Sabtu, 12 Juni 2021
Kumpulan Puisi Suyatri Yatri - MENYELISIK WAKTU
MENYELISIK WAKTU
Dia tak mampu membuat senja terpesona dan tidak pun bisa terlena dengan semilir angin menghantarkan bilur kemerahan memburam hitam
Saat netra terpejam, kelam merapal kalam memberi ruang untuk bisa meneruka waktu yang tersisa
Dan dia masih saja enggan menyapa cinta di bait rindu
Sebab kalah dengan detik yang terus berpacu pada poros kesibukan
Lembaran demi lembaran terlewati tanpa bekas dari pengejaran tanpa batas
Dan ia termangu dalam diam di rumah asing tak bertuan
Batsa, 08062021
Suyatri Yatri
SUARA LIRIH
Duka ibu terlalu dalam
Peradaban terluka
Jiwa terguncang
Akar mana lagi yang akan mencengkeram?
Tertatih perih
Merangkum debat dan selisih
Kepalan tinju, darah mendidih
Orang-orang kecil semakin tertindih
Jiwa tertindas hati merintih
Langkah telah kehilangan arah
Tubuh kian rapuh
Jerit tangis pasrah
memeluk bara
menahan raga yang melepuh
Sakit tak terkira
Namun
Masih terus terhimpit
Aturan mengikat dibuat sarat
Mengungkung kebebasan
Sesak dada,
Menyumbat setiap denyut nadi
Absolut berdiri tegak
Dan pada titik kebiadaban
Menjadi tirani
Karya : Suyatri Yatri
Rohul, 7 Oktober 2020
TEMBANG ALAM
Sudah ditakdirkan rembulan tak berkawan
Matahari tak jua menyentuh bumi
Dan bintang pun tiada berbenang
Sunyi adalah makna dari sejuta mimpi
Hening adalah renungan paling bening
Hati bermuhasabah pada Ilahi Robbi
Rohul, 11 Juni 2020
Suyatri Yatri
JANJI TUAN MENINGGALKAN LUKA
Kukremasi diri dari bayang lampau menyulut silau berkubang dalam payau
Di bawah terik mentari kusilau angan di barisan bayu mendesau. Ada risau yang terselip di hati melihat tingkah laku kacau balau
Rusuh jiwa memapah makna yang lusuh tak lagi utuh. Sementara kuncup mekar di selusuh rindu, harapan pun luluh bermandikan peluh.
Kemana kucari suluh yang lama padam tenggelam di amuk debat yang semakin keruh?
Oh ... Tuan yang mendongak ke langit congkak, dengan berkacak tuan lampiaskan kata tak bijak. Pongah melampaui batas bumi berpijak, hingga meninggalkan jejak luka yang menghentak.
Tuan telah menganggap diri sebagai Tuhan, menepuk dada atas tangisan orang kecil tersungkur penderitaan
Manis bibir atas perjanjian
Hanya berpoles kepalsuan
Perut takkan kenyang dengan memakan rayuan
Jangan Tuan redam demokrasi yang sering sungsang dibias pencitraan
"Rintihan menggelepar di balik getar yang tersesat di negeri gusar
Antara samar melampisi pudar takkan jelas dalam tatapan nanar"
Karya : Suyatri Yatri
Rokan Hulu, 12 September 2018
Pekik Camar Aksara Jingga
Hak cipta © 2018 Suyatri Yatri
Semua Hak Terpelihara
SELINTAS KERINDUAN PADA BAIT PENYESALAN
Dari sejarah aku belajar menghargai makna yang hadir
Prasasti cinta yang berdiri di situs rasa tertulis rindu dari perjalanan jiwa
Ada rahasia di antara kata yang nyaris tak terbaca di ruang jiwa yang tertutup
Ingin kubuka tabir di setiap lembaran usang
Namun ragu memenjarakan keyakinan hingga langkah pun terhentikan
Biarlah fatamurgana menjadi penghalang
Samar di ujung rapuh menguatkan pilu bersandar pada duka
Di ceruk waktu mengimla jiwa Mengikis kerak yang melekat di hati
Satu titik terlihat jelas mengental buih mengambang tanya
Apakah bias akan selamanya berpadu pada pantulan cahaya di cermin retak?
"Tidak, tidak akan aku berkubang dalam jelaga menyesakkan dada."
Embun masih setia menemani fajar di hangatnya sajadah
Bersimpuh tunduk, kukalahkan keputusasaan bersama zikir
Gelap dalam kelam bersanding air mata malam kutakbirkan Asma-Nya
Kulepaskan pakaian benci dan dendam mengganti dengan sabar dan ikhlas
"Alam adalah rahasia Ilahi maka kuserahkan segalanya hanya pada-Nya."
Karya : Suyatri Yatri
Ujungbatu, 23 Juli 2018
Pekik Camar Aksara Jingga
KEMELUT
Ujung pena tak setajam waktu yang terus merayap pelan namun pasti
Petualangan kata terhenti di satu titik
Koma menawarkan jeda
Sebaiknya perenungan diri lebih penting dari sekadar membuang energi saling hujat
Batsa, 16062021
Suyatri Yatri
TENGGELAM DALAM SUNYI
Setapak waktu
Netra menggurat makna
Sunyi adalah jiwa
Senarai zihir berlabuh di bibir
Dedoa berembus pelan
Dari bait rindu menggamit cahaya bertabur di dada
Engkau masih membentangkan tangan teduh
Engkau masih selembut embun menyejukkan jiwa nan dahaga
Munajat cinta di punggung muhasabah
Batsa, 19062021
Suyatri Yatri
MEMBACA TIRANI
Hembuskan napas
tersengal
Lepaskan kata
terjungkal
makna pun
terpenggal
Tiada ujung
pangkal
Angkuh bercampur ambisi
Malam pekat
sendu
Membaca waktu
Luruh
ngilu
Nafsu
memburu
Pita merah berkibar marah
Algojo tebas; pangkas tirani!
Rokan Hulu, 5 April 2018
Suyatri Yatri
ENERGI CINTA
Karya : Suyatri Yatri
Purnama enggan menaruh jiwanya pada bintang
Sebab bulan percaya energi sinar matahari
Sementara ketulusan bumi mendapat cahaya keduanya dengan keikhlasan cinta
Tiada pilihan langit untuk menghentikan rasa hadirkan haru dalam tangis
Hingga suburkan benih kasih melahirkan sayang romansa hutan
Birunya laut menguatkan kesabaran dari empasan gelombang
Di sanalah bukti keteguhan jiwa terendap makna kesungguhan hati
Rokan Hulu-Riau, 3 April 2018
Quatrain
RASA HATI
Sepi menyulam malam
Sendiri rangkai kenangan
Kulampiaskan rasa di langit lebam
Sebentuk kata rindu dipusarakan
Hati telah bergemuruh syahdu
Memetik tangga nada debarkan dada
Menatap lukisan di lautan biru
Ada cinta terselip di jiwa
Selarik pinta sembunyikan makna
Tatapan kasih berdaun rimbun
Hentakkan jejak di altar kata
Bersulam pernik tetesan embun
Tak bisa dipungkiri percikan pijar cinta
Bersemayam teduh di ruang hati
Biarkan tunas bersemi di pagar bahagia
Tanpa ungkapan mengikat janji
Rokan Hulu-Riau, 29 Maret 2018
#Romansa_SuyatriYatri
RINDU BIDADARI
Hatiku
tersulut rindu
menggebu
tak menentu
Gelisah kian memburu
Ingin segera bertemu
Pada bayu
aku berseru
Menitipkan pesan di ujung waktu
di bait kisah teramu
bersanding cerahnya langit biru
Melangkah pasti
walau berhias
benih cemburu
Kujemput nyanyian bidadari hatiku
Gelegar petir bersambar kelakar
Ujungbatu, 7 April 2018
#SuyatriYatri
PANGERAN LAUT DI DERMAGA CINTA
Belawan masih bersuara
Kenanganmu
masih ada
Takkan kulupa
ukiran nama
Walau tersamar kata
Di sela pasir menimbun raga
"Cinta masih setia singgahi dermaga."
