UNTUK MENCARI PUISI-PUISIMU CUKUP KETIK NAMAMU DI KOLOM "SEARCH" LALU "ENTER" MAKA SELURUH PUISIMU AKAN TAMPIL DI SINI

Jumat, 08 Januari 2021

Kumpulan Puisi Romy Sastra - BUNGA BERGUGURAN



MENARI DI ATAS KAIN SUTRA

debu tak bernoda nirmala
pembersih yang dihalalkan
sauk saja tak basah

pergi bertamu ke baitullah
jalan musyafir seribu langkah tak lelah
peluh meluruh di tubuh tak mengapa
banyu melimpah tak disentuh
tuk bersihkan wajah pada religi
sedangkan matahari di hati
tak pernah redup menyinari
puji-pujian pun di rongga
tak lekang memandu ruh di nadi

malu pada hayat
tak lelah menghidangkan nafsu duniawi
disyukuri saja pemberian yang ada
bulan masih purnama
kejora masih kelipkan cahaya
matahari belum terbit dari barat
berbenah sebelum terlambat

malu pada ruh
yang masih bermain riang tak berbaju
bercumbu sunyi dalam kelambu rindu
ketika tamu tak diundang datang
disesali tarian jiwa terhenti
tak lagi berirama: ya hu...
penyesalan alang kepalang tiada guna
kembalilah duhai ... pada rabbani

dunia ini tak pernah indah dirasa
meski disulam emas permata
tetap saja tak berharga
jika sudah tahu jalan makrifatullah

mari masuk ke dalam jiwa
di sana jalan kembara bersahaja
mahkota cintanya teramat indah
rahman rahim ilahi tak pernah sudah
surgawi yang nyata
menari di atas kain sutra

Romy Sastra
Jakarta, 050121



BUNGA BERGUGURAN

angin ribut-ribut saja di atas rambutku,
musim yang berputar pancaroba. taman-taman sudah layu, dan mata menadah hujan di wajah tak kunjung reda, apakah gelegar halilintar meruntuhkan awan? bungamu berguguran.

panas terik membahang di tengah padang kapan kau bertandang? bawakan aku selendang untuk berpayung jika kau sudi! bajuku sudah lama koyak diayak debu jalanan. aku memungut serpihan di dalam angan. ah... harapan, matilah aku ditikam diam

Romy Sastra
Jakarta, 04-01-2021



MENATAP HALAMAN BERIKUTNYA
Romy Sastra

kemarin adalah cerita
yang lampau mengukir sejarah
kekinian realita

ya, cerita seperti daun kering jadi sampah
adakala enggan dibuka
padahal ia organik suburkan pucuk berbunga
sedangkan ranting kokoh menyambut kedasih
meski batang 'kan roboh ditelan usia
angin kian lirih menerpa
siklus datang dan pergi
tegarlah!

di halaman pertama kisah baru saja dimulai
mengiringi laju yang terus berlalu
menuju bakti berikutnya

pada halaman kedua menyemai haluan ketiga dan seterusnya hingga selesai
biarlah nama dan sejarah tertulis di batu nisan
berpuisi sunyi ilalang menemani

Jkt, 3121



NYANYIAN NIRMALA


tentang malam dibaringkan ke dalam sunyi. bulan bintang setia di kejauhan, hujan datang menimpali. adakala awan tak bersahabat dengan musim, menginginkan curah
embun tak cukup membujuk gersang, dedaunan mati: berguguran

malam mengetuk pintu fajar, berpijar dada langit perlahan. dingin bermain biola angin,
dan bunian berkelana di dalam kelam. tiba-tiba raib entah ke mana? rama-rama kedinginan di daun melati memandang kedasih bernyanyi

lalu, kedasih dan rama-rama memanggil pagi,
mengajak menari terbang tinggi. mari, marilah bertengger di sayapku! kita melihat tarian ilalang tak lelah ditimpa musim. nyanyian nirmala antara malam dan pagi menyambut cahaya, tuhan meliputi segala kisah

Romy Sastra
Jakarta, 5 Mei 2020



SEJENGKAL

sekujur tubuh bersimpuh tangan tak mampu meraba cahaya, seberapa lama jam berputar?
sepanjang arus menyimpan getar

narasi nadi berkutat taat, dan mata menatap cinta sepanjang permana, kubawa-bawa berlari, kasih berbagi dari remah nan tumpah
sejawat utuh dipandu membaca; ya hu...

oh, suara deru di kalbu, surga dirasa tak jauh di lidah, pengbadian lillahi ta'ala; aku merindu

sejengkal dikejar sangat jauh
terdekat berpendar tak lilin padam
pesta asyik mengusik pelita
aku mencari rumah dari rupa zamrud
tempat duduk malakut bersujud:
ya zuhud jabarut tiada kantuk
kemilau al-mulk berpagut
cinta mewujud megah; matilah aku disorot pesona

Romy Sastra
Jakarta, 22 April 2020



MAKAM-MAKAM YANG BERJALAN
Romy Sastra


melihat makam-makam berjalan di tengah keramaian, diriku adalah di antara mereka yang berperan. lalu seketika aku merenung tentang alif berdiri di tubuhku, simpul urat menjalar dari titik hati hingga ke titik nadi tak putus seirama mengabdi: ya hu... dan seringkali aku tergoda di moleknya dunia terlupa pintu langit dibuka. makam-makam itu memungut serpihan nisan dipajang di catatan kehidupan, akan diperhitungkan kemudian. mari diriku belajar meniti maqam sendiri pada sujud yang kemaruk dimabuk rindu. aku menyeka telaga nan tumpah sekembali dari menatap cahaya, ternyata rupaku tiada.

Jakarta, 80121



KEMBANG MISTERI

melintasi titian senja menuju dermaga malam
tertatih langkah memandu laju, dan kubawa seciduk tirta tak tumpah menyirami taman-taman bunga hampir layu
berharap kembang senja mekar selalu

menyibak sehelai rambut jatuh di hidungku, padahal sedari pagi dagu bertanya pada dungu. oh anggrek, mawar, ataukah anyelir cinta kupilih? semua tumbuh di beranda jiwa berwarna ungu, jawaban resah tak tahu

lalu, kupetik kembang melati kucium mewangi. janji terpukau di batin hendak mengabdi, kupelihara kelopaknya tak dikoyak benci. jaring-jaring kupasang jadikan telik sandi, jika kelopak gugur apakah senja telah pergi?

aku pungut doa-doa malam di sanubari
kirimkan ke langit tengadah tadah meminang kekasih, berharap pintu langit terbuka
wajah yang dirindu bertamu

ahh, kembang manjari di titik batin tak tersaksi dibungkus misteri, rinduku semu angan berlalu sia-sia kembara di jelaga kelam tajaliku hitam

sebait doa pasrah di makam tak bernisan
aku menyunting kisah kasih tak sampai di pembaringan malam, dan akhirnya kemboja bersedih di titian senja pendayungku rapuh hanyut tertinggal jauh

Romy Sastra
Jakarta, 6121



DENDAM SILSILAH
Romy Sastra


sedari awal bumi dihuni khalifah, keturunan adam menoreh tikai menjadi panji berdarah di garis silsilah purba. syits pun ditipu idajil merangkai sukma di rahim dlajah, skenario rabbani menguji dua kubu pada pembantaian sepanjang sejarah adalah dendam tak sudah. hitam putih sama-sama mencari posisi, nubuat berkhidmat pada risalah, suara daud tak mampu mendamaikan semesta, dan berbahagialah burung-burung menikmati merdunya. apakah tuan-tuan tergoda moleknya khuldi? mesiu jadi ladang mantra di selangkangan dunia, peradaban silih berganti di ambang kehancuran. konflik diciptakan di sana-sini, dan tak asing di meja politik bermain catur sangat cantik, tuan berpesta di dada ibu yang tabah, aku mengutukmu biadab....!!

Jakarta, 11 Januari 2021



TONGKAT IBRAHIM YANG TAK RAPUH

Betapa tindakan Ibrahim di masa kehidupannya, Ibrahim ekstrim dinilai dari sudut pandang dunia. Ibrahim berpoligami, istri kedua serta anaknya Ismail ditelantarkan di tengah gurun dan menyembelihnya. Bahkan Nabi Ibrahim lebih ekstrim lagi menegakkan ajaran tauhid demi kebenaran agama dari Tuhannya. Ibrahim menantang Namrud dan rela dibakar tak terbakar. Mungkinkah Ibrahim di zaman sekarang dinilai radikal, intoleran, mensweping berhala lalu menghancurkannya? Maka, menarilah jiwa-jiwa yang tenang dengan tongkat alif tak goyah, buka lembaran sejarah berkacalah!

Romy Sastra
Jkt 110121



MEMBACA CATATAN MUSIM

Bagaimana Mikail diperintahkan Ilahi bersujud Dia mengatur peredaraan musim
Aku menatap cahaya dalam gelap
Batin berucap lirih
Hujan adalah tasbih kehidupan di bumi
Bibit menari alam bernyanyi

Romy Sastra
Jakarta, 15 Januari 2021



PENTAS SUNYI

pentas-pentas yang sunyi
suara angin merayu pilu
mereka membatu di sana-sini
hanya menyepuh ingin
dunia berkabung

di orasi yang dulu
mengaum seperti macan lapar
kini dibungkam keadaan
euforia geming
di mana gerak berjarak
kau dan aku terpisah senyap
hanya sesekali kubuka tiraimu
di balik gadget usang yang dipegang

kita tahu, dunia merisau
baiknya diam saja dulu di rumah
menunggu badai reda
kelak kau dan aku dapat berjumpa
di madah-madah yang dibaca

akankah kita keluar dari penjara aturan?
baiknya patuhi himbauan!
semoga badai berlalu
sadari! jika ingin terbang bebas
bak unggas menari di angkasa
tapi jangan lengah 'kan terjatuh
ibu yang tabah tetap menunggu
menangisimu di batu nisan

Romy Sastra
Jakarta, 210121



BAYU KAU NAFAS SYURGA ITU

Semilir ilir mengukir syair
tatapan syahdu
dendangkan kidung bisu

siulan bernada cinta dari liang rongga
melelapkan kenari yang lagi bernyanyi

Bayu, kau nafas syurga itu
tercipta dari rasa taman mutmainah
bila padang gersang
akan subur dari nada nada siul senja
bertakbir menatap langit
berkumpul sujud di rumah qulhu

Nafas syurga itu
dari langit langit rongga menyeru
melipat dunia dari nafsu tercela
berkoloni ke mata hati
lalu melaju ke gunung thursina
diantara dua rongga goa
di ka'abahtullah

Bayu, kau nafas itu
bila mamiri menyejukkan hati
jikalau berkoloni kabut kau merusak alam ini

bayu nafas kehidupan yang melaju pergi
bertamu silih berganti
datang dan kembali

nafas kehidupan di kawal israil dan israfil
sang pencabut yang mengigil
ketika sang bayu sudah sampai
di penghujung jalan itu
berakhir sudah opera cinta dunia.

HR RoS
Jakarta, 11-9-2015, 14,23



LENTERA SENJA

Lentera senja perlahan mulai menyala
pada kerlip fajar menyulam awan
angkasa raya berotasi pada lembaran waktu
angin malam berembus perlahan.
oh...
kidung takbir yang membubung tinggi ke peraduan insani
pada pucuk pucuk yang bermekaran di taman impian
tertumpang embun kasih sekejap
akan bersemayamnya
manik manik lentera jalanan
bersama kunang kunang malam.

Takbir kumandang adzan
telah memandu ke mihrab tuhan
terik telah padam ke ufuk maghribi
gelora cinta illahiah berkemas ke
sajaddah jamaah ka'bah..

Satu tarikan nafas itu
memuja kehadirat tuhan
lafaz ayat ayat suci
terbukanya tirai kekasih
bercinta dalam halbumminallah.

HR RoS



KANDAS

Lunglai tertatih berjalan lirih
dari setitik harap terperap kasih
menyentuh bayangan tak tergenggam
tersesali tak terfikirkan.

Hujan tak bertepi
kandas diawal jalan
ku telah melukis tinta kasih
tak mampu menuai seribu janji
satu ikrarpun lenyap di kegelapan.

Kini,
aku tertanya di dalam hati
akankah sisi hatimu telah terbagi
karena tak lagi wartamu di titipkan oleh merpati siang ini
yang selalu singgah membawa kembang cinta ketaman rindu.

Di persimpangan jalan ini
akankah kasih ini kandas di rerumputan jalanan yang tak bertuan.

Deru debu telah melulur peluh
basahi sekujur tubuh
padahal.... kau yang selalu ku tunggu di shelter ini
kini kau tak pernah hadir menyapaku
apakah jalan itu telah berliku berbelok arah ke jalan buntu....
atau keruang sesuatu....?

Bila kembang kantil tak lagi beraroma wangi
aku senyapkan diri kedalam mimpi
relakan aku berkawan sepi
mengisi sisa sisa hidupku kini.

Mmm
kasih tertatih perih
maruah tertuduh hipokrit cinta
padahal,
operaku tidak mencipta pesona
melainkan tuntunan budi
kedalam relief relief religi
dan itu sebuah potret jati diri
sebagai nilai ibadah.

Aku tak semudah yang kau kira
dan tak sehina yang kau duga

Pada goresan lara tertanya dalam hiba
aku titip puisi di lembaran ini
dan aku ucapkan sekali lagi
aku masih disini
mencintaimu kasih.

HR RoS
Jakarta, 1-3-2016.. 09,55



CATATAN HATI YANG KIAN MIRIS

Rasa seakan menjerit
susah menjahit kembang yang terkoyak duri
benang kusut tak terurai
tak ku temukan hujungnya
benang sulaman di dalam hati

Rasa bak meniti titian lapuk
gamang bercermin diri
tak kelihatan bentuk rupa
di telaga tenang dan dangkal yang menenggelamkan

Bayu terasa menerpa kalbu
tak kulihat hadirnya bayangan itu
halus lembut seperti salju
menyentuh dinding bulu romaku

Tertatih mengenal diri
meluah potensi yang tersisih
berharap
pentingnya sebuah pengertian
dari cabaran harga diri

Mencoba meyakinkan purnama yang terangnya dari lubuk hati
untuk mau di mengerti
demi menerangi lautan mimpi
karena ku takut dengan sebuah ketergantungan hayalan
takut terlelap tak bangun lagi

Lelah,

tak adanya sebuah kearifan diri
untuk mengawal motivasi
dari perjalanan hidup ini
yang sangat melelahkan

Hingga kini,
menu menu kehidupan itu
tak lagi di maknakan
membuat aku takut tercampak
ke jurang kegagalan
sehingga pelita itu kan padam.

HR RoS
jakarta, 12-10-2015, 20, 50



PUCUK PUCUK BIAS

Pada pucuk pucuk muda bertenggernya
siembun pagi akan bias oleh terik
di balik jendela
butir butir nan cantik mengikat pesona
pada jentik hama menumpang kasih
berenang berkoloni embrio menitip cinta tiranikan sidrakula

Semusim siklus telah terlewati
pohon pohon kerontang telah subur dari musim hujan yang tak kunjung reda.
siburung murai
telah berkicau pada pagi hari
sangkakala terompet mencicit asyik di hujung parung
terpaku dungu menatap mekarnya sikembang cantik di taman mimpi
wahai siburung malang tertatih kasih dalam dinginnya suasana pagi
berlalulah kau dari tatapan itu
terbang tinggilah jauh pada angkasaraya
bersemilah disana.

Kembang cantik bermahkota duri
tak tersentuh oleh merpati yang termenung
tatapannya bias tertikam ilusi kosong tak terjangkau

Esensi kasih layu tak tertunai
sang merpati lara menjadi bangkai
merpati terbanglah tinggi jauh ke balik awan.
lenyapkanlah lara kelorong kosmik
janganlah gugur diatas pucuk pucuk bias
tenggelamlah ke dalam samudera hayalan tak berbekas.

HR RoS
Jakarta. 3-3-2016, 10,18



PELANGI IMANKU MENGGODA DI MEDAN TAUHID

Aku tanjaki lumbung pusaraku
menapaki jejak jejak tasawuf sufi
dalam perjalanan makam makam
kasta kasta imanku
aku bersimpuh tertunduk malu
oleh hadirnya pelangi pelangi nafsu
pelangi itu mengikuti langkah imanku ke medan tauhid.

Aku mengembara.....
pengembaraanku......

Zikir af'al hadirkan akhlakku
Zikir asma' hadirkan makna hikmah
Zikir hatiku, hadirnya cahaya bathin
Zikir rasaku, hadirnya awas rabbku.

Lelah dalam asyik
seketika pelangi imanku nyeletuk
sudahlah, janganlah berpayah...!!
kalau kau mau mahkota cinta
aku hantarkan kau ke surga dunia

uuuhhhh....

kasihan kau bersusah payah
cupu manik astagina itu
tak kau dapatkan di sana kawan

kalau kau mau itu,
campakkan dulu sang pelangiku
maka imanmu akan menembus
tirai kacahaya itu
disanalah tirtamaya kau di suguhkan
kan kau dapatkan.

Kacahaya tirtamaya itu
bermakrifatkan rasi-Nya
mauttu qoblal antal mauttu
matikan dirimu sebelum engkau mati.

HR RoS
Jakarta, 2-3-2016, 16:02



KEMATIANKU FARDU AIN

Ketika jejak Alif ku sibak
berkelana di mi'kraj rasa
bila silaku terpaku
aku menyapa ke sesuatu yang ku rindu
ada di dalam diriku.

Fardu ain diantara kifayah
aku bermandi berwudu' bathin
ku lafaz mantera nawaitu sendiri
aku terbungkus dalam tajalli sholat jati asholatu daimullah
aku mati didalam diri
terbungkus kafan kalimahtullah.

aku rela tak berdoa
ku bawah hanya cinta

Sesak membubung jauh ke kalbu
Sesungguhnya dia dekat sekali denganku
dijalan kematian dalam hayat
tergurat cahaya yang mengkilat

Hening,
sami' bak lonceng berbunyi
ku rapatkan jejak ke gunung tursina
Aku terperi,
Aku tersembunyi,
Aku terdiri,
Aku mati mencari yang sebenarnya diri.

Di dalam kasyaf mata hati
berharap wajah illahi dalam syahadat diri.

Kifayah itu
mati sebenarnya mati
di mandi
di bungkus kafani
di sholati
di kuburi.

Selesai sudah dalam rangka kefanaan dunia
yang penuh dengan kepalsuan cinta.

HR RoS



RINTIHAN ZAMAN RODA KEHIDUPAN

Coretan tinta maya
guratkan kanvas rasa
melukis pigura jiwa

Siklus gersang ke musim hujan
roda kehidupan tetap berjalan
namun tetap saja menyedihkan.

Tuhan,

hamba sujudkan jiwa raga ini
kembali kepada-Mu
bukanku meminta materi
melainkan semata mata hanya mengabdi.

Disana dan disini.....

lolongan kepedihan anak bangsa
tak lagi bersuara
seakan telah terbiasa dengan derita
pada gerimis hari tiba tiba menyapa
apakah, pertanda sendi sendi kehidupan anak bangsa ini telah lara
mengetuk dada hiba menitiskan derai airmata pada wajah langit.

Kosmik langit berputar menurut edaran yang tak bertubrukan
pada gerhana matahari di galaxi poros angkasa menitipkan sebuah kearifan tuhan untuk menyapa mayapada
berkacalah....!

Kenapa di sini di bumi ini
kearifan alam tak terjaga
padahal kau khalifah untuk menjaganya
justru alam ini tergerus oleh bencana dimana mana.

Rintihan zaman pada roda kehidupan
jurang jurang terjal yang di hantui
oleh kemiskinan yang tak berkesudahan
miskin dari moral dan iman.

yang disana
berkuasa dalam tahta
tak lagi bisa dipercaya
sandiwara sandiwara dunia semakin menggila
politik ego bak bom waktu berkibar di panji panji janji.

Benarkah itu sebuah pertanda
petuah ramalan jangka jayabaya
menyapa bumi nusantara setelahnya.
entahalah....??

bertanya kepada diri
tegarlah kau wahai hati
kehidupan ini kan berlanjut
ada masanya terhenti
ibarat jam dinding berputar
mengiringi waktu.

Telah aku jalani empat dekade masa berlalu
aku dan takdirku tetap saja menjadi sebuah misteri
yang akan menitipkan pesimisku ke arena fatalis... uuuhhhhh.. nasib.

HR RoS
Jakarta, 7-3-2016, 08:33



TINTA GEMBALA SENJA


Tarian lentik belalang cantik
di tengah padang rumput
tertumpang di pucuk daun
tunas tunas berganti
sutera kepompong melepas kupu kupu
guratan madah diksiku memandu rasa rindu, sedu sedan mengubur pilu
aku menanti malam berpelita rembulan jauh di balik awan.

Senja ini,
kaki langit menghias pelangi
membulir lembayung merona banyu
gembala gembala senja memelas domba
serulingkan terompet menuai perindu
nun yang jauh disana
termangu di hujung senja kala.

Menatap dalam tatapan kosong
membuncah gulana
lara yang tak ketulungan
kapankah angan ini megah bak padang ilalang kokoh dalam kegersangan,
pasrahku dalam do'a
mengetuk suratan berbuah manis
subur di balik tinta ini.

Wahai sang gembala senja
memadah diksi di halaman maya
bangkitlah dari lamunan itu
fajar telah merona jingga di ufuk sana
jangkrik senja bersahutan menyapa kelam
pertanda rotasi alam akan berganti.

Gembala tinta
kembalilah ke pondok santri
di penjara suci
songsong pelita obor yang menerangi diri ditangan tuanku kaji
berlari kecillah ke surau
mengejar pelita illahi
biar resah itu
perlahan menjauh pergi.

HR RoS
Jakarta, 6-3-2016, 17:53



OBSESI IMPIAN SITI DI KALA SENJA HARI

Siti, itu namamu
ku kenal dirimu di sebuah jalan di sore itu
kau seperti orang kebingungan mencari sesuatu,
sesuatu itu seperti susah sangat kau jumpai
berkeliling dengan mobil kesayanganmu mengelilingi perkampungan disana bersama keponakanmu sebut saja namanya Apen.

Ketika itu aku menyapamu, tak kau hiraukan. pantaslah sekiranya karena waktu itu kita belum saling mengenal.
sore itu akan berlalu menyapa senja, yang kau temukan akhirnya kau jumpai juga, hahaha
padahal aku selalu mengikutimu tapi tak kau sadari, kau bermusik ria didalam kereta sambil berselfie. sesekali kau berselancar ke dinding maya menyapa rakan rakanmu yang jauh di semenanjung sana.

Senja itu kian menepi, yang kau cari itu hanya seekor domba, hahahahaaaa...
aku tertawa terbawah arus ceriamu kala itu
Ya seekor domba sebagai persembahan kenduri arwah almarhum ayah yang hendak kau potong esok hari.
bukti kau merindukan ayah walau ia sudah tiada pertanda kau balas budi ayah dengan doa sebagai anak yang berbakti.

Siti,
Lama sudah ku mengenalmu cabaran demi cabaran telah ku lalui, hingga pada suatu masa ketika itu aku menawarkan sebuah pelita hati terangi kisi kisi hidupmu
serta setangkai bunga indah ku tawarkan lewat maya dijalan itu.
mmm,
Ketika itu tak lantas kau menerimanya
kau teliti siapa aku, kau pelajari latar belakangku, hingga akhirnya kau menemukan aku.
Kau sambut pelita itu dan kau genggam dengan mesra.
bersama setangkai bunga cinta yang ku persembahkan itu kini telah subur ditamanmu
pelita itu menerangi seantero rasamu..
setangkai bunga itu kini mekar dihatimu dan telah berputik.

Sayangnya pelita itu goyang kini, di terpa bayu
mengusik beranda hatimu
pelita itu kian temaran dalam gelapnya malam
dan sayangnya lagi, setangkai bunga yang berputik itu akan layu dengan bayu jerebu bisu, jerebu dari bara emosi maruah rasa di cabaran maya.

Siti,
kini ku tadah embun di pagi hari tuk sirami jerebu emosi ego diri
nyatanya tak mampu juga ku padamkan.
dijalan itu aku menemuimu kembali
dan dijalan itu inginku kau nyatakan jugalah kesungguhan kesetian cinta yang abadi dan kisah yang mungkinkah akan terealiti, akankah mmm
entahlah,

Dan apakah akan berakhir sudah sebuah kisah cinta tinggalkan memori memori dijalan ini, entahlah juga.
Jikalau engkau bertanya tentang hatiku,
dimana posisi hatiku berada saat ini
aku menjawab dengan senyuman...
kau ada di hatiku dan aku ada dihatimu dan itu bersemi dalam benaku.
apakah akan aku akhiri memori di jalan ini jawabanku tidak,,,,!!!!

