UNTUK MENCARI PUISI-PUISIMU CUKUP KETIK NAMAMU DI KOLOM "SEARCH" LALU "ENTER" MAKA SELURUH PUISIMU AKAN TAMPIL DI SINI

Jumat, 06 Desember 2019

Kumpulan Puisi Penyanjung Sunyi - SUNYI PALING SUNYI KARENAMU SUNYIKU



SUNYI PALING SUNYI KARENAMU SUNYIKU


Telah kuserahkan seutuh hati
Padamu rinduku, sunyi
Kutuangkan tanpa sisa lagi
Yang tersimpan pada palung rasa ini

Kini aku perlahan pergi darimu
Untuk menyambut sunyi paling hakiki
Biarlah tanpa lagi rindu
Menemani perenungan diri

Rasaku kian nyata
Memilihmu menyambut senja
Namun malam tak mungkin terhindar
Menjemput ta#EMiMa

Sunyi, menyimpan asa. Berkumandang memenuhi jiwa. Atas izin-Nya, semoga tercapai dalam nyata. Aamiin.

Penyanjung Sunyi
05122019



MEMUDAR

Sunyiku, biarlah paling sunyi
Membelai sisa waktu
Kau terakhir mendekap kalbu
Kuingin hanya kamu, tiada lain lagi

Penyanjung Sunyi
03 Desember 2019



PADAMU

Hampa terasa
Jiwa merana
Ketika luka menganga
Bersama cerita lara

Hati tersakiti
Janji terpatri
Disini bersemi
Sunyi ... sendiri

Gegas meranggas
Ampas membekas
Waras terbatas
Tuntas, amblas

Debu kalbu menderu
Bayu menyapu pilu
Sendu merayu rindu
Bercumbu ragu, berlalu

Padamu aku rindu
Memadu dungu
Kelu gagu bisu
Menyatu haru

Penyanjung Sunyi
18122019



#EMiMa

Sunyi memeluk keheningan. Berdiskusi kerinduan tiada mengenal batas. Kasih-Nya, keabadian.

Penyanjung Sunyi
03122019



TEMBANG KATA :


Maafkan aku, menisankan namamu, dalam pusara kalbu.

Penyanjung Sunyi
19122019


Kumpulan Puisi Perempuan Puisi - PEREMPUAN DAN HUJAN



PEREMPUAN DAN HUJAN
Oleh: Perempuan Puisi


Siang ini mendung bergelayut, menghitamkan langit. Angin bertiup kencang, udara mulai dingin, dan ... gerimis mulai turun. Seorang perempuan paruh baya, masih sibuk menyelesaikan pekerjaan yang hampir selesai. Yaitu membersihkan rumput-rumput pengganggu tanaman palawija. Ia mendongakan kepala saat terlihat cahaya kilat. Tiba-tiba halilintar menggelegar, memekakan telinga. Seketika hujan turun sangat deras. Tergesa-gesa ia berlari menuju gubug, tempat biasa berteduh melepas penat.

Ia duduk di sudut gubug sembari memeluk lutut. Teringat akan kedua putri kecilnya, dengan wajah ketakutan, juga atap rumah yang bocor. Perempuan itu berdoa agar hujan segera reda. Namun ternyata semakin deras. Tanpa berpikir panjang, ia berlari menerobos hujan lebat, hingga jatuh terjerembab. Tetapi kembali bangkit dan berlari, meski terhuyung-huyung.

Sesampai di rumah, ia sangat terharu melihat kedua putri kecilnya duduk di sudut kamar. Menghindari tetesan-tetesan air dari atap. Perempuan itu segera memeluk mereka tanpa mempedulikan tubuhnya yang basah kuyup.

Tangerang, 03 Desember 2019




PEREMPUAN BERMANDI EMBUN
Oleh: Perempuan Puisi


Pagi ini mentari tersenyum malu-malu. Bersembunyi manis di balik awan kelabu. Sejauh mata memandang, kabut menutupi kecerahan. Hawa dingin, namun menyegarkan. Menyergap merasuki kegerahan kemarau panjang.

Seraut wajah, tenang melangkah, menapaki jalan pematang. Jemari kaki telanjang, bercumbu dengan rerumputan. Embun pun mengecupi penuh kelembutan. Hamparan ladang menghijau mengelilingi, menambah syahdu suasana perjalanan.

Ketika perempuan-perempuan kota, bersembunyi di balik selimut hangat, ia telah bermandi embun. Bulir-bulir sejuk, membasahi tubuh yang terlihat sangat ringkih. Namun senyum selalu menghiasi bibirnya, menggambarkan semangat tak pernah memudar. Perkebunan sayur mayur adalah keberkahan Sang Maha Pencipta yang dititipkan kepadanya. Untuk melanjutkan episode kisah perjalanan panjang kehidupan, bersama orang-orang tersayang. Sebelum ia pulang, yang sebenarnya pulang.

Tangerang, 08 Desember 2019






PEREMPUAN DAN KAWANAN HIJAU
Oleh: Perempuan Puisi


Rerintik menetes, kian lama semakin deras. Mengalir membasahi celah pecah tanah merah. Namun seorang perempuan tetap asyik merumputi tanamanya. Seolah sedang berbicara dengan tumbuhan hijau di sekelilingnya. Tanpa memperdulikan orang-orang berlalu lalang, mencari tempat berteduh.

