UNTUK MENCARI PUISI-PUISIMU CUKUP KETIK NAMAMU DI KOLOM "SEARCH" LALU "ENTER" MAKA SELURUH PUISIMU AKAN TAMPIL DI SINI

Rabu, 08 April 2020

Kumpulan Puisi Ayu Ashari - MENUJU MAHLIGAI



KEPADA TUHAN

Sesayup apa kan ku jelani kaki senja
dalam riuh gelombang membising telinga
Di atas pasir pantai tapakku berpijak
beling beling halus menempel
menyatu dalam darah

Duhai,
Masih sempatkah diri melarung debu di ketenangan samudra-Mu
sedang waktu yang berlalu
semakin menyeringai ke arahku

O, gelap berselimut kelam
pupuslah sebelum semakin pekat
biaskan cahaya ke palung jiwa
agar langkah tak kembali meraba

Dan kepada-Mu Tuhan
Aku kerap bertanya
Apakah keuntungan dan bahagianya cinta yang tiada berpengharapan?
Bukankah cinta itu sudah satu keuntungan dan pengharapan?
(Ku cari jawabnya di sendi sendi sujud)

Ah, seumpama Kau hakimi segala perkaraku
Jadikanlah kelemahan berpijar
merambahi makna
ataupun hunuskan petuah petuah pusaka
agar dapat ku petik buah ranum yang Engkau titiskan di dalamnya

Ayu Ashari medan 27032020



TANPA PRAKATA

Selayak musafir yang kehilangan mata angin
pada musim musim sebelumnya
jejak kaki kita adalah luka luka
berpayung kemarau di atas rekahan tanah

(Tentangku)
Hampir saja
Ya... hampir saja asa ku putus
di rajam pujangga jumawa
lantas bagai berada di kutup
hatiku pun jumud

Lalu rinai menjatuhkan diri di anggana
Membasuh tapak tapak darah
Segarkan kelopak mawar ku yang menguning
Juga mengisi telagamu yang mengering

Entah bagaimana mulanya
dari mana jalannya
tanpa narasi atau prakata
Tiba tiba kita telah bersama
dalam satu cerita
yang kita beri judul
"Rumah Rengkuh Cinta"

Sejak saat itu
seolah tak ingin berjeda,
Rindu kerap mempermainkan kita
bahkan nenanti guliran waktu
merupakan ritual yang sangat menyiksa

Seperti dua remaja baru mengenal cinta
Kata sayank tak lepas dari kalimat kita
Bila langit malammu gelap tanpa rembulan
aku kan menjadi kejora
Bila langit petangku di selimuti awan
engkau kan menjadi pelangi

O, berjanjilah sayang
bahwa kita akan menjadi lilin
pabila suatu waktu nanti
salah satu dari kita tersesat di kegelapan

Tapi mungkinkah kita mampu
Menaklukkan jarak dan waktu ?
Sempatkah kita menikmati indahnya senja ?
Tidakkah angan itu terlalu manis
Semanis kecupan bibir sebelum tidur

Ayu Ashari medan 21032020



MENUJU MAHLIGAI

Seorang kekasih sejati telah memelukku
dan membabtiskan cintanya padaku,
hingga semua luka jadi altar suci,
dan apakah malam-malam seperti ini
engkau sedang membaca syair cinta
yang kukirim buatmu,
agar esok kita berdua dapat membuka gerbang bersama

O, kekasih tersenyumlah,
dan lihatlah cahaya purnama di atas cemara,
selalu melambaikan daunnya
untuk kita menuju peraduan
yang dihiasi tirai merah jambu.
tempat kita melepaskan rindu dendam yang selama ini terpendam.

Bersama kita kan berlayar di samudra asmaraloka berpandu kitap kamasutra
hingga kita lupa akan luka yang pernah ada.
Biarkan dunia bagai milik kita berdua,
bukanlah ego adanya hanya gelora yang tak terbendung jua.

Ah, syair mu merayu mendayu
tak mampu ku tepis rasa itu
bergejolak meronta menyesakkan dada
percikan tirta kasihmu menyejukkan sukma yang tengah dahaga
dekap erat selaksa pesona yang mencumbu pucuk cinta.
biarkan mengendap hingga tiba tiada rasa mengaliri tubuh kita.

