Selasa, 11 Oktober 2022
Kumpulan Puisi Akhmad Husaini - PANORAMA SEMBILU TUMPUKAN NALAR INTONASI
GELISAH DIRI TERURAI SUDUT KEMBARA
Karya : Akhmad Husaini
Simbol arus tiada tergoda rayuan
tak perlu curiga dengan semua tentu
janji hilang tenggelam pergi entah ke mana
berkah ingatan situasi wajah bahana
cerah ceria pelanjut jejak ritmis menebar
desah keraguan angan terkini kentara
Gelisah diri terurai sudut kembara
hinggap pesona silam tampil rayuan nista
istilah nyata mengurai lagu sahaja
jangkauan jauh alpa menumpu sangka
kelindan hilang keangkuhan janji pergi
langgam karisma diri himpitan sadar
mencoba untuk melupakan semua
Pandangan tak tentu arah menimpa
retas diri seketika hindari tebaran hati
situasi berbeda manis teruji senja
tetap pada koridor menyeluruh sungguh
watak asli pertautan sanggup melerai
yakin tumpah ruang terhalang bimbang
Saling ada perbedaan tentu merasa
bangkit perasaan sadar kekurang melanda
cari suasana beda senang tentu bahagia
sudut perisai lamunan teman mementas
gesit tangkas mementas langkah batas
jangkau cukup tepat selalu ditunggu
Angkinang Selatan, 6 Oktober 2022
PANORAMA SEMBILU TUMPUKAN NALAR INTONASI
Karya : Akhmad Husaini
Ciut nyali hadir nyata pikatan dunia
datang melangkah terpuji cinta kasih
gelimang aura silih berganti sangka konotasi
hidup berpantang angan lurus meredup
imajinasi petuah tingkah akrab menanti
janji pasti terurai kehendak lirih hati
Panorama sembilu tumpukan nalar intonasi
karena semua akan dilewati begitu nyata
lakukan harapan jengah petuah segala
mesti bersama pergi gembira saat ini
resmi berjuang panjang gelimang rentang
sistematis riuh sangka ranum asmara
tipikal asmara dari airmata jelita
Butakan hati terus tambat aroma hakikat
tangguh menancap hiburan sesaat
bincang akal denyut kehidupan pantau
celah kosong ironi tuntas kemelut
dinamika rasa baru agresif menolak
gelisah kesempurnaan pusaka bahana merajut
Himbau kecipak diri penanda aroma batas
intim merasuk kata temaram syahdu merasa
jangkau ingatan emosi penjuru penasti
kenangan silam memagut bias kekasih
lelap kelembutan diri tafakur kerinduan
eksotis membawa dramatis kelana meritmis
Angkinang Selatan, 6 Oktober 2022
KELINDAN ARUS SETIA PENAWAR JOMPAK
Karya : Akhmad Husaini
Renjana senarai ilusi petuah bimbang
siasat penuh janji narasi senang
tekad baja senyum belenggu rasa
ufuk kenangan risau penuh sentosa
wasiat sinis gelombang peraduan jingga
amsal pesona belenggu nafiri
Bahagia deru dera janji sederhana
canda nalar intim gelora syahdu
dendang irama keraguan penuh tenteram
gelegar bimbang anulir syahdu meramu
hijau kenangan terkira arus ilusi
ikatan penuh jompak serius mendera
jarak jauh tak jadi penghalang
Kelindan arus setia penawar jompak
langgam pesona sapa akrab merestu
momen indah lelap waktu penjuru
poranda malam ambisi riuh sembilu
rencana jangkaaun ragam petuah pilu
selalu hadir segenap rasa mendera
Tahta semburat pesona sistematis
anulir diri pandangan jejak pandang
belenggu kerinduan terjal sengketa
celoteh musim ritus ambisi gejolak
dampak selera ketentuan ihwal sentosa
hampa terasa sembilu dinamika
Angkinang Selatan, 20 Oktober 2022
MUTU SEMBURAT IRONI KELINDAN SERTA
Karya : Akhmad Husaini
Melayang jauh harapan tumpuan restu
opsi teramat tindakan mengejar sembilu
perisai irama kehendak berpatri
ranjau asmara kendali terngiang ritus
bisikan angin penebar kabar kultus
mantan kekasih dulu pernah dicinta
Mutu semburat ironi kelindan serta
wajah nalar silsilah tertanam mesti
tak perlu kecewa mesti beranjak lelakon
belenggu remang ilusi penuh tentu
cumbu pandangan hasrat pikiran pilu
desau ambisi latah membawa kendali
geliat ironi hadir kemestian bijak
Hadapi ragam taktik saling menggugah
intim nurani ironi strategis menangkis
jalan kenangan tiada sangka mendera
laksana bidadari turun ke bumi
kekuasaan pergi kemana kau bisa
menggapai canda arus opini terbias
Peraman dedikasi cumbu imajinasi
ritus canda lerai impian runtuh
sesalan makna merona kemudian
target segenap penuh lampau menuju
tuntutan nyata langgam pesaing diri
manis perasaan indah pandangan
Angkinang Selatan, 28 Oktober 2022
Rabu, 05 Oktober 2022
Kumpulan Puisi Sri - PERASAAN
PERASAAN
Heningnya malam ini
Kurasakan sangat menyakitkan
Karena dirimu tak pernah lagi
Hadir disini
Andai kau tau apa yang aku rasakan
Mungkin kau tak akan mampu menjalani
Hidup dalam kesunyian
Yang penuh dengan penantian
Kucoba bertahan menantimu
Walau hati ini sangat kecewa
Aku terus berjuang
Demi cinta kita berdua
Karya : Sri
Bandung
MATAHARI
Ketika matahari mulai bersinar
Rasakan begitu hangat
Saat pertamakali menyinari
Matahari tak pernah berhenti
Untuk terus memberikan
Rasa hangat kepada dunia
Kusadari bahwa kita tak pernah lepas
Dari kehangatan sinarnya
Sinar yg setiap hari
Di rindukan oleh semua orang
Dan di harapkan oleh dunia
Untuk tetap bersinar sesuai waktunya
Karya : Sri
Bandung
KEKASIHKU
Kekasihku..
Engkaulah yang pertama kali
Mengajariku tentang cinta
Hingga aku bisa bahagia
Kekasihku..
Tidak ada yang lain di hatiku
Hanya engkau yang tertulis
Indah di dalam lubuk hatiku
Kekasihku..
Bahagianya aku saat kau berkata
Aku sayang kamu dan
Aku cinta kamu
Kekasihku..
Kuharap engkau tetap ada di sisiku
Menemani kemanapun aku pergi
Dalam menjalani hari-hariku
Karya : Sri
Bandung
CINTA YANG HILANG
Aku berjalan menyusuri malam
malam yang sunyi dan sepi
Semilir angin malampun
Menerpa tubuhku
Dan menusuk kedalam tulangku
Ku kuatkan langkahku
Ku bulatkan tekadku
Demi cinta yg kucari
Cinta yang dulu mekar
Kini hilang entah kemana
Cintaku pergi cintaku hilang
Kini hanya tinggal kenangan
Karya : Sri
Bandung
DALAM CINTA
Dalam cintamu
Kutemukan satu isyarat
Bahwa kau mencintaiku
Dan sangat menyayangiku
Bertahun tahun lamanya
Kita jalani dan rasa itu tetap ada
Tetap tumbuh dn bersemi
Dalam hati dan cinta kita
Sayangku..
Jangan pernah pergi dari hidupku
Kau harus tetap ada selamanya
Sampai akhir menutup mata
Karya Sri
Bandung. 67y
Heningnya malam ini
Kurasakan sangat menyakitkan
Karena dirimu tak pernah lagi
Hadir disini
Andai kau tau apa yang aku rasakan
Mungkin kau tak akan mampu menjalani
Hidup dalam kesunyian
Yang penuh dengan penantian
Kucoba bertahan menantimu
Walau hati ini sangat kecewa
Aku terus berjuang
Demi cinta kita berdua
Karya : Sri
Bandung
MATAHARI
Ketika matahari mulai bersinar
Rasakan begitu hangat
Saat pertamakali menyinari
Matahari tak pernah berhenti
Untuk terus memberikan
Rasa hangat kepada dunia
Kusadari bahwa kita tak pernah lepas
Dari kehangatan sinarnya
Sinar yg setiap hari
Di rindukan oleh semua orang
Dan di harapkan oleh dunia
Untuk tetap bersinar sesuai waktunya
Karya : Sri
Bandung
KEKASIHKU
Kekasihku..
Engkaulah yang pertama kali
Mengajariku tentang cinta
Hingga aku bisa bahagia
Kekasihku..
Tidak ada yang lain di hatiku
Hanya engkau yang tertulis
Indah di dalam lubuk hatiku
Kekasihku..
Bahagianya aku saat kau berkata
Aku sayang kamu dan
Aku cinta kamu
Kekasihku..
Kuharap engkau tetap ada di sisiku
Menemani kemanapun aku pergi
Dalam menjalani hari-hariku
Karya : Sri
Bandung
CINTA YANG HILANG
Aku berjalan menyusuri malam
malam yang sunyi dan sepi
Semilir angin malampun
Menerpa tubuhku
Dan menusuk kedalam tulangku
Ku kuatkan langkahku
Ku bulatkan tekadku
Demi cinta yg kucari
Cinta yang dulu mekar
Kini hilang entah kemana
Cintaku pergi cintaku hilang
Kini hanya tinggal kenangan
Karya : Sri
Bandung
DALAM CINTA
Dalam cintamu
Kutemukan satu isyarat
Bahwa kau mencintaiku
Dan sangat menyayangiku
Bertahun tahun lamanya
Kita jalani dan rasa itu tetap ada
Tetap tumbuh dn bersemi
Dalam hati dan cinta kita
Sayangku..
Jangan pernah pergi dari hidupku
Kau harus tetap ada selamanya
Sampai akhir menutup mata
Karya Sri
Bandung. 67y
DZIKIR BERCUMBU SYUKUR
Terdengar dendang gemercik burung berlantunkan Dzikir pada sang Tuhan.
Berkompaskan mata yg membawanya kemanapun ia suka.
Begitu kecilnya kita ummat manusia di pandang nya, sedang para pedagang mempertontonkan mereka di balik sangkar besi bernamakan nasib malang,
Dan Kita,!
melihat teramat kecil pula tubuhnya di dekapan mata.
Ia dapat pergi kemana pun yang disuka,
Sedangkan kita, teramat berpikir kemana perginya arah tujuan.
Terlena akan hembus angin dipenghujung malam, yang terlihat indah namun hanya kekosongan dipelupuk raga.
tak kunjung murka baginya,
Bukan ia tak sanggup, hanya saja menyadari
Pemberian Tuhan terlalu ia nikmati sebagaimana atas pinta nya , hingga sebangsanya akan mati dikala semesta menutup mata.
Wahai umat manusia...!
Sudahkah terbang mu bebas persis manakala yg ia rasakan?!
