UNTUK MENCARI PUISI-PUISIMU CUKUP KETIK NAMAMU DI KOLOM "SEARCH" LALU "ENTER" MAKA SELURUH PUISIMU AKAN TAMPIL DI SINI

Minggu, 06 Maret 2022

Kumpulan Puisi Genoveva Manuhara - KREMASI



KREMASI


Pulang
Pulanglah
Ada hati yang patut diziarahi
Sebelum rindu itu mati

Pulanglah untuk terakhir kali
Lalu kremasi cinta dengan kobaran sepi
Kuburkan abunya di bawah prasasti bertuliskan benci

Gk, 20220306
(Genoveva Manuhara)



TUBA MANIS

Bersamamu adalah kebahagiaan dalam kegelapan
Kehangatan dalam gigil sepi
Kecemasan tersuguh saat kecup rindu bertemu

Engkaulah tuba semanis gula
Rasa yang membuat aku selalu dahaga

GK, 20220321
(Arum Dalu)



PERTOBATAN

Bulan berkaca di jendela
Sinarnya layu kuyu memenuhi jiwaku yang retak
Kupejamkan mata menghayati penyesalan yang porak poranda
Dan mengalirlah airmata darah dari hatiku yang berduri

Kuhamparkan sajadah panjang
Kubangun ribuan sujud di atas altar puing puing pertobatanku
Dalam hening menghunuskan doa doa
Berhambur lepas
Membumbung memenuhi angkasa

Sambil bersimpuh kusimpulkan harap
Kepada-Mu yang maha sempurna maha segala
Sinari jiwa kelam ini
Dengan Roh-Mu yang mampu membakar sepi hati
Tetesi raga rapuh ini biar terlepas dahaga jiwa
Dari keikhlasan dan ketabahan
Teduhkan sukma lara dengan keteguhan iman

Gk, 20191203
(Genoveva Manuhara)



LELAKI AROMA KOPI

Lelaki aroma kopi
Terbata bata kueja puisi cinta di matamu
Meski samar tersirat bahasa rindu
Menuntunku dalam pelukmu

Lelaki aroma kopi
Pada lengkung senyummu pelangi bersemayam
Bidang dadamu senyaman peraduan
Tempatku rebahkan segala gundah dengan nyaman

Lelakiku
Aroma kopi hangatkan gigil rinduku
Pagiku lebih sempurna
Dengan segelas kopi cinta arabika
Yang kau tuang dalam kidung asmaradana

Gk, 20191216
(Genoveva Manuhara)



TERPEDAYA CINTA

Tuan datang pada hamba
Dalam dunia gelap hidup hamba
Kala hati gersang penuh luka
Dengan secarik asa terkoyak ujungnya

Tuan janjikan sejuta rasa penuh pesona
Keceriaan kilau yang memijar sekilas
Kesejukan tirta tuk membasuh hati dari noda duka
Berharap diri kembali berjiwa

Saat mentari genit menggoda
Tuan terpedaya, pergi menghampiri
Meninggalkan wadah rindu nan pedih
Apa yang Tuan inginkan sebenarnya
Kehancuran hati hambakah

Kejamnya Tuan
Membiarkan putik putik gugur di awal musim semi di hati hamba
Sisakan seberkas kilau pedih di hati
Segaris nelangsa di jiwa

Gk, 20191208
(Genoveva Manuhara)



HUJAN AWAL

Rintik hujan pertama di bulan Desember
Datang begitu tergesa
Kaki kaki hujan runcing menapak ke bumi
Mencipta genang luka

Dalam deraian bahasa hujan
Aku membaca ayat ayat luka
Demikian perih aku menerima sayatan sayatan cinta
Ah ... nikmat terasa bila pedang saja menghujam dada

Dari bibir angin yang menderu
Menghembuskan harapan yang sunyi dari air mata
Sementara daun jadi berzikir
Doa doa berkarat dalam mimpi
Dadaku bergemuruh
Berulang kali aku mendesah
Ah ... kenapa aku ini

Gk, 20191219
(Genoveva Manuhara)



AKU DAN KAU


Siang panas menyengat
Di hatiku hujan deras
Petir melecut pada jantung, dinding hati
Nikmat terasa bila pedang saja yang menghujam dada
Bara ini makin memerah

Oh, bibir yang berlapis gincu
Senyum yang mengulum makna rona
Mengapa tak semerah saga yang asli

Kawan, pengorbanan ini terlalu mahal
Mengapa kau tawar begitu rendah
Aku dan kau
Mereka sama harkat
Sama martabat

Mengapa mesti menabur duri duri
Di tengah lalu lalang sesamamu

Sementara aku akan berselimut dalam cahaya-Nya

Gk, 20200427
(Genoveva Manuhara)



LAUT BELUM PASANG

Laut belum pasang, kekasih
Ketika kutuliskan syair rindu pada pantai pasir putih
Beriak ombak menari di hatiku
Saat kuredam gejolak waktu yang mulai tak ramah padaku

