UNTUK MENCARI PUISI-PUISIMU CUKUP KETIK NAMAMU DI KOLOM "SEARCH" LALU "ENTER" MAKA SELURUH PUISIMU AKAN TAMPIL DI SINI

Senin, 04 Oktober 2021

Kumpulan Puisi Mohammad As'adi - RUMAHKU


RUMAHKU

Kulihat serambi rumahku begitu kelam
cahaya bulan dalam genangan kabut
angin selalu membawa sepi
seserpih sajak jatuh bersama gugurnya daun
sahabatku satu persatu pergi
cintaku tak kurelakan lepas dari luka

Rumahku sebuah artefak
sebuah kisah dalam lukisan dan sajak
Terkadang aku lihat rindu kusut masai
setiap kali aku di depan pintu
karena rumahmu tak lagi di sini
:aku tahu semua orang akan sendiri
mengehampiri sunyi

Setiap kali aku melihat pekarangan
berderet karangan bunga dalam bayangan
sunyi merambati detak detak jantung
kau selalu ikut bicara
setiap kali angin lembut membelai rerumputan
wanginya tanah membawa aroma rambutmu kemari
: selalu membelah jiwaku, selalu membelai jiwaku



SANGAT RINDU

Di setiap sudut rumahku
aku merenda kematiaku
setiap kali aku duduk di ruang makan
aku selalu menyediakan satu kursi kosong
-untuk kita makan pagi bersama-
Karena kau selalu berkata :
-Aku takut kau meninggalkanku-
Dan aku selalu bilang :
-kau pelabuhan tetakhir-

Setiap duduk di depan meja makan
teringat air mata dan tawa terseduh
dalam sebuah cawan, lalu tumpah
membasahi hidup kita
di antara derai tawa anak-anak kita
Setiap kali duduk di depan meja makan
-aku teringat bagaimana kita
bicara kematian-
Lalu selebihnya
Hanya hidangan kehampaan
-kau rebah meninggalkan sebuah bahtera
yang tak lagi mampu melaut-

Temanggung 01102021




DI SETIAP UJUNG SENJA


Di setiap ujung senja selalu kutunggu
Kadang sambil memegangi tiang hampir roboh
Atau bersandar pada angin pancaroba
Yang selalu membawa gigil gunung
Sampai langit memerah

Kehangatan puncak kemarau
Perlahan beringsut
Sampai pada saatnya semua kedinginan
Berjalan menuju kebekuan
Menguliti rindu berkeping

Di setiap ujung senja , berulang-ulang
Seperti terbenamnya matahari yang acapkali ditandai
Semburat merah jingga atau langit seperti api
Aku menunggu tapi kau tak pernah datang seperti senja
Yang selalu menyisakan jejak dan menulis bayangan pada kelam

-aku teringat bagaimana meminangmu dalam sajak
di suatu ujung senja-

Aku katakan padamu :
Mari kita berhenti sejenak
Lalu menikmati rindu
Di cakrawala bercahaya
Kita bangkitkan jiwa dari dasar samodra
Lalu menjadi manusia saling merindu

Pada kekerdilan yang begitu patuh pada semesta
Mengurai lilitan-lilitan beban
Sampai pada batas kemampuan tangan
Memecah gumpalan awan menciptakan hujan
Lalu kita tegakkan tiang-tiang
Di atas pengharapan
- aku pinang engkau –

Sekarang di setiap senja aku terus menunggu
Sambil menghitung uban yang terus bertumbuh
Tanggalnya usia,gugurnya waktu
Untuk meminangmu kembali
dengan mahar dzikir dan salawatku
yang selalu kutulis dalam sajak khalwatku
dalam rahasia langit biru dan senja jingga
aku tahu kau ada di sana
menunggu aku kembali mengatakan
: Aku pinang engkau wahai kekasih hatiku! –

Temanggung 05102021




KENANGAN ITU

Sepasang mataku membaca
jejak-jejak di tanah merah
dan rangkaian kelopak mawar
Getirnya malam membacakan sajak-sajak lelah
sebagai Ilusi gerimis
:tak pernah mencairkan kebekuan

Bergerak mengaransir nyanyian sunyi
dari seluruh catatan mencabik
-terkenang-kenang
luruh dalam arsiran kanvas luka
lukisan bulan tak berwarna-

Suara suara terhenti di purnama letih
waktu menghilang di sudut paling sendiri
-tak pernah berhenti
huruf huruf terangkai
menggenang di kubangan berlumpur
hujan tak mampu memecah
menjadi bulir bulir embun
karena ia hanya mampu menghapus debu
sisa musim kemarau
yang kemudian mengisahkan
tentang rindu seperti tempiasnya-

Kenangan itu
membuat malam memeluk gigil cintaku
-lelah
bias
dan lekas
beribu masa lampau
berkejaran antara waktu dengan waktu
aku tak tahu
karena aku menjelma jadi gigil-
: di gunung ia bertapa
membekukan kenangan dan air mata

Temanggung 09112021

MOHAMMAD AS'ADI



Tidak ada komentar:

Posting Komentar