Sudahkah dzikir mu terlantunkan sebagaimana yang ia gemercikkan?,
Sudah kah syukurmu terucapkan manakala syukur yang sudah ia contohkan?,
Jika sudah?,
Mampukah terbang yang tak lupa arah,serta dzikir dan syukur bertahan sampai tahta ke anak cucumu nantinya diakhir jaman, kelak?.
( Dzikir mu adakah Syukurku )
Karya : Zoel Bucos Siregar
Kota Kerang,
Tanpasuara
Kumpulan Puisi S Pandi Wijaya - BELUM SELESAI
BELUM SELESAI
Aku membaca episode
Mengeja frame demi frame
Koma, spasi
Jeda di satu sisi
Aku coba tersenyum
The Journey
Not My Destiny
Aku ingin tetap dan selalu tersenyum
Karya : S Pandi Wijaya
SPW,
Pandeglang, 02092022
( Catatan Kelana Bodo )
GALAU
Apa kabar hari ini
Puisiku terseok di gurun pasir yang padang
Induk kalimat berselisih dengan anaknya
Berbisik Jalalludin Rumi
Tenanglah jiwa
Dan Syeik Nejami membiarkan Madjnun bersyair di pusara Laila
Apa kabar hari ini
Aku di labirin tanya tentang aku
Siapa, mencari apa dalam tarian Sufi
Apa kabar induk kalimatku
Anak-anak kalimat mencari shap-shapnya
SPW,
Pandeglang, 27092022
( Catatan Kelana Bodo )
PADA AIR MATAMU
Sapu tanganku tak lagi di saku
Angin menerbangkan membawanya pergi
Menunggu pelangi
Bahkan bintang jatuh
Aku termangu
Pada induk kalimat bermakna rindu
Dik, bukan tak ingin membelai pipimu
Bukan aku tak ingin menghapus air matamu
Atau membujuk merayumu
Anak kalimatku rancu
Tereja masa lalu
Kenangan sembilu
Dik ...
Maafkan aku
SPW,
Pandeglang, 0610 2022
( Catatan Kelana Bodo )
PADA AKHIRNYA
Pada akhirnya kita akan menuju senja
Dan aku di kaki pelangi menatap arah pulang
Mimpi-mimpi telah jadi palung
Kian dalam bersama kisah lama
Juga kenangan
Biar bebas dari angan sebagai awan
Pada akhirnya kita harus kembali terjaga
Perjalanan masih panjang
Yang kadang berliku, bahkan terjal
Puisi-puisi lama lemarikan saja
Biar lepas dari pandang
Kisah lama di pikiran tak terus liar dan binal
Pada akhir kata kita bukan lagi satu kata
Pada mimpi-mimpi yang tak lagi sama
Meski kata Selamat Tinggal
Masih jadi kalimat yang janggal
SPW,
Pandeglang, 25102022
( Catatan Kelana Bodo )
Kumpulan Puisi Ifadli Marid - SURAT DARI TUHAN
SURAT DARI TUHAN
Ya..Robb..maafkan aku!
Tak mengetahui jika aku berjalan disetiap lorong-lorong kesunyian dari peristiwa duka nestapa yang kerap menandai luka, adalah cara Mu memberi jalan agar aku tafakur memaknai kesendirian itu milik Mu, luruh dalam pelukan Mu membasuh semua perih
Ya Robb..Ampunkanlah aku!
Sering tak menyadari bila Kau acapkali memanggil ku di ruang dan waktu yang paling piatu
Bercinta dengan asa beserta do'a-do'a bermuatan asih yang paling hakiki
Dipertiga malam merakit purna kisah mahabbah
Jalan rapuh meniti penderitaan bukan lagi pilihan
Ya Robb..,maafkan aku !
Sering berlari dari Mu seraya memarahi kehidupan ditengah Kau menunggu aku untuk menganugerahkan cintakasihMu
Ya Robb..jangan berhenti mencintai aku!
Setelah aku tau jalan yang kupilih rapuh dan selalu menipu
Ya Robb..
Cinta itu terkadang perlu ujian agar difahami makna sejatinya
Seperti Kau membiarkan aku kalang kabut kehilangan jalan menuju Mu
Aku tak ingin lagi kehilangan sujud yang paling kenang kepada Mu
Peluk aku lagi Tuhanku!
Karya : Ifadli Marid
Curup. 9 September 2022
Edisi jumat mubaroq
KU INGIN
Aku tidak akan takut kehilangan, karena aku faham dengan cinta sebesar ini aku tidak punya alasan untuk pergi
Aku ingin mencintaimu selama mungkin selagi cinta itu mempunyai energi dilahirkan sebagai kisah dan akan menjadi rutinitas membaca sanjak harian perihal hati disetiap pagi ketika kopi tersaji bersama senyummu
Aku ingin perasaan dan sekumpulan rasa rinduku tetap bermukim di matamu.
Bisa jadi akulah orang yang paling bertanggungjawab menahan airmata kesedihan akan tumpah menerobos kelopak matamu, tidak peduli berapa banyak beban luka yang harus kubawa.
Berapa banyak harus ku bayar perih sebagai upeti agar senyummu kembali
Aku ingin mencintaimu sampai akhir waktu, karena Tuhan begitu sempurna menitip kebaikan lewat indah yang tersaji disetiap warna dalam hidupmu.
÷÷* Ifadli Marid *÷÷
Curup awal oktober 2024
Kumpulan Puisi Isyak Ranga - HANYA ALIBI SEMU
HANYA ALIBI SEMU
Maaf,
Bila ku tak mampu
meletakan surgamu
di bejana yang telah retak
Mengertilah,
pun didasarnya tiada akan kau dapati
jejak embun ikhlas mencurah sejuknya
celikan matamu puan dan lihatlah
sahara senyap itu merajuk manja dalam dekapan mentari yang berkeringat
Percumalah,
taburan pesona kau titipkan dialur senyap, karena tilam berduri yang kau cipta dari remahan dusta tak akan mampu menjaring lelap
Sudahi sajalah dusta perih
bersampul senyum itu puan
karna tapak akhir jejakmu itu ada ditepi jurang dan hayalmu dipenghujung waktu yang curam
Percayalah saat kau petik sadarmu
sesal itu adalah anugrah terindahmu
di separuh semu waktu
yang terbuang
Mengertilah puan,
bila di semenanjung anganmu yang biru
biduk semu merindu itu
hanyakan jadi serpihan kenang terjalang
yang enggan menjamah dermaga doa
malam terlarang
Karya : Isyak Ranga
Jkt.22*IsRa*
HANYA BAYANGAN
aku mencintaimu
sebatas malam merangkul rembulan
sebatas matahari memeluk siang
dan sebatas nafasku merangkul badan
selebihnya hanya kenangan
sebatas kau menyempurnakan
dengan sumringahnya senyuman akhir
saat waktumu pun terhilang
dan rotasi kebingungan kembali
menjadi puncak salju tertinggi
yang tak terpecahkan
jkt.22*IsRa*
Kumpulan Puisi Endang Astuti - DIAM
DIAM
Aku memilih diam memikul keadaan mengusung sunyi yang disepakati sebagai bahasa hati paling puisi, ada rindu di antara riuhnya perdebatan ketika halaman kenang membuka kembali ingatan.
Pada bismilah aku menguatkan beribu keyakinan meski tak semudah membalikkan telapak tangan namun tekad serta doa kepada-Nya mampu menuntun arah ke mana alhamdulilah.
Tiada sanksi jika yakin dalam diri menjadi satu harapan cemerlang suatu perjalanan dan biarkan waktu menemukan pertemuan sebuah ketulusan yang tak pernah menuntut balas.
By Endang Astuti
KoBer, 3 September 2022
SEPTEMBER MENYUGUHKAN TAWA
Ada bahagia kala bulan baru telah tiba, musim berganti membawa damai dalam diri setelah kerontangnya hari hujan pun membasahi bumi, harapan fasih dirapal melalui senandung doa dan ikhtiar melakoni cerita panjang kehidupan.
September ceria menyuguhkan tawa menghapus nelangsa, biarkan segala keresahan terkunci diam-diam sementara semangat bangkit perlahan agar kaki tetap layak berpijak dan bahu kuat menahan beban karena hidup terus berjalan.
Kelak waktu memberi restu seusai lika-liku jalan terkalahkan, ikhlaskan menerima keadaan tiada perlu ragu atas kuasa Tuhan Yang Maha Esa sebab di balik kesusahan pasti ada kemudahan.
By Endang Astuti
KoBer, 4 September 2022
Kumpulan Puisi Siamir Marulafau - HUTAN YANG BUNTU
LAYAR TERKEMBANG
Karya : Siamir Marulafau
Di layar itu ada ukiran
Yang merangkul tinta pena
Menyatukan ragam pikiran
Menyulam kecerdasan
Terbingkai syair
Merangkul hati yang bengkok
ke hati yang lurus
Lempang, lempang ...
Bila layar tergulung dan tak berkembang otak pun terhempas
Dunia gelap karena bintang tak berkedip lagi
Langkah pun terhenti, tersanjung di karang tak berpilar
Dan di sana tahu betapa tumpulnya pisau yang tak diasah
Keprik, 27.09.2022
HUTAN YANG BUNTU
Karya : Siamir Marulafau
Di hutan itu banyak pohon
Ada sungai
Ada tebing
Ada jurang
Ada tanda kehidupan
Ada tambang emas
Sungainya tak mengalir
Jurang dilalui terjal
Pendaki gunung pun bingung
Apa yang disulam bila masuk di hutan ini
Tak ada cahaya
Hanya nyamuk berkeliaran yang menggerogoti darah segarku
Minyak bensin pun tak tercium
Entah apa kenderaan yang dipakai menerobos hutan ini
Semua yang lalu lalang hampir bunuh diri
Karena raja hutan tak tahu jalan dilalui
Kepri,26.09.2022
BISIKAN ALAM
Karya : Siamir Marulafau
Alam itu berbisik
Di kala langit mendung
Aku hanya menatap dari jauh
Jembatan terbentang
Akan ke mana jalan dilalui
Seiring air tenang menghanyut dalam lara
Mengukir kesan dalam sejarah
Dituangkan dalam pikiran
Mengapa aku sampai di negeri orang
Esok lusa belum tergapai
Di pelataran senja menyulam bisikan yang tak dapat dielakkan
Walau aroma alamnya tak begitu bersahabat
Percikan airmu mendesir di sepanjang jalan ditempuh
Biar hujan emas di negeri berkunjung
Di negeriku, hujan batu dijunjung
Tapi setia selalu dalam negeri lahirku
Karena negeri itu pujaanku
Medan, 16.10.22
BERPALING
Karya : Siamir Marulafau
Seandainya aku bumi
akan kuperas jasadmu
Seiring kau tak berbisik padaku
Kau hanya menyulam rembulan tersenyum
Sepanjang kau duduk di atas kursi goyang
Mengapa kau tak melirik pada rumput kering
di bawah pohon rimbun
setetes air pun tak tersiram
Sampai tanah pun kering pecah berkeping- keping
Aku hanya menilik pada janji dan sumpah serapah
Dilontarkan di atas bumi Tuhan
Janji terhempas di atas karang tak berpilar
Membuat kehancuran dari masa ke masa
Medan, 16.10.2022
PERHITUNGAN
Karya : Siamir Marulafau
Aku berbincang dengan bilangan hari-hariku di dunia fana
Kadang bulu kudukku naik ke langit ke 7
Bila teringat dosa-dosa bergelimpahan
Apakah jasad ini teraniaya
Hanya Tuhan yang tahu
Dosa itu sungguh tersembunyi dan tak berbunyi seperti tong diketuk baru bunyi
Di akhirat terurai dan berkata:
Aku datang untuk berhitung
Hanya tetesan air mata mengalir
Minta ampun pada Tuhanku
Tapi tak ada jalan dilalui lagi
Pintu tobat hilang sudah ditelan zaman
Akan ke mana aku Tuhan
Kau di dunia bagaikan raja
Mengaku Tuhan
Tak salat, tak puasa tak zakat, tak sedekah, tak salat jumat
Sok kaya, sok berilmu, sok tahu, sok pintar, sok punya jabatan , sok segalanya
Kau harus menemui malaikat Malik penjaga neraka
Medan,17.10.2022
DI BALIK KACA
Karya : Siamir Marulafau
Aku berbincang pada kaca
Sepertinya tak ada yang tersembunyi
Jika fakta berbicara
Sebesar zarat pun akan tahu
Akan ke mana kau membelok
Semua gerak dan langkahmu terekam
Dari muka ke kiri, ke kanan apalagi ke belakang
Akan ditulis seutuhnya
Medan, 17.10. 2022
SEPENGGAL PUISI KETULARAN
Siamir Marulafau
Bukan kirina tapi Corona
Membias disetiap sudut kota
Virus mematikan jiwa
Mengapa kau datang ke sini?
