UNTUK MENCARI PUISI-PUISIMU CUKUP KETIK NAMAMU DI KOLOM "SEARCH" LALU "ENTER" MAKA SELURUH PUISIMU AKAN TAMPIL DI SINI

Rabu, 01 September 2021

Kumpulan Puisi Puji Astuti - BERPACU DENGAN WAKTU



BERPACU DENGAN WAKTU
Karya : Puji Astuti

Masihkah diri akan mampu berlari
Kala bernama usia bagai bayangan raga
Menimbun berjuta khilaf dan dosa
Membelenggu rasa dengan ketidakpedulian

Hari ini berlalu tanpa himpunan cacatan pahala
Berhambur waktu dengan sia-sia
Terkadang terselip setitik dengki tak terlihat
Menjadikan hati seperti belati berkarat

Tanamkan nilai iman di dada bidang
Pasung kerendahan hasrat sepanjang jalan
Kita berpacu dengan waktu
Ajal tak mengejar namun mengintai seperti rentangan dua jemari yang beradu

Kefanaan ini membutakan nurani
Keduniaan melilitkan rantai namun enggan kita mengurai
Sedangkan keabadian kian kita datangi
Kenapa masih berdiri mematung di sini

Apalah diri ini
Seonggok jiwa yang tak berarti
Jika tak segera berbenah mematri
Penjemputan ajal sedanglah menanti

Jogja, 31.08.2021



TAKDIR
karya : Puji Astuti


Pagi buta terdengar isak tangis
masih di gelapnya malam ada rintihan
kesakitan yang menghujam rasa
bertaruh dengan genggam nyawa

Remuknya raga
luluhnya jiwa
terbayarkan kebahagiaan
kala jeritan bayi terlampiaskan

Tak jauh dari bingkai kehidupan baru
lelehan air mata membanjir
dalam riuhnya kesedihan
melepas keiklasan atas sebuah kehilangan

Jasad membeku
napas terhenti
terkatup kedua mata
kematian telah tiba

Inilah takdir di belahan bumi
datang dan pergi silih berganti
tiada bisa meminta jeda waktu
jika saatnya telah di titik temu

Jogja, 05.04.2019



MEREDAM RASA
Karya : Puji Astuti


Berkali sudah kusirnakan gelora
Ingin membunuh risau yang menggayuti raga
Betapa cintamu telah menggulungku
Dalam pijar-pijar detik berputar

Rejam kini menusuk ranah hati
Membuihkan racun kesakitan tak terperi
Semakin dalam semakin menggigilkan rasa
Aku meredam bisikannya dikeresahan jiwa

Cinta terlarang telah kita sematkan
Cawan madu menyuguhkan tetesan rindu
Ada yang menangis kala memapah kisah
Antara kau, aku dan dia

Kelabu mewarnai hariku
Melepasmu adalah alunan terberat
Biarlah melodi kini kembali menggurat sepi
Bersama goresan luka lara, entah kapan sembuh dan pergi

Jogja, 15.02.2019



PENCARIANKU
Karya : Puji Astuti


Pagi masih enggan menampakkan sinarnya
Saat geliat waktu terus melaju
Kupenuhi rongga dadaku dengan sejuknya udara
Embun pun menggantung di pucuk daun-daun

Betapa kuresapi kesendirian rasa
Telanjang kaki kupijaki rumputan basah
Aku bukan siapa-siapa
Hanya punya segenggam darah berupa hati

Tak ingin buyarkan keindahan ini
Hening tanpa teriakan emosi dan nurani
Begitu senyap di dada
Tanpa adanya pikuk yang menggoda

Inilah yang dinamakan menyendiri
Menyatu dengan alam bangkitkan rasa syukur yang dalam
Hanya setitik di antara berjuta titik-titik di muka bumi
Menikmati kenikmatan dari-Nya yang tiada tara

Masih ditemani tetes embun yang mulai terjatuh satu-satu
Kulanjutkan derap langkah kaki
Menyusuri jalan setapak menuju belantara
Mungkin di sana akan kutemukan mutiara makna sesungguhnya

Jogja, 05.01.2019



JUJUR
Karya : Puji Astuti


Disinyalir dari dalamnya dasar hati
Sampai detik ini masih ada
Lesah-lesah menggerus jiwa
Bagai enggan tersingkir dari bingkai kenangan

Betapa tidak
Kau yang telah merenggut segala rasa
Menguras habis sampai tak tersisa
Meninggalkan kepiluan atas kebahagiaan

Jujur dengan sejujurnya
Kehilangan ini terasa tak terkira
Disertai kesakitan yang tiada tara
Entah kapan bisa mendapat gantinya

Hanya bisa mata melepas
Beserta tetesnya yang selalu ada
Sepanjang ingatan ini kembali hadir
Dalam jejakan langkah untuk menerima garis takdir

Jogja, 03.01.2019



NIKMATI KARUNIA INI
Karya : Puji Astuti


Hari ini bisa bernapas lega
Setelah sekian waktu bergumul dengan kecemasan
Raga limbung oleh ketidaksimbangan
Rasa hati semakin lantak berantakan

Tawa hilang
Wajah pucat
Mata kuyu
Lidah pun kelu

Terbaring istirahatkan segala penat
Menelan berpuluh-puluh pil pahit
Kejenuhan mulai menyelimuti sepanjang hari
Berharap sakit ini segera pergi

Ingin kembali
Menjaga diri
Meraih mimpi
Demi kebahagiaan ini

Nikmati karunia ini
Mahalnya sehat akan terasa
Saat kita lunglai dan tak berdaya

Jogja, 03.01.2019



KEPEKATAN ISI DADA
karya : Puji Astuti


Selangkah kakimu meninggalkan sketsa kerapuhan
Dalam gemuruh isi dada dengan kepekatan
Jiwa yang selama ini didamba
Terlepas dari rengkuhan dua belah lengan

Rasa bahagia mencumbui hati
Senyum membingkai segenap kerut dahi
Senja merenggut separuh usiamu
Segalanya kini menagih kesabaranmu

Apa yang telah aku tinggalkan?
Bergunakah seluruh petunjuk arah
Kalian tidak mengindahkan duhai anak-anakku
Apakah kesadaran pernah terbersit di jejak-jejakmu

Sudah tunai semua wajibku
Kelak jika aku pulang jangan tangisi kepergianku
Rapuh ragaku serapuh keinginan ini
Untuk melihat senyum kalian dengan penuh kearifan hakiki

Dia yang kini terbaring bersama impian

Jogja, 10.01.2019



RINDUKU KAU BAWA PERGI
Karya : Puji Astuti


Di awal bulan Desember
Ketenanganku terusik kembali ke tahun silam
Sangat dalam kenangan ini kau tinggalkan
Tak kuasa aku menerima luka lara yang ada

Kita kumpulkan asa dari hari demi hari
Menyatukan impian dengan rekah cinta
Dua sudut keluarga telah merestui
Terbayang pegelaran sakral nan indahnya pelaminan

Hati kita sudah berjanji
Mengupas perbedaan demi sebuah ikrar suci
Kau menjadi imamku
Aku akan mendampingimu sampai akhir hayatku

Namun kini rinduku kau bawa pergi
Selamanya dan tak akan kembali
Ragamu sirna bersama senyummu
Jiwaku hancur atas ketiadaanmu

Kecelakaan itu merenggutmu
Saat kau mempersiapkan cincin ikatan kita
Pekik tangisku bak gemuruh di musim hujan
Melolong histeris dalam ketidakpercayaan
Bahwa kekasihku telah meninggalkanku

Teriring untaian doa dan doa
Bahagialah di sisi Alloh penentu segala takdir
Terimakasih telah memberiku rajut impian
Walau kandas namun tetap akan selalu kusimpan

Jogja, 06.12.2018



LEMBARAN TAHUN BARU
karya : Puji Astuti


Akhir tahun identik dengan lembaran baru
Setahun berlalu tak usah ditangisi
Namun ada yang segera akan tersingkirkan
Bila ingat sulit merangkaknya masa

Tersandung, terjatuh adalah romantika
Tertawa, menangis melengkapi tesmonia
Benturan, tidak sejiwa menduduki hari demi hari
Sangatlah lengkap jalur liku perjalanan ini

Engkau, aku dan dia
Kadang seiring namun sering berseberangan
Bergandeng tangan, pernah pula ada tamparan
Dilematika berjalan dan berhamburan seperti sekerumunan laron malam berterbangan

Detik semakin mendekati ujung utas tali
Tergambar remang samar belum terealisasi
Yang telah lalu biarlah berlalu
Jadikan tolak ukur langkah-langkah lebih maju

Kesalahan tersimpan tuk landasan perbaikan
Dosa tertimbun lambungkan lantun ampunan
Kita bingkai mimpi dengan seindah mungkin
Di tahun baru semoga semua harapan tercapai

Jogja, 18.12.2018



RAMPAI RASA


senyap kali ini
terapkan ujung aksara manis terlahir
menyusun di dasar jiwa
tak tersentuh oleh kedengkian rasa

senyap kemarin
begitu mengikat erat keegoisan
kita mengobral tingginya suara
tanpa memilah bahwa itu sebenarnya sia-sia

makna senyap
memilin sekeranjang kenangan waktu
bahwa saling membutuhkan
adalah satu sinyal
adapun mengikis cinta sangatlah menyakitkan kita

~ Puji Astuti ~
Jogja, 03.07.2018



PERAHU LITERASI


Layar terkembang
Di saat gundah merayapi jiwa
Jari jemari gemetar tuangkan rasa
Terlintas naungan nan teduh
Dikaulah terpampang di lautan bebas

Layar berkibar
Melaju seiring ombak berderu
Melawan gulungan arus yang menghadang
Tiada dera gentar terus menerjang gelombang

Layar kokoh tinggi
Menjulang menantang angkasa luas
Bermain dengan kepakan sayap camar
Berhembus semilir angin lautan
Membawa rumpunan aksara-aksara bermakna yang tanpa batas

~ Puji Astuti ~
Jogja, 29.06.2018



TANYAKU


satu kata
kutanyakan dengan harapan
jawaban realistis dari sudut bibirmu
jangan cuma mengangguk
atau pun sekedar menggelengkan kepala

satu pinta
bisakah memberi ketenangan
agar aku bisa memaknai segala sikapmu
sekian waktu makin membuatku tak mengenalimu

hanya satu kesempatan
seandainya tak lagi menginginkanku
aku tutup pintu hati dan semua jawaban
karena arti hidupku tidak akan berhenti hanya sampai di sini

Jogja, 27.06.2018



HAMPARAN SUNYI

lebih baik begini
keterbatasan tuk bisa memandu rasa
biarlah kunikmati perjalanannya
dengan menumpahkan kerat remahnya

lebih indah begini
mengumpulkan kenangan di pagar hati
memapah keinginan kita yang terperi
sampai titik sunyi di tengah badai rindu tak lagi bisa berhenti

lebih bermakna
langkah perjalanan tanpa resah
kita akan mencari di mana letak kesejatian
di antara keraguan yang mendera batin untuk kesekian kalinya

~ Puji Astuti ~
Jogja, 26.06.2018



TAWAMU ASING

terasa
begitu nyaring suaramu pagi ini
menggemparkan dadaku yang sempit
bolehkah kututup telinga ini

terasa
nada tinggi memenuhi rongga lehermu
tak lelahkan otot nadi itu
mengeras seakan sekeras hati dan jiwamu

terasa
aku sedang mengupas tererasingan sosokmu
karena teriakanmu sudah mewakili ego
kian memudarkan kelembutan kalbu
untuk bisa menundukkan desahan rindu di dadamu

terasa
tak kukenal lagi lirih bisikmu
begitu sejuk saat sampai di telingaku
akankah bisa kembali seperti dulu?

agar keasingan ini berlalu.

~ Puji Astuti ~
Jogja, 25.06.2018



AKU YAKIN

Di sini
bertabur aksara saling puja
membelah hati menerobos kalbu
adakah akan bertaut
di antara serpih itu adalah namamu

Di sini
kupernah sebut harapan
akan terwujudnya keyakinan
bahwa waktu pasti menuntunku ke dalam pelukmu

Di sini penantian masih berdetak
seiring perputaran masa
dari terbitnya matahari sampai terbenam di kalam senja

Di sini aku masih berdiri.

~ Puji Astuti ~
Jogja, 24.06 2018



SEPI WAKTU


Sepanjang titian pagi
tersapu sunyi yang menepikan rasa
tiada semilir angin memainkan ujung daun
begitu lengang dan diam

Jiwa ini pun sama
terkurung rajutan aksara
bermain dengan guratan diksi
bertaruh di jembatan perjalanan hari

Tanpa mengolah isi hati
goresan tercipta bersanding ilusi
gambaran cita dan cinta menggerus makna
dirimu ada di salah satu lembarnya

Guguran air mata terasa hambar
hangat mengalir di pipi dingin
tanpa isak terdengar lagi
sepi, hening di jajaran putaran waktu

~ Puji Astuti ~
Jogja, 22.06.2018



INI JALAN KITA

Serasa ....
perkenalan kita begitu singkat
lempar senyum dan beradu tatapan
hati terasa ada semilir hembusan angin
mengapa tatapanmu melekat di jantungku

Serasa ....
hari ini aku masih mengingat teduh matamu
rambut ikal menghias di tirus wajah itu
tak sedikit cakap namun senyum melayung indah
langsat bersih tepian kulit pembungkus raga

Serasa ....
aku mulai jatuh hati
pertemuan demi pertemuan tak sengaja menyulutkan rasa
dikau patut bergelar kekasih idaman
akupun tak luput menyimpan satu harapan

Kini ....
debar kita sama
melingkarkan cinta dengan satu doa
menuju sakinah mawadah waromah
dalam khasanah kasih di sepanjang sisa usia


~ Puji Astuti ~
Jogja, 15.07.2018



KAU DI SANA


Kemarin kelas ini masih biasa
pagi tadi pun juga sama
tapi siang ini jantungku berdenting
menatap sebulir indah di bola matamu

Kemarin aku belajar cuek dan tanpa reaksi
berangkat dari rumah juga tidak tersandung batu
namun selepas istirahat jiwaku terkoyak
senyum kamu terasa lain kurasakan

Kemarin kau duduk di depan
sekarangpun juga tetap di sana
aku mulai gelisah menatapmu
serasa ingin bergeser di bangku tempatmu

Kemarin tawaku riang
pagi biasa menikmati canda teman-teman
sekarang aku ingin menyendiri
memupuk harapan semenjak tatapanmu menusuk hati ini

~ Puji Astuti ~
Jogja, 12.07.2018



RANGKAIAN CERITA

Kita adalah pejuang cinta
walau dalam ikal lilitan masih jauh dari sempurna
jejak harapan selalu kukuhkan langkah
tangis dan tawa membaur di antara bahagia

Kita masih bertahan
sapu gelombang terbatasan demi janji
merangkul segala kekurangan dengan kesetiaan
tiada celah untuk memecah hati yang kita miliki

Kita terus ada
antara jejak jarak membentangkan resah
sedikit sepi membuat detak rindu
sesekali menyelip di anjungan kalbu

Kita satu tak terpisah
sampai uban memutihkan helai hitam
mengeriputkan kemulusan masa muda
raga renta kuatkan cinta kasih suci
sampai titik waktu melepas salah satu degup jantung dan napas yang ada

~ Puji Astuti ~
Jogja, 30.07.2018



SEANDAINYA AKU BISA


Makin hilang senja
tenggelam dalam dekapan malam
sedang aku masih tertegun di sini
menelanjangi kisah keseharian yang pasi

Mimpiku terjerembab lumpuh
di antara tumpukan jerami lusuh
bernegoisasi dengan hasrat yang berat
seandainya aku bisa memenangkan tanpa bersyarat

Lengkung pelangi masih menjulang tinggi
seperti harapanku untuk bisa mendampingi
menepis semua bahwa ini hanya mimpi
memulai memulas kanvas berhias warna penuh imaji arti

Menemukan segala yang hilang
kembali mengumpulkan ranting-ranting patah
menjadi satu sentuhan keyakinan
bahwa aku akan bisa mengalahkan rasa pesimis dan ketakutan

