Jumat, 03 Mei 2019
Kumpulan Puisi Wahyu Sumut Kembara - KERETA API FAVORITKU
GALI KEMBALI.
Kurobek batas fikirku
Kukoyak rasa minderku
Kuteriakkan aku mampu
Lalu izin-NYA menuntunku...
Ketiadaan bukan jalan pasrah
Kelebihan tak sudi congkakkan diri
Menepi sejenak merenung langkah
Menyapu rintang yang melintang
Menegapkan jalan dan maju
Semua 'kan terlewati
Walau tersandung kanan dan kiri
Menjejali hati
'Tuk menggali kembali
Siapa sesungguhnya diri.
"GALI KEMBALI."
'Bisa kerna terpaksa juga anugerah'
Senin, 05 Agustus 2019.
By : Wahyu Sumut Kembara
At : Pe Em i
Dan airmataku mengalir,
Mengenang masa - masa itu,
Kereta Api Tanjungbalai - Medan,
Begitu dulu kusebut benda itu.
Penjaja Novel Favoritku,
Pedagang yang siap datang ke bangku,
Kesesakan yang tak menentu,
Hilir mudik tak terasa waktu.
Ada yang selalu setia menemani,
Novel, TTS, Rokok, Kratingdaeng,
Pop Mi dan Cappucino pasti ada.
Aku tak butuh tisu,
Karena tempat favoritku didekat pintu,
Angin yang menghembus
Ketika pergi dan pulangku,
Menjadi sapaan wajib perjalananku..
Pengamen yang ternyata anak kuliahan,
Pedagang Cappucino yang ternyata guru bahasa inggris,
Pedagang Ceker yang selalu menggendong anaknya,
Penjual mi yang tak pernah lelah menurunkan dan menaik kan kembali jaja'annya di atas kepala.
Ada yang paling kurindukan,
Keakrabannya...
Walau tidak saling kenal
Kadang kami dapat bercerita bersama, bernyanyi bersama dan tertawa bersama.
Kereta Api Tanjungbalai -Medan,
Begitu biasa ku sapa.
Kelas Ekonomi, bernama Putri Hijau.
By : Wahyu Sumut Kembara
Senin, 29 April 2019
"Kereta Api Favoritku."
♥♥♥
Tetamu Berdatangan,
Hantaran diberikan,
Disambut dan digendongkan,
Calon Menanti Dibilik Kanan,
Terima Bingkisan tanda berkenan,
Cincin Emas Lalu disematkan,
Berurai Air mata Tak tertahankan,
Mufakatpun Diteruskan,
Tentukan Waktu kapan Naik Pelaminan,
Calon Tersipu tak karuan,
Kiranya Impian Kan Jadi Kenyataan,
Dan Senyum Itu Kini Telahpun Bertuan.
By : Wahyu Sumut Kembara
"Senyum itu kini telah bertuan"
Senin, 29 April 2019.
DERMAGA KISAH
Raihlah...
Raihlah bahagiamu dalam do'a dan ucapan selamat,
Jangan tangisi duka perpisahan,
sebab harusnya kau bahagia dalam ikatan..
Lihatlah ia sebagai Arjuna dalam bulir airmata suka,
sedang aku cukup kau kenal sebagai penyair kelana...
Aku tidak singgah untuk mengambil hatimu,
Kisah hidup kadang memang harus begitu,
Tapi percayalah,
Manis akan hadir pada waktunya...
Jangan kau fikirkan aku akan tenggelam dalam lara,
Sebab telah jauh ku arungi samudera,
Labuhanku kadang memang hanya sementara,
Kelak akan kutambat tali pada dermaga,
Untukku....
Untuknya....
By : Wahyu Sumut Kembara
Rabu, 28 Desember 2011, (Teras Malam)
MENITI JALAN PULANG
Aduhai...
Titianku menapak lalu diam,
Papan pijakan tertutup kabut mengaburkan,
Sejenak hening mengingati jalan,
Adakah masih lurus...!
Atau justru lena dibelokan...!
Yang kutahu aku terus saja maju kehadapan...
Aduhai...
Aku huyung ditepian,
Memegang kuat tali jembatan,
Khawatir jatuh kelembah nan dalam,
Yang memelukku hina dalam keabadian.
Aduhai...
Dimanakah kawan sama berjalan...!
Mengapa sunyi sepanjang pandangan...!
Ataukah aku memang harus jalan sendirian...!
Dalam Meniti langkah Menuju Jalan Pulang.
Wahyu Sumut Kembara
Sabtu, 4 Januari 2012. ( Jendela Asa )
Tanjungbalai, Sumatera Utara.
TAFAKURI DIRI
Apa yang salah dengan takdir...???
ia hanya berjalan menuruti titah TUHAN_nya...
Kenapa mengutuk panasnya mentari...???
Suhunya juga menurut titah TUHAN_nya...
Sebagian kekeringan dan sebagian kebanjiran...
adakah ini ketidak adilan TUHAN...???
Lalu kebenarankah itu yang kita lakukan...???
Kita dimata TUHAN,
Telah tertulis didalam kitab_NYA...
mengapa tidak mencari melalui hati...???
Lalu tanya apa yang telah diyakini...
Kadang aku tak mengerti...
Kadang kau tak mengerti...
Selalunya kita banyak yang tidak peduli...
Sinyal kebenaran sejati telah diberi,
Hatipun membenarkan dengan bijak sekali,
Namun akal banyak yang mati,
Sehingga tertutup jalan menuju putihnya tuntunan diri.
Apa yang salah dengan takdir...???
Sedang ia hanya bergeser mengikut titah TUHAN_nya.
Marilah tafakuri diri sendiri...???
By : Wahyu Sumut Kembara,
Sabtu, 18 Februari 2012, (Ruang menata hati)
Tanjungbalai, Sumatera Utara.
*** SANG PELAUT ***
Lautku malam
Sepi mengeram
Ombak menggeram
Menghitam.. Menghitam..
