. JENDELA PUISI: CATATAN KECIL
RUANG PEKERJA SENI ADALAH GROUP DI JEJARING SOSIAL FACEBOOK, BERTUJUAN…MENGEPAKKAN SAYAP – SAYAP PERSAHABATAN…MELAHIRKAN KEPEDULIAN ANTAR SESAMA…MEMBANGUN SILATURAHMI/TALI ASIH…SAHABAT LEBIH INDAH DARIPADA MIMPI.

Minggu, 24 Januari 2016

CATATAN KECIL


Setidaknya aku dapat duduk manis pada kursi goyang di depan rumahku nanti, menikmati senja dari balik jerami yang tersusun rapi, cerutu dansegelas kopi, selembar koran dan semangkuk ubi bakar, ah, nikmatnya masa tua ku nanti. Dan juga, akan kusuguhkan sebuah kisah, cerita mengenai aku dan istriku, kapan kami bertemu, dan dimana kami bertemu. Hujan, senja, dan berbagai fenomena menarik lainnya akan menjadi bumbu agar nanti kisah ini terasa begitu manis dan tentunya kalian pembaca akan terhipnotis dan menggambarkan sendiri bagaimana aku melewatinya, tentu dengan imajinasimu masing-masing, mereka akan bergerak sesuai dengan batas lingkaran yang telah kalian tetapkan, dan jika berhasil kalian akan mampu keluar dari batas lingkaran tersebut, lebih luas pencernaan imajinasi, lingkaran besar tanpa penghalang, tak berbatas, hingga kalian lelap dalam imajinasi berlogika.

Enam puluh tahun di hari selasa, kita terhujani oleh rintik halus nun menyakitkan, Instrumental musik untuk shubuh yang berganti pagi. Matahari perlahan muncul menyapa dengan senyumnya mengiringi detak para pejalan kaki. Perlahan dan pelan sinar tak tertutup awan. Biru cerah bumi pertiwi nyata tak berhalusinasi. yah, pagi ini masih terdengar suara riuh di beranda rumahku, suara yang saling menjawab, pelengkap dari tidurku semalam, ada yang menyampaikannya melalui nada tingi,ada pula yang menyampaikannya melalui nada sederhana, tapi terkadang di balik jendela ini mereka menjawab menggunakan nada rendah?
aku tidak begitu mengerti, mungkin saja itu adalah cara mereka untuk menyampaikan sesuatu, dengan menggunakan kode atau simbol sebagai pesan.

Nun jauh kembali mendekat, seraya membawa sebotol air mineral ia bertanya kepada kakek yang tengah bersepeda. Pagi itu tampak cerah, matahari tersenyum, dengan senang hati membagi cahaya untuk mereka yang sesegera berladang. "Maaf kek, apa kakek penduduk asli sini?". Tukang sayur, tukang buah, jajanan kecil, alroji, pengharum ruangan, semua membentangkan tikarnya masing-masing. "Kebetulan kakek penduduk asli sini nak, memangnya kenapa? anak orang baru disini?". Penjual ikan, ayam, dan daging, memarkir kendaraan roda empat,"Trus, trus, kanan, kanan, kiri dikit, kiri, op." Terpal dibuka. "Ayo ayo cepat, masih ada beberapa trip lagi. "Iya kek, kebetulan saya mampir di kota ini, baru sampai beberapa jam, dan saya lihat kota ini begitu menarik, semangat usaha dan berdagang penduduk disini begitu kuat kek, saya jadi menyukai kota ini." Ia turun dari sepeda tuanya, Kakek mulai bercerita sedikit tentang kota itu. "Bukan hanya kau saja yang berkata begitu nak, jauh sebelum kau datang kesini kakek sudah begitu banyak mendengar pujian-pujian, bahkan di antara mereka ingin membuka lahan usaha disini, tapi semakin lama mereka berada disini semakin terbuka apa yang sebenarnya ada di kota ini, kakek harap kau mampu melihatnya 3 atau 4 hari kedepan, lebih cepat kau mengetahuinya semakin baik pula untumu nak, entah nanti kau berubah fikiran lalu meninggalkan kota ini, atau kau akan menetap dan berusaha memperbaiki hal-hal yang natinya kau ketahui, kakek tidak tahu, yang jelas mulai dari sekarang kakek akan mengawasimu baik secara langsung maupun tak langsung, baik secara dekat ataupun jauh, mata ini tidak akan luput darimu nak."

~Alex Wahyu~
22 Januari 2016
“Kota kecil di ujung barat”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar