UNTUK MENCARI PUISI-PUISIMU CUKUP KETIK NAMAMU DI KOLOM "SEARCH" LALU "ENTER" MAKA SELURUH PUISIMU AKAN TAMPIL DI SINI

Sabtu, 02 Maret 2019

Kumpulan Puisi Sri Handayani - NEGERIKU BERPAYUNG HITAM



NEGERIKU BERPAYUNG HITAM
Puisi By : Sri Handayani

Negeriku berpayung hitam
Entah berapa ratus kali angin puting beliung menerjang kampung kampung itu
Rumah dan gedung - gedung itu
hancur porak poranda, luka nestapa
warnai wajah negeriku

Entah berapa ratus kali gempa dan tsunami
datang menghempas menyeret kehidupan
Meluluh lantahkan alam bahkan merenggut nyawa dan harta ....
Kepedihan dan kemiskinan,
suramkan wajah negeriku

Entah berapa kali sudah badai , banjir dan longsor, menimpa negeri kami
Entah berapa kali sudah pesawat jatuh, kapal laut dihempas badai dan karam
Dukacita merayapi batin ibu Pertiwi

Sungguh Tuhan, tangan kami tak mampu lagi menghitungnya, kami begitu trenyuh dalam kepedihan dan air mata
Ribuan jiwa melayang dengan tragis
Hati kami pilu, lidah kami kelu
Hanya doa dan air mata
yang terungkap dari hati kami

Yaa Robb,
teguran teguran lembut telah kau berikan pada kami untuk tidak bermaksiat
Untuk tidak menyakiti sesama
Untuk tidak merusak dan menyakiti alam
Untuk tidak serakah dan sombong jumawa
Untuk tidak rakus dan mau berderma
Namun mata kami buta terhadap kebenaran
Hati kami beku badai batu
tak mampu membaca teguranMu

Tak mampu membaca hidayahMu
Tak mampu membaca isyarat dan peringatanMu...
Teguran demi teguran telah Engau sampaikan untuk kami ....
Hati dan iman kami bebal dan tumpul
Bahkan mungkin diantara kami telah banyak yang bersekutu dengan Setan

Maka rangkaian adzab
Engkau turunkan yaa Robb...
Agar kami sadar dan insyaf
Wahai Pertiwi entah sampai kapan kau akan berpayung hitam ....
Payung duka cita, ...
Semoga Tuhan mengampuni kita semua

Agar esok, dapat kita singkirkan payung hitam dari negeri tercinta ....

#Srihandayani-negeruku_berpayung hitam
Bandung 16 feb 2019



PERUT
Puisi By : Sri Handayani


Ketika Tuhan melenglengkapi tubuh kita dengan perut,
Seperti juga pada mahluk yang lainnya ...
Maka perutmu harus kau pertanggung jawabkan ....
di sini, di dunia
Juga kelak di akhirat

Lalu kalian sibuk bekerja pontang panting
demi untuk perutmu
Kau sikut sana sikut sini
Bahkan terkadang kau ambil hak orang
Demi untuk memuaskan perutmu

Perutmu kau jadikan Dewamu
Kau istimewakan dia
Kau halalkan segala cara demi perutmu.
yang telah kau dewakan
Juga demi perut anak istrimu di rumah
Terkadang kau bunuh perut perut orang lain
Demi untuk perutmu dan keluargamu

Padahal nun di sana
di daerah terpencil dan miskin
ribuan perut melilit, menangis dan menjerit
Karena perutnya lapar
Juga di sudut sudut kota, bahkan di kolong jembatan tua itu, melengking jeritan perut yang lapar ....

Tidak terdengarkah olehmu
Duhai Tuan tuan berdasi ...
Jeritan perut perut yang lapar
Karena kemiskinan telah menjerat leher mereka, karena harga harga telah mencekik kemampuan mereka ...
hingga nyaris sakarat

Tapi tuan tuan, di sana tak tahu
atau pura pura tidak tahu nasib perut perut mereka ....
Petut saudara saudara kita
Ataukah tuan tuan, sedang begitu sibuknya
Memikirkan isi perut bumi pertiwi
dan ingin memilikinya , atau mungkin
Ingin menjual seluruh isi perut bumi ini
Kepada negara tetangga ....
Untuk memperkaya tuan dan mengenyangkan perut tuan ....

Entahlah
Pintaku, bukalah hati dan telinga tuan tuan
Ada lengkingan jerit kelaparan di negeri ini
Diantara suburnya tanah pertiwi ini
Masih ada tangisan kelaparan
dan lengkingan perih dati lambung
dan perut yang lapar ....

#Srihan_Balada_perut_lapar
Bandung, 24 feb 2019



SURAT BUAT SAUDARAKU DI NEGERI TETANGGA
Puisi BY ; Sri Handayani


Duhai anak negeri ,
Pematang sawah itu menangis saat kau pergi tinggalkan kampung halaman ...
Kau mencari sesuap nasi ke negeri orang
Bahkan lenguh Lembu pun turut menangisi kepergianmu ....
Kau hendak meraih mimpi di negeri Unta

Kau tinggalkan kampung halamanmu
Yang masih cukup subur untuk kau menanam padi ....
Kau tinggalkan sungai dan lautmu
yang masih cukup banyak menyimpan ikan di dalamnya ....
Kau tinggalkan hutannya yang masih segar menjadi rumah buat ribuan burung dan satwa lainnya ....

Wahai saudaraku,
Kau kejar kejar devisa disana,
di negeri tetangga , kau tinggalkan negeri tercinta ...
Katamu, di sini sulit mendapatkan pekerjaan
di sini, bekerja upahnya kecil ...
di sini sulit untuk maju ....

Duhai saudaraku,
Pulanglah kalian, sejak kepergian kalian
Bumi pertiwi kerap pingsan dan mati suri
ia kerap sakit ketika badai meradang , menerjang ....
Puting beliung mengamuk , longsor dan banjir
Meluluhlantahkan segala ....

Pulanglah saudaraku ...
Sejak kalian pergi, setiap waktu negeri kita disambangi si mata sipit
yang membeli dan menjajah kehidupan kita
dengan halus dan perlahan

Bumi pertiwi kini kerap pingsan dan mati suri
Mari kita jaga dan rawat bersama
Hutan, gunung, pantai dan laut milik kita
Sebelum para cukong itu membelinya

Sebelum hutan dan gunung2 itu dibeli
dan dikuasai oleh mereka
Pulanglah saudaraku ....
Mari bersama kita susun kekuatan,
Hutan, Sungai, gunung, lembah
Pantai dan lautan itu. harus tetap milik kita
Putera puteti Pertiwi

Pulanglah saudara saudaraku tercinta
Tengoklah, jagalah dan mari rawat bersama
Bumi pertiwi ini ....
Jangan biarkan ia, menangis dan bersimbah air mata , karena diperkosa penjajah yang sipit mata .....

#Srihan_duka_pertiwi
Bandung 23feb 2019



LAYANG -LAYANG NAGA
Puisi by ; Sri Handayani


Saat kau menjadi layang layang Naga yang gagah ....
Saat pujian dan tepuk tangan riuh menyertai tarian udaramu, kau begitu pongah ,
Sombong , kau mabuk dan lupa diri ....
Terbang mengapung di udara
Kau tertawa jumawa ...
Seakan kaulah raja di udara

Bahkan hampir saja kau mengejek Rajawali
yang terbang melintas di sisimu
Bahkan sempat pula kau mengejek layangan ular kecil yamg terbang di bawah posisimu

Kau berlaga bersana angin ...
Menari tertawa, berjaya ...
Seakan dunia ini milikmu, seakan angin
dan udara itu milikmu
dan bisa kau kendalikan ....

Wahai kau layang layang Naga
Sadarlah , bukan kau pemilik dan pengendali angin ...
Tapi lenggok terbangmulah yang dikendalikan Sang Angin ....

Dengar petir mulai menghardik alam
dan angin berhembus dengan kacau ...
Kendalikan tawa jumawamu
Kendalikan arah terbangmu
Sebentar lagi hujan turun diserta angin deras
Kau bukan Layangan Naga yang gagah lagi

Kau cuma seonggok kertas layu
Tak berarti apa apa
Bahkan kerangkamu pun tak ada harganya
Tak akan ada sorak pujian dan tepuk tangan
untukmu lagi ....

#Srihan_layang_layang naga
Bandung 20 februari 2019



NEGERIKU BERPAYUNG HITAM
Puisi By : Sri Handayani


Negeriku berpayung hitam
Entah berapa ratus kali angin puting beliung menerjang kampung kampung itu
Rumah dan gedung - gedung itu
hancur porak poranda, luka nestapa
warnai wajah negeriku

Entah berapa ratus kali gempa dan tsunami
datang menghempas menyeret kehidupan
Meluluh lantahkan alam bahkan merenggut nyawa dan harta ....
Kepedihan dan kemiskinan,
suramkan wajah negeriku

Entah berapa kali sudah badai , banjir dan longsor, menimpa negeri kami
Entah berapa kali sudah pesawat jatuh, kapal laut dihempas badai dan karam
Dukacita merayapi batin ibu Pertiwi

Sungguh Tuhan, tangan kami tak mampu lagi menghitungnya, kami begitu trenyuh dalam kepedihan dan air mata
Ribuan jiwa melayang dengan tragis
Hati kami pilu, lidah kami kelu
Hanya doa dan air mata
yang terungkap dari hati kami

Yaa Robb,
teguran teguran lembut telah kau berikan pada kami untuk tidak bermaksiat
Untuk tidak menyakiti sesama
Untuk tidak merusak dan menyakiti alam
Untuk tidak serakah dan sombong jumawa
Untuk tidak rakus dan mau berderma
Namun mata kami buta terhadap kebenaran
Hati kami beku badai batu
tak mampu membaca teguranMu

Tak mampu membaca hidayahMu
Tak mampu membaca isyarat dan peringatanMu...
Teguran demi teguran telah Engau sampaikan untuk kami ....
Hati dan iman kami bebal dan tumpul
Bahkan mungkin diantara kami telah banyak yang bersekutu dengan Setan

Maka rangkaian adzab
Engkau turunkan yaa Robb...
Agar kami sadar dan insyaf
Wahai Pertiwi entah sampai kapan kau akan berpayung hitam ....
Payung duka cita, ...
Semoga Tuhan mengampuni kita semua

Agar esok, dapat kita singkirkan payung hitam dari negeri tercinta ....

#Srihandayani-negeruku_berpayung hitam
Bandung 16 feb 2019



RINDU YANG. DI TITIPKAN
By; Srihan


Gigil subuh ini
Pucuk pucuk pinus itu
Lembut berbisik ....
bersama gemersik daun
yang tertiup angin ....

Benar kanda
Ada Seberkas rindu yang kau
titipkan untukku
dan sang bayupun lirih berucap
di sana cintamu sangat merah
Untukku ...
Ia meronta ingin bertemu ....

Gigil subuh kalii ini
Bercerita banyak kepadaku ..
Tentang bintang bintang
dan gelombang aliran sungai
Yang pelan memanggil namaku
bersama diammu ...
Namun matamu tak dapat berdusta
Penuh dahaga ingin menatapku ...

Kanda ...
Rindu yang kau titipkan
di pucuk pucuk pinus itu
telah sampai padaku....
Mengusik tidurku malam ini ...
Buyarkan rajutan mimpi yang sedang kuanyam...
Bersama nafas malam ....

Bandung 02-06-2016



JEJAK BINTANG JATUH
By ; Srihan


Lalu tanah di bukit Ciwangun itu
memerah ....
Bekas jejak bintang jatuh semalam

di sungai kecil itu
Mengalir rindu nan biru
sungai itu mengalir lembut tenang
tanpa riak
pun gelombang .....

Percikan bintang jatuh itu
Suburkan bunga bunga
yang merekah di taman kalbu ...

Alampun hening...
Langit cerah terbias warna cinta

Duhai bintang jatuh ....
Cahyamu tetap benderang
Terangi bukit Ciwangun indah
Kau redam gigil malam dengan
hangat sinarmu ....

Bandung 01-06-2016



WAKTU BERHENTI DI STASIUN
By ; Srihan


Mungkin aku harus pulang
dan menyimpan semua mimpi
dari keranjang kalbu ini
Kereta yang ku tunggu itu
tak kunjung datang ...

Seseorang berkata
"Tunggulah beberapa jam lagi"
Tapi malam semakin larut
Penat dan lelah merambati urat darahku
Tubuhku semakin lemah ...
Menanti kereta itu tiba ....

Sungguh aku tak mau mati
di stasiun ini ...
Stasiun penantian yang pilu
Sementara wajah wajah orang di stasiun ini
Telah membiru....
dalam penantian yang kelu
Waktu seakan tercekik dan membisu
Beku seakan jarum jam itu terkunci
Tak bergerak ...

Ah ....sungguh penantian
yang menyiksa ....
Bandung. 24-06-2016



RINDU YANG TERPENJARA
Bt ; Srihan


Aku tahu
di sana rindumu telah. Menggumpal
menggunung dan membatu
terpenjara jarak dan waktu ...
Pun hasrat cintamu melebam
Warna merah itu melebam
ditampar musim dan waktu ...

Tapi biarlah ..
Jarak ini menjelma dinding
bahkan benteng tinggi menjulang.
Halangi hasrat
matamu yang dahaga menatapku....
Tanganmu tak dapat menggenggam tanganku
Mungkin jarak ini menjadi kejam
bagi kuncup kuncup rindu yang ingin rekah
di taman cinta kita ...

Tapi biarlah ...
Ini hanya sementara ...seperti kemarau
yang meraja .Membakar semesta dengan teriknya ....
Namun di atas sana masih ada awan
yang menggayut
mengandung janin hujan ...
yang akan sirami bumi nan gersang ....
di rajam kemarau ....