Laut belum pasang, kekasih
Saat camar menangis lirih
Membawa berita duka nan pedih
Tentang cinta yang tersisih

Laut belum pasang, kekasih
Ketika senja datang bayangku memanjang
Mengitari jejak jejak cinta yang hilang
Dan aku melangkah pulang ke peraduan
Ke istana sunyi sendirian

Gk, 20200425
(Genoveva Manuhara)



KECEWA

Penuh dendam kurangkum kecewa
Kujalani lelakon penuh derita
Saat pengorbanan tak lagi nyata
Ketulusan hanya bagian dari dusta
Kulepas asa yang tersisa

Dan ketika luka makin nganga
Karna bayang tanpa makna
Kutepis setiap pinta
Berhambur
Terpendar dalam satu liang
Biarkan saja
Biarkan saja apa maunya
Aku sudah tak berdaya

Gk, 20200423
(Genoveva Manuhara)



LAYANG KANGEN


Mak
Ndak tulis layang iki nalika udan riwis riwis ing wayah sore
Kekes rasaku koncatan sihmu kang sesinglon ing petenge mendung angendanu
Gurit perih ndak wayuh rasa kapang kang mbrayut sarandhuning angga

Mak
Ndak pajang kangenku ing pucuke gunung gamping etan telaga
Tak renga janur kuning ndak singitke saka betara Kala
Aku sumelang kangenku muspra sadurunge marak ing ngarsamu

Sungkem tumitah kalimput sembah sujud
Sungkeme ati lola kang nglangut nunggu pepemut
Tansah nggadang piwulang
Ati putih raga kinasih
Riwemu arum melati
Puspa ing guriting uripku

Mak
Layang iki kanggo sulihku
Menawa ora laras nyuwun pangarasmu
Menawa ora titi nyuwun pangastutimu

Gk, 20200520
(Genoveva Manuhara)



AKU AKAN PERGI

Aku akan pergi
Meninggalkan sejuta kenang yang memenuhi rongga jiwa
Hatiku yang retak telah melampaui garis kesabaran
Rasaku yang pahit telah mencapai puncak getir
Tangisku sempurna pada titik didih kepunahan

Segera aku menepi memanggil sunyi
Mengekalkan kenyerian menandai kesendirian
Lalu kubangun ribuan sujud di altar suci
Cinta kubekukan di ujung dunia
Biar tak terbaca oleh manusia
Sebab cahaya yang telah tergenggam segera kupadamkan
Dan kuhayati kelam dari puing puing cinta yang porak poranda

Biarlah mataku buta dari pesonamu yang menggetarkan dada
Biarlah mulutku bisu agar tak lagi menyebut namamu
Biarlah tanganku buntung agar tidak bisa lagi merajuk dalam pelukmu
Biarlah lumpuh kakiku agar tak bisa lagi menghampirimu kala rindu

Aku akan pergi
Meninggalkanmu dan menyembunyikan rahasia dari kecemasan
Lalu kukubur luka luka masa silam
Agar tak kaudengar lagi lolongan hati
Dan jangan tercium semerbak rindu dari kedalam kalbu

Gk, 20200516
(Genoveva Manuhara)



MELANGKAH

Hati pun butuh istirahat dari debar rindu yang berkarat
Cinta butuh jeda untuk menguji kedalaman rasa

Jangan sesali yang telah pergi karena cinta tak bisa dipaksa dan bahagia tidak bisa pura pura

Esok ketika mentari kembali menyapa bumi
Tetapkan tujuan teruslah berjalan
Dengarkan panggilan hatimu
Jangan hiraukan nyanyian sumbang tepi jalan

Kuatkan hatimu
Di depan akan banyak goncangan
Berpeganglah pada kebenaran
Jangan pernah berpaling dari panggilan

Gk, 20200513
(Genoveva Manuhara)



PENAT


Betapa penat jiwa menanggungkan gelisah
Lelah menerpa
Berat
Tiap kali kembali sebersit bimbang
Satu perkara rusuhi diri
Tentang sesalku
Bagai mengaduk aduk seluruh kalbu
Bergelombang lautan biru
Badai silih berganti
Siapa yang peduli

Seakan tumpah seluruh isi hati
Sarat begitu sarat gundah diri
Susah payah bertahan sendiri
Dari terpaan beliung misteri
Akan sebuah pengakuan di akhir keringkihan
Semestinya rasa ini tersadari sejak semula
Bukannya setelah angan jauh tertanggalkan
Dari kekosongan singgahi seorang
Yang pernah datang membawa cinta
Yang pernah sejiwa penuh ketulusan
Melangkah lintasi lingkaran kebersamaan
Bawa sekeping asa nan gamang
Satu satu ruas keutuhan
Lepas dari nurani
Sisakan ketegaran hanya mimpi

Gk, 20200507
(Genoveva Manuhara)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar