. JENDELA PUISI: SEMANGAT
RUANG PEKERJA SENI ADALAH GROUP DI JEJARING SOSIAL FACEBOOK, BERTUJUAN…MENGEPAKKAN SAYAP – SAYAP PERSAHABATAN…MELAHIRKAN KEPEDULIAN ANTAR SESAMA…MEMBANGUN SILATURAHMI/TALI ASIH…SAHABAT LEBIH INDAH DARIPADA MIMPI.

Sabtu, 15 November 2014

SEMANGAT



SEMANGAT, sepenggal kata ini memiliki khasiat yang begitu manjur melebihi obat produksi pabrik manapun atau dari segelas air sejuk yang sudah dimunajadkan tabib sholih di kampung seberang. Rasanya Istilah ini tidak berlebihan jika aku berikan kepada sekelompok orang-orang yang kini tengah bergelora syahwat berkeseniannya bak benzin tersulut api, sehingga tidak perduli meskipun sebentar lagi harga bbm akan melambung tinggi.

Adalah komunitas yayasan sahabat tiga puluh, ruang pekerja seni tanjungbalai, sanggar tari tiara intan, ketua pwi, knpi asahan. dokter yazid sabri, kepala man kisaran makmur sukri dan ratusan pencinta budaya yang sama-sama mengikatkan tali bathin dengan eddie karsito. Akhir-akhir ini kerap bertemu dan bersilaturrahim dalam bingkai merangkai kembali tali-tali seni dan budaya yang kusut dan yang berserakan. Hal itu dikarena sebuah prinsip yang sama, bahwa hidup dengan agama menjadi terarah, hidup dengan ilmu menjadi terarah dan hidup dengan seni menjadi indah.

Sedangkan bagi aku pribadi, kebersamaan ini adalah sebuah reuni sejak kami melangkah meninggalkan "sanggar laras" puluhan tahun yang silam sehingg membuhulkan rindu yang sangat dalam, meskipun sekarang suasananya jauh lebih ramai. Semuanya terharu mendapati kenyataan ini, karena hanya karena campur tangan Allah maka pertemuan terjadi, karena rasa sukacita kawan-kawan yang berkumpul dan bersinergi meneriakkan," Seni Pemersatu Jiwa" dan dengan semangat ini lalu eddie karsito mengajak kawan-kawan merajut mimpi untuk merilis sebua film kolosal tentang sejarah KOELI KONTRAK TEMPO DOELOE, dengan title " Annimie In Buiten Gewesten" yang Insya Allah penggarapannya berlokasi hampir seluruhnya di Asahan.

Inilah kerangka dari semangat itu, sebuah produksi film yang masih dalam wujud tataran ide, yang akan berubah nyata apabila banyak tangan-tangan terulur untuk menyambutnya, terutama dari saudara-saudara kita yang berdarah jawa(ma'af,boekan primordial). Pertanyaannya tentu saja adalah, mengapa stressing kita tertuju pada sudara-saudara kita yang sekarang mengguyubkan diri pada putra jawa kelahiran sumatera(Pujakesuma) dan organisasi suku jawa yang lain, karena film ini bertutur tentang bagaimana sejarah sampainya kakek dan nenek buyut mereka sampai di sumatera. Karena kata orang bijak, bangsa yang besar adalah bangsa yang ingat akan sejarahnya dan Boeng Karno ngomong" Jas merah, jangan melupaka sejarah.
TRAH(garis keturunan) tidak selamanya harus berasal dari darah biru,
karena pada akhirnya keberhasilan seseorang tidak semata-mata ditentukan turunan siapa, tapi bagaimana kita berjuang dengan disertai doa. Seperti ungkapa populer juragan sepuh Inggris, Churchil, " Saya tidak mau dipajang seperti banteng aduan yang martabatnya ditentukan kebesaran masa lalu". Maka sudah saatnya saudara-saudara kita bangga, karena sebagai anak manusia yang terlahir dari TRAH-TRAH biasa, tapi kini muncul menjelma menjadi orang-orang yang luar biasa dan sukses. "Annimie In Buiten Gewesten" adalah film anda, film kami dan film kita, maka kami undang seluruh masyarakat Asahan yang tua dan muda, khususnya yang punya benang merah dengan uyut kakung dan uyut putri," PAIJO dan PAIJAH" yang menorehkan sejaRah kelahiran anak, cucu dan cicitnya di tanah Sumatera, untuk bergandengan tangan bahu membahu mewujudkan mimpi tentang film ini menjadi nyata. Semoga Allah bersama kita, amiiin !

Oleh : Asrial Mirza
Kisaran,Sumatera Utara

Tidak ada komentar:

Posting Komentar