Kupandang karang
menghempas gelombang
Wajahmu terbayang
terus kukenang
Kepergianmu
membuat aku gamang
Laut biruku
hadirkan rindu
Ombak bersenandung syahdu
Jiwa baharimu
Masih melekat; terpatri
di hati anak gunung
Terumbu karang melambai
naluriku terbuai
Bisikan bayu membelai
Cintaku terlerai
hingga hatiku terluka berderai
Batin pun bertikai
sementara waktuku terbengkalai
Kusimpan jejak kasih
di timbunan pasir
Nanti,
aku kembali menyisir
Setiap celah makna
yang mampir
Longgarkan syaraf
agar mampu berpikir
janjiku tak pernah mangkir
Kau
yang kusebut pangeran laut
berbintang
nahkoda bijak!
Rokan Hulu, 8 April 2018
#SuyatriYatri
REBAH MERINGKUK
: Suyatri Yatri
Dekapan gigil
mengguncang gemetar raga
kusembunyikan dalam selimut
menahan rasa
menusuk pori
kalah jiwa
Kuyup menyiksa
Jemari tak berasa
Keriput pun tak kuasa
menggenggam bara
Erangan semakin menggila
Meringkuk melipat lutut berniat membulat bola
Tak ingin sebentuk kata
gerogoti kekebalannya
Rebah mewabah salah
pahit pun merubah selera lidah
Kalah belulang menyanggah!
Rohul, 9 April 2018
BENANG SUTRA BERLAPIS DUA
karya : Suyatri Yatri
Pada siapa kusanjung rasa memerih makna
tak hendak dia memintal cinta
dari benang sutra berlapis dua
Tak ingin hatiku bercermin ganda
Cinta bukan syahwat yang berkuasa
Memahami batin selami setia
Jangan mencari teduh jiwa
luka yang pasti diterima
sebab laguku tak berirama
Kosong hampa tak berisi
Tiada permata tersimpan di hati
Tak perlu merayu cari simpati
sebab pintu telah terkunci
Palingkan wajahmu tak perlu menyelinap di hati
rasa tak bisa dipaksakan
sebab langit tak selalu biru
;Pergilah jauh!
Rokan Hulu. 11 April 2018
TUNGKU PEMBAKARAN
: Suyatri Yatri
Jika tungku pembakaran makna
telah menghanguskan rasa
dan juga dusta pun
mengabu mengapa
jujur dipertanyakan juga
Sementara
nanah tak percaya
mengucur deras pada tikaman
yang mematikan jiwa
Lelah menutupi
namun terbuka juga
Sedu sedan
dalam setiap tarikan napas
terbata
"Jerit hatiku pada fajar tanpa purnama!"
Tanda bermuram
menafsir kalam
Kaki tergelincir
ke lembah curam
Isak rindu lebam
kucari
di kantong kiri
penawar perih ini
Lepaskan sesak tak persegi
Tabiat kalap sendu memburu
Kubisikan nyanyian cinta berpagar racun sianida!
Rokan hulu 10 April 2018
SPEKULASI EMBUN FAJAR
Ketika embun fajar menyapa
Sederet kata berbaris mengejutkan mata
Rasa mengiris tak percaya
Sepotong hati tercabik mengentalkan rasa
Goresan dalam tertikam di dada
Di kantong kiri yang tak terisi beraroma curiga
membentuk tanda tanya
sisakan spekulasi membumbung jelaga
terasa sesak membuncah aksara
meledak jua akhirnya
Diam menatap langit kelam berwarna hitam
tertunduk kepala mengimla kalam
Kemana arah yang tak ada kecam
walau asing jiwa lebam
ikhlas hati bersemayam
Rohul, 13 April 2018
#SuyatriYatri
TUNAS RINDU DI TAMAN HATI
: Suyatri Yatri
Semakin kuusir segala rasa
semakin cemas membalut jiwa
Telah kubirukan warna minda
Saat pertemuan dunia maya
Bayanganmu mengusik pikiranku
Hingga hadirkan tunas rindu
Telah kupersiapkan kata indah untukmu
Bukan sekadar polesan merayu
Getaran menguasai ruang kalbu
Cemasku berkelana bersamamu
Ingin ragaku terbang memelukmu
Namun kau belum menjadi kekasih halalku
Semakin subur bunga di taman hati
Memberi warna di larik puisi
Tak ingin kuberpaling lagi
Kusandarkan bait doa dalam ikatan suci
Rokan hulu, 16 April 2018
MEMETIK RINDU FAJAR
Karya : Suyatri Yatri
Fajar berembun suci
Muhasabah diri
Zikir pada Ilahi Robbi
Di bentangan sajadah sunyi
Memintal doa hati
Merapal kalam memetik rindu di pucuk sepi
Kulingkarkan tafakur
Tak ingin jiwaku kufur
Raga tersungkur
saat dini mendengkur
Tetesan bening mengalir munajatkan syukur
Rohul, 18 April 2018
TUAN PERGI
Karya : Suyatri Yatri
Tanpa sadar tuan telah menyentuh hati yang lama terkunci
Kini tuan pergi
membawa tanda tanya di ujung hari
Antara abu-abu dan merah hati
di manakah tuan berdiri
Aku telah berkeliling berlari
Mencari ke seluruh negeri
namun tuan tak bernyali
Ungkapkan rasa ini
Tuan bersembunyi
hilang di telan bumi
Haruskah aku kembali
menawarkan kasih suci
Menjadi cadas tajam di lembah sunyi
Berharap kematian hadir menghampiri
Rokan Hulu, 17 April 2018
BAIT AKSARA DI LANGIT BIRU
Karya : Suyatri Yatri
Bila hadirku menuai cemburu
Jangan usik rumahku
Katakan dengan sejujur kalbu
Aku pahami maksud tanpa berseteru
Bila ingin hentikan kekataku
Maaf imajiku menolak itu
Sebab inspirasi jiwaku menggebu
Berputar diksi di kepalaku
Jangan sirami luka dengan sembilu
Beri penawar getah betadin yang teramu
Agar tak berkarat di hatimu
Bait aksara menjadi sasaran lakumu
Aku kembali goreskan makna rindu
Berpayung langit biru
Senyumku menyatu pada senandung syahdu
Syairku terus melukis estetika di lembaran merah jambu
Rohul, 30 April 2018
PEKIK CAMAR AKSARA JINGGA
Lincahnya kepak camar
membuat manufer diksi yang tak samar
Terbang menari di percikan air laut, bertengger di atas karang
tanpa rasa takut dihempas gelombang
Sudah terbiasa dengan asinnya garam senyuman riak berpusara membaur di permukaan tak karam
Ukiran aksara menancap di lembaran terumbu karang
Berwarna biru terang
bergradasi hijau yang menawan
Hadirkan bait rindu di pelabuhan
Larik pun menjadi sebuah kebahagiaan
Menyaksikan senja bersandar makna
Di antara inspirasi dari telaah diri
Bukan hasil mematahkan ranting suci
Dari silaturahmi
Pekik camar berpayung etika
membentuk karakter jiwa
Memungut kata menjadi estetika
Tanpa debat dan prasangka
Perisai motivasi suarakan hati nurani
Camar, 29 April 2018
MENYULAM RENDA BAHAGIA BIRU
Karya : Suyatri Yatri
Ingin kunikmati hangatnya pelukmu
namun sayapku tersangkut di antara ranting kayu
Kupandangi senyum bidadari cantik berpoles madu
Menyulam renda bahagia biru
Genggaman rasa menyentuh rindu
Di beranda, duduk setia menunggu
"Maaf sayang, bila langitku masih kelabu"
Dilema dari pergolakan trauma terus mengikutiku
Bersanding luka di dinding kalbu
Saat hati terkunci mati membeku
Kau hadir dalam canda yang mendamaikan jiwaku
"Biarkan sayap camarku merentang walau bergumul debu."
