutkan kehidupan
tentang cucumu yang kau kasihi

ibu...
selamat jalan bu
damailah di sana
semoga berbahagia di haribaan-Nya
kelak nisan kita berdampingan
tunas-tunas tumbuh di teras bertangga
tirta surgawi teteskan duhai generasi
bacakan ayat-ayat suci
di tanah berdebu
silih berganti

HR RoS
Jkt 7718



KUNCI SURGA ITU
Romy Sastra


ayah....
ragamu bagaikan otot kawat bertulang besi
kasih sayangmu menetes di sekujur tubuh
jatuh menyirami
suburkan tanah tunaskan cinta
di dadamu pelita, di pundak jua amanah
di jejakmu kami melangkah
meski surga tak berada di telapak kakimu
dikau ayah, sosok imam di dalam keluarga
engkaulah kunci pintu-pintu surga itu

ayah....
pada tongkat petuah-petuah cinta
engkau tuntun kami ke jannah
dengan belaianmu,
seperti terlindungi berada di tangan raja
raja yang menyayangi, mencintai rakyatnya
bangga kami padamu ayah
seperti bangga pada ibu juga
engkau sosok langit memayungi mayapada
dan ibu sosok bumi melahirkan cinta

HR RoS
Jakarta, 070718
Momen jembatan tugu Bayang



SABDA AZALI
Romy Sastra


Empat anasir berpadu
Menjadi koloni buat tubuh
Nur Muhammad telah dulu bersaksi
Hu Dzatullah
Asyhadu alla ilaha illallah

Segalanya bermula dari alam kosong,
yang ada DzatNya
Nur Qun Hu Dzullah
Di dalam kandungan Qun Nur Muhammad dari pada DzatNya

Berkuasanya Dzat kepada sifat
Tidak Aku jadikan engkau wahai Muhammad,
melainkan rahmat untuk sekalian alam

Berfirman Rabbani pada sifatullah
Teteskan air nuktahmu wahai NurKu!

Nur mani menjadikan cahaya putih,
kepada air

Nur madi menjadikan cahaya hitam,
kepada bumi

Nur wadi menjadikan cahaya merah,
kepada api

Nur maningkem menjadikan cahaya kuning,
kepada angin

Tiada kosong telah terisi wajibul wujud

Bersabda sifatullah:
iyakun kun jadi, jadilah engkau Jibril
penguasa bumi

Bersabda sifatullah:
iyakun payakun jadi, jadilah engkau Mikail
penguasa air

Bersabda sifatullah:
iyakun payakun jadi, jadilah engkau Israfil
penguasa angin

Bersabda sifatullah:
iyakun payakun jadi, jadilah engkau Izrail
penguasa api

Kepada Adam tercipta sebagai insan kamil
Jadi khalifah di muka bumi dari anasir suci
Tiada upaya semua tercipta mengabdi

Adam papah tak memiliki daya
Sabda Rabbani titipkan karsani kepada Jibril,
Ya Jibril!
Bawalah karsani ini ke Adam
Lalu Jibril mentaati titah Tuhannya.
Karsani ditiupkan ke tubuh Adam
Adam berdaya
Apa yang ada di dunia ini menyerah
Idajil tak terima

Daya keimanan Adam pada keinginan
Menjadikan rasa mecumbui nafsu duniawi

Karsani tertancap di ubun
Tembus ke dubur jadi abu
Berjalan di bumi Allah
Gelisah tak berpenamping
Dari keinginan tercipta Hawa
Tempat bermanja dan terlena
Sesungguhnya surga dan neraka itu
Nyata ada di dunia dan di dalam jiwa ini

HR RoS
Jakarta, 050718



NUSANTARA BERISTANA HANTU
Romy Sastra


kemarin bumiku cerah
tiba-tiba berwajah murung
suram sudah,
sang surya seakan malu
menampakkan terik di dada ibu
enggan menyinari mayapada
nusantara berkabut di dinding hari
berkoloni misteri, seakan kiamat hampir tiba

kabut ... kini jadi napasku
kauajarkan ilalang melihat mentari
pada wajah resah gelapnya pertiwi
apakah kiasan itu
pertanda ada makna yang tersirat
mata hati insani telah buta
memandang cahaya ilahi
pada gelapnya kearifan budi
yang menghiasi religi dan nurani

uhh ... entahlah, aku juga tertanya?
yang jelas kini,
nusantara tertutup kabut
dari bisnis serakah
di negeri khatulistiwa

'kutengadahkan tatapan ke ruang angkasa'

di sini,
ladang sawah kami terhampar
sejauh mata memandang
melirik ke dinding bukit
melayang pandang ke samudra biru
gelap sudah negeriku

di sana,
perkantoran menjulang tinggi
asri dan mewah
menjadi wajah metropolitan
bersolek teknologi

birokrasi di meja penguasa tumpang tindih bersama pengusaha meminta jerih
ilalang mati, anak-anaknya tumbuh berdiri
lalu, ia menuntut
dan tuan-tuan takut
saling tuduh menuduh siapa
mengapa hutan pertiwi terbakar?!
semuanya pengkhianat bungkam
tertutup oleh penjilat malam
ruang itu jadi temaram

potret khatulistiwa
bak peninggalan negeri inca tak berpenghuni
nusantara benar-benar berkabut misteri
seperti beristana hantu di setiap hari

nusantara ini kaya bung
tapi kenapa penghuninya lara
ozon sudah parah berkabut
dicipta oleh tangan-tangan serakah

kekuasaan dibeli
segelintir oknum dan perwira disewa
seperti bermain petak umpet saja
bangsat sialan persetan!!
sumpah serapah anak bangsa sampai berbusa
dan negeri sebelah meludah
tak lagi didengar oleh pengusaha

di sini ..., di tanah ini
lembayung tidung merintih santun
aku ini laraaaaaa....
tak jua didengar oleh para penguasa yang bertopeng dewa
seperti terlelap sudah di istana alenka

"wahai para punggawa bangsa
kau berserakkan di mana-mana,
perisai pertiwi dari sabang sampai merauke
bangkitlah!!"

uuhhhhh ....
Ketika pesta seremonial berbaris sesaat
komando sigap
punggawa loreng dilepas
dari barak berkendaraan tank baja
berpuluh ribu di keramaian kota

bila nasib nusantara berpesta derita
terjajah oleh keserakahan segelintir pengusaha
si punggawa loreng bersembunyi di mana?!

wacana intrik komando bela negara
santer didengungkan
mau dibawa ke mana potensi intrik itu?
lihatlah di depan mata!
musuh nyata telah menyesakan dada
tak kaugubrisss....

"hai loreng ....?!"
kau perisai negeri
ketika ibu pertiwi terbakar
air mata anak bangsa kering
kau seakan buta dan tuli
hanya dilepas seratus lebih saja
beralasan tunggu komando dari raja

mmm ....
para ahli peneliti belajar eksperimen
tak jua menuntun jalan terangi kegelapan
hanya solusi ke-ilmuan basa-basi saja
robek saja bukumu buang ke comberan

di mana tanggung jawabmu kini?
wahai ... manusia setengah dewa
yang duduk di kursi empuk
di dalam istana-istana megah
kinerjamu, seakan menatap bisu
ke dinding putih
terpukau indahnya lentera mewah
tak sadar diri dimakan sumpah
pigura wayang di dinding birokrasi
mengintip mencibir yang berdasi
nan duduk santun telah dungu
seakan tak bermaruah lagi

mana janjimu tuan?!
amanah di pundakmu tak dilaksanakan
janji kemakmuran dalam orasi pemilu
dulu kaudengung-dengungkan
mmmmm,
kini jabatan itu telah kausandang
kinerja seakan berwibawa pontang-panting
bergeleriya hanya intrik sesaat saja

olalaaaaa ....

aku cerobong tinta dalam seni
penyambung lidah derita rakyatnya
berorasi puisi
mengetuk nurani yang telah dungu
bangkitlah kau putra-putri pertiwi
yang berkompetisi dengan ikrar tepati janji
jerat para bedebah negeri ini
ambil saja hartanya dan telanjangi....

HR RoS
Jakarta, 4 Juli 2018



KEKASIH YANG PERGI KE DALAM DIRI
Romy Sastra


Tatapan bertanya pada langit,
"Di mana istana Tuhan berada?"
Lantas, langit tersenyum luas, seluas mata memandang, terpana.

Wahai langit,
"Ke mana perginya kekasihku yang tercinta?"
Langit menjawab,
"Tanyalah pada hatimu, wahai si hamba yang lara!"

Lalu, seraut wajah tertunduk menatap mata hati, berbisik pada jiwa.

Duhai jiwa,
"Ke mana perginya kekasihku yang tercinta?"
Hati pun tersenyum, seakan menitip isyarat, shaumlah sepanjang hari dan zikir.
Ternyata, kekasih itu bersemayam di dalam diri, kekasih itu tak berlalu jauh.
Ia berada pada rumah-rumah yang fakir, berjubah pada jiwa-jiwa yang bertakwa.

HR RoS
Jkt, 280618



ZIARAH PERJALANAN
Romy Sastra


pulang kampung menemui jejak tanah asal
di sana darah tertumpah
pulang bukan sekadar kenang
sujudkan kepala batu di kaki ibu
yang selama ini pembangkang
memohon pintu surga terbuka lebar

dan berkeliling kampung bertelanjang dada
adakah noda hitam masih melekat di dalamnya?

lalu, menyapa satu-satu yang bersua
mengetuk pintu-pintu rumah
uluk salam, jemari ulurkan
berpagut erat lekat
bersatu bidang itu dengan bidang tanah asal
risau luruh, rindu tumpah di sudut mata
lelehan di pipi jadi embun suci

nasihat di sisi ibu
merantaulah kau nak!
tapi, jangan lupa
diankan keningmu di atas sajadah

semoga perciknya menyinari mata hatimu
kelak kau pulang ke ranah abadi
obor telah kau pegang di kegelapan
mengenang tanah asal ziarah perjalanan
kenang-kenanglah kematian

HR RoS
Ngawi 250618



MUSAFIR RINDU
Romy Sastra


ajnabi mencari kisah dalam rasa
berkelana menyisir angin di pesisir pantai
berkenalan dengan camar yang kesasar
bercumbu rayu pada kedasih
di mana tuju 'kan berlabuh
sekuntum rindu telah mekar di pucuk perdu
sedangkan selasih semerbak pada sunyi

ajnabi mencari kisah berkeliling rasa
berkelana menyisir angan inginkan tujuan
di dermaga cinta mendapatkan titipan
tentang camar berjanji di sayap merpati
takkan mengingkari janji

duhai ajnabi
terbanglah terbang jauh
terbang tinggi ke balik awan
kelak kembali,
bawakan daku bulan ke pangkuan ini
berharap rindu temukan sekejap
saling tatap berpeluk erat

apakah perjalananmu ajnabi 'kan tersesat?

HR RoS
Ngawi, 240618



PELANGI DI MATA AYAH
Romy Sastra


ayah....
sudahlah bermain lumpur
hari sudah petang matahari hampir tenggelam
kodok dan jangkrik mulai bernyanyi

duhai anakku,
meski tubuh ayah terkubur lumpur
cangkul di tangan masih bisa ayah pacul
ayah akan tetap memacul
ayah akan pulang bila azan berkumandang
biarkan magrib bertandang
ayah sujudkan tubuh ringkih di pematang
semoga doa-doa ayah
mengembun di daun-daun kerontang

anakku,
ayah menunggu pelangi tiba
di mata ayah, ada rupamu menjelma
menjadi sosok ksatria di hari tua ayah

ayah....
darahmu mengalir di nadiku
pelitamu menyinari hati ini
aku anakmu akan tetap berbakti
meski mentari pagi tertutup awan
'kan kunyalakan pelita itu di lengan perkasa

ayah....
doakan ksatriamu memetik bintang
jika pelangi tak jua datang senja hari
pulanglah ayah, niscayaku tetap mengabdi
akulah darahmu, nan mengalir di sanubari
pada peluh itu,
mengucur membesarkan anak-anakmu

"terima kasih anakku,
dikau berjanji 'kan mengabdi"

HR RoS
Jakarta, 140718



KUSUMA CINTA
Romy Sastra


Rafflesia berbunga misteri
Wanginya mabuk dicium mati
Tumbuh di tanah sejarah
Bumi Fatmawati

Kusuma bangsa diasingkan
Sebab, orasinya membakar telinga penjajah
Belanda mencoba patahkan sayap Garuda
Biar tak terbang mengangkasa
Dibungkam tak bisu, semakin berapi-api

Kasih bersemi sembunyi di sanubari
Ingin mengikat noktah cinta pada Fatma
Dara tuan Hassan Din tokoh Muhammadiyah
Kusuma bangsa dimabuk asmara

... Fatma yang menyinarkan cahaya
Terangilah selalu jalan jiwaku
Supaya di bahagia raja
Dalam surganya cinta kasihmu ...

Bung ....
Jiwa bangsa ini lahir dari ideologimu
Meski jasad itu telah berdebu
Roh dan jasamu selalu hidup
Kami kenang selalu
Melanjutkan bakti pada negeri
Tersenyumlah menatap generasi
Mengisi kemerdekaan tunaikan janji

HR RoS
Jakarta, 070118



BUNG KARNO, CINTA SASTRA DAN SEJARAH
Romy Sastra


Pada sembilan noktah asmara tuan
Tidak mengumbar nikmat syahwat sesaat
Melainkan isyarat
Siti Oetari, Inggit Garnasih, Fatmawati
Hartini, Kartini Manoppo, Ratna Sari Dewi
Haryati, Yurike Sanger, Heldy Djafar

Tuan mengenali sejati
Telah paripurna masalah jiwa
Mengenal makraj diri tersusun sembilan wali
Tuan kaji dari Alif hingga bersaksi

Dalam hening mencipta
Sukma melayang tinggi
Menatap jauh ke langit ke tujuh
Uluk salam pada Garuda
Garuda menatap dengan gagah
Bawalah daku tuan, ke mayapada
Jadikan aku lambang negara

Sastra bangsa Wijaya Kusuma lahir
Dari titisan Dewa dan para Wali
Bung Karno putra titipan sang fajar
Lahir ketika gunung Kelud menggelegar
Memuntahkan lahar
Api semangat yang tak kunjung padam
Demi mempertahankan tanah pertiwi
Dari jajahan kolonialis

Di gedung putih kakek tua itu berkata
The world is Indonesia
Indonesia it is Java
Java is Bogor
Bung Karno dalam amanah
Cinta, sastra dan sejarah

HR RoS
Jakarta, 080118



AFORISME MARHAENIS
Romy Sastra


Relief batu hitam
Di samping nisan
Pada makam Bung Karno
Aksara epitaf seperti magnet menyeret
Bukan sekadar ornamen monumen
Tapi ada kekuatan magic membisik
Kutitipkan negeri ini padamu
Jaga sampai mati

Aforisme itu lahir dari alam
Tuhan titipkan jiwa pemimpin di pundakmu
Kau rangkul marhaen
Tanamkan satu bibit di dadanya
Negeri ini berbunga
Dipupuk dari ideologi Pancasila
Jangan layu dihembus pawana
Tegarlah
Bhinneka Tunggal Ika

HR RoS
Jakarta, 070118



RINDUKU KARAM
Romy Sastra


aku larung napas dalam rentak tak terpijak
bergetar nadiku, iringi puji-puji tasbih
kuhimpun sami' kukulum kalam
hentikan hayatan nafs sesak tak perduli
melebur ke ruang sukma diri
terbuka jendela bashiran
kututup lubang dunia, mati di dalam rasa

aku larung napas dalam rentak tak terpijak
bergetar seluruh tubuhku, jauhh rindu kupacu
berlayar di dalam jiwa, tubuhku diam
tatapan tak lagi bayangan
noda-noda cinta berhamburan yang melekat di kulit ari keraguan iman, berganti dengan nada-nada cinta mengasyikan

aku larung napas dalam rentak tak terpijak
nafsuku tenggelam dan mati menuju haribaan ternyata telah bersemayamnya maha kekasih
bersentuhan tak teraba asyik berkasihan
rinduku karam pada kematian nafsu menemui hakiki
pertemuanku terdampar di istananing Ilahi,
menikmati jamuan surgawi
rinduku adalah Ia sendiri
mahabbah-Nya tiba, aku terpana dan sirna

