UNTUK MENCARI PUISI-PUISIMU CUKUP KETIK NAMAMU DI KOLOM "SEARCH" LALU "ENTER" MAKA SELURUH PUISIMU AKAN TAMPIL DI SINI

Rabu, 08 April 2020

Kumpulan Puisi Romy Sastra - PERJALANAN




PAGEBLUK
Romy Sastra


ana kidung rumekso ing wengi
teguh hayu luputa ing lara
luputa bilahi kabeh
jin setan datan purun
paneluhan tan ana wani
niwah panggawe ala
gunaning wong luput
geni atemahan tirta
maling adoh tan ana ngarah ing mami
guna duduk pan sirno

aroma dupa di pendopo paguron eyang santa, menguar ke seantero pengajian malam.
kidung mengalun di sela-sela angin
dibaca santri di selubung kain sarung
penuh takzim pada titah yakin di batin.
aroma dupa menusuk hidung
bersenyawa doa mengetuk pintu langit meminta.
santri menyatukan rasa pada kalam ilahi
wahai pagebluk yang menyuruk di balik tirai kehidupan, enyahlah!!

eyang santa juru kunci pintu tuah menangis, setelah kembali berdialog gaib
dari alam antah berantah tentang corona.

angin berputar mengelilingi altar
dialog tingkat tinggi terjadi pada eyang santa,
dan virus mewujud cahaya;

santa, ketahuilah!
aku si pagebluk diperintah meminta nyawa kepada sesiapa yang tak waspada.
biyen-biyen aku diciptakan dari sabda api membakari jantung hati menungso.
"esuk lara, sore mati, sore lara, esuk mati"
aku datang kembali pada zaman ini
lewat teknologi yang terukur
santet global yang teratur.

air mata eyang santa bercucuran
tangannya gemetar memutar tasbih
tumbal tak dapat dielakan, penularan menjadi-jadi.

eyang santa bermantra sampai ke titik tertinggi memohon pada rabbi.
ampunkan kami ya allah
pinjamkan hamba penangkal pagebluk mewabah
satu isyarat batin diterima di puncak doa;
tawakal suci total
pagebluk tunduk dengan sendirinya.

eyang santa dan santri merenung malam hari
kenapa rumah tuhan kok sepi?
purnamakan iman nyala di badan
aku menampar zaman puisi diciptakan

Jakarta, 6 April 2020



AKU MEMBACA

aku takjub membaca kisah iblis dan musa, bagaimana iblis membuka kunci rahasia. sejatinya iblis musuh yang nyata,
iblis meminta ampunkan dosa-dosanya kepada allah lewat musa.
lalu, allah sampaikan pesan pada kalamullah.

musa berkata;
sujudlah engkau iblis di kuburan adam!
kau akan diampunkan.
bagaimana aku akan sujud di kuburan adam ya, musa?
ketika adam di waktu hidup saja aku tak sujud padanya.

antara hati dan aliran darah berpadu, sesungguhnya hitam putih berpacu
adalah sekat tipis sebening kaca beradu.
mata rasa membaca tersurat dan tersirat,
ada makna tersimpan di kedalaman ayat.

temui aku pada suatu jawaban!
di mana iblis dan musa berperan.

Romy Sastra
Jakarta, 4 4 20



JIWA DAN ILALANG
Romy Sastra


dan hujan adalah rahmat dari sisinya, ketika tabir hikmah tersingkap, daun-daun layu merayu, tanah kerontang jadi subur, tubuh dahaga bersuka cita, semua kembali hidup dan ceria. maka, aku bersyukur ketika sunyi didapatkan pinta seribu satu jawaban tiba.

ar-rahman rahim maha memberi tak butuh imbalan serupa, melainkan ingin disembah. aku berpikir, aku tak kufur nikmat pada dunia telah disediakan kepuasan yang takkan pernah puas. lalu, kuiktibari sejarah nabi terdahulu, betapa kemewahan tercipta pada zamannya, dan kaumnya ingkari kebenaran. tuhan timpakan azab amat pedih pada yang zalim. sehingga mereka seperti kayu-kayu terpanggang menjadi arang.

fa-biayyai alaa'i rabbi kuma tukadzdzi ban. maka, nikmat tuhanmu yang mana yang kamu dustakan? sekejap merenung, jiwa mencari jawaban kehidupan pada ilalang yang tak lekang dengan panas, dan tak lapuk dengan hujan, hidup menantang matahari berpayung langit berselimut embun malam.

lalu, bibit tumbuh seperti huruf alif bertauhid, ketika tua daunnya layu dan mati tak meninggalkan sedih pada generasi. regenerasi estafet siklus melebarkan kehidupan tak merasa tertindas zaman, ia terus tumbuh dan tumbuh meski ditindih kaki-kaki kolonialis, ada durinya menanti perisai diri. ilalang? pinjamkan aku tegar cabari iklim di tengah musim yang berputar.

Jakarta, 2 4 20



PARANOID

resah di balik pintu
padahal belum kiamat
takut menggunung
karena corona
dunia berkabung

Romy Sastra
Jakarta, 2 4 20



DUA BOLA MATA BERADU

Di suatu pagi menjelang tengah hari,
tatapan ibu ke jendela rumah lirih,
teringat masa silam kala anaknya bayi.
Tangis itu pengobat luka,
baru saja keluar dari goa garba
yang robek dengan jeritan penuh darah;
oh, anakku?

Di suatu tengah hari menjelang siang,
tangan cekatan memainkan peran
menunggu si kecil mengejan.
Tentang cinta yang sempurna membersihkan kotoran, ada najis melekat di ujung kuku, bercampur aroma kuah tertelan ketika makan tak dihiraukan; buah hatiku?

Di suatu siang menjelang petang,
ibu tergugu memandang wajah anak lugu, adakah dikau ingat anakku?
Kenangan ibu dikisahkan di saat kau bayi,
kini tumbuh remaja. Air mata bahagia bercampur air susu, kau dalam dekapan, ingatkah itu? Jangan balas dengan air tuba.
Di suatu petang menjelang senja tiba,
ibu mulai menua.
Anaknya menerima estafet cinta tentang jerih, baru saja tersingkap di balik wajah purna, mengabdilah oh, darah yang fitrah!

Dua bola mata beradu tentang cinta,
suka duka ibu berpesan; berbaktilah anakku pada titian surga ibu tunaikan sepanjang jalan, dan malam jadi renungan kematian menuju alam keabadian; doamu selimut panjang itu.

Romy Sastra
Jakarta, 18 Januari 2020



PERJALANAN

siang malam berpulang
sebentar saja tertidur
terik pagi datang
alam tersenyum

takdir bertandang
rembulan redup di mata
rumah tak berdian
bibir kelu mengeja kalam

berpulang ke alam barzakh
sunyi, teramat sunyi dirasa
gelisah amal tiada
tersesat arah dikurung kelam

Romy Sastra
Jkt, 13 4 20



MADRASAH CINTA AL-QASYSYAH
Romy Sastra


madrasah cinta yang karib pada rabi'ah al adawiyah, mengalun dari padang pasir ke seantero dunia, mengundang penduduk langit takzim akan keteguhan hati dalam peradaban cinta suci tak tertandingi.

cinta digesekkan ke dalam kalbu, dimabuk tuak ilahi siang malam tak kenal waktu. rabi'ah al-qasysyah membawa obor kematian menuju persemadian rindu, hendak membakar surga penghalang keinginan ibadah. surga dunia yang dipuja raja-raja telah ia lenyapkan ke dalam takhta cinta bermahabbahtullah.

kekuatan cintanya dibangun di atas bara-bara api berdoa bertransformasi menjadi telaga. al-qasysyah cinta menantang neraka rela dibakar di dunia seketika, daripada memalingkan hati dari kekasih.

ya, madrasah cinta dibangun di kastil hati, al-qaysyah adalah pemujaan terbaik zuhud ketauhidan cinta teragung dimilikinya, tak ada lowong dunia yang mampu membujuk bersanding sebagai pendamping selain kekasih maha raja diraja. al-qasysyah pergulatan cinta tak bernoda hingga menutup mata.

Jakarta, 25 Februari 2020



SEJENGKAL

sekujur tubuh bersimpuh
tangan tak mampu meraba cahaya
seberapa lama jam berputar?
sepanjang arus menyimpan getar

narasi nadi berkutat taat
mata menatap cinta sepanjang permana
kubawa-bawa berlari
kasih berbagi dari remah nan tumpah
sejawat utuh dipandu membaca: ya hu ...

oh, suara deru di kalbu
surga dirasa tak jauh di lidah
pengbadian lillahi ta'ala
aku merindu

sejengkal tak sadar sangat jauh dikejar
terdekat berpendar tak lilin padam
pesta asyik mengusik pelita
aku mencari rumah dari rupa zamrud
tempat duduk malakut bersujud
ya zuhud jabarut tiada kantuk
kemilau al mulk berpagut
cinta mewujud megah
matilah aku pesona

Romy Sastra
Jakarta, 22420



365 HARI MENUNGGU, AL-MUBARAK BERTAMU
Romy Sastra


365 hari dijelang,
kaki bertanya pada kerikil jalanan
di akhir sya'ban, masih jauhkah tualang? perjalanan di ujung mata memandang hilal, senja berlabuh kutunggu al-mubarak datang: ramadan ampunan.

365 hari catatan,
menyimpan lembaran hitam putih
lamunan bertanya pada lisan
di kedalaman sirr bertasbih, hari berputar.
lelahkah pujian karim dilafalkan?
telaga bening dalam rumah ditimba-timba? menyibak dua helai daun di ujung sami' sayup-sayup terdengar sunyi rumah kosong dihuni.

365 hari tak lama dirasa,
sedangkan sebulan serasa payah menanjak terjalnya pendakian.
berjuang mengekang nafsu berpacu membawa rindu, berharap kemuliaan didapat
mahabbah mendekat: tuhan, aku berharap.

Jakarta, 20 April 2020



BUNGA BERGUGURAN

angin ribut-ribut saja di atap rumah, musim berputar pancaroba. taman-taman layu menadah hujan di beranda tak kunjung tiba, melainkan gelegar meruntuhkan awan, bunga berguguran?

panas terik membahang di tengah padang, kapan kau ingin bertandang membawa selendang untukku berpayung? bajuku koyak diayak debu jalanan, aku memungut serpihan di dalam angan. ah.. harapan, matilah aku ditikam diam.

Romy Sastra
Jakarta, 18420



Tema: KOPI
Judul: MENCARI MAKNA RASA IHSAN
Karya: Romy Sastra


kepada kopi air gula dan cangkir
berkoloni dalam satu wadah
berjuntai isyarat secangkir kopi pagi
dalam duduk bangkitkan imaji
secangkir kopi warnai kehidupan

temui diri dalam makna seduhan
di mana gula tempatnya manis
pahitnya kopi terpisahkan
air adalah sumber kehidupan
pada aroma memberikan jawaban di lidah

aku mencari diri pada secangkir kopi
tak kutemui pada larik-larik puisi
pujangga meluahkan kisah pada sastra
nan tertuang satu cerita seribu makna
imaji bermain pada aksara diri

telah aku kelilingi dunia batin
mencari jawaban insani
pada renungan secangkir kopi
ihsan ternyata ada pada rasa sejati
iqtibari makna hidup tak sia-sia berpikir

HR RoS
Jakarta, 19-02-2017
Catatan : Puisi ini dapat apresiasi dari tim penilai All admin group Pustaka Maya,
sebagai JUARA KEDUA pada event bertema KOPI. Dalam keputusan penilaian diumumkan oleh akun Group PUSTAKA MAYA pada tanggal 6 Maret 2017. 15,00 wib Terima kasih saya ucapkan kepada All admin group.




JEJAK-JEJAK FATALIS
Kolaborasi Romy Sastra feat Shariffah Khadijah


*
sampanku takkan berlayar lagi
pendayung hilang di tengah samudra
layaran tak bersauh
sampan karam aku tenggelam
sedangkan yang dituju masih jauh
mencintai bayang-bayang
kau ilusi

seribu langkah aku mengejarmu
berlari dan terus berlari
tetap saja tak terkejar
kakiku patah tersandung pualam
aku menyerah pada senja
dianku padam jejak kehilangan arah
mata tergoda kunang-kunang
kau misteri

**


ITU LAYARMU TERBENTANG

Itu layarmu terbentang
pegang!
angin sedang garang
ombak sedang datang
berdirilah, jangan tumbang
satu saat laut pasti kembali tenang.

Itu layarmu terbentang
pegang!
jangan cair dek mentari membahang
usah terpesona cantiknya si kunang kunang
lihat laut saujana pandang
renanglah sampai ke seberang
belajarlah dari camar dan karang
pelaut selalu tahu haluan pulang.

Itu layarmu terbentang
pegang!
jangan pernah hilang timbang
jangan tertipu redupnya bayang bayang
belajarlah dari Sang helang
walau berat tetap terbang.

Itu layarmu terbentang
Pegang!
sampai nanti malam datang
dan kau lihat purnama mengambang
terang cemerlang.

***
mari, mari..! marilah mendekat
kita berlabuh, bersenandung kasih sayang.

Jakarta, Kuala Lumpur 27319



ANJING KESAYANGAN
Karya Romy Sastra


telah aku tarik rentang tali temali
berjarak jauh kupintal mendekat
nan terikat pada simpul pohon rimbun
akar mencakar di ujung kuku
tak melukai dada ibu

pucuk melambai menyentuh arasy
sebagai saksi laju perjalanan kereta
nan acapkali singgah di berbagai stasiun

ketika perjalanan usai
menempuh titian dunia
pengadilan menunggu di meja maha hakim
di sana terjawab perkara rahasia
nan bersembunyi sunyi
di lembaran hari

berkawan saja cinta
dengan dua ekor anjing kesayangan
kuberi nama Iman dan Tauhid
napas anjing setia berhias di setiap laku
tak melolong hanya diam
berbicara bisu

roda kereta berantai besi
rel berbantal baja
pergi bermusyafir membawa cinta
terikat di dada tuan si empu

dua peliharaan kesayangan bersimpuh
di atas sajadah membentang di setiap laku
pada jejak-jejak santri
menuju dermaga abadi

HR RoS
Jakarta, 10-01-2017


mengenang 22 Desember hari ibu pada milad di hari yang sama kepada mbak Retno Rengganis
DOA PUISI UNTUK IBU
Karya: Romy Sastra


Satu tangkai kembang rindu
kupersembahkan di akhir tahun ini
dalam keheningan malam,
aku sujudkan tubuhku ke hadirat kalbu
memanggil dalam iringi doa
ya Allah... sampaikan rindu ini kepada ibuku

"Ibu...

Telah jauh kaki ini melangkah
perih sedih bumi kupijak
namun nasib badan tak jua berubah

Diri ini telah bermandi peluh
mengais asa berkelana di lorong masa dan waktu
yang tertinggal kini lamunan pilu
di hari ulang tahunku

Aku tersadar ibu,
jauh lebih perih deritamu
yang pernah kau cabari dulu membesarkan anak-anakmu

"Oh, Ibu"
kala malam mata ini berurai sebak
teringat masa pahitnya deritamu mencari sesuap nasi untuk kami,
dalam kelam menengadah doa.
Bersujud,
ampunilah dosaku dan dosa kedua orang tuaku ya Allah.

"Ibu,
Di hari kenangan ini
aku menangis rindu
setumpuk pilu tercucur ke dalam napasku
kupandangi raut wajah tiranimu
menitis rintik bening di depan kaca
pipi anakmu juga telah keriput
menyamai raut wajahmu ibu

Doaku,
berbahagialah engkau selalu
di usia senjamu yang telah ranum itu

Ananda tahu,
andaikan gunung Merbabu jadi intan berlian
tak kan bisa membalas jasamu ibu.

Satu kesempatan
di hari ulang tahunku ini
kutitip larik puisi sastra untukmu dariku
air mata hiba berhentilah menitis
bergantilah dengan air mata bahagia
titip salam rindu padamu ibu
maafkan atas semua kekhilafan anakmu
'Oh, ibuku....

HR RoS
Jakarta 21-12-16



DARAH ALEPPO BERCUCURAN
By Romy Sastra


Negeri yang diberkati tak nyaman lagi
haru hiba membuncah di dada
ke mana luka kan diobati
perban putih tak cukup membalut darah
embun pagi berganti debu
angin berubah bunyi meciu
warna langit berkabut
jalan-jalan penuh ranjau
genderang perang kapan kan berakhir
sudahlah

Dunia diam,
doa tak mampu melebur badai berlalu
tangisan kian pilu
genosida semakin gila,
tubuh berbalut jubah diperkosa
bangkai tua muda jadi abu

Tuhan,
langit ini seakan runtuh
runtuhlah!
kiamat sudah terjadi
perang ini lebih dahsyat dari neraka
jeritan akhirat,
masih ada dispensasi amal terselip
jeritan konflik ini pelik, pedih

Bumi Aleppo hangus tak bertuan
penguasa-penguasa bermata satu
menciptakan gaduh
apa yang kau cari wahai dajjal
di tanah ini,
berdamailah walau sesaat saja
izinkan anak kami bernapas
memandang langit biru
kenapa kabut menyelimuti seantero negeriku
takut kami melebihi dari el-maut bertamu

Aleppo sejarah terburuk di tanah tandus
tak terdengar lagi
di telinga pemimpin berbudi
seakan telah tuli
seperti tak bisa bersuara bisu sudah

Aleppo itu kini berdarah-darah

HR RoS
Jkt,16/12/2016



BERLAYAR RINDU
Karya Romy Sastra


tutup saja lubang dunia
ia jendela penggoda
kenali rumah sejati
temui kematian
hingga wafat tak berkafan

makam diri bercahaya megah
nisan berasma cinta
tak lelah menggali tanah
liang sembilan pasungkan
getar nadi jangan hiraukan
hingga sesak sekejap jangan risau
di sana pintu maha hidup menyapa

bukalah dada asmara
leburkan ego di tiang ampunan
rengkuh rasa sentuh awas-Nya
Ia magnet menuntun usaha tak sia-sia
tak berjarak sedikitpun dari yang ada
bercumbu di setiap pesta
panggung kerlip tak berlilin
merona seperti purnama

bercinta kepada kekasih sejati
dalam kelambu rindu
detik-detik memandu laju
dengan kereta kencana tak berkuda
membubung terbang tinggi bersama ruh
bersayap aurora cinta
langit dan bumi bersatu di dagu
Ia menyelimuti ruang dan waktu

ingin tahu mutiara terindah
jangan takut dalamnya sagara
berlayarlah, hingga fana
telanjangi jiwa jangan bernafsu
biarkan bidadari menyapa menggoda

renangi saja tanpa ragu-ragu
pakai tongkat petunjuk jalan
biar tak tersesat bertamu
ke dalam istana tak berkaca
kemilau bertumpuk dalam tatapan
tak runtuh dihimpit nafsu
mandilah dengan tirta cahaya terindah
nafs diri pasrah bersatu padu pada tajali itu

HR RoS
Jakarta, 06-01-2017



TAHAJUD CINTA TANPA DOA
Karya Romy Sastra


sajadah tahajud terbentang
duduk tafakur
di bawah lindungan Ka'bah
aku membawa rindu
jauh ke ruang jiwa

sunyi sepi berkawan hening
pusarakan warna nafsu pada dinding kaca
lenyap tak bercahaya

si burung merak datang kepakkan sayap
menyusun Ya Hu ke dalam napas
unang aning unong berbisik pada sami'
bhasyiran
bertamu ke lahayattan qalbu

malam-malam indah bersama sunyi
tenggelam menyatukan diri
asyik rasa, fana menyentuh Ilahi
misykat kristal membulir tak tersentuh
seperti kejora di malam purnama
terhampar di padang Sahara jiwa

khair-khair berbisik dalam sami'an
khair bhasyiran bermusyahadah
tersusun dalam tirai mahabbah cinta
lembut halus melebihi seribu sutera

kacahaya menyapa tahajud
terpana indahnya kelambu kasih
bahagia bagi hamba yang selalu bersujud
rindu-rindu bersetubuh menyatu
bersatu padu

di bawah lindungan Ka'bah cinta
ada di wajah maujudullah
bersama tongkat alif menengadah kerlip
ada di malam-malam indah bersama-Nya

tahajud cinta tanpa doa dunia
meneguk telaga Firdausi
membawa kasih tuk sang kekasih
dalam pangkuan
yang tak mau di tinggal pergi

HR RoS.
Jakarta, 24-2-2016. 16,24



HARAPAN YANG GAGAL
By Romy Sastra


ingat masa kecil,
tersimpan cerita pahit banyak kenangan
berselang waktu yang sudah jauh berlalu
menelaah masa-masa kecil dulu
ketika dimanja-manja orang tua

di balik manja itu,
tersimpan raut resah gelisah
dari kedua orang tua
dalam keterbatasan ekonomi
yang selalu menghimpit diri
kala itu, canggung badan berhias tangis
semua gagal dalam hidangan hidup

yah, entah mengapa pagi ini
jauh di perantauan di sudut kota
kuluahkan perasaan ini
sekedar mengenang memo
telah jauh tinggalkan cerita pilu
seribu duka telah berlalu,
kini seribu tanggung jawab menghampiriku

di kaki ini, asa yang kuraih
di jalan yang berkerikil dan berduri
tak jua menghadirkan mimpi-mimpi indah
kucoba tuk selalu tersenyum,
tapi air mata selalu berlinang malu
aku telah melangkah di setiap kota
dan berpijak di pulau yang berbeda
berharap meraih asa tuk sebuah cinta
dan kepada mereka
serta berbagi untuk orang tua
tak jua asa itu merekah

ingin kuakhiri perantauan di kota ini
tinggalkan mimipi-mimpi semu
hidup bersama kedua orang tua kembali
walau yang kubawa dari kembara sebuah senyuman duka

ahh, lama sudah kampung halaman itu kutinggalkan
tak apalah,
setidaknya aku berada di tanah tumpah darah kembali,
menyulam asa kecil yang tertunda
di sana

mencoba tuk tegar menerima takdir Ilahi
terima kasih Tuhan
telah menghadiahkan suratan takdir
dalam opera hidup yang bermakna
kan kujadikan ladang ibadah

HR RoS
Jakarta, 06,03,17



TANGISAN DI TANAH MERAH
By Romy Sastra


Tangisku pecah di tanah merah
mengenang ayah terbaring kaku
di tengah rumah
kini ayah telah tiada

Ayah,
aku di sini
di pembaringan terakhirmu
menatap sedih
dengan bulir yang menetes

Oh, ayah
batu nisan itu
belum kami persiapkan
kembang setaman belumlah kering
aku mendekap ke tubuh makam
menitip pesan cinta rindu dan doa
ya Allah,
ampunilah dosa orang tuaku
lapangkanlah kuburan ayah
terimalah amal ibadahnya

Ayah,
satu tongkat semangat telah kau titipkan padaku
kini aku telah tahu rasanya dunia
sepeninggal ayah pergi meninggalkan kami
satu hati merintih di kesendirian sepi
mengenang nasib kami yang kau tinggalkan
kini kau telah terbujur
di ruang misteri
yang tak akan mungkin kembali lagi

Oh, Tuhan...
Semangati hamba
biar aku raih cita-cita ayah
yang dulu pernah dititipkan kepadaku
meski ibu selalu dirundung pilu
kami selalu mendekap dalam ceria
menghapus duka yang tak pernah sudah
di tengah rumah ini

Semoga darah tirani cintamu ayah
tegar menempuh asa pada kelanjutan hidup kami seterusnya

Amin ya Allah

HR RoS
Jakarta 17-2-2016, 07,45
Catatan kaki: sebuah puisi teruntuk keponakan Benni Slankers dan Randy sebulan kematian ayahnya.