Kuncup tunas bersemi tanpa ragu
Terjaga hijau takkan layu
Di hatiku ingin berseru
membisik rindu menjadi satu
Di bawah payung kebersamaan tak berseteru
Menjadikan cahaya terang beraroma gaharu
Senyum ikhlas senandungkan gita cinta nan syahdu
Rohul, 28 April 2018
Kamis, 10 Juni 2021
JIKA TEMARAM
saatnya memilah catatan, dan menghitung kenangan singah, pada kumparan waktu. kemudian melafalkan doa tentang perjalanan masa.
semuanya, seperti kembali pada putaran kehendak, lahir kemudian membesar. kita bergumam :
tumbuhlah, karena temaram adalah kehidupan, selamat ulang tahun, ruang pekerja seni.
Oleh : Uwa Kijoen
Kadipaten, 06062021
HUT Ruang Pekerja Seni ke 12 ( 6 Juni 2009 - 6 Juni 2021)
BERCUMBU DENGAN KATA BERKARYA DENGAN CINTA
Aku menggamit waktu menemui pemilik sunyi
Sepi menemani hingga hening kian berarti
Tersampaikan hasrat mengemasi mimpi
Membungkus rautan inspirasi dengan segala ekspresi
Tidak perlu banyak cakap mengungkap kisah perjalanan
Cukup bercumbu dengan kata, berkarya dengan cinta
Biarkan imajinasi mengembara dalam diam
Jemari menari seiring nyanyian angin
Kita simak dimana raga bertindak
Mencari letak paling bijak
Meninggalkan jejak pergulatan gejolak
Rasa dan karya tertuang di ruang pekerja seni
Karya : Yuni Tri Wahyu
Tangerang, 04 Mei 2021
Menuju HUT RUANG PEKERJA SENI Ke-12 ( 6 Juni 2009 - 6 Juni 2021)
MILAD RUANG PEKERJA SENI
Betapa indah gugusan kata-kata
dari karangan-karangan itu
oleh pena pensyair yang berwatak luhur
lengkung diksi menghasilkan romantisme
Ragam sastra seperti cawan
yang tak kekurangan anggur
ruas relungnya penuh timbunan gandum
berpagar bunga-bunga bakung
Hei ...
Kuteriakan kata milad
menggelegar menembusi menara gading
dari telaga sunyinya kalbu
di pintu gerbang waktu
entah pagi atau siang bahkan malam
menghadap semesta berkepang-kepang
***
Karya : Maks Onesimus Talan
Tublopo,09/06/2021
Salam Seniman
![]() |
MAKS ONESIMUS TALAN |
BRAVO RPS
Teruslah melangkah dan bermimpi sampai senja tak lagi mampu mengeja rona tembaga bara dan yakin suatu hari nanti seluruh harapan kasih dan sayang membeku di titian malam melengkapi seni dan budaya Indonesia
Selamat Milad Ruang Pekerja Seni, dalam usia yang semakin matang, tetap dan selalu berkibar di bumi pertiwi
Oleh : _nebula
#bumi_minang
Juni10_2021
Rabu, 02 Juni 2021
Kumpulan Puisi Tito Semiawan - WAJAH SILAM
SEPUTAR PAGAR
Pagar melintas semak rebah berserak
Memanjang menerjang terang terawang
Putih senja luruh sebagai tirai
Berhias kuntum bunga dan daun kering
Tugu tua menjaga keping kenangan
Mengapit gerbang menarik larik sunyi
Semut berbaris mengais garis
Bayang perlahan hilang di rembang petang
Lampu taman sertai bulan yang sabit
Kuningnya memeluk dampingi diam
Malam menghindar sergapan pemangsa
Pagar menahan sepi menanti pagi
TITO SEMIAWAN
300521
----------<0>----------
WAJAH SILAM
Menyusun potongan tak lengkap wajahmu
Serupa mengais ingatan dari timbunan
Setiap bilah garis yang berkarat oleh waktu
Masih menyisakan samar yang memudar
Kadang senyummu sekilas melintas
Lalu aku tergesa mengeja setiap pertanda
Dan dari kedalaman rindu tak berdasar
Kesadaran mencoba mengingat siluetmu
Ketika guratan ingatan hanya sanggup melukis bayangmu
Air mata menguatkan sisa jejak hadirmu, kekasih
Hati sibuk menjalin harap dan memintal duka
Kau tetap hilang dalam keabadian
TITO SEMIAWAN
300521
----------<0>----------
RUMAH TIADA PINTU
Rumah tiada pintu dengan sokoguru kayu gaharu
Berdiri murung di atas bukit penantian
Atapnya rumbia dijalin dari pelepah langit
Menepis hujan pertama musim gulana
Dan panas gerhana malam tanpa bintang
Angin berhembus masuk menyapa setiap sepi
Rumah tiada pintu bercat suram temaram
Aksennya menjadi sebentuk jendela hati
Hiasan renda putih mengusik buram kaca
Sepotong pedih teraling sepanjang teralis
Memisahkan luasan dunia berwarna harapan
Dari sempit kecewa di ruang senyap
Rumah tiada pintu mendongak congkak
Tegak sendiri di hamparan rumput lamping bukit
Jalan setapak menanjak miring belok berkelok
Mengiringi langkah menginjak jejak kepastian
Di punggungnya batu padas tertanam menghujam
Pagar bata hijau lumut memisah dunia fana
TITO SEMIAWAN
300521
----------<0>----------
TIDAK BERUBAH
Lonceng besi telah usai berdentang
Tanah lapang sendiri dan sepi
Matahari belum lagi sepenggalah
Kita selalu bersanding di halte yang sama
Dengan topeng tergores sedikit cemas
Menanti teriak serak kondektur
Mataku selalu menghampiri diammu
Berupaya ramah lewat sinar mata yang menyelinap di kerumunan
Dan hatiku menyapa mesra dengan tersipu malu
Kerumunan wajah menyesaki tangga
Kau melangkah perlahan jauhi senyumku
Sebagian debarku hilang terbawa angin
Aku nanar mengawasi segenap bayangmu
Sesaat menghilang di balik kaca retak
Aku termangu dan cemas melepas wajahmu
Lonceng besi telah usai berdentang
Tanah lapang sendiri dan sepi
Matahari melewati sepenggalah
TITO SEMIAWAN
130621
----------<0>----------
DI BAWAH SATU LANGIT
Natal melingkupi bumi dan hujan berderai
Genta berdentang kudus menguak sunyi
Lantunan lagu puji menebar harap
Bisikan doa mengoyak senyap
Sawah kembali menghitam sebab lembab mengendap
Menanti karunia tangan terampil menganyam nasib
Ketika matahari hampir sisakan lelah
Alunan panggilan dari surau desa berkumandang mengundang
TITO SEMIAWAN
130621
----------<0>----------
TAK DAPAT KELUAR DARI BENAK
Emosi coba hempaskan
Ketika kau mengajuk lemah
Isak sedu tertahan
Rintih airmata
Cemas kata yang ruah
Sebagai rengek tiada kerap