HR RoS
Jakarta, 02,06,18



DIRI MENCARI DIRI
Romy Sastra


diri mencari diri di shaum ramadan
pada haus dan lapar bergelora nafsu menatap hidangan kekasih nan bermain di angan dari kekangan segala ingin pada pertarungan iman dan batin di siang hari
ternyata nikmatmu wahai si penggoda, hanya di batas tenggorokan saja

diri mencari diri di shaum ramadan
di mana jamuan terlezat itu berada?
aku cari di kantin-kantin, kujejaki kuliner trotoar pinggir jalan, ternyata tak satu pun yang mampu pesona kuliner itu membuat aku terpana, dahaga semakin parah

diri mencari diri di shaum ramadan
mengikuti jejak-jejak wali bersufi, pada kajian lelaku menahan nafsu sepanjang roh menyelimuti, tak mau menyentuh aroma nikmat sesaat menggoda, rasa itu hanya bermain di ujung lidah, lapar kian terasa

diri mencari diri di shaum ramadan
kala malam tenggelamkan layaran ke sukma mencari dian, tafakurku dicubit pedih oleh hening, tak lagi memikirkan nafsu, yang kupikirkan perjumpaan kerinduan, betapa lezatnya rindu telah terhidang di dalam perjamuan cinta dalam perjalanan menuju istana, bertakhtanya kemewahan tiada tara
aku malu pada batinku, ternyata kuliner terlezat itu adalah makrifatullah

HR RoS
Jkt, 310518



MENATAP CINTA DENGAN KHUSYUK
Romy Sastra


aku datangi saung mursyid ke tepian samudra
bertelanjang dada tak berkopiah
tuturnya guru dituruti
santri dungu manggut-manggut manut

diri yang bermusyafir
merenungi pasir di pesisir
bertaburan hikmah di segala pikir
jiwaku karam tak basah melainkan terpesona

meminta rahasia kunci kematian pada sabda
lubang dunia itu, di mana berada guru?
ia pejamkan netra tak bermantera lidah
melainkan takwa saja
ah, tak cukup petunjuk memasuki ranah

kudekap tubuh guru erat-erat
pituduhnya luruh pada selembar surat wasiat
akhirnya, satu-satu eja kalam dibuka
dia bisikkan rahasia gaib tentang hening
sukmaku fana bertahali
aku belajar mati

menatap cinta sekejap ke dalam tafakur
terpancar nur
benak-benak tersusun di baitul makmur
dengan jalan membunuh inderawi
membuka gerbang baitullah
duduk bersila bak budha menatap nirwana
tiada bermantera tak berkomat-kamit
yang diajarkan tuan guru dituruti
kubawa hanya secercah rasa
seketika gumpalan pelita hadirnya kejora
menerangi alam batin seperti lampu pesta
tercipta dari keheningan sesaat
pada jalan makrifat

aku dan nafsu itu
berpacu mengejar tempat tertinggi
pada kasta-kasta iman menggoda diri
ialah menatap kerlip sang maha mega
di puncak fana terhenti
menyimak yang sejati
ataukah labirin menyesatkan di balik tirai ilusi

segala nafsu lelah terbakar sirna
di keheningan malam di wajah wujudullah
indah kerlip cinta bertaburan cahaya

aku dan diriku bertakhali rahsi
membunuh hasrat doa
tiada yang kupinta
selain ingin menatapnya saja
bahwa sesungguhnya Dia masih ada
aku memeluk laisa kamiselihi
padahal awas-Nya sedari dulu Hu memelukku
pada janji yang tak pernah diingkari-Nya
bahwa jiwa ini tak berjarak dengan Maha

aku haru,
dosa-dosa itu seakan berguguran
tubuhku runtuh bergemetaran
pada terjawabnya asholatu daimullah
semoga itu pertanda ibadahku diterima
innallaha latukhliful mii'aad
dalam khyusuk yang klimaks, bertajali
aku dan diriku lebur dan mati
fana menyentuh maha rasa
bersatu padu, yang ada hanya Dia

HR RoS
Jakarta, 27,05,2018



NEGERI SERIBU RAJA TAK BERISTANA
Romy Sastra

pusaka tua limpapeh rumah nan gadang
berselendang kasih sayang
mengapit
nan sembilan ruang,
ditingkah ayun tarian indang
semarak ranah minang tempo dulu
dalam tatanan bunda yang tersayang
lestari dalam kearifan zaman

rumah tua,
lapuk dimakan rayap
runtuh dimakan masa
adatnya terpatri sampai mati

seribu raja di negeri kami
hanya memiliki satu istana, ialah janji
tak bersinggasana mewah melainkan amanah tirani
dari penghulu raja bertongkat sakti
dengan satu tunjuk patuhi
pada isyarat panji dalam adat
elok budi kaum dalam titah dituruti
adat bersandi alur, alur bersandi patut
moto aturan bermula

tuanku ulama nan sakti,
menitipkan suluh pada generasi
selaras alam ranah minang dengan pelita
terangi umat dengan akidah tauhid
berdendang kasih sayang
adat bersandi syarak
syarak bersandi kitabullah

Umara nan cerdik pandai penata nagari,
maju bersama
penghulu perisai adat
ulama pembimbing budi
duduk se-iya sekata
melalui musyawarah mencapai mufakat
bak tiga tungku bergandeng tangan
sejarangan,
memasak tanak nasi dari jerih payah petani

bundo kanduang bersiul meminta angin
dari pesawahan hingga ke halaman rumah
bahwa dewi sri telah menari melambai
benih-benih nan disemai 'kan dipanen
sang dewi bersama peri cantik
si gadis pingit
belajar memegang nampan ayunan padi

peri yang terpingit di sembilan ruang
bertilam manja diasuh pituah di malam hari
cikal bakal penyimpan selendang lusuh
pada limpapeh rumah nan gadang

anak kanduang sibiran tulang
pelepas dahaga ayah bunda
jikalau besar nanti
peganglah amanah suci, hormati tuah tiga tungku sejarangan itu
biar tak binasa generasi dalam globalisasi

generasi muda,
otot kawat bertulang besi
berpikiran maju, pelita nagari
pegang erat-erat panji-panji adat
yang dikibarkan, semenjak Datuk Ketemenggungan dan datuk Perpatih Nan Sebatang, berkelana turun dari gunung merapai
datang menitipkan pusaka adat
dari babat alas sampai akhirat nanti

berdamailah bersama risalah
dalam filosofi ranah di tungku perapian
alamat hidup dalam adat tak bersilang sengketa
jaya bersama kemajuan teknologi
walau cabaran maruah selalu menghampiri datang silih berganti
di negeri seribu raja tak beristana
tetap berjaya tunduk pada pituah tetua
sepanjang adat tak tergerus oleh masa
di tepian bunda ranah minang nan tercinta

HR RoS
Jakarta, 240518
Di rumah gadang Abg Kuyut Iyut Fitra
Payakumbuh, 020518




TUHAN MAHA NYATA
Romy Sastra


Tuhan
tidak tidur
Ia melihat segala yang nyata dan ghaib
tak pernah ngantuk
sekejap tertidur lebur yang ada
raib seketika

Tuhan
tidak pernah makan
Ia bukan makhluk
padahal Ia lapar dan haus ingin disapa
Khalik, sumber nutrisi lahir dan batin
sesiapa yang ingin menyapa
maka datangilah
Ia dahaga ingin dikenal makrifatullah

Tuhan
Ia nyata dan tersembunyi
berwujud tak merupa
tersembunyi di pikiran yang dungu
nyata ada di hadapan yang merindu
di dalam jiwa dan dunia

Tuhan
Ia bukan alam mayapada
bukan benda
bukan juga cahaya
Ia Dzat Awas menyelimuti segala yang ada

Maka,
sadari rasa
Tuhan itu bersemayam di jiwa-jiwa yang peka

HR RoS
Jkt,240518



HUJAN TAK PERNAH SALAH
Romy Sastra


karena siklus semusim wajah iklim tersenyum
semestinya, berbahagialah bunga
jangan sesali tetesan menyirami sesaat
bumi gersang inginkan hujan basahi alam
sedangkan badai melanda akar cabari
kenapa bunga layu mengundang rusuh?

karena siklus semusim wajah iklim meranum
tentang hati nan rindu pada dekapan syahdu
jangan tangisi kepergian bayangan
yang pergi tak kembali lagi
bunga nan tumbuh diserang benalu
tak mungkin mekar lagi di taman hati

karena siklus semusim wajah iklim dingin
jangan bermain sayang pada kenang
ketika layaran tak lagi berlabuh
awan titipkan hujan membanjiri
gelombang menghadang perahu
aku karam dan mati
larungkan saja nisanku pada riak
biarkan pantai mewangi kembang setaman
ambai-ambai jadi bangkai dikubur sunyi

rindumu padamkan saja jika tak lagi ada rasa
jangan bermain di pantai fatamorgana
petikan memori kita biarkan terkunci mati
jangan tangisi takdir terjadi
relakan sebait doa kirimkan ke misteri
izinkan aku kekasih mendayung bahtera
berlayar bersama ilahi ....

HR RoS
Jakarta 110618



JIHAD SANG MUSAFIR
Romy Sastra


Tentang Ramadan yang diimpikan para insan
Kerinduan menumpuk di dalam jiwa
Musafir bertakwa, menyerahkan roda nasib
Memohon fitrah karena dosa
Memupuk rasa tauhid di setiap ibadah

Tentang Ramadan yang didamba
Amal-amal dipacu di setiap doa
Kala malam bermandi tangis
Musafir iktikaj lirih berharap maghfirah
Gugur segala noda, lahir kembali seperti bayi

Tentang Ramadan yang diinginkan
Jihad dikumandangkan bagi yang beriman
Musafir sampai di penghujung jalan
Hari raya tiba
Menyerahkan cinta di atas sajadah

Tentang Ramadan menyambut kemenangan
Setiap kehidupan tunduk pada Tuhan
Takbir tahlil tahmid dikumandangkan
Lautan syukur berhamburan, alam bergembira
Segala ciptaan bertasbih pada-Nya

HR RoS
Jakarta, 300518



EVALUASI BATIN
Romy Sastra


menyingkap tirai bangkai
berbau busuk di ruang hati
di batin ada hijab terperangkap
mencoba berjalan di tengah kampung
rela menelanjangi diri
pukullah tubuhku kawan
aku tak canggung
bakar saja dengan cercaan
dadaku tak peduli tikaman belati

dan aku terus berlari tak beralas kaki
tusuklah duri hingga telapakku bernanah
rela dibakar terik tak bercaping
ubunku mendidih,
mencari keteguhan batin
mencari ketenangan hidup
mencari kedamaian di dalam kematian

jika sudi
berikan aku payung
jalan ini masih jauh kutempuh
ragaku kehujanan tanpa perlindungan
pinjamkan aku selimut gigil kedinginan

pada anak-anak recehan kutebarkan
pada harta penggoda kuzakatkan
pada shaum kufitrahkan
pada solat kumakrifatkan
pada doa-doa kukhusyukan
pada kerabat senyuman kumekarkan
pada kenangan kusimpan rapi
pada aib kukurung di peti mati
lalu, cinta kutawarkan di sepanjang jalan
kasih sayang kupupuk di setiap hidangan

mereka bersorak hingga terbahak-bahak
telah memandang hina sebelah mata
pulanglah hai orang gila!
malumu sudah tidak ada
tempatmu si sinting di balik pintu!
jangan buat onar rumah kami mewah

lalu si sinting dalam pengembaraan cinta,
mendengar satu bisikan turun dari langit
malaikat uluk salam, berpesan:
duhai si sinting yang telah fitrah
bidadari-bidadari surga tergoda dengan jiwamu
parasmu indah telah berselimut sutra
mereka ingin melamarmu
duhai si bangsat yang tobat
anggur yang dulu kau teguk mabuk
telah kau tukar dengan tuak ilahi
tuhanmu tersenyum memandang kau gila
gila dari perjalanan mati tentang duniawi
baru saja kau jelang
kau pulang bertandang di ujung ramadan
hingga takbir berkumandang tak henti-henti
fitri wujud surgawi kau sandang kini

HR RoS
Ngawi 150618



SANG PEDANG MALAM
Karya Romy Sastra


Al fatih sang penakluk
derap langkah kudanya di medan tempur
terdengar rasulullah sebelum dia ada
pemuda nan gagah strategi perang
dengan sebilah pedang tauhid
di ujung-ujung malam bertahajud

Mehmed sang pembebas Konstantinopel
imperium Byzantium
sebaik-baiknya panglima di medan laga
Ia adalah sang suhud dengan jihad
mengekang kemewahan nafsu dunia
tak sekalipun alpa meninggalkan ibadah
tak sekalipun lalai mengasah cinta
dari pedang malam dengan doa
kepada maha raja penguasa semesta

Al fatih, dimana engkau kini
umat rindu kelahiran Al fatih berikutnya
sebagai sosok pembebas
pembawa kedamaian umat di dunia
Al-mahdi raja yang adil
Al-masih panglima yang dinanti
menumpas dajjal-dajjal yang bertahta di jalanan ....

HR RoS
Jakarta , 26102016



HIMNE RINDU
Oleh Romy Sastra


desah desau zikir mengalun syahdu
rentak napas membuncah kalbu
bibir diam perigi merindu
jatuh kecupan ke telaga kasih
yang di rindu serasa jauh
mencari maha kekasih yang bersemayam
tenggelam dalam hayalan
sesungguhnya Ia ada bersama diri

seperti kepiluan Adam mencari Hawa
terpisah karena dosa
siang malam merintih dan berdoa
di mana engkau kini
lara sudah jiwa ini berkawan sepi
bertahun-tahun mencarimu
namun dikau tak jua kutemui
aku rindu serindu-rindunya wahai kekasih

telah kulafaz doa berjuta kali
tak mengenal siang dan malam
pendakian kian tinggi
perjalanan semakin tandus
haus sudah rasa ini akan rindu
anggur yang kau tuang dulu memabukkanku
sampai kini aku dahaga rasa cinta
surga mengutukku alam pun bisu

berlari tak terpijak bumi
mendaki pendakian tak bergurun
menurun ke jurang terjal tak ada jalan
semua arah datar
yang dicari telah diberi
sayangnya diri tak menyadari
mahanya pemberian Illahi
dalam hidup ini

HR RoS
Jakarta 25102016



ABU-ABU NEGERIKU
Karya Romy Sastra


kabut bersama pelita
hanya terangi bilik saja
tak menerangi mayapada
di desa, lumbung sumber daya alam
telah teruk tak ada harga
nyaris mereka bunuh diri
mati bersama se-isi kebunnya

kabut bersama mentari
terik tertutup gedung tinggi
di tengah perkotaan
para penghuni, borjou bersuka cita
masa bodo derita di sana

abu-abu negeriku
para pemimpin berlomba pencitraan
di sisi lain korupsi kian merajalela
genderang perang di tabuh
lawan penistaan bangsa
ironis, aset bangsa di jual murah

dulu anak desa
hidup dengan getah karet dan sawit
kini anak desa
hidup dengan derita kian menjerit
berteriak, ooooiiiii ....
kapan harga karet dinaikkan
sudah tulikah di sana?
sedangkan ban sepeda harganya melangit

bedebah, abu-abu negeriku
jeritan rakyatnya,
bak lolongan serigala di malam buta
jangan salahkan penghuni rimba merajalela di jalanan suatu masa

abu-abu negeriku
mana manusia setengah dewa itu
yang mampu merubah nasib rakyatnya
dengan kesaktian janji manis

"aahh lelah .... figur seribu janji,
negeri ini kaya
di mangsa maling-maling berdasi ....

HR RoS
Jakarta, 24102016



SEPERTI BISU BERMIMPI
By Romy Sastra


lamunan diri dibisikan tutur bisu
dengan aksara yang tak meng-eja
berbisik seperti dalam mimpi
melekat tutur ke daun telinga
tak jua tahu makna rasa

mengartikan sendiri dengan teliti
semakin tak mengerti yang di-eja
makna aksara bisu terpana dungu
kerdip kening semakin tak menentu

berlalu tinggalkan sepi
mengayuh biduk jauh melaju
menuju samudera biru
bercerita bersama ombak
dinyanyikan sejuta bahasa riak
tak terasa pendayung patah
telah rapuh digilas waktu
kemana arah kan dituju, bingung sudah

pasrah pada takdir
berharap pelayaran kembali ke darat
akhirnya takdir menentukan keselamatan
sesampai di tepian
telah kembali ke pantai
jejaki pasir mengitari bibir pantai
gemulai langkah bercampur aduk
dengan galian ambai-ambai
jejak langkah tergerus riak malangnya nasib tak terurai

"Aahh ... berharap,
jejak kaki kokoh melukis tarian diri
berkicaunya sriti dan camar menari bernyanyi menghalau sepi
tak jua mampu mengusir sedih

"uuuhhh ...
ombak pantai kian melabuh gemuruh
jiwa yang telah resah semakin rusuh
berteriak sejadi-jadinya
sang kicauan akhirnya terbang menjauh
berlalu jauh dan jauuuhh
ke pulau yang tak berpenunggu

menggenggam setitik riak laut
kukecup
berharap dahagaku lebur
asin itu terasa madu

mencoba menanam bunga di jambangan
disiram rintik gerimis malam
pagi kulirik
bunga di jambangan hati
layu sebelum berkembang

"aahhh ... bunga di taman hati
tanah tandus gersang bermain hari
berguru kepada tegarnya ilalang
hidup di bumi kering terbakar api
ilalang tak tersiram embun
tetap siklus tunas muda berpucuk silih berganti

aku sang pemerhati mimpi
mencoba menterjemahkan arti
akankah mawar beduri
mampu mengikrar noktah
berkawan merpati merengkuh janji
pada larik puisi ini mengetuk rasa cinta
pada sesiapa yang merasa tak bisu ....