Siti,
Kau akhir dari sebuah petualangan itu.
meski hidup kita jauh berbeda
kau dihujung samudera biru di wilayah gunung kinabalu
sedangkan aku tercecer diantara lorong lorong waktu di tengah kota ini
kota yang menjadi setumpuk harapan
dan kota ini juga sebuah kegagalan hidupku yang akan menyapa obsesiku dikala nanti.

Duh,
Sanggupkah cerita mimpi ini terealiti dalam nokhtah walau itu tak beralamat..????

Meski kakiku terikat rantai besi
dan rantai itu hanya sekali kali bisa kubuka.

siti, ku ingin cindera nokhtah kan berbuah berputik menjadi pelanjut tirani history mimpi yang terealiti.
Ah, malam malam yang panjang aku selalu larut dalam bayangan kasih sayang
akankah kisah ini sebuah misteri saja dalam kisah cinta yang akan terhempas lara..???
entahlah.

Aku menyapamu dalam madah obsesi mimpi dikala senja umur yang sudah menghampiri.

ku tunggu kau dijalan ini tuk kembali
torehkan sahaja cinta berjubah bijaksana
untuk menghiasi hidupmu sampai tua

semoga kearifan rasamu kian ter arah
menuju cinta yang tak pernah sudah
setiaku memandu kehujung waktu
sampai akhir hayatku. Wasallam.

HR RoS
Jakarta, 7-9-2015, 02,00



AURORA CINTA YANG MEMUDAR

Aurora cinta yang dulu pernah megah
berkilau di kelopak atmosfir senja
kini tergerus pada iklim
perlahan,
cahayanya akan memudar di rotasi pelangi
dalam peredaraan galaxi langit
menghujani bulir bias dibalik selimut awan.

Sedangkan,
pada lilin lilin kecilku itu
pelitanya yang biasa menerangi malamku
dikala rindu menepi ke bibir tinta
tak lagi madah guratan cinta menerangi
di lingkup ruang hatiku.

Pada suatu hati
yang tak lagi bercerita tentang cinta
kini aura iklim telah mendung
seperti gerhana rasa
dalam madah madah tinta
bergejolak menghias sebak
lelah di nokhta kasih setiap hari.

Pada jalinan simpul sumpah benang emas
mengikat atas nama tuhan
tak lagi bisa di pertahankan
akankah jiwa ini terkutuk
terpasung oleh nyanyian
kicauan merpati putih lirih
yang selalu bertengger di ranting mati
bersiul di balik dinding sunyi
yang selalu terbang sepi menyendiri
terbang melayang
melingkari sayap sayap pelangi cinta
uuuhhhh...
entahlah kini,
termisteri dalam takdir.

Pandanglah air laut yang pasang surut
adalah irama samudera mendebur pantai
ketika pelayaran dewa ruci
mengikrar sebuah janji
tuk arungi samudera
rela hidup dan mati diayun sagara
aku telah bersikoci fatamorgana
bersauh laju di riak yang telah pasrah
terdampar di benua tak bernama.

Kasih...
terkadang bertanya diri kedalam doa
hiduplah seperti batu karang
kokoh silih berganti di hempas gelombang.

Nyatanya ia juga bisa rapuh
di guyur hujan airmata langit
kepingan batu karang terkoyak
tersusun ke bibir pantai
dan tenggelam ke samudera yang terdalam
dan tak mungkin bangkit lagi.

uuuhhhhh...
biarlah semua itu terjadi
aku rela
aurora cinta itu lenyap ke hujung mimpi.

HR RoS



AURORA CINTA YANG MEMUDAR

Aurora cinta yang dulu pernah megah
berkilau di kelopak atmosfir senja
kini tergerus pada iklim
perlahan,
cahayanya akan memudar di rotasi pelangi
dalam peredaraan galaxi langit
menghujani bulir bias dibalik selimut awan.

Sedangkan,
pada lilin lilin kecilku itu
pelitanya yang biasa menerangi malamku
dikala rindu menepi ke bibir tinta
tak lagi madah guratan cinta menerangi
di lingkup ruang hatiku.

Pada suatu hati
yang tak lagi bercerita tentang cinta
kini aura iklim telah mendung
seperti gerhana rasa
dalam madah madah tinta
bergejolak menghias sebak
lelah di nokhta kasih setiap hari.

Pada jalinan simpul sumpah benang emas
mengikat atas nama tuhan
tak lagi bisa di pertahankan
akankah jiwa ini terkutuk
terpasung oleh nyanyian
kicauan merpati putih lirih
yang selalu bertengger di ranting mati
bersiul di balik dinding sunyi
yang selalu terbang sepi menyendiri
terbang melayang
melingkari sayap sayap pelangi cinta
uuuhhhh...
entahlah kini,
termisteri dalam takdir.

Pandanglah air laut yang pasang surut
adalah irama samudera mendebur pantai
ketika pelayaran dewa ruci
mengikrar sebuah janji
tuk arungi samudera
rela hidup dan mati diayun sagara
aku telah bersikoci fatamorgana
bersauh laju di riak yang telah pasrah
terdampar di benua tak bernama.

Kasih...
terkadang bertanya diri kedalam doa
hiduplah seperti batu karang
kokoh silih berganti di hempas gelombang.

Nyatanya ia juga bisa rapuh
di guyur hujan airmata langit
kepingan batu karang terkoyak
tersusun ke bibir pantai
dan tenggelam ke samudera yang terdalam
dan tak mungkin bangkit lagi.

uuuhhhhh...
biarlah semua itu terjadi
aku rela
aurora cinta itu lenyap ke hujung mimpi.

HR RoS



DARI HATI MENGINTIP NURANI

Duduk tafakur
menghitung jalan rotasi jari
ketika riyaddoh menggenggam tasbih
hening berkawan lafaz
tenggelam kedalam sunyi
dari hati mengintip nurani.

Duduk bersila
langit langit pat ku lipat
merapat mengekang syahwat

cahaya cahaya pengoda menyapa cinta
religi cinta illahi
cabarin kemilau semu
semu dari nafsu nafsu itu.

Nafas nafas bergulir santun
keluar masuk mencipta hikmah
hikmah penawar resah

Asyik
laju kalam memandu ke dinding mihrab hati
hentakan dalam diam,
bak kuda sembrani
terbang membumbung tinggi.

dalam perjalanan hati mencapai makam
makam
alam diri.

dari hati mengintip nurani
nurani diri berjubah budi
dari rahman rahim kekasih
bak kemilau lembayung teduh
bening indah memukau silau
sejuk tak tersentuh menyatu.

Dalam diri
asyik khusyuk membulir rindu
rindu kepada sang kekasih itu.

HR RoS
Jakarta, 04,11,2015, 18,43



DIRI MENCARI HAKIKAT DIRI


Martabat alam di tingkat makam
makam diri dalam pendakian
martabat alam tujuh dan sembilan
sang kekasih dalam kesunyian

Ketika malam mengadu rindu
di dalam pertapaan bermantera rasa
bertamu di dinding dinding cahaya
cahaya cahaya sang pengoda

Berlalu meninggalkan pertapaan
kaki ku langkahkan jauh ke dalam diri
berada di titik mata hati
aku terpesona melihat kekasih

Dalam diam ku tatap apakah ini tuhan
dia hadir berwarna warni,
aku tinggalkan kehadiran itu berlalu pergi.

Kekasih itu
tak berwujud
Tak berwarna
bukan huruf
bukan cahaya
Dia dzat laisa kamiselihi

Menyelimuti.

menembus lorong kosmik jiwa
berlayar di angkasaraya rasa
mencari sesuatu yang di puji
diri mencari hakikat diri
ia bersemayam di mihrab cinta
cinta sang kekasih itu.

HR RoS
Jakarta 17-9-205, 08, 20



HATI YANG TELAH DINGIN

Bayu yang biasa menghembus rindu
selimut malamku telah berjelaga kelam
hawa dingin kian membeku
dingin semakin dingin menusuk tulangku
malam ini tak berpurnama
terik menyapa pagi
lenyap dirundung gerhana
taman galaxi sunyi tak berbintang
aku raba embun di dada cinta
bias tak terasa.

Rintik gerimis malam
menitis crystal bening
rinaikan hujan membasuh luka
yang tergores dari sembilu maya
sang lelap masih bermain mimpi
padahal diawal malam sudah tenggelam
aku baru saja memulai kisah
menanam teratai indah
dipelataran telaga hati
teratai yang tumbuh hidup tak berpegang rapuh di sapu banyu.

Teratai putih berurat tak berakar
kembang cantik penghias telaga
tumbuh subur berorganik alami
tapi sayangnya di petik
harus bermandi luka.

Pagiku berselimut kabut
bertongkat tinta menulis sastra memadah diksi syair syair cinta
untuk pengobat luka yang tak berdarah
uuuhhhh.. sembuhlah kau luka
terluka yang tak bermakna.

Impian hati yang telah dingin
lelah menatap canda
akankah kisah ini berakhir
di lintasan maya.
entahlahhh...
biarlah sebak ini menghias lara
aku akan tetap disini menantimu
untuk SETIA
sampai pertemuan mimpi
menyambut kasih ke dunia nyata.
bermimpi bermimpi dan bermimpi
menokhta misteri menjadi nyata.

HR RoS
Jakarta, 8-3-2016, 13:25



TESTIMONI RELIGI MATA HATIKU

Aku awali langkah sadarku dengan ibadah
berharap istighfarku diterima
aku berjalan dilorong lorong goa rasa
karena panggilan cinta berdasarkan ilmunya
aku rapatkan semua barisan kedalam iman.

Meski kamilku telah ternoda
oleh warna dunia
ajsamku berdebu nafsu
aku tercipta dari unsur kehinaan
tapi ajsamku itu melahirkan hikmah
dari duta sang arwah.
D
U
T
A
Duta arwah itu melahirkan hidupnya alam diri
sebuah pergesekan anazir empat bayanganku.
bayangan itu berupa nafsu
yang menjelma sebagai sahabat misteri.

Sahabat misteri itu,
lawwamah, sufiah, amarah dan mutmainahku.
ia tercipta dari nama yang indah
konsep illahiah yang sempurna.
yaitu wahadiyatku berkembang sebagai pelaksana arwah / ruh,
wahadiyat rohku naik berkelana kepada wahdat.

Disana aku temukan rasulku
bersemayam dalam mata hati
karena saksiku, saksi itu syahadat
tersaksi karena terangnya wahdat itu
wahdat itu sebagai sumber lil 'alamin.
aku fana.... mata hatiku haru, religiku menggigil.

Cintaku fana,
lorong hatiku tak kutemukan lagi,
yang ada maha.

insan kamilku
tersaksi didalam megah arasy-Nya
alam jatidiri
yaitu di alam ahadiyat.
Dia yang tak menyerupai, bukan warna, bukan huruf, tak berbentuk.
mengawasi, menyelimuti sangat indah nikmat sekali.

Dia tersaksi oleh religi mata hati,
duh diri,,
kembalilah jiwa jiwa yang tenang itu dengan cinta kepadaNya.!!!!
tanpa berharap surgaNya.
biarlah cintaNya itu memahabbah surgaNya
alhamdulillah,
aku terhempas kedalam maha.
aku esok ingin kembali lagi ya Rabb...
izinkanlah nafasku bertasbih selalu,
pada masa aku memandu mikrajku
bertemu di keheningan itu.

HR RoS



RENUNGAN MALAMKU

Pada rona senja
aku menengadahkan wajah ini
dalam mihrab cinta,
berbungkus kesibukan asa dalam langkah siang tak kutemukan kedamaian tujuan diri.
wajah wajah pengoda merayu hasratku
melupakan tugas rohani kewajiban itu.

Malam ini,
dalam lembaran malam sejuk tipis
dingin menusuk tulangku.
di beranda seorang diri,
bersandar pada kelam
aku bernyanyi pada gemercik semilir angin
menyentuh dedaunan di bibir dahan yang melambai perlahan.

Tetesan air pancuran
di aliran kolam depan rumahku
menitis tak jemu,
seakan membisikkan lirik malam yang syahdu.
dalam renungan malamku
aku menatap pada langit langit rumah ini
terima kasih tuhan,
engkau telah mendamaikan hatiku di peraduan sepiku asyik menunaikan religi.

Malam,
dalam mihrab alam diri
aku tafakur mengukur perjalanan yang telah jauh laju itu di tempuh,
adakah perjalanan itu lelah lebih lelah dari yang pasrah....
adakah kosong yang lebih kosong dari tiada,
adakah sunyi yang lebih sunyi dari kematian itu..?
aku sendiri memadah takut
pesimis dan ngeri.

Diri,
kemanakah kan di bawah penyesalan itu nanti...??
entahlah.

Ku ingin berbenah
dalam renungan malam
aku menatap illahi
memohon kedamaian dalam perjalanan hidup ini
dalam renungan sesaat
asyik memandu kalbu ke maha kekasih.

HR RoS
Jakarta, 18-3-2016, 20:46



MENYAMBUT WAKTU

Ditepian senja
aku berdiri di jalan ini
menatap warna sang surya
yang kian berlalu pergi.

Pada lentera malam,
perlahan cahayanya melirik temaram menghias kelam.

Aku yang menunggu rindu
pada lafaz suci berkumandang
di siantero negeri,
sejenak aku tenggelam dalam alunan adzan
betapa syahdunya takbir tuhan.

Dalam perputaran waktu
ketika terik hilang,
masa telah di sambut malam yang berkabut
berkabut embun yang sejuk,
sesejuk rinduku pada-Mu.

HR RoS



SIMPATI PARIS CEMOOH TRAGIS


Kepada satu keyakinan
setiap yang punya jiwa
bertuhan

dalam tubuh satu adam
memandu nafsu nafsu syetan
hawa suci di kebiri
dari otak otak hewan duniawi

Paris di guncang petasan
satu dunia berempati
ketika timur tengah terjajah
bom setiap hari menguncang
ratusan ribu telah begelimpangan
seakan satu dunia tuli dan bisu.

uuuuhhhhh..
di mana keadilan itu..???

Adakah ini pertanda
risalah makna management illahiah berbicara...?

ketika yang lemah dihancurkan
yang megah di gulingkan
sang tokoh dunia kafir
berpesta seremonial
ia orasi tertawa kemenangan.

Duh,
kausalis alam berbicara dalam zaman
dalam setiap peradaban.

lambang akidah bertumpu ke dada ibrahim
para utusan risalah tuhan
menyelaraskan akidah illahi untuk alam
dari zaman ke zaman
sampai akhir zaman
semua al mukminin bil ikhwan..

Apalah yang kau inginkan
wahai kesombongan...???
dunia dan hidup bak sebatang rokok
seketika akan padam.

Panji panji aliran mengkultus doktrin
padahal doktrin kebenarannya itu
adalah kenistaan
seakan bertopeng paradigma kesucian.

Wahai penghuni bumi
kembalilah ke fitrah nurani
sucikan hati raihlah tuntunan illahi..!

dalil dalil sang utusan
janganlah di perdebatkan
berpeganglah ke dalam setiap bimbingan
para utusan utusan itu
mengamanahkan
tentang ajaran kearifan alam
untuk sendi sendi kehidupan.


lawan dajjal dajjal diri
yang berkoloni dalam doktrin sesat
sesat menyesatkan.

PARIS,

kau simpati itu
tragismu sehujung kuku

kau di cemooh
dari bumi bumi yang telah di hanguskan
di hanguskan oleh sekutu sekutu kemunafikan
mereka mati tumbuh seribu
turki berdarah, syiria genosida..
palestina tertindas,
seakan dunia masa bodo saja.

HR RoS
Jakarta, 18-11-2015, 11,20



HARAPANKU ITU KECEWAKU...OH

Kau yang disana berdiri di hujung hari
menatap dalam tatapan jingga,
aku yang selalu menantimu tersisih dalam rindu
menanti khabar mayamu
yang selalu menari disetiap hati.
jinggamu sulit aku baca,
karena kau bermain dalam temaram
kau yang selalu bernyanyi bersama dengan camar camar pantai itu.

Aku datang, baru terkisah diujung waktu
berdiri di pantai yang akan terkikis
menjelang sore ini aku bernyanyi
menyibak bayang bayangmu berharap menghampiriku.

Aku selalu menatap sosok potretmu
Wibawa wajahmu melukis indah dalam bola matamu.
jingga yang akan menghias di temaram itu
berharap membawah kedamaian cinta.

kini kenapa...?????
Dan kenapa di awal malam ini kau rubah irama cinta menjadi gulita..??
apakah karena kau gamang dipertengahan malamku, bahwa hidupku memang kelam.
aku yang berharap dari temarammu
mampu menyinari harapan hidupku,
nyatanya kau memang gamang berhadapan dipenghujung malam itu.
kau takut tersesat karena gulita hidupku pekat,
memang butiran sayap kunang kunangku tak bisa juga menerangimu.

Aku yang terkisah kini dalam harap
dan terdampar dalam kecewaku,
berharap secercah asa menyapa hidupku kelak.
semoga kelam malam ini berlalulah.!!
izinkan aku tuhan menyongsong pagi ini
menatap mentari
terangi hidupku
disini..
dirumah ini.

HR RoS



BERTAHAN DI SUATU COBAAN

Mencoba bertahan di suatu cabaran
ketika tabir terkatup
bungkam melawan arah

Satu sikap kebodohan
yang tak semesti di semaikan
belajar dari sejarah
membuat hidup semakin bermakna dewasa.

Resa dan gelisah telah berputik rela
buah buah ranum telah berguguran
jatuh kebumi tak lagi bisa dimakan.

Aku datang sekali lagi
menghampiri sunyi,

bertanya..?
apakah janji janji yang ternohkta dalam rasa
akankah masih setia dan tabah dalam cinta..??

dan aku bertanya juga kepada garis tangan
lekuk garis melingkar lurus
ada tergurat retak melukis misteri
terkesima dalam tanya
bingung tak ada jawaban
yang bisa di pahami.

Aku genggam telapak tangan kembali
ku tutup rapat rapat
minda yang mencabar selalu berulam tikam
ku telusuri jalan berduri
ranting ranting berserak
aku ikat dengan temali
ku jadikan untuk menyapu pilu.

Bertanya kepada takdir
jawabannya telah terealiti
bertanya kepada azali
semua misteri.

Bertahan kepada sebuah cobaan
yang tersisa keyakinan.

akankah kisah ini berakhir indah pada waktunya..?
mmm, terserah... dan entahlah..

HR RoS
Jakarta, 03-11-2015, 08,40



AKU KAU DAN PUISI ITU

Aku,
seperti kepingan retak
kepingan pecahan kaca yang berserak
di lirik rupa diri sebatas seni
figura yang tak menarik
tetap di bingkai
meski gambarnya tak cantik.

Langkahku telah tertatih
bersama tinta yang sulit dimengerti
aku belajar diksi bersolek syair
dengan kertas lusuh

memadah rasa,.
bukanlah sebagai penulis ulung
torehan tintaku seakan gombalis
pribadiku bercerita dalam luah
bukanlah memadah rayu
melainkan,
irama sukmaku yang mendayu.

Kau...
objek itu,
bukanlah bayangan semu
realita suratku,
bertaut dalam bingkai kaca maya
berdirilah...!
sebagai penonton yang syahdu.

kau dan aku
berkoloni...
dalam kearifan cinta seni puisi
ku ingin,
fahamilah aku..!
semestinya
berbahagialah kita hendaknya.

Puisiku itu...
adalah aksara diksi tinta
memadah rasa
bak alunan gending mendayu
melenakan kepekaan kalbu
syahdu,
di beranda muka buku.
Ku larung sastra pada senja ini
melukis pelangi dengan berdinding hari.

senja ini,
mataku melirik di keindahan setangkai bunga cantik
ku petik,
ku jadikan mahkota hati
bunga itu kini layu sebelum berkembang.

Memanglah,
aku memilih jalan yang berbeda
dalam filsafat cinta
tetap, setiaku mengukir noktah
kedalam istana jiwa

Ku puisikan berbagai memoriku
ke dalam story story yang telah terjadi
sebagai saksi history cinta yang tak terjamah,

meskipun jalan hidupku
telah remang untuk ku tempuh
meraih gita cinta yang indah
bersama kekasih.

HR RoS
Jakarta, 4-12-2015. 17,57



DESTINASI PERJALANAN DIRI

Ketika perjalanan diri telah berada di bibir pantai kehidupan ini
destinasi hidup adalah pengabdian
menuju pada kematian.

Samudera biru membentang tak berhujung
nun yang jauh disana
berkoloni antara arasy dan kosmik
tak bertempat mengitari cakrawala misteri
menyatu dalam satu kesatuan tujuan yaitu tuhan.

Destinasi diri,
adalah mencari jatidiri itu sendiri
meskipun perjalanan itu terhapit oleh gunung daratan lautan dan gelombang
kehidupan ini tetap akan berlayar menuju kepada sebuah pemberhentian.

menoleh kepada sebuah irama hidup
adalah warna warni pigura kaca
menyeliputi bayangan semu
semua konsekwensi warna
akan terealiti pada pos terminal
di kehidupan nanti.

Diri ini akan tetap mengharungi samudera lahul mahfudz
tersadar ataupun tidak tetap di raih,
untuk menepati janji azali
tatkala tanya jawab di alam rahim ibuku
aku dulu berikrar setia pada-Nya
akan tetap mencari destinasi yang sejati itu ialah pengabdian kekasih,
yaitu illahiku.

HR RoS



FATAMORGANAKU

Terasing oleh sebuah kenangan
aku masih disini,, menyendiri,
menunggumu kau hadir lagi.
aku hanya diam merenung, memikirkan yang telah pergi.
Aku gagal mengisi hari hari indahnya,
dengan puisi cinta hati yang setia
kau pamit tinggalkan sepi disini..

Aku yang mengagumi sosokmu,
aku berhias kanvaskan syair hati,
kenapa tak kau pahami cerita sukaku..?
kau biarkan ceritaku berbuah fana belaka.

Cinta yang kuhidangkan tak dilayani
kau biarkan terlantar di jalan sepi.
hari berganti waktu terus berjalan,
gontai langkah hatiku selalu ku jelang,
semua keadaanmu telah ku maklumi
kasih, dimana kau kini.........??????

Kau biarkan senandung puisiku selalu mencarimu,
ditembok maya ini aku selalu menanti
kau yang telah pergi tak pernah kembali lagi.
disemua bekas puisiku aku linangi,
karena yang aku cinta
hanya manis dalam hati sendiri saja.
sedangkan hadirmu aja tak di mengerti,
bagaimana bayanganmu
menyapu linangan ini.

Aku menyukaimu tanpa ku sadar,
terkisah denganmu sesaat
membuat aku penat.
Ya Rabb...
hapuskanlah rasa ini, rasa yang berlabuh di dermaga ilusi.
telah ku ratapi kebodohanku
aku mencinta sosok dia, hanya bayangan fatamorgana saja.

Memang aku ratapi pertemuan itu
terkisah seperti dalam mimpi saja.
dan kini ku basuh tangis ini
dalam sisa sisa embun pagi,
untuk redupkan senja memerah

Malaysia itu,
di kinabalu sana
kota belud sabah
jiwaku terkisah dengannya
akankah impianku menjadi nyata
ataukah akan menjadi fatamorgana
entahlah.....

HR RoS



PARANOIDKU

Dulu..
saat bersamamu,
aku tersanjung dengan hidangan rayuan.
tersenyum dalam belaian,, terlena dalam dekapan manisnya gombalmu.
fikirku kala itu, aku akan bahagia bersamamu,
setelah kujalani semuanya semu dan ternyata hidanganmu palsu.

Kini....
kau campakkan aku,
paranoid menghias hidupku.
Ceria aku kini terasa sepi dalam keramaian
dan ketika aku berkawan sepi terasa ramai dalam ilusi kesunyian.
aku telah gagal disegala aspek asa karena kebodohanku.

Aku kini...
selalu mencoba untuk tersenyum meskipun senyuman itu palsu.
ku berjalan,
kabut kabut masa silam mengikutiku.
dan ku coba berlari
mengejar mimpi mimpi yang tertunda
selalu terjatuh di jurang yang sama.

Kecewaku...
terdiam bak membatu
aku tangisi takdirku rasanya malu.
jiwaku semakin tercabik dalam lara
peganganku patah dalam keputusasaan.
dalam malam aku selalu berdoa,
duh matahari hatiku, sinarilah kelam menyelimuti ruangku.
duh kisah silam, belailah pedihnya luka ini
biar secercah lembayung jingga
menghiasi arena hidupku.