Harga diri telah gadai harap
Prasangka tetap halangi tatap
Gelap mata telah sembilu
Amarah menjadi yang ke tiga
Ku rapal setiap sumpah
Kau tetap tak dapat keluar dari benak
TITO SEMIAWAN
130621
----------<0>----------
CATATAN SABTU
Bersua hari di pucuk muda angsana
Pagi menari layaknya selendang pelangi
Kicau burung sapa mentari sejarak penggalah
Melompat di bilah ranting dan kepakkan sayap
Segenap rencana tuntas kepung malam
Titik sua tetaplah janji terucap
Sabar! Tiada hingga sore memandang Barat
Langit menulis ketentuannya. Pasti
Awan melepas amarah dan gemuruh hitam
Hanyutkan harap pertemuan
Cemasku sejumlah deras meredam hati
Menghapus semua catatan Sabtu
TITO SEMIAWAN
130621
----------<0>-----------
KABUR DARI RUMAH
Berjingkat perlahan susuri sunyi selasar
Hindari suara mengusik tidur
Cahaya terobos pintu terangi temaram lantai
Sepotong desah sayup sampai dari hangat selimut
Hatiku pecah karena berontak murka
Kutumpahkan semua serapah lewat sinar mata
Ayah tudingkan setiap sanggahan dari ujung jari
Matanya api geramnya halilintar
Ibu hanya diam mendekap air mata yang gundah
Duduk meringkuk memeluk duka
Setiap alasan kumuntahkan
dan argumen kutikamkan pada amarah
Hingga akhirnya hanya sepi dan tercenung
Karam karena emosi yang menguap
Perlahan ayah memandangku dan berucap gemetar
"Engkau beda agama, nak!"
Kaki kian berat menyeret terbebani detak jam dinding
Ruang tengah serasa tanpa ujung
Samar, perabot terlihat memandang debarku
Daun pintu congkak menanti tibaku
Pada mulanya adalah cinta
Berkubang bersama bahagia
Membangun surga dengan rindu-rindu kecil
Menghiasnya dengan cemburu yang manis
Ketika esok telah padu dan kata tiada bantah
Kerikil tiba-tiba bergulir
dan membesar menjadi batu perbedaan
Diskusi dan pembenaran selalu didengungkan
Jalan tengah pembelaan telah dibangun
Kita akan tetap satu cinta di atas dua keyakinan
Kau buka hati orangtuamu
Aku memohon restu ayah ibu
Meja dan kursi silahkan lewat
Memberi ruang sedihku jalan
Suara malam samar berdesir
Menutup gelap di balik pucat tembok
Kumasukkan baju ke dalam ransel
Begitupun segenap amarah dan sedih pedih
Kecewa tak lupa kusematkan
Air mata menemani tiap gerak
Diam sesakkan dada
Aku menyumpah pada adil
Mencerca setiap ucap yang melecut
Kubulatkan tekad untuk tentukan arah nasib
Kuarahkan pandang pada seputar kamar
Dengan gontai dan menunduk
kaki melangkah menuju pintu
Pintu terdorong dengan hati berat
Tanah perjanjian terbentang menantang
Kupandang langit malam dan taburan bintang
Hatiku penuh dan berteriak : "Cintaku, aku berontak!"
TITO SEMIAWAN
200621
----------<0>----------
Pagar melintas semak rebah berserak
Memanjang menerjang terang terawang
Putih senja luruh sebagai tirai
Berhias kuntum bunga dan daun kering
Tugu tua menjaga keping kenangan
Mengapit gerbang menarik larik sunyi
Semut berbaris mengais garis
Bayang perlahan hilang di rembang petang
Lampu taman sertai bulan yang sabit
Kuningnya memeluk dampingi diam
Malam menghindar sergapan pemangsa
Pagar menahan sepi menanti pagi
TITO SEMIAWAN
300521
----------<0>----------
WAJAH SILAM
Menyusun potongan tak lengkap wajahmu
Serupa mengais ingatan dari timbunan
Setiap bilah garis yang berkarat oleh waktu
Masih menyisakan samar yang memudar
Kadang senyummu sekilas melintas
Lalu aku tergesa mengeja setiap pertanda
Dan dari kedalaman rindu tak berdasar
Kesadaran mencoba mengingat siluetmu
Ketika guratan ingatan hanya sanggup melukis bayangmu
Air mata menguatkan sisa jejak hadirmu, kekasih
Hati sibuk menjalin harap dan memintal duka
Kau tetap hilang dalam keabadian
TITO SEMIAWAN
300521
----------<0>----------
RUMAH TIADA PINTU
Rumah tiada pintu dengan sokoguru kayu gaharu
Berdiri murung di atas bukit penantian
Atapnya rumbia dijalin dari pelepah langit
Menepis hujan pertama musim gulana
Dan panas gerhana malam tanpa bintang
Angin berhembus masuk menyapa setiap sepi
Rumah tiada pintu bercat suram temaram
Aksennya menjadi sebentuk jendela hati
Hiasan renda putih mengusik buram kaca
Sepotong pedih teraling sepanjang teralis
Memisahkan luasan dunia berwarna harapan
Dari sempit kecewa di ruang senyap
Rumah tiada pintu mendongak congkak
Tegak sendiri di hamparan rumput lamping bukit
Jalan setapak menanjak miring belok berkelok
Mengiringi langkah menginjak jejak kepastian
Di punggungnya batu padas tertanam menghujam
Pagar bata hijau lumut memisah dunia fana
TITO SEMIAWAN
300521
----------<0>----------
TIDAK BERUBAH
Lonceng besi telah usai berdentang
Tanah lapang sendiri dan sepi
Matahari belum lagi sepenggalah
Kita selalu bersanding di halte yang sama
Dengan topeng tergores sedikit cemas
Menanti teriak serak kondektur
Mataku selalu menghampiri diammu
Berupaya ramah lewat sinar mata yang menyelinap di kerumunan
Dan hatiku menyapa mesra dengan tersipu malu
Kerumunan wajah menyesaki tangga
Kau melangkah perlahan jauhi senyumku
Sebagian debarku hilang terbawa angin
Aku nanar mengawasi segenap bayangmu
Sesaat menghilang di balik kaca retak
Aku termangu dan cemas melepas wajahmu
Lonceng besi telah usai berdentang
Tanah lapang sendiri dan sepi
Matahari melewati sepenggalah
TITO SEMIAWAN
130621
----------<0>----------
DI BAWAH SATU LANGIT
Natal melingkupi bumi dan hujan berderai
Genta berdentang kudus menguak sunyi
Lantunan lagu puji menebar harap
Bisikan doa mengoyak senyap
Sawah kembali menghitam sebab lembab mengendap
Menanti karunia tangan terampil menganyam nasib
Ketika matahari hampir sisakan lelah