Begitupun kuncup-kuncup rindu kita Kanda
Pasti kan merekah bersama musim semi
yakinlah ...kuncup kuncup rindu itu
Esok merekah bersama senyum
Mentari pagi ....
Hangatkan jiwa kita

‪#‎buatrindu_yang terpenjara
Bandung 25-06-2016



RENUNGAN DIBALIK KERANDA JENAZAH
By : Srihan


Duhai jiwa jiwa yang masih berteman raga ....
Sebenarnya apa yang kau sombongkan jika parasmu indah itu hanya hiasan saja....esok di rumah masa depanmu
Wajah rupawan itu kan hancur di santap cacing cacing tanah
Tubuhmu ysng elok dan gagah esok hanyalah tulang belulang yang hancur menjadi tanah ...

Nama besarnu yang populer
Di elu elukan banyak orang
Mungkin esok akan dilupakan orang
Bahkan mungkin anginpun enggsan. Membisikan harum namamu
Hanya nisan batu yang mau menggenggam namamu ...

Mulutmu yang manis ...
Suaramu yang merdu ...bahkan terkadang berbusa dalam dusta
Esok kan bisu terkunci tanah merah
yang mendekapmu ....

Kendaraanmu yang mewah
Melengkapkan prestise mu ...
Esok akan di ganti Keranda beroda manusia ....
Dan kau tak kan sempat berterima kasih pada para pengusung kerandamu.itu

Lalu kesombongan ...
Ketinggi hatian dan egoisme apalagi apa yang kini membungkus dan membrelenggu harga dirimu ...
Harga dirimu adalah permainan perasaanmu sendiri yang terasa indah
Karena diukir nafsu duniawi ...
Subhanallah ...
Padahal kita tidak pernah tahu kapan undangan Malaikat Izroil datang. Mengajak kita mudik ke kampung akhirat ....

Bandung 27-06-2016

SRI HANDAYANI

Kumpulan Puisi Ella Queencha - RINDU KUBENCI



TITIK HUJAN YANG PELIT

Aku hanya tertawa renyah
saat titik hujan yang pelit itu singgah di wajahku yang mendongkak,

Aku hanya menggumam manja saat gemericik jentik titikannya menggelitik

Aku hanya mendesis dibalik hempasan uap hangatnya yang terasa pedis di pelipis

Aku hanya terdiam di bungkusan mentari yang mulai terbenam muram

Aku pun terhenyak saat engkau tiba-tiba mengoyak mimpi indah dalam tidurku yang nyenyak.

@EllaKarentina84
Celoteh_tintaJanuari07





RINDU KUBENCI


Kalau kau datang hanya mendengkur dan berlalu
langitku di sini punya kasur
yang ganjalannya terbuat dari susunan besi yang tersusun rapi,

tidurlah di situ dulu ...
aku akan membangunkanmu
saat lalat-lalat telah berkerumun
dan berjejal-jejalan di atas rel kereta Jakarta,

membiarkan mereka menghabiskan santapan lezatnya di atas dagingmu yang terkoyak hampir busuk!
jangan buat aku tertawa terbahak-bahak pada akhirnya,
terlalu rindu kubenci ...cinta.

TanahAbang,JakartaPusat
Celoteh_tinta_Januari07
@Ella Karentina





CINTA 'KU BUTA

Cinta, ku buta ...
Tapi cuma sebelah saja
Ada logika sedikit di sana
Jangan dulu terlalu berisik katanya

Ahh, bosan ...
Kemudian ia lupa
Tenggelam di aura nan jelita
Larut dibuai cinta lainnya
Tak terima, mau bilang apa ?

Ahh, sudahlah ...
Pasrah jalan satu-satunya
Entah mau ke mana
Harus cari di mana
Gelisah ... tapi tak hilang rasa

Ahh, termangu ...
Biarkan dulu
Letakan di situ
Di pojok-pojok rinduku
Sisipkan di celah-celah neuronku

Ahh, bergegas ...
Jangan cepat puas
Sampai embun tak terasa getas
Katup rapat bibir agar tak lekas lepas
Selimutkan pedih dengan aroma napas

Ahh, kembali ...
Demikian malah makin nyeri
Seolah memanggil lirih tanpa perduli
Siapa, siapa, siapa janji
Menagih hari mencoba lagi

Ahh, cinta ...
Kali ini biarkan buta keduanya
Tak usah sebelah, percuma.
Meski langit mempermainkan apa daya
Demi cinta 'ku buta tak mengapa.

#Celoteh_tintaJanuari07
@EllaKarentina


--------------------------


Pada daun Aku bersembunyi,
dari kejaran suaramu yang berlebih
Pada serpihan Dandelion Aku tertawa renyah,
karena tenggelam harum semerbaknya

Pada celoteh angin Aku berbisik,
tentang kenangan yang tersembunyi rapi
Pada deburan ombak Aku melihat dendam,
yang seolah meredam oleh waktu
Dan kemudian ia lupa... Lagi

Celoteh_tintaJanuari
(MENGADU PADA DANDELION)
*EllaKarentina





DURI BABI


Berjingkat di bebatuan,
itu satu-satunya cara berjalan di air laut yang surut.
Aku tak ingin telapak kakiku menyentuh duri babi,
kau tahu rasanya ?
Sama seperti saat engkau menamparku dengan janji-janji mu tempo lalu.

Celoteh_tinta_18022019
Ella Karentina





NARTI


Narti menyeringai kuda
saat siluet jingga menyorot gundukannya yang sama kendur dan menarik buih-buih liur kesela ketiak hitamnya yang bercampur lumpur,

Narti menyeringai kuda
saat terapit orang-orang bergigi elang yang memberodol gelakan-gelakan tolol di kolong remang-remang tol,

Sumpah !! demikian jijik aku memujamu.

29 January 2019
Puisi : Ella Karentina (cover up Batavia)


-----------------------------



Sejuk uapnya saat mata terpejam
namun sesak bila menyentuh kulit

Ahh... hujan,

lekaslah bilang kalau engkau datang
Aku menunggumu di bawah selimut rindu.

Jakarta
'01Maret2019
Ella Karentina







OBAT RINDU

Dua jantung berdekatan dan bersahutan
di bawah daun pipih yang bergerumul semalam,
wajah nanar tersamar kirana bulan
di telan pahitnya gejolak yang enggan padam

Desir peluh ngilu terasa sampai ke paru,
mendiamkan detak yang kian mengamuk menderu
cerita-cerita pun terhempas dinginnya angin pagi
meninggalkan jejak kenangan di dasar hati

Kau... bukan Dia,
meski rinduku telah hilang entah kemana
buatlah sayap Ku menjadi dua kali ini saja
meski di antaranya ada tiga nyawa,

Kau... izinkanlah aku kali ini saja
demi hasrat yang membara
demi rindu yang hampir tenggelam
demi harapan dan asa yang terbungkam

Kau... jangan berdiam demikian,
jangan biarkan ku berlalu pulang.

Celoteh_tintaSahabat
Jakarta
'02Maret2019
*Ella Karentina




EMBUN DI UJUNG DAUN

Embun masih bergelayut di ujung daun,
ketika langkah si pendosa tiba-tiba menghilang di bias cahaya pagi
Bulan pun bergegas angkat kaki dari peraduannya tanpa jejak,
terburu-buru,
tak pamit,
takut akan nama,
meninggalkan kerumunan liur di sela-sela jari
dan kini rindu yang disalahkan.

01 maret 2019
Ella Karentina




BIARLAH SAJA


Hujan dan embun berkelahi tadi pagi
tentang siapa yang lebih lama membasahi daun-daun rindu selama ini,
mentari pun tak menyapa mereka lagi
tak terlihat kirana jingganya menyoroti bumi

ahh...

biarlah waktu berlalu dengan semestinya,
biarkan daun dimandikan rinai gejolak rasa
biarlah cumbu mengalir di wakilkan mimpi saja
biarkan rindu menikam dengan teganya

tak ada dayanya selain senyum manis kebiasaan,
mengeluh akan heningnya gema di dinding-dinding pelataran
tak ada lagi harapan di jari-jemarinya yang pelan-pelan mulai mengusam,
meski ia sanggup terbang ke langit yang penuh bintang, tapi ia enggan.

ahh... biarlah saja,

Celoteh_tintaJanuari07
Jakarta '06Maret2019
*Ella Karentina





DAN TUHAN BILANG ENGKAU MASIH KUAT


Kau masih kuat
pegang pundak 'ku erat
jangan melulu mengeluh
nanti Aku jenuh

Tuhan juga bilang...
jangan melerai benang
biarkan tergulung
hingga terdengar nyanyian tidung

Kau masih sanggup
Sampai punggungmu menelungkup
mencium dinding liat merah yang lembab,
Aku berjanji tak akan membiarkanmu terjerembab

Tuhan juga bilang...
senyummu menyahdukan ilalang
suaramu selembut melodi angin
tubuhmu kuciptakan untuk tak menjadi dingin,

Kau masih mampu
berdiri sejajar dengan sumbu
melayang pelan, meredam segala emosi
membuat langit menangis menjadi-jadi

Tuhan juga bilang...
ada pedih untuk sabar yang hilang ,
dan cinta dunia yang telah membuatmu lupa
hingga Engkau enggan menutup mata.

Ar-Rahman...jangan biarkan rindu membunuhku

Celoteh_tintaSepertigaMalam
Jakarta'05Maret2019
*Ella Karentina





KELOPAK RINDU


Jangan berpaling dariku
tidak kah aku begitu merekah di matamu?
Jangan memojok begitu
hinggaplah di kelopakku
meski itu membuatmu jatuh,

Lihatlah semut-semut kecil yang berkerumun
mereka nampak hendak melumatku, Aku acuh
Lihatlah aku yang begitu kering,
disekeliling daun-daun yang tergenang air

menjauhlah sudah jika mentari mulai memancarkan sinar jingganya,
muncullah kembali saat rindu kian bergetaran diatas awan
bersembunyilah lagi di balik dedaunan yang basah,
Aku akan menunggumu...

Hingga kelopakku gugur satu-persatu
Hingga batangku menghitam karena layu
Hingga rinduku habis dilumat waktu
Hingga Jingga meninggalkan bumi dan bisu.

Aku akan selalu menunggumu,

Celoteh_tintaJanuari07
Jakarta'04Maret2019
*Ella Karentina

Kumpulan Puisi Puji Astuti - ILUSI




ILUSI
Karya : Puji Astuti


Kabut pagi makin menusuk tulang
tanpa jaket penghangat kulaju langkahku
menyusuri tepian rasa yang menggundah
semalam kau memancing gerah di dada

Seandainya ini nyata
segunung bahagia di depan mata
tak pernah aku punya impian itu
namun kini membelenggu ilusiku

Sekedar tahu memacu selidik sanubari
siapakah dikau yang tersenyum penuh arti
tak kuasa menahan gelora
sedikit hati ini punya harap tuk' mendamba

Ooooohhh ....
kerling itu hanya fatamorgana semata
melintasi tepi hamparan jiwaku yang sunyi
karena dikau tidak sendiri lagi

Kedekap ragaku sendiri
sinar mentari pun telah meninggi
terbang jauh bayang pujaan hati
aku punguti ceceran senyum malu bibir ini

Jogja, 16.02.2019



MEREDAM RASA
Karya : Puji Astuti


Berkali sudah kusirnakan gelora
Ingin membunuh risau yang menggayuti raga
Betapa cintamu telah menggulungku
Dalam pijar-pijar detik berputar

Rejam kini menusuk ranah hati
Membuihkan racun kesakitan tak terperi
Semakin dalam semakin menggigilkan rasa
Aku meredam bisikannya dikeresahan jiwa

Cinta terlarang telah kita sematkan
Cawan madu menyuguhkan tetesan rindu
Ada yang menangis kala memapah kisah
Antara kau, aku dan dia

Kelabu mewarnai hariku
Melepasmu adalah alunan terberat
Biarlah melodi kini kembali menggurat sepi
Bersama goresan luka lara, entah kapan sembuh dan pergi

Jogja, 15.02.2019



Judul : ANGKASA
karya : Puji Astuti


Gelap telah merubah bumi menjadi remang
tanpa lilin penerang jalanan
ada bintang bertaburan di angkasa
kerlip-kerlip memancarkan kilaunya

Sekujur rasa mengagungkan keindahan ciptaan-Nya
langit begitu luasnya
berhiaskan aneka sinar
ada yang besar dan juga kecil

Namun seketika mataku terpana
ada cahaya bergerak melintas
ekornya panjang meluncur
mempesona bergeraknya komet itu

Entah kemana jatuhnya benda tadi
cepat dan menghilang
makin bersyukur hati atas keagungan-Nya
kegelapan ini membawa keimanan atas karunia yang maha kuasa

Jogja, 17.03.2019



Judul : KEBUNTUAN RASA
Karya : Puji Astuti


Sekian lembar kubolak-balik
tanpa sebuah aksara penyanjung angan
tumpul tiada awal dan akhir
semua kosong tak bermakna

Mengapa bisa jadi begini
kemana imajinasi selama ini
terbang meninggalkan aku sendiri
dalam kebingungan dan kebuntuan rasa

Seraut cerita ingin kugoreskan
untuk melepaskan sesaknya dada
namun selalu gagal dan gagal
inikah arti bahwa aku telah mulai hampa

Kemana aku mulai lagi
ujung pena telah berhenti melarik
simphoni seakan diam membisu
seiring kebekuan hati yang memilu

Jogja, 17.03.2019



RAHASIA BATHIN
Karya : Puji Astuti


Menghirup udara ini adalah sebuah anugerah
Memiliki raga sehat suatu kebahagiaan
Bahkan mempunyai rasa cinta dalam jiwa
Merupakan keindahan yang tiada terlukiskan

Untuk apa kita hidup di dunia
Kecuali untuk menjadi insan yang taqwa
Kesempurnaan tiada yang ada
Kecuali menjadi milik-Nya penguasa seluruh alam dan isinya

Rahasia bathin yang kita rasa
Pasti tahu di segala penjuru isi hati
Tak akan bisa terpungkiri
Karena semua akan tunduk atas perintah-Nya

Sadari kita ini hanya segelintir insan
Dalam kuasa-Nya yang maha tak terhingga
Hanya amal untuk pembeda
Saat timbangan penentu tempat kita di syurga atau neraka nantinya

Jogja, 06.03.2019

PUJI ASTUTI




Kumpulan Puisi LUmbang KAyung - TERLEBUR SUDAH BAYANG HITAM



# PRESIDENKU Ir. H. JOKO WIDODO #

Tak letih engkau bekerja,
Melintasi tajam kerikil bebatuan,
Di dinginnya malam dan lumpur engkau berada,
Tak perduli terik mentari dan curahan hujan,
Kau tetap tersenyum ramah menyapa,
Memikul beban rakyat yang di dalam kehancuran.

