UNTUK MENCARI PUISI-PUISIMU CUKUP KETIK NAMAMU DI KOLOM "SEARCH" LALU "ENTER" MAKA SELURUH PUISIMU AKAN TAMPIL DI SINI

Jumat, 03 Mei 2019

Kumpulan Puisi Ayu Ashari - MENGASAH ASA


MENGASAH ASA
Oleh Ayu Ashari


Aku pernah tercabik mimpi
Terbakar purnama
Tenggelam di dingin malam
Pun
Terhanyut di peraduan
Bersembunyi di balik kelambu debu

Tapi aku tetap bangkit dan berdiri
Membungkus benci
Memeti matikan dendam
Dan
Masih mengasah asa

Medan, 0305019



SYAIR RINDU
Oleh Ayu Ashari


Kutulis seribu puisi
di arus dingin
lalu kukirim nanti
buatmu
agar menjadi kepakan rindu
saat engkau membacanya

Ku harap kau tetap menjaganya
Sebagai pusaka kenangan
Ketika aku telah berpulang
Bahwa aku
pernah mengisi waktu sepi mu

Medan, 0305019



INGIN
Oleh Ayu Ashari


Kulihat Bintang-bintang
berpencaran
awan berlekukan di dekatnya
dan semua itu adalah musim semi
sejak awal perhitunganku
untuk masuk ke dalam hatim

Medan, 0205019



DECAK RAJAWALI
Oleh Ayu Ashari


Decak rajawali,
meronceh kagum keangkuhan diri,
melesat mengembara telusuri angkasa
menembus panas surya
menghalau hembusan angin menerjang badai

Engkau terdiam terkisima
lintasan menjelma bayangan memburam
mencabik cabik rerona kegelapan
Tanpa ampun megelepar di sudut kepekatan masa silam.

Entah apa yang di pertahankan
Sedang senja mulai meminang malam
Masih saja kau menimang patahan iman

Kembalilah wahai
Sebelum mata mu di paksa terpejam
Raga kaku tak dapat kau gerakkan

Medan, 0305019



DALAM PELUKAN OMBAK
Oleh Ayu Ashari


Kita adalah awan
yang melintas tak putus-putus
siang dan senja di atas kepala

Kita adalah
dua dari ombak-ombak riang
yang berkejaran di bawa angin
menuju pantai .
tak ada hujan di mata kita
saat beranda senja penuh wewangian
dan segalanya membuat kata-kata
lebih bermakna dari secuil gema batu
yang jatuh di atas sungai.

Pada bulan seungu mutiara,
angin bertiup begitu lembut,
bagimu lah aku datang,
bersma getaran yang panjang.

Maka seperti tergambar
pada langit yang membentang
aku mesti menjaganya
dari keluh kesah laut dan hempasan ombak
yang selalu datang berulang-ulang.

O, Tuhan akan kusimpan riuh beringas itu
dengan sesuatu yang lebih erat
meskipun ia begitu jauh
dari pelukan mimpiku saat ini.

Medan, 0105019



KEPAK MERPATI
Oleh Ayu Ashari


Ia datang tanpa membawa kata
terbakar di lubuk kepekaan
ingin rasanya aku terlelap di ladang bisu-Mu
dan kulumat semua yang ada
sambil bersendawa di awan senja sepiku kini diam
Mencecar dalam keheningan

Menelusuri lorong lorong kehampaan
Bertanya hingga kapan
Berbicara pada dinding batu
Memetta kan cinta di bait bait ketiadaan
Pun detik jam dan gemerisik daun menjadi sebuah ketakutan
tapi nalar menembus bisikan.

Bahwa caraka manggilingan terus bergerak beriring samsara, keadaan tak mungkin mematung.
Kesepian akan berangsur hengkang
Bersama hadirnya malam yang berhias gemintang.

Di bawah akramaya senja ku telusuri halaman yang senantiasa memberi kedamaian kala resah melanda jiwa dan mungkin saja akan menjadi sebuah kenangan ketika sepasang kepak merpati membawa aku pergi.

Medan, 0105019



SURAT
Oleh Ayu Ashari


Malam terbuka
jadi kenangan
suara menjelma
jadi rintik hujan
oh, dapatkah ku kirim surat
agar rinduku kepadamu
tak terkoyak karena sepi
semalaman

Medan, 0105019


----------------------------------------------


Warastra menembus jantung
Aku melihat bunga
Seribu harum
Waktu pun merayu.

Ayu Ashari 2904019
Selamat malam cinta untuk semua cinta




GERHANA
Oleh Ayu Ashari


Sehabis gerhana, bulan hamil
dengan benih kenangan yang menua dan aku yakin dalam tubuhku yang purnama
telah kau simpan kenangan yang tak pernah diam
meski bulan di atas laut tenggelam tak terbit lagi.

Setelah usai kita bertunai-tunas
kita lekuk bibir malam
agar debar jantung terus berulang
bersama sehimpun lagu merdu di telaga teduh.

Kita kian lekat terpaut
harum taman mawarku
harum taman anggurmu
tak bosa-bosan nya memberi dan menagih
mengajak dan beranjak pada siang dan malam
dan kita tahu bahwa (...)

