Selasa, 02 Agustus 2016
SAJAK BUAT ARINI
kasihmu serupa gelisah angin
mengetuk malumalu pada jendela tak terkunci
meski sanggup merayu embun
tuk datang lebih awal dari dini hari
mungkin matamu mulai rabun
keliru menafsir isyarat dunia
atau tak kau insyafi benar, betapa airmata
kadang membasuh hatimu lebih bening bercermin
mestinya kau bidadari
jika saja nalarmu lebih cerdas memilah
memilih hati tempat kau jatuhi
kau adalah bintang
berpijar lebih benderang dari Matahari
bakar saja nyali..dan melesat lah lebih tinggi
kau cuma merapuh
belum saatnya untuk mati
kau terjatuh
lekas bangkit! hidup belum berhenti disini.
berdamailah dengan irama bumi , Arini...
Sangubanyu, 2004
Cintaku Cahayu Arini.
Senandung Panglipur
By ; TGUH KLASBUNGAMATAHARI
CAMBUK IMAJINASI
Sakiti aku, sayat rindu ini hingga tercecer darah di pelataran hampa kalbuku.
Pasti kuusap dengan telapak tanganku sendiri tapi tidak kubersihkan.
Aku suka rindu yang memerah dan sesekali terlihat beku.
Dengan begitu otakku kembali normal.
PP. 13/7/2016
ISTRI KU
Senyum dong
Masih marah ya?
Bukankah kita telah berjanji
Tidak akan saling menyakiti.
Aku sakit tau,jika kau diamin.
Besok kita shoping ya.
Aku baru dapat pinjaman uang.
Belikanlah baju kesukaan mu itu.
Nah begitu dong.
Tidak marah lagi kan?
Bukankah aku telah bersumpah
Akan selalu berusaha membahagiakan mu seumur hidupku.
Tidak akan membiarkan mu
Menderita apa lagi susah.
Kemari dong
Peluk aku
Berikan ciuman terindah mu
dipipiku,Yang tak dimiliki perempuan mana pun di bumi ini.
Oleh : Irawan Naga Siantar
( Belalang Tempur Syawal 016.)
Selasa, 12 Juli 2016
NADA QOLBU
Hari ini fals nada jiwaku..
ia nya seperti ada yang kurang dalam settingan hidupku,
mengeluarkan bunyi irama tak menentu pada hatiku,
menjadikan lagu ketenangan itu berganti melodi miris dan bengis..
Kucoba setel kembali dawai-dawai yang kurang pas pada not imanku,
dan kucoba bawakan kembali lagu rindu pada-NYA,
namun tetap terdengar fals..
Semoga di Izinkan aku nyanyikan kembali lagu tenang-NYA.
Semoga...
Semoga...
Semoga..
By : Wahyu Sumut Kembara
Minggu, 3 Juli 2016.
Selasa, 21 Juni 2016
RAMADHAN
Yah, inilah Ramadhan bulan indah, Nuzul Qur'an dan Lailatul Qadar, nun Barokah dan Hidayah tak lagi menjadi tabu, semua berlimpah dengan kegembiraan berjuta-juta umat, anak kecil, orang dewasa, bahkan lanjut usia, mereka berbondong-bondong menuju Mesjid, menjawab suara Adzan. Tarawih dan Tadarus, Shalat malam, bersujud dan memanjatkan Do'a.
~Alex Wahyu~
RINDU KITA
Kasih...
Jangan biarkan benalu cemburu
Mengakar menjalar di ruang kalbu
Sebab ia akan menyesak di rongga dada
Hingga kan membunuh pohon cinta
Kasih
Rindu ini telah menyatu dalam darah
Hingga tak mungkin mampu aku bunuh
Kasih
Lenakan cinta kita
Dalam debar asmara
Pada tiap detik detak nadi
Sebab cinta kita tak akan mati
#ASSHJ_21_06_16
Sabtu, 18 Juni 2016
KITA TIDAK LAGI MEMPERDULIKAN RONA SENJA
Sejauh-jauhnya luka pergi, ia akan selalu kembali; pada airmata yang mencintai.
Perihal doa, kau tenang saja; ia hapal betul namamu.
Aku berbahagia; jatuhnya cintaku kepadamu, tak membuat dunia menjauhi aku.
Di matanya ada sumur yang dalam, aku tak bisa menimba apa-apa selain kerinduan.
Daun-daun hijau ingatanku kuning: musim merindukanmu tiba lagi.
Pada embun di ujung daun kutemukan harapan dari pagi, dan masa depan di senyumku sendiri.
Sebab cinta adalah rasa sakit yang abadi, maka Tuhan tak pernah absen menulis puisi.
Biarkan ku tampung buliran rindu itu, agar kelak kau tahu, jika kau pulang ke pangkuanku.
Aku melupakan satu hal: puisi ini lebih mencintaiku dari pada dirimu.
Semilir duka masih menyesakkan dada, saat ku lihat kau memilih pergi.
Cinta, biarlah rindu berkelana, mencari sesosok yang dicinta, hingga nyawa terbang bersamanya.
Rasa-rasa delima mengering di lidahku, bersamaan dengan air mataku; begitulah awal kau merayu.
Engkau diberi kelebihan meramal masa depan, tetapi engkau tidak diperbolehkan mendahului takdir Tuhan
Seindah apapun cinta, tapi tak bisa merawatnya. Cinta akan membuatmu murka, bila kau mempermainkannya.
Atas apapun kau tersenyum, semoga cinta tetaplah alasan pertama, meski di sana tidak ada kita.
Senyummu puan, mengantarkan anak rinduku pulang, dari ujung penantian.
Aku menggambar kesedihanmu diselembar kertas, lalu mewarnainya dengan segenggam cemas.
Dari balik puisi ini; aku melihat kebahagiaanmu masih dijajah masa lalumu.
Seperti malam biasanya, kau memberiku satu tetes air mata; kali ini air matamu beku. Lebih dingin daripada pikiranku.
Di dinding pikiran namamu yang dituliskan, di ruang jiwa cintamu ku selimuti kasih sayang.
Dalam sejarah kita terkadang senyum adalah sandiwara belaka tuk menutupi bahwa air mata adalah realita sesungguhnya.
Malam begitu lapar hingga dilahap segala terang, kecuali cahaya di matamu yang kejora, di wajahmu yang purnama.
Ingin ku acak-acak kau di tengah guyuran hujan. Lalu kita menikmati kuyup itu dengan desah yang samar.
Sebab yang dekat denganmu melebihi urat nadi sudah Tuhan, biar aku hanya sedekat baju kesayangan yang kau kenakan.
Pelukan ialah adegan yang kita suka, saat hati saling bicara tapi bibir bungkam seribu bahasa.
Ditemani gemercik hujan, kuterbangkan angan; Disela tetes dedaunan ada rindu yang berjatuhan.
Oleh : Nur Aini Notokusumo
SNA.18062016
Langganan:
Postingan (Atom)