Kapal laju
Memecah menderu
Buah putih beribu
Tujuan satu
Hasil dicari
Ikan menari
Jaring bertali
Sambut rezeki
Semoga melimpah
Diperoleh berkah
Atas nama Allah
Didapatlah upah
Laut menjelang pagi
Kini kulihat tepi
Muatan naik pasti
Riang berhitung kembali.
Jermal Delapan,
Sumatera Utara
Kamis, 6 Januari 2022
By : Wahyu Sumut Kembara
Kumpulan Puisi Masita Shanti - CINTA YANG TAK KUHARAPKAN
![]() |
CINTA YANG TAK KUHARAPKAN
Sejak pertama kali kau mengenalku
Berkisar diantara tiga purnama lampau
Lalu kau jatuh cinta padaku
Pada pandangan pertama..
Sejak saat itu
Kau selalu hadir mencoba merangkulku
Memaksaku menerima kehadiranmu
Meskipun aku tak pernah mau
Kau menjeratku menerima segala kesakitan
Rasa nyeri yg terasa sampai ke ubun-ubun
Kadang berpikir bagaimana caranya melenyapkanmu dari hidupku
Sanggupkah aku mengusirmu dari hidupku
Tanpa harus membawa bagian dari diriku
Sungguh hadirmu hanya memberiku siksa
Cintamu tak sedikitpun kuharapkan
Wahai sakit gigi pergilah ,enyah dan menghilanglah..
Masita shanti
Takalar.29-april-2019
SUBUH
Gema takbir berkumandang menggetarkan seluruh alam...
tapi kita manusia congkak
tak tersentuh sedikitpun..
Kita kenikmatan terbuai diatas kasur yg empuk..
Yang segera berubah jadi bara..
Kita kenikmatan dalam balutan selimut hangat..
Yang segerah jadi lelehan timah panas...
Naudzubillah...
Wahai jiwa yg haus akan kasih-Nya
Bangkitlah bersedekap
Menghadap Tuhanmu
Palingkanlah wajahmu sejenak dari kenikmatan dunia yang sesaat...
Rangkullah Mahabbah dari Tuhanmu yang akan membawamu
Pada kenikmatan yang haqiqi
Masita shanti
Takalar.26-april-2019
NAMA MU
Aku pernah melukis banyak wajah didinding anganku
tapi hanya wajahmu yang menghiasi kanvas hatiku
aku pernah menulis banyak nama dipapan hayalku
tapi hanya namamu yang terukir indah diatas prasasti jiwaku
Oleh : Masita Shanti
Takalar, Sulawesi Selatan
DUKA
Sampai kapan kumeredam laraku
mengendapkan semua kecewa kedasar lubuk hatiku...?
Sampai kapan kubertahan dalam limbung,kala duka menyeretku tak berdaya meratapi garis tanganku yang telah dilukis sedemikian rupa oleh-Nya Sang penentu...????
Oleh : Masita shanti
Takalar, Sulawesi Selatan
CINTA DAN NADA
Jangan mainkan lagi irama itu
irama yang nadanya mampu mencabik akal sehatku
yang mengoyak kesadaranku
hingga hatiku berterbangan bagai kapas tertiup angin...
Oleh : Masita Shanti
Takalar, Sulawesi Selatan
TIRANI RINDU
Aku masih buta dan tuli
u/ berkaca pada gambar abstrakmu
dan mendengar pada samar denting rindu yang kau petikkan.
Oleh : Masita Shanti
Takalar, Sulawesi Selatan
MASIH NAMAMU
Masih namamu menjadi shimponi yg indah u/ qnyanyikan
masih namamu menjadi untaian kata yg indah u/ qpuisikan
masih namamu menjadi nada yg indah qmainkan
dan masih namamu menjadi cerita yg indah u/ qsahirkan.
Oleh : @Masita shanti
Takalar.30-04-2013
SETIA
Setialah...
Seperti setianya mentari pada siang
khan qjaga hatiq u/mu
seperti rembulan menjaga setianya pada malam
yang kendatipun harus berpaling
ia akan berpaling tanpa cahayanya.
Oleh : Masita Shanti
@Takalar.29-04-2013
AKU
Aku menentang dunia
dengan berlari meraih tanganmu
ketika dunia menginginkanku
tapi kau menentang dunia
dengan tetap menggenggam erat tanganku
disaat dunia menyisihkanku...
By : Masita Shanti
Takalar.25-04-2013
# SENJA KEMBALI BERSERI #
Tengelam ku Bersamamu,
Hanyut dalam Keindahan,
Merenangi Gelobang tenang,
bersama warni Pelangi kini hiasi Senja,
Yang Tadi Mendung telah Menutupi Mentari.
Tak lagi Terlihat Cermin kusam,
Diantara Janji yang Terbengkalai,
Yang hanya Menjadi Kepedihan,
Bersama Bara Api Ke Egoan,
Kala Hati ini tersakiti.
Ku Tuang Kini Air yang tersisa di Hati,
Biar mengalir ke Muara Lutan,
Menjadi Potrek Kenangan Abadi,
Di dalam kenangan yang tak Terlupakan.
Oleh : Masita Shanti
Takalar, Sulawesi Selatan
Kumpulan Puisi Puji Astuti - KOPI TERAKHIR
KOPI TERAKHIR
Karya : Puji Astuti
Tenda masih terpasang kokoh
Kursi-kursi tersusun rapi di serambi
Malam-malam seakan tertutup mendung
Keikhlasanku terkuras tuntas
Siang itu begitu dekat dudukmu di sebelahku
Seakan enggan untuk menjauh
Sesekali kau peluk aku di antara tawamu
Melambangkan perpaduan cinta dalam hatimu
Kepulan kopi hangat masih tersaji
Minumlah dari cangkirku, pintamu
Senyum menggembang di wajah sendu
Menyuguhkan keikhlasan begitu teduh
Ternyata itu kopi terakhir untukmu
Dan kebahagiaan terpenggal bagiku
Kau berpulang untuk selamanya
Meninggalkan duka yang tak terkira adanya
Hangatnya kasih masih terasa
Betapa berat luka di dada ini
Kini tinggalah kenangan
Yang tak akan mungkin terlupakan
Jogja, 26.04.2019
SENJA TERAKHIR
Karya : Puji Astuti
Tangan kita terpaut erat
Menyusuri sepanjang tepian pantai
Senyum menghiasi kebahagiaan tak terbendung ini
Semilirnya angin laut menambah syahdunya rasa dua hati
Duduklah kita di sebongkah karang
Wajahmu terlihat sedikit redup
Mengapa kau sembunyikan sesuatu?
Pertanyaan berkecamuk di dadaku
Senja semakin turun seiring waktu
Dekap erat lenganmu di pundakku
Berdesir jiwaku seakan tak percaya
Begitu dalam percikan cinta yang ada
Jangan pergi pintaku
Walau ada derita di ragamu
Kita lewati saat-saat perjuangan
Antara nyawa dan keberadaan
Kuasa Tuhan lebih memilihmu
Aku kau tinggalkan selamanya
Dalam menapaki jalan kehidupan
Senja itu adalah senja yang terakhir
Meninggalkan kilasan perih di setiap ingatanku
Jogja, 19.05.2019
BELALANG
Di antara deru mesin-mesin berpacu
Tenangnya dirimu menggerus daun
Untuk kelangsungan kehidupan
Tanpa peduli apapun yang terjadi
Belalang kesiangan
Di waktu pagi ini kau menapaki tangkai-tangkai
Menjelajah rimbun pepohonan
Nenyiangi dan memilih keinginan hati
Matamu berkutik saat tahu aku perhatikanmu
Menyelidik seakan ingin aku pergi
Sejenak mengganggu kesenanganmu
Mengenyangkan perut dengan memagut
Belalang pagi
Teruslah bergerak
Jangan berhenti
Jika ingin terus hidup dan tidak mati
~ Puji Astuti ~
Jogja, 17.05.2019
TAKUTNYA HATI
Karya : Puji Astuti
Gelegar halilintar mengejutkan rasa
Sedangkan hawa panas masih terasa
Di ujung barat terlihat sarat mendung menggantung
Terbayang derasnya di sana
Kupercepat langkahku
Untuk segera bisa tiba di dalam rumah
Menghindari rintik air yang mulai turun
Karena hati paling takut akan kehujanan di tengah jalan
Terlintas peristiwa
Saat berkendara di tengah lebatnya
Menggigil tak tertahankan
Hingga badan basah kuyup dan kedinginan
Hilangnya keseimbangan
Mengakibatkan olengnya kendaraan
Terjerembab di bumi yang basah
Hingga seketika tak sadarkan diri dan pingsan
Mendung membawa cerita
Histeris di dada
Ketakutan hati
Lebih baik menghindari
Jogja, 15.05.2019
Karya : Puji Astuti
Tenda masih terpasang kokoh
Kursi-kursi tersusun rapi di serambi
Malam-malam seakan tertutup mendung
Keikhlasanku terkuras tuntas
Siang itu begitu dekat dudukmu di sebelahku
Seakan enggan untuk menjauh
Sesekali kau peluk aku di antara tawamu
Melambangkan perpaduan cinta dalam hatimu
Kepulan kopi hangat masih tersaji
Minumlah dari cangkirku, pintamu
Senyum menggembang di wajah sendu
Menyuguhkan keikhlasan begitu teduh
Ternyata itu kopi terakhir untukmu
Dan kebahagiaan terpenggal bagiku
Kau berpulang untuk selamanya
Meninggalkan duka yang tak terkira adanya
Hangatnya kasih masih terasa
Betapa berat luka di dada ini
Kini tinggalah kenangan
Yang tak akan mungkin terlupakan
Jogja, 26.04.2019
SENJA TERAKHIR
Karya : Puji Astuti
Tangan kita terpaut erat
Menyusuri sepanjang tepian pantai
Senyum menghiasi kebahagiaan tak terbendung ini
Semilirnya angin laut menambah syahdunya rasa dua hati
Duduklah kita di sebongkah karang
Wajahmu terlihat sedikit redup
Mengapa kau sembunyikan sesuatu?
Pertanyaan berkecamuk di dadaku
Senja semakin turun seiring waktu
Dekap erat lenganmu di pundakku
Berdesir jiwaku seakan tak percaya
Begitu dalam percikan cinta yang ada
Jangan pergi pintaku
Walau ada derita di ragamu
Kita lewati saat-saat perjuangan
Antara nyawa dan keberadaan
Kuasa Tuhan lebih memilihmu
Aku kau tinggalkan selamanya
Dalam menapaki jalan kehidupan
Senja itu adalah senja yang terakhir
Meninggalkan kilasan perih di setiap ingatanku
Jogja, 19.05.2019
BELALANG
Di antara deru mesin-mesin berpacu
Tenangnya dirimu menggerus daun
Untuk kelangsungan kehidupan
Tanpa peduli apapun yang terjadi
Belalang kesiangan
Di waktu pagi ini kau menapaki tangkai-tangkai
Menjelajah rimbun pepohonan
Nenyiangi dan memilih keinginan hati
Matamu berkutik saat tahu aku perhatikanmu
Menyelidik seakan ingin aku pergi
Sejenak mengganggu kesenanganmu
Mengenyangkan perut dengan memagut
Belalang pagi
Teruslah bergerak
Jangan berhenti
Jika ingin terus hidup dan tidak mati
~ Puji Astuti ~
Jogja, 17.05.2019
TAKUTNYA HATI
Karya : Puji Astuti
Gelegar halilintar mengejutkan rasa
Sedangkan hawa panas masih terasa
Di ujung barat terlihat sarat mendung menggantung
Terbayang derasnya di sana
Kupercepat langkahku
Untuk segera bisa tiba di dalam rumah
Menghindari rintik air yang mulai turun
Karena hati paling takut akan kehujanan di tengah jalan
Terlintas peristiwa
Saat berkendara di tengah lebatnya
Menggigil tak tertahankan
Hingga badan basah kuyup dan kedinginan
Hilangnya keseimbangan
Mengakibatkan olengnya kendaraan
Terjerembab di bumi yang basah
