. JENDELA PUISI: SUNGAI
RUANG PEKERJA SENI ADALAH GROUP DI JEJARING SOSIAL FACEBOOK, BERTUJUAN…MENGEPAKKAN SAYAP – SAYAP PERSAHABATAN…MELAHIRKAN KEPEDULIAN ANTAR SESAMA…MEMBANGUN SILATURAHMI/TALI ASIH…SAHABAT LEBIH INDAH DARIPADA MIMPI.

Sabtu, 15 November 2014

SUNGAI



SUNGAI, adalah cerukan tanah yang dialiri air yang mengalir dari hulu ke hilir dan akhirnya bermuara ke laut. Meskipun liukannya bagaikan ular raksasa yang menakutkan, namun sejuknya air sungai membawa perarasaan menjadi tentram dan damai. Sungai memang penuh misteri, tapi sungai juga sumber kehidupan dan inspirasi. Sesaat anganku menerawang, mengingat seorang lelaki tua yang bermukim di tanah jawa dan kini sudah pergi menemui khaliqnya. Sayup-sayup terasa menerobos masuk gendang telingaku lantunan suara penyanyi kroncong dengan vibrasi yang menggelora " Bengawan Solo, riwayatmu kini, sedari dulu jadi perhatian insani. Musim kemarau, tak seberapa airmu, dimusim hujan air mengalir sampai jauh. Mata airmu dari solo, terkurung gunung seribu, air mengalir sampai jauh, akhirnya ke laut. Itu perahu, riwayatnya dulu, kaum pedagang slalu naik itu perahu." demikian sang maestro kroncong Indonesia almarhum Gesang, bertutur dalam syair lagu BENGAWAN SOLO. Gesang memang sudah tiada, tapi lagu Bengawan Solo dan karya-karyanya yang lain, tetap hidup di hati penggemarnya.

DI TEPI sungai Asahan sore tadi, cuaca redup dan angin sepoi-sepoi menerpa tubuhku. Sementara itu, persis di depan, samping kiri dan kananku, berjajar kawan-kawan dari Yayasan Sahabat Tiga puluh Kisaran dan komunitas ruang pekerja seni tanjungbalai, bersilaturrahim. Pertemuan ini entah untuk yang keberapa, tapi untuk ditepian sungai Asahan merupakan yang pertama. Sejenak semuanya terhanyut dalam suasana, seperti hanyutnya sampah-sampah yang mencemari sungai ini. Nun di seberang sungai, pada pertemuan sungai Asahan denga sungai Silau, ada dangau yang dibangun sebagai saksi sejarah. Menurut penuturan Wan Kumis(bukan Iwan Fals) konon, di tempat itu doeloe Sultan Asahan Pertama dinobatkan. TENTANG KOTA TANJUNGBALAI DAN SUNGAINYA, juga sudah diabadikan oleh seniman lokal dalan sebuah syair lagu. Lagu dengan irama dan rentak melayu ini, sungguh enak didengar, walau popularitasnya tidak sampai menandingi lagu Bengawan Solo.

"TANJUNGBALAI, salah satu kota di Asahan, menurut sejarah balai terletak di ujung tanjung, di pinggir kotanya sungai mengalir titinya yang panjang, lintasan nelayan menambah indahnya kota yang sakti, penduduknya ramai sopan santun budi bahasanya, seolah-olah kita sudah berkenalan lama. Duhaaai... adik jagalah nama kotamu ini, jadikanlah ia, agar menjadi kota yang sakti"(maaf, kalau syair lagunya kurang pas, karena saya tak hafal bukan bermaksud untuk melecehkan).

SUNGAI ASAHAN yang mengalir tenang, adalah saksi bisu pertemuan puluhan anak-anak manusia sore tadi. Sejuknya air sungai, sesejuk hati kami yang bertekad mewujudkan mimpi-mimpi menjadi nyata. Ada rasa syukur, rasa sukacita dan haru. Karena, di tengah hiruk pikuknya pertarungan memperjuangkan nasib dan kehidupan, ternyata masih ada orang-orang yang tetap menggeliat dan punya kepedulian. Mudah-mudahan komunitas ini bukan orang-orang terakhir yang punya kepedulian dan kegelisahan. Tapi sebahagian kecil dari ribuan bahkan jutaan orang-orang yang tetap merindukan sebuah perubahan. Genderang budaya kembali ditabuh, tarian Gubang harap dipergelarkan, agar kita tidak sempat lupa dan anak cucu paham sejarah nenek moyangnya. Lestarikan alam dan jagalah budaya!

Oleh : Asrial Mirza
Kisaran,Sumatera Utara

Tidak ada komentar:

Posting Komentar