UNTUK MENCARI PUISI-PUISIMU CUKUP KETIK NAMAMU DI KOLOM "SEARCH" LALU "ENTER" MAKA SELURUH PUISIMU AKAN TAMPIL DI SINI

Kamis, 02 September 2021

Kumpulan Puisi Merawati May - SEBERKAS SINAR DI HATIMU




Bismillahirrahmannirrahim.
ALLAHUMMA Sholli' Ala Sayyidina MUHAMMAD, Wa' Ala Aali Sayyidina MUHAMMAD.
Assalamu'alaikum warahmatullaahi wabarakaatuh.


INSANI YANG TAK BERMARWAH

Aku adalah wanita sederhana
Sederhana dari segala rasa
Rasa cinta, rindu, kasih
Kasih sayang setiap insan

Insan yang memiliki hati
Hati yang tak akan mati
Mati karena amarah durga
Durga dari segala bencana

Bencana melanda para wanita
Wanita yang tak bermarwah
Bermarwah dari segalanya raga
Raga berdosa karena rasa

Rasa malu pada diri
Diri murka akan dalil
Dalil perintah ilahi
Ilahi menutupi dosa insani
Insani yang tak bermarwah.

Karya: Merawati May
Genre: Simpul bebas
Bengkulu, 01 September 2021



SEBERKAS SINAR DI HATIMU
Karya: Merawati May


Aku berjalan menerobos lorong-lorong kegelapan di hatimu
Untuk menggapai sebuah mimpi dan harapan
Dalam perjalanan aku mendamba setitik cahaya
Dan adamu menjelma umpama lilin putih yang rela terbakar dan hancur untuk menerangi jalan hidupku

Tuanku...
Rupanya engkau adalah jawaban dari segala pintaku
Tatkala namamu kutasbihkan dalam bait-bait dedoa di sepertiga malamku
Yang kulangitkan bersama tetesan air mata

Tuanku...
Perlu kau ketahui tentangku
Aku bukanlah sang matahari yang selalu menyapamu dengan penuh kehangatan
Aku bukanlah sang bintang yang selalu memberi keindahan tuk menghiasi malam-malamu
Dan aku bukanlah sang bayu yang selalu memberi kesejukan di tengah teriknya mentari yang membuatmu kehausan akan cinta

Tuanku...
Kenanglah aku umpama lentera yang kecil
Dengan pijar sinarnya yang temaram namun mampu menerangi gelapnya hatimu dengan pancaran tulus kasih dan sayangku

Pulau Kemayan, 15 September 2018



SUDAHKAH KITA MERDEKA
Karya: Merawati May

Hari ini agustus telah tiba
Hari merdeka dua negara Indonesia Malaysia 2021
Sangat berbeda sebelumnya
Walaupun pandemi covid melanda ibu pertiwi
Kami tak gentar merayakan kemerdekaan ini

Tak terhitung jiwa gugur di garda terdepan
Dari tenaga medis, aparat negara dan masyarakat
Tangisan pecah mengelegar dunia
Sambil menjerit kalimat takbir
Kenapa harus kami sebagai pejuang gugur di medan perang?
Mereka mati dengan hormat
Sampai kapan covid berlalu
Dia ada namun tak berwujud

Apakah dia ada di dunia atau dalam raga kami?
Apakah detik ini bangsa kita telah merdeka?
Terdengar pekik para pejuang garda terdepan.
Dan terbayarkah pengorbanan mereka dengan tetesan air mata?

Demi terwujudnya satu kata: merdeka!!
Tetap semangat jangan menyerah
Semua pasti ada jalannya
Semoga pandemi corona cepat berlalu

Malaysia tetap bersatu!
Bengkulu, 21 Agustus 2021




BERBINCANG DENGANMU
Yuni Tri Wahyu


- kepada seseorang
Berbincang denganmu setiap waktu, syahdu
Kebosanan enggan bertandang
Selalu ada kisah baru tentang tunas-tunas bangsa
Mengasah tajam wawasan peradaban

Berbincang denganmu, selalu ada ilmu terpetik, tersemat dalam hening
Mengeja riwayat perjalanan setangkai padi, dari persemaian hingga menguning bernas
Menunduk, merunduk hingga panen menjelang
Butir-butir nikmat dalam hidangan segala lapisan masyarakat

Berbincang denganmu
Adalah aku yang teramat merindu
Kisah perjalanan terlepas gelombang di layar kehidupan
Dan kita akhiri perbincangan, untuk memulai kembali berbincang tentang esok

Tangerang, 01 September 2021
#sunyisepidalamhening
#diamkusepi



AKU INGIN SELALU MENULIS TENTANGMU
Yuni Tri Wahyu


Engkaulah kisah yang selalu kueja dengan kasih
Hadirmu adalah butir embun membasahi dahaga
Gersang melanda kemarau panjang
Perjalanan pahit getir kehidupan

Aku ingin selalu menulis tentangmu
Menjadi ruh puisi-puisi
Merangkai diksi tidak terganti
Hadirmu bukti manis permohonan