Hingga seketika tak sadarkan diri dan pingsan
Mendung membawa cerita
Histeris di dada
Ketakutan hati
Lebih baik menghindari
Jogja, 15.05.2019
![]() |
PUJI ASTUTI |
Kumpulan Puisi Julinar Sinaga - BERITA SENJA
BERITA SENJA
By : Julinar Sinaga
#Juliet/#BidaraJingga
Seuntai senja
yang tak sempat
kuberitakan kepadamu
wahai anak- anakku
Sebab berita suri
tenggelam di pagi buta
bersama jeritan suram
tangisan patriot malam
Hanya kepadamu
akan kusinggahkan
berita di esok hari
Dengan senyumanmu
caraku memikat waktu
dalam pesan- pesan rindu
mengabarkan berita senja
dalam pancaran mata dunia
Senin 290419/04.00 wib, Jaksel
Album puisi #BidaraJingga
IBU, KUCIUM SURGA MEWANGI RAHIMMU DI SANA
By : Julinar Sinaga
#Juliet/#BidaraJingga
Seperti Cinta mengabadi surya
Rahimmu menuju surga
Cinta yang kau lahirkan
menempatkanku disana
Ibu, sepenggal kataku
Aku rindu belaian kasihmu
Rindu menyandar dirahimmu
meneduh dalam dekapan dunia
rasa hangat belaian kasih sayang bunda
Ibu, tak dapat kusanjung nilai leluhurmu
Ketika kau menyusuiku dalam belaian
masih kuingat tatapan matamu
sungguh dalam
tak pagi siang dan malam
Kau bersenandung rindu menghantar nyenyakku
di ayunan buaian tangan membelaiku
Begitu lembut dan hangat kurasakan
Ibu, Ingin ku masuk kerahimmu
menghangatkan jiwa dalam
kepenatan dunia
Tapi kau senantiasa menabur jiwa
menyanjung sukma memanggil namaku
disana
Dan aku siap siaga menjaga suaramu
menyuarakan namaku,
membujuk hatiku
dari paraunya jeritanmu mengisahkan
keluhan rindu, sampai lelah menyapaku
Tuhan menyempurnakan tanganmu
menuntunku kelangit
meneduhkan kasih sayangmu
menjadi taman surga membukit
Ibu, aku tetap menyanjungmu
di kaki langit
seribu taman surga menjemput raga
menghapus dosaku menyimpuh surga
ditelapak kakimu kucium Cinta belaian
kasih dan sayang bunda
Ibu, kucium surga
mewangi rahimmu disana.
#MahaRinduBunda
#AnandaSenantiasaBerdoa
Jaksel, minggu 050519/10.10 wib
ANAK- ANAK NEGERI
Karya: Julinar Sinaga
#BidaraJingga"
Tercatat rapi dalam agenda ,
Padat bahkan sudah tak muat
Untuk diabadikan menjadi duplikat
tersusun rapi untuk diabadikan
buat anak negeri, mewarnai kehidupan
Rona rona pelangi, seperti apa kita nanti
Siapa yang tahu, mau jadi apa aku
Karena aku hanya sebuah amanah
menghitung waktu mengambil hikmah
Karena hidup proses perjalanan
Karena hidup hitungan abjad-abad perubahan
membentang lahan lahan kehidupan
Anak anak negeri makin bergejolak
Menemukan jati diri,siapa mereka kini
karena hidup sedang berputar
karena hidup sedang terdampar
Terlantar nasib mereka" mau jadi apa"
Aku hanya perantara kata kata
Mutiara kehidupan menjadi pedoman
Merangkulmu adalah keikhlasanku
Membimbingmu adalah ketulusanku
Untukmu anak anak negeriku
Pengalamanmu karya hidupmu
Jadilah kamu menjadi sosok pemberani
menghantarkan kebenaran buat pertiwi
Sesungguhnya tugasmu adalah
penegak pemimpin negeri sejati
Podomoro city jaksel
Minggu 12 Mei 2019/11.53
SANGAR JIWA
By : Julinar Sinaga
#BidaraJingga
Jangan kau pikir senjatamu
bisa menembus bibir sangarku
Karena kerangkaku tetap terpalang
menampar pedang terhunus
yang siap menyincang,
mencabir rahang birahimu
Tidak kah kau tahu
Elang mati meninggalkan bangkai
Tapi..cakar maut tetap suri menjadi bingkai
Nyarisku
di padang lara
Menembus api membara
Podomoro city Jaksel
Minggu 12 Mei 2019/ 12.43
TERSUMBAT
By : Julinar Sinaga/#Juliet
#BidaraJingga
Julinar. !
Aku telah kalah dalam perkelahian massal
dengan perasaan sendiri
terbentur ribuan kali
selama puluhan tahun
Bicaralah Julinar !
tentang rumah yang diramaikan
tawa anak-anak dan suara-suara daun
malam hari
betapa aku haus seribu sumur dan ladang
yang menanam cahaya matamu
tak ada kekayaanku selain puisi
tak ada mawar bisa kucium selain di tamanmu
Bicaralah Julinar !
Sebelum awan jadi bendungan
mendung dan lahan menguap keudara
kekalahanku begitu menyesakkan
sebab semua telinga tersumbat harum
ruang tamu
sedang suara-suara mereka seperti bendera
tanpa negara
tak ada yang dapat kubanggakan selain ketulusanmu
yang dapat mematahkan seratus pilar kabut
disepanjang perjalananku
kekalahanku ini telah memberi luka
tapi betapa hebatnya aku bertahan karena cinta
Bicaralah Julinar !
Sebelum aku kehabisan darah
untuk membangun jalan menuju alamatmu
Podomoro city Jaksel
Minggu 12 Mei 2019/13.00 wib
HIDUP INI KERAS..JENDRAL !
