UNTUK MENCARI PUISI-PUISIMU CUKUP KETIK NAMAMU DI KOLOM "SEARCH" LALU "ENTER" MAKA SELURUH PUISIMU AKAN TAMPIL DI SINI

Jumat, 03 Mei 2019

Kumpulan Puisi Retno Rengganis - TENTANG KAMU



TENTANG KAMU
Karya : Retno Rengganis


jika hujan bukan gelombang sungai-sungai
mana mungkin awan adalah titik-titik air

aku ingin melihat jelai bunga ilalang
di raut wajahmu
bersinar matahari

ketika kerontang menggerogoti daun kering jiwa
kini atas kuyubmu ciptakan tirta bening air surga

hiduplah yang gugur menjelma tunas-tunas
kemudian menebarkan harum rahmat

di antara bunga-bunga air mata
mengucurlah basah hati
akan kecintaan pada sang
maha abadi.

Cepu 3-5-2019.



PENDEKAR IDOLAKU
Karya : Retno Rengganis 


Sekuntum cempaka indah beraroma manja
kelopaknya bagai sisik emas naga puspa

Sepuluh kali kekuatan dari pancaran indah sorot matanya
tertutup gerai rambut melambai-lambai

Di batas malam yang gerhana
engkau memahat kepingan bintang
menjadi sebuah pusaka bertajuk asmara laya

Kau sembunyikan senyummu di balik tudung caping
keangkuhan hatimu yang melati
membuat jiwa ini jatuh hati

Bagai paralayang berwajah tampan
terbang lalang mencari jati diri
engkau sang pangeran meremas matahari
kau pecahkan wajah rembulan

Dalam bisik kidungmu yang lirih
"Jagad ini penuh topeng-topeng kepalsuan yang bisu, ingin kutumpas dengan runcing pedangku,"

Engkau memang lelaki yang datang dari kabut biru
membaca cakra dunia persilatan
berguru pada orang bijak penumpas jumawa
menghardik embun dengan lenguh gelembung jiwa

Kembaramu adalah setia pada janji dari harumnya kemenyan dan setanggi
pada tekat genggam bara api hingga menjadi hitam arang

Rambutmu tergerai seriap reranting
mendepani hari-hari yang semakin mencabar
keutuhan tekat sumpah keramat
dikau pendekar berwajah sendu
idolaku.

Cepu 7-5-2019



KERETA KEMATIAN
Karya : Retno Rengganis


Matahari mulai lingsir wengi
Seperti gelap yang akan meninabobok jiwa
Lamat-lamat terdengar suara kereta
Malaikat merayap-rayap mencari nama-nama
Yang menangis meratap hiba

"Tuhan lepaskan jerat urat nadi napas ini, dengan ciuman lembut, agar rasa pedih tidaklah tersayat biru, dan lemparkan aku ke surga-Mu,"

Kereta datang berbunyi gemerincing
Mata-mata neon memicing
Sebab aroma kematian bagai baling-baling

Aku menunggu di tikungan rel selanjutnya
Telah kuukur panjangnya
Seberapa dekatkah hari-hari akan berhenti kereta mati

Ada bisikan angkuh
"Wahai makhluk kecil, kembalilah dari tiada ke tiada,"

Pasrah dalam kereta
Menuju kota baru akhir amalku terhakimi

Belantara sunyi sendiri setasiun akhir rumahku
Gemerincing berlalu aku membisu
Tiada teman kecuali amalku.

Cepu 9-5-2019



PERADABAN JIWA MENUJU SANG HAQ
Karya : Retno Rengganis


Aku manusia dari kumpulan debu hina
merindu kasih dan pelita

Pada sebuah dunia tubuhku terjebak hidup
seperti pesta dan perhelatan
mataku melukis peradaban

Rindu rasa rindu cinta
cahaya suluh yang menerangi gulita
terdengar mengalun sepanjang kehidupan

Aku melihat ke angkasa
ada gugusan bintang memahkotai angkasa
rembulan sebagai merah pipinya

Sorot matanya sepijar matahari
tetes keringatnya bening permata telaga embun

Aku terkesiap
inikah negeri dongeng
ketika surga adalah seindah-indahnya tahta

Malaikat-malaikat tersenyum
inilah peradaban jiwa menuju Arasy
bersujud pada Sang Mahabesar

Andai tiada Dia
tiada mungkin aku
niscaya tiadalah yang ada

Pada segala hal ada tanda
menunjukkan bahwa ia adalah Dia
pecipta peradaban.

Cepu 10-5-2019



OH PELANGI OH BIANGLALA
Karya : Retno Rengganis


Semburat warna warni indah di langit
selepas jarum hujan memanah alam

Datang sang dewa matahari
membias sinar kehangatan
menginspirasi kidung puisi

Pelangi adalah bianglala
wujud mimpi permainan anak-anak
Cinderella
terbang jauh berputar-putar
di angkasa

"Hoee... Pelangi selendang putri negeri dongeng,"

Keindahan bianglala bercumbunya
hujan dan mentari
melahirkan bias anak-anak warna warni

Pelangi oh bianglala
cerita kehidupan atau retorika

Jatuhnya hujan adalah kesedihan
pastinya datang terang kebahagiaan

Matahari mencerahkan
setelah mendung hitam merintik
memetik hikmah pembelajaran masalah

bianglala adalah pelangi
inspirasi.

Cepu 12-5-2019



MEMERAM RINDU IKLASKU
Karya : Retno Rengganis


Puing-puing rindu telah tercecer sepanjang jalan cinta
tinggalah hujan melukis sedih
menggenangi tapak kaki

Sebelum berakhir catatan ini
sejenak kusandarkan lelah
di tungku batu

Angin yang sedari tadi membisu
menarilah bersama dedaunan
biar kurasai semilirmu
sambil kudengar gemeretak kuningnya,
yang luruh satu-satu
Dan secuil lara kuninabobokkan
sejenak

Di setiap waktu terlewat
kunikmati mengeja namamu
sambil mengingat saat bersenda
mendebat rasa mengukir cinta di lembar ingatan

Betapa sedih melihat mentari mulai lelah ingin tidur di malam gundah
langit mulai kelam merasuk hati memeram rindu kian tenggelam

Ada rindu menggantung di sukmaku
terpatri hanya padamu
rindu ini mengalahkan gelisah dan gundah
seperti harmoni yang merajah

Lagi-lagi aku kebingungan
kukatakan pada kunang-kunang
dingin malam tak segera hilang
rinduku makin mabuk kepayang

Waktu terus berpacu tak pernah berhenti
suara-suara langit makin menekan hati
aku sungguh tertawan dalam kesendirian

Bagaikan rembulan yang setia pada janji di malam hitam
memanggul cahaya untuk tetap temaram

Detik yang berdetak terus bergulir
mencari sedikit harapan saat dingin mulai menjalar
tak ada yang lebih ramah kecuali sabar dan ikhlas.

Cepu 9-3-2019



KAPANKAH TIBA MASANYA
( Kidung kembang kecubung )
Karya : RETNO RENGGANIS

Kembang kecubung di sudut lorong sepi
dipetik menjadi terompet sakti
melantunkan kidung bagai sajak mati
lengkingnya jerit kaku tiap ruh diri
beku biru dalam peti
jika sudah begini?
tiada perduli!

Yang hidup, terus lari menuju lembah qur'ani
bunga kecubung tetap tergenggam jemari
ikut antri mencari pintu-pintu alkhafi
sambil meneriakkan doa-doa puisi
agar terhindar fitnah keji
dari rasa nyeri
terperi

Kembang kecubung terompet dewa
tertiup kencang seumpama sendawa
merintih memandang pusara
sebab ini kisah hancurnya nyawa
pembersihan tak kentara
dunia fana

Kembang kecubung lepas di tangan
membayang dunia fakir nan hina
tiada perduli kehendak sang pencipta
insan lena akhir binasa
kemana?
surga?
neraka?
yang jelas kembali pada tuannya

Cerita kembang kecubung
terompet mimpi yang terkandung
bukan lelucon atau lelidung

Ini sesulih, imagi terbawa kelana
kau tau, akhirnya nyawa terpana
namun sesal tiada guna
harus di terima.

Cepu 11-10-2018.



I'TIKAF
Karya : RETNO RENGGANIS


sejenak kusandarkan rindu di punggung tuan
atas nama cinta dari ruh
ketika datang menyapa semilir jiwa
lalu menjadi sebuah cahaya
kemudian terang

di antara celah celah
pula kupetik kunang kunang
semakin benderang
kueja kata seperti sajak doa
yang kuketik ketika malam tiba

"aku ingin pulang" kataku
pada rumah kekasih
yang kutinggal sekian lama
dari pengembaraan

jemari ini menggenggam tasbih
dari butir-butir biji genetri
lelah kaki
bersimpuh
dalam akhir tangis i'tikafku.

Cepu. 9-10-2018
Assalamualaikum warohmathullohi wabbarokhatu.



JALAN INI


Kamu lupa kalau jalan ini pernah kita lewati
Tetap sepi dan lenggang
Hanya sedikit beda, tanpa lubang tikus dan tidaklah rindang
Kini sedikit gersang

Kamu lupa jalan ini pernah mencatat kenangan
Saat rindu padamu kita merangkai cerita
Mengukur jengkal jejak rasa

Kamu tahu, kini aku berada disini
Di jalan ini

Dan jika suatu hari nanti kamu lewat jalan ini
Usah jatuhkan gerimis di matamu
Sebab aku takut, kau akan tenggelam
Seperti aku yang tenggelam saat ini

Jangan....
Jangan datang
Ada banyak sekali hal yang tak bisa kuutarakan
Di jalan ini.

Cepu 26-10-2018
RETNO RENGGANIS.



ADA NAMAMU
Karya : RETNO RENGGANIS.


pagi ini kutulis namamu
pada lembar-lembar daun basah
terhiasi kerlip butiran embun tasbihku

kupetik cahaya seterang matahari
untuk gulirkan bening-bening doa
indah dentingnya melantun namamu
menjadi nada puji-pujian

aku tersenyum dalam i'tikafku
dan kulihat langit seperti istana surga
di balik tirai kabut mata batinku

namamu terus kusebut
bahkan kunisbatkan
menjadi kuntum melati putih
harum di dadaku
tanpa jeda waktu terus kusirami
agar tetap mekar di halaman jiwa
selamanya.

Cepu 20-10-2018.



KIDUNG KEMBANG KECUBUNG
( RETNO RENGGANIS )


Lihatlah kembang kecubung ungu
Seperti paruh perkutut bersiul merdu
Bertengger di ranting kemuning itu

Setiap hari menyanyikan selaring gending
hanya untuk gadis lencir kuning

Kecubung terompet sakti
Saboyo pati lelidung jiwa murung
Ilir ilirnya jeritan hati

Gandrung lewung
Sayup-sayup rintih merintih
Perih

Kembang kecubung lewung
Ketika pangeran Bayu Tirta
Tiupkan semilir angin, merintikkan embun suci
Pada dedaunan kemuning kering
Lalu iramakan gending sigrak rancak
Makin memikat, dan kramat
jiwa-jiwa sekarat.

Cepu 30-10-2018



KIDUNG HATI
( Oleh : Retno Rengganis )

Di ingatan yang terbatas, maafkan jika pada akhirnya beberapa kenangan lupa aku eja. Sejenak kulepas semua beban pikir.
Mulai menjaga raga rapuhku memohon agar tidak patah dan luruh.

Kini benar-benar seperti kembang kamboja yang tumbuh di atas awan jingga.
Aromanya sengir manja.

Sepanjang hari jam berputar, malam menjadi pagi, pagi menjadi malam, begitu seterusnya. Membunuh semua ingatan, memaksa mati yang masih tumbuh.

Tidak ada yang paham, jika sejauh ini semuanya telah rapuh.
Dan sikap kalian tetap wajar, biasa-biasa saja. Seperti aku dalam senyuman.

Love you 😘. All
Cepu 8-11-2018
Assalamualaikum warahmatullahi wabarokhatu. Jaga diri baik-baik dan jaga kesehatan kalian yak. Aku sayang kalian semua.




Aku Bunuh Kamu Munafikun
I KILL YOU HYPOCRITE
( Retno Rengganis )


Ingin kusembelih seribu urat di jantungmu
Dengan tangan hidayah cinta-Nya

Ingin kusayat-sayat
Lalu kucincang-cincang
Tiap hancurmu, mengalir darah kemunafikan
Berkata apa saat sujudmu di bumi ini?

Dengan syahadat-Nya, ketika aku bersaksi
Ingin kupanggil gelombang badai
Ingin kupanggil gemuruh petir
Menggelegar, menyambar ruhmu

Apa yang akan engkau teriakkan pada Sang Maha di Maha
Ketika kulihat kilas balik hidupmu
Penuh daya tipu angkara murka
Yang kau timang dengan rasa manja

Cepu 31-10-2018
Assalamualaikum warahmatullahi wabbarokhatuh.... hai all.... Sebelum malam tiba, baca satu baris surat Al Kahfi ( kita hafalkan ya ). Agar terhindar dari fitnah Dajjal yang sudah mulai menjerat kaki-kaki insan Bismillah.



TAWADUK

Air matanya berlinang
Membanjiri kata-kata untuk di tenggelamkan pada luka

Terisak menangis dalam teriak histeris
Teramat miris

Meletakkan mukanya yang pucat
Akan dosa-dosa
Pada bahu yang rapuh

Sama-sama jatuh
Meninggalkan peran dalam sandiwara zaman

"Jika kamu tidak menemui aku di surga, maka tolong tanyakan pada Allah tentang aku"

Cepu 23-11-2018.
Assalamualaikum warahmatullahi wabbarokhatu... semoga hari ini penuh barokah. Serta selalu dalam lindungan Allah. Aamiin yaa robbalallamin.



ANGKARA

Napas berat....
usap keringat keparat!
Kelam di bola matanya penuh dendam
angkara murka!
Perempuan berwajah pucat meraung membusung
Meneriakkan rasa kedada kacung

Mengapa rahimnya meronta histeris
saat menenggak cairan dari moncong kendil

Itu karena...
Tanpa ada keadilan, saat senjata laknat menancap?
Akhirnya...
Menguraikan sesal derai, meneteskan perih
Suara bayi tak bermata menggigir di padang api
Hai!
Mengapa aku ada...?
Di sini hitam, kusam....
Panas.... Bara!

Cepu 31-8-2018
RETNO RENGGANIS



YAKIN


Rindu pada denyut nadi biarlah terus mengalir
Walau kupendam hasrat dengan derai air mata
Biarlah secarik perih di ladang gersang
Tetap sabar tanamkan benih keyakinan

Mungkin waktu belum berpihak
Namun terus kuuntai doa-doa
Pagi, siang dan malam
Pada-Mu.

Cepu 28-8-2018
RETNO RENGGANIS



CERITA_KHAYALKU 
MELARUNG ASA TENGGELAM RASA MATI DI ATAS TITIAN CERITA

Satu-satu langkah kaki ini kupaksakan berjalan di atas titian waktu
Segudang cerita kukemas dalam diariku
Dan kini tiba di akhir catatan

Lelah yang teramat payah membuat sendi tubuhku makin rapuh
Daya ini kian terjerembab pada ceruk luka teramat dalam
Aku tenggelam pada lorong sunyi entah
Sendiri bermain ayun pada imajinasi khayalku

Seperti tak perduli lagi akan hiruk pikuknya alam, yang kau miliki
Kusingkirkan
Kupaksakan
Kutenggelamkan
Kumatikan
Dari masaku

Biarlah kumulai kisah....
Sekian tahun perjalanan hidup ini cukuplah sudah kumengerti
Dari tumbuhnya kembang bakung di pinggir kali rerungkut pohon bambu rumah tua huniku
Asyikku menikmati sunyi, mendengarkan derit laguan seruling Sulaiman yang identik dengan dongeng pohon berumpun
Sungai bening gemericikkan kerikil yang bercumbu dengan arus
Sungguh masa bergelut dengan pikiranku menjelajah dunia antah, alam dongeng milikku
Ini kisah ceritaku, di mana dulu-dulu saat pertama mengenal sang kasat
Awal pesta berkolusi, beradaptasi, membiarkan nurani dan jiwaku tenggelam menuntunku memimpin negeri dongeng
Mereka laun membutakan mataku memabukkanku, mengajakku berdansa pada pilar-pilar istana beraltar permata
Aku sebagai ratu pada imagiku

Keasyikanku semakin tenggelam pada rumah khayal
Yang berbenteng mantra kapur sirih sedap melati
Aromanya tertiupkan pada ubun-ubunku, merasuk sukmaku
Dan rasanya aku mampu menelan pahit getirnya getah darah keturunan

"Nenek ... ini bukan karmakah?" tanyaku
"Cucuku ... leluhurmu adalah darahmu, yang harus kau terima dalam satu wadah raga ... usah takut, sebab adanya itu, adalah ruhmu sendiri."
kata Nenek di sela percakapan malam yang dingin

Waktu runtun berdetak menit ke menit menggeser malam mencolek fajar, mencabik siang, mencumbu senja jumpa malam lagi terus begitu seiring jalannya kehidupan

Dari episode kisah ini, ada sesal mencekik
Semakin jauhnya aku dari potongan-potongan darah sekandung ragaku
Aku terbutakan
Aku tertulikan
Dan kini seperti sendiri

Pantaskah aku meraung histeris meneriakkan ketidakadilan?
Sementara mereka saat ini, asyik bermain petak umpet di labirin cinta di taman flamboyan
Sedangkan tubuhku saat ini bagaikan bergelantung di atas pohon langit
Terhimpit gelembung awan hitam

Mataku meneteskan rintik hujan darah, tanganku gemeretak menggapai-gapai bagaikan ranting-ranting patah, tetap saja mereka tiada perduli
Seperti terbutakan
Seperti tertulikan
Sebab kini kita, aku dan saudaraku, seperti sudah beda dimensi imaji.

Cepu 3-9-2018
RETNO RENGGANIS.



SEKEDAR WAYANG MEMAINKAN PERAN

Langit kelam,
awan mencekik matahari
Rintih tangis biru
Butiran debu tak lagi angkuh
Mengejar angin
yang membawa dupa kesombongan
Tanpa gerak dan kedip mata
Diam seribu kata dalam problema
Seperti wayang menjalankan peran.

Cepu 11-9-2018
RETNO RENGGANIS.



KUPELUK BUAH CINTAKU

Jangan menjauh anakku,
dekatlah di sisi ibu
Biar kukecup keningmu
Biar kupeluk tubuhmu
Biar kuusap air matamu

Tidurlah di pangkuan ini
Akan ibu ceritakan tentang negeri pelangi
Ikuti jemari ibu anakku
Saat memainkan biji Genitri yang kutasbihkan
Melafat asma Allah

Lihat sayang
Tiap asma-Nya ada aura warna warni
Seindah pelangi

Pandanglah anakku
Negeri indah pelangi surga
Semakin dekat
Semakin dekat

Pintu-pintunya telah terbuka
Sebentar lagi kita kesana
Berdua saja

Sementara adik
Biarlah menyelesaikan tugasnya
Mengarungi lautan kisah
Bersama bahteranya.

Cepu 10-9-2018
RETNO RENGGANIS



TUAN KUNIKMATI BAIT PUISIMU
Karya : RETNO RENGGANIS


Tuan....
Biar kucium wangi surbanmu
Sebab aromanya seharum kasturi
Tak bisa hati ini mengingkari
Di matamu ada Tuhan yang memancarkan cahaya nur Illahi
Di tubuhmu ada kemuliaan pembungkus kehidupan

Tuan....
Bait-bait ucapmu lantunan ayat-ayat Qurani
Yang berguguran bagai bintang-bintang
Dengan kerlip asma ul husna

Tuan....
Kini tak kuingkari jalanmu kuikuti
Kunyalangkan mata nyalar
Sebab nyawa nyata dimiliki-Nya
Dan risalah ini seperti hujan yang merintik dalam tandusku
Bagaikan puisi indah merindu Sang Maha Puisi.

Cepu 21-9-2018.



AKU PENYAIR GILA YANG MERAJA-RELA
Karya : RETNO RENGGANIS.


Aku belajar menulis puisi dari congor diktator
lepas bicara ngocor tak terkontrol
Dari perutnya buncit kelakuan anjrit
Teriak-teriak melengking seperti an.... jing
Mungkin karena penguasa yang konglomerat
Jadinya hobi menindas kaum melarat

Juling mata-mata mbeling
Koruptor kerja-kerja kantor
Provokator sikat sini, sikat sana di olor-olor
Dasar para-para maling
Pengkianat bangsa yang suka nuding-nuding

Aku belajar menulis puisi dari para gali
Karena mereka banyak ide dan imagi
Walau sambil menenggak wiski menari birahi
Melukis pesona mucikari
yang kerjanya hanya ongkang-ongkang kaki
memeras mesin para pencetak orok
lalu menggorok
ini salah satu tendangan menohok
para gali pikiran brilyan walaupun mabok

Aku belajar menulis puisi dari sebuah dunia bubrah
Kucipta kosa menjadi kata, dari orang-orang susah sampai bromocorah
Biarpun banyak fitnah tetap gagah
Dan aku terus melangkah dengan bekal bismillah

Dari belajar, kini aku menjadi penyair gila
Ciptaan dari wanita-wanita cinderela
Mengorek arti pancasila, untuk apa sebagai lambang negara, jika rakyatnya pada fakir norma-norma
Dan akhirnya aku tetap bicara, menulis berjuta-juta kata
Menceritakan segala elemen kehidupan nyata.

CEPU 20-9-2018
Salam, jumpa lagi sama Retno Rengganis yang hitam manis.
Mungkin kalian merasa lucu ya dengan postinganku kali ini.... Tidak mengurangi rasa hormat, ini semua cuma sebuah catatan, tidak ada unsur apapun, kecuali mengajak kalian semua untuk mencintai sastra dan negara. Met fitas all, love you forever. Maaf baru bisa jumpa kalian lagi.




JANGAN SEPERTI BUIH

Bagai buih di atas air
Ketika sepoi tiupkan semilir
Napas mentari membakar
buih putih akan hilang entah

Air tetap tenang sembahyang
Lantunkan lagu rindu penetap liuk cinta

Pada hempasan-hempasan waktu
Tiada berbapak jua ibu

Tahukah kamu...
Di antara indahnya buih putih yang mati
Seperti catatan hidup sekedar mimpi
Keabadian tiada termiliki
Lenyap entah
Kesenangan sementara

Yang berguna tetaplah menetap
Sebab itu garis ketetapan ditetapkan-Nya

Jangan kataku!
Usah pengejaran yang akan lenyap engkau cari bermandi getih perih
Lalaikan tugas membangun jiwa
Sebab buih sekedar buih lenyap tanpa sulih

Menggelembuh mbambung
Membumbung hilang disela hidung

Cepu 26-7-2018
RETNO RENGGANIS.



Indahnya Curuk kedinding dan cagar alamnya.
PANORAMA KEDINDING

Nuansa yang indah idaman para pecinta kedamaian hati. Dari titik Selatan Kabupaten Blora, sebelah barat kota Cepu, tepatnya Kec Kedungtuban ada obyek pariwisata yang belum di jamah tangan-tangan seni. Desa Kedinding tepatnya wadah dari pesona yang masih perawan.

Adanya kawasan hutan jati yang identik dengan Kabupaten Blora, kini aku ajak singgah kalian, mengintip pesona di balik keangkuhan pegunungan Kedinding. Di samping panorama terpendam, ada pula mitos serta tempat-tempat sejarah yang berhubungan dengan penguasa kerajaan Jipang Panolan.

Aryo Penangsang tidak asing lagi bagi kita, pegunungan Kedinding pula menyimpan banyak misteri, sebuah cungkup makam di atas bukit, adalah makam kuda jantan serta cantrik pangeran Aryo Penangsang.

Lain itu kita juga terbetik satu sajian klenik acara sesaji pada sang Hiyang Widi yang senantiasa di lakukan pada ritual tahunan, yang di beri nama sedekah bumi ( manganan)
Mengapa hal ini selalu dilakukan oleh masyarakat setempat, lain tidaknya hanya rasa syukur terhadap lelakon kehidupan.

Senja merah masih saja pancarkan senyumnya yang saga. Aku kembali menyusuri jalan setapak berbatu, keanggunan desa ini membawa semakin ingin menguak tabir.. Kujumpai sahabatku masa sekolah Bapak Sumarji yang saat ini menjabat sebagai kepala desa di Kedinding tepatnya masuk wilayah desa Ngraho. Beliau betapa arifnya menyambut kedatanganku, tak segan - segannya menjawab semua pertanyaanku, bukan hanya tentang mitos dan sejarah namun juga masalah keinginan beliau menciptakan desa kecil itu menjadi sebuah obyek wisata yang penuh keindahan. Sedikit demi sedikit di buatlah taman selfi demi rakyatnya yang butuh hiburan refresing.

Semakin salut diriku padanya, dengan kegigihannya, beliau tetap terus melangkah, pemprof mungkin telah tau, tetapi tindak lanjut keinginan belumlah terwujud, semua karena dana. Ya dana yang dibutuhkan tidaklah sedikit, kita musti sabar walau hati tetap tegar dalam upaya bagaimana segalanya lancar.
Beliau juga bilang kepada saya, tidak mengabaikan kemungkinan-kemungkinan, seandainya ada donatur yang ingin membangun, dengan tangan terbuka sangatlah dipersilahkan. Sebab apa, andai bukan karena saling bahu membahu, sebuah karya tidaklah akan terwujud. Semoga impian bapak Lurah yang juga sahabatku terwujud.

Kedungtuban harus berbenah, jangan sampai tertinggal. Kita punya lahan, kita punya alam hanya perlu polesan demi kedamaian.

Salam santun dari bapak lurah Sumarji dan segenap masyarakat desa Ngraho, dukuh Kedinding pada khususnya. Sukses selalu.

Cepu 5-8-2018.
RETNO RENGGANIS .



AURORA

langit itu indah
melukiskan larik-larik warna
seperti negeri dongeng

angin surya
mencumbu Dewi Fajar Senja
rona merah pipinya
begitu kentara

aku terpesona akanmu
di antara pantulan sinar yang membentuk lengkung pada titik ke titik
satu sama lain terhubung
tanpa adanya koma

interaksi medan magnetik mencumbu partikel
dari sebentuk hangat dekapan sang surya
membawaku pada khayal tingkat dewa
menarikan daya pikir menjangkau ruang
dalam berjuta tanya
tanpa jawab.

Cepu 11-8-2018.
RETNO RENGGANIS.

Assalamualaikum warohmatullohi wabarokhatu... Pagi all...semoga hari ini
kita semua senantiasa dalam lindungan Allah, serta berkah yang melimpah. Aamiin yaa robbalalamin.
Cover : Me & Dik Iin Muhidin... Akting fotogenik yang indah.. Hasil jepretan ROMY SASTRA.



Terinspirasi puisi Iin Muhidin
PENYAIR GELADIR

Geladir itu pandir
Mencium aroma lalu jungkir-jungkir

Biarlah cemooh hadir dia tetap bergaya tajir
Abaikan cerecah dari berbagai cibir
Tetap Geladir mangkat di panggung-panggung jubir

Sebab geladir
Adalah orang-orang setengah kentir

Syair geladir
Ratapan orang-orang pinggir
Membawa takbir agar tak di usir

Tetapi geladir
Tetaplah geladir penyair
Akhirnya mati terbawa takdir

Catatan kaki :
Geladir : lendir atau kotoran.
Cepu 16-8-2018
RETNO RENGGANIS.



BILIK KECIL SANG MAESTRO SOESILO ANANTA TOER

Kubuka jendela sedikit memicingkan mata mengintipmu wahai penyair idola
Runtun bening seperti jatuh pada kertas usang
Tetesnya seakan menimbulkan retak dan lusuh
Kucel ragamu dari balutan lukisan daun jati, yang identik dari pinggiran alas Blora
Memelintir kisah kemarin mangkir tanpa buah bibir

Kini ketika wajah-wajah sang Maestro mewarnai kaca media televisi
Sederet pengagummu berbaris menangisi
Siapa engkau dan mengapa engkau
Wahai TOER dari penggalan kata bahasa jawa " Tansah Ora Enak Rasane" celoteh canda jenaka adik PRAMOEDYA ANANTA TOER, memakai kata dari penggalan nama TOER.

yaaa....
Engkaulah sang Maestro tak di kenal SOESILO ANANTA TOER
laki-laki nerimo dalam iklas pada kesederhanaannnya
Walau perjalanan hidupnya terseok, adakah ketidak adilan pada nasibnya?
" Tidak" jawabnya
" sebab semua pekerjaan itu mulia, walau aku sebagai pemulung, namun hasilnya mempunyai nilai lebih jika kita bisa menikmati keikhlasan, nilai harta yang kuterima berapapun itu cukup yang penting tidak mengemis" 😭
Oohh.... bapak Soesilo Ananta Toer yang tidak pernah mengeluh dan rapuh
Semangatnya menjadikan inspirasi,

Senja semakin membuka tabir, yang tidak jauh beda dengan PRAMUDYA ANANTA TOER...
SOESILO ANANTA TOER seorang doktor di bidang politik dan ekonomi lulusan Uni soviet
Tetapi ijazahnya tidak pernah di akui oleh negara, tanpa dendam, hanya menyalahkan diri pribadi.
Jeruji besi pula pernah menenggelamkan dari kebebasan hak, hanya karena sebentuk alasan sepele tidak dapat menghadiri acara doa bersama enam jenderal di kedutaan Rusia, sehingga di cap sebagai pro orde lama.

Maestro yang dulu bergelimang harta selama 11 tahun bekerja di Rusia, kini bagaikan kerontang di negeri sendiri, mengais sampah, membuang sepah
Satu-satu jalannya terus tetap di tuju, pada akhir yang entah itu 
Semangat ayah
Semangat!

Cepu 11-7-2018
RETNO RENGGANIS.



PAGI JELANG ILALANG JALANG


tetes embun jatuh satu-satu
ciptakan irama melodi syair bisu
penari ilalang makin jalang
menenggak bening dari pucuk daun goyang
gemulai runtun anggun berduyun-duyun

gila!
semakin mabuk kepayang akal hilang
teriak meronta-ronta hangat mentari menggoda
geliat cumbu makin erotis saja

semyum terukir di sudut bibir bukan cibir
indah sungguh indah pagi tanpa gerah
semua pecah

tangan-tangan alam serentak melambai-lambai
menghardik permainan segeralah usai
jelang ilalang pucat pasi mosak masai
lepas lelah pasrah.

Cepu 5-7-2018
RETNO RENGGANIS



KAU LELAKI KARISMATIK KEKASIHKU

engkau melukis senja dengan warna rindu yang saga
pada dadamu yang bidang penuh tembang kenangan bersamaku
dalam tiap gelora lewat bisikan desir angin laut, engkau sketsa wajah kita di dinding cakrawala
dengan bertahtakan manik-manik kasih berhias pelangi rindu

pada sunyi demi nama janji, berharap semua tidak hanya mimpi
sekuntum cinta sempat layu, kini mekar kembali dalam warna yang berbeda
semakin harum wangi nan indah
terpupuk dalam palung jiwa

kembali pada jingga memerah tembaga
terukir rupawannya kisah kasih, saat kau memandang laut lepas
tak puas tak luput dari ingatan sebuah cerita

engkau selalu ada di hatiku, pula aku selalu ada di hatimu
pada riak samudera yang berguguran, adalah
bening kasih kita yang merintik seumpama tirai pengantin
melambai lambai, meliuk gemulai menuju ke muara tanjung harapan
negeri impian, di bukit cinta saling genggam jemari
saling tetap setia mengi'tikafkan doa-doa.

kau...
tetap memandang samudera, dengan tenang dalam karisma yang tetap aku kagumi

Cepu 1-7-2018
RETNO RENGGANIS.