Ulahmu buat manusia susah
Gelisah terus
Mencekam di udara Tuhan
Mencegah hasrat
Dunia panik
Entah mau ke mana?
Tanya pada rumput bergoyang
Itulah dunia mematikan
Corona, nama Virus menyebar
Manusia ketakutan
Baru satu wabah
Satu planet tak bersinar
Jika demikian, tanyalah pada gunung
laut, sungai
Dunia sepertinya tak berarti
Jika jasad digorogoti Corona
Apalah artinya hidup bermewahan
Pangkat setinggi langit
Rumah bagai istana Ismail
Istri bagai bidadari
Makan enak terasa pahit
Pendidikan tak menentu
Ditutup karena Corona
Daring google jadi sasaran
Moralitas kolaps
Ibadah ke mesjid ditiadakan
Jumat terancam
Tak terkendali
Membuat Tuhan bertambah marah
Jangan biarkan udara ini kotor bagai comberan parit
Tuhan akan berpaling
Harus membaca dalam diri
Siapa salah dan disalahkan?
Kota wuham tersenyum
Melambaikan tangan sambil bercakap :
Sama-sama kita rasai
Itulah rintihan pedih tersulam disetiap negeri
Tak ada hujan, tak ada angin
Petaka dunia meluncur tanpa basa basi
Jika tak tahan keluar di bumi ini
sm/18/03/2020, Medan
CORONA VIRUS
Siamir Marulafau
Virus korona tidak seperti kuman
Muncul seperti hembusan angin di udara Tuhan
Apa yang akan terjadi jika semua datang untuk mati?
Tidak ada vaksinasi dengan obat-obatan kematian
Biarkan hidup ditenangkan
Tanpa panik menyerang semua
bahwa dunia ini dipertanggungjawabkan untuk menjadi kejam
Yang perlu realisasi di antara
Virus korona tidak seperti kuman
Ini akan menyebar di udara Tuhan
yang membawa bencana bagi siapa yang disukainya
Tanpa memiliki belas kasihan
Untuk kutukan mengingat
Bagi mereka yang berada dalam dosa
Hidup akan kacau tanpa obat-obatan untuk disembuhkan
Seperti apa kehidupan yang akan terlihat?
Jika virus korona sengit seperti singa di hutan kehidupan
Di mana aku datang untuk tinggal?
Apakah dunia ini tepat untuk hidup?
planet yang diciptakan untuk makhluk yang disucikan
Tanpa kerusuhan, tanpa konflik
dengan makanan sehat untuk dikonsumsi
Siapa yang akan disalahkan?
Itu adalah fenomena faktual
Gejalanya diakses serius
Tidak ada suara yang diklaim benar
Apakah Anda atau saya, tetap menyadari di antara
Kesadaran untuk duduk di atas virus baru yang akan datang
Ini akan menjadi kemuliaan Tuhan
Jika semua ada di tangan Tuhan
Mahakuasa akan tersenyum di langit biru
Jika semua tidak sia-sia
tetapi beberapa benar-benar tidak berhubungan dengan dorongan Tuhan
mungkin membawa daya tarik fatal bagi sebagian orang
disebabkan oleh makhluk-makhluk yang paling hebat
Harus ditangani pada peristiwa dunia
Berbicara dan menjaga dunia ini sebagai pemiliknya
Terima kasih kepada YME atas ciptaanNya
Mungkin tidak membawa keinginan besar untuk mencicipi
Semua yang ada di bumi sebagai apa yang Anda sukai
Tapi tidak semua itu dapat digenggam
yang memiliki aturan tertentu untuk bertindak
tidak seperti aktor di panggung
Terlalu banyak berpikir apa yang dikatakannya dalam ayat-Nya
Yang membuat kehidupan terbaik hingga akhir
Ini benar-benar cinta yang dibangun
Padahal Tuhan tidak akan mengirim virus untuk membunuh
sm/03/03/2020
TAHUN BARU 2020
Siamir Marulafau
Biarkan Desember pergi
Untuk bertemu dengan yang baru segera hadir
Sejauh ini kehidupan menjadi seperti mutiara
Di bawah batu-batu di bawah laut
Jaga hidup tetap sehat
Yang membawa rezeki yang baik untuk semua
Hindari kekejaman untuk menormalkan
Kemanusiaan membutuhkan kedamaian
Biarkan Desember pergi
Selama dunia ini memberikan kebahagiaan
Untuk membuat semua berada di surga
Dari pada rusuh muncul damage
Itulah fakta dalam gambar kami
Untuk mengirimkan kebaikan di antara
Dengan tidak memiliki konflik dan pembunuhan
Dari setiap pria perlu meminta maaf
Tetap berteman untuk semua makhluk
Untuk kehidupan yang lebih baik di tahun baru
Bahwa langit biru akan tersenyum
Dan bumi tidak akan menangis
sm/31/12/2019
APA ITU KARYA SASTRA?
bersastra adalah homo fobulan
bersastra berkarya sampai akhir zaman
bersastra bergelimang dalam seni
melukiskan aspirasi ke sangkar langit
menuaikan hasil aspirasi tinggi
merendahkan rasa arogan dalam berseni
bersastra berjiwa besar terhadap kritik
emosi ditahan sampai ke langit tak bertepi
bersastra berwawasan luas tergapai sudah
dalam hati
bersastra bukan untuk diri pribadi seiring
umat dunia mengkopi dalam batin
menerapkan dalam diri sampai sinar
mentari menyinari bumi
bersastra mencuapkan ikrar pribadi
tersirat makna menguat dalam batin
seiring aksara bersatu dalam jiwa
bersastra berkarya sepanjang nafas
ditelan tidak bumi diam
aku berlindung demi nama Tuhan
sebagai pencipta bumi di saat puisiku
terhempas tidak dengan gelombang
tsunami berpasrah diri akan puitis
kuselami sampai lautan kering
Oleh :siamir marulafau
sm/24102013
SENJA YANG KABUR
meskipun senja kau curi
kau alihkan ke tangan lain
namun wajah senja
di taman firdaus kita semai
kan membahana dalam
relung sepanjang pikiranmu
hanyut tidak dalam lumpur
lalu sekarang aku terhempas
di celah batu karang terjal
seirng lautan tergapai tidak
menampung kerindanku karena
percikan ombah dengan derai
menghempaskan harapanku
lagi tidak menuaikan kebebasan
diriku bersemayam dalam
kalbumu,bukan berarti kau
kejan terhadap diriku taoi
kodrat alam pikirn mendobrak
rasa bahagiaku
meskipun kau masih tetap
merindukan senja-senja kau
emban dalam pilu namun kau
mengharap tidak akan kehadiran
jiwa ragaku karena kau
membayang tidak lagi dalam
dunia fana kujelajahi sampai
akhir hayatku
Jangan kau salahkan aku
tergapai tidak hasrat,cita-citaku
di taman firdaus kau tanamkan
dalam relung karena kau sembur
dengan angin spoi-spoi sampai
ke dasar laut tak dapat dikail
Oleh : siamir marulafau
sm/24102013
Kumpulan Puisi Lasman Simanjuntak - UNTUK KANDIDAT
Puisi
Pulo Lasman Simanjuntak
UNTUK KANDIDAT
batas akhir dari permainan primitif
merebut kursi
oi, kursi
keramat
berbatu terjal
kesempatan lowongan kerja
nilai-nilai permintaan penguasa
mendidik itu menyenangkan
bukan urusanmu lagi
tengoklah kawan,
puluhan ekor kuda
sudah terbang dari sangkar
mulutnya dirumbuhi kompor gas
tanam investasi dalam museum
megaproyek menerbangkan hotel-hotel berbintang
persis di jidat kepala
batas akhir dari permainan primitif
merebut kursi
oi, kursi
mengeras
retak
Jakarta, 30 September 2022
Poetry
Pulo lasman simanjuntak
TO THE CANDIDATE
the final frontier of primitive play
seizing the chair
oi, chair
sacred
steeply rocky
job opportunities
ruler's demand values
educating is fun
none of your business anymore
look man,
dozens of them
already flew out of the cage
his mouth was covered with gas stoves
invest in museums
a project flying starry hotels
right on the forehead
the final frontier of primitive play
seizing the chair
oi, chair
hardening
cracked
Jakarta, 30 September 2022
Puisi
Pulo Lasman Simanjuntak
DARI BENUA LAIN
dari benua lain
kucuri jejak-jejak membatu
kemarau pecah di tangan kiri
seperti suara-suara riuh
pesta rakyat yang semu
masihkah engkau bermukim di situ ?
matahari yang melepuh dalam sajakmu
tak mampu lagi meninju jasadku
"aku datang tanpa topeng, seperti dulu kita pernah memburu para pekerja malam di pinggir kotamu."
lama engkau sodorkan sumur-sumur subur
menggairahkan cuaca yang surut
dalam permainan kata
permainan makna
di depan pintu gerbang itu
sepiku terperosok ke dalam selokan
kurenangi tangis
sungai-sungai keruh
bulan menganga
bintang-bintang terjaga
di pintu halaman rumahmu
aku berlari kencang sekali
membawa salib jati diri
tak bertemu
jarak tegak
berkilometer suara sudah kusentuh
ratusan perjudian liar sudah kukunyah sampai kenyang
dari hotel berbintang tiga
turun lagi ke jagad yang sejati
sepucuk surat genap
melenyapkan angan debat yang purba
Jakarta , 097-022/ Selasa 27 September 2022
Puisi
Pulo Lasman Simanjuntak
HUJAN DERAS DALAM PERUT LAPAR
1//
pagihari ini aku berimajinasi bersama matahari
rajin mencari pengepul lapak sial bertangan kiri
sejenak telepon ke negeri kikir dan iri hati
bercerita mata uang dollar telah terkuras
sampai ke ujung-ujung bumi makin sepi
2//
lihatlah adikku yang selalu lumpuh malamhari
mengapa Tuhan tak mengalirkan susu dan madu ke dalam rumah doa ini ?