Perempuan itu, terlihat begitu bahagia menyimak angin yang membelai pucuk-pucuk dedaunan yang basah oleh gerimis. Seakan mengajak bercengkrama. Walau tak berbalas kata. Sepasang bibirnya tersenyum tipis, saat rerumputan tersentuh jemarinya.

Tak ada yang memahami percakapan mereka. Namun isyarat tersampaikan, bahwa ia sedang meluahkan gejolak rasa, yang tak bisa disampaikan kepada sesiapa. Sungguh persahabatan indah, tak semua insan mampu melakukannya.

Tangerang, 12 Desember 2019


Kumpulan Puisi Herawati - PAGI NAN CERIA



PAGI NAN CERIA
By Herawati


Embun pagi nan segar menghiasi ruang hatiku
Kala buka jendela memandang indahnya cakrawala
dan menghirup segarnya udara pagi.

Kicauan burung burung yang bernyanyi dan menari
Menambah indahnya suasana hari ini.

Hati berbunga kala melihat fotomu terpampang dalam dinding kamar. Tersenyum, seakan menyambut pagi.

Rasa rindupun bergelora
Ingin bersua walau hanya sesaat.
Kasihku dalam hitungan nafasku, ada namamu dihatiku.

Surakarta,1 Desember 2019



EMOSI JIWA
Oleh Herawati

Separuh nyawaku melayang
Terbang terhempas ditelan awan
Gemuruh awan hitam berkejaran Mengundang hujan yang akan segera datang.

Amarah dan kebencian menggelegar
Hati tak selaras dengan pikiran
Membuat emosi makin tak tertahankan.

Melihat seraut wajah gulana
Membuat muak sesak dada
Tak ingin bersama Hanya buang muka yang ada.

Surakarta ,2 Desember 2019



puisi empat  baris
CINTA YANG USANG
Oleh Herawati


Kembali kita bertemu di senja itu
Ada debar ketika kau tersenyum menatapku
Haruskah cinta lama kembali bersemi
Luka karenamu masih jua terasa

Surakarta,16 Desember 2019



Puisi empat larik
KANDAS
Oleh Herawati


Haruskah aku tetap bertahan
sedang aku tak mampu tuk menjadi yang istimewa
sudahi saja jalinan asmara ini

Surakarta 15 Desember 2019



SADAR
Oleh Herawati


Matahari, mgkn bisa kau bohongi
Bulan, bisa kau kelabui
Tapi rasa jiwa, tak mungkin dapat kau dustai
Karena ia jiwa yang pasti tau akan rasa sesama jiwa, walau coba untuk kau tutupi.

Sudahlah tak perlu kau lakukan itu
Hanya akan jadi aib bagimu.

Kau coba tipu alam
Dengan berbagai macam alasan
Seolah kau merasa lebih pandai dari alam ini
Hingga kau lupa, akan kuasa Sang Pemilik alam yang maha segala-galanya.

Oh...sadarlah
Usah lakukan semua itu
Sadarlah, sebelum alam menghukummu dengan jutaan cacimaki yang bisa mencoreng nama baikmu.

Sadarlah...
Kembalilah ke jalan-NYA
Sebelum semuanya, jadi terlambat dan penyesalan tak berkesudahan..

Surakarta,15 Desember 2019



MENUNGUMU
Oleh Herawati


Diujung senja ku terpaku Sendiri menatap sang Surya yang mulai tenggelam.

Dalam sepi kucoba Bertahan disini
Menanti batas waktu
Agar kubisa bersua denganmu.

Bila hadirmu tak jua tiba
Ijinkan bayangmu hadir untukku
Karna disini aku selalu menunggu, hingga akhir waktu.

Surakarta 18 Desember 2019



DI DERASNYA HUJAN
Oleh Herawati


Aku tetap disini
di derasnya hujan ini
menanti sampai hujan reda
karna disinilah, kita berjanji untuk berjumpa.

Tapi entah karna apa
ternyata penantian ku sia-sia dan mengecewakan
karna kau tak hadir seperti janji kita.

Entah karna apa aku pun tak tau
tapi sepertinya, kau tak menginginkan perjumpaan ini
Yang pasti aku tau, kau tak mengharapkan aku ada dihatimu.

Surakarta ,20 Desember 2019
HERAWATI


Rabu, 04 Desember 2019

Kumpulan Puisi Suyatri Yatri - GUGUR DEDAUNAN



GUGUR DEDAUNAN
: Suyatri Yatri


Raga menggeletuk dalam rapuh
Menjulur rasa menyapa sunyi

Mengimla pintu arsy
Membisik ayat-ayat syahdu
Nyanyian Yasin meremukkan belulang
Getarkan jantung dalam waktu kembali pulang

Aku tangkap semakna hijau
Tentang gigilan embun meregang makna
Sedetik mengais misteri

Di batang, dahan, reranting mengering
Ketika dedaunan menguning
Gugur lemah menyentuh tanah

Rohul, 01122019



LUPA DIRI TERSEBAB KURSI


Saat nyata terpelintir kata
samar berselubung di ketiak harta
dan kau teguh
mengangkangi kursi
bersepuh emas
mengikisnya tersebab kuasa

