DIALOG SUNYI
Karya : Samodera Berbisik
Malam mulai menyapa, namun bintang-bintang enggan bersinar. Rembulan pucat pasi, ketika awan kian kemari berkejaran di balik mega. Perempuan puisi duduk sendiri. Hatinya melayang mencari sosok bayangan kekasih hati.
"Ahh, dia bukan lagi kekasih, meski tetap menjadi ruh puisiku" bisiknya teramat lirih.
"Sampai kapanpun ia akan menjadi belahan hatimu" jawab suara hati.
"Diamlah ... dia hanya cinta dalam imaji saat aku merangkai puisi"
"Tapi ia telah menyatu dalam denyut nadimu, cobalah jujur mengakui, kamu tak sanggup kehilangannya kan?"
"Kau tak perlu tahu, tentang rasaku. Biarlah ini menjadi urusanku dengan Tuhanku"
"Tenanglah, dengarkan suaraku, ia sedang berduka dan membutuhkanmu untuk menenangkan hati."
"Aku tak peduli lagi, dia telah menyakiti hatiku dan membiarkan aku terlunta menanggung rindu."
"Mengalahlah, dekap kembali hatinya, aku yakin ia masih menyayangimu."
"Pergilah, biarkan aku sendiri."
Sunyi ....
Tangerang, 28 September 2020
#belajar
CELOTEH SELEMBAR KANVAS
Karya : Samodera Berbisik
Sungguh tak kusangka
Tinta yang kau tuang sebegitu dahsyat pada kanvas hatiku
Sebegitu mudah lenyap terhapus kebingungan masa lalu
Yang katamu sudah usai, terangkai
Terbuat dari apakah penamu
Tak adakah jiwa di dalamnya
Ahhhh ...
Pergilah dan luahkan tintamu pada kanvas masa itu, atau carilah lembar-lembar baru untuk menuang bibit bunga pesona
Aku yang bodoh ini, biarlah tenggelam dalam ruang sederhana tanpa jubah pura-pura
#olenkkumasihwaras
#EMiMa
Seharusnya, cukup satu senyuman matahari darimu. Tak perlu lagi mengejar bintang gemerlap. Bila ternyata silaunya hanya membutakan nurani.
Samodera Berbisik
Tangerang, 25092020
PESONA AKSARA
Karya : Samodera Berbisik
Majas bertaut memesona racikan aksara
Menghipnotis rasa sedemikian gila
Diksi-diksi bertebaran mengumbar angkuh
Inilah puisi paling sempurna
Meski impulsit menyapa, tetap bait terindah
Karya-karya bermunculan, tak lagi menarik
Membosankan, pasaran keangkuhan
Sementara nyanyian jiwa berperan ketulusan
Inikah pesona aksara
Sesaat saja berkuasa
Sedangkan sastra, bagiku tidak ada habis
Ia hidup, berkembang .... Hingga akhir masa
Tangerang, 24 September 2020
BUAYA MENCARI UMPAN
Karya : Samodera Berbisik
Perlahan melata menjilat nestapa
Meramu sedemikian lara
Dengan manis angkara
Beraroma wangi kamboja
Terenyuh, aksara kian menyentuh
Mengoyak pertahanan merapuh
Hujan rayuan bergemuruh
Mengaliri ketenangan, menyimpan kisruh
Umpan terjerat jaring buaya darat
Terkapar menepis infeksi rindu berkarat
Terdiam, meski paham berselimut kelam
Polos atau bodoh, naif ternyata mendekam
Pada ruang nurani tanpa kisi-kisi
Bersembunyi di balik alibi
Buaya mencari umpan bidadari
Untuk kepentingan jubah bergengsi
Tangerang, 06 Oktober 2020
#olenkakut
SALAM PERPISAHAN
Karya : Samodera Berbisik
Persimpangan dilema berkuasa
Zona genjatan aksara tidak lagi bermakna
Bait-bait mesiu mencecar logika
Kalimat kewarasan tinggal cerita
Puisiku tak ubah pusara rindu
Bertabur rangkaian bunga layu
Bernisankan sentuhan kasihmu
Lalu, mengapa masih harus berseteru?