Jogja, 23.09.2018



PERTEMUAN

Serasa jarak adalah bentangan tuk jabatan hati
Namun saat jemari mulai merajut diksi puisi
Jiwa tertaut erat indah seindah sinar mentari
Senyum terkulum sepanjang hari

Waktu menghanyutkan rasa
Rindu bertemu menggerus masa
Uluran dekapan seakan menyesak di dada
Untuk segera bersua dan bertatap muka

Tibalah titik sendu berpadu
Di senja temaram melajulah langkah kakiku
Menujumu wahai sahabat literasiku
Mewujudkan mimpi bisa duduk bersanding denganmu

Rangkaian kata mempertemukan dua jiwa
Satu asa menggapai impian kita
Kumpulkan seluruh imajinasi aksara
Menyatu dalam kumpulan warna dan rima

~ Puji Astuti ~
Jogja, 13.09.2018



MENGIKIS LUKA

Sejenak kuhela napasku
Menyaksikan isak tangis dua rasa
Menorehkan lebam dan bilur di hati
Mencengkeram ketidakberdayaan hakiki

Jangan teteskan lagi air mata itu
Hanya akan menggerus makin dalam kedukaan laramu
Biarlah kantung qodar ini menjalankan titahnya
Kita sebagai manusia adalah lakon semata

Doa dan taburi jiwa dengan kerelaan serta keikhlasan
Penuhi batin dan pintu kalbumu tanpa ragu
Bersama bait-bait doa dariku
Agar senantiasa hari dan waktu bertabur nikmat dan rasa syukur yang ada
Sampai jejak yang tertinggal adalah cerita guliran cinta penuh makna bahagia

Jogja, 11.11.2018



RANGKUMAN RASA


Sekujur larikan makna masih mengendap berjalan
menapaki tebing terjal nan berbatu
dengan genggam tangan kita berpadu
sangat erat dan lebih menyerupai indahnya sebuah ikatan rajut

Duduklah di sini jangan menjauh
mari tumpahkan rangkuman rasa di atas gelora hati
hari ini memetik manisnya buah rindu
esokpun masih sama dalam kelok perjalanan asmara kita

Empedu terasa pahit jika tertumpah di lidah
begitupun kehidupan ini kasihku
untuk meminumnya campurkan madu dalam bejana
manisnya akan terasa karena adanya cinta

Berikan kebahagiaanmu untukku
seluruh hati dan jiwaku telah mempersuntingmu
rangkailah pilar cerita seluruhnya
jangan ada sisa selama kita adalah satu senyawa

Jogja, 06.11.2018



RANGKAIAN CERITA

Kita adalah pejuang cinta
walau dalam ikal lilitan masih jauh dari sempurna
jejak harapan selalu kukuhkan langkah
tangis dan tawa membaur di antara bahagia

Kita masih bertahan
sapu gelombang terbatasan demi janji
merangkul segala kekurangan dengan kesetiaan
tiada celah untuk memecah hati yang kita miliki

Kita terus ada
antara jejak jarak membentangkan resah
sedikit sepi membuat detak rindu
sesekali menyelip di anjungan kalbu

Kita satu tak terpisah
sampai uban memutihkan helai hitam
mengeriputkan kemulusan masa muda
raga renta kuatkan cinta kasih suci
sampai titik waktu melepas salah satu degup jantung dan napas yang ada

~ Puji Astuti ~
Jogja, 30.07.2018



RAMPAI RASA

senyap kali ini
terapkan ujung aksara manis terlahir
menyusun di dasar jiwa
tak tersentuh oleh kedengkian rasa

senyap kemarin
begitu mengikat erat keegoisan
kita mengobral tingginya suara
tanpa memilah bahwa itu sebenarnya sia-sia

makna senyap
memilin sekeranjang kenangan waktu
bahwa saling membutuhkan
adalah satu sinyal
adapun mengikis cinta sangatlah menyakitkan kita

~ Puji Astuti ~
Jogja, 03.07.2018



PERAHU LITERASI

Layar terkembang
Di saat gundah merayapi jiwa
Jari jemari gemetar tuangkan rasa
Terlintas naungan nan teduh
Dikaulah terpampang di lautan bebas

Layar berkibar
Melaju seiring ombak berderu
Melawan gulungan arus yang menghadang
Tiada dera gentar terus menerjang gelombang

Layar kokoh tinggi
Menjulang menantang angkasa luas
Bermain dengan kepakan sayap camar
Berhembus semilir angin lautan
Membawa rumpunan aksara-aksara bermakna yang tanpa batas

~ Puji Astuti ~
Jogja, 29.06.2018



TANYAKU

satu kata
kutanyakan dengan harapan
jawaban realistis dari sudut bibirmu
jangan cuma mengangguk
atau pun sekedar menggelengkan kepala

satu pinta
bisakah memberi ketenangan
agar aku bisa memaknai segala sikapmu
sekian waktu makin membuatku tak mengenalimu

hanya satu kesempatan
seandainya tak lagi menginginkanku
aku tutup pintu hati dan semua jawaban
karena arti hidupku tidak akan berhenti hanya sampai di sini

Jogja, 27.06.2018



HAMPARAN SUNYI

lebih baik begini
keterbatasan tuk bisa memandu rasa
biarlah kunikmati perjalanannya
dengan menumpahkan kerat remahnya

lebih indah begini
mengumpulkan kenangan di pagar hati
memapah keinginan kita yang terperi
sampai titik sunyi di tengah badai rindu tak lagi bisa berhenti

lebih bermakna
langkah perjalanan tanpa resah
kita akan mencari di mana letak kesejatian
di antara keraguan yang mendera batin untuk kesekian kalinya

~ Puji Astuti ~
Jogja, 26.06.2018



TAWAMU ASING


terasa
begitu nyaring suaramu pagi ini
menggemparkan dadaku yang sempit
bolehkah kututup telinga ini

terasa
nada tinggi memenuhi rongga lehermu
tak lelahkan otot nadi itu
mengeras seakan sekeras hati dan jiwamu

terasa
aku sedang mengupas tererasingan sosokmu
karena teriakanmu sudah mewakili ego
kian memudarkan kelembutan kalbu
untuk bisa menundukkan desahan rindu di dadamu

terasa
tak kukenal lagi lirih bisikmu
begitu sejuk saat sampai di telingaku
akankah bisa kembali seperti dulu?

agar keasingan ini berlalu.

~ Puji Astuti ~
Jogja, 25.06.2018



AKU YAKIN

Di sini
bertabur aksara saling puja
membelah hati menerobos kalbu
adakah akan bertaut
di antara serpih itu adalah namamu

Di sini
kupernah sebut harapan
akan terwujudnya keyakinan
bahwa waktu pasti menuntunku ke dalam pelukmu

Di sini penantian masih berdetak
seiring perputaran masa
dari terbitnya matahari sampai terbenam di kalam senja

Di sini aku masih berdiri.

~ Puji Astuti ~
Jogja, 24.06 2018



SEPI WAKTU


Sepanjang titian pagi
tersapu sunyi yang menepikan rasa
tiada semilir angin memainkan ujung daun
begitu lengang dan diam

Jiwa ini pun sama
terkurung rajutan aksara
bermain dengan guratan diksi
bertaruh di jembatan perjalanan hari

Tanpa mengolah isi hati
goresan tercipta bersanding ilusi
gambaran cita dan cinta menggerus makna
dirimu ada di salah satu lembarnya

Guguran air mata terasa hambar
hangat mengalir di pipi dingin
tanpa isak terdengar lagi
sepi, hening di jajaran putaran waktu

~ Puji Astuti ~
Jogja, 22.06.2018



INI JALAN KITA

Serasa ....
perkenalan kita begitu singkat
lempar senyum dan beradu tatapan
hati terasa ada semilir hembusan angin
mengapa tatapanmu melekat di jantungku

Serasa ....
hari ini aku masih mengingat teduh matamu
rambut ikal menghias di tirus wajah itu
tak sedikit cakap namun senyum melayung indah
langsat bersih tepian kulit pembungkus raga

Serasa ....
aku mulai jatuh hati
pertemuan demi pertemuan tak sengaja menyulutkan rasa
dikau patut bergelar kekasih idaman
akupun tak luput menyimpan satu harapan

Kini ....
debar kita sama
melingkarkan cinta dengan satu doa
menuju sakinah mawadah waromah
dalam khasanah kasih di sepanjang sisa usia

~ Puji Astuti ~
Jogja, 15.07.2018



KAU DI SANA

Kemarin kelas ini masih biasa
pagi tadi pun juga sama
tapi siang ini jantungku berdenting
menatap sebulir indah di bola matamu

Kemarin aku belajar cuek dan tanpa reaksi
berangkat dari rumah juga tidak tersandung batu
namun selepas istirahat jiwaku terkoyak
senyum kamu terasa lain kurasakan

Kemarin kau duduk di depan
sekarangpun juga tetap di sana
aku mulai gelisah menatapmu
serasa ingin bergeser di bangku tempatmu

Kemarin tawaku riang
pagi biasa menikmati canda teman-teman
sekarang aku ingin menyendiri
memupuk harapan semenjak tatapanmu menusuk hati ini

~ Puji Astuti ~
Jogja, 12.07.2018



CATATAN HARI INI

Pagiku terasa mendung
mentari bersembunyi di balik mega abu-abu
menggigilkan rasaku dengan pilu
oleh kerinduan yang mencuat di ujung hati ini

Seraut wajah begitu kucinta
kembali menari di lesahan rasa
tak urung jiwa menjadi resah
tergelitik debaran yang tak asing lagi di dada ini

Catatan demi catatan usang muncul
goresan satu-satu menusuk kalbu
hangat mentari kutunggu hari ini
untuk menyinari jiwaku yang dingin sejak tadi

~ Puji Astuti ~
Jogja, 08.06.2018



LARA DI UJUNG RINDU

Mungkin rindu ini telah beku
di saat titik hilang atas kepergianmu
mencari di mana pijak-pijak kemarin
terasa gelap tanpa sinar pijar

Kuhunus serangkaian artimu untukku
menjadi sebuah harap yang pupus
karena rapuhnya keberanianku
untuk memperjuangkan cinta jiwa ini padamu

Pengorbanan tiada arti
melecutkan betapa jauh letakku hatimu
tanpa kata dan bicara kau berlalu
meninggalkan recah luka teramat pilu

Rindu ini masih ada
bersemayam di palung terdalam
cukuplah kusemai tanpa derai
untukmu yang jauh dari rengkuh tak tergapai

~ Puji Astuti ~
Jogja, 04.06.2018



PUSARAN MAKNA CINTA

Serumpun ilalang meranggas
terpaan angin di musim kering mengerontangkan hijaunya
begitu juga dengan makna cinta ini
mengering dihempas keterpurukan rima dan sarinya

Warna jingga pudar di tengah semilir angin senja
menjadi rona abu-abu yang pilu
rinai hujan malam yang ditunggu
begitu lama melelahkan segenap masa penantian

Keringnya ranting menggugurkan daun
tak harmonis perjalanan sinkron tumbuhnya
telah menanggalkan anak tunas yang baru

Inilah pusaran cinta
sepenggal dalam kisi makna
bergeser seperti yang kerap kita alami
meletupkan dera hati tuk bisa saling merenungi

~ Puji Astuti ~
Jogja, 01.06.2018



TIKAMAN BERUJUNG PILU

Saat perbedaan menggerayangi hati
kita menjatuhkan diri dalam sangka
cemburuku meracuni kalbu
meneteskan peluh panas di antara akalku
bahwa cintaku terabaikan di waktumu

Berasa tikaman menembus jantung
menyayatkan perih pilu berkepanjangan
memupuk sangka melilit dusta
menumbuhkan pucuk jarum di ujung bidikan

Mengapa ini terjadi
seperti badai di tengah lautan
perahuku oleng tak menentu
terombang ambing ketidakpastian bisu
membentuk palung jurang dalam yang menyakitkan

~ Puji Astuti ~
Jogja, 01.06.2018



SELAMAT PAGI CINTA


Pagi masih menyelimuti punggung bumi
sedangkan kehangatan mimpiku masih melekat di hati ini
semalam kau berikan sebuah saat terindah untukku
sedangkan linangan air mata bahagiamu kulihat meleleh di pipimu

Debaranku masih kurasakan
jemarimu erat menggenggamku
ikatan waktu bisakah berhenti
agar saat bersamamu tak lepas dari pelukku

Rona merah wajahmu kulihat indah
saat kecupan kuberikan
seakan kepasrahan telah melimbungkan
di ujung layung kebahagiaan kita

Pagi ini
saat mataku terbuka dari pejamnya lelap
kurenggut hamparan rinduku
segera kuingin menyapamu dalam resah
selamat pagi cinta, mimpiku ingin kugubah menjadi nyata dalam serangkaian ritual rasa

~ Puji Astuti ~
Jogja, 01.06.2018



HARI TETAP AKAN BERLALU

Begitu cepatnya waktu
memintal kehidupan kita
tanpa berhenti dan terus menggerus detik pada saat kita memulai

Sudahkah kita mengantongi pundi-pundi
untuk bekal kala waktu berhenti
seiring meregangnya nyawa dari raga
meninggalkan dunia fana tiada abadi

Dosa pasti ikut serta
pahala juga menemani
seimbang atau berat yang mana di buku kita
merenunglah hati, rasa dan jiwa

Bilamana semua ditinggalkan
tanpa apapun kepemilikan dunia menempel di tubuh hina ini
bahkan 'tak ikut serta yang namanya cinta sejati
sendiri tanpa teman lagi dan berkalang sepi

~ Puji Astuti ~
Jogja, 28.05.2018



KARYAKU TERSURAT


Detak waktu berlalu
mengikuti serangkaian tarian jemariku
menggoreskan lesah-lesah hati
mengitari gelora dan rasa kasih

Kutuangkan serangkaian anak-anak puisi
menjelma menjadi jalinan ritme jelusi
berpeluk air mata bahagia
tergambar kesedihan pilu jua

Ini tentang kata hati
adamu yang mengusik relungku
menorehkan gurat kenangan
sepanjang perjalanan yang telah kujelang

Diksi tak akan berakhir dan habis
menjuntaikan makna di barisan aksara
menumpahkan titik berirama dan berkoma
semua selalu ada dan senantiasa menjelma dalam irama cinta

~ Puji Astuti ~
Jogja, 27.05.2018



SUATU SAAT

Kusapu teriknya matahari yang panas
Riuhnya lalu lalang kaki beralas
Kebingaran melelahkan
Memperkeruh situasi hatiku

Sesak nafasku tertahan
Melirik di ujung trotoar
Seorang tua berteduh kepanasan
Dengan mata kuyu terlihat mulutnya kehausan

Di sisi lain adanya hiruk pikuk transaksi
Uuuuugggh ....
Bikin pening kepalaku naik

Kicau burungpun lenyap senyap
Kesejukan berubah hingar
Hati tenang jadi ikutan garang
Fantastis!