TOPENG-TOPENG DEWA
Romy Sastra


intrik birahi kapitalis
mencengkram dunia

politikus dungu bermain catur
kalah strategi marah
pengamat ilmuan
seremonial teori saja

sang penguasa dan pengusaha duduk manis
jadi penonton sayembara
rakyat gelisah sudah

selir-selir tahta
seakan bertopeng dewa
semua berkoar benar
padahal hipokrit memalukan
yang penting kenyang tuan senang

para pecundang
ingin jadi pahlawan kesiangan
padahal ia intrik-intrik politik
gerilya berbahaya
untuk sebuah bangsa

barak-barak partai
menyusun konspirasi tingkat tinggi
bak si kecil belajar main petak umpet

gita cinta tanah air itu
hanya seni suara saja
seperti pertunjukan opera
pepesan kosong belaka

bung!"
di mana realiti janji itu
katanya,
amanah itu di pundak dewa mensejahterahkan rakyat
ternyata, hahahaha

anak negeri ini lapar bung
hasil tani dan kebun tiada harga lagi

negeri ini kaya
tapi kenapa kolonialis yang berjaya

putra putri bangsa ini pintar
tapi kenapa bisa dibodohin
uhhh,
emang dasarnya bodoh

coba pelajari sejarah
sang tokoh silam berjuang untuk bangsa
tak mencari keuntungan
malah berkorban jiwa raga

kini,
tuan-tuan telah berjaya
berjuang untuk rumah tanggamu saja
itupun jalan yang salah
kau korupsi di mana-mana

sang tokoh pahlawan itu kini
berduka di haribaan-Nya
di nisan tua

HR RoS
Jakarta, 14/2/17



JANGAN BAKAR CINTA DENGAN NAFSU
Romy Sastra featuring Dave Whitelee


Halilintar menggelegar
jauh di kosmik nan tinggi
Menyentuh geger jantungku
Aku bersembunyi di balik tirai
Takut akan bunyi guruh
Ada lubang selebar bola mata
Seakan mengundang rinai tiba-tiba

Pada kilatan netra lelaki borjou
Menggilas rusuh di wajah gadis desa nan lugu
Ia semakin jelas terlihat
Akan merampas permata belia
yang ia punya, aahh....

"Tuhan... kenapa dia kembali lagi?
Bukankah kemarin dia telah datang
Menyentuh sesuatu yang kumiliki
Apakah harum lulurku tadi pagi
Terbang melintasi kerajaan langit
Hingga pesonaku menebar ke sukmanya

Tubuh ini merinding gemetar
Takut dia menghisap maduku
Sedangkan pembimbing rohani
Menyemai fitrah pada nilai-nilai luhur

Berkhotbah di sana-sini
Jangan, jangan, jangan!
Jangan kau hinakan aku sayang
Sebelum ikrar noktah setia di persandingan depan pak penghulu
Kita berjanji sehidup semati

Cahaya netramu
Semakin menajam menikam mata
Aku seperti terkapar tatapan buaya
Mematikan semua denyut nadiku

Pijar-pijar api membawa kilat
Seakan membakar rumahku
Kenapa cinta kau bakar dengan nafsu

"Tuhan, tolonglah aku!"
Tubuh ini kaku sudah
tak berkuasa menepis gejolak asmaranya
Kuternoda di jalan berlumpur
Terkapar rayuan si dahaga cinta

Jangan rampas mahkota yang kupunya
Aku tak punya apa-apa yang bisa dibanggakan
Pahamilah aku anak desa tak berdaya
Tak silau dengan kerlip kota

"Oh..., tidak, tidakk, tidaaaakkk! Pekikku
Aku takut cinta bernoda,
Aku tak senaif yang kau kira
Meski aku merindui kemurnian cinta

Sedangkan nuraniku bertanya
Cintailah aku dengan hati suci
Jangan cintai aku dengan netra srigala

Risau jiwa pada praduga,
praduga nafsu cinta hina
Ya, hanya praduga cinta nan hina
Ketakutanku berlebihan
Semoga kau mengerti maksudku
Tak ingin maruah cinta kita ternoda oleh nafsu hina

Pada sinopsis cinta lelaki halilintar
Akan membakar ruang rinduku

Jakarta, Depok, 02,03,2017

* spesial untuk balasan puisi ibu Nunung Noor El Niel (Lelaki Hujan ) ide cerita Lelaki Halilintar.



RINDU KAMI YA RASUL


Ya, Muhammad
engkau diutus ke dunia
penyempurna akhlak manusia
dari sifat jahiliyah menjadi mulia
dari kegelapan menuju terang
engkau insan kamil
tercipta dari sabda Hu Dzatullah
sang utusan dari azali
hingga akhirat nanti

Rindu kami ya Rasul
dari risalahmu kami berpedoman
biar kami tak tersesat jalan
syafaat itu kami tunggu nanti
ketika amal kami tak cukup dalam timbangan
di Padang Masyhar

Beratkan nilai kebaikan kami
dengan syafaatmu
jangan sia-siakan harapan umatmu ya Nabi
berselawat seluruh jiwa untukmu
karena dari rahmat engkau ia ada
engkau kekasih dari yang maha pengasih

HR RoS
Jakarta, 18,02,2017
NB: 53, untuk buku bersama abg Ahmed El Hasby



PESIMIS CINTA DI SUDUT SENJA
Karya Romy Sastra


Aku mengenalmu
bukan sebuah mimpi
aku menyayangimu
bukan sebuah tarian ilusi
aku mencarimu
sesuatu dari rasa di lubuk hati
dan ingin mengenggam indah jemarimu
dan kecup keningmu

Jejak pesimis pada impian
dalam goresan maya tak berarti
untuk membuktikan kalau kita memang tak lagi sehati
kau yang menunggu kepastian
dari sebuah penantian cinta
yang tak ternantikan

Kau tunggulah aku di sini
di pantai memerah yang sarat temaram
demi menggapai sebuah mimpi akan terwujudnya sebuah janji
kalau memang nasib kan berpihak pada janji

Tuhan....
Izinkan aku memilikinya kelak
meski tanah retak
kaki berdarah pada jejak yang kupijak
memeluk dalam dekapan hangat
sebuah pembuktian,
dia yang selalu menyangsikan majas miris
majas yang tergores dalam hati yang pesimis

Harapan itu
ingin aku kembali ke pantai meski riak gemuruh
siulan camar bernyanyi
mewujudkan sebuah janji
harapan janji yang terealiti

Tuhan....
Aku ingin bersamanya
menata sebuah cita
dalam obsesi gita cinta di senja nan rela
berlayar bersamanya menghalau gundah
yang dia selalu dalam tanda tanya
pesimis harapan mengusik pilu
yang selalu mengganjal di relung hati
dan aku ingin membuktikan
kalau merpati itu tak akan ingkar janji
akankah Ilahi mewujudkan mimpi itu?
Entahlah, kasih....

Kisah yang terbangun dari goresan hati
berawal dari sebuah memori puisi
kasih terkisah indah
memerah di pantai senja jingga
senja yang kian temaram
dalam harap malam yang berpurnama
berharap purnama akan menyinari malam ini.
Duh, rindu....

HR RoS
Jakarta, 270217



MONOLOG ASA RAHSA YANG LARA
Karya Romy Sastra


Pigura tak terbingkai kaca
gambar lusuh terkanvas rona pilu
berjalan tak terarah
tersasar di jalan yang buntu
tersungkur di lobang yang berbatu
duh, sialnya hidup

Hidup bermandi duka
Cinta merona rindu
galau dimabuk asmara
terkapar terluka rasa yang tak berdarah
akhirnya kecewa itu menyiksa juga
gundah gulana,
mendung menggantung tak berpelita surya gerimis membasahi
tak menyejukkan hati

Aku payah meraih asa
akankah luka termemory kembali
menjadi story hidupku nanti

Kini lelah meraih rindu
"oh, rindu, bungkamlah!

Bungkam jangan memancing lara sukma hiba menyentuh rasa
Rasa yang telah kaku digilas waktu

Suatu ketika rindu tak pernah bertemu
aku rela mahligai hidup tak berpihak padaku
titipanku pada puisi rela untukmu di sana

Hanya salam dan doaku menyertaimu,
berbahagialah dirimu selalu di sana
biarlah sepi ini indah temani malam
sendiri bernyanyi dengan sebotol arak
mabuk melepaskan sesak semoga terkuak
Semoga esok pagiku cerah kembali
hahahahaa... rasa rindu yang telah payah....

HR RoS
Jakarta, 05,03,17



MENCARI YANG TERSEMBUNYI PADAHAL IA NYATA
Karya Romy Satra


Ainul hayat tak tersentuh
pada bulir-bulir sujud ruh
tutup saja pintu-pintu nafsu
pasrah fana mengintai kacahaya cinta
aku telah dibisikkan pada takdir
wilayah hayat hanya seumur jagung
setelah matang dipetik kering
biji bertunas pengganti tirani tumbuh
lalu tubuh menjadi debu

Oh, kerlip tasbih sujud pada senja
bak manik mutu manikam
secuil asyik kulirik cukup dalam
pada pencapaian tajali hati
untuk semesta menyentuh maha jiwa
menganyam makna sastrajendrayuningrat
menatap kerlip hanya sesaat saja

HR RoS
‪#‎Dalamtakbirsenja#
Jakarta, 05,03,17



GUGURLAH BUNGA
By Romy Sastra


Gugurlah wahai bunga,
bila embun malam tak cukup menyirami kelopak cinta
oh, rindu
telik sandi kasih bernoda debu
jalinan yang tak akan mungkin bersatu

Warta kasih nan abadibpada senja
diterima dalam kasta cinta suci
pada gesekkan kalbu menuai tasbih

Lajunya rindu semu telah berlalu
rebahlah dalam dekapan pilu
pada keutuhan janji
telah dijegal di lembah sunyi

Kularung saja bunga cinta suci
pada Ilahi Rabbi
berharap damai jiwa sepanjang hari

HR RoS
Jkt, 05,03,17



BERNYANYI BERSAMA GITA
By Romy Sastra


sepilihan memori dalam resonansi puisi
pada rasa tak bernada kukenali
gita kita masih bersahaja
memahami tarian tinta di meja kaca
kepada sepoinya angin menerpa sastra
sepilihan itu mengerti cerita senja
seperti dian pijarkan malam

hama-hama di pucuk daun berbenalu
kepompong merenda kelambu sutra
jangan terpesona pada warna pelangi
yang hanya sesaat menari titipkan misteri
ada baiknya kita lalui jalan berlumpur
memetik hikmah pada jejak berikutnya
untuk lebih waspada tak terjatuh di lobang yang sama

tarian ini masih gemulai
lenggok tinta di kertas tak berwarna
menuliskan satu kata seribu makna
mimpi itu sudah terobsesi oleh poetry alam
sang Maha larik taburkan aksara
pada langit dan bumi serta seisinya
tuliskan pada jiwa yang mengerti
menebar seuntai senyum pada sajak dan puisi

jangan menyerah wahai nahkoda
arungi gelombang dengan santai
biarkan riak menari menggusur pantai
camar-camar tak risau bernyanyi
masih ada gemulai nyiur melambai tersenyum menatap sagara nan membiru
bahwa pemandangan itu indah di sana
meski ambai-ambai tergilas gelombang
tak gamang dengan hadangan
sedangkan lembayung
masih sisakan harapan pada buih
tertitip dari terik menyinari

HR RoS
Jkt, 28,2,17



SABDA AZALI
By Romy Sastra


Empat anasir berpadu
menjadi koloni buat tubuh
Nur Muhammad telah dulu bersaksi
Hu Dzatullah
Asyhadu alla ilaha illallah

Segalanya bermula dari alam kosong
yang ada DzatNya
Nur Qun Hu Dzullah
di dalam kandungan Qun Nur Muhammad dari pada DzatNya

Berkuasanya Dzat kepada sifat
tidak Aku jadikan engkau wahai Muhammad
melainkan rahmat untuk sekalian alam

Berfirman Rabbani pada sifatullah,
teteskan air nuktahmu wahai NurKu!

Nur mani menjadikan cahaya putih,
kepada air

Nur madi menjadikan cahaya hitam,
kepada bumi

Nur wadi menjadikan cahaya merah,
kepada api

Nur maningkem menjadikan cahaya kuning,
kepada angin

Tiada kosong telah terisi wajibul wujud

Bersabda sifatullah:
iyakun kun jadi, jadilah engkau Jibril
penguasa bumi
Bersabda sifatullah:
iyakun payakun jadi, jadilah engkau Mikail
penguasa air

Bersabda sifatullah:
iyakun payakun jadi, jadilah engkau Israfil
penguasa angin

Bersabda sifatullah:
iyakun payakun jadi, jadilah engkau Izrail
penguasa api

Kepada Adam tercipta sebagai insan kamil
khalifah di muka bumi,
tiada upaya semua tercipta mengabdi

Adam papah tak memiliki daya
sabda Rabbani titipkan karsani kepada Jibril
karsani ditiupkan ke tubuh Adam
Adam berdaya,
apa yang ada di dunia menyerah
Idajil tak terima

Daya keimanan Adam pada keinginan
menjadikan rasa mecumbui nafsu duniawi

Karsani tertancap di ubun
tembus ke dubur jadi abu
berjalan di bumi Allah
gelisah tak berpenamping
dari keinginan tercipta Hawa
tempat bermanja dan terlena
sesungguhnya surga dan neraka itu
nyata ada di dunia dan di jiwa ini

HR RoS
Jakarta, 21/2/17



HARMONI SENJA PADA GARIS KHATULISTIWA
By Romy Sastra


Pada kemilau di atas mega
samudera biru membentang
sejauh mata memandang
tetesan hulu ke hilir di sela dedaunan
bersenandung alur ke muara
hijaunya pesona alam nusantara

Aku sibak tatapan jauh ke ujung angan
gemuruh ombak memecah karang
pasir-pasir berbisik di bibir pantai
menyapa camar bersiul dalam alunan riak
sunyi bernyanyi bersama riuh
yang ada decak gemuruh

Dahsyatnya sebuah keagungan
dalam simphoni harmoni senja
mendekap dalam kearifan alam nusantara
di ring road khatulistiwa

Pada peradaban nusantara,
mimpi-mimpi indah menjelma ke dalam tahta
dari magis rimba pertapaan bunian
sang punggawa pun ikut bertapa kedigdayaan
untuk sebuah keutuhan pagar betis
demi sebuah kejayaan jawara
mengukuhkan kekuasaan di titik batin
berjayalah sebuah budaya lama
lestarikan peninggalan itu
dalam kearifan indahnya mayapada
Alam asri museumkan di hati kita
bersemilah cinta kuntum jadi mekar
di bumi kathulistiwa ini
antara Melayu Indonesia
Malaysia, Brunai, dan Singapura

Selamat sore dari Jakarta

HR RoS
Jakarta, 23-2-2016. 15,30



DAULAT TUANKU RAJA-RAJA SENUSANTARA DARI TINTA MAYA MENYAPA
By Romy Sastra


Khayalku membubung tinggi
jauh ke balik awan
senja ini,
pada sebuah tahta
di negeri antah berantah
negeri yang dipertuan agung
oleh tirani history

Pada sebuah amanah
dari rumput-rumput di balik tembok istana
indahnya tirai permaisuri berkilau kaca
pigura klasik menarik di dinding mewah
potret-potret tetuah raja tersenyum gagah di bingkai berlukis permata

Kelambu berpayet manik-manik eksotis
beraroma kesturi
sang permaisuri bersolek glamouris
seperti bidadari-bidadari cantik
bak bunga mekar di kala senja

Panji-panji berkibar di seantero negeri
lambang patriot jati diri di istana, lara
singgasana melukis aksara sangskerta
pada relief-relief kejayaan tempo dulu
raja tersenyum indahnya mahkota di kepala

Lamunan tuanku nan berbudi
melaju ke balik awan
memikirkan nasib hidup rakyatnya
yang kian tersisih

Sang yang dipertuan agung
daulat tuanku,
seperti masa bodo saja
rumput-rumput hijau di taman hati
di beranda istana menari indah
seperti kembang mekar yang belum jadi
tak tersentuh si kumbang janti

Rumput-rumput ilalang meradang
menyambut tetes-tetes embun
tak kunjung datang
disapa telapak kaki sang penguasa
burung-burung kenari berkicau elok
iramakan melodi cinta
dalam alunan kesadaran rindu
dari perjamuan tahta tuanku

Pada negeri seribu budi
memandu indahnya kemesraan
nyanyian sapa surgawi
yang hidup di padang ilalang
gersang selama ini
tak mati dibakar matahari

Cucurkanlah rasa cinta buat kami
wahai yang bersafari
meski tak kau bawa emas berlian
melekat di tubuhmu tak kau bagi
kami tak meminta kilauan permata
yang kami inginkan tunaikan janji
amanahlah jangan korupsi
jangan jual negeri ini

Hormat untukmu paduka cinta
yang kami butuhkan kini
senyum mesra dari paduka raja
bertaut menyapa bersama kami
berkelanalah jauh ke beranda marjinal
dari megahnya istana itu
kami ingin kemesraan langit dan bumi

Dalam diksi melodi syair senja
fiksikan khayalku ke istana nusantara
bumi pertiwi titipan Ilahi

Dikau raja berjubah setengah dewa
syair ini kupersembahkan kekaguman
dalam madah seuntai syair rela
menyapamu dari Jakarta
untuk sang mahkota di mana saja bertahta

HR RoS
Jakarta. 21-2-2016. 16,55



OPTIMIS
By Romy Sastra


Dalam lamunan
kuhayalkan tentang diri
berteriak dalam ruangan kosong
desahku lirih mencibir bayangan semu
teriakin kebodohan

Dalam sadar kubuka pikiran
Pikirkan tentang jalan hidup
untuk menerobos onak belukar
kegundahan diri selama ini
gundah dalam bayang-bayang ilusi

Tersadar diri
memegang teguh jalan hidup
menjalani realita hidup dari-Nya
napas napas optimis kuiringi memandu
mengabdi ke jalan Ilahi gapai ridho-Nya

Canda tawa selama ini tak seindah kubayangkan
tak lagi menghibur lara
banyak sudah kebenaran Ilahi dilalaikan
pecundang sudah bersama lelah

Pagi bersama terik tatap masa depan
menutup bayangan semalam
jemari menyusun pertanyaan sastra
menulis dalam syair
walau terkurung dalam tanda tanya
di ruang penuh misteri
tetap jawabannya
aku akan menganyam realiti
untuk meraih impian
membentuk kepribadian

Tak selamanya malam itu kelam
bersujud dalam kesunyian di keremangan
mengadu kesilapan diri
menghalau kegundahan
semoga gelisah berlalu pergi

Dalam doa
menengadah mencari cinta-Nya
mencoba memacu semangat mencintai-Nya
berharap dicintai-Nya
dan mencintai yang di sampingku juga
mendekap tanpa melukai kasih sayang
hidup indah bersama cinta

Dalam goresan optimis ini
semoga maha karya puisi
tak sia-sia memaknakan cinta
oh, diri. Mengertilah!

HR RoS
Jkt,19/2/17



JEMBATAN KUBANG NYANYIAN JIWA
Romy Sastra


i
tirani adat dalam kaum bergulir kepada zaman untuk peradaban tak bertuan, generasi dimulai dari sebuah ekspedisi para tuanku, alam berkembang disebabkan pecahnya kearifan istana di tungku tiga sejarangan dalam percaturan kekuasaan di tangan raja yang terkudeta oleh konflik aturan dalam kekeluargaan melahirkan keturunan ke berbagai seantero bumi Melayu

ii
Bayang sebuah negeri ekspedisi tuanku raja penghulu adat membawa empat suku dari negeri Solok Alahan Panjang, titipan tutur tuah tuanku di bawah panji adat istana Pagaruyung Minangkabau

iii
dendang indang nyanyian penunggu rimba bersahutan di hulu, si bunian melestarikan budaya pada kearifan alam, jagalah hutan dengan cinta, jangan tergerus titipan penguasa alam pada kelangsungan hidup akan terus berlanjut, yang menimbulkan bencana tiba-tiba, rusuh aliran air bergemuruh banjir bertamu mengalir ke tepian menuju samudera, risau tertumpah di dada mengingat ikatan jembatan jangan terlepas oleh hempasan deburan air bah

iv
si bujang tertegun dalam igauan
kala lamunan menyentuh kasih memadah kisah di atas aliran air batang Bayang di jembatan tua, ketika petang telah tenggelam, kumandang azan menabuh segala ruh, sujudkan diri menghadap Ilahi, senja berlalu, kita yang pernah bernyanyi lagu-lagu kenangan di jembatan itu,
nyanyikan tembang jiwa di kala senja menjajah malam menikam kelam, remang kisah hidup duduk si anak bujang petik seruling bisu siulan dungu, bahwa tepian jadi saksi cerita yang tak pernah sudah

v
batang Bayang dalam nyanyian jiwa
dekade telah berlalu sisakan selaksa cerita pada jembatan tua, bahwa di sana kisah bercumbu, sepoinya angin malam menatap kejora malam di dada langit,

vi
kawan,
lihatlah titian yang terpilin oleh arus bah, teronggok sudah jadi sejarah zaman pada regenerasi titian sepintas berlari ke seberang dan titian ini pernah kita lalui bersama, ya, cerita kita pernah tertitip di sini, kisah kita bukan cerita semusim,
tapi cerita yang pernah mabuk dengan kecubung, sebatang rokok filter dan dengan sebatang tebu yang pernah kita ambil di jalanan, ada cerita tentang dunia ini indah dan tentang ikrar asmara cinta yang membuat semangat muda mudi bergairah menatap langit pada purnama mencumbui si pungguk yang merana

vii
kepada malam yang dingin di ujung jembatan kita berjuntai, petikkan gitar tua, bahwa dalam sebuah irama lagu kisah kasih di sekolah masih terasa indah hingga kini

viii
ah, kau cerita yang tersisa pada negeri yang kucintai, dari titipan leluhur pujangga adat dari istana berkelana membawa peradaban zaman ke negeri Bayang,
Kubang nan denai cinto

HR RoS
Jakarta,16217



MENCARI MAHA KEKASIH
By Romy Sastra


Tapa lingga yoni ning hening
lebur terkubur bermandi peluh
mencari cinta sepanjang permana
memuji menempuh kematian di dalam hidup
dalam gulungan ombak beriak tak bertepi
mencari-Mu

Bilangan napas di tubuh gemuruh
bertanya pada sami' lonceng berbunyi
membuka pada tabir bashir
sepasukan kerlip bertamu
jubah Jibril menyelimuti dunia
gigil terpana diri diam tak berucap

Rasa bisu menyentuh kalam
bawalah daku mursyid ke langit tertinggi
kasta-kasta mewah ditempuh
pada tujuh pintu neraka kau tutup
membuka tujuh pintu nirwana
terbuka tirai maha kerlip
menyentuh segala sukma
tauhid berdiri di Baitullah

