UNTUK MENCARI PUISI-PUISIMU CUKUP KETIK NAMAMU DI KOLOM "SEARCH" LALU "ENTER" MAKA SELURUH PUISIMU AKAN TAMPIL DI SINI

Senin, 01 Maret 2021

Kumpulan Puisi Mohammad As'adi - BAYANGAN LELAKI DAN SENJA



AKU TAK TAHU

Aku tak tahu
Siapa bayang-bayang sosok lelaki
Yang setiap senja duduk di beranda ?

Ia tengah merenda waktu
Dalam sebuah penantian
Hampa dalam kegetiran menimang rindu
Ia ingin sisihkan penatnya untuk cinta
Tapi waktu hampir sampai pada penghujungnya
Yang ia tunggu hanyalah
: jatuhnya selembar daun
Lalu bayangan putih bersayap memungutnya
Membawa pulang pada muasalnya

Sepi di batas jenuh
Gelisah mencengkeram kesendirian
Bayangan lelaki itu
Seperti aku
Meresepi luka
Dalam sunyi paling puncak

Temanggung 26022021



BAYANGAN LELAKI DAN SENJA

Bayangan lelaki itu selalu saja datang
Setiap senja, di beranda rumah berjubah sunyi
-kelihatannya ia ingin mengambil kembali
Rindu yang dititipkan pada senja
Air mata yang kesekian kali jatuh
Ia usap-usap
Lalu diberikan pada angin dan berkata
:rupanya air mata yang membasahi hari pemakaman
Itu belum juga habis, tolong wahai angin senja
Taburkan di atas makam sebagai hiasan supaya ia bisa
Melihat senjaku selalu mengenangnya

Setiap sore, bayangan lelaki itu selalu ingin
Melihat cahaya matahari meremang, membayang pelangi
: aku ingin menemuimu di sana
lalu kita menjelma berjuta warna
Katanya.

Tapi senja, baginya sepertinya tak bersuara
selembut ilalang bergesekan sekalipun
: aku hanya ingin menemanimu
Duduklah di beranda ini bersamaku
Ini ruang hampa memang untuk kita
Duduklah disini
Karena kau adalah aku
Dan aku akan selalu datang, katanya

Temanggung 28022021



LELAKI SUNYI

Jiwa menjelajah semesta tanpa batas .Sekerat demi sekerat sunyi terhidang pada nyanyian hujan. Bait-bait nyeri, sajak-sajak daun luruh, gesekan ilalang menuliskan kenangan : kisah oleh sebab pertemuan dan perisahan.

Seperti engkau , lelaki sunyi melihat- ribuan pasang mata pias oleh hujan lalu ia juga merasa langit menumpahkan dari rahim mendung-)*

:Embun, atau sunyikah yang tak pernah behenti luruh di kotamu ? tanya lelaki sunyi yang selalu berdiri pada persimpangan jalan.

-Aku di sini, di sudut tanah getir, mengeja kisah tak biasa- )* katamu

Lelaki sunyi itu pun, mengeja huruf-huruf semesta, yang selalu ditinggalkan angin-antara kenangan dan serpihan kalimat-kalimat tanpa makna : Kehidupan yang terluka , dermaga sunyi, sendiri yang tak henti didera mimpi-

: Tapi pagi belum menua bukan ? Embun masih tak bosan luruh, bunga-bunga tak henti bermekaran, sajak-sajak masih mengaliri angin untuk berkabar tentang air mata, letih, sunyi dan keremangan malam yang selalu merawat rindu yang mejalari luka.

Lelaki sunyi tak henti, melukisi semesta , mengisi kembali separoh jiwa terlukanya dengan imaji lanskap teduh , sebuah dermaga untuk melepas letih menambatkan sampan dan menulis sajak tentang sebuah musim, bersama seseorang yang tak pernah diam membacakan sajak-sajak yang dipetik dari rerimbunan kosa kata –dalam kisah tak biasa-)*

-)* Puisi Sonya Elvira Salindeho
Temanggung 28022021
Kiriman dari : Mohammad As'adi



Cinderamata Pengantin
-LELAKI SUNYI MEMBAYANGIKU TAK HENTI-

Ketika ia terenggut kehampaan
Kulihat merenung lukisan
Yang ia torehkan bertubi-tubi
Di lembaran angin dan daun-daun berjatuhan

Sejarah ia jadikan artefak
:Kepalanya tertunduk
Terdiam, nafas uzurnya
Menghirup aroma mawar
Yang selalu tertabur di atas makam
-Inilah cinderamata pengantinku
: Ziarah, bersama resah tetesan air mata-
Katanya pada aroma rerumputan
Dalam gerimis hujan semusim