Alunan panggilan dari surau desa berkumandang mengundang
TITO SEMIAWAN
130621
----------<0>----------
TAK DAPAT KELUAR DARI BENAK
Emosi coba hempaskan
Ketika kau mengajuk lemah
Isak sedu tertahan
Rintih airmata
Cemas kata yang ruah
Sebagai rengek tiada kerap
Harga diri telah gadai harap
Prasangka tetap halangi tatap
Gelap mata telah sembilu
Amarah menjadi yang ke tiga
Ku rapal setiap sumpah
Kau tetap tak dapat keluar dari benak
TITO SEMIAWAN
130621
----------<0>----------
CATATAN SABTU
Bersua hari di pucuk muda angsana
Pagi menari layaknya selendang pelangi
Kicau burung sapa mentari sejarak penggalah
Melompat di bilah ranting dan kepakkan sayap
Segenap rencana tuntas kepung malam
Titik sua tetaplah janji terucap
Sabar! Tiada hingga sore memandang Barat
Langit menulis ketentuannya. Pasti
Awan melepas amarah dan gemuruh hitam
Hanyutkan harap pertemuan
Cemasku sejumlah deras meredam hati
Menghapus semua catatan Sabtu
TITO SEMIAWAN
130621
----------<0>-----------
KABUR DARI RUMAH
Berjingkat perlahan susuri sunyi selasar
Hindari suara mengusik tidur
Cahaya terobos pintu terangi temaram lantai
Sepotong desah sayup sampai dari hangat selimut
Hatiku pecah karena berontak murka
Kutumpahkan semua serapah lewat sinar mata
Ayah tudingkan setiap sanggahan dari ujung jari
Matanya api geramnya halilintar
Ibu hanya diam mendekap air mata yang gundah
Duduk meringkuk memeluk duka
Setiap alasan kumuntahkan
dan argumen kutikamkan pada amarah
Hingga akhirnya hanya sepi dan tercenung
Karam karena emosi yang menguap
Perlahan ayah memandangku dan berucap gemetar
"Engkau beda agama, nak!"
Kaki kian berat menyeret terbebani detak jam dinding
Ruang tengah serasa tanpa ujung
Samar, perabot terlihat memandang debarku
Daun pintu congkak menanti tibaku
Pada mulanya adalah cinta
Berkubang bersama bahagia
Membangun surga dengan rindu-rindu kecil
Menghiasnya dengan cemburu yang manis
Ketika esok telah padu dan kata tiada bantah
Kerikil tiba-tiba bergulir
dan membesar menjadi batu perbedaan
Diskusi dan pembenaran selalu didengungkan
Jalan tengah pembelaan telah dibangun
Kita akan tetap satu cinta di atas dua keyakinan
Kau buka hati orangtuamu
Aku memohon restu ayah ibu
Meja dan kursi silahkan lewat
Memberi ruang sedihku jalan
Suara malam samar berdesir
Menutup gelap di balik pucat tembok
Kumasukkan baju ke dalam ransel
Begitupun segenap amarah dan sedih pedih
Kecewa tak lupa kusematkan
Air mata menemani tiap gerak
Diam sesakkan dada
Aku menyumpah pada adil
Mencerca setiap ucap yang melecut
Kubulatkan tekad untuk tentukan arah nasib
Kuarahkan pandang pada seputar kamar
Dengan gontai dan menunduk
kaki melangkah menuju pintu
Pintu terdorong dengan hati berat
Tanah perjanjian terbentang menantang
Kupandang langit malam dan taburan bintang
Hatiku penuh dan berteriak : "Cintaku, aku berontak!"
TITO SEMIAWAN
200621
----------<0>----------
![]() |
| TITO SEMIAWAN |
Kumpulan Puisi MS Sang Muham - JIKA MASIH ADA WAKTU
AKU SALAH MENILAI
Karya MS Sang Muham
Manalah kutau hatimu berkata sejujurnya
ketika di dunia nyata kau cuma tertawa
tawamu menawarkan sejuta cerita
aku terpesona
hanyut terbawa arus hingga ke muara
jiwa melambung ke pusaran asmara
Di keramaian ibu kota
kau cipta sunyi di sepanjang kalbu luka
sungguh tak kusangka
Kau tawarkan madu di bibir berbisa
dengan polosnya kuteguk tanpa prasangka
aku limbung susah cari obatnya
Hingga kini aku pun seperti tak percaya
tapi biarlah kubingkai di pustaka jiwa
#Billymoonistanaku, Rabuwage, Juni 02-2021 = 21.10 wib
JIKA MASIH ADA WAKTU
Karya MS Sang Muham
Jika masih ada waktu senggang
ketika sunyi merangkul jiwa
dan sanubari terus menerus meradang
singgahlah di beranda muka
kutunggu hingga siang
kita luruskan lika liku cerita
Bawalah sebingkai jiwa berikut setangkai mawar
agar bersama kita padamkan hati yang terbakar
hilangkan semua kalimat ingkar
Telah kusiapkan naluri untuk memaklumi
aku sudah ikhlas apa pun terjadi
merelakan ikatan kata melepas simpul janji
Setelah ini jangan lagi menoleh kebelakang
lupakan semua cerita terbilang
#Billymoonistanaku, Rabuwage, Juni 02-2021 = 20.40 wib
SATU TUJUAN
Karya bersama Nanik Sunarni dan MS Sang Muham
Tujuanku hanyalah satu
terus maju demi cita dan misiku
halangan rintangan dan hujatan tak berdasar
takkan kupikirkan karna hanya buang waktu
kelak pasti kau paham sepak terjangku
ketika saatnya semua akan di gelar
Sekarang di penghujung jalan panjang
bayang bayang semi nyata meraih bintang
menanti ridho-Mu Tuhan Yang Maha Penyayang
Kuyakinkan diri pada semua impian hati
semoga janji bathin terpenuhi
terbayar lelah letih selama ini
Semua terserah kehendak Gusti Pangeran
bagianku berserah pasrah berpengharapan
#Belantaraibukota, Sabtukliwon, Mei 29-2021 = 16.46 wib
RAHASIA KEMATIAN
Karya MS Sang Muham
Satu persatu pergi tak pernah kembali
berbagai penyebab alasan pribadi
konon jiwa lepas tak terkendali
berbagai keyakinan menurut agama yang di percayai
bagiku roh kembali ke Bapa jiwa menanti
hingga tiba saatnya nanti
Kematian begitu menakutkan
menghantui tiap pribadi dalam kekalutan
tapi bersyukur bagi insan yang berserah berpengharapan
Apa yang terjadi setelah raga membumi
siapa yang akan di adili
berapa lama harus menanti
Kematian adalah bayang bayang rahasia Tuhan
tak seorang pun luput terbebaskan
#Billymoonistanaku, Minggulegi, Mei 29-2021 = 06.46 wib
MENCIPTA JARAK MENYEMAI SUNYI
Karya MS Sang Muham
Sempat kurasakan sunyi seketika
ketika kau putuskan untuk mencipta jarak