persembahan emas, mur, dan kemenyan
telah diserahkan sejak engkau lahir prematur
dari rahim perempuan samaria miskin
berwajah surgawi tak pernah mengunyah
tanah kering bertebaran ikan asin
3//
mari sayang kita pulang ke dalam kemah ini
hujan semakin deras sejak sianghari
suara petir makin membuat perutku lapar
pohon di taman depan seperti membawa kita
turun ke dalam dunia orang mati
4//
apalagi mau dijual di pinggir jalan
imanku atau imanmu makin kurus
baiklah kita menampung air hujan dalam tempayan liar
agar esok hari tak akan datang lagi
kesulitan mandi dinihari
bernyanyi melepas kepahitan hidup ini
Jakarta, Jumat 23 September 2022
GENOSIDA
Puisi : Pulo Lasman Simanjuntak
di sebuah gedung kesenian purba
terbelah empat penjuru kota
diprotes sejak pandemi mewabah
masih saja sejumlah berkas puisi terluka
disebar di meja pengadilan rakyat
entah sampai kapan dapat didendangkan
menjadi suatu kemenangan
penyair masih dikurung dalam sangkar
bangunan cagar budaya ikut dibakar
akankah menjadi taman impian lautan makar
semata-mata karya seni diciptakan hanya
untuk memperoleh keuntungan kaum kapital yang garang
kini mereka masih ketakutan
harus membayar tiket pertunjukan
digelar di halaman parkir buat
orang-orang yang lalu lalang tak karuan
bahkan bunyi petasan sampai juga
di atas pentas tarian tradisi berkepanjangan
ini rumah budaya milik siapa, tanya kawan pujangga pandai bersilat lidah
ia rajin tidur di tenda-tenda kematian
menatap bintang dan langit kehidupan dari layar kekeringan
nyaris angin puting beliung
membawanya terbang tinggi
ke negeri-negeri kepalsuan
aku hanya terdiam
membawa lari sejumlah pertanyaan keabadian
yang harus kuberitakan
di atas cawan lebur penderitaan
kelaparan akan firman serta
meniup harta terpendam
Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta, Kamis 30 September 2022
Puisi
Pulo Lasman Simanjuntak
RANJANG TUMBUH JAMUR LIAR
di hamparan ranjang memanjang
tumbuh jamur liar
ada pentas malam
sudah tiga bulan
disebar adegan
ribuan tulang belulang
kesakitan
menggelepar
seekor rusa jantan
masuk kamar diam-diam
ini persetubuhan kita yang terakhir, pintamu memohon belas kasihan pada rembulan
musim hujan pepohonan
justru makin kering
dalam tubuhmu yang makin mengecil
di taman eden engkau perempuan samaria
tanpa makan daging
tanpa makan ikan
kesedihan pun menjelma jadi kelaparan berkepanjangan
aku hanya hamba tuan
yang merayap-rayap
mencari kuburan
untuk tempat peristirahatan
sepanjang zaman
tak berkesudahan
Jakarta, Kamis 6 Oktober 2022
SENJA BERPUISI HATIKU SEPERTI JADI BESI
Karya : Pulo Lasman Simanjuntak
berabad-abab ribuan puisi sudah kukirim lewat berita pandemi
menebar tujuh antologi
ke dalam cawan sakit hati
usai basuh kaki
menelan roti tubuh perjamuan
mengunyah anggur kematian
dan membayangkan berulangkali para pensyair
bersiap terbang tinggi
mendaki bukit-bukit bakal mengalirkan mata air kehidupan
berbudaya kesakitan
jiwa keabadian
"sejenak aku harus jadi baal peor, menabrak matahari perhentian suci meskipun tak sempat baca puisi," kataku sambil merayap-rayap di gedung kesenian rakyat
inilah keterasingan diri
inilah cuaca lupa diri
lantaran ingin bertemu
bintang kartika dan bintang belantika
sementara di panggung pentas sederhana
ada kucatat ;
tarian meratap bersama lukisan-lukisan gelap
ditebar bau kemenyan dan asap pekat
pemusik punk rock ayunkan sabit memabukkan
penyair pun masih rajin
menabuh tembang-tembang senjahari
berbaris-baris menuju selasar kehangatan batin
Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta, 17 September 2022
LUMPUR DALAM SAJAK
Karya : Pulo Lasman Simanjuntak
perlahan sajakku turun
tanpa tali temali panjang
sampai menyentuh mata air
di dasar permukaan
dunia orang mati
bumi yang terus digenangi air hujan deras sorehari
nyaris hancurkan akar-akar
tanah beracun tumbuhan liar
kesialan pun kembali datang
dua sosok manusia akhir zaman
tak kenal pengampunan
mereka tetap menggali kuburan orang tuli
diantara lempengan ujung bumi
aku ikut menari kesedihan
mengapa cawan lebur ini
rajin datang saat buah roh mau matang di pematang khotbah minggu mendatang
melalui pipa-pipa paralon yang makin sunyi
sajakku terus tembus
ke bawah planet asing
orang-orang kelaparan
mengangkat kedua tangan
agar Tuhan mau turun tangan
Jakarta, 3 Oktober 2012
PERCAKAPAN TELEPON DUNGU
Karya : Pulo Lasman Simanjuntak
siang hari tadi aku terus mencari-
saudara kembarku bersolek
diantara timbunan beras
di hamparan areal perkebunan tebu
disebar juga bau tembakau
kemelaratan bertalu-talu
nyanyian dari rumah perzinahan
sekeras persaudaraan persungutan
saat ini sedang terjebak
dalam sekumpulan orang-orang yang terpuruk
dendam pada secarik kertas
tanpa warna biru, merah, dan pelangi
duh,
aku kembali tertipu
Jakarta, Oktober 2022
SEDEKAH LIAR
Karya : Pulo Lasman Simanjuntak
i//
berlari-lari mimpiku sejak subuhhari
mencari bayangan kelam
diri sendiri
sudah empat benda purbakala kesayangan ibunda
terjual dengan harga murah
menembus sampai ke mata air tanah lumpur
belakang rumah
seperti upacara perjamuan
pembasuhan air hujan
deras membeku
dingin menjadi luka
terus menerus menetes darah masa lalu
ii/
dalam imajinasi yang amat kuat
seorang perempuan gemuk berjalan pincang membawa seribu penyakit
tanpa tangisan
mau mencegah khotbah
teramat panjang
ia hanya butuh makan roti dan minum anggur
sambil kami berdoa di pinggir jalan
iii/
sehingga selesailah tugas pelayanan
berhari-hari mengejar mata uang
menggelar kesunyian memabukkan
Jakarta, Senin 26 September 2022
MUSIBAH PERSUNGUTAN PANJANG
Karya : Pulo Lasman Simanjuntak
jangan engkau berharap kesembuhan masa mendatang
sebab bumi makin gelap gulita
cuaca tak mampu lagi membaca
apa saja yang tergenang dihadapan kita
"tunggu saja hasil lab uji darah dan batuk dahakmu,
nanti kami akan kirim makanan dan vitamin bergizi," pesan penjaga berkerudung biru di kemah pesakitan tanpa swabtest kematian
lima belas tahun vegetarian
sudah mampu membuat dirimu menjelma jadi perempuan yang rajin membangun mezbah karang tegar
sekurus itukah nyanyian pujian dan doa yang engkau layangkan pagi, siang, dan malam
entahlah
Jakarta, Senin 26 September 2022
Karya : Pulo Lasman Simanjuntak
DAUN PINTU ITU
peluk daun pintu itu
ke dalam bantal mimpimu
menguras serat-serat kayunya dengan pahat air lidah
(maka kita akan dibawa ke pulau-pulau tirani, di sana kaum kapitalis lebih menghargai ilmu pengetahuan ketimbang engkau rajin mencari kotak-kotak surat yang doyan berenang tiap musim berganti)
kemudian akan dibalasnya
secepat kilat listrik
mainan kanak-kanak, perangkat komputer, minyak birahi, hingga laporan basi dari negeri-negeri miskin
lalu putar skrupnya
dengan obeng jantungmu
diselingi tukar pikiran
(mengenai malapetaka rumah ibadah, bungkuskan jadi kado mungil, sebelum engkau buka gemetar kunci daun pintu itu )
setelah itu jadilah tangis rutin
di kamar mandi sampai mencair dari geraham sakit gigi
tak berarti apa-apa
kembali membatu
untuk kita yang muntah mujizat
Jakarta, September 2022
DONGENG ITU KALAH
kalian hanya butuh sebuah pistol kerdil
ketika otak rubayan mulai ditumbuhi saham dua puluh persen
dilepas sauh dari bukit-bukit yang purba
kupilih melarikan diri
gempa bumi di negeri sendiri
ialah ketololan mengapa tak kunjung ke pesta perkawinan
om kusen membangun rumah sakit diabetes melitus
dan tante rina menggores kelamin mabuk
"sudah ada pertemuan terakhir, menunggu persekot," jawab telepon nyaring
beberapa kuli disket bolak-balik
ke markas guna persiapan perang primitif
kendati masih kabar burung-burung unta yang diperas dari dalam perut laut
jemu kukabarkan lewat suara pesawat angin
lebih beruntung bersekutu dengan perompak ?
airmata terus mengalir
suara ketukan bambu
sudah mundur konglomerasi itu
Jakarta, September 2022
OBSESI BERGUGURAN
perkawinan mencapai titik beku
pada roh Tuhan kami ganjil
menghitung musibah dari waktu
ke pot-pot bunga berduri
pemabuk bunuh diri
di atas hamparan tanah gambut
tancapkan jantung runcing
ribuan batu disedot dari dubur
salju yang menyumbat kelamin
melambungkan angan-angan
menuju ranjang pohon jati
yang tumbuh mandul
mondar-mandir makan onderdil mobil
engkau menjilat-jilat darah
otak terbakar
hampir meledak ayat-ayat suci
titipan pendeta enam tahun silam
papan catur yang selalu dikirim lewat faksimile
terkubur rapi dalam sajak lumpuh tempo waktu
bahkan ratusan kode pos membunuh dengkur tidur
tak pernah hadir lagi
berkas sesal harus disemen
menanti kedatangan malaikat manis
suara lisan
Jakarta, September 2022
SUARA MINOR
pertama mendarat di sini
rakus berdandan parfum
bau tetanus
di perut kaki gulungan logam : sepi yang menggelepar !
mencangkul lantai rumah
kicau bekicot terdengar merdu
lagu pop cinta itu birahi luka
tiap minggu bersekutu, ujar batuk knalpot
mampu memuntahkan dendam
ke rusuk-rusuk ranjang
berselingkuh dia dalam sarung
penghuni sudah berlari
mendaki mulut hutan belantara
sampai kapan pun
dia harus dipasung
mata bor
Jakarta, September 2022
BUNUH DIRI
Puisi : Pulo.Lasman Simanjuntak
tiba-tiba amarahmu menyergap
mengapa matahari selalu darah tinggi
sampai menembus pori-pori langit
berputar-putar dalam cawan nafas terakhir
"bukankah setiap subuhhari telah engkau lepas
seekor burung merpati sebagai persembahan
agar kita tak lagi kelaparan," kataku sambil menghitung hari-hari menghitam di batu nisan
sabarlah, katamu dengan roh suara lembut
mari kita kembali bercumbu rayu
terus mendaki ke negeri-negeri birahi
seraya melupakan kekusaman hidup
lalu secara perlahan kita turun lagi
ke benua orang mati
Jakarta, Senin, 17 Oktober 2022
KHOTBAH
Puisi : Pulo Lasman Simanjuntak
berabad-abad khotbah
sudah digelar
di atas mimbar tradisional
sampai menelan rakus
media digital kelaparan
kita mau berjalan pasti
menembus langit merah ketiga
padahal setiap lonceng arloji
berdetak keras
kita telah tersesat
dalam sebuah permukiman liar
tak mampu lagi menyanyikan
tentang lima ribu orang
makan roti perjamuan
ikan-ikan beterbangan
ke benua orang kesunyian
haruskan kita bermain sandiwara
sepanjang pekabaran surga
disampaikan bertubi-tubi
pada layar zoom
disuguhkan segelas jeruk
dalam perut bumi
sementara busana kita berdarah beku
ditabrak keras rembulan
di bawah jembatan kereta melayang
trotoar jalan keremangan
air jamban
tak mampu lagi kulanjutkan khotbah ini
karena aku harus segera
kembali masuk rahim bumi
dengan tangan kudung
dalam sembilan angin sakal
terjual sangat membosankan
Rawamangun, Jakarta Timur, Kamis 13 Oktober 2022
LAPTOP
Puisi : Pulo Lasman Simanjuntak
laptop usia purba
kutawarkan di gerai kematian
karena layarnya semakin buram
oleh penderitaan tak berkesudahan
padahal esok hari tak pasti
tubuhnya warna gelap dan kelam
harus kubawa menari-nari liar
di atas mimbar kesucian
sebuah pisau keresahan
muncul pada laman berita yahoo dan zoom
ditaburkan tetesan darah membeku
pada kecelakaan di jalan kota yang berlobang
beruntung,
aku dibangunkan dari khayalan
delapan ratus juta rupiah dalam kemasan
berserakan di aspal jalan raya
berseberangan dengan jalan tol
perayaan dan pawai kemacetan
masih ada sajakku dalam setiap aplikasi komputer
sampai aku kelelahan mencari mata uang
apa lagi yang harus dijual
pada seperangkat sembilan handphone
semuanya telah ditelas rakus
dalam pembuangan limbah kesunyian
bau pohon kaktus
Jakarta, Rabu 12 Oktober 2022
KUBURAN
Puisi : Pulo Lasman Simanjuntak
tubuh kami terbujur
memanjang kejang
tanpa dasi, jas, dan kain kafan
bersiap mau turun
ke dunia orang mati
sampai menyentuh
akar-akar
debu dan tanah
sunyi seperti membatu
hening seperti suara jangkrik bisu
jasad kami lalu meledak
di dasar bumi
tenggelam dalam kapal karam
dijilat-jilat penyakit menular
dimutilasi dengan pisau besi
bau formalin jadi tetesan nanah segar
tulang dan dagingnya menari-nari
sampai luluh lantak ditelan belatung
binatang paling menjijikkan
nafas roh terbang cepat
kembali ke rumah suci
lusifer bersabda kejam ;
sekali-kali kamu tidak akan mati
hanya keabadian jiwa
bahwa arwah kami bisa hadir
setiap dipanggil
dari dalam peti mati
di sana tak ada kehidupan
hanya misteri para paderi
tubuh kami masih menunggu
penghakiman disebar semak belukar
sampai utusan Tuhan datang
membangunkan dari tidur panjang
nama siapa giliran dibangkitkan
untuk berakhir di meja pengadilan
Taman Ismail Marzuki, Jakarta, Sabtu, 22 Oktober 2022
PESAKITAN PENDUSTA
Puisi : Pulo Lasman Simanjuntak
tubuh pesakitan pendusta ini
dibungkus kemalasan luar biasa
sejak punya rumah terbelah dua
bertubi-tubi menabur mahkota duri
dalam keluarga inti
kadang bau minuman arak
sangat keras dan brutal
serta perzinahan tak seimbang
yang juga tak bisa melahirkan
anak-anak tanpa akte kelahiran
"aku tak mau mati dulu, turun ke dunia orang sunyi yang tak tercatat dalam peta-peta kitab kehidupan," pesannya seperti mau bersekutu dengan ekor legion di pekuburan orang-orang tak lagi punya senyuman
tiap dinihari
masih saja pesakitan mau bertarung
meraung-raung bersenggama dengan obat
kepalsuan dan hari tua
makin tak jelas
Jakarta, Minggu, 23 Oktober 2022
DIAGNOSIS
Puisi : Pulo Lasman Simanjuntak
bermula dari sehamparan lantai beton
disuntik kuman sangat dingin
ia tertidur nyenyak
tak sadar tubuhnya
dimakan lahap
sangat ganas
bertahun-tahun menikmati
harta kekayaan disebar
dengan tangan kemalasan
kini ia terbaring lemah
tenggorokannya lumpuh
dengan paru-paru berdarah
disedot kesunyian
mencair dalam slang infus biru
dipanggilnya keluarga inti
menghadap seribu malaikat
berjubah hijau lumut
dipaparkan gejala dan tanda klinis
dosanya tersumbat di jantung
amarahnya bersembunyi di ginjal
ia sendiri lari ke padang gurun
sangat ketakutan
sudah terbayang hari esok
mimpinya harus kembali turun
ke area pemakaman
sendirian
tak ada lagi
suguhan makanan dan minuman
Jakarta, Jumat 21 Oktober 2022
LELAKI TANPA KELAMIN
Puisi : Pulo Lasman Simanjuntak
lelaki tanpa kelamin
rajin menyapa hujan sore hari
setiap mau menembus belantara kota
hari-hari mengerikan
paru-parunya telah terinfeksi
bakteri takut matahari
bahkan jantungnya
hanya berdetak dua kali
semakin gelap gulita
mau turun ke planet
orang mati
lelaki tanpa kelamin
punya sepotong ginjal
yang telah membuat bengkak
seisi rumah suci
tempat kumpulan orang berdoa
memunguti dosa-dosa
masa lalu paling menyakitkan
lelaki tanpa kelamin
pingsan sejenak
lalu bangkit lagi
menabur bunga mawar
di atas ranjang penyakit menular
sungguh sangat liar
masihkah ada pengharapan
lantaran kemiskinan
terus berkepanjangan
Jakarta, Jumat, 21 Oktober 2022
RANJANG MAUT
Puisi : Pulo Lasman Simanjuntak
kusapa dari wajah kitab suci
tubuhmu terus membengkak
menjelma jadi sebuah bangunan
rumah sakit bertingkat-tingkat
lalu menatap langit senjahari
yang menelan habis
kuman-kuman diagnosis penyakit
menyebar kesepian berdahak
dari seorang perjaka tak punya sperma
pukul berapa jam bezuk, tanyamu
bau infus telah menyebar sampai
tanah kuburan yang basah
airmata memerah
amarah menular dusta
"kalau kematianku tiba, biarlah dibungkus kain kafan tua, sebab peti mati harganya terlalu mahal untuk dijual di bawah bumi tak berpenghuni," pesanmu
maka sebelum pulang ke rumah
telah kusodorkan ranjang maut ini
persis di bawah perutmu yang berlobang
disuntik menjadi sebuah terowongan berair
tembus sampai ke liang lahat
mengerikan memang !
Jakarta, Rabu sore, 19 Oktober 2022
MATA UANG
Puisi : Pulo Lasman Simanjuntak
kuku burung menggigit badan aspal
tiap siang siapa hendak diterkam
lewat berita koran
gerombolan hewan bertaburan
di wajah para cendekiawan
sayap ular mengendus-ngendus
ke dalam riwayat kerdil
dengan bintang tanda jasa
berserakan di uban kepala
mulutnya runcing
seperti bocah kehilangan kamar
gadis-gadis molek
menawarkan persembahan
menuju tiang salib
kini giliran kaki gajah
menginjak matahari
dengan sebelah mata buta
bertafakur
padahal ia tidak mengerti
(barangkali alpa )
kuku burung dan sayap ular
siap menerkam kaki gajah
disembelih
kompor-kompor garang
Jakarta, Rabu 19 Oktober 2022
BERSAKSI
Puisi : Pulo Lasman Simanjuntak
melalui layar zoom-
basah ditelan hujan malam
engkau masih di kamar mandi
mengguliti tulang-tulang tubuhmu
yang makin mencair
sebelum disampaikan khotbah nubuatan
kuceritakan penderitaan
makin berkepanjangan
satu untuk para pahlawan iman
satu lagi untuk jamaah serabutan
aku tetap kelaparan
"seribu penyakit menular harus ditebar dalam rumah persinggahan, lihatlah tiap malam rembulan batuk darah minta suntikan obat-obatan dari rumah sakit orang miskin," teriaknya dari atas tikar yang penuh dendam dan kebohongan
aku harus segera meditasi
kembali ke gua-gua kesunyian
mengais barang-barang loakan
lantaran anakku yang gagah perkasa
senantiasa berpesan penuh kemarahan
jangan ada lagi perkakas logam yang dijual
atau perangkat elektronik dijejer
di jantung kiri dan etalase kematian
datanglah kepada Tuhan, pesanmu
sebab dari bukit hambalang
deru angin sangat kencang
semua diselesaikan
satu siksaan
kapan berakhir
hari-hari
tak punya kepastian
Jakarta, Rabu 26 Oktober 2022
**/Catatan puisi berjudul “KUBURAN” telah dimuat (dipublish) di website media sastra dan seni budaya negerikertas.com pada Selasa, 25 Oktober 2022
**/catatan DAUN PINTU ITU, DONGENG ITU KALAH , OBSESI BERGUGURAN dan SUARA MINOR telah dimuat (dipublish) di Harian Umum Suara Merdeka (Semarang, Jawa Tengah) melalui website-nya di Jakarta yakni www.jakartasuaramerdeka.com pada Minggu, 2 Oktober 2022
**/Catatan RANJANG TUMBUH JAMUR LIAR telah dimuat (dipublish) di website indonesiana.id pada Kamis malam (6/10/2022).Selamat membaca.Salam Puisi Indonesia.
**/catatan SENJA BERPUISI HATIKU SEPERTI JADI BESI, LUMPUR DALAM SAJAK, PERCAKAPAN TELEPON DUNGU, SEDEKAH LIAR dan MUSIBAH PERSUNGUTAN PANJANG telah dimuat atau dipublish Harian Umum Haluan (Padang, Sumbar) melalui website-nya yakni harianhaluan.id pada Selasa, 4 Oktober 2022
Biodata :
Pulo Lasman Simanjuntak , karya puisinya telah diterbitkan dalam 7 buku antologi puisi tunggal dan 17 buku antologi puisi bersama para penyair di seluruh Indonesia dan saat ini tengah deadline untuk penerbitan buku antologi puisi ke-8 berjudul BILA SUNYIKU IKUT TERLUKA
Karya puisinya juga telah dimuat diberbagai media cetak, media online, dan majalah digital di Indonesia dan Malaysia.
Ketua Komunitas Sastra Pamulang (KSP), Dapur Sastra Jakarta (DSJ), dan anggota Sastera Sahabat Kita (SSK-Sabah, Malaysia).
Bekerja sebagai wartawan dan bermukim di Pamulang, Kota Tangerang Selatan.
Email : pulo_lasman@yahoo.com
Medsos : Lasman Simanjuntak (FB/Instagram)
**/catatan SENJA BERPUISI HATIKU SEPERTI JADI BESI, LUMPUR DALAM SAJAK, PERCAKAPAN TELEPON DUNGU, SEDEKAH LIAR dan MUSIBAH PERSUNGUTAN PANJANG telah dimuat atau dipublish Harian Umum Haluan (Padang, Sumbar) melalui website-nya yakni harianhaluan.id pada Selasa, 4 Oktober 2022
Biodata :
Pulo Lasman Simanjuntak , karya puisinya telah diterbitkan dalam 7 buku antologi puisi tunggal dan 17 buku antologi puisi bersama para penyair di seluruh Indonesia dan saat ini tengah deadline untuk penerbitan buku antologi puisi ke-8 berjudul BILA SUNYIKU IKUT TERLUKA
Karya puisinya juga telah dimuat diberbagai media cetak, media online, dan majalah digital di Indonesia dan Malaysia.
Ketua Komunitas Sastra Pamulang (KSP), Dapur Sastra Jakarta (DSJ), dan anggota Sastera Sahabat Kita (SSK-Sabah, Malaysia).
Bekerja sebagai wartawan dan bermukim di Pamulang, Kota Tangerang Selatan.
Email : pulo_lasman@yahoo.com
Medsos : Lasman Simanjuntak (FB/Instagram)
PULO LASMAN SIMANJUNTAK |
Selasa, 04 Oktober 2022
Kumpulan Puisi Yuni Tri Wahyu - AKU MENIKAHIMU DENGAN KASIH SAYANG
PUISIKU BISU TULI
Yuni Tri Wahyu
Gegap gempita gebyar layar kaca tampilkan pesona bunga maya
Berlomba menata pesona kata indah menjamu perhelatan besar
Dari segala penjuru bermunculan bintang gemintang
Bahkan yang sempat redup tertutup keangkuhan
Aku ada di belakang panggung meramu kata tanpa suara
Memangku pilu mengayun sendu pada titik beku
Senyum merekah menyaksikan mereka berkiprah
Unjuk kemampuan yang memang mengagumkan
Puisiku bisu tuli sejak kugandeng sepi
Melepas sejumput mimpi kikis nurani demi pengakuan diri
Jiwa ini sunyi menatap polah pelaku berjubah diksi
Sementara rangkaian kata hanya sepuhan warna ambisi
Maka biarkan saja kucecap rasa, mengiringi tarian jemari:
wening paling bening
Tangerang, 01 Oktober 2022
AKU MENIKAHIMU DENGAN KASIH SAYANG
Yuni Tri Wahyu
Bunga-bunga hati bermekaran rindu
Warna-warni menghiasi waktu
Jelang senja rona jingga memesona
Seindah lukisan Sang Maha Cinta
Engkau adalah utusanNya, melumat biru keunguan di bibir derita
Bertubi-tubi merajam hati
Hingga lebam memudar sisakan hijau pengharapan
Tertanam di dalam ladang keyakinan
Aku menikahimu dengan kasih sayang
Segenap yang ada tanpa pura-pura
Seperti tertulis kata-kata pujangga, mengayuh roda-roda hiperbola
Tetapi sederhana menyempurnakan luka, maka tersisa air mata bahagia
Tangerang, 26 September 2022
DIK
Yuni Tri Wahyu
Jangan biarkan benci merusak hati
Nanti dia jemput langkahnya sendiri
Berkarya saja dengan rasa
Abai kata mereka, karena kita adalah pecinta sejati
Memuisikan hidup tanpa bunga kertas berdaun plastik
Mudah terbakar percikan api cemburu
Kepada mawar, melati dan warna-warni beranda mimpi
Juga segala hijau daun berdebu rindu
Dik, jangan siram dendam tersimpan di dada cinta
Lepaskan bersama embus angin ke setiap penjuru
Mari sama-sama mendekap sunyi
Hingga perjalanan senja semakin berarti
Tangerang, 11 Oktober 2022
AKU PEMENANG BUKAN PECUNDANG
Yuni Tri Wahyu
Seberapa rakus engkau menikam nyali, sekuat baja aku bertahan. Sebanyak luka warnai catatan kenangan, kuhapus dengan senyuman. Meski kering dan getir terbaca nyata.
Kasak-kusuk, bergunjing seakan mainan lucu. Kalian tertawa mencibir saat aku terjepit kepedihan.
Hei! aku tidak ingin belas kasih seirama hujat tanpa makna. Lihatlah kuasaNya, buah manis kupetik dari hasil tanaman ini.
Hanya kehendakNya kuasa memilih. Aku pemenang bukan pecundang lari tunggang langgang ketika badai datang.
Tangerang, 08 Oktober 2022
PENGALAMAN MENGAJARKAN
Yuni Tri Wahyu
Lugu entah dungu, berjibaku
Mengurai luka memintal duka
Jadi penggalan-penggalan catatan
Langkah berulang kali tersandung
Patah kuku hitam, putihpun bersambung
Perih sisakan lebam
Mengitari perjalanan panjang
Sepi hadir menggamit lengan menuju ke barat
Senandung bunga hati terdengar lirih merintih
Tentang riwayat dan jejak sakit tertinggal
Pengalaman mengajarkan
Berbenah diri melangkah pasti, berserah pasrah
Tangerang, 05 Oktober 2022
MAGHRIB TELAH TIBA
Yuni Tri Wahyu
Bergegas tinggalkan rona jingga
Keindahan sekejap memesona pandangan
Basuh kenikmatan dengan beningnya gemericik jiwa
Tunaikan kewajiban, khusyuk
Lantunan puja-puji suci
Iringi tarian biji tasbih di pinggang jemari
Menanti kumandang azan selanjutnya
Tafakur
Maghrib telah tiba isya menjelang
Subuh, entah napas tersisa
Lalu untuk apa tebar jala dusta menangkap ikan kecil
Berenang di tepian sungai?
Malam datang merebut mentari
Esok belum tentu kembali rasakan hangat kecupan pagi
Sudahi merenda mimpi kemarin dengan segala alibi
Lepas bujuk rayu hawa nafsu
Tangerang, 04 Oktober 2022
AKU MENEMUKAN CINTA PADA SENYUMMU
Yuni Tri Wahyu
Tak perlu kata berbunga asmara. Rindu syahdu menembus jantung. Tentang lagu merdu yang engkau gaungkan lewat pancaran netra hadirkan debar berjuta rasa.
Aku menemukan cinta pada senyummu, mengalir seirama denyut nadi.
Tangerang, 14 Oktober 2022
MENUNGGU UNTUK BERPISAH
Yuni Tri Wahyu
Setia menunggu meski waktu berganti musim
Gelap pekat tertutup awan pun sore yang emas berkilauan
Bukti keagunganMu, pelukis keindahan
Mayapada beserta isinya
Memberi keberkahan siapapun mampu bersyukur
Nikmat tiada tara di balik gumpalan luka
Menunggu untuk berpisah saat senja terganti petang
Azan berkumandang
Tangerang, 23 Oktober 2022
PUISI HATI
Yuni Tri Wahyu
Aku tidak pernah tahu di mana ujung penantian. Namun bukan berarti harus mengurangi rasa yang telah ada.
Engkau membuka pintu untuk berteduh saat hujan badai menimang terik. Sementara pelangi adalah mimpi tanpa tepi.
Lelap panjang terbangun oleh sepoi angin bawa aroma luka. Nyanyian semesta pun riuh rendah gelombang kehidupan.
Senja mengajarkan kehendak, tapi ufuk timur selalu bicara keyakinan. Kita berdiri, di telapak dua mata arah. Maka, aku menggamit luka dan harapan yang kerap jadi sarapan.
Kita merangkai bait menjadi puisi hati, tentang luka dan kesetiaan. Kemudian mengikat pada tiang keyakinan. CintaMu terbaik.
Tangerang, 19 0ktober 2022
MENGAIS KENANGAN LUKA
Yuni Tri Wahyu
Membuka ingatan silam
Jejak-jejak luka bermunculan
Penuhi sketsa merah hitam, biru keunguan
Terlukis manis pada lembar perjalanan
Embun lesap dihisap terik
Menguap perlahan bersama datangnya sore yang emas
Jingga berbinar menatap hening
Hingga terdengar kumandang azan
Tuntun langkah bersuci diri, menuju kiblat
Dalam wening kristal bening bertutur jujur
Kembali mengais kenangan luka, pedih, perih, bersahutan
Bergema dalam dinding tabah indah senyuman, karenaMu
Tangerang, 28 Oktober 2022
Kumpulan Puisi Ira Gusirawati Nooryadin - BUNGA LAYU
BUNGA LAYU
By: IGN
Bunga cinta di taman hati telah layu
Dedaunnya mengering berguguran merajuk
Tak pernah kau sirami dengan kasihmu
Tak kau jaga hingga rantingnya mulai rapuh
Lelah, resah, gelisah merongrong jiwa
Tanpa rasa percaya maka cinta tiada guna
Tanpa setia maka rindu hanya menguras air mata
Inginku lepaskan belenggu hempaskan semua rasa
Godaan datang silih berganti meracuni pikiran
Menggelitik hati di antara dahaga dan keraguan
Menawarkan kesejukan rasa..
Menjanjikan bahagia dalam jiwa..
Mungkin diriku memang sudah tak berarti
Mungkin rasaku sudah tak penting lagi
Jika rasa percaya dan setia tak kau hargai
Lebih baik kau cari pengganti..
Kota Kembang, 4 Oktober 2022.
TOPENG JAHANAM
By: IGN
Kau kah itu..???
Kau yg telah bertubi-tubi menghujamku dari belakang
Dengan belati kebengisanmu..
Akupun terkulai, lemas tak berdaya
Hingga meregang nyawa..
Lalu kaupun berjalan terseok-seok, terhuyung-huyung seolah mencari bantuan orang sekitar..
Kau tebarkan aroma kebusukan dgn lidahmu yg tajam dan berbisa..
Kau tangisi jasadku dgn topeng sendu dan santunmu..
Kau mainkan peran pahlawan dan aku hanyalah korban..
Ingatlah jahanam,
Aku akan terus mengawasimu, mengikutimu sebagai bayang-bayang kelam..
Yang akan menyingkap topengmu dan menghempaskanmu hingga ke dasar jurang yg paling dalam..
(IGN, TOPENG JAHANAM, Bandung 021021)
Salam santunku..
AKU BUKANLAH UNTUKMU
By: IGN
Sekian lama kau pergi
Kini kau datang kembali
Namun kau telah terikat terkunci
Kau minta hatiku kembali
Pulanglah pada wanita yang telah mengikatmu
Namun tak sanggup mengikat hatimu
Wanita yang telah kau sanding demi balas budi
Segala sesalmu sudah tiada arti
Jangan lagi kau sebut namaku dalam mimpimu
Jangan harap rindumu berpadu
Lepaskanlah bayanganku dari aksa dan atma
Biarlah kisah lalu tersapu anila terurai usia
Suratan takdir pastilah yang terbaik
Tinggalkan rindu pada puisi berbait lirih
Jangan tinggalkan dia demi mengejarku
Aku bukanlah untukmu..
Kota Kembang, 29 September 2022
Semoga berkenan..
TERLANJUR MENCINTA
By: IGN
Kau yang selalu menyapa
Hadirmu tak terduga
Seakan-akan telah kenal lama
Ikatan batin menjadi petanda
Percakapan panjang ditemani gugusan bintang
Jiwaku terbang anganku melayang
Perbedaan tak dipandang sebagai penghalang
Kau laksana separuh jiwa yang hilang
Walau diam seribu bahasa
Hati dan pikiran selalu bercengkerama
Kau tahu apa yang kurasakan
Aku pun tahu apa yang kau rasakan
Kisah kita selalu bersahut bersambung
Ikatan batin menjadi penghubung
Ku tahu hatiku harus menghindar
Apa daya lentera cinta telah berpendar
Kurasakan ku tak sanggup melupa..
Maafkan aku terlanjur mencinta..
Kota Kembang, 27 September 2022.
Salam santunku..
Semoga berkenan..
HAI PUJANGGA
By: IGN
Kata-kata tiada habisnya
Tiada alasan bagi pena untuk tak menuliskannya
Diam saja masih bisa ditulisnya
Begitupun beku masih saja menjelma kata
Jemari menari-nari bersama pena
Kata-katapun terlahir dari tarian menguntai aksara
Tarian yang dinikmati bersama
Bukan tarian kesendirian yang tak bermakna
Pujangga, kau tuliskan untaian kata
Kau hidupkan dalam pesta pora majas
Kau tiupkan ruh dalam seruling diksi
Akupun terbuai terhipnotis pada puisi
Hai pujangga..
Lenakanlah aku dengan berjuta kata..
Dalam satu makna..
Cinta..
Bandung, 11 Oktober 2022.
BUKAN BONEKA
By: IGN
Hatiku bukan sekeping mata uang logam yang bisa kau bolak-balikkan
Diriku bukan boneka yang bisa kau mainkan
Begitu mudah kau pandang rendah diriku
Namun kau tak tahu bahwa semua kan berbalik padamu
Aku kan tetap tersenyum walau kau iris hatiku
Senyumku adalah senyum kesabaran
Kesabaran yang kan berbuah kemenangan
Pada akhirnya kaulah yang kan terjatuh
Bandung, 9 Oktober 2022.
Assalammu'alaikum warahmatullahi wabarokatuh.
Salam santunku sahabat..
YA MUHAMMAD YA HABIBI
By: IGN
Duhai Rasullullah kekasihku
Kau datang membawa kebaikan bagi seluruh alam
Kau hadir sebagai pelita jiwa
Keselamatan tercurah untukmu Muhammad kekasihku
Ijinkan aku menjawab seruanmu
Dengan cintamu kan kubangun istana agung di dasar hati
Diriku terbenam dalam rindu padamu ya habibi
Hidupku mengalir dalam kasih sayang dan kelembutanmu
Hikmah yang kau bawa telah menurunkan hujan dari segala penjuru langit
Membuka mata hati yang buta
Menundukkan zhalimnya para penguasa
Kau tebarkan cinta damai pada sesama
Ya Muhammad ya habibi
Kucurahkan salam rindu untukmu kekasih
Semoga panjimu kan menjadi naunganku kelak
Naungan bagi kita bila saatnya nanti di padang mahsyar
Kota Kembang, 8 Oktober 2022.
Bandung, 12 Rabiul Awal 1444H.
Memperingati Hari Maulid Nabi
Semoga berkenan..
NADA-NADA CINTA
By: IGN
Kutitipkan salam pada merpati yang terbang tinggi
Kutitipkan rindu pada hembus sepoi anila yang membelai dedaun
Kubisikkan do'a pada bumi tempatku berpijak dan bersujud
Kusenandungkan isi kalbu lewat syair lagu
Adakah getaran yang sama di hatimu?
Menjelma berupa nada-nada cinta..
Kota Kembang, 6 Oktober 2022.
LEMBAYUNG BALI
By: IGN
Menatap langit Bali ketika senja
Lembayung merona jingga
Membuka ingatan pada kenangan
Kisah cinta yang tak sempat terputuskan
Sahabat lawas robeklah keheningan sukma
Kuncup yang dulu mekar bersama jingga
Semua tawa kita masih kusimpan dalam sanubari
Semangat yang mengaliri urat nadi
Sahabat masa kecilku kembalilah
Ingin rasanya kurangkul kalian
Meresapi tawa dan tangis kita
Bersama jingga menari dalam ketegaran
Andai kudapat mengulang waktu
Ingin kuucap maaf pada kekasih yang kuingkari
Biar kurasakan kembali bias cahaya
Lembayung Bali..
#Kota Kembang, 5 Oktober 2022.
BUAYA DUMAY
By: IGN
Kisah seorang pria dari dunia maya
Dia menyatakan sayang dan cinta
Ketika kuminta foto wajah aslinya
Dia tak pernah memberikannya
Katanya belum waktunya..
Hatiku bertanya-tanya..
Apakah dia menyimpan rahasia..
Akhirnya waktu yang menjawabnya..
Ternyata wajah aslinya adalah buaya.
Celotehan Gurauan IGN
Bandung, 17 Oktober 2022
KEPALSUAN
By: IGN
Apa daya sudah menjadi nasib
Setiap pria yang menghampiri
Hanya singgah lalu pergi
Terbuai oleh lain hati
Kata setia hanyalah kepalsuan
Sejati hanyalah angan
Tak cukup satu inginkan tiga
Wanita baginya hanya serupa boneka
Hatiku memang telah rapuh
Tak sedikitpun dia tersentuh
Selamat menikmati kepedihanku
Namun satu janjiku
Setiap tetes air mataku
Kan berbalik pada dia si peluka
Bandung, 16 Oktober 2022
KETIKA CINTA BERTASBIH
By: IGN
Pada bumi tempatku berpijak dan bersujud
Kubisikkan pinta pada Sang Maha Cinta
Satu rasa dalam angan yang ingin terwujud
Kutasbihkan nama-Mu memohon butir-butir cinta
Kusebut nama kekasih yang tersimpan di sudut kalbu
Ingin kupersembahkan butir-butir cintaku padanya
Kekasih yang telah membuat jantungku berdegub
Tak kuasa bila kuharus kehilangannya
Ketika cinta bertasbih
Kurangkai butir-butir cintaku untukmu kekasih
Menjadi pagi, siang dan malammu terkasih
Tak mungkin aku menentang garis takdir
Pada-Mu Robby kugantungkan hidup dan matiku
Atas segala cinta aku selalu bersyukur..
Ruang tasbih kota kembang, 14 Oktober 2022.
Salam santunku..
Semoga berkenan..
PADA AKHIRNYA
By: IGN
Berjuta kata melambangkan cinta
Majas dan diksi mencipta aura
Bagai pelangi mewarnai rasa
Jutaan helai puisi menjadi penawar rindu
Dan..
Pada akhirnya..
Akan hadir dua pilihan..
Mati dalam dekapan cintamu..
Atau..
Mati dalam helaian puisi-puisi cintaku..
Kota Kembang, 13 Oktober 2022.
NADA-NADA CINTA
By: IGN
Kutitipkan salam pada merpati yang terbang tinggi
Kutitipkan rindu pada hembus sepoi anila yang membelai dedaun
Kubisikkan do'a pada bumi tempatku berpijak dan bersujud
Kusenandungkan isi kalbu lewat syair lagu
Adakah getaran yang sama di hatimu?
Menjelma berupa nada-nada cinta..
Kota Kembang, 6 Oktober 2022.
MERAJUT MIMPI BERSAMA SANG BINTANG
By: IGN
Tak perlu terburu-buru
Awan berarak masih kelabu
Kadang dingin membeku
Kadang deru menggebu
Rasa hati tak menentu
Ketika masanya telah datang
Kan kupetik satu bintang
Kupilih yang sinarnya paling terang
Tak satupun kan menentang
Tak peduli rembulan berwajah muram
Bayangnya semakin suram
Takkan kupendam lagi di antara gemintang di langit kelam
Kaulah sang bintang maha dewaku
Sinarmu lembut menerpa wajahku
Menembus ke dasar kalbu
Menjadi lentera di jiwaku
Menghapus segala kepedihanku
Merajut mimpi bersama sang bintang
Kan kugenggam dengan senyum paling cemerlang..
Kota Kembang, 23 Oktober 2022
Salam santunku..
Semoga berkenan..
SANG DEWI
By: IGN
Diriku pernah bersumpah..
Kukunci hatiku hingga tak satupun menjamah
Namun hadirmu hangat bagaikan rumah
Tutur lembut bisik mesra dan senyum ramah
Diriku terlena hatiku terpanah
Tanpa rasa bersalah akupun mudah menyerah
Kau mampu melambungkan hati ini
Membawa diriku terbang tinggi
Tanpa ragu tiada takut terjatuh dan tersakiti
Kau perlakukan diriku laksana "sang dewi"
Kubersandar di bahumu karena aku percaya
Walaupun kau bukan titisan dewa
Erat genggaman tanganmu..
Dalam tatapan netramu..
Di taman surgawi kita bercengkerama..
Atas nama cinta yang menggema..
Kota kembang, 20 Oktober 2022.
DI PUNCAK
By: IGN
Mendaki gunung tinggi
Walau letih janganlah berhenti
Saat mencapai puncak
Ada rasa nan mengalir memecah sesak
Laksana berjalan di atas awan
Melayangkan angan di pusaran harapan
Melapangkan dada di puncak kepuasan
Bersatu dengan alam kebebasan
Ingin kukecup langit yang terasa dekat
Kulantunkan do'a yang lama menggugat
Arunika menyapa hangat
Mega putih mengajakku bercengkerama walau sesaat
Bandung, 26 Oktober 2022
Kumpulan Puisi Eko Windarto - MALANG
MALANG
Malang banjir bandang air mata
Seratus dua puluh tujuh ibu kehilangan nyawa anaknya
Mata batin dan hati mereka terkepung gas air mata
Jeritan demi jeritan merajam jiwa tak terduga
Oh Malang yang malang
: gara-gara bola tak masuk gawang
Kau tebang rasa dengan garang
Di sini, di hati ini, rasaku melayang
Jiwaku menerawang
Sukmaku mengitari lapangan yang malang dan lempang
Mencari penjaga gawang
: dari situlah kutemukan makna suwung
Sekarputih, 2102022
SENJA
di beranda sastra dan budaya, senja mengirim sajak balada
selebihnya pergeseran dan gesekan mengusung keranda
BATU, 8102019
SAJAK SAJAK SAMBO
sebab bahasa api telah membakar jiwa
sajak-sajak Sambo mengalir menuju muara makna
Batu, 8102022
LAKU
setiap berjalan di pematang itu
rumput-rumput dan ilalang menjelma rindu
angin yang berhembus dari timur menunjukan kenanganku
menciptakan luka semesta yang menampung gemuruh hatiku
setiap cahaya matahari menerangi langkahku
garis batas langit biru telah menulis hikayat dari tetesan air matamu
sedang titik-titik cahaya bergerak sendiri masuk ke dalam lakuku
menjadi hamparan samudera kata-kata mengendap di dasar lautmu
ketika rindu mendekapku
kau sunting cinta di hatiku
di taman asmaradana
rinduku menjemput cinta
rindu dan cinta mengubahku jadi puisi
menari hingga sunyi
daun-daun berseri membuka pintu pagi
adalah cahaya embun menari
aku sendiri mencari arti sunyi
pada pagi yang menyimpan matahari
dengan gaya songong dan sombong
seorang pemuda menantang siang bolong
di punggungku yang gosong dikhianati nasib odong-odong
tanah bau keringat basah para pengepung jalang
yang mengutuki luka lima liang
saling silang sengkarut menghunus 99 doa yang kukandung
ketika gamelan mengumandang syahdu
detak jam memeram rindu
menghidupkan ruang ruang permainan waktu
seperti aku memainkan lakuku
musik robotik tak kuasa mengusir luka
hanya gamelan jawa mampu mengasah jiwa
menjabarkan gending pengasah rasa melesat ke angkasa apa adanya
di ladang-ladang jagung itu
degup jantungku berpacu liar menuju
bergumulah sepi dengan rindu
pada rumput-rumput tinggi
musim panen seperti burung tua menatap sepi
telanjang dalam hati
dan hujan turun di atas pematang
menggosok punggungku yang gosong
saat di dalam hujan kulihat masa lalu yang hilang
berjalan sendiri menyusuri jalan setapak di belantara itu
nampak pohon-pohon pinus menjadi saksi bisu
sebuah tulisan puisi terkoyak waktu
saat aku teringat pohon-pohon yang ditebangi
gema semesta memantulkan kesedihan hati
tanpa henti, berulang-ulang kembali
sungai dan hutan kehilangan kebebasan bicara
daun-daun kering kehilangan tanah-tanah basah dan berjiwa
bagai kehilangan jejak yang luput membaca isyaratnya
fajar terus bergerak apa adanya
hamparan langit menyerap nubuat-nubuat semesta
melahirkan namaku namamu dalam gempa alam semesta
jam dua belas malam
bulan seperti payung putih merajut ritual hitam
bunga sedap malam membisikkan simponi malam
angin yang kutangkap memberikan aroma
melahirkan nyanyian kehidupan jiwa
dan sajakku lahir dari bejana cahayamu paling bercahaya
bulan di atas kepala
menerka ruang kata kata
lewat lembar cahaya
waktu mengenalkan jejak masa
mengantarku mengecup kedalaman luka
cahaya malam menyisir pikiranku
ketika doa di atas daun hijau
mengantar pedagang kaki lima membungkus cintamu
tanpa rindu
ilmu tuaku melesat ke udara
lihai melompat bagai peluru sara
menembus lukisan cakrawala
mataku pun rabun di makan usia
sendi sendi keropos dimakan senja
aku adalah tembang petang
yang sebentar lagi menelusuri malam penuh bintang
menyita sepi memahat gumintang
Bali, 6102020
Kumpulan Puisi Rusti Arnii - HENING MALAM
DOA
By. Rusti s
Lirih doa
Terucap tanpa ucap
Hening jiwa
Menangkup harap
Dalam debar
Rasa bergetar
Membawa kisah
Sepenggal kesah
Di kedalaman
Relung terdalam
Dekap kesunyian
Dalam diam
Gunungkidul 4 Oktober 2022
HENING MALAM
By. Rusti Arnii
Memasuki ruang sunyi
Di kedalaman dini hari
Basahi diri juga hati
Dengan air wudhu suci
Di hamparan keteduhan
Mengais damai
Dalam tiap untai
Doa yang kulafaskan
Selembut rinai embun berjatuhan
Di lubuk hening malam
Kupasrahkan harap serta keresahan
Kepada kasih terdalam
Meluruhkan segala
Kehendak akan dunia
Menyatukan rinduku dengan rindu-Nya
Bersama cinta semesta
Sebelum malam pergi
Menyisakan misteri
Tentang cerita esok pagi
Biarlah sejenak aku di sini
Gunungkidul 28 November 2021
JEJAK KASIH-MU
By. Rusti Arnii
Di bentang waktu
menekuni sunyi
musim berganti
menyemai harapan
Ada cinta
begitu dalam
mendamba
walau langkah tertatih
ringkih
tanpa letih
Menerangi nurani
membawa rindu kembali
kepada senyum teduh itu
Hati yang setia
merentangkan tangan
hapuskan luka
Gunungkidul 26 september 2022
SEULAS SENYUM
By. Rusti s
Hai, kau yang selalu
Sembunyi di balik debar
Bolehkah aku rindu
Seulas senyummu nan samar
Di antara sunyi yang syahdu
Hai, kau yang tak kukenal
Namun begitu nakal
Masuk tanpa permisi dalam hatiku
Lalu berdiam di situ tiada jemu
Membawa rasa ini diam-diam bersemu
Lihatlah, secercah asa merona
Merekahkan bunga-bunga
Di taman jiwaku
Menghiasi relung pagiku yang bisu
Seperti embun membasahi harapan yang layu
Hai, kau yang masih setia
Menitipkan gelisah dalam dada
Kala sebuah sapamu tak kujumpa
Bagai sendu memenuhi segenap waktu
Bila tanpa hadirmu
Gunungkidul 6 Oktober 2022
SEBELUM MALAM
By. Rusti s
Senja itu begitu sunyi
Semburat mentari
Menyisakan serpihan asa
Pada secercah cahaya
Lembut doa-doa
Menelusup relung dada
Serasi kata mendaraskan pinta
Dengan segenap rasa dan jiwa
Sebelum malam semakin dalam
Tenggelamkan riuh cerita dunia
Menuju teduh nyanyian alam
Luruhkan gundah tersisa
Masih ada sekeping hati
mencoba merawat janji seterang pelangi
Di antara jejak-jejak sunyi
Membingkai kisah tanpa lelah
#catatan
Gunungkidul 16 september 2022
RUANG
By, Rusti
Memasuki kedalaman
Ruang keheningan
Di relung paling bisu
Senada rasa syahdu
Senandung malam
Tengadahku dalam diam
Di antara serpihan awan-awan
Menitipkan sekeping kerinduan
Gunungkidul 16 oktober 2022
SEPI
By. Rusti s
Di antara bayang-bayang diri
Mencari seraut wajah
Dalam setangkup pasrah
Melepas segala lelah
Sedalam sepi
Gunungkidul 15 Oktober 2022
PENGINGAT WAKTU
By. Rusti Arnii
Detik demi detik berlalu
tak pernah jemu ia menemaniku
di sudut dinding kusam itu
dengan suaranya memecah bisu
Berdenting-denting merdu di kesunyian
selalu setia mengingatkan
walau terkadang terabaikan
di tengah keramaian
Di ujung malam
ia pun tak enggan berdentang
sebagai penanda subuh datang
membangunkan hati dari kemalasan
Seirama detak jantung
mensyukuri rahmat yang di berikan
dalam tiap kesempatan
detik menit dan waktu yang tak berulang
Gunungkidul 2022
WAKTU SUNYI
By. Rusti Arnii
Di antara debar dan getar
Waktu terus bergulir
Menyisakan rasa yang samar
Seirama nada sunyi mengalir
Sekeping hati
Menitipkan rindu dan mimpi
Pada musim yang menepis sepi
Seiring mentari menyibak kabut pagi
Waktu sunyi
Memasuki relung diri
Membawa setiap kesah
Kepada sang Pencipta segala kisah
Di antara debar dan getar
Lembut doa berpendar
Dalam mata nurani
Menerangi langkah tanpa henti
Menekuni hari demi hari
Gunungkidul 10 Oktober 2022
MENAPAK SENJA
Oleh :Rusti Arnii
Ketika aku mulai letih
bergelut ingin
yang menindih
raga serta batin
Rasa terlena
mimpi-mimpi fana
jiwa lara mendera
jejak langkah kian lalai
Jauh menapak
jalan-jalan sepi
membawa diri
mendamba
selaras mentari senja
begitu sahaja
meredup cahayanya
di pangkuan cakrawala
meluruhkan segala
rasa dan pinta
Kepada Pemilik rindu dalam jiwa
Gunungkidul 24 Oktober 2022
LUKISAN PAGI
By. Rusti Arnii
Ketika esok menyapa
embun
lembut berayun
sampaikan damai
begitu sederhana
Bunga-bunga berseri
ditingkahi kupu-kupu warna warni
suara burung bersahutan
semilir angin
menyentuh mesra pepohonan
Nyanyian cinta
Selembut senyum semesta
tak pernah redup
melukiskan kasih karunia-Nya
Menyimpan
harapan serta gembira
yang memberkahi
jiwa-jiwa terjaga
Kala esok menyapa
Gunungkidul 2022
SEINDAH PAGI
Rusti Arni
Lembut pagi berseri
selepas rinai hujan
membasahi
merekah bunga-bunga
dalam asuhan sinar mentari
Musim menyapa
seirama semilir angin
gugurkan dedaunan
tunas-tunas tumbuhkan harapan
di pucuk pepohonan
merdu suara
burung-burung bersahutan
Senada doa menjelma
menyertai langkah bersahaja
tapaki hari berganti
setulus rasa
menggemakan suka-cita
Gunungkidul 2022
MIMPI DAN HUJAN
By. Rusti s
aku masih di sini
di antara rinai hujan
yang riuh berkejaran
silih berganti basahi bumi
Menyemai harapan
Di antara mimpi yang redup sunyi
Bersama cerita diri dan angan
Menepis gigil dalam sepi
Ketika hujan semakin riang
Seakan nyanyian yang mengiringi
Setiap rintih suara hati
Melebur rasa dalam genangannya
Di sini aku mencoba
Hanyutkan risau jiwa ini
Dalam irama dan bunyi
Senandung hujan kala senja
catatan
Gunungkidul 23 Juni 2022
Langganan:
Postingan (Atom)