Kuikuti perjalanan kakiku
Menyusuri tepian jalan terjal
Kelokan drainase di pinggir sawah

Mulai ada angin
Aaaaaahhh .... ronggaku terisi penuh lagi

Ujung daun padi hijau melibas terik panas
Seulas senyum di bibirku pias

Ketika mata teradu rumah daun di ujung sana
Terlintas bayangan bersama teman sebaya
Di batas umur belasan silam
Bercanda ramai menghalau burung pencuri bulir-bulir padi
Genit terbang kesana-sini menghindari ketika diteriaki

Aaaaahhhhh ....
Buyar anganku saat burung dara melesat di atas kepala
Rupanya aku merindukan saat-saat itu

~ Puji Astuti ~
Jogja, 26.05.2018



LEMBARAN KALBU

Di antara kumandang adzan dan lantunan ayat-ayat Alqur'an
mendenting ketenangan hati dan relung jiwa
betapa terasa bahagia ada dalam dada
dengan segenap karunia-Mu yang menebari setiap desah napasku

Tidak sedikitpun teringkari untuk Keagungan-Mu
ucap syukur nan kulantunkan pada gerak bibir di lesap doa-doaku
malam adalah limpahan keheningan
siang anugerah menggerakkan jemari tuk mencari ridho rezeki-Mu
sedangkan pagi, titik awal mata membuka hati
bahwa diri masih diberi kesempatan tuk menata serpih pahala yang telah Engkau janji

Hamparan nikmat-Mu tak terhitung angka
begitu melimpah dalam berkah
kurang apa lagi? terpaan pada kalbu

Tinggal aku jalani alur kehidupan yang sudah tersurat dalam qalam takdir-Mu

~ Puji Astuti ~
Jogja, 23.05.2018



DEBU


Berdiri di ambang keletihan
menuliskan serentang perjalanan
bahwa di sini kaki ini masih berdiri
untuk menopang beratnya raga
semua adalah karunia-Nya

Dalam Ramadhan bertabur rahmat dan pahala
jiwa ini terasa kecil dan hina
melukiskan dosa yang berlumuran
membungkus rasa batin seakan jatuh luruh

Bersimpuh di hitungan sujud
melafalkan aksara-aksara nama-Mu
mengiba keridhoan Engkau sematkan
dalam kalbu dan ragaku yang semakin renta

Linang air mata
membasuh wajah yang memucat
langkah semakin lelah
jiwaku bagai debu di hamparan keagungan-Mu

~ Puji Astuti ~
Jogja, 23.05.2018



RETAS ITU

Dalam rentang waktu yang berlalu
Kutulis di bait-bait senduku
Menyimpan berjuta rasa di dada
Itu untuk prasasti kita

Debur jiwaku bersama larungmu
Geseran waktu terlampaui sudah
Titik air mata bahagia tertinggal
Bisikan itu akan selalu terngiang

Terpisah dari jarak dan waktu
Terpilin kerinduan tak bertepi
Seakan rengkuhku melandung
Di antara ketidakmampuan raga

Berjalanlah dikau dengan cintaku yang telah kau bawa
Bersujudlah dengan do'a nan selalu ter'ucap
Semua itu akan saling menguatkan rasa
Karena kasih ini kitalah punya

~ Puji Astuti ~
Jogja, 23.05.2018



SUDUT HATI

Hampir selesai perjalanan ini
menahan segala gelora hati, keinginan dan kebingaran
bulan yang penuh berkah dan ampunan
segala rahmat dilimpahkan

Namun
sudut hati ini masih terasa pilu
akan dosa yang menumpuk di kalbu
linang air mata menggenang di sudutnya
jika mendekati titik akhir waktu

Sedih saat nanti kepergian Ramadhan
adakah usia ini masih dipertemukan
sedangkan lumuran dosa selalu ada
menggoda jiwa dalam dada

Ramadhan
tinggal beberapa langkah lagi
meninggalkan rencah dera ini
sedih mulai hadir menyambangi
di relung hamparan rasa yang kini menggayuti

~ Puji Astuti ~
Jogja, 10.06.2018



PEREMPUAN PERKASA

Di ujung kainmu yang menyapu permukaan bumi
tanpa perasaan beban senyummu menoreh di hamparan persada
iklas memperjuangkan nilai derajat
emansipasi kita agar tidak terjerat

Selendang penutup bahumu
menyiratkan kelembutan tutur kata
menyandingkan kepentingan sesama
menolong yang papa dan dhuafa

Wanita pemimpin negeri mandiri
kita tidak boleh lemah lantang seruan geloramu
raga boleh gemulai, namun jiwa tetaplah membaja
singsingkan lengan baju saat turun ke jalanan sosial bersama

Keperkasaan simbol kekuatan
lahir dan batin menyatukan tekad
mewujudkan harapan untuk bersama maju
menjadikan negeri ini bangga bisa memilikimu, wahai perempuan perkasaku

~ Puji Astuti ~
Jogja, 05.05.2018



KETERPAKSAANKU

Kutatap lekat butiran warna-warni
begitu mencekal kerongkongan
tak sanggup lidahku berkompromi
untuk menelan berpuluh biji tiap hari

Adakah bisa diganti
menjadi sedikit sakit namun sekejap
injeksi apalah-apalah namanya
agar lidahku terlepas dari rasa tersekat

Hai raga
mengapa tak kau tentang
kemalasanmu melawan keterpaksaan
untuk membebaskan dari jeratan pesakitan

Tuk imajinasi
janganlah membebani rasa
aku ingin segera terbebas
dari dera yang selalu membututi rasa ini

~ Puji Astuti ~
Jogja, 02.05.2018



TELAPAK KAKI TERLUKA


Kudengar adzan berkumandang
nyaring memanggil umat untuk bersujud
di selembar sajadah panjang ini
aku tertunduk mengiba pada-Nya

Sepanjang mengukur perjalanan
terasa telah bersimbah darah pedih
terluka dihantam ujung kerikil tajam
menggores di sekujur telapak jala kaki lemah ini

Engkau Yang Maha Pengasih
kekuatan telah Engkau berikan padaku
untuk melanjutkan pergulatan kisi hidup
berkah dan cobaan silih berganti
untuk pengujian kukuhnya batin ini

Lelah berdiri tonggak kedua kaki
rapuh menghujam sari belulangnya
kini terduduk.di serambi masjid
untuk melepaskan segala beban raga yang terkulai terejam sakit

~ Puji Astuti ~
Jogja, 02.05.2018



CINTA PERMATA

Hai pesona hati
mendekatlah kemari
raih jemari ini
lekatkan ke dada kiri

Jantungku berdentang keras
saat kau ada di pelukku
seakan bunga-bunga penuhi mimpi
janganlah pergi tinggalkan diri ini

Ilalang meliuk di dahimu
kala semilir angin mempermainkan ujungnya
tertawa kecil bibirmu merekah
terlihat binar indah di bola matamu
Oooh, sungguh indah

Cinta ini seperti permata
kujaga jangan sampai tersiram lumpur
biarlah berkilau di sepanjang waktuku
bersamamu yang selalu membuat hati ini terendam rindu

~ Puji Astuti ~
Jogja, 02.05.2018



BELUM TENTU INDAH

Seutuhnya telah kuberikan
pemilik cinta untukmu
dalam noktah keikhlasan
janganlah di salah gunakan

Garis hidup telah tergoreskan
tinggal aku menapaki pagelaran ini
hujan badai tak menggemingkan derai hati
percaturan pasang gelombangnya sangatlah unik bersensasi

Perjalanku dan jejakmu berbeda
walau tujuan kita sama
namun pergolakan rasa tak terduga
kecewaku mendulang seonggok lara dan bukan canda

~ Puji Astuti ~
Jogja, 02.05.2018



BELUM TENTU INDAH

Seutuhnya telah kuberikan
pemilik cinta untukmu
dalam noktah keikhlasan
janganlah di salah gunakan

Garis hidup telah tergoreskan
tinggal aku menapaki pagelaran ini
hujan badai tak menggemingkan derai hati
percaturan pasang gelombangnya sangatlah unik bersensasi

Perjalanku dan jejakmu berbeda
walau tujuan kita sama
namun pergolakan rasa tak terduga
kecewaku mendulang seonggok lara dan bukan canda

~ Puji Astuti ~
Jogja, 02.05.2018



KUHARAP ADA SENYUM KAMU

Serasa telah lama aku pergi
untuk menenteramkan hati yang kini sepi
rinduku padamu mengalahkan segala dera
pagi ini melihat senyummu adalah harapku

Duhai
sekerat jiwa telah meminta tumbal perih
cintaku tergadai jarak dan waktu
menantimu sebagai peluruh resah ini
segeralah engkau kembali padaku

Lihatlah aku di sini berdiri
dengan tepian rasa yang kian mendebar
menatapmu satu pekerjaan paling kusuka
karena di matamu ada cinta, dan senyummu penuh dengan pesona

~ Puji Astuti ~
Jogja, 02.05.2018



JAGALAH AKU


Sudah penat perasaan menggeliat
dalam reroncenan keterpautan hati
Aku tak ingin mendulang kecewa
karena semua adalah kisah perjalanan kita

Menambatkan benih kasih di tubuh jiwa
untuk bisa mencari titik cinta
putik kutunggu berbunga indah
jadilah madu menjadi mengobat luka

Bertopeng kepalsuan menjerat
bermanis madu di lenggang lenggok pesona
jangan lanjutkan mempermainkan aku
hanya akan merobek lara yang kian menganga

Jujur yang kumau
damai kuharapkan
satu hati menjadi pengikat kalbu
dirimu yang telah merasuk dalam larungan hidupku

~ Puji Astuti ~
Jogja, 02.05.2018



CINTA SEGITIGA ( 1 )

Semua yang terjadi di dunia ini sudah tersuratkan. Kapan lahirnya manusia, lepasnya nyawa, rejeki yang didapatkan serta lingkup nasibnya.

Tak terkecuali mengenai keanekaragaman liku perjalanan hidup. Kau, dia dan aku tak ada yang tahu. Hanya Yang Maha Pencipta pengunci rahasia.

Kita bersaudara seiman dan tahu tentang aturan. Indahnya iman di dada bisa meredam segala dera.
Keikhlasan mendasar di relung hati, yang bisa untuk pembenteng diri.

Suatu masa terjadilah yang namanya ujian hati. Segenap rasa menempatkan dilema. Tatanan lubuk kalbu terlecut deru. Untuk mewujudkan kesungguhan dan bukan semata semu.

~ Puji Astuti ~
Jogja, 12.05.2018



CINTA SEGITIGA ( 2 )

Didepan penghulu kau ucapkan ijab qobul yang sakral. Mendecak kebahagiaan semua wajah. Tanpa sedu sedan menggelombang. Berjalan dengan tenang dan perlahan.

Adalah cerita cinta penuh warna. Persepadanan bagai nirwana dunia. Waktu tanpa berlalu dengan semu. Semuanya nyata dan terpadu.

Ucap janji selau mengiang di ingatan. Berdua melalui hari-hari dengan kukuh. Badai datang akan teratasi oleh cinta kita yang utuh.

Waktu terasa berpelangi. Menerangi rasa satu-satunya dalam hati. Kemesraan berpagut di detik pacu dan meninggalkan jejak. Perjalanan kita baru dimulai sesuai garis yang terletak di lembaran kodrat.

~ Puji Astuti ~
Jogja, 12.05.2018



TANYA DALAM HATI


Kemarin aku menginginkanmu
di saat lelahku di ujung lesap
kesadaran ini serasa pengap
hanya ingin kau dekap tanpa sekap

Jujur diri ini adalah siapa
kemilaupun tidak bila di sampingmu
kecil tak berharga
apalagi menyimpan tahta

Pertanyaanku hanya satu
mengapa kau memilihku
apakah ini cinta
atau hanya jelusi mimpi semata

~ Puji Astuti ~
Jogja, 12.05.2018



PERSEMBAHANKU

Hari-hari tercurah sudah
tanpa peduli keletihan yang ada
seizin Yang maha Kuasa
100 lagi makna puisiku telah tercipta

Kebanggaanku menjelma
dalam tiap bait larikannya
tarikan imajinasi menghidupi goresan jemariku
tuk menjadikan maknanya merasuki kalbu

Torehan aksara
perpaduan dua dimensi rasa
bergantian menelisip di tubuh pohon karya
semoga menjadi berguna di tiap pemilik hati yang sedang membaca maknanya

~ Puji Astuti ~
Jogja, 09.05.2018



KEMENANGAN IMPIAN

Berbulir telah tersemat dalam bait
mencurahkan segala yang terjadi
romantika sebuah perjalanan
untuk bisa kutorehkan menjadi kenangan

Yang dulu hanya lintasan
kini hadir di hamparan goresan
senyum, tangis dan kecewa tertumpahkan
dalam diksi serta rima yang berbeda-beda

Tanpa serapah
tanpa kebencian
yang hadir cinta dan kasih
di setiap bait yang penuh dengan makna

Kucuran aksara tanpa jeda
mewujudkan kemenangan sebuah mimpi
menghujani larikan-larikan dengan aksara
mengatasnamakan rasa dalam setiap anak-anak puisinya

~ Puji Astuti ~
Jogja, 09.05.2018



NYATA ADANYA

Guliran waktu sepanjang hidup
keindahan alam di mayapada
semilir angin menumbuhkan sejuk hati
pergantian siang malam sesuai rotasi

Hamba hanya ada dua
yang takwa dan pendurhaka Tuhan-Nya
kontradiksi nyata pertaruhan di arena
gagal dan berhasil sudah ada takdir

Renungan di kala senyap
instropeksi apakah sudah sejalan
kewajiban ibadah tuntutan amanah
tak berhenti sampai napas tinggal satu sengal
menjadi tolak ukur ketakwaan diri pada Yang Maha Tinggi yaa Robbi

~ Puji Astuti ~
Jogja, 09.05.2018



CINCIN IKATAN CINTA

Melingkarlah selama ikatan ini masih ada
jangan terlepaskan karena dera
sematkan seperti cinta di antara kita
menyatu dalam segala perniknya

Perjalanan akan kita arungi berdua
perahu melaju berbendera jantung merah
ombak kian tinggi menerpa bahtera
cincin ini akan selalu di jari untuk pengikat hati

Kulumlah segala kesenjangan
binarkan harapan dalam relung hati
agar terlampaui semua hamparan mimpi
terwujud dengan sucinya doa dan janji yang telah menjadi prasasti

~ Puji Astuti ~
Jogja, 09.05.2018



SENYUM SAHAJA KASIH

Di sudut bibirmu
tergurat sebuah senyum sahaja
mematrikan jiwaku yang kasmaran padamu
duhai kasih, berikanlah itu untuk aku

Dalamnya jiwa ini terpagut cinta
memasungkan segala lara
menyudutkan titik keraguan
untuk lepaskan dan menuju kebahagiaan

Antara ada dan tiada
mimpi atau nyata
kuperjuangkan sebuah bahtera
untuk dirimu yang menjadi pelengkap hilangnya rusukku

Jangan berpaling
suguhkan selalu senyummu
menjadi hangatnya sapa di pagi hari
peluruh kepenatan titik lelah mimpi-mimpiku

~ Puji Astuti ~
Jogja, 09.05.2018



BELAHAN JIWAKU

Duduklah di sampingku
saat ada waktu di sela sempatnya kita
telah banyak jeda tercipta
membuang kebersaamaan yang didamba

Mari kita nikmati
detik yang melesah kemesraan
benamkan rasa di dadaku
lebih tenang dalam hatimu

Aku cinta padamu
kujaga amanah hati ini
untuk menimang besarnya kasihmu padaku
dan selalu menjadi yang rerbaik untukmu

Mengisi hari-hari
dengan keindahan yang berarti
binalah cinta kita
dalam madah asmara yang terjaga

~ Puji Astuti ~
Jogja, 09.05.2018



KEHENDAK-MU

Badai topan Engkau turunkan
menjadi peringatan bahwa murkamu ada
membuat mata hati terbuka
hidup ini tidaklah ada yang sempurna

Keabadian yang Engkau sabdakan
bukan mimpi atau pun khayalan
semua nyata untuk diimani
dalam hati setiap insani di dunia ini

Hancur leburnya belahan dunia
akan terjadi saat kehendak-Mu tiba
apalah daya kita sebagai hamba
hanya bisa mencari bekal amal untuk timbangan pahala dari-Nya

Menetes air mata ini
saat ingat yang akan terjadi esok
kita hanya membawa selembar catatan
baik buruknya kita sendiri yang menentukan

~ Puji Astuti ~
Jogja, 09.05.2018



SUJUDKU PADA-MU

Dalam kepasrahanku
untuk bersimpuh batin ini
memunajatkan segala doa
demi lancarnya perjalanan yang kutempuh

Mengukur jalanan kehidupan
tanpa daya selain dari kekuatan-Mu
hamba hanyalah segelintir nyawa
dari samodra rahmat-Mu

Terimalah sujudku di sepertiga waktu
meneteskan bulir penyesalan dosa dan khilaf
bahtera perahu tanpa nahkoda ini
begitu kuat melaju karena keridhoan-Mu

Bersihkan jiwaku
cucilah keruhnya hati ini
hingga begitu ringan langkahku
dalam menempuh rintangan dan cobaan dari sabda-Mu

~ Puji Astuti ~
Jogja, 09.05.2018



HATI BERDAYUNG KASIH


Kasih
bilamana aku terlambat datang kali ini
jangan kau sedih dan menangis
karena aku akan selalu memeluk rasamu