KARENA ALLOH DERITA ITU INDAH


Aku berdiri di antara jarum-jarum duri
Racunnya semakin merapuhkan raga
Nyawa terhimpit sesak meraja
Kantuk yang perih biarlah rebah saja

Bau alkohol menyengat rasa
Suntikan-suntikan, luka-luka nganga
Dada-dada terasa pecah tanpa benci
Walau iklas yang pasi biarpun terkuliti
Kubiarkan tangis mengaliri raga

Alloh memberi daya dari percik-percik cahaya
Hangat menyelimuti menjelma kasih abadi
Tanpa menunggu kamu-kamu menggendongku
Lalu meletakkannya di atas bongkahan senyum palsu

Biarlah Alloh menjagaku dalam pelukan doa-doa
Yang tak henti getarkan langit
Hingga sedak sesak lepas
Dan menjeritlah aku dalam kepuasan
Sampai air mataku kembali tumpah
Seperti anak-anak sungai melarungkan resah
Begitu indah.

Cepu 29-6-2018
RETNO RENGGANIS.



OH MATAKU PEJAMLAH


pejamlah mata, pejamlah
ada negeri dongeng
menanti jiwamu hadir

pejamlah mata, pejamlah
biarkan bibir bersenandung zikir
meninabobokkan ruh yang fakir
lepas beban, lepas persoalan terpikir
lihatlah, ragaku bagaikan mayat tercibir
lelah, sayah hingga jelang pagi kan hadir

Bismillah tidur!

Cepu 24-6-2018
RETNO RENGGANIS.



HILANG DI NEGERI DONGENG


tertawan di negeri akar
terjerembap di atas tumpukan daun-daun gugur
terhimpit ranting patah
kuyup oleh hujan

pada saat seperti itu
kebingungan semakin meraja,
bagaimana mengingatmu

bayangan sendiri menjelma malaikat
mengintip di sela akar dan ranting
diam menatap penuh ambisi
seperti pemeran mati

tak ada pelukan lebih erat dari doa-doa
pelukan akhir daun-daun gugur
lorong sepi jadi saksi
tak terdeteksi

Cepu 16-7-2018
RETNO RENGGANIS.



TERSAPU OMBAK SENJA


kutulis namamu di atas pasir tepi pesisir
saat riak menyapu mencumbu
tiba-tiba aku menggigil

ombak telah merebutmu dari jemari lentikku
membawa bait-bait cinta ke tengah samudera
termangu diam membisu, runtun bulir jatuh satu-satu

padamu senja kini menjadi kelabu abu-abu
dalam hening yang pening
lelakiku telah berada di ujung cakrawala

ada yang robek saat temaram menjadi gelap
seperti malam tandus tanpa kunang-kunang
gelombang diam menunggu kaki-kaki melangkah pulang

di tepi pantai itu kehilangan namamu
hingga batas tak tentu.

Cepu 8-6-2018
RETNO RENGGANIS



CIBIRAN


Lukisanmu begitu indah
Namun sayang....
Sedikitpun tak ada harganya di mataku

Sebab warna yang kau sapukan pada lembar kanvas
Seperti warna mesum birahimu

Koleksi bibir bergincu
Membuat dada bidangmu sombong
Hatimu pualam
Geloramu api kemunafikan

Cepu 6-6-2018
RETNO RENGGANIS.
Puisi adalah catatan kehidupan. Tak ada unsur menghina siapapun.. Setiap catatan pastinya instropeksi diri oke all.



AKU TELAH MATI DI MATAMU

aku telah mati di matamu
aku tersedak, bahkan tak bisa mengucapkan resah

sayup kudengar suaramu makin menjauh
aku semakin terjerembap

pada saat seperti itu aku sadar
kau bukan apa-apaku

kulihat kelebat bayangmu lagi di beranda
diam, tak menatap, tak memeluk

ya....
aku benar-benar telah mati
di hatimu
di matamu.

Cepu 2-6-2018
RETNO RENGGANIS



PELANGI DI ANTARA SENJA MATAHARI


Warna pelangi itu kamu
Di antara senja yang gerimis paling liris

Pada luka dan derita, di punggungmu terbebani anak surga
Yang jatuh dari ketiak ibu, tanpa susu dan layu

Dari waktu ke waktu
Bunga matahari pancarkan eloknya
Menyinari senyum bunga bakung di pinggir lorong
Dan.... dari kejauhan anak manja bergelayut di lengan papa
Tanpa rundung tetapi sebalik malah bahagia

Tole yang berlari-lari tanpa tahu nyeri telapak kaki
Dalam dekap erat, hangat sang ayah ridho Illahi Robbi

Pelangi, senja dan matahari
Mengiringi ceritamu dalam kisah seribu masalah
Tiadanya rembulan tetap inginkan, dikelilingi bintang - bintang.

Cepu 25-5-2018
RETNO RENGGANIS



TAK AKAN LAGI KE KOTAMU

aku menikmati banyak purnama indah, namun kali ini terasa pecah
waktu seakan membungkam kisah di kota itu
meski hati riuh menyebut doa-doa
tak akan mungkin lagi aku singgah

hanya sisa-sisa arang dari bara tungku yang tadinya membara
seolah dipaksakan dingin untuk melupakan kenangan manis menjadi hitam

ini bukan kehendak tarian jemari
seperti angin mempermainkan pelangi
meliuk memburu keangkuhan jiwa
pertikaian dalam tubuh menjadi peperangan
aku benci dan tak akan kembali ke kotamu

semakin berlari meninggalkan masa yang ungu
seperti hujan pada bait-bait rintik awan retak
dan tirai kabut biarlah menutup semua,
tentang kamu, tentang kotamu tentang yang pernah ada
kali terakhir kuucap lagi kekata " aku tak akan singgah lagi di kotamu "

Cepu 16-6-2018
RETNO RENGGANIS.
RETNO RENGGANIS


Kumpulan Puisi Ayu Ashari - MENGASAH ASA


MENGASAH ASA
Oleh Ayu Ashari


Aku pernah tercabik mimpi
Terbakar purnama
Tenggelam di dingin malam
Pun
Terhanyut di peraduan
Bersembunyi di balik kelambu debu

Tapi aku tetap bangkit dan berdiri
Membungkus benci
Memeti matikan dendam
Dan
Masih mengasah asa

Medan, 0305019



SYAIR RINDU
Oleh Ayu Ashari


Kutulis seribu puisi
di arus dingin
lalu kukirim nanti
buatmu
agar menjadi kepakan rindu
saat engkau membacanya

Ku harap kau tetap menjaganya
Sebagai pusaka kenangan
Ketika aku telah berpulang
Bahwa aku
pernah mengisi waktu sepi mu

Medan, 0305019



INGIN
Oleh Ayu Ashari


Kulihat Bintang-bintang
berpencaran
awan berlekukan di dekatnya
dan semua itu adalah musim semi
sejak awal perhitunganku
untuk masuk ke dalam hatim

Medan, 0205019



DECAK RAJAWALI
Oleh Ayu Ashari


Decak rajawali,
meronceh kagum keangkuhan diri,
melesat mengembara telusuri angkasa
menembus panas surya
menghalau hembusan angin menerjang badai

Engkau terdiam terkisima
lintasan menjelma bayangan memburam
mencabik cabik rerona kegelapan
Tanpa ampun megelepar di sudut kepekatan masa silam.

Entah apa yang di pertahankan
Sedang senja mulai meminang malam
Masih saja kau menimang patahan iman

Kembalilah wahai
Sebelum mata mu di paksa terpejam
Raga kaku tak dapat kau gerakkan

Medan, 0305019



DALAM PELUKAN OMBAK
Oleh Ayu Ashari


Kita adalah awan
yang melintas tak putus-putus
siang dan senja di atas kepala

Kita adalah
dua dari ombak-ombak riang
yang berkejaran di bawa angin
menuju pantai .
tak ada hujan di mata kita
saat beranda senja penuh wewangian
dan segalanya membuat kata-kata
lebih bermakna dari secuil gema batu
yang jatuh di atas sungai.

Pada bulan seungu mutiara,
angin bertiup begitu lembut,
bagimu lah aku datang,
bersma getaran yang panjang.

Maka seperti tergambar
pada langit yang membentang
aku mesti menjaganya
dari keluh kesah laut dan hempasan ombak
yang selalu datang berulang-ulang.

O, Tuhan akan kusimpan riuh beringas itu
dengan sesuatu yang lebih erat
meskipun ia begitu jauh
dari pelukan mimpiku saat ini.

Medan, 0105019



KEPAK MERPATI
Oleh Ayu Ashari


Ia datang tanpa membawa kata
terbakar di lubuk kepekaan
ingin rasanya aku terlelap di ladang bisu-Mu
dan kulumat semua yang ada
sambil bersendawa di awan senja sepiku kini diam
Mencecar dalam keheningan

Menelusuri lorong lorong kehampaan
Bertanya hingga kapan
Berbicara pada dinding batu
Memetta kan cinta di bait bait ketiadaan
Pun detik jam dan gemerisik daun menjadi sebuah ketakutan
tapi nalar menembus bisikan.

Bahwa caraka manggilingan terus bergerak beriring samsara, keadaan tak mungkin mematung.
Kesepian akan berangsur hengkang
Bersama hadirnya malam yang berhias gemintang.

Di bawah akramaya senja ku telusuri halaman yang senantiasa memberi kedamaian kala resah melanda jiwa dan mungkin saja akan menjadi sebuah kenangan ketika sepasang kepak merpati membawa aku pergi.

Medan, 0105019



SURAT
Oleh Ayu Ashari


Malam terbuka
jadi kenangan
suara menjelma
jadi rintik hujan
oh, dapatkah ku kirim surat
agar rinduku kepadamu
tak terkoyak karena sepi
semalaman

Medan, 0105019


----------------------------------------------


Warastra menembus jantung
Aku melihat bunga
Seribu harum
Waktu pun merayu.

Ayu Ashari 2904019
Selamat malam cinta untuk semua cinta




GERHANA
Oleh Ayu Ashari


Sehabis gerhana, bulan hamil
dengan benih kenangan yang menua dan aku yakin dalam tubuhku yang purnama
telah kau simpan kenangan yang tak pernah diam
meski bulan di atas laut tenggelam tak terbit lagi.

Setelah usai kita bertunai-tunas
kita lekuk bibir malam
agar debar jantung terus berulang
bersama sehimpun lagu merdu di telaga teduh.