Salaamun qaulam mir rabir rahiim
salam sejahtera untukmu wahai pendaki
di sini pintu rahmat Maha raja bermula
daun-daun berguguran
netra dunia padam netra batin menikam

Memang pendakian ini
belumlah sampai jejak langkah kau daki
ini masih alam cahaya
leburkan saja kerlip jingga itu
jangan bermain rona
itupun masih rupa nafsu
matikan dirimu hingga fana
kan kau temui yang kau rindu

HR RoS
Jakarta, 15/2/17



AKU TAK SEHINA YANG KAU DUGA
By Romy Sastra


kuakui,
kau sangat berarti
karena diriku tak pantas kau cintai
meski terperap dalam harap
ingin damai bersama kekasih
duhai cinta,
dikau tak seindah yang kubayangkan
cabaranku terkikis oleh keraguanmu
aku sang kelana tinta
sadar,
hanya bermajas-majas duka

goresan sang musyafir syair lara
berkongsi ke alam maya
sebagai seniman yang ketinggalan kereta,
puisiku bukan tebar pesona
kepada bunga-bunga yang indah

ia melukis kongsi dalam bingkai
satu dunia satu hati satu jiwa
berkoloni dalam ukhuwah manusiawi
membuat sejarah hidupku
meski ia bias ditelan mimpi
andai tak dihargai
tak apalah

berharap,
setia satu hati memahami seni
tak melukis kontradiksi
pahamilah sebuah luah tinta sastraku
dalam kearifan budi yang bersahaja

presepsi hidup,
aku tak sehina yang kau duga
hidupku bermaruah
genggamanku erat melekat
meski genggaman ini,
bak batu karang yang selalu menghadang
dia juga bisa lebur oleh deburan

kasih,
aku memang tak sempurna
hanya mampu memadah noktah cinta dengan sastra
tak menjamumu dengan hidup berlimpah
dan tak layak diperjuangkan ke dalam arena hidupmu
berkaca diri dengan rasa
aku bukanlah pemimpi hati yang gundah
memanglah larik-larik tintaku adakala lara
dan memang nasibku jauh dari kata sempurna

aku kan selalu tegar berdiri,
dalam batas-batas jejak langkah
tak tergerus oleh badai
tak hancur digulung ombak
selagi langkah kaki dan rasaku dipahami
meski pasrah dijajah
tapi tak rela kesetiaan ini dihina

biarlah kini,
hari-hari kosongku
bersenandung sastra
untuk mengisi lembaran putih
jadikan memori
meluah obsesi yang telah jauh pergi meninggalkanku

kini,
aku mencoba merajut sepi
berkelana dengan rasa
berkawan dengan tinta
hidup dengan realiti
berkasih dengan satu hati yang terkini
bercinta sampai mati
meski hidupku merenda-renda imaji saja
biarlah kau gugur bunga-bunga senja
nan merona indah di sana

HR RoS
Jakarta, 13/02/2017



SI MISKIN BERCINTA
Karya Romy Sastra


Si miskin bertanya,
ke mana akan dibawa pohon cinta
yang telah lama berbunga ungu
arah rindu telah kelabu mendekap pilu
berbuah malu

"Oh, mendung
mendung rindu yang tak lagi menentu
langit sebak menutup gejolak di dada ini
lilin hati kenapa padam, nyalakan kembali
jangan kelam bermain diam, kan tersasar arah realiti yang selalu menanti

Kasih,
telah tinggi aku pacu semangat berlari
mengitari hari mencari sesuap nasi
mengejar obsesi meraih impi
namun nasib tak jua berpisah
dari badan diri.

Masa bahagia nan pernah singgah
menyapa beranda asa sekejap berlalu
dan sayangnya seketika sirna tiada tersisa

Kuterpaku bertanya dalam hiba
ketika cinta tak rela berdiri di jalan yang licin, berlalulah dari arah itu!

Di sana
jalan berpita merah
berpermadani indah terbentang
menuju istana noktah bermegah
hidup dalam kasta yang mewah
aku berdoa rela untukmu
berbahagialah bersamanya
Bibir menjadi saksi lirih, secebis kemesraan menyulam angan yang bermain di ujung mimpi semalam kian kelam
bias kisah semu tak berbuah setia
rasa yang tersisa ini kelu sudah ke dalam bisu

Biarlah bayangan diri jadi penonton
dari bilik sunyi
menatap paranoid kasih yang tersisih

Biarkan kudekap angan yang rapuh
merestui kebahagiaan bersama yang lain
berbahagialah hendaknya di sana selamanya

Kasih,
hapuskanlah cerita cinta yang pernah mengisi ruang hati ini
kala bersamamu dulu,
aku rela dengan telapak tangan sepuluh jari
menyerahkan semua takdir ke meja berlapis sutera di ruang jamuan kasih yang dia sediakannya

Dalam kasih yang tak sampai
kearifan cinta yang pasrah berdamai saja pada kekalahan si miskin bercinta

Gubahan rasa yang terakhir ini
dengan tinta merah kumadah goresan luka
mengusap derai air mata
yang membasahi duka hidup
yang kian menganga

Doaku,
berbahagialah dikau di sana bersamanya.

HR RoS
Jakarta,10,02,17



MENCUMBUI LARA
Romy Sastra


"Ohhh...

Di awal malam hadirkan rasa rindu
sunyi mulai bernyanyi di lorong-lorong parit, parung jangkrik senandungkan kidung malam,
si anak kecil mengintip celah parit
kejepit kalajengking menangis pada wajah yang telah membiru
duka negeriku terhantui, percaturan politik gerilya di barak-barak rahasia, bak bom waktu meletus sewaktu-waktu, aahhh....

Pagi nan lara yang tak beralamat, seduh saja gelas putih tak bergula
yang biasa hitam berasa manis, dahaga terbeli meski otak tak ternutrisi inspirasi, sebab, kopi telah bercampur menu doktrin sianida di atas taplak meja menatap warta jurnalis tak lagi berimbang.

Dalam lamunan nan lara, sang marjinal menuang imaji hina
berceloteh pada pena kanvaskan perasaan yang tak bermakna dalam maya ini, tepuk jidat tuan nan berdasi si buta hati di jendela kasta tertinggi, karena nasib bangsa telah terjajah oleh benalu serakah.

Semalam merindu pujaan di balik awan, tak nampak mahkota kerlip di langit, iklim masih bersahabat pada koloni hitam,
si mayang menjauh tinggalkan kemewahan
tak ingin bersolek pada keindahan yang semu, hatinya telah lara tak lagi mau dicumbui.

Oh, kau yang di sana, di meja yang sejuk, berembun tak membasahi.
Aku di sini, kirimkan alunan puisiku bernyanyi ditingkah hujan, embun berguguran di dedaunan
pagiku selalu menari menghiasi kertas menghibur hati, karena jejak kaki berlumpur di depan rumah, nikmati saja sepotong roti sisa kemaren petang.

Aku memuja kedamaian pada sukma bermain tadi malam bersama kekasih pujaan
telah kutumpahkan pundi-pundi rasa ini,
nyaris tak tersisa dan ternyata kemesraan semalam menutup kemesraan duniawi, kemesraanku hanya di sajadah religi.

Kelembutan telah kupasrahkan mengaliri rasa sayang
rasa sayang itu kepada budi yang bersahaja.

Dalam sunyi mengobati letih, menjalin perasaan di kesendirian
'tuk isi hari-hari dengan kewaspadaan
dan menghadiahkan kebahagiaan walau hanya dalam sajak dan puisi
rela lelah walau bait-bait ini tak dimaknai.

Harapanku, semoga yang membaca tidak gelapkan hati tentang madah nan lara
yang kita kan sama-sama lara walau irama berbeda,
aku berbagi, walau hadiah ini dalam sebatas senyum diksi untukmu,
walau tak dihargai tak apalah
dan aku kan selalu tersenyum mesra
bersama sastra.

HR RoS
Jakarta, 11,02,17



TEROPONG BATIN BERDARAH
By Romy Sastra


Wahyu tertutup sudah di garis batas ambiya
tak ada lagi warta hakiki selain sabda
petuah wali keramat nan bertuah
bisu di pusara mimpi
adakala wangsit dipercaya

Jibril tak turun lagi ke muka bumi
membawa pesan ILLAHI
setia saja pada titah awal berlaku
sunatullah

Khidir masih bertapa bisu
di garis pantai tak bertepi
memandang sagara lepas tak berujung
pusara segitiga bermuda dahaga sudah
memuntahkan lahar api ke seantero dunia
teropong batin berdarah

Semalam,
seribu satu lafaz kukirimkan ke langit
langit mendung,
gumpalan awan hitam menyelimuti malam
rinainya berdarah di bumi nusantara
adakah gejolak di depan mata
bom waktu meledak tiba-tiba?

"Ah... resah,
biarlah takdir mengiringi pelangi
semogalah tumbuh benih-benih pemimpin
yang memayungi buana
cakrawala pagi menyinari dunia kembali
di negeri pertiwi tanah emas

Pertapaan rasa puisiku berharap
koloni awan hitam rinaikan darah
tak menatap lagi
bersinarlah wahai dunia....

HR RoS
Jakarta,17/01/2017



FLASHBACK
By Romy Sastra


Seiring berjalannya waktu,
hari bulan dan tahun terus melaju
sisakan detik sejenak balik ke belakang
buka tabir memory masa lalu.

Pada suatu tanya dalam lamunan, teringat semua sahabat
di mana daku temui sahabat-sahabat itu
yang dulu bernostalgia seperti si Bolang
pernah bercinta bagaikan kupu-kupu malu
masa lalu merayu berkirim surat kepada pecundang dikibuli, surat tak pernah sampai ke tangan si pujaan, malah disembunyikan
dan kini kurindu sahabat di muka buku ini.

Untukmu sahabat yang di ambang senja
kepada cerita yang belumlah usai
dengan sebatang rokok dan ponsel kugenggam di suasana santai
menatap seperti sayup-sayup sampai.
Siapakah ia gerangan dalam sampul lembaran maya, satu persatu berjuntai di dinding kaca.
"Ah, nyaris aku tak mengenal
wajah-wajah yang sudah keibuan bersolek bergaya bagai seleb dengan senyuman.
Di balik kerudung nan imut
telukis wajah berangsur tua keriput,
entah untuk siapa wajah yang keriput itu?" Entahlah.
Didandannya diri seperti bergaya muda, padahal tak muda lagi.

"Oh, sahabat maya yang di sana
dikau dulu dara cantik menarik,
kini meranum nyaris layu sulit dikenali
hanya daftar nama pada netra buta meraba mengenalmu lewat rasa, adakah rasa nan lama bisu tersentuh.

Aku tersenyum nakal, tak terasa bulir-bulir air mata bahagia menetes di remangan hati di musim hujan menuju pancaroba ini, dudukku bisu bercumbu pada imaji, dan dinginnya senyumanmu pada umur yang beranjak sepuh sama sepertiku, aku terhanyut akan masa lalu, masa lalu dan waktu yang tak bisa diputar lagi.

"Ohh, sahabat, aku sadar kini!" Stuasimu sama seperti aku, ataukah keadaanku yang jauh di bawah standar gaya, karena pelita dunia tak menerangi jalan hidupku. Walaupun begitu, aku tetap bersyukur pada maha pencipta yang telah memperjalankan roda nasib, sehingga nasib ini indah kurasa dan meski kita tak pernah berjumpa, aku semakin larut dalam sedih senja ini, biarlah.
Sebab, rama-rama tak lagi menari
di taman-taman cinta telah gersang, kerontang oleh kemarau nostalgia yang tak lagi bernyanyi, seperti diulit mimpi pada bayangan kisah yang kian terjepit, memang nasib kisah kita berbeda.

"Sahabat maya yang di sana"

Aku takkan menemukan lagi
canda tawa itu, semasa gurau bercampur rayu dan kadang pertengkaran kecil menghiasi celoteh parung-parung murai bernyanyi di masa lalu,
dan teramat sedih lagi, ingin rasanya kugapai semua memory itu satu persatu
itupun terasa berat, satu saja berat rasanya kuwujudkan tuk menemui Realiti pada flashback kita.

"Mmm ... kutarik napas ini dalam-dalam, memang sudah jauh berlalu memori itu.

Di irama dunia yang berpacu mengejar asa menjaga maruah,
testimoni telah menjadi sinopsis diksi pada prosaliris,
bahawa kita telah punya tanggung jawab yang berbeda dan terpisah di kota dan daerah yang jauh di sana-sini
hanya ungkapan rindu akan masa lalu untukmu sahabat berbahagialah kalian semua di sana, ya di sana.

Kini, kita sama meniti asa di arena yang berbeda
aku titip pesan, mengabdilah pada cinta yang memelukmu saat ini!"

Dalam hayal ini, kuhentikan keterpakuanku tuk mengenang masa lalu itu
berkaca menatap langit dalam keremangan mendung, ruang itu pekat
berkaca pada bayangan diri menari kausalis bayang dari asal berdiri
tersadar, esok bersama mentari bersinar kembali
kan kugapai cita raih asa di dalam rumahtangga di masing masing kita.

Sahabatku, di mayaku!
Sekali lagi, doaku untukmu, mengabdilah sebaik-baiknya dalam cinta
ciptakan rumahtangga yang SAMARA, Sakinah Mawaddah Wa Rahmah demi mengapai ridho-Nya
karena di pundak kitalah
pelanjut tirani darah
keturunan sejarah orang tua berbenah
semoga maha karya tirani darah kita
bermakna sepanjang sejarah
dan menjadi sebuah nilai kebanggaan pelanjut generasi berikutnya untuk keturunan zaman.
"Oh, sahabat....

Semoga saja, wassalam

HR RoS
Jakarta, 08/02/2017



KABUS RINDU BUAH HATI DI KAKI GUNUNG LAWU
By Romy Sastra


Bias-bias embun pagi
tak kunjung kering di dedaunan
kala senja menyapa
alam tertutup kabut mencekam
berselimut bayangan kelam

Nun yang jauh di sana
dari kesibukkan ibukota
lamunan bocah di kaki gunung Lawu
di gubuk itu,
tatapannya pada langit rumah selalu bertikai
kenapa pengap tak ada nada memanggil
dari ayah yang selalu dirindukan

Kau si bocah telah remaja
tumbuh tanpa dekapan orang tua
yang selalu ditinggal pergi
pada jemari noktah mengitari jejak hari untukmu
di lorong-lorong kota termamah asa
ayahnda bersenandung lirih di kala senja lewat maya

"Oh, awan yang berarak di cakrawala tinggi
kutitip si buah hati dalam wilayah Brawijaya
dengan tinta madah pujangga
tembangi kearifan rasa bersimponi
dalam aturan budaya sang prabu
di gunung leluhur itu

Di kaki bukit yang asri
si buah hati kutinggalkan dalam jalinan cinta
menjelang dua dekade kau kini sudah remaja

Putra itu,
kala siang bermain berlari
mengisi hari menutup sepi
pada senja menyapa
dikau bermuram durja,
bertanya sendiri jauh ke dalam jiwa
di manakah ayahku kini berada
yang tak kunjung kembali

Ketika pikirmu tak terlerai
bulir membuncah di pipi
mengalir ke sudut bibir, "uhhh....
Matamu terkatup lirih
ke mana kan kucari ayah bunda yang jarang ada di rumah ini

"Ayah, Ibu

Dikau penuntun penerang jiwa nan sepi
kembalilah!
Terangi rumah ini dengan cahaya cintamu

Seringkali padi di kampung ini berbuah
di tepian jalan menurun mendaki
di tangga sawah tersusun indah
gontai langkah kaki kala pulang sekolah

Ananda,
acapkali tersenyum menatap pelangi
kala senja menghias di kaki gunung Lawu
sendu tiba-tiba membuncah lara
gerimis di hati leraikan tatapan senja
pelangi malu dan redup tertutup kabut
Dendang rasa rindu
bukan senandung semusim saja menghampiri
tapi sudah lamunan hari-hari

Padi itu selalu menguning
silih berganti dituai petani
ayah, kau tak jua kembali
tinggalkan seribu kota itu
yang telah kau lewati, kembalilah ke desa
di desa kita pernah berlari
mengejar capung-capung
menikmati gigitannya di jari kecilku ini

Kembalilah pelita jiwa
oh, ayahku!"
mentari sudah meninggi
menara pucuk bambu merayu memanggilmu
temani ananda sekali lagi
biar kudekap kau erat-erat di rumah rindu

Testimoni dari rintihan si putra di balik telp,
kala senja menyapa ayah bunda

HR RoS
Jakarta, 6-2-2016. 12,45



DI BAWAH POHON KAMBOJA TUA RINTIHAN LIRIH
By Romy Sastra


Bulan sabit telah menggantung
di balik pohon kamboja
tanah merah belum digali

Perjalanan diri
telah berada di ujung tanduk
sadari,
untuk menempuh ujung jalan
haruslah melalui pangkal jalan
pangkal jalan yang terdekat itu
adalah diri sendiri

Ketika dahan beringin tua patah
tunas-tunasnya berganti,
akar bertaut menjalin tirani
dan ketika daun-daunnya berguguran
bunga berputik tak menjadi layu
siklus tumbuhkan kembali

"Oh, misteri?
Jangan bayangi mimpi dengan el-maut
izinkan aku Tuhan hidup seribu tahun lagi
beribadah sepanjang napas memandu
bila el-maut kan bertamu,
kembang setaman dan air doa kasih
shohibul bait persiapkan cangkul
ke tanah merah yang siap siaga menggali

"Oh, misteri?
Bukan puisi ini memanggil nan ditakuti
bukan juga doa sebelum takdir merintih
aku masih punya cinta untuk sang kekasih
jangan kau ulit aku
dengan mimpi-mimpi misteri

Di bawah kamboja tua
lamunan terpaku sendu

Diri?
Adakah amal ibadah kau dekap
selimuti arwah tidur panjangmu di sana

Ya Illahi,
izinkan hamba melafazkan seribu istighfar
di setiap lengah di dalam jiwa ini
biar tak sia-sia hamba dihidupkan kembali
lautan dosa keringlah!
jadikan telaga amal surgawi tuk bermandi

Ketika doa tak terkirim kepada Illahi Rabbi
sesal dirundung duka tak berkesudahan
tangis lara tak henti di sana selamanya....

HR RoS
Jakarta, 05-2-2016, 00,00



MONOLOG KACA DIRI
By Romy Sastra


Jangan bermain rindu pada kunang-kunang
kerlip cahayanya sekejap redup
bercintalah sepenuhnya pada kekasih realiti
kan didapatkan kemesraan hakiki

Bersolek pada bayangan kelam
rupa abstrak fatamorgana diri paranoid
bercerminlah pada rasa
biarkan jiwa mencari jawaban terindah

Jangan berkaca pada riak ego memandu
kan terjatuh malu di kolam berlumpur
berkaca pada cermin retak
wajah nan rancak nampak berserak

Mengukur diri jangan pada bayangan
takkan didapatkan jawaban nan pasti
malah ia dikejar semakin berlari

Tersenyumlah sedikit pada nasib
meski himpitan menjerit
misteri takdir adakalanya tersenyum manis

Singsingkan lengan hadapi dunia
jangan lari dari kenyataan
kehidupan berlanjut pada bibit
jangan berhenti sebelum finish

Tataplah dermaga jiwa
layaran berlabuh membawa sukma
jangan layu menatap hati
mentari batin tak pernah redup menyinari

HR RoS
Jkt, 01/02/2017



TERLARUNG SEBAK KE DALAM RIAK
By Romy Sastra


Ketika perjalanan teriris bulir
mencoba merayu bunda dalam letih
duh,
sudah terlukis di dinding history
di kancah diri memeluk sebak di hati.

Darah permatamu pergi
pergi dan pergi menjauh
tinggalkan beranda rumah ini
di tengah hari,
terlarung sebak ke dalam riak
crystal membuncah
tak tertahankan di sudut mata.

Ya, Illahi

Hamba larung doa yang rela
keharibaan jiwa
langkah musafir yang semakin terkikis di tanah tandus
hamba ingin setetes embun membasahi
ampunan kasih-Mu ya Rabbi.

Perjalanan ini semakin menepi
ke ruang senja
memohon pada-Mu ya Allah
Izinkan hamba kelak berjumpa
ke tanah bunda kembali,
mengetuk jendela usang terpampang dari kecil semenjak ananda dibesarkan hingga kini,
berharap dalam opera permata yang selalu menghalau sedih jadi ceria.

Meski jiwa dan hidupnya bertabur derita
yang disimpan dalam peti rahasia hati
tak boleh sesuatu pun yang kan mengetahui
selain aku dengan-Nya

Sehatlah bunda...

Bunda,
jalan ini masih kujejaki
samudera itu masih kurenangi
sekiranya dermaga beranda rumah
di hari raya nanti ananda tak kembali,
pintaku, maafkan aku ya bunda"
ketika burung bangau terbang tinggi
tak kembali,
bukan ia tenggelem ke lumpur yang dalam
melainkan masih mencari bulir-bulir berlian
walau terkilau hanya bayangan saja.

permata dalam doa
membangunkan azali bercahaya indah
bila masanya ia akan kembali menatap beranda tua
menitipkan kanvas warna ceria
bercumbu mesra
dalam gita ananda dan ibunda
serta keluarga semua di tanah tumpah darah
meski usiamu bunda,
berangsur ke ujung senja,
tak alpa doa menengadah di atas sajadah lusuh
menyapa ruh
bukti bakti ananda pada history
nan tergurat di pundak renta yang telah pasrah pada misteri.
Tersenyumlah sekali lagi bunda, biar doa-doa ananda lerai di batin yang sampai....

HR RoS
Goresan dalam kenangan
perjalanan jalan raya Painan - Padang, ke destinasi Jakarta 29-1-2016. 14,28




SAJAK JEJAK MEMORI
By Romy Sastra

Wahai angin nan berhembus lirih membawa rindu pada daun-daun kering, di sini bisu menatap gemulainya ayunan layangan, hampir saja debu menutup netra nan layu, hanya cicitan sriti menyapa di ketinggian, kembalilah pulang wahai rama-rama menari, hari telah petang.

Siulan camar di pantai memanggil gelombang riak bergoyang menepi, dia yang ingin kembali mencari jejak memori, ambai-ambai tenggelam tertinggal pada kenangan silam, bahwa pasir tak lagi putih.
Sinopsis kasih nan usang menitip seuntai sajak lara, pada tinta yang hampir pudar warnanya.

Kepada senja di bukit cemara, bulan enggan titipkan pelita menerangi mayapada, dada langit masih mendung menyapa malam,
ironis, rinai telah jatuh duluan basahi pipi, bahwa kehadiran asmara nan berlalu hanya fatamorgana.

Dik, Januari terakhir tahun ini
sisakan harapan pada Pebruari,
jikalau bianglala tak lagi berwarna pada senja, bukan berarti lembayung tak disinari aurora cinta.
Lihatlah dik, gugusan kasih masih menari pada senyuman rindu yang terabaikan, ketika kasih berbunga mesra kembali di jemari ini jangan lengahkan, tatap mataku! Masih ada diary kita merupa, dan
sentuh juga dada ini, masih berdebar menyebut namamu.
Jika Pebruari nanti masih mendung, hujan turun kembali. Jangan embun ditumpahkan di daun nan layu, biarkan kearifan alam menyuburkan dendam rindu tak kunjung sudah untuk kita, menyirami gersangnya laju yang pernah kita lalui.