Dalam tengadah pinta berderai butir-butir bening
Izinkan jemari ini menari saat hati memanggil namamu
Yang kusebut sepi paling pelangi
Mewarnai sunyi pada hening paling khusuk

Tangerang, 03 September 2021
#sunyisepidalamhening
#diamkusepi



KISAHKU DI PANTAI PARANGTRITIS
Karya: Merawati May


Aku berjalan setapak demi setapak di tepian pantai Parangtritis
Memandang ombak
Memandang cakrawala
Aku terus menerawang ke masa lalu
Saat kebahagiaan nyaris sempurna

Engkau membiusku, tak ada hati melebihimu
Keindahan, kesetian dan kasih sayang
Aku sudah tertaklukkan

Semua tinggal kenangan
Awan gelap berhembus
Kisah membelenggu jiwa
Engkau telah jauh pergi

Aku kubur semua kenanganku
Di pantai Parangtritis
Langkahku tak sanggup menyimpan beban rindu
Seperti badai tak teredamkan

Biarkan aku di batas kesepian
Meski dingin tapi menenangkan
Aku harap pergilah
Dalam ingatanku
Seperti fajar membius pagi.

Bengkulu, 2021



KIDUNG HATI
Karya: Merawati May


Aku penah menitip hatiku padamu
Bahkah begitu besar rasa percayaku
Namun berjalannya waktu
Rasa itu mulai hilang di antara keping hatimu.

Aku pernah merasa sakit dan terluka
Bahkan kehilangan
Namun aku berusaha bangkit dan berdiri dengan tegar
Karena aku percaya dirimu tak akan membuat luka dan sedih batinku
Namun semua harapan sebatas majas saja.

Aku pernah bermimpi untuk selalu bersamamu.
Namun dirimu bukan memikirkan aku
Melainkan dia yang selalu di hatimu
Tak apa jika harus kehilangan dan terluka
Karena itulah arti cinta sejati.

Aku ingin menata hati yang pernah retak dan hancur
Kau pernah berjanji mengapai tangganku
Meski harus kau gengam sampai hancur
Aku akan tetap ikhlas menjalani
Meski harus jatuh dan terjatuh lagi
Untuk mengapai sebuah penantian di ujung senjaku nanti.

Bengkulu, 03 September 2021



AKU YANG TERLUPAKAN
By: Merawati May


Getaran jiwa itu masih terasa di rongga dada
Kidung cinta yang kau senandungkan selalu terniang di benakku.

Namun berjalannya waktu
Semuanya pelan-pelan akan terlupakan
Rasa, asah, mimpi dan keinginan
Akan tertinggal jauh dari semua yang semu.

Aku tak pernah melihat tintamu mengalir lagi
Dalam kertas cintamu yang selalu kau agungkan
Yang selalu kau tulis atas namaku
Semuanya sudah berlalu
Bersama mimpi dalam biduk hampa tak bertuan.

Tuan
Masih adakah rindu itu di hatimu untukku?
Masih adakah cinta itu di hatimu untukku?
Atau semuanya telah pergi bersama waktu?
Dan jingga pelangi dalam sunset di langit biru.

Ruang Hati, 03 September 2018



SEPTEMBER DUKA
Karya: Merawati May


Awal september bumi persada
Tertumpah hujan yang begitu deras
Bak linang sungai mengalir
Dari hulu ke hilir

Derasnya rinai hujan di balik kelopak embun
Membuat ranggas daun berguguran
Patah tertiup angin
Berserakan daun kering

Daun kering menutupi celah irigasi
Memuai air tumpah ke jalan
Banjir tak kesudahan
Membuat duka lara setiap insan

Susah hidup tak berkesudahan
Pasrah diri takdir Ilahi
Meski duka september datang
Jalan hidup harus di lalui

Bengkulu, 02 September 2021



BAHAGIA DI BALIK KELAMBU
Karya: Merawati May


Dan, ada bahagia yang tak ternilai saat aku menemukanmu
Ada keberuntungan yang tak ternilai dari diri untukmu, ketika Tuhan menciptakanmu untukku

Mungkin, Tuhan lebih bahagia dalam Rahman dan Rahim ketika aku melihat senyummu penuh pesona.
Aku merasakan surga itu ada pada dirimu

Kita berjalan dari doa yang sama, jika doa adalah cinta maka begitu sempurnanya Tuhan menciptakan semesta yang mempertemukan kau dan aku

Dalam cintamu selalu kutemukan warna
Warna itu tak pernah luntur, meski termakan usia, namun selalu dalam kebaikan

Dan, penantian ini akan berakhir indah
Meski hanya sebatas mimpi
Cinta tidak pernah rumit jika hati saling meyakini, namun cinta akan rumit jika ada kepalsuan di balik birahi

Tuhan tak akan memisahkan, jika dia takdir dari segala penjuru rasa.