Seberkas kenangan yg suram yang selalu membaju iringi setiap langkahku.
aku rapuh berdiri di dinding harapan
wewangian warna bahagia sulit
ku dapatkan lagi.
aku semakin sedih, pedihnya luka ini.
tak sadar maniak maniak airmata ini menetes
aku tak mampu membendung gumamman pilu
biarlah aku bawah menangis sejadi jadinya
ketika tangisku reda
semua akan berakhir sudah luka itu.

Duduk tersandar menatap angan
gemulai dibangku yang rapuh
menatap kedalam doa,
Tuhan....
energikanlah semangatku kembali,
kepada-Mu hamba berserah diri
dari rentetan kegagalan yg selalu aku alami.
semoga aku bisa bangkit meniti jembatan
perjalanan hidupku dalam sebuah tanggung jawab masa depan,
semoga ya Rabku,,
luka ini sembuh.....

HR RoS



SURAT CINTA UNTUK TUHAN

Kalung tasbih mengelilingi altar pertapaan
melingkar berputar diatas sajadah
aku berkomat kamit beristighfar
datang ke mihrabmu ya allah.

Surat cinta ku tulis lewat rasa
mewakili rasa setiaku sepanjang hayat
aku berjalan dalam laskar iman
mendaki ke dinding tauhid

Surat cinta

dan dia adalah doa
ya allah,
kerinduanku menyapa di malam buta
yang tanpa penerang, gelap gulita

Aku mencari bayangan diri
di sela sela titik titik cahaya
cahaya nafsu semu berlalu
Jiwaku mesra, singgasana sudah dihadapannya

Surat cinta yang fana
syairnya tak bersuara

Ya allah,
ismudz dzat-Mu ku lafadz tanpaku kaku
dalam fana itu
aku rindu
kekasih itu bertamu.

Surat cinta diterima
ya anta ana, .. ana anta
kalung tasbih di altarku terkapar
lapaz terhenti ku mati
ternyata kekasih itu telah menyelimuti

Ya Illahi...
aku sadar kini
cintamu maha

ya tuhan,
aku yang selalu lalai lupa dari perintah
aku sang pendosa bercita cita mengharap surgamu
ku tahu itu tak pantas bagiku,
selain hanya karena wilayah rahmatmu mengizinkanku kesana.

padahal engkau sang cinta
bercinta dengan-Mu itu wah..
indah.

HR RoS
Jakarta 24-8-2015, 10,05 wib



OBSESI YANG TERHENTI


Cerahnya mentari secerah hatiku
ku pandangi lingga warna di ufuk pulau
nelayan berjemur menatap riak laut
sedih di tunggul sauh
perahu terpasung dibibir pantai takut badai.

Ku lukis syair ini
dengan jemari yang gemulai
Ilusi majas hati kian buram
langkah ini lelah tinta telah memudar

Pelayaran itu terpaksa ku arungi
di tengah samudera tinta
badai berkoloni jerebu
aku tersasar kehilangan arah

Kalut tak menentu
pelayaran ke pulau harapan terbengkalai
pendayungku hilang
di telan gelombang

Mimpi itu usai
obsesi ku terhenti
di sebuah pulau yang bertujuan
aku karam bersama sekoci
hilang di tengah lautan
yang takkan bisa di ketemukan lagi.

Jakarta 10-9,2015, 08,13



SEBUTIR PASIR


Sebutir pasir terpijak merintih
kemana kan kau bawah langkah kaki itu,
jejak jejak di bibir pantai tergerus ombak
berlalunya kenangan sesaat
dalam pertemuan selintas angan.

Berlalulah sejauh mungkin
kakimu kau langkahkan ke sebuah haluan
hingga lenyapkan
history kita kedalam mimpi.

O la laa....
nyanyian siulan gumamamku
menghalau sepi
selamat tinggal kekasih
di pantai ini kisah berawal
di pantai ini juga kasih berakhir.

HR RoS



SENYAPMU GELISAHKU


Awal perkenalan itu
adalah kecerobohanku
canda itu membuatku layu
karena operanya kasih
tak berpentas mewah
aku tak akan pernah berjumpa dalam dekapanmu
selain kisah ini berawal dari maya, bercerita indah dalam bingkai kisah
mungkinkah akan berakhir sebagai sejarah saja.. entahlah....

Kau sebatas angan tak berkenyataan
hayalku cuma penghias lelap tak terwujudkan
gelisahku selalu mengiringi dalam bayangan
senyapmu kini menciptakan gelisahku
biarlah kasihku tak kau balas
bila kasih ini hanya sebatas mimpi.

Kau yang jauh diseberang sana
tak memiliki cinta yang sesungguhnya,
kau yang berada di negeri sabah
teronggok lara disana dalam lamunan sepi
tak berkemudi cinta,
aku disini terpasung rindu
memimpikan asa tak akan pernah bertemu.

Aku gelisah itu kini,
merintih merindukanmu
cintaku akan kaku nanti,
tak lagi kanvaskan syairku.
bibirku kelu tak lagi memanggilmu
hatiku mulai malu menjerit sapa bayanganmu.
bila kisah itu tak terealiti
biarlah ku abadaikan cinta hakiki ini,
berakhir kedalam sujud rabbku
dan mengabdi ke cinta suci itu. hukhukhuk......

HR RoS



TAFAKUR, MENUTUP JENDELA RUMAHKU


Tatkala mata ini tertutup rapat
kegelapan diri membuncah resah
dengan meresapi dalam kelam yang pekat
kan terbukanya tirai tirai cahaya kasih-Nya.

Ketika layar terkembang membentang
sagara biru hadir bersamaan memandu
hadir dengan sendirinya di ruang sukmaku
riak cahaya-Nya seperti air mengalir mendidih
mengalir ke muara diri dan sagara jiwa ini,
oohh..
disanalah kan di dapatkan Ia bertahta.

Seyogyanya memang kasih-Nya
seperti air mengalir yang tiada henti
ketika kasihnya terhenti,
maka maha kelam
akan membungkus badan
bersemayam badan di pembaringan.

Sering seringlah menutup jendela rumah diri
biar di dapatkan secercah cahaya illahi di dalam jiwa ini
semoga jalan keabadian terbentang di kemudian nanti.

Ketika rumah ini tertutup rapat
hingga menyesak tak terkuak,
matilah mencari cinta-Nya
hingga mihrab jannah di kasihi-Nya.

Antara ruhhul dan nurrun ala nurrin berkoloni bersemi ya di jiwa ini,
Saksikanlah...
disanalah firdaus itu bersemayam.
kan tersiramnya nar diri dengan nurrin illahi.

HR RoS
Jakarta, 25-3-2016. 14:44



BERCUMBU DENGAN MAHA CINTA

Pada segelas anggur aku teguk mabuk
bercumbu dengan rindu,
pada segelas kopi
aku tunduk tawwadu'
dalam wejangan guru ilmu diri.

Dalam tafakurku,
gersang kutatap padang ilalang
daun melambai bak tirai tersingkap.
ilalang kutebang,
padang menyeruak terang bak dibibir pantai,
Seonggok tunggul diatas tandus
haus berharap titisan rahmat illahi.

Aku bodoh di tepi qolam rahasia hati
sehingga tiada yang bisa aku terka
pada manisnya cinta di pertemuan itu.
ketika kasih mencucur tabir
aku terbelalak waw, terpukau.
panorama inderaku lenyap
hening sadar di dalam awas
tubuhku gemetar,
tatkala cahaya menatap kacahaya cinta
berseminya kebenaran tuhan.

Aku berlari tak terkejarnya pelangi
padahal IA telah berjingga dalam rahmat hati.
aku menatap berdiri,
Dia sudah ada di sampingku ini
aku bernyanyi, Dia ada dalam syairku..
La mutakalliman ilallah.
aku tertunduk diam
sedari awal Dia sudah menggengamku.

Aku malu, Dia tersenyum
berlalu meninggalkanku
perginya dekat sekali tak jauh dari sisiku.

HR RoS
Jakarta, 23-3-2016, 16:03



DI KOTA ITU PENJARA SUCIKU
( bukit tinggi )


Sahabatku...
Pernah aku lewat kota itu
kota yang tertanam indah bunga bunga asri dijalan santri
kota yang menciptakan pengetahuan generasi religi.
kita dulu pernah satu meja
menempa diri disini di asrama penjara suci.

Dalam lamunan senjaku,
kini satu hati tersentak rindu, rindu yang teramat sangat,
rindu akan arti sebuah sahabat.
ohhh....
dimana kau kini ya sahabat sahabatku..?
sahabat yang sehati segumam
segurauan dalam suka dan duka,
di penjara itu
kita menempa asa ke inginan orang tua
jadi anak yang berguna.

Sahabatku,
asa kita dulu yang pernah kita cita citakan
di kala impian bersama sama menjelang tidur
kini telah di raih sayangnya kita terkotak terpisah jauh.
takdir telah menentukan jati diri kita,
meraih cita cita dan cinta untuk rumah tangga di masing masing kita,
kini sudah dalam genggaman lamunan itu.

Ohh, sahabatku....
aku selalu ingat kamu karena kurindu...
bila ada waktu,
yuk kita merangkai reuni melepaskan kerinduan yg tertumpuk disudut jiwa ini.
aku ingin menangis bersamamu dalam pelukan cinta nostalgia.

Sahabat,
aku ingin berbagi cerita tentang pendidikan kenangan di asrama penjara putih itu lagi.
reuni, bila itu terjadi aku ingin memeluk erat kawan kawanku semua satu persatu,
sehingga rasa rindu yang selalu terkurung didalam rumahku selama ini terlepas.
seperti lepasnya dahaga di khafilah sahara.

penjara itu adalah penjara suci bertembok putih beratap religi.
aku kini,
mengetuk dinding mayamu kawan,
adakah kalian semua sama seperti aku..?
yang merindui kembali dipenjara suci itu..?
oh, aku yang merinduimu...
indahnya sebuah study di penjara suci itu.

HR RoS



MALAMKU DI SUDUT KOTA


Telah pergi purnama itu
meninggalkan malamku
maniac maniac kejora pun tertutup awan

Aku kelam,

Mencoba menghitung hari di dalam sunyi
telah berapa banyak tinta ku goreskan
mengoreskan diksi hati yang kian tersisih
sedih melukis lembaran lembaran semu
yang tak lagi menentu.

alamku yang tak lagi bercahaya,

Gelap.
setengah lilin tersisa ku nyalakan
aku menyelesaikan sebait diksi
rasa yang masih terperap
menatap kedalam hayal
bersandar ke punggung malam
fajarkanlah secercah cahaya itu oh awan
hingga sisa sisa malamku tak larut
dalam kedukaan.

HR RoS.



IMPIAN YANG KIAN PASRAH

Aku,

tersadar pada kelemahanku
rasanya tak mampu menatap cakrawala
karena jingganya warna cinta itu.

Engkau,

yang berada di hujung harap
telah gersangnya pucuk pucuk
rindu yang semakin layu.

Kini,

kenapa roda kereta hatiku
seakan tak berputar lagi
sepertinya jiwaku telah luruh,
oh biduk senja yang lagi melaju
kenapa terhenti dengan riak
apakah karena pendayungku yang kian rapuh.?

Biarlah,

langit itu mendung bergemuruh
yang akan basahi gersangnya bumi cinta
perlahan gersang itu mengembun
suburkan taman rindu yang gundah
di sini.

HR RoS.



DERITA BORNEO, DAN SWARNADWIPA ITU KINI

Swarnadwipa lara
Borneo pun tersiksa
duh,
rupa bumi itu kini
gersang,
bak hiroshima dan nagasaki.

Negeri swarnadwipa tanah emas
borneo kayu wangi hutannya nafas dunia
nasibmu kini telah tandus,
terjajah oleh kolonialis
pengusaha monster duniawi yang serakah.

Nusantara ini
seperti negeri diatas angin
diapit belahan benua dan samudera
tanah syurgawi yang menjelma

Polusi negeri ini telah miris
co2nya menyesakan dada
duh tanah pertiwi itu,
daratan sabah
semenanjung malaysia
brunei dan singapura
berkenduri atmosfir kumuh.

Atmosfir berkabut buruk
kenduri asap teruk bak azab menghantui,
jauh tatapan itu kelangit biru
mata seakan tertutup debu
jerebu itu telah menjadi nasib nafasku.

Ini negeri diatas angin
telah termisteri seperti penunggu makhluk jadi jadian.
ketika halilintar menggelegar
kilatan menyambar tak berhujan
bak rahwana turun dari khayangan
menerkam mayapada.

Atmosfir bersiklus sadis
tanah syailendra dan kutai kartanegara
terjajah..

Oleh keserakahan sikaya.

HR RoS
jakarta, 01-11-2015



IMPIAN YANG KIAN PASRAH


Aku,

tersadar pada kelemahanku
rasanya tak mampu menatap cakrawala
karena jingganya warna cinta itu.

Engkau,

yang berada di hujung harap
telah gersangnya pucuk pucuk
rindu yang semakin layu.

Kini,

kenapa roda kereta hatiku
seakan tak berputar lagi
sepertinya jiwaku telah luruh,
oh biduk senja yang lagi melaju
kenapa terhenti dengan riak
apakah karena pendayungku yang kian rapuh.?

Biarlah,

langit itu mendung bergemuruh
yang akan basahi gersangnya bumi cinta
perlahan gersang itu mengembun
suburkan taman rindu yang gundah
di sini.

HR RoS.



AKU TERSISIH DARI KASTAMU

Kawan..
Sadarku menulis ini,
aku luahkan segala perasaan bersama tinta airmata luka
aku yg tersisih terjepit getirnya hidup
bersamamu, tawaku lirih.
karena terpaksa iringi irama canda itu.

Kawan....
Lentera mewah yg menghias hidupmu ditaman kasih
telah terbingkai hiasan bahagia dalam bahtera nokhta cinta yang kian bersemi
aku tersisih dari kasta warna hidupmu
pergaulan hidupmu yang berpelita terang
bak selebritis berwajah borjou.
tak sama dengan hidupku yang selalu payah,
aku bak sebatang lilin seketika akan padam
penghibur di meja canda itupun terpaksa.

Kawan,
Aku lepaskan kecerianku bersamamu hanya sekedar menutup rona pilunya luka.

Sahabatku yang mewah..
hidupmu bertahta ria yang serba ada
aku bak sipungguk terhimpit pilu

deritaku dibuang nasib ketanah tandus
telaga warnaku tak kunjung bermata air
karena dari dulu aku tak punya sumbernya.
aku terbiasa menyepi dari dulu
karena lara tak punya apa apa
diri ini tertirani dari derita bayang bayang orang tua, meski bahagiaku terpaksa...
penutup hiba dari sang permata bunda.

Kawanku,
aku selalu tersisih darimu
kasta hidup kita memang beda kawan.
kau orang yang serba ada,
aku orang yg tak punya apa apa yg bisa dibanggakan.

Dalam susah ini, aku berdoa...
semoga tuhan selalu memimbing hidupku
Ketanah harapan cinta berumahtangga
cinta itulah yg membuatku tegar kembali
mengiringi candamu
untuk bisa tersenyum indah bersamamu
wahai kawan kawanku yang telah sempurna
berbahagialah dikau
di kasta terindahmu itu.

HR RoS



BERMALAM DI KLENTENG TUA


Demi kesuburan dan kedamaian
sang dewi menitiskan air kasih
dari klenteng budhis tertinggi
aroma mewangi
di lorong lorong angin
dari peribadatan sang reinkarnasi.

Pelangi jingga melingkari
di langit jakarta senja ini
petak sembilan
di payungi dewi kwan im

Para pengemis lara
menunggu murahnya senyuman
sang budhis
mendung berlapis
alam berjubah putih keabuan
pertanda rintik rintik kan menitis

pada kejayaan tao
para dewa dewi melukis senyuman
dari balik klenteng tua itu
sang pengemis
meminta belas kasih
dari sang pemuja
kesejahteraan dunia reinkarnasi.

Oohh..
Budhis budhis
penebar keharmonisan insani
dari nirwana kau tanam cinta
untuk sesama..
berbagilah kepada mereka di sana
yang mengulurkan tangan
bagi yang membutuhkan...
semoga siklus reinkarnasimu
berjaya nanti...

HR RoS
Jakarta 7-2-2016, 18,377
Gong xi fa cai



KASIH SAYANG BUNDA


Tangisan darah daging bunda
telah lahir ke dunia
memulai sebagai khalifah yang masih fitrah.

Titik titik peluh mencucur di tubuh
anakku,
lenamu syahdu di pangkuan ibu
kasih sayangku dekap
dalam melodi nina bobo tidurmu

Anakku,
cepatlah besar nak..
dikau pelipur lara ayah bunda

buah hati,
kaulah harapan yang dinanti
cepatlah besar nak..
berlari dan teruslah berlari
mengejar obsesi.

Kala malam,
berselimut dalam dekapan bunda
bila malam terjaga dalam lelapmu
dahaga menyapa
kau meraba air fitrah bunda
dengan tangisan manja
dikau menghiba
ku peluk dikau dengan cinta

masa siang berkawan hari
kau teman ceria hati.

cepatlah besar nak...
bunda doakan hidupmu bahagia

Dikala ayah bundamu sudah tiada
dikaulah pelanjut tirani keluarga nanti,
berbaktilah.

HR RoS
Jakarta, 8-12-2015, 22,22



MUKYASAFAH DI HUJUNG PERJALANAN ITU


Yaaaa... Huuuu.....
satu tarikan itu
nafasku bergulung dalam tanjakkan iman.

seketika,
aku telah berada di puncak pendakian thursina
tongkat alif itu,
memandang teguh tauhidnya.

Jiwaku bergulung dalam misykat misykat bashir
irama sami' mengalun nyaring bak lonceng berbunyi
langit pat ku lipat
hening ke ruang angkasa jiwa

Aku penjarakan nafsu nafsuku
tetap saja ia memberontak
menggoda perjalanan malam itu
seakan berjubah wibawa arjuna dan srikandi diri.

ku bakar jubah wibawa nafsuku
dengan bara tauhid
sirnalah ia.

Imanku memandu ke sagara hijau tenggelam ke dalam kacahaya rasa.

Tarikh nafasku leburkan diri
ke kasta kasta mikraj nurun

berpijak di suatu makam, tak terpijak
berlalu ke makam berikutnya
semakin terfana
fanaku asyik, syauk menyapa cinta

tatkala kyasaf tirai itu
membentang terang.
kelambunya berkilauan manik manik nan megah berpayet indah tak berwarna.

Menyapa kekasih dalam tirai cinta
salamun kaulam mirrabbirrahim
bersatunya sang pencinta
kepada maha cinta

memadu dalam perjalanan
satu malam
mabuk dalam kenduri sufi
beristana mihrab mihrab cinta
di alam ahadiyatNya.

HR RoS
Jakarta, 09-12-2015, 09,20



TERTANYA DALAM HIBA


Ku dapati satu cahaya harapan didalam perjalanan hidupku..
cahaya harapan itu
tak menerangi jalanku.

gelisahku kini,
seakan berpegang tongkat rapuh

Aku sudah tertatih berjalan menyulam kasih dalam sepi.

Debu debu jalanan berkabut
ku lintasi ke arah muara tinta memadah talenta sastra.

aku kini melukis tanya.....
dikala sedih menimpa tubuhku
ramuan rindu itu kenapa bisu..??

tak menyapa

semestinya......

Uuuuhhh...

Ketika camar bermuram durja dipantai muara kasih..
seruling rinduku di pelayaran samudera maya selalu membangunkan lelah di keheningan lara sukmamu.

Duhaiii.....

awan yang berarak senja
bawalah daku ke samudera jauh
biarku hidup dalam masa senja ini yang tak lagi menoktah rindu.

Aku kini....
mencoba membiasakan hidup tak lagi bernyanyi di pantai rindu dengan camar camar itu..


Aku biasakan sepi menyulam hari tanpa kicauan camar itu lagi.
biarlah kini...
bermadah dalam sunyi
melukis senja dengan tinta yang telah pudar warnanya.

biarlah.

HR RoS.
Jakarta-11-12-2015. 17,35



KEMBANG IDAMAN MENGINTIMIDASI TAMAN YANG TAK SEMESTI

Kebun kasih semusim berbunga
tangkai layu bunga berputik
seketika daun gugur runtuh di sakwasangka bayu yang tak menentu.

padahal tiada hujan apalagi panas terik
kenapa teruk membuncah gundah
membakar hati sendiri.

kenapa pemandangan di jelapang padi tanah yang luas kasih nan subur, seketika padi berhias jerami..??

kenapa kompromi seni memacu obsesi diri
hanya membingkai beranda pujangga dalam jalinan karya, taÄ· dipahami.
jalan terjal kau buat sendiri
berbuah analisa curiga..?

padahal, luah obsesi tintaku
tidak menoktah story hati
tak terkisah dengan nyanyian sesama seni pujangga.

Figura figura tak berkaca
kertas madah lusuh pudar warnanya.

ketika noktah mengikrar setia
berharap cinta selalu bersemi
tak jua dimengerti.

bila setia berguguran di tikam intimidasi.. apalah daya diri ini.
karena karya dan diriku bukanlah penebar pesona
malah selalu terhina semakin di fitnah.

Pada suatu ikrar tak lagi di yakini
ayat ayat illahi tak jua di percayai...?
apalah daya sang kidung malam
tak lenakan lelap malamku.

lolongan bunian malam
menikam rasa takut
kala malam tak lagi ada kedamaian purnama dibalik awan layu
yang ada hanya selimut dingin
kejora pun malu mengintip lirih.

Jiwa jiwa yang rela
menyulam malam,
mendekam dilabirin iman
bersenandung dalam bilik doa
ya allah, pelitakan jugalah ya allah cahaya iman dalam cinta.

doa itu,
hapuskanlah memori luka
janganlah luka itu berdarah lagi.
palingkan wajah wajah intimidasi
dari sakwasangka yang tak semesti.

Aku selalu mencoba menyibak awan
biar padang bulan melukis kedamaian

aku akan tetap mencabar janji suci
menoktah pelangi kasih
berharap mentari menyapa pagi
damailah jiwa ini

bila gubahan tintaku
tak jua di mengerti...
jubah kasihku telah pasrah teriris kecewa.

Bila apresiasi tintaku tak dipahami juga dengan seksama,
kau masih saja mencoreng madah disebalik tanya..
tetap di curiga seakan hipokrit rasa.

biarlah,
dan sekali lagi aku pasrah...
berlalulah sejauh mungkin yang kau mau...
ku hargai satu kuncup kan mengatup

AKU RELA KEMBANG ITU TAK KAN MEKAR LAGI.

HR RoS
Jakarta, 12-12- 2015, 22,32.



AURORA CINTA TELAH MEMUDAR

Aurora cinta yang dulu megah
berkilau di kelopak atmosfir jiwa
tergerus pada iklim.

perlahan,
cahayanya kan memudar
di rotasi peredaran galaxi langit menghujani bulir di balik selimut awan.

Sedangkan,
lilin lilin kecil itu
yang biasa menerangi selimut pelita malamku...
dikala rindu menepi ke bibir tinta
tak lagi mampu menerangi di lingkup ruang hatiku.

Pada suatu hati
yang tak lagi bercerita tentang cinta
kini telah mendung
seperti gerhana rasa dalam madah madah tinta
telah bergejolak menghias di setiap hari.

Pada jalinan simpul sumpah benang emas mengikat atas nama tuhan
tak lagi bisa di pertahankan.
akankah jiwa ini terkutuk oleh nyanyian merpati putih yang selalu bertengger di sayap sayap pelangi pagi.

uuhhh entahlah..
termisteri dalam takdir.

Air laut yang pasang surut
adalah irama samudera mendebur pantai.
ketika pelayaran dewa ruci mengikrar sebuah janji
tuk arungi samudera
rela hidup dan mati.
kini telah bersekoci fatamorgana
bersauh laju di riak yang telah pasrah.

Terkadang bertanya diri kedalam doa
hiduplah seperti batu karang,
kokoh silih berganti di hempas gelombang.

nyatanya ia juga bisa rapuh di hempas hujan airmata langit rasa
kepingan batu karang yang terkoyak
tenggelam ke samudera yang terdalam.

dan takkan mungkin bangkit lagi.

HR RoS
Jakarta, 14-12-2015, 09,25



HITAM PUTIH DENDAM ABADI

Azali,

Sebuah perencanaan illahi
tatkala sabda di tutur
dua kekasih takjub sujud dalam keharuan dan pertanyaan.

sang malaikat di tanya manut
Idjajil protes tak nunut.

Dosa pertama kali terjadi
dalam fakta illahi ialah pembangkang.

takala allah menciptakan insan kamil sebagai khalifahNya
Idjajil tak terima,
terkutuklah.

sang khalifah di hinakan
di bisikan nafsu
terjadilah dosa kedua.