Saat birokrasi berliku jalan
Suara sombong pecah seribu warna
ada kebahagiaan hati
menyaksikan jiwa
bersimbah kecewa
berpeluk air mata

Saat derai tawa terbahak
cucuran makna
tergenggam
hatimu mengabur
buta mata
buta hati
buta jiwa
tuli telinga
tuli rasa
tuli membilur suara

"Kau lupa berkemas menuju tanah gersang"

Rokanhulu, 04122019
Hak Cipta Suyatri Yatri ©2019
Semua Hak Terpelihara



SEKELUMIT MAKNA


Antara aku dan kamu dihadang hujan rindu
Diksi pun sering berbenturan di meja puisi
Terkadang anak-anak sajak mencari jati diri untuk dimaknai jiwanya. Ketiak awan sering mengharap cahaya matahari untuk bisa mengusir jenuh. Membasah kuyup bait-bait kata yang telah menggenang di tubuh tanah.
Berserakan entah ke mana kebernasan rasa sebab terlalu ambigu segenggam aksara di larik frasa. Aku hanya mampu menyaksikan estetika lewat celah waktu tanpa prigmitis bahasa.

Rohul, 2122019
Suyatri Yatri



ARSIRAN KABUT

Seriap makna
di antara derai rinai
sansai
menyilau payau
di ambang pukau

Berdiri ternganga
dibasahi gerimis
senyum manis
merilis waktu
porak disambut sinis
yang tak bengis
di antara tumbuhan pakis
khusyuk duduk melukis

Merapal arsiran
bebatuan berlumut
jiwa memintal benang kusut
bahagia terenggut
tersebab ego bergelayut
api tersulut
menyikut
tak patut
hati berkabut
melukut
sangkut

"Selimut kabut di cambuk rasa"

Rohul, 5122019
Suyatri Yatri



TADDABBUR ALAM PUNCAK RANAH

Rindu menyusuri tebing Puncak Ranah
Siapakah ingin tadabbur alam
di antara jurang dalam kelam
Menghitung jejak langkah
Berapa mampu diri berkelana di bumi Allah?

Bersama angin meneruka waktu
Perjalanan sesaat lalu
Kita hanya debu
Di hamparan ciptaan-Nya alam nan syahdu

Tak terdustakan nikmatnya
Di ceruk perbukitan
Lukisan alam Mahasempuna
Jiwa papa dalam kealfaan
Rahmat-Nya sering terlupakan

Di atas ketinggian
Merapal kalam
Bisikan syukur
Dibentang tafakur
Melantunkan zikir
Ikhlas bersama jiwa
dalam penyatuan makna
Dalam detak jantung Puncak Ranah
Jiwa pun berdenyut menyebut Asma-Nya

Rohul, 5122019
Suyatri Yatri



ASA YANG TERSISA

Luluh lantak
kekata bijak
jatuh terinjak-injak

Ketika hasrat
bermunajat
pada doa tersemat

Sekeliling saling menuding
akan arti diri tak penting
dan jiwa hanya mampu mengerling
Meski sesungguhnya terbanting

Masih sanggup bertahan rasa
Meski luka semakin menganga
Atma pun sibuk merenda
Satu asa yang tersisa

Penyanjung Sunyi
05122019
#SpecialtoSahabatku Gali Sugali



SUARA KALBU


Tersadar diri
debu melekati
memasung nurani

Ingin tersucikan
pada keheningan
dalam zikir perenungan

Jauh sudah berseteru
suara-suara kalbu
tentang kasih ambigu
melampaui sejati rindu

Kulangitkan rasa
setulus jiwa
mohon ampuni dosa
wahai Pemilik Semesta

Penyanjung Sunyi
05122019



DOA MAK


Tatapan sayu penuh kasih
Menerawang jauh dalam rintih
Ada segurat luka yang tertindih
Namun rasa tersembunyi agar tak berselisih

Tangan kukuh itu masih gemetar
Saat menggenggam sekuntum mawar
Tubuh ringkihmu kian rapuh
Menggigil tapi tak pernah hadirkan keluh

Kediamanmu merahasiakan gundah hati
Bahwa kecemasanmu saat engkau berangkat pergi
Memikirkan anak cucu sepeninggalmu nanti
Sebab raga semakin tak berdaya digerogoti penyakit menyelmuti

Mak, maafkanlah anakmu yang tak bisa mengobati lukamu
Tak mampu menghapus dukamu
Belumlah berbakti padamu
Sebab jalan yang kutempuh masih berselaput duri

Mak, maafkanlah anakmu yang membatu saat wajah menghadap ke terjalnya jalan
Masih saja memanggilmu sambil mengulurkan tangan
Tanda belumlah dewasa menguliti kehidupan
Saat terbentur ujian

Mak, benar katamu bahwa tak semua pepohonan kukuh tegak di tanah
Terkadang tumbang sebab akar rapuh dimamah waktu
Air pun terlalu deras untuk bertahan hingga hanyut terjerembab dalam kesusahan

Mak, aku masih saja mengharap doa-doamu
Membelai rambutku dan pelukan hangatmu
Walau gabak bercerita saat senja menyapa waktu
Aku masih saja menyebut namamu di antara zikirku