Ah, semua hanya mimpi di balik tirai kelambu

Bengkulu, 2021



SARO JO BADAN
Karya: Merawati May


Serangkai kisah masih mencium aroma manisnya bunga
Setapak jedah terhimpit jalan
krikil-krikil batu bertuah

Putaran waktu yang masih enggan menjamah manisnya buah asmara
Terdiam menatap pagi memberi sinar pajarnya

Pada masa dinamika bergulir, gejolak, berguncangan ombak nestapa
Sedang diri hanya menepis badai siap menerpa tanpa gelombang

Mencoba menunjuk gigi dari selimut prahara menuju titik kemuliaan
Masih terlalu dini pada genggaman kasih yang sulit lepas dari jeruji-jeruji
Pengikat raga

Harapan yang tersisa kian tebal, selimut kabut memenjarakan waktu yang akan terbit
Pada titik kejenuhan, hampa hanya dengar riuk hembusan pawana sampaikan berita

Kucoba menggali seujud makna yang tersirat di balik tajamnya perisai
Rembulan hanya bisa tersenyum indah di pelupuk mata

Pada belaian kisah yang terjadi hanyalah secibir waktu mengisi sudut hampa
Di atas puja, puji yang masih tertutup semesta

Segelas air susu tersajikan
Hanyalah keseimbangan warna suci dari lembar catatan yang masih merapalkan asma kebesarannya

Setidaknya beban amanah masih ada rahasia di balik cerita
Pada Panji kebesaran yang telah tertulis.

Bengkulu_Jakarta 2021

Ket:

Saro jo badan = diri yang menderita



LEKAT
Karya: Merawati may


Lekat-lekat terlihat
Terkisah mengikat
Menuding muslihat
Tulisan terpahat

Haru biru di kalbu
Tuangkan rindu
Kian menggebu
Gelora kalbu

Saat sunyi bernyayi
Sendiri menyepi
Bayanganmu menari
Terpukau hati

Syahdu lelap serasa
Bermimpi di alam sana
Temui masa bahagia
Walau sekejab mata

Salam malam kusulam
Akhiri kalam curahan
Esokkan ada perjumpaan
Bila Tuhan mengizinkan.

Bengkulu, 2021



KITA BERDUA

Di palung hati terdalam
Terdalam dari semua rasa
Rasa kecewa akan kisah
Kisah cinta berkalung nista

Nista terbelenggu, munafik rasa
Rasa dalam ikatan sakral
Sakral dari segala yang ada
Ada aku, dirimu dan saksi

Saksi pernikahan antara kita
Kita yang bahagia dalam doa
Doa dari keluarga dan orang tua
Tua di masa senja akan tiba

Tiba menunggu waktu bersahaja
Bersahaja antara kita berdua

Karya: Merawati May
Genre: Simpul Bebas
Bengkulu, 2021



TERHEMPAS DARI KEMELUT JIWA
Karya: Merawati May


Pagi ini mentari begitu indah
Begitu terang cahayanya
Seolah-olah jauh dari mendung
Tapi kenapa hati yang terasa mendung
Bahkan tertikam binar dari kemelut jiwa yang berontak.

Terpisah darimu bukanlah binar bahagia
Melainkan siksaan jiwa yang terpasung di antara hati dan rasamu yang tertinggal dalam lingkaran bersengketa yang tak pernah habis.

Dik...
Masih bahagiakah dirimu di pojok sana dengan dera siksa batin yang tak kunjung terjawab?
Atau kau menikmati irama hati yang tersiksa dalam ikatan yang ternoda dengan tinta hitamnya?

Hmmmmm, entahlah.
Aku hanya seorang penonton di balik layar sandiwara cinta usangmu saja yang entah sampai kapan berakhir.

Sedangkan waktu selalu berpacu dalam irama yang tak menentu, untuk mencari jati diri dalam cinta sejati yang sesunguhnya

Bukan perbedaan yang menciptakan jarak antara kau dan aku, karena derajat dan kedudukan dalam realita sosial kehidupan.

Aku tak ingin kita seperti minyak dan air
Di mana susah untuk dipersatukan
Karena air sumber kehidupan sedangkan minyak hanya sebagai pelengkap saat dibutuhkan
Jika disatukan menciptakan jarak.

Tapi aku ingin kita seperti keju dan singkong
Di mana saling melengkapi dan memberi cintarasa yang sempurna
Memberi hidup dengan warna yang tercipta dalam satu wadah, yaitu kehidupan.

Aku ingin terhempas dari bayang kelammu, itu saja udah cukup buatku bisa tersenyum lagi.

Bengkulu, 10 September 2021



MENARILAH
Karya: Merawati May


Teruslah menari
Di padang cinta yang temaram
Dengan musisi tabuhan guntur
Dan seribu kilat yg memagar perak langit kelam
Tarian demi tarian
Menyemai labirin jiwa
Rindu berkobar membakar
Jantung belulang menggigil
Kendali diri kian lepas
Berputar, melayang, terjatuh
Pada sajadah bersulam tasbih
Di gerbang sepertiga malam
Bulir air mata senyawa senyap
Mendekap cintaMu Ya Robb
Adalah keindahan yang tak surut
Mengaliri serat darah menyala.