By : Julinar Sinaga
#Juliet/#BidaraJingga
Kau bagaikan senjata nuklir
yang sedang beridealis
mengasah di otakku
Ketika aku terdiam
di kegelapan malam
Tak pagi siang dan malam
air mata ini menetes menjadi bara api mengasah raga dalam perjuangan hidup
memikirkan Negeri
" Seperti di katakan"
HIDUP INI KERAS , JENDERAL"
Menghormatimu sebatas
pahlawan tak bernama,
Tapi Kau tetap diam
Jika kutahu ini jalanmu
"Bidara Jingga"
Ragamu membara menepis kabut
di pagi hari
Patriotismemu membentang
seperti terang di saat rembulan
menantang di kegelapan malam
Jika peluru menyasar sangar ragamu
tercabik- cabik, lalu senjata nuklirmu
menjadi benteng di malam hari,
mengasah mental dalam keabadian
merakit mimpi di esok hari...
#RumahRakyatProklamasi
Senin,13 Mei 2019/ 06.30 wib, Indonesia🇮
![]() |
JULINAR SINAGA |
Kumpulan Puisi & Tausiah Siamir Marulafau - TAUSIAH SASTRA
TAK AKAN KUTULIS LAGI
Siamir Marulafau
sekali ini aku tulis puisi padamu
jika hatiku menyelinap dalam kalbu
meskipun bulan purnama jauh dari pandanganku
tapi suatu ketika aku tak mau lagi
karena senyummu terulas di balik tirai terselubung
kapankah senyum itu berakhir?
tak kusangka seekor kumbang hinggap di atas kembang
tapi kau tak mengukir lagi senyum itu
sepertinya hanyut di air sungai tak bertepi
dan aku hanya menghanyut di batang kayu tak berteduh
apakah aku sampai ke muara menelusuri atau tidak?
hanya Tuhan tahu
perihal pedih perihku akan berakhir di tanah tak bersuluh
sm/15/05/2019,Kampus Fib USU
Merepotkan
Siamir Marulafau
Tidak ada yang menangis ketika saya sedang dalam masalah
Tidak ada yang bisa memberikan bantuan ketika saya sedang dalam dilema
Tapi banyak dari mereka yang tersenyum ketika aku sedang dalam kebahagiaan
Aku tidak tahu apa yang harus dilakukan
Kepada Siapa saya harus alamat ini
Untuk sekali terjadi dalam hidup
Wherever be found once upon a time
Saya rasa begitu
Since there is a chance to exchange
Jika semua kesalahan akan meminta maaf
sm/15/05/2019
Matahari bukan musuh saya
Siamir Marulafau
Saya hanya mengatakan bahwa matahari tidak
Musuh saya
Meskipun terlalu panas untuk kulit anda
Dan itu tidak pernah membunuhku selama ribuan kali
Oleh Karena itu aku pernah merasa bahagia
Bahwa semuanya akan baik-baik saja
Since the sun is the mother of all
That the creatures be in no trouble
Tidak pernah mereka dalam keluhan
So as to struggle in lives
Kita mungkin tidak mencoba untuk membenci matahari
Untuk memberikan kesuburan di bumi, Tuhan suka
It enlightens all the dark that brings golden lives
Sedangkan kehidupan tampak seperti surga
sm/04/05/2019
RINAI HUJAN
Siamir Marulafau
tak akan kubiarkan rinai hujan membanjiri bumiMu
sepanjang ramadhan berkibar
doa-doa besenandung di langit biru
dengan ayat-ayat mengupas keheningan
zhikir melantun di atas awan
meskipun jasad tak sekokoh batu pualam
napas tersendak tapi asmaMu kusebut juga
petanda Khalidku,Penyayang merangkul kasih tak terhingga
dan sujudku menghitamkan keningku
tertuju untukMu selalu
sm/14/05/2019,Fib USU
Kumpulan Puisi Hidayat Almansuri - TENTANG RASA
TENTANG RASA
*Hidayat*
hembus angin menderu
hadirkan seutas bayang semu
tentangnya
yang kini jauh dariku
kan ku titip
rasa hati ini
pada Sang mentari
yang akan beranjak pergi
tuk sampaikan padanya
tentang rindu hati
yang kelabu biru
entah kapan kan berpadu
selalu ku bertanya
akan arti hadirnya
masih pantaskah aku
untuk mendampinginya
sedang tiada apapun
yang bisa ku banggakan
atau sekedar melengkapi
rasa bahagia di jiwanya
#kediri 03/05/19
SESUCI LANGIT
*Hidayat*
rasa jiwa merajam
membuat mataku
susah tuk terpejam
hingga di sepertiga malam
sepi
hanya berteman angin
dan senyum
bayangan rembulan
seakan menemani rasa
untuk tetap setia
padamu
yang jauh disana
suci nya cinta dan sayangku
bagaikan langit biru
yang begitu bersih
tanpa terkotori nafsu
#kediri 02/05/19
KALIMAT RINDU
*Hidayat*
kutuangkan rasa
pada lembar putih jiwa
di pagi buta tak bersuara
kalimat rindu
yang tersusun dalam kalbu
begitu nyata dirasa
padamu
yang berada jauh dariku
berpegang teguh
pada rasa yang satu
menunggu waktu
hingga nanti saat bertemu
kekasihku
yakinlah atas rasa kita
yang telah kita cipta
dari kedalaman jiwa
walau kau jauh disana
aku kan selalu ada
menemanimu
dalam do'a-do'a
di sepanjang waktu
#kediri 01/05/19
BAHAGIA DI AWAL PAGI
bahagiaku pagi ini
bersama kicau burung
yang bernyanyi penuh suka
menyambut hari ceria
penaku berlari menggores kata
diatas kertas putih
yang selalu ceria
menemani luapan rasa jiwa
mengiringi Sang Surya
dengan sinar cerahnya
menjaga hati dan rasa
agar tetap bersyukur
pada Yang Maha Kuasa