HR RoS
Jakarta, 23-10-2015, 09,02



NUSANTARA BERISTANA HANTU
Karya: Romy Sastra


"Kemaren bumi cerah,
tiba-tiba berwajah murung
suram,
sang surya seakan malu
menampakkan terik di tanah ini
menyinari alam mayapada
nusantara berkabut di dinding hari
berkoloni misteri, seakan kiamat hampir tiba.

"Kabut ... kau kini napasku,
kau ajarkan ilalang melihat mentari
pada wajah resah gelapannya pertiwi
apakah kiasan itu?
pertanda makna yang tersirat
mata hati insani telah buta,
memandang cahaya Illahi,
pada gelapnya kearifan budi
yang menghias religi dan nurani.

"Uuhh ... entahlah, aku juga tertanya?"
Yang jelas kini,
nusantara tertutup kabut
dari bisnis yang serakah,
di negeri khatulistiwa.

Kutengadahkan tatapan ke ruang angkasa
di sini,
ladang sawah kami terhampar
jauh mata memandang
melirik ke dinding bukit
melayang pandang ke samudera biru
gelap sudah.

Di sana,
perkantoran menjulang tinggi
asri dan mewah wajah metropolitan.

Birokrasi di meja penguasa tumpang tindih bersama pengusaha
saling tuduh menuduh siapa? mengapa hutan pertiwi terbakar?
semuanya pengkhianat bungkam tertutup oleh penjilat ....

HR RoS
Jakarta, 23-10-2015, 09,02




RUANG ITU TELAH GELAP


Potret khatulistiwa
bak peninggalan negeri Inca tak berpenghuni
nusantara berkabut misteri
seperti beristana hantu di setiap hari.

Nusantara ini kaya
tapi penghuninya lara ozon parah berkabut
di cipta oleh tangan-tangan serakah.

Kekuasaan di beli,
segelintir oknum dan perwira
seperti bermain petak umpet
bangsat sialan persetan,
sumpah serapah anak bangsa
dan negeri sebelah
tak lagi di dengar oleh pengusaha.

"Di sini ..., ditanah ini.
Mereka merintih santun,
aku ini lara!"
tak jua di dengar oleh para penguasa yang bertopeng Dewa
seperti terlelap sudah di istana Alenka.

Wahai para punggawa bangsa
kau berserakkan di mana-mana
perisai pertiwi dari Sabang sampai Merauke
bangkitlah!!"

"Uuuuuuuhhhhhhh ....
Ketika pesta seremonial
berbaris sesaat
komando sigap
punggawa loreng di lepas
dari barak berkendaraan tank baja berpuluh ribu di keramaian kota.

Bila nasib nusantara berpesta derita
terjajah oleh keserakahan segelintir pengusaha
sipunggawa loreng bersembunyi dimana??"

Wacana intrik komando bela negara
santer di dengungkan
mau di bawa kemana potensi intrik itu?
lihat di depanmata,
musuh nyata telah menyesakan dada
tak kau gubris.

"Hai loreng ..."
kau perisai negeri,
ketika ibu pertiwi terbakar
air mata anak bangsa menitis
kau seakan buta dan tuli
hanya di lepas seratus lebih saja
beralasan tunggu komando dari raja.

Mmmm ....
para ahli peneliti belajar sebagai eksperimen
tak jua menuntun jalan terangi kegelapan
hanya solusi ke-ilmuan basa-basi saja.

"Di mana tanggung jawabmu kini?
Wahai ... (......)
Yang duduk di kursi empuk
di dalam istana-istana megah
kinerjamu, seakan menatap bisu
ke dinding putih
terpukau indahnya lentera mewah
tak sadar diri,
figura potret wayang itu
mengintip mencibir yang berdasi
nan duduk santun telah dungu
seakan tak bermaruah.

Mana janjimu tuan?
amanah di pundakmu tak dilaksanakan"
janji kemakmuran dalam orasi pemilu
dulu kau dengung-dengungkan
mmmmm,
kini jabatan itu telah kau sandang
kinerja seakan berwibawa pontang-panting
bergeleriya hanya intrik sesaat saja.

Olalaaa ....

Aku cerobong tinta dalam seni
penyambung lidah derita rakyatnya.

Berorasi,
mengetuk nurani yang telah dungu
bangkitlah kau putra-putri pertiwi
yang berkompetisi dengan ikrar nurani
jerat saja para bedebah negeri ini ....

HR RoS
Jakarta, 23-10-2015, 15, 02



DERITA BORNEO, DAN SWARNADWIPA
Karya Romy Sastra


Swarnadwipa lara
Borneo pun tersiksa
duh,
rupa bumi itu kini
gersang,
bak Hiroshima dan Nagasaki.

Negeri Swarnadwipa tanah emas
borneo kayu wangi hutannya napas dunia
nasibmu kini telah tandus,
terjajah oleh kolonialis
pengusaha monster duniawi yang serakah.

Nusantara ini
seperti negeri di atas angin
diapit belahan benua dan samudera
tanah Syurgawi yang menjelma.

Polusi negeri ini telah miris
co2nya menyesakkan dada
duh, tanah pertiwi itu.
Daratan Sabah
Semenanjung Malaysia
Brunei dan Singapura
berkenduri atmosfir kumuh.

Atmosfir berkabut buruk
kenduri asap teruk bak azab menghantui,
jauh tatapan kelangit biru
mata seakan tertutup debu
jerebu menjadi nasib napas itu.

Ini negeri di atas angin
telah termisteri seperti penunggu makhluk jadi-jadian
ketika halilintar menggelegar
kilatan menyambar tak berhujan
bak Rahwana turun dari khayangan
menerkam mayapada.

Atmosfir bersiklus sadis
tanah Syailendra dan Kutai kartanegara
terjajah
oleh keserakahan si kaya
yang tak bermaruah ....

HR RoS
Jakarta, 01-11-2015
Nusantara dalam derita asap setiap tahun



ISTISQO TADAH HUJAN ITU
Karya Romy Sastra


Pagi ini sekejap berubah dari biasanya
gersang halaman rumah telah berlalu
lamunan pagiku,
berharap basahi alam kehidupan ini.

"Oooo ... daku duduk bersama malam, diam.
Mataku terpejam,
terlelap dalam angan yang merisaukan
miris, gerimis hari tak menitis lagi.

Dikala malam sunyi
sang malam bernyanyi sedih
tetiba awan berkoloni
bayu berbisik lirih
malam bernapas dalam kelam
butir-butir perlahan mengalir deras
dari dahaga panjang yang menjerit.

Jarum jam dunia berputar
takdir siklus azali mengucur rahmat illahi
dari kinanti istisqo doa-doa hati.

Berlalulah kau kabut
terbang menjauh ke atmosfir tinggi
mendunglah kau hari seketika
hujankan bumi ini.

Isi bumi swarnadwipa kini lara
rumput pun telah mati
tangkai-tangkai nan berputik layu
daun-daun berguguran jatuh ke bumi
urat-urat kehidupan tak lagi menjalar
tak kuat mencakar gersang.

Aku tadahkan doa ini pada-Mu ya Rabbi
turunkan rahmat-Mu kembali
hujankan alam ini sore nanti
semoga dedaunan riang bersama embun
biarkan hamba dan tumbuhan itu
hidup seribu tahun lagi.

Doa-doa yang terungkap
dalam iman
gersang mayapada ditingkah gelombang zaman
dari perubahan iklim yang merisaukan ....

HR RoS
Jakarta, 311016



MERETAS RINDU SENJA
Karya Romy Sastra


Menyulam bayangan senja
dengan tinta maya
pupuh syair kasih
kidungkan nada-nada syahdu.

Merajut rona pijar
melukis malam
berlalunya sang fajar
menyambut gemintang nan terang.

Berputiknya lentera malam
di taman kerinduan
tarian kunang-kunang berkeliaran
pelita menggantung di tiang jalanan
sinari kelam
dari temaran rindu tak berkesudahan.

Mencoba melarung rindu
diambang senja yang telah berlalu
meretas rindu malam
menuai lorong-lorong mimpi
yang singgah di hati.

"Aahh,
mengembara melacak mencari jejak
mengusir resah dalam kisah
memupuk kedewasaan dalam kearifan diri
setumpuk hayal
memandu kesetiaan hati.

Budi selalu mencabari minda resah
padahal,
setia itu tak pernah lelah.

Sentuhlah rasaku
kau kan kubingkai dalam figura indah
yang menghiasi kisah di dinding hati
sepanjang hari.

Senja telah berlalu
kugores tinta puisi ini ke pos maya
menyapa kasih dalam peraduan malam
biarkan siang ini jadi sinopsis hari.

Aku yang merindu di sudut senja
menghias malam yang kian kelam
semoga rindu ini
kunikmati dalam diam
yang kurindu bayang-bayang nan berlalu
meski yang dirindukan tak lagi berkenyataan.

HR RoS
Jakarta, 29-10-2015, 19,25



TANGISAN LAPAR DI PAGI HARI
Karya: Romy Sastra


Susu tak terbeli
rengek tangis bocah mengiris hati
bunda berduka hiba
dari jeratan hidup menjerit setiap hari
air jiwanya tandus sudah terbiasa ditingkah lara
dari kelaparan sikecil tumbuh remaja.

Bayi menangis tak karuan
seakan tak tahu apa yang diperbuat
air matanya kering dalam tangisan
bak lolongan sang kidung malam
yang tak kenampakan.

Siklus,
hujan pagi tak jua reda
dari curah semalam yang mencekam
bumi ini tak lagi gersang
tapi kenapa tanahnya tandus tak lagi menyuburkan
tanaman ubi di pelataran taman
yang dinanti telah mati digerogoti kegersangan nasib
tak mau bangkit lagi.

"Ooohhh,
sikecil lapar di kepagian hari
terlelap kembali dalam buaian
bunda,
menatap tungku perapian
air telah mendidih
yang di masak tetap sayuran angan.

"Duh,
nasib sibayi digendong kedukaan,
lelaplah nak!
Tunggulah ayahmu pulang membawa bingkisan
ayah dalam perjalanan malam di pelayaran.

Tangisanmu memancing rasa hiba ibu
tak mau jauh dari ayahmu
meski nasib ini takkan pernah berlalu
ibu kan selalu menunggu ayahmu pulang
membawa setitik harapan
demi menghalau perut yang menjerit kemiskinan ....

HR RoS
Jakarta, 29-10-2015, 07,53



TINTA RELIGI SENJA
Karya Romy Sastra


tarian tinta senja menulis syair
duduk tafakur mengeja pikir
siklus laju napas dalam zikir
hening menyulam aksara tak ber-huruf
duduk diam sukma terbang tinggi
bak kupu-kupu meninggalkan kepompong
terbang mencari setangkai bunga
mengisap madu

tarian madah memandu rasa rindu
sedu-sedan sebait doa mengubur pilu
menanti malam berpelita rembulan
cermin cinta yang selalu terlupakan
bukan sebatas hayal, yang dipikirkan

senja itu,
kaki langit menghias kabut
buliran warna lembayung seakan malu
kelam kian kelam merona banyu
para gembala senja memelas domba
seruling syahdu menuai rindu
diri yang telah jauh termangu
duduk di ujung senja kala itu
pasrah dalam doa
mengetuk suratan berbuah manis
dengan doa alur ilir tercurahkan kedamaian

wahai para pencinta surga
bangkitlah dari lamunanmu
kembalilah ke pondok kiyai penjara suci
songsong pelita obor memandu santri
berlari kecil ke surau mengejar pelita illahi
biar resah itu
perlahan menjauh pergi

HR RoS
Jakarta 28102016



NYANYIAN MALAM NAN BISU
Oleh Romy Sastra


kala malam
membuncah
kerinduan

nyanyian kasih
lirih sedih
dalam angan

dinginnya malam
bersama hembusan

biola sang bunian
sunyi tak bernada

mencekam
menakutkanku

gesekkan dedaunan
perlahan luruh
berjatuhan

nyanyian malam
nan bisu
semakin bisu

kisah yang hampir padam
tenggelam ke dalam
sipnosis satu malam

HR RoS
Jakarta, 02112016



RINDU-RINDU MIMPI
Karya Romy Sastra


Merintih berjalan tertatih sedih
kuterpaku di tengah padang yang sunyi
lirih menatap bianglala senja
nan merona indah.

Bertanya sendiri,
adakah purnama malan ini berpelita indah
tak merupa seperti yang di rasa.
"Aahh, sedih,
kabut rindu berkoloni dalam mimpi.

Menengadah menatap cakrawala jingga
berharap senja ini menitiskan rinai
biar luka yang tak berdarah ini terobati
damai bersama kisi-kisi yang tersisih.

"Duhh ... isak tangis ini, berhentilah!"
bulir-bulir yang menitis di pipi
redalah ....

Berdiri bersama bayangan diri
terdampar lara di senja yang merona
mencoba bertanya,
kepada sang surya yang mulai redup
adakah goresan sang malam melodikan nada-nada alam nan menghibur
biar nyanyian sang bunian tak memandu.

"Oohh .... rindu,
telah aku titipkan selimut kasih
kugenggam kini
dan aku persembahkan pada noktah cinta
menyemai kemesraan di taman memori
manakala rindu ini suatu masa kunyatakan
bergandeng seiring jalan dalam genggaman.

Sayangnya,
cabaran minda mengiringi laranya hati
hingga kerinduan yang disulam dikebiri
padahal,
pelita senja itu selalu kunyalakan
meski hidupmu berkilauan bertabur bintang
yang dikau pantas tuk disayangi.

Seiring tanya dalam bait-bait doa
aku hantarkan ibadah nan rela dalam cinta
lewat sajadah mendekap bayanganmu.

Cinta,
di mana kau kini berada
aku mencarimu di ujung lamunan
tak pernah kujumpa sebuah realita
padahal rupamu membayang
seakan menitip rindu ke angin lalu
rasa ini selalu kudekap
ilusi berbisik lirih
yang kurindu tak kan pernah kumiliki.

Lamunan senja
semakin jauh tinggalkan hayal diri
apakah paranoid rindu
telah menjadi bayanganku
pada rindu sinopsis malam
dalam bayangan sebuah mimpi ....

HR RoS
Jakarta, 02112016



DOA PUISIKU
By Romy Sastra


"Ya ... Rabb,
panggilan suara adzan itu
menggetarkan jiwaku
iramanya merdu
mengguncangkan kalbu.

Engkau ciptakan langit dan bumi
beserta kedua se-isinya
semuanya bertasbih memuji-Mu
semuanya sholat ke hadirat-Mu.

"Uuuhhhh ...
kenapa keningku ini
enggan sujud ke sajadah lusuh itu
Ya Rabb,
jangan ambil nyawa ini
sebelum hamba menemui-Mu.

Dosa ini sudah berceceran
Seakan tiada tempat lagi di badan
tertumpah membuih bak riak di lautan.

Ya Rabb,
hamba yakin
ampunanmu jauh lebih besar
dari samudera membentang
bahkan dari arsy sekalipun
maka,
ampunilah dosa-dosa hamba ya Allah.

Telah jauh kaki ini melangkah
meninggalkan arah
hamba takut murka-Mu Tuhan.

Saat ini,
izinkan rasa syukurku
menghiba pilu
teringat semua pemberian-Mu
tiada kurang sedikitpun rahmat itu
terimalah doa puisiku
genggamlah jiwa ini selalu.

Dalam helaan napas-napas tasbih
yang tersisa ini,
tak kusadari, helaan itu memuji-Mu
tasbih yang tiada henti
ia adalah sholat jatiku.

Kudatangi Engkau di setiap tarikh napas
rentak sopan beraturan jejak iman
bermusafir dari pagi hingga petang
ke senja, hingga malam tiba
sampai bertamu fajar dan sang surya
terimalah pertemuan helaan napas itu ya Rabb.

Itulah modal sujud hamba
sebagai bakti pada-Mu
meski kening ini lalai tersungkur
terimalah persembahan syair doaku.
"Ya Allah ... Ya Mujibbu ....

HR RoS
Jakarta, 06112016



ELEGI SENJA
By Romy Sastra


Belajar memahami diam
diam memendam rasa percuma
terlalu jauh garis pantai petang
jurang-jurang terjal membayangi langkah
langkah terhenti
di balik batu karang berpasir putih.

Sendiri dalam diam
memandangi kesunyian
Siluet nan hampir tenggelam
kirimkan kabar lewat pelangi
semoga kedamaian alam ini
bersahaja di beranda jiwa insani
memahami derap langkah kehidupan
nan kian gersang.

Dalam diksi senja menyendiri
menyalakan pelita dunia lewat tinta
sinari hati nan resah menghalau mimpi
kicauan camar hadirlah menghibur sepi.

Surya menerangi alam nan mendung
biar kehidupan dunia bersahaja dalam cinta
meski dalam diam
sang biola malam menuai rasa kecewa
tak senada gesekkan dengan nyanyian.

"Yaaaa ... pada suatu masa
siklus pelangi berganti lembayung
menari pada riak
bernyanyi sang nahkoda di dermaga senja.

Dermaga masih tetap berdiri di sana
menyambut gita hari
mengiringi simponi hati dalam doa
meskipun gelombang memandu jauh
jauh ke samudera biru
menyisakan buih di pantai nan sepi.

Tatapan harap terperap menatap pekat
yang selalu berarak linglungkan bayangan
cabaran itu tetaplah didekap
membuktikan kesejatian
merengkuh keinginan ....

HR RoS
Jakarta, 06112016



POTRET TOPENG
By Romy Sastra


Bukan aku dan realitaku yang sebenarnya.
Ia isyarat,
guratan potret dalam aspek kehidupan
sisi hari manusia tanpa disadari
apa adanya.

Sebelah mata memandang
terkesan hina
itulah kehidupan dalam kasta.

Bahkan kesombongan diri
tidak siap sama sekali
mengakuinya
syukurlah dikau selalu merasa sempurna ....

HR RoS
Jakarta, 05112016



BUNGA BERANDA SENJA
Oleh Romy Sastra


Sang gita dari balik jendela
menghantarkan syair-syair cinta
Juwita menyapa rindu
mencium kelopak bunga senja.

Kupu-kupu petang,
menari riang bersama bianglala
kumbang-kumbang jantan
mengiringi tarian dalam rayuan
pesonakan nyanyian asmaradana
pada tenggelamnya masa senja hampir tiba.

Sang Juwita masih berpeluh resah
menjajakan niaga di depan rumah
butir-butir peluh asa bercucuran
di sekujur badan
menyulam impian
dikau Juwita paras nan cantik
di balik tudung berwajah Humairah.

Sepasang mata bola melirik dari Jakarta
dengan sapaan manja
menggenggam senja sebait doa
teruntuk sang Juwita berjubah Srikandi
menyemai masa depan dengan senyuman
menanti figur sang iman
memandu jalan surgawi.

Lambaian bunga kertas di beranda rumah
indah bermekaran
menghias tatapan sianak dara
kabus-kabus menyeruak di seantero taman
ditingkah siklus jerebu rindu
rindu di balik jendela itu.

"Duhhhh ... di beranda pada suatu senja,
kusapa cinta lewat madah
menatap Juwita malam dengan asmara.

Sang gita berharap,
meminta senyuman mesra
dalam ayat-ayat cinta
setia dalam satu hati hingga ke ujung nyawa.

Kala malam tiba,
mimpi-mimpi bersanding dalam tidur
meski rasa itu dalam impian semu
berharap nikmatnya kecupan kekasih
walau itu hanya sebuah ilusi
ia sesuatu yang dinanti dari larik-larik puisi ...
.
HR RoS
Jakarta, 05-11-2015, 16,54



DARI HATI MENGINTIP NURANI
Karya Romy Sastra


Duduk bersila
menghitung jalan rotasi jari
ketika riyaddoh menggenggam tasbih
hening berkawan lafaz
tenggelam kedalam sunyi
dari hati mengintip nurani.

Duduk tafakur
langit-langit pat kulipat
merapat mengekang syahwat.

Cahaya-cahaya pengoda menyapa cinta
religi cinta Illahi
cabarin kemilau semu
semu dari nafsu-nafsu itu.

Laju napas bergulir santun
keluar masuk mencipta hikmah
hikmah penawar resah.

Asyik fana dalam diri
laju kalam memandu perjalanan
menyimak aksara rasa ke dinding mihrab hati
hentakkan dalam diam,
bak kuda sembrani
terbang membumbung tinggi.

Dalam perjalanan hati mencapai makam
makam alam diri.

Dari hati mengintip nurani
nurani diri berjubah budi
anugerah insani rahman rahim kekasih
bak kemilau lembayung teduh
bening indah memukau silau
sejuk tak tersentuh menyatu.

Dalam diri
asyik khusyuk membulir rindu
rindu kepada sang kekasih itu ....

HR RoS
Jakarta, 04,11,2015, 18,43



JENG, JENI TERTIPU CASSING HANDPHONE
karya Romy Sastra


Jeng memanggil si Jeni,
"Jeni ... sini kau!"

Iya Jeng, ada apa kau memanggilku?"
lihat ini Jeni, aku beli handphone baru ni.

Jeni menjawab,

handphone kamu yang lama di jual ya Jeng?

"Tidak ... ada kok.

"Loh ... mana handphonemu tu?"

Jeni semakin penasaran bertanya lagi?"
Jeng, bukankah handphone kamu yang lama warna hitam?

Iya, emang.

Apa ada kamu bawa sekarang kata si Jeni?"

Iya, aku bawa ni Jeni.

"Lo ... berarti hanphone kamu dua ya?
mana yang satu lagi?"

Si Jeng menjawab dengan santai,
ini dia yang aku pegang ini.

Sialan lu jeng," celoteh si Jeni,
handphone kamu di sulap jadi warna pink
cassingnya yang di ganti ya jeng?

hahahahahaaa, gelak si Jeng.

Iya Jeni,
spontan saja hati Jeni jengkel dibuatnya.

Emang warna handphoneku jadi dua
kalau aku bosan dengan warna pink ini,
aku ganti warna hitam lagi, hehe ....

Lirih jahilnya,
padahal aku tak punya duit
beli handphone baru
biar dinilai si Jeni itu,
aku banyak duit.
"Hehem ... belagunya aku.

Ah, aku tertipu ni,
gumam si Jeni.

Awas lu Jeng,"
gumam si Jeni dalam hati,
nanti aku kerjain juga kamu ....

HR RoS,
Jakarta , 08112016



RINTIHAN ZAMAN
Karya Romy Sastra


Goresan tinta senja
guratkan aksara rasa
melukis pigura jiwa

Siklus gersang
berganti musim hujan
roda kehidupan selalu dijalankan
namun nasib badan tetap saja menyedihkan

Tuhan,
aku sujudkan jiwa raga ini
kembali kepada-Mu
bukan aku meminta materi
melainkan semata-mata hanya mengabdi

Di sana,
lolongan kepedihan anak bangsa
tak lagi bersuara
seakan terbiasa dengan derita

Berjalannya peradaban rotasi kehidupan
kehidupan itu
dihantui kemiskinan yang tak berkesudahan

Raja dan punggawa serta abdi negara
figurnya seperti setengah Dewa
bersafari mewah berkuasa dalam tahta
tak lagi bisa di percaya

Sandiwara dunia semakin menggila
politik bak bom waktu
akan memicu perang saudara tiba-tiba

Akankah itu sebuah pertanda
ramalan Jayabaya menyapa nusantara
entahlah ....

Bertanya pada diri, tegarlah wahai hati
kehidupan ini kan terus berlanjut
ada masanya terhenti
ibarat jam dinding berputar mengiringi waktu

Dalam rintihan zaman anak negeri
di bawah bayang-bayang penguasa dan pengusaha

Di Desa,
nasib kehidupan para petualang alam
menyemai bibit berbuah tak berharga
ah, semakin kecewa saja ....

HR RoS
Jakarta, 08112016



MERPATI YANG TELAH PERGI INGIN KEMBALI
Karya Romy Sastra


Kau bagaikan jinak-jinak merpati
susah kutangkap
kuberlari dan terus berlari
mengejar jejak-jejak terbangmu
terbang tinggi jauh di awan

Kau terbang tinggi bernyanyi berdua
mesra di tangga hati yang lain
meliuk lambaikan sayapmu
di lingkaran pelangi indah itu

Kucoba mengukir pigura wajah cinta
dalam syair-syair yang menggoda
bercakap selalu
menyapa mesra
"haaiiii ... salam kenal cinta,
merpatimu terbang rendah

Jiwa nan tangguh luluh,
melirik seuntai senyum menyapa
ada apa dengan merpati yang telah pergi
akankah terbangmu kembali lagi
terbang ke sarangmu dulu
janganlah ....

Pada suatu ketika
tanya intrik senyum berbasa basi
bingkisan hati itu akhirnya menghampiri
aku menitip bait-bait memori
dalam coretan puisi
kau tersenyum kecut

Ketika telapak rela lambaikan pesona
terantuk sendu berikan tanda,
bahwa merpati itu
rela menjatuhkan sayapnya
penghias tari gemulaikan hatimu kembali

"Aahh .... aku pungut juga,
kuselipkan warna tinta di ujung sayapnya.
Bermadah,
kugubah syair menggelitik jiwa
untukmu kuberikan kidung rasa
tentang cinta bersemi kedua kali

Ketika genggaman
tak lagi lepas dari tangan
kau selalu menghadiahkan senyuman
dekapan bermanja mesra mempesona
aku terlena.

Merpati itu
telah hinggap di istana rasa, menggoda,
kau bersemilah cinta ....

HR RoS
Jakarta 13112016



TONGKAT TUA TELAH RAPUH
Karya Romy Sastra


"Ayahh ..."
perjalanan panjang telah kau lalui
berhentilah melangkah
duduk manislah di rumah
getir pahit manisnya kehidupan
jalan berliku menanjak menurun
terjal tandus berbatu kau tempuh

Kaki pecah melangkah di bawah terik mentari
demi memenuhi asa pelita tirani
nasi yang kami makan
dari peluh darahmu kami di besarkan

Ayahku,
impian tinggi menggebu
untuk buah hatimu
tegar berdiri dipaksa melangkah
tetap kau pintali benang merah hidup ini
berkaca diri berantai dengan masa lalu
bersama tiang-tiang lapuk terkubur sudah
meringis sedih di setiap letih
masa lalu yang telah bias
berlalu jauh meninggalkanmu
hilang ditelan masa, gagal dirundung duka

Kini,
putik-putik berbunga telah berbuah
kau masih saja tertatih payah dan lelah

Miris,
dikala senja menyapa
dada kau penuh menyeruak sebak
duduk di sudut rumah beranda tua
berpangku tongkat rapuh
diolok-olok cucu yang lugu

"Ah ... sedih,
nasi putih tak lagi berkuah
seduhan pagi tak lagi kau rasa
hanya asap putih mainan sepimu
kau linting dari jari jemarimu yang keriput

Ayaaahhh ...

Kau kini tak lagi tersenyum dengan dunia
bila malam tiba
air mata bercucuran
berbisik lirih menghiba
ya Allah,
sejahterakan jugalah anakku dimanapun ia berada
doamu masih tersisa

Getar-getar doamu
membangunkan sang penjaga malam
mengintip rintihan bunian lagi menyepi
kau menitipkan doa ke dalam misteri
memanggil anak yang tak pernah pulang
samudera mana yang ia arungi
batu dilempar arus tak beriak sampai kini gelombang tak jua menepi

Uuuhh,
seorang anak merantau
tinggalkan tumpah darah
tak pernah kembali lagi
usia senja telah meratap dalam cinta
meski ia kecewa
ayah, kau tetap sabar dalam doa

Duhaiii, mahkotaku yang telah hilang
entah kemana perginya
tak tahu kini di mana rimbanya
pulanglah nak!"
ayah menantimu di beranda senja ini
haruskah tanah merah kan kau temui nanti
wahai anakku ....

HR RoS
Jakarta, 13,11,2015, 08,42



DUALISME RINDU
Karya Romy Sastra


senja menyapa
garis batas samudera menepi
nun yang jauh di sana
melingkar tak berujung
sepi di pantai ini

bola mata dunia perlahan meredup
bulir-bulir lembayung hiasi pantai
senja kian berlalu

berdiri menatap pelangi
telah samar dari tatapan sunyi
menyusun jari jemari melingkari ubun
hening terpaku menuai rindu dunia
rindu nan kian membisu

berdiri
bertanya pada bayangan diri
sosok yang samar berbisik lewat hati
jawabannya lirih bak bisik misteri

wahai yang bodoh ini
harungi samudera jiwamu
kan kau dapatkan sejatinya rindu cahaya tenggelam itu kisi-kisi
siluet diri istananing hati

masuklah ke dalam goa rasa
hingga rindu-rindu semu sirna
tatapah rona cinta-Nya mewajah indah
disanalah rindu yang sempurna bermegah
dalam kesejatian cinta Illahiah ....

HR RoS
Jakarta,12-11-2015, 13,17



PERISAI YANG TERLUPAKANN
Karya Romy Sastra


Suliki Pandan Gadang
tumpah darah itu
cikal bakal sejarah sang putra
untuk sebuah kemerdekaan bangsa
dari penjajahan dunia

Suratan mengiringi perjuangan pemuda dalam sejarah,
jauh berkelana dari tanah bunda
antara asia dan eropa.

Tan malaka,
bergelirya tanpa kenal lelah
sang diplomasi strategi
dari kegelapan menuju terang
dari kebodohan zaman
pelitakan generasi dalam pendidikan alam

Perisai yang terhujat
dilupakan,
tertuduh terbang pada sayap kiri,
padahal kau berenang bak ikan
di tengah muara
mencari titik bening pada keruhnya suasana
kau saksi dibelakang sang orator
ketika dikumandangkan proklamasi

Tiang-tiang pendiri kemerdekaan
tokoh sejarah sang pengelana,
diintimidasi dari organisasi
dicari-cari kolonialis
dicaci maki oleh penguasa
tertuduh hipokrit politik

Di negeri sendiri dilupakan
dihormati di setiap langkah kakinya

Tan malaka
aset bangsa yang telah tiada
kiprah yang sejajar
dengan perjuangan tokoh-tokoh dunia

Polemik gugur di kaki gunung Wilis
bangkai yang telah berdebu
di makam itu
masih misteri akan dirimu

Sayangnya,
tanah misteri sang tokoh dikebiri
dimarjinalkan dari sejarah
tunggul nisan tua tak bernama
sendu hiba di pusara sunyi
sunyi dari keramaian zaman
dahaga dari penghormatan bangsa
Tan Malaka saksi sejarah pahlawanku ....

HR RoS
Jakarta, 12112016
puisi pahlawan untuk Tan Malaka



TERIMA KASIH PAHLAWANKU
Karya Romy Sastra


Padamu wahai pahlawan
kibarkan panji-panji di ujung bambu
bersuara lantang
MERDEKALAH NEGERIKU.

Mantera-mantera sakti dirafalkan
sebagai perisai diri
bertelanjang dada angkat senjata
orasi takbir penyemangat jihad
maju ke medan tempur
dengan otot kawat bertulang besi.

Dari negeri bernama nusantara
ketika itu sang punggawa
tetua tanah Jawa menitipkan pesan
negeri ini jangan sampai lengah
kelak tahta Juliana melebarkan sayapnya ke Nusantara
pertahankan sejengkal tanah ini
dari penjajahan Belanda.

Padamu wahai pahlawan,
benteng-benteng kemerdekaan
ceceran darahmu telah mengering
kering menjadi debu
debu-debu itu
pupuk organik tanah airku.

"Kini... jasa-jasamu, wahai pahlawan.
Tinggalkan kenangan
pusaramu di taman-makam itu
merintih sedih tak bersuara
revolusi dari segala sisi belum usai
justru tergadai.

Nisan-nisan berjejeran
disirami kembang setaman
bak arca merana
bermenung di dalam kesedihan.

Pahlawanku,
bukankah negeri ini telah merdeka
tapi kenapa masih terjajah?
oleh para bedebah itu.

Padamu wahai pahlawan
kutitip salam
setulus doa dikeharibaan Tuhan
semoga kau damai pahlawanku
sebagai jihad.

Putera-puteri terbaik perisai bangsa
baru kemaren rasanya kau tiada
masih terkenang sepasang mata bola
mengintai para penjajah
Veteran yang tersisa memikul derita
bersamamu negeri ini ada

Kau pahlawanku,
kan tetap kukenang selalu
menitipkan lembaran-lembaran berdarah
untuk pelajaran sejarah anak cucu
terima kasih jasamu wahai pahlawanku ....