Rohul, 9122019
Suyatri Yatri



AQIDAH

Penjuru mata angin hadirkan badai
Namun iman takkan tergadai
Bila akhlak kukuh
Hati tetap teguh

Rohul,19122019
Suyatri Yatri
SUYATRI YATRI

Kumpulan Puisi Retno Rengganis - INDAHNYA KOTA LAMA



INDAHNYA KOTA LAMA
Karya : Retno Rengganis


Semarang kota lama indah memesona

Pusat perdagangan abad masa lalu
Bagaikan wilayah tersendiri penuh misteri

Cantik seperti kota "kleine Nederland"
Kota lama saksi sejarah, masa
Kolonial Belanda

Tata artistik bangunan bagai menjamah nuansa Eropa

Sungguh ornamen-ornamen kota lama
luar biasa

Keasyikan menikmati suasana malam
bagai candu cinta kekaguman

Imajiku meluah
Lorong-lorong tua menyeretku pada khayalan tingkat langit

Lampu-lampu bagai potongan piktograf terhampar

Menceritakan sekelumit tentang cinta
Kisah asmara jingga menggamit lekang kenangan-kenangan bisu

Tentang dinding-dinding retak
Lembaran guratan suram segenap peristiwa

Kota lama Semarang
Tetaplah cantik berdiri
Dan cameraku telah memungut spektrum-spektrum pasi.

NB : Kleine Nederland adalah Kota, Kecil Belanda.
Semarang 29-11-2019.




DI PANTAI SENJA YANG HITAM

Dulu kita pernah menjadi kami dari satunya hati
Yang dinamakan kekasih
Sekarang hanya ada aku dan dia tanpa ada kata
Kami seperti dulu lagi
Aku mengerti bagaimana rasanya daun hatiku getas dan rapuh

Kupandang laut di kejauhan ada perahu kayu
milik nelayan berbaris cukup rapi
Ombak berdebur berkejaran ingin berlomba
menepi mencumbu pantai
Lumba-lumba enggan menarikan siripnya
Karena keruh akan buih menghitam
Seperti hitamnya nuansa jiwaku
" Aaahhhh..." Desahku makin menghimpit rasa
" Bagaimana caraku melupakan cinta ini ?"
Gejolak hati dalam seribu tanya
Problema
Menghantui langkah-langkah

Aku sungguh tidak tahu
Ternyata kami telah mengakhiri hubungan berkekasih
Aku hanya diam
Berpikir logis menyikapi hidup

Di dunia ini kita ditemukan dengan orang-orang
Yang membuat kita bahagia
Juga sebaliknya
Namun satu yang pasti,
Mereka dikirim kepada kita selalu dengan satu alasan
Agar kita belajar berkasih sayang
Belajar melupakan
Terbiasa
Meski kadang tak berhasil untuk itu semua

Aku kembali menatap senja di ujung cakrawala
Siluet indah tak lagi seperti pelangi
Sore berganti senja
Nuansa yang tadinya sedap dalam pandangan
Kini seakan menjadi hambar
Namun, aku belajar untuk tetap menikmatinya.

Cepu 16/3/2017
By Retno Rengganis
RETNO RENGGANIS



Kumpulan Puisi MS Sang Muham - SUARA JIWA




SUARA JIWA
Karya MS Sang Muham


Seberapa besar pengharapan kau impikan
jauh melampaui hayalan
menjalar dalam keseharian
tampak dalam catatan tangan
melukiskan angan-angan

Di penghujung perjuangan
semua akan di perhitungkan
untung rugi mengikuti budak angon

Tidak perduli keuntungan
bahkan selembar jiwa telah di tukarkan
pada sebungkus keinginan

Begitulah suara dalam jiwa yang di tetapkan
tetap tertuju pada awal amanah di berikan

#Billymoonistanaku, Sabtuwage, Nop 30-2019 = 06:56 wib



PENUH SEMANGAT
Karya bersama Nanik Sunarni dan MS Sang Muham


Usah lari payah mengejar tak tentu jua arah tujuan
tetapkan diri fokuskan hati lurus langkah tangkap sasaran
jalan seribu tuju sorgamu titik pandang jangan putus harapan

Pada Illahi tempat mengadu
bayangmu ikut selalu tentu kenapa kau cari dan kau buru
di batas waktu bayang itu kan menyatu

Selama hayat harapan terus tersemat
gapai sejuta tekad penuh semangat
titik itu hanyalah semu teruslah melangkah hingga tammat
berpantang menyerah apalagi kalah
hakekat hidup tak boleh patah

Di penghujung segala hakekat
berserah berpengharapan adalah obat

#Belantaraibukota, Rabupon, Des 04-2019 = 14:44 wib



MENJELANG PEMBUKAAN
Karya MS Sang Muham


Aku seperti kehilangan selera di ujung perjuangan
lelah berharap mendekap penantian
seluruh nyali tumpah berserakan sepanjang jalan

Entah sampai kapan
akhir daripada kristalisasi penderitaan
meleleh bening salju di netra ketika ku mengenangkan

Ada ketidaksinambungan karena salah pengertian
menterjemahkan isyarat serupa hapalan
membandingkan hidup dan kehidupan
pasti sudah pernah di jalankan
semasa hidup di dunia kenyataan

Begitulah silang pikiran
menjelang pembukaan

#Billymoonistanaku, Rabupon, Des 04-2019 = 08:58 wib



AMANAT TELAH TERSURAT
Karya MS Sang Muham


Yang ku kejar belum bisa ku dapatkan
yang kucari belum bisa ku temukan
apa yang mesti aku lakukan
Jalan ku tempuh menemui jalan buntu
harapan kutuju kini membatu
kemana aku harus mengadu

Aku ternyata mengejar bayang-bayang diriku
pencarian itu bermuara ke satu pintu
jalan tidak buntu belok sedikit menoleh kedalam batin
harapan tetap menunggu sang waktu
sebab amanat telah tersuratkan

Tetaplah melangkah maju
meski kelihatanya jalan buntu

#Billymoonistanaku, Selasapahing, Des 02-2019 = 18:48 wib



MENATAP TANPA RASA
Karya MS Sang Muham


Alangkah licik Dajjal bersilat kata
memutar balik semua fakta
tak perduli lagi kabar berita
menekan mencekik sekuat tenaga
seperti yang dia suka

Manusia banyak terperdaya akal sehat tak guna
wewenang dan kekuasaan yang bicara
menghamba pada harta dunia

Kasihan orang kecil di desa
bekerja dan lurus amanah orang tua
jadi mainan seperti boneka dari india

Aku tertegun menatap tanpa rasa
diam dan mengelus dada

#Billymoonistanaku, Seninlegi, Des 02-2019 = 11:50 wib



JALAN HIDUPKU
Karya MS Sang Muham

Tanpa ku sadari
ku kejar matahari
seringkali berlindung di balik angan-angan
sambil menjulurkan harapan
tertawa mengejekku melambaikan kenangan

Aku pun tak perduli
pada riwayat yang semakin membumbung tinggi
memperkaya catatan hari ini

Tapi tetap ku cari
kemana ia pergi
mempersiapkan jati diri

Tetaplah berharap wahai jiwaku
sebab kenyataan ini adalah jalan hidupku

#Billymoonistanaku, Seninlegi, Des 02-2019 = 08:38 wib



DI PUCUK RINDU KITA BERTEMU
Karya bersama Wartina Juliania dan MS Sang Muham


Mengukur waktu kian berdebu
khayalku meraba bayangmu
setiap kutemui merupa dirimu
saat itu jua ku tersadar bukan kau
Impianku melambung jauh ke langit biru
kuberharap engkau rasakan rinduku
kian ranum di batang kalbu

Setiap saat ku dendangkan suara hatiku
melalui bayu ku harap sampai di pelukanmu
melebur asmara yang kian berdebu

Kekasih biarlah semua berlalu
di pucuk rindu kita bertemu

#Belantaraibukota, Seninlegi, Des 02-2019 = 05:11 wib



SAHABAT BUDAK ANGON
Karya MS Sang Muham


Aku terluka dan begitu payah
mengapa kau pergi dan seakan berkilah
tengoklah kerongkonganku kering bibir pecah-pecah
sungguh keyakinanku hampir goyah
meratapi diri putus asa tertatih-tatih

Aku teringat sahabatku budak angon
ketika tirai dibukakan hati pun harus di tega tegakan
segala penderitaan kau tonton serupa di biarkan

Sudah tiba kah saatnya berganti penampilan
segala pemberian hanya untuk jajan
membiarkan arus menemui alurnya sebagai jalan

Selamat berjuang sahabatku budak angon
semoga tetap di beri ketabahan

#Billymoonistanaku, Jumatkliwon, Des 06-2019 = 06:00 wib



ORANG SEBERANG
Karya MS Sang Muham

Inilah perjalanan perjuangan
ketika tiba di medan pertempuran iman
waktu mengantarkan sampai etape budak angon
disana tertulis harus tega menonton penderitaan
membiarkan sanak saudara tertatih dalam kebingungan

Budak angon cuma menatap dengan air mata
perih hatinya melihat derita sanak saudara
tapi harus tega demi amanah sesungguhnya

Sekarang bagianku orang seberang
memberangus tuyul begundul bikin kepala pusing
setelah warisan di buka segalanya akan tenang

Duh Gusti Pengeran penguasa alam sejati
kuatmampukan hamba menjalani takdir ini

#Billymoonistanaku, Jumatkliwon, Des 06-2019 = 07:37 wib



MERAPATKAN BARISAN
Karya MS Sang Muham


Merentangkan jarak
sampai tak terhingga melampaui logika
lalu jadi prasasti menandai berbagai gerak
agar kita selalu ingat akan asal mula
meski tertinggal tulang belulang berserak

Mari semuanya mendekat
rapatkan barisan hingga lalat pun tak bisa lewat
ikrarkan sumpah setia tanda sepakat

Apa pun terjadi kita tak perlu gentar
kata adalah janji, janji adalah hutang yang harus di bayar
lunas kan semua perhitungan dunia yang cemar

Kebersamaan adalah pangkal musyawarah mufakat
gaungkan di hati agar tetap terikat bulat