Lihatlah jantungku yang berdetak
mengisi jinggamu pada tiap inci baris hati
resah di penanggungan rindu
jika dalam jeda tak segera bertemu denganmu

Perjalananku seimbang dengan bunga cinta
mencukupi rasa sepenuh kerinduanmu
hempasan resah telah kularungkan
untuk memeluk hati berdayung kasih sejatimu

~ Puji Astuti ~
Jogja, 09.05.2018



PASRAHNYA HATI

Seperti telah tertulis
mengikuti arah mata hati
meminang separuh jiwa
untuk menjadi satu rengkuhan cinta

Ingin kutuliskan apa yang kurasa
bahwa kita telah dipertemukan dalam noktah
terpaut di renda-renda tunik
menyulamkan segala pernik kasih

Rebahkan segala resah
singkirkan remah-remah kisah lama
peluk erat rona gelora asmara
dalam kepasrahan hati untuk saling mematri

~ Puji Astuti ~
Jogja, 09.05.2018



SYUKUR YANG TAK PUTUS

Bergelimang kebahagiaan ini
menyatu dalan jejak perjalananku
lantunan rasa syukur
tiada henti menghiasi sudut bibirku

Semua yang aku punya
tiada lain adalah anugerah
sangat indah sejak di rahim ibu
sampai menjelma dewasa kini diriku

Mengenal cinta aku bisa merasa
memiliki kekasihku adalah kesempurnaan
utuh kelengkapan hidupku
ucap syukur ini hanya pada-Mu ya Alloh
pemberi segala di atas segalanya

~ Puji Astuti ~
Jogja, 09.05.2018



CINTA BERKALUNG HARAP

Dalam mengarungi perhelatan siang ini
aku terpana bertatap muka dengan kesyahduan
menggoncangkan lubuk hati
seandainya bisa aku miliki

Perjalanan yang mengiringi napasku
seakan kebahagiaan semakin dekat
dengan datangnya sebuah keyakinan
jodohku telah ditunjukkan

Duhai pendamping hidupku
satukan cinta kita ini
sebagai kelengkapan sunahku
berjalanlah di sisiku untuk menyempurnakan agamaku

~ Puji Astuti ~
Jogja, 09.05.2018



RISALAH CINTA TERPENDAM

Masih ada di sini
dalam sudut dadaku yang mulai menyepi
ditinggalkan oleh sungging senyuman
yang dulu begitu dalam memenjarakanku

Pagi membutirkan tetes embun
saat hati melayangkan buliran kenangan silam
pesonamu tak lekang oleh usangnya waktu
hingga kini melekat indah di dinding sulaman kalbu

Cinta hati dan lantunan rindu
menyatu di tubuh jiwa ini
menjadi gubahan makna setiap gelora anak puisi
semakin memenuhi istana goresan aksara dalam debaran rasa

~ Puji Astuti ~
Jogja, 09.05.2018



KERETA MALAM

Dalam kegamangan lesahku
seiring deru roda besi melaju
ada sedikit keterpanaan
akan rasa gelisah mempermainkan tirai hati

Usangnya kenangan menerpa bilik kalbu
begitu menelisip memberuncah
seraut goresan makna senyum itu
kini kembali membenamkan imajinasiku

Alunan desah panjang menyesak di dada
kala kusembunyikan suara jiwa
tak ingin ikut mencuat di lajunya waktu
karena hanya menambah desiran rindu

~ Puji Astuti ~
Jogja, 09.05.2018



ADA YANG HILANG

Tertegun jiwaku
menatapi seraut wajah tak asing lagi
dalam pejam matamu
ingin aku menguak tabir yang tersembunyi

Ada garis tak kukenali
menyatu dalam gurat-gurat sepi
serasa hilang terbang
bersama segala kekakuan sesisih hati

Diam dalam pembaringan malam
aku peluk diri dan rasa
memapah sepi menjadi pijar kesunyian
dirimupun tak bersanding hati di lajur malam ini

~ Puji Astuti ~
Jogja, 08.05.2018



BERJUANGLAH

Berlaga di gelanggang hijau
dengan keyakinan di dada
sportifitas tanamkan sebagai perisai
menang kalah adalah biasa dalam tanding raga

Bangun semangat jiwamu
lawan tundukkan dengan kelihaian
jangan jegal dengan kecurangan
harga diri sebagai taruhannya

Majulah dan raihlah kibaran juara
lelahmu dan keringatmu adalah kemenangan
perjuangan tak ada yang sia-sia
di saat kita maju dengan kejayaan dan tekad baja pantang menyerah

~ Puji Astuti ~
Jogja, 06.04.2018



JAWABAN ATAS CINTA

Mengayun langkahku sore itu
menjemput indahnya senyummu
menenangkan hati
menyejukkan jiwa ini

Sedari dulu aku menyimpan rasa
untuk kupersembahkan di saat yang tepat
kala kita bersua tuk mengikat cinta
di hari bahagia pengukir kisah

Berbinar matamu menusuk jantungku
debaran ini menggejolak tak menentu
dikau pujaan mimpi-mimpiku
dalam goresan perjalanan hidupku

Peluk aku jangan lepaskan
dekap rasaku dan tenangkan
karena gemuruh ini melambungkan angan
semoga jawaban cintaku sampai nyawa kita terpisahkan

~ Puji Astuti ~
Jogja, 06.04.2018



GERSANG

Membakar terik di bumi ini
terasa angin pun tiada
begitu panas melepuhkan ubun kepala
ujung oksigen makin terbakar rata

Inilah bumi kita
hutan hijau meranggas gersang
terbakar api dan sengaja dikuliti
oleh tangan yang tak mengenal rasa peduli

Air makin membanjir kala hujan
tiada bisa tersimpan di akar-akar hutan
nelangsa hati melihat binatang rimba pergi
di tempat sejuk yang mereka cari

Hutanku hilang
panas pun tak terhalang
atmosfir kian menipis
tanah pertiwi menanggung kerusakan yang semakin tragis

~ Puji Astuti ~
Jogja, 05.04.2018



RINDUKU

Pagi dengan teriknya yang hangat
kenangan bersamamu hadir kembali
senyum kasihmu mengitari pelupuk mata ini
menyebut lirih namamu adalah sebuah keindahan

Merajuk hati akan resah
betapa besar kerinduan ini melesah
mengurung angan bersama benang cinta
begitu dalam memeluk lubuk dan jiwa

~ Puji Astuti ~
Jogja, 05.04.2018



MENTARI PAGIKU

Sejuknya kurasa
embun masih bergantung di pucuk daun
hatiku mengembang seakan berbinar
mendapati keindahan pagi ini

Walaupun tergeletak
sebuah penantian yang mendebarkan
terpilin sinar hangat dari luar kaca
hilangkan keresahan dalam dada

Jarum bergelantungan
siap menembus kesadaran
inilah perjalananku
tertempuh di tengah percaturan hidup

~ Puji Astuti ~
Jogja, 04.04.2018



DEKAPAN TERAKHIR

Senja itu masih terasakan
kita menyatu dalam kawah cinta
membara tiada henti percikkan api asmara
walaupun malam kian meluruh

Dentang waktu melaju tak hentikan deru
gemuruh desah napas yang kian berpacu
dawai hati seakan lupa akan siapa diri
api dan api membakar sekujur jiwa ini

Luruh peluh lepaskan keluh
tersedu di sudut temaramnya kelam
dekapmu adalah dekapan terakhir
yang meninggalkan jeritan sayatan tangis

Hangatmu masih tersimpan
rinduku pun terhempas di palung sepi
gigil kini menyelimuti
di ujung senja kukenang keberadaanmu yang tak mungkin kembali

~ Puji Astuti ~
Jogja, 30.03.2018



TITIMANGSA TELAH TIBA

Berjuntai cerita di pernik larik
membongkar khayal dan nyata
mengaduk rasa ingin ikut serta
dalam bilangan suka dan derita

Alur pun mengikuti hati
menggigit bibir perih menahan tangis
dilema kehidupan terpapar lugasnya
berlarut di diksi-diksi menyerpih

Tiba di ujung legenda
waktunya mengikis keterpurukan
atau memulai kesakitannya
gelora mangsa di dalam bait aksara

Desah, resah dan amarah
berpadu di akhir goresan pena
berakhir di sini atau ada kisah lagi
namun titimangsa telah tiba
menutup cerita

~ Puji Astuti ~
Jogja, 29.03.2018



CINTA SEGITIGA

Aku rasa yang dia rasa
namun kuasa hanya padamu
terpungkiri ada gelisahnya
saat aku berada di sisimu

Kudapan cinta berbaur
menyelusuri detik waktu yang berlajur
keluh kesah keterpurukan
makin menjelaga di kumparan finalnya

Selisih dan perbedaan
tak berarti tidak bisa kompromi
satu sisi dihadapi
satu arah yang lain ditindaklanjuti

Inilah cinta bersudut dua
yang ketiga adalah dirimu
nakhoda di biduk perahu
layarnya pun terkadang meliuk ikuti tiupan bayu

~ Puji Astuti ~
Jogja, 29.03.2018



AKU

Jauh dari raihmu
dari sempalan rusukmu yang hilang
terbawa hanyutnya waktu
mungkinkah bertemu dan menyatu?

Kini termenung sendiri
nanar mata bathinku menyusuri garis tepi
di remah-remah jelaga nan hampa
kutetap akan mencari arah suara jantungmu

Terjatuh, bangun dan terluka
oleh derai sepi yang menyelipi hati
akan ilusi rupa abstrak bergaris samar-samar
menggaung di fatamorgana senja ini

Doa dan harapan terlantun
goresan aksara pewakil bisikan kalbu
kisaran ini memenuhi mimpi-mimpi
bahwa cerita ini telah jadi bait pengisi di ruang diary

~ Puji Astuti~
Jogja, 29.03.2018



KARYA CINTA

Memapah hati
tanpa meminta
hadir di sini
dalam cekungan rasa

Geloraku selalu sama
tiada berubah di kisi masa
tetap mengisi dan itu pasti
jangan bertanya lagi

Kikisan waktu makin sempit
namun kisah ini terus bergerak
jejak-jejaknya tanggalkan luka
kesempurnaan cinta nyata

Hampir separuh baya
waktu telah kita purnakan
beranak jarak
ceritanya akan ditinggalkan

~ Puji Astuti ~
Jogja, 29.03.2018



KEINGINANKU UNTUK TETAP HIDUP


Diterpa gelombang menggiring keputusasaan
saat vonis menghantam akal dan pikiran
apakah aku akan menyerah?
tidak!

Media ini sudah terpapar
tinggal mengikuti alur dan likunya
tujuan pasti sampai ke sana
tinggal kamu dulu atau aku yang lebih awal

Seringai bibir kala menahan nyeri
kuingin dosa-dosaku ikut luruh
jika memang semua ini adalah kasasi
untuk aku alami dari pada esok hari

Hidup dan hiduplah titik jiwa
kita nikmati perguliran rotasi kehidupan ini
entah tinggal seberapa kita tidak akan mengerti
perjalanan berhenti saat segalanya telah teruji

~ Puji Astuti ~
Jogja, 26.03.2018



SESEKALI MENILAI DIRI


Kuingat akan pesan ibu
baik-baiklah menjaga kelakuanmu
hidup ini tidaklah sendiri
bersama banyak hati yang harus dimengerti

Sangatlah aku perhatikan setiap wajah
untuk bisa menyampaikan makna ucapan
salah sedikit hantaman rasa menjadi tragedi
memicu pertikaian yang pasti menyakitkan

Ibu,
aku rindu kehadiranmu
untuk peluk ragaku yang mulai merapuh
lihatlah perjalanan anakmu kini tertatih

Segera aku berbenah rasa
menilai segala percaturan ini
langkah skak mungkin akan tersekat
perjuangan ini belumlah usai dan harus kuat berdiri

~ Puji Astuti ~
Jogja, 27.03.2018



PERJALANAN JIWA

Segenap hidupku tergelar sudah
melenakan seluruh waktu
merengkuh genggaman cerita
seperti buku penyimpan dongeng manusia

Pernah kurasakan semuanya
linangan air mata
senyuman bahagia
bahkan amarah yang membuta

Silih berganti cerita pendek ini
dengan judul yang berganti-ganti
namun endingnya tetap sama
tertulis ejaan tamat di akhir naskah

Bersyukur bisa kurajut puisi-puisi yang berserak
tanda aku pernah ada
membait kenangan di lembar-lembarnya
terangkum dalam goresan tetesan tinta pena

~ Puji Astuti ~
Jogja, 27.03.2018



MUNGKINKAH

Dosa itu terjadi
tanpa tantangan sebelumnya
begitu saja lewat
dan selesai

Mungkinkah
terampuni sendi-sendinya
sedangkan nyawa hampir tiba
di ujung waktu sudah tertera

Lebur dan lebur penyesalan
satu demi satu berguguran
linangan air mata mengalir
sebelum hembusan napas yang terakhir

~ Puji Astuti ~
Jogja, 25.03.2018



KETEGARAN MENGIKIS

Langkah kaki kurus menembus lorong panjang
serasa mulai menanggalkan segenggam asa
lenguh napasnya kias parau
ditambah sorot matanya makin jatuh meluruh

Kemarin masih tersenyum
kini landung pikirannya tersapu hampa
adakah bisa bertahan di gejolak ini
sendiri menapaki lambannya hari-hari

Gerogotan penyakit membungkus raga renta
umurnya tak sepadan dengan keriput di wajah
tiada orang tercinta di peluknya
semangat hidup kini hanya tinggallah sisa

Seujung harapan di hati
menanti kekasih yang telah lama pergi
apakah kekasih masih menyimpan kenangan?
betapa kerinduan ini telah memakan segala ketegaran rasa

~ Puji Astuti ~
Jogja, 24.03.2018



JANGAN MENANGIS


Jangan pergi untuk yang ke dua kali
pintamu seraya berkaca di sudut matamu
sejauh ini aku mengenalmu seperti elang
pantang menyerah walau sendirian

Isakmu mendebarkan jiwa ini
dengan sedu-sedan yang mengiba rasa
aku pun tak kuasa lagi
tuk segera memelukmu duhai pujaan hati

Duduklah di sisiku
rebahkan segala kesedihan yang kau rasa
biar bulir-bulir jatuh dalam pelukanku
saat aku masih ada di sisimu

Habiskan waktu yang tersisa
jangan menangis saat melepas kepergianku
agar perjalananku tak terbebani
atas tangismu yang menyayat hati

~ Puji Astuti ~
Jogja, 02.04.2018



KAU CINTA AKU


Saat dia memilihku
kuasa ini tak mampu membendung lagi
memeluk erat dia padaku
sedangkan aku tidak menginginkannya

Apakah kau mencintaiku
sampai begitu erat pelukanmu
bisakah kau menjauh dari ragaku
karena ragaku rapuh dan akan terjatuh

Kau kini bertahan dengan seringai
menelan seluruh kekuatanku
pelan namun pasti akan terjadi
aku terjatuh dan tak sadarkan diri

Aku akan berubah
menjadi mainanmu
Kau kuasai aku di seluruh sendi dan rasa
mengajakku untuk segera berbenah diri dan pergi

~ Puji Astuti ~
Jogja, 27.03.2018



TAKDIR


Tak mampu kita menelusuri
qalam Alloh yang sudah tersuratkan

Perasaan sedih terlampir
cobaan berat telah terkodrat
mati pun tamatnya riwayat kita tak bisa meraba
jodoh di depan mata pun bisa sirna menghilang

Insan hanyalah ciptaan Yang Kuasa
segala hiruk pikuk kehidupan ini fana
tiada yang abadi
di dunia penuh dengan intrik menggelitik

Tarikan napas sudah ditentukan kapan berhenti
degup jantung mengiring lepasnya hembusan terakhir
diam seribu bahasa tanpa bisa membantah
saat malaikat pencabut nyawa menunaikan kewajibannya

Sungguh tanpa arti jika jiwa ini penuh dosa
sedangkan waktu kian menyempit
raga tak mampu menahan lagi
di kala kesakitan menusuk yang tiada terperi