Malangnya nasib adam dan hawa
tercampak ke dunia
dalam kurun waktu yang panjang
bertemunya adam dan hawa dikala fajar
berpelukan dalam tangis kerinduan yang mengharukan.

Disana di mulailah tirani kehidupan
rumah pertama dibangun yaitu baitullah.
terlahir bibit habil dan qabil pembunuhan diantara mereka berdua dari iri dengki dosa ketiga dan dosa pertama di dunia terjadi.
Idjajil si dendam abadi skenariokan kebencian itu.

Berlalunya waktu hingga di kehidupan syits
tirani peradaban terkotak antara anwas dan anwar.
oleh kelicikan idjajil kembali
meminjam benih syits
berjayanya kisah khayangan dan mayapada.

Kehidupan terus berlari
di setiap sendi sendi mengintip kemungkaran yang berkompetisi
hingga pada suatu zaman ke zaman berikutnya.

Kini,

diambang penantian sebuah pertarungan abadi dendam hitam putih.

antara imam mahdi dan dajjal adalah idjajil itu sendiri kan kembali.
waspadalah...
ia ada di sekeliling kita
bahkan melaju didalam peredaraan darah kita.

Berpeganglah kepada satu tongkat, La illaha ilallah....
tawakallah kepada allah..!
siapapun anda.

hingga kemenangan disana kan kau raih.
kembalilah ke predikat fitrah insan kamil
hingga jannah menanti memanggil
dengan kesenangan abadi.
Amin..

HR RoS
Jakarta 21-12-2015, 09,40



DAWAI LUKA SANG SENIMAN


Ku telusuri jalan ini
nyanyikan irama kehidupan
dalam lamunan kekasih
kasih yang tak sampai
ku petik guitar
kudendangkan lagu
lagu memori
antara engkau dan aku.

Aku bukanlah borjou perkotaan
di lorong lorong kemewahan

aku sang seniman jalanan
bernyanyi mengejar mimpi
mimpi mimpi yang tersembunyi

Kala kaki melangkah
terhenti tuk kembali
jawaban apa kan ku beri.

denting dawai ku petik
menitip tembang luka
dalam goresan purnama meredup terbingkai dalam cinta tuna wisma.

Kasih yang tak sampai
maafkanlah aku.

Biarkan jalan ini jadi saksi
luka yang tak terobati
dalam nasib lukaku dan hidupku.

HR RoS
jakarta, 19-12-2015, 09, 58



WIJAYA KUSUMA

Kembang kuncup nan indah
misteri di pelataran hari
kembang kuncup wijaya kusuma
bersembunyi di balik terik
mekar dalam kesunyian malam.

Wangi seindah tangkai melati
termisteri mistik oleh darah priyayi
mekar ranum pembawah berkah.

kembang cangkok wijaya kusuma
perpaduan dua nama
lambang aksara bermakna
berbilang nur dan cahaya
diantara dua tokoh perisai bangsa, sukarno dan hatta.

Wijaya kusuma,
teratai bangsa
di sanjung di pelataran mewah
berbunga berputik bagi sipemuja mistik.

HR RoS
Jakarta, 19-12-2015, 07, 37



PURNAMA REDUP DI LANGIT SABAH


Di siang hari
kisi kisi mentari
melaju redup
tertutup awan

mendung berkoloni badai
badai menyibak iklim
iklim yang tak mau berdamai
diseantero bumi
riak mendebur
memecah gelombang
di kesunyian pantai.

Kisah kasih ini
mengusik gita hariku
pantai tak berhujung di buai resah
resah berselimut malam di pantai sabah.

Malam ini,
purnama redup dilangit sabah
ku tarik tintaku
meluah sastera
membuka cakrawala malam
dengan pelita sastera asmara

semoga malam ini damai
lena berselimut cinta

Esok lusa
bersinarlah sang surya
tampakkan cahayamu

ketika malammu bertamu
kejora, pelitakan kelam itu

semoga purnama indah
menghias di malam lusa
bersinar di langit sabah
semogalah...

HR RoS
Jakarta, 18-12-2015, 20,15



HARI HARI YANG TELAH DINGIN

Ku tarik nafas
ku lepas perlahan
bergulung gelombang asap
menguap

Pagi yang dingin
dikaki bukit menoreh
dalam hembusan salju
memeluk rindu...
rindu rindu yang telah membeku.

Dingin,
dimana selimut hari
kau titipkan
ku berlari mengejar bayangan mimpi semalam
dalam lelap berunggun
tak terasa nyala itu telah padam.

Kini,
tak ku temui
sesosok bayangan kelam itu dalam lamunanku di bukit menoreh ini.

Madah ilusi
berselimut hawa dingin
dalam pelukan kekasih.

HR RoS.
Jakarta, 17-12-2015, 08,37



PERJALANAN SIKLUS MUSIM


Pada suatu siklus
yang telah menyapa iklim
siklus dari perjalanan semusim
musim dari keniscayaan rotasi takdir.

Ketika musim semi menghias
berbunga berputik berbuah ranum
siklus berganti
daun terlepas berguguran
dari selimut salju.

Dingin,
telah dingin lamunan di balik bukit cemara
kicauan burungpun bernyanyi enggan
enggan bersiul di ranting dahan
sayap kuyup berlumuran hujan
dingin tak tertahankan.

Semusim telah berlalu memandu rindu
dalam aksara tinta bermadah cinta memamah sukma
dari takdir illahi,
mengukur kearifan jiwa
memaknai rasa sepenuh hati.

Jadilah ia moment bermakna
untuk sebuah kedewasaan diri menyulam masa usia senja.
dalam bahtera masa masa bercinta

ku bingkai cerita indah ini menjadi sejarah
tersusun dalam figura kaca maya
ku genggam jemari indahmu
salam sejahteraku mengikat jemari,
berpeluk cium mesra
di keindahan madah madah sastra dari jakarta menitipkan rasa cinta.

HR RoS
Jakarta, 17-12-2015, 07,20



TELAH JAUH DARIMU IBU

Satu tangkai kembang rindu
ku persembahkan di akhir tahun ini.
dalam keheningan malam,
aku sujudkan tubuhku ke hadirat bisu
aku memanggil dalam iringi doa
ya allah... sampaikan rindu ini kepada ibuku.

Ibuuuuu.....

Telah jauh kaki ini ku langkahkan
perih sedih bumi ku pijak
namun nasibku tak jua berubah

diri ini telah bermandi peluh
mengais asa berkelana dilorong masa dan waktu
yang tertinggal kini lamunan pilu.

kini aku tersadar ibu,,
Jauh lebih perih deritamu

yang pernah kau cabari dulu membesarkan anak anakmu.

Oh, Ibu...

Kala malam mata ini berurai sebak
mengingatkan masa pahitnya deritamu mencari sesuap nasi untuk kami.
dalam kelam menengadah doa
aku bersujud,
ampunilah dosaku dan dosa kedua orang tuaku ya allah.

Ibu,

Di hari kenangan ini
aku menangis rindu dalam setumpuk pilu tercucur kedalam nafasku.

berbahagialah engkau selalu
di usia senjamu yang telah ranum itu.

ku tahu,
andaikan gunung kinabalu itu jadi intan berlian
tak kan bisa membalas jasamu ibu.

Satu kesempatan
ku titip puisi di malam ini
semoga airmataku berhenti menitis.
ku titip salam rinduku padamu ibu
maafkan atas semua silap anakmu.
Oh ibuku.

HR RoS
Jakarta 21-12-2015, 21,52
Mengenang 22 desember hari ibu



SELAMAT TINGGAL MEMORI

360 hari telah terlewati
cerita tahun ini kan berakhir

kan ku bingkai tahun depan
dengan suasana yang berbeda
meski ia masih misteri.

Dasawarsa cinta dan hidup ini telah di jalani
pahit manis sudah dirasakan
cabaran demi cabaran
telah di hadapi.
dan telah mendewasakan kita
dari arti sebuah makna kehidupan.

kini,
mimpi mimpi indah itu telah usai
telah jauh berlalu pergi.

kan ku terima
walau ia tak kan kembali lagi

meski sisa sisa cinta ini
masih ada
dan kupelihara
sepanjang hidupku
biarlah ku bingkai bayangan semu itu
menari bersama hayal
meski kisah itu tak lagi biasa

Doaku,
berbahagialah bersama realitimu
semoga kau ceria selalu

pada suatu ketika purnama kan bersinar kembali..
kutunggu kehadiran nyanyian itu membangunkan tidur nyenyakku memetik bintang di balik layar purnama yang telah terkembang menemani malamku.

HR RoS.



RINDU KAMI YA RASUL

Purnama bersama bintang
mengitari galaxi biru

malam ini kututup mataku rapat rapat, syahwatku bungkam.

getarkan alunan shalawat nabi
peluhku mencucur di tubuh
kemilaukan cryistal manik manik di langit tinggi
bertempat di arsy jiwa ini.

Hatiku mengejar purnama
Purnama itu menatap sukma
sukmaku terpukau
menyaksikan sang kekasih
hadir di sagara cahaya berjubah hijau.

Jiwa jiwa yang tenang
telah rindu,
mengenang lahirnya figur sang bintang
bintang yang menyinari malam.

bibit jagad mayapada telah lahir ke dunia
di utus sebagai penyempurna akhlak manusia
rahmatan lil alamin.

Rindu kami ya rasul,

dimalam maulid ini
ku buka rahasia cinta
bershalawat dengan sunahmu
di majelis rasulullah.

Rasul itu,
hadir bersemayam dalam rasaku
di utus oleh rasa yang sejati.

Musthafa,
Kau pembaharu akidah
dari zaman jahiliyah
hingga dunia berpurnama agama.

bermula dari azali sifatnya illahi
berkiprah sampai kehujung dunia
hingga akhirat nanti.

Ya rasul, rinduku akan syafaatmu.

HR RoS
Jakarta, 23-12-2015, 20,51
menyambut maulid nabi 2015



BULAN SABIT ITU TELAH PURNAMA

Seraut wajah yang dulu ceria
ikon maya yang mempesona

Dulu ia selalu bercerita
dalam secarik larik bermadah
pandai menyusun syair bertalent tinta membingkai story cerpen nan indah.

Kini,
seraut wajah nan indah itu telah layu.. tersiksa sakit.
derita di badan tak kunjung sembuh
dalam cerianya hanya sesaat saja
mengisi hidupnya
berkawan hari meraih impi.

selalu seketika pilu
terdampar bersandar di bilik pesakitan (hospital)
seakan derita abadi dibadan
yang tak mau beranjak pergi.
ya allah.

ku tak tega rasanya.

purnama itu kini telah redup
melukis bulan sabit di layar malam mengumpal langit di balik awan
kini, cabaran imanmu di pertaruhkan.

Lihatlah, padahal malam ini berpurnama indah
meliriklah di balik jeruji bilik peraduanmu.
tataplah pelitanya sesaat saja..!!!
kan kau temukan aku disana bersandar dibawah pohon cinta.

wahai alunan bunian malam janganlah memanggil misteri

oh jangkrik malam,
jangan kau undang kepiluan rindu dalam dekapan pilu.

Ku susun luahanku malam ini
sebagai bukti
aku selalu ada untukmu.
halaulah sebak duka didadamu itu
yang selalu membuncah lara
aku masih setia dalam nokhtah
meski realiti cinta ini
ada dalam misteri illahi.

tawakal dan bersabarlah...
menghadapi kisi kisi kehidupan ini.
Ingat,
tirani hidupmu berlanjut ke mereka yang masih remaja.
Jangan kau undang kepiluan dimasa bahagianya.
mama...
semangatlah dalam cabaran sakitmu itulah rintihan bisu mereka semuanya
berharap, mama sehatlah segera.

HR RoS
Jakarta, 25-12-2015, 23,00



HARMONI LEMBARAN MIMPI


Tatkala kidung malam membungkam bisu
lembaran malam ku putar
dentingkan jam dinding, tiingg.

Ku buka lipatan sajadah malam
dalam malam ku bersujud tahajjud
ku dekap ke mihrab iman
roda nafasku berjalan
sampai di penghujung jalan.

telah pasrah lelah
dalam lelapku bertasbih
semoga harmoni mimpiku
menghalau lembah sunyi.

Lelapku bermakna dalam genggaman illahi rabbi
puja pujiku selimut tidurku
bersemayam dalam awasnya Dia.

ku izinkan tubuhku linglung lunglai
menggapai maha daya cinta

pujiku asyik,
tercipta di keheningan religi malamku
malamku nikmat
asyik
bercinta bersamaNya.

HR RoS



DASAWARSA USIAKU


Empat dasawarsa usia
telah kujejaki dunia
2016 diambang selamat datang
selamat tinggal kenangan 2015.

lembaran demi lembaran diri
telah membentang semenjak lahir
hingga di kepagian hari.

Saat ini,
masih ku petik akan kasih dari maha pengasih.

Perjalanan diri mengintai hari
cabaran demi cabaran ku bingkai kedalam mimpi
kan ku jadikan sebuah history.

mimpi demi mimpi itu telah usai
ku terbangun dari lelapku
yang ku tatap hanya hayalan malam
asa obsesi diri tetap kan jadikan memori.

Kini,
gita usia telah berada dihujung tanduk
masa senja telah merona jingga
bekal itu untuk selimut kubur
tak jua diraih.

Story memori telah jauh berlalu pergi
dan tak akan mungkin kembali lagi.

Ya

satu yang diharap dengan sebuah kesetian hidup yaitu amal ibadah
untuk pelipur lara di akhirat nanti.

realita asaku
setialah menempuh senja
sampai menutup mata.

HR RoS
Jakarta, 27-12-2015. 23,03



PADA SUATU SENJA DI DERMAGA TELUK BAYUR


Di dermaga rindu
tangisku pecah
tinggalkan ranah bunda
aku sedih di tikam senja
kala itu.

ketika lambaian nahkoda melaju pergi
aku telah ketinggalan kapal itu.
dari jauh ku tatap,
sayup sayup bendera menari iringi kepergian kapal melaju
ke samudera biru.

aku terpana,
gejolak jiwa kelana ingin meretas samudera,
seketika pilu.

aku terpaku,
ranah bunda memanggilku.
Jiwaku tertahan diantara simalakama
terus berlalu ataukah akan pulang kembali,
sedih menikam kalbu.

Nyiur melambai di pesisir pantai
seakan iringi kepergian nahkoda itu.
camar bersiul mencicit perit
merayu memanggil kelana, kembalilah ketanah bunda.
biarkanlah takdir itu berlalu pergi, bisik lirih di senja jingga
sapa si burung camar.. oi gadih minang nan denai cinto...

Pada suatu senja di teluk bayur permai

saksi sejarah perjalanan yang tertunda
ketika asa cinta yang dulu pernah di ungkai
terbangkalai sudah, tak tahu rimbanya sampai saat ini.

Teluk bayur di pesisir pantai barat sumatera
saksi sejarah dermaga tua dari zaman penjajah
dalam era peradaban cinta siti nurbaya.

Dermaga itu kini,
jadi saksi memori rindu.
sebuah rindu itu,
yang kini tak lagi ku jumpai.

memori yang sudah berlalu itu telah membisu
dengan tinta ini
bermadah di kertas putih
ku puisikan sebuah memori.

Dalam lamunan di kesendirian
sisa sisa cerita yang tak sudah itu melukis kembali.
ketika masa remaja mengikat kasih
pergi tinggalkan pantai barat sumatera melaju ketanah jawa.

Kini,
memori itu telah membisu
tinggalkan sejarah yang tak bermakna.

selamat tinggal teluk bayur permai.

HR RoS
Jakarta, 29-12-2015, 11,40



BINGKAI BINGKAI SAHABAT YANG INDAH

Ku renungi...
pelangi senja
kala ini,
ia melingkari mayapada.
ku amati...
dengan seksama
warna jingga senja itu
damainya sebuah rasa
bersemayam dalam sukmaku.

ku bertanya...
pada warna pelangi......?
dari mana rona rona itu,
tampil bisa berkoloni indah..??

meski kehadirannya semu
tapi ia menitip pesan cinta
kepada embun.

Pertemuannya mengurai lembayung
dalam tetesan daun keladi.
pelangi berlalu,
embun tetap berkawan diatas keladi dengan syahdu.
walau ia seketika akan terjatuh.
tapi embun itu
akan menyirami bumi dengan tetesan cinta.

Duuhh,
ketika dunia maya menyatukan kita
entah dari belahan mana kita berada
satu tatapan membawah berkah
bersatu, bersahabat
membingkai sukma
dalam kearifan jiwa
ia adalah ibadah.

Desah senja melukis rasa
ku puisikan kedalam tinta
ketika resah membungkam luah
dimanakah ruhani puisi di pusarakan
tak lagi di manakan.

Satu pesan cinta
lewat jendela puisi senja ini
genggamlah rasa toleransi,
satu cinta...
satu kasih...
bersemi ke lubuk hati
dalam figura kasih sayang
sesama insan hamba tuhan.

sekali lagi,
ia adalah ibadah untuk kita nanti.

Yuukk kita berbimbing tangan.

HR RoS
30-12-2015. 16,32
Jakarta dalam damai senja untuk semua



MENGGAPAI BINTANG DI BALIK AWAN

Hidup bak berjalan diatas lumpur
mengejar kembang teratai
yang tumbuh diatas air.
Semakin melangkah
kakiku semakin terkulai lelah.

teratai itu tumbuh indah....
sayangnya,
akarnya itu tak berpegangan ke dasar tanah.
ketika banjir melanda,
teratai itu,
ikut pula berenang kemuara.

Aku bak musafir di sahara tandus
haus,
obsesiku telah terkikis tergerus nasib.

satu yang tersisa kini,
ialah keyakinan iman
menggapai bintang bintang malam.
meski malam ini tak berembulan purnamanya redup dibalik awan.

kini,
aku terhempas di lingkaran kebimbangan masa depan.

jalan mana yang akan ku tempuh semuanya arah itu buntu.

Jakarta dalam malam yang mendung,

HR RoS
30-12-2015.



KABUT RINDU, DARI BUAH HATI DI KAKI GUNUNG LAWU ITU


Bias bias embun kering di dedaunan
kala senja menyapa
alam tertutup kabut mencekam
berselimut bayangan kelam.

Nun yang jauh disana
di kaki gunung lawu, gubuk itu
yang selalu ku tinggalkan
pada nokhtah mengitari jejak hari
di lorong lorong kota termamah asa
Aku bersenandung senja lewat maya.

Ohh awan yang berarak
di cakrawala tinggi
ku titip sibuah hati
dalam wilayah brawijaya
dengan madah pujangga
ku tembangi kearifan rasa
dalam aturan budaya sang prabu
di gunung leluhur itu.

Di kaki bukit yang asri
sibuah hati ku tinggalkan
dalam jalinan cinta
menjelang dua dekade
kau kini sudah remaja.

Putra itu,
kala siang bermain berlari
mengisi hari menutup sepi
pada senja menyapa
dikau bermuram durja,
bertanya sendiri jauh kedalam jiwa
di manakah ayahku kini berada
yang tak kunjung kembali...?

Ketika fikirmu tak terlerai
bulir membuncah di pipi
mengalir ke sudut bibir
uuuhhh...
matamu terkatup lirih
kemana kan kucari ayah bunda yang jarang ada di rumah ini...?

Ayah....
dikau penuntun menerangi pelita jiwa kembalilah..
terangi rumah ini dengan cahaya cintamu.

Seringkali padi itu berbuah
di tepian jalan mendaki
di tangga tangga sawah itu
tersusun indah

Gontai langkahku
kala pulang sekolah
aku selalu terhenti menatap pelangi
kala senja menghias
di kaki gunung lawu itu

padi itu selalu menguning
silih berganti di tuai petani
kau tak jua kembali
tinggalkan seribu kota itu
yang telah kau lewati
kembalilah ke desa dodokan ini.

Kembalilah pelita jiwa
oh ayahku..
temani aku sekali lagi
biar ku dekap kau erat erat di rumah ini..

Dari rintihan si putra
di balik nada telp
kala senja menyapa ayah bunda.

HR RoS
Jakarta, 6-2-2016. 12,45



DARAH DUKA BOCAH, DUNIA TAK BERTELINGA TAK BERMATA

Duka lara nestapa miris
hancur berantakan bermandi darah
SADIS.

Ada apakah gerangan tragedi ini
berjuta jiwa telah terbantai
dari manusia manusia bengis.

Ya Allah...

Aku menengadah jauh ke labirin jiwa
ku rangkai syair puisi hiba
beribu tanya,,,??
dimanakah kedamaian dunia itu kini dicampakkan..

Jeritan itu tak lagi di dengar
pasir pasir di pinggir jalan berbisik
wahai ilalang tegarlah berdiri
meski bom waktu membakar padangmu.

Geruduk si bengis peluru mortil
berkenderaan berlapis baja
hanya membantai anak anak kecoa.

Kau meniup abu di tungku api
yang tak membara
apa makna pembantaian itu..??
hidup ini hanya sebuah kepentingan usia seumur jagung saja
bukalah matamu
dengarkan jeritan tangis mereka.

Genosida kau budayakan di tanah tanah berdarah
tanah yang rela di lumuri noda.

Ya Tuhan,

Sudahilah pertempuran itu
damaikan bumi ini
biarkan kami berlari
mengejar impian cintaMu.

ataukah Engkau lenyapkan sajalah
bumi ini seketika
hingga darah bocah tak berdosa itu
tak tercecer kemana mana
Ya Allah...

HR RoS
Jakarta, 11-1-2016. 21,16



PERTENGAHAN JANUARI YANG KELABU

Seribu satu cerita telah ku torehkan
bersamamu menyulam rindu

Kini,
siklus tahun telah berganti
semusim rindu telah berlalu
kembang yang dulu indah mekar mewangi
kini telah layu.

kenangan itu telah membeku
melukis sejarah yang berbeda
di penghujung cerita
pertengahan januari ini
kisahku telah kelabu
kau pergi meninggalkan gita gita cinta yang membara.

Semusim saja kembang itu mekar
belumlah berputik
kelopak berguguran
jatuh ke bumi

Di pertengahan januari ini
kau pahat bibirmu menyapa rindu biarlah,
aku terima meskiku tak rela.

Ikrarku menyulam kasih takkan
kulanggar seumur hidupku.

kau larung kisah kedalam sunyi
ku bawah rindu menganyam bisu.

Kutadah bulir yang menitis
ke telapak tangan rela
biarlah pelangi
menari
menghias rasa
jikalau
kisah ini
kan berakhir.

HR RoS
Jakarta 12-1-2016. 20,6



ROMANSA CINTA YANG TELAH SIRNA


Ku petik sekuntum kembang
yang biasa mengembang
subur di beranda senja hari

Rona senja dari kejauhan yang selalu kau titipkan di jelapang padi
berselfie lewat jendela maya ini
kini tak lagi menampakkan diri.

Wajah cantik nan ayu itu
kini menghilang
seakan sinar ayunya telah padam membungkam.

Romansa cinta yang dulu
selalu kau dendangkan
kini berwujud sepi.

Kenapa mesti sunyi
dan kenapa juga mesti terluka..??
padahal belati ego tak kupakai membunuh naluri

kau diam seribu bahasa
membiarkan romansa rindu
berlabuh di dermaga bisu.

Kembang senja mekarlah...!
meski kemarau hari mengamit hati
sehingga kau biarkan taman itu gersang tak lagi burung burung kecil itu bernyanyi.

Belailah dadaku dalam canda maya
biarkan kehangatan berkoloni dalam dekapan cinta.

Janganlah masa bisu tersia sia
tak lagi membuncah kasih.

Seakan kau menanam tebu di tepi bibir
manisnya belum di telan
pohonnya kau biarkan mati

Kini,

Romansa rinduku telah dimamah senja
Layu sudah..

HR RoS
Jakarta, 13-1-2016. 16,00



DEBU DEBU YANG BERTERBANGAN


Pada mimpi mimpi yang telah usai
dalam makna tidur yang tak terurai
angan lelapku
kembali ke bualan
tak termaknakan.

Debu debu yang berterbangan
melekat hinggap kesana kemari
hadirmu tak di hiraukan
pergimu lenyap dibawah angin lalu
kau bias tak lagi bisa di ketemukan.

Debu debu yang berterbangan
kau dari siklus yang berarti
jadi sisa sisa pembakar sampah
dalam koloni masa yang tak tersentuh
menjadi benalu tak berarti
bias di marjinalkan.

Tapi kau debu yang berterbangan
kenyataanmu fitrah bagi sang hamba tatkala banyu tak mencucur ke pancuran

kau debu sang noda pembasuh noda
bagi yang bertayamum

ketika banyu yang berguna
untuk berwudu' itu telah sirna
kau debu kan jadi berarti

sebagai saksi
sebuah kesucian kami
menghadap
Illahi Rabbi..

HR RoS
Jakarta 14-1-2016. 08,31



GORESAN MALAM JUMAT

Tinta madahku hayalan
melukis malam dalam kelam
aku di hantui bayangan bunian

Pada malam ku majenun menghitung tasbih
ketika tahlil menjelma
lamunan religiku membuncah

Ternyata malam ini
pertarungan religi
dan cabaran nafsu
menguncang pilihanku.

Ku tinggalkan pantasi kekirian
meraih kenduri asyik keillahian.

Malam ini,
bangkitnya para jiwa jiwa yang bertasbih menatap tuhannya
terbangunnya sukma yang telah tertidur di selimut hari kala siang mengejar mimpi duniawi.

Malam ini,
desah bibir berkomat kamit
mengamit minda
menatap ke cahaya rasa cinta
para hamba hamba
sang pencinta tuhannya.

HR RoS
Goresan malam jumat
Jakarta, 15-1-2016. 00.00 wib



LAMUNAN SENJA MENANTI PURNAMA

Membalut luka yang tak berdarah
di keremangan hati
merengkuh senja menggapai purnama
di balik jendela rumah ini.

Ku tutup jendela amarah
biar noda yang ber abu tak berterbangan memasuki aksara puisi ini

Puisi indah bermadah resah
aku melukis bait bait cinta
bersimphoni lagu tembangan lama
meski syairku tak beraturan
mengalun nada merenda sukma.

Syair syair yang setengah jadi
tinggi rendah nyanyikan aksara jiwa
aku hanyut dalam gelombang yang menghadang
telah tenggelam di tikam bayangan

Oh, riak yang berarak
sedari lukisan pantaimu menyibak
karang
terkaparnya bunga bunga yang malang di tikam gelombang.

wahai koloni awan malam
singkapkan tirai malammu biar purnama hadir bersahaja menyapa samudera.

Deru debu yang menggilas
rona langit
biaslah bersama pelangi senja itu

semoga madah ini
melukis cinta
meski
malam
Ini
berkabut
rindu
yang
gelisah.........

HR RoS
Jakarta, 17-1-2016. 16,06



TUNAS TUNAS MENTARI

Seribu satu cerita telah ku renda
mengalun nada kisah dalam perjalanan diri

Tunas tunas mentari pagi
semarakkan fantasi warna alam

pelangi pagi menghias di balik jendela
lembayungkan embun suci

kisi kisi terik
pelitakan kehidupan
kala siang tunasmu berpadu
membakar gersang di seantero
membulir peluh.

Ketika tunas mentari perlahan pergi
meninggalkan bayangan diri
bayangan itu melaju memanjang jauh

Wahai alam yang berselimut awan
kapankah mimpi bualan bisa menjadi kenyataan
ingin ku genggam pelita cinta itu
walau ia hanya dalam mimpi sesaat saja

Ku sulam rindu
merengkuh noktah kasih
meskipun di dalam kebisuan
berharap kisah di akhir cerita
menjadi pelita

bersemilah kau
tunas tunas kasih itu selamanya.

HR RoS
Jakarta, 18-1-2016, 11,45



AKU BERSELINGKUH, DENGAN SASTRA


Telah lama ku bungkam cinta
pada aksara rongga dada
menyulam rasa
mengitari rasa dunia seni kata.

Pada ego diri membingkai seni
meluah rasio imaginasikan jiwa

ku lebur lamunan
ku larung hayal ke atmosfir jingga
jingga pelangi cinta bermadah

Aku telah lama terpikat sastra
semenjak darah tertumpah kedunia
pada kala itu
lukisan tintaku mengantung di labirin misteri diri

Berkaca rasa diri ini pada dunia
aku tertegun tertunduk dalam lamunan
seketika ku berselingkuh bersama hayalan
pada malam malam yang sunyi
kala siang menyapa hati
aku seketika asyik bercinta
melirik larik
tintakan syair syair gila

Seringkali ku abaikan pesona malam yang realita
aku lari berselingkuh melalui puisi
ku bingkai realitas sastra itu

meski tak semua ku paham makna aksara sastra
aku bercumbu dengan madah
terlintas begitu saja

Berselingkuh dengan sastra
memanglah berbeda.

HR RoS
Jakarta, 19-1-2016. 08,31



GERIMIS DI BULAN JANUARI

Rintik rintik hujan
di bulan januari
sebuah awal memori

ku lukis awan kelam
dalam kertas putih

ku tulis namamu
di crayon tinta
bersama pelangi

meski lembarannya hari
kian berganti.

Curah siklus menitis
basahi taman lestari
di bulan januari
sebuah awal gerimis

Pancaroba makna rasa
semakin tak terduga
terkadang aksaranya
sulit di pahami.

Oh, malam yang sunyi
selimutkan aku bersama dinginmu
seiring rintik bulan januari ini

Aku bercerita kala malam
dengan angan
adakah story itu bisa di wujudkan

Karena cuaca semakin esktrim
semoga aku sanggup berpayung daun pisang dalam cabaran perjalanan kasih sayang.

januari 2016
HR RoS..
di malam yang gerimis.



MAKNA SEBUAH KISAH

Kearifan cinta mewaspadai rasa adalah makna yang tak terhingga,
kecemburuan yang menyesak
di balik lirik adalah maruah langit yang sempurna.

Ketika semburat larik
membuncah kata
tak dimakanai aksara dengan seksama
hingga hadiah kebahagian adalah fatamorgana.

Bila analisis arti telah klimaks
tak sempurna memahami lirik
tinta kan memudar menjadi bayangan pelangi yang akan menjauh pergi ke sudut senja.

oohh,
Pucuk pucuk cemara kan berguguran jatuh ke bumi
seperti angan melayang tak karuan jadi paranoid diri

jauh mata memandang kosong
bayangan seketika hilang dari tatapan jiwa kan melompong.

Berdiri di jejak yang pasti
biarkanlah azali menjadi misteri
satu kekuatan yang tersisa
adalah potret potret sejarah
jadi cindera mata terpigura
kedalam bingkai kisah selaksa.

HR RoS
Jakarta, 20-1-2016. 08,26



DI TERMINAL SEPI KU TERLUKA

Pada penantian yang lelah
kereta itu telah berlalu
lewati terminal pagi
aku termangu pada sebuah kenyataan
yang telah di tinggalkan oleh penantian
yang membosankan.

semburat debu melukis di wajahku
pada pagi nan ayu
siklus cuaca cerah berubah mendung
di cakrawala hati yang gundah.

telah lelah menunggu sesuatu yang tak tertunggu
aku bergumam,
ku pegang erat jemariku
ku terhempas
pada lamunan pagi yang mendung
pegangan jemariku itu
akhirnya terlepas
genggamanku bias.

Kini,
dalam lelah ku duduk sendiri di kepagian ini
biarlah kereta itu berlalu
tinggalkanku di sudut duka

duh,
berurai airmata kecewa
di pinggir jalan yang sepi
ku usap bulir itu perlahan
menghapus kisah pagi seakan tak pernah ada yang terjadi.

Kereta itu telah berlalu sejauh mungkin
tak akan mungkin kembali lagi
keterminal ini.

HR RoS
Jakarta 21-1-2016. 09,50



I B U

Ku dapat kabarmu
dari adinda
kau kini tergeletak payah
dipembaringan tidurmu

ada apa gerangan ini ya tuhan
bak petir menyambar di siang hari
airmata langit seketika menitis
seiring tangisku membuncah
mengiris bathin di lorong hati.

Ya Rabb..
pertemukan aku dengan ibuku selagi nyawanya masih bersahabat di badan.

Pada tinta petang ini
aku menyusun berita syair lara
yang ke sekian kalinya mengudara
ku kabarkan pada seorang ibu
yang melahirkanku.

Ibuuuuuuuu..........

Tataplah dunia ini dengan nafas cinta yang masih tersisa itu
berdoalah selalu...
terpisah jarak di lingkar samudera
antara tanah jawa dan sumatera
kan ku arungi sagara itu
melintasi cakrawala berkabut
dalam tatapan yang sendu
senja yang akan meredup

baru tadi aku mendengar suaramu ibu
di hujung telphon bernada lirih
di larung sunyi menyapa bilik ini
suara terbata bata memanggil
Romy.. pulanglah nak..??!!
ibu sudah payah kini.

Seketika suara itu perlahan redup
sekejapku bak anak yang dungu
tak menentu
apa yang harus ku perbuat..
aku berlari kepada suatu tempat
berlari dan terus berlari
mengejar bayangan itu
yang melintasi sekejap

terpaku lelah
pada pelarian yang tak terarah
pada peluh dan airmata mencucur kusujud sektika di sebuah mushala.. ya allah.... ya allah.... ya allah......
...........
...........

HR RoS
Jakarta 21-1-2016, 16,00
‪‎Berduka



FATAMORGANA RINDU

Lembayung kasih
telah tertutup mendung
rintik rintik hati menitis berkepanjangan
semakin mencekam sunyi
dalam alunan memori.

Ku labuhkan tatapanku ke kertas lusuh
Memadah bayangan fatamorgana rindu
ku tulis dengan tinta rasa memamah sukma lara.

Oh rindu,
dikau tak lagi nyanyikan nada merdu
kala dulu menyapa dengan mesra
nada nada kasih yang dulu
telah terbungkus pilu
kemana kan kucari bayangan semu untuk menjadi realitaku.

Semburat luka semakin menganga
tak ku kenali lagi darah yang mengalir
luka di sayat sembilu
tak lagi kurasa bulir yang biasa menitis kala sedih menyapa hatiku.

Rasa itu telah hambar
di tikam fatamorgana rindu
yang kian beku
mimpi semalam telah usai
pergi bersama kepalsuan kasih

kini
ku tatap masa yang tersisa ini
mengadu dalam doa
berbahagialah rindu rindu yang dulu
yang pernah ku semai
kedalam noktah cinta bersamanya
meski kini noktah itu telah gersang berkabut bayang yang tak lagi bermentari.

HR RoS.



KU TITIP PESAN CINTA TERAKHIR

Menatap wajahmu yang ayu
di balik langit langit kamar ini
aku menitip pesan cinta
ku labuhkan bersama bayangan mimpi

Aku kini masih bernafas
menghela warna dunia,
malahayati cinta
di sisa sisa hidupku ini
bertamulah walaupun hanya sesaat saja.

Kasih..
kaki ini telah lelah melangkah
tanganku telah kaku melingkari tubuhku
aku yang dulu pernah menggenggam erat tanganmu.

Bibir ini telah kelu,
aku menitip sebuah pesan cinta
lewat aksara jendela angin
di bilik pembaringan ini
semoga kidung relaku
terhantar ke berandamu itu,
berputiklah kau bunga cantik janganlah layu.

Kasih,
biarlah ku pergi bersama maha sepi
tinggalkan cerita, mahadaya dunia cinta
tubuhku ini semakin melemah.

isyarat nafas ku melafazkan cinta
berbahagialah engkau hendaknya
sepeninggalku
pergi untuk selamanya..
pergi ke alam keheningan tak berbatas tak berhujung
padam tenggelam,
sunyi berbalut kekal selamanya.

Selamat tinggal dunia cinta
izinkan aku mencari cinta abadi
bersemayam dalam haribaan illahi.

HR RoS
Jakarta' 11-1-2016, 12,50.



GEJOLAK RINDU DI MUSIM SALJU

Semusim rindu
hadir menyapamu
ku tunggu dikau dibalik jendela rumahku.

Disini,
ku rawat putik putik bunga cinta
yang telah merekah.
aku menanti dikau kekasih
ditaman asmara ini.

Kasih,
lihatlah di ranting cemara itu
bertengger merpati putih dalam ayunan bayu
menyulam rindu.
dia bersiul mengikrar kata
tak akan mengingkari janji.

Bunga cemara itu
menghias salju dalam ayunan rindu
adakah gelora rindumu untukku..?
bergejolak di kejauhan.

Telah ku labuhkan cinta
di dermaga peraduan kasih malam ini.

Kasih,
datanglah sesaat saja dalam lamunanku
dekaplah tubuhku
biar ku rasakan kehangatan geloramu malam ini.

Kecuplah bibirku
meski beradu dalam mimpi
mimpi mimpi indah bersamamu.

ku titip setia kasih dalam nokhtah cinta untukmu selamanya.
I miss you.....

HR RoS
Jakarta, 9-1-2016, 20,22



GENOSIDA UMAT DI BUMI SYIRIA


Airmata itu tidak lagi bening
tapi sudah darah,
tubuh itu sudah kering
tidak lagi bernyawa,
tanah itu telah tandus
sudah di bumi hanguskan.

haus lapar sampai pada kematian
dan obat obatan semua di boikot.

pemimpin disana tidak lagi punya jiwa
tapi sudah serigala.

Pembunuhan,
kejam brutal biadab tak lagi manusiawi.

Homo homini lupus...
manusia adalah serigala bagi manusia yang lainnya.

Ya Allah.....

kerukunan itu telah musnah
karena perbedaan ideologi
antara suni dah syiah,
dimanakah kedamaian itu kini
oh suriah...?

Kompleks kepentingan telah merajalela
hipokrit dunia ketiga menikam dari belakang..
efek politik keserakahan dunia
bak binatang buas di hutan belantara
siapa yang kuat dia berkuasa.

Oh, pemimpin perserikatan bangsa bangsa..???
dimana telingamu itu kini,
seakan tuli.
kenapa lembaga itu lemah tak berdaya, seakan buta.
pelayananmu itu hanya seremonial saja
tak menyentuh ke ranah perdamaian.

kau robohkan saja gedung putih itu
karena tak lagi berfungsi dengan semestinya.

Kini,
jeritan umat di suriah pilu
kehidupannya terhempas kejurang yang terdalam
menakutkan.

GENOSIDA, pembantaian dimana mana yang tak lagi punya nurani
tak berprikemanusiaan,
hanya karena sebuah jabatan
tak kau fikirkan balasan tuhan.

politik binatang telah membutakan akidah
adakah engkau dajjal dajjal itu..??
Menangis sang utusan itu kini
dimakam suci
ia yang tak bisa berbuat apa apa lagi.
padahal ia telah menitipkan hukum risalah illahi yang harus dipedomani.

Berdamailah kau kini,
Wahai suni dah syiah.

HR RoS
Jakarta, 08-01-2016. 21,06



LUKISAN MALAM

Malam ini,
ku raih secarik kertas putih
lukiskan aksara malam
diam dalam kelam.

menyusun bisikan bathin
ke kawah rasa
terluah dalam kesendirian
meskipun hamparan malam
berkabut bisu dalam tatapan.

Pada malam yang sunyi
mendung melingkari galaxi
butir butir kejora itu
yang biasa menampakan pelitanya
telah hilang dibalik cakrawala.

Lukisan malam yang tak bergambar
merupa rasa ke dalam tinta
syairkan wajah kejora redup
malam telah temaram
kian kelam,
tak berpurnama
mendung sudah.

HR RoS.



SETANGKAI KEMBANG RINDU


Seribu satu cerita telah ku luahkan
memetik sebuah kisah
yang takkan mungkin ku lupakan.

Pada setangkai kelopak yang merekah
aku menitip aroma wangi
dalam sekuntum bunga.

Baru saja kemaren
simphoni rindu itu ku dendangkan
kini,
nada rindu itu telah sumbang
pada sebuah keadaan
yang sulit di mengerti karena berjauhan.

Bila cintaku adalah deritamu
maka campakkanlah aku ke samudera biru.
biar riak gelombang menenggelamkan perahuku.

Bila lukamu menitis sebak derai airmata
jadikanlah ia embun tuk membasuh
Laramu.

Setangkai kembang rindu
kau bungkam ke dalam lamunan sepi,
janganlah kau anggap wanginya
sebuah kepalsuan bingkai kekasih.

HR RoS.


MEKARNYA TERATAI DI TELAGA ITU

Mekarnya si kembang teratai
yang hidupmu dialiran tak beriak
ketika gelombang menghadang
kau berhanyut....
kan tetap hidup.

Teratai indah tumbuh di telaga warna
ku tatap pelangi pagi
menghias hadirnya sang mentari
teratai nan indah itu
tetap asri diatas telaga sunyi.

HR RoS



SKETSA TETESAN DARAH CINTA

Dari pertemuan sebuah rasa
membuncah asyik,
membulir makraj makraj cinta.

Ketika fitrah bersabda dalam qolam,
sari rasa bersemayam bersama sulbi
tetesan darah cinta
berkoloni kedalam garbah.

Bersatunya wadi, madi, mani, manigkem.
dikontak oleh rahmatan Nur Murhammad
jadikan si jabang bayi.

Satu langkah kau berada kedalam syurga
asyik menyapa cinta didalam garbah bertasbih.

Menitis kedunia
menjadi khalifah
sebagai regenerasi cinta.

apakah akan jadi baik atau celakakah...?

HR RoS
jakarta, 4-1-2016. 08,28



MEMORI DAN REALITI KEKINIAN


Semarak
seremonial
memori
telah berlalu pergi.

Di depan mata
saat ini,

aku terhantui
nyanyian tembang misteri
membayang seakan tiba tiba menghampiri.

Ia mengamit jiwa mengapit sukma
diminda rasa.

ku sandarkan laraku sejenak
kedalam hayal lelahku.
kularung bersama kelam, diam.

Pada diri ini,
aku berkaca kepada nostalgia
yang pernah menghukumku dalam kegagalan masa meraih asa.

di moment sujudku
ku petik doa dalam religi imanku,

lara itu,
semoga kau tidak membunuhku dengan sia sia di kemudian hari
dalam masa sisa sisa hidupku nanti.

HR RoS.
Jakarta,1-1-2016. 22,47



MAAFKAN ATAS SILAPKU OH, SAHABATKU SEMUA

Denting jam berputar seiring waktu bergulir
perjalanan hari yang telah kita lewati siang dan malam.
ku tulis tinta ini kedalam bingkai puisi
menyapa sahabat semua........

Di penghujung tahun 2015 ini
dalam pergantian menuju tahun 2016.
aku menghulurkan tangan kepada sahabat semua,
maafkan atas silap dan kesalahanku kawan,
antara sengaja ataupun tidak.
diantara paham dan tidak pandainya memahami aksara kata yang dianggap.

Sekiranya umurku panjang menyongsong di tahun 2016 nanti
aku ingin dan ingin selalu jadi insan yang lebih baik lagi.

Harapanku di tahun ini,
ingin selalu bersamamu menatap dunia
merangkul cita dalam gita maya.

semogalah bermakna dalam moment2 bersamamu.
meskipun tubuhku tak merangkul bahumu.
tak menggenggam erat tanganmu.

Dalam sastra aku menyapa,
mewakili peluk mesramu semua.
walaupun berada jauh di sudut jakarta ini.
semoga pertemuan kita selama ini menjadi ibadah hendaknya amin..

HR RoS
31-12-2015, 06,47
Menyapa dari Jakarta,
SELAMAT TAHUN BARU 2016
SELAMAT TINGGAL MEMORI 2015.
testimoni mayaku ditahun 2015.




SEMUA TENTANGKU

Berkaca diri
pada bayangan silam
menatap hayal
dalam kelam

aku majenun
paranoid
dalam gugusan
cahaya yang temaram

aku telah dihantui
oleh goresan
yang menikam
kala gundah
membuncah lara

sulaman yang selalu dirobek
selalu ku tenun kembali
dengan tabah
menjadi gaun gaun cinta

semua tentangku
aku terima
meski telah lelah
kan ku cabari ke egoan diri
dalam gentingnya
tali buaian kasih

jalan itu telah berlumpur
pada jejak
yang telah goyah
arah mana
kan ku lalui lagi
jalan itu kini
semua telah ternodai

karena pertemuan itu
sudah tak semesti

titian kasih
telah terurai
benang merah
di arah yang tak sama

Ahh...
satu kisah
dalam makna
lingkaran cinta
yang telah
menjadi
sia sia.

HR RoS
jakarta, 24-1-2016. 03,42



MENGENANG TIGA DEKADE YANG BERLALU DI TEPIAN MANDI KESUKAANKU

Gemercik alur ilir air mengalir
mendung sebak di hulu pertanda hujan akan memandu..
tertunai sudah hajat pilu
selepas tengok ibu
dikampung halaman yang kurindu.

Oh awan yang kelabu di puncak bukit wisata bayang sani indah
hujankan koloni itu
basahi seantero mega

Lamunan mundur jauh
ke tiga dekade
yang berlalu

ku ingat tatapan diatas batu itu
masa mungil dulu
kala senja kan menepi
aku loncat loncatan
bersama rakan rakan
yang sudah berpisah
di kota kota yang berbeda
entah dimana dikau kini.

Kini ku torehkan sebuah madah history
di tepi pemandian senja ini

ku sapa
dimanakah gerangan engkau kini
berada wahai kawan kawan dan
handai tolan spermainan setepian.

aku sapa lewat goresan angan adakah gemercik alur ilir air mengalir ini kita buncah kembali dalam riak tawa bersama
kala pulang sekolah.

Aduh hai history
tiga dekade yang berlalu
di tepian mandi ranah bundo
nagari kubang nan denai cinto..
hahaaaaaiiiiiii.... takana juo.

HR RoS
Batu lenong, 27-1-2016.



TERLARUNG SEBAK KEDALAM RIAK

Ketika perjalanan teriris bulir
mencoba merayu bunda dalam letih
duh,
sudah terlukis di dinding history
di kancah diri memeluk sebak di hati.
Ketika permatamu pergi
pergi dan pergi menjauh tinggalkan beranda rumah ini
di tengah hari
crystal membuncah tak tertahankan di sudut hati.

Ya illahi...

Aku larung doa yang rela
ke haribaan musafir yang semakin terkikis di tanah yang tandus..
hamba ingin setetes embun
ampunan kasih-Mu ya rabb.

Perjalanan itu semakin menepi
ke ruang senja
aku memohon ya allah
Izinkan aku kelak berjumpa
ketanah bunda kembali
dalam opera permata yang selalu menghalau sedih jadi ceria.

Meski jiwa dan hidupnya
bertabur derita
yang disimpan dalam
peti rahasia hati
yang tak boleh sesuatupun
yang kan mengetahui
selain aku dengan-Nya

Sehatlah bunda.

HR RoS
Dalam perjalanan jalan raya painan - Padang, 29-1-2016. 14,28



GORESAN BAYANGAN MEMORI DIRI

Menulis abjad dengan tinta
yang tak berwarna
aksarakan rasa yang tak berwujud
bermukim kedalam lembaran jiwa

Ku gubah memori ke dalam puisi
mengenang masa masa bahagia walau ia selalu berhias kecewa.

Duh diri,
kenapa dikau menangisi story yang tak semesti
padahal bayangan kasih
tak kan mungkin kau pegang
dalam dekapan satu hati

Diri,
tataplah wajah belas kasihmu
di dinding kaca kau menangis
kan kau sadari arti hidup ini.
tak kan mungkin
mimpi mimpi itu kau raih kini
karena ia semu dalam tidurmu

Di rona bibir memandu rindu
tak kan lagi kasih itu menyulam kenangan
kenapa bulir ini seringkali menitis
kala menatap wajah diri
biarlah ku usap airmataku
di telunjuk bisu
karena memori itu semakin menjauh
dan jauh berlalu tak menentu.

Aku selalu menyepi ketika malam menyulam kelam
seringkali bermenung sendiri
dan bertanya kepada diri,
kemanakah bahagia itu berlari
yang semakin jauh menghilang bersama memori.

Goresan ini adalah puisi
yang sulit ku nikmati
karena ia adalah goresan lara
yang semakin lara.

HR RoS
Jakarta, 30-1-2016, 20,47



DOA DOA CINTA DI HUJUNG MALAM


Sunyi dalam keheningan lirih
menapaki jejak jejak langkah
sang utusan itu
bermandi peluh dalam tasbih
ku buka nisan kuburku
telah terlelap dalam kalbu

Pekat kelam tak berpelita
aku ingin meraba sesuatu
secercah cahaya cinta
naluri kamil,
temani aku malam ini
sinari jiwaku dalam doa doa dihujung malam malam sunyi.

Hening bak lonceng berbunyi
dalam senyap
ku dengar bisik bisik dilorong hati
sami'an membuncah di alam kesunyian.

Jiwaku bertanya pada kelam
dimanakah engkau ya tuhan.
ya tuhan,
aku bertanya pada kekuasaan
dimanakah surga itu kau sembunyikan

padahal
iblis iblis telah ku penjarakan
nafsu nafsu ku bungkam.