HR RoS
Jakarta, 09-11-2015, 17,22
Mengenang 10 November hari pahlawan



DAUN-DAUN MUDA BERGUGURAN
Karya Romy Sastra


Tanah tandus tergerus siklus zaman
pohon tua bertunas
kembang berputik jadi idaman hati

Ketika budi dan religi dikebiri
make up cantik penghias diri
jajakan cinta di balik tirai malam

Wajah-wajah ayu berlenggok
bak bidadari dari kayangan
rela terhempas
jadi penghibur wanita malam

Segelas anggur
di tangan serigala-serigala rakus
bermata elang
di balik rerimbunan lampu eksotic
melirik mangsa kemayu jadikan teman mainan

Jelantik berkicau berbisik kecil
bermanja lirih
sangkar-sangkar kerlip
menambah suasana riang

House musik riuh menggugah syahwat
pasangan berlalu satu persatu memandu kasih
hilang dari kerumunan mencari tempat persembunyian

Malam-malam panjang
dalam keramaian di pinggir jalanan
dugem di awal malam
menambah asyiknya pesta konco-koncoan

Malam kian panjang
berhias lampu jalanan
beraroma mistik mewangi dari dukun langganan

Malam bertaburan bintang
daun-daun muda berguguran
jadi prostitusi jalanan

Pesta usai
cinta satu malam melenakan
daun-daun muda terdampar di tengah jalan
kembang muda berputik
tinggalkan kenangan
layu sebelum berkembang.

HR RoS
Jakarta, 11-11-2015, 11,51



TERSISIH IA SETIA
Karya Romy Sastra


Tak pandai menari lantai berjungkit
ketika gemulai tarian
tak selaras dengan nyanyian
jemari dan songket
terlilit selendang ungu
kan terjatuh malu

Kidung rindu mengalun merdu
merindu dibuai angin lalu
kidung tak lagi bernada cinta
nada bisu membungkam kalbu

Aksara cinta berbalut tinta
gelisah terluah di kertas madah
langkah kaki terhenti
bak musyafir kehilangan arah
dahaga di tengah samudera
tak tahu arah mana kan ditempuh lagi

"Aahh... rasa, tercabar di minda tanya
padahal musyafir cinta
masih setia dalam perjalanannya

Tinta jiwa ini
melukis misteri berbalut resah rasa
terlukis di bingkai setengah jadi
buruk sudah bayangan di depan mata

Wajah-wajah rindu
seperti berkaca di cermin retak
merupa tak membentuk indah
tertutup butir-butir kaca berserak
seakan rindu-rindu tak lagi tampak

Bertanya dalam diam
jawabannya bungkam
hanya makna yang bisa ku-eja
di setiap rindu yang kutunggu

Rindu telah ranum merona
menghela di sela napas-napas cinta
resah sudah

Dalam tanya resah menjawab sendiri
rindu ini masih seperti yang dulu
menunggumu sampai akhir hayatku
aku tak memelihara kembang lain
di taman hati
setiaku selalu
menggenggam noktah kasih
dalam bingkai setia
bersama dirimu setia sampai mati ....

HR RoS
Jakarta, 11112016



PERJALANAN RELIGI WUJUDKAN REALITI
Karya Romy Sastra

Berlari di dalam sunyi
yang dikejar bayang-bayang diri
ketika bayangan menyapa
susah dimengerti maknanya rasa

Bingung bertongkat dungu
onak gelisah membuncah pikir
dinding-dinding hati
tertutup tirai pelangi

Berjalan ke sebuah tujuan
bertanya di dalam kelam
meraba hati rasa berbicara
jawabannya ia, kenalilah diri.

Tuah khalifah bermadah isyarat
untuk menempuh ujung jalan
semestinya,
harus melalui pangkal jalan
pangkal jalan yang terdekat
adalah tetap diri sendiri.

Tertatih di lorong kenyataan
jalan itu tetap membingungkan
karena jubah keimanan
tercabik oleh ke munafikan

Ketika janjian berlabuh mencari kesungguhan,
roda kehidupan tetap berputar
ke sebuah haluan
haluan ke-tidak-berdayaan
kejayaan yang dicari adalah takdir pada suratan azali
tunggulah berikhtiar saja

Gelisah menari, jalan ini masih panjang
kehidupan ini,
seakan tersisa hanya satu malam
sedihnya,
ketika terjaga nanti
hidup ini sudah berlambang batu nisan

Jalan abadi yang di tempuh
adalah kesetiaan iman
bersatunya diri bersama Tuhan.

HR RoS
Jakarta, 14-11-2015, 16,20



MOTIVASI TEGAR BERDIRI
Karya Romy Sastra


Kenapa hiba yang kupelihara
sedangkan duka tak menyapa
meghapus rasa sedih
selagi masih bisa tersenyum

Pada suatu iklim
menitip embun ke dalam hujan
embun yang menyejukan
menyatu bersama dingin
sulit mencari perbedaan
telah tergerus banjir menghadang

Berpesta bersama penonton meriah
nyanyian sumbang tetap saja wah,
bersorak ria
ritme tak bersimponi nyanyian bak orasi
seakan kidung telah megah
bernyanyi indah,
padahal nada seperti bercerita saja

Lama sudah perjalanan ini dilalui
sedangkan nan di tempuh
ada di lubuk hati
berteriak sekeras-kerasnya
tetap saja suara itu bisu
berbicara tentang kepalsuan
tetap saja tak kan tahu keaslian

Mencoba merapikan larik tinta
ke dalam madah diksi pujangga
kiasan jiwa tetap termakna berbeda
aaahhh ....

Bertanya kepada diri,
diam bermenung dungu,
suara lirih berbisik tak tersentuh
eja dicerna semakin tak tahu jawabannya,
berjalan dengan satu tongkat
memandu ke arah martabat
jawabannya damai bersama haribaan
disanalah kedamaian bertahta tanpa bertingkah

Ketika bimbingan menuntun ke sebuah jalan
jalan terarah ke dalam maruah kehidupan
terima kasih bimbingan kesetian
optimis berharap
memandu ke dalam genggaman

Burung-burung terbang tinggi
melintasi cakrawala
jauh melaju di bawah langit biru
ketika lelah mengharungi angkasa
tetap saja sang burung pulang ke sarang
pertanda kodrat jiwa yang setia

Terima kasih kepada Tuhan, ucapkan alhamdulillah
terima kasih kepada ilham rasa,
tergores madah yang bermakna
menambah kekuatan tuk tegar berdiri
meski langkah tertatih ....

HR RoS
Jakarta, 14-11-2015, 09,45



BERLALULAH STRES
Karya Romy Sastra


Tak terpikirkan sesuatu kan terjadi
kekwatiran yang ditakutkan
perlahan-lahan menghampiri

Meski kaki tegar berdiri
bak ilalang di padang gersang
tetap saja bila di sulut api
dia akan membakari

Terik panas hujan menghadang
mahkotaku hanya berpayung angan
ketika terik membakar diri
tudungku seketika rasanya dihanguskan
bermandi peluh, pikiran kian rusuh

Kala guyuran menitis
payungku perlahan menipis
seketia itu juga habis
yang tersisa sedih

Pelita pagi, bersinarlah kau hari
biarkan kegelapan dunia berlalu pergi
hati yang gelisah ini
tenanglah kau kini
kan kusibak onak duri
menyeruak otak
semoga berlalulah kau stres!!

Menyingkirkan duri-duri itu
dengan puasa sunah hari ini
berharap jati diri kembali....

Puasa yuuukkk?"

HR RoS
Jakarta, 16-11-2015, 09,17



MALAM INI BISU
By Romy Sastra


Sendiri merengkuh sepi
damai bersama bayangan malam
dalam kelam, jauh di sudut hati
meluah rasa, melukis sunyi
sunyi dari kekasih.

Duuhh, malam ini
terasa sepi tanpa kau disisiku
aku gumam rindu
bersama dinginnya bayu
kau yang kurindu
jauh memandu angan.

Anganku menitip kidung resah
lewat diksi malam yang kian temaram
adakah kidung ini kau rasa.
Aaahh, entahlah....

Kucoba lelapkan diri
tuk menghalau bayangan semu
mata ini susah sekali terkatup
angan melayang tinggi
jauh beradu ke ruang bisu

Uuhhhh....

Tatapan ini semakin diam
memandang gumpalan malam
di dada langit
cakrawala menyibak awan
seakan gerimiskan hujan

Hujan,
kau titipkan kedinginan
yang tak berkesudahan di malam ini

Bertanya pada jam dinding yang berputar
tetap saja tak menemukan jawaban
yang tertinggal memori malam nan bisu
yang tersisa mimpi-mimpi semu
yang pergi tak kan kembali lagi....

HR RoS
Jakarta, 16-11-2015, 22,42



SEBATANG LINTING
Oleh Romy Sastra


Sebatang linting yang kuhirup
asyik mengusik kabut
di ruang yang berdebu

Jikalau aku mati
bukan karena asapmu
tapi karena ajalku

Lamunan terbang tinggi
hayalan berkoloni dalam memori
kurangkai diksi
jadikan berbagai syair-syair puisi

Asap, kau mainan dari penikmat
sahabat akrab
ketika lamunan berkawan angan
yang mengerti sepi ....

HR RoS.
Jkt 16112016



MENGEJAR ASA YANG TERSISA
Karya Romy Sastra


Pada suatu langkah
terhenti dalam tanya
jalan mana kan kutempuh
arah itu,
semua membingungkan

Tertunduk merenungi diri
merengkuh pilar-pilar akal
mengadu jauh ke lubuk hati
bukakanlah ya Illahi
belenggu keputusasaan ini

Bertanya pada pasir berbisik
di sela langkah kaki
jejak yang menapak
jadikan perjalanan diri
sejarah yang berarti
menghalau bayang-bayang nan menghantui
dari sebuah kegagalan obsesi

Kini,
hari-hariku berkawan hina
dibalut tinta memadah luah
dimamah rasa semakin tersiksa

Uuuhh,
kucoba mengenali diri
dengan situasi yang berbeda
skenariokan tawa
memaksa untuk senyum mesra
terhadap sebuah asa yang tersisa

Asa yang berlalu
telah bias jauh meninggalkan jejakku
seringkali duduk berkawan hening
hening itu menemaniku di bilik duka

Kutitip luah rasa
berbait setengah puisi dan sajak lara
kepada pembaca yang terkisah
dimanapun berada
adakah nasib kita sama?"
entahlahh ....

Selamat petang merengkuh senja
berharap malam berpurnama
semoga cerita tintaku tersampaikan
di lingkaran setia sahabat maya
meski malam tak berpurnama ....

HR RoS
Jakarta,15112016



DEBU-DEBU NIRMALA
Karya Romy Sastra


Bunga-bunga indah
bermekaran di kala senja
pada bintang malam
yang bertangkai di ranting cemara
dedaunan berbisik
melirik manik di lembayung yang mengintip.

Warna-warna jingga
kemilaunya pelangi itu
mengharu biru
kepada megahnya nirmala
Sunset merona ditingkah fajar

Nirmala suci tak bernoda
bak salju menumpang rindu
di atas bunga-bunga mekar dikala subuh

Nirmala debu beterbangan
melekat di setiap tempat
debu yang bermusyafir di setiap waktu
kau debu nirmala suci
menyentuhmu kusauk fitrah itu
bertayamum jejaki sajadah religi menumpang ke jalan realiti
di dalam jiwa ini

Bercinta merengkuh maha kekasih
rela berpeluh sendu
melingkari kasta-kasta hati nan bersih

Nirmala debu itu
berkoloni di singgasana hari
kala malam berotasi pagi
pagi berotasi senja
menengadah doa ke dalam Sukma

Berguru pada story kisah
setianya janji sang kekasih
mengikrar kasih seperti Romeo and Juliet
hidup dan mati bersama
berkawan setia dalam keniscayaan cinta.

HR RoS
Jkt,19112016



TERJAUH IA TERDEKAT
Oleh Romy Sastra


Duduk melipat lidah menyentuh langit
merenda rasa ke dalam jiwa
doa-doa bertarung di angkasa
berputar bermain bersama nebula
destinasi Tuhan perjalanan terjauh
padahal ia dekat sekali

Terbuka sembilan jendela rumah
nafsu-nafsu lepas mencari kesenangan
yang dicari tak jua menemukan jawaban
meski berkelana ke ujung dunia
yang ditemukan tetap kepalsuan

Menutup sembilan pintu diri
pada jejak-jejak wali
berpeluh mendaki makam keimanan
butiran zam-zam mengalir di segala pori
hidangan kalam jamuan asyik
menuju titik destinasi terjauh
yang dituju telah bertamu tak disadari

Kematian terindah senyum menatap cinta
meski El-maut datang menakutkan
tak gentar rubuhnya gunung thursina menimpa
tak ciut nyali meski gelap tertutup terik
sadar pada hayat sejati akan dijelang
rindu kematian adalah kwalitas iman

Sesungguhnya di dunia adalah tertidur
ketika terjaga nanti baru tahu destinasi

HR RoS
Jkt,18112016



DUKA PARIS SE UJUNG KUKU
Karya Romy Sastra

Pada satu keyakinan
setiap yang punya jiwa
ber-Tuhan
dalam satu tubuh anak Adam
memandu nafsu nafsu Syetan
hawa suci di kebiri
dari otak-otak hewan duniawi

Paris di guncang petasan, hanya petasan
satu dunia berempati berkoar
ketika Timur Tengah dijajah biadab
bom setiap hari menguncang kehidupan
ratusan ribu telah begelimpangan
seakan satu dunia tuli dan bisu.

"Uuhhhhh...
di mana keadilan itu??
adakah ini pertanda
risalah makna management
Illahi berbicara....
Ketika yang lemah dihancurkan
nan megah tak bersalah digulingkan
sang tokoh dunia kafir
berpesta seremonial
ia orasi tertawa kemenangan.

Duh,
kausalis alam berbicara dalam zaman
dalam setiap peradaban
sampai kehidupan selesai.

Lambang akidah bertumpu ke dada Ibrahim
para utusan risalah Tuhan
menyelaraskan akidah Illahi untuk alam
dari zaman ke zaman
sampai akhir zaman
yang beriman al mukminin bil ikhwan

Apalah yang kau inginkan
wahai kesombongan??
dunia dan hidup bak sebatang rokok
seketika akan padam.

Panji-panji aliran mengkultus doktrin
padahal doktrin kebenaran kalian
adalah kenistaan
seakan bertopeng paradigma kesucian.

Wahai penghuni bumi
kembalilah ke fitrah nurani
sucikan hati raihlah tuntunan Illahi.

Dalil-dalil sang utusan
janganlah di perdebatkan
berpeganglah ke dalam setiap bimbingan
para utusan-utusan itu
mengamanahkan
tentang ajaran kearifan alam dan budi
untuk sendi-sendi kehidupan.

Lawan Dajjal-Dajjal diri
pada nafsu yang bergayut
berkoloni dalam doktrin sesat
sesat menyesatkan.

Paris,
kau simpati itu
tragismu se ujung kuku
kau di cemooh dari negeri yang dihanguskan
dihancurkan oleh sekutu kemunafikan dunia
mereka mati satu tumbuh seribu
Turki berdarah, Syiria, Irak genosida, Ronghiya tak kalah parahnya
Afrika tertutup mata dari hiba
Palestina tertindas dari dulunya
seakan dunia masa bodo
ironisnya, negaraku tenang-tenang saja.

HR RoS
Jakarta, 18-11-2015, 11,20



NAHKODA BERLAYAR MALAM
Oleh Romy Sastra


Koloni awan melaju
berarak ke arah pelayaran itu
siklus badai tiba menghadang
mendung mengusik hujan
hujankan samudera biru

Lentera menara sayup redup
samar di tengah samudera
kerlip suluh jauh nun di sana
lampu-lampu pijar malam
di balik layar phinisi
menambah indahnya malam di samudera
sagara tak ber ujung di hempas
gelombang tinggi

Anak sekoci tersusun rapi
perisai awak phinisi
ketika badai menenggelamkan pelayaran
sekoci perisai diri tumpuan keselamatan

Angan memandang jauh ke negeri tak bertuan
malam panjang menyeruak kelam
nahkoda bermadah diksi dalam angan
menyusun aksara sukma
bak penyair di mabuk panggung
dalam seremonial pesta

Nahkoda menulis mantera untuk sang kekasih
menuju perjalanan malam
ke negeri impian
meninggalkan tanah kelahiran
menuju pantai Semenanjung harapan

Dalam lintasan laut jiran
mengharungi rasa persahabatan
gita mesra bersatu dalam genggaman
harapan berharap menjadi pujaan
pujaan jadi kekasih

Sang phinisi berlabuh di dermaga sepi
nahkoda bertanya kepada sekoci
di manakah tali noktah itu kan kutemui?
sampai saat ini,
alamat itu belum terjumpa jua
pelayaran itu tertuang di kertas madah saja.

HR RoS
Jakarta, 18-11-2015, 00,17



ASA YANG KIAN REDUP
By Romy Sastra


pesona senja
perlahan redup
redup menikam kelam

pelita diri
kian temaram

asa berangsur pergi
perlahan padam
dihempas cabaran kehidupan

untaian hati
serasa telah mengurung mimpi
senyap bersama angan

oh, Tuhan
pintaku kali ini
jangan ambil nyawaku
sebelum tobat kulakukan

izinkan hamba merengkuh cinta
di malam indah bersama diri
beradu cumbu lena berselimut kekasih

Engkaulah kekasih itu ya Illahi....