#Billymoonistanaku, Kamiswage, Des 05-2019 = 13:23 wib



ZAMAN GILA
Karya MS Sang Muham


Jangan sembunyi dari kenyataan fakta
menghidangkan tanya yang tak butuh jawaban semestinya
dari semua rangkaian memerlukan keputusan segera

Begitu lugas kata-kata
seperti tak ada batas nyata
di antara sesama

Padahal kenyataanya tersudut dalam realita
satu persatu tersisih ke dalam keinginan raga
semua lapisan sama saja
dengan corak yang berbeda
berlomba menimbun harta dunia

Dunia sudah tua atau zamannya memang gila
hati hati menentukan pilihan bijaksana

#Billymoonistanaku, Rabupon, Des 04-2019 = 20:50 wib



TERTUNDUK DI LORONG SESAL
Karya bersama Putry Blambangan dan MS Sang Muham


Ambisi melalaikanku
hingga ku terbelenggu oleh waktu
sampai lupa dengan amanahmu
kini ku tertunduk di lorong sesalku

Penyesalan menyelimuti perjalanan nurani
andai masih tersedia waktu untuk ku koreksi
catatan pribadi untuk tidak terulang lagi

Sejuta kata tumpah ruah terbuang percuma
apa pun dalilku menyatakan penyesalan sudah tak guna
kau pun berlalu hilang tanpa kata

Begitulah prosa hati terurai gamblang
jadi prasasti untuk selalu di kenang

#Belantaraibukota, Sabtulegi, Des 07-2019 = 18:58 wib



MERANCANG PAGI
Karya MS Sang Muham

Merancang pagi
menabur mega di pundak sepi
sama seperti melamuri diri
meski tak disadari
bercermin di pusaran jati diri

Semakin bias segala rencana
tertinggal di meja sang paduka
lalu membeku disana

Tak kunjung kabul niatan
sebab di mulai dengan ketidak harmonisan
aku kuatir berujung sengketa berkepanjangan

Mulailah merancang pagi
dengan niat sepenuh hati

#Billymoonistanaku, Jumatpahing, Des 13-2019 = 10:40 wib



PERJALANAN HIDUP
Karya MS Sang Muham


Perjalanan menuntaskan hidup
sudah tiba pada episode zaman kalabendu
menyisir setiap mahluk hidup
suka tidak suka pada lembaran biru
nyata dan tetap

Menggelepar bagai ikan keluar dari air
tak kuasa sekujur tubuh laksana terbakar
bahkan menyerah pun pencobaan tak kelar

Berserah pasrah adalah tindakan bijak
menenangkan jiwa raga ikuti bumi bergerak
biarkan hanyut selama jantung masih berdetak

Kepada-Mu Gusti Pangeran Sumber segala Sumber
aku berserah karena Engkaulah Awal dan Akhir

#Billymoonistanaku, Jumatpahing, Des 13-2019 = 07:07 wib



TERBUNGKUS DALAM DIAM
Karya bersama Putry Blambangan dan MS Sang Muham


Semua terbungkus diam dalam sunyi
penyesalan terpatri tiada bisa di ubah lagi
hingga kelu bisu di lorong waktu
penyesalan melilit memenuhi ruang kalbu

Terjerat nurani seperti mati hati
ingin ku berlari dari sepi menghantui
mengejar bayangmu memotong garis logika diri

Apa yang terjadi jika terus menerus begini
jangankan berlari berdiri pun setengah mati
kupasrahkan diri bersandar pada IIIahi

Kuterima apa pun terjadi
hidup bervariasi tak selalu sesuai kata hati

#Belantaraibukota, Seninpon, Des 09-2019 = 07:07 wib



SABDANYA NYATA
Karya MS Sang Muham


Ia terus berjalan
mengumpulkan ranting kering dan sisa pohon
ada dua rangkaian berkas terkumpulkan
satu rombongan politisi tekhnokrat dan angkatan
kedua rombongan putra Mataram dari Gugus Pelayanan

Begitulah ia, sang budak angon berhati mulya
sabdanya nyata memberikan solusi bagi kita
membuat terang permasalahan apa saja

Tiba-tiba jiwa besar seniman hinggab di sukma
dalam tempo singkat jadilah lagu Gugus Pramuka
tak cuma itu, setumpuk puisi lahir dari tanganya

Mengikuti budak angon serupa menenun sutra
runut mengalir mengikuti aliran alur sesungguhnya

#Billymoonistanaku, Sabtulegi, Des 07-2019 = 17:27 wib



AKU TERPERANGKAP RASA
Karya MS Sang Muham

Aku terperangkap rasa
ketika waktunya tiba
aku terbawa arus nestapa
lupa amanat lalai petunjuk sibuk tak guna
padahal semua cuma gegoda

Cara berpikirku harus kembali seperti semula
perjuangan ini menuntaskan hutang jiwa raga
amanat ini sesuatu yang pasti seturut Ridho Yang Kuasa

Akan datang kekeringan yang teramat kering menerpa
aku lalai untuk waspada apa adanya
kenyataan itu kata kunci amanat segera di buka

