UNTUK MENCARI PUISI-PUISIMU CUKUP KETIK NAMAMU DI KOLOM "SEARCH" LALU "ENTER" MAKA SELURUH PUISIMU AKAN TAMPIL DI SINI

Kamis, 12 November 2020

Kumpulan Puisi Suyatri Yatri - LUKA


LUKA

Sekelumit makna
darah
perih
pedih
sakit
tangisan menjadi senjata paling ampuh
meluruhkan segala beban
dan
sekeranjang tawa
menjadi kerinduan

Merapal jiwa
membaca diri
salah
khilaf
mengunggun tafsir
bercermin pada bayangan sendiri
menjadi cinta
curah pada-Nya

Rohul, 31102020
Suyatri Yatri



PEMAKNAAN PUISI


Dia adalah puisi
membaca ceruk waktu
dan merapal rengkah tanah
walau laku tak seirama dengan tarikan napas
namun masih saja mengisi ruang kosong paling hening
menyentuh sisi kelembutan dari jiwa paling sunyi

Ketenangan permukaan air adalah estetika yang menyiratkan kedamaian di dasar kata
arusnya deras memang, namun mampu menghentakkan dedaunan untuk gugur bersamaan

Gemetar dari getar tanpa dasar tak menginginkan keambiguan hadir dan menambah gusar setiap tanda yang ditunjukkan
kealpaan makna sering mencederai sajak
biarkan nada memberikan warna di setiap majas yang hendak disampaikan walau sering berbeda tafsir

Rohul, 30102020
Suyatri Yatri



AMBIGU TAFSIR


Apa salah diksi hingga koma sering salah arti padahal titik tak hendak mengakhiri hanya karena kalimat sedikit menasihati diri. Bukan bermaksud ambigu atau pun merayu, apalagi satire yang nyinyir pada waktu. Hanya menafsirkan analogi jiwa yang sering berbuat salah. Bercermin diri pada estetika hati yang sering berpindah mengalami perubahan yang melukai bahasa
Pahamilah!

Rohul, 30102020
Suyatri Yatri



MAKNA BERSEMAYAM DALAM KATA

Aku dan kamu telah dipertemukan di belantara maya
Beradu lewat kata-kata
Walau hanya sebait sajak dan tegur sapa
Hatiku berbunga-bunga

Dalam setiap kata, ada debar di dada
Terus bergemuruh
Entah apa namanya?
Ia terus menghuni bilik hati
Tak hendak untuk.pergi

Padahal aku hanya di halaman maya
Bukan nyata yang dapat kurasa getarnya
Namun jiwaku tak ingin menghapus
Mengikuti hingga di mana rasa itu pupus

"Rasa yang tak pernah ditinggalkan senyum"

Rohul, 27102020
#SY



JIWA BERPELUH DEBU


Berdiri di bibir malam menatap rembulan separuh
Seperti bayangan yang sering mengabur
Dan hilang terkubur
Tanpa hadirkan kenang

Luka itu begitu nikmat bersama angin yang khianat
Gelap menjadi teman paling pekat
Pepohonan yang rapat terlalu lekat
Aku berdiri dekat
Namun rasa kian kelat
Yang meninggalkan pahit di rumah hati yang sempit

Aku luruh di antara riuh
Menunduk bersama bulir bening meluruh
Tersengal napas menyebut namamu
Saat berdiri di pintu arsy
Dengan tubuh berkubang debu

Rohul, 26102020
Suyatri Yatri



INTELEKTUAL BERKARYA
Karya : Suyatri Yatri

Pemuda adalah pondasi
Penguat berdirinya negeri
Berkarya mengukir prestasi
Bukan hanya sekadar basa-basi di lingkup bibir generasi

Bangunan kukuh dari jiwa pemuda tangguh
Secawan nutrisi mengisi jiwa yang utuh
Bergelut dengan peradaban
Menuang adab di rumah kebaikan

Pakaian terbaik adalah karakter pemuda
Intelektual bermutu menghasilkan karya
Bukan menjiplak dari kemalasan berlogika
Menggagas ide bermanfaat untuk kemajuan bangsa

Buang kemanjaan pada diri
Sebab akan jatuh saat tegak berdiri
Pemuda hebat membangun jiwa mandiri
Pantang menyerah untuk terus berbakti pada ibu pertiwi

Rokan Hulu, 24 Oktober 2020



DOA UNTUK SANG LAKSMANA


Belawan dalam kenang kisah
Di antara lorong pengap berdinding kardus
Tubuh kecil meringkuk dalam gigil
Dengan kasih tanpa peduli kau rengkuh
Membawa pulang ke rumah dengan cinta
Mata teduh berhias sayang

Kini, waktu telah menghimpun jarak
Memisahkan dunia bertanda nisan
Engkau dalam hening bersama-Nya
Membawa cinta yang tak terbaca
Doa yang dipancarkan dari cahaya rumah singgah
Masih terkirim melalui jendela sejarah

Sulit terlupa di lembaran ingatan
Duapuluh tahun wajah itu tak lagi kutatap
Sauh telah dilepas saat hatiku lengang
Berlayarlah laksmanaku
Baharimu masih berombak cinta
Dan Alfatihah selalu terkirimkan bersama doa

Rohul, 24102020
Suyatri Yatri
#20TahunKepergian



BERSELANCARLAH DI ATAS GELOMBANG

Senyum itu memberi kekuatan
Saat cabaran mendera, kemanjaannya menenangkan jiwa
Mereka seperti air menyejukkan hati

Nak, sorot matamu begitu indah
Lihatlah kebaikan di tapak-tapak rindu setiap jejakmu bukan menilai kedengkian di jejak lain
Simaklah risalah di setiap nyanyian cinta-Nya
Agar napasmu dihias kejujuran
Suarakanlah nurani keramahan agar tanpa luka yang tertitikkan setiap tindakan.

Nak, hidup bukanlah sekadar hidup tetapi berselancar di atas gelombang
Bertahan dan nikmatilah setiap cucuran problema
Sebab kekuatan kakimu berdiri adalah kemenanganmu
Tak perlu takut tenggelam dan kalah
Sebab itu adalah pembelajaran
Ikutilah alur kehidupan dan teruslah berjalan di atas jalan kebenaran
Walau cibiran dan cemoohan menimpamu anggaplah itu sebuah nyanyian merdu penyemangatmu
Nanti dirimu akan paham seberapa pentingnya syukur, sabar, dan ikhlas di bumi pengembaraan

Rohul, 23102020
Suyatri Yatri



MENGIMLA TANDA

Duka tak pernah jauh dari luka
Lolongan anjing menyayat hati begitu pilu
Setiap malam merintih perih
Ayam pun berkokok belumlah fajar mengisyaratkan tanda bahwa mentari terjaga dari lelapnya

Panas melelehkan peluh semakin gerah padahal tetes hujan membasah
Aku mengimla pesan dari secarik tanda
Kehadiran kian mendekat
Hening menjadi bening
Berharap tiang penyanggah menguatkan makna di langit negeri

Rohul, 12112020
Suyatri Yatri



SIANIDA HATI

Begitulah hati yang tak bisa diduga
Dusta dan jujur beda tipis bila mahir memainkan kata pemilik bibir

Sempurnalah kias di arahkan angin
Lengkap permainan lidah membuang ludah
Dan bisa meracuni setiap tarikan napas
Luka tak berdarah membasah

Mubazir kata menghujam
Dicecap juga secangkir kopi basi
Air mata adalah rasa pahit yang dihadirkan cafein
Sianida telah membunuh jiwa
Mati!

Rohul, 09112020
Suyatri Yatri



MENEMBUS BANJIR

Iringan mobil merayap di jalan beraspal
Keceriaan terbentur banjir di hadapan
Yah ... sungai tak mampu menampung air
Melimpah ke sisi jembatan
Satu kalimat terucap

"Tempuh, pengantin menanti di seberang sana,"

Genangan air bergelombang di belah roda di jalanan
Tergelincir putaran terpuruk
Mandi lumpur dalam cemas
Jantung berdetak hebat
Peluh mengucur dalam panik hati
Menahan napas merapalkan doa
Hingga di akhir genangan
Roda- roda itu tak sanggup menahan licinnya jalan berlumpur
Melawan jarum jam membentuk angka sepuluh
Roda menggasing
Pelan
Kembali seirama jalan
Merayap di jalanan tak beraspal
Membuang napas lega
Melihat senyum pengantin bahagia

Rohul, 17 November 2020



#Haibun_SY

PENGANTAR OBAT

Hujan mengingatkan aku pada sebuah perjuangan mrngantarkan obat untukmu. Sakit maag kronis yang membuatmu tidak bisa melakukan aktivitas. Namun aku tetap berpacu di tengah hujan deras. Pikiranku hanya untuk kesembuhanmu.
Gigil tak lagi kurasakan. Lebih 2 jam perjalanan yang kutempuh tak menjadi halangan. Bukan karena rindu yang teramat sangat yang mengantarku ke desamu tetapi aku paling tak tega bila mendengar keluh kesakitan hampir setiap kamu menghubungiku.
Hujan reda, aku pun sampai dan melihat senyummu yang sumringah di depan pintu menyambutku. Obat yang kupegang segera kuserahkan padamu agar segera diminum.

"Bagaimana kondisinya, Bang?"

"Masih sama seperti kemarin, rasa ditusuk-tusuk hingga ke punggung," jawabmu pelan.

"Minumlah obatnya, mudah-mudahan segera sembuh," ucapku membuka botol obat dan memberikan padamu.

Hujan menderas
Jalanan sangat licin
Gunakan mantel

Rohul, 15112020
Suyatri Yatri



#Haibun_SY
PENGANTAR OBAT

Hujan mengingatkan aku pada sebuah perjuangan mrngantarkan obat untukmu. Sakit maag kronis yang membuatmu tidak bisa melakukan aktivitas. Namun aku tetap berpacu di tengah hujan deras. Pikiranku hanya untuk kesembuhanmu.
Gigil tak lagi kurasakan. Lebih 2 jam perjalanan yang kutempuh tak menjadi halangan. Bukan karena rindu yang teramat sangat yang mengantarku ke desamu tetapi aku paling tak tega bila mendengar keluh kesakitan hampir setiap kamu menghubungiku.
Hujan reda, aku pun sampai dan melihat senyummu yang sumringah di depan pintu menyambutku. Obat yang kupegang segera kuserahkan padamu agar segera diminum.

"Bagaimana kondisinya, Bang?"

"Masih sama seperti kemarin, rasa ditusuk-tusuk hingga ke punggung," jawabmu pelan.

"Minumlah obatnya, mudah-mudahan segera sembuh," ucapku membuka botol obat dan memberikan padamu.

Hujan menderas
Jalanan sangat licin
Gunakan mantel

Rohul, 15112020
Suyatri Yatri



RESONANSI HUJAN CINTA

Hujan menawan rindu
irama rintik begitu syahdu
resonansi hasilkan nada syukur dari gerai awan
menyiratkan senyuman

Di bawah guyuran, kuyup mendera
tetesan menimpa syaraf untuk kembali bekerja
Terapi jiwa untuk bisa memahami genangan
Setapak langkah menitipkan cinta sesungguhnya dipertaruhkan

Dekap cinta-Nya lebih hangat dalam gigilan basah
gemetar zikir lebih dahsyat di atas sajadah
nikmat mencicip bening air berkah
Jiwa menari di atas gelombang pasrah

Cahaya menyelinap di gumpalan gabak
rindu mengombak dalam deru dedoa
kembali mencium aroma cinta di pesanggrahan jiwa

Rohul, 15112020
Suyatri Yatri



ROMANSA BULAN DAN MATAHARI


Biarkan mentari menyalurkan cahayanya pada rembulan sebab cinta telah tercatat dalam lembaran sejarah yang mengagumkan. Tak perlu bertanya mengapa kerlip bintang bertaburan tanpa cemburu pada purnama? Tak pun malam menyelidik membuka rahasia kelam milik sang Dewi sebab rindu hadir di pekatnya waktu adalah ketulusan yang menyergap jiwa.

"Biarkan bahagia menjadi miliknya walau jarak menjauh dan tak mampu memeluk kasih namun kesetiaan terpancar dari senyum riang. Kadang bertatap muka hadirkan gerhana, memunggungi rupa pun menjadi bencana" gumam gairah dengan tarian syahdu bayu.

Cinta-Nya lebih lembut dari pancaran keberkahan
Kasih sayangnya lebih romantis di sepanjang sajadah. Kata mesra zikir mengulas bibir merekah yang memoles doa keikhlasan.

Bermunajad pasrah menikmati minuman ayat yang merdu di sepanjang malam hingga embun mengering berganti mentari yang tersenyum bersama candu teriknya.

Rohul, 15112020
Suyatri Yatri



DEPRESI CORONA

Semendung langit memercik duka negeri
Gamang jiwa menyelinap di antara awan
Angin tak hendak berbisik memberi jawaban
Rintik pun menggenang di tubuh bumi
Menangisi pandemi yang memberatkan ekonomi

Ujian-Nya disambut senyum licik para kapitalis
Menggelar bisnis picik di deretan rahasia corona
Tertatih luka di tubuh renta

Ketakutan kian menghimpit
Jantung kian lemah berdenyut
Sesak di dada semakin nyeri
Dikelilingi cambuk kematian
Lupa bersyukur
Hilang sabar
Sirna bahagia
Mengejang raga
Sunyi malam menghantarkan doa

Rohul, 15112020
Suyatri Yatri




TERBANG TANPA PAPAN NAMA
Suyatri Yatri

Di garda depan telah berdiri punggawa relawan
Memperjuangkan lembaran-lembaran makna di antara bias cahaya
Namun sistem telah menjungkirbalikkan keadaan
Bernapas pun sesak memberatkan waktu di pelosok negeri
Wajah ikhlas puluhan kilo meter menempuh jarak
seberangi hutan, sungai, dan lembah

Senyum masih menyeruak di pintu literasi
Gagak menyambar mangsa secepat kilat
Hingga terkapar jatuh dalam dilema
Keputusan menjadi dasar tak seimbang
Hingga keresahan terkuak menjadi kebimbangan
Meredup sinar mentari di balik bukit memagari gerak
Tubuh merangsak di antara semak-semak

"Kita bergerak terbang tanpa papan nama"

Akhir keputusan dalam kepasrahan memajukan negeri

Rokan Hulu, 4 April 2019



KEJORA BERSELIMUT KAFAN
Suyatri Yatri


Ada secawan harap agar bintang bersinar terang
Namun awan hitam pekat menutupi
Bahkan rembulan berwajah pucat pasi
Senyumnya pias digulung duka

Diksi telah berserakan di perjalanan
Kata telah mati tanpa jeda
Menyurutkan langkah
Menghentikan denyut nadi

Di jantung bergemuruh
Di hati ledakan gelisah
Hendak dibawa kemana titik perjuangan
Sementara jeruji memagari setiap pijakan

Di ujung waktu kecewa menghiasi seantero kalimat pasti
Menggugat pun tak bisa lagi
Apalagi sekadar memberi solusi
Kapan lagi kejora menjadi tujuan terindah untuk terus berdecak kagum?
Di kantung-kantung makna telah terisi pundi keberuntungan
Menghimpit robekan kafan
Sebentar lagi mati

Rokan Hulu, 4 Maret 2019



ROMANTIKA PENGHUNI NEGERI
Suyatri Yatri


Perangkap mulai bermain sadap
Memasang ranjau di antara kata
Pelan-pelan menyulut api
Nanti akan menjelaga
Terbakarlah kau dengan pita aksara
Membunuh di semaian rasa

"Merajam jiwa kemunafikan"

Putuslah gelagat busuk di rimah maya
Mengutuk angkara
Menyumpahi prahara
menjadi batu
kaku
bisu

Satu bercermin dua berbilang
Makna gersang dan tandus di negeri tak bertuan

Rokan Hulu,,3 Maret 2019



BUKAN DIA TAK MEMBERI CINTA

Bukan langit meminta warna biru
tak pula laut yang menginginkan biru
Tapi bumi masih berputar di porosnya
menjadikannya tersiram siang dan malam
Dari perenungan makna menuju kebermanfaatan alam

Bukan hutan tak ingin memberi keteduhan
Bukan pula tak menyimpan kedamaian
Hanya karena tangan yang tak bisa memeliharanya
Hingga berserakan jenazah pepohonan

Bukan Dia tak memberi cinta
Tapi hati yang tak mengingatnya
Bukan kehidupan menancapkan luka tak berkesudahan
Tapi diri tak bersyukur atas nikmat yang diberikan
Hidup perlu tiga pondasi
Sabar, Syukur, dan ikhlas menjalani

Bukan hanya membaca syahwat di secangkir nafsu
Melainkan pengumpulan bekal menuju dermaga abadi
Bukan jiwa suci tanpa debu
Namun sececap makna menyadari tingkah laku
Menjadi pribadi yang tak meninggalkan jalan sebenarnya

Rokan Hulu, 3 Maret 2019
Suyatri Yatri ©2019
Semua hak terpelihara



RINDU DONGENGAN BAPAK
Karya : Suyatri Yatri


Kutitipkan raga di sunyi malam
Melabuhkan mimpi di dinding waktu
Nanti kan kurehatkan makna di antara embun fajar
Biarkan aku mengimla namamu di bait doa yang terus bergemuruh

"Bapak dongengkan aku kembali dengan suara lembut penuh kasih."

Sabarmu melebihi benang sutra berjuntai dari langit
Ikhlasmu memberi hiasan di mahkota kasih tanpa emosi
Tak satu kata pun bentak melukai hati
Sebab jiwamu bersih memberi tauladan

Tembang dendangmu masih terngiang merdu
Saat malam semakin pekat
Bapak mendekati hati etika
Dari cerita yang dititipkannya
Agar kelak lembut jiwa menghampiri
Tatakrama menjadi pakaian diri

Rokan Hulu, 26 Maret 2019



ETIKA BAHASA
Karya : Suyatri Yatri


Saat mengimla abjad
Ada kekacauan terjadi
Mengirim tanda yang salah
Ambigu semakin rancu

Makna sering dianalogi
Terjadi kemunculan polisemi
Filosofi tersembunyi di balik jeruji
Kepemahaman sebatas kata
Tak sedalam rasa yang meresap di hati
Jiwa pun menimpali

Bila sirat dan surat disatukan pada logika
Hingga lahirlah kesatuan makna bersinergi pada analisis simbol
Pesan tersampaikan
Konsentrasi bekerja di antara riuh cerita

Takkan terjadi kesalahan
Etika bahasa menjadi budaya
Bicara menjadi kunci kedamaian

Rokan Hulu, 26 Maret 2019
SUYATRI YATRI


Tidak ada komentar:

Posting Komentar