Kita kian lekat terpaut
harum taman mawarku
harum taman anggurmu
tak bosa-bosan nya memberi dan menagih
mengajak dan beranjak pada siang dan malam
dan kita tahu bahwa (...)

Pengetahuan ini jadi penting,
sebab kersik pada karang, lumut pada lokan
mungkin akan tetap juga di sana apa pun maknanya
maka telanjanglah, rayulah awan, meskipun
pada suatu waktu sebuah sajak yang sentimentil
hanya ada dalam satu dalil :
biarkan akal yang angker itu mencibir!
lalu di bawa ombak ke tepi pantai.

Medan, 2904019



SUN FLOWER
Oleh Ayu Ashari


Musim demi musim menyeret langkah ku pada cadasnya belantara perdu, sepanjang perjalanan hanya berkisah tentang gugurnya kelopak kelopak bunga,
Meruang dalam catatan buku harian kusam.
Lalu semua menjadi karang.

Tita mengkristal di sudut netra, berubah menjadi butiran pasir yang memburamkan saujana.
Letih sudah atma menyibak semua prasangka.

"Kemari lah bisik-Nya. Berpulanglah pada jalan Ku, telah ku sediakan setangkai bunga berwarna kuning yang kerap menghadap terbitnya mentari. Dan di waktu yang tepat kan ku izinkan kau untuk memilikinya. Tapi bersabarlah."

Bumi berputar mengitari matahari, waktu berdetik menukik, siang berganti malam, perjalanan belum usai, ruh masih menyemat di tubuh,
Aku tetap bertahan dalam penantian di ujung senja, meski badai silih berganti berubah rupa.

Ketika lelah mulai merambah, ku jeda waktu, bersemedi dalam tafakur yang tak bertepi.
Saat kaji diri sampai di ujung sepi
Setangkai bunga membayang cahaya di mana hati berpijak.
Bunga berwana kuning yang senantiasa menatap mentari.
Ini lah luka yang selama ini telah aku dustakan
kini tersenyum seakan kebahagiaan sebesar gunung menanti di ujung liang
Memaksa mata urung mengerjap cahaya
Hingga buta menutup dunia

Kita belum sepenuhnya dewasa meski telah memasuki senja
Saling mempertahan kan ego, hingga gengsi berselimut kebodohan menutup logika, sedang hati enggan berpisah.
Bunga matahari yang kau tanam di sudut paling puisi
Menjadi saksi bisu saat kita di telan gelisah

Tuhan tidak pernah berpangku tangan, nawula bahagi mengutak atik cerita kita
Hanya sepenggal kisah yang takkan terjamah, saat senantiasa kita memegang teguh kesabaran,
Layaknya bunga matahari, yang selalu mekar pancarkan keindahan, di bawah paparan mentari.

Medan, 2804019



KEHADIRAN MU
Oleh Ayu Ashari


Daun daun berbinar kilau mentari
jangan tanya kemana awan pergi
karena angin telah merajutnya jadi rinai, di antara subuh menuju siang.

Dan rajawali memetik terik
untuk dijadikan aroma senja
bagi elang yang terbang di angkasa.

Hari yang berlalu memang berdebu
tapi bukan di hatiku
karena bintang telah menulis puisi
tentang sebuah kisah bagaimana Krisna memerangi Rahwana untuk meminang Shinta seperti di warahkan dalam kitap suci Brahmana, yang akhirnya berlabuh pada buaian kamasutra.

Seperti itulah kehadiranmu di dalam kehidupan ku, yang melukis senyum di bibir ku pun dendangkan lagu indah di setiap waktu dan aku menari di atas gelombangnya.

Medan, 2804019



RENJANA MERANGGAS
Oleh Ayu Ashari


Masih ku nikmati lukisan awan putih yang membentuk sayap sayap bidadari di langit biru,
Sebelum samira yang berkesiur menggiring gulungan mendung yang datang menggusur.

Sesaat kemudian hujan pun turun, tanpa kilat atau guntur, membasahi hamparan anggana di ujung senja yang hampir menua.

Aku melihat dara berteman kupu kupu berteduh berpayung daun. merengkuh lirih menghayati nyanyian elegi ilalang yang entah,

Ketika renjana meranggas
Pupus sudah asa
Ditelan ego sang kelana jumawa
Rangkaian jumana putus berserakan
menjadi batu.
Meski rindunya masih merentang di cahaya bathin yang mulai meremang.
Dan
Ianya kembali memamah kesunyian.

Medan, 2704019



PESAN SEBUAH PUSAKA
Oleh Ayu Ashari


Dia yang dilahirkan di bulan April pada sebuah kota,
di mana gedung-gedung berarsitektur oriental berjajar menjulang tinggi.

Pohon-pohon akasia menaungi jalanan berdebu pada saat musim panas.
sedang pada musim hujan jalan-jalan itu
penuh lumpur dan becek.
tampak di sana anak-anak bermain sama kurusnya,

“Lambang kesengsaraan.”

inilah sisa-sisa dari reruntuhan
yang belum juga terselesaikan
sedang ia sering sekali melihat
berbagai pertualangan cinta,
bahkan sampai merobohkan kata-kata nya :
“ Aku percaya, jika suatu saat nanti
tubuhku ini akan sirna, tetapi Republikku
hasil dari tubuh ini, akan tetap di kenang selama nya."

Medan, 2604019



RENUNGAN PERTIGA MALAM
Oleh Ayu Ashari


Hati mu sperti selembar daun yang terkapar di lantai di bawah tarian tarian angin sedang di bagian lain di tepi jendela, cahaya mengajak mu pulang kepada Nya.

Meskikah saat itu kau baru kembali ke dalam diri, sementara albab Nya belum kau ketuk sepenuhnya.
Berapa lama akan kau tahan sakit, sedang bisikan lembut selalu datang berganti untuk membimbing menuju perjalanan akhir mu.

Dan lihatlah jiwa jiwa yang mengambang dalam gelisah ketika waktunya tiba atma harus mengat-ruh melayang menuju sebuah tempat rahasia dan mungkin esok atau lusa ataupun beberapa detik lagi ia akan mendatangi kita tanpa memberi khabar.
"Maka bergegaslah !"

Medan, 2604019



SEPOTONG KANVAS DI BAWAH TEMPAT TIDURMU
(Sebuah Catatan)
Oleh Ayu Ashari


Dari sebuah jendela,
engkau memandang
pecahan matahari,
jatuh di atas daun-daun gugur.

sedang embun pagi
dengan nafasnya yang harum
selalu datang menyapa
walau ombak di matamu
sering kali datang tiba-tiba
untuk menenggelamkan satu kecupan
di atas sajadah yang kau bentang.

" inikah yang pertama kali kuingat,"
: gegas langkahmu,
di perjalanan yang kau pinjam
lewat kanvas dan bau cat,
selalu saja kau setubuhi,
walau garis-garis hujan
sesekali ingin melihat goresan senja
yang ada pada sepotong kanvas
di bawah tempat tidurmu.

Sepotong kanvas di bawah tempat tidurmu,
biarkan ia melukis dirinya sendiri
"yang bernama cinta, kasih tak sampai"
dari pada bergumul di dalamnya.

Medan, 0908019



MAU HUJAN KATAMU
Oleh Ayu Ashari


awan menanam gerimis
pada langit yang terbuka,
sedang angin, yang selalu rindu
enggan untuk menyunting cinta
pada tanah-tanah tandus yang menunggu

di bukit tanpa daun,
di laut tanpa perahu,
di hutan tanpa kicau
serta bau asmara ranting - ranting yang rebah
untuk meluluhkan segala hijau rindu
yang diam, karena matamu.

Ikhwalku menjadi tak tahu,
ketika semua lari dari kejaran mimpi
untuk kembali mengambil gerimis sedkit saja
yang tersisa dalam tempayan saat kau tinggalkan.

"Mau hujan katamu,"
pada awan yang selalu menggoda.
namun semua menjadi hampa
ketika rindu beranjak
membawa sedikit waktu lupa

Medan, 080519



LUKA GARAM
Oleh Ayu Ashari


Luka garam dalam tubuhmu,
segalanya menjadi sunyi.
sedang nyala api
seperti membakar ingatan persitiwa
yang kau aduk-aduk berulang
dalam analogi menanak nasi setiap hari.
: " tentu cerita ini tidak terjadi bukan,"
karena garam yang telah dimantrai
serupa butiran hujan telah jatuh
di ujung rerumputan.

Luka garam dalam tubuhmu
selalu membawa cemas
tentang gagak berwarna hitam malam,
tentang sesekali terdengar cericit burung,
menggoda layaknya dayang sumbi
dalam benakmu berjanji.

o, luka garam
dalam tubuhmu
sulit sekali kutafsir
dan akhirnya semua
menjadi sunyi, bukan.?

Medan,0805019



IZINKAN AKU
oleh Ayu Ashari


Langit
rona mu kembali ceria
Surya telah menyinari
Semoga embun yang engkau sublim
Tidak berubah rupa menjadi awan
Jangan lagi turunkan hujan
Membasahi bumi ku

Aku tak akan lagi kuasa
Menahan dingin yang membekukan atma
Atau mendengar guntur yang memekakkan telinga
Pun bias kilat membutakan mata

Cukup lah sudah ku nikmati lezatnya getir
Izinkan aku merepih badai dalam hangat pelukan mentari.
Bernyanyi dan menari bersama bayu
menghirup ribuan wewangian mawar di taman nirwana

Izinkan lengkung bibir ku tersenyum
Menyambut hari tanpa membawa dilema

Atau izinkan aku
Sebentar saja,
yaa sebentaaar saja
Merasa bahagia
jikapun bila esok aku harus tiada.
Melesap diantara bayang bayang yang entah kemana

Medan, 0305019



GARUDAKU
(I dedicate this poem to my son who is struggling in Cambodia)
Oleh Ayu Ashari

Garudaku
Pergilah ke negeri rantau ,
jangan kau bawa risau
apalagi hujan di matamu.
biarlah tiang serta temali
yang tertambat di perahu mu itu
berbalut cerita tentang ikan-ikan kecil,
kelok sungai, atau rimba hijau di tanah sendiri.

Pergilah ke negeri rantau
Bawalah setepak sirih negrimu agar tetap harum mewangi
Dan jagalah rindumu seperti butir - butir padi
yang kau tanam berbulan - bulan
bersama matahari, yang
selalu setia menjagamu.

Pergilan ke negeri rantau ,
di sini ibu, tumpahkan segala do'a
jangan jadikan hitam malammu
menjulur tergesa pada mimpi-mimpi
yang berulang kali datang
karena tebing curam
dan ombak ganas di depanmu.