aku tak habis pikir sesungguhnya
mengapa ini terjadi serentak
dan dengan alasan mengada ada
kau pun bertindak
Waktu bergulir seperti tak terjadi sengketa
awalnya seperti bermain sinetron saja
lama kelamaan jadi terbiasa
Aku tak tau apakah sesuai kontrak
atau kemesraan sudah mulai retak
kucari jawab hingga lapisan hati berkerak
Menjalani hari hari serupa berjalan sendiri
sebatang kara di ramainya kota ini
#Billymoonistanaku, Seninwage, Juni 07-2021 = 19.29 wib
SEMOGA ESOK KAN GEMILANG
Karya bersama Nanik Sunarni dan MS Sang Muham
Ingin rasanya datang dengan seikat kembang
nikmati cakrawala dengan bulan dan berjuta bintang
semilir sepoi malam meredam kebencian
sambut gemilang esok kan datang
bersama sepikul asa terbilang
pagi membawa secercah harapan
Aku berharap kau masih seperti dahulu
memetik ranum melati di pucuk rindu
seperti kebiasaanmu sembari menggumamkan lagu
Tetaplah menyemai kebajikan sepanjang kehidupan
bersahabat dengan alam memuja kebaikan
silaturahim tetap di jaga meluruskan jalan
Begitulah sahabat puisi ini pun kuakhiri
sembari bermunajat nuansa cair kembali
#Billymoonistanaku, Jumatlegi, Juni 04-2021 = 20.10 wib
MENUJU BATAS NORMAL
Karya MS Sang Muham
Tak elok terus menerus mengalah
meski kesabaran tak sepanjang penggalah
bahkan barangkali melampaui batas searah
tapi tentu ada ujung normal
bukan hendak mengganjal
menjalani semua yang halal
Sudah saatnya menunda hasrat
jangan menunggu kiamat
agar jiwa selamat
Kali ini biarlah raga terbentur pada fakta
agar esok semakin terbiasa
pelan pelan mundur dari arena
Terima kasih atas segala hikmat selama ini
silang kata mari kita akhiri
#Billymoonistanaku, Kamiskliwon, Juni 03-2021 = 06.10 wib
SERIBU GURINDAM
Karya MS Sang Muham
Seribu gurindam sia sia belaka
Surat undangan memutus tali jiwa
#Puisiduabaris, 06152021 .--
SENJA SUNYI
Karya MS Sang Muham
Setangkup rindu kubawa berlari
tak perduli lagi apa pun terjadi
layu sudah pucuk pucuk rasa
menyesakkan dada
menyisakan hati yang terluka
luka asmara
Sekarang tak sanggub lagi aku berlari
usia di gerogoti senja yang sepi
sudah saatnya menepi
Ketika sendiri terjadi dialog dalam diri
akhir diskusi tak perlu menyesali semua yang terjadi
sebaiknya semua cerita di tata rapi
Jadikan diri berguna menjalani senja sunyi
bersyukur apa pun terjadi
#Billymoonistanaku, Selasapahing, Juni 15-2021 = 19.39 wib
MENGAPA KITA
Karya MS Sang Muham
Mengapa kita masih saja menyimpan syak wasangka
menduga duga dalam remangnya cuaca
mengesampingkan logika
membiarkan hati terus membara
lalu mengambil sikap diam seribu bahasa
tak pernah menyelesaikan sengketa
Rentang panjang waktu mengukir usia
jauh berjalan banyak pengalaman di mata
mengapa kita masih menyimpan kepahitan di dada
Di senja tak tentu di ujung usia
mari berhenti di halte cermin jiwa
mengoreksi diri di depan kaca benggala
Duhai Gusti Pangeran Maha Mulya
ampunkan hamba dari segala dosa
#Billymoonistanaku, Selasapahing, Juni 15-2021 = 06.26 wib
TERSERAH APA MAUMU
Karya MS Sang Muham
Kau berputar-putar dari itu ke itu saja
Lidahku tumpul sudah tak berbisa
#Puisiduabaris, 06142021.--
AKU SEKARAT DI BELAI NIKMAT
Karya MS Sang Muham
Aku sekarat di lingkaran berkarat
ingin berlari kakiku terikat
antara dosa dan nikmat
jatuh bangun bahkan tubuh terlipat
hari ini tobat esoknya berbuat
hati terpikat ragaku tertambat
Jejaring syetan serupa sebuah pukat
setelah terjaring di bius lalu hanyut
gegoda jahanam terus berbuat laknat
Aduh Gusti Pangeran Maha segala maha
tolonglah hambamu keluar dari lingkaran neraka
menangkan aku melawan nafsu zina
Di senja temaram di ujung usia
tahirkan raga putihkan jiwa
#Billymoonistanaku, Seninlegi, Juni 14-2021 = 19.39 wib
LUKA DALAM JIWA
Karya MS Sang Muham
Mengganjal rasa dalam sukma
Melahirkan luka dalam jiwa
#Puisiduabaris, 06132021.--
KENYATAAN TAK SEBURUK DUGAAN
Karya MS Sang Muham
Tak semuskil terduga
meskipun tampaknya sulit di eja
di sana sini bertebaran rumus gila
menggiring kesimpulan pada praduga tak nyata
memaksaku untuk menyerah
terserah
Dua hati terombang ambing dalam ragu
di bumbui bayang bayang berdebu
jadilah kesimpulan tak berbuku
Di puncak bimbang ada seberkas sinar memancar
harapan itu harus ku kejar
keterbukaan dan kejujuran harus sejajar
Akhirnya mentari pagi kembali bersinar
kenyataan tak seburuk prediksi akhir
#Billymoonistanaku, Minggukliwon, Juni 13=2021, 06.56 wib
KALIMAT PUJANGGA
Karya bersama Zainuddin dan MS Sang Muham
Berjuta kalimat tersusun indah rapi
mewarnai gairah puisi
sentuhan sepi selalu terukir nyata
di dalam lisan perasa
sungguh memaknai jiwa korban lara
Meski kerap bersembunyi di balik kata
tersamar di antara makna
tetap saja masih terbaca
Satu kutukan atau sebuah karmapala
guratan masa lalu terbias di muka
tak mungkin lari dari kenyataan sesungguhnya
Yang telah terjadi biarlah jadi nostalgia
jalani hari seturut kodrat-Nya
#Belantaraibukota, Jumatkliwon, Juni 18-2021 = 18.38 wib
KALIMAT PUJANGGA
Karya bersama Zainuddin dan MS Sang Muham
Berjuta kalimat tersusun indah rapi
mewarnai gairah puisi
sentuhan sepi selalu terukir nyata
di dalam lisan perasa
sungguh memaknai jiwa korban lara
Meski kerap bersembunyi di balik kata
tersamar di antara makna
tetap saja masih terbaca
Satu kutukan atau sebuah karmapala
guratan masa lalu terbias di muka
tak mungkin lari dari kenyataan sesungguhnya
Yang telah terjadi biarlah jadi nostalgia
jalani hari seturut kodrat-Nya
#Belantaraibukota, Jumatkliwon, Juni 18-2021 = 18.38 wib
TAKDIR TUHAN
Karya MS Sang Muham
Tak sesuai kenyataan
merajuk hati meratapi penyesalan
wajah di liputi kemarahan
segala tindakan tak karu-karuan
proses atau hasil akhir yang di dambakan
selalu tak seperti yang di harapkan
Bacalah Kitab Suci dari aliran apa saja
tentang kisah anak manusia
berdamai dengan dunia
Tak selalu sejalan dengan keinginan
tapi semua akan jadi suratan
itulah rintangan tantangan dan hambatan
Sesuatu yang pasti adalah Takdir Tuhan
sebagai insan mari kita jalankan
#Billymoonistanaku, Kamiswage, Juni 17-2021 = 06.06 wib
MEMAPARKAN LARA
Karya bersama Mimi Soerya dan MS Sang Muham
Orang baik tidak memaparkan lara hatinya
itu adalah imej dia
cukup di rasa saja
toh belum tentu semua peka
nada nada akan percuma
terbuang sia sia
Melukis nestapa lalu menjajakanya kemana mana
serupa membuka aib semata
berbuah petaka atau melahirkan iba
Perlukah bercerita tentang lara
jawabnya terpecah dua
tergantung sudut pandang kita
Menatap jernih suatu fakta
membentuk hati bijaksana
#Belantaraibukota, Minggupahing, Juni 20-2021 =06.06 wib
J A R A K
Karya MS Sang Muham
Jarak
terbentang panjang membungkus jiwa
muskil untuk ku ukur
tanganku terlalu pendek
di batasi raga
impian yang kabur
Jenuh sudah mencoba
hingga melingkar usia
cuma tinggalkan nostalgia
Mungkin memang harus tetap ada
pembatas antara kita
sudah menjadi karma
Jarak antar sesama
mau tak mau terbentuk karena fakta
#Billymoonistanaku, Minggupahing, Juni 20-2021 =05.45 wib
Karya MS Sang Muham
Manalah kutau hatimu berkata sejujurnya
ketika di dunia nyata kau cuma tertawa
tawamu menawarkan sejuta cerita
aku terpesona
hanyut terbawa arus hingga ke muara
jiwa melambung ke pusaran asmara
Di keramaian ibu kota
kau cipta sunyi di sepanjang kalbu luka
sungguh tak kusangka
Kau tawarkan madu di bibir berbisa
dengan polosnya kuteguk tanpa prasangka
aku limbung susah cari obatnya
Hingga kini aku pun seperti tak percaya
tapi biarlah kubingkai di pustaka jiwa
#Billymoonistanaku, Rabuwage, Juni 02-2021 = 21.10 wib
JIKA MASIH ADA WAKTU
Karya MS Sang Muham
Jika masih ada waktu senggang
ketika sunyi merangkul jiwa
dan sanubari terus menerus meradang
singgahlah di beranda muka
kutunggu hingga siang
kita luruskan lika liku cerita
Bawalah sebingkai jiwa berikut setangkai mawar
agar bersama kita padamkan hati yang terbakar
hilangkan semua kalimat ingkar
Telah kusiapkan naluri untuk memaklumi
aku sudah ikhlas apa pun terjadi
merelakan ikatan kata melepas simpul janji
Setelah ini jangan lagi menoleh kebelakang
lupakan semua cerita terbilang
#Billymoonistanaku, Rabuwage, Juni 02-2021 = 20.40 wib
SATU TUJUAN
Karya bersama Nanik Sunarni dan MS Sang Muham
Tujuanku hanyalah satu
terus maju demi cita dan misiku
halangan rintangan dan hujatan tak berdasar
takkan kupikirkan karna hanya buang waktu
kelak pasti kau paham sepak terjangku
ketika saatnya semua akan di gelar
Sekarang di penghujung jalan panjang
bayang bayang semi nyata meraih bintang
menanti ridho-Mu Tuhan Yang Maha Penyayang
Kuyakinkan diri pada semua impian hati
semoga janji bathin terpenuhi
terbayar lelah letih selama ini
Semua terserah kehendak Gusti Pangeran
bagianku berserah pasrah berpengharapan
#Belantaraibukota, Sabtukliwon, Mei 29-2021 = 16.46 wib
RAHASIA KEMATIAN
Karya MS Sang Muham
Satu persatu pergi tak pernah kembali
berbagai penyebab alasan pribadi
konon jiwa lepas tak terkendali
berbagai keyakinan menurut agama yang di percayai
bagiku roh kembali ke Bapa jiwa menanti
hingga tiba saatnya nanti
Kematian begitu menakutkan
menghantui tiap pribadi dalam kekalutan
tapi bersyukur bagi insan yang berserah berpengharapan
Apa yang terjadi setelah raga membumi
siapa yang akan di adili
berapa lama harus menanti
Kematian adalah bayang bayang rahasia Tuhan
tak seorang pun luput terbebaskan
#Billymoonistanaku, Minggulegi, Mei 29-2021 = 06.46 wib
MENCIPTA JARAK MENYEMAI SUNYI
Karya MS Sang Muham
Sempat kurasakan sunyi seketika
ketika kau putuskan untuk mencipta jarak
aku tak habis pikir sesungguhnya
mengapa ini terjadi serentak
dan dengan alasan mengada ada
kau pun bertindak
Waktu bergulir seperti tak terjadi sengketa
awalnya seperti bermain sinetron saja
lama kelamaan jadi terbiasa
Aku tak tau apakah sesuai kontrak
atau kemesraan sudah mulai retak
kucari jawab hingga lapisan hati berkerak
Menjalani hari hari serupa berjalan sendiri
sebatang kara di ramainya kota ini
#Billymoonistanaku, Seninwage, Juni 07-2021 = 19.29 wib
SEMOGA ESOK KAN GEMILANG
Karya bersama Nanik Sunarni dan MS Sang Muham
Ingin rasanya datang dengan seikat kembang
nikmati cakrawala dengan bulan dan berjuta bintang
semilir sepoi malam meredam kebencian
sambut gemilang esok kan datang
bersama sepikul asa terbilang
pagi membawa secercah harapan
Aku berharap kau masih seperti dahulu
memetik ranum melati di pucuk rindu
seperti kebiasaanmu sembari menggumamkan lagu
Tetaplah menyemai kebajikan sepanjang kehidupan
bersahabat dengan alam memuja kebaikan
silaturahim tetap di jaga meluruskan jalan
Begitulah sahabat puisi ini pun kuakhiri
sembari bermunajat nuansa cair kembali
#Billymoonistanaku, Jumatlegi, Juni 04-2021 = 20.10 wib
MENUJU BATAS NORMAL
Karya MS Sang Muham
Tak elok terus menerus mengalah
meski kesabaran tak sepanjang penggalah
bahkan barangkali melampaui batas searah
tapi tentu ada ujung normal
bukan hendak mengganjal
menjalani semua yang halal
Sudah saatnya menunda hasrat
jangan menunggu kiamat
agar jiwa selamat
Kali ini biarlah raga terbentur pada fakta