Tampakkanlah wajah miyskat di dinding kaca itu
di balik tirai kasyafMu pada sukmaku
biar ku hantar cintaku ke hadiratMu.
berharap, cintaku kau setubuhi berpagut rindu
pada malam yang lena asyik
dalam doa doa cinta
di penghujung malam itu.

HR RoS
Jakarta 31-1-2016. 20,31



RASA YANG KEDINGINAN DI CAKRAWALA PAGI

Pada awan yang berarak pagi ini
turunkan hujan basahi seantero alam.

ku titip pesan
pada gumpalan mega yang berkoloni

Oh iklim,
sudahilah sebak mendung hari ini
izinkan ku tanam,
kembang mawar berduri itu kembali
tumbuh di taman lestari
di beranda hati ini.

Oh angin,
pada sepoinya mamiri
ku titip lirih rindu
lenakan tubuhku
biar kurasakan nikmatnya kasih
di beranda muka buku ini.

Pada setangkai kembang yang telah ranum
kala mentari yang selalu menyinari.. bersemilah.
meski tangkai itu gundah oleh badai memori
dan setangkai kembang itu pernah patah
ku kan tetap menadah
dengan tangan rela
ku dekap dikau
ke dada cinta yang setia.

Jalan hari,
kian berganti iramakan nada simphoni
di ketetapan rotasi berputar silih berganti
adakah buaian cabaran itu sanggup hidup dalam lingkup misteri
diantara kau dia dan aku.

HR RoS
Jakarta, 1-2-2016. 12,51



MENDUNG HARI YANG TAK KUNJUNG PERGI

Ketika mendung tak kunjung berlalu
selaksa rindu bungkam
di beranda sore itu

ku sapa dikau lewat jendela maya
menuntaskan rindu
di hujung senja ini
meski tergumam bisu
aku titipkan nada nyanyian
lewat burung burung camar
di senja yang semakin berlalu

Oh hujan,
biasmu menyisakan embun
dikeremangan pelangi merona
kerudung malam
tak kan berjubah rembulan
pada malam ini.

karena,
Koloni musim belumlah berganti.

HR RoS
Jakarta, 1-2-2016, 17,18



TAKBIR BUYA TAISAK DI HARI RAYO

Jauh jauh tabangnyo siburung bangau
namun hinggoknyo
yo ka kubangan juo
jauh jauh bujang marantau
namun pulangnyo lai kakampung halaman kito.

Karatau madang di hulu
babuah bungo balun
marantaulah bujang dahulu
di rumah paguno balun

Lah jauh tabangnyo perjalanan
putera daerah mancari ilmu
lah tarang nagari di sabalah
lah silau mato mamandang nagari urang
nagari kito basilang sangketo
antah bilo katarangnyo.

Tadanga saluang kubalo
di rambang patang
sayuik sayuik ganto padati
bansaik di badan
lah jadi pamenan diri.

baurai tangieh kadado
nasib sidagang malang
galeh takambang hujan tibo
sumarak bayang sani
dibalai induak induak
barabuik patang
manjalang sanjo hari.

manangieh tapian bundo
anak nan ketek lah digadangkan
lah gadang dak kunjung pulang
lah cadiek sibujang diasuh angku katik
babalieklah kabayang sani
ramikan nagari kito.

Kini lah masonyo anak nan paguno
mambangun kampuang jo nagari
bia dak sio sio jabatan di sandang
selagi masih berfungsi
mambuek anak kamanakan bangga kini.

Yuuukk...

Jadikan koto baru tanah religi
bayang pado umumnyo
itu baru ku jempol salut kami.

Dangalah rintihan
kami menadah hibo
Gemparkan mesjid jihad itu nanti
dengan orasi dakwah islami

mesjid kito lah asri
di jalan raya bayang
di bangun jo amal jariyah petani
tapi mesjid itu kosong
dengan cahaya pengetahuan ulama..
ulama itu dimano kini...??

Ooo buya..
babalieklah kanagari
doa kami menyertai kesehatanmu.

Katiko tanah merah tabantang
di nan langang
sasah mayit tibo kudian
indak katadanga lai rintihan misteri
ka mesjid jihad itu nanti
maratok surang di kayu gadang
takana jaso bundo alun di tunaikan.

Pitaruahkan anak kamanakan
sarato umaik jo nagari
mahimbau jo hibo hati
babalieklah kanagari kito
bangun kampung halaman
basamo samo kembali
nan lah ditinggakan sedari dulu.

Buya...

Kami tunggu kesaksian khutbah
di mesjid jihad koto baru bayang
di hari rayo nanti.
sang putera daerah berkumpul
prof DR Ahmad Kosasih
berharap khutbah takbir
balinang aieh mato di ranah bundo
bia talarai isak nan salamoko.

Salam santun dan hormat kami
dari anak kamanakan sarato umaik jo nagari.

HR RoS
Jakarta, 3-2-2016, 10,32



TONGKAT TONGKAT NEGERI YANG KIAN RAPUH

Ranting patah tunas tunas berganti
daun daun berguguran
tak menyalahi angin

Ketika ilalang berpayung terik
tanah tandus
akar ilalang itu tetap mencakar
bertahan hidup
meski batang kerontang
dia tetap tumbuh subur
di tengah padang gersang.

Bila jantung negeri berkumandang azan
pada maghrib
surau surau di penuhi oleh si pengheja hijaiyah.

Bila mamak mamak kami
berkompetisi duniawi di tanah kekasih
batas batas toleransi telah di kebiri
Oh negeri seribu janji
dititipkan amanah dari dang tuanku
negeri kubang bertuah masih bersahaja
menyimpan banyak cerita
sedari dulu hingga nanti.

Negeri kubang terbentuk
dari peradaban adat
kini kian tergerus oleh lemahnya
komunikasi antar sesama.

Padahal adat berdiri oleh budaya
gotong royong
sandi yang tak lekang oleh panas
yang tak lapuk oleh hujan.
ketika harkat tersekat
martabat tergadai
jadilah korong terkotak
dari sang pengemban amanah yang tak tertunai.

Kubang, tegarlah...
janganlah tergerus oleh arus

Regenerasi bersatulah
dalam satu bingkai ukhuwah
negeri kubang,
bisa menjadi teladan
dalam adat kenegarian
ranah bundo kanduang
LIMPAPEH RUMAH NAN GADANG

Setangkai angrek puisi senja
dari jakarta
menyapa tanah bunda
di sumatera, kubang bayang
yang tercinta.

HR RoS
Jakarta, 3-2-2016. 17,15
Mengenang negeri tanah kelahiranku



DI BAWAH POHON KAMBOJA TUA ITU RINTIHAN KU LIRIH

Bulan sabit telah menggantung
di balik pohon kamboja itu
tanah merah masih belum di gali.

Perjalanan diri
telah berada di hujung tanduk
aku menyadari....
untuk menempuh hujung jalan haruslah melalui pangkal jalan
pangkal jalan yang terdekat itu
adalah diri sendiri.

Ketika dahan beringin itu patah
ku ingin tunas tunasnya berganti
dan ketika daun daunnya berguguran..
ku ingin putik berbunga tak menjadi layu.

Oohh misteri...
jangan kau bayangi aku
dengan el maut....
izinkan aku untuk hidup seribu tahun lagi
bila el maut kan bertamu
kembang setaman
dan air doa kasih
telah di persiapkan ke tanah merah yang siap siaga menanti.

Ohh misteri...
bukan ku memanggilmu pada sebelum takdir,
aku masih punya cinta
untuk sang kekasih
jangan kau ulit aku
dengan mimpi mimpi misteri itu.

Di bawah kamboja tua itu
aku terpaku sendu..
adakah amal ibadah ku dekap
untuk selimut tidur panjangku
disana nanti..
ya illahi,
izinkan hamba melafazkan
seribu istighfar
di setiap lengahku
di dalam jiwa ini..

biar tak sia sia hamba
di hidupkan kembali
akan di rundung duka
yang tak berkesudahan
di
sana
nanti
untuk
selamanya.

HR RoS
5-2-2016, 00,00
Jakarta di malam jumat.



LA TANZA DIRI

Tertunduk daku dalam lamunan
membingkai sepi sebait puisi
melintasi cakrawala hati
dalam tanjakan iman
mengukir aksara kata sebaris jalan
jalan jalan tuhan yang di ridhoi.

Pada sebuah janji
yang pernah terikrar
dalam pergulatan arena kekasih
menyulam aksara cinta
tersusun sudah

kini,
ikrarku ternoda
ke dalam kasta terendah
lemahnya haluan hidupku
menuai asa dalam gita cita
menatap mentari.

La tanza diri,
kan ku dekap jiwa ini ke dalam doa

oh, misteri azali illahi..??
tampakkanlah wajah wajah indah
yang realiti dalam firdaus kasih
seperti nohktah cinta
antara romy dan juli.

HR RoS
Jakarta, 9-2-2016. 13,15.



LAMUNAN MENYULAM HUJAN

Rintik rintik hujan dihalaman rumahku
sekuntum kembang layu kedinginan
berselimut kabut
dingin dalam taman kesepian

Oh hujan,
redahlah bulir bulir langit itu
jejak jejakku telah basah
langkahku terhenti
arah mana yang akan kulalui kini.

Oh awan,
bukakanlah tabir mentari itu
biar ku nikmati
pada kisi kisi terik
yang akan menyinari
kearifan alam ini.

Mendung,
aku masih disini
di gubuk tua
mengintip cakrawala
di balik jendela
adakah rona senja ini
berpayung pelangi

Malam,
biarkan aku damai
dalam jubah jubah malammu
menyulam tasbih
di lingkaran sajaddah cinta
bercumbu mesra
ke labirin cinta maha kekasih.

HR RoS
Jakarta, 9-2-2016, 16,02



SIMISKIN BERCINTA

Simiskin bertanya,
kemana akan di bawah pokok cinta
yang telah berbunga ungu ini
arah tujuan rindu telah kelabu.
oh mendung,
mendung rindu yang tak lagi menentu.

Kasih,
telah tinggi aku pacu semangat berlari mengitari hari
untuk mencari sesuap nasi
mengejar obsesi
meraih impi
namun nasib tak jua berpisah
dari badan diri.

Masa bahagia itu pernah singgah
menyapa beranda asaku sekejap
dan sayangnya seketika sirna.

aku kini bertanya dalam hiba
ketika cinta tak rela berdiri
di jalan yang licin
berlalulah dari arah itu..!

Di sana...
jalan berpita merah
berpermadani indah terbentang
menuju istana nohktah megah
hidup dalam kasta yang mewah bersamanya
aku berdoa rela untukmu.

aku akan menjadi saksi lirih
menyulam angan kedalam kelam
membiarkan rasa yang tersisa ini
kelu kedalam bisu.

biarlah aku jadi penonton
dari bilik sunyi
menatap paranoid kasih yang tersisih.

Biarkan ku dekap anganku yang rapuh
merestui kebahagaianmu itu
berbahagialah hendaknya disana.

kasih.
hapuskanlah cerita cinta
yang pernah mengisi ruang hati ini
kala bersamamu dulu.
aku rela,
dengan telapak tangan sepuluh jari
aku menyerahkan takdir
dalam kasih yang tak sampai
kedalam keraifan cinta yang pasrah.

Gubahan rasa yang terakhir ini
dengan tinta merah ku madah
mengusap deraian airmata
yang membasahi duka hidup
yang kian menganga.

doaku,...
berbahagialah dikau disana bersamanya.

HR RoS
Jakarta, 10-2-2016. 12,45



AKU TAK SEHINA YANG KAU DUGA

Ku akui...
kau sangat berarti
karena diriku tak pantas kau cintai

meski terperap dalam harap
ingin damai bersama kekasih..

duh, cinta itu
tak seindah yang ku bayangkan.

cabaranku terkikis oleh keraguanmu
aku sang kelana tinta
sadar,
hanya bermajas majas duka

tintaku adalah sang musyafir syair jiwa
berkongsi ke alam maya sebagai seniman yang ketinggalan kereta.
Tintaku bukan tebar pesona kepada bunga bunga yang indah

Ia melukis kongsi
dalam bingkai satu dunia satu jiwa berkoloni dalam ukhuwah manusiawi
membuat peradaban sejarah tinta
meski ia bias di telan mimpi.

berharap,
Setia hati memahami seni
tak melukis kontradiksi
pahamilah sebuah luah tinta
dalam kearifan budi yang bersahaja.

Presepsi hati,
Aku tak sehina yang kau duga
hidupku bermaruah
genggamanku erat melekat
meski genggamanku
bak batu karang yang selalu menghadang
dia juga bisa lebur oleh deburan

Kasih,
aku memang tak sempurna
memadah nohktah cinta
berkaca diri dengan rasa
aku bukanlah pemimpi hati

aku kan selalu tegar berdiri,
dalam batas batas jejak langkah
tak tergerus oleh badai
tak hancur di gulung ombak
selagi langkah kakiku dipahami.

Meski ku pasrah dijajah
tapi aku tak rela kesetiaanku di hina

biarlah kini,

Hari hari kosongku
bersenandung sastra
untuk mengisi lembaran putih
jadikan memori
meluah obsesi yang telah jauh pergi meninggalkanku.

kini,
aku mencoba merajut sepi

Berkelana dengan rasa

berkawan dengan tinta

hidup dengan realiti

berkasih dengan satu hati

bercinta sampai mati.

HR RoS
jakarta, 26-11-2015, 09,45.



TONGKAT TUA YANG TELAH RAPUH

Ayaaahh....

perjalanan panjang itu telah kau lalui
berhentilah melangkah
duduk manislah dirumah

Getir pahit manisnya sebuah kehidupan
jalan berliku menanjak menurun
terjal tandus dan berbatu kau tempuh

kau terus melangkah di teriknya mentari
untuk sebuah asa pelita tirani
nasi yang kami makan
dari peluh darahmu kami di besarkan.

Kau ayahku,
impian tinggi yang menggebu
untuk buah hati
seperti kau bercermin dengan masa lalu
meringis sedih di setiap letih
masa lalu yang telah bias
telah berlalu jauh meninggalkanmu
hilang di telan masa, gagal di rundung duka.

Kini,
putik putik yang berbunga telah berbuah
kau masih saja tertatih payah dan lelah

miris,
dikala senja menyapa
dada kau penuh menyeruak sebak
duduk di sudut rumah beranda tua
berpangku tongkat rapuh
di olok olok cucu yang lugu.

Ah, sedih...

nasi putih itu tak lagi berkuah
teh manis itu tak lagi kau rasa
hanya asap putih itu mainan sepimu
kau linting dari jari jemarimu yang keriput.

Ayaaahhh.....

kau kini tak lagi tersenyum dengan dunia
bila malam tiba
air mata bercucuran
berbisik lirih menghiba
ya allah..
sejahterakan jugalah anakku dimanapun ia berada.

Getar getar doamu
membangunkan sang penjaga malam mengintip rintihan
kau menitip doa kedalam misteri
memanggil seorang anak yang tak pernah pulang.

Uuuhh,
seorang anak merantau yang tak pernah kembali lagi
usia senja itu telah meratap dalam cinta
meski ia kecewa
ayah, kau tetap sabar dalam doa.

duhaiii,
Mahkotaku yang telah hilang
entah kemana perginya
tak tahu kini dimana rimbanya
pulanglah nak........!
ayah menantimu
di beranda senja ini.

HR RoS
Jakarta, 13,11,2015, 08,42



TOPENG TOPENG DEWA

Intrik birahi kapitalis
mencengkram dunia

politikus dungu bermain catur
pengamat ilmuan
seremonial teori saja

Sang penguasa
jadi penonton sayembara

selir selir tahta
seakan bertopeng dewa
semua berkoar benar
padahal hipokrit yang memalukan

Sang pecundang pengkhianat
bak pahlawan kesiangan
padahal ia intrik intrik politik
gerilya berbahaya
untuk sebuah bangsa.

Barak barak partai
menyusun konspirasi tingkat tinggi
bak sikecil belajar main petak umpet.

Gita cinta tanah air itu
hanya seni suara saja
seperti pertunjukan opera
pepesan kosong belaka.

Bung....
dimana realiti janji itu...?
katanya,
amanah itu di pundak dewa mensejahterahkan rakyat.

anak negeri ini lapar bung
hasil tani dan kebun tiada harga lagi

negeri ini kaya
kenapa kolonialis yang berjaya

putera bangsa ini pintar bung
tapi kenapa bisa di bodohin

uuuhhhh...
emang dasarnya bodoh.

Coba pelajari sejarah
sang tokoh silam berjuang untuk bangsanya

kini,
tuan tuan telah berjaya
berjuang untuk rumah tanggamu saja
itupun jalan yang salah
kau korupsi di mana mana

Sang tokoh pahlawan itu kini
berduka di haribaan-Nya..
di nisan tua.

HR RoS
Jakarta, 25-11-2015, 08,50



TELAH PASRAH BERMANDI DUKA

Gerimis malam
menyisakan embun
dipagi ini

Ku basuh wajah lusuhku
dengan seuntaian syair resah
bertanya,
adakah kasihmu itu
masih ternokhtah cinta...?

Di jendela hati ini
berlari tintaku
menulis diatas kertas putih
memadah luah
rasa yang telah pasrah.

Aku telah rela,
biarlah layu
kembang cantik itu
di tanah cinta ini
jika tak sanggup
melawan virus benalu
yang selalu membunuh
kesuburan pohon rindu.

Pucuk pucuk pinus berembus
lenakan jiwa yang telah kaku
sigagak tua itu
berkoar mencari mangsa
menceracau bersiulan dungu
mengundang hadirnya
hembusan sang bayu.

Bayu rayu itu
memamah kepalsuan godaan
dari balik bukit penggoda cinta
tanah tanah tandus
berserakan ranting ranting
yang telah patah.

Daun daun telah berguguran
berjatuhan dibakar terik
dalam kepanasan dan kehujanan
tetap siburung gagak bertengger
mengintai mangsa yang semakin teruk

Pasrahku telah rela
meski bermandi duka.

HR RoS
Jakarta. 3-12-2015. 08,05



RINDU RINDU YANG TELAH RETAK MESKI IA SETIA

Tak pandai menari lantai berjungkit
ketika gemulai tarian
tak selaras dengan nyanyian
jemari dan songket
terlilit selendang ungu
kan terjatuh malu.

Kidung kidung rindu
mengalun merdu
merdu merindu di buai angin lalu

kidung itu tak lagi bernada cinta
nadanya bisu membungkam kalbu

aksara cinta berbalut tinta
telah gelisah terluah di kertas madah
langkah kakiku
bak musyafir kehilangan arah
dahaga di tengah samudera

ah rasa,
tercabar diminda tanya
padahal musyafir cinta itu
masih setia dalam perjalanannya.

Tinta jiwa ini
telah melukis misteri
terlukis di bingkai setengah jadi

wajah wajah rindu
seperti berkaca di cermin retak
merupa tak lagi membentuk indah
tertutup butir butir kaca yang berserak
seakan rindu rindu itu tak lagi nampak.

Bertanya dalam diam
jawabannya membungkam
hanya makna yang bisa ku eja
di setiap rindu rindu yang ku tunggu

Rindu yang telah ranum
merona
menghela
di sela nafas nafas cinta
yang telah resah

dalam tanya
aku menjawab,

aku masih seperti yang dulu
menunggumu sampai akhir hayatku
aku tak memelihara kembang lain
di taman hati
aku akan selalu
menggenggam nohktah kasih
dalam bingkai setia
bersama dirimu
setia sampai mati.

HR RoS
Jakarta, 09-11-2015, 07,47



NUSANTARA TELAH BERISTANA HANTU

Bumi cerah,
tapi berwajah mendung
Suram,
sang surya seakan malu
menampakan terik di tanah ini
menyinari alam mayapada
nusantara berkabut di dinding hari
berkoloni misteri

Jerebu,
kau kini nafasku

kau ajarkan aku melihat mentari
di kegegelapan pertiwi
apakah kiasan itu kini
pertanda makna yang tersirat
mata hati insani telah buta
memandang cahaya illahi
karena gelapnya kearifan budi
yang menghias religi dan nurani

entahlah..... aku juga tertanya.???

Yang jelas kini,
nusantara tertutup kabut
dari bisnis yang serakah

ku tengadahkan tatapan
ke ruang angkasa
melirik ke dinding bukit
melayang pandang ke samudera biru
perkantoran menjulang tinggi
ladang sawah terhampar

jauh mata memandang,
semuanya....

RUANG ITU TELAH GELAP.......

potret itu kini
bak peninggalan inca tak berpenghuni
nusantara berkabut misteri
seperti beristana hantu di setiap hari.

Nusantara ini kaya
kini penghuninya lara
berkabut
di cipta oleh tangan tangan serakah.

kekuasaan di beli,
oknum birokrasi seperti bermain petak umpet.

bangsat sialan persetan,
sumpah serapah anak bangsa
di negeri sebelah
tak lagi di dengar oleh penguasa

disini ditanah ini
ia telah merintih santun,
aku ini laraa....???
tak jua di dengar oleh para dewa
yang bersolek di istana alenka

Wahai para punggawa bangsa
kau berserakan di mana mana
perisai pertiwi dari sabang sampai merauke
bangkitlah..

uuuuuuuhhhhhhh.......
ketika pesta seremonial
berbaris sesaat
komando sigap
punggawa loreng itu di lepas
dari barak berkendaraan tank baja berpuluh ribu di keramaian kota.

Bila nasib nusantara berpesta derita
terjajah oleh keserakahan segelintir pengusaha
sipunggawa loreng bersembunyi dimana.????

Wacana intrik komando bela negara
santer di dengungkan.
mau di bawah kemana potensi intrik itu
lihat di depan mata musuh nyata telah menyesakan dada tak kau gubris.

Hai loreng...!!!
kau perisai negeri
ketika ibu pertiwi terbakar
airmata anak bangsa menitis
kau seakan buta dan tuli
hanya di lepas seratus lebih saja

Mmmm
para ahli peneliti belajar sebagai eksperimen
tak jua menuntun jalan terangi kegelapan
hanya solusi ke ilmuan basa basi.
Di mana tanggung jawabmu kini....???
Wahai..... (................)

yang duduk di kursi empuk
di dalam istana megah
menatap bisu ke dinding putih
terpukau indahnya lentera mewah
figura potret wayang itu
mengintip mencibir
yang duduk santun yang telah dungu

mana amanah di dadamu itu..??
janji kemakmuran dalam orasi pemilu
dulu kau dengung dengungkan
mmmmm,
kini jabatan itu telah kau sandang
kinerja pontang panting bergeleriya hanya intrik wibawa saja.

Olalaaa..
Aku cerobong tinta dalam seni
penyambung lidah derita rakyatnya

berorasi,

mengetuk nurani yang telah dungu
bangkitlah kau putra putri pertiwi
yang telah berkompetisi
untuk menjerat si pedebah negeri ini.

HR RoS
jakarta, 23-10-2015, 15, 02



BIAS TERLALU PAGI

Ku kenal dirimu....
jauh sebelumnya kita mengenal dunia maya
aku mengenalmu hanya sebatas sahabat.

Ku kenal dirimu......
memang kita pernah dekat.
aku mengenalmu
hanya sebatas nasehat nasehat.

Kini lembaran lembaran hari
dalalm gurauan memori itu terhenti
dikala mendungnya pagi ini,
bias karena cuaca tak bersahabat.
mendung menghias hujan,
sang mentari mengintip malu
di ufuk awan.

Sekarang gerimisku mulai meluruh
jatuh dalam irama sendu.
dalam lamunan persahabatan ini,
ku labuhkan perasaan
ke dalam makna.
untuk memetik hikmah
dalam wacana yg tak berirama.

Kini, tulisan ini hanya sekedar mengantar untaian bayangan,
berharap......
mentari yg malu itu menyapa kembali.
selamat siang........
Siang ini menyapa, hadapi senja yg akan berujung malam.

Semoga bias bias pagi
kan berganti ceria seketika
berhias pelangi senja
cerah bersama kejora
malam ini...

Salam tuk sahabatku
dimana saja berada....
yang terstory pualam
semoga berbahagia.

aku menyulam malam bersama kelam
semoga jubah malam ini
berpurnama indah di ufuk sana.

HR RoS



SERPIHAN MIMPI YANG TAK DIMAKNAKAN

Semalam aku bermimpi
dari lelap yang sekejap
tak ku maknakan kiasan tidur
di remang sunyi
telah lelah diri di minda tanya.

Wahai kuntum asmara
yang di ulit resah
semakin mendesah sedih
di kau kian berduka
pada lembaran lembaran rindu
yang semakin pilu
asmaradana cinta melukai hasratku
pada mimpi yang tak di mengerti.