HR RoS
Jkt, 23112016



MENCERNA AKSARA BISU
Karya Romy Sastra

ketika bisu berbicara dalam diam
berkomat kamit seakan bermantera
eja mengundang tanya
bisakah aksaranya itu dimaknai
bercanda ria tanpa melukai

seperti beo pandai mengolok kata
berkicau,
bertanya kepada tuan nan bijak
adakah doa-doa penjara emas ini untukku
biar aku lepas terbang ke alam luas

siburung merak berkotek ayam
terbang menikung ke semak belukar
mencari kedamaian dalam keterasingan
takdir kekinian dan nanti
adalah azali hak azasi Tuhan

berbelok arah dari pengembaraan
berjuang tuk sebuah tujuan
seakan bergelirya,
mencari sebuah keutuhan yang sempurna

sibisu diam seribu kata
mencerna hidup dengan pasrah
belajar berjuta aksara bersama alam
meski lelah tertatih tersisih dari bising
hidup mengalah sikapnya bijaksana
seakan filsafat hidup sudah di cerna

memanglah, berfikir itu
lebih baik daripada beribadah berpuluh-puluh tahun lamanya

HR RoS
Jkt, 23112016



BIAS-BIAS KISAH
Oleh Romy Sastra


Kukirim kabar pada angin malam
membawa pesan lembayung senja
tentang sebuah kisah stanza cinta
yang kurindu tak lagi menyapa
sepi sudah

Malam,
Sibakkan awan itu
biarkan sipungguk rindukan rembulan

Sunyi,
jangan menyulam mimpi
meski kerlip tak menari di dada langit

Resah,
semoga berlalu pergi
usah tingkah menjadi duri dalam kisah

Kuhantarkan kabar tentang rindu
pada sulaman kasih berpayet indah
yang terkasih tak terkisah dalam noktah
ia diam saja, gagal sudah....

HR RoS
Jkt, 22/11/2016



PIGURA RINDU SENJA
Oleh Romy Sastra


Relief-relief tinta melukis megah
sastra senja memadah rasa
teruntuk yang merindu pada seribu kisah
berpacu umur kian melaju kan merapuh
membuncah irama kasih
dalam kidung seruling bambu

Senja kian menepi senandungkan warna
menatap pelangi sunset menari
pelangi melingkari iklim reliefkan misteri
di antara mendung dan cahaya

Kearifan stalaktit stalakmit menari diam
istana alami dalam goa merayu bidadari
tersenyumnya lukisan alam
sang permaisuri senja bersolek
menitip kembang setaman
ditingkah gairah mistik perpaduan sandi
Dewa Dewi malam turun ke bumi
bermandi riang di bawah sinar rembulan
Malam nan indah pancarkan kerlip nebula
menggugah jiwa
persembahan kearifan kosmik nan sempurna

Pigura senja berlapis debu nirmala
menyentuhnya kalam kekasih
ber-aroma surgawi dalam nada-nada cinta
rindu nan meranum di atas sajadah senja
para pencinta mencumbui maha cinta....

HR RoS
Jkt, 22/11/2016



BINTANGKU REDUP KARYANYA ABADI
By Romy Sastra

Di sini di tanah nan berdebu
kuberdiri sekejap
hayalkan memori dua dekade berlalu
kisah,
pada suatu era,
satu kembang berputik mewangi
tetiba dikau gugur
semestinya mekarmu bertahan lama
simpatiku berbuah kagum sekejap malang
kala itu,
daun-daun muda berduka
secepat itu kau kembali keharibaanNya
tragis kecelakaan diperjalanan misteri sulit terjawab
kenapa bunga idola gugur
meninggalkan seribu tanya tak terungkap
hingga namamu tertulis di batu nisan
bersama Honda D 27 AK
Aahh, membuka peti kenangan
sia-sia melukis malam harap berbintang
kenangan tertutup kabut pekat
kau bunga
telah lelap berselimut kain kafan
Ciamis dan Bandung, aku datang ke kotamu
dalam perjalanan malam
memanjatkan doa tuk bunga itu
semoga kau tenang dipangkuanNya

HR RoS
Ciamis, 21/112106, 00:26



CINTA BERSELIMUT KABUT
Karya Romy Sastra


Hidup dalam bayangan kekasih
bak musyafir mimpi
jejak kaku menyemai realita
asing di tingkah misteri diri
arah mana yang akan dilalui
tak sehaluan riak dan gelombang
padahal ia layaran di tengah samudera
yang mesti direnangi
diri malu menyatakan setia pada janji
tak kokoh dengan cabaran
kalah sudah sebelum berjuang

"Aahh...

Di sini lelah di sana pasrah
tak akan impian menjadi nyata
perjuangan yang tak pernah dihargai
tak dipahami arti sebuah setia
hanya menorehkan luka yang tak berdarah
lebih baik hidup sendiri

Cinta berselimut kabut
tak pernah merasakan bahagia
lebih baik menempuh jalan berpisah
daripada tersiksa selalu tertuduh hipokrit
biarlah laju mengejar yang di tunggu
semoga kabut
tak lagi mendekap mimpi burukku ....

HR RoS
Jakarta, 01102016



MAWAR PUTIH INI UNTUKMU
karya Romy Sastra

Mawar putih mekar kala senja
menambah indahnya taman hati
gugusan embun menyirami pagi
basahi rindu yang gersang setiap hari
kutitip setangkai mawar putih ini
menyapa dalam kerinduan

Pada setangkai mawar menitip ikrar setia
yang kupersembahkan ke persada maya
menulis melukis pigura cinta
merancang noktah ke bumi sabah

Laila cinta menitis kasih membingkai setia
Arjun bermusafir hari berjubah hina
bertongkat diri menatap asa

Kucabar rintang waktu dari kejauhan
melangkah di sahara gersang
meski tak berpayung
mendung di langit biru
menutup pelangi rinaikan hujan

Mawar putih ini untukmu
kupetik dari istana sastraku
merangkai syair hati untuk sang kekasih
terimalah apa adanya

Mawar putih,
ketika jabat tangan tak berpelukan
mawar putih ini terlepas dari hidangan
akankah rasa bahagia yang di nanti
mengakhiri story love Me
entahlah...?

Bila itu terjadi
aku menutup bunga cinta dikala senja
pagari hati menutup lembaran semi
dan kuakhiri kasih ini
berselimut sepi sampai tua nanti

HR RoS
Jakarta, 1-10-2015, 18-55



MALAM INI SETENGAH PURNAMA
Kary Romy Sastra


Malam gelap tiada kerlip sang kejora
langit sebak sunyi cuaca mendung
sunyi di peraduan malam
hayal jauh menggantung di bulan ke-emasan
purnama malu di balik awan

Bidadari-bidadari kayangan
tak turun ke bumi
enggan menampakan diri
yang biasa bersolek riang
di air terjun pemandian
ya pemandian hati air mata ini

Malam kian kelam
cemara berbisik di dahanan
angin rindu tak berkawan angan
berselimut malu dengan cabaran
kurengkuh malam dalam kedukaan
menyapa kasih dalam diam
kenapa tak ada jawaban

Diri,
kenapa kau majenun karena angan
yang selalu kau nyanyikan lagu rindu
lagu memori tempo dulu
iramanya akan membunuh rasamu
suara jangkrik pun bisu
entah malu berkawan dungu
aku tak tahu

Bulan,
purnamakanlah rupamu
biar kutahu
indahnya kesunyian itu
walau sunyi berkawan angan
luah rasa ini tetap bernyanyi tanpa nada
mengiringi malam meski tak bersuara
semogalah purnama itu indah
bertamu dalam lamunan cinta

Aku menanti purnama berseri
bila tak kudapat malam ini
ku tunggu esok satu malam lagi
semoga esok menyinari alam sunyi
biar malam esok aku tak lagi sepi
tak lagi sendiri
bernyanyi bersama kekasih

HR RoS
Jakarta, 01-10-2015, 22,45



JERITAN TAK BERSUARA
Karya Romy Sastra

Terngiang fikir tak berbisik
mencibir lidah tak menjulur
rasa sunyi diri
memekakkan telinga tak bernada
adakah tahta itu lebih ksatria dari patriot?

Penguasa penguasa dan pengusaha
sumber daya alam ini kian kerontang
kehidupan pribumi menjerit tak ketulungan
mengintiplah kau di balik jendela kekuasaanmu!
lihat kami di sini,
bak jamur hidup tak subur

Suara rakyat dimanipulasi
harapan mimpinya dikebiri
istana-istana berjejeran di tepi jalan
seperti rumah hantu tak bertuan

Jeritan tak bersuara bermuram durja
teruk perih merintih
luka tak berdarah tapi bernanah

Inflasi di depan mata
nurani penguasa berpaling muka
mengaku telah bekerja
padahal hanya bermain wacana
bibit masalah negeri
melengkapi sengsaranya bangsa ini

Wahai saudara yang terjajah di nusantara
bersuaralah demi janjinya
jangan biarkan hati ini lara
Sakit hati yang mendera setiap hari

Stroke stres badan akan kian sukses
terkapar di ranjang menunggu waktu

Bahagia anak neger itu...
di sandera oleh maling-maling berdasi
yang beristana di balik tembok rapuh
penguasa dan pengusaha mafia
tak punya maruah sedikit juga
membiarkan yang miskin mati perlahan
akankah negara ini diambang keruntuhan?

Tataplah wajah lara bangsa ini
di seberang istana mewahmu ....

HR RoS
Jakarta, 3-10-2015, 10,35



PUPUS
by Romy Sastra


Denting dawai rindu telah bisu
kuakui,
syair koyak ditingkah malu
pada cinta menghukum pilu
apa salahku pada dirimu
hingga kau campakkan
kado noktah setiaku
bahwa ikrar kasihku hanya untukmu.

"Kini...telah pupus sudah jejak kekasih
pada keputusan cinta yang diakhiri
yang dulu pernah kupersembahkan
lewat janji setia,
sampai ke ujung nyawa sekalipun
aku akan tetap setia selamanya.

Hingga kau tahu ikrarku
bukanlah mainan lidah yang tak bertulang.

"Kini...aku telah menikmati sunyi
tak lagi mau bercinta
janji itu kupenuhi.
Pada suatu masa umurku panjang
sayapku tak mampu terbang mendekapmu suatu saat nanti
maafkanlah ikrarku,
biarlah mimpi-mimpi jawaban terakhirku
bahwa aku telah bernoktah di sudut hatimu
ternyata tak dipahami.

"Aahh...benciilah aku selalu
tikam dengan sembilu tuduhanmu
aku sang hipokrit cinta
kuterima saja... tapi tak rela.

HR RoS
Jakarta,30092016



KETIKA SEDIH BERKAWAN SEPI
Karya Romy Sastra


Selimut malam resah berkipas kertas
sesak jiwa di lentera mungil
hening ning aning suara nyamuk bernyanyi
kukipas tubuh ringkih di malam sunyi lirih semakin sedih

Kala siang gersang mendayung hidup
selalu diamuk gelombang
jejak langkah tandus di bumi terasa sepi
kulangkahkan kaki tertatih
di bawah mentari yang kian terik

Perjalanan panjang menanti di ujung ajal
kehidupan mimpi dalam lingkaran misteri menakutkan sekali
hidup tak cukup bekal berselimut cahaya
dalam haribaan Illahi berkalang tanah
tersiksa dalam penantian panjang
di akhirat nanti sepanjang masa

Miris sedih dari kelakuan diri
terantuk pilu di gilas waktu
terjajah oleh roda kepalsuan
dari cabaran mimpi-mimpi

Ketika kisi singgah di hati
terhenti sejenak
dalam perjalanan menanam kasih

Kasih di tanam tak subur
berputik layu sebelum bersemi
berharap mimpi jadi realiti
hanya cerita manis di bibir saja

Aahhh,
kubiarkan sajalah ia jadi memori yang berarti
dan singgah lebih lama lagi
bermain riak di pantai indahnya hidup ini
meski kuhidup sendiri ....

HR RoS
Jakarta, 30-9-2015, 09,03



YA HU
karya Romy Sastra


Ya Hu napas itu
kukulum langit kulepas bayu
hilang menyemai rindu
membuka kosmik tertinggi
dalam perjalanan religi
mengabdi di atas sajadah duduk tafakur
memandu jejak wali
dalam keheningan diri

Tuah titah makrifat hati
sabda tuan guru
menuntun jalan-jalan Tuhan
pada rasa nafsu sembilan pintu
kututup saja semua jendela diri
biar nafsuku terkunci
meninggalkan warna pelangi senja
ia selalu menggoda tauhid cintaku
yang akan menutup langit purnama
bertamu di malam-malam rindu
bercumbu mesra bersama maha kekasih

Ya Hu
hembusan hamba surga pada hayat Ilallah
asyik memuji saban hari tak kenal lelah

Ha Hu
puji rasa pada tarikh qodim Ilallah
ya rasulullah

Hu Hu
makrifat itu dalam helaan napas
asholatu daimullah

Fanakan diri dalam sujud seribu satu malam
biar terbuka tirai sukma
bersemayamnya maha kekasih di jiwa ini

HR RoS
Jakarta, 03102016



PERAHU YANG TERKOYAK
Karya Romy Sastra


Mengalir tetesan embun malam
dari siklus gravitasi magnetik kosmik
lembut terasa hanya diulit mimpi
siang terik dahaga melaju resah

Embun duka tertumpah basah
menitis di sela pipi
bermuara ke telaga sunyi
riak menepi bersama gelombang
batu karang menghadang

Haluan hidup dalam bayangan abstrak
jamur-jamur harapan bermunculan
ya, hanya bayangan saja
dari sisa debu berterbangan
tumbuh tersisih di tunggul lapuk
tak tersentuh
rela malu dalam cibiran kasta
asing bergumam bernyanyi lara

Jalan ini masih panjang
terjal berliku langkah kaki berduri
arah merintang sudah menjadi hiasan hari

Menatap samudera tak berujung
jauh jalan pulang untuk kudayung
perahu terkoyak dihantam gelombang
malang sudah nasib sibadan diri
berpegangan bertongkat rapuh

HR RoS
Jakarta, 03102016



ANAKKU SAYANG
Karya Romy Sastra


Lilin kecil terangi sunyi
kerlipnya menari gemulai di meja mungil
kutatap langit kamar ini
diri terantuk di kelam waktu
kumenunduk jauh ke dalam rasa diri
terhempas rindu memeluk sibuah hati

Duhai darah daging yang kurengkuh
lenalah di pangkuan ibu
wangi kesturi
mewakili wangi keringatmu nak

Peluk cium ibu
menambah semangat hari
terik surya pagi menyinari alam
kerlip bianglala rupakan lembayung
konotasi pantulan di antara dua sejoli

Darah daging ini,
tak tersisih dari cabaran sembilu hidup
tak lekang dengan waktu yang merindu
tak terbakar dengan terik
kau kah itu nak

Menitis dari birahi kasih
Keringat bermandi hari
menjadikan kau bermain mimpi
dalam belaian hati

Kutatap bintang malam dalam pangkuan
jadilah kau salah satu bintang yang berkilauan
di antara bintang-bintang bertaburan

Anakku yang kurindu
buaian dendang pagi dan petang
cepatlah besar nak
kejarlah ibu berlari
mengikuti tirani pelangi
yang kian menyapa usia senja

Tari-kanlah lentik jemarimu
dengan kidung indah kau bernyanyi
biar cantik elok gemulai di panggung seni
semoga kau jadi bidadari idaman hati

HR RoS
Jakarta, 4-10-2015, 20,38



DETIK DETIK AJAL ITU
karya Romy Sastra


Unsur tubuh berselimut cahaya
cahaya yang mengikat
di antara Malaikat-Malaikat yang menjaga
enam puluh tiga Malaikat rahasia
rahasia kematian umur Rasulullah

Ketika Israil datang memanggil
cahaya itu ditarik di genggam balik
balik di hantar ke dzat Illahi Rabbi

Tubuh pasrah tiada berdaya
bulan sabit memerah di langit bashirah
gunung Thursina tak lagi megah
daun-daun cinta berguguran
pergulatan iman dipertaruhkan
dahsyatnya proses kematian

Bidadari cantik datang menggoda
mengaku dari surga
membawah secawan madu pelepas dahaga
cabaran iman maha dahsyat
di antara kematian yang baik ataukah tersesat

Detik-detik ajal roh tunggal risau
jiwa mendelik ke ranah tauhid
menunggu datang sang utusan Khalik
sakit menggigau dan galau

Akankah ajal terfitrah
dari kematian ilmu-Nya
terhidayah dengan amal ibadah?
ataukah tersesat tercabut dari akar-akarnya
terhempas lara
tak butuh meganya istana dunia
iman dungu tak tahu jalan pulang
bangkaiku resah
kejadian apa ini purnama tak lagi bercahaya