agar esok semakin terbiasa
pelan pelan mundur dari arena
Terima kasih atas segala hikmat selama ini
silang kata mari kita akhiri
#Billymoonistanaku, Kamiskliwon, Juni 03-2021 = 06.10 wib
SERIBU GURINDAM
Karya MS Sang Muham
Seribu gurindam sia sia belaka
Surat undangan memutus tali jiwa
#Puisiduabaris, 06152021 .--
SENJA SUNYI
Karya MS Sang Muham
Setangkup rindu kubawa berlari
tak perduli lagi apa pun terjadi
layu sudah pucuk pucuk rasa
menyesakkan dada
menyisakan hati yang terluka
luka asmara
Sekarang tak sanggub lagi aku berlari
usia di gerogoti senja yang sepi
sudah saatnya menepi
Ketika sendiri terjadi dialog dalam diri
akhir diskusi tak perlu menyesali semua yang terjadi
sebaiknya semua cerita di tata rapi
Jadikan diri berguna menjalani senja sunyi
bersyukur apa pun terjadi
#Billymoonistanaku, Selasapahing, Juni 15-2021 = 19.39 wib
MENGAPA KITA
Karya MS Sang Muham
Mengapa kita masih saja menyimpan syak wasangka
menduga duga dalam remangnya cuaca
mengesampingkan logika
membiarkan hati terus membara
lalu mengambil sikap diam seribu bahasa
tak pernah menyelesaikan sengketa
Rentang panjang waktu mengukir usia
jauh berjalan banyak pengalaman di mata
mengapa kita masih menyimpan kepahitan di dada
Di senja tak tentu di ujung usia
mari berhenti di halte cermin jiwa
mengoreksi diri di depan kaca benggala
Duhai Gusti Pangeran Maha Mulya
ampunkan hamba dari segala dosa
#Billymoonistanaku, Selasapahing, Juni 15-2021 = 06.26 wib
TERSERAH APA MAUMU
Karya MS Sang Muham
Kau berputar-putar dari itu ke itu saja
Lidahku tumpul sudah tak berbisa
#Puisiduabaris, 06142021.--
AKU SEKARAT DI BELAI NIKMAT
Karya MS Sang Muham
Aku sekarat di lingkaran berkarat
ingin berlari kakiku terikat
antara dosa dan nikmat
jatuh bangun bahkan tubuh terlipat
hari ini tobat esoknya berbuat
hati terpikat ragaku tertambat
Jejaring syetan serupa sebuah pukat
setelah terjaring di bius lalu hanyut
gegoda jahanam terus berbuat laknat
Aduh Gusti Pangeran Maha segala maha
tolonglah hambamu keluar dari lingkaran neraka
menangkan aku melawan nafsu zina
Di senja temaram di ujung usia
tahirkan raga putihkan jiwa
#Billymoonistanaku, Seninlegi, Juni 14-2021 = 19.39 wib
LUKA DALAM JIWA
Karya MS Sang Muham
Mengganjal rasa dalam sukma
Melahirkan luka dalam jiwa
#Puisiduabaris, 06132021.--
KENYATAAN TAK SEBURUK DUGAAN
Karya MS Sang Muham
Tak semuskil terduga
meskipun tampaknya sulit di eja
di sana sini bertebaran rumus gila
menggiring kesimpulan pada praduga tak nyata
memaksaku untuk menyerah
terserah
Dua hati terombang ambing dalam ragu
di bumbui bayang bayang berdebu
jadilah kesimpulan tak berbuku
Di puncak bimbang ada seberkas sinar memancar
harapan itu harus ku kejar
keterbukaan dan kejujuran harus sejajar
Akhirnya mentari pagi kembali bersinar
kenyataan tak seburuk prediksi akhir
#Billymoonistanaku, Minggukliwon, Juni 13=2021, 06.56 wib
KALIMAT PUJANGGA
Karya bersama Zainuddin dan MS Sang Muham
Berjuta kalimat tersusun indah rapi
mewarnai gairah puisi
sentuhan sepi selalu terukir nyata
di dalam lisan perasa
sungguh memaknai jiwa korban lara
Meski kerap bersembunyi di balik kata
tersamar di antara makna
tetap saja masih terbaca
Satu kutukan atau sebuah karmapala
guratan masa lalu terbias di muka
tak mungkin lari dari kenyataan sesungguhnya
Yang telah terjadi biarlah jadi nostalgia
jalani hari seturut kodrat-Nya
#Belantaraibukota, Jumatkliwon, Juni 18-2021 = 18.38 wib
KALIMAT PUJANGGA
Karya bersama Zainuddin dan MS Sang Muham
Berjuta kalimat tersusun indah rapi
mewarnai gairah puisi
sentuhan sepi selalu terukir nyata
di dalam lisan perasa
sungguh memaknai jiwa korban lara
Meski kerap bersembunyi di balik kata
tersamar di antara makna
tetap saja masih terbaca
Satu kutukan atau sebuah karmapala
guratan masa lalu terbias di muka
tak mungkin lari dari kenyataan sesungguhnya
Yang telah terjadi biarlah jadi nostalgia
jalani hari seturut kodrat-Nya
#Belantaraibukota, Jumatkliwon, Juni 18-2021 = 18.38 wib
TAKDIR TUHAN
Karya MS Sang Muham
Tak sesuai kenyataan
merajuk hati meratapi penyesalan
wajah di liputi kemarahan
segala tindakan tak karu-karuan
proses atau hasil akhir yang di dambakan
selalu tak seperti yang di harapkan
Bacalah Kitab Suci dari aliran apa saja
tentang kisah anak manusia
berdamai dengan dunia
Tak selalu sejalan dengan keinginan
tapi semua akan jadi suratan
itulah rintangan tantangan dan hambatan
Sesuatu yang pasti adalah Takdir Tuhan
sebagai insan mari kita jalankan
#Billymoonistanaku, Kamiswage, Juni 17-2021 = 06.06 wib
MEMAPARKAN LARA
Karya bersama Mimi Soerya dan MS Sang Muham
Orang baik tidak memaparkan lara hatinya
itu adalah imej dia
cukup di rasa saja
toh belum tentu semua peka
nada nada akan percuma
terbuang sia sia
Melukis nestapa lalu menjajakanya kemana mana
serupa membuka aib semata
berbuah petaka atau melahirkan iba
Perlukah bercerita tentang lara
jawabnya terpecah dua
tergantung sudut pandang kita
Menatap jernih suatu fakta
membentuk hati bijaksana
#Belantaraibukota, Minggupahing, Juni 20-2021 =06.06 wib
J A R A K
Karya MS Sang Muham
Jarak
terbentang panjang membungkus jiwa
muskil untuk ku ukur
tanganku terlalu pendek
di batasi raga
impian yang kabur
Jenuh sudah mencoba
hingga melingkar usia
cuma tinggalkan nostalgia
Mungkin memang harus tetap ada
pembatas antara kita
sudah menjadi karma
Jarak antar sesama
mau tak mau terbentuk karena fakta
#Billymoonistanaku, Minggupahing, Juni 20-2021 =05.45 wib
Langganan:
Postingan (Atom)