Dikau yang ingin kembali pada noktah hati yang tersisih, oleh cabaran nan pernah kau hidangkan, kau memilih aku dan dia, kembalilah dik! Ke jalan yang pernah kita rintis berdua, tautkan hati, genggam erat jemari kita, tak ingin berpisah kedua kalinya.

HR RoS
Jakarta, 28/01/2017



MIHRAB CIPTA KEKASIH
Karya Romy Sastra

Hu Dzatullah,
saksi kekasih menatap maha kekasih
tercipta cinta seperti burung Ta'us
memuji tunduk pada Rabbani
segala yang ada bertasbih
bersaksi pada titah azali berdiri
sujud menghadap mihrab cinta

Nuktah tertumpah jadikan,
madi wadi mani manikam
anasir sahabat itu

Ya Jibril kepada bumi
ya Mikail kepada air
ya Israfil kepada angin
ya Israil kepada api
Pancar memancar sinar rahmatan
bersembunyi di qolbi
jangan jauh-jauh mencari Ilahi
cukup kau mati di dalam hidup
kan dikenali megahnya istananing hati
bersemayam segala rahsi

Sesungguh jalan pulang tak jauh ditempuh
rentan waktu seujung kuku

Tiba-tiba kematian jasad datang menyapa
El-maut marah-marah
takut?" Iya
apalah daya tak tahu jalan pulang
sesat alang kepalang
mengigil rontok segala nyali
tak sadar satu persatu malaikat itu
sebelumnya telah pergi
yang tersisa hanya amal kerabat sejati

Selesai perkara dunia
tubuh berdebu jadi abu
yang abadi tak akan mati
meronta ingin kembali
sia-sia saja jeritan pilu
yang ditangisi telah berlalu

HR RoS
Jkt, 27/01/2017



SERUNAI PELUH AYAH BUNDA
By Romy Sastra

kepada peluh
nan mengering jadi debu
berkawan hari
zam-zam menganak sungai
di sela pori
mengais sandang pangan
pagi dan petang
mencipta asa pada buah hati

napas menitip jerih pada riuh
bawalah mimpiku mentari
jangan redup
meski kulit terbakar terik
tergurat di tubuh kian layu

baju berlapis perca koyak dan lusuh
dalam sepi
senandungkan kasih tak bertepi
serunai hati ayah bunda
membelai jemari si kecil menangis

tataplah pelangi nak
jangan kau kejar angin
kan terjatuh pada sepoinya hidup

menunduklah melihat rerumputan
jangan menatap kerlip kan terjatuh sakit
jejak kaki ayah bunda
titipkan nama dan sejarah di dadamu
meski berdarah dan bernanah tak mengapa
asal kau bahagia memetik kilau suasa
jadikan emas permata

HR RoS
Jkt, 26/01/2017



SEMUA TENTANGKU
By Romy Sastra


Berkaca diri pada bayangan silam
menatap khayal dalam kelam
aku majenun paranoid
dalam gugusan cahaya temaram

Dihantui goresan yang menikam
kala gundah membuncah lara
sulaman yang selalu dirobek
ditenun kembali dengan tabah
menjadi gaun-gaun cinta

Semua tentangku,
salah menumpuk dalam tuduhan pahit
aku terima saja meski lelah
kan kucabari ke-egoan bara api
membakar ranting-ranting patah
dalam gentingnya tali buaian kasih
masih tersisa setetes embun
"tuk basahi gejolak tak pernah sudah

Jalan nan berlumpur
pada jejak yang telah goyah
arah mana kan dilalui lagi
jalan itu basah semua, ternoda

Pertemuan sudah tak semesti
genggaman jemari tak lagi mesra
asmara berbunga benalu
titian kasih terurai pada benang merah
melaju gita cinta di arah yang tak sama

Sekuntum bunga nan pernah harum
menutup rindu
larung sajalah rasa menyulam bisu
jika kertas tak mampu membungkus bara

"Ahh... satu kisah
dalam makna lingkaran cinta
jalinan menjadi sia-sia saja....

HR RoS
Jkt,24/01/2017



I B U
By Romy Sastra


Kudapati kabar tentangmu
dari adinda
kau kini tergeletak payah
di pembaringan tidurmu ibu

Ada apa gerangan ini ya Illahi
bak petir menyambar di siang hari
air mata langit seketika menitis
seiring tangis membuncah
mengiris batin di lorong hati

"Ya, Rabb....

Pertemukan aku dengan ibuku
selagi nyawanya masih bersahabat di badan

Pada tinta petang ini
aku menyusun berita syair lara
yang ke sekian kalinya mengudara
kukabarkan pada seorang ibu
yang melahirkanku

Ibu

Tataplah dunia ini dengan napas
jangan bisu mengundang haru
cinta yang masih tersisa pada buah hati
nan berada di tanah Jawa
kembali ke ranah tepian mandi
sauk seteguk wudu' membasuh ruh
berdoalah selalu, oh Ibu

Kita terpisah jarak di lingkar samudera
antara tanah Jawa dan Sumatera
kan kuarungi sagara itu
melintasi cakrawala berkabut
dalam tatapan yang sendu
senja yang akan meredup

Siang tadi aku mendengar suaramu ibu
di ujung telphon bernada lirih
di larung sunyi menyapa bilik hati
suara terbata-bata memanggil
"Romy... pulanglah nak!"
ibu sudah payah kini

Seketika suara itu perlahan membisu
sekejap ananda bagaikan anak yang dungu
tak menentu,
apa yang harus diperbuat
resah berlari kepada suatu tempat
berlari dan terus berlari
mengejar bayangan senap terperap
yang melintasi sekejap
hanya keyakinan
bahwa cinta itu masih segar terasa
"Tuk didekap erat

Terpaku lelah di sudut rasa
pada pelarian yang tak terarah
peluh dan air mata mencucur
kusujud sektika di sebuah mushala,
ya Allah... ya Allah... ya Allah....

............... .............
............... .............

Pertemukan ranting berhamburan
bersujud pada batang yang kian merapuh
di lingsir warta kejauhan
antara Padang dan Jakarta
ingin bertemu pada ibunda
terkapar di ranjang pesakitan
astaghfirullah....

HR RoS
#BERDUKA
Jakarta 21-1-2016, 16,00



MAKNA SEBUAH KISAH
By Romy Sastra


Kedewasaan cinta mewaspadai rasa adalah makna tak terhingga
kecemburuan menyesak di balik kisah
kebodohan nan dungu dipelihara
kearifan jiwa pada yang ada
titipan maruah langit yang sempurna

Semburat larik membuncah kata
maknai aksara dengan seksama
hadiah kebahagiaan senyuman mesra
penjarakan fatamorgana pada doa
biarkan ilusi menjauh pergi

Analisis arti klimaks sempurnakan kasih
memahami larik tersembunyi
tiada bayu berhembus tak menitipkan
syahdu
tiada banyu mengalir tak suburkan
malahayati

Oohh,
Pucuk-pucuk cemara berguguran jatuh ke bumi
seperti angan melayang
tak karuan jadi paranoid
jangan pungut kisah yang telah mati
biarkan debu meretas jadi aurora suci
tak sia-sia janji azali iringi kehidupan
berdamai bersama takdir
mengukir renda jubah wibawa bersahaja

Jauh mata memandang tertikam kosong
bayangan seketika hilang dari tatapan
jangan paranoid dihidangkan
sempurnakan kisah tersenyumlah

Berdiri di jejak yang tak pasti
biarkanlah azali menjadi misteri
satu kekuatan yang tersisa
potret-potret sejarah jadi cinderela
tatapan terpigura
ke dalam bingkai-bingkai kisah selaksa
sentuh mahadaya tersembunyi
mengiringi langkah hari
tersenyumlah wahai diri
bergurulah pada rasa Illahi
Ia mursyid sejati

HR RoS
Jakarta, 20/01/2017



BERSELINGKUH DENGAN SASTRA
By Romy Sastra


Telah lama kubungkam cinta
pada rongga dada
payet-payet asmara berjatuhan
biarkan saja selendang rindu koyak
Lentik tarian diksi mengisi kosa hati
sendu kidung imaji pelepas dahaga sunyi
menyusun bahtera dalam nahkoda jiwa
mengitari rasa dunia seni kata

Pada ego diri membingkai seni
meluah rasio imaginasikan jiwa
leburkan lamunan
larung hayal ke atmosfir jingga
jingga pelangi cinta puisi bermadah

Aku telah lama terpikat sastra
semenjak darah tertumpah ke dunia
kala itu,
sang Maha Jiwa
menitip poetic pada rahim ibuku
tinta menggantung di labirin misteri diri
berkaca pada alam memetik kearifan

Cerminan rasa diri ini pada dunia
tertegun tertunduk dalam lamunan
indahnya stalaktit stalagmit renda larik
sulaman alam sastra para pujangga
terpesona gitakan seni kerdilku
meski tak menarik

"Oohh, ternyata sukmaku
berselingkuh bersama hayalan
di malam-malam yang sunyi
menghitung bintang di langit tinggi
adakah kerlip jatuh menimpa tinta
jadi aksara, aahhh....

Kala siang menyapa hati
teliti asyik bercinta melirik larik
tintakan syair-syair gila

Seringkali kuabaikan pesona
pada noktah malam yang realita
memilih berselingkuh melalui puisi
menyusun realiti sastra itu
jadikan bahtera ke dua
bersanding pada impian tak berkonflik

Si empu cinta Romy sastra,
jujur; tak banyak pahama aksara sastra
aku bercumbu saja dengan madah
terlintas begitu saja

Berselingkuh dengan sastra
memanglah berbeda

HR RoS
Jakarta,19/01/2017


MATI DI DALAM HIDUP MENCARINYA
Karya Romy Sastra


Mendaki gunung tertinggi
menurun terjal lembah sunyi
singkirkan semak belukar
kerikil bebatuan menusuk jejak perih
lalui saja!

Dahaga meminum asma cinta
lapar terasa kenyang menganyam yakin
lewat tasbih memandu laju
mabuk bersenandung asmara kasih
di altar religi sufi
asyik bercumbu bersama diri
Kala cinta berselimut duka
jangan risau
kasihNya takkan ke mana
kala rindu menikam pilu
jangan merajuk
sayangNya tak terkira
kala dosa sebesar dunia
bertobatlah!
ampunanNya melebihi bumi dan arasy

Tuhan
telah aku jalani perjalanan hari
tak kutemukan jejak abadi
aku mati mencariMu
dalam tajali jejak wali maha nyata sekali
kukejar Engkau,
Dikau menghampiri dengan berlari
aku terpesona cinta
terbungkus kafan kalimah cahaya-Nya

HR RoS
Jakarta, 04,01,17



DARAH DUKA BOCAH, DUNIA TAK BERTELINGA TAK BERMATA
Karya Romy Sastra


Duka lara nestapa miris
hancur berantakan bermandi darah
SADIS

Ada apakah gerangan tragedi ini
berjuta jiwa terbantai
dari manusia-manusia bengis

Ya Allah...
Aku menengadah jauh ke labirin jiwa
kurangkai syair puisi hiba
beribu tanya?
di manakah kedamaian dunia kini dicampakkan

Jeritan anak tak beribu tak lagi di rindu
jeritan yatim piatu kian pilu
ironis,
bibit-bibit pun mati musnah berdebu

Riak pasir terpijak di pinggir jalan berbisik
bertanya pipit pada ilalang
tegarlah berdiri meski tanah ini gersang
bom waktu membakar zaman
kota-kota hangus tak bertuan malang

Geruduk si bengis peluru mortil
berkenderaan berlapis baja
hanya membantai anak-anak kecoa

Kau meniup abu di tungku api
yang tak membara
apa makna pembantaian itu?
hidup ini hanya sebuah ladang ibadah
kenapa kau buat seperti opera kepentingan usia seumur jagung
bukalah matamu, wahai monster berjubah Dewa
dengarkan jeritan tangis mereka.

Genosida kau budayakan di tanah yang diberkahi
tanah mereka berlumuran berdarah
tanah yang rela di lumuri noda

Ya Tuhan,

Sudahilah pertempuran itu
damaikan bumi ini
biarkan mereka berlari
mengejar impian cinta-Mu

Ataukah Engkau lenyapkan sajalah
bumi ini seketika
hingga darah bocah tak berdosa itu
tak tercecer ke mana-mana
Ya Allah....

HR RoS
Jakarta, 11-1-2016. 21,16



PESAN CINTA TERAKHIR
Karya Romy Sastra


Menatap wajah nan ayu
di balik langit-langit kamar ini
merupa tak berwujud abstrak
bukan ia kuntilanak
tetapi sesuatu yang pernah hadir dalam hidupku

Sepucuk surat titipkan pada angin
sampaikan pesan cinta
labuhkan mimpi kepada impian
ternyata angan-angan

Rongga ini masih bernapas
menghela warna dunia
malahayati cinta masih tersisa
bertamulah walau hanya sesaat saja

Kasih yang telah pergi
pergi yang tak kembali lagi
pesan cinta terakhir itu
masih terngiang hingga kini

Telah lelah kaki melangkah
jejak tak menapak lunglai sudah
tangan kaku melingkari tubuh
aku yang dulu pernah menggenggam erat tanganmu
kini layu

Bibir kelu,
menitipkan harapan nan tersisa
adakah dikau masih merindukan daku
lewat aksara jendela angin
di bilik pembaringan
semoga kidung resah ini tak fatalis
terhantar ke beranda hatimu
berputiklah bunga cantik janganlah layu dikau malu

Kasih,
kuburlah dendam membara itu tenggelamkan bersama sepi
tinggalkan cerita lama
rajut kembali mahadaya cinta
jangan asa pesimis tubuh jadi melemah
hapuslah sisa-sisa air mata itu
bernyanyilah bersama pagi ini
ceria kembali.

Isyarat napasku melafazkan cinta
teruntukmu,
berbahagialah dikau hendaknya
sepeninggalku
aku tak pergi untuk selamanya
hanya sesaat saja

Aku hanya pergi ke alam keheningan
tak berbatas tak ber-ujung
padam tenggelam,
sunyi berbalut iman dalam religi

Pergi tinggalkan dunia cinta sementara
izinkan daku mencari cinta abadi
bersemayam ke dalam haribaan Ilahi

HR RoS
Jakarta,11-1-2017



SKETSA TETESAN DARAH CINTA
Romy Sastra


Pertemuan sebuah rasa
membuncah asyik,
membulir makraj makraj cinta
dalam cumbu asmaradana
membuai sayang
terlena jerih di puncak kasih

Fitrah bersabda dalam qolam,
sari rasa bersemayam bersama sulbi
tetesan darah cinta berkoloni ke dalam garbah

Bersatunya wadi, madi, mani, maningkem
dikontak oleh rahmatan Nur Murhammad
jadikan si jabang bayi
berjanji kan mengabdi

Satu langkah insani berada ke dalam surga
memuji menyapa cinta bertasbih

Menitis ke dunia menjadi khalifah
sebagai regenerasi cinta
apakah akan jadi baik atau celakakah

HR RoS
Jakarta, 04,01,17



LONCENG KEMATIAN
Karya Romy Sastra


Deru ruh gelisah diam membisu
kala takdir hayat terhenti pada janji
lonceng kematian akan tiba di liang rongga
lonceng tak berdenging diam sudah
satu persatu ruh di badan luruh
mendahului kematian segala tubuh
ruh tunggal akhir kepergian
meninggalkan bangkai

Liang sami' sunyi
kelopak mata melotot
netra batin tak lagi berkerlip
gunung Thursina ciut kerontang
ari disentuh bak salju tergelincir pilu
dahaga alang kepalang meminta air idaman
selera makan lahap tak lagi tertelan
yang dimakan bayang-bayang

Lonceng kematian, menakutkan
el-maut tak kenal hiba
rupanya merontokkan bulu roma
kerjanya seperti menghempas gunung merapi
memuntahkan lahar ke segala nadi
takut, sungguh menakutkan
ke mana lolongan pedih berlari
se-isi bumi masa bodo
berharap tetesan doa ahlul bait membisik
tak jua tertolong
lonceng kematian tetap jua terjadi

HR RoS
Jakarta, 02,01,17



SAJAK SASTRA GITA PELANGI
Karya Romy Sastra


i
tunggul tua melapuk berdebu,
bertahun-tahun ditebas ditinggal pergi
rela lebur dimakan waktu,
bias perlahan diterpa bayu,
meski tunas tak berganti,
organik di batang tak suburkan ladang,
sedih menyapa riuh burung murai bernyanyi
tinggalkan benih noda tapi suci pada takdir gersang berharap subur,
siklus tunas nan enggan tumbuh, hanya berganti jamur-jamur cendawan
penghias sepi walau tak menarik

ii
pada poetry jiwa kabarkan pesan seni
teruntuk punggawa sastrawan sastrawati
lencana seremonial seni tak berarti
di pundak regenerasi terima sajalah
penghibur rasa pada tinta sastra nan rela
aksara luah menjulang ke langit tinggi
tak bertangga menembus kosmik jiwa

iii
sadari,
ketika angkasa tak berpelangi
koloni awan nan berarak,
jangan enggan menitik basahi gersang
lama sudah menghadang,
ilalang nan bertahun-tahun dahaga
tetap hidup tak lekang dengan panas
tak lapuk ditingkah hujan
tak mati meski kering kerontang

iv
berguru pada semut merah nan beriring jalan
seiya sekata saling menyapa tak menikam maruah
bersama meruntuhkan gunung
tak menimbulkan bencana
bergandeng tangan
ciptakan istana nan megah
tak ingin menyakiti diganggu membela diri

v
sastra gita pelangi menitip bahasa seni
sastra cinta bersemi
tak melebar cerita gombal suatu hati,
melainkan menghibur pada banyak hati
yang mau memahami rasa puisi saja
tak menggadaikan ego semaunya
membiarkan alur ke hilir menuju muara

vi
warna-warni bianglala jingga adalah simponi gesekan dentingan biola kearifan sabda nada alam gemuruh riuh bangunkan pertapaan Dewi menyulang banyu di pemandian mistik aromakan kembang melati

vii
sastra gita pelangiku memadah kiasan
saling berbagi tanpa pamrih
bak air mengalir tak ingin kering
disauk musafir alam
bak embusan angin sepoikan dedaunan
meski dahan kan patah
ranting-ranting berjatuhan

viii
menari riak seayun ombak
tak menikam perahu
meski badai datang menerpa samudera
jangan tangisi nahkoda melepas sauh,
bukan ia menakuti pelayaran kan oleng
waspada diri jubah kearifan ilmu pengetahuannya,
jangan sampai laju doa tenggelam
sebelum cemas sirna tiba di dermaga

ix
kita nikmati sajalah liukan nyiur di pantai
berhias menambah hembusan
camar-camar bernyanyi kepakan sayap
tarikan gemulai menari di dada sagara
meski panggung tak berpenonton ceria

x
terdiam menatap barisan pasir membentang
tak berujung tumpang tindih
tak menyalahkan satu sama lainnya
berdamai pada poetry rasa
ia gesekan poetry sabda maha jiwa

HR RoS
Jakarta,28,12,16



SEMALAM DI BAITUL MAKMUR
Karya Romy Sastra


Getar-getar tasbih mengelilingi arasy
dalam perjalanan malam
menanjak ke ruang angkasa jiwa
berdiri di samudera biru
menatap bayangan kalbu
diselimuti nafsu-nafsu itu

Malam-malam indah bersama diri
dalam kegelapan jalan rasa memandu
ya, melaju dengan rasul itu

Di perjalanan diri pada titik tasbih
bak kilat menerobos pekat
mencari yang tersembunyi
Baitul Makmur di langit tinggi
terletak pada ubun yang tak terpijak
bermahkota cahaya cinta berpanji tauhid

Kuucapkan salam,
salamun kaulam mirrabbirrahim

Baitul Makmur masjidil
sang khalifah Illahi
tempat bersandarnya Ibrahim

Masjidil para wali
di negeri awan yang tinggi
tak jatuh, tak bergeser barang sedikitpun
mihrabnya tertata indah
temboknya berdinding kacahaya
bertaburan bunga-bunga surga

Aku dapatkan Baitul Makmur
tersembunyi di dalam diri
bersinggasana di keheningan
jauh di balik awan
tertatap tak kelihatan
teraba tak tersentuh
ia adalah wujud dari derajat religi
peribadatan para sufi-sufi

Semalam di Baitul Makmur
bermandi cahaya mahabbah
kenalilah jalan sang utusan
sang para pecinta
utusan risalah Illahiah

Jalan-jalan misykat kaca tak tersentuh
bersemayam dalam Nurullah
ketika si burung merak berkelana ke samudera jiwa
membawa tasbih-tasbih cinta
kau tak akan tersesat jalan
tujuan jalan-jalan Tuhan
dalam perjalanan malam
menuju istana keabadian

HR RoS
Jakarta, 12-9-2015, 08,56



TERJAUH IA TERDEKAT
Oleh Romy Sastra


Duduk melipat lidah menyentuh langit
merenda rasa ke dalam jiwa
doa-doa bertarung di angkasa
berputar bermain bersama nebula
destinasi Tuhan perjalanan terjauh
padahal ia dekat sekali

Terbuka sembilan jendela rumah
nafsu-nafsu lepas mencari kesenangan
yang dicari tak jua menemukan jawaban
meski berkelana ke ujung dunia
yang ditemukan tetap kepalsuan

Menutup sembilan pintu diri
pada jejak-jejak wali
berpeluh mendaki makam keimanan
butiran zam-zam mengalir di segala pori
hidangan kalam jamuan asyik
menuju titik destinasi terjauh
yang dituju telah bertamu tak disadari

Kematian terindah senyum menatap cinta
meski El-maut datang menakutkan
tak gentar rubuhnya gunung Thursina menimpa
tak ciut nyali meski gelap tertutup terik
sadar pada hayat sejati akan dijelang
rindu kematian adalah kwalitas iman

Sesungguhnya di dunia adalah tertidur
ketika terjaga nanti baru tahu destinasi abadi

HR RoS
Jkt,18112016



BINTANGKU REDUP KARYANYA ABADI
By Romy Sastra


Di sini di tanah nan berdebu
kuberdiri sekejap
hayalkan memori dua dekade berlalu
kisah,
pada suatu era,
satu kembang berputik mewangi
tetiba dikau gugur
semestinya mekarmu bertahan lama
simpatiku berbuah kagum sekejap malang
kala itu,
daun-daun muda berduka
secepat itu kau kembali keharibaan-Nya
tragis kecelakaan di perjalanan misteri sulit terjawab
kenapa bunga idola gugur
meninggalkan seribu tanya tak terungkap
hingga namamu tertulis di batu nisan
bersama Honda D 27 AK

Aahh, membuka peti kenangan
sia-sia melukis malam harap berbintang
kenangan tertutup kabut pekat
kau bunga
telah lelap berselimut kain kafan
Ciamis dan Bandung, aku datang ke kotamu
dalam perjalanan malam
memanjatkan doa tuk bunga itu
semoga kau tenang dipangkuan-Nya

HR RoS
Ciamis, 21/11/2106. 00:26
puisi mengenang Nike Ardila



KUNCUP MENGATUP BERHARAP MEKAR KEMBALI
Karya Romy Sastra


kembang kasih semusim berbunga
iklim tak bersahabat bibit tumbuh sedih
berharap siklus berganti suburkan kembali

tangkai layu berputik gugur
daun-daun jatuh ke tanah
sakwasangka pada bayu
tertuduh tak menentu

padahal tiada hujan apalagi terik
embun membias dahaga tiba
teruk hati membuncah gundah
membakar malayahati kasih

pigura-pigura tak berkaca
kertas madah lusuh pudar warnanya
apalah daya jemari sang kanvas
karya tercipta tebar pesona
tak dihargai hanya tontonan saja

bercumbu rama-rama aroma semerbak
hinggap disambut kelopak malang
kumbang-kumbang berdendang
mengisap madu lalu terbang

ahh, bunga sedih layu tak mekar
kuncup-kuncup mengatup harap berbuah
ditingkah kebohongan janji manis
sang lebah menyengat berbisa
sisakan madu tertumpah pula

rela kembang tak mekar lagi
daripada jadi opera semusim
terputus tirani cantik di taman kekasih
lembaran berganti pada bibit alami
tumbuh liar
siap hidup hadapi cabaran
meski tak lagi dikecup mesra
terlena belaian mematikan

HR RoS
Jkt, 12122016



DASAWARSA USIA
By Romy Sastra


Empat dasawarsa usia jejaki dunia
2017 di ambang selamat datang
tinggalkan kenangan 2016.

