UNTUK MENCARI PUISI-PUISIMU CUKUP KETIK NAMAMU DI KOLOM "SEARCH" LALU "ENTER" MAKA SELURUH PUISIMU AKAN TAMPIL DI SINI

Minggu, 03 Juli 2022

Kumpulan Puisi Masita Shanti - POHON RENUNGAN


POHON RENUNGAN

Dedaunan mulai gugur satu per satu
Perlahan namun pasti
Mereka beterbangan meninggalkan tangkai
Kembali dalam dekap persada tak berdaya

Dedaunan yang menari itu lupa pada asalnya, ketika masih kecambah di kehidupan lalu
Ketinggian dan belaian angin dunia memperdaya, membutakan mata
Mereka meliuk pada dahan sesuka hati menikmati musim berganti
Tanpa pernah ingat, bahwa mati itu perkara pasti

Dunia penuh tipu daya
Harumnya bunga-bunga mimpi hingga diri lupa halal haram
Manisnya buah-buah dosa
Melenakan dan memabukkan hingga akal tak lagi jalan mengiring nurani

Akankah ini terus berlangsung?
Hingga tiba-tiba daun itu sampai pada giliran untuk gugur
Meninggalkan ketinggiannya
Meninggalkan posisinya
Meninggalkan dahan dan ranting di mana dia pernah menari dan meliuk dengan angkuh
Hidup sementara ini
Semoga kita bisa temukan tujuan kita yang sesungguhnya

Takalar, 01072022



PADA HATI YANG MATI RASA

Lama tenggelam dalam lena mengulum luka
Bukan lupa pada rasa yang pernah ada
Atau hilang akar cinta di dasar jiwa
Hanya saja lelah berharap pada hampa

Kau masih raja di hati ini
Tempatmu tak pernah terganti
Bahkan jika raga ini mati
Namamu 'kan tetap hidup dan terpatri

Cinta ini memang gila
Mendamba pada hati yang mati rasa
Berpuluh purnama sahaya cinta ini memuja
Tetap saja kau bisu tiada berkata

Apakah cinta ini begitu tak berarti
Hingga engkau enggan membersamai
Kumohon sedikit saja cicipilah
Betapa manisnya cinta yang kini tersuguh

Takalar, 29062022



SIMPAN ALASANMU


Beribu kali engkau berdusta
Ragam alasan engkau berkilah
Di depan engkau pecinta sejati
Di belakang jadi buaya

Stop!
Cukup sudah permainan sandiwara
Cukup sudah bodohi aku dengan dusta
Cukup sudah hati memapah luka

Alasan demi alasan terangkai
Menjuntai menutupi hati nurani
Kau biarkan kejujuran tergadai
Demi penuhi nafsu duniawi

Tak tersisa lagi ruang di hati
menampung semua duka darimu
Alasan demi alasan itu
Simpanlah untukmu sendiri

Karya : Masita Shanti
Takalar, 06112021




CINTA TANPA PAMRIH

Kecewa dan patah hatiku memang bukan urusanmu
Perih dan tangisanku pun bukan masalahmu
Tapi ketahuilah!
Bahagiamu selalu prioritas bagiku
Senyum tawamu adalah tujuanku diciptakan

Tak akan perduli
Seberapa dalam cakar kecewa mencengkram hati menggores perih
Aku akan tetap bangkit dan pastikan
Bahwa dirimu tetap baik-baik saja

Takalar, 03072022



WAHAI ENGKAU YANG BERGELAR SURGA

Dari satu kesalahan di masa lalu
Hancurkan istana kecil tempatku dan adik-adik berlari
Merampas senyum dari raut cinta pertama
Membiarkan kami kakak-beradik tercerai berai
Kini engkau menuai semua getirnya
Ketika rapuh dan kami tak di sisimu
Kami berakar tumbuh dan berbuah jauh darimu
Hingga sukar untuk hadir membasuh perihmu

Wahai engkau yang bergelar Surga
Di hati meradang dengar sakitmu
Di lubang luka menganga mendengar keluhmu
Namun, betapa ingin aku mengutuk jarak itu
Saat tangan dan kaki tiada berdaya menghapus jarak yang membatasi kita

Wahai engkau yang bergelar Surga
Haruskah aku menyesali semua kesalahanmu di masa lalu?
Ataukah memaki pada keadaan yang enggan berpihak?
Karena tak mungkin aku salahkan takdir Sang Pemilik
Kurasakan Mahabbah-Nya mendekapku kalau engkau jauh dariku

Allah yang menghapus duka ketika peran itu engkau lalaikan
Allah yang menopang tubuh kecilku ketika pundakmu tak bisa kuraih
Dan pada Allah aku mengadu ketika engkau menghilang tanpa kabar bertahun-tahun

Sungguh di hati tak ada benci
Cinta tetap merajai Sukma dan sanubari
Ketika kusentuh buah hati pertama kali
Terputar lah memori tanpa gambar ketika dulu engkau mendekap ku di awal kehidupan

Sungguh cinta ini ada untukmu
Tapi jika kini aku jauh dan begitu sukar menyentuhmu meski sekadar hanya mengusap air matamu
Bukankah itu karena sebuah kesalahan yang pernah engkau tabur di masa lalu?

Wahai engkau yang bergelar Surga
Aku pasti akan datang memelukmu
Membisikkan kalimat-kalimat penyejuk jiwa
Melantunkan sembilan puluh sembilan Nama Keagungan-Nya
Berharap dengan itu engkau akan tenang
Dan bila tiba saat engkau ingin menangis

Ingatlah rasamu di saat pertama kali memeluk dan menimang tubuh mungilku dalam pangkuanmu

Takalar, 03072022



AKU ADALAH ....

Aku adalah rindu yang tak akan pernah menjumpai titik temu
Aku adalah sepi yang tak akan pernah ditutupi gelak
Aku adalah sedih yang tak akan pernah berakhir tawa
Dan aku adalah duka yang entah ujung pangkalnya

Takalar, 03072022



Quotes :

Aku mencintaimu sesempurna aku menikmati setiap darah yang menetes dari lukaku.

Takalar, 03072022

Tidak ada komentar:

Posting Komentar