Pergilah ke negeri rantau
Tebarkan seribu bunga sedap malam dikala malam,
seribu melati di pagi hari,
jangan selalu kau singkap kenangan lama
karena desamu yang tenang
telah diteduhi gunung yang rimbun
dari angin dan topan

Pergilah ke negeri rantau
Jika engkau pulang nanti,
aku akan bercerita
“tentang Melayu
yang selalu menunggu”
di padang rumput hijau.”

Medan, 0705019



PULANG LAH (2)
Oleh Ayu Ashari


Senja kian mendekati ujung
perlahan kau simak lagu rindu
Riuh bergemuruh di relung kalbu
Masihkah kau tolak gaung itu

Sudahlah tak perlu kau ikuti angkuh diri
Biarkan semua terurai tanpa kau munafiki
Tak harus lari, mengembara ke ujung bumi

Jika lara masih saja kau bawa, tidakkah semua akan sia sia?

Pulanglah ke kampung halaman
Sepasang mata tua ingin memandang wajahmu
Dan
Dua tetes darah mu menunggu peluk kan mu

Pulanglah
Istirahatlah sekejaaaap saja
Bukankah rusuk mu pun ada disini..?

Medan, 0705019
"Lebay"



TENTANG MU
Oleh Ayu Ashari


MALAM INI
Sebelum perjalanan kulanjutkan
sebaiknya sepi tak jauh dari ku
sebab segala yang ada di dalamnya
menggelayut kekal dalam rindu ku.
sungguh kau mata air keriangan puisi

air tak habis-habis mengalir dari ku
dan walau seluruh dunia karam dalam keruntuhan
kau selalu menjelajah seperti angin dan badai.

DUHAI
aku ingin mengenal-mu lebih jauh
yang mengorek terus ceruk jiwaku
kau pun akan kuberi nama selaras dengan dirimu
seperti janji takzim ku malam ini.

Medan, 0505019



DALAM PENANTIAN
Oleh Ayu Ashari


Malam sepi pekatnya kian membalut
Hujan mengguyur dan petir saling menyambut
Dingin ku merasa semakin dingin
Jantung berdetak kian mengeras
Selaksa takut ku pun mulai meranggas

Ah, entah lah, apa yang sesungguhnya ku takutkan
Sedang keyakinan kuat berpelukan
Bahwa hatimu juga sama dengan hatiku
Memendam rindu ingin bertemu

Ku sampaikan ini padamu
Agar kau mengerti
Aku akan tetap berdiri di depan pintu yang masih ku kunci
Menanti kehadiranmu disini
Dan akan ku buka hanya untuk mu.

Oh, bulan mengapa kau sembunyikan raut mu di balik awan
Tidakkah kau pahami
Gelisah ku mulai merambah ke palung hati yang paling puisi
Tidakkah kau sadari
Betapa sulitnya aku menjalani titian hari jika kau tak menampak kan diri.

Maka bulan
Tunjukkanlah wajah mu
Walau sekejap saja
Yaa, sekeeejaaap saja
Agar jiwa ku tenang
Hingga kau datang meminang.

Medan, 0405019



ANDAI SAJA
Oleh Ayu Ashari


Andai saja
Tuhan meminjamkan-ku sepasang sayap bidadari
Aku kan segera terbang menembus awan
Melintasi gugusan bintang bintang
Kan temui kekasih yang tengah berjuang

Agar rinduku dan rindunya segera menyatu
Dan
Kan kurawat dia dengan dua tangan lembut ku
Memberi nya sepercik air kesejukan penghangat malam malam yang membeku.

Medan, 0405019


DUKA MU DUKA KU JUGA
: Palestina
Oleh Ayu Ashari


Duka mu duka ku juga terendam air mata,
hanya ada prosesi jenazah kepemakaman beraroma mesiu di udara.

Entah sudah berapa lama Nazar datang untuk memetik matahari pagi, mencabik cabik bangkai di ujung sepi dan melebur malam dengan seribu cerita duka.

Tentang anak anak yang baru saja
menangis dari rahim ibu,
terpukau melihat lembah dan tanah
yang kelak akan menemaninya,
sedang yang lain tertawa
karena tangisan itu tak dapat dimengerti,

Di sudut lain ada anak yang menangisi jasad ibu bapaknya di pangkuan penuh darah,
anak anak yang mencari orang tua nya..atau anak anak yang menyandang senjata..kehilangan kaki atau tangan nya
semua hanya mengulum kecut
di antara bau keringat dan darah
yang melekat pada wajah.
Jutaan anak mereka meminta do'a
dari ibu yang menimangnya.

Sementara angin gurun jalur Gazza berulang-ulang untuk mengajak ziarah yang tertanam dalam bumi.

Palestina, masa lalu mu adalah langit berwarna abu,
masa lalu mu adalah bola mata pecah di atas batu,
masa lalu mu adalah ribuan peluru datang menyerbu
dan masa lalu mu adalah leluhur yang diam membisu.

Tak ada lagi sapa rama tawa riang, semua sembunyi dan berlari sambil membawa seikat sakit dan air mata, kemudian mengais sisi hati yang kini telah mati suri,
dan entah sampai kapan, peluru tak lagi menembus lantas hilang berganti cahaya purnama yang di pagari senyum dan cinta yang berpelangi.

Medan, 1105019



RINDU KU WANGI PANDAN
Oleh Ayu Ashari


Saat mata melepas pandang di langit langit kamar,
Tiba tiba awan berubah rupa menjadi bidadari yang menari-nari
melintasi bukit menyeberangi lautan
Menyambut hadir ku

Jeritan ayam jantan jadi tradisi pada
pagi yang datang tuk membasuh diri
tak ada dendam di dalam hati
Membentang sajadah yang lama terlipat rapih, di atas harum aku
tegak berdiri memberi salam pada Kekasih

Engkau ada dalam sajakku
memandang lepas
berselendang hijau wangi daun padan

Di sepertiga malam, aku disini.
merajut doa pada Mu
agar benih tahajjud dapat terbang
menghalau mimpi buruk yang abadi.

Engkau pelindung jejak gelombang
di darahku, diri-Mu mekar bagai wangi kembang kesturi
syair syair samawi-Mu ku lantun kan syahdu merayu
bagai nyanyian burung burung perindu yang terbawa angin sampai jauh, menyisir gelap hingga terang menjelang.

Aku rindu pada malam seribu bulan,
yang seolah masih enggan menyapa ku dalam belai ranting ranting merunduk tanpa hembusan angin.
Rasanya
Tak kuasa aku mengeja ribuan puisi nista di bahu kiri.
masihkah ada waktu tersisa untuk ku..?

Medan, 1205019



KEGELISAHAN
Oleh Ayu Ashari


Di ufuk barat langit mulai memerah jingga
Uir senja berderang di sela sela pohon anggur
Dan angin berkesiur di dedauanan menyongsong malam

Seekor bangau jantan ketakutan dengan bayang-bayang di tepi danau,
gerah berteriak di gulungan awan yang ia ciptakan,
Mengigau dalam mimpi belum tertidur.
Entah apa yang di risaukan tentang titian perjalanan yang telah berbulan di lalui

sementara, seekora tekukur yang di khawatirkan berada nun jauh di pinggir kebun menikmati pahitnya liur, dari sisa sisa hasrat yang terkurung dan malam malamnya pun jadi keruh mengasuh mimpi dalam sarang rapuh

Oh, telah kucoba memetik embun dalam hening kebun
agar ia ( bangau) selalu terjaga dalam kesejukan hijau daun
meskipun nanti saat menjelang fajar
akan terpecah dan jantung terbelah
karena cahaya yang meraung di senja yang memerah.

Medan, 1105019



SEPENGGAL SURAT DI BAWAH BANTAL
: usai kematiannya
Oleh Ayu Ashari


Malam bagai dedak kopi,
hitam mengental
tak seorang pun tahu,
berapa tahun usianya,
juga sudah berapa lama
luka yang ada singgah di tubuhnya.
ia tampak takut dan gelisah
duduk di sebuah bangku kayu
yang retak oleh kenangan dan waktu
lalu pergi karena direnggut ajal secara paksa.

Anak perempuan,
yang tak kutahu siapa namanya itu
selalu datang ke taman pinggir kota,
menghabiskan malam-malam purnama
dengan petikan dawai yang mengiringi nyanyian para sufi.
nafasnya hangat membuai seluruh persendian yang melihatnya
dia cantik di atas peraduan beralaskan doa,
dia pun sering menggigil kedinginan
di ambang fajar yang berkabut.

Angin menembus ketuaan warna tanah,
tangan hitam yang selalu datang
sering mencengkamnya
cambuk bagai petir pun tak dapat dia halau
saat dirinya sedang menjilati rahasia perjalanan,
Itukah kematian buatmu.?
Tidak,
Tuhan akan membawamu ke surga,
untuk menghiasi kebun kurma.
Ketika hari berangkat malam,
ingin kuhirup wangi keringatmu,
ingin kuminum pula air matamu
sebagai penawar sakit rinduku yang panjang.

bila tidak,
Tuhan telah memberikan cinta buatmu,
dan mencatat puluhan kali kau tersungkur karena bapakmu
yang selalu hitam tak kunjung pulang

Aku tertegun,
memegang batu nisan sambil membuka kenangan.
Dalam otakku: pernah ada sepasang kekasih,
sahabat, bocah kecil dan teman lama mati
terkubur di bawah bunga kamboja,
yang memberi warna pada payung hujan duka.
Dan sampai hari ini
sudah berapa banyak kematian
menghujam tanah setapak
yang selalu bergejolak.

Medan, 1105019



TRAGEDI PHALLUS
Oleh Ayu Ashari


gending serak cenderung parau,
di ujung lagu, melolong teriakan kering (abstrak),
lantas bersimpuhlah
lelaki di sudut belakang
dengan mata yang hampir saja
menyentuh aroma air, dan
alunan tembang yang liris.

seberkas cahaya,
menggeram dalam keheningan
menawar tubuh lelaki yang bergerak
sedang memainkan pengganti wajah
dalam genggamannya yang kasar,
wajah angkara yang nanar

dalam dongeng cahaya merah gelap
kepongohan yang rakus itu muncul
lantas masuk ke dalam cawan
ah, tragedi phallus yang rontok
Tergerus secawan anggur

Medan, 1005019



UJUNG MUSIM
(Edisi menunggu waktu BERBUKA)
Oleh Ayu Ashari

Sungai mengalir ke laut,
cahaya dan awan turun ke lembah
tapi di dalam dirinya,
sungai itu entah mengalir kemana
bahkan bungapun tidak mengetahuinya.

wahai engkau yang disembunyikan
dari ke dalaman sungai,
berhentilah sejenak,
berhentlah dari perburuan
untuk menyisihkan cinta
yang hilang sementara,
karena kepergian sang surya
telah meninggalkan negeri
lantas mengobrak-abrik denyut kota.

membongkar ladang buah
serta daun-daun gugur
di dekat mata air,
akhirnya cinta bagimu
adalah sebuah bejana dupa
di ujung musim ini.