Pengetahuan ini jadi penting,
sebab kersik pada karang, lumut pada lokan
mungkin akan tetap juga di sana apa pun maknanya
maka telanjanglah, rayulah awan, meskipun
pada suatu waktu sebuah sajak yang sentimentil
hanya ada dalam satu dalil :
biarkan akal yang angker itu mencibir!
lalu di bawa ombak ke tepi pantai.

Medan, 2904019



SUN FLOWER
Oleh Ayu Ashari


Musim demi musim menyeret langkah ku pada cadasnya belantara perdu, sepanjang perjalanan hanya berkisah tentang gugurnya kelopak kelopak bunga,
Meruang dalam catatan buku harian kusam.
Lalu semua menjadi karang.

Tita mengkristal di sudut netra, berubah menjadi butiran pasir yang memburamkan saujana.
Letih sudah atma menyibak semua prasangka.

"Kemari lah bisik-Nya. Berpulanglah pada jalan Ku, telah ku sediakan setangkai bunga berwarna kuning yang kerap menghadap terbitnya mentari. Dan di waktu yang tepat kan ku izinkan kau untuk memilikinya. Tapi bersabarlah."

Bumi berputar mengitari matahari, waktu berdetik menukik, siang berganti malam, perjalanan belum usai, ruh masih menyemat di tubuh,
Aku tetap bertahan dalam penantian di ujung senja, meski badai silih berganti berubah rupa.

Ketika lelah mulai merambah, ku jeda waktu, bersemedi dalam tafakur yang tak bertepi.
Saat kaji diri sampai di ujung sepi
Setangkai bunga membayang cahaya di mana hati berpijak.
Bunga berwana kuning yang senantiasa menatap mentari.
Ini lah luka yang selama ini telah aku dustakan
kini tersenyum seakan kebahagiaan sebesar gunung menanti di ujung liang
Memaksa mata urung mengerjap cahaya
Hingga buta menutup dunia

Kita belum sepenuhnya dewasa meski telah memasuki senja
Saling mempertahan kan ego, hingga gengsi berselimut kebodohan menutup logika, sedang hati enggan berpisah.
Bunga matahari yang kau tanam di sudut paling puisi
Menjadi saksi bisu saat kita di telan gelisah

Tuhan tidak pernah berpangku tangan, nawula bahagi mengutak atik cerita kita
Hanya sepenggal kisah yang takkan terjamah, saat senantiasa kita memegang teguh kesabaran,
Layaknya bunga matahari, yang selalu mekar pancarkan keindahan, di bawah paparan mentari.

Medan, 2804019



KEHADIRAN MU
Oleh Ayu Ashari


Daun daun berbinar kilau mentari
jangan tanya kemana awan pergi
karena angin telah merajutnya jadi rinai, di antara subuh menuju siang.

Dan rajawali memetik terik
untuk dijadikan aroma senja
bagi elang yang terbang di angkasa.

Hari yang berlalu memang berdebu
tapi bukan di hatiku
karena bintang telah menulis puisi
tentang sebuah kisah bagaimana Krisna memerangi Rahwana untuk meminang Shinta seperti di warahkan dalam kitap suci Brahmana, yang akhirnya berlabuh pada buaian kamasutra.

Seperti itulah kehadiranmu di dalam kehidupan ku, yang melukis senyum di bibir ku pun dendangkan lagu indah di setiap waktu dan aku menari di atas gelombangnya.

Medan, 2804019



RENJANA MERANGGAS
Oleh Ayu Ashari


Masih ku nikmati lukisan awan putih yang membentuk sayap sayap bidadari di langit biru,
Sebelum samira yang berkesiur menggiring gulungan mendung yang datang menggusur.

Sesaat kemudian hujan pun turun, tanpa kilat atau guntur, membasahi hamparan anggana di ujung senja yang hampir menua.

Aku melihat dara berteman kupu kupu berteduh berpayung daun. merengkuh lirih menghayati nyanyian elegi ilalang yang entah,

Ketika renjana meranggas
Pupus sudah asa
Ditelan ego sang kelana jumawa
Rangkaian jumana putus berserakan
menjadi batu.
Meski rindunya masih merentang di cahaya bathin yang mulai meremang.
Dan
Ianya kembali memamah kesunyian.

Medan, 2704019



PESAN SEBUAH PUSAKA
Oleh Ayu Ashari


Dia yang dilahirkan di bulan April pada sebuah kota,
di mana gedung-gedung berarsitektur oriental berjajar menjulang tinggi.

Pohon-pohon akasia menaungi jalanan berdebu pada saat musim panas.
sedang pada musim hujan jalan-jalan itu
penuh lumpur dan becek.
tampak di sana anak-anak bermain sama kurusnya,

“Lambang kesengsaraan.”

inilah sisa-sisa dari reruntuhan
yang belum juga terselesaikan
sedang ia sering sekali melihat
berbagai pertualangan cinta,
bahkan sampai merobohkan kata-kata nya :
“ Aku percaya, jika suatu saat nanti
tubuhku ini akan sirna, tetapi Republikku
hasil dari tubuh ini, akan tetap di kenang selama nya."

Medan, 2604019



RENUNGAN PERTIGA MALAM
Oleh Ayu Ashari


Hati mu sperti selembar daun yang terkapar di lantai di bawah tarian tarian angin sedang di bagian lain di tepi jendela, cahaya mengajak mu pulang kepada Nya.

Meskikah saat itu kau baru kembali ke dalam diri, sementara albab Nya belum kau ketuk sepenuhnya.
Berapa lama akan kau tahan sakit, sedang bisikan lembut selalu datang berganti untuk membimbing menuju perjalanan akhir mu.