HR RoS
Jakarta, 04102016



KERETA SENJA TELAH BERLALU
Karya Romy Sastra


gugur bunga pahlawanku
tertembus peluru siang tadi
patriot mewangi di tanah pertiwi
meski engkau gugur
namamu tak meninggalkan bakti
pada tanah air ini

kereta senja telah berlalu
walau engkau tak pernah kujumpai
juangmu kuhargai
engkau pergi tak akan kembali lagi
mati satu tumbuh seribu
pengganti regenerasi itu

tunas-tunas tumbuh mewangi
suburlah dikau di taman hati
siklus zaman pengganti
pada gugur bunga pahlawanku

rindu kedamaian tiada lagi pertempuran
meski bangkai terkubur berkalang tanah
pahlawanku tetap ada dalam memori
kupersembahkan satu puisi untukmu
mengenang jasa di atas nisan sunyi
kukirim kembang setaman sebait doa
semoga dikau tak kecewa kepada kami
yang mengambil kesempatan kemerdekaan
dari pengorbanan keringat darah
jiwa dan raga perjuanganmu itu

HR RoS
Jakarta, 05102016



K A N D A S
Karya Romy Sastra


Lunglai langkah tertatih berjalan lirih
dari setitik harap terperap kasih
menyentuh bayangan tak tergenggam
tersesali tak terpikirkan

Suatu ujung tak bertepi
kandas penantian di awal jalan
aku telah melukis tinta kasih
demi menunai seribu janji
terakhiri kisah pada misteri

"Kini... tertanya dalam hati
akankah sisi hati telah terbagi
antara kau dan aku di sini dan di sana
di persimpangan jalan
kasihku kandas di rerumputan jalanan
kisah bias tak lagi bisa diharapkan

Deru-debu melulur peluh
basahi tubuh
di suatu pagi tempatku berhenti
kau yang selalu kutunggu di halte itu
tak pernah hadir lagi menyapaku
berlalu laju roda jepang beriring jalan
silih berganti
seperti masa di medan perang
bunyi deru mesin mengusik peraduan
yang kutunggu di jalan itu
tak jua ada penampakan

"Mmm...
seharian sudah menyulam hayal
yang di tunggu tak jua hadir memandu rindu
hingga lamunanku dibisikin warta
dari belibis tua
lewat di depanku senja tadi

Ternyata dikau telah berpulang keharibaan-Nya membawa peti mati, dalam takdir yang di buat sendiri
tuk menjauh pergi meninggalkanku
kandas sudah
rasa lemas memelas bergumam bisu
terpaku dalam tatapan duka
yang sangat lara
harus berbuat apa
separuh jiwa ini telah pergi selamanya

Story love me terkikis sedih tak terealiti
oleh kematian hati pada kekasih
yang tak mau di mengerti
dengan cabaran kasih yang teruji baja
padahal ia ada bersembunyi sudah

HR RoS
Jakarta, 5-10-2015, 08,26



MAWAR DI TAMAN HATI
by Romy Sastra


Kau kah itu mawar putih
izinkan kudekap wangimu
ke dalam pangkuan hati
kusiram dengan tinta kesuma
lestarikan kasih di taman maya
melukis ikrar di urat nadi

Mawar di taman hati
aku ingin kau mengenaliku
menyentuhku
memahamiku
rangkullah aku
dengan wewangian kelopak kembangmu

Mawar indah
bukan kutakut dahan berduri
walau semut-semut kecil kian menari
yang akan menggigit rengkuh jemari
tapi yang kusedihkan
bukan karena jurang penghalang
yang tak kuinginkan, melainkan
bunga layu sebelum berkembang

Malang,
kelopak indah dilingkari parit
parit berkawat melilit duri
kutancapkan jejak di padang ilalang
mencari telaga suci
bermandi dengan air kasih sayang
'tuk hadapi cabaran memori
dengan hati yang lapang

Mawar berduri
kembangmu perisai si kumbang jati
bunga itu
akan kugenggam erat
setangkai durinya janganlah melukai
kukecup kuncup pucukmu mekarlah
bersemilah menjaga lentera hati cinta
kunanti kau di senja ini
mekarlah kau mawar berduri
kau yang kurindui
semerbak mewangi di taman hati

HR RoS
Jakarta, 7-10-2015, 17,49



AKSARA SESAT
Karya Romy Sastra


Melintasi batas-batas jalan
dalam angan tak merupa
di jalan barisan lingkaran syetan
mantera itu tersesat
dalam perjalanan malam

Virus dunia ...
beristana di segitiga bermuda
mempengaruhi jiwa-jiwa manusia
untuk jadi pengikutnya
adakah tongkat pembunuh angkara
dalam nafsu yang bergelora.

"Ia ...
Poros-poros iman dipertahankan
bertongkat tauhid landasan al-qur'an
ketika lintasan kesesatan bertamu
asma suci tak dimaknakan
perisai lebur dalam kegelapan
terjerumus menembus ghaib
ke alam merakayangan

Sunyi dalam tatapan misteri
sidungu menggigau tak karuan
aksara abra kadabra termantera
bak kabut menyulam debu
terjajah perisai hati berjubah dajjal memayungi

Rafalan mantera tersesat tak terejawantah
kidung-kidung magic bersemi dalam ilusi
tak tahu makna
rancu dalam kedunguan

"Wahai ..."
Sang pengelana aksara sesat
kembalilah ke jalan santri
pada pondok-pondok kiyai
di paguron wali berhikmah karomah sakti

Tinggalkan kepalsuan godaan
raihlah khasanah sunah Anbiya
biar tak tersesat jalan
menjauhlah dari mantera perdukunan

Segitiga bermuda
kau memuntahkan laskar-laskar api dari nafsu duniawi
mewujud di hati serigala bermata satu
kau kibar panji-panji kemenangan
di setiap hati insani
mengawasi di setiap langkah-langkah
iman diri
dalam aksara mantera yang tersesat itu ....

HR Ros
Jakarta, 7-10-2015, 19,51



PELITA CINTA YANG REDUP
Oleh Romy Sastra


Panggung pesta di sorot lampu disc
opera laju tak bertajuk
nyanyian cinta tak berpenonton
hajatan jadi kelabu
biduan menanggung malu

Pijar-pijar lampu temaram
menari eksotis ke seantero taman
Sepasang kekasih
yang biasa asyik bercumbu mesra
di sudut hati
kini sepi sudah
kuncup diselimuti dinginnya angin malam

Bertanya dinda dari sudut hayal
adakah malam ini berpelangi kanda?
tidaklah dinda,
karena senja telah berganti malam
sedih sudah, sorotan pijar pesta itu redup
kelamnya akan menyapa
menutup cerita cinta kita.

Bila pelita itu padam
dengan tiupan angin malam
akankah cinta ini juga akan tenggelam
dari cabaran tak selarasnya kerinduan

"Mmm,
kekasih hati yang merayu sedih
peluklah dadaku kembali di malam ini
jangan kau lepaskan lagi.
Kasih,
kemesraan malam ini janganlah cepat berlalu
tataplah wajahku,
di sini ada rindu untukmu

Meski pelita itu kan redup
menutupi wajah rindu yang malu
Kuingin kecupan itu menyula mesra
biarkan ia jadi memori
sebagai teman hayalku
menyapa realiti mimpi
bersamamu wahai kekasih....

#storyhati
HR RoS
Jakarta, 8-10-2015, 20,48



BERMALAM DI BAITULLAH
Karya Romy Sastra


Perjalanan malam mengunjungi Ka'bah
dalam stanza suci berdoa
mengekang birahi,
melebur nafsu dengan asma tasbih
nafsu-nafsu yang mengitari diri
menghimpun di dalam ritual ibadah
pada tahajud cinta menuai ridha-Nya

Pertemuan suci di majelis diri
asyik fana ke dalam diam
kalam rindu menyapa jiwa
maha jiwa hadir bermahkota cahaya

Menziarahi makam-makam suci
terletak pada kasta iman
fana mendaki ke martabat alam diri
bertamu ke Baitullah
dengan kontak tajali
makrifat itu indah mati di dalam hidup
menuju Baitullah bersemayamnya Nurullah

Kerangka mesjid diri bertiang rapuh
hancur disapu bayu dari nafsu-nafsu
Ka'bah kokoh dari bangunan Ibrahim
panji-panji berkibar sebagai lambang suci
tanda kemenangan menanti akhir zaman

Gejolak akidah
berkompetisi pada kebenaran sepihak
sama-sama merasa benar sendiri
mengundang huru hara di tanah suci
mengetuk pintu ghaib dari pertapaan
pertapaan sang imam agung
Imam Mahdi

Imam Mahdi bangkit
menjawab salam orang-orang suci
akhir zaman akan bertamu
kencangkan sabuk pengaman dengan religi
semoga tak tertipu dengan kepalsuan panji

Bermalam di Baitullah
kutemui dalam fenomena mimpi yang misteri ....

HR RoS
Jakarta, 09-10-2015, 09-06



OPTIMIS YANG TERSISA
karya Romy Sastra


Gemulai jemari menyemai memori diksi meluah rasa yang tersisa
teruntuk ke suatu hati
hidangan tertitip dalam dekapan
impian diri pernah menuai sesalan
walau tangisan terakhirku masih tersisa
kutadah sebak membulir beku sudah
terkoyak menikam jantung di dada rindu

Kini, kuberjuang menjadi yang kau mau
meski hidupku
tak seindah purnama
tak secerah mentari
setidaknya aku masih punya cinta
kupersembahkan di masa senjaku
walau napas ini tersengal
demi menyediakan kado sederhana
ke arena hidupmu nanti

Hari berganti bulan,
bulan berganti tahun
jalan rindu masih setia kulalui
walau kelok berliku jurang menanti
kasih ini masih tersimpan
tak akan lepas dari genggaman

"Setialah...!

Biarkan tangisan terakhirku sendu
lara di ujung tanduk
ketika pesta maya ini usai
janji terpatri janganlah selesai
genggamlah setia cinta kita
bermahkota noktah di depan penghulu
kunanti dikau dengan setangkai melati putih
pertanda cinta ini masih bersemi
dalam bingkai setia untukmu
menyapa rindu sepanjang hari
meski aku diam membisu

Kasih,
jikalau tangisan terakhirku tak berhenti
pernah kecewa tak terkira
kini selalu membayangi mimpi
janganlah risau dikau
membungkus pesimis
tataplah dunia pagi
biarkan kelam tak berembulan
sang surya kan selalu menyinari

Berjuang menjadi yang kau pinta
hadapi cabaran yang ada
mengusik kesetiaan janji kekasih
aku masih di sini menulis melukis hati
menatap asa ke arena cita
kusambut mesra dengan tinta
pelita kasih kita pernah padam
pada pertengkaran
genggam eratlah rasa dunia kita
kutitip puisi untuk kekasih
jangan pesimis merobek hati
raihlah tunas-tunas bahagia kembali
berharap suatu ketika cinta bersemi
karena optimis ini masih tersisa
demi kebahagian antara kau dan aku
di sini dihatiku ....

HR RoS
Jakarta, 09102016



GERIMISLAH WAHAI HARI
karya Romy Sastra


Kapankah koloni awan menitis
membasuh bumi
sudah berapa banyak debu bertebaran
menutup muka berpeluh noda

Sentuhan jemari duka menulis kisah
melukis di tanah yang berdebu
wajah-wajah nan ayu di sketsa tinta
merupa indah tak bernama

Mengenal dunia lewat tinta maya
kabut-kabut kian pekat
di sketsa rindu berdebu madah

Gersangnya beranda hati
taman-taman kasih tergerus sedih

Ranting-ranting dahan berjatuhan
menimpa kembang gersang tak bertunas
gersang dari siklus musim
kapankah
pancaroba iklim berganti
yang suasana kerontang segeralah bersemi

Gumpalan awan
segeralah memecah mendung
titiskan gerimis suci
menyapu debu menyapa rindu
berharap,
titisan menyisakan embun
asrilah taman impian di muka buku

Hujan,
curahkanlah air langit
biar tunas-tunas daun berputik
mengganti kembang daun yang kering
sendu dan layu di alam rasa yang perih
semoga sejuk menyapa dunia cinta hati
di sana dan di sini ....

HR RoS
Jakarta 14-10-2015, 20,00



SAJAK ALAM MENGGAPAI RINDU
Karya Romy Sastra


Mendung nan tinggi rinaikan air suci
gravitasi langit berkoloni di awan tinggi
betapa hebatnya sebuah kekuatan
terpikirkan dalam lamunan
Engkau Tuhan adalah kerinduan

Rinai itu jatuh ke bumi
menyisakan embun di rerumputan
burung-burung nan bersolek
berkicau riang menyapa pasangan
sayap nan cantik memancing kemesraan
nyanyiannya lembut adalah kedamaian
tertiup angin lena di mabuk asmara
parung berkicau memanggil rindu
mari bersimponi bersamaku wahai kekasih
dengan larik rindu sepoinya angin surga

Aliran air di lembah mengalir ke muara
menyapa segala biota di telaga kering
senang riang gembira
daun-daun muda di gurun menari erotis
gersang telah menghilang
sang banyu menyemai segala rindu
dari rasa cinta kearifan maha cinta
dahaga di tanah kering subur sudah
sajak alam menggapai rindu
pada rinai yang menghapus segala dahaga
biarkan jiwa ini berpaling
dari kepalsuan cinta dunia
menghilang ke dalam ranah maha jiwa
tak ingin menduakan maha kekasih
asyik tak terusik
karam ke samudera cinta tertinggi
yang bertaburan mutiara nan indah
ya, di jiwa ini ....

HR RoS
Jakarta,13102016



RINDU INI
by Romy Sastra

Napas rindu ini
kutitipkan ke dalam rongga
pejamkan mata
melirik kerlip bintang di angkasa jiwa
jemari menari melukis langit biru
kanvaskan ide-ide bisu
merona syahdu di dada rindu.

"Rindu ini ..., kutitip lewat angin!
Memeluk bayangan indah
moleknya rupamu
kupeluk erat,
ucapkan, i miss you ....

Rindu ini setengah mati
kutanam kembang di lembayung hari
berharap tumbuh tegarlah meski tak kusirami.

Kisi-kisi hati meniti dalam diri
ingin kucicipi mesra
menjadi nostalgia untuk sang kekasih.

Rindu di tengah hari berpeluh lesu
tak kudapatkan nirwana cinta di siang ini
tak apalah.

"Aahh ..., biarlah!
Aku coba buka mata ini
dari pejam yang kelam
bayangan sisa kelam nan berbintang
perlahan menjauh pergi.

Akhirnya, rinduku semu dan layu
terdampar di ruang yang telah bisu
aku malu ....

HR RoS
Jakarta 13-10- 2016



MENGEJAR IMPIAN PALSU
Karya Romy Sastra


Jauh terpisah terasa dekat tak teraba
kugenggam bayangan rupa tak berwajah
malu pada diri tertunduk lesu
menghitung hari terasa lama kunanti
melirik impian terdinding fatamorgana
semakin biasnya yang tak ada

"Aahh...,tertawa sendiri
seolah mengolokkan mimpi
yang wajah selintas kisah tak terjamah
aku coba menerangi diri
dengan pelita hati
bangkitkan semangat meraih angan

Pelita hati,
menatap harap sinari obsesi
kucoba menutup luka yang tak berdarah
bernanah sudah oleh sembilu bibir nan tajam
Mencoba menerangi pekat di antara kelam
kelam dari remang-remangnya masa depan
masa depan tertutup berkoloni awan

Dalam duka
aku berguru pada hujan
yang menyirami arang hitam
tuk menghalau kabut terangi jalan hidup
tunggul kayu arang termenung membisu
menanti siklus tunas jamur berpucuklah

Kini,
dengan sisa-sisa kesabaran siang dan malam
aku berharap,
kuncup-kuncup nan enggan tumbuh mekarlah!
izinkan telapak ini menorehkan harapan
demi melanjutkan gita tirani kehidupan
meski jalan itu sulit kulalui
hidup seperti mengejar mimpi
yang seketika bias berlalu pergi ....

HR RoS
Jakarta, 12-10-2015, 08,37



PADAMU TUHAN
Oleh Romy Sastra


Indahnya ciptaan, lestarinya kedamaian
lukisan sang maha tinta
tak ada merupa sama
antara satu dengan lainnya

Sabda alam lembut bak sutera
pada simponi nada-nada biola hati
menyentuh rasa lenakan jiwa
firman-Nya tersurat dan tersirat
dalam lembaran kehidupan
menata cinta saling cinta mencintai
kasih-Nya suci saling sayang menyayangi
tak melukai tak menyakiti harmonis

Padamu Tuhan
kuserahkan segalanya hidup dan matiku
aku rindu serindu serindunya
bakti kasih kupuisikan kasmaran pada kekasih
yang memeluk tubuh ini siang malam
teraba tak tersentuh
terasa tak berwujud
tak berwarna
bening seperti embun menyentuh kaca

Engkau maha nyata tak disadari
pada dungunya pikir tak terpikirkan
ghaib tak diberi jalan menemuiMu

"Oohh...,Tuhan.
Hapuskan duka lara dan air mataku
langkah ini selalu tersesat jalan mencari-Mu
setelah kubuka jendela hati ini
Engkau menyelimuti kematian dan kehidupan
pada-Mu Tuhan hamba mengabdi
dengan gesekan nada tasbih
memuji kesucian-Mu,
sucikan noda di hati hamba ini
dengan ampunan-Mu ya Illahi Rabbi
terimalah rasa cintaku
izinkan hamba bersatu bersama-MU....

HR RoS
Jakarta, 11102016



DUKA PERNIKAHAN
karya Romy Sastra


pesta tak berpenonton
irama syair sumbang

kenduri pernikahan hati tergerus bisu
dalam janji suci yang memandu pilu

pesta itu akhirnya usai
panggung pengantin berubah sedih

air mata kasih menitis tak terbendung
dengan hadirnya sang mantan kekasih

menyaksikan ijab kabul di depan penghulu
dalam ikrar iringi tangis
yang mengharukan....

sang pengantin akhirnya pingsan
memilih di antara dua hati yang menghampiri

penghulu memandu nikah jadi terharu
berjabat tangan satu persatu
sedih sudah dalam ikrar noktah
pada cinta segitiga berbuah malu

HR RoS
Drama Kenduri Hati



LAMBAIAN TANGAN MISTERI
karya Romy Sastra

Menatap bayangan diri
sekelabat sunyi menampakkan misteri
dari seberang hati
dihamparan riak telaga biru

Ranting-ranting pinus berbisik
kembang kering berjatuhan
hembusan bayu lenakan rindu
kulirik dari semak belukar
ternyata bukan dikau yang hadir

Telaga sunyi,
menyiratkan mimpi tak berarti
diam menilik ilusi kekasih
kususuri bibir telaga lebih dekat lagi
aku melambaikan tangan, ternyata ...
aku berucap,
ya ampun.

Mataku terbelalak ngeri
yang berdiri itu ternyata peri cantik
rambut terurai kusut
alamaak, aku menjerit
bayangan itu bukan kekasih hati.

Tertanya gugup di suasana sunyi
akankah aku sudah paranoid
berilusi sunyi di telaga sepi
menatap rindu sunyi telah berlalu

Ah,
kuusap mata ini
terbangun dari tidur sesaat
ternyata aku hanya bermimpi

"Mmmm...,
wajahku layu terkulai lusuh
rasa malu diri dengan realiti hati
kucoba berkaca diri
ternyata wajahku lebih seram lagi

Aku sedih sudah
malu dari opera mimpi kekasih
kabur dari kisah adalah jalan
menyelesaikan masalah
tak melukai kenyataan yang ada....

HR RoS
Jakarta,10102016



GITA HARI
oleh Romy Sastra


Indahnya mentari pagi
menambah kemesraan di hati
pucuk bertunas siklus berganti
mekarlah kau bunga
jangan layu jadi kembang misteri

"Ooh, Mentari...?"
selalulah terangi cuaca setiap hari
biar yang kucari menampakan diri.

"Mendung...hadirlah di malam bisu
biar tak kulihat kedukaan di wajah rindu
malam lusa, purnamakan lamunanku
pada goresan malam menitip kasih
Izinkan kusambut kemesraan
dalam diksi di taman maya ini
berlalulah kabut ego menutup gita setia
izinkan embun pagi ini menyiram api
di belantara hati yang berunggun bara,
padamlah!!!
kusapa dikau semua, i love you...
i miss you....

HR RoS
Jakarta,10102015



BIAS-BIAS YANG TERSISA
Karya Romy Sastra


bodohnya aku
yang tak memahami bisu
makna rupa tak lagi mampu kuterka

menatap ke dada langit
jauhnya nirwana cinta
melukis di kertas basah tak bertinta
seni cerita akan menjadi bias
cerita cinta jadi bualan belaka
melaju seperti angin lalu
hilang bersama debu-debu
kuketuk dinding telinga
mendengarkan bisikan jiwa
jiwa telah paranoid
memilah-milah bahasa rasa
lamunan telah berpayah mendaki fikir
berjalan eja dicabaran hati
menghalau onak duri
membebaskan belenggu dungu

"aahh, kenapa kesetiaan itu
tak lagi bermakna rindu
rindu terkurung duka
lelah mati suri ke dalam mimpi
mencari jawaban misteri
selimut malam bermain asmara
bersama sisa-sisa cinta yang kupunya
walau kaki berdiri lunglai
berjalan sudah gontai
kenapa perjalanan ini tak jua usai
oh, nasib badan
aku yang biasa tegar
kini terjatuh tak berbaju malu
terhina dari susunan kata
seakan tak bermaruah
berserakkan tak lagi bermakna

pasrah bertelanjang dada
mati rasa terkubur ke pusara impian
sunyi ke belantara diri

meski mindaku buruk rupa
setia yang kupunya tak pernah sirna
dari sisa-sisa cinta di pusara kenangan
masih kuabadikan selalu
walau berakhir hidup ke ujung nyawa
ikrarku tetap seperti yang dulu
dengan bias-bias yang tersisa
mencintaimu sampai mati
hingga kain mori saksi perpisahan
antara kau dan aku di dunia ini

menyulam optimis di antara pesimis
realita ataukah fatalis ....

HR RoS
Jakarta, 19-10-2015. 18,15



KAUM YANG TAK DIAKUI
Karya Romy Sastra


Ronghiya
engkau juga manusia
bukan hamba yang nista
hewan saja masih disayangi
kenapa dikau selalu disakiti
ditindas, dibunuh, dibakar hidup-hidup
wanitamu diperkosa secara keji
anak-anakmu diculik dibuang tak berprikemanusiaan.

Para penindas tak memiliki welas asih
kau tau, negeri kami berbeda kepercayaan
beribu suku, beribu-ribu bahasa
kami hidup harmonis dengan demokrasi
tak ingin saling menyakiti.

Ronghiya
dibalik derita ada kejayaan
apakah Tuhan mempersiapkan generasimu dengan pembaharuan
belajarlah dengan sejarah
berbimbing tanganlah dengan pemerintah
satu payung berlindung bersama
satu rumah bersosialisasi antar rasa
dalam bingkai kekeluargaan bersahaja

jangan jadikan ego diri membakar persatuan
di Myanmar sana.

Bersatulah wahai umat manusia
di negara yang dulu Burma
dalam panji Budha dan risalah Islam
Islam rahmatan lil alamin
yang berjubah wibawa janganlah dikotori
sesungguhnya kalian bersaudara.

"Wahai ... yang berjubah wali, tak bersorban.

Sanghiyang Adi Budha
memancarkan sinarnya
mencipta Dhiyani Budhis.

Vairochana, sumber cahaya
Amitabha, cahaya tanpa batas
Aksobya, sumber ketenangan
Ratna Sambhawa, permata alam semesta
Amoasidhi, yang tak mengenal kegelapan.

Di mana ajaran suci itu dipusarakan
semestinya dikau penebar kedamaian
berkaca rasa dengan aksara Budha
jangan mau negaramu dihinggapi benalu
hingga hak-hak azasi tak lagi dikenali.

Ironisnya, dunia bungkam
PBB jadi banci, seakan tak berperan
buat apa lembaga itu
tak mengirimkan perdamaian
di mana kedamaian Ronghiya itu kini?
Seakan islam dikotomi
padahal politikmu homo homini lupus
hidup ini homo homini socius
saling membutuhkan berdampingan.
Satu suku di dunia akan dilenyapkan
dari tumpah darah sendiri
kau kaum yang tak diakui
dari para bedebah dalam suatu Bangsa ....

HR RoS
Jakarta, 19102016



YA, SUATU KETIKA
Oleh Romy Sastra


ketika
tinta
tak
lagi
berwarna

goresan
kutulis
dengan
rasa

lentera
padam
di
tangan

meski
aksaranya
tak
merupa

ia
lebih
indah
aku
maknakan
dalam
diam

tinta
sunyi
dengan
napas

pergi
bersama
misteri
menuju
kematian

tubuh
lebur
jadi
debu

nama
karya
adalah
sejarah
tertinggal
di
dunia

menjadi
pelanjut
tirani
sesudahnya ....

HR RoS
Jakarta, 18102016



JERITAN PERIH RAKYAT MERINTIH
Oleh Romy Sastra


kursi empuk di gedung megah
duduk gagah bersafari mewah
setengah kerja memburu harta
berkuasa dari bimbingan jelata

safari mewahmu dulu
diarak bak arjuna ke medan laga
menitip janji untuk kemakmuran bangsa

waktu berlalu
musim berganti
telah melangkah demi tugas itu
bertugas kamuflase saja
berbisnis memupuk uang saku

jelatamu kini
duduk termangu seperti dungu
tak berdaya
kebutuhan harga dikebiri
dari permainan birokrasi
ketika huru-hara terjadi
beralasan inflasi

birokrasi yang mengada-ada
saling menuduh tumpang tindih
culas membuka celah korupsi
memperkaya diri dari pungli

borjou borjou itu
berpenampilan mewah
seakan dunia miliknya
merasa tak tersentuh hukum
bebas memakai hukum rimba

jelita
masihkah kau dengar terompet orasi
suara-suara vokal membangun negeri
nyatanya kini kerja mereka terbengkalai
rakyat korban merintih kelaparan
oleh intrik penguasa
yang lupa akan janji-janji manis

amanah suci anak negeri terlantar
cabaran nurani tergadai tak dihiraukan
sibuk membesarkan partai

uuhh intrik
di mana tanggung jawabmu kini
kau yang bersafari
seperti lupa janji

lihatlah lorong-lorong negeri ini
rakyat menjerit

orasimu dulu hina
kau kata ekonomi terkini
terjajah inflasi dunia
"ternyata... ternyata, kau'' (.............)
bangsat

HR Ros
Jakarta 18-10-2015, 17,19



AKU BUKANLAH HIPOKRIT CINTA
Karya Romy Sastra


Kasih tersisih sedih
antara benci dan rindu
terpisah jarak mendekam pilu
kuntum-kuntum bunga mawar berguguran
mendiami taman layu sudah.

"Oh ... kembang lara, telah kuncup,
tak lagi berhias kasih"
kecewa rasa tersakiti menyisakan duri
kau pergi tinggal kenangan pahit
memupuk suburkan patah hati
yang tak pernah mau mengerti tentangku.
Setelah kau pergi,
aku terkurung di labuhan sepi
menatap bayangan diri
sedih menghela di ujung napas
ironi,
perpisahan kasih meretas ke ujung tanduk.

Kembang cantik teratai putih
tumbuh indah di telaga senja
ketika kasih tak lagi berputik
akankah berlalunya kisah kasih
menjadi bias-bias cinta di taman hati.

Bila kembang kantil
tak lagi beraroma wangi
gugur daunnya menyisakan ranting
kering biarlah kering
kusenyapkan diri ke dalam mimpi
relakanlah aku berkawan sepi
mengisi sisa-sisa hidup ini.

Mmm,
kasih tertatih perih
maruah tertuduh hipokrit cinta
padahal, budi pekertiku tidak mencipta pesona gombal
melainkan penghibur lara pada bunga-bunga kuncup sebagai kesetiakawanan saja
dalam tuntunan relief religi hati
sebuah makna nilai ibadah
potret jati diri yang kupunya.

Uuhhh,
aku tak sehina yang di duga
dan tak semudah yang di kira.

Aku menitipkan diksi kecewa
pada suatu hati
kuucapkan sekali lagi
aku masih di sini
mencintaimu kekasih ....

HR RoS
Jakarta, 17-10-2015, 17,08



AKU MASIH BERSAMA BAYANGANMU
by Romy Sastra


aku masih di sini mengenang mimpi
menulis catatan memori
menyulam bayanganmu dalam tidurku

sampai saat ini
mimpiku belum usai
aku masih bermain asmara bersama tinta
wanginya kembang indah
berdampingan dalam rindu
sayangnya tak terpisah dalam egomu
hingga kembangmu layu

kadang aku bertanya pada Tuhan
pantaskah aku Tuhan
mengukir mahligai indah bersama senja
hanya Engkaulah penentu takdir
antara kisah hidup dan misteri

jika jalan itu masih bisa kulalui
singkirkan jalan berduri
yang selalu menusuk langkah ini

jika aku masih ada di hatimu
genggam eratlah
pelita yang masih menyala di setiap puisiku
cindera mata yang pernah saling terhantar
jadilah perekat nada-nada rindu
dikala sepi menyapa rasa itu

aku selalu memandang mesra
kenangan bersamamu
meski hanya sebuah kenangan
dan kujadikan sebagai saksi sejarah dalam ibadahku

jika gita cinta itu masih bersemi
walau ia-nya bisu
aku kan tetap meniti jalan setia untukmu
suatu saat nanti
sehingga takdir mempertemukan kita kembali

HR RoS
Jakarta, 21-10-2015, 06, 14



JUWITA MALAM PULANG MALAM
karya Romy Sastra


Dongeng malam bersama kelam
dendangkan kidung rindu
bak sipungguk merindukan bulan
jauh mengintip di balik awan.

Juwita,
kau bersolek di pelataran pesta mewah
iringi lampu disk erotis
nada-nada indah lagu pembuka gairah
bangkitkan birahi sipatah hati
dengan alunan musik biola merdu
sang maniak malam mendekap kasih
indah bak di taman syurgawi.

Juwita,
kau membangkitkan lamunan hasrat mimpi
menyihir kembang memadu rindu
Juwita berbusana payet tanktop
melirik goda nafsu si hidung belang
memandu ke bilik rahasia berkasih sayang.

Langkah Juwita tertatih
dengan segelas whisky
membangkitkan semangat di bilik rahasia
di kelambu mewah.

Juwita menatap mesra
membawah arjuna melambung tinggi
ke nirwana cinta.

Juwita cinta sang penghibur malam
pulang malam,
terdampar ke dalam cinta satu malam.

HR RoS
Jakarta night club, 20-10-2015, 20,23



BIBIT PENCINTA NAN AGUNG
Karya Romy Sastra


"Azali cinta,
berjubah kasih mencurah rindu
pada kasta jiwa mengenal budi
antara terhijab dan nyata tetap mendapatkan tempat berpayung rasa
kala hujan basah andai kehausan
panas bergelora kekeringan
rumput-rumput bergoyang
lambaikan kedamaian
tertitip bayu merona syahdu
sempurnanya ciptaan Tuhanku.

Para pencinta nan agung
sampai saat ini masih memuji bertasbih
semenjak sabda tercipta
sedetik pun tak alpa.

Tuhan ciptakan surga nan indah
fitrah maha kekasih 'tuk sang khalifah
anai-anai melubangi urat nadi
menyemai syahwat membuai tangkai
sepoi diayun bayu kebiri
merayu menggoda rasa hina
pucuk-pucuk melambai tebarkan gairah
terpesona sudah dengan payet indah
membuai asmara kasih
asyik memadu rindu
bak kumbang mengisap madu kembang
tak sadarkan diri,
terkutuk sudah dari Illahi
menjerit menyesali tercampak ke mayapada
lara hiba menghunus pedang doa
berlari di malam buta antara safa dan marwa
mengetuk pintu arasy sang Maha bermain dalang.

Doa dipanjatkan,
rabbanaa zolamnaa amfusanaa wailam taghfirlanaa watarhamnaa lanakunanna minal koosirin.

"Duhai ... cinta,
di manakah kini kau berada?"
kembalilah mengisi sepiku
tandus haus lara lelah mencarimu.

Dikau Tuhan, yang kudambakan,
nan bersemayam dalam angan kedunguanku
bodohnya lena tergerus goda hina

Engkau mencipta nyata
tak terpikirkan Engkau ada di hatiku
kenapa iman diri ini kulengahkan.

Sabda sang utusan uluk salam
kala fajar berseru"
wahai jiwa nan lara, sujudkan ragamu menyapa tanah tandus nan suci cikal bakal terdirinya jasad itu.

Rengkuhlah doa debu-debu malam
bertayamum suci menyapu bulir yang menitis
buang jauh-jauh nebula rayu
dekaplah lafaz-lafaz hiba
biar tercurah kasih sayang-Nya.

Allahu akbar,
salam terucapkan kanan dan kiri
salamun kaulam mirrabirrahim
terbentang kembali keindahan semu
sang kekasih menyapa di antara fajar
kan berlalu pergi berganti pelita dunia.

Sang bibit dunia pencinta nan agung
berbahagia berkasih mesra serasa tak ingin berpisah lagi 'tuk selamanya.

HR RoS
Jakarta, 22102016