Telah kulepas atribut rasa, seiring derai air mata
Saat engkau terbelenggu bingung memaknai kita
Sementara hatimu ada di sana
Kisah silam memenjarakan asa
Salam perpisahan berkibar membelah angkasa
Aku telah karam, tenggelam di dasar samudera
Dan engkau bebas mengarungi mayapada
Usah ragu mengepakan sayap, terbanglah kemana suka
Tangerang, 05 Oktober 2020
AKU SECANGKIR KOPI PAHIT
Karya : Samodera Berbisik
Terseduh oleh didih air perjuangan
Teracik tetes-tetes peluh penderitaan
Tersaji saat awan putih bersahutan
Memanggil rindu sepenuh ketulusan
Kukecup perlahan, begitu hangat menyentuh perasaan
Namun terasa pahit ... aroma endapan kedukaan
Menjalari setiap aliran denyut nadi kehidupan
Menumbuhkan getar-getar kekuatan
Memecah gumpalan nestapa di rongga pernapasan
Lalu luruh, sujud seiring kidung keheningan
Melangitkan pinta sepenuh penyesalan
Membiarkan debu-debu menyelimuti kenyataan
Aku secangkir kopi pahit
Dan biarkan tetap tersesap dalam sakit
Agar kian termaknai getir yang melilit
Sampai terurai rahasia langit
Tangerang, 14 Oktober 2020
TUMBUH PADA TEMPAT YANG SALAH
Karya : Samodera Berbisik
Nyanyian rindu bertalu-talu memanggilmu
Hanya sunyi menjawab, sendu
Tragedi menyulam elegi perjalanan engkau dan aku
Terpuruk pada pahit lingkaran waktu
Cinta suatu fitrah
Namun tumbuh pada tempat yang salah
Ruh puisi melayang sudah
Tinggalkan jejak sunyi tak terarah
Aksaraku tak lagi indah merekah
Diksi-diksi melemah, pasrah
Saat takdir menjemput arwah
Bait-bait terkubur tanpa nisan .... Entah
Tangerang, 12 Oktober 2020
KASIH SEJATI
Karya : Samodera Berbisik
Terlahir dari rahim sanubari, suci anugerah Ilahi
Menyentuh rasa paling sejati, meski lebam mewarnai
Pemahaman tidak sekedar pengertian segala minus
Pemakluman membanggakan lelaku plus
Meluluh kesah keegoisan, kala pijar bara mulai membidik prasangka
Redam diam tak harus berkesinambungan murka
Kembali mengurai senyum secerah senja jingga
Menyambut petang, sujud di atas sajadah sepenuh jiwa
Kasih sejati mengisi lantunan kidung suci
Menasbihkan satu nama dalam kalam Ilahi
Usah kenang luka meracuni hati
Kembalilah memadu rindu hingga akhir nanti
Tangerang, 28 November 2020
AKU INGIN CINTAMU ADALAH TITAHNYA
Karya : Samodera Berbisik
Maaf aku telah melukiskan jelaga di langit hatimu. Mengurai prasangka tanpa bertanya kepada hati.
Gemuruh gelombang menghantam perahuku berkali-kali. Membuat hilang kendali, akhirnya tenggelam pikiran sehat. Membuat karam kepercayaan, dan kamu menjadi sasaran ombak tanpa bijak.
Aku ingin cintamu adalah titah-Nya. Sehingga apapun yang telah terjadi tak menyurutkan langkah kita. Melanjutkan pelayaran asmara.
Andai Ilahi Rabbi merestui, izinkanlah sekali lagi aku menjadi cinta dalam diammu, yang tersebut dalam setiap perbincangan dengan Tuhanmu
Tangerang, 01 Desember 2020
Tidak ada komentar:
Posting Komentar