Dan lihatlah jiwa jiwa yang mengambang dalam gelisah ketika waktunya tiba atma harus mengat-ruh melayang menuju sebuah tempat rahasia dan mungkin esok atau lusa ataupun beberapa detik lagi ia akan mendatangi kita tanpa memberi khabar.
"Maka bergegaslah !"

Medan, 2604019



SEPOTONG KANVAS DI BAWAH TEMPAT TIDURMU
(Sebuah Catatan)
Oleh Ayu Ashari


Dari sebuah jendela,
engkau memandang
pecahan matahari,
jatuh di atas daun-daun gugur.

sedang embun pagi
dengan nafasnya yang harum
selalu datang menyapa
walau ombak di matamu
sering kali datang tiba-tiba
untuk menenggelamkan satu kecupan
di atas sajadah yang kau bentang.

" inikah yang pertama kali kuingat,"
: gegas langkahmu,
di perjalanan yang kau pinjam
lewat kanvas dan bau cat,
selalu saja kau setubuhi,
walau garis-garis hujan
sesekali ingin melihat goresan senja
yang ada pada sepotong kanvas
di bawah tempat tidurmu.

Sepotong kanvas di bawah tempat tidurmu,
biarkan ia melukis dirinya sendiri
"yang bernama cinta, kasih tak sampai"
dari pada bergumul di dalamnya.

Medan, 0908019



MAU HUJAN KATAMU
Oleh Ayu Ashari


awan menanam gerimis
pada langit yang terbuka,
sedang angin, yang selalu rindu
enggan untuk menyunting cinta
pada tanah-tanah tandus yang menunggu

di bukit tanpa daun,
di laut tanpa perahu,
di hutan tanpa kicau
serta bau asmara ranting - ranting yang rebah
untuk meluluhkan segala hijau rindu
yang diam, karena matamu.

Ikhwalku menjadi tak tahu,
ketika semua lari dari kejaran mimpi
untuk kembali mengambil gerimis sedkit saja
yang tersisa dalam tempayan saat kau tinggalkan.

"Mau hujan katamu,"
pada awan yang selalu menggoda.
namun semua menjadi hampa
ketika rindu beranjak
membawa sedikit waktu lupa

Medan, 080519



LUKA GARAM
Oleh Ayu Ashari


Luka garam dalam tubuhmu,
segalanya menjadi sunyi.
sedang nyala api
seperti membakar ingatan persitiwa
yang kau aduk-aduk berulang
dalam analogi menanak nasi setiap hari.
: " tentu cerita ini tidak terjadi bukan,"
karena garam yang telah dimantrai
serupa butiran hujan telah jatuh
di ujung rerumputan.

Luka garam dalam tubuhmu
selalu membawa cemas
tentang gagak berwarna hitam malam,
tentang sesekali terdengar cericit burung,
menggoda layaknya dayang sumbi
dalam benakmu berjanji.

o, luka garam
dalam tubuhmu
sulit sekali kutafsir
dan akhirnya semua
menjadi sunyi, bukan.?

Medan,0805019



IZINKAN AKU
oleh Ayu Ashari


Langit
rona mu kembali ceria
Surya telah menyinari
Semoga embun yang engkau sublim
Tidak berubah rupa menjadi awan
Jangan lagi turunkan hujan
Membasahi bumi ku

Aku tak akan lagi kuasa
Menahan dingin yang membekukan atma
Atau mendengar guntur yang memekakkan telinga
Pun bias kilat membutakan mata

Cukup lah sudah ku nikmati lezatnya getir
Izinkan aku merepih badai dalam hangat pelukan mentari.
Bernyanyi dan menari bersama bayu
menghirup ribuan wewangian mawar di taman nirwana

Izinkan lengkung bibir ku tersenyum
Menyambut hari tanpa membawa dilema

Atau izinkan aku
Sebentar saja,
yaa sebentaaar saja
Merasa bahagia
jikapun bila esok aku harus tiada.
Melesap diantara bayang bayang yang entah kemana

Medan, 0305019



GARUDAKU
(I dedicate this poem to my son who is struggling in Cambodia)
Oleh Ayu Ashari

Garudaku
Pergilah ke negeri rantau ,
jangan kau bawa risau
apalagi hujan di matamu.
biarlah tiang serta temali
yang tertambat di perahu mu itu
berbalut cerita tentang ikan-ikan kecil,
kelok sungai, atau rimba hijau di tanah sendiri.

Pergilah ke negeri rantau
Bawalah setepak sirih negrimu agar tetap harum mewangi
Dan jagalah rindumu seperti butir - butir padi
yang kau tanam berbulan - bulan
bersama matahari, yang
selalu setia menjagamu.

Pergilan ke negeri rantau ,
di sini ibu, tumpahkan segala do'a
jangan jadikan hitam malammu
menjulur tergesa pada mimpi-mimpi
yang berulang kali datang
karena tebing curam
dan ombak ganas di depanmu.

Pergilah ke negeri rantau
Tebarkan seribu bunga sedap malam dikala malam,
seribu melati di pagi hari,
jangan selalu kau singkap kenangan lama
karena desamu yang tenang
telah diteduhi gunung yang rimbun
dari angin dan topan

Pergilah ke negeri rantau
Jika engkau pulang nanti,
aku akan bercerita
“tentang Melayu
yang selalu menunggu”
di padang rumput hijau.”

Medan, 0705019



PULANG LAH (2)
Oleh Ayu Ashari


Senja kian mendekati ujung
perlahan kau simak lagu rindu
Riuh bergemuruh di relung kalbu
Masihkah kau tolak gaung itu

Sudahlah tak perlu kau ikuti angkuh diri
Biarkan semua terurai tanpa kau munafiki
Tak harus lari, mengembara ke ujung bumi

Jika lara masih saja kau bawa, tidakkah semua akan sia sia?

Pulanglah ke kampung halaman
Sepasang mata tua ingin memandang wajahmu
Dan
Dua tetes darah mu menunggu peluk kan mu

Pulanglah
Istirahatlah sekejaaaap saja
Bukankah rusuk mu pun ada disini..?

Medan, 0705019
"Lebay"



TENTANG MU
Oleh Ayu Ashari


MALAM INI
Sebelum perjalanan kulanjutkan
sebaiknya sepi tak jauh dari ku
sebab segala yang ada di dalamnya
menggelayut kekal dalam rindu ku.
sungguh kau mata air keriangan puisi

air tak habis-habis mengalir dari ku
dan walau seluruh dunia karam dalam keruntuhan
kau selalu menjelajah seperti angin dan badai.

DUHAI
aku ingin mengenal-mu lebih jauh
yang mengorek terus ceruk jiwaku
kau pun akan kuberi nama selaras dengan dirimu
seperti janji takzim ku malam ini.

Medan, 0505019



DALAM PENANTIAN
Oleh Ayu Ashari


Malam sepi pekatnya kian membalut
Hujan mengguyur dan petir saling menyambut
Dingin ku merasa semakin dingin
Jantung berdetak kian mengeras
Selaksa takut ku pun mulai meranggas

Ah, entah lah, apa yang sesungguhnya ku takutkan
Sedang keyakinan kuat berpelukan
Bahwa hatimu juga sama dengan hatiku
Memendam rindu ingin bertemu

Ku sampaikan ini padamu
Agar kau mengerti
Aku akan tetap berdiri di depan pintu yang masih ku kunci
Menanti kehadiranmu disini
Dan akan ku buka hanya untuk mu.

Oh, bulan mengapa kau sembunyikan raut mu di balik awan
Tidakkah kau pahami
Gelisah ku mulai merambah ke palung hati yang paling puisi
Tidakkah kau sadari
Betapa sulitnya aku menjalani titian hari jika kau tak menampak kan diri.

Maka bulan
Tunjukkanlah wajah mu
Walau sekejap saja
Yaa, sekeeejaaap saja
Agar jiwa ku tenang
Hingga kau datang meminang.

Medan, 0405019



ANDAI SAJA
Oleh Ayu Ashari


Andai saja
Tuhan meminjamkan-ku sepasang sayap bidadari
Aku kan segera terbang menembus awan
Melintasi gugusan bintang bintang
Kan temui kekasih yang tengah berjuang

Agar rinduku dan rindunya segera menyatu
Dan
Kan kurawat dia dengan dua tangan lembut ku
Memberi nya sepercik air kesejukan penghangat malam malam yang membeku.

Medan, 0405019


DUKA MU DUKA KU JUGA
: Palestina
Oleh Ayu Ashari


Duka mu duka ku juga terendam air mata,
hanya ada prosesi jenazah kepemakaman beraroma mesiu di udara.

Entah sudah berapa lama Nazar datang untuk memetik matahari pagi, mencabik cabik bangkai di ujung sepi dan melebur malam dengan seribu cerita duka.

Tentang anak anak yang baru saja
menangis dari rahim ibu,
terpukau melihat lembah dan tanah
yang kelak akan menemaninya,
sedang yang lain tertawa
karena tangisan itu tak dapat dimengerti,

Di sudut lain ada anak yang menangisi jasad ibu bapaknya di pangkuan penuh darah,
anak anak yang mencari orang tua nya..atau anak anak yang menyandang senjata..kehilangan kaki atau tangan nya
semua hanya mengulum kecut
di antara bau keringat dan darah
yang melekat pada wajah.
Jutaan anak mereka meminta do'a
dari ibu yang menimangnya.

Sementara angin gurun jalur Gazza berulang-ulang untuk mengajak ziarah yang tertanam dalam bumi.

Palestina, masa lalu mu adalah langit berwarna abu,
masa lalu mu adalah bola mata pecah di atas batu,
masa lalu mu adalah ribuan peluru datang menyerbu
dan masa lalu mu adalah leluhur yang diam membisu.

Tak ada lagi sapa rama tawa riang, semua sembunyi dan berlari sambil membawa seikat sakit dan air mata, kemudian mengais sisi hati yang kini telah mati suri,
dan entah sampai kapan, peluru tak lagi menembus lantas hilang berganti cahaya purnama yang di pagari senyum dan cinta yang berpelangi.

Medan, 1105019



RINDU KU WANGI PANDAN
Oleh Ayu Ashari


Saat mata melepas pandang di langit langit kamar,
Tiba tiba awan berubah rupa menjadi bidadari yang menari-nari
melintasi bukit menyeberangi lautan
Menyambut hadir ku

Jeritan ayam jantan jadi tradisi pada
pagi yang datang tuk membasuh diri
tak ada dendam di dalam hati
Membentang sajadah yang lama terlipat rapih, di atas harum aku
tegak berdiri memberi salam pada Kekasih

Engkau ada dalam sajakku
memandang lepas
berselendang hijau wangi daun padan

Di sepertiga malam, aku disini.
merajut doa pada Mu
agar benih tahajjud dapat terbang
menghalau mimpi buruk yang abadi.

Engkau pelindung jejak gelombang
di darahku, diri-Mu mekar bagai wangi kembang kesturi
syair syair samawi-Mu ku lantun kan syahdu merayu
bagai nyanyian burung burung perindu yang terbawa angin sampai jauh, menyisir gelap hingga terang menjelang.

Aku rindu pada malam seribu bulan,
yang seolah masih enggan menyapa ku dalam belai ranting ranting merunduk tanpa hembusan angin.
Rasanya
Tak kuasa aku mengeja ribuan puisi nista di bahu kiri.
masihkah ada waktu tersisa untuk ku..?

Medan, 1205019



KEGELISAHAN
Oleh Ayu Ashari


Di ufuk barat langit mulai memerah jingga
Uir senja berderang di sela sela pohon anggur
Dan angin berkesiur di dedauanan menyongsong malam

Seekor bangau jantan ketakutan dengan bayang-bayang di tepi danau,
gerah berteriak di gulungan awan yang ia ciptakan,
Mengigau dalam mimpi belum tertidur.
Entah apa yang di risaukan tentang titian perjalanan yang telah berbulan di lalui

sementara, seekora tekukur yang di khawatirkan berada nun jauh di pinggir kebun menikmati pahitnya liur, dari sisa sisa hasrat yang terkurung dan malam malamnya pun jadi keruh mengasuh mimpi dalam sarang rapuh

Oh, telah kucoba memetik embun dalam hening kebun
agar ia ( bangau) selalu terjaga dalam kesejukan hijau daun
meskipun nanti saat menjelang fajar
akan terpecah dan jantung terbelah
karena cahaya yang meraung di senja yang memerah.

Medan, 1105019



SEPENGGAL SURAT DI BAWAH BANTAL
: usai kematiannya
Oleh Ayu Ashari


Malam bagai dedak kopi,
hitam mengental
tak seorang pun tahu,
berapa tahun usianya,
juga sudah berapa lama
luka yang ada singgah di tubuhnya.
ia tampak takut dan gelisah
duduk di sebuah bangku kayu
yang retak oleh kenangan dan waktu
lalu pergi karena direnggut ajal secara paksa.

Anak perempuan,
yang tak kutahu siapa namanya itu
selalu datang ke taman pinggir kota,
menghabiskan malam-malam purnama
dengan petikan dawai yang mengiringi nyanyian para sufi.
nafasnya hangat membuai seluruh persendian yang melihatnya
dia cantik di atas peraduan beralaskan doa,
dia pun sering menggigil kedinginan
di ambang fajar yang berkabut.

Angin menembus ketuaan warna tanah,
tangan hitam yang selalu datang
sering mencengkamnya
cambuk bagai petir pun tak dapat dia halau
saat dirinya sedang menjilati rahasia perjalanan,
Itukah kematian buatmu.?
Tidak,
Tuhan akan membawamu ke surga,
untuk menghiasi kebun kurma.
Ketika hari berangkat malam,
ingin kuhirup wangi keringatmu,
ingin kuminum pula air matamu
sebagai penawar sakit rinduku yang panjang.

bila tidak,
Tuhan telah memberikan cinta buatmu,
dan mencatat puluhan kali kau tersungkur karena bapakmu
yang selalu hitam tak kunjung pulang

Aku tertegun,
memegang batu nisan sambil membuka kenangan.
Dalam otakku: pernah ada sepasang kekasih,
sahabat, bocah kecil dan teman lama mati
terkubur di bawah bunga kamboja,
yang memberi warna pada payung hujan duka.
Dan sampai hari ini
sudah berapa banyak kematian
menghujam tanah setapak
yang selalu bergejolak.

Medan, 1105019



TRAGEDI PHALLUS
Oleh Ayu Ashari


gending serak cenderung parau,
di ujung lagu, melolong teriakan kering (abstrak),
lantas bersimpuhlah
lelaki di sudut belakang
dengan mata yang hampir saja
menyentuh aroma air, dan
alunan tembang yang liris.

seberkas cahaya,
menggeram dalam keheningan
menawar tubuh lelaki yang bergerak
sedang memainkan pengganti wajah
dalam genggamannya yang kasar,
wajah angkara yang nanar

dalam dongeng cahaya merah gelap
kepongohan yang rakus itu muncul
lantas masuk ke dalam cawan
ah, tragedi phallus yang rontok
Tergerus secawan anggur

Medan, 1005019



UJUNG MUSIM
(Edisi menunggu waktu BERBUKA)
Oleh Ayu Ashari

Sungai mengalir ke laut,
cahaya dan awan turun ke lembah
tapi di dalam dirinya,
sungai itu entah mengalir kemana
bahkan bungapun tidak mengetahuinya.

wahai engkau yang disembunyikan
dari ke dalaman sungai,
berhentilah sejenak,
berhentlah dari perburuan
untuk menyisihkan cinta
yang hilang sementara,
karena kepergian sang surya
telah meninggalkan negeri
lantas mengobrak-abrik denyut kota.

membongkar ladang buah
serta daun-daun gugur
di dekat mata air,
akhirnya cinta bagimu
adalah sebuah bejana dupa
di ujung musim ini.

Medan,1005019



SUARAKU DALAM PUISI
Oleh Ayu Ashari


Parau tenggelam dalam kabut,
bermil-mil di tengah ladang ilalang
bahasa hilang makna
sajak berdiam syair menangis
karena untaian takbir
menyingkir dari jendela.

Apa yang terjadi nanti?
benar-benar rencana Tuhan
rindu hilang di rengkuh badai
mata mengembara dalam terik terakhir

Ku tegur wajahku
bersama percikan air
dalam kitab suci
ku coba menebus kelalaian diri
Sebelum semua lekuk kemolekan rebah di dalam bungkusan lima lapis mori

Oh, bisakah kuselamatkan kini
suaraku parau dalam puisi,
di bawah langit lazuardi
Sementara senja di langitku semakin mengujung

Maka kelam malam ku sambut
dikesunyian aku bersujud
Mengeja elegi pada titi kayu rapuh
berkalang debu yang telah terlewati

Ah, masih banyakkah waktu
Menghapus debu satu demi satu..?
Hingga jika waktu ku tiba untuk berpulang tak ada lagi debu yang berkalang.
Dan
Bibirku tersenyum dalan tidur panjang.

Medan, 2905019



RISALAH CINTA

(For my lover)
Oleh AYU ASHARI

Aku mengenalnya sebagai seekor singa yang lembut
Yang tergesa gesa mengaum tat kala aku di selimuti kabut
Ketika malam tiba ku temui dia sedang membaca syair syair
Di matanya terlihat seberkas cahaya
menembus hatinya
"Apakah itu ruh suci telah masuk ke dalam jiwanya?"
Atau dia sedang menafsir
Sebuah syair yang tengah di tulisnya

Pikirannya seperti ladang yang
Belum di tumbuhi ilalang
Tanahnya kerontang tak tersentuh hujan
Dua kabisat di lalui pada pergulatan meredam amarah akan sebuah pengkhianatan
Kespian dilarungnya dalam tangis yang acap kali tak terkendali
Ah
Aku melihat lukanya sama persis dengan luka ku

Aku ingin menghabiskan titimangsa meniti asa bersamanya
Sebab dialah seorang sejati yang telah memeluk ku
mengukuhkan cintanya padaku

Ya, sebuah keagungan cinta yang menjadi altar suci
telah dia kirim pada ku
Lewat gerbang gunung kasih
Gerbang, di mana akan aku jalani

Dan kerap menjelang senja dia datang kerumah
Menebar seribu wangi bunga ke seluruh ruang di jiwa yang ia eja lewat syair syair indah
Untuk meniti cakra malam bersama hembusan angin yang meminang embun
Lalu menghangat kan tubuh dengan sepercik api unggun

Dialah kekasih yang kini bertahta di hati ku,
Pun aku siap menjadi ratu
di cinta nya kutemui ketulusan tanpa syarat
Maka ku munajat kan cinta yang telah ia risalahkan
Hari ini, esok dan nanti

Medan, 2605019



MENUNGGU LAILATUL QODAR
Oleh Ayu Ashari


Aku datang pada-Mu malam ini memenuhi panggilan-Mu ya Allah dari segala kekeruhan jiwa
dari seberang benua
yang mengantarku menuju rumah-Mu.

Dalam tangisan doa haruku
menetes air mata penyesalan
ingin lebih lama bersimpuh
karena kurasa aku kain rapuh di depan-Mu.

Kupanjat harapan taubat pada-Mu
hingga mengekal istigfar di jantungku berzikir,
bertasbih dan bertalbiyah

sungguh tenang sepenuh hati.
Ya Allah, perkenankanlah hambamu
tinggal sejenak di rumah-mu
sambil ku tunggu Lailatul Qodar malam ini.

Medan, 2305019



KETIKA CINTA TELAH BERLABUH
Oleh Ayu Ashari


matamu,
samudra luas tak terkira
memukul-mukul jantungku
bawa aku segera mengembara ke kebun anggurmu,
biar kurasakan, alangkah
manisnya bulan madu
tanpa lebih dulu untuk berlayar
ke negeri yang jauh

Telah ku pilih kebaya putih bertabur untaian manikam untuk ku kenakan di perhelatan nanti,
Agar cahayanya berpendaran di wajah ku yang memerah jambu
Ronceh melati akan meninggalkan harum tat kala rambutku kau gerai di bidang dadamu

Ketika malam kau persembahkan puisi pada pelayaran menembus kabut menuju pantai
" dan dari dulu pun kau tahu"
jika gumam ombak selalu datang
ketika ikan-ikan menari
di sekitar rerempahan batu karang.

Lalu
ku biarkan kau cari
ku biarkan kau curi
sekuntum mawar
dari halaman
bola mataku
Sebab cintaku telah berlabuh di dermagamu
Dan
jikapun musim berganti ku pastikan cinta kita akan tetap bersatu.

Medan, 2205019



SELEMBAR DAUN SIRIH DI ATAS MEJA
Oleh Ayu Ashari


Selembar daun sirih
tergeletak di meja makan
menyapa usia renta
yang selalu memandang jauh keluar jendela
pagi itu memang masih muda
namun tangan yang berpeta itu
telah sujud lebih dulu
bersama kokok ayam
dan kicau burung yang hinggap
di dahan jambu

selembar daun sirih
tergeletak di meja makan
memandangi jamuan pagi
seonggok jagung dan kopi hangat
datang dari sijantung hati.

selembar daun sirih
tergeletak di meja makan
" tunggulah,
aku akan melahapmu
walau mulutku telah lelah kubuka
namun doamu,
yang selalu menjagaku sepanjang hari
akan kusimpan dalam hati
sebab,
engkaulah yang selalu ada
ketika aku rindu ibu
dan meneteskan air mata.

Selbar daun sirih di meja makan mengingatkan ku pada kelopak mata sayu yang selalu mengawasi ku
Dengan pandangan sendu mengarahkan ku

Selembar daun sirih di meja makan
Adalah warisan kasih sayang dari ibu yang kini telah berpulang
Diatas makam ku tabur kembang
Beriring doa yang kerap kupanjatkan

Medan, 2105019



BAYANG SEMU DI SHAF BELAKANG
Oleh Ayu Ashari


Sekeranjang jeruk berlompatan
mengejar angan - angan
di balik perasaan cinta tanpa rasa
Memamah wanita senja pelepas dahaga kesepian, berbanjir peluh berbalas angka.

Sementara rama rama remaja
gentayangan ke kotak parfum dan berburu etalase branded
merogoh kocek untuk melihat dirinya
di kaca spion mobil.

Saat matahari senja
turun dari tangga gedung dewan
mereka bergumul bersama sama remaja yang lupa kaidah.

Dan
ketika azan dari jendela masjid
memerciki wajah dengan air mawar,
yang sholat hanya bayang-bayang semu
diantara shaf paling belakang.

Sedang mereka sibuk bergelut melepas Ikhwal entah apa
Berawal tanpa berujung
Hanya demi kertas merah bergambar pahlawan yang berharga atau konak sesaat permainan dunia

Aku sedih melihat kenyataan tapi juga tak bisa apa apa
Lalu seperti apa aku sebagai seorang hamba, yang hanya mampu mengelus dada?

Medan, 2005019



I LOVE YOU
Oleh Ayu Ashari


"engkau duduk di bangku
di samping jendela
sunyi ikut menebarkan
angin ke wajahmu,
walau sesekali seruan jantung
ikut melantunkan isakan
untuk sebiji cinta
yang memenuhi rongga dada.

sedang di sekelingmu
terpesona oleh kecantikan wajahmu
yang dilurupi merah jambu
dan kicau burung di taman bunga
malam yang memabukkan,
telah menggugurkan musim semi.

sedang tujuh air sungai
enggan memercikan airnya
pada wajah yang penuh ragu. mari kita kubur malammu,
walau seribu mata selalu saja merayu
untuk melucuti puisimu"

Kau syairkan rasamu untuk ku
Bersama denyut cinta kita yang telah menyatu.
Kan ku buang jauh ragu ku
Menapaki bara asmaramu yang berbinar menerangi gelap nya jalanku
Kau api yang menggelora di setiap hentakan nafas ku
Melesaplah ke dalam ruh ku.

"Aku cinta kamu"

Medan,1905019



SAJAK PERAHU
(Menemui subuh)
Oleh Ayu Ashari

Tuhan, Aku mohon
jangan Kau gugur kan
selembar daun pun
di halaman,
karena musim kering
belum tiba.
dan kelak daun-daun itu,
akan aku anyam
jadi sebuah perahu
untuk berlayar
menuju pulau
yang kurasa lebih baik
dari sejarah, namun
begitu dekat dengan sejuk
dari hujan sunyi
yang turun semalaman.

Mrdan, 1905019



MANUSIA BODOH
Oleh Ayu Ashari


Ku lihat nabastala muram meski tak bermega
Tiada rembulan pun bintang yang berpenderan
Sepi menghiasi sisi rumah ku, halaman yang luas terasa sempit menghimpit

Sejuta onak yang bersarang di dada kian mengguncang di persada jiwa
Hendak kemana ku bawa semua resah, ketika yang ku nanti tak jua datang menghampiri
Gigil kian mencumbu seluruh sendi.

Ah, ku senyap kan teriakan di bising nya suara hati,
Di bawah geraian hujan di tengah selangkang malam.
Kau adalah rinduku kesumat, mencabik luka di atas derita
Lalu tak bergeming bagai angin lalu.

Ingin rasanya ku robek bayang wajahmu
Agar tak lagi mengganggu sendiri ku
Pergilah jika kau ingin pergi tinggalkan saja seribu janji tentang sebuah rumah mungil yang kan kita huni di sudut negri.

Seperti yang pernah kau ucapkam
"Maka aku tak bisa menjanjikan apapun, hanya bisa bilang *Aku akan ukir senyum indah di wajahmu setiap hari, Sayangku*"
"Aku akan sanggup meninggalkan semuanya jika kau benar benar mencintai ku"
Hemh, begitu naifnya aku mempercai semua ucapan mu, padahal aku sudah berjanji untuk tidak jatuh cinta lagi, sebab luka satu darsawarsa yang telah berlalu belum juga mengering.

Tapi kau begitu bertubi merayu ku,
Dan ketika kau puisikan
" IZINKAN AKU MENCINTAI MU"
Aku benar benar luluh dan pasrah dalam alunan tembang indah pelukmu.

Ingin ku hapus, ku dekap erat tubuhmu yang pada saat itu, tengah gelisah dan terluka dalam biduk mu,
Saat harga dirimu di hempas dan dicampakkan oleh wanita yang telah sekian lama bernaung bersama mu.

Kini ketika bidukmu kembali tenang, kau lupakan aku,
Kau tinggalkan aku
Kau anggap janjimu hanya sebuah permainan.
Meski bagi ku itu adalah kesungguhan yang sakral.

Aku memang manusia bodoh
Yang terpedaya pada lelaki pengembara sepertimu
Baiklah akan ku kubur semua kisah antara aku dan kamu
Dalam kekosongan hati yang membeku.

Medan, 1905019



FALL BACK IN LOVE
Oleh Ayu Ashari


Ditikungan senja,
gelombang merangkai kekaguman, pada
selembar selendang yang jatuh di pesisir pantai.
sedang aroma malam yang sesaat lagi akan datang
selalu memberi salam bersama kicau burung yang hendak pulang kesarang

Pantai selalu tersenyum,
Ketika bayu mengejar mozaik asmara lewat pertigaan kaki langit yang begitu hening.
sedang dirimu selalu mengeja-eja
kata harum tubuhku dalam temperatur yang sempit
Dan kerinduan itu selalu menyulam, tatkala berteman dengan kerinduan.

"Ah, engkau yang berhijab penuh rindu, mengapa pergi meninggalkan pantai begitu saja?" bisik mu sendiri
Padahal sisa gelombang yang ada pada kelopak mata
tercatat dalam debaran cuaca
di sepanjang bibir pantaiku yang ranum.

Sesungguhnyalah aku betah mendengar degup jantung pantai, tanpa rasa takut dikaramkan gelombang
tapi ada rasa malu pada senja yang kian menepi
Meski ku akui aku telah jatuh cinta kembali

Medan, 1805019



BERDARAH
Oleh Ayu Ashari


kisah malam selalu saja masuk
ke dalam pecahan hujan
sedang cahaya yang bertaburan
mengulurkan salam kesepian
untuk merambahi daun-daun
yang merunduk karena peristiwa
air mataku.

memang,!
malam yang ku tunggu
takkan pernah selesai untuk ku catat
karena laut yang mengeram
telah merapatkan mimpi
untuk membawa luka
dalam dagingku.

Entah di mana kan ku sembunyikan darah dari luka ku,
ketika angin merayu bianglala untuk di tanggai,
Sementara matahari begitu setia mengeringkan setiap goresan goresan luka yang mencabik ulu hati

Atau biarkan saja ku pertontonkan darah menetes,
hingga angin mengerti betapa perih yang ia wariskan padaku.
Entah lah..!

Medan, 1705019



MATI SEBELUM MATI
Oleh Ayu Ashari


Betapa dalam lautan tidurku
dan jangan kau genangi dengan banyu asih semu,
biarlah bilapun daun - daun di taman menguning,
juga burung-burung terbang di angkasa,
membawa Khabar tentang sebuah legenda,
Jangan bangunkan aku

Sebab telah ku palang pintu serta jendela rumahku
agar cuaca yang akan tiba di wajahku hilang dalam derak rindu

Izinkan aku terus mendaki mimpi sampai puncak bukit itu,
dan tak melihat hamparan hijau daun-daunnya tumbuh
Pada sebuah kelahiran di waktu subuh.

Adalah mati sebelum mati,
Tat kala hidup berkubang dalam mimpi
Sedang harapan tertimbun rerutuhan sekeping cermin buram dan tak ingin bangun lagi.
begitulah, di mataku api selalu bergelora tersembunyi
Seperti hasrat yang tenggelam dalam samudra yang tak bertepi.

Medan, 1605019



GERBANG
Oleh Ayu Ashari


Wahai kekasih
cepatlah kau sirami kembali darahku yang telah begitu lama membeku di rahim dengan darahmu,
agar ia kembali menghangat dan menyala,
seperti seonggok jantung berdegup.

Begitupun dengan air mata yang jatuh,
Menggenangi jiwa yang kering ini,
segeralah buatkan sebuah perahu
agar dapat berlayar menyusuri sungai
lantas kabarkan pada semua,
bahwa masih ada yang setia untuk menjaga ku

walau selaksa Ikhwal ngelayut di gerbang senja.
Dan esok buka jendela yang masih terkunci
kemudian memberi salam kepada alam
dengan seribu puisi atau sebait prosa

Kekasih
Kau tau bagaimana caraku menembus kelamnya gerbang masa silam,
Membangun sendi sendi ke takutan menjadi pilar pilar keberanian tuk menatap masa depan.

Sayang
Jangan biarkan rahim dan jiwa ku kembali mengering karena sebuah kepastian yang tek berujung.

Medan, 1505019



CINTA KASIH
Oleh Ayu Ashari


Malam ini aku bersama Kekasih yang kucintai.
Dan aku menyatu dalam obor- Nya yang telah di ciptakan sebelum dunia ada
Tak ada satu kekuasaan di alam ini yang mampu merampas kebahagiaan ku
Karena kebahagiaan ini memancar dari rengkuhan satu jiwa yang berpadu dan di payungi dengan cinta kasih syair syair samawi.

Medan, 1405019

AYU ASHARI


Tidak ada komentar:

Posting Komentar