Umpama sebatang lilin yang menyala,
Semangat mu berkobar membara,
Kau bakar hasrat cita cita yang mulia,
Tampa peduli engkau ada dimana,
Kau tetap menyinari kelam gelap gulita,
Dari kelopak mata yang sebenarnya tidak buta.

Bicaramu santun menyejukkan hati,
Tawamu menjadi canda tawa bahagia,
Walau fitnah melanda meraja lela,
Mengotori singgasana mu sang Raja,
Di tempat dirimu bertahta dan berkuasa,
DI Istana Tanah Air Indonesia Tercinta.

LUmbang KAyung
Tanjung Balai Asahan 21:02:2019





# TERLEBUR SUDAH BAYANG HITAM #

Sapa mentari pulang,
Tinggalkan pajar petang,
Hilang sudah benderang,
Sambut datang bintang bintang,
Di kala rembulan menerawang,
Coba hadir bersinar terang.

Itu yang ku nanti,
Untuk dapat ku nikmati,
Menerangi jiwa ini,
Hiburkan hati nurani,
Yang berlari tak terkendali,
Dalam mencari makna di diri.

Terima kasih tuhan,
Terangnya rembulan malam,
Telah engkau hadirkan,
Datang menepis bayang kelam,
Beri makna arah arti kehidupan,
Yang terperangkap bersama bayang hitam.

LUmbang KAyung
Tanjung Balai Asahan 25:02:2019




# INDONESIA UNTUK KITA BERSAMA #


Gugahan hati,
Meresap di sanubari,
Dan ku goreskan pantun fuisi,
Dari perjalanan hari hari,
Di dalam setiap Derap langkah kaki,
Tentang kecintaan Indonesia ini.

Waktu kan berlalu,
Waktu kan terus menunggu,
Untuk tiba saat ku,
Untuk tiba saat mu,
Memilih apa yang kita mau,
Di saat hari dalam pesta Pemilu.

Tapi tolong jangan jadikan angkara,
Bhineka Tunggal Ika porak poranda,
Ulah dari mereka para pengaduan domba,
Yang ingin hancurkan kedaulatan Indonesia,
Di tanah air kelahiran kita,
Tanah tumpah darah Titipan para pejuang bangsa.
Yang rela berkorbankan Harta dan Nyawa nya.

LUmbang KAyung
Tanjung Balai Asahan 22:03:2019

Kumoulan Puisi Ahmad Effendi Sibarani - MENUNGGU SERANGAN FAJAR



Puisi Malam Kamis....
**** Manis Janjimu, Pahit Hidup Kami ****
Oleh : Ahmad Effendi Sibarani


Setiap lima tahun kami dengar suara-suara merdu.
Spanduk, reklame, baliho terpampang jelas dan besar di Tiang listrik, tembok, pagar semua terhias dan terkihat jelas.
Gambar wajah dan rupa tersenyum, gagah,ganteng dan cantik serta seolah-olah berkharisma.

Beribu kata-kata yang terangkai dan diurai indah.
Janji-janji yang terucap manis
Semuanya seperti mimpi masa depan yang cerah.
Setelah lima tahun, adakah yang berubah.
Janji-janji itu ternyata hanya milik kalian yang terpilih.
Kata-kata yang dirangkai dan diurai indah itu hilang bagai ditelan lagi.
Gambar wajah dan muka sebagian dari kalian akan terlihat di berita pagi,siang dan malam.
Memakai rompi orange bertulis 'Tahanan KPK'.
Ada juga yang terpajang foto mesum.
Ada juga yang terlibat perkelahian di antara kalian sendiri.
Adakah suara hati kami didengarkan dengan jelas di gedung sana ?....
Hanya mulut lantang kalian yang berkata-kata indah.
Kenyataannya hidup kami tiada berubah.
Malah semakin sengsara dan parah akibat harga-harga tak pernah murah.




## Menunggu Serangan Fajar ##
Oleh : Ahmad Effendi Sibarani


Hari yang ditunggu-tunggu
17 April 2019
Serangan Fajar Pagi akan Tiba
Kartu namamu akan beredar serta
Dipinggir jalanan terlihat gambarmu.

Coblos saya...
Pilihlah saya...

Janji akan perubahan
Janji kemasyarakatan
Tapi yang didapatkan kekecewaan
Dengan manisnya ucapan.

Itu semua demi benderamu
Itu semua demi golonganmu
Itu semua demi pribadimu
Itu semua demi kekuranganmu
Rakyatmu tertipu oleh janji-janji

Dan serangan Fajar pun terjadi





PUISI :
## Aku dan Kamu Itu Siapa ##
Oleh : Ahmad Effendi Sibarani


Aku itu siapa ?
Kamu itu siapa ?
Hingga tiba-tiba merasa bisa mengubah nasib masyarakat ini.

Aku dan Kamu itu dari mana saja ?
Kok Mendadak hadir di tengah sulitnya hidup dengan janji-janji.

Kamu dan aku itu kenapa ?
Sampai merasa paling bisa membawa amanat berat rakyat.

Dulu, Aku dan Kamu itu ke mana saja ?
Saat piring-piring kami berdenting kering dari butiran nasi.

Aku dan Kamu dulu di mana ?
Ketika lapak dan jualan kami hancur tergusur,
Harga sembako melambung tunggi, lapangan kerja sulit dicarari.

Aku dan Kamu itu punya apa ?
Hingga begitu yakin bisa surutkan berbagai kekecewaan serta air mata duka rakyat.
Lalu saat sekarang ratusan fotomu sudah tersebar di sepanjang jalan dan sudut kota ini
Berlatar bendera organisasi, dengan jas berdasi, senyum paling memikat juga rambut licin yang berkilat.

Kau jual slogan dan janji-janji surga buat rakyat ini.
Kau tawarkan hidup paling indah di masa depan.
Kau bawakan pula harapan tercantik tentang masa depan sebuah daerah dan negeri.

Kamu itu siapa ?
Hingga merasa pernah mengenal dan mendekati masyarakat ini.