Jogjakarta, 2020



DERA HATI
Karya: Merawati May


Sejujurnya kukatakan padamu
Diri ini masih cinta
Dan ijinkanlah kunyatakan sesuatu
Rindu ini masih penuh untukmu

Namun yang kurasakan
Kau perlahan menjauh
Seolah menciptakan jarak agar tersekati

Hingga kumerasakan:

Ada gundah menyelimuti hati
Gelisah menyelubungi jiwa
Apakah ini suatu arti
Awal dari kehancuran cinta

Entahlah!

Padahal aku selalu mengingatmu
Seperti aku selalu ingat akan Robbku
Dan aku selalu menyayangimu
Melebihi rasa sayang pada diriku sendiri

Jika kau tahu apa yang kurasakan
Aku rela sakit ketika kau menahan duka
Dan ketika kumelihatmu bahagia
Senyumku turut menyertaimu
Itulah aku saat berada di sampingmu

Akan tetapi jika takdir berkata lain
Memaksamu untuk meninggalkanku
Aku ikhlas
Kurela mengorbankan hatiku untuk terluka

Karena kutahu:

Cinta bukan hanya mempersatukan
Tapi cinta harus rela melepaskan
Rela kehilangan sebuah harapan

Percayalah
Jika nanti kau tak di sisiku lagi
Denyut nadiku akan selalu mendetakan namamu
Dan hembusan napasku akan selalu melantunkan lagu cinta untukmu

Bengkulu, 2019



RATAPAN SUNYI
Merawati May


angkara di balik rintih nyanyian jiwa
setapak jedah masih bernafas dalam merapal kalimat
pintu pembuka anugrah
bumi di pijak mengendap nuansa kasih yang tiada tara

kujalani hari
melangkah dalam putaran noktah
sayap-sayap langit masih menopang antara pancaran kasih sayang
pada detik perjalanan di bawah kuasa yang tak luput dari ridanya

kucoba memangku kisah silam
serentetan takhta yang pernah tenggelam
sujud di atas penghambaan pada pusaran bakti menyelami hakekat terdalam
membasuh diri untuk tegak kembali menatap kilau cahaya sejati
mengulas kisah silam yang terkubur masa di ratapan sunyi

pada angan yang masih menjamah dalam sejadah tanpak gelap
pada histeri yang masih tertutup dalam lembah naungan
setitik kasih hanya berikan sehujud titik- titik sinar ke abadian
akan segenap kesabaran di bawah ketabahan jiwa yang terdalam

nurani bergunjing pada apa yang di ratapi
sunyi menghiasi ladang savana hati dari kemerlip fijar kasih abadi
tertitah selalu akan sehujud tiang penyanggah zat yang maha suci
bumi menghimpit kesetiaan jiwa, raga di balik kemasyuran yang masih banyak di jelajah
dari seberkas kisah yang pernah melegenda tuk mengetuk sehujud pintu hidayah.

Bengkulu, 2021



TAKDIR YANG ADA
Karya: Merawati May


hembusan bayu di atas daun-daun menghadirkan irama alam yang menggetarkan sanubari
cahaya pagi yang mulai membuka terang
alam begitu menawan di pelupuk mata

ingin melangkah bersama pagi yang ceria
tak pernah terhenti walau badai silih berganti
kemarin, dulu yang pernah terjadi
hanyalah jejak-jejak perjalanan dalam kenyataan
namun berlalu
bukan esok yang menentukan

wahai pagi
embun dan semangat yang menyertaimu
bawa aku membuka keindahan hari
melupakan semua yang terjadi selama ini menjadi beban di sanubari

wahai pagi
hadirkan kepadaku cinta yang tak pernah letih
dalam setiap keadaan dan kenyataan
karena keyakinan hidup adalah menjalani takdir, yang ditetapkan
sehingga arah hidup hanyalah membuka kebahagiaan
bukan di seribu problema cinta

hembusan sang bayu di atas daun-daun
bawa aku ke dalam semangat yang selalu menyertaimu
tiada pernah letih di atas keresahan atau pun lelah pada kesempitan
keyakinan hidup hanyalah menjalani takdir-takdir yang ada.

Bengkulu, 2021



LANGKAH
Merawati May


agar jiwa menjadi, maka
melangkahlah di atas tajamnya kenyataan
bukan henti berjalan
pun menciut nyali
hanya kerikil-kerikil kecil
tiada arti di jiwa yang tak pernah lelah

bukan runcing pedang
atau panasnya peluru
yang buat tersungkur
tetapi butiran cinta
dan takdir berliku di atasnya

teruslah berjalan di kegelapan
luluh baja, lenyap kesombongan
bukan untuk nama diri
hanya ingin menjaga senyuman
pada rapuhnya kenyataan

barangkali kita tertaut di zaman yang salah
nadamu lelah membait rasa
dalam pencarian nurani
rasa sejati terkubur oleh keadaan

di hampar terik matahari kau tertatih
walau dunia tak menghangatkan
walau rasa lebur
kau adalah raga
penjaga senyuman
dalam gigil kehidupan

Bengkulu, 2021



KETEGARAN JIWA
karya: Merawati May


palung jiwa yang bersemayam di raga ini
bagai cermin penuh titik-titik usang
namun terkadang membutakan setiap tatapan
seakan diri memantulkan cahaya kesempurnaan

aku hanya sekadar menata hati dengan teliti
menjalani hidup tanpa banyak menolak dan berharap
tegar, tegak, berdiri, belajar dari keterpurukan
tetap bersyukur dari kebahagian hidup

jiwaku terus belajar pada bingkai kehidupan
menikmati asam dan pahit yang menghampiri
hanya mencoba sempurnakan ketegaran
agar tetap kokoh walau tanpa penopang

kehilangan arah di saat resah melangkah
aku belajar pada sebuah ketegaran
menuntunku menyempurnakan ketabahan
menyerahkan segala kehidupan pada Tuhan
karena hanya garis takdir yang maha sempurna.

tegarlah jiwamu seperti karang dalam lautan
meski dihantam gelombang kau akan tetep berdiri kokoh
Laksana laut sekuat apa pun kau mendulangnya dia tidak akan pernah kering.

Bengkulu, 2021



TELPON ITU
Karya: Merawati May

Aku masih saja menunggu
Berharap telpku berdering
Namun harapan hanya tinggal harapan
Telpon itu tak pernah berbunyi
Entah mengapa, aku sendiri tak memahami
Apa mungkin dia sudah mulai melupakan aku?
Atau memang sudah mulai bosan bicara padaku?
Hmmmmm saat hati mulai bergumam

Dengan langkah guntai ku ambil hpku
Mencoba untuk menelpon
Namun sayang no yang aku tuju dalam pangilan lain
Lalu aku mencoba kembali menelpon
Tetap saja dalam panggilan lain
Lalu aku kirimkan pesan singgat
" bang, apa kau masih di sana?"
Dengan harapan dia akan menelponku kembali
Tapi harapan hanya tinggal harapan
Impian hanya tinggal kenangan
Semua mulai berubah, menjauh dan menghilang

Mungkin sudah saatnya mengubur impian
Dalam sebuah harapan yang tak kunjung pasti
Yang ada hanya impian semu dalam majas usang
Bukan nyata yang diharapkan
Seperti bingkai yang tertata rapi di dinding rumahku dalam photo wajahmu.

Terima kasih cinta
Meski hanya ratusan hari, paling tidak aku pernah mengisi bingkai hatimu yang kosong
Entah itu sebagai apa?
Aku sendiri tak memahaminya, karena kau mulai berubah dan menjauh.

Bengkulu, 2020



RINDU BELAIAN IBU
Karya: Merawati May


Matahari begitu indah di pucuk cemara
Burung-burung bernyayi dengan riang
Anak berlari dengan gembira
Melangkah kaki pulang kerumahnya

Dan, aku terdiam sambil bergumam
Terbayang wajah ibu yang mulai senja
Tetesan air mata jatuh di pipiku
Ibu aku rindu belaian hangatmu

Ibu, aku pulang
Berharap setangkup doa dalam kasihmu
Aku rindu masakan ibu
Tertata di atas meja penuh cinta

Ah, waktu telanjur berlalu
Namun semua hanya sebatas mimpi
Tersebab ibu ada di sampingku
Memelukku penuh doa dan kasih.

Bengkulu, 2021



MENUAI ASA BERSAMAMU
Karya: Merawati May


Waktu berlalu begitu cepat
Tidak terasa senja pun datang
Awan berhembus menutup gelap langit
Burung bernyayi di ranting cemara

Rintik hujan jatuh di pelupuk mata
Menatap langit yang tak bersahabat
Mengiringi langkah ke peraduan
Mengeja takdir bersamamu

Nak, mungkinkah senja akan berakhir indah?
Dalam doa yang kau lantunkan untuk ibu sebagai langkah ke alam baka?
Dalam tidur panjang di esok lusa
Beralas doa dari sang anak

Dan, langkah melaju di ujung jalan
Di saat doa terdengar syahdu ke liang lahat.

Bengkulu, 12 September 2021



LELAKI HUJANKU
Merawati May


Adamu layaknya hujan
Selalu membuatku kebasahan
Badan basah kuyup kedinginan
Menggigil menahan kerinduan

Ladang hatiku kini kekeringan
Tandus dilanda kegersangan
Bunga cintaku jatuh berguguran
Tak tersirami kasih sayang tuan

Aku merindukan sang hujan
Walau setitik, tapi menyegarkan
Cukup memberiku kesejukan
Mendamaikan hati dan perasaan

Duhai engkau tuan hujan
Adamu selalu kunantikan
Di tengah kemaraunya hatiku
Tuk basahi jiwaku yang merindu

Rindu hadirnya sosok pujaan
Tuk menemaniku dikala kesepian
Agar tiada lagi keresahan
Dan tak ada lagi kegundahan

Bengkulu, 2021



AKU KAMU MENJADI KITA
Merawati May


Akan kubiarkan rasaku terus mengalir menyusuri lembah-lembah di jiwamu, takkan kuhalangi lajunya biar menyisir mengalir dengan sendirinya tanpa paksaan atau pun keharusan, dan berusaha menepis segala aral yang melintang berupa cobaan godaan bahkan cemoohan yang mendera, ku akan tetap melangkah menjelajahi jalan setapak di hatimu walau pun harus merangkak untuk menuju satu titik di mana cintamu berada

Rasaku akan terus mengalir bersama nyanyian cinta serta kidung rindu yang selalu kusenandungkan, dikala fajar menyambut pagi yang penuh harap bukan sekedar janji dan dikala hening malam sebagai pengantar ke alam bawah sadar lena dalam lelap terajut mimpi tentang kita yang kelak menjadi kenyataan bukan sekedar hayalan

Akan kubiarkan cinta dan rinduku bermuara kasih di samudera hatimu, untuk menyatu dengan rasamu yang seperti kau harapkan dalam setiap dedoa yang kau langitkan, terimalah tulusku yang lahir dari rahim nurani, beri aku ruang di kalbumu yang paling palung, ijinkan aku berdiam merasakan nyaman dari segala keresahan dan kegundahan yang selalu mengurung diri

Ketika kebersamaan terjalin dalam suatu hubungan, mari kita merapalkan segala harap agar yang dinanti dan dicita-citakan dapat tersemogakan teraminkan, tercatat di Arsy-Nya bahwa kau adalah takdirku pun aku adalah takdirmu, kau dan aku bersatu menjadi kita.

Bengkulu, 2018



PERJALANAN KEHIDUPAN
Merawati May


kita, hanyalah pengendara
di atas punggung usia
menelusuri rute masa terjal berliku
berkelana di fana nafsu
berteman hati yang setia menuntun ke arah pulang

hidup ini adalah rangkaian ujian
seberat ujian adalah kelapangan
sekeras ujian berhikmah kemudahan
waspadai lagu pujian
yang akan membuai dalam lupa dan kematian

tetaplah bercahaya ketika kelam melanda sukma,
penuhi lafaz zikir, kala sengsara mendakwa
kidungkan istiqfar, saat benar apa lagi salah
Tuhan selalu ada bagi hamba yang taqwa.

Bengkulu, 2018



DERUKU
Mera Wati SE


Bak petir di senja hari
Saatku lihat dan kubaca
Apa yang tertulis di kitab
Aku tahu dan paham
Apa rasa yang tercipta padaku
Apa yang terabaikan
Apa yang terbuang
Dan apa yang di
peluk
Semua hanyalah bingkai kosong
Kisah mulai memudar
Terhampar debu-debu usang
Karena sang kumbang jalang
Menjelma bagaikan rahwana
Langit murka
Bumi berguncang
Yang tertinggal
Hanya doa keluh dewi penabur cinta
Sedangkan gendang mulai melemah
Hentak kaki mulai surut
Yang tinggal hanya sunyi
Di balik jeritan bibir ranum.

Bengkulu, 2021



LELAKI HUJANKU
Merawati May


Adamu layaknya hujan
Selalu membuatku kebasahan
Badan basah kuyup kedinginan
Menggigil menahan kerinduan

Ladang hatiku kini kekeringan
Tandus dilanda kegersangan
Bunga cintaku jatuh berguguran
Tak tersirami kasih sayang tuan

Aku merindukan sang hujan
Walau setitik, tapi menyegarkan
Cukup memberiku kesejukan
Mendamaikan hati dan perasaan

Duhai engkau tuan hujan
Adamu selalu kunantikan
Di tengah kemaraunya hatiku
Tuk basahi jiwaku yang merindu

Rindu hadirnya sosok pujaan
Tuk menemaniku dikala kesepian
Agar tiada lagi keresahan
Dan tak ada lagi kegundahan

Bengkulu, 2021



AKU DAN PASIR PANTAI
Merawati May


pasir pantai selalu bercerita
tentang keindahan cinta
yang tak terbandingkan
dikisah yang pernah ada

kau selalu menyimpan rasa
seperti karang di lautan
takkan bisa dilepaskan
senyum, kesetiaan
sempurna adanya

ingin aku bercerita kepada pasir pantai
tentang dirimu yang telah pergi
meninggalkan aku, kisah, kenyataan
tetapi aku tak ingin melukai keyakinanmu
biarlah tetap menjadi cerita yang indah
pasir pantai serta yang mendengarnya

kisah kita seperti impian putri salju
merindukan kehangatan di hamparan salju yang beku
begitu indah dibayangkan
namun tak mungkin terjadi dalam kenyataan

aku memahami kau letih bersamaku
tak seharusnya aku paksakan kisah ini
mencoba membawamu dalam bahtera
karena kerapuhanku tak mampu menakhlukkan keadaan
membuatmu selalu tenggelam dalam keresahan

ingin aku bercerita kepada pasir pantai tentang kepergianmu
tetapi aku tak tega melukai perasaanmu
Cinta kita terlalu kuat untuk dipisahkan

Bengkulu, 2021



MASIH PANTASKAH AKU BERHARAP
Merawati May

Biarkan semua waktu berlalu
Meninggalkan jejak-jejak biru
Tentang kisah ceritera dan kerinduan
Aku akan tetap setia pada janji
Walaupun telah usang

Hatiku takkan mudah berubah
Seumpama karang di lautan
Ombak hanyalah nada
Dan badai adalah irama semangatku

Aku hanya berharap pada sang waktu
Menghadirkan impian dan harapan
Langkah yang telah tercipta
Menjadi nyata dan menghadirkan bahagia

aku hanya berharap pada kenyataan
Tak letih menggenggam janji
Biarpun waktu tak mau menunggu
Tetapi cinta masih ada kesempatan
Selama tidak kita lepaskan
Rasa yang ada

Masih pantaskah aku berharap
Pada waktu yang tidak berujung
Di ambang batas rasa yang kelu
Dalam asa doa panjangku.

Bengkulu, 2021



HARAPAN
Merawati May


Sepengal harapan untuku
Yang
Selalu kutunggu di jalan itu
Namun
Tak sedikit pun bayanganmu hadir
Apa lagi
Jiwamu yang terpasung
Oleh
Kepalsuan dalam cinta usangmu
Namun
Belati berkarat itu
Tetap saja
Menusuk di lubang jantungku
Yang
Seketika membuat aku luluh lantak tak berdaya
Karena
Gejolak cintamu mendarah daging dalam aliran nadiku
Duhai
Tuan pengisab nadi dalam cintamu yang durja.

Bengkulu, 2018



SULAM SEMBILAN
Merawati May


Padamu pagi aku kirim sebait doa dalam sulam laguku
Meski tak seindah pelangi, namun secerah matahari
Aku tuai cinta berkalung doa dalam wadah hidupmu
Aku nyanyikan lagu cinta berkalam doa dalam puja

Sulam sembilan penuh doa di warna pelangi
Membiru di puncak nirwana berbingkai cinta
Padamu aku persembahkan cinta suci berkalung rindu di langit biru
Cinta suciku bersemi pada hati alam dunia

Dik, hati ini masih mendulang
Meski tak bertepi pada jingga.

Tebing Curung, 2021



JANGAN PERGI SEBELUM AKU MATI
Merawati May

hatiku dingin dan hampir beku
terjatuh, tersakiti, hampir mati
tak berani lagi berharap pasti
karna cinta telah dihianati
aku putuskan tuk menutup hati

kau temukan aku
kau menyapaku dalam keterpurukan, dalam sunyi kebisuan
kau ulurkan tangan, melemparkan senyuman
kehangatan dan ketulusan
sikapmu melelehkan kebekuan

Kau membuat hidupku lebih berarti
kau membuat aku berani bermimpi lagi
kau selalu jadi penyemangat sejati
kau buat senyumku girang lagi

Tak banyak yang bisa aku katakan selain
terima kasih
telah mencintaiku dengan tulus
jangan pergi temaniku di sini
jangan berhenti sebelum aku mati

Balai Parjurit, 2020



KELUH HATI
Merawati May

Aku tertatih
Aku terjatuh
Aku menagis
Aku bersedih
Aku bahagia
Namun kau tak melihatku
Namun kau tak membantuku
Sakit memang sakit
Perih bak tersiram cuka
Hancur bagai piring pecah
Saat aku tahu kau mulai mendua
Menjerit pun tiada guna
Karena semua sudah sia-sia
Usang ditelan senja
Hancur terbakar bara
Karena pengadilan cinta tak pernah ada

Cukuplah sudah semua cerita
Tutup semua lembarannya
Karena tintaku sudah tak bersahaja
Dalam dawai asmara tak bernyawa.

Bengkulu, 2019



LANGKAH KEHIDUPAN
Merawati May


kehidupan
bergulir dengan mentari
akan terus melaju
tak peduli rasa hati
terbit dengan kesejukan embun pagi
indahnya bunga-bunga mekar di hamparan bumi

bahagia, harapan tertulis dalam puja puji
memberkati napas diri
dalam perjalanan
penuh kejutan, kehebatan, rasa duniawi

mentari akan terus bergulir
merekam semua, tiada terlupa sedetik pun
karena di akhir nanti jejak mentari
menentukan arah, dalam keburukan ataupun kebaikan

langkah kita seiring alunan para utusan
menjaga hati dari semua kenistaan
menjaga diri dengan irama pencipta
di akhir nanti tak kan ada keresaan
tak akan ada kesengsaraan
seperti mentari yang terbenam tersenyum dalam keabadian.

Bengkulu, 2021



SAATNYA MENDENGAR BISIKAN BUMI
Merawati May


Lagi lagi
Ada tsunami
Ada gempa bumi
Ada apakah di bumi pertiwi?