Lembaran demi lembaran diri
membentang semenjak lahir
hingga di kepagian hari
menempuh senja menanti jingga

Saat ini,
dawai biola hidup
masih mengalun merdu
petikan irama kasih
dari maha pengasih.

Perjalanan diri
mengintai hari
cabaran demi cabaran
terbingkai ke dalam mimpi
jadikan sebuah history.

Mimpi demi mimpi telah usai
terbangun dari lelap nan sekejap
opera impian diri hanyalah keniscayaan
bukan hayalan malam
asa obsesi tetap jadi memori.

Kini,
gita usia berada di ujung tanduk
masa senja merona jingga
bekal selimut kubur tak jua diraih
sedangkan,
story memori telah jauh berlalu pergi
dan tak akan mungkin kembali lagi.

"Ya,
satu nan diharapkan sebuah kepastian
kesetiaan hidup dalam amal
pelipur lara di akhirat nanti.

Realiti asa setialah menempuh senja
sampai menutup mata
meski hidup ini seribu tahun lagi
ataukah esok hari,
kita pulang ke kampung halaman abadi.

HR RoS
Jakarta, 27122016



TERTANYA RINDU DALAM HIBA
Karya Romy Sastra


Sastra cinta di pelaminan mimpi
desah hasrat melukis pelangi
mimpi-mimpi titipkan cerita buaian imaji
tentang kisah sepucuk surat tak sampai
pada kekasih hati.

"Aahh, titik peluh basahi diksi
laju perjalanan kereta senja
anjlok di perbatasan kota
berlari mengejar kupu-kupu rindu
terkejar, ia menari pergi
tinggalkan kenangan pada suatu janji.

Dalam perjalanan hidup
cahaya harapan tak menerangi jalanku.
Gelisah,
seakan berpegang tongkat rapuh.

Sudah lama kaki berjalan
tertatih menyulam kasih raih seribu mimpi.
Debu-debu jalanan berkabut
melintasi arah muara tinta
memadah talenta sastra
tertanya diri pada dinding bisu
kapankah jendela bahagia terbuka
menghiba pada tanya,
kuas-kuas kanvas merupa pigura tak berwajah.

Melukis tanya di dalam rasa
di kala sedih menimpa tubuh
ramuan rindu,
kenapa bisu?" Ya, dikau bisu.
Tak menyapa sama sekali
Semestinya," berceritalah.

Uuuuhhh...

Camar bermuram durja di pantai sunyi
seruling rindu di pelayaran kisah kasih
labuhkan cerita pada samudera maya
membangunkan lelah
di keheningan sukma lara.

Duhai, awan yang berarak senja
bawalah daku ke samudera terjauh
biar kuhidup dalam masa senja ini yang tak lagi menoktah rindu.

Aku kini,
mencoba membiasakan hidup
tak lagi bernyanyi di pantai semu dengan camar-camar itu
biasakan sepi menyulam hari
tanpa kicauan si burung camar itu lagi.

Tinta cinta melukis senja pudar warnanya
jika kembang rindu kan layu
layulah....

HR RoS
Jakarta-11122016



KETIKA JALAN LICIN
By Romy Sastra


Sudah dibisikkan oleh angin
jangan berjalan di hari hujan
jalan yang kau tempuh licin
diam dulu sekejap tunggu rinai reda
petir masih kilatkan apinya
payung pun tak kau bawa

Bertahan pada suatu keadaan
ke hati-hatian
jangan berkaca diri dengan bayangan
jejak laju langkah kan terhalang kelam
memilih adalah pertimbangan
supaya tak terjerumus kedua kali
ke dalam lobang yang sama

Berpikirlah,
pilihan yang terbaik ada di tangan
bersabarlah,
suratan tak terhapus meski arah itu buntu
berikhtiar jalan menuju keberhasilan
jangan menumpang dagu
yang hujan ada masa jalan tak licin
biarkan takdir berbicara
tunduklah pada ketentuan-Nya

HR RoS
Jakarta, 11-01-2017



SETIA BERSEMBUNYI
By Romy Sastra


Deru debu bergemuruh
luruh dihempas bayu
butir-butir pasir berbisik
gemercik di langkah sang musyafir
jejak-jejak itu
bias disapu ambai-ambai pantai
tak meninggalkan benci

Camar,
kenapa dikau
bersembunyi di balik nyiur
beribu tanya memamah rasa
kapankah,
pesta pantai kan berakhir indah
tak menggerus kearifan biota alam
biarkan permai menari ditingkah zaman

Teduhan nyiur di pantai
sepasang camar membelai kasih
menoktah cinta memandu ikrar setia
terbang sepanjang hidupnya

Setia riak dan gelombang
sama-sama berbuai menggulung kasih sayang
menyisih ke tepian bibir pantai berbuih
dinanti nyanyian serunai pasir putih
desiran angin saksi kisahkan sunyi
berkoloni setia meski ia tak bermakna

Berkaca pada Romeo dan Juliet
mati bersama dalam samudera cinta
setianya menjadi simpul jalinan
asmara kawula muda
dalam kicauan riak kasta nan mewah
pada pesta dunia bermegah....

HR RoS
Jkt, 2811206



MENGGAPAI BINTANG DI BALIK AWAN
Oleh Romy Sastra

Hidup bak berjalan di atas lumpur
mengejar kembang teratai
nan tumbuh subur di dalam air
semakin melangkah kaki kian terkulai

Teratai tumbuh indah, sayangnya,
akar tak berpegangan ke dasar tanah
ketika banjir melanda
teratai itu,
ikut pula berenang ke muara

Hidup bagaikan musafir di Sahara tandus
haus,
obsesi terkikis tergerus nasib
satu cemeti terselip di hati ini
ialah keyakinan iman
menggapai bintang-bintang malam
meski malam tak berembulan
purnama redup di balik awan

Tinta sastra terhempas
di lingkaran kebimbangan masa depan
jalan mana kan kutempuh semua arah buntu
Jakarta berjuta kerlip tebar pesona
menjanjikan intan berlian di sisi mereka
kupetik hanya sebongkah suasa
berharap sepuhan jadi emas permata

Kapan bintang jatuh di tangan
genggaman seakan enggan menadah
biarkan peluh bermandi luka
asal maruah tak tergadai begitu saja

HR RoS
Jakarta, 30-12-2016



CINDAI NAN ELOK
By Romy Sastra


Burung jelantik cantik bercicit riang
berenang di atas cawan dalam sangkar tuan

Cindai-cindai nan elok
selendang bersulam payet manis
jemari lentik
melenggok tarian sapin melayu

Kenduri
bertilam manik benang emas
pelaminan eksotis
dihiasi kembang idaman
beradu tatapan bersama tuan

Tudung songket
melingkari panggul-panggul penari
rentak panggung berputar melingkar
berjoget riang berdendang
seakan mabuk kepayang

Dalam dekapan rindu
kenduri satu malam
bak bidadari memadu kasih
Dalam semusim purnama

Cindai tarian kenduri budaya lama
storykan kejayaan tatapan sejiran
berjaya dalam seniman
sebuah peradaban yang dibanggakan

Satu jiwa
satu hati
satu rasa

Berpadu
dalam kearifan madah-madah cinta

HR RoS
Jakarta, 30112016



SERULING PECAH TAK BERNADA
Karya Romy Sastra


seruling rindu bertanya pada angin
ke mana sepoi berlalu
titipkan pesan di hati nyonya
lentikkan jemari lambaikan tangan
adakah nyanyian rindu pada janji
yang dulu dikoar-koarkan
untuk gita sebuah rasa
aku tergoda

seruling bambu bertanya pada merdu
hembusan napas gembala senja
titipkan rasa pada semut merah
beriring jalan menyapa mesra
kenapa tahta tuan tak berjaya
satu juta semut meruntuhkan singgasana

seruling malam bertanya pada lagu
kidung mendayu lenakan kalbu
nyanyian malam kian sedih
pungguk merindu bulan berlalu
mengurai cerita kasih yang tak sampai

puisiku untuk tuan dan si nyonya itu
pesankan,
pada Arjuna dan Srikandi nan bertahta
di singgasana mewah di tengah kota
kebahagiaan masa depan negeriku
semakin diterkam elang-elang serakah
kaki tangan berlenggok tak bertelinga
terpedaya sudah pada benalu tak kenal malu

langit kian rendah
kaki tuan menginjak wibawa sendiri
siang berganti malam
terik padam malam temaram
ibu memanggil pulang
kembang setaman mewangi
berbaktilah,
kenapa torehan jasa dibiarkan ternoda
ketika sejarah dikenang tak berguna

HR RoS
Jkt,15122016



EMBRIO CINTA
Karya Romy Sastra


Desah cinta setetes darah hina berkoloni
sukma kasih menyatu dalam garbah
terbentuk bibit insani
bertanya Hu pada embrio
"Kutitip amanahKU... ke dunia kelak,
adakah engkau sanggup memikul titah dunia sepanjang kematian?
sedangkan engkau embrio tercipta dari sabdaKU,
dari kehidupan pertama dalam Qolam azali
Kutuntun dengan detail indahnya rahsi

Azali tergurat misteri
di setiap detik-detik laju cipta
lena seperti melayang dalam nebula
segala serba ada tersenyum mesra
berdialog belajar cinta bernapas Hu
detak-detak memandu berjalan jauh
tetap langkah itu di hadapan-Nya

Hu bersabda pada ruh,
siapa Rabbmu ya embrio?
Engkaulah wahai kekasihku

Embrio lahir ke dunia alam kematian
tersesat jalan negeri apa ini
tak lagi menemukan kedamaian
yang ada kebisingan
embrio mencoba tenang kembali
pada adzan memandu asma-asma puji
yang dikenal dari dalam rahim
baru saja tertumpah lewat goa garbah
embrio bergantung pada titah Ar-Rabbani
dari suara merdu ayah bunda serasa semu
ayah dan ibu memelukmu
Ar-Rabbani menuntut jalan embrio
belajar bermusyafir pada dunia kematian
mencari lembaran azali kembali
untuk bekal jalan pulang ke alam abadi ....

HR RoS
Jakarta, 27092016



TERSISIH IA SETIA
Karya Romy Sastra


Tak pandai menari lantai berjungkit
ketika gemulai tarian
tak selaras dengan nyanyian
jemari dan songket
terlilit selendang ungu
kan terjatuh malu

Kidung rindu mengalun merdu
merindu dibuai angin lalu
kidung tak lagi bernada cinta
nada bisu membungkam kalbu

Aksara cinta berbalut tinta
gelisah terluah di kertas madah
langkah kaki terhenti
bak musyafir kehilangan arah
dahaga di tengah samudera
tak tahu arah mana kan ditempuh lagi

"Aahh... rasa, tercabar di minda tanya
padahal musyafir cinta
masih setia dalam perjalanannya

Tinta jiwa ini
melukis misteri berbalut resah rasa
terlukis di bingkai setengah jadi
buruk sudah bayangan di depan mata

Wajah-wajah rindu
seperti berkaca di cermin retak
merupa tak membentuk indah
tertutup butir-butir kaca berserak
seakan rindu-rindu tak lagi tampak

Bertanya dalam diam
jawabannya bungkam
hanya makna yang bisa ku-eja
di setiap rindu yang kutunggu

Rindu telah ranum merona
menghela di sela napas-napas cinta
resah sudah

Dalam tanya resah menjawab sendiri
rindu ini masih seperti yang dulu
menunggumu sampai akhir hayatku
aku tak memelihara kembang lain
di taman hati
setiaku selalu
menggenggam noktah kasih
dalam bingkai setia
bersama dirimu setia sampai mati

HR RoS
Jakarta, 11112016



SONIAN ASMARA

1
dendang rasa rindu
mengalun merdu
pada cinta
terlena

2
pesona asmara
kecup menyentuh
bibir kita
nikmatnya

3
dikau kekasihku
kurindu surga
kenikmatan
cintamu

HR RoS
Jakarta13112016



SALAT
By Romy Sastra


#format subuh
denyut jantung
ya hu salat jati
kenali diri dengan ilmu
menuju Illahi Rabbi
biar tak tersesat jalan

#format zhuhur
tunaikan kewajiban baca niat
berdiri ruku' sujud duduk
berdoa lalu mengaji
jadilah hamba yang teladan
al-quran tuntunan

#format ashar
jalan pulang semakin dekat
kembang setaman mewangi
el-maut tak kenal kompromi
segera bertobat
sebelum terlambat menyesal nanti

#format maghrib
senja telah tiba
anak santri pergi mengaji
bulan purnama
tengah malam salat tahajud
berdoa padaMu ya Allah

#format isya
salat adalah jembatan diri
mengenal Tuhan
Makhluk dan Khalik bersatu
syariat tarikat hakikat makrifat
islam iman ihsan

HR RoS
Jkt,16122016



PADA SUATU SENJA DI DERMAGA TELUK BAYUR
Karya Romy Sastra


Di dermaga rindu tangis pecah
tinggalkan ranah bunda
sedih ditikam senja
kala layar bersiar laju menuju riak
lambaian nahkoda isyaratkan kepergian
irama camar bersiulan
titipkan pesan pada angin malam

Dermaga pun tak lagi tampak di kejauhan
sayup-sayup kutatapi bendera menari
iringi kepergian kapal melaju
ke samudera biru

Gejolak jiwa terpana
gundah meretas samudera, seketika pilu
terpaku, ranah bunda memanggilku
jiwa tertahan di antara simalakama
terus berlalu ataukah kembali pulang
sedih menikam kalbu

Nyiur melambai di pesisir pantai
seakan iringi kepergian nahkoda itu
camar bersiul mencicit perit
merayu memanggil kelana, kembalilah ke tanah bunda wahai darah muda
bisik sang bayu semilir lirih
biarkan takdir berlalu
senja jingga lenakan tubuh dibuai gelombang menghadang

"Sapa sang kidung malam berdendang,
"Ooii... Ranah Minang nan denai cinto,
larek sansai di tanah Jao
jaan tapian nan ditangisi
bialah rantau den pajauah

Pada suatu senja di Teluk Bayur permai
saksi sejarah perjalanan si anak dagang
ketika asa cinta nan dulu pernah diungkai
terbangkalai sudah,
tak tahu rimbanya sampai saat ini
asmara hilang ditelan bayangan gelombang

Teluk Bayur di pesisir pantai Sumatera Barat
saksi sejarah dermaga tua dari zaman penjajah
dalam era peradaban cinta Siti Nurbaya

Dermaga tua jadi saksi memori rindu
sebuah rindu yang kini tak lagi dijumpai
memori nan berlalu telah membisu
tinta bermadah di kertas maya
kupuisikan sebuah history
dalam lamunan di kesendirian hati
melukis sastra sisa-sisa cerita yang tak sudah

Ketika masa remaja mengikat kasih
pergi tinggalkan pantai barat Sumatera melaju ke tanah Jawa
memori titipkan sejarah tak bermakna

Selamat tinggal Teluk Bayur permai
kudatangi dikau kembali
menyapa kenangan lewat tinta ini

HR RoS
Jakarta,29122016



LENTERA DUNIA
By Romy Sastra


Sabda guru memandu
ejaannya menitip aksara pada tunas bangsa
jalan terjal berliku jejaki ruang kosong
bocah bermimpi berlari mencari cahaya
jamur bermenung di tunggul tua
tanpa pupuk ketrampilan hidup
ditingkah kebodohan zaman
lentera dunia hadir menerangi gelap
pahlawan tanpa tanda jasa

Terima kasih guru
pendidikan kau ajarkan
dari taraf eja menjadi sarjana
soko guru perisai kemajuan
di kepalamu lentera dunia menyala
cahaya ilmu nan tak kunjung padam

Ki Hajar Dewantara,
semboyanmu:
tut wuri handayani
ing madya mangun karsa
ing ngarsa sungtulada
( di belakang memberi dorongan,
di tengah mencipta peluang berprakasa,
di depan memberi teladan )

Guru,
dikau kukenang selalu
dari kecilku sampai tutup usia nanti
walau jasadmu berkalang tanah
torehan jasamu kemilau abadi
meski dunia kembali gelap
cahaya ilmu janganlah berakhir

HR RoS
Jkt, 25/11/2016



DAUN-DAUN MUDA BERGUGURAN
Karya Romy Sastra

tanah tandus tergerus siklus zaman
pohon tua bertunas
kembang berputik jadi idaman hati

ketika budi dan religi dikebiri
make up cantik penghias diri
jajakan cinta di balik tirai malam

wajah-wajah ayu berlenggok
bak bidadari dari kayangan
rela terhempas
jadi penghibur wanita malam

dengan segelas anggur di tangan
serigala-serigala rakus bermata elang
di balik rerimbunan kerlip eksotic
melirik mangsa kemayu jadikan teman mainan

jelantik berkicau berbisik kecil
bermanja lirih
sangkar-sangkar kerlip
menambah suasana riang

house musik riuh menggugah syahwat
pasangan berlalu satu persatu memandu kasih
hilang dari kerumunan mencari tempat persembunyian

malam-malam panjang
dalam keramaian di pinggir jalanan
dugem di awal malam
menambah asyiknya pesta konco-koncoan

malam kian panjang
berhias lampu jalanan
beraroma mistik mewangi dari dukun langganan
malam bertaburan bintang
daun-daun muda berguguran
jadi prostitusi jalanan

pesta usai
cinta satu malam melenakan
daun-daun muda terdampar di tengah jalan
kembang muda berputik
tinggalkan kenangan
layu sudah sebelum berkembang

HR RoS
Jakarta, 11-11-2015, 11,51



ASEAN IMPOTEN
Oleh Romy Sastra


Forum persatuan perdamaian Asean
tentang rasa kemanusiaan
tuk Rohingya impoten
label organisasi bagai seremonial saja
jika bencong dan banci
masih berjuang tuk hidup bernyanyi
tentang budaya cantik dan eksotic dalam lagu
Asean pengecut tak berkuku, uuhh malu

Alasan klasik dibuat dalam konferensi
tak intervensi internal sebuah negeri
seperti tergigit lidah
di mana tanggung jawab sosial dan kemanusiaan itu,
kau beri label serumpun
dalam wadah kebersamaan solusi bertetangga
demi kemaslahatan umat
berbagai agama dalam suatu bangsa
kau seakan tak berdaya
hak azasi manusia
dikebiri oleh penguasa Iblis

Pemerintah Myanmar
sahabat Asean tak berbudi
ironis,
diplomasi negara yang bersahaja loyo
nyaris tak ada solusi jitu
seperti gigi ompong tak bertaring
malu-malu kucing penakut
hanya mampu mengintip tikus di lobang semut

Aku tak percaya Asean kini
nyatanya, genosida suatu kaum dibiarkan begitu saja

Asean tak bertaring impoten sudah
seperti bencong alias banci kaleng
di tengah keramaian kota

Save Rohingya

HR RoS
Jakarta, 28112016



TONGKAT TUA TELAH RAPUH
Karya Romy Sastra


Ayahh
perjalanan panjang telah kau lalui
berhentilah melangkah
duduk manislah di rumah
getir, pahit,manis, indahnya kehidupan
jalan berliku menanjak menurun
terjal tandus berbatu kau tempuh
dikau jalani dengan senyuman

Kaki pecah melangkah di bawah terik
tak ayah hiraukan
demi memenuhi asa pelita hati
nasi yang kami makan
dari peluh darahmu kami di besarkan

Ayahku,
impian tinggi menggebu
untuk buah hatimu
tegar berdiri dipaksa melangkah
tetap kau pintali benang merah hidup ini
berkaca diri berantai dengan masa lalu
bersama tiang-tiang lapuk terkubur sudah
meringis sedih di setiap letih
masa lalu yang telah bias
berlalu jauh meninggalkanmu
hilang ditelan masa,
gagal dirundung duka

Kini,
putik-putik berbunga telah berbuah
kau masih saja tertatih payah dan lelah

Miris,
dikala senja menyapa
dada kau penuh menyeruak sebak
duduk di sudut rumah beranda tua
berpangku tongkat rapuh
diolok-olok cucu yang lugu

"Ah ... sedih,
nasi putih tak lagi berkuah
seduhan pagi tak lagi kau rasa
hanya asap putih mainan sepimu
kau linting dari jari jemarimu yang keriput

Ayaahhh ...

Kau kini tak lagi tersenyum dengan dunia
bila malam tiba
air mata bercucuran
berbisik lirih menghiba
ya Allah,
sejahterakan jugalah anakku
di mana pun ia berada
doamu ayah masih tersisa

Getar-getar doa itu
membangunkan sang penjaga malam
mengintip rintihan bunian lagi menyepi
kau menitipkan doa ke dalam misteri
memanggil anak yang tak pernah kembali
samudera mana yang ia arungi
batu dilempar arus tak beriak sampai kini gelombang tak jua menepi

Uhh,
seorang anak merantau
tinggalkan tumpah darah
tak pernah kembali lagi
usia senja telah meratap dalam cinta
meski ia kecewa
ayah, kau tetap sabar dalam doa

Duhai, mahkotaku yang telah hilang
entah ke mana perginya
tak tahu kini di mana rimbanya
pulanglah nak!"
Ayah menantimu di beranda senja ini
haruskah tanah merah kan kau temui nanti
wahai anakku ....