#Proling 30/04/19
PAGI DI DESA KU
*Hidayat*
cahaya pagi yang merasuk
diantara dedaunan hijau
di rimbunan pepohonan
dan rumpun bambu
seakan mengajakku
tuk menyambut hari ini
dengan penuh keceriaan
dan kegembiraan
awan awan hitam
yang coba mencumbu mentari
seakan cemburu
akan ketulusan pancaran kasihnya padaku
sepoi angin yang berbisik
menambah indah suasana
membuat burung pagi berhamburan dan menari
bernyanyi merdu
penuh kegembiraan
inilah pagi di desaku
terasa begitu asri dan damai
sangat bersahaja
tanpa setitik kegalauan
#Proling 29/04/19
RINDU DI DINGIN PAGI
*Hidayat*
Gelisah melanda hati
kala pagi terselimut sepi
tanpa sentuhan mesra
sinar Sang Surya
Kuingin melangkah
namun dingin membeku kaki
seakan tak merestui
tuk tinggalkan mimpi
yang terangkai malam tadi
Dia yang merindu
begitu hangat di hati
terasa mengaliri sukma
dengan bisikannya
Semoga siang kan terang benderang
agar ku bisa leluasa
menjelajahi sudut-sudut rasa
dalam kebisuan tanya hatinya
#Proling 28/04/19
SETULUS MENTARI
*Hidayat*
senyummu
bagai ceria mentari
yang menyapa diri
di cerahnya hari ini
begitu memikat
menyentuh di ketenangan hati
menyemangati rasa jiwa
untuk sambut
awal hari penuh cinta
semburat warna langit
bagai lukisan di hatiku
selalu berwarna
tergambar
oleh rasa sayangmu
semoga keindahan ini
kan selalu ada temani pagi
tanpa harus terusik
oleh nafsu yang memburu hati
#kediri 27/04/19
SEIKHLAS SANG SURYA
*Hidayat*
bidadari
yang tersenyum ceria
sebagai
tanda bahagia
laksana
sang surya
yang menyinari dunia
di langit sana
ikhlas berdoa
pada Sang Pencipta
akan limpahan nikmat
dalam kehidupannya
aku pun
berharap semoga
akan selalu bisa
tuk melihat senyumnya
sebagai
pengingat nikmat
pada
Sang Maha Kuasa
#kediri 26/04/19
MENGALIR BAGAI AIR
*Hidayat*
aktifitas mengikuti alur
dari kehidupan
berjalan bagai air mengalir
walau kadang batu
dan akar-akar pohon
mencoba merintangi
mulusnya perjalanan
tapi hidup
harus terus berjalan
maju melaju
menuju akhir tujuan
biarkan saja
rerumputan dan kotoran daun
seakan mengusik kejernihan
tapi kesucian
harus tetap dipertahankan
agar semua bisa
mendapat manfaat
dan kegunaan
tak perlu marah
walau kadang kondisi alur
yang tak ramah
mungkin itu cara Tuhan
agar kita fleksibel
dan bisa bergerak lebih cepat
dari sebelumnya
#kediri 10/05/19
GELISAH RINDU
*Hidayat*
mentari sembunyi
kala awan gelap menyelimuti
membuatnya tak nampak
dari pandangan mata bumi
sepasang burung senja
terbang melintasi bayangan awan
seperti tak peduli
dengan apa yang terjadi
tinggallah ku sendiri
mencoba cari jawaban pasti
akan nasib diri
di atas hamparan bumi ini
masihkah kan direstui
rasa rindu ini
untuk kumiliki
wahai bidadariku
pujaan hatiku selalu
tetaplah genggam rasaku
agar tiada lagi ragu
yang kan menikam rindu
#kediri 09/05/19
BAYANGAN PENGIKAT RINDU
*Hidayat*
luluh lantak rasa jiwaku
terbius oleh candu
dari sebuah bayangan semu
gambaran wajahnya
begitu sempurna dalam pandanganku
hadir mengikat rindu
yang terbuai
dalam relung kalbu
senyummu menyemangatiku
jadi pengiring setiap langkah
tertanam selalu di hati
bahwa kau ada menemani
selalu kau ketuk hati
dengan satu kata pasti
bahwa adamu nyata
bukan sekedar mimpi
#kediri 08/05/19
TERSENYUMLAH BIDADARIKU
*Hidayat*
bidadari yang hadir
temui aku kala sendiri
moga kan kau temui
harapan indah di hati
bidadariku
maafkan aku
yang tak sanggup berjanji
melebihi kemampuan diri
sudilah kiranya
untuk memaklumi
namun
aku kan selalu berusaha
tuk menjaga asa bahagia
demi nyanyian tunggal
di dalam hati
bersama
hingga akhir nanti
tersenyumlah selalu
wahai bidadariku
pandanglah dunia
dengan keindahanmu
inilah diriku pribadi
yang tak bisa
tuk ku ingkari
#07/05/19
SEMANGAT HARI
*Hidayat*
angin menderu sepoi
menyapaku yang sendiri
diatap rumah ini
awan diatas langit
seakan malas tuk beranjak
seakan memilih pasrah
mengikuti kehendak angin
membiarkan sang mentari
bersinar penuh menyapa bumi
dan para insan
yang sedang berjuang
tuk meraih mimpi
sepasang burung
hinggap di atas atap
bernyanyi bersautan
seakan sengaja datang
untuk menyemangatiku
#kediri 06/05/19
JANJI INDAH DI SENJA
*Hidayat*
bermandi sinar surya
di siang membahana
dengan iringan laju
angin yang melaju memburu
terangnya melebihi lentera
membias mata
dan silaukan retina
begitu memaksa
membuatku tak bisa
untuk melihat nyata
ku tatap gunung disana
mungkin hijaunya bisa
tuk tentramkan jiwa
tp percuma
karna sang gunung pun rikuh
terhalang awan tebal yang angkuh
seekor burung yang bernyanyi
beterbangan kian kemari
seolah hadir dan berkata
tunggulah tibanya senja
tuk melihat keindahan dunia...
# kediri 05/05/19
LUKISAN RASA
*Hidayat*
ijinkan ku hadir
di kesepian taman cinta
tuk coba melukiskan rasa
di putihnya hatimu
dengan goresan isi jiwa
yang beraneka warna
berharap selalu
tuk jadi lukisan indah
dalam panorama asmara
sambil memandang jauh
di kejernihan langit biru
diantara gumpalan awan putih
di sudut cakrawala cinta
semoga kan jadi
lukisan rasa yang indah
menenangkan
setiap mata yang memandang
#kediri 04/05/19
PENUNGGU FAJAR
*Hidayat*
Sendiri di keheningan malam
aku sudah biasa
sambil menyaksikan dedaunan pohon
yang melambai-lambai
Tersiram dinginnya
tetesan embun
aku sudah biasa
sambil menatap langit berbintang
walau kadang tertutup
mendung kelam
Berbincang dengan imaji
di ketenangan rasa hati
aku sudah biasa
sambil mengumpulkan
jutaan aksara yang terpancar
dari kedalaman relung jiwa
hingga sang fajar
hadir menyapa
Bersama bias cahaya nya
yang menggaris di kaki langit sana
#kediri 12/05/19
TERTELAN SINAR TERANG
*Hidayat*
kau
yang dulu pernah ada
lalu menghilang
mengapa
kini kau datang
mengundang kembali rasa
yang dulu kau bawa terbang
apakah ini caramu
agar ku penasaran
dan mencarimu
tuk meminta penjelasan
oh cinta
sudahlah pergi
tak usah kau tanya lagi
tentang isi hati
sebab ia tak ada lagi
karena sekarang
rasa itu telah hengkang
bak tertelan
di dalam sinar terang
#kediri 11/05/19
MENGUNDANG INSPIRASI
Kusaksikan sang embun
yang berbisik lirih merdu
membangunkanku
dari mimpi-mimpi malamku
Sebelum akhirnya
ia beranjak lalu
terusir sinar mentari
yang menyilaukan mata
tiada pilihan bagiku
tuk membiarkan kesejukan berlalu
hilang bersama angin
dan bersembunyi
diantara lipatan dedaunan
Hanya pada burung-burung pagi
yang bernyanyi memulai hari
kusapakan imaji
agar inspirasi pagi ini
segera datang menghampiri
#Hidayat
kediri 29 mei 2019
DIBALIK TABIR CINTA
Terdiam ku merenung
akan sisa-sisa rasa hati yang berlari
diantara lelah dan kebencian
Tabir gelapmu
yang mulai terkoyak
dibakar oleh api cemburu
yang tersulut perlahan
Seakan ingin menunjukkan
tentang dirimu
yang sebenarnya
pada dunia cinta
Dan mulai menampakkan
goresan-goresan rasa
yang telah tercipta
diantara hati kita
#Hidayat
kediri,28 mei 2019
DIANTARA BUMI DAN FOTOMU
Kujalani kehidupan
dengan harapan dan keyakinan
dalam bulatnya dunia
yang penuh tantangan
Kupandangi fotomu
dalam bingkai kotak hp ku
begitu sayu
bagai terbalut rindu
Seakan mengetuk rasa
dengan kata-kata mesra
yang tertulis nyata
seolah penuh harapan rasa
Tahukah kau
diantara bulatnya bumi
dan kotaknya gambar foto mu
Ada sebongkah rindu beku
yang selalu menanti
untuk kau cairkan
#Hidayat
kediri 26 mei 2019
MENUNGGU INSPIRASI
Terdiam di malam sepi
menunggu hadirnya inspirasi
yang hingga kini
belum menyapa diri
Rasa jiwa terjeruji
oleh aktifitas hari ini
sedari siang terbakar mentari
hingga ke malam sunyi sepi
Tersenyum lirih
menyaksikan semut-semut menari
hilir mudik kian kemari
seakan tak peduli
akan adanya diri ini
Namun selalu ku singgahi
istana bersama hasrat hati
berharap tuk temui
secercah harapan esok pagi
#Hidayat
26 mei 2019
BERHARAP DI MIMPI
Senggang malam
berbisik pada jiwa
tentang lelah tubuh yang mendera
Dan memaksa tubuh
untuk terpejam lena
di asa hati yang ceria
Imaji yang terkunci
mendekam
tersandra lelah tubuh ini
Membuatku termenung
dan memikirkan kembali
atas apa yang telah kulakukan
di seharian ini
Kuharap mimpi kan hadir menyertai
agar ia membantu jiwa
tuk merangkai aksara
dalam buaian mesra
#Hidayat
kediri ,25/05/19
SYA'IR LAUT BIRU
Sya'ir laut biru
terkata syahdu
diantara puluhan perahu
yang asik melempar sauh
Dikedalaman jauh
ikan-ikan menari riuh
kesana kemari mengisi waktu
mengikuti takdir yang tlah ditentu
Sepoi angin membelaiku
membawa lena dalam bayangan sayu
membiarkan ombak mengayun tubuh
serasa meninabobokanku
Dirimu satu
tempat segala curahan rasa ku
usah meragukan seriusku
dan tunggulah dipantai ridu
tuk melabuhkan rasa
yang terpancar dari dalam kalbu
#Hidayat
kediri,24/05/19
SELALU ADA UNTUKMU
Sekeping hati
yang bercerita tentang luka
di masalalu nya
Sanggupkah
kau berdusta
akan kenyataan yang ada
Di hampir sepanjang malam
kau ceritakan semua
pada rembulan dan bintang gemintang
diatas langit sana
yang seakan diam
tak peduli pada semua
Pun demikian
dengan Sang Surya
yang jua seakan acuh
seolah tak berperasaan
Sudahlah
tak usah kau paksa
tuk bercerita pada mereka
Simpanlah semua
dan ceritakanlah kepadaku
karena aku
akan selalu ada untukmu
#Hidayat
kediri,23/05/19
MENGHARAP PURNAMA
Aku selalu berdo'a
dengan harapan sepenuh jiwa
jika nanti Sang rembulan
sudi turun menyinari taman hati
Kuharapkan ia kan disana
hingga saat purnama tiba
tuk bersinar dengan sempurna
Kuharapkan awan-awan mendung
tiada kan datang
menghalangi pancarannya
Agar ku bisa melihat
tawa ceria bocah yang bermain
dibawah curahan keindahan malam
bisa kita rasakan dalam damai
Hingga suasana indah ini
bisa untuk kita abadikan
dan terkenang
di sepanjang perjalanan kehidupan
#Hidayat
kediri..22/05/19
DI BAHAGIA NYA
Ia yang terikat masalalu
selalu merasa ragu
bak diburu waktu
Akankah bahagia
walau nanti
memaksa masuk di hati
dengan jaminan janji-janji
Entah
aku pun tak mengerti
hanya ingin bersamanya saat ini
tanpa menjadi beban dihati
Aku tak keberatan
jika nanti ia pasrahkan
untuk terus bersama
menjalani apa yang ada
Pun ku tak terpikirkan
jika nanti ia berubah
tuk berjalan kelain arah
bahkan jika harus lepas dari genggaman
Karena bagiku
menemaninya saja
sudah cukup bahagia
tanpa harus memaksa
untuk terus bersama
Karena dia berhak
tuk tentukan hati
dan langkah kehidupannya sendiri
#Hidayat
kediri,21/05/19
MENTARI
Awal pagi
kulihat mentari
tampak enggan bersinar
seolah berat tuk beranjak
dari peraduan
Awan putih
perlahan pergi bersama angin
meninggalkan sisa-sisa goresan
mencipta sebuah lukisan alam
Duhai mentari
sinarilah bumi mu
tak usah kau sembunyi
di balik awan-awan yang kan berlalu
Tiada guna kau lakukan itu
karena sang waktu tak mau tau
akan tetap memaksa
walau kita tiada pernah suka
#Hidayat
kediri,20/05/19
KELELUASAAN RASA
*Hidayat*
Kubiarkan
lelah hati terbang
bersama sepoi angin
yang membelai dedaunan kecil
diantara rerumputan
yang membentang
sepanjang mata memandang
Kumanjakan pandangan
jauh berkelana
tanpa batasan
menyisir cakrawala dunia
dengan keindahan nuansanya
Semoga kan temui
keindahan nyata
yang mendamaikan rasa jiwa
Agar tiada lagi resah
dan kegalauan
yang selalu datang
dan timbulkan beragam pertanyaan
#Kediri 18/05/19
SEMANGAT PAGI
*Hidayat*
Bias cahaya mentari
terpancar di langit
menjadi pertanda awal pagi
bersama asa bahagia
Cerahnya langit pagi ini
secerah harapan hati
menggugah semangat diri
untuk mengisi hari-hari
Berjuta burung pagi
yang riuh bernyanyi
seolah mengingatkanku
untuk selalu optimis
walau apa yang terjadi
Menjalani semua sepenuh hati
tanpa mengeluh kekurangan diri
demi satu harapan abadi
bahagia di sore nanti
#17/05/19
DI BAYANGAN BULAN
*Hidayat*
Sendiri di sudut malam
mengingat wajahmu
yang tersenyum merindu
dalam bayangan bulan
di genangan air laut ini
Kau disana
selalu menunggu pasti
akan kesungguhan hati
pada sebentuk kata janji
Semoga ku bisa
jejakkan langkah kesetiaan
pada hati dan cintamu
Sebab ku tak kan mungkin
sanggup tuk saksikan
mata indahmu
meneteskan embun
kekecewaan yang mendalam
#kediri 15/05/19
TERAMPAS EGO
Anganku melayang tinggi
menerawang mencari arti
akan tulusnya rasa di dalam hati
di awal hari yang sepi ini
Rasa yang kusimpan
tlah terampas dan terbuang
tanpa kepastian
di pinggiran jalan
Tercecer
di sisi-sisi trotoar
bersama
sampah-sampah jalanan
dan debu kendaraan
Akankah semua
bisa kembali tercipta
seperti sedia kala
tanpa harus ada yang tersia-sia
#15/05/19
ASA DI SETITIK PAGI
*Hidayat*
Malam kan berlalu
gelapnya yang kelam
kan segera tersisir fajar
bersama bias cahaya yang menyapa
Dan semua hal
yang selama ini misteri
akan segera berakhir
dengan iringan kokok sang jantan
yang menyambut pagi
Inilah saat kurasa
tuk kembali bersuara
berkata pada dunia
dari tempat semula
Berharap tiada lagi
badai ego yang melanda diri
agar bisa kembali
bermain dan berbagi
seperti dulu lagi
#kediri 14/05/19
MENJAGA SEMAI ASA
*Hidayat*
Kau yang hadir
dari balik riuhnya
gelombang laut
di kehidupan
Coba membawa asa
yang terselip di do'a suci
semoga kan abadi
apa yang telah
kau tanam di hati
Jaga dan siramilah
rasa yang telah kau semai
agar terus bisa berkembang
dan bertahan
di tengah riuhnya gelombang ini
Karena hanya itu
yang bisa membuatnya kuat
dan menjadi pelindungmu
di kemudian hari nanti
#kediri 12/05/19
10 TAHUN RUANG PEKERJA SENI
Dari melata lata sampai akhirnya berdiri tegak perkasa
merajut suara hati seturut kata
menumpahkan nurani berjiwa satria
Ruang Pekerja Seni wadah bagi karsa
menampung semua cita cinta prahara
Ketika satu persatu kata di runut jadi nostalgia
bung Ahmed El Hasby pengasuh nan setia
meluruskan salah baca maupun salah nuansa
Begitulah Ruang Pekerja Seni menata kita
ujung timur ke barat selatan ke utara
kita satu dalam cita dan karsa
Tetaplah perkasa RPS hingga tutup cerita
bhaktiku padamu tetap setia
Karya Ms Sang Muham
#Billymoonistanaku, Rabu, Mei 15-2019 = 07:57 wib
merajut suara hati seturut kata
menumpahkan nurani berjiwa satria
Ruang Pekerja Seni wadah bagi karsa
menampung semua cita cinta prahara
Ketika satu persatu kata di runut jadi nostalgia
bung Ahmed El Hasby pengasuh nan setia
meluruskan salah baca maupun salah nuansa
Begitulah Ruang Pekerja Seni menata kita
ujung timur ke barat selatan ke utara
kita satu dalam cita dan karsa
Tetaplah perkasa RPS hingga tutup cerita
bhaktiku padamu tetap setia
Karya Ms Sang Muham
#Billymoonistanaku, Rabu, Mei 15-2019 = 07:57 wib
Langganan:
Postingan (Atom)