~ Puji Astuti ~
Jogja, 26.03.2018



KIDUNG KERINDUAN MENGALUN

Harpa ini terasa sumbang saat terpetik
seiring deraan perihku
sesak membenam di dada
meringkukkan segala angan dan impian

Mengapa harus lagi kurasa
sakitnya bila rindu ini tiba
melahirkan bait puisi di hati
tanpa jeda untuk menghela sejenak napas panjangku

Mengalun lirih dan makin mengguncang
seruan jiwaku untuk selalu merindumu
kupasan hari makin sempit
ingin segera kujumpai keberadaanmu
duhai tambatan kasih

~ Puji Astuti ~
Jogja, 09.04.2018



CINTA DI CINCIN PUTIH

Di saat kemilau senja mulai membias
kuterjaga dari lamunan panjang
ada dirimu di sini
melingkari jemariku sepanjang waktu

Guratan ini untuk selamanya
kita padukan antara dua rasa
hatimu dan jiwaku menjadi satu rengkuh kukuh
dalam janji suci yang terpatri

Dalamnya kasihku tiada bisa terukur
artimu di hidup ini tak terganti
sulamilah celah rasaku dengan cintamu
yang putih seperti lingkar cincin ini

~ Puji Astuti ~
Jogja, 09.04.2018



PILU INI MASIH ADA


Sekian waktu terlewati
bersamamu yang telah meminang ikatan
tiada bisa kueja lagi gurat ungu di matamu
begitu buram sekeruh air kubangan

Serpih di hati masih kurasa
saat kau lukai selembar asa
cinta ternoda
tetesan bulir ini tak menghapus luka

Aku tak mampu mengucap suara
hanya perih menghujam sangat dalam
makin menganga jika luapan itu datang
melumuri jiwaku dengan guyuran linangan air mata

~ Puji Astuti ~
Jogja, 09.04.2018



SENJA DI TAPAK RASA

Bergulir roda membawa dua hati
menuju pantai di ombaknya yang putih
camar berlalu lalang
dengan siulan-siulan panjang

Duduk di antara batu karang basah
terasa tiupan bayu samodra sebatas mata
terlampir canda merangkai kenangan
kita yang sedang termabukkan kasmaran

Hari terindah di senja itu
melepaskan segala rindu
buih dan pasir menyatu di ujung kaki
tiada peduli terlarung rasa karena cinta

Inilah perjalanan
memagut detik-detik keterpanaan
dua menjadi satu
dalam noktah kerinduan tak tergantikan

~ Puji Astuti ~
Jogja, 11.04.2018



KUPU KERTAS

Berselendang nestapa
bersetatus abu-abu di picing mata
penuh wangi aroma hiba
berjalan melangkahi lorong di keremangan

Dikupasnya kepedihan saat malam tiba
mengunyah kemolekan bayangan cinta
di rajutnya semua impian
dengan senyum pias tersembunyikan

Dikaulah kupu kertas bernyawa
menjalani retas hidup ini tanpa batas
disergah semua cibiran bibir beretas pedas
hanya jiwamu yang menangis pilu saat kesendirian menghampiri tanpa peduli

~ Puji Astuti ~
Jogja, 11.04.2018



DERITAKU ADAKAH MELURUHKANMU

Lihatlah kakiku yang berdarah ini
melepuh di setiap jengkal langkah
meneteskan bercak darah merah
meninggalkan jejak-jejak terpengarah

Kulihat di sudut matamu
begitu angkuh mendera
seakan tak terusik melihat yang terjadi
membatu bagai pualam di tengah lautan

Harapan tinggallah serpihan
kau berlalu tanpa mengindahkan
tetesan air mata telah kering terkuras
akan keberadaan hatimu yang semakin jauh meninggalkan tatap kepedulian

~ Puji Astuti ~
Jogja, 11.04.2018



KENANGAN KEMBALI MENGUSIK

Enyahlah dari hadapanku
lenyapkan semua bilah-bilah senyummu
agar lara ini tak berdarah lagi
untuk aku bisa melupakan manisnya rangkaian kisah ini

Hatiku tertusuk sembilu jika mengenangmu
berderai air mataku tak terhenti
sesak napasku mendera dada
kepiluan menyelubung di segenap rasa

Kesakitan yang tak terperi
bagaikan tergores belati disiram cuka
meregang tertahan
denyut nadi terhenti menahan laga derita

Biarkan aku meniti waktu
tanpa kenangan menghantui
terkaman beban merobek jiwa ini
membuatku terkapar di kubangan luka yang tiada akhir mengikuti

~ Puji Astuti ~
Jogja, 11.04.2018



PENANTIAN SETIA


Mulai memutih belahan rambut di kepala ini
menjadi pemilik waktu yang telah berlalu
menanggalkan belasan kisah
menuai rajutan kasih suci di hati

Terenggut sudah separuh jiwa
saat dikau terbaring di haribaan abadi
di sini aku akan meniti perjalanan sendiri
sambil mendekapmu dalam setiap mimpi

Sepasang foto usang masih tersimpan
sejarah menorehkan pagutan asmara kita
seakan dirimu bersanding selalu
menemaniku menggelar sisa waktu

Penantian indah
dengan jiwa penuh rasa setia
perjuangan ini akan terangkum sempurna
sampai saat perjumpaan kita di pintu surga

~ Puji Astuti ~
Jogja, 10.04.2018



CINTA BULAN APRIL

Berlarilah ke arahku jangan hatimu ragu
cinta ini bukan terbuat dari emas namun murni dari hati
kita mencoba merangkai rajut temali kasih
di antara hujan badai bulan April ini

Kugenggam jemari untuk meneguhkan asamu
bahwa aku ada untukmu kasihku
pendaran rasa di setiap napasku
akan merasuki sendi-sendi jiwa yang kau miliki

April adalah terpautnya dua asa
seiring doa munajat untuk selalu bisa bersama
terjalin indah bunga-bunga asmara
adalah kau dan aku yang kini utuh menjadi kita

~ Puji Astuti ~
Jogja, 13.04.2018



GENTA MALAM

Sepicing mata tak bisa terpejam
kelam malam mulai merambahi waktu
sunyi melabuh di hati tanpa kusadari
mengapa kurasa seperti ini di setiap hari

Kerinduan selalu meremukkan rasa
meremas hati dengan kepekaan asa
seakan jiwaku terbang kepadamu
karena separuh hidupku telah kau miliki

Saat genta malam berdentang
kian meringkuk kalbuku ke sudut resah
betapa kesakitan torehan cinta ini
menyesak di setiap jengkal waktuku tiada henti

~ Puji Astuti ~
Jogja, 12.04.2018



LENTERA KUNANG-KUNANG

Gemericik air di pematang menenangkanku
setelah sekian kali hati terhambur karena dera rindu
padamu duhai yang jauh dari sudut mata
melenggangkan jeda waktu tuk kita bersua

Saat ini aku terduduk menatap malam
terlihat kedip kunang-kunang di hamparan sawah
melambungkan angan akan dirimu
jika saat ini bisa di sampingku

Sepoi bayu bertiup syahdu
menerbangkan lentera pijar kunang-kunang itu
satu menuju kearahku
di telapak tangan kuletakkan bersama pijar kerlipnya

Kekasih
di sini aku memikirkanmu
rindu yang terbalut menyesakkan dada
akankan esok lusa kita bisa tuk berjumpa

~ Puji Astuti ~
Jogja, 12.04.2018



PERASAAN BICARA

Hari ini aku kehilangan keceriaanmu
biasanya kau selalu gaduh membuat usil
sering kumarahi kau dengan geram
akan tetapi ulahmu membidik hatiku untuk luluh

Ke mana pergimu sedari tadi
kekosongan mulai mengusik naluri
tak biasanya kau berbuat begini
pulanglahlah segera ke sini

Hai rasa
kutemui kau di sudut halaman
mengurung diri menyepi
apa yang sedang terjadi

Kecewa membuatmu murung
sakit hati menggerus pedih
kembalilah kepadaku
dan bersama lagi seperti hari yang lalu

~ Puji Astuti ~
Jogja, 16.04.2018



AKU AKAN PERGI

Tadi pagi secangkir kopi kutelan pelan
nikmat pahitnya terasa hambar
bagai bait-bait puisiku di cawan kecewa
berserakan tak berbentuk dan ter-eja

Selangkah kutinggalkan sisa kopi
di cangkir yang telah dingin
sedingin perasaan di hari ini
mendapati puing-puing hati terdera sepi

Entah ke mana kaki akan melangkah
menuruni terjalnya jurang kesakitan
menghantam derai air mata kian mengucur
basahi segenap perasaan yang luluh dan hancur

~ Puji Astuti ~
Jogja, 16.04.2018



TANGISAN PILUKU

Makin lama genggaman ini meregang
kupautkan di sela jemari angan
bingkai foto telah retak
sekedar kau tahu sebentar lagi akan pecah

Kuluruhkan kepingan rasa di selambu malam
menidurkan juntaian mimpiku yang kelam
tanpa warna, pias dan pucat
dengan kegamangan apakah kau masih untukku

Desain hari-hari kupulas ungu
menorehkan betapa kelabunya jiwaku
bilur luka masih terasa basah
seperti baru kemarin tautan ini baru terpisah

~ Puji Astuti ~
Jogja, 16.04.2018



AIR MATA BAHAGIA

Bahagia ini sudah tak beraksara lagi
habis abjad untuk melaraskan makna
hanya tinggal tatapan sendu padamu
betapa hidup ini sangatlah berarti

Di senja dan malam hari
tiada henti bermunajat
untuk selalu bisa memilikimu
sampai tercabut nyawa dari hidupku

Pagi tersaji senyuman hangat bibirmu
tak terasa menggenang di pelupuk mata ini
menetes karena besar cinta itu padaku
telah kusunting jiwamu tuk menjadi pendamping ragaku

~ Puji Astuti ~
Jogja, 16.04.2018



KUSEBUT KAU CINTA

Betapapun jemari kita tersekat jarak
hati berpeluk di setiap waktu
biarlah aneka dera menghujami rasa
sudut bibir hanya mengulum satu nama

Dirimu yang menggugah ketegaran
menemani di saat beruncahnya jiwa
menampiaskan gejolak di pahatan hati
merekahkan mimpi untuk menjadi nyata

Guratan di bait-bait rindu padamu
tersebut cinta untukmu duhai kasih
pinangan bernoktah kesungguhan
sekali bersanding selamanya untuk tidak terpisahkan

~ Puji Astuti ~
Jogja, 16.04.2018



DENGARLAH

Desah napasku terhentak
kala melihat yang terpampang di depan mata
seraut wajah memelas berpakaian kotor
menyusuri pintu demi pintu dengan tatapan kelu

Suaranya parau seperti tersekat
bibirnya pecah bersimbah darah
jemari dekil menggenggam sebutir kerikil
terhujam jiwa menatapi hal begini

Lirih meminta sesuap nasi
berhari tiada pasti perutnya terisi
apakah tidak terketuk hati wahai kawan yang terlintasi
berikanlah berkahmu untuk dia yang sudah tersandang fakir dan cobaan

Suara doamu terdengar duhai insan yang papa
nikmati sepiring hidanganmu hari ini
derap langkahmu semoga diberi kekuatan
sampai jejak kakimu terhenti karena kelelahan

~ Puji Astuti ~
Jogja, 15.04.2018



KESENJANGAN

Ada yang mengusik dasar jurang hati
menanyakan apakah rindu masih kau miliki
sedangkan jarak ini merentangkan rasa
tuk bisa saling memagut keutuhan cinta

Aku selalu melingkarkan setia
dalam kubah gelimang keraguan
menoreh puisi-puisi tersisip harapan
penuhi makna di bukit kepercayaan

Uluran jemari merentang sepi
tanpa bisa mencium aroma wangi kekasih
mengguncang dada kala hasrat menggelar mimpi
terasa kesenjangan ini begitu meresah hati

~ Puji Astuti ~
Jogja, 30.04.2018



HILANGNYA SEBUAH NAMA

Pernah kupeluk dirimu
dalam sebuah dimensi waktu yang lalu
tanpa bisa kueja lagi kini
begitu kelu menyebut aksara namamu

Serpihan yang kau taburkan
begitu hancur meluluhkan buncahan hati
kubalurkan di luka ini
untuk bisa melupakanmu dengan perihku

Nama itu kupenggal satu-satu
aksaranya kini tak lagi beraturan
berbaur dengan tetes kecewa
menikam lara di basis luka

Hilanglah dan sirnalah
tak kusebut lagi titian kenangan
gelapnya perjalanan kini temaram tersinari titik lilin
pijarannya menerangi bilik jiwaku yang terbalut sepi

~ Puji Astuti ~
Jogja, 29.04.2018



PURNAMA MERAH

Senja temaram tersusul gelapnya alam
di ujung timur kemerahan emas membias
dengan mega yang berarak-arak
mengikuti semilir bayu malam

Purnama begitu sempurna
indah dan tiada sedikit pun celah
terlintas kembali satu jejak
kisah asmara di bawah sinarnya

Merah warna bulan di langit
begitu pula memerah polesan kanvas hati ini
kala cinta bermain api
terbakar rasa dan lubuk kalbu

Aroma wangimu
masih lekat di penciumanku
saat begitu dekatnya dera membakar kita
kini jiwaku kelu setiap purnama merah kembali menampakkan sinarnya

~ Puji Astuti ~
Jogja, 29.04.2018



PUPUS

Tetes ini belum usai mengalir
saat langkahmu berlalu dan pergi
luluh dalam simpuh
debur rasa mengulum segenap pilu

Terpaut di ujung senja
geseran siluet menjelma
menyisir kembali sekelebat rindu
yang dulu pernah membungkus hatiku

Kini kurajut hari panjang
harapan terlepas dan kandas
retas asapun mulai usang
seiring bayangmu seperti fatamorgana dan menghilang

~ Puji Astuti ~
Jogja, 28.04.2018



RAIHLAH JEMARIKU
By : Puji Astuti


Kutangkup genggaman ini
lekatkan di depan dadamu
inilah aku
untuk berikrar mencintaimu

Senyumlah yang termanis hari ini
tatap sedalam apapun di mataku
samudera kasih telah terpapar
di segala penjuru tepian hati

Jangan pernah ada air mata
biarkan luruh bersama janji setia
tukar keraguan yang mendera
bisikan jiwaku selalu akan menjagamu

Mari ikatkan jemari kita
sandarkan di bahuku segenap resahmu
akan kupeluk ragamu sepanjang waktu
karena engkau gubahan dari semua puisi-puisiku.

Jogja 25.04.2018



OBSESIKU


Terlanjur kusunting bunga malam
untuk bersanding di dalam mimpi
memetik ranum wanginya
dan rebah bersama di hening ini

Senandung cinta gulirkan tetes air mata
kebahagiaan terlahir
anak puisi membait di lesah rasa
geliat kehidupan mengecup mesra

Pagut kasih begitu sempurna
di sela kabut embun yang turun
peluklah gigil tanpa selimut
dekap erat gelisah hati tanpa takut

Dera napas iklas terharu
meluncur deras dari sudut bibirmu
tiada lagi batas ragu mengganggu jiwa
dirimu telah utuh menjadi milikku

~ Puji Astuti ~
Jogja, 25.04.2018



MEMAPAH KEBENCIAN

Ingin kutarik rambut ikalmu
saat kau menghujamkan belati kata untukku
ungkapan serapah tak berarah
mencungkil ketenangan hati yang terdiam

Dirimu bagai seorang pecundang
mendengus tanpa malu dan tersipu
kau ambil segala mertabat derajat
dirimu kau seret dalam dendam kesumat

Sudahkan sehening malam ada di jiwamu
diam dan meniti waktu
menuruni kobaran api yang tak terkendali
cobalah renggut borgol di hatimu

Kupapah kebencian ini menjadi harmoni
kasihan terhadap endapan ceritamu
birunya matamu cermin luka di atas luka
kau mencoba meredam sekuat rasa

Kilas kebas dan libas
rentang dada di batas lara
jangan kembali liar tak terkendali
tuk pendampingan perjalanan hidupmu kini

~ Puji Astuti ~
Jogja, 01.02.2018



BIARLAH APA ADANYA

Mungkin kita harus diam sejenak
tidak usah saling menjamah pikiran
karena sedikit salah memaknai
hati akan terluka dan merasa merana

Berlalunya waktu membuat adanya tarikan rindu
menangisi perasaan yang mendera
biarlah jeda ini merubah pola manja
menjadi sebuah ketegaran bentuk cinta

Satu dari kita memurungkan hasrat
aku atau kamu berilah sebuah semangat
tidak saling mengkhianati
tetaplah apa adanya untuk bisa memikat jati diri

Jaga cahaya di dalam dada
keindahannya biarlah selalu berpendar di kelopak mata
kesejukannya akan memeluk kalbu saat ada cemburu
inilah kita yang sedang belajar untuk menjadi dua hati menjadi satu

~ Puji Astuti ~
Jogja, 26.02.2018



INDAHNYA BERCINTA


Tubuh lusuh berpeluh
tanpa tarikan napas menuai pucuk rasa
membanting lava dalam raga
sejoli aksara dan gemulai irama

Teriakan menggema
di sekujur getar otot nadi
mengaumkan geliat menggelora
dalam satu bait tanpa mata berkedip

Menyatu bergulung erat dipelukan
penuhi isyarat memekik di rongga dada
gemuruhnya meledakkan tangis
untuk bisa menyampaikan makna

Terbius indahnya sekujur syair
terlarung di lautan percik rimanya
begitu terpuaskan dahaga cinta
di akhir riuh dengan linangan air mata

~ Puji Astuti ~
Jogja, 22.02.2018



PENCARIAN


Di lipatan puisi kumencarimu
untuk memaknai semua aksara terlampir
sedangkan keraguanku mulai subur
dalam lafal-lafal kisah yang terlahir

Jelajahi sedikit iramamu
menyusutkan dera rasa penasaran
waktu adalah penuh arti saat menggenggammu
di batas titik puncak klimak lantun syair itu

Aku masih menikmati
arti napas cinta di dalam larikmu
mengumandangkan gerusan hati melinangkan kebahagiaan
duduklah di sini bersamaku
untuk menghentikan langkah pencarianku

~ Puji Astuti ~
Jogja, 22.02.2018



KEBOSANAN

Meja masih kosong bahkan berdebu
duduk aku bersilang dagu di sudutnya
sejenak memikirkan, enak kalau ada kopi
menjadi teman saat jiwaku penuh rasa bosan

Namun kopi bisa membuat perutku perih
dengan asam lambung kian meninggi
tak urung kusingkirkan ide semula
kembali aku terdiam tanpa inspirasi

Terlintas lemon tea yang dingin
pasti menyejukkan tenggorokan hausku
sayangnya aku sedang batuk saat ini
kesekian kali kubuang satu keinginan lagi

Makin jenuh pojok-pojok pikiran
tersumbat jejal berjuta elemen rasa
kemana kusingkirkan penat bosan menjerat
aku beranjak dan pergi meninggalkan meja yang tetap berdiri di senja sepi

Jogja, 21.02.2018



PANASNYA KOTAKU

Terik menghujam kotaku
yang seharusnya sejuk oleh rindangnya paru-paru bumi
namun beberapa hari mentari memanasi wajah tanah kelahiranku ini
hujan pun seakan enggan untuk turun

Gelimang roda-roda berputar
menambah sesak dan sempitnya tuk bernapas
jantung Malioboro pun merasakannya
bahwa Jogjakarta sudah berubah menyusul geliat metropolitan

Alun-alun utara tempat keraton bersolek
saat malam hingar dengan pedagang kaki lima
semakin larut suasana luruh syahdu
aku pun masih terduduk di sudut lingkarannya

Jagung bakar, minuman ronde panas ciri kehangatan
menemani semilir angin di malam hari
sampai ayam berkokok, beranjaklah aku pulang
merenung dan menyongsong matahari untuk kembali memanasi tubuh kotaku

~ Puji Astuti ~
Jogja, 20.02.2018



SELIMUT HATI


Di malam hari pun kita bersama
apalagi di keseharian ini
aku memitra denganmu
untuk meredamkan ganasnya hidup ini

Kau bagai napasku
yang setiap waktu memberi semangat
melerai pilinan warna yang hadir
di detik kelelahan kerja ragaku

Kita biasa melahap ketidaksesuaian
untuk makin mendekatkan hati
kesabaran tak pernah akan habis
antara kau dan aku merenda bahtera ini

Sesekali kau memanjakanku
mendaratkan sebuah erotis kecupan manis
menyulut gelora rasa
selimutilah aku dengan ragamu

~ Puji Astuti ~
Jogja, 20.02.2018



KESEHARIANMU PAK TANI

Pagi buta sudah memanggul cangkul
menyusuri liku-liku pematang sawah
hijaunya daun-daun padi
mengembangkan senyum di bibirmu

Hari ini
engkau membersihkan rumput ilalang
di antara padimu yang mulai menguning
esok harapanmu, akan panen melimpah

Membungkuk badanmu kini
tertimbun kelelahan mematri
tiada susah di wajahmu gurat setengah baya
lahan ini pun bagaikan istrimu yang ke dua

Terik mulai memanasi sisi punggungmu
membuat hitam melegam kulitmu
tak urung kau istirahat sejenak
sambil mengepulkan asap putih rokok ke udara

Lingsir matahari melewati kepalamu
beranjak pulanglah engkau
meninggalkan jejak tanah basah di kaki
untuk kau gauli kembali esok hari

~ Puji Astuti ~
Jogja, 20,02.2018



BOSAN AKU

Jangan handrik aku dengan kata-kata itu
bosan mendengarkan celoteh tak bermutu
keluhan tak perlu kau lontarkan
keseharianmu yang penuh kesia-siaan

Apalagi rayuan gombal kau semburkan
muak aku, tak berguna itu
apa yang kau andalkan?
sedangkan hidupmu tak menentu tujuan

Harapanku
segeralah sadarkan pikiran dan hati
merenungi semua yang terjadi
agar kebosananku padamu pun ikut pergi

~ Puji Astuti ~
Jogja, 20.02.2018



KOPI DINGIN

Aku teringat akan kopi
saat kusuguhkan dengan ramuan cinta
tertata di meja kerjamu
kau biarkan membisu tanpa seberkas senyum

Kau tak luangkan waktu
meminang seduhan pagi itu
tertanggal setetes air mataku
betapa kecewa hati ini karenamu

Saat ini petang menjelang
kucoba lagi bingkiskan secangkir kopi
dengan kehangatan jiwaku
untuk segera bisa kau raih dalam pelukan malam yang akan segera datang

~ Puji Astuti ~
Jogja, 19.02.2018



KECAMUK HATI


Di sini
Di saat kesendirianku mencekam

Tanpa ada suara yang terselip di alur bayu dan dedaunan itu
Diam dan diam

Senyap
Seakan menggulung semua asa yg tertata di dalam dada
Mengikiskan, melabirinkan angan dan menyesakkan rongga
Berlari dan berlari seakan bayangku berkelebat sendirian di lorong jalanan

Hening
Kikis bilik hati yang menuntun kristal ini berhambur pelan namun pasti
Tak terlampin secawan kisah yang lalu
Namun akulah yang saat ini adanya

Kecamuk kalbu ini beruntun
Memupuskan dan menumpulkan yang namanya cinta
Terlampaui waktuku tuk ingat padamu
Yang jauh dari deretan dimensi jarak penentu

Aku
Di sini terkatup sendiri menikmati yang namanya sepi
Tuk mencari jati diri yang sempat sesaat terhenti

~ Puji Astuti ~
Jogja, 18.02.2018



KALAU ITU MAUMU

Pertengkaran ego makin meruncing
hatimu keras bagai batu pualam hitam
tak bergeming oleh permintaanku
demi bersatunya dua ego ini

Persyaratan ketat kau benamkan
realita sudah menjadi makanan basi
sedangkan aku masih memikirkan
masa depan untuk bisa menuangkan pertanggung jawaban

Akankah ini menjadi perpisahan dua rasa
yang tak mungkin dikumpulkan dalam satu bejana
aku pun masih punya mimpi
sedangkan kau tak ingin menyertai

Ini mauku
itu maumu
baiklah kalau begitu
selamat bertemu di lain waktu

~ Puji Astuti ~
Jogja, 19.02.2018



MIMPI SEMALAM


Begitu dekat aroma tubuhmu
menyapu erotisnya penciumanku
namun mengapa kau menjauh?
sedangkan aku sedang menikmati lembutnya wangi ini

Jangan pergi ketika aku memintamu
kerinduan ini sudah membakar seluruh desah napasku
di malam ini adalah titik temu yang kurindu
tapal batas antara cintaku dan kasihmu

Namun
dengan diam kau lepaskan tanganku
tubuhmu pudar menjadi serpihan cahaya
berpendar di bawah sinar lampu
bagai pasir keemasan berkilauan

Cinta
keinginan jadi hampa
seiring lenyapnya rona bayangmu
betapa mimpi ini selalu menghantuiku
dalam setiap lelap tidur malamku

~ Puji Astuti ~
Jogja, 19.02.2018



SAKITNYA AKU

Perjalanan pagi ini aku mulai dengan dentuman
menggelegar di sudut bayangan rasa
adakah masih bisa aku mengais
setumpuk harapan untuk meraih imajinasi

Kebebasanku terpukul
terikat seutas tali serabut
begitu erat kencang membelenggu
menggeliat pun tak mampu

Darah mulai menggenangi kelopak hati
bercampur dengan setetes tinta ungu
makin pekatlah kebekuan ini
tuk bisa aku lerai menjadi sekuntum desis emansipasi

~ Puji Astuti ~
Jogja, 19.02.2018



HARAPAN IBU


Anakku,
ibu telah melahirkan dan membesarkan kalian
dengan cinta kasih menumbuhkan jati dirimu
sering ada marah di dada
namun tidak ada rasa sedikit pun membencimu

Anakku,
semoga engkau bisa membawa amanah
menjadi pemimpin untuk generasimu
jadi panutan orang-orang di sekelilingmu
bisa bijak dalam melerai kekusutan yang mengganggumu

Jalin dan peluk saudara kalian
sepeninggalku sudah baku tali erat itu
jangan cerai berai tapi bersatulah
hanya itu yang ibu pesankan
untuk anak-anakku.

~ Puji Astuti ~
Jogja, 08.02.2018


INGIN


Gemetar dera hati
untuk memulai mengeja aksara mati
seakan berhenti menusuk geloraku
saat sederetan huruf-huruf gelombang cinta mengejarku kembali

Kutengadahkan wajah lusuhku
ditenggarai senja dipenuhi hujan
dari mana lagi arah kupetik pertamakali
denting titik koma menghantui imaji

Biarlah kudekap setumpuk angan
kemasannya kurenda jingga
tanpa warna keemasan
begitu natural apa adanya

~ Puji Astuti ~
Jogja, 11.03.2018



DIAM

Berawal dari rengkuh rasa
Bersambut yang bercorak cinta
Melembayungkan desiran hati
Melemaskan ikatan imajinasi diri

Sungguh tak ternodai itu bunga
Kerling jingga melapukkan daun daunnya
Magis aroma yang melepuhkan hati
Tuk segera mencium kelopak wangi

Aku yang terpana
Aku terpesona
Di ujung bimbang di simpang jalan
Mematuk diri tuk membelah artinya

Hai dikau yang di sana
Kulemparkan senyum sahaja
Jangan di kulum sendiri
Karena aku tetaplah punya hati
Yang kubagi demi sesama ini

Kutersudut di belahan kasih
Tertunduk diam dan tak tergeming
Separuh nafasku telah dibawa pergi
Oleh pemilik cinta yang ada di hati ini

Rinduku berkabut ungu
Yang menyemburatkan rasa hati
Sedalam ini kusematkan namamu
Agar senyumku selalu ada di hidupku

Terdiamku adalah bahagia
Tertundukku adalah keputusan
Senyumku untuk cinta
Dan akan berhenti di lelang waktu
Yang akhirnya tertidur dan terbujur
Di pangkuan dingin dan raga yang kaku membeku

Jogja, dini hari



TAK TERPUNGKIRI

Hari ini kurasa sepi di hati
Duduk sendiri di teras rumah
Menerawang jauh tak terasa menetes di pipi
Terkenang kembali waktu yang telah terlampaui

Masa berlalu cepat serasa baru kemarin
Tangan dan kaki ini merangkul segala lelah
Menjadikan peluh sebagai semangat hidup
Menjangkau keinginan menjadi kenyataan

Kini bersimpuh dengan iklas
Menjalani hari mengiring usia terlepas
Dan tua itu pasti mendatangi
Tak terpungkiri mengganti segalanya dari belia menjadi renta

Mendekatkan diri pada Sang Pencipta
Memenuhi jiwa tuk meminta ampunan
Titik akhir segera kan tiba
Meninggalkan dunia yang terlalu fana

Karya : Puji Astuti
Jogja, 15.02.2021



AKHIR PERJALANAN

Tangis memecah di siang nan terik
raga kian dingin membeku
mata sudah terkatup
gerak nadi pun berhenti berdegub

Terkesiap jiwaku memandangi
akhir sebuah perjalanan kehidupan seorang hamba
tak dapat menjeda ataupun menunda
jika telah tiba saatnya

Serasa terhimpit rasa di dada
merenungi berartinya waktu diberikan
begitu lama terlintasi dan terluangkan
namun tersia-siakan hanya untuk mengejar impian

Kematian kita tak tahu datangnya
semua yang terkejar akan ditinggalkan
amalan sedikit dibawa sampai ajal
betapa bodohnya jika hanya menggeluti kesenangan
sedangkan akherat di nomer duakan

Akhir perjalanan pasti ditemui
batas pencarian bekal untuk di keabadian
menghitung berat dan ringan
inilah titik kita lepas dari lingkar keduniaan

~ Puji Astuti ~
Jogja, 03.04.2019



SENJA

Untuk kesekian kalinya
semilir angin sore ini menggeluti perasaanku
mengunduh selepah rindu tuk menjamah angan
betapa inginnya aku mendengar kisahmu

Lembar demi lembar tergores tinta
dengan aksara penuh tantangan rasa
berdebat dengan pucuk-pucuk ragu
seakan tak percaya saat ini aku masih begini

Duhai pedih
mengapa kau ini selalu berceloteh
tak tahukah bahwa aku mulai penat
setiap kali menyisir gelisahmu yang berkobar

Seperti saat ini
senja berkabut rinai hujan
mendesak gigil jiwaku yang mulai dingin
oleh kekhawatiran akan guguran tangisan

Lembayung senja di punggung gunung
biasnya tertimbun pekatnya percik hujan
ronanya terbaur bersama remangnya malam
makin terasa resahku dan gelisahmu ngelangut duhai pedih

~ Puji Astuti ~
Jogja, 10-01-2018



KABARKU


Kemana pergimu
tanpa identitas letak pijakan
hilang menghentikan alur
hingga aku pun tak dengar lagi hela napasmu

Sejenak ingin mencari di gelapnya remang
mengobsesikan segala bayang-bayang
betapa gusar perasaan menggerayang hati
seakan pupus segala pencarian ini

Gemuruh luka kian menganga
menggerus palung jiwa terdalamku
menghentikan langkah lelah
untuk mendapatimu di berbagai arah

Adakah lorong gelap itu persembunyianmu
mendengus hawa pelarian dari kenyataan
mengubur keseharian dari keramaian rasa
bagaikan seorang pidana pendosa

Kutunggu jejak derumu
seperti saat berpacu di jalanan rindu
tak mengenal putus asa 'tuk bertahan
penantianku adalah sepanjang harapan

Inilah keadaanku
sentakkan perindu
genggam kepalan hati
menunggu pulangmu kembali di sini

~ Puji Astuti ~
Jogja, 10 Januari 2018



LELAKI ITU

Lelaki senja yang tegar
Saat kaki mulai letih
Uban merengkuh segala beban
Mata makin meredup
Di antara tertatihnya perjalanan

Termangu di serambi rumah bambu
Yang dulu ramai dengan celoteh anak cucu
Kini di senja kesendirian bisu
Bercumbu dengan kenangan lalu

Tersenyum sendiri
Memagut memandangi secangkir kopi
Ada kesedihan terlintas di mata itu
Bila ingat cinta terenggut maut
Kekasih telah lebih dulu dijemput

Tegarlah lelaki tua
Menanti di ujung sepi
Kelelahanmu bersama sang waktu
Telah membingkai di sekujur telapak jarimu

~ Puji Astuti ~
Jogja, 29012017



BENCANA DI KOTAKU

Tetes air dari karuniaMu
mengguyur kota tanpa jeda waktu
berhari dilingkari rada gigil dan nyeri
cuaca tanpa basa-basi menghakimi bumi

Kotaku terlimpahkan air bah
merendam sewilayah dan daerah
kelebihan takaran tumpah ruah melanda desa dan kota
menerjang apapun yang ada di depan mata

Jembatan roboh terputus
tanggul pun jebol tak kuasa menahan arus
tanah gelimang longsor mengubur
doa dan doa kini dimunajatkan
untuk keselamatan dan terhindarkan dari murka alam kali ini

Badai CEMPAKA mengintai di atas awan
melintasi dari benua seberang
puting beliung memporanda terjangnya
membantai tak mengenal belas kasihan

Sematkan waspada saudaraku
sigap dan berjalin jemari 'tuk saling membahu
kita adalah satu untuk semua
di atas duka ada hati kami yang terluka
dikau tidak sendiri menanggung beban ini

~ Puji Astuti ~
Jogja tergenang
28112017



BIAS BAHAGIA

Rindu
Bertajuk sendu
Merambah biduk jiwaku
Detik ini mungkinkah bertemu

Kugapai seiring bias senja
Menitik rinai gerimis
Membasah kalbu
Sendu

Indah
Tiada tersanggah
Kenangan kita rangkum
Dalam senyawa hati berteduh

Gemuruh riuh laju rindu
Tergapai riak berlabuh
Tergenggam erat
Lekat

Cinta
Kini termiliki
Mimpi menghias hari
Tiada lagi keraguan hati

Berjalan bersama damai rasa
Genggam hangatkan jiwa
Hilanglah gigil
Raga

~ Puji Astuti ~
Jogja, 27112017



MENANTI PERPISAHAN
#Kolaborasi : Ria Mi, Yulia Roza dan Puji Astuti


*YR
Mengapa kau menangis?
Padahal kumasih di sini
Kini ku bingung menentukan siapa di antara kita yang paling sedih

Kau tahu?
Hari yang kita anggap tidak berarti
Kini menjadi sangat berharga

Apa yang mampu kulakukan?
Pabila perpisahan itu telah tiba
Ku ingin selalu bersamamu
Ku juga ingin selalu tersenyum bersamamu

Seperti sang mentari yang terbit di ufuk barat
Yang memancarkan keceriaan dan kehangatanya

Ku ingin memberikan semuanya
Agar selalu bersamamu

Meski kita akan berpisah di masa depan
Namun kupercaya, suatu saat kita akan kembali bersama

Ku tak akan lupa waktu yang kita habiskan bersama

Ku harap, kita akan selalu tersenyum
Hingga perpisahan itu tiba
Dimana kita saling melambaikan tangan

Apa yang mampu kulakukan?
Pabila kau terus saja menangis?
Tersenyumlah!
Sang waktu masih terlalu panjang untuk kau tangisi
Dan aku masih di sini
Hingga tiba saatnya kita melambaikan tangan
Sembari saling tersenyum untuk terakhir kalinya

**PA
Meski kita akan berpisah dalam waktu lama

Betapa pun itu mencengkeram kalbu ini
Namun harus kita lalui

Kebersamaan yang telah terlewati jangan kau lupakan

Karena aku sungguh mencintaimu dengan segenap hati ini

Biarlah kenangan ini menjadi teman dalam perjalananku

Tersenyumlah untukku
Dan kuharap, bukan 'tuk yang terakhir kalinya
Namun untuk perpisahan yang harus terjadi ini

Kutitipkan cintaku padamu
Dan akan kubawa cintamu sepanjang waktuku

Simpanlah semua kenangan kita, sampai nanti kita akan merajut rindu yang tertunda

*YR
Kini kutersadar bahwa semua pertemuan akan ada perpisahan
Jua semua awal akan ada akhirnya

Mungkin kau belum menyadarinya
Semua waktu yang kita lalui sangatlah berharga

Hingga tiba-tiba kau menyadari perpisahan itu telah di ufuk mata

Kita saling melambaikan tangan
Meski air mata mengaliri pipi
Kita tetap tersenyum

Kita berpisah
Meninggalkan kenangan

Di tengah kesedihan
Kita terkadang kehilangan kata-kata

Seperti kucing yang kehilangan arah pulang
Aku menjadi bingung dan membisu

Ketika kita bertemu kembali
Hanya satu kata yang ingin kucapkan padamu
Terimakasih...

Bahkan pabila ku dipenuhi luka
Ku ingin selalu bersamamu
Setidaknya ku memiliki kenangan saat bersamamu
Dan ku selalu merasa... Kau... Ada di sini..

***RM
Ingatlah!
Sapu tangan ini
Pernah terisi isak tangismu
Dan isak tangisku
Kala semua harus terjadi
Aku tetap bersama
Dalam suka dukamu

Jika disuatu masa kita sempat bersua
Itu adalah harapku jua
Sepi kini, tak ada tawamu
Tertawalah!
Menangislah!
Meski jarak memisahkan kita
Namun tidak dengan hati kita

Kau boleh melambaikan tangan
Namun hati mari berjabat
Inilah caraku mengenang rasa
Agar tak terlupakan semua kenangan

*
Andai terkabulkan satu harapku..
Ku ingin selalu bersamamu...
Berbagi suka dan duka bersama...

Tidak akan ada kenangan yang kita tinggalkan bersama sapu tanganmu itu...

Meski merelakan peta impian yang akan sirna...
Aku tidak akan bersedih...
Karena bersama denganmu..
Ku bisa meraih lebih banyak impian yang lebih indah...

Selamat tinggal....
Terimakasih...
Ku tak ingin mendengar ucapan itu...

Yang inginku dengar adalah...
Aku menyayangimu...
Tersenyumlah...

Karena ku tak ingin ada kata perpisahan diantara kita..

**
Kita telah mengisi hati dengan cinta tulus
itu adalah hal terindah selama hidupku

Jangan tersakiti karena jeda waktu yang singkat ini

Kepergianku untuk menjemput impian kita kasih
Tersenyumlah untukku

Bagai mentari yang menyinari bumi, itulah berharganya senyumanmu

Ku ikuti langkah kaki dengan iringan bayangmu
temani aku di waktu yang selalu bergulir ini cinta

Aku menyayangimu
Aku mencintaimu
Seperti ungkapan yang ingin selalu kudengar dari bibirmu

Tersenyumlah untukku... Selamanya!

~ 02102017 ~



TERPUTUS

Kau pinang cintaku dengan segenggam rasa
melangkah bersama mengarungi indah dan manisnya dunia
menjadikan aku mutiara terindah
menjaga untaian kasih sepanjang usia

Namun mengapa kini terbalik
manisnya madu menjadi empedu
mutiara indah tinggallah seonggok sampah
indahnya layang-layang cinta akhirnya terputus jua

Rinai hujan di musin kemarau
tak mungkin menyejukkan dera kecewa hati
pergilah mengejar ke mana arah angin
yang akan membawa layang-layang cintamu

Hilanglah dari kerjapnya mata
segalanya telah berakhir seperti mimpi
menghancurkan harapan hati
sirnalah yang ada menjadi tiada lagi

Aku masih menunggu rintik-rintik di musim ini
akan melantakkan bayang layang-layang kertas
'tuk menemukan hati tulus suci
mengajakku ke altar kasih sejati

~ Puji Astuti ~
Jogja, 06122017



SAKITNYA MASIH ADA


Kuntum mawar segar meramu pagi berseri
seekor belalang masih enggan terbangun di kelopak merekah
kiranya telah usai bermimpi di malam nan dingin
menggeliat penuh nikmatnya rasa raga

Pemuda tampan berlenggang bersiul
rasa batinnya dipenuhi kuncup-kuncup kerinduan
senja kemarin hatinya luluh dipeluk sang bidadari
seakan dunia ini tidak ada lagi warna kelam

Bunga mawar indah perlambang kasih
dipetiknya untuk kekasih pujaan
namun jari tertusuk duri tajam
'tak dihiraukan darah mengucur merah

Bunga terbungkus selengang cinta
dipersembahkan dengan harapan nyata
memetik buah kehidupan bersama
di permadani suci dan abadi

Tertambat hati meluluhkan logika
menipu mata mengoyak rasa
harapan melambung terhujam kecewa
dipermainkan bidadari ternyata telah mendua

Sedu sedan kalbu tersakiti pilu
menanyakan apakah salahku?
kesucian cinta tersambar perihnya kenyataan
kiranya dewi durjana hati

Mawarku masih tergenggam
sakitnya pun masih terasa ada
saat memetik tangkainya
kini berpadu dengan sakitnya sembilu di dadaku

~ Puji Astuti ~
Jogja, 05122017



CINTA PERTAMAKU

Sepagi ini aku ingin segera sampai di sekolah
sejak semalam ada rindu yang menggayuti jiwa
seakan ada ujian semester
sesak dadaku mengiringi langkah kakiku

Pucuk dicinta ulam pun tiba
sepasang mata binar ada di dekat pagar
senyum terlempar sangat manis
menambah parah deru detak nadiku

Engkau begitu mempesonaku
menghilangkan segala resah jika bertemu
ungkapan rindu selalu tertuju
untukmu kakak kelasku

Gayung bersambut di perahu kertas
kau menjemput rasa hatiku di batas was-was
seandainya cinta bertepuk sebelah tangan
betapa akan remuk redam jiwaku yang telah tertawan

Gelora cinta milik remaja
kau dan aku di antara berjuta rasa
memupuk rindu dan kasih biru
di sela bertumpuknya buku-buku

Merajut hari untuk membingkai mimpi
semoga esok selalu bisa seperti ini
saling memberi harapan dan motivasi
cinta kita akan menjadi prasasti yang abadi

~ Puji Astuti ~
Jogja, 05122017



KOPI DI ANTARA RINDU

Beberapa purnama telah berlalu
menelanjangi hari-hariku yang terpuruk luka
serangkaian cambuk rindu melukai dinding kalbu
seakan roboh segala ketegaran jiwa
di batas keinginanku untuk bertemu

Lara ini sungguh membunuhku
jika kau memang cinta kembalilah
setumpuk sampah air mata telah terkuras
hanya untuk melepas pucuk-pucuk daun rindu

Terdengar di lubuk batinmu
hari ini kita akan berjumpa
di taman asri seperti saat pertama
bias-bias cinta menaungi dua hati

Duhai belahan jiwa
jangan lagi permainkan bilah rasa
renggut semua tirai kelambu
kala menghalangi rengkuh impian kita yang satu

Aku suguhkan kopi di cangkir penuh kasih
manis melekat di kerongkongan nikmat
melumat segala ragu di dadamu
meramu rindu di antara tetesnya kopimu

~ Puji Astuti ~
Jogja, 05122017



TIADA SENDIRI LAGI

Di tepi pantai senja hari
berdebur ombak memecah pasir putih
tersentuh seulas senyum menghampiri
detak jantung terasa kencang berlari

Sapamu menggelitik kalbu
hadir cinta di pandang pertamaku
ternyata engkau teman kecilku dulu
yang selalu bersama di kala bermain, bercanda menghabiskan waktu

Kini kita berjumpa setelah sekian lama
kau pun masih sendiri sama sepertiku jua

Duhai kenangan,
kembali menyulut hati dengan kasih
menjadi cinta masa remaja
memberi bunga-bunga bahagia

Di malam rembulan keemasan
ucap lirih cintamu melambungkan asaku
kebahagiaan ini serasa sempurna
setelah sekian lama mengembara

Kesendirian tiada lagi
kutemukan arti dalam hidupku
dikaulah yang kucari selama ini
membawa cinta saat purnama ke dua
di kala memancarkan sinar begitu indahnya

~ Puji Astuti ~
Jogja, 02122017



TERJERAT

Meretaskan segala kekuatanku
untuk bisa mengalihkan segala perasaan ini
bergelimang harta tak menjanjikan bahagia
namun ikatan noktah ini meleburkan raga

Cintamu berbaur kekerasan
melupakan kelembutan kasih
jauh dari kepedulian rasa
melumpuhkan asaku saat telah terjerat padamu

Ingin kuakhiri namun tiada berdaya
melihat mungilnya redup mata hatiku tercinta
tiada tahu beban ibunya
berjuang hidup demi untuknya

Sangkar kemilau megah indah
mengapa begitu kesakitan aku di dalamnya
hampa hati bergulung dera jiwa
kubertahan tersenyum demi intan kecilku

Sampai kapan ini akan berakhir?
tiada jawaban yang aku temukan

~ Puji Astuti ~
Jogja, 02122017



HUJAN MALAM

Di antara rinai deras hujan malam
segurat kenangan kembali menghiasi kisi hati
relung kalbuku sangat merindu
di batas jangkauanku akan jauhmu

Bahagia kita rajut waktu lalu
meremahkan pucuk-pucuk rimpang terumbu
kegelisahan ini mencabik memory
apakah rasa ini sama dengan rasamu?

Malam berkolaborasi dengan sepoi dingin
berstatuskan kepak mimpi di ujung sepi
meleburkan mani-manik resah
harapanku, usai hujan nanti kita bisa bertemu

Cukuplah pejamkan mataku
Untuk melintasi rotasi malam bergelimang makin pekat
Duhai,
cahaya cintamu menjadi lilin
kala badai berkecamuk di dada
melerai perasaan atas sisa keraguanku

Rinai hampir surutkan derasnya
mengapa aku masih bertanya sendiri
akankah engkau akan segera kembali
membalut kerinduan yang begitu mendera ini

~ Puji Astuti ~
Jogja_30112017



SEMBUHKAN LUKAKU


Begitu remuk redam gulana kurasakan
terik siang ini pun sudah tak terhiraukan lagi
aku berjalan menyusuri tepian hulu sungai
tempat kita bertemu waktu dulu

Gamang perasaan saat ini
menelusuri perjalanan cinta ternodai
gemetar bibir menahan pilu
menyeruak di tengah gemericiknya air mengalir

Tetes demi tetes
mengalir air bening di pipi
sesak dalam dadaku
beginikah perihnya tersayat hati

Bersimbah darah merah
sirna semua kepercayaan
hilang keceriaan
semua karena pengkhianatan

Seiring perjuangan jiwa terkoyak
melepaskan kenangan bersamamu
terselip doa
datangnya seorang dokter cinta
untuk bisa menyembuhkan lukaku yang sudah terlanjur dalam

~ Puji Astuti ~
Jogja, 11122017



HANYA UNTUKMU


Pernahkah aku meminta lebih
untuk meneguhkan arti sebuah pengorbanan
tanpa bilah keraguan yang merancu
melangkah kaki bersama di sisimu

Sekian hari, minggu, bulan dan tahun
hidupku terpaku padamu
segenap perasaan tiada paling
bertakhta di hati hanya ada satu nama

Membelah lintas perjalanan
melalui kesekian kali purnama di antara mega
adalah kebahagiaan yang terpancar
mendulang cinta di hamparan indahnya

Debur ombak di kecipak pantai
buih membasuh jemari kaki
bentang membiru tanpa batas
merengkuh gelora rasa dalam dada

Semua itu kurasakan
kunikmati dengan kebanggaan tersendiri
tiada kusesal tanpa alasan
karena engkau adalah anugerah paling sempurna

Hati kuberikan
jiwa sejatiku tertanamkan
duhai, pelengkap tulang rusukku
hanya untukmu segalanya yang ada padaku

~ Puji Astuti ~
Jogja, 12122017



BELAHAN JIWA


Munajat doa selalu ibu lantunkan
tanpa jeda seiring tumbuhnya usiamu nak
berjalanlah dengan arah kiblatmu
santunlah kepada sesamamu

Dengarlah, semua kata bijak yang kau resap
luhurlah tingkah senyum dan sapa
rangkul kebencian sumpah serapah
tunduk pada tetua di mana kau berada

Ingat tanah yang kau pijak bukan tempat kelahiran
hargai keasingan baru menyapamu
jaga harga diri negerimu
itulah bekal dari ibu untukmu

Raihlah setinggi langit cita untuk dibawa pulang
semat gigihnya perjuangan ayahmu
peluh mengguyur wajah penuh gurat
pertanda tiada kenal akan lelah

Bawa selalu nama besar keluarga
jangan permainkan kata yang tak pantas
suaramu adalah kepribadianmu
bertahanlah untuk kemajuanmu

Belahan jiwaku
peluk ibu dalam doamu
mengalirlah ketegaranku
di setiap detak nadi jantungmu anakku

~ Puji Astuti ~
Jogja, 12122017



LAGUKU

Denting dawai kudengar semerdu alunan melodi
melesap sekujur nadi
mengalir di resap-resap raga ini
melantakkan perasaan yang menggantung

Syair kutorehkan di selip nada
indah mendayu memerih sembilu
aksara-aksara memainkan kata
tersusunlah larik-larik sebuah cerita

Kupetik gitar di sebuah senja merah saga
mengalun lirih tanpa jeda
pejam mata tersungging senyum manismu
di anganku kau menemani menyanyikan laguku

Rinduku menyeruak kembali
di bait-bait sendu memilu
mengiris dalam bilah luka
serasa ada tetes bening di pipiku

Terus berlalu lagu demi lagu
menguras semua emosi jiwa
mendeburkan gelora kalbu merana
dan kuakhiri di ujung syair seakan tak percaya
bahwa aku kini sedang terluka.

~ Puji Astuti ~
Jogja, 12122017



DEKAP RINDU

Rindu kian menggayut hari-hariku
terpendam makin dalam menyeret gelisah
senyum dan tawamu seakan dekat
melambungkan jiwa yang sedang terpesona

Saat kita luangkan waktu
meleburkan kasih di temaram senja
taman bunga tempat yang paling asri
untuk saling mencurahkan isi hati

Duduk bersanding di ayunan cinta
dekap rindu sekian lama tak bersua
semilir angin sibak gerai rambutmu
seiring deru kalbu semakin menggebu

Jagalah hati kekasihku
kita ikuti alunan denting keyakinan
impian pasti menjadi kenyataan
untuk menjadi satu memulai hidup baru

Kemarilah
semat jemari ini
jangan lepaskan
biarkan selalu tergenggam
saat melangkah bersama menggapai cita

~ Puji Astuti~
Jogja, 12122017



WAKTU SINGKAT BERSAMAMU


Mega itu betapa indahnya di antara lembayung senja ini
seiring jemari kita saling tergenggam
menguatkan kerapuhan ragamu kekasihku
jangan teteskan air mata itu lagi, karena aku tak sanggup 'tuk melihatnya

Ingatkah saat bahagia
bunga dan cinta milik berdua
senyum, tawa ceria tiada berduka
itulah indahnya kebersamaan kita

Hari berlalu penuh perjuangan hidup
detik per detik adalah sangat berharga
untukku yang begitu mencintaimu
dengan segala lebih dan kekurangan itu

Sandarkan lelah ragamu di dadaku
tenggelamkan segala beban di batinmu
engkaulah permataku
bersamamu selalu adalah impian terakhirku

Aku tak mau melewatkan sedikit pun
waktu singkat bersamamu
hanya Tuhan yang paling tahu
segala apapun terjadi adalah kehendakNya

Seandainya ada pertukaran rasa
ingin aku yang menerima derita ragamu
tersenyumlah kekasih
di antara pilinan kesakitan yang makin melemahkanmu

YAA ROBBI,
berikan aku waktu lebih lama
untuk bersama belahan jiwaku
kuatkah aku mengarungi hidup jika tanpa dia
saat Engkau memanggilnya untuk segera kembali pulang.

~ Puji Astuti ~
Jogja, 12122017



TETES CINTA DUSTA

Masih kupertahankan jalinan kasih
walaupun tersakiti lembaran harianku setiap waktu
kata-kata bermanis madu
melekat di bibirmu 'tuk meyakinkanku

Mendulang kesabaran belum berujung usai
makin pahit tetes cinta dustamu
bermain kata, menghujamkan belati perih
menanamkan kepiluan teramat dalam

Di mana pinangan indah dulu merekah
mengayun rasa, membungkus tirai bahagia
kini tergantikan merejam sakit di dada
menghancurkan impian tinggi yang pernah kulambungkan

Pengorbanan cinta mahal terbeli
meskipun sakit senantiasa tersaji suci
masih tersematkan sebuah harapan
titik kesadaranmu
betapa aku selalu ada di sini
untukmu yang telah mengikat seluruh jiwa dan hati

~ Puji Astuti ~
Jogja, 20122017



TERBUNUH CINTA


Sangatlah ringan langkah kaki ini
menyentuh rerumputan masih basah
semalam hujan telah merinaikan tetesnya
sesegar dada ini menghirup udara pagi

Kusambut cerah mentari
di saat hangat senyum bibirmu menyapaku
terbius akal dan realita diri
seakan kompromi tak bisa berdamai lagi

Mengapa kau begitu penuh pesona?
meracik segala yang belum pernah aku rasa
rindu, resah dan gelora ada di sini
dalam lubuk hati mulai terbunuh cinta

Ingin kukekang bayangmu di tiang kalbuku
untuk selalu bisa kusentuh dan kurengkuh
sepanjang hari dan selama waktu
diriku sungguh telah tersandera siksa olehmu

Menyatulah dengan sukmaku
hanya satu akan bersanding di hidupku
mengarungi rotasi takdir berdua
mengikat jiwa sampai nyawa yang memisahkan kita

~ Puji Astuti ~
Jogja, 19122017



ANGANMU

Akankah masih untukku
debar-debar kegelisahan di rentang jarak
saat kerinduan tersentuh angan melayang
menyusupi hati dan rasa kita yang sama

Bintang di langit kita tatap bersama
walau aku sendiri di sini dan kau di sana
tersebut ada bintang hilang di lingkaran rumpunnya
kau sanjung aku sebagai pencurinya

Mencuri hati dan jiwamu karena cinta
menggulung lipatan kasih sepanjang malam
tak peduli gigil menyusup dinding tulang
kehangatan lesap kalbu menghangatkan syahdu

Lembaran angan meremas jemari
terucap bisik-bisik menggelora rasa
peluk kasih sempurnakan gubahan nada
menciptakan ritme melankolis sebuah karya
nyanyian cinta dari seberang kota yang berbeda.

~ Puji Astuti ~
Jogja, 19122017



MAWAR KERING

Masih tersimpan kelopak bunga mawarmu
begitu mengiris hati setiap melihatnya
namun tak ingin kubuang begitu saja
walaupun telah kering dan tak wangi lagi

Seperti air mata ini
mengering seiring waktu bergulir merentan
mengikuti desir jiwa setiap detiknya
mengenang pelabuhan cinta yang telah pergi selamanya

Di taman bunga kala itu tidak kusangka
adalah pelukan terakhir kau berikan
kepergianmu meruntuhkan rantai hidupku
dalam bejana kepiluan yang teramat panjang

Saat dua purnama berlalu
kegelisahanku masih sama
menggerus palung kalbu terasa ngilu
akankah mampu aku tanpamu sampai hari yang kutuju.

~ Puji Astuti ~
Jogja, 19122017



TIADA LAIN

Dengarlah duhai,
kita memilih melepas cinta ini
walaupun terjalin kisah yang telah memadah
namun ada sekeping hati tersakiti

Lihatlah linangan air matanya
begitu lugu dan memilu
permata hatimu yang masih merindu
bayangan ibunya kala malam tiba

Peluk raganya dengan kasihmu
jaga rentan jiwanya jangan sampai terluka
bimbinglah agar di matanya selalu ada bahagia
dialah motivasi cinta tuk ketegaran hatimu

Hidupmu utuh untuknya
titipan cinta kasih kau dan ibunya
biarlah kini aku mengalah
demi rasa kehilangannya yang belum bisa menerima nyata

Di hati hanya ada satu
seorang wanita penopang kedamaian batinnya
memeluk semua dera kegelisahan
tiada lain itulah ibunya yang kini telah tiada untuk selamanya

~ Puji Astuti ~
Jogja, 23122017



KAU CINTA SEJATIKU

Pertama melihatmu saat semester lalu
kau duduk termenung di taman kampus
penuh duka terpampang di wajahmu
betapa ingin aku lepas kepedihanmu

Singkat cerita kini kau jadi kekasihku
meronakan pelangi setiap bertemu
bercanda melebur rasa
betapa penuh bahagia tapal batas tepian asa

Kisah kita bagai Romy dan Yuli
tak terpisahkan oleh gelombang penghalang
badai asmara lebih kencang dalam dada
mengalahkan deru ombak pantai utara

Manis madu di cawan kita minum
sepiring berdua menikmati pesona dunia
fatamorgana terbiaskan akan kasih ini
begitu melepah pada kenyataan

Inilah cinta sejatiku
kukubur segala ketidakmungkinan
untuk kita bisa lewati lorong-lorong kehidupan
bersama pasti akan tercapai semua impian

Rengkuh jiwamu
kupeluk resah hatimu
genggaman jemariku rasakanlah
kehangatan ini kupersembahkan hanya untukmu kekasihku.

~ Puji Astuti ~
Jogja, 23122017



AKU RELAKAN

Binaran kasih kutangkap dengan jelas
di matamu dan kerling matanya
begitu menyatu dan merindu
sangat menahan gelora saat itu

Dikau pendamping hidup halalku
namun ada benih cinta terlayang untuknya
bisa kurasakan dan tak terelakkan
dua hati ingin melabuhkan derai mimpi

Inilah cinta segitiga yang terjadi
aku tak sanggup melihat kesedihannya
sepanjang hari merenda pernik-pernik kasih
untukmu pelengkap rusukku

Kurelakan dengan segenap hati
jalinan itu menjadi tak terlarang lagi
kuserahkan separuh jiwaku yang kutitipkan
untuknya agar bisa turut bahagia

Ridho ILAHI merestui segalanya
jangan sia-siakan yang telah tertuliskan
simpan sepucuk ragu di hatimu
karena aku tetaplah sama dari dahulu

Dunia ini tidaklah abadi
'tak mengapa cinta terbagi dua
asalkan jangan saling menyakiti
berjalan seiring, menyayangi dan melindungi.

~ Puji Astuti ~
Jogja, 24122017



DERMAGA AKHIR

Pengembaraan di perjuangan cinta
terik mentari semakin melantakkan gelora hati
saat pencarian terasa telah pupus
kegamangan menipiskan jeruji keyakinan

Bulan kemarin kau hadir
menggelisahkan debar jantungku
seakan bermimpi telah menerimamu
serta kusuntingkan kasih ini di dadamu

Kini kau telah menjadi kekasih halalku
memiliki seluruh kehidupanku
menyelimuti di setiap gigil malam
mengecupku saat pagi menyembulkan keemasan berhias tetes embunnya

Lengkap kayuh perahuku
bernahkodakan penuh cinta yang dalam
dermaga akhirku telah bersandar
di bejana kasih suci hatimu hanya untukku

Menyatulah rasa
peluk raga tanpa ragu
kita arungi samudera rindu
melarungkan desah kalbu yang semakin menderu dan berpacu.

~ Puji Astuti ~
Jogja, 24122017



RESTU IBU

Berlinang air mataku
di saat kau melamarku untuk menjadi istrimu
sekian lama menyatukan hati dan rasa
perjuangan untuk wujudkan bahagia

Datanglah kepada ibuku
meminta restu di telapak kakinya
hanyalah dia yang kini kumiliki
satu-satunya penopang jiwaku saat ini

Kekasihku
peluk ibu untuk mendapat izinnya
agar lancar perjalanan kita
senyum ibu adalah senyumku juga

Tenteram hati dan kalbuku
menjadi pendamping hidupmu
satu hati dalam menjalani sunah Nabi
semoga langgeng dalam ridho ILAHI

~ Puji Astuti ~
Jogja, 24122017



HARUSKAH BERAKHIR

Telah jauh perjalanan mengarungi rotasi
menerjang gelombang pasang surut romansa kehidupan
jatuh bangun dalam menggapai tingginya impian
atas nama cinta mengikatkan sebuah benang merah maghligai indah

Betapa bodohnya aku
di sertakannya setetes racun di bejana kasih kita
melantakkan hati yang mulai mengarang
lebam oleh cabikan-cabikan dusta

Dulu senyaman semilir angin di pelukmu
kini jengah penuh kegersangan
keindahan malam-malam bersamamu
berganti kesendirian dan gigil kedinginan

Masihkah kau mencinta
di batas kehampaanku
yang menanti tanpa kepastian
di atas luka ada luka yang kini menganga

Tiada lagi senyum erotis
canda lenyap entah ke mana
haruskah berakhir dayung perahu
kandas di dermaga kesakitan, memporak porandakan bahtera kebahagiaan.

~ Puji Astuti ~
Jogja, 23122017



BUKAN JODOHKU

Aku ungkapkan dengan keyakinan
keinginanku untuk bersanding denganmu
kau yang telah memasung hati dan rasaku
saat berjumpa di sela waktu terluang
selalu kusimpan rapat di dalam jiwa

Entah mengapa tak bisa kupalingkan
perasaan ini kepada yang lain
sedangkan isi hatimu aku pun belum tahu
bersediakah engkau menjadi pelabuhanku

Siang malam gelora ini semakin membara
merenggut setiap sudut hari menjadi terisi kegelisahan
tak mampu menghilangkan sinar citramu
adakah nanti mimpi menjelma nyata

Tertahan napas dan kelu lidahku
mendengar jawaban dari mungil bibirmu
cintaku terlarang sudah
segera cincin pertunangan akan melingkar di jarimu

Sungguh kau tercipta tidak untukku
takdir menuliskan dirimu bukan jodohku
harapan asaku melayang terbang
seperti mega kelabu berarak tersapu bayu

Tinggallah kesendirian ini
untaian kasih kandas tak bertepi
di batas senja terasa ada kehampaan
meluruhkan kepingan hatiku yang kini terejam kekecewaan.

~ Puji Astuti ~
Jogja, 23122017



ELEGI CINTA YANG KAU BAWA

Gerimis mengurung dera gigilku
mengapa hari tak seindah kemarin
mendung masih mengantung di langit
sesekali halilintar terdengar menggelegar

Aku merenungi pesanmu semalam
bahwa rindu kita ini sama
melayung resah dan mengukir debar di dada
setiap memejamkan mata yang hadir adalah getargelisah

Pagi kasih
sapamu dari telepon genggam
senyumku memulas di sudut bibir bergetar
aku ingin kau segera hadir di sini

Sungguh indah elegi cinta yang kau bawa
seranum anggur merah tersaji di cawan madu
titik lesahku menunggu dirimu
melabuhkan rasa di batas cakrawala senja
melembayung sinar temaram menuju peraduan malam

Mimpi segera menari
kecup rayu melambungkan separuh jiwa
manik-manik rasa melekati tirai kalbu
membawa terbang seluruh asa
kumaknai tiap jengkal waktu yang ada.

~ Puji Astuti ~
Jogja, 22122017



SATU RASA

Hadirmu membuat ada pelangi di kalbu
sedangkan kemarin masih berwarna abu-adu di dadaku
semenjak itu terasa indah rona dunia
bersenandung nada nyanyian cinta

Tiap senja pun, selalu hangat sapamu
mengantar mimpi penuh bunga wangi kasturi
lelapku terbawa manisnya madu rindu
membalut segenap kegelisahan

Namun, benarkah kita satu rasa?
sering terlintas pertanyaan di hati
kehilanganmu adalah runtuhnya hari-hariku
seakan tak sanggup jika aku tanpamu

Duhai pemilik kasih
ketentraman ini biarkan tetap di sini
hadirmu sebagai pembasuh kegersangan
teteskan air sejuk di setiap tutur kata
dirimu adalah penuntun langkah arah kakiku

Lemahku akan terganti ketegaran
kusutku terberai oleh bijak yang kau bawa
kebodohanku terhapus karna bimbingmu
gamitlah selalu keresahan ini
dalam peluk cinta dan ketulusan kita berdua

~ Puji Astuti ~
Jogja, 20122017

PUJI ASTUTI






Tidak ada komentar:

Posting Komentar