Medan,1005019



SUARAKU DALAM PUISI
Oleh Ayu Ashari


Parau tenggelam dalam kabut,
bermil-mil di tengah ladang ilalang
bahasa hilang makna
sajak berdiam syair menangis
karena untaian takbir
menyingkir dari jendela.

Apa yang terjadi nanti?
benar-benar rencana Tuhan
rindu hilang di rengkuh badai
mata mengembara dalam terik terakhir

Ku tegur wajahku
bersama percikan air
dalam kitab suci
ku coba menebus kelalaian diri
Sebelum semua lekuk kemolekan rebah di dalam bungkusan lima lapis mori

Oh, bisakah kuselamatkan kini
suaraku parau dalam puisi,
di bawah langit lazuardi
Sementara senja di langitku semakin mengujung

Maka kelam malam ku sambut
dikesunyian aku bersujud
Mengeja elegi pada titi kayu rapuh
berkalang debu yang telah terlewati

Ah, masih banyakkah waktu
Menghapus debu satu demi satu..?
Hingga jika waktu ku tiba untuk berpulang tak ada lagi debu yang berkalang.
Dan
Bibirku tersenyum dalan tidur panjang.

Medan, 2905019



RISALAH CINTA

(For my lover)
Oleh AYU ASHARI

Aku mengenalnya sebagai seekor singa yang lembut
Yang tergesa gesa mengaum tat kala aku di selimuti kabut
Ketika malam tiba ku temui dia sedang membaca syair syair
Di matanya terlihat seberkas cahaya
menembus hatinya
"Apakah itu ruh suci telah masuk ke dalam jiwanya?"
Atau dia sedang menafsir
Sebuah syair yang tengah di tulisnya

Pikirannya seperti ladang yang
Belum di tumbuhi ilalang
Tanahnya kerontang tak tersentuh hujan
Dua kabisat di lalui pada pergulatan meredam amarah akan sebuah pengkhianatan
Kespian dilarungnya dalam tangis yang acap kali tak terkendali
Ah
Aku melihat lukanya sama persis dengan luka ku

Aku ingin menghabiskan titimangsa meniti asa bersamanya
Sebab dialah seorang sejati yang telah memeluk ku
mengukuhkan cintanya padaku

Ya, sebuah keagungan cinta yang menjadi altar suci
telah dia kirim pada ku
Lewat gerbang gunung kasih
Gerbang, di mana akan aku jalani

Dan kerap menjelang senja dia datang kerumah
Menebar seribu wangi bunga ke seluruh ruang di jiwa yang ia eja lewat syair syair indah
Untuk meniti cakra malam bersama hembusan angin yang meminang embun
Lalu menghangat kan tubuh dengan sepercik api unggun

Dialah kekasih yang kini bertahta di hati ku,
Pun aku siap menjadi ratu
di cinta nya kutemui ketulusan tanpa syarat
Maka ku munajat kan cinta yang telah ia risalahkan
Hari ini, esok dan nanti

Medan, 2605019



MENUNGGU LAILATUL QODAR
Oleh Ayu Ashari


Aku datang pada-Mu malam ini memenuhi panggilan-Mu ya Allah dari segala kekeruhan jiwa
dari seberang benua
yang mengantarku menuju rumah-Mu.

Dalam tangisan doa haruku
menetes air mata penyesalan
ingin lebih lama bersimpuh
karena kurasa aku kain rapuh di depan-Mu.

Kupanjat harapan taubat pada-Mu
hingga mengekal istigfar di jantungku berzikir,
bertasbih dan bertalbiyah

sungguh tenang sepenuh hati.
Ya Allah, perkenankanlah hambamu
tinggal sejenak di rumah-mu
sambil ku tunggu Lailatul Qodar malam ini.

Medan, 2305019



KETIKA CINTA TELAH BERLABUH
Oleh Ayu Ashari


matamu,
samudra luas tak terkira
memukul-mukul jantungku
bawa aku segera mengembara ke kebun anggurmu,
biar kurasakan, alangkah
manisnya bulan madu
tanpa lebih dulu untuk berlayar
ke negeri yang jauh

Telah ku pilih kebaya putih bertabur untaian manikam untuk ku kenakan di perhelatan nanti,
Agar cahayanya berpendaran di wajah ku yang memerah jambu
Ronceh melati akan meninggalkan harum tat kala rambutku kau gerai di bidang dadamu

Ketika malam kau persembahkan puisi pada pelayaran menembus kabut menuju pantai
" dan dari dulu pun kau tahu"
jika gumam ombak selalu datang
ketika ikan-ikan menari
di sekitar rerempahan batu karang.

Lalu
ku biarkan kau cari
ku biarkan kau curi
sekuntum mawar
dari halaman
bola mataku
Sebab cintaku telah berlabuh di dermagamu
Dan
jikapun musim berganti ku pastikan cinta kita akan tetap bersatu.

Medan, 2205019



SELEMBAR DAUN SIRIH DI ATAS MEJA
Oleh Ayu Ashari


Selembar daun sirih
tergeletak di meja makan
menyapa usia renta
yang selalu memandang jauh keluar jendela
pagi itu memang masih muda
namun tangan yang berpeta itu
telah sujud lebih dulu
bersama kokok ayam
dan kicau burung yang hinggap
di dahan jambu

selembar daun sirih
tergeletak di meja makan
memandangi jamuan pagi
seonggok jagung dan kopi hangat
datang dari sijantung hati.

selembar daun sirih
tergeletak di meja makan
" tunggulah,
aku akan melahapmu
walau mulutku telah lelah kubuka
namun doamu,
yang selalu menjagaku sepanjang hari
akan kusimpan dalam hati
sebab,
engkaulah yang selalu ada
ketika aku rindu ibu
dan meneteskan air mata.

Selbar daun sirih di meja makan mengingatkan ku pada kelopak mata sayu yang selalu mengawasi ku
Dengan pandangan sendu mengarahkan ku

Selembar daun sirih di meja makan
Adalah warisan kasih sayang dari ibu yang kini telah berpulang
Diatas makam ku tabur kembang
Beriring doa yang kerap kupanjatkan

Medan, 2105019



BAYANG SEMU DI SHAF BELAKANG
Oleh Ayu Ashari


Sekeranjang jeruk berlompatan
mengejar angan - angan
di balik perasaan cinta tanpa rasa
Memamah wanita senja pelepas dahaga kesepian, berbanjir peluh berbalas angka.

Sementara rama rama remaja
gentayangan ke kotak parfum dan berburu etalase branded
merogoh kocek untuk melihat dirinya
di kaca spion mobil.

Saat matahari senja
turun dari tangga gedung dewan
mereka bergumul bersama sama remaja yang lupa kaidah.

Dan
ketika azan dari jendela masjid
memerciki wajah dengan air mawar,
yang sholat hanya bayang-bayang semu
diantara shaf paling belakang.

Sedang mereka sibuk bergelut melepas Ikhwal entah apa
Berawal tanpa berujung
Hanya demi kertas merah bergambar pahlawan yang berharga atau konak sesaat permainan dunia

Aku sedih melihat kenyataan tapi juga tak bisa apa apa
Lalu seperti apa aku sebagai seorang hamba, yang hanya mampu mengelus dada?

Medan, 2005019



I LOVE YOU
Oleh Ayu Ashari


"engkau duduk di bangku
di samping jendela
sunyi ikut menebarkan
angin ke wajahmu,
walau sesekali seruan jantung
ikut melantunkan isakan
untuk sebiji cinta
yang memenuhi rongga dada.

sedang di sekelingmu
terpesona oleh kecantikan wajahmu
yang dilurupi merah jambu
dan kicau burung di taman bunga
malam yang memabukkan,
telah menggugurkan musim semi.

sedang tujuh air sungai
enggan memercikan airnya
pada wajah yang penuh ragu. mari kita kubur malammu,
walau seribu mata selalu saja merayu
untuk melucuti puisimu"

Kau syairkan rasamu untuk ku
Bersama denyut cinta kita yang telah menyatu.
Kan ku buang jauh ragu ku
Menapaki bara asmaramu yang berbinar menerangi gelap nya jalanku
Kau api yang menggelora di setiap hentakan nafas ku
Melesaplah ke dalam ruh ku.

"Aku cinta kamu"

Medan,1905019



SAJAK PERAHU
(Menemui subuh)
Oleh Ayu Ashari

Tuhan, Aku mohon
jangan Kau gugur kan
selembar daun pun
di halaman,
karena musim kering
belum tiba.
dan kelak daun-daun itu,
akan aku anyam
jadi sebuah perahu
untuk berlayar
menuju pulau
yang kurasa lebih baik
dari sejarah, namun
begitu dekat dengan sejuk
dari hujan sunyi
yang turun semalaman.

Mrdan, 1905019



MANUSIA BODOH
Oleh Ayu Ashari


Ku lihat nabastala muram meski tak bermega
Tiada rembulan pun bintang yang berpenderan
Sepi menghiasi sisi rumah ku, halaman yang luas terasa sempit menghimpit

Sejuta onak yang bersarang di dada kian mengguncang di persada jiwa
Hendak kemana ku bawa semua resah, ketika yang ku nanti tak jua datang menghampiri
Gigil kian mencumbu seluruh sendi.

Ah, ku senyap kan teriakan di bising nya suara hati,
Di bawah geraian hujan di tengah selangkang malam.
Kau adalah rinduku kesumat, mencabik luka di atas derita
Lalu tak bergeming bagai angin lalu.

Ingin rasanya ku robek bayang wajahmu
Agar tak lagi mengganggu sendiri ku
Pergilah jika kau ingin pergi tinggalkan saja seribu janji tentang sebuah rumah mungil yang kan kita huni di sudut negri.

Seperti yang pernah kau ucapkam
"Maka aku tak bisa menjanjikan apapun, hanya bisa bilang *Aku akan ukir senyum indah di wajahmu setiap hari, Sayangku*"
"Aku akan sanggup meninggalkan semuanya jika kau benar benar mencintai ku"
Hemh, begitu naifnya aku mempercai semua ucapan mu, padahal aku sudah berjanji untuk tidak jatuh cinta lagi, sebab luka satu darsawarsa yang telah berlalu belum juga mengering.

Tapi kau begitu bertubi merayu ku,
Dan ketika kau puisikan
" IZINKAN AKU MENCINTAI MU"
Aku benar benar luluh dan pasrah dalam alunan tembang indah pelukmu.

Ingin ku hapus, ku dekap erat tubuhmu yang pada saat itu, tengah gelisah dan terluka dalam biduk mu,
Saat harga dirimu di hempas dan dicampakkan oleh wanita yang telah sekian lama bernaung bersama mu.

Kini ketika bidukmu kembali tenang, kau lupakan aku,
Kau tinggalkan aku
Kau anggap janjimu hanya sebuah permainan.
Meski bagi ku itu adalah kesungguhan yang sakral.

Aku memang manusia bodoh
Yang terpedaya pada lelaki pengembara sepertimu
Baiklah akan ku kubur semua kisah antara aku dan kamu
Dalam kekosongan hati yang membeku.

Medan, 1905019



FALL BACK IN LOVE
Oleh Ayu Ashari


Ditikungan senja,
gelombang merangkai kekaguman, pada
selembar selendang yang jatuh di pesisir pantai.
sedang aroma malam yang sesaat lagi akan datang
selalu memberi salam bersama kicau burung yang hendak pulang kesarang

Pantai selalu tersenyum,
Ketika bayu mengejar mozaik asmara lewat pertigaan kaki langit yang begitu hening.
sedang dirimu selalu mengeja-eja
kata harum tubuhku dalam temperatur yang sempit
Dan kerinduan itu selalu menyulam, tatkala berteman dengan kerinduan.

"Ah, engkau yang berhijab penuh rindu, mengapa pergi meninggalkan pantai begitu saja?" bisik mu sendiri
Padahal sisa gelombang yang ada pada kelopak mata
tercatat dalam debaran cuaca
di sepanjang bibir pantaiku yang ranum.

Sesungguhnyalah aku betah mendengar degup jantung pantai, tanpa rasa takut dikaramkan gelombang
tapi ada rasa malu pada senja yang kian menepi
Meski ku akui aku telah jatuh cinta kembali

Medan, 1805019



BERDARAH
Oleh Ayu Ashari


kisah malam selalu saja masuk
ke dalam pecahan hujan
sedang cahaya yang bertaburan
mengulurkan salam kesepian
untuk merambahi daun-daun
yang merunduk karena peristiwa
air mataku.

memang,!
malam yang ku tunggu
takkan pernah selesai untuk ku catat
karena laut yang mengeram
telah merapatkan mimpi
untuk membawa luka
dalam dagingku.

Entah di mana kan ku sembunyikan darah dari luka ku,
ketika angin merayu bianglala untuk di tanggai,
Sementara matahari begitu setia mengeringkan setiap goresan goresan luka yang mencabik ulu hati

Atau biarkan saja ku pertontonkan darah menetes,
hingga angin mengerti betapa perih yang ia wariskan padaku.
Entah lah..!

Medan, 1705019



MATI SEBELUM MATI
Oleh Ayu Ashari


Betapa dalam lautan tidurku
dan jangan kau genangi dengan banyu asih semu,
biarlah bilapun daun - daun di taman menguning,
juga burung-burung terbang di angkasa,
membawa Khabar tentang sebuah legenda,
Jangan bangunkan aku

Sebab telah ku palang pintu serta jendela rumahku
agar cuaca yang akan tiba di wajahku hilang dalam derak rindu

Izinkan aku terus mendaki mimpi sampai puncak bukit itu,
dan tak melihat hamparan hijau daun-daunnya tumbuh
Pada sebuah kelahiran di waktu subuh.

Adalah mati sebelum mati,
Tat kala hidup berkubang dalam mimpi
Sedang harapan tertimbun rerutuhan sekeping cermin buram dan tak ingin bangun lagi.
begitulah, di mataku api selalu bergelora tersembunyi
Seperti hasrat yang tenggelam dalam samudra yang tak bertepi.

Medan, 1605019



GERBANG
Oleh Ayu Ashari


Wahai kekasih
cepatlah kau sirami kembali darahku yang telah begitu lama membeku di rahim dengan darahmu,
agar ia kembali menghangat dan menyala,
seperti seonggok jantung berdegup.

Begitupun dengan air mata yang jatuh,
Menggenangi jiwa yang kering ini,
segeralah buatkan sebuah perahu
agar dapat berlayar menyusuri sungai
lantas kabarkan pada semua,
bahwa masih ada yang setia untuk menjaga ku

walau selaksa Ikhwal ngelayut di gerbang senja.
Dan esok buka jendela yang masih terkunci
kemudian memberi salam kepada alam
dengan seribu puisi atau sebait prosa

Kekasih
Kau tau bagaimana caraku menembus kelamnya gerbang masa silam,
Membangun sendi sendi ke takutan menjadi pilar pilar keberanian tuk menatap masa depan.

Sayang
Jangan biarkan rahim dan jiwa ku kembali mengering karena sebuah kepastian yang tek berujung.

Medan, 1505019



CINTA KASIH
Oleh Ayu Ashari


Malam ini aku bersama Kekasih yang kucintai.
Dan aku menyatu dalam obor- Nya yang telah di ciptakan sebelum dunia ada
Tak ada satu kekuasaan di alam ini yang mampu merampas kebahagiaan ku
Karena kebahagiaan ini memancar dari rengkuhan satu jiwa yang berpadu dan di payungi dengan cinta kasih syair syair samawi.

Medan, 1405019

AYU ASHARI


Jumat, 26 April 2019

MASIH AKU



Aku masih mengingatmu
senantiasa segar
seperti embun di pucuk daun kala subuh
Tak bisa diam segala igauku
Menyebut nama - mu ; Selalu
Kau membuang separoh waktu usiaku
Membuang lebih dari setengah mimpi indahku
Bersama langkahmu pergi
Kau bawa jiwaku tenggelam dalam sunyi
Masih aku
yang selalu bergumam tentang - mu
Sampai ke tepi pagi

Air Batu,23 April 2019
MS

TANDA




f a j a r, tadi
semburatkan amarah terpendam

tak perdulikan biru teduh sandar langit

bacakan analisa, menggurat waspada
media hati, menggumpal tanya

burung pagiku
terikut bimbang

kisaran
sabtu, 20 april 2019

BUKAN KAU MELAINKAN AKU (Sebuah Puisi Essay)



Ketika butir Sajakku berlinang. Mekar bagaikan kuntum bunga. Kian mekar makin bercahaya. Sajakku serupa rumput, hijau di semak belantara. Seindah Pelangi disenja hari. Bening. Umpama embun pagi hari. Langit dan bumi adalah isinya, mantra kesumat iramanya. Kembang tujuh rupa pula maknanya. Aku terbang bersama Sajakku, mencoret angkasa goreskan tinta emasku, aku pilih putih. Dibalut indah kuning dan hijau. Laut biru.

Aku takkan diam dengan perintahmu. Selagi tangan masih utuh, tetap kucoret kehidupan dengan tinta warna warni. Melengkung bagaikan Pelangi.

Saat aku bergema bersama Sajakku. Kau hadir ucapkan salam. "Masuk saja !", balasku. Sebab salam kita berbeda. Hening yang sunyi, kau pecah. Buat angkara atas segalanya. Heh, biarkan aku berjalan dengan kesederhanaan. Asal berjalan dengan kaki sendiri. Maka jangan kau ajari aku mengukir senyum. Sedang bibirmu pun sumbing. Ini Sajakku, biarkan aku bermain bersama. Tak perlu dicekal - cekal, karna Sajakku tidak menistakan siapapun. Dan ketika kau tunjukkn Sajakmu yang berlapis emas itu. Aku tak mengerti atas perbedaan sudut pandang kita. Karna Sajakmu maupun Sajakku. Tak ada bedanya.

Karya : Adhiet's Ritonga

Kumpulan Puisi Isa Suhanda - PASTI ADA YANG BAIK



PASTI ADA YANG BAIK
oleh : Isa Suhanda

Pagi,
Dari malam sebelumnya
Di hari Sabtu.
Ini sudah menjelang waktu
Siapa kata malas muda
Hanya milih jiwa
Bagaimana?

"Rancang tulis ya!"

Untuk kamu kan butuh
Untuk ini kamu gak butuh!
Melaluinya kuingat sendah saja
"Hah" Sakit...
Aku yang kurang... ...
Ada yang kau pikir terlihat aku
Ini cuma satu alam

Sebelum hari merah
Siapa yang mengajarimu
Merangkainya

Mendiang?
Bukannya hari gelap itu mendiang

Aku masih punya
Aku masih punya

Sampai sekarang
Aku masih punya

Aku asih munyai angka
Tiga puluh enam





SAKIT
230419
oleh : Isa Suhanda


Gigi - gigi ku terasa tebal
Kedua belikatku terasa menciut
Hidungku menjadi empuk
Dan mataku terasa lambat reflek

Menerpa atau diterpa gak akan tahu
Angin yang berhembus menyentuh tulang
Memakai pakaian rangkap tujuh
Pun Sudah berrangkap tujuh
Meremas tangan kanan ini dengan tangan kiri
Sampai berkeringat.

Senyum yang berat
Tetap bersenyum
Apa yang dirasakan oleh penyakit?
Hanya yang sakit yang merasakan.

Kumpulan Puisi LUmbang KAyung - DIRIMULAH INDONESIA (JOKO WIDODO)



# DIRIMULAH INDONESIA (JOKO WIDODO)

Kau selimutkan merah putih di tubuhmu,
Kau tanamkan jiwa Pancasila di dadamu,
Dan kau tersenyum,
Di pelukan indahnya kedamaian,
Dalam rangkulan Bhineka Tunggal Ika.

Lalu kau lambaikan tangan mu,
Mengajak ku untuk bersama,
Menyingsingkan lengan baju,
Menatap jauh kedepan,
Hingga ke ujung sudut patamorgana Nusantara,
Dalam merangkai sebuah pembangunan,
Demi sebuah langkah kemajuan,
Hanya untuk anak cucu generasi kita,
Dengan kehidupan mu yang sederhana dan bahagia,
Di persada tanah air Indonesia Tercinta.

LUmbang KAyung
Tanjung Balai Asahan 13:04:2019


------------------------------


TAK KAMU LIHAT DAN DENGARKAH BPK PRESIDEN IR H JOKO WIDODO YANG RELA BERHUJAN DAN BERPANAS DALAM MEMBANGUN NUSANTARA INDONESIA TERCINTA INI SAMPAI KEPELOSOK PELOSOKNYA.

TAK KAN MUNGKIN RELUNG KEBENARAN HATI YANG SUCI DAPAT MENIPU DAN MEMBOHONGI DIRI KITA SENDIRI DALAM MENANTI JANJI JANJI YANG BELUM PERNAH TERBUKTI.

COBALAH BERPIKIR UNTUK GENERASI ANAK CUCU DAN NEGARA INDONESIA TERCINTA INI.

LUmbang KAyung
Tanjung Balai Asahan 17:04:2019