UNTUK MENCARI PUISI-PUISIMU CUKUP KETIK NAMAMU DI KOLOM "SEARCH" LALU "ENTER" MAKA SELURUH PUISIMU AKAN TAMPIL DI SINI

Senin, 25 Februari 2013

AKU DAN ANAK - ANAKKU

 

rasanya sedih sekali ketika pada suatu hari saya bersikap keras pada anak-anak saya hanya karena mereka tak pernah bisa diam. Hari itu, saya segera meminta maaf kepada anak-anak saya. Saya minta mereka merelakan kekhilafan saya dan mengingatkan saya apabila mereka menemukan ada yang kurang baik pada diri saya. Saya tangisi anak-anak saya dengan mendekap mereka erat-erat hingga satu di antara mereka tertirdur.

Kelak ketika mereka telah bangun, tutup panci yang dipukul-pukulkan ke lantai sambil berlari-lari, berteriak dan memanjat-manjat tak lagi menjadi kegaduhan. Suara-suara itu telah berubah menjadi harmoni yang indah.

Letak masalahnya ternyata di hati. Bukan di tangan mereka yang selalu bergerak, atau di jemari mereka yang tak pernah henti mencoret dinding, atau di kebeningan suara mereka yang berteriak-teriak lantang…………..Letaknya di hati.
...
Apa artinya ? Di luar kenyataan bahwa kita harus terus mencari ilmu agar dapat mendidik anak-anak kita dengan baik sekaligus tepat, kita perlu belajar menata hati dan membenahi tujuan. Berilmu saja tak cukup. Kita mesti memiliki kekuatan hati untuk bisa ikhlas menerima pipis mereka, kerewelan mereka, celoteh-celoteh mereka maupun pertanyaan yang tak berhenti mengalir di saat kita tidak ingin terganggu oleh suara nyamuk sekalipun.

Tanpa ada kekuatan hati, ilmu yang kita miliki tak banyak memberi arti. Dokter-dokter spesialis penyakit dalam yang meninggal karena terlalu banyak merokok itu, bukan tidak tahu bahaya merokok. Mereka bahkan sangat tahu. Tetapi kuatnya pengetahuan tidak dengan sendirinya membuat mereka terhindar dari melakukan, yakni menghabiskan batang-batang rokok yang membakar paru-paru.

Tentu saja segala sesuatu butuh waktu. Lebih-lebih jika kita di besarkan dalam suasana pendidikan keluarga yang kering tak bersahabat, butuh kemauan yang lebih besar agar dapat menghadapi anak-anak dengan lebih lembut dan bijak. Tanpa itu, ego kita akan menghalangi jiwa untuk mengakui kesalahan, meminta kerelaan anak untuk memaafkan. Karena dengan hati yang keras, kita tidak mau memperbaiki kesalahan, meski kita sadar betul bahwa itu salah.

Ya…ya…ya…. Alang banyak kesalahan, dan alangkah sedikit langkah untuk untuk memperbaiki. Karenanya, sebelum kesalahan semakin menumpuk, kepada anak-anakku, ikhlaskanlah hatimu untuk memaafkan. Izinkanlah bapakmu ini untuk terus belajar menjadi orangtua yang baik.

Kiriman : Ukhti Nisa
Oleh : Rumah Yatim Indonesia

Tidak ada komentar:

Posting Komentar