#mancalegcaleg




PUISI :


## KORING ##
Oleh : Ahmad Effendi Sibarani


Bicaranya Koring
Seperti bibirnya....
Juga lidahnya...
Tak kalah juga mulutnya
Bahkan....
Lubuk hatinya
Pemikiran dan nalarnya
Bayangan hati nuraninya
Dan jiwa serta raganya pun
Ikut Koring......
Benih berbagai kebijakan dan kebajikan tak akan berbekas.
Terembus angin yang juga koring-kerontang. Manusia gerah penuh keluh kesah.
Ibarat antara abu dan debu.
Memenuhi udara dengan aroma kematian
Roh kehidupan digantikan oleh bayangan hitam
Sementara burung gagak hitam berkoak--koak
Seperti pengecut dan Lamokut diatasi gantang.

Ibarat Istana dibangun di atas pasir
Lenyap seketika saat angin bertiup
Langkah dan jejak kaki dibanggakan
Lenyap tersapu ombak ditepian pantai.
Jeritan dan tangis sesal tiada guna
Turut lenyap dalam duka nestapa
Manusia yang mengkritik hanya sia-sia
Dunia sungguh fana sebab yang berkuasa masih merajalela.



Kumpulan Puisi Rasyied Rieza - PERHENTIAN HIDUP



PERHENTIAN HIDUP


Akan tiba
Masa yang tak cukup bilangan
Senja berlabur malam
Malam pun berlabur pagi
Hela nafasku insyafkan diri
Hidup tak lebih 1000 bulan
Congkak ku dungak keatas
Tundukku kurang berisi

Usia usang dimakan hari
Tak berujung makna tika ini
Sibuk menoleh isi bumi
Hanya semata puaskan diri
Rabbi hina nya pahaman ini

Syukur rabb
Karpet suci ini
Kurebahkan segala kesombongan diri

Masjid Bandaraya
Kota kinabalu sabah
01-03-2019
Rasyid Riza





Dilema Antara Nilai dan Sebuah Harapan KepemimpinanKu


Pagiku bergegas
Tika pancaran sinar matahari perlahan naik di waktu dhuha

Semua tentang Rakyat
Semua tentang Rakyat
Semua tentang Rakyat

Yaaaa ku sapu dada kutau
Dipundakku ada nilai dan harapan yang akan kutunai

Beri aku warna
Beri aku ruang
Lorong itu masih banyak yang ingin kulalui
Tika ingin kugapai
Galah panjangku pun mulai patah

Aku menggerutu
Aku tersenyum
Inilah cabaran kepemimpinanku

Cukup doa dari rakyatku
Kutunai janji atas ilmu dan kedisiplinanku

Karya
Rasyid riza
Kota Kinabalu
Sabah Malaysia
28-02-2019




“Rindu”


Rindu itu berat dan sangat melelahkan
Ya Tika hati tergadai rasa
Kelopak mata pun berbinar
Ku seru malam dibawah sunyinya rembulan

Ku renung
Khilafku banyak
Sayangku kurang
Cintaku kurang
Tak pantas bagiku memaksakan
Ya cinta itu tak mensyaratkan

Rabbi ku sadari
Esok jalan masih terus dilalui

Karya
Rasyid Riza
Kg likas
Sabah Malaysia
28-02-2019





Administrasi Diri
DiNegeri Orang


Berlaku adillah pada diri
Tika itu menjadi tugasan
Jangan kau persoal
Ini tentang kesepekatan
Hak bercampur tanggung jawab
Mesti ditunaikan
Pahit
Senang
Ah sudahla

Ini Negara Orang

Ya agar tak berbentur
Adab resam dan peraturan

Ini Negara orang
Berlaku adillah
Melihat
Mendengar
Dan ikut semua arahan
Demikian tak mempersulitmu dalam kewajiban

Syukurku
Ilmu dan pengalaman
Berbungkus rapi untukku

Karya Rasyid Riza
27-02-2019
Jabatan Imigrasi
Kota Kinabalu
Sabah





Nyanyian Daun Kelapa
Di musim Kemarau


Pagi ini cerah
Panas
Hangat
Alhamdulillah musim kemarau pun tiba

Hanya tiupan angin bernada
Antara satu pohon kepohon dedaunan nan lain di sekitarnya
Ia tak kokoh berdiri lagi
Sebab akar nya kering kerontang
Pohon dan dedaunan disekitarnya pun demikian adanya

Ia bernada laksana penuh harapan
Kepada jiwa yang memiliki akal
Dunia menyibukkan
Hingga pungkiri tugas ehsan

Akhirnya Nyanyian itu sangat menyeramkan
Tika angin menggegarmu kencang
Jiwa berakal pun hanya bisa berdiam
Tanpa perbaiki dan muhasabah diri

Sontakku menggerutu
Apa silap dan kurang
Sebegitu adilkah aku
Kepada semua makhluk Tuhan

Nyanyian Daun Kelapa
Membawa Pesan

Karya
Rasyid Riza
27-02-2019
Kota Kinabalu Sabah





Tiga Tahun Berlalu

Musim kian berganti
Alam pun ikut mewarnai
Ada demi kehidupan
Mikian pula Ada demi golongan

Bukan anasir kualitas yang menjadi pilihan
Tak lebih baik orang yang berani bertahan
Tutup telinga focus didepan
Tak Lebih hanya untuk perut sejengkal

Nalar ku berubah
Sebab ku sadari
Aku bukan bagian dari solusi masalah
Toh kenapa pula aku ingin menjadi bagian masalah

Harapku
Pandailah mewarnai
Dan bertahan jangan pernah di warnai

Rasyid Riza
26-02-2019
Kota Kinabalu




Harapan Pendiri Bangsa


Bangsa ini sepakat NKRI Harga mati
Agar terhindar tawar menawar lagi

Jelas bermuara NKRI tekad Bangsa
Tugas mutlak untuk pelihara keutuhannya

Jika NKRI acuan kesadaran Bangsa
Akan terbuang rasa keraguan didalamnya

Apatah lagi NKRI setia pada Kekuatan
Mestilah kita tangguh hadapi ancaman

Bilamana NKRI Goyah sudah
Dikhawatirkan Infiltrasi Asing akan mudah

Butuh NKRI Beribawa dan Kuat
Ideologi Pancasila sebagai perekat

Kurang bangga dengan NKRI
Patutlah diragukan Integritas Diri

Jayalah Ibu Pertiwi

GURINDAM
Rasyid Riza
Kg Likas
Kota Kinabalu Sabah Malaysia
04-03-2019





Daun dan Ranting


Musim ini berganti
Tika kemarau sejengkal dari bumi
Panas ini krontang
Dan dedaunan berselerakkan

Menjulang tegar diterpa angin panas dan hujan
Diakarmu berserakan dedaun kering yang tak cukup masa bilangan.