Tuntas ia bersenggama doa
Berhamburan titik-titik kosong
Dalam bingkai antara langit dan bumi
Sebuah persekutuan sunyi dengan sunyi
Lalu kemana ia pergi ?
Kakinya melangkah selalu dalam ayunan
Senja yang menyamar, dan ia adalah senja
Dan aku adalah senja

Temanggung06032021




CATATAN LELAKI SUNYI

Rupanya ia tak pernah lupa mencatat
Kata kata “Aku letih,’’ seperti malam ini.
Bulan setengah usia demikian pucat
Kabut menggigilkan di puncak bukit
Seperti mata air, mengalir di sela rerumputan
menyelinap melalui jiwa terbelah
-tak lupa ia mencatat kata-kata
‘’Kau makin menjauh ketika hendak kurengkuh’’

Rupanya ia tak pernah lupa membubuhkan
sunyinya kata ‘’Kau tak pernah pergi’’
karena cinta adalah permakluman hidup
‘’Kau tak mati dalam jiwaku sejak jemari kita bertaut
pada malam nadimu tak berdenyut’’ katanya.

-Dan ia membiarkan kelopak mawar merengkuh fajarnya
Dan ia membiarkan angin tak pernah berhenti berbisik
Dan ia membiarkan waktu terus menitikkan air mata-
‘’Biarkan dinda,…
pemaknaan sunyiku tak pernah mengeringkan air mata
supaya aku tetap di sampingmu di sebuah pemakaman’’

Dan rupanya lelaki sunyi itu
tak pernah melewatkan heningnya
Aku memantrakan sebagai kemegahan kata-kata

Temanggung 07032021



LIMABELAS PURNAMA

Sore seperti ini…
Rambut ikalmu terurai di bahu
Aku bilang
‘’kau harus kuat bersamaku’’
Kata itu terucap pada detik kematianmu
‘’kau harus kuat aku akan menjagamu selalu’’
Tapi kau bilang
‘’aku tidak kuat lagi, jaga anak-anak kita’’

Tatapanmu kosong padaku
Gemetar tanganmu mengusap wajahku lembut
Tak mampu aku membentangkan perisai
untuk menghalangi datangnya akhir waktu
Seperti jalan setapak pandangku menjelajah kelu
lalu tahlilku antara telinga dan air matamu
menghempaskan jiwa memelukmu

Sore tadi kau datang, hanya sekejap
Kenapa selalu datang ?
Barangkali karena aku selalu bercerita tentang rindu
Seperti angin gunung yang datang dengan kegelisahan
Lalu pergi ke padang ilalang
Antara puncak dan kaki gunung, penuh kesunyian
Selalu mendatangkan kelam

-Ya lima belas purnama
Nestapa
Hanyut dalam jiwa
Selalu mengeja kalimat tanpa huruf
Dan sajak tanpa kata-

Temanggung 16032021



ZIARAH

Tanah dan gerimis pagi ini menyatu
Pada ziarah sunyi, daun-daun gelisah
Menunggu gugurnya
Sampai angin menerbangkan kesegala penjuru
Lalu membusuk bersatu dengan debu
:aku hanyalah kegelapan

Antara lidah matahari dan perut bumi
Di atas makam sirna
Aku hanyalah kegelapan
Sampai hari yang dijanjikan itu
Mengantarku pulang
Hingga tiba di persinggahan terakhir

-Tanahlah yang mengabarkan Ihwal kematian
Sementara nisan-nisan membeku
Di antara tumpahan air mata rindu-

Cintaku selembar daun gugur
bersatu dengan tanah
bersamamu dalam kenangan
:kita tak pernah berpisah bukan ?

Temanggung12032021



SULUKKU TERBATA

Subuh Remang mata gamang
Angin mengenang tiupan sunyi
Asing diamku nestapa
Tempat apakah ini ?

Sulukku kembali terbata mengeja
Kegelisahan jalan berkabut
Dalam ruang dingin
Kehilangan mata angin

Tubuh sunyi gelut
Berebut remang
Perjalanan menuju tempat tanpa lelah
Dari rumah tanpa penghuni

Cintaku lumpuh
Rindu melepuh
Kepada tuju
Ia lemparkan semesta tanpa kata
-Aku pun diam
Di kediaman menata kedalaman hidup
Dalam luka menata keindahan
Melebur harap menikmati kedamaian-

Temanggung 24032021 

MOHAMMAD AS'ADI




Tidak ada komentar:

Posting Komentar