Duh Gusti Pangeran Maha segala Maha
kuatmampukan hamba jalani sesuai peta

#Billymoonistanaku, Sabtulegi, Des 07-2019 = 06:06 wib



TAKKAN KUHINDARI
Karya bersama Tami Taminta Ginting dan MS Sang Muham


Tiada bisa kuhindari
aku harus duduk di sini
meluangkan waktu untuk menekuni
rencana harus diatur kembali

Kepada-Mu ya Rabbi
kuberserah diri
janji-Mu seperti fajar di pagi hari
akan selalu menemani

Aku akan terus berlari
mengejar mimpi dalam sanubari
memperteguh hati nurani menjadi jati diri

Kuatmampukanlah Tuhan diriku ini
berjalan seturut Ridho Illahi
berguna bagi-Mu di layakkan di dunia ini

#Belantaraibukota, Mingguwage, Des 15-2019 = 17:00 wib

MS SANG MUHAM


Kumpulan Puisi Ayu Ashari - PELABUHAN CINTA

 
 
 


GURINDAM PERJALANAN

Serupa awan kelabu yang terus berarak
mengusung beribu abad menuju kemudian
kita masih bergairah menyusuri alam ini

Mengimbangi jarum jam mengibas samsara
kita tidak pernah tahu sampai di mana berkesudahan
kita membaca setiap huruf mengimla kata
pada perjalanan yang membelah buana
sambil merenungkan luruh kelopak bunga kemboja meninggalkan harumnya
yang terus riuh menzikirkan nyanyi semesta
ketika hujan menyapu debu di kota-kota

Mungkin kita harus belajar kembali
mengeja tanda-tanda dengan dingin airmata
karena tuhan pun telah kita pertaruhkan
dengan wewangian aneka bunga yang kehilangan mahkota
atau jerit burung-burung menekuri kepaknya
tak kala rumah-rumah mereka terbakar keserakahan

Putik putik melati yang baru tumbuh
memoles wajah
melenggak lenggok dihamparan taman mall
lalu gugur satu persatu lantaran sarinya di hisap kumbang jalanan
atau kumbang kumbang muda lesu tak berdaya
tergilas candu peradaban zaman

Ah, apalagi yang tak mungkin terkata di negeri ini
permata tergerus menjadi batu batu koral berdebu
hantu dan peri terusir dari sarangnya
kubur-kubur keramat menjadi tempat pepuja dan kehilangan kesakralannya
semua pergi melukis sangsi semesta

Ayu Ashari medan 30112019



PELABUHAN CINTA

Ombak lalu lalang datang dan berlalu
jejak jejak pasir terbangun dalam kemarau
menggantung pada detak jantung
lalu musnah bersama mimpi mimpi tengah malam

"Aku ingin mempersembahkanmu sebuah cinta
berasal dari pelukan alam yang ditanam dalam angin
hingga saat angin berhembus maka engkau akan merasakan sejuknya cinta itu.
Apakah engkau tahu
Engkau menyiksa pikiranku dengan bayanganmu yang selalu menetes di biji mataku

O, sampai bila kau pendam dendam
hingga lupa bagaimana cara berdendang
maka...
izinkan aku mengalirkan setiap tetes air matamu bersama derasnya aliran sungaiku
menuju muara yang telah kupersiapkan untukmu!"

Lembut bisikmu selembut kecupan di bibir merahku

Ah, jiwaku melayang melintasi mayapada
bergetar bersandar di pelabuhan cintamu

Ayu Ashari & eko medan 28112019



MENDUNG DI LANGITKU

Entah mengapa
mendung di langitku begitu pekat
guntur dan kilat saling menyambar
seolah tak pernah jemu menjamuku
karang di laut melumut rapuh bergaram
jerit camar pecah membaur debur ombak

Ah, mampukah mendung bertahan
dari hempas angin yang kencang
hingga pantaiku tak lagi basah oleh hujan
dan kuncup bunga karang tak membusuk sebelum mekar

Entahlah.......

Ayu Ashari medan 24112019


-------------------------------


Mungkin pekat ini salah
Hayati tiap hisapan kedamaian
Engkau turut menatap lanskap sunyi bermanja denganku
Namun bisu telah menendangku jauh melintasi kepenatan
Menerabas segala tanya di belantara mega mega




ANGIN

Ah angin, masikah kau bawa nyanyian paling pilu
diantara gemersik rumpun bambu
dan jeritan jangkrik di balik rumput
dari hutan yang keriput

Tidakkah engkau memahami
Betapa sulit mengendapkan sepi di atas sepi
menterjemahkan isyarat yang membayang
dan mencerna setiap gejala alam yang datang

Angin, tolong sampaikan padanya
tak ada rindu paling rindu di dada
dalam perjalanan memunajatkan cinta
pada dia yang menggelitik lara
menggeliat di ujung senja

Ayu Ashari , medan 23112019



BULAN RETAK DI PENGHUJUNG NOVEMBER
Karya Ayu Ashari

Untuk masku Eko

Gaung suara itu masih terdengar manis
di antara rinai hujan November yang terhempas di pelataran malam

"lihatlah bulan merah jambu
kembali rebah di pangkuan daun-daun yang menguning
tidakkah cahayanya lebih indah
mengapa masih kau biarkan hujan membasahi halamanmu?"
(bisiknya giris, lembut tak mengerjap)

Malam terasa kian gerah
namun atmaku membeku
tanpa nyanyian burung malam
lantunkan balada rindu
yang tersisa hanyalah jerit jangkrik di bawah dedauan kering
dan....
"Engkau kian jauh!"