Oh kabut,
kau melukis temaram
berjubah koloni awan
Syairku telah majenun
pada goresan yang semakin dungu.

Di belantara cinta maya
serpihan daun daun itu
telah berguguran di rimba
yang tak bertuan
pada dahan ranting yang kian kering
yang akan di tuai badai
berguguran jatuh ke bumi.

Oh angin,
gugurkan ranting ranting kering itu
di hujung dahan itu perlahan
berharap tunas kering berganti
dengan seuntai akar syair berdaun
hijaukan bumi ini kembali,
biar mimpi semalam itu larung
ke dalam angan
berharap berbuah impian pada kenyataan yang terkisahkan.

HR RoS
Jakarta, 14-2-2016. 14,30.



GORESAN SENJA

Ketika sore menjelang
aku menatap bayangan
dalam tatapan ilusi
bayangan itu
sudah kian menepi

Ku dekap tatapan bayangan
seakan dia menjauh pergi

aku berdiri di tapal batas
mencoba berlari
mengejar senja
ku tatap bianglala warna
menyulam kedamaian cinta

Mungkinkah bianglala itu
membulir lembayung rindu
di hujung senja ini
aku tak tahu

Oh jelita,,
kau yang ku nanti
tak jua menampakkan diri
ketika cinta
impikan bahagia
tak mesti selalu berbunga

Meskipun aku selalu
menoreh luka
setidaknya aku
ingin tahu
cabaran setia
dari ketulusan minda cintamu

Aku mesti sadar
aku tak sempurna
terimalah kado syair senja ini
meski luahannya
hanya goresan mimpi.

HR RoS



DAUN DAUN MUDA YANG BERGUGURAN

Tanah tanah tandus
tergerus siklus zaman
pohon pohon tua bertunas
kembang berputik jadi idaman hati.

Ketika budi dan religi di kebiri
dandanan cantik bersolek penghias diri

wajah wajah nan ayu berlenggok
bak bidadari bidadari dari khayangan
nasib terhempas jadi penghibur
wanita malam

Segelas anggur
di tangan serigala serigala yang haus
bermata elang di balik rerimbunan
mencengkram mangsa dengan rakus
melirik mangsa kemayu jadikan pujaan hati untuk penghibur selir semalam.

Jelantik cantik berkicau
berbisik bersiul kecil
bermanja lirih
godain aku abg
mmm....
sangkar sangkar kerlip
bak kejora di hujung malam
menambah suasana riang.

House musik riuh menggugah syahwat
pasangan berlalu satu persatu
memandu kasih di bilik wangi
hilang dari kerumunan dugem
mencari tempat persembunyian
dalam cinta satu malam.
Malam malam panjang
dalam keramaian di pinggir jalan
dugem diawal malam
menambah asyiknya pesta cabe cabean
malam kian larut
berhias lampu jalanan
beraroma mistik mewangi
dari dukun dukun langganan.

malam bertaburan bintang
daun daun muda berguguran
jadi prostitusi jalanan

Pesta itu usai
cinta satu malam melenakan
daun daun muda terdampar di tengah jalan
kembang kembang muda itu
berputik layu
tinggalkan kenangan

HR RoS
11-11-2015, 11,51
Jakarta dalam suasana tengah malam



AKHIR SEBUAH CINTA

Ku goreskan tinta merah
dengan linangan airmata sedih
yang berkaca kaca
aku tumpahkan kekecewaanku
lewat tinta terakhir ini
meski ku tahu
tak mungkin kertas membungkus api.

Kau yang dulu
pernah mengikrar janji setia
aku terlena di buai belai manjamu
kini kau campakkan aku di sudut duka

jauh sudah cinta ini kau renggut
kau rampas di dalam keterlenaanku
setelah kau puas
kini kau berlalu.

Pernah dulu
kau selalu mencari titik kesalahaanku
kau temukan dariku setitik noda
yaitu ketidaktahuanku tentangmu
kau jadikan itu senjata untuk menghakimiku
bak setitik nila rusak gulai sebelanga.

Pedihnya luka yang kau torehkan
ke jantungku masih bisa aku tahan
bahkan kau coreng arang di keningku
masih mampu malu itu ku pejam.
kni kau berlalu
dengan kekasihmu yang baru
aku rela mendoakanmu
semoga kau berbahagia bersamanya.

Surat terakhir ini
adalah akhir sebuah cinta
ku hantarkan kepadamu
tutuplah rapat rapat cerita dan
kenangan indah bersamamu dulu
biarkan aku berlalu dengan seteguk rindu yang pernah dahaga dalam pelukanmu
kini kau rampas kisah itu
kau larung kedalam bisu
ku akui itu memang kebodohan
aku dengan diriku
tak mengenalmu lebih jauh.

Kini,
jangan pernah kau datang lagi
kedalam hidupku
kalau itu hanya persinggahan sementara untuk menghiasi anganku
biarlah ku tutup rapat rapat kenangan itu
kan aku abadikan kedalam history hidupku.
dan aku berjanji
tak ingin mencari penganti dirimu lagi
setia ini,
ku genggam sampai mati
walau hidup bersama bayanganmu
karena cinta setengah hati
telah kau bagi.

Satu pintaku
pahamilah setia ini
meski aku tak sempurna
menghadiahkan cinta ke arena hatimu

Pilihlah jalan hidupmu
doaku menyertaimu
akhir sebuah cinta
akhir sebuah cerita
berbahagialah bersamanya
selamat tinggal kekasih
selamat tinggal kenangan.

HR RoS
Jakarta.
tertulis 10-11-2015. 08,53.
Surat terakhir



PERISAI YANG TERLUPAKAN

Suliki pandan gadang
tumpah darah itu
cikal bakal sejarah sang pejuang
untuk kemerdekaan bangsa
mengusir kolonial penjajah.

Suratan mengiringi semangat gerilya seorang pejuang pemuda dalam sejarah
jauh berkelana dari tanah bunda
antara asia dan eropa

Tan malaka,.
Bergelirya tanpa kenal lelah
sang diplomasi strategi
bak garuda terbang tinggi
menyelinap di angkasa

Pejuang bangsa
dari masa ke gegelapan menuju terang
dari kebodohan zaman
pelitakan generasi
di setiap negeri yang di singgahi
dengan pendidikan alam.

Perisai yang terhujat
dilupakan
tiang tiang pendiri kemerdekaan
tokoh sejarah sang pengelana
di intimidasi dari organisasi
di cari cari kolonialis.

Di negeri sendiri dilupakan
di hormati di setiap langkah kakinya

Tan malaka,

aset bangsa yang telah tiada
kiprahnya sejajar dengan pejuang
tokoh tokoh dunia
setara dengan nelson mandela
dan che aquevera.

gugur di kaki gunung wilis
sayangnya tak di hormati
tanah misteri sang tokoh di kebiri
di marjinalkan dari sejarah
terfitnah dari ke tokohan bangsa

Tunggul nisan tua tak bernama
sendu hiba di pusara
sunyi dari keramaian zaman
dahaga dari penghormatan...

Tan malaka
pejuang yang terlupakan dalam sejarah.

HR RoS
Jakarta,12-11-2015. 10,10
Puisi pahlawan untuk Tan Malaka



MIMPI BERMALAM DI BAITULLAH

Perjalanan malam
mengunjungi kaabah
larut dalam stanza suci
berdoa mengekang birahi
nafsu nafsu yang mengitari diri
menghimpun di dalam ritual ibadah.

Pertemuan suci di majelis diri
asyik fana tersungkur di dalam diam
kalam diam menyapa jiwa
jiwa hadir bermahkota cahaya

Makam makam suci aku ziarahi
kalam mimpi memandu tasbih
mendaki ke martabat alam diri
bermakrifat kemartabat alam tujuh
bertamu ke baitullah

baitullah rumahnya allah.

Kerangka tiang rapuh
dari Din yang menipis
hancur di sapu bayu
dari nafsu nafsu itu
yang menguntum ego
keangkuhan diri.

Baitullah kokoh dari bangunan ibrahim
panji janji yang berkibar di lambang suci
pada umat umat yang bertahta
dalam keyakinan sekelompok saja
seakan berkoar menanti akhir zaman

Pada panji panji itu
mentakbir sama sama merasa benar sendiri
mengundang huru hara di tanah haram
mengetuk pintu ghaib
bangun dari pertapaan
pertapaan tuhan sang imam agung
imam mahdi.

Imam mahdi datang dengan takbir
menjawab salam orang orang suci
akhir zaman akan bertamu
kencangkan sabuk pengaman dengan religi
bertauhid diri
semoga tak tertipu dengan
kepalsuan panji panji itu.

Bermalam di baitullah
dalam fenomena mimpi yang misteri.

HR RoS
Jakarta.. 09-10-2015. 09,06



DEBU DEBU NIRMALA

Bunga bunga nan indah
bermekaran di kala senja
pada bintang bintang malam
yang bertangkai di ranting cemara
dedaunan yang berbisik
melirik manik lembayung kejora
yang mengintip di balik awan.

Warna warna jingga
kemilaunya pelangi di senja itu
mengharu biru
kepada megahnya nirmala

Nirmala suci
indah tak bernoda
bak salju menumpang rindu
mengembun diatas bunga bunga yang mekar dikala subuh.

Nirmala debu yang membeku
meski kau debu yang berterbangan
melekat di sahara terhina
kau tetap kuas kanvas penyuci jiwa

kau debu nirmala
bermusyafir ke kasta fitrah
penghantar doa doaku ke sudut sukma.

Debu nirmala suci
untuk bertayamum
jejaki sajadah religi.

Nirmala hati
aku akan menumpang ke jalan realiti
di mana aku akan bertengger
rela berpeluh sendu
menganyam kasta kasta nan suci.

Nirmala debu itu
berkoloni di singgasana hati
kala malam berotasi pagi
pagi berotasi senja
menengadah doa ke dalam sukmaku

Pada realiti cinta
berguru kepada story kisah
setianya janji sang kekasih
mengikrar romeo and juliet
hidup dan mati bersama.

Bak arjun memandu pengembara
ikhlasnya bunga dahlia indah
berkawan setia dalam keniscayaan cinta.

HR RoS
Jakarta. 17-2-2016, 09,47



HR RASUNA SAID

Sang pencerah emansipasi wanita
pejuang bangsa melawan penjajah dengan tinta
dari talenta Hawa untuk sebuah anak bangsa
jiwamu terperangkap hiba kepada generasi muda.

Rasuna,
Kau sama seperti kartini
perjuanganmu
yang tak dipahami di bangku study
Perjuanganmu
bergerak di dalam bui.

Sang srikandi dari seberang
kau seperti kartini
habis gelap terbitlah terang
anak ulama yang maju ke medan perang

Rasuna,
Perjuanganmu dari penjara suci
hingga ke penjara penjajah bangsa ini
Kau singsingkan lengan angkat senjata
Kerudung di kepalamu tetap bermahkota halimah.

Aku bangga sebagai pejuang
berasal dari sumatera
adakah rasuna said berikutnya
di tanah ranah bunda
entahlah.

kau Hajjah rangkayo Rasuna Said puteri ulama
yang menorehkan sejarah
untuk kemerdekaan bangsa indonesia.

HR RoS
Jakarta 8-8-2015



MERDEKALAH NEGERIKU


Penjajahan dimuka bumi semakin menjadi
Seperti bom waktu di setiap hari
berdalih kebenaran demi kepentingan
untuk sebuah tujuan dan keserakahan.

Tertumpah darah dengan mesin senjata
yang dirakit oleh para penjajah
dari zaman Belanda hingga teknologi maya

Bendera itu telah dikibarkan
sangsaka di sematkan
sebagai saksi perjuangan.

Kau tunas tunas bangsa
orasi nafas sang fajar itu tunaikan
singsingkan lenganmu
rapatkan barisan
rebut dan isi kemerdekaan.

Penjajahaan di negeri ini setiap hari
dari keserakahan sesama
kemerdekaan itu adalah fitrah
yang harus dijaga walau nyawa taruhannya.

Panji panji yang berkibar di negeri ini
hormatilah,
biarkan ia berkibar sebagai ksatria
demi sebuah kejayaan berbangsa bernegara
untuk negeri Indonesia tercinta.

Merdeka,!!!!

HR RoS
Jakarta 8-8-2015
Puisi persembahan 17 agustus.



HANG TUAH YANG BERTUAH

Pendekar malaya sang laksamana
bertuah bertapa sebagai pandawa
dari gunung ledang
menembus kasta malaka
taklukan punggawa
jawara tanah jawa.

Hang tuah,

sang pendekar pengelana
membawah sejarah malaka
daribperadaban nusantara lama
hingga kini
kau dilupakan begitu saja.

Hang tuah perisai istana
terfitnah cinta oleh sang raja

Hang tuah,
cabaran itu kau balas dengan budi
kau raih mimpi dengan senjata sakti

sumpahmu,
tanah melayu jayalah di muka bumi ini
dari dulu sampai nanti...

HR RoS.



BUYA HAMKA


Putra sang ulama
tokoh sejarah bangsa
dari negeri maninjau yang indah
dipenjara suci tawalib kau melangkah

Buya,
orasi dan dakwah dengan ayat suci
pemikir pentafsir di balik terali

Tengelamnya kapal van der wijck kau gubah
novel yang melegenda ke mancanegara
Karirmu tersandera oleh penguasa
kau ulama pejuang dari sumatera

Kini ku rindumu buya
zaman telah merdeka tapi masih terjajah
tintamu tak lagi berwarna
tongkat yang bertuah tersimpan dimana
Sebagai temanmu tuk melangkah.

Zaman yang telah ke hilangan arah
buya buya kini telah duduk dikursi mewah
dia tak lagi amanah,
jiwa agamanya telah tersandera
oleh cinta dunia.

Buya,
Aku hantar puisi sederhana
sebagai generasi yang setia kepada sejarah

Aku menyapamu dalam doa
berbahagialah buya dalam mihrab illahiah

selamat jalan Buya Hamka.

HR RoS



DETIK DETIK NASKAH ITU

Ini leherku bung aku tidak gentar
bung karno berkoar
suara itu menggelegar
suasana kian genting

para pemuda itu diam
tangannya gemetar
demokrasi bak serangan fajar
darurat tapi optimis

Kala itu ribuan para pemuda pemudi tumpah sebagai pagar betis
untuk sebuah proklamasi

Antara rengasdengklok dan pengangsaan
di istana kecil kakek tionghoa
Sayuti malik menulis naskah
di kursi tua meja sederhana
belakang rumah

Naskah itu dibawah ke jakarta
menjelang fajar
dikawal oleh Nippon dan pemuda
untuk kemerdekaan bangsa Indonesia

Naskah mengandung nilai mistik
akal emosi nurani dan spritual
tersirat makna filsafat religic

Di pengangsaan
tangan cekatan suara santun
teks dibacakan
Jumat jam 10 pagi proklamasi di kumandangkan
sebagai saksi sejarah di bulan ramadhan

MERDEKA,

Pengorbanan dari tetesan darah nyawa harta benda dan segalanya mengusir penjajah
untuk Indonesia merdeka.

Merdeka
bukanlah hadiah Nippon dan Nica
tapi jerih payah perjuangan semua lapisan anak bangsa
mempertahankan tanah ibu pertiwi
dari penjajah negeri ini..

Zaman kini telah berganti ke teknologi
Isilah kemerdekaan itu tanpa korupsi !!!!!!

HR RoS
Jakarta 17-8-2015. 7,15
Dirgahayu ke 70 tahun negeriku



S O E K A R N O


Putera sang fajar menggelegar
lahir di saat letusan gunung kelud menyambar
kau orator yang ke sohor
semangatmu
membakar nyali bangsamu
untuk berkoar
merdeka....!!!!!

Bung karno,
pesanmu dulu
Ku titipkan negeri ini padamu
dari lelah asa meraih kemerdekaan bangsa
kami akan menjaga
dan mempertahankannya.

Bung,
kau penyambung lidah rakyat itu
perjuanganmu bak teriris sembilu
perih dijajah serdadu

The world of Indonesian
Indonesian of java

kakek tua itu berpetuah
semoga indonesia menjadi mercusuar dunia

Bung,
jasamu tak kami lupa
sejengkal tanah adalah darah

bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa para pahlawannya

Bung Karno,
kau buluh perindu
memacu semangat
di setiap generasi itu. HR RoS

Jakkarta 14-8-2015, 09:50
puisi ultah kemerdekaan



SANG VETERAN

Beranda fiksi dengan untaian puisi
sastra bunga bunga senja dikabut mentari
bunga yang telah kuncup
berharap mekarkan kembali
semoga berputik diranting yang tersisih.

Karangan bunga itu
berhias dimakam pejuang
kembang setaman layu dibatu nisan
sang pahlawan
telah gugur dimedan perang
isi kemerdekaan ini
santunilah ia dengan tunjangan.

Bunga bunga senja yang tersisih telah renta
oleh nafas nafas tua yang kian gelisah
ditaman makan pahlawan
kau sang veteran sebagai saksi zaman.

Kini kau berada dalam kesunyian
ku cucur doa doa kemarau di tengah malam
kembang kuncup layu di rerumputan

Terik membakar hari
oleh generasi yang tak lagi peduli

Kau tirani bunga yang berputik
isilah kemerdekaan ini dengan prestasi

Revolusi,
kau zaman zaman yang berkeliaran
di tengah roda roda pemerintahan.

walau seribu tahun ia bersemayam
Ziarahilah mereka yang dilanda kesepian.

Suara2 merdeka itu
menyapa ditiang bendera
kau generasi pelanjut tirani
menangislah di nisan tua
duduk bersila
hadiahkanlah doa doa
berdiri dengan hormat heningkan cipta.

puisi ini menyapa,
bersama karangan bunga indah
dari dunia maya
aku persembahkan untuk pahlawan bangsa
di kala tabur bunga di nisan tua
titipkanlah secercah senyum
untuk mereka.

HR RoS
Jakarta 10-8-2015
Ultah 17-8-1945.



MERDEKALAH NEGERIKU


Penjajahan dimuka bumi semakin menjadi
Seperti bom waktu di setiap hari
berdalih kebenaran demi kepentingan
untuk sebuah tujuan dan keserakahan.

Tertumpah darah dengan mesin senjata
yang dirakit oleh para penjajah
dari zaman Belanda hingga teknologi maya

Bendera itu telah dikibarkan
sangsaka di sematkan
sebagai saksi perjuangan.

Kau tunas tunas bangsa
orasi nafas sang fajar itu tunaikan
singsingkan lenganmu
rapatkan barisan
rebut dan isi kemerdekaan.

Penjajahaan di negeri ini setiap hari
dari keserakahan sesama
kemerdekaan itu adalah fitrah
yang harus dijaga walau nyawa taruhannya.

Panji panji yang berkibar di negeri ini
hormatilah,
biarkan ia berkibar sebagai ksatria
demi sebuah kejayaan berbangsa bernegara
untuk negeri Indonesia tercinta.

Merdeka,!!!!

HR RoS
Jakarta 8-8-2015
Puisi persembahan 17 agustus.



HANG TUAH YANG BERTUAH

Pendekar malaya sang laksamana
bertuah bertapa sebagai pandawa
dari gunung ledang
menembus kasta malaka
taklukan punggawa
jawara tanah jawa.

Hang tuah,

sang pendekar pengelana
membawah sejarah malaka
daribperadaban nusantara lama
hingga kini
kau dilupakan begitu saja.

Hang tuah perisai istana
terfitnah cinta oleh sang raja

Hang tuah,
cabaran itu kau balas dengan budi
kau raih mimpi dengan senjata sakti

sumpahmu,
tanah melayu jayalah di muka bumi ini
dari dulu sampai nanti...

HR RoS.



HANG TUAH YANG BERUNTUNG

Swordsman Malaya Laksamana
bertuah bertapa sebagai pandawa
Dari Gunung Ledang
menembus kasta malaka
taklukan punggawa
jawara tanah jawa.

Hang Tuah,

sang pendekar pengelana
membawah sejarah malaka
daribperadaban nusantara lama
Hingga sekarang
kau dilupakan begitu saja.

Hang tuah shields istana
terfitnah cinta oleh sang raja

Hang Tuah,
Tantangan itu kamu balas dengan budi
kau raih mimpi dengan senjata sakti

sumpahmu,
tanah melayu jayalah di muka bumi ini
dari dulu sampai nanti...

HR RoS.



BUYA HAMKA

Putra sang ulama
tokoh sejarah bangsa
dari negeri maninjau yang indah
dipenjara suci tawalib kau melangkah

Buya,
orasi dan dakwah dengan ayat suci
pemikir pentafsir di balik terali

Tengelamnya kapal van der wijck kau gubah
novel yang melegenda ke mancanegara
Karirmu tersandera oleh penguasa
kau ulama pejuang dari sumatera
Kini ku rindumu buya
zaman telah merdeka tapi masih terjajah
tintamu tak lagi berwarna
tongkat yang bertuah tersimpan dimana
Sebagai temanmu tuk melangkah.
Zaman yang telah ke hilangan arah
buya buya kini telah duduk dikursi mewah
dia tak lagi amanah,
jiwa agamanya telah tersandera
oleh cinta dunia.
Buya,
Aku hantar puisi sederhana
sebagai generasi yang setia kepada sejarah
Aku menyapamu dalam doa
berbahagialah buya dalam mihrab illahiah
selamat jalan Buya Hamka.

HR RoS



ROMUSA ANYAR DAN PANARUKAN

Babad alas demi sebuah napak tilas
dari sang penjajah yang berhati culas
nafas nafas tua muda yang mendesah
diantara hujung cambuk dan senjata

Romusa,
kerja paksa di tangan penjajah
dari anyar sampai panarukan surabaya
untuk mencari rempah rempah
dan akses politik dandels napoleon
Jepang dan belanda.

Anyar panarukan,
riwayatmu kini telah buram
sejarah itu kian kelam oleh zaman
nyaris di lupakan.

Tenaga darah
dan puluhan ribu nyawa di pertaruhkan
hargailah sebuah perjuangan dan pengorbanan itu wahai tuan tuan
untuk mengisi kemerdekaan zaman.

Di moment kemerdekaan ini
tanah pertiwi lestarikan dengan kesuburan
makmurkan generasi kami dengan pendidkan.

aku menitip puisi di senja ini
dengan syair yang optimis pertahankanlah
sebuah kejayaan bangsa
dari tangan penjajah
Berkibarlah merah putih di persada ini
untukmu wahai ibu pertiwi.

Jakarta- 9-8-2015.
puisi dalam persembahan
ulang tahun kemerdekaan 17-8-1945




TERIMA KASIH PAHLAWANKU

Padamu wahai pahlawan
aku mengenangmu
ketika dulu
kau kibarkan panji panji di hujung bambu
kau bersuara lantang
MERDEKA.

Kau terjun ke medan tempur
rafalkan mantera mantera sakti
sebagai perisai diri
bertelanjang dada angkat senjata
orasi takbir penyemangat jihad
maju ke medan juang
dengan otot kawat bertulang besi.

Dari negeri yang bernama nusantara
ketika itu
sang punggawa tetua tanah jawa
menitip pesan
negeri ini jangan sampai lengah
kelak tahta Juliana
melebarkan sayapnya ke nusantara
pertahankan sejengkal tanah ini
dari penjajahan belanda.

Padamu wahai pahlawan
benteng benteng kemerdekaan
ceceran darahmu telah mengering
kering menjadi debu
debu debu itu
pupuk pupuk organik tanah airku.

Kini

Jasa jasamu wahai pahlawan
tinggal kenangan
pusaramu di taman makam itu
merintih sedih tak bersuara

nisan nisan yang berjejeran
di taburi kembang setaman
di sirami embun pagi
nisanmu pahlawan
bak arca merana
bermenung dalam kesedihan.

Pahlawanku,
bukankah negeri ini telah merdeka
tapi kenapa masih terjajah
oleh para bedebah itu....?

Padamu wahai pahlawan
ku titip salam
setulus doa di keharibaan tuhan
semoga kau damai pahlawanku
gugur sebagai jihad

Dikau putera puteri terbaik bangsa
jasamu akan aku kenang selalu
menitip lembaran lembaran kenangan
di beranda sore itu.

HR RoS
Jakarta, 09-11-2015. 17,22
mengenang 10 november hari pahlawan



O P T I M I S

Dalam lamunan
ku hayalkan tentang diri
aku berteriak dalam ruangan
di alam kosong
desahku lirih mencibir bayangan itu
teriakin kebodohanku.

Dalam sadar ku buka fikiran ini
fikirkan tentang jalan hidupku
untuk menerobos onak belukar
kegundahan diri selama ini
gundah dalam bayang bayang ilusi.