Ayu Ashari 15032020



AKU INGIN

Aku ingin mengajak engkau berwisata keperadaban yang telah terkikis dan terbuang
Sebuah masa penuh keindahan
Dimana llalang tertunduk menyapa alur sungai
betu batupun beruluk salam serahkan air mata
sebagai nafas penyambung amanat ilahi
Aku ingin merangkul engkau
kunjungi arunika dalam basuh suci
sebelum cahaya memendar bergegas membelai beningnya embun
hangatkan punggung punggung

Ya..seperti janji punggawa
penjaga pelawa pada pencipta
Aku ingin menatihmu menemui hujan
Sirami persada hanyutkan keangkuhan
lalu bumi melahirkan rumput kemayu
tuk menghijaukan rona yang memudar

Tarikan kasih tulisi impian baru bagi pendamba mimpi
Torehkan takdir kembali melalui coretan terberkahi
Pada kancah pertengkaran para perupa mahligai kencana
Menjadi secerah yang berulang
Sirami layunya kembang dunia

O...
Hapuslah semua luka
hapuslah kesombongan dan keserakahan yang ada
Cukupkan pada teguran sang Perkasa

Ayu Ashari medan 13042020



NYANYIAN MALAM

Irama rintik hujan mengalun merdu mencecar rasa
semerdu suara sang qori hinggap di pendengaran
memecah sunyi menembus kaki malam
bangunkan mimpi mimpi
menitikan bait bait syair samawi

Keheningan kian menggelora dan menyiksa
menyadari betapa setapak waktu yang biasa dilalui mulai menepi
ajaibnya hati yang biasanya memberontak mencoba menepis takdir, sontak tertunduk patuh

(sesaat termenung, meraba lingkaran yang mendiami pandangan)

Ah, sepintar apa akal ini memeluk bumi
Riang yang ku peluk namun gundah meniti di setiap jelmaannya
Mungkin sebuah tarikan nafas akan semburkan undang undang penolakan Ego
lalu lenyap diantara kepusingan pola fikir yang terdiam
hayati sujud memaknai jiwa yang tertata abstrak

O, lemah sesungguhnya kabut mendiami kalbu
mengaibkan sedetik guntur namun terhempas
dua tangan menutup wajah pun malu
Lantas kesadaran mengarak
kerlingkan sisa takwa yang tertanam dalam darah
menawarkan akidah penuh hasrat
untuk menjadikannya nyata

Nyatanya semua keadaan biramakan tekanan isyarat
"Pergilah mengadu hanya pada yang Hak,
eratkan janji, berpadu menyusun bakti!"

Ayu Ashari medan 22042020


GERBANG

Gerbang pintu silamku kembali terbuka
Gugusan sujuta puisi darah
Menyeruak rembaskan air mata
Mata mata rantai karatan perlahan namun pasti bergerak menyatu mengikat larik larik yang telah lama ingin ku kubur
Rekah rekah bernanah mengaroma amis
Menusuk hidung busukkan jantung yang pernah terbelah untuk mu...

Ah, mengapa kembali
Membawa aroma wangi
Gigilkan sekujur tubuh lalu pergi
Tidakkah engkau tau
Betapa aku masih mencinta
Meski hati tak henti bermonolog
Bahwa kau hanyalah musafir
Terperangkap haus pun lapar
di tengah pertikaian
Lalu tersesat di lumbung dan oase sunyi

Ayu Ashari 18052020 



MALAM YANG SULIT KUTERJEMAHKAN
Oleh Ayu Ashari


Malam bersunyi diri,
sambil membaca cerita
tak ada satu petunjuk
apalagi tembang leluhur
yang kerap muncul dalam ingatan.

Aku tak sanggup lagi untuk menghitung,
berapa jumlah caci maki,
bahkan berapa jumlah hinaan
yang kerap bertahan di pucuk hati
demikian ia kubakar sendiri
sambil berlinang air mata,
karena mengingat kisah lama
yang membuat ku termangu

Malam semakin larut,
Malam yang sulit kuterjemahkan
wangi kamboja di bawa angin,
lalu pulang ke kampung halaman.

Demikianlah malam yang selalu datang
Di lebih dari satu dasawarsa itu
kini jadi kenangan
Yang sangat sulit untuk ku terjemahkan.
Meski sudah sekian lama berputar dalam otak dan hati ku
Semua seakan membeku
Memucat pasikan wajahku pada kitaran waktu
Mengendap di ujung lidah bagai empedu

Karyamu di rahim ku
Kini tumbuh mewarisi sedikit sikap kerasmu
Meski sejuta kelembutan telah ku tanamkan
Tolong jangan kau luluh lantak kan
lewat doktrin yang juga tak mampu kuterjemahkan
Dan malam pun masih menjadi deraian hujan di sudut bantal

Medan, 0806019

AYU ASHARI


Tidak ada komentar:

Posting Komentar