Ranting yang satu Coba bertahan
Lahirkan dedaunan hijau mewarnai bumi yang kerontang
Bumi ini sangat panas
Tugas mu indah wahai dahan dan ranting di pepohonan

Kau beri jalan bagi yang berguguran,kau lahirkan yang baru demi mewarnai bumi dan alam

Tegar mu bak sosok panutan
Yang sampaikan pesan

“Ini hidup ada masa dilahirkan dan sampai pada masa kematian”

“Ini hidup ada masa memberi dan ada masa menerima”

Teranglah bumi indahlah alam

Rasyid riza
04-03-2019
Kota Kinabalu
Sabah Malaysia
Tugas dari CK





Anda adalah yang terbaik


Andai yang kau oret itu kalimat
Mlknhgqwerhsgytisbsbdkabsk
Kuyakin itu kalimat terbaik darimu
Kau bungkus dengan segala kemampuanmu

Dan
Andai kalimat itu
"Anda Luar Biasa"
Itu buah kemampuanmu

Dan
Anda adalah yang terbaik
Kota Kinabalu Sabah Malaysia
Rasyid Riza
04032019





Muhammad Jayadi
4 Maret pukul 18.12
USIA MANUSIA
Karya : Muhammad Jayadi


Daun-daun berjatuhan
Usia kita di makan sang waktu
Ada yang lebih dulu meninggalkan
Kita yang hidup hanya menunggu giliran
Ada yang perlu kita tuntaskan
Adalah melaksanakan sebenar amanah di jalan Tuhan.

Halong
2019




Ikhtiar


Bismillah bermula niat
Ku awali dengan perbuatan
Bermodal iman
Harap hasil membanggakan

Kubungkus Doa
Agar jiwa tak jumawa
Perlahan kukaji ilmu
Sumber rezeki pasti menunggu

Hidup mesti diteruskan
Semangat dikedepankan
Layaknya perjuangan
Bagian azam insan beriman

Wahai hati
Berdamailah
Rezeki Allah akan Berkahi

Kota Kinabalu.Sabah
Rasyid Riza
19-03-2019





Ungkapan Dukaku diNegeri di bawah Bayu
Buat Tuan Guru Ustadz H Abdul Samad Lc Ma


Ia penuhi janjinya buat omak yang di cintainya
Menjadi Imam terakhir bagi Omaknya
Berlinang air matanya
Tersobek luka hatinya
Ia hanya mampu mendoakan
Tika jasad Omak dipembaringan

Segala tentang Omak
Melahirkan banyak pelajaran
Segala tentang Omak
Mengajarkan kesederhanaan
Segala tentang Omak
Tak pernah membebani kehidupan
Segala tentang Omak
Bak mutiara dalam lautan

Kini ribuan tangan berdoa
Bermunajaat dan bersaksi kepada Allah
Semoga Omak ditempatkan di taman syurga bersama Baginda Nabi Sahabat dan Keluarganya.

Kini anak mu menjadi Orang tua dan Rujukan Bangsa

Izin kan kami Wak
Mendoakan mu atas perjuangan mu
Melahirkan dan mendidik Guru dan orang Tua kami Al Ustadz H Abdul Samad Lc Ma
Semoga setiap Ruas Ilmu menjadi pemberat timbangan mu di syurga menghadap Allah Taala

Dan Doa kami pula
Semoga Allah memberi kekuatan kesehatan
Buat Tuan Guru kami
Untuk terus abdikan diri buat Agama dan Bangsa ini

Kota Kinabalu.Sabah
19 Maret 2019
Rasyid Riza





Ranggah sipohon Rukam


Masam mengkolat sibuah rukam
Teraso podar dibatang leher
Potang hari
rukam diambik dibawa balek
Dicuci dan segera ditenteng

Makna teraso jalani hidup
Nan masam beralih manis
Nan manis beralih masam

Tak salah lahir dari rahim kemiskinan
Sebab hidup bukan tentang keberuntungan
Ikhlas jadi acuan
Berkah jadi amalan

Ponting basaingatan
Silap salah di perbaiki
Lobih di syukuri
Kurang pun disyukuri

Pohon di pinta
Allah ridhoi

Rasyid riza
Puisi daerah
Tanjungbalai, 23 Januari 2019





Darahnya Para SYUHADA
15 March 2019 New Zealend

Dentuman suara senjata apimu pun berhasil
Berhasil bersarang didada para Syuhada
Tika mereka tunaikan tugas ke hambaanya Kepada Sang khaliknya

Kemanusiaanmu terkikis
Moralmu cederai adab resam dunia
Kau pertontonkan Luka banyak orang
Dengan bangga simbol Mu kau perlihatkan

Aku tidak takut ancamanmu
Aku hanya takut kepada Sang khalikku
Tika ku diam atas Luka ini

Dunia perlahan membisu
Keyakinanku menjadi sasaran ketidaksukaan mereka para pembenci untuk merasakan jeritan Luka ini

Darah Syuhada
Ku yakin
Tabal Yang allah beri buat kalian
Lebih mulia

Al fatiha

Rasyid Riza
Kuala lumpur,15 March 2019
#pray4newzealend





GOJOL Pahlawan Ibukota


Pagi begitu cerah
Alam kembali tersenyum
Ada raut kosong
Ada raut muram
Ada raut pasrah
Ada raut bahagia
Raut raut itu penuh harapan
Mereka melaju mengejar altar kebahagiaan
Kadang terluka hati nyawa mereka menjadi taruhan

Tegar mereka diatas normal
Ikhlas mereka jauh mulia
Mereka hanya bermimpi
Tak lebih untuk siang dan malam

Ibukota sejuta pesan
Negera bertuah tak seindah harapan
Namun hidup perlu di teruskan

Ibukota
Anak kandungmu berjuang

Rasyid riza
Jakarta, 11-03-2019
Cyle hotel




IDEALNYA PEMIMPIN
HARAPAN RAKYAT


Laksana Datar Bagai Lantai Papan,Licin Bagai Dinding Cermin
Kerjanya Diam diam Kucing,Diam Menerkam

Rujukannya Ulama
Kepentingan Rakyat
Icon perjuangannya

Matlamat azam niat diperbaikinya
Mendengar modal utama
Bersandar kepada Taqdir
Semua usaha maksimal di perbuat

Kekuatan Allah dikedepankan
Itu akhir dari perjuangan

Rasyid Riza
Kota Kinabalu,Sabah
23–03-2019





INGATAN 5 TAHUN SILAM


Terkuras harapan
Bak buih di lautan
Terhempas ke tengah berlalu ketepi
Tongkat dipegang,Latahpun datang
Besar hendak melanda,panjang hendak menindih

-
Hilang hala dan tujuan
Sebab
Biduk satu nakhoda dua
Dermaga suram dan buram
Altar bertabur si bunga rampai

-
Cukuplah
Bukan Budak budak memakan pisang
Nan lalu jadi INGATAN
Nan silaf diperbaiki
-

Damailah Negeri
Siapapun Jadi Raja,Tanganku keDahi juga

Rasyid Riza
Kota Kinabalu Sabah
20-03-2019

Kumpulan Puisi Genoveva Manohara - MEMBUNUH RINDU






MEMBUNUH RINDU

Semalam aku telah membunuh rindu
Kutikam dengan pisau tajam
Yang kutempa di atas bara api cemburu
Kuasah dengan batu kesetiaan
Ujungnya koyak terajam nestapa

