Kamis, 13 Desember 2018
CENTINI
Centini yang malang
Hidupmu terkekang
Antara harapan dan kenyataan.
Kau masih saja berada dibelakang.
Centini yang malang
Hidup dalam banyang-bayang kegagalan
Merangkak dalam kesendirian.
Diantara mimpi-mimpi orang terbuang.
Centini yang malang
Sampai kapan akan terus berjuang.
Menunggu terang yang tak kunjung datang.
Hingga petang datang menjelang.
Yuliza yuna
Tembung, 5 desember 2018
Rabu, 28 November 2018
TINGGALKAN AKU
Tinggalkanlah aku
Karena aku memang tak pantas untukmu
Aku takut Semakin dalam perasaanmu padaku
Kau akan semakin terluka
Dan pada saat itu
Aku tahu, akulah orang yang akan menyakitimu
Jangan kau bertanya tentang bagaimana persaaanku kepadamu
Karena engkau tahu akan hal itu
Dan aku tidak akan bisa menyembunyikannya darimu
Biarkan cerita ini hanya tumbuh dihatiku
Kan kutulis semua dalam lembaran ingatanku
Biarkan cerita ini hanya akan menjadi rahasia antara kau dan aku
Maafkan aku jika aku meninggalkanmu
Biarlah aku yang mengalah tuk meninggalkanmu
Menyerahkan urusanmu kepada orang yang mampu mengurus dan melindungimu
Karena aku tak akan pernah bisa melakukan itu
Meski engkau tahu aku begitu hormat dan mencintaimu
Jangan pernah membalasnya
Jangan pernah menghormati dan mencintaiku aku
Karena aku memang tak pantas untuk kau hormati dan cintai
Aku akan selalu mengimgatmu
Meski aku tak akan pernah mampu bersama mu.
#Puisi_Tan_Ahmad
TETESAN MALAM
Lagi...
Seperti malam-malam sebelumnya...
Kau hadir kembali dengan membawa keresahan...
Membawa secuil kenangan dan sejuta harapan.
Harapan untuk kembali bahagia...
Harapan untuk tetap bersama.
Bersama dia yg dulu selalu kubawa untuk berjumpa denganmu...
Bermain denganmu...
Bermain bersama tetesan kebahagiaan yg kau berikan kepadaku dan dia.
Namun, secuil kenangan yg kau bawa bersama tetesanmu, membuatku tersadar, bahwa kenangan itu hanya dapat membuat genangan dalam tatapan.
Oleh: Putri Tiara Dewi
SEBINGKAI KENANG
Saat kaudekap aku di dadamu
Kudengar degub jantungmu
Kau tersenyum mesra, membuatku tersipu malu
Rembulan dan gemintang diam membisu
Semilir angin dingin menyentuh tubuh
Kidung cinta mengalun merdu
Aroma kasih mencumbu rindu
Kaubelai mesra rambut hitamku
Kecup kecil singgah di keningku
Genggaman jemari erat menyatu
Dan kauusap rinai di sudut mataku
Saat langkah taklagi utuh
Kau menjadi kenang masa lalu
# RuangPekerjaSeni_Renny Kusuma
22.11.18
SENDIRIAN
seperti kopi
Yang setia temani pagi
Maka kukuhkanlah hati
Nikmati setiap pekatnya
Remuk di hantam rindu
Biarlah sesak hanya di dada
Selebihnya pulang
Menapaki jejak suci
Nama manis
Yang pernah menjadi manis
Dalam cecap
Saat pahit menyapa
Oleh : Layla Dct
Seluma, 17 November 2018
Kamis, 18 Oktober 2018
PUISI KITA
Selamat malam cinta
Lelaplah di tilam mega
Terbang bersayap mimpi
Tapaki jalanan di pulau kasturi
Aku, masih ada
Memipil gemintang di awang
Memetik rembulan benderang
Agar malam, tak lagi buta
Lelaplah, dalam dekap cintaku
Yang tak kan usang oleh waktu
Yang tak lekang dimakan usia
Aku, kamu, tetaplah kita
#DewaBumiRaflesia_05_10_18
SELAMAT PAGI BAGI TUAN AMBISI MAUPUN TULUS HATI MENCINTAI NEGERI JANGAN MATI
Saat terjaga dari tidur
aku melihat di langit tinggi
menjelma jadi layar televisi
bertema tayangan berita pagi
tentang sejarah nasib negeri
Media sosial olahan manusia
tidak lagi berkandung nutrisi
hanya bicara makanan basi
kehidupan berbangsa dan
bernegara jadi lautan sunyi
terjajah habis di layar
seluler, kenyataan
hingga HARI INI!
Jejaring internet
penjajah tak nyata
lewat seribu tipu daya,
mendoktrin imajinasi,
saling berebut untung
tak peduli musibah
moral buntung!
Dari waktu melek mata
terhipnotis di mega mall
dalam layar kotak telpon
bermain game, berselfi,
berhujat maki, berpuisi,
bernyanyi berbagi suara,
bertransaksi dagangan
dari pakaian, makanan
sampai layanan syahwat
kaum normal - abnormal
demi mencapai klimaks
memuncrat kenikmatan,
dalam kekuasaan mutlak
kaum jenius penemu
karya cipta seluler,
dunia menggila!
Lihatlah bumi warisan
nenek moyang animisme
bertebar beraneka makanan
didominasi produk import,
menjalar mencengkeram
mirip tumor merongrong
mengangkangi pikiran
sepanjang waktu
sulit terkendali!
Perang politik
menguliti kesalahan
menjadi modal kekuatan
untuk membunuh lawan,
padahal satu kandungan
bukan di negeri kampret
tapi semua atasnama
cinta mati pada negeri
padahal yang terjadi
sebatas pencapaian
kantung ambisi!
Di langit bumi subur
warisan leluhur dinamisme,
merentang peta berwarna
bahagia dan suka duka
ada Mega Pembangunan
ada musibah Petaka Alam
Nasib hidup dan kematian
dinyatakan satu ketentuan
siapa berani MELAWAN?
hanya Wiji Thukul nekad
bermodalkan bahasa ...
Satu Kata LAWAN,
HILANG RAGA
HILANG RIMBA
menyisakan catatan
sejarah sastra sebagai
PEMBERONTAKAN!
Akh, lihatlah
televisi di layar langit
presiden berlencana tinggi
bersahaja di atas puluhan ribu
pegawai negeri terkasus korupsi
selama sanksi bukan eksekusi mati,
jadikan korupsi berjamaah, TRENDI
lupakan saja anak cucu keturunan
pada lini katulistiwa kemiskinan
menjadi generasi kematian
merusak tatanan Tuhan!
Dan kini hari ini,
kita bertanya pada hati
kita berada di mana?
Sebagai para pembela
di pasukan yang mana?
Apakah hanya cari laba
ataukah cari aman saja
menjadi penggembira
sebagai pencerca
sesama saudara
SATU NUSA
SATU BANGSA
SATU BAHASA
INDONESIA
Di tangan kita
nasib masa depan
negeri ini, apakah
masih ada atau
tinggal nama?
Salam Pagi
Salam Merdeka,
Katanya!
---------- Bambang Oeban
Dari Timur BhumiBelasi
Rabu, 11 Oktober 2018
10.10
Langganan:
Postingan (Atom)






