UNTUK MENCARI PUISI-PUISIMU CUKUP KETIK NAMAMU DI KOLOM "SEARCH" LALU "ENTER" MAKA SELURUH PUISIMU AKAN TAMPIL DI SINI

Jumat, 07 Januari 2022

Kumpulan Puisi Mohammad As'adi - DI SEBUAH BUKIT MENUNGGU SENJA



DUA PULUH EMPAT PURNAMA

Di atas makam mendung melepas air mata . Menetesi tanah dan udara mengigil .Rasanya semua orang tak ingin mendekapnya, takut menjelma kebekuan. Aku memeluknya, melawan hampa dan ombang ambing waktu yang terus mengambil sehelai demi sehelai diriku. Sampai helai terakhir rambut putihku jatuh bersama selembar daun .

Kenangan demi kenangan berjuang melawan waktu yang terus mengikis.Tapi rupanya ia seperti mendung bergantung sebagai awan yang mendatangkan hujan setiap saat.Menggelisahkan hati, ada tapi tiada. Hujan bulan Desember, derai kehilangan meninggalkan sebuah biduk tanpa kayuh, tak ada sauh untuk memilih pelabuhan: kau meletakkan aku dipelabuhan kecil untuk menyerah pada ganasnya laut ? atau kau pilihkan aku tempat untuk menepi ?

Kusematkan bunga kamboja diatas nisan sebagai ziarah cintaku, mengenangmu hilang pulas pada dingin: Aku katakan padamu aku tak kan menyerah pada ketaksangupanku meninggalkan hati yang tak sadar sesungguhnya kita telah melewati batas waktu -semua sudah tak ada-. Tinggal rasa terlepas, letih ingin kembali.Tinggal rasa terkupas dan kabut kelabu menyiram kelu.

Temanggung 10122021



DI SEBUAH BUKIT MENUNGGU SENJA

Menunggu senja
Petualang sendiri mengenang
Di bukit sunyi di atas keruh sungai
Disini menggenang dan mengalir
Hidupku

-aku tahu sungai itu mengalir
Ke muara kemudian pergi kelautan
Berombak dan tenang pada saatnya –

Mendung yang rapat
Antara tegakan bukit dan sungai
Hanya sedikit berwarna jingga
Angin tak juga menghela risau
Jiwaku ! Tak ingin pergi dari sunyi

:Ia membiarkanku berjalan ke bibir cakrawala
Lalu menepikan dalam penantian
Menunggui senja hingga gelap tanpa cahaya

Temanggung 09122021



BUNDA

Kau taburkan cinta pada senja
Aku menunggui dalam bayangan
Terurai sepi menggenapkan hari
Semestaku memanggul rindu
-Ia kejora-

Kukejar cahayanya
Hingga melampaui tujuh lapis langit
Ia adalah mata air
Memberikan danau
Dalam prosa tak bertanda titik

Sungguh, setiap malam ingin kurebahkan
Di pangkuannya kata-kata api, kata-kata air
di bawah bintang-bintang
-masih sering kutangkap suara
Ninabobo ketika sunyi menciptakan hampa-

Sungguh, ziarahku malam –malam tanpa nada
di atas makamku sebuah symphoni Kehidupan
Sambil menunggu gigil menyelinap
sampai semua tak bernama
sampai semua tinggal nama

Hanya sedikit cahaya
Mengendap-endap dalam tangkapan ilusi
Tak bertepi ! Semua tak bertepi
Nestapa. Hanya ibu yang selalu mengerti
Nestapapun tak bertepi
Cinta ibu tak bertepi
: Mengalir melintas semesta

Temanggung09122021



NYANYIAN CINTA DI TENGAH HUJAN

Hujan tak lagi ia hiraukan
Setiap subuh, selalu berulang
Terpaku di depan pintu masjid
Cahayanya seperti lorong gelisah
Selalu menjumpai sunyi
ia ingin cepat cepat membongkok
Membasahi sujud dengan air mata-

Gigil demi gigil selalu ia terima
Tanpa penyesalan
sebab tubuh tak lagi memiliki rasa
tak bisa mengelak untuk mengemas
dalam rindu makin menua
dan keinginan melepas ketentuan
Tak bisa ! Ia selalu roboh
bersimpuh getir

ia membiarkan fajar menyimpan air matanya
membangun taman kerinduan, semegah Taj Mahal
Dipenuhi bulir bulir kenangan sebagai hunian -
Dalam genggaman matahari
hingga senja menggelincirkannya
membiarkan rambut putihnya berjatuhan
menandai waktu terus bergulir

‘’isteriku , kau selalu membawaku kemari
kau mempertemukan aku dengan raabku,
kau kembalikan kesejatian hidup pada kesetiaan
ada dalam ketiadaan. Kau pernah mengatakan padaku
-cintai Rabbmu melebihi kerinduanmu padaku’’

Setiap kali membongkok
ruang-ruang sunyi menjadi saksi
Ia hanya ingin menjumpai senja
dan menyandarkan keinginan
pada bahu langit gelisah
Setiap kali kedua kaki rentanya gontai
ia berkaca pada genangan air hujan
mengelana dalam dirinya sendiri

Temanggung 03012022



SEPERTI RAHIB AKU MENGENANGMU

-Aku memang tak pernah kenal lautan
Tapi hidup terasa di atas gelombang
Tak punya sauh. Jauh dari pelabuhan-

Disini di gunung
aku terus mencoba mengepakkan sayap
Bersama serombongan burung bido yang tersisa
Dan makin ranggasnya pepohonan
Diamnya lembah dan bukit
Bukan tak ingin melawaan badai gunung
Namun sesungguhnya Ia tengah memaknai
gemuruhnya sebuah kesombongan
Sambil membiarkan tubuhnya
seperti tengah ditelan

-Aku memang tak pernah mengenal lautan
Pasang surutnya gelombang,dan diamnya karang
tapi aku merasa menari di atas ombak
tanpa papan selancar
terkadang dalam sekejap ketangguhan
terkubur ombak-

Di sini di gunung
Tak henti mengayuh letih, menunggu para rahib
Di lembah dan bukit
Menepis badai gunung dalam keheningan
Seperti karang di tepi lautan
Tak pernah lari dari kejaran ombak
:aku bertahan bersama cintaku
mengenangmu seperti rahib
dengan keheningan

Temanggung 30122021



SAJAK KADO PERKAWINAN

-Tak kan habis aku bercerita tentang cinta kita-

Aku baru memahami,taman bunga itu harus kubangun sendiri
setelah hari hari beku. Kebersamaan tak bermakna keabadian.
Ia akan bermakna dan menjelma keabadian setelah kehidupan pecah berkeping, seperti gelas jatuh di batu pualam. Yang tak pernah hilang hanyalah ingatan gelas tersebut pernah terletak di sebuah taman indah . Berkilau. Kita isi dengan banyak kisah,tertawa, air mata,ketidakpercayaan dan rindu bernama Cinta.

-Dan kini semua tinggal berkeping !-

Aku susun kembali semua puing, seperti memunguti daun daun berserak di musim angin dan hujan. Lalu menjadikan angin sebagai hembusan penyejuk jiwa. Kubuat lukisan sebuah kehidupan. Badai sebagai tempat berselancar.
:Kita anak-anak semesta Tak pernah kenal mimpi, di sebuah kampung peradaban bergincu tebal. Berwarna warni,berlenggak lenggok, berkebaya tanpa sanggul dan konde. Disana kita meletakkan dasar untuk memanjat tebing kehidupan. Kadang hampir tergelincir

Berkejaran dengan waktu .Hidup kita sampai jam berhenti berdetak. Ada penderitaan dan kebahagian . Aku disana bersama yang lain, banyak luka, senyuman mengambang,harapan terbentang , mimpi, ketakberdayaan pegembara jalanan dan petualang sunyi: aku tak ingin merayumu wahai kehidupan, karena kau telah menyematkan senja temaram sebagai tanda sebentar lagi jelang malam-aku menangis dan tertawa untukmu-

Bait-bait puisi selalu kutulis untukmu sebagai pisau supaya tak berhenti menggoreskan luka, harapan-harapan dan kesepian yang tak pernah kau lihat lagi tepi-tepinya. Betapa aku selalu merindukanmu, disini, di sebuah lembah tak bernama, tanpa pepohonan dan bunga-bunga, selalu temaram karena kabut tak rela lembah bercahaya, membiarkan semua membeku.

-tinggalah aku debu yang ingin selalu berhambur di selasar tempat tinggalmu-

Temanggung 2812202

MOHAMMAD AS'ADI


Tidak ada komentar:

Posting Komentar