Kini ku sadar
memegang teguh jalan hidupku
menjalani realita hidup dari-Nya
nafas nafas optimis ku iringi
mengabdi ke jalan illahi
gapai ridho-Nya.

Canda tawaku selama ini
gelapkan hatiku
dalam kebenaran illahi
aku melalaikan diri
hingga aku pecundang dalam lelah.

Kini ku tatap masa depanku
menutup bayangan kelam
aku menyusun pertanyaan sastra
menulis dalam syair
walau terkurung dalam tanda tanya
di ruang penuh misteri
tetap jawabannya
aku akan menganyam realiti
untuk meraih impian
membentuk kepribadian

Dalam pelita malam
aku bersujud dalam kesunyian
di keremangan kelam
mengadukan kesilapan diri
menghalau kegundahan.

Dalam doa
menengadah mencari cinta-Nya
berharap di cintai-Nya
dan mencintai yang di sampingku juga
mendekap
tanpa melukai kasih sayang dia.

Dalam goresan optimis ini
semoga karya ini tak sia sia
memaknakan cinta
oh diri, mengertilah.............

HR RoS
Jakarta, 20-2-2016, 04,16



DAULAT TUANKU RAJA RAJA SENUSANTARA DARI TINTA MAYA MENYAPA

Hayalku membubung tinggi
jauh kebalik awan senja ini
pada sebuah tahta
di negeri antah berantah
negeri yang di pertuan agung
oleh tirani history.

Pada sebuah amanah
dari rumput rumput di balik tembok istana
indahnya tirai permaisuri berkilau kaca
figura klasik menarik di dinding istana
potret potret tetuah raja tersenyum gagah di bingkai berlukis mewah

Kelambu berpayet manik eksotis
beraroma kesturi
sang permaisuri bersolek
bak bidadari bidadari
dalam bunga mekar dikala senja

Panji panji berkibar di seantero negeri
lambang patriot icon jati diri istana
singgasana melukis aksara sangskerta
pada relief relief kejayaan tempo dulu
lamunan tuanku yang berbudi
melaju ke balik awan
memikirkan nasib hidup rakyatnya
yang kian tersisih.

Sang yang di pertuan agung
daulat tuanku,

rumput rumput taman hati
di beranda istana itu menari indah
seperti kembang mekar yang belum jadi
tak tersentuh si kumbang janti

rumput rumput ilalang meradang
menyambut titis embun
dari sapa telapak kaki sang penguasa
burung burung kenari berkicau elok
iramakan melodi cinta
dalam alunan kesadaran rindu
dari perjamuan tahta tuanku.

Pada negeri seribu budi
memandu indahnya kemesraan teguran sapa surgawi
yang hidup di padang ilalang
gersang selama ini
cucurkanlah rasa cinta buat kami
meski tak kau bawah emas berlian
melekat di tubuhmu tak kau bagi.

Paduka cinta,....
yang kami inginkan kini
senyum mesra dari paduka raja
bertaut menyapa bersama kami
berkelanalah jauh ke beranda marjinal
dari megahnya istana itu.

Dalam diksi melodi syair senja ini
fiksikan hayalku ke istana Johor dan kelantan di malaya sana
aku persembahkan kekagumanku
dalam madah seuntai syair rela
menyapamu dari jakarta
untuk sang mahkota
di mana saja bertahta.

HR RoS
Jakarta. 21-2-2016. 16,55



PERSIMPANGAN DUA HATI

Jalan ini..
persimpangan dua hati
melangkah,
sama sama memegang tongkat ego diri
di pendakian mihrab cinta
yang selalu tertatih

akankah nokhta cinta kandas bersama mimpi..??
entahlah.....

Cabaran cinta melukis minda
jiwa terpasung semakin terluka
cinta ini tak lagi dimaknai
sampai kini aku tak mengerti kesalahan diri

Bercermin diri di kaca retak
wajah ini nampak buruk berserak
bersolek rupa
tak lagi membingkai indah
selera makan tak lagi terasa nikmat

tangis berurai sebak di dada
akankah sejarah ini
akan menjadi sampah yang tak bermakna... uuuuuhhhh.... luka

Bertanya pada mimpi
terjaga lelap di malam buta
masihkah warna hatimu berpelangi
yang senja ini
kian menepi menelan hari

Kini asa cinta itu telah
di hujung tanduk
sebak di hati
menitis luka yang tak berdarah
aku lelah mengais realiti rasa cinta bersama kekasih
tetap jua nokhta cinta itu kan ternoda.

Kasih...
bergurulah kepada semut merah beriring jalan
yang dia bijaksana bergandeng tangan
seiya sekata dalam suka dan duka
beban asa dipikulnya bersama.

Uuuuuhhhh...
untuk apa bersatu
bila satu atap tak serumah berlain rasa
berpayung berdua kehujanan berlain hati

Dalam cabaran malam yang kian kelam
malam itu tak lagi berpurnama
rasa yang semakin lirih tak lagi di maknakan
bianglala di ufuk senja kian memudar
mengertilah dikau kekasih....

akankah aku hidup dijalan yang buntu...??
bias bersama mimpi mimpi.

HR RoS
Jakarta, 16-10-2015, 01,18



AKU KELU DENGAN RASA ITU


Belajar aku memahami diam
diam memendam rasa yang percuma

terlalu jauh garis pantai ini ku lalui
jurang jurang terjal membayangi langkahku
langkahku hentikan
di balik batu karang berpasir putih ini

Sendiri dalam diam
memandangi kesunyian
aku kirim kabarku lewat pelangi pagi ini
semoga kedamaian itu
bersahaja di beranda jiwamu
memahami langkahku..

Ku nyalakan pelita dunia
lewat tinta
sinari pagi menghalau pelangi
semoga kicauan kicauan camar
berbisik menghibur sepi pagi ini

Surya,
kan menyinari alam yang mendung itu
biar kehidupan dunia bersahaja dalam cinta
meski dalam diam aku menuai rasa kecewa

yaaaa,,

Pada suatu masa
siklus pelangi pagi berganti surya
berlalu jauh kedermaga senja

aku masih tetap berdiri disini
sambutlah gita hari
mengiringi simponi hati
meskipun aku tak memandu
ke samudera biru itu.

Tatapan harap tetap terperap
dalam riak yang selalu berarak
cabaran itu tetap ku dekap
untuk
menbuktikan kesejatianku merengkuhmu.

HR RoS
Jakarta, 06-11-2015, 08,23



TAHAJJUD CINTA TANPA DOA

Sajaddah tahajjud terbentang
duduk taffakur
di bawah lindungan ka'bah
aku membawah rindu
jauh ke ruang jiwa.

Sunyi sepi berkawan hening
ku pusarakan warna nafsu
ke dinding kaca
sehinngga lenyap tak bercahaya...

Ku panggil siburung merak
kepakkan sayapnya..
menyusun yaa huu kedalam nafas itu
unang aning unong
ku kumpulkan ke dalam sami'
bhasyir bertamu ke lahayattan qalbu.

Malam malam indah bersama sunyi
tenggelam menyatukan diri
asyik fana ke rasa illahi
misykat misykat cristal
membulir tak tersentuh
bak kejora di tengah purnama
terhampar di padang sahara jiwa.

Khair khair berbisik dalam sami'
khair khair bhasyiran bermusyahadah
tersusun dalam tirai mahabbah cinta
lembut halus melebihi seribu sutera.

Kacahaya menyapa tahajjud
terpanah indahnya kelambu kasih
bahagianya bagi hamba yang selalu bersujud.

dibawah lindungan ka'bah cinta
ada di wajah maujudullah
bersama tongkat alif
menengadah purnama
ada di malam malam indah bersama-Nya

Tahajjud tanpa doa dunia
meneguk dahaga firdaus
membawah cinta tuk sang kekasih
dalam pangkuan
yang tak mau di tinggal pergi.

HR RoS.
Jakarta, 24-2-2016. 16,24



HARAPANKU ITU GAGALKU

Ingat masa kecilku,
tersimpan cerita pahit sebuah kenangan
berselang waktu yang sudah jauh berlalu
menelaah masa masa kecil dulu
ketika dimanja manja orang tua.

Dibalik manja itu,
tersimpan raut resah gelisahku dan kedua orang tuaku.
dalam keterbatasan hidup susah yg selalu menghimpit diri
kala itu, aku canggung berhias tangis
semua gagal dalam hidangan hidupku.

Yah,,, entah mengapa pagi ini
jauh diperantauan disebuah sudut kota
ku luahkan perasaan ini.
aku sekedar mengenang,
telah jauh kutinggalkan sejarah itu.
seribu duka telah berlalu, kini seribu tanggung jawab menghampiriku.

Di kaki ini,, asa yg kuraih
dijalan yg berkerikil dan berduri
tak jua menghadirkan mimpi mimpi indah.
kucoba tuk selalu tersenyum, tapi airmataku selalu berlinang malu.
aku telah melangkah disetiap kota dan berpijak dipulau yang berbeda
berharap meraih asa tuk sebuah cinta dan kepada mereka serta berbagi untuk orang tua
tak jua asa itu merekah...

Aku ingin akhiri perantauan dikota ini
tinggalkan mimipi mimpi itu
Aku ingin untuk bersamanya kembali.
walau yg kubawah dari sana sebuah senyuman durja.
berlalu kini, telah lama kampung halaman itu kutinggalkan.
tak apalah.....
setidaknya aku telah berada di tanah tumpah darahku kembali,
menyulam asa kecil yang tertunda
disana.

Aku mencoba untuk tegar menerima tadkdir illahi
terima kasih tuhan
telah menghadiahkan suratan takdir dalam opera hidup ini.

HR RoS



HARMONI SENJA PADA GARIS KHATULISTIWA


Pada kemilau diatas mega
samudera biru membentang
sejauh mata memandang
alur hulu ke hilir di sela dedaunan
hijaunya pesona alam nusantara.

Aku sibak tatapan itu
jauh ke hujung angan
gemuruh ombak memecah karang
pasir pasir berbisik di bibir pantai
menyapa camar bersiul dalam alunan riak yang mendecak.

Dahsyatnya sebuah keagungan
dalam simphoni harmoni senja
mendekap dalam kearifan alam nusantara di ring road khatulistiwa.

Pada peradaban nusantara,
mimpi mimpi menjelma kedalam tahta
dari magis rimba pertapaan
sang punggawa bertapa untuk sebuah keutuhan kedigdayaan
demi sebuah kejayaan jawara
mengukuhkan sebuah kekuasaan
di titik bathin.
berjayalah sebuah budaya lama
lestarikan peninggalan itu
dalam kearifan indahnya mayapada.

Alam asri museumkan di hati kita
lestarikan kuntum mekar
di bumi kathulistiwa ini
antara melayu Indonesia
Singapura Brunai dan Malaysia.

Selamat sore dari jakarta.

HR RoS
Jakarta, 23-2-2016. 15,30



DETIK DETIK AJAL ITU


Unsur tubuh berselimut cahaya
cahaya yang mengikat
diantara malaikat malaikat yang menjaga
enam puluh tiga malaikat rahasia
rahasia kematian umur rasulullah.

Ketika israil datang memanggil
cahaya itu di tarik di genggam balik
balik ke illahi rabbi

Tubuh pasrah tiada berdaya
bulan sabit memerah di langit bashirah
pergulatan iman di pertaruhkan
dahsyatnya proses kematian

Bidadari bidadari cantik sipenggoda
mengaku dari syurga
membawah secawan madu pelepas dahaga

Cabaran iman maha dahsyat
diantara kematian yang baik ataukah tersesat

detik detik ajal roh tunggal risau
jiwa mendelik ke ranah tauhid
menunggu datang sang utusan khalik
sakit menggigau dan galau

Akankah ajal terfitrah dari kematian ilmunya
terhidayah dengan amal ibadah??

ataukah tersesat tercabut dari akar akarnya
terhempas lara tak tahu meganya istana
iman dungu tak tahu jalan pulangnya.

HR RoS
Jakarta, 4-10-2015, 16-10



BIAS BIAS YANG TERSISA

Bodohnya aku
yang tak memahami bisu
makna rupa tak lagi mampu ku terka.

Menatap ke dada langit
jauhnya nirwana cinta
melukis di kertas basah
tak bertinta
seni akan menjadi bias
cerita jadi bualan belaka.

Ku ketuk dinding telinga
mendengarkan bisikan jiwa
jiwa ini telah paranoid
memilah milah bahasa rasa.

Aku telah berpayah mendaki fikir
berjalan di cabaran hati
menghalau onak duri
membebaskan belenggu dungu.

Kesetiaan itu tak lagi bermakna
cinta terkurung duka
lelah mati suri ke dalam mimpi.

Berdiriku telah lunglai
berjalan sudah gontai
perjalanan ini tak jua usai.

aku yang biasa tegar
kini terjatuh tak berbaju
terhina oleh susunan kata.

pasrah bertelanjang dada
mati terkubur ke pusara mimpi
sunyi ke belantara diri.

meski mindaku buruk rupa
setiaku tak kan pernah sirna
walau berakhir hidupku ke hujung nyawa
ikrarku tetap setia.

HR RoS
Jakarta, 19-10-2015. 18,15



OBSESI YANG KETINGGALAN KERETA

Aku selalu menatap kertas kertas kosong
yang belum tergores
halamannya yang masih bening
belum ternoda oleh korupsi luah hati.

Pijar pijar hati,
menengadah rasa keambang senja diri
adakah pelita bianglala tak semu di senja ini..?

Debar debar cinta menari di ufuk pagi
lentera surya menyinari kisi kisi pelangi
lembayungkan warna di telaga hati

aku mengejar impian jati diri
dengan madah tinta yang tak formal

Uuuuuhhhh....
kereta itu telah jauh berlalu
melaju bersama orang orang yang bersahaja
aku termangu di tinggal kereta itu
terdampar bermenung di bantalan relnya saja.

Aku melirik asyik ke cerobong atap
koloni asap silih berganti membubung tinggi
jalan yang telah berkabut
menutupi tatapan masa depan dijalan itu.

Kini,
aku menunggu kereta berikutnya
semoga saja ia melaju
lewati stasiun pemberhentian itu.

berharap dengan sarat penumpang yang telah bergantungan
masihkah aku di terima oleh sipir
jadi penumpang yang tak resmi...?

Kereta yang lalu
telah jauh meninggalkanku

kereta kedua berkemudi mimpi
tetap ku tunggu
aku setia menanti
meski ku ketinggalan kereta di pagi itu.

HR RoS
Jakarta, 20-10-2015, 10,25



PENGEMBARAANKU TERSESAT

Lorong waktu ku tempuh
pada jejak jejak nafas itu
langkahku kaku
rafalan mantera terbalik
dengan aksara yang terlupa

Mencoba menghening cipta
meng eja yang terlupa
Qulhu balik ya balikha fineda iya
aku mengejar kesaktian mandraguna
pada ayat ayat tuhan
demi mengusir setan.

Tafakhur hening dalam fanaku
pada ego terpukaunya kepada warna
ku lipat cinta ku buang makna
ku dekap prabu prabu nafsu
bertahta di anadzir tubuh
antara lawwamah supiyah amarah mutmainah
berkoloni menjadi diri yang terperi
aku perintahkan menembus gelap
aku ikuti,
pengembaraanku tersesat.

Mencoba berbalik arah
ku rafalkan kembali
asma pembuka arasy
makrifatku terarah

Ternyata semua itu
godaan perjalanan religiku
pada lembaran lembaran bathin
yang terkunci.

HR RoS
Jakarta, 26-2-2016. 16,16
‪dalam ejaan godaan



CUT NYAK DIEN

Kau bak kembang wijaya kusuma
tumbuh mekar di hujung sumatera
perisai ibu pertiwi dari imperialis
sang darah biru dari lampadang
berjuang dengan rencong
bergerliya menembus hutan belantara
bersama suami tercinta memimpin pasukan melawan penjajah.

Cut nyak dien,

tanah pertiwi kala dulu mewangi
harum semerbak ke benua eropa
cut nyak dien,
kau pertahankan sejengkal tanah
dari penjajah
darah darah jihad berserakan
telah berguguran di medan perang
cut nyak dien,
kau masih mampu merangkak
padahal matamu telah buta
tulangmu telah rapuh
semangat juangmu tetap berkobar
memimpin pasukan ke medan tempur
Cut nyak dien,
desahan peluh mencucur haus dan lapar tak kau hiraukan
pada lembaran zaman
aku menitip pesan ke nisan
dikaki gunung puyuh
telah merdeka negeri ini
sejengkal tanah itu
tubuh yang ternanam satu abad lebih
diam dalam misteri sedih.

Cut nyak dien
ibu sang perbu...
negeri ini masih terjajah oleh kolonial dari putera putri bangsa sendiri
wahai isteri teuku
dalam syair sederhana ini
aku rindumu oh pahlawan negeriku.

antara lampadang dan sumedang
1848 - 1908 rentang waktu itu
pejuang pelaku sejarah yang telah berlalu, mati satu tumbuh seribu
tapi tak semulia cut nyak dien itu.

HR RoS
Jakarta, 27-2-2016. 22,27



LA TANZA DIRI


Tertunduk daku dalam lamunan
membingkai sepi sebait puisi
melintasi cakrawala hati
dalam tanjakan iman
mengukir aksara kata sebaris jalan
jalan jalan tuhan yang di ridhoi.

Pada sebuah janji
yang pernah terikrar
dalam pergulatan arena kekasih
menyulam lembaran cinta
tersusun sudah

kini,
ikrarku ternoda
ke dalam kasta terendah
lemahnya haluan hidupku
menuai asa dalam gita cita
menatap mentari.

La tanza diri,
kan ku dekap jiwa ini ke dalam doa

oh, misteri azali illahi..??
tampakkanlah wajah wajah indah itu
yang realiti dalam firdaus kasih
seperti nohktah cinta
antara romy dan juli.

HR RoS
Jakarta, 9-2-2016. 13,15.



SAYEMBARA DI NEGERI MUTIARA HITAM

Sumber daya alam yang perawan
kini terkoyak oleh manusia manusia syetan

Sosok yang berwibawa patriotik
berlagak perisai anak negeri
aaaahhh... padahal
tak lebih dari serigala malam pemangsa anak anak ayam.

Berpuluh tahun tanah mutiara hitam dkeruk
kolonial kapitalis berkoloni dengan kolonial sekelompok anak negeri.

Keuntungan perusahan bak siluman malam di perebutkan
nasib bumi mutiara hitam tak di hiraukan
di perkosa bak perawan jalanan
seperti serigala serigala yang kelaparan
lebih lapar dari keroncongan anak negeri mutiara hitam itu sendiri.

buminya itu sudah terkoyak
kedokmu sebagai serigala pemangsa sudah terkuak
malu, kau lempar batu sembunyikan tanganmu
senjata bak makan tuan
bola panas kan bergulir ke sasaran.

Thomas Horbbes pernah berkata
homo homini lupus
manusia adalah serigala bagi manusia yang lainnya
itu terbukti.

Sang patriotik itu kini
jadi pecundang
seakan merasa tak bersalah
bergeleriya pasang kuda kuda untuk membela marwah
padahal sudah jelas serakah
papa berebut minta saham..

uuuhhh...memalukan.

Mutiara dunia,
kau membuat yang beriman lemah
mutiara dunia,
kau membuat yang sudah makan kelaparan.

Bung,
anak negeri ini sudah busung lapar bung
kau juga ikut jadi busung laparkah..?

ooh, no.

Amanah suci di pundakmu
tunaikanlah...!
lenyapkan hipokrit diri
berjubah di safarimu.

HR RoS
Jakarta, 8-12-2015. 00,55



NEGERI DAGELAN DI PENTAS DEMOKRASI


Orasi janji janji dagelan mimpi
merasa dirinya
para putera puteri terbaik bangsa
pembawah risalah tirani kejayaan sang tetuah
padahal monster monster pemakan darah.

Kereta api melaju tanpa hambatan
cerobong asap membubung tinggi jauh ke balik awan
asap lenyap seakan tak berpolusi.

rel itu telah lurus
sistem sudah maksimal
tapi kenapa sang masinis kereta seakan dungu di kursi goyang
seperti tak tahu rambu rambu
kereta bangsa ini kan anjlok
menghantam kelangsungan
kehidupan rakyatnya.

kehidupan rakyatnya kini
sudah lelah, lapar, gundah
di hantui ketakutan masa depan.

Lihatlah di sudut sudut kampung itu
derita telah berurai sebak duka
tak tertengok sedikit jua oleh masinis kereta bangsa
hasil keringatnya
yang tak berharga nilai jual lagi.

mereka bertahan dengan cara alami tak korupsi.

Masa berganti
semusim telah terlewati.

kuda sembrani berlari kencang
arungi perjalanan malam
mencari padang bulan di tengah kelam....
sijoki asyik melirik mendengarkan jangkrik bernyanyi
di keramaian malam
simponi nada luka tak di hiraukan.
hingga sijoki tertanya dalam lelah kebingungan,
lembah apa ini..?
damai tapi gersang.

tanahnya subur
benih di tanam tapi kenapa benih itu subur berputik berbuah ranum hasilnya tak melepaskan dahaga?

Orasi janjimu dulu
wahai para bedebah
kini kau berpesta pora
mmmm...
tetap janjimu itu bak manusia setengah dewa.

orasimu memukau sukmaku
hingga ku percaya
kami sokong engkau ketempat terpuji.

Uuuhhhh....
tetap saja kalau sudah berjaya
manusia yang setengah dewa itu kongkalingkong berebut jatah papa berebut saham.

negeri kami berkenduri dagelan pesta demokrasi semusim telah berjalan
bedebah itu semakin euoporia dengan jamuan mewah
simiskin tetap saja susah.

Tiang tiang pancang berdarah
di tiang tiang bendera
oleh para pahlawan itu
masih segar dalam sejarah

menangis jiwa para pejuang
di nisan tua
mengenang nasib bangsa
ketika terjajah kolonial

kini..
kolonial itu
adalah putera puteri bangsanya sendiri
tanah bunda di tangan para bedebah....... semakin menggila.

HR RoS
Jakarta, 7-12-2015. 10,38



FIGURA RINDU SENJA

Relief relief tinta
melukis megah
sastra senja
memadah rasa

Teruntuk yang merindu
berpacu kian melaju
membuncahnya irama kasih
dalam kidung seruling bambu

Dikala senja kian menepi
senandungkan warna
menatap pelangi
pelangi melingkari iklim

reliefkan misteri
diantara mendung dan cahaya

Stalaktit stalakmit
seakan menari bersolek
di dalam goa bersama bidadari

pancaran cahaya senja
menggugah jiwa
persembahan kearifan
alam yang sempurna

Melirik nan cantik
dalam figura kaca
lamunan terantuk lirik
seakan figura itu
kekasih yang di rindu

rindu akan kekasih itu.

HR RoS
Jakarta, 22-11-2015, 17,50ï



ASA YANG KIAN REDUP

--Pesona senja
perlahan redup
redup menikam kelam

pelita diri
kian temaram

Asa berangsur pergi
perlahan padam
di hempas cabaran kehidupan

Aku serasa
telah mengurung diri
bersama
angan

Oh tuhan,

pintaku..??
kali ini,
jangan ambil nyawaku
sebelum tobat ini ku lakukan

Izinkan hamba merengkuh cinta
di malam malam indah
bersama diri

beradu
dalam lenanya kekasih

Engkaulah kekasih itu ya illahi..

HR RoS.



CINDAI NAN ELOK
Romy Sastra


burung jelantik cantik bercicit riang
berenang di atas cawan dalam sangkar tuan
cindai-cindai nan elok berselendang manis
jemari lentik tarikan sapin melayu
melengok bagai bidadari menyulam rindu

kenduri bertilam benang emas
pelaminan eksotis
dihiasi kembang idaman
beradu pandang bersama tuan
asyik mengusik bergoyang-goyang

tudung songket lengket di jemari
melingkari panggul-panggul penari
rentak panggung berputar melingkar
berjoget riang berdendang-dendang
seakan mabuk-mabuk kepayang
penari terjungkal penonton riang
penari berdiri kembali semua senang
dalam alunan lagu
kenduri satu malam
pengantin di ranjang pelaminan
bagai bidadari memadu kasih
dalam semusim purnama
seperti dunia milik berdua

cindai kain sutra
dipakai tarian kenduri budaya lama
berpadu satu lagu
menjaga kejayaan sebimbing tangann sejiran
berjaya sebagai seniman
sebuah peradaban yang dibanggakan

satu hati
satu jiwa
satu rasa
bersatu kearifan melayu
ya, seirama dalam lagu
bermadah-madah cinta
menjaga kesenian sepanjang masa

HR RoS
Jakarta, 61118


Tidak ada komentar:

Posting Komentar