Kuseret keluar dari hati
Kubungkus kain kafan berhias luka
Kukubur dibawah batu nisan dendam membara
Bertabur bunga lara aroma kamboja

Matilah kau rindu
Aku tak akan tersedu
Cukup sudah kau dustai rasaku
Dengan racun asmara yang kau hembuskan setiap waktu

Kuharap esuk rindu tak lagi mengetuk pintu hati
Karna rinduku telah mati
Bersama janji yang selalu kau ingkari

Gk, 20190228
(Genoveva Manohara)



KERINGAT TERAKHIR


Nak ....
Ini keringat terakhir
Yang bisa kususukan padamu
Tubuh kerontang jiwa meranggas
Air matapun tuntas terbakar pilu

Nak ....
Ini sisa tenaga terakhir
Yang mampu kusuapkan padamu
Esuk atau lusa apakah aku masih sanggup berdiri
Kaki mulai goyah jariku lemah
Digerogoti usia terkikis derita

Nak ....
Segeralah dewasa dan perkasalah
Genggamlah bola dunia dengan jarimu
Berlarilah mengikuti perputaran waktu
Kalahkan semua nafsu dengan imanmu

Nak ....
Kuatkanlah dirimu
Karna hidup tidaklah mudah
Perjuangan tidak ramah
Tapi percayalah
Tuhan selalu menuntun setiap langkahmu
Memberkati hidupmu

Gk, 20190223
(Genoveva Manohara)



KATA

Aku mengigil di antara ribuan kata
Puisi sunyi
Aku tersesat di barisan kata katamu
Yang selalu kueja
Penuh makna
Kutelan setiap kata
Seperti mauku
Seperti inginku

Akhirnya
Aku terluka oleh rasa
Yang kucipta sendiri
Hatiku sebatangkara

Gk, 20190219
(Genoveva Manohara)



KUSUT JIWA


Raga ini semakin rapuh dikoyak luka
Tak mampu berdiri tegak menyangga dera nestapa
Selaksa peristiwa terpasung di jiwa
Dengan gemetar kulabuhkan seluruh asa
Pada pelabuhan tua penuh nista
Lebam hati kucuci di danau air mata
Pada kubang lumpur dosa
Kusut jiwa kutimang
Kulipur dengan tembang gamang rindu terlarang
Tuhan ....
Lolongku di tengah badai derita mengoyak dada
Aku lelah
Aku menyerah

KL, 20190302
(Genoveva Manohara)



RACUN ASMARA

Genderang sunyi ku tabuh
Bertalu talu dalam kehampaan
Rindu pada kidung asmaradana
Yang mengalun mengiring tarian luka
Dalam rampak gerak hati
Bersama debar di dada

Aku terjebak di lingkar mimpi
Pendar pesonamu meracuni jiwa
Penuh harap kutunggu tetes madu
Tapi racun berbisa kutelan setiap waktu
Aku mati perlahan oleh racun asmara
Yang kau tebar di sepanjang jalanku

KL, 20190303
(Genoveva Manohara)



PULANG KE PANGKUAN BUNDA

Ketika angin sakal ribut bertiup
Kugumuli rindu dalam lautan gaduh
Cintaku terhempas pada karang keangkuhan
Menepi dari pusaran mimpi
Buih buih asmara tercecer di dermaga rapuh
Kupunguti lara dengan derai air mata
Tubuhku menggigil berselimut luka
Susah payah aku merangkak
Pulang ke pangkuan Bunda

Gk, 20190307 / Nyepi
(Genoveva Manohara)



DITIKAM RINDU

Matahari telah jauh dari ufuk timur
Sinarnya tak mampu menembus pekatnya mendung
Daun daun jati bergesekan ditiup angin
Ada sedikit gerimis yang mulai jatuh satu persatu
Tapi hujan badai melanda hati
Merobohkan ketegaran diri
Aku terkapar ditikam rindu
Mengoyak hati
Luka lama berdarah kembali

Gk, 20190306
(Genoveva Manohara)



PALACE OF THE GOLDEN HORSES


Aku termenung di sudut megahnya
Menepi dari hingar pesta
Sembunyi dari gemerlap cahaya
Bias hati bertanya
Masihkah rindumu untukku
Dan kisahmu tentangku

Kekasih ....
Di sini di hati ini
Selalu ada kisah indah tentangmu

KL, 20190304
(Genoveva Manohara)



RATU


Aku ratu yang tersesat di istana hatimu
Penuh batu batu ambigu
Juga lebam biru luka masa lalu

Aku ratu bergaun sutera ungu
Tercabik luka merah saga
Bertopeng bahagia berkasut nestapa

Aku ratu yang tak pernah duduk di singgahsanamu
Tirani memahkotai
Ketakberdayaan minangku abadi

Gk, 20190313
(Genoveva Manohara)



AKU MASIH DI SINI

Pagiku dingin dan beku
Sedingin cintamu padaku
Sebeku rinduku untukmu

Aku masih di sini
Menggigil dan rapuh
Serapuh inginku untuk bersamamu

Aku tetap di sini
Menunggu dalam badai hati
Mengitari jejak jejak biru
Jejak kisah tentang kau dan aku

Gk, 20190311
(Genoveva Manohara)



RINDU PULANG

Di puncak bukit rindu resahku tertambat
Padamu yang kusebut Ibu
Tak banyak yang kumau
Hanya ingin lelap di pangkuanmu
Setelah lelah jalanku

Ibu . . . .
Aku rindu pulang
Aku kangen bau tubuhmu yang selalu lenakan tidurku
Aku ingin berada dalam hangat pelukmu
Teduh kasihmu

Gk, 20190310
(Genoveva Manohara)



KUBIARKAN

Kubiarkan rinduku disapu angin
Bergelora dalam dekap badai
Tangisku terhampar di pantai pasir putih
Isaknya lirih selirih lagu ombak memecah karang

Kubiarkan cintaku ditelan ombak
Karam di dasar laut selatan
Dalam taburan kembang dan harum dupa
Lenyap di palung duka nestapa

Kubiarkan asmaraku larut dalam biru lautan
Berenang bersama ikan-ikan karang
Kekasih, bila rindumu tak tertahan
Menyelamlah dan lihatlah
Ada aku di antara terumbu karang

Gk, 20190323
(Genoveva Manohara)



JEJAK-JEJAK BIRU

Aku masih di sini
Dalam kepung jejak biru
Biru menyelimuti tubuhku
Yang membatasi penglihatanmu akan hadirku
Jejak yang menggores sendu
Yang selalu memalingkan wajahmu
Dari tatapku yang masih rindu

Sering aku mencoba membuka jejak usang
Penutup hati yang malang
Yang tak pernah tersentuh sinar terang
Pada lorong hati yang gelap
Tak pernah kasih sayang terkecap
Hanya ada tumpukan duka tebal

Aku tak mampu menghapus jejak-jejak biru
Akhirnya hanya lusuh pada nafasku
Dan luruh pada senyumku
Lalu runtuh di tangisku

Gk, 20190322
(Genoveva Manohara)