Kureguk seluruh cawan pemahaman itu
mencoba tuk mengerti
tapi tak jua kutemukan jawaban pasti
alasan kepergianmu

maka......
inilah romansa gubahanku
rembulan retak di penghujung November

antara aku dan keraguan
yang tertatih menuju lorong lorong kenangan gelap
dari sunyi yang paling sunyi di dalam lubuk hati
sedang kedua tangannya merentang
sediakan ruang dekapan

Ah, segala rupa diam membisu
sebisu rinduku yang mulai kehilangan arti
sebab asa murca hancur jadi debu
ditiup bayu hilang pandu

Medan, 20112019



INSTRUMEN TAK SEMPURNA

Pada partitur-partitur untai birama yang tersingkap
melodimu melahirkan sekeping penghambaan
menyublim pahatan untaian nada
yang telah terkubur purna
kembali tergali melalui dzikir pada kehendak sketsa setetes tinta hitam

Ah, kisi-kisi sukma bisiki kesadaran di sisi yang terlupa
saat detik yang percuma perih meruyak
di sepertiga malam janjikan kedamaian di ujung penantian
Dan dalam sujud-sujud lail
sesekali tertepis tulisan dzikir-dzikir yang tak terselesaikan

tepian derita yang tak tertetesi gumpalan hati
belum jua keringkan puluhan nada sembilu
bertumpuk warnai pucat sajadah
hancurkan ratusan air mata
luruh dalam pelukan sesal
saat gelisah menanti perihnya tarikan nafas di ujung tenggorokan yang masih menjadi rahasianya

O, berapa lama waktu tersisa ?
menghapus noktah-noktah goresan mata pena di bahu kiri
sedang senja kian condong
membungkuk menuju peraduan paling akhir
sementara instrumen yang digelar kepada Tuhan belumlah sempurna

Ayu Ashari 15112019



MENAFSIR KEMATIAN

Dalam bahasa rindu dan cinta kematian itu bagiku
laksana kepak burung yang mengembarai cakrawala
dengan sayap lemah dan bulu bulunya yang luruh
menuju kesangsian semesta

atau jalan sunyi menuju sebuah negeri keabadian
ketika redup menaungi cahaya senjakala
matahari pun lepaskan canda dunia raya

Tapi, katamu (dengan senyum dan airmata)
kematian itu adalah bayangan keniscayaan
terkadang menjelma jadi riak-riak sungai,
terkadang menjelma jadi gelombang laut yang setia menyisir pantai
atau sekadar mimpi buruk anak-anak zaman kehilangan dunianya

Terkadang menjelma jadi bara api menyala
yang panasnya kehilangan daya hangus
seperti tafsir kemerdekaan yang kian redup
dalam pesona iklan-iklan gadis telanjang diobral zaman

Kematian itu, katamu lagi (dengan rasa giris)
sebagai tebasan beribu mata pedang,
perih torehan silet, hunjaman mata kapak
atau tusukan belati tanpa kesudahan

Ah, kekasih
Kematian itu bagiku tak kala cintamu meredup
seperti mentari yang tak menembus awan kelabu

Kematian itu, ya kematian itu kekasih
sebentuk damai cinta yang akan kita jelang
ketika kita tak lagi mampu taklukkan waktu

Ayu Ashari medan 13112019



NEGERI CINTA

Aku laksana anak sungai yang terus mengalir
dari celah batuan cadas
deras menuju muara
selalu merindu kedamaian abadi
seperti berjuta musafir yang dambakan gelora cinta
dikesudahan lelahnya pada kedalaman laut-Mu

akulah sang burung perindu yang terus mengepak sayap
terbang mengembarai cakrawala
menentang akramaya adhista
memburu keindahan semesta cinta-Mu
mengorak sayap doa
sembari membaca tanda-tanda di gemerlap dunia
mengukir langit memeta rindu di dada

Engkaulah negeri cinta tempatku bermuara
Engkaulah negeri cinta tempatku berpinta
arusku membeku dalam dingin laut cinta-Mu
kepakku luruh dalam kehangatan dekap-Mu

wahai, negeri cinta, ujung kesudahan
sambutlah kehadiranku di kemegahan Arsy
dan apabila malam ini hamba kalah
aku menyerah pasrah sebab hambah hanyalah manusia biasa

Ayu Ashari medan 05112019



SEPERTI APA
Karya Ayu Ashari


Dimulai dari gerimis yang puisi,
tarianmu dengan lugunya selalu saja menempati ruang yang kusebut "hati"
lantas bagaimana aku bisa memunggungi senyumu
bagaimana fikirku bisa tidak berpihak disetiap langkahmu
sedang legenda tentang syair syair puitismu senantiasa mengulang di telingaku

Lalu seperti apa engkau memintaku menaklukkan rindu
seperti apa engakau mengisyaratkan rasamu yang sama

Bukankah tidak mungkin aku mengiris hatiku sendiri
jika bukan engkau yang melakukannya

Ah, hujan masih membasahi awal desember

Medan, 02122019

AYU ASHARI