Di saat semua insan terlena
Menikmati dunianya
Tanpa diduga air bah melanda
Porandakan ujung barat pulau Jawa

Sebenarnya apa yang terjadi dengan kita?
Sebentar-sebentar terjadi bencana
Mungkinkah ini teguran dari Tuhan?
Ataukah hukuman sebagai suatu balasan?

Belum reda dari ingatan kita
Saat Lombok, Palu dan Donggala dilanda tsunami dan gempa
Kini terjadi lagi bencana serupa
Di sebagian pulau Jawa dan Sumatera

Untuk saudara-saudara kita yang terkena musibah
Semoga diberi jiwa yang sabar serta tabah
Jangan berputus asa dan menyerah
Tetap bersyukur dan tingkatkan lagi ibadah

Kini sudah saatnya
Mendengar bisikan Bumi pada kita
Untuk menjaga agar alam tidak murka
Menjauhi segala maksiat dan berbuat dosa

Bengkulu, 23 Desember 2018



GUNCANGAN ASMARA
Merawati Ma
y

Dik...
Kau adalah serupa angin yang menderu menelisik kalbuku
Menghembuskan napas cinta serta kerinduan yang mendayu

Napas cinta yang kau hembuskan begitu sejuk
Menerpa raga merasuki relung di jiwaku
Getarannya merambah mengaliri setiap aliran darah di nadiku

Dik...
Gelora asmaramu bak gulungan ombak samudera biru
Mengguncangkan tebing karang hati ini
Hingga meleburkan semua rasaku menyatu dengan rasamu

Bengkulu, 2021



MERANGKAI WAKTU DALAM HARAPAN
Merawati May


deting waktu bergulir dengan indah, burung kenari terbang dan menari di atas angkasa. terbuai aku dengan suara merdu nyayian suara kenari begitu indah, mengelitik hatiku untuk terbang dan menari di angkasa.

harapan dan mimpi hanya selintas di pikiranku, karena aku tahu tak mungkin aku terbang jika aku tak punya sayap
dengan harap dan cemas ku tutup hati dan harapanku untuk merangkai waktu menari dan bahagia bersamamu

namun Tuhan berkata lain, harapan dan mimpi akan terhujud atas rida-Nya. dengan guntai ku rangkul dan ku perbaiki semuanya agar menjadi indah serta sempurna dalam mahligai harapan bahagia bersamamu

hatiku mengebu, mendayung dan berharap berjumpa denganmu
namun apa di kata waktu juga yang bisa menentukan arah jalan
Pergi melangkah, berhenti atau kembali pulang.
hmmmmmmm, entahlah gumam hatiku
namun saat kupandang langit burung kenari itu berkoar lagi dengan merdu sambil bersahutan dalam doa dan ucapan. seolah-olah menyampaikan isyarat padaku untuk melangkah mengejar harapan itu lagi.

di saat aku ingin berlari dan menjerit kaki tersandung di balik meja
aku terjatuh dan terbangun.
lalu aku bergumam lagi dalam hati
ya Tuhan ternyata aku sedang bermimpi di siang bolong menari bersama burung kenari.

lalu ku bangun dari tidur, ku lempar guling dan selimutku sambil teriak
sudah saatnya aku bangun dan merangkai rezekiku lagi.

Bengkulu, 2021



RAHASIA DI BALIK CERITA SILAM
Merawati May


tersirat makna di atas lembar kanvas silam
debur ombak menghantam kerasnya hamparan batu karang
aku goreskan syair aksara nan kelam
pada ratapan diri dalam riuk lirih yang terdalam

asa menimpa dalam bahasa hati
terkurung di jiwa pada adab tradisi yang tiada henti
ingin aku menembus lorong-lorong sejati
pada kuasanya aku hanya termenung dalam diam

kusapa kesejukkan angin menerpa
tertatap di netra hanya lalu lalang titik cahaya
harapku indah penantian singgah
kabut putih masih mendekap sepenuh jiwa raga

berlinang air mata mengetuk pintu dikejayaan
kunci-kunci setiya masih membungkam di pertapaan singgasana
pada sehujud sandi kebesaran di setiap penjuru yang ada
nyatanya cahaya kisah hanyalah lambaian senyum ceria

masih tersekat di sudut yang telah ternoktah
pada perisai semboyan diri memenjarakan luhur budi yang tersisa
akan sejarah waktu yang membuka segudang cerita
kisah dilema jadikan kekuatan abadi dari setiap sisi sudut pandang.

bercermin dari pahit getirnya perjalanan masa ke masa
pada langkah tapak kesucian akan sehujud petunjuk jalan nan cerah
ku pandang pada setiap titik penghambaan
menanti secercah cahaya suci dalam setiap sisi penjuru jalan

pada tabir yang tertera
di balik rahasia masih tersibak rahasia
akan kejernihan kilau cahaya anugrah
padamu berikan kekuatan sejati dari rapuhnya di jiwa raga

Bengkulu, 2021

MERA WATI, SE
(MERAWATI MAY)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar