UNTUK MENCARI PUISI-PUISIMU CUKUP KETIK NAMAMU DI KOLOM "SEARCH" LALU "ENTER" MAKA SELURUH PUISIMU AKAN TAMPIL DI SINI

Rabu, 08 April 2020

kumpulan Puisi Samodera Berbirbisik - INGINKU




INGINKU
Karya; Samodera Berbisik


Dari dahulu hingga akhir waktu hanya satu pintaku. Kepadamu, duhai pujangga hati. Tetaplah menjadi ruh pada puisi-puisiku.

Setiap terangkai setangkai diksi dirimulah makna tersimpan. Jangan pernah lelah meniupkan napas pada untaian kata sederhana ini.

Hanya dirimulah, inginku menjadi resep ternikmat pada racikan aksara. Hadirmu meramaikan inspirasi, hingga imaginasi tak pernah mati. Karena engkaulah ruh dari setiap puisi.

Tangerang, 07 April 2020
#musafiraksara



#PUSAI
KABUT


Tertutup
Selimut
Kusut
Menyimpan
Harap
Segera
Lenyap

SB
Tgr, 07042020



DALAM KEMATIAN JIWA
Karya : Samodera Berbisik


Perjalanan terjegal terjal aral sebelum ajal
Duri-duri menancap tajam merejam lebam
Biru keunguan menjadi warna dominan
Rata mewarnai sekujur badan pun seluruh jiwa tanpa pilihan

Terlalu berhamburan nestapa meyayat kekuatan
Apa hendak berkelit, meronta pada garis kehidupan
Aku hanya seonggok daging hina tanpa serat
Menantang pun akan sekarat

Dalam kematian jiwa masih ada setitik hidayah
Menuntun pada kata berserah
Usah memberontak dengan apa dan bagaimana serangkaian tanya
Cukup bersujud kepada-Nya .... itu saja

Tangerang, 06 Maret 2020
#musafiraksara



MOKSA
Karya : Samodera Berbisik


Membias sinar kasih memuai bersama bara
Lesap tanpa bekas terdekap
Hilang pada pusaran gelombang meradang
Tertinggal lukisan kabut kusut

Kian semrawut menyambut petang
Gumpalan awan hitam menyelimuti jiwa
Hati terkoyak saat tikaman alibi mengelupas palung sukma
Hingga napas terengah, sejenak terhenti berembus

Moksa asa bersama rasa
Puing-puing berserakan tak ubah debu pilu
Terbang tanpa arah menebar kidung kematian
Sesungguhnya jiwa ini telah mati dalam hidup

Tangerang, 05 Maret 2020
#musafiraksara



SERPIHAN LARA
Karya: Samodera Berbisik


Ia berjalan menyusuri perkebunan lara.Tumbuh menjamur pohon-pohon dusta, berbuah lebat alibi untuk memanipulasi keadaan.

Kian hari jiwanya tergerogoti pikiran-pikiran kusut. Sungguh diri tak luput dari terjangan angin, yang mematahkan ranting-ranting rindang. Daun-daun kepercayaan mulai menguning dan sebentar lagi luruh, membusuk bersama cacing- cacing tanah.

Andai saja hujan tak menghanyutkan, mungkin masih bisa menyuburkan ladang harapan. Namun bila terbawa arus sungai ia akan terus terseret ke muara, tentu saja raganya sudah tercabik-cabik, menyisakan serpihan lara.

Tangerang , 04 April 2020
#musafiraksara



ASUMSI MERACUNI HATI
Karya: Samodera Berbisik


Memahat luka pada dinding-dinding nestapa
Berasumsi mengitari dendang setia
Menyimak goresan aksara, memaknai curiga
Berkecamuk menabuh prasangka

Berputar bagai baling-baling
Mengelilingi rautan insting
Lelah menyapa pikiran bening
Mengaduk campuran remahan tak penting

Kembali asumsi bermain berkejaran
Menerobos angkuh penalaran
Mencabik tanpa terkendalikan
Menikam tajam pergulatan

Suara jiwa membiar hasutan jalang
Meruah amarah mengumandang
Bara memberangus garang
Bagai pecundang kalah perang

Asumsi meracuni hati
Tak peduli merobek batin sendiri
Sekam terus memijar titik api
Membakar segala sisi

Tangerang, 03 April 2020
#musafiraksara



SENGAJA
Karya: Samodera Berbisik


Tuan, sengaja kurangkai aksara
Setajam sembilu menusuk rindu
Membuatmu sakit
Kemudian berlalu dariku

Suatu saat akan kututup pintu
Agar engkau tak lagi menghampiri
Namun, hatimu telah terkunci pada bilik kalbu
Meski hanya aku yang rasa

Aku tahu engkau sangat terluka
Tanpa itu, dirimu tak akan beranjak
Jemputlah bahagiamu
Bukan aku, musafir ambigu

Sengaja kutikam pula hatiku
Tak kalah dahsyat sayatan untukmu
Kupangkasi setiap rindu menyeru
Kupenjarakan dalam debar tak menentu

Tuan, maafkan aku
Yang tak tahu malu
Menukar rindu, dengan sayatan kepedihan
Dan .... berlalu tanpa pesan

Tangerang, 02 April 2020
#musafiraksara



HINGGA LUPA
Karya: Samodera Berbisik


Telah kugelar sajadah setia
Menguntai rangkaian doa
Bersama desah-desah suara jiwa
Memuji asma-Mu

Pada setiap helaan napas
Berdenyut nadi keikhlasan
Memeluk irisan-irisan getir
Perih pun mendiami sukma

Terlalu sakit tikaman berpacu pilu
Menyeruak bingkai sendu
Terlukis siluet tatanan luka
Melingkari seulas senyum di balik misteri

Tak terpecahkan
Terbelit belenggu nestapa
Mendekap bangga sesosok setia
Hingga lupa cara meraih bahagia

Tangerang, 01 April 2020
#musafiraksara



#Puisi_Empat_Larik
USAH LAGI

Usah lagi mengharap puisi darimu
Aku bisa membuat seribu aksara
Tinggal bagaimana meramu
Bait air mata atau larik-larik penuh makna

Samodera Berbisik
Tangerang, 01 April 2020



#EMiMa

Pohon ini akan selalu menyimpan kesejukannya. Namun tak mungkin serindang kala itu. Karena engkau enggan menyirami.

Samodera Berbisik
Tangerang, 31 Maret 2020



SENJA TERSEDU DI TEPI TELAGA BISU
Karya: Samodera Berbisik


Kali ini kulihat wajahmu muram. Jingga tak merona seakan menyimpan guratan kepedihan. Sekuat tenaga telaga itu membendung rinai yang telah menggenangi rahimnya. Berharap pusaran menyurutkan luapan air.

Telaga masih teramat tenang, karena palungnya mampu menyerap luahan hujan. Sementara senja tersenyum sendu di rembang petang. Teringat terik telak memberangus kesejukan hijau harapan.

Senja tersedu, telaga menunduk pilu. Saling membisu menahan segala rasa, berkecamuk riuh asumsi pada tempurung pikiran. Entah membela diri ataupun menikam hati. Sesungguhnya mereka tetap berharap mengikat sekerat hasrat. Namun hujat terus menyekat. Melalaikan kewarasan, menabuh genderang bara perasaan. Menyingkirkan bening pikiran. Merangkai isyarat ironi, mengikis kedamaian hati.

Pada akhirnya membisu, agar molekul-molekul tak berhimpitan kemudian meletup, memecah aksara-aksara yang kian sarkas, berhamburan meruah keegoisan. Nampak jelas kini senja tersedu di tepi telaga bisu.

Tangerang, 31 Maret 2020
#musafiraksara



PUISIKU KEHILANGAN NYAWA
Karya: Samodera Berbisik


Bagaimana mungkin jemari ini kembali menari, sementara urat-uratnya putus tak terkendali. Mungkinkah lembar-lembar kertas putih menjadi berwarna, sedang tinta tumpah meruah, kering bercampur darah dan tanah.
Bisakah puisi tumbuh berkembang penuh makna, ketika ruhnya sekarat bersama dirimu yang telah lewat.

Aaaahhhh ...
Berlalulah, usah lagi berkesah mengurai gundah. Hanya membuat lemah, kian payah meraba resah.

Bila memang puisiku kehilangan nyawa, kulepas sepenuh ikhlas. Agar arwah tenang dalam pusara. Damai mendekap nisan kamboja. Lalu kulalui lagi episode berikutnya. Ia bangkit, bereinkarnasi bagai bayi.

Terlahir kembali menjadi bisu. Tanpa seteru, rindu, apalagi cemburu. Yang ada hanya bait-bait rangkaian isyarat makna. Kode-kode kata tiada aroma asmara.
Dan .... puisiku kehilangan nyawa, untuk melahirkan ruh sahaja.

Tangerang, 29 Maret 2020
#musafiraksara



MEMEJAMKAN MATA ASMARA
Karya : Samodera Berbisik


Terpejam mata hati kala cinta berimajinasi
Rindu menyelimuti kalbu tak ubah awan kelabu
Menghitam menutupi putih pikiran
Lalu merah mulai mengusik keteduhan

Membuat puisi berlari sesuka hati
Tanpa bait menghalangi inspirasi
Atau merangkai kata senja seindah rona pelangi
Dan imajinasi terhenti saat kumandang azan memanggil nurani

Malam menguasai keheningan rasa
Aksara tersenyum mengeja kata
Kalimat mengedipkan mata kala diksi nakal menggoda
Puisi tertawa memeluk semua, kemudian saling berlomba memejamkan mata asmara

Tangerang, 28 Maret 2020
#musafiraksara



RINDU MAAFKAN AKU
Karya: Samodera Berbisik


Seucap kata maaf dariku mungkin tak cukup memahami hasrat. Kubawa hatimu berlalu, kemudian menyimpan pada palung paling nurani. Serta membingkai dengan wangi cendana tanpa kaca. Agar terus menyuburkan aroma rerintik doa.

Kian jauh menembus nurani, semakin tak kuasa aku melupakanmu. Namun kurasa cukup aku sendiri mengecupi sunyi dan membiarkan namamu menghuni taman hati. Tanpa lagi menghadirkan perjumpaan.

Rindu maafkan aku. Mungkin ini tak adil bagimu. Namun beginilah caraku mencinta. Agar engkau tak lagi merisaukan persembunyian dari selembar label pemilik hati. Berbahagialah bersamanya, tanpa aku sebagai duri dalam daging. Aku tak menginginkan engkau berpaling, begitu juga tak bisa memunggungi ikatan suci.

Maafkan aku rindu, mengusaikan episode kita. Aku, kamu, harus kembali pada peraduan masing-masing. Jika engkau membenciku, karena meninggalkan tanpa pesan, mungkin akan lebih mudah untukmu melupakanku. Namun satu hal yang tak mungkin terpungkiri, dirimu rindu sejati yang berwindu kucari. Tapi ... terpaksa kutinggalkan bersama pemeluk semestinya raga.

Tangerang, 27 Maret 2020
#musafiraksara



TERISTIMEWA
Karya : Samodera Berbisik


Berkali tersakiti kata-kata belati
Menghunjam menusuk silih berganti
Riuh gemertak amarah tak terkendali
Meluapkan rangkaian alibi

Hanya diam berlalu tiada seucap kata
Seolah angin membelai pucuk-pucuk cemara
Hadir kembali membawa hidangan asmara
Peluk hangat tanpa bicara

Aku bisa apa, rasa rindu enggan berlalu
Engkau sejati meminang kalbu
Meski sembilu terasah olehku
Kasihmu seluas samudera biru

Duhaiku ... teristimewa tanpa maskara
Terindah merekah di taman jiwa
Acuhmu menyimpan makna
Sederhana nyata bukan pemanis rasa

Tangerang, 26 Maret 2020
#musafiraksara



PERGILAH KASIH DEKAPLAH KENANGANMU
Karya: Samodera Berbisik


Seberapa aku berusaha memeluk hatimu, dengan segala ketulusan. Tak akan pernah menghapus kenangan indahmu bersamanya. Akan selalu menjadi pemicu api cemburu dalam kesejukan kita.

Seberapa kali engkau mengelak, lakumu tiada berpijak pada lembaran kisah kita. Mungkin bukan aku yang pantas kau perjuangkan, namun kenangan usang yang sedemikian indah di mata ingatan.

Aku bukan malaikat, tanpa punya sakit hati. Sedikitpun tak ada gerakan berisyarat kasih, saat bibirmu mengucap kata sayang untukku.

Lalu untuk apa aku bertahan, walau rasaku kian nyata. Pergilah kasih, dekaplah kenanganmu. Mungkin itu adalah kebahagiaan yang kau inginkan. Sementara aku, biarlah sendiri memunguti serpihan kisah asmara berkidung lara. Akan kubawa memeluk sunyi, dan sujud berserah pada keheningan kasih sejati-Nya.

Tangerang, 10 April 2020
#musafiraksara



#EMiMa

Tiada guna bersandar pada tiang rapuh. Berpijaklah dengan telapak kaki kurus berotot tangguh. Kemudian berpayung hening langit malam nan teduh. Maka damai tergenggam utuh.

Samodera Berbisik
Tangerang, 10 April 2020



TANPA TINTA
Karya: Samodera Berbisik


Maafkan telah melukis titik-titik luka pada selembar hatimu. Sementara kutahu terpahat ukiran lara memenuhi ruang pilu. Mendiami jiwa bak karang berhias hijau lumut, menawan pandangan.

Kini izinkan aku menghiasi aksara-aksara berbunga rindu. Mengetuk puisimu, bermekaran wewangi sendu. Menyematkan doa tanpa tinta setulus ucap dari palung rasa.

Duhaiku, senandungkan percik bahagia meski segala perih mendera jiwa. Ada aku sejujur laku menguntai kalimat syahdu. Untukmu, hanya kamu jantung puisiku. Berdetak sepanjang waktu.

Tangerang, 15 April 2020
#musafiraksara



ISYARAT
Karya: Samodera Berbisik


Isyarat indah tiada tertangkap
Tertutup kabut prasangka
Cemburu menutup mata
Membabi buta rasa

Gemuruh bara membakar nalar
Tersudut gelora menjamur curiga
Isyarat terlewat merana
Tersedu linangan pilu

Maaf hanya itu terucap
Mengisi kisi penyesalan diri
Setulus kasih tersambut
Hati seputih melati

Memenuhi taman sejuta puisi
Harum mewangi beraroma cinta
Meski ternikmati dekapan sepi
Raga tersekat jarak bersua

Tangerang, 14 April 2020
#musafiraksara
#tarianjemari
#nobaper




BIARLAH AKU DIAM
Karya: Samodera Berbisik


Biarlah aku diam meredam
Bara membakar perlahan
Menyusupi kedamaian jiwa

Tak perlu membuka aksara
Bila kata-kata tiada makna
Menguap lenyap sisakan titik hampa

Andai saja mampu menyerap
Isyarat riuh kekata
Tersimpan ketulusan sejatinya rasa
Namun bagimu hanyalah dengung
Penambah lengkung bingung

Biarlah aku diam
Menyimpan segala kenang
Meniti hari bersama jejakmu
Tersemat doa, bahagilah dirimu adanya

Tangerang, 22 April 2020
#musafiraksara
#edisidiam




MENGAPA
Karya: Samodera Berbisik


Tak ingin bertanya tentang kebisuan yang memenangkan kejenuhan. Biarkan saja melanda kehampaan.

Tiba-tiba badai menerjang tak mampu terelakkan, mencacah kuntum-kuntum mekar, hingga kelopaknya hancur berserakan, bercampur debu-debu ambigu.

Mengapa tak kau lepas, ketika aku ingin berlalu. Bahkan pelukanmu semakin erat menghangati jiwa. Meyakinkan kita selalu bersama menjemput rona senja, untuk bersahutan berdendang kidung suci mengikuti irama biji tasbih yang menari di pinggang jemari.

Pohon rindu masih kokoh menjulang, aku selalu memupuk serta menyirami hingga tumbuh merindang. Mengapa kini engkau mengabaikan, hanya karena sibuk terbahak mengibar bayangan. Itukah bahagiamu, lakukanlah.

Tangerang, 21 April 2020
#musafiraksara
#episodepepesankosong




BIARLAH WAKTU YANG MENUNTUN KATA TAKDIR
Karya: Samodera Berbisik

Sungguh aksaramu terlalu tajam menyayat kerinduanku. Dari mana lagi aku memulai membalut kesombongan. Bila semua telah terkelupas oleh belati berkarat yang tak pernah terasah oleh kepekaan rasa.

Kini biarkan aku melebur mimpi sendiri, usah mengusik dengan janji manis mengiris asa. Bersamamu adalah kebodohan terindah, episode perjalanan panjangku. Dan ... semua telah berakhir.

Tiada guna lagi memupuk pohon kasih, bila akar akar cinta telah kau patahkan. Jangan lagi memberikan keteduhan, daun-daun rindu telah mengering, ranting-ranting harapan getas patah berderak-derak.

Biarlah waktu yang menuntun kata takdir. Aku, kamu, sebagai pelaku. Bila usai peran memadu rindu, kita bisa apa. Tak perlu saling menunjuk kesalahan, cukup saling memaafkan, kemudian melangkah menuju arah masa depan melalui jalan masing-masing.

Tangerang, 20 April 2020
#musafiraksara
#episodeberserah
#tarianjemarinobaper




SEKEPING HATI
Karya: Samodera Berbisik


Larik-larik berbisik
Lirih menahan perih
Saat tawa berserat hasrat
Mencari mimpi yang tercuri

Duhaiku dimana adamu
Tiada sekelebat menyapa rindu
Berbayang pun kian samar
Meski tak menghilang pijar

Sekeping merah di dada merana
Kala senyummu enggan bertandang
Pada gulana menyerang
Gemuruh secepat lumpuh rasa

Teriring kata suci melangit pinta
Bahagia dalam diam disana
Seharusnya teringat isyarat melekat
Sebelum engkau berangkat tirakat

Tangerang, 19 April 2020
#musafiraksara



JEMARI-JEMARI LENTIK
Karya: Samodera Berbisik


Hadirmu adalah kesakitan ternikmat
Meski bersimbah darah kusambut senyum paling manis
Suara nyaring memecah kesunyian malam
Membangunkan lelapku

Setulus kasih kudekap hangat
Pada dada memancar air kasih sayang
Hingga membuatmu kembali pulas
Dengan sesungging senyum

Jemari-jemari lentik kupapah
Berjalan melihat luas cakrawala
Terkadang jatuh sedikit cedera
Kecupan hangat meredakan isakmu
Kemudian kembali tersenyum menjelajah dunia

Kini jemari-jemari lentik itu, menggapai tangan rentaku
Menopang kerapuhan termakan waktu
Menguatkan gundah silih berganti menusuk kalbu
Engkaulah bidadari-bidadari kecil, napas dan denyut nadiku

Tangerang, 18 April 2020
#sangatbersyukur



PERPUTARAN WAKTU
Karya: Samodera Berbisik


Detik mengitari hari
Minggu berlalu memanggil bulan
Tahun pun mencumbui windu
Ketika dasa terlena pada kisah usang

Waktu terus melaju
Tanpa melihat sesiapa terlalui
Perputaran terbagi, tiada memilah pilihan
Senyum dan air mata setipis jarak pernapasan

Kesekian kali roda dunia memutar waktu
Aku masih di sini sendiri
Terjebak kubangan penghayatan lara
Meski kesungguhan menerima segala coba

Tertatih langkah menapaki bumi
Kaki kekar sisakan renta gemetar
Bibir ranum tersenyum mengulum biru lebam
Satu membuat langkah setia bertahan, nama-Mu tiada bandingan

Tangerang, 17 April 2020
#musafiraksara



BERDAMAI DENGAN RINDU
Karya: Samodera Berbisik


Tiada lagi seteru bermain dengan cemburu di pelataran hatiku. Mereka sudah berdamai dengan rindu, tanpa syarat dan ketentuan berlaku. Mengalir mengiringi perjalanan waktu

Usah lagi mengundang gelora. Semua telah sirna, melesat entah kemana, karena sia-sia aku genggam setia, bila maumu mendusta

Biarlah kini, begini adanya, damai tanpa hadirmu yang hanya serupa bayang. Tak perlu juga aku mengenang, tentang cerita usang
Telah kututup lembaran cerita dengan senyum ketulusan dan ... berdamai dengan rindu

Tangerang, 31Agustus 2019



Tidak ada komentar:

Posting Komentar