. JENDELA PUISI: CARA CERDAS MENJADI CERPENIS
RUANG PEKERJA SENI ADALAH GROUP DI JEJARING SOSIAL FACEBOOK, BERTUJUAN…MENGEPAKKAN SAYAP – SAYAP PERSAHABATAN…MELAHIRKAN KEPEDULIAN ANTAR SESAMA…MEMBANGUN SILATURAHMI/TALI ASIH…SAHABAT LEBIH INDAH DARIPADA MIMPI.

Sabtu, 24 Januari 2015

CARA CERDAS MENJADI CERPENIS



“Aku ingin menjadi cerpenis. Tapi tidak punya bakat mengarang. Apa bisa?” begitu kata seorang sahabat Facebook, suatu hari, menyampaikan curhat pada saya melalui inbox.

Sebelum menjawab pertanyaan gadis remaja yang mengaku baru setahun lulus Madrasah Aliyah, saya teringat perjalanan masa lalu, ketika masih berstatus pelajar SMEA tahun 1980. Saat itu saya sering pontang-panting cari pinjaman mesin tik, menulis sepanjang malam, susah-payah bersepeda onthel dari kampung menuju kantor Pos yang berada di kota Kecamatan, mengirim naskah ke redaksi koran/majalah melalui jasa Pos Giro. Sebulan, tiga bulan, enam bulan tulisan yang dikirim tidak ada kabarnya.

Semula saya merasa tidak punya bakat menjadi pengarang. Putus asa? Tidak! Justru semangat saya untuk bisa menulis cerpen semakin membara. Itu sebabnya saya tetap berusaha keras dengan cara menulis dan terus menulis karena saya yakin bahwa semua kerja keras sesorang pasti ada hasilnya.

Dan benar juga, setelah setahun “menyebar” sekian banyak naskah akhirnya beberapa cerpen saya dimuat koran. Sejak itu saya semakin yakin dan percaya, bila ingin menjadi penulis/cerpenis tak perlu berpikir punya bakat apa tidak. Yang penting menulis dan terus menulis, bakat belakangan. Maksudnya, berkarya dan terus berkarya, bakat akan tumbuh bersama usaha dan kerja keras seseorang.

“Bisa!” balasku pada Nur Amanah, siswi Madrasah Aliyah swasta yang tinggal di Balikpapan, Kalimantan Timur.

“Oo, gitu ya. Lalu bagaimana caranya?” tanya Nur Amanah, masih melalui inbox.

Sejenak saya termenung, mengingat “proses kreatif“ beberapa teman penulis yang telah melewati lika-liku jalan menuju dunia ‘mengarang’ yang dipenuhi tokoh-tokoh fiktif dan diwarnai imajinasi.

Asmiati Usman, seorang guru Sekolah Dasar di desa terpencil di Kabupaten Purworejo tidak menyangka dirinya bakal menjadi cerpenis terkenal. Bemula dari coba-coba, dan tentu saja sudah menghabiskan sekian tumpuk kertas, gagal dan gagal, namun berkat keuletan dan semangat yang tinggi dengan prinsip “orang lain bisa kenapa aku tidak?” akhirnya ratusan karya As-Us [nama pena Asmiati Usman] menghias berbagai media cetak, baik terbitan lokal maupun nasional.

Aspuri, mahasiswa PGSLTP Purwokerto juga tidak “ujug-ujug” jadi cerpenis. Ia berangkat dari hobi membaca cerpen yang ada di koran dan majalah. Kebetulan ayahnya yang guru SMP dapat ‘jatah’ koran/majalah dan Aspuri menghabiskan waktu luangnya untuk membaca dan membaca, khususnya surat kabar edisi minggu yang memuat Rubrik Budaya [cerpen – puisi – esai sastra]. Dari kesenangan membaca itulah Aspuri kemudian mencoba menulis, mengirim ke redaksi, gagal dan gagal alias karyanya nggak nongol-nongol. Lalu bagaimana ending Aspuri di bidang literasi? Setelah berjuang menggali “bakat” yang sebenarnya bersemayam dalam batok kepalanya sendiri, Dia bukan hanya menjadi cerpenis produktif, menerbitkan puluhan buku kumpulan cerpen, novel, tetapi juga menjadi jurnalis surat kabar nasional.