HR RoS
Jakarta, 13,11,2015, 08,42



RINDU NAN BISU
Oleh Romy Sastra


merindu, bak tunggul lapuk
mengharapkan hujan
tunaskan dahan kembali
di sini, masih menyulam sepi
berkawan bayangan
dendangkan nada seruling siul
terpana menatap kejauhan
adakah nyanyian rindu tak bisu
menghibur pilu

kekasih yang dulu didambakan
tak lagi kini kujumpa
rinduku telah bisu tak bermakna lagi
ternyata kau benar-benar menghilang dari pandangan
akankah kisah telah tertutup rapat
menjadi kenangan usang

uhh... entahlah

setapak demi setapak kaki melangkah
tuk meraih jejak impian
pada jejak-jejak hati
yang tak lagi menampakkan diri

rasa ceritakan kisah pada madah senja
berpegang tongkat tinta
berkelana tuliskan aksara yang tersisa
meski rasa ini lelah menyapa cinta nan beku
memanglah,
aku telah bosan dengan cinta semu

duhh ... kenapalah
siulan camar di pantai itu
tak lagi bersuara
apakah parungnya terpasung bisu
ataukah lupa irama kisah yang pernah tercinta

keadaan kita seperti eja di balik tanya
seakan noktah rindu masih kau rasa

ya, kenapa kau kini biarkan rindu membisu
sepi berkawan hari
ya, sepertinya
memang kau telah berlalu

ketika kau semakin jauh
jauh, jauuhh dan jaauuuhhh
tinggalkan kisah ini
tintaku tetap bermadah rindu
meski luahku
tersekat terpenjara lara
tak terkurung mati memuntahkan diksi

bila noktah hatimu
tak lagi bermuara kasih
ajarkan aku untuk biasa tentang rasa
yang tak lagi mengenal cinta

biarlah kurajut rindu-rindu ini
bersama bayangan semu
kan kujadikan itu
sebagai pemanis hidupku
dan setia menyendiri tak lagi bercinta
apalagi mencari memori baru
sebagai pengganti dirimu yang telah pergi

HR RoS
Jakarta, 07113016



RESAH BERSELIMUT MIMPI
Romy Sastra


nada rinai bernyanyi lirih leraikan gersang
hujan pun turun suburkan alam

siulan malam terhenti,
pada sayap-sayap yang terbang siang tadi

ada seekor merpati kedinginan
terkurung sepi,
dinginnya hati tanpa selimut kekasih

oh, tetesan bulir malam
kau undang kedukaan pada suatu mimpi
terlelap di kelambu nan merindu
koyak tergigit resah impian tak bersemi

pejamkan bola mata nan hampir layu
tidurlah
biarkan memori berselimut pada history
kunci saja jangan dibuka lagi
andaikan malam ini tak berkejora
purnama enggan merupa
yakinlah, esok terik masih ada
menyinari kehidupan kembali

HR RoS
Jakarta, 7,3,17



TAFAKUR


Jangan menanti purnama semusim
Pijar-pijar kejora mengulit malam
Malam usai ia tenggelam
Cari di hati yang bersih jiwa yang tenang
Tengoklah ke dalam kerlipnya selalu ada

Bunuh riuh pada onak pikir
Nan menggoda jalan pulang ke haribaan
Sunyikan diri sekejap menuju keabadian
Rumah-rumah qulhu siaga menanti

Sejenak berpikir memanglah jembatan keselamatan
Untuk apa beribadah seribu tahun lamanya
Berjalan tak memakai panduan kan tersesat
Lebih baik mati saja dari awal tak menumpuk dosa
Penyesalan di ujung nyawa tiada gunanya

HR RoS
Jakarta, 15/03/2017



ISYARAT ALAMAT MISTERI
Romy Sastra


angan di batas bayang
seperti tarian layangan diterpa bayu
ke mana laju lamunan malam kan dibawa
sedangkan sepi berkawan lolongan misteri
seakan Malaikat datang menyapa
bahwa pemberhentian jejak-jejak hari
kian sampai di ujung jalan

pada malam bersandar diri
resah menikam kelam
serpihan mimpi memanglah bunga hari
nan bermain pada kisah yang terlewati dan
mengisyaratkan alamat teka teki
bahwa kematian pasti kan ditempuh

maka berbenahlah sedari kini
jangan menunggu hidayah kan terlambat
ketika El-maut bertengger di ubun
menyesal tiada guna

berusahalah meraih hidayah-Nya
padahal hati, akal dan pikiran adalah
kendaraan tuk mengejar ketertinggalan
mengisi kekosongan catatan Raqib
lipat saja buku Atid jangan biarkan ia membuat memori malu
pada masa perhitungan nanti

HR RoS
Jakarta, 12/03/2017



SPIRIT FOR YOU UKHTY

Jangan bunuh maruah sunahmu yang lagi berevolusi dari jubah umum ke jubah dakwah khusus.
Dengan adanya kicauan burung-burung mencicit cuit, dan angin meniup sepoi tapi meluluh-lantakkan bunga iman yang mulai tumbuh. Jika kau galau dan gak siap melawan dengan cabaran itu kan berujung konflik hati dan pikiran, hingga bermusuh-musuhan kepada ujian, justru ia akan menghanguskan amalmu oi dunsanak oi.

Pahamilah!
Karena ia cabaran hidayahNya untukmu dan kita semua, untuk menampakkan betapa eloknya bahasa sunah itu kau dan kita sandang. Meski telapak kaki ini penuh duri melangkah dan jubahmu kotor dilempari najis, kau tetap tersenyum bersama alam dan bijak dengan keadaan yang menghakimimu dengan ketidaktahuan mereka atas perubahan itu, ia akan menjadi ladang ibadah untukmu. Dan itu kalau kita mau DIAM dan tersenyum ikhlas kepada mereka, tak ikut menabur bensin ke tungku yang bergelora.
"Wajidaha wajidahu saja"

Kalau dunsanak gerah dengan segala cabaran itu.
Ia akan paranoid nantinya karena bumerang sudah hidayah yang kau kejar dari hidayahNya.

Ironisnya nanti amalmu yang pupus.

Tidak semua alam itu setan, sekenarioNya menjadikan semua ciptaan itu khalifah kepada yang lainnya. Allah maha bijaksana kepada ciptaanNya.
Hanya orang-orang sabar dan ikhlas sebagai kekasihNya, dan menjadi umat terbaik di hadapan rasulNya.
Bukan orang yang berkeluh kesah dengan ujian.
Yang akan menikam jejak-jejak fitrah yang kau jalani.

Tersenyumlah kepada koloni awan hitam, bukan ia menutup mayapada tak berlentera.
Tapi sesaat ia akan turunkan hujan membasahi gersangnya halaman dan jalanan yang kau lalui.

Jadilah dikau seperti pelangi selepas hujan reda,
kan ada terik menyinari menyapa senja.

Selagi arif dan bijaksana dengan jubah iman serta dakwah yang kau bawa.

Bahwa ilmu dan amal itu indah.

By Romy Sastra
Jakarta, 18,3,17



KEMATIAN
By Romy Sastra


#format_isya
bertamu pada mihrab diri
senandungkan tasbih
fajar menyingsing terik menanti
gerak sulbi getarkan nadi
berpacu darah mendidih

#format_subuh
kepada malam
nan berlalu menyapa siang
silih berganti keniscayaan hari
kapan menemui mati
ketika hidup mengenali Rabbani

#format_zuhur
kenali ilmu belajar mati
bimbingan makrifat pada mursyid
mati tapi hidup
fana dalam salat daim
rahasia hakikat

#format_ashar
hidup semakin menatap senja
tanah merintih sedih
kapan sujudkan jiwa mencariNya
jangan menyesal
ketika terbangun dari kematian

#format_magrib
butiran kerlip amal
ataukah debu menutup tubuh
ketika neraca
tak tertitip safa'at Nabi
merugi merintih tak tertolong

HR RoS
Jakarta, 25/01/2017



SERUNAI PELUH AYAH BUNDA
By Romy Sastra


kepada peluh
nan mengering jadi debu
berkawan hari
zam-zam menganak sungai
di sela pori
mengais sandang pangan
pagi dan petang
mencipta asa pada buah hati

napas menitip jerih pada riuh
bawalah mimpiku mentari
jangan redup
meski kulit terbakar terik
tergurat di tubuh kian layu

baju berlapis perca koyak dan lusuh
dalam sepi
senandungkan kasih tak bertepi
serunai hati ayah bunda
membelai jemari si kecil menangis

tataplah pelangi nak
jangan kau kejar angin
kan terjatuh pada sepoinya hidup

menunduklah melihat rerumputan
jangan menatap kerlip kan terjatuh sakit
jejak kaki ayah bunda
titipkan nama dan sejarah di dadamu
meski berdarah dan bernanah tak mengapa
asal kau bahagia memetik kilau suasa
jadikan emas permata

HR RoS
Jkt, 26/01/2017



GORESAN BAYANGAN MEMORI
By Romy Sastra


Menulis abjad diri
dengan rasa tak berwarna
aksara bayangan tak berwujud
bermukim ke dalam lembaran jiwa
menggubah memori pada puisi
mengenang masa-masa bahagia
walau ia selalu berhias kecewa.

Duh diri,
kenapa dikau menangisi story
yang tak semesti
padahal bayangan kekasih
takkan mungkin kau pegang
dalam dekapan satu hati.

Diri,
tataplah wajah belas kasihmu
di dinding kaca kau menangis
kan sadari arti hidup
takkan mungkin mimpi-mimpi diraih
karena ia semu dalam tidurmu.

Di rona bibir memandu bisu
lembaran hari menyulam kenangan
kenapa bulir seringkali tercecer
pada kaca menatap wajah layu
merajuk pilu bukan karena tak tegar.

Memori nan semakin menjauh
dan jauh berlalu tak menentu
menyepi sepi
ketika malam menyulam kelam
seringkali bermenung sendiri
bertanya kepada hayalan
kemanakah bahagia itu berlari
menghilang bersama kegagalan.

Goresan ini adalah syair hati
sulit kunikmati,
pada puisi mencumbui kosa jiwa
hiburkan berbagai kecewa melanda.
"Ahh...rasa, goresan lara semakin lara.

HR RoS
Jakarta, 30/01/2017



SAJAK JEJAK MEMORI
By Romy Sastra


Wahai angin nan berhembus lirih membawa rindu pada daun-daun kering, di sini bisu menatap gemulainya ayunan layangan, hampir saja debu menutup netra nan layu, hanya cicitan sriti menyapa di ketinggian, kembalilah pulang wahai rama-rama menari, hari telah petang.

Siulan camar di pantai memanggil gelombang riak bergoyang menepi, dia yang ingin kembali mencari jejak memori, ambai-ambai tenggelam tertinggal pada kenangan silam, bahwa pasir tak lagi putih.
Sinopsis kasih nan usang menitip seuntai sajak lara, pada tinta yang hampir pudar warnanya.

Kepada senja di bukit cemara, bulan enggan titipkan pelita menerangi mayapada, dada langit masih mendung menyapa malam,
ironis, rinai telah jatuh duluan basahi pipi, bahwa kehadiran asmara nan berlalu hanya fatamorgana.
Dik, Januari terakhir tahun ini
sisakan harapan pada Pebruari,
jikalau bianglala tak lagi berwarna pada senja, bukan berarti lembayung tak disinari aurora cinta.
Lihatlah dik, gugusan kasih masih menari pada senyuman rindu yang terabaikan, ketika kasih berbunga mesra kembali di jemari ini jangan lengahkan, tatap mataku! Masih ada diary kita merupa, dan
sentuh juga dada ini, masih berdebar menyebut namamu.

Jika Pebruari nanti masih mendung, hujan turun kembali. Jangan embun ditumpahkan di daun nan layu, biarkan kearifan alam menyuburkan dendam rindu tak kunjung sudah untuk kita, menyirami gersangnya laju yang pernah kita lalui.

Dikau yang ingin kembali pada noktah hati yang tersisih, oleh cabaran nan pernah kau hidangkan, kau memilih aku dan dia, kembalilah dik! Ke jalan yang pernah kita rintis berdua, tautkan hati, genggam erat jemari kita, tak ingin berpisah kedua kalinya.

HR RoS
Jakarta, 28/01/2017



MIHRAB CIPTA KEKASIH
Karya Romy Sastra


Hu Dzatullah,
saksi kekasih menatap maha kekasih
tercipta cinta seperti burung Ta'us
memuji tunduk pada Rabbani
segala yang ada bertasbih
bersaksi pada titah azali berdiri
sujud menghadap mihrab cinta.

Nuktah tertumpah jadikan,
madi wadi mani manikam
anasir sahabat itu.

Ya Jibril kepada bumi
ya Mikail kepada air
ya Israfil kepada angin
ya Israil kepada api.

Pancar memancar sinar rahmatan
bersembunyi di qolbi
jangan jauh-jauh mencari Ilahi
cukup kau mati di dalam hidup
kan dikenali megahnya istananing hati
bersemayam segala rahsi

Sesungguh jalan pulang tak jauh ditempuh
rentan waktu seujung kuku.

Tiba-tiba kematian jasad datang menyapa
El-maut marah-marah
takut?" Iya
apalah daya tak tahu jalan pulang
sesat alang kepalang
mengigil rontok segala nyali
tak sadar satu persatu malaikat itu
sebelumnya telah pergi
yang tersisa hanya amal kerabat sejati.

Selesai perkara dunia
tubuh berdebu jadi abu
yang abadi tak akan mati
meronta ingin kembali
sia-sia saja jeritan pilu
yang ditangisi telah berlalu.

HR RoS
Jkt, 27/01/2017



CATATAN MEMORI YANG TERLUKA


Hari ini aku mengutip
sebuah kisah lalu
kucoret semuanya jangan tersisa
sehalus-halus ingatan
dan sebesar-besar rasa
tenggelam kecewa ke samudera tinta

Kupintal benang memori
kusimpul jadi cerita luka
dan kujadikan raga puisi
untuk kukutip sepikul mimpi

Ya, hari ini aku pelajari bayangan
tentang sebuah kehidupan
betapa sukarnya
meniti di titian yang kecil

Terkadang kaki hampir tersandung melangkah
terkadang tersungkur di lorong waktu
tanpa ada tangan sudi menggapai
betapa susahnya memetik kejora
padahal malam berpurnama indah
jatuhlah wahai kejora ke jiwa ini
biar kerlip menerangi hati

Hari ini aku memahami
arti sebuah persahabatan
tidaklah ia seindah langit biru
dengan kepulan awan
nan memutih indah di dada langit

Sahabat itu,
ketawa bersama menangis sendiri

Ya, hari ini aku mengerti
tentang sebuah angan
semua yang indah diharapkan
tak menjadi pelangi pada senja tadi
kenapa misteri yang bertamu
di ruang rindu
takut aku akan kidung semu

Pahit kadang lebih mesra kurasa
yang hadir menghampiri diri
yang datang memeluk erat
lalu membisik halwa manja
hinggakan hati ini berwadah
hidup tapi mati rasa

Apa pun itu,
kehidupan ini perlu kuteruskan
demi sebuah asa diri
meski kaki ini berdarah
meniti jejak-jejak kerikil hidup
hingga ke hujung nyawa raga terpisah....

HR RoS - Adyra
Jakarta - Kuala Lumpur
Feb 15 2017
6.56 Pm



JEMBATAN KUBANG NYANYIAN JIWA
Romy Sastra

i
tirani adat dalam kaum bergulir kepada zaman untuk peradaban tak bertuan, generasi dimulai dari sebuah ekspedisi para tuanku, alam berkembang disebabkan pecahnya kearifan istana di tungku tiga sejarangan dalam percaturan kekuasaan di tangan raja yang terkudeta oleh konflik aturan dalam kekeluargaan melahirkan keturunan ke berbagai seantero bumi Melayu

ii
Bayang sebuah negeri ekspedisi tuanku raja penghulu adat membawa empat suku dari negeri Solok Alahan Panjang, titipan tutur tuah tuanku di bawah panji adat istana Pagaruyung Minangkabau

iii
dendang indang nyanyian penunggu rimba bersahutan di hulu, si bunian melestarikan budaya pada kearifan alam, jagalah hutan dengan cinta, jangan tergerus titipan penguasa alam pada kelangsungan hidup akan terus berlanjut, yang menimbulkan bencana tiba-tiba, rusuh aliran air bergemuruh banjir bertamu mengalir ke tepian menuju samudera, risau tertumpah di dada mengingat ikatan jembatan jangan terlepas oleh hempasan deburan air bah

iv
si bujang tertegun dalam igauan
kala lamunan menyentuh kasih memadah kisah di atas aliran air batang Bayang di jembatan tua, ketika petang telah tenggelam, kumandang azan menabuh segala ruh, sujudkan diri menghadap Ilahi, senja berlalu, kita yang pernah bernyanyi lagu-lagu kenangan di jembatan itu,
nyanyikan tembang jiwa di kala senja menjajah malam menikam kelam, remang kisah hidup duduk si anak bujang petik seruling bisu siulan dungu, bahwa tepian jadi saksi cerita yang tak pernah sudah

v
batang Bayang dalam nyanyian jiwa
dekade telah berlalu sisakan selaksa cerita pada jembatan tua, bahwa di sana kisah bercumbu, sepoinya angin malam menatap kejora malam di dada langit,

vi
kawan,
lihatlah titian yang terpilin oleh arus bah, teronggok sudah jadi sejarah zaman pada regenerasi titian sepintas berlari ke seberang dan titian ini pernah kita lalui bersama, ya, cerita kita pernah tertitip di sini, kisah kita bukan cerita semusim,
tapi cerita yang pernah mabuk dengan kecubung, sebatang rokok filter dan dengan sebatang tebu yang pernah kita ambil di jalanan, ada cerita tentang dunia ini indah dan tentang ikrar asmara cinta yang membuat semangat muda mudi bergairah menatap langit pada purnama mencumbui si pungguk yang merana

vii
kepada malam yang dingin di ujung jembatan kita berjuntai, petikkan gitar tua, bahwa dalam sebuah irama lagu kisah kasih di sekolah masih terasa indah hingga kini

viii
ah, kau cerita yang tersisa pada negeri yang kucintai, dari titipan leluhur pujangga adat dari istana berkelana membawa peradaban zaman ke negeri Bayang,
Kubang nan denai cinto

HR RoS
Jkt, 16217



MENCARI MAHA KEKASIH
By Romy Sastra


Tapa lingga yoni ning hening
lebur terkubur bermandi peluh
mencari cinta sepanjang permana
memuji menempuh kematian di dalam hidup
dalam gulungan ombak beriak tak bertepi
mencariMu

Bilangan napas di tubuh gemuruh
bertanya pada sami' lonceng berbunyi
membuka pada tabir bashir
sepasukan kerlip bertamu
jubah Jibril menyelimuti dunia
gigil terpana diri diam tak berucap

Rasa bisu menyentuh kalam
bawahlah daku mursyid ke langit tertinggi
kasta-kasta mewah ditempuh
pada tujuh pintu neraka kau tutup
membuka tujuh pintu nirwana
terbuka tirai maha kerlip
menyentuh segala sukma
tauhid berdiri di Baitullah

Salaamun qaulam mir rabir rahiim
salam sejahtera untukmu wahai pendaki
di sini pintu rahmat maha raja bermula
daun-daun berguguran
netra dunia padam netra batin menikam

Memang pendakian ini
belumlah sampai jejak langkah kau daki
ini masih alam cahaya
leburkan saja kerlip jingga itu
jangan bermain rona
itupun masih rupa nafsu
matikan dirimu hingga fana
kan kau temui yang kau rindu

HR RoS
Jakarta, 15/2/17



BIAS TERLALU PAGI
By Romy Sastra


Mengenalmu
jauh sebelum kita mengenal dunia maya
aku mengenalmu hanya sebatas sahabat saja

Kukenali dirimu
memang kita pernah dekat
aku mengenalmu
hanya sebatas nasehat-nasehat

Pada lembaran hari
dalam gurauan memori rinai mengiringi
mendung pagi titipkan dingin di jendela
cuaca masih tak bersahabat
mendung menghiasi hujan
sang mentari mengintip malu
di ufuk awan

Irama luka mulai luruh
jatuh ke dalam nada sendu
pada lamunan persahabatan kita
kulabuhkan perasaan
ke dalam makna
untuk memetik hikmah
dalam wacana yang tak berirama

Goresan puisi pagiku hanya sekedar
mengantar untaian bayangan silam
berharap,
mentari yang malu menyapa kembali
selamat siang hari,
jangan bias dikau mentari
terlalu pagi bersembunyi
senja masih jauh di ufuk maghrib

Wahai pelangi nan menari
titipkan rerona embun menyirami pagi
bias-bias resah di dedaunan kan kering
yang layu berganti ceria seketika
malam, cerahlah bersama kejora
Salam dariku tuk sahabat di mana saja berada
yang terstory pualam semoga berbahagia

Kala malam angan menyulam kelam
bakar saja sebatang lilin
bermainlah bersama lelehan
biar hangat jemari ditingkah dingin
jikalau malam tak purnama
titipkan sebait doa
hati yang redup bersinarlah kembali

HR RoS
Jkt, 15/2/17



MENCUMBUI LARA
Romy Sastra


"Ohhh...

Di awal malam hadirkan rasa rindu
sunyi mulai bernyanyi di lorong-lorong parit, parung jangkrik senandungkan kidung malam,
si anak kecil mengintip celah parit
kejepit kalajengking menangis pada wajah yang telah membiru
duka negeriku terhantui, percaturan politik gerilya di barak-barak rahasia, bak bom waktu meletus sewaktu-waktu, aahhh....

Pagi nan lara yang tak beralamat, seduh saja gelas putih tak bergula
yang biasa hitam berasa manis, dahaga terbeli meski otak tak ternutrisi inspirasi, sebab, kopi telah bercampur menu doktrin sianida di atas taplak meja menatap warta jurnalis tak lagi berimbang.

Dalam lamunan nan lara, sang marjinal menuang imaji hina
berceloteh pada pena kanvaskan perasaan yang tak bermakna dalam maya ini, tepuk jidat tuan nan berdasi si buta hati di jendela kasta tertinggi, karena nasib bangsa telah terjajah oleh benalu serakah.

Semalam merindu pujaan di balik awan, tak nampak mahkota kerlip di langit, iklim masih bersahabat pada koloni hitam,
si mayang menjauh tinggalkan kemewahan
tak ingin bersolek pada keindahan yang semu, hatinya telah lara tak lagi mau dicumbui.

Oh, kau yang di sana, di meja yang sejuk, berembun tak membasahi.
Aku di sini, kirimkan alunan puisiku bernyanyi ditingkah hujan, embun berguguran di dedaunan
pagiku selalu menari menghiasi kertas menghibur hati, karena jejak kaki berlumpur di depan rumah, nikmati saja sepotong roti sisa kemaren petang.

Aku memuja kedamaian pada sukma bermain tadi malam bersama kekasih pujaan
telah kutumpahkan pundi-pundi rasa ini,
nyaris tak tersisa dan ternyata kemesraan semalam menutup kemesraan duniawi, kemesraanku hanya di sajadah religi.

Kelembutan telah kupasrahkan mengaliri rasa sayang
rasa sayang itu kepada budi yang bersahaja.

Dalam sunyi mengobati letih, menjalin perasaan di kesendirian
'tuk isi hari-hari dengan kewaspadaan
dan menghadiahkan kebahagiaan walau hanya dalam sajak dan puisi
rela lelah walau bait-bait ini tak dimaknai.

Harapanku, semoga yang membaca tidak gelapkan hati tentang madah nan lara
yang kita kan sama-sama lara walau irama berbeda,
aku berbagi, walau hadiah ini dalam sebatas senyum diksi untukmu,
walau tak dihargai tak apalah
dan aku kan selalu tersenyum mesra
bersama sastra.

HR RoS
Jakarta, 110217



SI MISKIN BERCINTA
Karya Romy Sastra


Si miskin bertanya,
ke mana akan dibawa pohon cinta yang telah lama berbunga ungu
arah rindu telah kelabu mendekap pilu
berbuah malu

"Oh, mendung
mendung rindu yang tak lagi menentu
langit sebak menutup gejolak di dada ini
lilin hati kenapa padam, nyalakan kembali
jangan kelam bermain diam, kan tersasar arah realiti yang selalu menanti

Kasih,
telah tinggi aku pacu semangat berlari
mengitari hari mencari sesuap nasi
mengejar obsesi meraih impi
namun nasib tak jua berpisah
dari badan diri.

Masa bahagia nan pernah singgah
menyapa beranda asa sekejap berlalu
dan sayangnya seketika sirna tiada tersisa

Kuterpaku bertanya dalam hiba
ketika cinta tak rela berdiri di jalan yang licin, berlalulah dari arah itu!

Di sana
jalan berpita merah
berpermadani indah terbentang
menuju istana noktah bermegah
hidup dalam kasta yang mewah
aku berdoa rela untukmu
berbahagialah bersamanya

Bibir menjadi saksi lirih, secebis kemesraan menyulam angan yang bermain di ujung mimpi semalam kian kelam
bias kisah semu tak berbuah setia
rasa yang tersisa ini kelu sudah ke dalam bisu

Biarlah bayangan diri jadi penonton
dari bilik sunyi
menatap paranoid kasih yang tersisih

Biarkan kudekap angan yang rapuh
merestui kebahagaian bersama yang lain
berbahagialah hendaknya di sana selamanya

Kasih,
hapuskanlah cerita cinta yang pernah mengisi ruang hati ini
kala bersamamu dulu,
aku rela dengan telapak tangan sepuluh jari
menyerahkan semua takdir ke meja berlapis sutera di ruang jamuan kasih yang dia sediakannya

Dalam kasih yang tak sampai
kearifan cinta yang pasrah berdamai saja pada kekalahan si miskin bercinta

Gubahan rasa yang terakhir ini
dengan tinta merah kumadah goresan luka
mengusap derai air mata
yang membasahi duka hidup
yang kian menganga

Doaku,
berbahagialah dikau di sana bersamanya.

HR RoS
Jakarta,10217



FLASHBACK
By Romy Sastra


Seiring berjalannya waktu,
hari bulan dan tahun terus melaju
sisakan detik sejenak balik ke belakang
buka tabir memory masa lalu.

Pada suatu tanya dalam lamunan, teringat semua sahabat
di mana daku temui sahabat-sahabat itu
yang dulu bernostalgia seperti si Bolang
pernah bercinta bagaikan kupu-kupu malu
masa lalu merayu berkirim surat kepada pecundang dikibuli, surat tak pernah sampai ke tangan si pujaan, malah disembunyikan
dan kini kurindu sahabat di muka buku ini.

Untukmu sahabat yang di ambang senja
kepada cerita yang belumlah usai
dengan sebatang rokok dan ponsel kugenggam di suasana santai
menatap seperti sayup-sayup sampai.
Siapakah ia gerangan dalam sampul lembaran maya, satu persatu berjuntai di dinding kaca.
"Ah, nyaris aku tak mengenal
wajah-wajah yang sudah keibuan bersolek bergaya bagai seleb dengan senyuman.
Di balik kerudung nan imut
telukis wajah berangsur tua keriput,
entah untuk siapa wajah yang keriput itu?" Entahlah.
Didandannya diri seperti bergaya muda, padahal tak muda lagi.

"Oh, sahabat maya yang di sana
dikau dulu dara cantik menarik,
kini meranum nyaris layu sulit dikenali
hanya daftar nama pada netra buta meraba mengenalmu lewat rasa, adakah rasa nan lama bisu tersentuh.

Aku tersenyum nakal, tak terasa bulir-bulir air mata bahagia menetes di remangan hati di musim hujan menuju pancaroba ini, dudukku bisu bercumbu pada imaji, dan dinginnya senyumanmu pada umur yang beranjak sepuh sama sepertiku, aku terhanyut akan masa lalu, masa lalu dan waktu yang tak bisa diputar lagi.

"Ohh, sahabat, aku sadar kini!" Stuasimu sama seperti aku, ataukah keadaanku yang jauh di bawah standar gaya, karena pelita dunia tak menerangi jalan hidupku. Walaupun begitu, aku tetap bersyukur pada maha pencipta yang telah memperjalankan roda nasib, sehingga nasib ini indah kurasa dan meski kita tak pernah berjumpa, aku semakin larut dalam sedih senja ini, biarlah.
Sebab, rama-rama tak lagi menari
di taman-taman cinta telah gersang, kerontang oleh kemarau nostalgia yang tak lagi bernyanyi, seperti diulit mimpi pada bayangan kisah yang kian terjepit, memang nasib kisah kita berbeda.

"Sahabat maya yang di sana"

Aku takkan menemukan lagi
canda tawa itu, semasa gurau bercampur rayu dan kadang pertengkaran kecil menghiasi celoteh parung-parung murai bernyanyi di masa lalu,
dan teramat sedih lagi, ingin rasanya kugapai semua memory itu satu persatu
itupun terasa berat, satu saja berat rasanya kuwujudkan tuk menemui Realiti pada flashback kita.

"Mmm ... kutarik napas ini dalam-dalam, memang sudah jauh berlalu memori itu.

Di irama dunia yang berpacu mengejar asa menjaga maruah,
testimoni telah menjadi sinopsis diksi pada prosaliris,
bahawa kita telah punya tanggung jawab yang berbeda dan terpisah di kota dan daerah yang jauh di sana-sini
hanya ungkapan rindu akan masa lalu untukmu sahabat berbahagialah kalian semua di sana, ya di sana.

Kini, kita sama meniti asa di arena yang berbeda
aku titip pesan, mengabdilah pada cinta yang memelukmu saat ini!"

Dalam hayal ini, kuhentikan keterpakuanku tuk mengenang masa lalu itu
berkaca menatap langit dalam keremangan mendung, ruang itu pekat
berkaca pada bayangan diri menari kausalis bayang dari asal berdiri
tersadar, esok bersama mentari bersinar kembali
kan kugapai cita raih asa di dalam rumahtangga di masing masing kita.

Sahabatku, di mayaku!
Sekali lagi, doaku untukmu, mengabdilah sebaik-baiknya dalam cinta
ciptakan rumahtangga yang SAMARA, Sakinah Mawaddah Wa Rahmah demi mengapai ridho-Nya
karena di pundak kitalah pelanjut tirani keturunan sejarah orang tua berbenah
semoga maha karya tirani kita bermakna sepanjang sejarah
dan menjadi sebuah nilai kebanggaan pelanjut generasi berikutnya untuk keturunan zaman.
"Oh, sahabat....

Semoga saja, wassalam.

HR RoS
Jakarta, 08022017



BERMALAM DI KLENTENG TUA
By Romy Sastra


Demi kesuburan dan kedamaian
sang Dewi menitiskan kasih
dari klenteng Budhis tertinggi
aroma mewangi
di lorong-lorong angin
dari peribadatan sang reinkarnasi

Pelangi jingga melingkar tadi senja
langit Jakarta disuguhi dupa
Petak Sembilan
dipayungi Dewi Kwan Im

Tatapan marjinal lara, menadah
mewahnya dandanan sang umat Budhis
mendung berlapis
alam berjubah putih keabuan
pertanda rintik-rintik kan menitis

Pada kejayaan Tao
para Dewa Dewi melukis senyuman
di dalam klenteng tua
sang pengemis
meminta belas kasih
dari sang pemuja
kesejahteraan dunia reinkarnasi

"Ohh....
Budhis-Budhis
penebar keharmonisan insani
dari Nirwana kau tanamkan cinta
untuk sesama
berbagilah kepada mereka di sana
yang mengulurkan tangan
bagi yang membutuhkan
semoga siklus reinkarnasimu berjaya
pada dunia kelahiran berikutnya

Gong xi fa cai.

HR RoS
Jakarta 7-2-2016, 18,377



KABUS RINDU BUAH HATI DI KAKI GUNUNG LAWU
By Romy Sastra


Bias-bias embun pagi
tak kunjung kering di dedaunan
kala senja menyapa
alam tertutup kabut mencekam
berselimut bayangan kelam.

Nun yang jauh di sana
dari kesibukkan ibukota
lamunan bocah di kaki gunung lawu
di gubuk itu,
tatapannya pada langit rumah selalu bertikai
kenapa pengap tak ada nada memanggil
dari ayah yang selalu dirindukan.

Kau si bocah telah remaja
tumbuh tanpa dekapan orang tua
yang selalu ditinggal pergi
pada jemari noktah mengitari jejak hari untukmu
di lorong-lorong kota termamah asa
ayahnda bersenandung lirih di kala senja lewat maya.

"Oh, awan yang berarak di cakrawala tinggi
kutitip si buah hati dalam wilayah Brawijaya
dengan tinta madah pujangga
tembangi kearifan rasa bersimponi
dalam aturan budaya sang Prabu
di gunung leluhur itu.

Di kaki bukit yang asri
si buah hati kutinggalkan dalam jalinan cinta
menjelang dua dekade kau kini sudah remaja.

Putra itu,
kala siang bermain berlari
mengisi hari menutup sepi
pada senja menyapa
dikau bermuram durja,
bertanya sendiri jauh ke dalam jiwa
di manakah ayahku kini berada
yang tak kunjung kembali.

Ketika pikirmu tak terlerai
bulir membuncah di pipi
mengalir ke sudut bibir, "uhhh....
matamu terkatup lirih
ke mana kan kucari ayah bunda yang jarang ada di rumah ini.

"Ayah, Ibu.

Dikau penuntun penerang jiwa nan sepi
kembalilah!
Terangi rumah ini dengan cahaya cintamu.

Seringkali padi di kampung ini berbuah
di tepian jalan menurun mendaki
di tangga sawah tersusun indah
gontai langkah kaki kala pulang sekolah.

Ananda,
acapkali tersenyum menatap pelangi
kala senja menghias di kaki gunung Lawu
sendu tiba-tiba membuncah lara
gerimis di hati leraikan tatapan senja
pelangi malu dan redup tertutup kabut
Dendang rasa rindu
bukan senandung semusim saja menghampiri
tapi sudah lamunan hari-hari.

Padi itu selalu menguning
silih berganti dituai petani
ayah, kau tak jua kembali
tinggalkan seribu kota itu
yang telah kau lewati, kembalilah ke desa
di desa kita pernah berlari
mengejar capung-capung
menikmati gigitannya di jari kecilku ini.

Kembalilah pelita jiwa
oh, ayahku!"
mentari sudah meninggi
menara pucuk bambu merayu memanggilmu
temani ananda sekali lagi
biar kudekap kau erat-erat di rumah rindu.

Testimoni dari rintihan si putra di balik telp,
kala senja menyapa ayah bunda.

HR RoS
Jakarta, 6-2-2016. 12,45



BERBAGI PENGALAMAN RELIGI DAPAT DALAM MIMPI

Sebuah kitab kutemukan tentang salat menyapa dalam mimpi.
Isi kitab itu menerangkan,
bagaimana keadaan tubuh ini tatkala Allah Swt menjawab pertemuan hambaNya dalam salat hakiki?

Tandanya: Reaksi seluruh tubuh itu meregang gemetar,
nada ning dalam telinga seperti lonceng berbunyi.

Setelah itu hanyut dan fana,
tubuh yang gemetar terhenti di dalam kefanaan yang akan terasa sejuk dan lembut. Tatapan mata batin melihat pancaran cahaya datang bersamaan, cahaya yang hadir bersamaan itu tadi bias menjadi awas....
Wallahu allam bisawwab

HR RoS
Jkt, 06022017



HISTORY JALAN MEMORI
By Romy Sastra


Ingatkah dirimu di jalan itu?
Jalan yang pernah kita lalui
bercerita tentang dunia ini indah
kita kan meniti titian senja berdua.
Masa remaja telah tertinggal jauh,
sedangkan kini, uban sudah mulai memutih
memori kita selalu baru mengikuti jejak ilusi.

Sekilat lidah janji sebait irama nan manis
dekapan bersembunyi di dada kekasih
kau terlena dalam pangkuan rindu
seakan tak mau melepaskan hangatnya tubuh kita.

Dalam lamunan rindu pada hayal tempo dulu
kisah dungu itu telah jauh berlalu
cerita kian membisu tinggalkan kenangan
tawa kita nan dulu mesra seirama senada.

Kala itu,
pelukkan ternoda dalam kecupan mesra
seakan tak menerima kenyataan cinta
kita bertikai dihiasi rinai senja
kau berlalu tinggalkan sepi,
sepi di jalan memori.

Jalan itu ... oh, jalan memori.
Dikau berlalu menjauh, jauuhh dan menjauuuuhh.

Rinai berlabuh, derai rindu pilu
kau nan berlalu tinggalkan kepingan luka, kuterpaku....

"Ah, setetes maniak mengalir
menghiasi pipi.
Akhirnya, tinggalah kusendiri
kita berpisah.

Mencoba memanggil namamu
kau semakin berpaling
perlahan namun pasti
di ujung jalan di persimpangan hati
daku menoleh ke belakang
seakan ingin menggenggam erat jemari kembali
kenangan itu sudah lama usai bersamamu,
ternyata bayangan kasih harapan ilusi
tetap saja rindu pergi bawa dendam tak sudah.

Serasa kini memori itu kembali lagi bertamu
bayangan yang melintas tatkala jemariku
mengenggam erat jemarimu,
bisikkkan kata cinta pesona rasa,
"Ahh... hayal fatamorgana kau membangunkan tidur panjangku tentang kisah kasih tak sampai.

Kala malam bermanja tinta, rinai malam ini bertamu lagi, tintakan cerita basi sebait mimpi, tenggelam madah ke dasar samudera yang memang kita berpisah.
Lambaian hayal di kejauhan history ucapan lirih,
selamat berpisah kasih, jika kau rindu kembalilah nanti.

Kata-kata paranoid mencengkram janji
Selamat tinggal kekasih,
selamat tinggal sayang
suatu masa aku akan pergi jauh
tinggalkanmu sementara waktu
Kau tatap seraut wajah bayangan rindu nan lara.
Ucapkan!"
kenapa kita berpisah dulu di jalan memori
dan kenapa kisah itu terjadi?

Bahwa kisah nan indah itu kini telah membatu.
Akhirnya kemesraan hayal memudar jadi memori saja buat selamanya.

"Uuhh... aku tertunduk diam, terpaku berkata tapi bibir kelu.
Tak tahu kala itu,
kita sama-sama kecewa kemesraan itu terlalu dini terleraikan, kecewa sendiri, ucapkan kata selamat tinggal kekasih.

Kini, terlintas hadir masa lalu nan merindu
masihkah dirimu yang di sana menyimpan cerita terkubur dalam peti rahasia hati terkunci mati
dendamkah dirimu dengan kisah itu?
Entahlah.

"Kisah, aku datang kini,
dengan sebait cerita yang lusuh
mengingatkan masa lalu kita,
akankah dirimu yang di sana masih teringat jua kisah di jalan itu,
jalan saksi bisu yang pernah bermadu rindu di tetes-tetes gerimis senja yang ranum,
kini kisah itu telah jauh berlalu
tak mungkin di rangkai kembali.

HR RoS
Jakarta, 05022017
#dalamlamunanmadahmemori



DI BAWAH POHON KAMBOJA TUA ITU RINTIHAN LIRIH
By Romy Sastra


Bulan sabit telah menggantung
di balik pohon kamboja itu
tanah merah belum digali.

Perjalanan diri
telah berada di ujung tanduk
aku menyadari,
untuk menempuh ujung jalan
haruslah melalui pangkal jalan
pangkal jalan yang terdekat itu
adalah diri sendiri.

Ketika dahan beringin tua itu patah
tunas-tunasnya berganti
dan ketika daun-daunnya berguguran
bunga berputik tak menjadi layu
siklus tumbuhkan kembali.

Oh, misteri?
jangan bayangi mimpi dengan el-maut
izinkan aku Tuhan hidup seribu tahun lagi
beribadah sepanjang napas memandu
bila el-maut kan bertamu,
kembang setaman dan air doa kasih
shohibul bait persiapkan cangkul
ke tanah merah yang siap siaga menggali.

Oh, misteri?
bukan puisi ini memanggil nan ditakuti
bukan juga doa sebelum takdir merintih
aku masih punya cinta untuk sang kekasih
jangan kau ulit aku
dengan mimpi-mimpi misteri itu.

Di bawah kamboja tua
lamunan terpaku sendu.

Diri?
Adakah amal ibadah kau dekap
selimuti arwah tidur panjangmu di sana.

Ya Illahi,
izinkan hamba melafazkan seribu istighfar
di setiap lengah di dalam jiwa ini
biar tak sia-sia hamba dihidupkan kembali
lautan dosa keringlah!
jadikan telaga amal surgawi tuk bermandi.

Ketika doa tak terkirim kepada Illahi Rabbi
sesal dirundung duka tak berkesudahan
di sana, selamanya....

HR RoS
Jakarta, 05-2-2016, 00,00



SEMBUHKAN LUKA INI
By Romy Sastra


Coba bayangkan!
ketika ditinggalkan orang yang dicintai
saat dia yang disayangi mengecewakan
mengkhianati, sakit di hati ini....

Air mata ini tangis penyesalan
tak ada yang peduli
tak ada yang mengerti
hanya aku dan sepi berselimut sedih
dalam kelamnya hidup
apakah semua berakhir di sini
dalam gelap tersadar
tak kubiarkan hidup ini sia-sia.

Aku harus bangkit,,,
melanjutkan perjalanan hidup
walau sisa luka masih terasa menyakitkan
mencoba memaafkan
dan melepaskan masa lalu
bersyukur untuk rasa sakit
yang membuat jantung semakin kuat berdenyut
ini saatnya aku harus melangkah
tak peduli seberat apapun perjalanan itu.

Berjalan dengan harapan
dengan tindakan menuju kebahagiaan cinta sejati
ini saatnya memulai langkah pertama
dari pahitnya masa lalu
meski langkah yang sudah dititipkan sejarah
jadikan guru berhias memori.

Dengan rasa peduli
bagikan harapan indah kepada teman dan keluarga
yang membutuhkan sebait goresan asa yang tersisa ini....

HR RoS
Jakarta, 04022017



ZIKIR

Denyut jantung berzikir
Allahu puji zikir itu
Sujudkan tubuh
Bersatunya lahir dan batin
Total mengabdi pada Illahi

HR RoS
Jkt, 02022017



MONOLOG KACA DIRI
By Romy Sastra


Jangan bermain rindu pada kunang-kunang
kerlip cahayanya sekejap redup
bercintalah sepenuhnya pada kekasih realiti
kan didapatkan kemesraan hakiki.

Bersolek pada bayangan kelam
rupa abstrak fatamorgana diri paranoid
bercerminlah pada rasa
biarkan jiwa mencari jawaban terindah.

Jangan berkaca pada riak ego memandu
kan terjatuh malu di kolam berlumpur
berkaca pada cermin retak
wajah nan rancak nampak berserak.

Mengukur diri jangan pada bayangan
takkan didapatkan jawaban nan pasti
malah ia dikejar semakin berlari.

Tersenyumlah sedikit pada nasib
meski himpitan menjerit
misteri takdir adakalanya tersenyum manis.

Singsingkan lengan hadapi dunia
jangan lari dari kenyataan
kehidupan berlanjut pada bibit
jangan berhenti sebelum finish.

Tataplah dermaga jiwa
layaran berlabuh membawa sukma
jangan layu menatap hati
mentari batin tak pernah redup menyinari.

HR RoS
Jkt, 01/02/2017



MENDUNG HARI YANG TAK KUNJUNG PERGI
By Romy Sastra


Mendung tak kunjung berlalu
selaksa rindu bungkam
di beranda sore kemaren.

Menyapa langit pada netra dunia
bersinarlah dikau lewat jendela hari
izinkan pelangi hadir gemulai sekejap
menuntaskan rindu alam pada embun.

Di awal pagi nan dingin
terik kenapa malu, siklus kan berganti.

Oh, hujan
biasmu menyisakan butiran pada puisi
di keremangan awan resahkan langit
pada malam nan berlalu
kerudung malam tak berjubah rembulan
malam ini,
bakar saja sepotong lilin hangatkan sepi
koloni musim belumlah berganti.

HR RoS
Jakarta, 01/02/2017



KENDURI ZIKIR HATI
By Romy Sastra


Kepada wali nan bersembunyi
nadi memuji detak jantung mengiringi
nyanyian jiwa berirama tasbih
tak terdengar sama sekali.

Padahal pesta panggungnya kerlip
penonton bersorak-sorai
dalam aksi dimabuk tuak Illahi
para malaikat jadi saksi
hebatnya kenduri sufi di majelis zikir hati.

Musyafir dahaga mencari cinta
yang dicari tak berjarak
dari jejak langkah tak terpijak
wali itu pun malu tertunduk dan mati
arasy terbentang sepanjang batin memandang.

HR RoS
Jakarta, 31/01/2017



ANA DAN KAKA

Ana dan Kaka
sentuhan jemari belaian rindu
kiambang bertaut sisakan senyumanmu.

Ana dan Kaka
biarkan teratai layu di tasik madu
akar berenang menelan pahit
benang-benang kehidupan
cabaran merajut kilauan.

Kelopakmu tersusun rapi
meliuklentok mengejar bayangan
jangan layu tersentuh bak mimosa pudica.
Ana dan Kaka
sayapmu patah di kiri dan kanan
menganyam rindu di bibir malam
tadahkan tangan dalam sujud
raih mahabbah maha kekasih.

Jangan mengharap kasih
yang tak kunjung datang
bicara tentang mama dan papa
iringi dengan doa
yang terkubur di pusara
sirami dengan kembang setaman
berbahagialah hendaknya nama yang tertulis di batu nisan
di samping pohon kemboja.

Ana dan Kaka
tersenyumlah menatap mentari pagi
di sana kehidupan masih berlanjut
senja belumlah tiba
persiapkan amal ibadah
untuk bekal bersemayam nanti
bersama mama dan papa, ya, di sana.

ANA DAN KAKA
(kisah dua anak Yatim)
puisi kolaborasi, Nur Mutiara PELITA TRG ( Norhaizan Mahussin)
bersama Romy Sastra
Jakarta, Malaysia 18/2/17




OPTIMIS
By Romy Sastra


Dalam lamunan
kuhayalkan tentang diri
berteriak dalam ruangan kosong
desahku lirih mencibir bayangan semu
teriakin kebodohan

Dalam sadar kubuka pikiran
Pikirkan tentang jalan hidup
untuk menerobos onak belukar
kegundahan diri selama ini
gundah dalam bayang-bayang ilusi

Tersadar diri
memegang teguh jalan hidup
menjalani realita hidup dari-Nya
napas napas optimis kuiringi memandu
mengabdi ke jalan Ilahi gapai ridho-Nya

Canda tawa selama ini tak seindah kubayangkan
tak lagi menghibur lara
banyak sudah kebenaran Ilahi dilalaikan
pecundang sudah bersama lelah

Pagi bersama terik tatap masa depan
menutup bayangan semalam
jemari menyusun pertanyaan sastra
menulis dalam syair
walau terkurung dalam tanda tanya
di ruang penuh misteri
tetap jawabannya
aku akan menganyam realiti
untuk meraih impian
membentuk kepribadian

Tak selamanya malam itu kelam
bersujud dalam kesunyian di keremangan
mengadu kesilapan diri
menghalau kegundahan
semoga gelisah berlalu pergi

Dalam doa
menengadah mencari cinta-Nya
mencoba memacu semangat mencintai-Nya
berharap dicintai-Nya
dan mencintai yang di sampingku juga
mendekap tanpa melukai kasih sayang
hidup indah bersama cinta

Dalam goresan optimis ini
semoga maha karya puisi
tak sia-sia memaknakan cinta
oh, diri. Mengertilah!

HR RoS
Jkt,19/2/17



POTRET ANAK PINGGIRAN


i
angkuhnya kehidupan di gelanggang borjou, zaman bersolek di beranda masa depan pada kemajuan
berkacalah kemewahan pada kesusahan
semoga nurani menyentuh perit si anak kampung pantang mengeluh, yang tatapannya jauh dari cemburu, di panggung opera nan mewah laju deru mesin iringi kemajuan teknologi di bandar-bandar keramaian nan riuh, seperti gemuruh pesawat terbang
ya, pesawat yang terbang tinggi langkahi kerendahan gagah bersayap sombong hilang di balik awan

ii
duka bocah di tanah pertiwi, tak tersentuh akan nasibnya yang telah tergadai oleh globalisasi
bibirmu dik, bungkam sudah oleh keadaan, tataplah study pada ejaan semoga mengerti tentang kemajuan zaman terus bergulir,
sedangkan di dadamu ada bara regenerasi menembus lorong dan waktu demi maruah ayah bundamu

iii
alam ini bijak dik, dan dunia kejam
jangan picingkan mata, tatap laju duna ini, tantang dengan semangat membara,
pada filosofi isyarat sepikul kayu dikau gendong, 'tuk ciptakan bara api tanak nasi menjelang petang didihkan air di atas tungku perapian,
teruslah melangkah pulang dik, memang hari sudah petang,
nyanyian jangkrik bersahutan di hutan tak kau hiraukan
para bunian pun tersentuh mengintip langkah kaki si anak pinggiran di kaki langit nan jauh dari keramaian

iv
pada tanah pertiwi berlumbung emas,
manik-manik terurai hanya kerlipkan istana para raja,
seperti surgawi nan megah nikmat duniamu hanya sesaat saja
cobalah berbagi tuan, kepada mereka yang terpinggirkan bahkan dimarjinalkan oleh zaman,
tempa pendidikan mereka-mereka yang jauh di pedalaman

v
regenerasi ini bukan bodoh, tapi tahu diri dan berbudi
tak angkuh menyentuh laju kehidupan yang glamouris
memang dikau tak mampu bernyanyi tentang glamour semua itu, irama yang beda pada nada dan tarian nasib
dikau dik, bukan berparas miskin, tetapi kau kaya dengan peluh mencucur sebagai cerminan bakti si anak pinggiran pada orang tua, dikau tak malu ditingkah roda berputar
ada masa hidup ini indah, tegarlah selalu, tataplah mentari pagi yang ia tak pernah berhenti menyinari kepada mayapada

vi
titip salut pada rona bersahaja
dari wibawa anak gadis desa,
yang dikau sudah belajar arti kehidupan, dikau bukan manusia susah dan pemalas, tapi dikau mencoba memaknai perjalanan di awal langkah yang kau tempuh, yang dikau mengisyaratkan 'tuk menempuh laju ujung jalan tak risau dengan resah pada beban di kemudian hari
teruslah melangkah dik, meski dunia kejam tapi, alam ini bijak bersahabat dengan kearifan zaman
walau keadaan tak berpihak pada nasib

HR RoS
Jkt, 020317



PASRAH
Romy Sastra


tlah aku persilahkan dikau pergi
membawa kisi-kisi memori
tentang ikrar merpati tak tertepati
memang sayapnya patah
tertembak cemburu buta
dendamlah

kubur saja janji pada awan
tenggelamkan
memang purnamaku
tak mampu menyibak malam
iklim langitmu tak mau berubah
seperti pualam dihempas salju
tetap saja dikau berhati batu
aku menyerah

HR RoS
Jakarta, 04,03,17



BERNYANYI BERSAMA GITA
By Romy Sastra


sepilihan memori dalam resonansi puisi
pada rasa tak bernada kukenali
gita kita masih bersahaja
memahami tarian tinta di meja kaca
kepada sepoinya angin menerpa sastra
sepilihan itu mengerti cerita senja
seperti dian pijarkan malam

hama-hama di pucuk daun berbenalu
kepompong merenda kelambu sutra
jangan terpesona pada warna pelangi
yang hanya sesaat menari titipkan misteri
ada baiknya kita lalui jalan berlumpur
memetik hikmah pada jejak berikutnya
untuk lebih waspada tak terjatuh di lobang yang sama

tarian ini masih gemulai
lenggok tinta di kertas tak berwarna
menuliskan satu kata seribu makna
mimpi itu sudah terobsesi oleh poetry alam
sang Maha larik taburkan aksara
pada langit dan bumi serta seisinya
tuliskan pada jiwa yang mengerti
menebar seuntai senyum pada sajak dan puisi

jangan menyerah wahai nahkoda
arungi gelombang dengan santai
biarkan riak menari menggusur pantai
camar-camar tak risau bernyanyi
masih ada gemulai nyiur melambai tersenyum menatap sagara nan membiru
bahwa pemandangan itu indah di sana
meski ambai-ambai tergilas gelombang
tak gamang dengan hadangan
sedangkan lembayung
masih sisakan harapan pada buih
tertitip dari terik menyinari

HR RoS
Jkt, 28 2 17



RINDU KAMI YA RASUL

Ya, Muhammad
engkau diutus ke dunia
penyempurna akhlak manusia
dari sifat jahiliyah menjadi mulia
dari kegelapan menuju terang
engkau insan kamil
tercipta dari sabda Hu Dzatullah
sang utusan dari azali
hingga akhirat nanti

Rindu kami ya Rasul
dari risalahmu kami berpedoman
biar kami tak tersesat jalan
syafaat itu kami tunggu nanti
ketika amal kami tak cukup dalam timbangan
di Padang Masyhar

Beratkan nilai kebaikan kami
dengan syafaatmu
jangan sia-siakan harapan umatmu ya Nabi
berselawat seluruh jiwa untukmu
karena dari rahmat engkau ia ada
engkau kekasih dari yang maha pengasih

HR RoS
Jakarta, 18,02,2017



RENUNGAN MUSYAFIR
By Romy Sastra


Debu tak mesti bernoda padahal ia nirmala
sauk saja jadikan tirta tak basah
adakala ia pembersih yang dihalalkan
pergi bertamu ke Baitullah
jalan sang musyafir seribu langkah tak lelah
Sedangkan peluh meluruh di tubuh
bercampur debu bernoda tak mengapa

Kenapa banyu melimpah tak disentuh
tuk bersihkan wajah pada religi
sedangkan matahari di hati
tak pernah redup menyinari
puji-pujian pun di rongga
tak lekang memandu ruh di nadi

Ah, malulah pada hayat
tak lelah menghidangkan nafsu duniawi
kenapa tak disyukuri pemberian yang ada
bulan masih purnama
kejora masih kerlipkan cahaya
matahari belumlah terbit dari barat
berbenahlah sebelum terlambat

Ah, malulah pada ruh
ia masih bermain riang tak berbaju
bercumbu sunyi dalam kelambu rindu
ketika tamu tak di undang datang
jangan sesali tarian jiwa terhenti tak lagi berirama
penyesalan alang kepalang tiada guna
kembalilah wahai diri pada-Nya
dunia tak pernah indah
meski disulam dengan emas permata

HR RoS
Jakarta, 230217



SABDA AZALI
By Romy Sastra


Empat anasir berpadu
menjadi koloni buat tubuh
Nur Muhammad telah dulu bersaksi
Hu Dzatullah
Asyhadu alla ilaha illallah

Segalanya bermula dari alam kosong
yang ada DzatNya
Nur Qun Hu Dzullah
di dalam kandungan Qun Nur Muhammad dari pada DzatNya

Berkuasanya Dzat kepada sifat
tidak Aku jadikan engkau wahai Muhammad
melainkan rahmat untuk sekalian alam

Berfirman Rabbani pada sifatullah,
teteskan air nuktahmu wahai NurKu!

Nur mani menjadikan cahaya putih,
kepada air

Nur madi menjadikan cahaya hitam,
kepada bumi
Nur wadi menjadikan cahaya merah,
kepada api

Nur maningkem menjadikan cahaya kuning,
kepada angin

Tiada kosong telah terisi wajibul wujud

Bersabda sifatullah:
iyakun kun jadi, jadilah engkau Jibril
penguasa bumi

Bersabda sifatullah:
iyakun payakun jadi, jadilah engkau Mikail
penguasa air

Bersabda sifatullah:
iyakun payakun jadi, jadilah engkau Israfil
penguasa angin

Bersabda sifatullah:
iyakun payakun jadi, jadilah engkau Izrail
penguasa api

Kepada Adam tercipta sebagai insan kamil
khalifah di muka bumi,
tiada upaya semua tercipta mengabdi

Adam papah tak memiliki daya
sabda Rabbani titipkan karsani kepada Jibril
karsani ditiupkan ke tubuh Adam
Adam berdaya,
apa yang ada di dunia menyerah
Idajil tak terima

Daya keimanan Adam pada keinginan
menjadikan rasa mecumbui nafsu duniawi

Karsani tertancap di ubun
tembus ke dubur jadi abu
berjalan di bumi Allah
gelisah tak berpenamping
dari keinginan tercipta Hawa
tempat bermanja dan terlena
sesungguhnya surga dan neraka itu
nyata ada di dunia dan di jiwa ini

HR RoS
Jakarta, 21/2/17



Sajakluka
RINDU YANG TAK KEMBALI
By Romy Sastra


Untukmu kenangan terlupakan,
senandung rindu merayu kisah yang dulu bersemi telah padam, pada lembaran usang berharap jadi bahagia, menggoda rindu kembali. Pernah sesaat berkasih sayang di tengah jalan kisah terkhianati berbuah kecewa.
Ya, di peraduan sajak senja merona, kugubah sesuatu nama nan pernah kunyanyikan di pentas kekasih, singgah di hati sang kekasih yang tersisih.

Di jalan memori, tinta berbisik kepada khayal menatap sekelabat bayangan abstrak, tetiba hadir sekejap, titipkan resah dan pergi meninggalkan tanya, adakah pertanda rindu masa silam kembali lagi. Aahh, paranoid, kenapa tak pernah hilang? Terbukanya tirai ilusi kisah yang menyedihkan pada suatu pilihan di persimpangan jalan, meninggalkan kepedihan luka tak berdarah tentang cinta setengah hati terbagi antara harap emas dan suasa.

Risau mendera menatap kisah
telah terkubur dalam peti terkunci mati,
rasa rindu menyapa kembali pada lamunan sunyi, terasa semu disemai sepoi angin mamiri, aahh... rindu ternyata tak kembali.

Pada kekasih yang dulu terjalin, berjanji tuk menoktah ikrar dua hati sampai bersemi hingga ke nisan tanah merah, jejak-jejak tinta puisi cinta kutelusuri tak lagi tampak di dinding kaca, antara masa dan jarak berjalan tuk mencari rupa cinta, tak jua merupa. Karena tertutup kabus pekat di dinding kebisuan, rindunya pun tak pernah beri kabar lagi, apakah ia telah pulang selama-lamanya menghadap Illahi, ataukah sudah bahagia bersama kehidupan yang diimpikan pada kilauan emas, mencampakkan suasa tak berharga.

"Aahh... biarlah rindu tak kembali
jikalau harap terperap berbuah senap.
Kenapa jalan memori terbuka dalam lamunan tiba-tiba, padahal tak sedikitpun kuundang.
Bahwa satu hati pernah kecewa, meski pintu maaf selalu diberi,
tak jua menjadi penyelesaian pada konflik-konflik perasaan nan pernah terjadi.

Testimoni potret kisah nan lara
jadi sinopsis kecewa di jantung cinta tak bernadi, pernah mati.

HR RoS
Jkt, 4122016



Patidusa
KENDURI ZIKIR HATI
By Romy Sastra


Kepada wali nan bersembunyi
Detak nadi memuji
Nyanyian jiwa
Tasbih

Pesta panggung kerlip cahaya
Santri sufi hening
Dimabuk tuak
Illahi

Zikir
Majelis hati
Kenduri hakikat diri
Musyafir dahaga mencari cinta

Syariat tarikat hakikat makrifat
Jenjang fana tajali
Dari takhali
Tahali
HR RoS
Jakarta, 31/01/2017



Puisi patidusa tangga
NEGERI PARA BEDEBAH

Berkaca pada demokrasi rasulullah
Dari Muhammad bermula
Maruah terjajah
Dibebaskan

Seiring zaman tongkat merapuh
Pedoman dikebiri kawan
Satu payung
Pengkhianat

Demokrasi tersandera politik benalu
Menghalalkan segala cara
Berebut tahta
Serakah

Kapitalis menguasai perdagangan dunia
Imperialis penjajah genosida
Tak berdarah
Waspada

Pengusaha seperti badut gendut
Yang penting kenyang
Harta menumpuk
Stroke

Demokrasi jadi dagelan mimpi
Bebas lepas bablas
Hukum dibeli
Kerdil

Gaduh tak kunjung selesai
Rakyat kian sengsara
Tunggu komando
Caos

Berdamailah pada sejarah bangsa
Ukur bayangan berlari
Jangan seenaknya
Berkuasa

HR RoS
Jakarta, 03/02/2017



Puisi Patidusa Tangga
BERDAMAILAH NEGERIKU

Sayap garudaku patah tertembak
Wajah nusantara risau
Hipokrit merajalela
Politik

Siapa lawan siapa kawan
Yang punya kesempatan
Negaraku kacau
Mencekam

Panji-panji berkibar di keramaian
Seakan siap bertarung
Unjuk gigi
Pendekar

Temali Bhinneka Tunggal Ika
Satu tubuh bersaudara
Falsafah negara
Maknakan!

Jangan salahkan alam murka
Amanah tergadai sudah
Berpikir sejenak
Sadarlah!

Hukum tajam ke lawan
Tumpul ke kawan
Hakim disogok
Pecundang

Warta jurnalis tebang pilih
Rakyat semakin bingung
Tontonan murahan
Membosankan

Berdamai dalam gita cinta
Rakyat aman sentosa
Amanah janji
Tunaikan

Politik homo homini lupus
Kejam sadis membunuh
jangan dipakai
Buang!

Manusia homo homini socius
Berbudi saling menghargai
Berjabat tangan
Berbagi

HR RoS
Jakarta, 090217



Puisi Patidusa Tangga
RINTIHAN DI BUMI YANG DIBERKAHI
By Romy Sastra


Deru bunyi mesiu bergemuruh
Bom berjatuhan runtun
Tanah kering
Berdarah

Pekik suara takbir menyayat
Luluh dihantam perang
Debu berterbangan
Gelap

Tangis bermandi luka hiba
Anak kehilangan ibu
Ayah tiada
Berjihad

Tanah yang diberkahi Allah
Perjanjian akhir zaman
Perang dimulai
Musnah

Siapa yang menuduh salah
Semua merasa benar
Padahal politik
Pengkhianat

Dengan kekuasaan sesaat lupa
Dunia sekejap mata
Hancur lebur
Binasa

Senjata doa tersisa kirimkan!
Hababil masih bingung
Menunggu perintah
Tuhan

Tanah pertiwi subur makmur
Wahai nan berbudi
Bantu mereka
Kelaparan

HR RoS
Jakarta, 04022017



Puisi patidusa tangga
NEGERI PARA BEDEBAH

Berkaca pada demokrasi rasulullah
Dari Muhammad bermula
Maruah terjajah
Dibebaskan

Seiring zaman tongkat merapuh
Pedoman dikebiri kawan
Satu payung
Pengkhianat

Demokrasi tersandera politik benalu
Menghalalkan segala cara
Berebut tahta
Serakah

Kapitalis menguasai perdagangan dunia
Imperialis penjajah genosida
Tak berdarah
Waspada

Pengusaha seperti badut gendut
Yang penting kenyang
Harta menumpuk
Stroke

Demokrasi jadi dagelan mimpi
Bebas lepas bablas
Hukum dibeli
Kerdil

Gaduh tak kunjung selesai
Rakyat kian sengsara
Tunggu komando
Caos

Berdamailah pada sejarah bangsa
Ukur bayangan berlari
Jangan seenaknya
Berkuasa

HR RoS
Jakarta, 03022017



Puisi Lipatdus
PROSES DEMOKRASI

Pesta demokrasi belum lagi usai
Sindiran cibiran kian menikam
Yang kalah legowo
Menang merangkul
Berdamailah!

HR RoS
Jakarta,16217



ragamkucindan
TAKBIR BUYA TAISAK DI HARI RAYO
Karya Romy Sastra


Jauh-jauh tabangnyo si burung bangau
namun hinggoknyo
yo ka kubangan juo
jauh-jauh bujang marantau
namun pulangnyo lai ka kampung halaman kito.

Karatau madang di hulu
babuah bungo balun
marantaulah bujang dahulu
di rumah paguno balun.

Lah jauh tabangnyo perjalanan
putera daerah mancari ilmu
lah tarang nagari di sabalah
lah silau mato mamandang nagari urang
nagari kito basilang sangketo
antah bilo katarangnyo.

Tadanga saluang kubalo di lereng bukiek
di rambang patang hari
sayuik-sayuik ganto padati
bansaik di badan
lah jadi pamenan diri.

Baurai isak tangieh ka dado
nasib si dagang malang
galeh takambang hujan tibo
sumarak Bayang Sani
di balai induak-induak kito
barabuik patang
manjalang sanjo hari.

Manangieh tapian bundo
anak nan ketek lah digadangkan
lah gadang dak kunjuang pulang
lah cadiek si bujang diasuh angku katik
babalieklah ka Bayang Sani
ramikan nagari kito.

Kinilah masonyo anak nan paguno
mambangun kampuang jo nagari
bia dak sio-sio jabatan disandang
selagi masih bafungsi
mambuek anak kamanakan bangga kini.

"Yuuukk...!"

Jadikan koto baru tanah religi
Bayang pado umumnyo
itu baru kujempol, salut kami.

Dangalah rintihan sayuik-sayuik sampai
kami menadah hibo
gemparkan Mesjid Jihad itu nanti
dengan orasi dakwah islami.

Mesjid kitolah asri buya
di jalan raya Bayang Sani
di bangun jo amal jariyah petani
tapi mesjid itu kosong
dengan cahaya pengetahuan ulama,
ulama itu di mano kini ?!"

****

"Ooo ...buya?"
Babalieklah kanagari
doa kami menyertai kesehatanmu.

Katiko tanah merah tabantang
di nan langang
sasah mayit tibo kudian
indak katadanga lai rintihan misteri
ka mesjid Jihad itu nanti
maratok surang di kayu gadang
takana jaso bundo alun di tunaikan.

Pitaruahkan anak kamanakan
sarato umaik jo nagari
mahimbau jo hibo hati
babalieklah kanagari kito
bangun kampung halaman
basamo-samo kumbali
nanlah ditinggakan sedari dulu.

Nan cadiek panuntun sipandieh
nan cegak panuntun sitengkak
nan nyariang panunjuakan si pakak
nan tarang panuntun si buto
nan kayo tampek batenggang
nan bansaik jaan bahibo hati
nan pandieh pailah batanyo
ka tungku parapian buya kito
bia masak aieh tajarang.

Tamakan indak tasasali
taupek usah dicaraco
cukuik inok-inok palito hati
kok karuah aieh di hilieh
tolong janiehkan aieh di hulu
ampun baribu ampun ka nan kuaso
pinta jo pinto barilah maaf mamak kami
lah cegak sakiek di hati.

Bungo rampai alah tuangku serakkan
ka sarek pantun di nan rami
baguru ka padang data
dapek ruso balang kaki
baguru kapalang aja
bagai bungo kambang tak jadi
balaieh sampai ka pulau
bajalan sampai ka bateh
batanyo ka nan tahu
manuntuik kaji kapado ahlinyo
apa kaji dek diulang
pasa jalan dek dituruik
mangaji sampai khatam
alam takambang jadi guru.

"Buya...?!"

Kami tunggu kesaksian khutbah ulama
di Mesjid Jihad Koto Baru Bayang
di hari rayo nanti.
Sang putera daerah berkumpul
DR Ahmad Kosasih
berharap khutbah takbir
balinang aieh mato di ranah bundo
bia talarai isak nan salamoko

Salam santun dan hormat kami
dari anak kamanakan sarato umaik jo nagari.

HR RoS
Jakarta, 3-2-2016, 10,32



Puisi Prosais
NEGERI SERIBU RAJA TAK BERISTANA
by Romy Sastra


Pusaka tua limpapeh rumah nan gadang
berselendang kasih sayang
menghapit
nan sembilan ruang,
ditingkah ayun tarian indang
semarak Ranah Minang tempo dulu
dalam tatanan bunda yang tersayang,
lestarilah dalam kearifan zaman

Rumah tua,
lapuk dimakan rayap
telah runtuh ditelan zaman

Seribu raja di negeri kami
hanya memiliki satu istana, ialah janji
tak bersinggasana mewah melainkan amanah tirani
Penghulu bertongkat sakti satu tunjuk,
pada isyarat panji dalam adat
elok budi kaum dalam titah dituruti
adat bersandi alur, alur bersandi patut

Tuanku nan sakti,
menitipkan suluh pada generasi
selaras alam Ranah Minang dengan pelita
terangi umat dengan akidah tauhid
berdendang kasih sayang
adat bersandi sara'
sara' bersandi kitabullah

Umara nan cerdik pandai penata nagari,
maju bersama
penghulu perisai adat
ulama pembimbing budi
duduk se-iya sekata
melalui musyawarah mencapai mufakat
bak tiga tungku bergandeng tangan
sejarangan,
memasak tanak dari jerih payah petani

Bunda kandung bersiul meminta angin
dari pesawahan hingga ke halaman rumah
bahwa Dewi Sri telah menari melambai
pelepas jerih benih nan disemai
sang Dewi bersama peri cantik
si gadis pingit
belajar memegang nampan ayunan padi

Peri yang terpingit di sembilan ruang
bertilam manja diasuh pituah di malam hari
cikal bakal penyimpan selendang lusuh
pada limpapeh rumah nan gadang

Anak kanduang sibiran tulang
pelepas dahaga ayah bunda
jikalau besar nanti
peganglah hormatilah tuah tiga tungku sejarangan
biar tak binasa generasi dalam globalisasi

Generasi muda,
otot kawat bertulang besi
berpikiran maju, pelita nagari
pegang erat-erat panji-panji adat
yang dikibarkan, semenjak Datuk Ketemenggungan dan Datuk Perpatih Nan Sebatang, berkelana turun dari gunung merapai
datang menitipkan pusaka adat
dari babat alas sampai akhirat nanti

Berdamailah bersama risalah
dalam filosofi ranah di tungku perapian
alamat hidup dalam adat tak bersilang sengketa
jaya bersama kemajuan teknologi
walau cabaran maruah selalu menghampiri datang silih berganti
di negeri seribu raja tak beristana
tetap berjaya tunduk pada pituah tetua....

HR RoS
Jakarta-18092016

Tidak ada komentar:

Posting Komentar