Lanang Setiwan, lulusan sebuah SMA di kota Tegal juga punya riwayat yang beda tipis dengan Asmiati Usman dan Aspuri. Berawal dari berteman dengan pedagang kaki lima yang menjajakan koran/majalah di kawasan terminal, setiap hari numpang membaca -daripada keluyuran nggak karuan, sambil menunggu dapat pekerjaan- pulangnya menulis dan menulis.

Siapa yang tidak kenal Lanang Setiwan? Anak muda yang dulu pengangguran, sering nongkrong di kedai koran, kini menjadi penulis handal, honor tulisannya mengalir dari berbagai penjuru, banyak menerbitkan buku, puluhan novelnya laris manis di pasaran, beberapa karyanya diangkat di layar kaca, tak lagi menggerutu soal cari kerjaan, justru banyak ‘job’ yang mengejarnya. Ya, Lanang memang jempolan. Oleh teman teman sesama penulis, Lanang Setiwan deberi predikat seniman serba bisa: penyair, cerpenis, novelis, pengarang lagu sekaligus artis. Yaheeeeer!!!
Keberhasilan Lanang Setiawan menjadi orang terkenal juga tidak ‘tiba-tiba’. Sama seperti penulis/cerpenis lainnya, puluhan bahkan ratusan karyanya pernah ditolak redaktur koran/majalah. Dan diakui oleh Lanang sendiri, yang membuat ia berhasil menjadi penulis serba bisa tidak lain adalah deretan kegagalan yang pernah menghadangnya.

Kembali pada Nur Amanah, sahabat Facebook yang bertanya seputar bagaimana menulis cerpen, saya menjawab:

“Menulis cerpen tidak perlu menunggu datangnya “bakat”. Cukup duduk menghadap komputer, lantas mulai mengetik…….” Jawab saya mengakhiri inbox-an.

Jujur saja, pertanyaan Nur Amanah yang disampaikan melalui inbox menginspirasi saya untuk menulis sebuah buku tentang bagaimana menulis cerpen. Saya akui, saya memang bukan penulis hebat, bukan pula cerpenis mapan. Tapi apa salahnya bila saya menuangkan sedikit pengalaman saya selama menulis cerpen, ditulis dalam bentuk BUKU PANDUAN bertajuk “CARA CERDAS MENJADI CERPENIS”.

Buku tersebut saya tulis dengan bahasa ‘awam’, mudah dipahami, tidak bertele-tele, lugas alias langsung bicara ‘teknik’. Buku ini berisi ‘komposisi cerpen’, antara lain: memilih topik/tema, menciptakan tokoh-tokoh & watak dalam cerita, tempo/waktu, plot/alur cerita, setting/latar, sudut pandang, konflik, solusi, diksi, pesan moral pengarang yang akan disampaikan, ending yang menawan, dll.

Buku “CARA CERDAS MENJADI CERPENIS” akan membantu siapa saja yang ingin bisa menulis cerpen dengan catatan setelah membaca buku ini langsung ‘beraksi’ menulis dan terus menulis. Saya yakin, dalam hitungan hari Anda mampu menulis cerpen yang baik dan menarik karena didukung fasilitas yang memadai. Andai saja Anda tidak punya komputer/laptop, toh keluar rumah banyak warnet. Mengirim naskah ke redaksi koran/majalah juga tinggal ‘klik’. Tak perlu banyak waktu hanya untuk mengarang sebuah cerpen [seperti zaman saya] yang mesti mondar-mandir cari pinjaman mesin tik.

Ya, untuk menjadi cerpenis yang penting menulis dan menulis, urusan bakat belakangan. Bila tulisan kita sudah dibaca banyak orang, ‘bakat’ mengikuti dari belakang. Bukan sebaliknya. Katanya punya bakat menulis tapi tak pernah berkarya, sama saja dengan penghayal bin pembual alias cerpenis abal-abal.

Salam Takzim
Qomaruddin Assa’adah
Sanggar Sastra Kembang Langit

Tidak ada komentar:

Posting Komentar